Anda di halaman 1dari 38

REFERAT

LOW BACK PAIN

Disusun Oleh:

Martin Yohanes Suryadinata (180070200011011)

Yurike Putri (180070200011038)

Aulia Sita Hapsari (180070200011141)

Isnaini Yuliana Wardani (180070200011153)

Pembimbing:

Dr. med. Tommy Alfandy Nazwar, Sp.BS

LABORATORIUM ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

TAHUN 2020

1
LOW BACK PAIN

Disusun Oleh:

Martin Yohanes Suryadinata (180070200011011)

Yurike Putri (180070200011038)

Aulia Sita Hapsari (180070200011141)

Isnaini Yuliana Wardani (180070200011153)

Disetujui untuk dibacakan pada:

Hari :

Tanggal :

Menyetujui,

Pembimbing

Dr. med. Tommy Alfandy Nazwar, Sp.BS

2
DAFTAR ISI

Halaman Sampul .......................................................................................... 1

Lembar Persetujuan ..................................................................................... 2

Daftar Isi ....................................................................................................... 3

BAB 1 PENDAHULUAN .............................................................................. 4

1.1 Latar Belakang ................................................................................... 4

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 6

1.3 Tujuan ................................................................................................ 6

1.4 Manfaat .............................................................................................. 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 7

2.1 Definisi ............................................................................................... 7

2.2 Anatomi dan Fisiologi tulang belakang ............................................... 7

2.3 Epidemiologi....................................................................................... 9

2.4 Manifestasi Klinis dan patofisiologi low back pain ............................... 11

2.5 Penegakan diagnosis low back pain ................................................... 20

2.6 Penatalaksana Low back pain ............................................................ 27

BAB 3 KESIMPULAN .................................................................................. 36

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 37

3
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Nyeri punggung bawah atau low back pain adalah kondisi muskuloskeletal

yang paling sering dan paling mempengaruhi populasi orang dewasa, dengan

prevalensi hingga 84%. Low Back Pain (LBP) atau Nyeri Punggung Bawah (NPB)

adalah suatu gejala dan bukan merupakan suatu diagnosis. Pada beberapa kasus

gejalanya sesuai dengan diagnosis patologisnya dengan ketepatan yang tinggi,

namun sebagian besar kasus, diagnosisnya tidak pasti dan berlangsung lama

(Greenberg, 2013)

LBP atau NPB merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dijumpai

di masyarakat. World Health Organization (WHO) menyatakan kira-kira 150 jenis

gangguan muskuloskeletal di derita oleh ratusan juta manusia yang menyebabkan

nyeri dan inflamasi yang sangat lama serta disabilitas atau keterbatasan

fungsional, sehingga menyebabkan gangguan psikologik dan sosial penderita

(Institute of Health Metrix and Evaluations [IHME], 2017)

Low back pain (LBP) sangat lazim, dan merupakan alasan kedua terbanyak

orang akan mencari pertolongan medis. Setelah sakit pilek biasa, low back pain

juga merupakan penyebab nomor dua hilangnya kemampuan bekerja. LBP

menyumbang hiangga 15% dari semua cuti sakit dari tempat kerja, dan merupakan

penyebab kecacatan yang paling umum orang <45 tahun. Perkiraan prevalensi

seumur hidup berkisar antara 60-90%, dan kejadian tahunan adalah 5%. Hanya

1% dari pasien akan memiliki gejala nerve root symptomps, dan hanya 1-3%

memiliki herniasi lumbal. Prognosis untuk sebagian besar kasus LBP baik, dan

4
perbaikan biasanya terjadi hanya sedikit atau tidak sama sekali intervensi medis

(Hoy et al., 2014)

Prevalensi penyakit muskuloskeletal berdasarkan diagnosa tenaga kesehatan

di Indonesia 11,9 % dan berdasar diagnosis atau gejala sebesar 24,7%. Sebanyak

11 provinsi mempunyai prevalensi penyakit sendi di atas persentase nasional,

yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa

Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur,

Kalimantan Selatan, dan Papua. Untuk prevalensi penyakit muskuloskeletal di

Jawa Tengah sendiri mencapai 18,9% (Arwino, 2018)

Pada 90% pasien yang datang dengan nyeri punggung bawah tidak dapat

ditentukan penyebab yang mendasari secara spesifik. Sebagian besar kasus nyeri

punggung bawah akan membaik dalam beberapa minggu, tetapi rekurensi atau

menetapnya gejala sangat sering terjadi. Nyeri berulang adalah keluhan yang

paling sering terjadi, sekitar 60% pasien mengeluhkan kurang lebih satu kali

mengalami nyeri berulang dalam 12 bulan. Terapinya seringkali meliputi obat

antiinflamasi yang bersifat menghilangkan nyeri saja, tanpa menyingkirkan

penyebabnya. Karena itu terapi non farmakologis bisa menjadi pilihan yang lebih

mudah dan aksesibel untuk mengatasi nyeri punggung bawah (Arwino, 2018)

Pentingnya penanganan nyeri pungguh bawah dikarenakan sebagai berikut:

(1) biaya yang dihabiskan oleh penderita low back pain menurut penelitian yang

telah ada, adalah ± 100 milyar dollar per tahun, (2) gejala low back pain merupakan

gejala yang paling sering terjadi pada individu dengan usia <45 tahun (usia

produktif), (3) individu dengan gejala low back pain tidak akan mampu bekerja

dalam waktu yang lama karena nyeri punggung yang dialaminya.

Penatalaksanaan konservatif nyeri pungguh bawah diatasi dengan dua cara

yaitu farmakologis dan non farmakologis. Pemakaian farmakologis yang berulang

– ulang dapat menyebabkan efek samping, sehingga diperlukan juga terapi non

5
farmakologis untuk mencegah terjadinya gejala berulang pada low back pain.

Maka dari itu pentingnya dibuat tinjauan pustaka mengenai low back pain untuk

dokter muda agar bias mengetahui lebih awal untuk melakukan pencegahan serta

terapi yang tepat.

Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah mekanisme patofisiologi terjadinya low back pain?

2. Bagaimanakah diagnosis low back pain?

3. Bagaimanakah tatalaksana pada low back pain?

1.2 Tujuan

1. Untuk memahami mekanisme patofisiologi terjadinya low back pain.

2. Untuk memahami cara mendiagnosis low back pain.

3. Untuk memahami tatalaksana low back pain

1.3 Manfaat

Penulisan tinjauan pustaka ini diharapkan dapat meningkatkan

pengetahuan dan pemahaman dokter muda mengenai low back pain dalam hal

penegakan diagnosis, pencegahan, penanganan awal, penanganan jangka

Panjang sehingga dapat berguna saat berpraktik di masyarakat kelak.

6
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Low back pain

Nyeri punggung bawah atau low back pain adalah gejala atau keluhan

bukan merupakan suatu diagnosis atau penyakit spesifik. Low back pain

didefinisikan sebagai rasa nyeri atau tidak nyaman di antara batas bawah rusuk

(dibawah costae) dan diatas lipatan gluteal inferior, dengan atau tanpa nyeri

menjalar, penjalaran dapat ke arah tungkai dan kaki. Nyeri ini sering dirasakan di

daerah lumbosakral dan sakroiliaka. Nyeri yang dirasakan dapat berupa rasa sakit,

terbakar, menusuk, tajam, atau tumpul dengan intensitas ringan sampai berat.

Nyeri ini dapat berupa nyeri lokal (inflamasi) ataupun nyeri radikuler, ataupun

keduanya (Hoy et al., 2014).

Low back pain yang non spesifik adalah nyeri yang tidak disebabkan oleh

Nyeri punggung bawah (low back pain) adalah nyeri di daerah punggung bawah,

yang mungkin disebabkan oleh masalah saraf, iritasi otot atau lesi tulang. Nyeri

punggung bawah dapat mengikuti cedera atau trauma punggung, tapi rasa sakit

juga dapat disebabkan oleh kondisi degeneratif seperti penyakit artritis,

osteoporosis atau penyakit tulang lainnya, infeksi virus, iritasi pada sendi dan

cakram sendi, atau kelainan bawaan pada tulang belakang. Obesitas, merokok,

berat badan saat hamil, stres, kondisi fisik yang buruk, postur yang tidak sesuai

untuk kegiatan yang dilakukan, dan posisi tidur yang buruk juga dapat

menyebabkan nyeri punggung bawah(Greenberg, 2013).

2.2 Anatomi dan Fisiologi Tulang Belakang

Tulang belakang (vertebra) adalah struktur anatomi yang kompleks dan

terbagi menjadi dua bagian unit fungsional yaitu bagian atau segmen anterior dan

bagian atau segmen posterior.

7
Pada segmen anterior, berfungsi sebagai penyangga badan. Bagian ini

terdiri dari korpus vertebra yang silindris dan dihubungkan oleh diskus

intervetebralis yang diperkuat serta dilekatkan oleh ligamentum longitudinale

anterior di bagian depan dan ligamentum longitudinale posterior di bagian

belakang (Almoallim et al., 2014).

Gambar 2.1 Anatomi tulang belakang

Pada segmen posterior, berperan dalam gerak fleksi, ekstensi, rotasi, dan

gerak lateral dari tulang belakang. Bagian posterior ini lebih lunak dan terdiri dari

pedikel, prossesus spinosus, prossesus transversus, dan lamina. Bagian – bagian

tersebut dihubungkan oleh sepasang artikulasi dan diikat satu sama lain oleh

berbagai ligamen di antaranya ligamen interspinal, ligamen intertransversa dan

ligamen flavum. Pada prossesus spinosus dan transversus melekat otot-otot yang

turut menunjang dan melindungi kolumna vertebra (Greenberg, 2013)

8
Gambar 2.2 Anatomi tulang belakang

Adapun diskusi intervertebralis disamping berfungsi sebagai penyangga

beban juga berfungsi sebagai peredam. Diskus ini terbentuk oleh annulus fibrosus

dam membentuk rongga antar vertebra. Rongga ini berisi nukleus pulposus dari

fibrocartilago.

Gambar 2.3 Anatomi tulang belakang

2.5 Epidimiologi

9
Pada tahun 2003, 3,2% dari total tenaga kerja Amerika Serikat mengalami

kerugian waktu produktif karena nyeri punggung bawah (Colorado Department of

Public Health and Environtment Occupational Health, 2012 dalam Hoy, 2014). Di

Inggris, nyeri punggung merupakan penyebab utama dari ketidakhadiran kerja,

diperkirakan sekitar 3,5 juta hari kerja hilang tahun 2007/2009 karena gangguan

muskuloskeletal terutama nyeri punggung bawah (Hoy et al., 2014)

Berdasarkan The Global Burden of Disease 2010 Study (2010), dari 291

penyakit yang diteliti, NPB (Nyeri Punggung Bawah) merupakan penyumbang

terbesar kecacatan global, yang diukur melalui years lived with disability (YLD),

serta menduduki peringkat yang keenam dari total beban secara keseluruhan,

yang diukur dengan the disability adjusted life year (DALY) (Institute of Health

Metrix and Evaluations [IHME], 2017)

Prevalensi penyakit muskuloskeletal berdasarkan diagnosa tenaga

kesehatan di Indonesia 11,9 % dan berdasar diagnosis atau gejala sebesar 24,7%.

Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi penyakit sendi di atas persentase

nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa

Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara

Timur, Kalimantan Selatan, dan Papua. Untuk prevalensi penyakit muskuloskeletal

di Jawa Tengah sendiri mencapai 18,9% (Arwino, 2018)

Dilihat dari data yang dikumpulkan dari penelitian Pusat Riset dan

Pengembangan Ekologi Kesehatan, Kementrian Kesehatan yang melibatkan 800

orang dari 8 sektor di Tanah Air. Hasilnya menunjukkan, gangguan muskuloskletal

yang didominasi nyeri punggung bawah yang dialami oleh sekitar 31,6 % perajin

batu bata di Lampung, 21% nelayan di DKI Jakarta, 18% perajin onix di Jawa

Barat, 16,4% penambang emas di Kalimantan Barat, 14,9% perajin sepatu di

Bogor, dan petani kelapa sawit di Riau. Pekerja garmen perusahaan di Jawa

10
Tengah dan penjahit rumah di Yogyakarta adalah kelompok pekerja yang paling

banyak menderita gangguan muskuloskeletal, masing- masingnya sekitar 76,7%

dan 41,6% dan rata- rata semua pekerja mengeluhkan nyeri di punggung bawah,

bahu, dan pergelangan tangan (Arwino, 2018)

2.4 Manifestasi klinis dan patofisiologi low back pain

Gejala klinis nyeri punggung bawah sangat bervariasi, tergantung dari

penyebabnya. Secara patoanatomi, ada berbagai struktur yang menyusun

punggung bawah atau pinggang: regio lumbar vertebrae yang terdiri dari 5

vertebrae (L1-L5) yang menyokong tubuh; diskus intervertebralis yang memelihara

ruang antar vertebrae dengan menyediakan fungsi bantalan yang menyokong

pergerakan; otot-otot dan tendon yaitu musculus erector spinae, musculus

interspinalis, dan musculus intertransvarius; medula spinalis, cauda equina, conus

medularis, serta nervus spinalis; serta pembuluh-pembuluh darah yang

memvaskularisasinya. Masing-masing struktur dapat menyebabkan mekanisme

gejala nyeri punggung bawah yang berbeda-beda (Sabzalisenejani and Nikraz,

1998).

Berdasarkan durasi munculnya gejala, nyeri punggung bawah dapat

diklasifikasikan sebagai nyeri akut, subakut, dan kronik. Disebut nyeri akut jika

keluhan berlangsung selama kurang dari 6 minggu. Disebut kronik jika keluhan

sudah berlangsung lebih dari 12 minggu (3 bulan). Jika keluhan berlangsung

antara 6 sampai 12 minggu maka disebut subakut (Landi et al., 2016).

Berdasarkan sumber nyeri kasus low back pain dapt dibedakan menjadi 2,

yaitu: intraspinal dan ekstraspinal.

(1) Sumber nyeri Intraspinal, dapat terdiri dari:

 Diskus: terjadi proses degeneratif, terjadi trauma dan atau terjadi

infeksi

11
Contonya: HNP

 Facet: terjadi proses degeneratif, terjadi trauma, terjadi inflamasi,

dan atau terdapat tumor

Contohnya: hipertrofi facet

 Tulang: terjadi fraktur (trauma), fraktur pathologis (tumor,

osteoporosis), infeksi (osteomyelitis), degenerative (spondylosis),

kelainan anatomi (scoliosis).

 Otot: sprain atau strain otot

 Syaraf

 Kombinasi

(2) Sumber nyeri Ekstaspinal, dapat berasal dari:

 Viscera: traktus urinarius, traktus digestivus, vaskular

 Sendi sacro liac

 Sendi panggul

Berdasarkan penyebab dan gejala yang ditimbulkan, nyeri punggung

bawah dapat diklasifikasikan menjadi nyeri mekanikal (nyeri aksial), non

mekanikal, dan visceral (Landi et al., 2016).

2.4.1 Nyeri Pinggang Mekanikal

Nyeri pinggang mekanik merupakan penyebab nyeri punggung bawah

(pinggang) yang paling umum. Nyeri aksial atau nyeri mekanikal diandai dengan:

muncul saat melakukan aktivitas, muncul pada posisi tertentu, berkurang dengan

istirahat (berbaring). Episode akut dapat dicetuskan oleh gerak membungkuk,

mengangkat barang berat, atau mengejan5. Sumber nyeri aksial adlah sendi

(diskus dan facet), tulang, dan otot (Greenberg, 2013).

2.4.1.1 Sprain/strain Otot

12
Nyeri punggung bawah karena sprain atau strain otot menimbulkan gejala

berupa spasme otot, kram, atau kaku. Sprain disebabkan oleh peregangan

berlebihan atau robeknya ligamen, sementara strain disebabkan oleh robeknya

tendon atau otot. Keduanya bisa terjadi karena gerak memutar (twisting),

mengangkat suatu benda dengan cara yang salah, mengangkat benda yang

terlalu berat, atau peregangan otot yang mendadak. Karena itu beberapa gerakan

seperti berdiri lama, membungkuk, atau olahraga berat tanpa pemanasan akan

membuat nyeri lebih buruk. Sementara aktivitas ringan seperti istirahat, tidur, atau

berjalan akan membuat nyeri menurun(Lagman et al., 2017).

Reseptor nyeri pada otot sensitif terhadap stimulus mekanik yang

bervariasi termasuk tekanan, jepitan, irisan, dan regangan. Nyeri dan cedera

terjadi saat unit kontraktual otot terekspos oleh episode beban biomekanikal yang

melebihi kapasitas (overload). Otot yang cedera tersebut memendek dalam

kondisi terkontraksi, menyebabkan kekakuan dan meningkatnya tonus sehingga

menjadi terasa kencang dan nyeri(Lagman et al., 2017).

Selain faktor mekanik, faktor psikososial seperti depresi atau stress

berlebihan juga berpengaruh pada nyeri punggung bawah. Depresi dapat

mempengaruhi persepsi rasa nyeri bahkan terhadap rangsang yang bukan

mekanik. Stress emosional cenderung meningkatkan aktivitas saraf simpatis, yang

kemudian meningkatkan nosisepsi secara periferal ataupun sentral, sehingga

terjadi overaktivitas otot dan peningkatan rasa nyeri dan lelah(Lagman et al.,

2017).

Nyeri karena spasme otot adalah yang paling sering terjadi, berupa nyeri

non spesifik, bisa menjalar ke pantat dan daerah sakral namun jarang. Nyeri

berlangsung selama 48-72 jam, namun biasanya diikuti rekurensi atau periode

nyeri yang lebih ringan selama beberapa hari(Hayashi, 2004).

13
2.4.1.2 Herniasi Diskus Lumbar

Herniated Nucleus Pulposus (HNP) merupakan penyakit degeneratif pada

diskus intervertebralis terkait dengan perubahan struktur serta hidrasi pada

nukleus pulposus dan annulus fibrosus. Seiring bertambahnya usia, diskus

vertebralis mulai kehilangan proteoglikan hidrofilik sehingga struktur diskus

menjadi lebih padat dan kemampuan untuk menahan beban semakin berkurang3.

Degenerasi diskus bersama dengan faktor risiko pada penderita dapat

menyebabkan robekan pada annulus fibrosus sehingga nukleus pulposus

menonjol keluar dan menyebabkan inflamasi serta kompresi pada radiks saraf

yang berdekatan4Saat degenerasi nukleus terjadi, lebih banyak beban yang

ditransfer ke annulus dan penyebaran beban pada diskus menjadi tidak rata. Sel

nukleus dan annulus merespon terhadap beban sesuai dengan intensitas, durasi,

frekuensi, dan arah beban. Terjadi peningkatan produksi protein seperti

peningkatan matriks metalloproteinase (MMP), nitric oxide, prostaglandin E2

(PGE-2), dan interleukin-6 (IL-6) yang membuat diskus lebih keras dan annulus

lebih mudah robek(Allegri et al., 2016).

Setelah herniasi nukleus pulposus terjadi, fragmen hernia menekan radiks

saraf sehingga menyebabkan nyeri, kelemahan otot, dan gangguan sensorik.

Selain itu, nukleus pulposus yang mengalami herniasi dan mikrokristal diskus juga

menginisiasi kaskade inflamasi. Diskus intervertebralis yang awalnya avaskuler

terekspos dengan pembuluh darah epidural karena adanya robekan annulus dan

ligamen longitudinal posterior. Diskus yang awalnya tidak pernah terekspos sistem

imun dianggap sebagai benda asing dan menyebabkan rekruitmen makrofag,

limfosit, dan sel inflamasi lainnya. Nyeri yang ditimbulkan diakibatkan oleh adanya

TNF-, PGE2, NO, adn IFN- yang disekresikan oleh makrofag bersama dengan

14
produksi substansi P. Serabut saraf dan pembuluh-pembuluh darah baru juga

bertumbuh memasuki diskus yang mengalami degenerasi(Allegri et al., 2016).

Nyeri yang terjadi tersebut sering disebut dengan nyeri diskus. Inervasi

diskus adalah pleksus simpatis  rami anterior dan ventral nerve root

sinovertebral nerve posterior.

HNP merupakan penyebab skiatika yang paling umum. Nyeri pada HNP

berupa nyeri radikular (menjalar) dari pinggang ke pantat dan paha.

Gambar 2.4 penjalaran nyeri pada HNP

Eksaserbasi nyeri dapat terjadi akibat bersin, batuk, atau mengejan,

mengangkat beban berat, posisi membungkuk, dan duduk karena kondisi-kondisi

tersebut meningkatkan tekanan intradiskal (intratekal). Nyeri akan berkurang

dengan posisi berbaring. Gejala yang memberat saat aktivitas dan berkurang saat

istirahat ini disebut dengan klaudikasio intermitens. Selain nyeri, juga dapat timbul

kelemahan pergerakan kaki saat dorsofleksi atau plantarfleksi, tergantung myotom

15
mana yang terkena. Pasien dengan HNP akan menunjukkan hasil positif pada

pemeriksaan Straight Leg Raising dan manuver Valsalva(Almoallim et al., 2014).

2.4.1.3 Stenosis Lumbaris

Penyempitan saluran tulang belakang lumbar terjadi sebagai akibat

perubahan degeneratif yang menyebabkan kompresi pada akar saraf lumbosakral.

Nyeri stenosis lumbalis meningkat dengan posisi berdiri atau setelah berjalan

lama, dan menurun dengan istirahat, duduk, atau posisi condong ke depan. Nyeri

stenosis sering disebut juga dengan neuroenic claudicatio. Nyeri stenosis adalah

nyer yang dirasakan saat ekstensi tulang belakang (berjalan tegak dan jaln

menurun), nyeri berkurang bila fleksi tulang belakang (membungku, jongkok, jalan

mendaki), dan nyeri turun bila berubah posisi (ekstensi fleksi tulang

belakang)(Hoy et al., 2014)

Gambar 2.5 stenosis spinanlis

2.4.1.4 Spondilosis

A.) Definisi

Spondylosis adalah penyakit degeneratif tulang belakang. Spondylosis ini

disebabkan oleh proses degenerasi yang progresif pada diskus intervertebralis,

yang mengakibatkan makin menyempitnya jarak antar vertebra sehingga

16
mengakibatkan terjadinya osteofit, penyempitan kanalis spinalis dan foramen

intervertebralis dan iritasi persendian posterior. Rasa nyeri pada spondylosis ini

disebabkan oleh terjadinya osteoartritis dan tertekan radiks oleh kantong

durameter yang mengakibatkan iskemik dan radang (Powers et al., 2012)

Spondylosis lumbal merupakan penyakit degeneratif pada corpus vertebra

atau diskus intervertebralis. Kondisi ini lebih banyak menyerang pada wanita.

Faktor utama yang bertanggung jawab terhadap perkembangan spondylosis

lumbal adalah usia, obesitas, duduk dalam waktu yang lama dan kebiasaan postur

yang jelek. Pada faktor usia menunjukkan bahwa kondisi ini banyak dialami oleh

orang yang berusia 40 tahun keatas. Faktor obesitas juga berperan dalam

menyebabkan perkembangan spondylosis lumbar(Powers et al., 2012).

Spondylosis lumbal seringkali merupakan hasil dari osteoarthritis atau spur tulang

yang terbentuk karena adanya proses penuaan atau degenerasi. Proses

degenerasi umumnya terjadi pada segmen L4 – L5 dan L5 – S1. Komponen-

komponen vertebra yang seringkali mengalami spondylosis adalah diskus

intervertebralis, facet joint, corpus vertebra dan ligamen (terutama ligamen

flavum) (Allegri et al., 2016)

B.) Tanda dan gejala

Spondylosis lumbal merupakan suatu kelainan dengan ketidakstabilan

lumbal, sering mempunyai riwayat robekan dari diskusnya dan serangan nyeri

yang berulang – ulang dalam beberapa tahun. Nyeri pada kasus spondylosis

berhubungan erat dengan aktivitas yang dijalani oleh penderita, dimana aktivitas

yang dijalani terlalu lama dengan rentang perjalanan yang Panjang(Allegri et al.,

2016)

Pasien biasanya berusia di atas 40 tahun dan memiliki tubuh yang sehat.

Nyeri sering timbul di daerah punggung dan pantat. Hal ini akan menimbulkan

17
keterbatasan gerak pada regio lumbal dan dapat menimbulkan nyeri pada area ini.

Pemeriksaan neurologis dapat memperlihatkan tanda – tanda sisa dari prolaps

diskus yang lama (misalnya tiadanya reflek fisiologis). Pada tahap sangat lanjut,

gejala dan tanda – tanda stenosis spinal atau stenosis saluran akar unilateral

dapat timbul (Powers et al., 2012)

C.) Patologi

Bila usia bertambah maka akan terjadi perubahan degeneratif pada tulang

belakang, yang terdiri dari dehidrasi dan kolaps nukleus pulposus serta penonjolan

ke semua arah dari anulus fibrosus. Anulus mengalami klasifikasi dan perubahan

hipertrofik terjadi pada pinggir tulang korpus vertebra, membentuk osteofit atau

spur atau taji. Dengan penyempitan rongga intervertebra, sendi intervertebra dapat

mengalami subluksasi dan menyempitkan foramina intervertebra, yang dapat juga

ditimbulkan oleh osteofit (

Perubahan patologi yang terjadi pada diskus intervertebralis antara lain: (a)

annulus fibrosus menjadi kasar, collagen fiber cenderung melonggar dan muncul

retak pada berbagai sisi, (b) nucleus pulposus kehilangan cairan, (c) tinggi diskus

berkurang, (d) perubahan ini terjadi sebagai bagian dari proses degenerasi pada

diskus dan dapat hadir tanpa menyebabkan adanya tanda-tanda dan gejala

(Allegri et al., 2016)

Sedangkan pada corpus vertebra, terjadi perubahan patologis berupa

adanya lipping yang disebabkan oleh adanya perubahan mekanisme diskus yang

menghasilkan penarikan dari periosteum dari annulus fibrosus. Dapat terjadi

dekalsifikasi pada corpus yang dapat menjadi factor predisposisi terjadinya brush

fracture. Pada ligamentum intervertebralis dapat menjadi memendek dan menebal

terutama pada daerah yang sangat mengalami perubahan. Pada selaput

meningeal, durameter dari spinal cord membentuk suatu selongsong mengelilingi

18
akar saraf dan ini menimbulkan inflamasi karena jarak diskus membatasi canalis

intervertebralis. Terjadi perubahan patologis pada sendi apophysial yang terkait

dengan perubahan pada osteoarthritis. Osteofit terbentuk pada margin permukaan

articular dan bersama-sama dengan penebalan kapsular, dapat menyebabkan

penekanan pada akar saraf dan mengurangi lumen pada foramen intervertebralis.

D.) Problematik

Spondylosis lumbal menggambarkan adanya osteofit yang timbul dari

vertebra lumbalis. Osteofit biasanya terlihat pada sisi anterior, superior, dan sisi

lateral vertebra. Pembentukan osteofit timbul karena terdapat tekanan pada

ligamen. Apabila hal ini mengenai saraf, maka akan terjadi kompresi pada saraf

tersebut, dan dari hal itu dapat menimbulkan rasa nyeri, baik lokal maupun

menjalar, parastesia atau mati rasa, dan kelemahan otot (Powers et al., 2012)

2.4.2 Nyeri Pinggang Non Mekanikal

Nyeri pinggang non mekanikal antara lain terjadi karena proses inflamasi

(ankylosing spondylitis), infeksi, atau neoplasia. Nyeri non mekanikal timbul saat

istirahat dan jarang dipengaruhi oleh gerakan.

2.4.2.1 Ankylosing Spondylitis

Ankylosing spondylitis adalah penyakit inflamasi kronik pada sendi axial,

terutama sakroiliaka. Penyebabnya adalah marker genetik HLA-B27, karena itu

penyakit ankylosing spondylitis bersifat menurun dalam keluarga. Nyeri yang

ditimbulkan berupa nyeri punggung non spesifik dan kekakuan pada pagi hari

(morning stiffness) yang bertambah saat aktivitas namun tidak menurun dengan

istirahat. Juga ditemukan nyeri dan bengkak di sendi lain serta kelelahan yang

sangat. Pada ankylosing spondylitis, range of motion (ROM) menurun dari normal

sehingga pada Uji Schober’s didapatkan penambahan jarak (antara 10cm di atas

19
S1 dan 5cm di bawah S1 yang kurang lebih sepanjang 15cm) kurang dari 5 cm

pada fleksi lumbar (Casazza, 2012).

2.4.2.2 Infeksi Spinal

Osteomyelitis vertebra pyogenik, discitis, atau tuberkulosis vertebra dapat

menimbulkan nyeri hebat dan progresif pada sendi lumbar. Seringkali disertai nyeri

tekan terlokalisir, penurunan ROM, demam, berkeringat, malaise, dan

leukositosis(Casazza, 2012).

2.4.2.3 Tumor Spinal

Tumor pada spinal seringkali merupakan metastasis dari payudara, paru-

paru, prostat, atau ginjal, dan jarang sekali tumor spinal yang merupakan tumor

primer. Nyeri karena keganasan bersifat sangat nyeri, memburuk saat malam, dan

ada riwayat penurunan berat badan(Greenberg, 2013).

2.5 Penegakan diagnosis low back pain

2.5.1 Anamnesis

Dalam anamnesis yang harus ditanyakan pada pasien adalah:

(1) penyebab awitan, nyeri mendadak yang timbul setelah posisi mekanis

yang merugikan, mungkin terjadi robekan otot, pergangan fasia, atau iritasi

permukaan sendi.

(2) lama dan frekuensi serangan, nyeri punggung karena sebab mekanik

berlangsung lama, jika herniasi diskus nyeri berlangsung sampai 8 hari sampai

resolusinya.

(3) lokasi nyeri dan penjalarannya, nyeri punggung karena gangguan

mekanis terutama terjadi di daerah lumbosakral, jika nyeri menyebar ke tungkai

bawah menandakan adanya iritasi akar saraf atau peradangan sendi sakroiliaka.

Jika nyeri yang terjadi adalah nyeri psikogenik maka tidak mempunyai pola

penyebaran yang tetap.

20
(4) faktor yang memperberat atau memperingan. Jika terjadi lesi mekanis,

maka nyeri akan berkurang dengan istirahat dan bertambah berat saat aktifitas.

Jika pada penderita HNP duduk agak bungkuk dan manuver valsava akan

memperberat rasa nyeri. Namun pada penderita tumor, nyeri lebih menetap jika

pasien berbaring.

(5) intensitas atau kualitas nyeri, perlu ditanyakan agar dapat menilai

kondisi perbaikan atau perburukan pasien. Gejala nyeri punggung yang lama dan

intermiten serta diselingi oleh periode tanpa gejala merupakan gejala khas dari low

back pain karena faktor mekanis. Nyeri pada malam hari juga harus diwaspadai

sebagai tanda keganasan atau infeksi.

Anamnesis yang dilakukan dalam mengevaluasi pasien nyeri punggung

bawah harus bisa mengerucutkan gejala menjadi 3 kategori: nyeri punggung

bawah mekanikal non spesifik (spasme otot), nyeri punggung bawah mekanikal

dengan nyeri radikular, serta nyeri punggung bawah karena penyebab non

mekanikal dan viserogenik. Gejala-gejala yang menandai masing-masing kategori

harus dikenali secara detil. Selain itu, dokter juga harus dapat mengenali faktor

risiko yang dapat menimbulkan nyeri punggung bawah.

Hal penting yang perlu dikenali dokter saat melakukan anamnesis adalah

tanda dan gejala “Yellow Flag” dan “Red Flag” Istilah “yellow flag” digunakan untuk

mendeskripsikan semua faktor risiko psikososial yang menyebabkan nyeri

punggung bawah persisten, agar dapat dibedakan dengan faktor medis “red flag”.

Faktor-faktor psikososial yang termasuk “yellow flag” meliputi sikap negatif atau

pesimis terhadap nyeri punggung yang diderita, perilaku menghindari aktivitas,

kecenderungan untuk depresi, penarikan diri dari kehidupan sosial, moral rendah,

atau kondisi sosio-ekonomi yang buruk. “Yellow flag” harus dicurigai jika: (1)

gambaran klinis pasien sugestif terhadap masalah psikososial serius; (2)

kerusakan fungsi tubuh atau limitasi aktivitas tidak konsisten dengan klasifikasi

21
nyeri punggung bawah mana pun; (3) gejala yang dikeluhkan pasien tidak

membaik dengan terapi.

“Red flag” merupakan gejala yang menandakan cedera spinal yang lebih

serius dan bisa menjadi indikasi rawat inap. Tabel 2.1 menunjukkan gejala-gejala

“red flag” dan penyakit yang harus diwaspadai(Greenberg, 2013).

Tabel 2.1 “Red Flag” dan Kondisi yang Harus Diwaspadai

Red Flag Kondisi

Nyeri konstan tanpa dipengaruhi posisi (nyeri Tumor spinal

istirahat)

Penurunan berat badan

Riwayat kanker sebelumnya (ca.mammae,

ca.prostat, ca.paru)

Retensi urin Sindrom cauda equina

Inkontinensia fekal

Anestesi sadel

Defisit sensoris/motoris area L4,L5,S1

Demam, malaise, swelling Infeksi spinal

Nyeri dalam dan konstan

Riwayat trauma Fraktur kompresi spinal

Usia >50tahun

Pengguna kortikosteroid lama

Nyeri meningkat dengan penyanggaan berat

badan (berdiri, berjalan, duduk)

Dari anamnesis sifat nyeri juga dapat menentukan penyebabnya,

yaitu:

22
(1) Nyeri lokal, lokasi nyeri dekat bagian punggung yang sakit dapat

disebabkan karena regangan struktur yang sensitif akibat iritasi ujung

saraf sensoris.

(2) Nyeri abdomen yang disertai dengan nyeri punggung, biasanya

ditimbulkan oleh bagian visceral abdomen atau pelvis.

(3) Nyeri dari tulang punggung dan beralih ke tungkai, biasanya pada

penyakit dengan lesi pada tulang belakang lumbal bagian atas.

Disebut juga dengan nyeri sklerotomal. Nyeri sclerotomal ini dapat

menjelaskan kasus nyeri di bagian punggung dan tungkai tanpa

adanya bukti penekanan radix saraf.

(4) Nyeri punggung radikular dan menjalar sesuai daerah perjalanan radix

saraf. Saat batuk, bersin, atau kontraksi otot abdomen, nyeri semakin

menyebar. Gambaran tentang nyeri saja biasanya tidak bisa

digunakan untuk membedakan nyeri sklerotomal dan radikulopati.

(5) Nyeri yang berhubungan dengan spasme otot, nyeri bersifat tidak jelas

dan terasa tumpul.

2.5.2 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik harus diawali dengan keadaan umum, tanda - tanda

vital, status gizi, status interna yang meliputi pemeriksaan kepala, leher, jantung,

paru – paru, abdomen, ekstremitas. Pemeriksaan fisik yang harus dilakukan untuk

menegakkan diagnosis nyeri punggung bawah meliputi(Landi et al., 2016):

Inspeksi:

 Idealnya jika punggung dan kaki terlihat.

 Postur tubuh abnormal seperti skoliosis atau hilangnnya lordosis

dari sisi belakang dan samping. Hal ini dapat disebabkan oleh

spasme otot paravertebral.

23
 Keterbatasan gerak pada salah satu sisi atau salah satu arah.

 Observasi gerakan ekstensi, fleksi, dan fleksi lateral lumbar

 Fleksi ke depan (forward flexion) akan menyebabkan nyeri pada

tungkai bila ada HNP, karena adanya ketegangan pada saraf yang

terinflamasi sehingga meninggikan tekanan pada saraf spinal

tersebut dengan jalan meningkatkan tekanan pada fragmen yang

tertekan di sebelahnya (jackhammer effect). Jika saat fleksi ke

depan meyebabkan nyeri pada tungkai yang ipsilateral

menandakan adanya HNP pada sisi yang sama.

Palpasi:

 Memeriksa apakah ada bone tenderness – hal itu mungkin

mengindikasikan keadaan patologis yang serius seperti adanya

infeksi, fraktur, ataupun keganasan.

 Nyeri tekan pada penonjolan tulang dan otot paraspinal

 Refleks yang menurun atau menghilang secara simetris tidak begitu

berguna pada diagnosis low back pain dan juga tidak dapat dipakai

untuk melokalisasi level kelainan, kecuali pada sindroma kauda

ekuina atau adanya neuropati yang bersamaan. Refleks patella

terutama menunjukkan adanya gangguan dari radiks L4 dan kurang

dari L2 dan L3. Refleks tumit predominan dari S1. Harus dicari pula

refleks patologis seperti babinski, terutama bila ada hiperefleksia

yang menunjukkan adanya suatu gangguan upper motor neuron

(UMN). Dari pemeriksaan refleks ini dapat membedakan akan

kelainan yang berupa UMN atau LMN.

Perkusi

24
 Minta pasien untuk membungkuk ke depan  melakukan perkusi

dari leher sampai sakrum  jika terdapat nyeri, kemungkinan

adalah fraktur, infeksi, ataupun neoplasma.

Movement:

 Uji Schober’s: buat garis antara krista iliaka posterior superior

(celah antara L3 dan L4), tandai dua titik 10 cm di atas dan 5 cm di

bawah garis ini. Minta pasien untuk membungkuk ke depan (fleksi

lumbar) sejauh mungkin dengan lutut dalam keadaan ekstensi.

Fleksi lumbar dinyatakan terbatas jika kedua titik tersebut terpisah

kurang dari 5cm.

Gambar 2.6 uji Schober

 Straight Leg Raising Test: pasien dalam posisi supine, secara

perlahan fleksikan hip ke arah 90o. Gerakan fleksi terbatas

mengakibatkan nyeri menjalar ke pinggang bawah menuju tungkai

bawah

25
Gambar 2.7 uji Straight leg test

 Hip and SI Joint Examination – Fabere test: memeriksa sendi

pinggul apakah ada nyeri dan keterbatasan dengan melakukan

internal rotasi. Internal rotasi adalah tanda awal adanya gangguan

pada sendi pinggul.

Fabere test: pasien meletakkan kaki di lutut kolateralnya 

memberikan tekanan pada lutut dan SIAS kolateralnya  jika ada

nyeri di SIAS mengindikasikan ada masalah pada sendi tersebut.

Gambar 2.7 fabere test

 Femoral Nerve Stretch Test: pasien dalam posisi pronasi, secara

perlahan fleksikan lutut. Gerakan fleksi terbatas mengakibatkan

nyeri di pinggang dan paha. Tes ini berguna untuk mengetahui

iritasi pada akar saraf femoral L2-L4.

26
Gambar 2.8 femoral nerve test

2.5.3 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan radiologi merupakan pemeriksaan penunjang yang sangat

berguna dalam menegakkan diagnosis nyeri punggung bawah. X-Ray

memperlihatkan struktur tulang sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi

kerusakan tulang atau misalignment dari vertebra. Namun soft tissue seperti otot,

ligamen, atau diskus sulit terlihat dengan X-Ray. Untuk melihat soft tissue,

digunakan CT Scan. Dengan komputer, CT Scan menciptakan gambaran tiga

dimensi berdasarkan serial foto dua dimensi. Myelogram dan diskografi

menggunakan kontras yang diinjeksikan ke canalis spinalis atau ke diskus spinalis

untuk memperjelas struktur medula spinalis atau diskus. MRI menjadi lebih sering

dipilih karena tidak menggunakan radiasi, tetapi menggunakan medan magnet.

MRI biasanya dilakukan jika ada inffeksi, tumor, inflamasi, HNP, atau jepitan pada

saraf. Namun jika tidak ada tanda “red flags”, MRI tidak diperlukan. (Allegri et al.,

2016)

2.6 Penatalaksanaan low back pain

Sebagian besar nyeri punggung bawah akan hilang dengan sendirinya.

Karena itu tujuan tatalaksana untuk nyeri punggung akut adalah manajemen nyeri

selagi gejalanya menghilang sendiri. Sementara pada nyeri punggung kronik

tujuan tatalaksananya adalah mempertahankan dan memperbaiki fungsi

(Casazza, 2012).

Tatalaksana nyeri punggung bawah meliputi terapi farmakologis dan terapi

non farmakologis, termasuk self-care. Terapi self-care, seperti tetap menjalankan

27
aktivitas dan aplikasi panas superfisial (misalnya patch/koyo), dan terapi

farmakologis lebih digunakan untuk menterapi nyeri akut. Sementara pada nyeri

punggung kronik, diperlukan terapi psikososial dan non farmakologis yang sangat

esensial untuk meningkatkan kualitas hidup pasien (Casazza, 2012).

2.6.1 Terapi Konservatif

Sayangnya istilah ini digunakan untuk manajemen non-bedah. Dengan

sedikit modifikasi, pendekatan serupa dapat digunakan untuk nyeri punggung

bawah mekanik, serta untuk radikulopati akut seperti herniated disk. Rekomendasi

berdasarkan pada AHCPR dengan tidak adanya "bendera merah"; Agency for

Health Care Policy and Research [AHCPR] menyerankan beberapa tatalaksana,

Namun, Bigos et al. Mengeluarkan beberapa referensi dan analisis (Greenberg,

2013)

1. Modifikasi aktifitas

a. Tirah baring 2 -3 hari

b. Mengurangi aktifitas untuk memmperkecil ketidak

nyamanan atau nyeri pada punggung belakan

c. Olahraga (berenang, bersepeda, berjalan)

2. Manajemen nyeri pada nyeri punggung bawah menggunakan obat

yang bervariasi. Asetaminofen atau NSAID (Paracetamol,

Ibuproen, asam mefenamat) adalah first-line therapy yang sering

digunakan. Obat-obatan pelemas otot (Diazepam, Lorazepam)

atau anti depresan (Amitriptilin, Nortriptilin, Desipramine) bisa

digunakan sebagai adjuvan, namun bukan sebagai first-line. Obat-

obatan antikonvulsan seperti Gabapentin atau Carbamazepine juga

dapat digunakan pada pasien yang tidak merespon terhadap

NSAID. Pada nyeri yang lebih parah, digunakan opioid lemah

28
seperti Codein atau Tramadol. Opioid kuat seperti morfin hanya

digunakan untuk nyeri yang sangat berat dan jarang diberikan untuk

pasien nyeri punggung bawah.

a. Prinsip manajemen nyeri pada nyeri punggung bawah dapat

mengikuti Manajemen Nyeri WHO Step Ladder

Gambar 2.8 WHO Step Ladder Pain Management

3. Muxcle relaxant

a. Hal ini dapat mengurangi nyeri dengan mengurangi

kekauan dari otot.

4. Edukasi

a. Edukasi dan prevensi pada pasien dengan low back pain

sangat perlu untuk dilakukan. Hal yang perlu disampaikan

saat memberikan edukasi kepada pasien adalah pasien

Gambar 2.9 Posisi duduk ergonomis

29
disarankan menghindari pekerjaan yang melibatkan

punggung terlalu banyak, terlalu lama duduk, dan aktifitas

yang berlebihan. Pasien disarankan untuk melakukan

latihan penguatan otot, postur tubuh yang benar, melakukan

olah raga yang tidak berlebihan dan aman. Olahraga yang

dilakukan haruslah rutin. Untuk menunjang kehidupan

sehari – hari dan pekerjaan pasien, maka perlu dilakukan

edukasi mengenai ergonomis.

5. Spinal Manipulation Therapy

a. terapi manual di mana banyak diterapkan ke tulang

belakang menggunakan metode long atau short lever

dengan sendi yang dipilih dimaksimalkan range of

invouluntary movement nya, diikuti oleh penerapan

pembebanan impuls (mungkin merupakan bagian dari

program fisioterapi

6. Injeksi epidural

a. suntikan steroid epidural (cortico) (ESI): belum ada bukti

bahwa ini efektif dalam pengobatan radiculopathy

akut.Sebagian besar penelitian yang menunjukkan manfaat

retrospektif. Studi prospektif menghasilkan hasil yang

30
bervariasi. Beberapa muncul perbaikan pada minggu ke 3

dan ke 6 dapat terjadi perubahan (tetapi tidak ada manfaat

fungsional, dan tidak ada perubahan dalam kebutuhan

untuk operasi).Respons pemberian pada nyeri punggung

kronis buruk dibandingkan dengan nyeri akut. ESI mungkin

bisa menjadi pilihan untuk menghilangkan nyeri radikuler

jangka pendek ketika kontrol pada obat oral tidak

memadai(Greenberg, 2013).

2.6.2 Terapi Non Farmakologis

Terapi non farmakologis dibagi menjadi dua, operatif dan non operatif.

Terapi non operatif bertujuan untuk pengembalian fungsi.

2.6.2.1 terapi Non operatif

Terapi non operatif diantaranya adalah:

 Mobility of joints and soft tissues

Manual therapy, manipulation, flexibility

 Stretching  fleksibilitas

 Strengthening  mengembalikan kekuatan

 Aerobic  memperbaiki kondisi umum

 Postural

 Pain relief

Ice, heat, electrical stimulation

Terapi non farmakologis lebih dipilih untuk menangani nyeri punggung

bawah non spesifik. Manajemen dasar dari nyeri punggung bawah adalah tetap

aktif bergerak. Edukasi pasien untuk tetap beraktivitas, dan bukannya bedrest,

mempunyai level evidence-based yang tinggi dalam mengobati nyeri punggung

bawah non spesifik21. Aktivitas ringan dan olahraga ringan (berjalan kaki) teratur

31
sangan direkomendasikan agar pinggang kembali ke kondisi normal(Almoallim et

al., 2014).

Aplikasi panas superfisial seperti air hangat atau patch (koyo) belum

terbukti secara ilmiah untuk mengatasi nyeri punggung bawah, namun dapat

meringankan rasa nyeri dan mengurangi inflamasi akut dan subakut4. Namun

aplikasi terapi dingin tidak direkomendasikan.

Terapi Manual meliputi mobilisasi dan manipulasi spinal. Penanganan soft

tissue seperti masase juga termasuk dalam terapi manual. Manuver dalam terapi

manual mirip dengan manuver diagnostik atau terapeutik, namun lebih banyak

variasinya, tergantung praktisi yang memberi terapi (chiropraktik atau fisioterapi).

Namun perlu ditekankan bahwa terapi manual hanya dilakukan pada nyeri

punggung bawah yang sifatnya non spesifik.

Menurut sebuah guideline dari Amerika dan Eropa, terapi manipulasi spinal

untuk nyeri punggung bawah pada orang dewasa mempunyai rekomendasi

evidence-based yang cukup kuat, walaupun Cochrane menyimpulkan bahwa tidak

ada bukti signifikan yang menyatakan bahwa terapi manual lebih superior daripada

terapi standard lainnya(Powers et al., 2012).

Terapi manual sering dikombinasikan dengan latihan dan peregangan otot.

Latihan koordinasi, penguatan, dan ketahanan tubuh sering digunakan untuk

menterapi pasien nyeri punggung bawah. Latihan ini berfungsi sebagai latihan

kontrol motoris, latihan otot transversus abdominis, dan stabilisasi dinamik lumbar.

32
Gambar 2.10 exercise untuk peregangan otot

Latihan fleksi, disebut juga latihan William’s Flexion, sudah lama dijadikan

terapi standard bagi pasien stenosis spinal. Latihan ini mendetail pada intervensi

konservasi berupa flexi lumbar berulang dalam posisi berbaring, duduk, dan

berdiri. Latihan ini sudah terbukti secara teori untuk melebarkan area canalis

foraminal dan canalis spinalis, sehingga meringankan kompresi mekanik akar

saraf lumbar, meningkatkan fleksibilitas spinal, serta meningkatkan

hemodinamik(Landi et al., 2016).

Sementara prosedur latihan Lower-Quarter Nerve Mobilization merupakan

latihan mobilisasi saraf berupa latihan straigt-leg raising dan slump test. Prosedur

33
ini sudah diuji pada tahun 2002, dan 5 dari 6 pasien yang diuji mengalami

perbaikan pada nyeri menjalar pada paha dan tungkai mereka.

Latihan peregangan otot sering dikombinasikan dengan latihan otot dan

terapi manual. Bahkan latihan peregangan otot lebihefektif daripada pemberian

obat NSAID pada pasien nyeri punggung bawah. Contoh latihan peregangan otot

adalah yoga dan stretching seperti pemanasan sebelum olahraga.

Selain terapi fisik, terapi non farmakologis lainnya juga diperlukan untuk

mengurangi faktor risiko terjadinya nyeri punggung bawah. Karena nyeri punggung

bawah merupakan penyakit yang dipengaruhi pekerjaan, maka perlu dilakukan

evaluasi lingkungan dan sistem pekerjaan pasien. Identifikasi faktor risiko apa saja

yang ada di kantor pasien, seperti posisi yang tidak ergonomis, jam kerja terlalu

lama tanpa istirahat, posisi kerja yang tidak berubah (terlalu banyak duduk/berdiri),

dan lingkungan sosial harus dilakukan agar bisa diperbaiki.

Terapi psikososial (cognitive-behavioural) juga perlu dilakukan, mengingat

faktor psikososial seperti stress dan depresi dapat memperburuk nyeri punggung

bawah20. Terapi psikososial terbaik dilakukan untuk pasien dengan nyeri

punggung bawah subakut dan kronik dengan faktor risiko psikososial tinggi18.

Seringkali terapi psikososial lebih baik daripada terapi standard yang diberikan

pada pasien nyeri punggung bawah.

Sebagian besar kasus nyeri punggung bahwa tidak membutuhkan

pembedahan. Namun bagi pasien kompresi medula spinalis, cauda equina, atau

inspeksi spinal membutuhkan pembedahan segera untuk proses dekompresi dan

debridement sebagai terapi definitif18.

Indikasi tindakan bedah meliputi tanda “red flags” berupa gangguan

BAK/BAB, menurunnya sensoris perineal, defisit motoris (kelemahan

dorsofleksi/plantarfleksi, hilangnya refleks pergelangan kaki) dan defisit motoris

pada ekstremitas bawah. Indikasi absolut dari terapi operatif adalah komplikasi

34
neurologis (seperti penurunan fungsi motorik yang signifikan) dan cauda equina

syndrome.

2.6.2.2 Terapi Operatif

1. Pedoman praktik: Fusi lumbal untuk LBP tanpa stenosis atau

spondylolisthesis(Greenberg, 2013)

a. Level I fusi lumbar direkomendasikan untuk pasien yang dipilih

dengan hati-hati dengan LBP yang parah oleh karena satu atau

lain penyakit degeneratif dua tingkat tanpa stenosis atau

spondylolisthesis, atau pada pasien yang memiliki LBP kronis

selama> 2 tahun dan memiliki bukti radiologis degenerasi diskus

pada L4-L5, L5-S1, atau keduanya, dan telah gagal manajemen

medis terbaik)

b. Level III: kursus intensif PT dan terapi kognitif direkomendasikan

sebagai opsi untuk pasien dengan LBP di mana manajemen

medis konvensional telah gagal

2. Panduan praktik: Fusi lumbal untuk herniasi diskus (Greenberg, 2013)

a. . Fusi lumbal tidak dianjurkan secara rutin setelah eksisi diskus

pada pasien dengan HLD pertama kali atau HLD berulang yang

menyebabkan radikulopati.

b. Fusi lumbal adalah treatment tambahan yang potensial untuk

eksisi diskus dalam kasus HLD pertama atau HLD berulang:

i. dengan bukti kelainan atau ketidakstabilan tulang belakang

lumbar preoperative

ii. pada pasien dengan LBP aksial kronis yang berhubungan

dengan radikulopati

35
BAB 3

RINGKASAN

Nyeri punggung bawah merupakan gejala,bukan suatu diagnosis. Nyeri

punggung bawah atau atau low back pain (LBP) adalah salah satu penyebab yang

paling banyak mempengaruhi disabilitas performa kerja atau kegiatan sehari-hari.

Nyeri punggung ini diakibatkan oleh regangan otot atau tekanan pada akar saraf

dengan beragam ketajaman dan intensitas. Nyeri punggung dapat di bedakan

berdasarkan lokasi dan penyebabnya yakni kelainan myelum, kelainan radix,

kelainan diskus, kelainan sendi facet, dan kelainan sendi sacroiliaka.

Penatalaksanaan konservatif nyeri pungguh bawah diatasi dengan dua

cara yaitu farmakologis dan non farmakologis. Pemakaian farmakologis yang

berulang – ulang dapat menyebabkan efek samping, sehingga diperlukan juga

terapi non farmakologis untuk mencegah terjadinya gejala berulang pada low back

pain. Terapi non farmakologis diantaranya adalah melakukan aktifitas seperti

biasa, tirah baring, olahraga, terapi manipulasi, dan terapi dengan modalitas

dengan tamban terapi opeatif sebagai adjunct therapy pada kondisi tertentu.

36
DAFTAR PUSTAKA

Allegri, M. et al. (2016) ‘Mechanisms of low back pain: A guide for diagnosis and
therapy [version 1; referees: 3 approved]’, F1000Research, 5, pp. 1–11. doi:
10.12688/F1000RESEARCH.8105.1.
Almoallim, H. et al. (2014) ‘A Simple Approach of Low Back Pain’, International
Journal of Clinical Medicine, 05(17), pp. 1087–1098. doi:
10.4236/ijcm.2014.517139.
Arwino, L. D. (2018) ‘Keluhan Nyeri Punggung Bawah pada Penjahit Garmen’,
Higeia Journal Of Public Health Research And Development, 2(3), p. 407.
Casazza, B. A. (2012) ‘Diagnosis and treatment of acute low back pain’, American
Family Physician, 85(4), pp. 343–350. doi: 10.1136/bmj.332.7555.1430.
Greenberg, mark S. (2013) Handbook of Neurosurgery, Journal of Chemical
Information and Modeling. doi: 10.1017/CBO9781107415324.004.
Hayashi, Y. (2004) ‘Classification, Diagnosis, and Treatment of Low Back Pain’,
Jmaj, 45(5), pp. 227–233. Available at:
http://www.med.or.jp/english/pdf/2004_05/227_233.pdf.
Hoy, D. et al. (2014) ‘The global burden of low back pain: Estimates from the Global
Burden of Disease 2010 study’, Annals of the Rheumatic Diseases, 73(6),
pp. 968–974. doi: 10.1136/annrheumdis-2013-204428.
Institute of Health Metrix and Evaluations [IHME] (2017) ‘Global Burden of Disease
Study 2017’, The Lancet.
Lagman, C. et al. (2017) ‘Neurosurgery concepts: Key perspectives on imaging
characteristics of spinal metastases, surgery for low back pain, anesthesia
for disc surgery, and laminectomy versus laminectomy and fusion for lumbar
spondylolisthesis’, Surgical Neurology International, 8(1). doi: 10.4103/2152-
7806.198736.
Landi, A. et al. (2016) ‘Clinical Assessment of Low Back Pain: A Neurosurgical
Point of View’, International Journal of Recent Surgical and Medical
Sciences, 02(02), pp. 055–057. doi: 10.5005/jp-journals-10053-0015.
Powers, C. M. et al. (2012) ‘Patellofemoral pain: proximal, distal, and local factors,
2nd International Research Retreat.’, The Journal of orthopaedic and sports
physical therapy, 42(6). doi: 10.2519/jospt.2012.0301.
Sabzalisenejani, A. and Nikraz, H. (1998) ‘A numerical approach for the prediction
of shear strength of stiff fissured clay samples based on direct shear tests

37
and FLAC modelling’, The geotechnics of hard soils - soft rocks. Proceedings
of the second international symopsium on hard soils-soft rocks, Naples,
October 1998. (Two volumes)., (March), pp. 833–842.

38