Anda di halaman 1dari 194

8 Alasan Kenapa Blusukan Pakai Sepeda

Gunung Bisa Jadi Alternatif Aktivitas


Outdoor yang Asyik
4 years ago By Reza Akhmad

 305 Shares


Saat ini aktivitas menikmati alam telah menjadi pilihan alternatif untuk mencari hiburan.
Kepenatan karena hingar bingar kota, kesibukan kerja yang makin padat, hingga tidak adanya
ruang terbuka untuk sekadar menghela nafas menjadikan hijaunya alam terbuka jadi hal yang
selalu dinantikan.

Keinginan untuk berburu wisata alam semakin menjadi sebab media kian gencar memberitakan
berbagai destinasi wisata alam yang memanjakan mata. Masalahnya kita sebagai manusia dewasa
tak bisa pergi berlibur seenak hati sebab ada kewajiban yang harus dilakoni.

Advertisement
MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Bersepeda jadi alternatif bagi keadaan ini. Perpaduan alam dengan tren bersepeda telah menjadi
hobi dan liburan yang banyak digandrungi oleh berbagai kalangan. Kamu masih kurang alasan
kenapa harus mulai menambahkan bersepeda gunung sebagai aktivitas outdoor yang
menyenangkan? Di artikel ini Hipwee akan kupas jawabannya.

1. Ketika jalan sedang macet-macetnya bersepeda bisa jadi


pilihan untuk menyingkir sejenak dari hingar-bingar kota

Menjauhkan diri dari kepenatan kota via pinkbike.com via www.pinkbike.com

Keadaan kota yang penuh dengan hingar-bingar kendaraan dan lautan manusia kadang jadi
penyebab tersulutnya emosi saat berkendara. Kendaraanmu dikepung motor dari kanan-kiri,
kamu yang naik motor juga harus bersabar ketika harus naik turun trotoar demi mendapatkan
jalan yang lebih longgar.

Ketika kejemuan berkendara di tengah padatnya kota melanda bersepeda bisa jadi pilihan yang
membuat otakmu beristirahat sejenak. Dengan bersepeda kamu dipaksa melakoni perjalanan
yang lebih lambat, setiap kayuhan mengeksposmu pada pemandangan sederhana yang selama ini
sering tidak tertangkap mata.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 29


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Advertisement

Keberadaan perpustakaan kecil di ujung gang, ramainya warung nasi kuning yang ada di
pinggir jalan, sampai hijaunya pepohonan yang tumbuh di halaman tetangga bisa terlihat
dengan jelas. 

Mulai sekarang jangan ragu mengeluarkan sepeda dari garasi jika jalanan sedang macet-
macetnya. Dengan bersepeda kamu akan tahu car amenikmati pelannya perjalanan dengan cara
berbeda.

2. Menyusur jalur di Gunung Bromo, sampai menikmati


hutan pinus di Jogja terasa lebih ringan dengan sepeda.
Sarana transportasi ini akam membuat perjalananmu
makin kaya

Menikmati alam dengan cara yang berbeda via hipwee.com

Sebutlah kamu cuma punya 1-2 hari saat akhir pekan untuk berlibur ke destinasi yang sudah
diidamkan sekian lama. Jika hanya dengan tracking seperti biasa maka waktumu bisa habis di
perjalanan. Pulang ke rumah tinggal pegal dan capeknya saja yang tersisa, sementara rasa
penasaran akan indahnya keseluruhan lanskap destinasi itu belum terjawab sempurna.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 30


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Efisiensi waktu dan kesempatan yang lebih banyak untuk menikmati alam menjadi keuntungan
dari sepeda gunung. Dengan sepeda gunung track yang tampak terlalu curam untuk didaki
dengan kaki bisa dilibas. Turunan yang kelihatannya berbaya justru bisa memberimu
pemandangan yang mendebarkan. Perjalanan dengan sepeda tak hanya terasa lebih efisien,
melainkan juga bisa memberimu pengalaman yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

3. Di tengah medan yang menantang, sepeda gunung bisa


jadi kawan baik untuk meninggikan adrenalin. Kamu
tinggal memilih trek yang menguji keahlian

Pemacu adrenaline yang pas via pinkbike.com via www.pinkbike.com

Tidak perlu pergi jauh-jauh untuk menikmati sensasi dari roller coaster yang belum tentu ada di
daerahmu. Lupakan juga wahana kora-kora yang hanya ada di amusement park  atau di pasar
malam yang diadakan satu tahun sekali. Adrenalin bisa kamu panggil dengan cara-cara yang jauh
lebih sederhana.

Cukup dengan membawa sepeda gunung untuk menyusuri track alam yang masih terbebas dari
polusi kendaraan kamu sudah bisa memulai sebuah pertualangan. Kombinasi trek penuh

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 31


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

bebatuan, tanah basah, debu, dan genangan air yang lengkap dengan tanjakan dan turunan
menjadikan sepeda gunung sebagai alternatif lain aktivitas penguji adrenalin yang
menyenangkan.

4. Dalam kegiatan komunitas sepeda kamu bisa menemui


berbagai pribadi dari latar belakang berbeda. Bergaul
dengan mereka membuat wawasan dan matamu jadi lebih
terbuka

Teman-teman dari latar belakang yang berbeda via facebook.com via www.facebook.com

Seperti kegiataan outdoor lainnya, separuh kesenangan dari aktivitas blusukan dengan sepeda


gunung datang dari orang-orang yang terlibat di dalamnya.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 32


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Seiring meroketnya ketenaran sepeda sebagai alternatif sarana transportasi dan sarana olahraga
makin banyak orang yang bisa kamu temui dalam komunitasnya. Mulai dari mahasiswa, pegawai
negeri, karyawan swasta, pengusaha, dokter, dan banyak profesi lain yang masih jarang terdengar
di telinga.

Bahkan saat ini komunitas-komunitas outdoor macam komunitas parkour, mobil offroad, airsoft,


dan komunitas selam mulai memasukkan kegiatan bersepeda gunung sebagai kegiatan
sampingan. Tentunya ini tak bisa dilepaskan dari kedekatan aktivitas yang satu ini dengan alam
bebas.

5. Di dalam aktivitas menguji nyali ini kamu bisa merasakan


dekatnya kebersamaan, ringannya satu sama lain
memberikan bantuan. Tak ada lagi tempat bagi keegoisan

Melatih rasa kebersamaan

Bersepeda di gunung biasanya dilakukan secara berkelompok dalam suatu komunitas. Salah satu
alasannya karena apabila salah satu dari personil kita mengalami masalah dengan sepedanya
(bocor ban, rantai putus, dsb) maupun cedera akibat terjatuh maka teman-teman yang lain akan

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 33


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

dengan sukarela membantu teman tersebut, karena di alam segala sesuatu harus dilakukan secara
mandiri).

Kebersamaan macam ini akan melatih sense empatimu di tengah kondisi masyarakat modern
yang sedang didera krisis komunikasi empatik akibat perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi. Tidak ada lagi ruang untuk jadi individu yang individualis, kalian harus saling
membantu agar bisa bertahan di tengah kejamnya alam.

6. Ketahanan fisikmu dijamin teruji. Angkat-jinjing sepeda


tak sekali dua kali akan kamu lakoni

Melatih kekuatan fisik via pinkbike.com via www.pinkbike.com

Bersepeda gunung merupakan salah satu cabang olahraga yang membutuhkan aktivitas fisik yang
tak sedikit. Trek yang kita lalui di gunung tidak semulus jalanan aspal yang ada di kota. Tanjakan
yang melatih kesabaran menjadikan kita mengayuh pedal dengan hati-hati, bahkan ketika
tanjakannya dianggap tidak manusiawi, mendorong sepeda bahkan mengangkat sepeda menjadi
pilihan yang tidak bisa dihindari.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 34


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Belum lagi ketika melewati track downhill yang penuh dengan kombinasi batu, akar pohon,
rumput yang licin, dan tanah yang lembab — melatih kekuatan tangan kita dalam
mempertahankan keseimbangan dari handlebar agar kita tidak terjatuh. Sepeda gunung juga
melatih kemampuan endurance yang baik untuk kesehatan jantung.

7. Lewat aktivitas outdoor ini kecepatan berpikir dan gerak


reflekmu tak akan tumpul. Berubahnya medan secara tiba-
tiba memaksamu harus mengambil keputusan dengan
segera

Melatih refleksitas tubuh dan pikiran via pinkbike.com

Setelah melewati tanjakan biasanya para goweser akan menemukan track downhill yang menjadi
tujuan mereka. Kecepatan sepeda ketika downhill dapat kita samakan dengan ketika kita menaiki
sepeda motor, tergantung dari bentuk geografis suatu daerah. Dengan kecepatan seperti itu secara
tidak langsung kita akan mengasah kecepatan berpikir untuk menentukan jalan yang paling aman
untuk dilalui.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 35


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Belokan tajam, drop tiba-tiba, tanjakan tinggi terkadang menjadi kombinasi yang tak mampu kita
prediksi ketika blusukan. Dalam kegiatan ini kecepatan berpikir dan gerak reflek harus berada
dalam kondisi terbaiknya. Semakin lama melakoni aktivitas outdoor ini kamu akan jadi orang
yang terbiasa bergerak cepat, gerak reflek dan kecepatan berpikirmu secara perlahan akan
berkembang pesat.

8. Sepulang blusukan dengan sepeda gunung kamu akan


belajar bahwa tidak ada trek yang pantas membuatmu
putus asa. Apapun caranya kamu harus tetap mengayuh
pedal dan terus berusaha

Tidak mudah putus asa via pinkbike.com via www.pinkbike.com

Dengan kondisi trek sedemikian rupa, kemungkinan terjatuh dari sepeda menjadi hal yang akan
sering kita temui ketika bersepeda gunung. Namun para penggiat sepeda gunung meyakini bahwa
setiap tanjakan tinggi akan selalu diikuti dengan “surga” — turunan yang membuat mereka bisa
sedikit melemaskan otot kaki sementara.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 36


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Berawal dari keterpaksaan yang dibalut dengan rasa senang maka lama-kelamaan rasa pantang
menyerah akan muncul di dalam diri, keterpaksaan tersebut muncul karena mau tidak mau kita
harus mengayuh sepeda untuk pulang menuju rumah untuk beristirahat. Atau menyerah dan
menunggu diselamatkan oleh Tim SAR dan merepotkan banyak orang.

Jadi, tertantang untuk mencoba aktivitas sepeda gunung? Tenang, saat ini telah banyak
komunitas dunia virtual yang mudah kita temui. Cukup dengan bergabung di dalam grup tersebut
dan memiliki sepeda lengkap dengan protector yang menempel di badan, maka kamu akan
menikmati sensasi-sensasi seperti yang disebutkan di atas.

Advertisement
by Taboola
Promoted Links
You May Like

Umumkan Idap Bipolar Pasca Baikan dengan Zaskia Sungkar, Medina Zein Bantah Cari Sensasi

Penguat Wifi Baru Mengakhiri Internet Mahal di IndonesiaWiFi Booster

Alat kecil tapi pintar ini mampu mengenali dan menerjemahkan secara cepat lebih dari 40 bahasa
yang berbedaTopGadgetAdvisor

Sepeda Akan Jadi Moda Mobilitas Eropa


2030
18 September 2019   06:29 Diperbarui: 18 September 2019   07:52 34 1 2

Para pesepeda di jalanan Kopenhagen Denmark (doc.City Clock Mag./ed.Wahyuni)

Organisasi lingkungan internasional Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC,  Panel


Antar Pemerintahan untuk Perubahan Cuaca) memperkirakan bahwa hanya ada waktu sampai
tahun 2030 untuk secara signifikan mengurangi dampak lingkungan dari sistem transportasi kita

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 37


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan sesuai yang diamanahkan dalam Paris
Agreement.

Salah satu cara untuk memenuhi tujuan-tujuan di atas, menurut Christophe Najdovski Ketua
European Cylist Federation (ECF, Federasi Pesepeda Eropa) dan Wakil Walikota Paris,
sekaligus mengurangi dampak buruk perubahan iklim adalah dengan bersepeda (The Parliament
Magazine, 16 September 2019).

Sepeda memang bukan solusi transportasi baru, seperti juga jalan kaki, namun masih merupakan
moda transportasi yang paling ramah lingkungan sehingga memenuhi syarat untuk diintegrasikan
dalam skala besar pada sistem transportasi rendah karbon saat ini maupun di masa depan. 

Penggunaan sepeda di Eropa mampu menekan kadar CO2 sampai 16 juta ton per tahun sekarang,
bila bisa digandakan maka akan menekan emisi setidaknya 7 juta ton CO2 per tahun.

Selama kampanye pemilu untuk Parlemen Eropa, ECF telah memanggil para kandidat untuk
menandatangani perjanjian 'Cycling for All' (Bersepeda untuk Semua). Perjanjian tersebut telah
berhasil membuat 75 anggota Parlemen Eropa berkomitmen untuk secara aktif mempromosikan
kebijakan-kebijakan bersepeda dalam agenda legislatif Uni Eropa selama lima tahun mendatang.

ECF telah menyusun beberapa tujuan kebijakan utama untuk menyebarkan bersepeda sebagai
bagian dari sistem mobilitas Eropa tahun 2030, yaitu pertama bersepeda harus diperlakukan
sebagai mitra setara (dengan moda lain) dalam sistem mobilitas dimana para pengendara
membayar penuh semua biaya eksternal untuk pilihan mobilitas yang diambil dan keuntungan
sosial yang lebih luas dari mobilitas aktif dapat sepenuhnya diserap.

Kedua, penggunaan sepeda di Uni Eropa harus meningkat 50 persen pada 2030 dan bersepeda
menerima bagian sedikitnya 12 persen dari modal transportasi. 

Ketiga, kecelakaan fatal dan cedera serius di kalangan para pesepeda hendaknya bisa dikurangi
sampai separuhnya pada 2030. 

Keempat 3 milyar Euro akan diinvestasikan dalam proyek bersepeda dalam anggaran Uni Eropa
periode 2021-2027 dan selanjutnya akan menjadi 6 milyar Euro.

Selain itu menciptakan ruang-ruang yang lebih aman dan mudah diakses untuk bersepeda secara
teratur bukan hanya akan berkontribusi bagi kesehatan lingkungan, namun juga merupakan
bagian dari upaya jangka panjang membangun masyarakat yang lebih sehat.

Aktifitas fisik bersepeda memberikan banyak manfaat kesehatan yang penting bagi tubuh,
mencegah lebih dari 18,000 kematian prematur setiap tahun. Bersepeda juga mengurangi resiko
terkena penyakit kardiovaskular, diabetes, dan beberapa jenis kanker sehingga menurunkan pula
beban ekonomi yang harus ditanggung sistem kesehatan sampai sekitar 52 milyar Euro setahun

Sepeda
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 38


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Ojek sepeda di Indonesia

Sepeda gunung

Sepeda dilengkapi lampu depan, dengan berbagai tas dan alat penyimpanan

Rancangan sepeda Drais, 1817

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 39


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Sepeda (dari bahasa Prancis: vélocipède /ve.lɔ.si.pɛd/, melalui bahasa Belanda: vélocipède
/velosiˈpɛːdə/) atau kereta angin adalah kendaraan beroda dua atau tiga yang mempunyai setang,
tempat duduk, dan sepasang pengayuh yang digerakkan kaki untuk menjalankannya.[1]

Daftar isi
Sejarah
Seperti ditulis Ensiklopedia Columbia, nenek moyang sepeda diperkirakan berasal dari Prancis.
Menurut kabar sejarah, negeri itu sudah sejak awal abad ke-18 mengenal alat transportasi roda
dua yang dinamai velocipede. Bertahun-tahun, velocipede menjadi satu-satunya istilah yang
merujuk hasil rancang bangun kendaraan dua roda.

Yang pasti, konstruksinya belum mengenal besi. Modelnya pun masih sangat "primitif". Ada
yang bilang tanpa pedal tongkat itu (tatocipede) bisa bergerak tetapi bagaimana? Rick
Boneshaker akan menjawabnya. Katanya "Oh,ini jawabannya. Dua orang harus memutar engkol
di sisi kanan dan kiri sepeda "primitif" tersebut dengan pedoman kecepatan mendekati
109 km/jam. Setelah itu, tatocipede akan bergerak sesuai kecepatan engkol berputar dengan
urutan sebagai berikut: kiri,kanan,berputar,atas,depan,bawah,belakang,barat laut. Tidak sulit
kan?"

Adalah seorang Jerman bernama Baron Karls Drais von Sauerbronn yang pantas dicatat sebagai
salah seorang penyempurna velocipede. Tahun 1818, von Sauerbronn membuat alat transportasi
roda dua untuk menunjang efisiensi kerjanya. Sebagai kepala pengawas hutan Baden, ia memang
butuh sarana transportasi bermobilitas tinggi. Tapi, model yang dikembangkan tampaknya masih
mendua, antara sepeda dan kereta kuda. Sehingga masyarakat menjuluki ciptaan sang Baron
sebagai dandy horse.

Baru pada 1839, Kirkpatrick MacMillan, pandai besi kelahiran Skotlandia, membuatkan pedal
khusus untuk sepeda. Tentu bukan mesin seperti yang dimiliki sepeda motor, tetapi lebih mirip
pendorong yang diaktifkan engkol, lewat gerakan turun-naik kaki mengayuh pedal. MacMillan
pun sudah "berani" menghubungkan engkol tadi dengan tongkat kemudi (setang sederhana).

Sedangkan ensiklopedia Britannica.com mencatat upaya penyempurnaan penemu Prancis, Ernest


Michaux pada 1855, dengan membuat pemberat engkol, hingga laju sepeda lebih stabil. Makin
sempurna setelah orang Prancis lainnya, Pierre Lallement (1865) memperkuat roda dengan
menambahkan lingkaran besi di sekelilingnya (sekarang dikenal sebagai pelek atau velg).
Lallement juga yang memperkenalkan sepeda dengan roda depan lebih besar daripada roda
belakang.

Namun kemajuan paling signifikan terjadi saat teknologi pembuatan baja berlubang ditemukan,
menyusul kian bagusnya teknik penyambungan besi, serta penemuan karet sebagai bahan baku
ban. Namun, faktor safety dan kenyamanan tetap belum terpecahkan. Karena teknologi suspensi
(per dan sebagainya) belum ditemukan, goyangan dan guncangan sering membuat

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 40


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

penunggangnya sakit pinggang. Setengah bercanda, masyarakat menjuluki sepeda Lallement


sebagai boneshaker (penggoyang tulang).

Sehingga tidak heran jika di era 1880-an, sepeda tiga roda yang dianggap lebih aman buat wanita
dan laki-laki yang kakinya terlalu pendek untuk mengayuh sepeda konvensional menjadi begitu
populer. Trend sepeda roda dua kembali mendunia setelah berdirinya pabrik sepeda pertama di
Coventry, Inggris pada 1885. Pabrik yang didirikan James Starley ini makin menemukan
momentum setelah tahun 1888 John Dunlop menemukan teknologi ban angin. Laju sepeda pun
tak lagi berguncang.

Penemuan lainnya, seperti rem, perbandingan gigi yang bisa diganti-ganti, rantai, setang yang
bisa digerakkan, dan masih banyak lagi makin menambah daya tarik sepeda. Sejak itu, berjuta-
juta orang mulai menjadikan sepeda sebagai alat transportasi, dengan Amerika dan Eropa sebagai
pionirnya. Meski lambat laun, perannya mulai disingkirkan mobil dan sepeda motor, sepeda tetap
punya pemerhati. Bahkan penggemarnya dikenal sangat fanatik.

Gir Tetap (Fixed Gear)


Gir Tetap (atau Fixed Gear dalam bahasa Inggris) adalah nama yang cukup harafiah, bukan
julukan, nama keren, atau singkatan. Fixed = terpaku/tidak bergerak/paten dan Gear = gigi/gir.

Secara sederhana, yang menggerakan sebuah sepeda (ataupun kendaraan lain) adalah bagian
yang disebut sistem penggerak ("Drivetrain"). Sistem penggerak sendiri sebenarnya adalah
gabungan berbagai komponen yang saling terhubung dan terdiri dari pedal, lengan engkol
(crankarm), gir depan (chainring), gir belakang (cog), dan tentunya rantai (chain).

Gabungan komponen di bagian pedal dikenal sebagai “crankset”, yaitu pedal, lengan engkol, dan
gir depan. Lalu rantai akan melingkari gir depan dan menghubungkannya dengan gir belakang
yang terhubung dengan roda belakang.

Ketika pedal diinjak, lengan engkol akan mengikutinya, memutar gir depan yang menempel,
yang kemudian menarik rantai yang juga otomatis menarik gir belakang untuk berputar, dan
karena ia menempel pada roda belakang, berputarlah roda itu dan meluncurlah kita. Mekanisme
sederhana yang kurang lebih tidak pernah berubah sejak diciptakannya sistem ini.

Kesederhanaan sistem ini membawa sebuah kendala. Keterikatan semua komponen sistem
penggerak ini adalah yang membuat logika “memutar pedal maka roda belakang pun berputar”
bisa berjalan. Dengan logika yang sama, artinya selama roda belakang berputar, pedal pun akan
berputar.

Karena semua komponen drivetrain ini terikat mati satu sama lain, tanpa ada pergerakan bebas.
Gir belakang yang hanya berputar mengikuti putaran rantai atau roda dikenal sebagai "Gir tetap”.
Pedal diputar ke depan, roda belakang berputar ke depan. Pedal diputar ke belakang, roda
berputar ke belakang. Dan demikian juga sebaliknya.

Karena relasi antara kaki, engkol, rantai, dan roda belakang yang menjadi “satu kesatuan” ini,
maka untuk mengatur laju kecepatan perputaran roda pun bisa dikendalikan oleh otot kaki kita
sendiri. Bahkan untuk menghentikan sepeda secara total pun bisa dilakukan dengan sepeda bergir

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 41


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

tetap tanpa menggunakan bantuan rem pada umumnya. Jadi penggunaan rem pada sepeda bergir
tetap menjadi sebuah pilihan, apakah pengendara ingin lebih aman dengan memasang rem atau
cukup percaya diri dengan kemampuannya menghentikan sepeda dengan kekuatan kaki semata.
Mekanisme ini berbeda dengan rem “Torpedo,” yang akan dijelaskan setelah ini.

Sekitar 20 tahun setelah diciptakan sistem bergir tetap ini, muncul sebuah teknologi baru yang
dikenal sebagai “Roda Bebas" (“Freewheel”).

Roda Bebas (Freewheel)

Mekanisme freewheel

Sistem roda bebas ini sendiri adalah sistem gir belakang yang memberikan kebebasan roda
belakang berputar secara bebas dari pedal. Jadi ketika pedal diputar, rantai dan roda belakang
akan mengikuti seperti biasa, tetapi ketika kaki berhenti memutar pedal, rantai ikut berhenti
bergerak, gir belakang pun berhenti memutar, tetapi roda belakang tetap bisa berputar sesuai
momentum. Bisa dibilang sistem penggerak beroda bebas ini hanya terkunci searah saja.

Karena roda belakang kini tidak terkunci mati dengan perputaran pedal, pengguna sepeda bisa
lebih nyaman bersepeda, dengan menggunakan teknik “coasting", yaitu melaju tanpa terus-
terusan memutar pedal. Roda bebas inilah yang lebih sering kita jumpai di sepeda-sepeda modern
dan segala bentuknya, dari sepeda anak-anak hingga sepeda di kompetisi ternama Tour de
France.

Sistem rem “torpedo”, yaitu sepeda yang remnya menggunakan metode injak pedal ke arah
belakang. Rem torpedo sendiri dipasang pada sepeda yang berbasis roda bebas, dan menjadi
bagian internal dari hub roda belakang. Sepeda torpedo bisa diidentifikasi dari sebuah tuas kecil
yang keluar dari hub belakang dan “diikat” pada rangka sepeda. Sekilas sepeda torpedo bisa
terlihat seperti sebuah sepeda bergir tetap tanpa rem, tetapi karena sistem penggeraknya berbasis
roda bebas, ia tidak akan dikategorikan ke dalam sepeda bergir tetap.

Jenis-jenis sepeda

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 42


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Kini sepeda mempunyai beragam nama dan model. Pengelompokan biasanya berdasarkan fungsi
dan ukurannya.

 Sepeda onthel atau sepeda angkut, adalah sepeda tipe roadster berdesain klasik yang
dibuat dari besi kuat dan telah digunakan sejak puluhan tahun. Saat ini sepeda onthel
sudah jarang ditemukan karena jumlahnya sangat sedikit dan terkesan kuno bagi
masyarakat saat ini. Kebanyakan hanya orang tua dan pedagang asongan saja yang
menggunakan sepeda onthel. Becak sendiri merupakan hasil modifikasi dari sepeda
onthel dimana bagian depan dibuat tempat khusus untuk penumpang.

Pesepeda Ontel di India pada tahun 2007

 Sepeda gunung (mountain bike, disingkat MTB), digunakan untuk lintasan off-road
dengan rangka yang kuat, memiliki suspensi, dan kombinasi kecepatan sampai 27 km/jam
serta alur ban yang tebal, kasar, dan dirancang khusus untuk medan terjal dan berbukit.
Sepeda gunung biasa digunakan untuk downhill atau balapan menuruni lereng baik di
gunung maupun gang-gang sempit perkotaan.
 Sepeda jalan raya, digunakan untuk balap jalan raya, bobot keseluruhan yang ringan, ban
halus untuk mengurangi gesekan dengan jalan, kombinasi kecepatan sampai 27 km/jam.
 Sepeda BMX, merupakan kependekan dari bicycle moto-cross dengan model rangka yang
sedang dan tempat duduk yang tidak terlalu rendah. Sepeda ini banyak digunakan untuk
atraksi dan kontes. Terkadang sepeda BMX juga dipasang dua bilah tongkat
besiberukuran pendek di bagian depan dan belakang sebagai boncengan.
 Sepeda kota (citybike) adalah sepeda yang biasa dipakai di perkotaan dengan kondisi
jalan yang baik. Sepeda jenis sangat menekankan aspek funsional. Biasanya memiliki
sebuah boncengan dan keranjang.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 43


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Sepeda jenis citybike dengan boncengan dan keranjang

 Sepeda Lowrider adalah jenis sepeda yang bentuknya terinspirasi dari mobil Lowrider.
Ciri khas dari sepeda Lowrider yaitu sistem hidrolik yang unik yang dapat dinaik-
turunkan, handler yang tinggi, tempat duduk serendah mungkin, serta ban serep di bagian
belakang. Sepeda jenis ini biasanya digunakan untuk kontes maupun pameran.
 Sepeda mini, termasuk dalam kelompok ini adalah sepeda anak-anak, baik beroda dua
maupun beroda tiga.
 Sepeda lipat, merupakan jenis sepeda yang rangkanya bisa dilipat dalam hitungan detik
sehingga dapat dibawa ke mana-mana dengan mudah.
 Sepeda listrik, adalah sepeda yang menggunakan daya listrik di dalamnya dan terdapat
baterai yang dapat diisi ulang. Jika baterai habis maka pedal dapat digunakan agar sepeda
tetap dapat berjalan. Sepeda jenis ini kebanyakan digunakan oleh orang tua dan difabel.
Sepeda ini digunakan sebagai pengganti sepeda motor jika jarak yang ditempuh tidak
terlalu jauh.
 Sepeda balap, adalah sepeda yang model handlernya setengah lingkaran serta roda yang
tipis dan besar. Digunakan untuk balapan, posisi tubuh dalam menggunakan sepeda balap
yaitu membungkuk dikarenakan handler yang rendah serta letak tempat duduk yang
tinggi dan cukup jauh dari handler.
 Sepeda Fixie, adalah sepeda yang mirip dengan sepeda gunung hanya saja tidak memiliki
rem, roda yang sangat tipis dan besar, serta handler yang melengkung atau lurus. Sepeda
ini hanya dapat dihentikan dengan mengarahkan pedal ke arah sebaliknya.
 Sepeda Motor, bertenaga mesin dengan mengunakan bahan bakar berjenis bensin sebagai
sumber daya utamanya. Dengan semakin berkembangnya teknlogi pada industri
kendaraan roda dua.

Bersepeda
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 44


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Para protes sedang bersepeda di Prancis.

Bersepeda adalah sebuah kegiatan rekreasi atau olahraga, serta merupakan salah satu moda
transportasi darat yang menggunakan sepeda. Sepeda pertama kali diperkenalkan pada abad ke-
19 Masehi.

Banyak penggemar bersepeda yang melakukan kegiatan tersebut di berbagai macam medan,
misalnya perbukitan, medan yang terjal maupun hanya sekadar dipedesaan dan perkotaan saja.

Orang yang mempergunakan sepeda sebagai moda transportasi rutin juga dapat disebut komuter.
Penggunaan sepeda sebagai moda transportasi rutin tidak hanya dilakukan oleh pekerja yang
bekerja di sektor non-formal, tetapi juga dilakukan oleh pekerja yang bekerja di sektor formal.

Para pekerja di sektor formal yang menggunakan sepeda sebagai moda transportasi rutin ini
sebagian besar tergabung dalam komunitas pekerja bersepeda atau yang dikenal dengan nama
Bike To Work Indonesia (B2W Indonesia).

Selain para pekerja, sepeda juga banyak digunakan oleh anak sekolah. Selain karena
menggunakan sepeda tidak membutuhkan biaya tambahan, bersepeda juga dapat dilakukan di
jalan yang kurang bagus sekalipun. Bersepeda bagi anak sekolah juga dapat mengurangi bahaya
kecelakaan dalam berkendara.

Lihat pula
 Sepeda motor
 Motorkros

Referensi
 (Inggris) Nealy, William (1994). "Mountain Bike - A Manual of Beginning to Advanced
Technique". Menasa Ridge Press ISBN 0-89732-114-6

Artikel bertopik olahraga ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia
  dengan mengembangkannya.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 45


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Pengertian, Sejarah, Teknik Balap Sepeda


By Posted on

Pengertian, Sejarah,Aturan, Teknik Balap Sepeda –  Semenjak dibuat tahun 1817, sepeda
menjadi perangkat transportasi.Mulanya, roda depan sepeda berukuran lebih banyak daripada
roda di unsur belakang heheh mengherankan bukan andai diterawang pada zaman sekarang. Oleh
karena tersebut posisi rider tidak banyak terangkat dan urusan tersebut sangatlah riskan karena
sepeda menjadi susah untuk dikendalikan.Pada tahun 1885, J.K. Starley dari Inggris melengkapi
sepedanya dengan rantai dan gerigi yang memungkinkan kedua roda guna berukuran
sama.Meskipun lomba pacu sepeda sudah diselenggarakan sejak lama tetapi pembuatan sepeda –
sepeda baru memacu pengadaan lomba pacu sepeda sebagai olahraga.

Cabang bersepeda dalam ajang Olimpiade terdiri dari empat ruang belajar :

1. Road (jalan)
2. Track
3. Mountain Biking (sepeda gunung) dan
4. BMX.

Penjelasan Lebih Lanjut

1.Road

Seorang Pandai besi dari Skotlandia, Kirkpatrick MacMillan menambahkan pedal dan
mekanisme pengungkit guna mempermudah rider dalam mengemudikan sepeda. Sebelumnya,
rider sepeda mesti mendorong sepeda mereka dengan kaki. Hal itu dinilai tidak cukup efektif
guna dilombakan.Tahun 1880 – an, sepeda kembali merasakan perkembangan dengan
dikembangkannya sistem rantai dan gerigi. Dengan demikian, bentuknya juga semakin ramping,
seperti format sepeda sekarang. Pada ketika itu, atlet dan perancang sepeda bersaing – lomba
untuk menciptakan sepeda yang dapat berjalan lebih cepat lagi.Pada Olimpiade kesatu tahun
1896, untuk ruang belajar Road Race diselenggarakan di jalur maraton. Para rider mesti
menuntaskan dua lap dengan total 87 kilometer. Satu abad lantas barulah semua wanita diizinkan

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 46


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

untuk ikut berpartisipasi., yakni tahun 1984. Dan 12 tahun kemudian, di Olimpiade ‘96 Atlanta,
ruang belajar Time Trial diperkenalkan.

Kompetisi:

Road race dan Time Trial guna putra dan putri sekarang terdiri dari empat ruang belajar yang
merangkai program Road Race Olimpiade. Road Race dibuka dengan start massal. Jarak lari
guna putra sejauh 239 km dan guna Putri sejauh 120 km. Bagi Time Trial, lamanya dihitung
menurut waktu, dibuka dengan 90 detik interval. Jaraknya sendiri guna putra menjangkau 46,8
km dan guna putrid 31,2 km.

Kelas yang dipertandingkan:

Putra:

 Road Race Perorangan


 Time Trial Perorangan

Putri:

 Road Race Perorangan


 Time Trial Perorangan

2.Cycling Track

Bagi orang awam, pacu sepeda ( road race ) dan bersepeda gunung lebih dikategorikan pada
olahraga sepeda sementara Track Cycling tidak. Dalam Track cycling, rider melulu mengelilingi
jalur dengan kemiringan sampai 42 derajat, disebut pun dengan Velodrom. Helm, pakaian dan
sepeda yang dipakai sangat bertolak belakang dengan sepeda yang dipakai untuk pacu pada
umumnya, lebih serupa kostum dari film luar angkasa, pembuatan sepeda – sepeda aerodinamis
juga dimulai. Sepeda -sepeda itu menawarkan kecepatan yang luar biasa, walaupun begitu,
sepeda itu tidak dapat mengerjakan manuver tertentu sampai-sampai akan menjadi tidak banyak
kaku dalam pacu sepeda dengan jumlah peserta yang lebih tidak sedikit atau ramai.
Olimpiade tahun 1984 di Los Angeles, teknologi pada cabang ini mulai diperkenalkan seperti:
spokeless dan piringan roda carbon-fibre. Revolusi beda terjadi pada Olimpiade 1992, Barcelona,
di mana Chris Boardman dari Inggris memenangkan medali emas kesatu Inggris guna cabang
olahraga sepeda semenjak tahun 1920.
Ia memecahkan rekor dunia dengan memakai sepeda yang sepenuhnya tercipta dari carbon –
fibre serta aerodynamic cross – sections yang beratnya tidak lebih dari sembilan kilo. Track
Cycling pulang berkembang, Time Trial guna Putri berjarak 500 meter dan guna Putra terdapat
ruang belajar baru yakni Keirin, Madison dan Olympic Sprint Race.

Kompetisi:

Seluruh program mencakup ruang belajar perorangan, tim, sprint, endurance race, pursuits, time
trials dan first-over-the-line finishes. Bagi time trial, sprint, individual pursuit dan points race
terdapat untuk ruang belajar putra dan putri sementara untuk 4000 m team pursuit, Madison,
Keirin dan Olympic sprint melulu untuk putra.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 47


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

a) Madison:

Dimulai dengan start massal dan sebanyak tim yang terdiri dari dua rider. Serupa dengan point
race guna tim, dengan diberikannya nilai untuk pengedara yang sukses menyelesaikan lomba.
Saat lomba, melulu satu rider saja yang berada pada jalur, berkeliling sebanyak lap baru lantas
bertukar posisi dengan rider setimnya.

b) Keirin:

Dengan jarak yang mesti ditempuh 2000 meter. Pada mula lomba, semua rider berlangsung
dibelakang suatu motor yang bakal berjalan sejauh 1400 meter. Kemudian motor itu akan
menepi, pada saat tersebut juga semua rider akan mengerjakan sprint sampai garis akhir. Pada
tadinya Keirin lebih tidak sedikit dilakukan secara tradisional di Jepang. Di sana, olahraga itu
telah dilaksanakan secara profesional sekitar 20 tahun.

c) Olympic Sprint

Merupakan olahraga kesebelasan sprint. Masing – masing kesebelasan terdiri dari tiga rider. Dua
tim bakal saling berhadapan, dibuka dari arah yang bertentangan dengan tujuan ialah menangkap
kesebelasan lawan atau menuntaskan tiga putaran tercepat. Setiap rider mesti memimpin
kesebelasan mereka masing – masing satu putaran.

Kelas yang dipertandingkan:

Putra:

 Pursuit Perorangan
 Keirin
 Madison
 Olympic Sprint
 Points Race
 Sprint Perorangan
 Tim Pursuit (4000m)

Putri:

 Pursuit
 Points Race
 Sprint

3.Mountain Bike (MTB)

Mountain Biking ( MTB ) masuk program Olimpiade kesatu kali pada ajang Olimpiade Atlanta,
1996. Pada ketika itu, olahraganya sendiri sudah berumur 40 tahun lebih. Di mulai pada tahun
1953, saat seorang mahasiswa mengolah sepedanya dan mengupayakan mengendarainya di suatu
bukit.
Kompetisi kesatu diselenggarakan di luar San Fransisco. Diakuinya Mountain Biking sebagai di
antara cabang olahraga sepeda sebab usaha dari Velo Club Mount Tamalpais. Mereka membuat

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 48


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

lomba Repack Downhill yang diselenggarakan secara teratur antara tahun 1976 dan 1979 dari
jembatan Golden Gate sampai San Fransisco. Kompetisi itu pun menarik tidak sedikit rider dari
segala penjuru bahkan media massa.
Oleh anak – anak muda, olahraga ini dirasakan sebagai olahraga yang canggih dan extreem. Pada
tahun 1990, olahraga itu menjadi olahraga profesional menyeluruh dengan Kejuaraan Dunia nya.

Kompetisi:

Lebih tidak sedikit dilakukan di bukit yang tidak banyak terjal, bahkan terkadang pada jalur
gunung namun seringkali pada jalur alam. Para rider diwajibkan melakukan manuver untuk
melalui pepohonan, cabang – cabang pohon, bebatuan dan bahkan sungai – sungai kecil. Bagi
Putra jarak yang mesti ditempuh sejauh 40 dan 50 km. Bagi Putri sejauh 30 – 40 km. Jarak yang
bakal ditempuh baru akan dijamin pada malam sebelum kompetisi, saat para panitia
memperkirakan situasi cuaca dan masa-masa tercepat yang diperlukan untuk menuntaskan
lomba, 2 jam 15 menit untuk putra dan 2 jam guna putri. Dalam kompetisi, guna putra mesti
menuntaskan 6 sampai 7 putaran, sementara untuk putri 5 sampai 6 putaran.

Kelas yang dipertandingkan:

 Cross – country putra


 Cross – country putri

4.BMX

Bicycle Motocross ( BMX ) dibuka pada akhir tahun 60an di California, bersamaan ketika
olahraga Motocross mulai populer di Amerika. Versi motor ini menjadi ilham untuk versi tenaga
manusia. Anak – anak dan remaja yang memiliki semangat namun tidak memiliki sarana guna
berpartisipasi dalam ajang motocross, kesudahannya megadakan perlombaan pacu sepeda guna
kalangan mereka dengan merancang rintangan serta sepeda mereka sendiri. Mereka bahkan
melengkapi diri dengan kostum dan perangkat -alat pelindung laksana yang dipakai oleh semua
pembalap motocross. Dapat tampak dengan jelas alasannya mengapa olahraga ini menjadi
populer dengan cepat, terutama di California.Pada mula tahun 70an, suatu perkumpulan BMX
juga didirikan di Amerika.Hal ini resmi dirasakan sebagai mula mula dari pacu BMX. Seiring
berjalannya waktu, olahraga ini juga akhirnya menyebar ke segala penjuru dunia, terutama di
Eropa pada tahun 1978.Pada bulan April 1981, Federasi Internasional BMX didirikan dan
Kejuaraan kesatu pun dilakukan pada tahun 1982. BMX dengan cepat berkembang sebagai
olahraga yang menarik dan setelah sejumlah tahun, ketentuan – ketentuan yang ada kian terlihat
kesamaannya dengan olahraga bersepeda dari pada dengan motocross. Sejak Januari 1993, BMX
sepenuhnya bergabung dengan International Cycling Union (UCI). Pada tanggal 29 Juni 2003,
Intenational Olympic Committee (IOC) menyimpulkan untuk mengikut sertakan BMX pada
Olimpiade Beijing 2008 di Cina.

Kompetisi:

Perlombaan BMX diselenggarakan di sirkuit seluas 350 meter yang di dalamnya terdapat tidak
sedikit halangan dan rintangan. Delapan pembalap akan bersaing dengan empat pembalap teratas
bakal secara otomatis masuk ke babak selanjutnya (babak penyisihan, perempat final, semi final
dan final).

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 49


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Kelas yang dipertandingkan:

 Perorangan Putra
 Perorangan Putri

Table of Contents

Pengertian Balap Sepeda


Balap Sepeda ialah sebuah olahraga pacu yang pemainnya memakai sepeda untuk bersaing
bersama Pesepeda lainnya untuk menjangkau garis Finish.
Balap sepeda dapat dilakukan di jalan umum / jalan raya dengan perkerasan, arena pacu
Veldrome, dan pacu sepeda gunung.
Istilah “balap jalan raya” umumnya dilaksanakan di suatu event di mana pembalap yang bersaing
berangkat secara bersamaan (kecuali pada event dengan keterampilan khusus) dengan
pemenangnya ialah pembalap yang menjangkau garis finish kesatu kali (individual dan team time
trial ialah bentuk beda dari pacu sepeda jalan raya).

Sejarah Sepeda di Dunia


Sepeda sendiri dibuat sekitar tahun 1817 dimana tujuannya ialah untuk perangkat transportasi
untuk manusia. Bentuknya dari sepeda tersebut tadinya roda depannya berbentuk lebih banyak
dari pada roda belakangnya. Kemudian sepeda pada tahun 1885, dimana guna kesatu kalinya
sepeda ditemukan oleh seseorang yang bernamakan J.K Starley, seseorang yang berasal dari
negara Inggris. Pada saat tersebut sepeda ditemukan dengan rantai dan mempunyai gerigi.
Semenjak penemuan dari Starley, sepeda pada zaman itu mulai populer di kalangan masyarakat.
Selain gampang dan praktik dalam teknik pemakaiannya sepeda sendiri irit tanpa memakai bahan
bakar, dan pada ketika itul pun mulai hadir satu – persatu model – model dari sepeda baru yang
dapat di gunakan oleh banyak sekali orang.
Dari situ mulailah sebuah gagasan untuk menyelenggarakan sebuah persaingan untuk pacu
sepeda. Tetapi pada zaman tersebut persaingan dari pacu sepeda sendiri masih terdapat di negara
Inggris, Belanda, dan negara Eropa yang lainnnya, dimana pada negara itu adalahtempat
terciptanya beragam – macam jenis sepeda baik untuk persaingan ataupunn melulu untuk
transportasi saja. Tersebarnya modernisasi sepeda pada negara Indonesia adalahsebuah perluasan
besar – besaran dari negara Eropa ke sejumlah bagian negara di dunia atau belahan dunia.
Setelah perluasan tersebut negara – negara yang pernah di jajah oleh eropa sepeda lantas menjadi
paling terkenal. Karena negara yang sudah menjadi jajahan negara Eropa itu masih belum
mengenal sepeda, dimana dulunya transportasi mereka masih memakai sebuah kereta kuda atau
kendaraan transportasi lainnya laksana gerobak yang menggunakan roda.
Negara Indonesia adalahsalah satu negara dari sekian tidak sedikit negara jajahan Eropa yang
memiliki tren bersepeda yang sangatlah tinggi di kalangan masyarakatnya. Hal tersebut karena di
pengaruhi oleh masa-masa yang lumayan lama dalam masa penjajahan dari Inggris dan Belanda
yang menjajah negara Indonesia. Apa yang sudah tercatat ke dalam sejarah pada selama abad ke

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 50


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

– 18, sepeda masih tidak sedikit digunakan oleh semua bangsawan Indonesia di karenakan
sepeda sendiri sangatlah mahal harganya jadi melulu para bangsawan atau orang yang
terpandang (terkenal) yang melulu mampu dalam melakukan pembelian sepeda tersebut.

Sejarah Balap Sepeda Di Indonesia


Dan selama pada abad ke – 19, dimana saat tersebut masih dalam masa penjajahan Belanda di
negara Indonesia sebelum terjadinya perang dunia ke dua, orang biasa atau masyarakat biasa
sudah dapat menggunakan sepeda dan mempunyai sepeda sebagai barang pribadinya baik
dipakai sebagai transportasi ataupun urusan lainnya. Itu terjadi di karenakan adanya ekspor
sepeda besar – besaran yang berasal dari negara Inggris dan negara Belanda. Setelah itu tidak
sedikit sebuah komunitas – komunitas sepeda yang terdapat di negara Indonesia dan kompetisi
pacu sepeda yang diselenggarakan oleh kalangan asli negara Indonesia. Pada masa-masa itu pacu
sepeda menjadi suatu tren yang tidak sedikit di minati oleh kalangan rakyat asli Indonesia dan
pusat kota yang menjadi suatu trending pacu sepeda pada ketika itu ialah kota Bandung dan kota
Semarang.
Di kota Semarang sudah di bangun suatu tempat eksklusif atau veldrom untuk pacu sepeda
dimana lokasi tersebut telah dibuat oleh dua orang arsitek yang berasalkan dari negara Belanda
dan bernamakan Ooiman dan Van Leuwen. Mereka berinisiatif dalam menciptakan tempat
khusus pacu sepeda tersebut sebab sangat tertarik bakal tren yang terdapat pada kota Semarang
itu yang sedang di negara Indonesia. Bagi perkembangan pacu sepeda sendiri semakin lama
semakin maju setelah tidak sedikit sebuah perusahaan – perusahaan asing dan perusahaan semi –
indo yang inginkan dalam mengongkosi event – event dalam ajang pacu sepeda ini. Dan semua
pembalap pada saat tersebut sudah sangatlah biasa bilamana mereka diongkosi oleh perusahaan –
perusahaan laksana tropical, triumph, mansonia, hima, dan perusahaan – perusahaan ekspatriat
lainnya yang sedang di negara Indonesia.
Pada masa penjajahan Jepang yang dilangsungkan di negara Indonesia trend dan pekerjaan yang
bersangkut paut bakal sepeda semuanya di hentikan total sampai-sampai sempat terdapat
hambatan bakal berkembangnya pacu sepeda dan pekerjaan lainnya yang sehubungan dengan
sepeda. Tetapi saat Indonesia merdeka, seluruh hal yang sehubungan dengan sepeda kembali
menemukan sebuah peradaban dan tren hadir kembali di kalangan masyarakat Indonesia. Sekitar
tahun 1948 sudah terbentuk suatu organisasi atau klub sepeda yang berasal dari Bandung dengan
nama Super Jet dan lantas tidak lama setelah tersebut nama dari klub tersebut pulang menjadi
Sangkuriang. Dari urusan itu menjadi suatu inspirasi untuk daerah – wilayah lainnya untuk
menegakkan sebuah organisasi atau klub sepeda. Hal tersebut sudah tersebar keseluruh kota –
kota yang terdapat pada negara Indonesia dalam motivasi dan ketertarikannya terhadap
menciptakan klub sepeda tersebut. Diantara kota – kota tersebut ialah Jakarta, Surabaya, Medan,
Solo, Semarang, Yogyakarta, dan masih tidak sedikit lagi yang lainnya.
Untuk pertumbuhan dari pacu sepeda sendiri pulang memuncak sesudah dari kota Bandung
berhasil dalam menciptakan sebuah event pacu sepeda dimana pacu sepeda itu tarafnya sudah
menginjak internasional. Balap sepeda tersebut ialah Tour de Java 1 yang diselenggarakan pada
tahun 1958, dimana event pacu sepeda ini masih baru kesatu kali dilaksanakan di Asia dan oleh
karena tersebut negara Indonesia dinamakan sebagai di antara pelopor perlombaan pacu sepeda
yang dilaksanakan di ranah Asia. Di dalam kompetisi tadi, rute yang di tempuh atau sudah di
buat ialah melalui Bandung, kemudian lanjut ke kota Surabaya, dan selesai pada finish di kota
Bandung lagi, dengan jarak yang di tempuh totalnya menjangkau 2000 km dan pacu sepeda
tersebut sudah terbadi kedalam 18 etape.
Cabang pacu sepeda di ajang olimpiade sendiri terdapat 4 macam yaitu pacu sepeda di jalan,
ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 51
MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

tracking, pacu sepeda gunung, dan BMX. Bagi road race (balap sepeda di jalan) dan time trial
sendiri untuk telah ada empat ruang belajar yang di fokuskan guna putra dan putri dimana untuk
merangkai program road race olimpiade. Balap sepeda dengan tipe road race start tadinya di
kerjakan dengan teknik massal atau secara bersamaan dengan tidak sedikit pembalap lainnya.
Bagi panjang lintasnya untuk putra sejauh 239 km dan guna putri sendiri panjang lintasnya
sejauh 120 km.
Balap sepeda gunung sendiri atau dengan sebutan mountain biking lebih di kategorikan pada
olahraga bersepeda yang jalur lintasnya melewati gunung atau pegunungan. Kemudian guna
dalam jenis track cycling bukan tergolong ke dalam kelompok olahraga tidak seperti pacu sepeda
gunung atau mountain biking, sebab track cycling sendiri atlet yang bersepeda melulu
mengelilingi suatu jalur dengan kemiringan sampai 42 derajat yang dapat juga dinamakan
dengan velodrom guna istilahnya.
Semakin lama mengekor jalannya masa-masa track cycling tanpa tersangka perkembangannya
semakin lama semakin maju, yakni time trial untuk kelompok putri dengan lintas jarak sejauh
500 meter dan untuk kelompok putra terdapat sebuah ruang belajar baru yang dapat di ikuti yaitu
ruang belajar keirin, madison, dan olympic sprint race. Setelah tersebut track cycling tidak
sedikit sekali peminatnya sebab ke populerannya yang sudah di menangkan oleh tidak sedikit
atlet dunia dalam sejarah olahraga yang dilaksanakan dalam suatu olimpiade.
Dari sekian tidak sedikit jenis macamnya guna olahraga sepeda yang terdapat di dunia, negara
Indonesia sendiri masyarakatnya tengah tertarik terhadap sekian banyak macam jenis olahraga
yang satu ini yaitu pacu sepeda. Karena pacu sepeda sendiri mempunyai ketertarikan tersendiri
untuk para peminatnya sehingga tidak sedikit sekali tercetus atlet – atlet muda yang berbakat
sebab ketertarikannya pada suatu cabang olahraga pacu sepeda ini. Salah satunya lagi ialah
BMX, atau sebutan lainnya ialah bicycle motorcross yang adalahcabang olahraga pacu sepeda
yang tadinya populer di negara Amerika namun di negara Indonesia pun mulai tidak sedikit
peminatnya dan tidak sedikit juga event – event besar BMX yang dilaksanakan untuk mengasah
keterampilan dan menggali bakat – bakat dari anak Indonesia sendiri.
BMX selama tahun 60 – an tadinya mulai populer di negara Amerika Serikat sana dan selama
tahun 70 – an mulailah terbentuknya klub atau perkumpulan BMX yang terdapat di Amerika.
Dengan perkembangannya yang semakin lama semakin pesat, lantas olahraga ini menyebar ke
semua penjuru dunia dan di dalamnya tergolong negara Indonesia. Dan selama tahun 1981 sudah
di dirikan suatu federasi BMX internasional dimana tersebut menjadi pusat untuk seluruh
olahraga BMX yang terdapat di dunia dan lantas kejuaraan kesatu BMX pada tahun 1982
dimulai, dari situ tidak sedikit sekali orang yang hendak mengikuti kompetisi tersebut. Sekitar
tahun 1993 Januari, semenjak saat tersebut olahraga pacu sepeda BMX ini sudah resmi di
umumkan bahwa sudah bergabung dengan suatu organisasi dunia yakni International Cycling
Union atau dengan kata lain yakni UCI. Lalu pada tanggal yang bertepatan pada 29 Juni 2003
IOC atau International Olympic Committe mengaku bahwa olahraga pacu sepeda BMX sendiri
boleh di ikut sertakan dalam olimpiade dunia dan tadinya BMX di ikut sertakan dalam olimpiade
beijing pada tahun 2008 di negara Cina.

Teknik dalam Balap Sepeda


 Jumps Sprint

Metode ini dilaksanakan sendiri atau dgn rekan kamu, dengan menata kecepatan tiap 10 detik.
Awalnya anda sprint dgn kecepatan normal, recovery (pemulihan) dan kemudian anda hajar lagi

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 52


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

10 detik selanjutkan sprint pulang dgn kecepatan lebih tinggi lagi. Lakukan teknik tersebut 3-4
kali. Kalo dapat kamu kurangin recovery(pemulihan) namun dengan teknik bertahap.

 Go long

Nyaris sama dgn Jumps Sprint, namun dgn jarak tempuh yg lebih panjang serta interval lebih
lama. Kamu mampu memanfaatkan Tiang listrik sepanjang jalan sbg patokan interval sprint n
recovery. Usahakan speed step by step terus meningkat, Ketika anda mencobanya sejumlah kali
dan malah kecepatan menuru, maka hentikan tidur sejenak.

 Hill sprints

Teknik ini dilaksanakan di jalam yg menanjk, bertujuan buat mengajar melawan Gradien.
Latihlah kamampuan itu 20 sampai 40 detik dengan penambahan kecepatan bertahap. Latihan itu
ini idealnya dilaksanakan dalam gigi besar (Chainring).
Menentukan ruang trek rolling yakni turunan dan pun tanjakan yg seandainya trek tersebut dapat
dilaksanakan dengan kecepatan yg lebih. Lalu latihlah kiat Hill Sprint jalan yg turun dan
langsung naik.

 Play racing

Practice make perfect, sesudah kerjakan beberada dasar sprint saatnya simulasi untuk rute jarak
jauh. Tidak Hanya menambah endurance kamu, pelajaran sprint dgn kecepatan yg udah diatur
dapat konsisten menambah performa sprint rider. Bisa dimulai bareng 30mph & konsisten
meningkat. Atur strategi interval recovery (pemulihan) utk kerjakan sprint sesudah itu. Sesi
pelajaran sama laksana ini pula berfungsi buat mengembangkan taktik kesebelasan serta
mengejar pembalap yg layak jadi sprinter kesebelasan kamu.

Sumber https://www.jatikom.com/2018/10/pengertian-sejarah-teknik-balap-
sepeda.html#ixzz6A8Z2CZmz

Semua tentang Bersepeda [ Aturan, Sejarah,


…]
O bersepeda adalah olahraga yang dipraktekkan dengan sepeda dan hampir di setiap
kesempatan, hal itu bertujuan untuk menempuh rute tertentu dalam waktu sesingkat mungkin,
karena itulah yang tercepat untuk menyelesaikannya jika ingin memenangkan perlombaan.

Saat ini bersepeda juga cukup rekreasi atau bahkan cara untuk pindah kerja, sekolah, dll, dan
semua berkat kemajuan yang telah dibuat di dunia sepeda dan popularitasnya yang tinggi.

Tabela de Conteúdo [Mostrar]

Sejarah Bersepeda

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 53


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

A sejarah bersepeda tanggal kembali ke akhir abad kesembilan belas, kurang lebih dari 1890.
Hal ini disebabkan fakta bahwa sepeda mulai berkembang lebih cepat pada saat ini dalam upaya
menyempurnakan sarana transportasi ini.

Dengan kemajuan ini, menjadi mungkin untuk mencapai kecepatan yang lebih tinggi dengan
sepeda, menjadi lebih ringan dan lebih murah.

Olahraga berasal dari bahasa Inggris, tapi sejak awal acara utama muncul di Prancis, yang sangat
sesuai dengan modalitas ini dan para peserta memanfaatkan medan pegunungan untuk
menantang diri mereka sendiri.

Jenis Bersepeda
Selama bertahun-tahun, semakin banyak varian dari olahraga ini telah muncul, yang juga telah
mengubah karakteristik sepeda sehingga lebih baik disesuaikan dengan aktivitas tertentu.

Varian utama dari bersepeda adalah sebagai berikut:

Road Cycling

Ini adalah yang tertua dan dimana bersepeda mulai bermunculan. Mari kita bahas lebih banyak
jenis ini di artikel ini dan karakteristiknya.

Tes dilakukan di jalan dengan sepeda ringan dan aerodinamika, sehingga pengendara sepeda
dapat mencapai kecepatan lebih tinggi dan jarak yang lebih jauh. Ketika berbicara tentang
bersepeda, sebagian besar orang mengasosiasikan varian ini, dan popularitasnya sangat besar,
dengan salah satu yang menarik setiap tahunnya Tour de France, yang dianggap sebagai acara
terpenting di Sirkuit Dunia.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 54


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Sepeda gunung

Ini lebih baru dan ada banyak varian kecil di dalamnya, yang mengubah medan kursus Anda,
karakteristik sepeda dan memerlukan teknik dan kemampuan yang berbeda.

Leia Mais >  Semua tentang Futsal [ Aturan, Sejarah, ... ]

Varian ini tidak hanya memiliki karakteristik untuk tidak menjadi bukti eksklusif jalan, karena
dipraktekkan secara normal di semua jenis medan, seperti pohon pinus atau bahkan di jalanan
dengan tangga dan trotoar, dan juga memiliki ciri khas pada sebagian besar jenis yang akan
dibuat atau naik atau turun.

Beberapa jenis varian ini adalah:

 Lintas negara;
 Perjalanan jejak;
 Menurun;
 Freeride;
 4X;
 Daya Tahan Regularitas;

Mari membahas lebih lanjut tentang topik ini di: Semua tentang Mountain Bike.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 55


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Lacak Bersepeda

Ini adalah yang paling tidak diketahui dari ketiganya, Hal ini dilakukan di jalur melingkar,
biasanya di dalam sebuah paviliun, yang memiliki beberapa varian namun tujuan utamanya dan
menyelesaikan tes dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Mari membahas lebih lanjut tentang topik ini di: Semua tentang bersepeda

Uji Coba Bersepeda


Di jalan bersepeda, tes juga bisa sangat bervariasi antara keduanya dan bahkan pada balapan
yang sama jika memiliki beberapa tahap. Mari kita lihat bukti macam apa yang ada.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 56


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Bukti sehari: Ini hanya terdiri dari satu langkah, dan Anda bisa memberikan segalanya untuk
segala sesuatunya tiba sesegera mungkin dan dengan demikian memenangkan perlombaan.
Biasanya mereka tidak begitu penting dan banyak dari mereka lebih dengan tujuan rekreasi yang
agak atau mewakili sesuatu seperti penghormatan kepada pengendara sepeda tua.

Bukti secara bertahap: Ini adalah yang paling umum, memiliki bukti beberapa tahap (atau ras)
dan tujuannya adalah menyelesaikannya dalam waktu sesingkat mungkin namun menambahkan
waktu dari semua langkah. Sesuatu yang sangat penting dalam kompetisi jenis ini adalah kerja
sama tim (walaupun bersepeda bersifat individual) dan tahu bagaimana cara mengevaluasi
dengan baik tahap-tahap apa yang harus dikocok lebih banyak.

Jam Counter: Sudah dalam balapan ini, alih-alih meninggalkan semuanya pada saat bersamaan
dan yang mendapatkan kemenangan pertama, para pesepeda pergi sendirian dan hanya ingin
mencapai tujuan secepat mungkin. Ada pesepeda yang ahli dalam lomba jenis ini.

Ras ini hanya bisa satu hari atau tahap balapan, jauh lebih pendek dari balapan normal, biasanya
berkisar dari 20 sampai 60km jauhnya.

Leia Mais >  Semua Tentang Savate (Tinju Prancis)

Maraton: Maraton adalah bukti bahwa banyak pengendara sepeda biasa tidak melakukannya,
dan sebagian besar orang yang membuatnya adalah pesepeda yang hanya melakukan perjalanan
jauh.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 57


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Peralatan bersepeda
Unsur utama untuk berlatih bersepeda adalah motor tentunya. Tapi karena ini adalah aktivitas
yang bisa dilakukan di medan yang sangat kasar dan dalam kondisi sedikit tertarik ke tubuh
manusia, disarankan juga menggunakan beberapa elemen proteksi.

Mari kita lihat semua elemen untuk bersepeda (lebih tepatnya jalan):

Sepeda

Ini dibuat dengan desain dan bahan yang sangat aerodinamis yang ringan tapi sekaligus kokoh.
Jika Anda memperbaiki, sepeda jalan adalah satu-satunya ban super tipis, semua ini berusaha
mencapai kecepatan lebih tinggi saat Anda berjalan di atasnya.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 58


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Sarung tangan proteksi

Ini berfungsi untuk melindungi tangan Anda jika terjadi kejatuhan, tetapi juga untuk
memperbaiki cengkeraman telapak tangan Anda dengan stang, menutupi palang yang sama dan
bukan jari-jari.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 59


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Helm

Bagaimana tidak, jangan lewatkan helm itu. Ini jelas digunakan untuk melindungi kepala Anda
jika jatuh, ini cukup vital dan tidak memakai helm menimbulkan risiko besar bagi kesehatan
Anda.

Pakaian

Pakaian pesepeda juga sangat berbeda dari biasanya. Yang menonjol adalah cocok dengan tubuh
Anda, sehingga mengurangi hambatan angin yang tidak perlu dan juga dibuat dengan bahan yang
mengatur suhu tubuh Anda dan melindungi Anda dari paparan sinar matahari yang terlalu lama.

Tim dan Keistimewaan


Secara umum, meskipun bersepeda adalah olahraga individu, tidak semua orang memiliki tujuan
utama untuk menang. Ini mungkin tampak sedikit membingungkan, tapi biasanya seluruh tim
bekerja untuk membantu pemimpin tim mereka memenangkan acara tersebut, membantu dengan
berbagai cara, dengan cara yang paling umum untuk mengendalikan serangan pesaing dan
menjaga pemimpin mereka dari angin, energi Anda

Hal ini juga disebabkan oleh fakta bahwa pesepeda memiliki spesialisasi dan kemampuan yang
berbeda. Mari kita lihat beberapa di antaranya:

Sprinter: Pengendara sepeda yang memiliki kekuatan ledakan hebat dan berhasil mencapai
kecepatan tinggi dalam jarak dekat, Biasanya tim tersebut bekerja sehingga dia bisa menang jika
menguntungkannya. Hal ini tidak selalu (dan sering kali bukan) pemimpin tim, karena sebagian
besar bukti bersifat bertahap dan yang terpenting adalah jumlah waktu pada semua tahap.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 60


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Leia Mais >  Semua tentang Angkat Besi [ Sejarah, Aturan, ... ]

Pendaki: Ini biasanya pengendara sepeda yang agak ringan dengan kemampuan fisik yang baik,
cukup tahan. Keistimewaannya adalah mendaki gunung, sering melayani sebagai tameng bagi
pemimpin gunungnya atau bahkan mencoba untuk memenangkan panggung jika berakhir di atas
gunung.

Berlawanan arah jarum jam: Seperti yang telah kami sebutkan, ada pakar dalam kategori ini.
Salah satu kesulitan utama adalah mengetahui bagaimana mempertahankan kecepatan konstan
dan kompetitif karena tidak ada orang lain yang mengatur dan mencapai kecepatan yang baik dan
mempertahankan jarak tempuh yang baik.

Lengkap: Sudah sering ini adalah pemimpin tim. Mereka adalah pesepeda yang tidak memiliki
apa-apa yang menonjol namun tingkatnya tinggi dan dapat melakukan semua tugas balapan
dengan baik dan memiliki kemampuan fisik dan teknis yang sangat baik.

Aturan dan Perawatan dalam Bersepeda


Aturan dan peringatan ini berlaku untuk peserta pembalap tetapi juga beberapa di dalam rekreasi
bersepeda.

Dalam sebuah perlombaan, pesepeda memiliki tempat khusus untuk persediaan, tapi mereka juga
dapat melakukannya saat bepergian dengan berpindah ke mobil pendukung tim mereka. Biasanya
pengendara sepeda pergi dan membawanya ke teman-teman lain yang bersamanya. Dari tahap
tertentu, tidak diperbolehkan lagi mengisi bahan bakar.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 61


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Pada akhir lomba, saat tiba saatnya sprint, pengendara sepeda tidak dapat membuat perubahan
arah secara tiba-tiba untuk menutupi jalan lawan dengan dia di dekatnya, dan mungkin
didiskualifikasi, karena membahayakan integritas fisik lawan sejak mereka melaju. bepergian
dengan kecepatan sangat tinggi.

Penting untuk selalu waspada terhadap rute tersebut, dan mengetahui rute yang disarankan, untuk
menghindari kemungkinan jatuh di tempat yang lebih berbahaya dan tidak menyebabkan
jatuhnya rantai.

Selalu pakai pelindung gigi, baik dalam persaingan atau sekedar bersepeda rekreasi.

Artikel Terkait lainnya

– 11 Manfaat Bersepeda untuk Tubuh dan Pikiran Anda


– Semua Tentang Paralympic Cycling [Sejarah, Aturan, …]
– Apa itu bersepeda Tahu semuanya sudah ..

Source: https://sportsregras.com/id/bersepeda-aturan-sejarah/

Fakta Tentang Sepeda yang Perlu Kamu


Tahu
2019.09.03

 Bagikan

FacebookTwitterEmail

 Share

Sepeda adalah kendaraan beroda yang digunakan selain sebagai alat transportasi yang juga
sepeda digunakan sebagai alat olahraga. Pastinya EFriends sudah tidak asing lagi dengan alat
transportasi ini kan. Berikut ini 3 fakta yang perlu kamu tahu tentang sepeda :

1. Sejarah Penemuan Sepeda berawal dari Meletusnya Gunung Tambora

Tahukah EFriends bahwa sepeda ditemukan pada tahun 1800-an oleh seorang berkebangsaan
Jerman, Karl Drais. Menurut catatan sejarah, penemuan sepeda tidak terlepas dari peristiwa
yang terjadi di Indonesia. Nggak percaya? Pada tahun 1815 gunung Tambora yang terletak di
Sumbawa, Nusa Tenggara Barat meletus dan melumpuhkan sebagian besar aktivitas

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 62


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

masyarakat dunia akibat lava yang termuntahkan dan abu vulkanik di atmosfer yang dirasakan
hingga Benua Amerika dan Eropa. Akibatnya selain langit di belahan bumi utara berubah
menjadi gelap, suhu bumi juga turut meningkat.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 63


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 64


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Efek tersebut juga berpengaruh pada kuda, hewan yang dijadikan andalan transportasi
masyarakat kala itu tidak dapat digunakan secara maksimal dan banyak yang mati. Hal tersebut
yang membuat Karl Drais menemukan Laufmaschine atau mesin yang dapat berlari yang
kemudian popular dengan sebutan Draisine.

Diskon (((Lagi))) s/d 2,4 Juta di EF Kursus Bahasa Inggris, lebih detail klik link biru ini PROMO
▶Extra Fun◀ Belajar Bicara Inggris di EF English First makin menyenangkan!

Bentuk sepeda pada pertama kali dibuat tentu berbeda dengat saat ini. Pada awal ditemukannya
sepeda oleh Karl, sepeda yang disebut dengan draisine terdiri dari dua roda yang dihubungkan
dengan kayu di bagian atas.  Agar dapat berjalan, kaki penumpang harus digerakkan dan apabila
jalan menurun harus menaikkan kaki karena sepeda yang belum memiliki pedal. Sepeda cukup
menjadi alternatif pengganti alat transportasi pada saat itu yang umumnya menggunakan kuda.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat Jerman mulai tertarik untuk dapat menggunakan sehingga
desain baru bentuk sepeda bermunculan kala itu. Pada tahun 1820 desain sepeda berubah jumlah
roda menjadi tiga dan empat yang memudahkan penumpangnya dalam mendapatkan
keseimbangan. Pada tahun 1860, desain sepeda berubah seiring berkembangnya zaman dengan
ditemukannya pedal pada sumbu roda dan penggunaan metal pengganti bahan kayu. Era 1880-
1890 desain sepeda berkembang dengan penggunaan besi sebagai trend rantai sepeda untuk
menggerakkannya. Selanjutnya John Dunlop memperkenalkan ban rancangannya yang membuat
sepeda terasa lebih lembut dan fleksibel dalam berbagai medan.

2. Sepeda menemani perjalanan Bangsa & “Founding Father” Ir. Soekarno

Perjalanan Bangsa Indonesia tidak luput dari eksistensi sepeda, loh! Sepeda pertama kali
diperkenalkan oleh bangsa Belanda. Selain bangsa Belanda, sepeda pada saat itu hanya
digunakan oleh golongan priyayi dan bangsawan. Alasannya karena pada saat itu sepeda
merupakan benda yang mahal, sehingga tidak semua lapisan masyarakat memilikinya. Pada abad
ke-20 sepeda menjadi primadona alat transportasi yang disebut dengan “kereta angin”. Kehadiran
kereta angin jelas lebih memudahkan masyarakat saat itu karena berbeda dengan kuda yang biasa

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 65


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

mereka gunakan. Menggunakan kuda mengharukan pemiliknya untuk merawat dan memastikan
kuda dalam keadaan yang aman saat tidak digunakan misalnya memberi makan dan
menempatkan kuda dalam kandang yang baik. Hal tersebut juga tertulis dalam novel roman
karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Anak Semua Bangsa. Dalam novel roman tersebut
Pram mengungkapkan selain praktis, sepeda atau yang saat itu disebut dengan Velocipide lebih
cepat melaju dibandingkan kuda.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 66


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 67


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Sepeda tidak hanya membawa kita ke tempat yang kita inginkan, namun juga dapat
mengantarkan seseorang menemukan sebuah gagasan. Hal tersebut terjadi kepada Presiden
pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Suatu ketika saat Soekarno bersepeda di daerah
Bandung, perjalanan dengan sepeda oleh sang founding father bangsa pada perjalanan yang
menginspirasi simbol ideologi marhaenisme. Dalam buku biografi Soekarno yang berjudul
“Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” dikisahkan Soekarno yang sedang bersepeda di daerah
Jawa Barat, lalu bertemu seorang petani sederhana bernama Marhaen. Petani tersebut
menginspirasi Soekarno tentang bagaimana petani Indonesia hidup dengan sebagaimana
semestinya. Nama Marhaen kemudian juga dikenal dengan ideologi yang menentang penindasan
baik atas bangsa maupun manusia yang hingga saat ini dikenal oleh masyarakat Indonesia.

3. Olahraga Sepeda bisa membakar 400 – 1000 kalori

Sepeda telah menjadi sahabat bagi masyarakat selama lebih dari 2 abad. Meski saat ini peran
sepeda tidak digunakan sebagai alat transportasi utama seperti masa silam, sepeda tetap digemari
oleh masyarakat sebagai sarana olahraga dan gaya hidup. Bersepeda bermanfaat dalam
kesehatan, kendaraan yang digunakan secara dikayuh ini dapat membakar 400-1000 kalori dalam
satu jam. Selain itu berolahraga dengan sepeda juga dapat meningkatkan kesehatan penggunanya
karena dapat membantu membuat tidur menjadi lebih nyenyak dan mengurangi stress. Tidak
heran apabila saat ini sepeda semakin digemari karena selain sehat, sepeda juga lebih hemat dan
ramah lingkungan.

Nah, buat kamu yang suka dengan olahraga sepeda atau memiliki rencana untuk mulai
berolahraga dengan sepeda ada beberapa pilihan sepeda yang bisa jadi kamu jadikan referensi,
MTB (Mountain bike), sepeda balap, city bike, BMX dan sepeda lipat yang merupakan contoh
beberapa jenis sepeda yang saat ini dikenal oleh masyarakat.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 68


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 69


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Mountain bike merupakan jenis sepeda gunung yang memiliki ciri ringan dengan rangka yang
kuat dan sesuai namanya, cocok digunakan dalam medan yang berat. MTB juga memiliki
berbagai jenis seperti downhill yang sesuai namanya diperuntukkan untuk medan menurun.
Selain downhill, jenis lain dari MTB adalah freeride, yang memiliki bobot yang lebih berat
sehingga tidak terlalu cocok untuk melintasi jalur yang menanjak dengan jarak yang jauh.
Terdapat pula jenis sepeda gunung cross country yang cocok bagi pemula dan cocok dikendarai
di daerah pedesaan yang permukaan jalannya tidak terlalu mulus namun tetap efisien dengan
kayuhan yang optimal.

City bike merupakan sepeda yang biasa digunakan di perkotaan. Bentuk sepeda city bike sering
kita temui di film yang mengambil lokasi syuting di luar negeri seperti Belanda dan negara Eropa

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 70


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

lainnya. Biasanya jenis sepeda ini mengikuti kebutuhan pemakainya dalam beraktivitas sehari-
hari sehingga tidak heran apabila dilengkapi dengan keranjang dan sadel tambahan di bagian
belakang.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 71


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 72


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Sepeda BMX adalah sepeda yang banyak digunakan oleh kalangan anak-anak hingga dewasa
baik untuk penggunaan sehari-hari karena bentuknya yang trendy dan juga dapat digunakan
untuk atraksi ekstrim. Bahkan BMX akan diikutsertakan pada perhelatan olahraga terbesar dunia,
Olimpiade mendatang tahun 2020 di Tokyo, Jepang. Sepeda BMX cocok banget nih buat
EFriends yang suka tantangan.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 73


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 74


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Fixie atau kependekan dari fixed gear merupakan jenis sepeda yang pernah tren di Indonesia
pada tahun 2013. Berbeda dengan sepeda pada umumnya, saat pedal diinjak, lengan engkol fixie
akan mengikutinya, memutar gir depan yang menempel, kemudian menarik rantai yang juga
secara otomatis menarik gir belakang untuk berputar karena langsung terhubung pada roda
belakang. Dengan demikian roda akan berputar dan sepeda dapat berjalan. Karena perbedaan
mekanisme inilah yang membuat fixie berbeda dengan sepeda lainnya. Walau agak sulit untuk
menjalankannya, peminat fixie tetap banyak dan telah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda
hingga sekarang.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 75


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 76


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Sesuai dengan namanya, sepeda lipat memudahkan penggunanya untuk dibawa kemana-mana
dengan cara melipat. Dengan desain yang mudah dilipat dan dibawa, sepeda ini dimungkinkan
untuk dibawa kemana-mana dan bahkan bisa kalian bawa saat menggunakan alat tranposrtasi
umum lain seperti bis dan kereta. Sangat memudahkan sekali, ya!

Sepeda balap adalah jenis sepeda yang memiliki karakteristik cepat dan ringan. Namun
sebanarnya jenis sepeda balap juga beragam tergantung dari kondisi jalan dan tipe kompetisi
yang diikuti. Ada yang fokus pada kenyamanan, kestabilan dan ada juga yang fokus pada
kecepatan.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 77


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Sepeda balap tentu erat kaitannya dengan kompetisi ya, EFriends. Nah, salah satu kompetisi
balap sepeda tahunan yang paling terkenal adalah Tour de France. Dari bahasa, sudah dapat
diketahui bahwa kompetisi ini dilaksanakan di Prancis. Selain di Prancis, perlombaan ini juga
mengambil rute di wilayah negara yang berbatasan dengannya seperti Luksemburg, Italia,
Jerman, Spanyol, Belanda, Swiss dan beberapa negara lainnya lalu berakhir di Paris, Prancis.
Perlombaan ini berlangsung 23 hari dan tentunya seluruh media tertiuju pada perlombaan ini.
Kompetisi yang telah ada sejak tahun 1903 ini diikuti oleh atlet sepeda dari seluruh dunia, salah
satunya tim EF Pro Cycling.

Apa itu EF Pro Cycling? EF Education First dengan bangga mempersembahkan tim balap sepeda
professional yang terdiri dari berbagai belahan dunia seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada,

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 78


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Italia, Belanda dan masih banyak lagi. Tim EF Pro Cycling juga turut berpartisipasi dalam
perlombaan Tour de France. Ssst.. kabarnya tim ini dapat berbicara berbagai macam bahasa
dunia loh. Keren banget ya! Kalian juga gak boleh ketinggalan, ya! Yuk tingkatkan kemampuan
bahasa Inggris kalian bersama EF.



o sepeda
o bicycle
o sepeda gunung
o sepeda bmx

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sepeda adalah kendaraan roda dua yang sejajar, didorong oleh pedal yang terhubung ke roda
belakang dengan rantai, dan memiliki setang untuk kemudi dan kursi sepeda (dictionary.com, 2016).
Manfaat sepeda sudah tidak diragukan lagi. Dari segi kesehatan memperbaiki kardiovaskular,
meningkatkan kekuatan otot, merawat sendi, menjaga berat badan, menurunkan tingkat stres dan
menurunkan risiko penyakit lainnya (alodokter.com, 2016). Manfaat lain, dalam perkotaan sepeda
menjadi solusi atas kemacetan dan polusi udara.

Dikutip dari Litbang Kompas pada tahun 2010, sekitar 75 persen menyatakan. kini makin banyak
warga kota yang menggunakan sepeda sebagai aktivitas. Seperti olahraga atau hobi saja. Di Bandung,
mendukungnya suhu udara membuat popularitas sepeda sangat tinggi. Hampir setiap minggu selalu ada
funbike yang diikuti oleh berbagai macam pesepeda. Pemerintah Kota Bandung juga mendukung sepeda
dengan adanya program car free day yang diadakan setiap hari minggu. Beserta Jumat bersepeda yang
akhir-akhir ini digagas oleh pemerintah Kota

Bandung. Jumlah komunitas juga tumbuh berkembang pesat. Dari bike to work Bandung, yang
anggotanya para pekerja yang bersepeda. Lalu ada bike to school dan bike to campus yang anggotanya
adalah para mahasiswa dan pelajar. Atau Komunitas berdasarkan jenis hobi sepedanya seperti sepeda
gunung, roadbike, fixed gear atau sepeda lipat. Komunitas menjangkau dari segala segmen umur dan
jenis sepeda. Dari hal-hal tersebut dapat disimpulkan apresiasi terhadap sepeda sangat diterima di kota
Bandung.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 79


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Bertumbuhnya pengguna sepeda di Kota Bandung ternyata tidak membuat aturan bersepeda
menjadi ada. Walaupun belum ada aturan secara jelas, ternyata pesepeda dilindungi didalam Undang-
Undang Republik Indonesia nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Pada pasal 61
yang tertulis tentang persyaratan teknis kendaraan tidak bermotor setidaknya diharuskan memiliki
konstruksi, sistem kemudi, sistem roda, sistem rem, lampu dan pemantul cahaya, dan alat peringatan
bunyi. Selain persyaratan tersebut, beberapa hal terkait etika bersepeda belum dijadikan undang-
undang atau panduan tertulis untuk pemula yang seharusnya ada pada komunitas sepeda. Seperti
penggunaan helm, aturan sepeda berpenumpang dan aturan keselamatan bersepeda lainnya.

Etika bersepeda pada dasarnya bertujuan untuk keselamatan pesepeda sekaligus pengguna jalan
lainnya. Keselamatan bersifat keharusan dilaksanakan agar dapat memberi rasa aman dijalan raya dan
terhindar dari cedera ketika bersepeda.

1.2 Permasalahan
1.2.1 Identifikasi Masalah
Dari latar belakang tersebut maka identifikasi masalah dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Didalam UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan, belum secara jelas
memaparkan aturan tentang bersepeda dengan baik.

2. Belum ada yang mengatur bagaimana bersepeda yang baik, bila dibandingkan kendaraan
sepeda motor.

3. Hukuman lalu-lintas berupa tilang, tidak berlaku untuk pesepeda. Karena aturan yang dianggap
tidak ada. Berpotensi menyebabkan kecelakaan terhadap kendaraan lain.

1.2.2 Rumusan Masalah


Dari identifikasi masalah, maka dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana strategi komunikasi visual agar pesepeda peduli dengan etika agar memenuhi
keselamatan ?

2. Bagaimana merancang komunikasi visual agar etika bersepeda diperhatikan oleh pesepeda ?

1.3 Ruang Lingkup Masalah


Ruang lingkup masalah berfokus pada etika dan etiket bersepeda di jalan raya.

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 80


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

1.3.1 Apa
Permasalahan adalah dari ketidakjelasan aturan dan etika bersepeda di jalan raya.

1.3.2 Siapa
1. Jenis Kelamin : Pria dan Wanita
2. Usia : 15 – 65 tahun
3. Psikografis : Remaja-dewasa , anggota komunitas sepeda
4. Strata sosial : Ekonomi menengah keatas
5. Pengguna sepeda yang menggunakan sepeda sebagai transportasi, olahraga dan rekreasi
yang menggunakan sepeda satu kali dalam sepekan.

1.3.3 Kapan
Permasalahan ini ketika aktivitas didalam komunitas sepeda, Penelitian dilakukan dari September –
Desember 2016.

1.3.4 Dimana
Masalah terjadi di Kota Bandung yang sudah menjadi ramah Sepeda dan berada ditempat-tempat
komunitas sepeda berada.

1.3.5 Mengapa
Etika bersepeda sangat penting terutama dijalan raya agar terjadi harmonisasi di jalan raya

1.3.6 Bagaimana
Dengan merancang komunikasi visual agar pengguna sepeda dapat mengetahui etika bersepeda secara
baik.

1.4 Tujuan Perancangan

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 81


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Tujuan dari perancangan ini ialah agar pesepeda dapat memahami etika bersepeda di jalan raya .
Efek yang diharapkan adalah dapat membuat aman dan selamat untuk pengguna sepeda di jalan
raya .

1.5 Manfaat Perancangan


1. Bagi Keilmuan Desain Komunikasi Visual
Berkontribusi memberikan referensi dan pustaka terhadap perancangan kampanye melalui sudut
pandang Desain Komunikasi Visual

2. Bagi Masyarakat
Dapat menjadi panduan etika bersepeda dijalan raya, sehingga dapat memperhatikan keselamatan.

3. Bagi Perancang
Dapat melatih perancang untuk menemukan solusi sekaligus berpikir kritis dari fenomena dan masalah
yang ada di masyarakat.

1.6 Metode Penelitian dan Pengumpulan


Data
Dengan metode kualitatif, Metode penelitian kualitatif adalah metode yang digunakan untuk
meneliti kondisi objek secara alamaiah dan menekankan pada makna dari pada generalisasi
(Sugiyono,2014:9), dan cara pengumpulan data sebagai berikut;

1. Kuesioner
Melalui kuesioner, dapat mengetahui secara langsung mempelajari sikap dan perilaku
pesepeda di Kota Bandung. Sehingga didapatkan karakteristik pesepeda ketika di jalan raya dan
tentang etika bersepeda yang baik.

2. Wawancara
Dengan melakukan wawancara terhadap pihak-pihak yang terkait dengan komunitas
sepeda di Bandung. Pihak yang di wawancara adalah pihak yang dianggap paling berpengaruh
didalam suatu komunitas sepeda tersebut.

3. Observasi
Menurut (Guba dan Lincoln, 1981: 191-193) Observasi hakikatnya merupakan kegiatan
dengan menggunakan pancaindera, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk
memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Hasilnya dapat
berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasan tertentu dan perasaan emosi

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 82


FENOMENA
Meningkatnya jumlah pesepeda tidak membuat kesadaran etikameningkat
bersepeda
1. Aturan dalam etika bersepeda belum secara detail membahas
tentang etika bersepeda.
2. Didalam komunitas tidak ada aturan tertulis tentang bersepeda yang baik untuk pemula

MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan RUMUSAN MASALAH
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3
1. Bagaimana strategi komunikasi visual agar pesepeda pedulitika
dengan
agar ememenuhi
keselamatan ?
2. Bagaimana merancang komunikasi visual agar etika bersepeda diperhatikan oleh pesepeda ?

PENGUMPULAN DATA

Observasi Kuesioner Wawancara Studi Literatur


Meneliti langsung Dengan Tokoh Komunitas Buku, jurnal dan
komunitas sepeda di menyebarkan angkatSepeda artikel
Kota Bandung.

ANALISIS DATA
Analisis Target Audiens (AOI) Analisis SWOT Analisis Media
Matriks SWOT (AIDA )
Analisis Kampanye Sejenis

PERANCANGAN
seseoraing. Dalam observasi dilakukan untuk mendapatkan gambaran nyata dari suatu
peristiwa atau kejadian. Observasi yang dilakukan yakni terhadap aktivitas yang dilakukan oleh
pengguna gaya hidup sepeda di Bandung.

4. Studi Literatur
Studi literatur dilakukan untuk mendukung bentuk perancangan kampanye. Teori
pengumpulan data dengan melakukan kajian yang berkaitan tentang teori kampanye, teori
komunikasi visual, teori komunikasi, teori pemasaran, teori periklanan. Bentuk studi literatur
diantaranya buku, jurnal, artikel media massa, sumber internet dan sumber kredibel yang lain.

1.7 Analisis Data


Perancangan kampanye ini menggunakan 1.8 Kerangka
Perancangan
PERANCANGAN ILUSTRASI PERMAINAN KARTU SEBAGAI MEDIA
KAMPANYE ETIKA BERSEPEDA

KESIMPULAN DAN SARAN


Tabel 1.1 Kerangka Perancangan
Sumber: Dokumentasi Pribadi

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 83


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Available online at Website http://ejournal.undip.ac.id/index.php/rotasi

ANALISA AERODINAMIKA PADA SEPEDA DENGAN FORMASI


BERIRINGAN
DENGAN VARIASI KECEPATAN DAN JARAK ANTAR SEPEDA MENGGUNAKAN
CFD FLUENT 6.3

MSK. Tony Suryo Utomo*, Muhammad


Iqbal
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

*Email: msk_tony@undip.ac.id

ABSTRAK
Bersepeda secara beriringan merupakan suatu strategi penting dalam balapan sepeda
seperti perlombaan Team Time Trial dimana didasarkan pada pemanfaatan efek
aerodinamika.Dalam hal ini, koefisien tahanan udara diusahakan untuk diminimalkan agar
dapat mengurangi daya (power) yang dikeluarkan oleh pengendara sepeda sehingga
pengendara sepeda tidak cepat lelah.Tugas sarjana ini menganalisis fenomena yang terjadi
pada sepeda dengan formasi beriringan yang diakibatkan dengan adanya kecepatan aliran
fluida.Metodologi tugas sarjana ini disimulasikan menggunakan sistem computer dengan
software CFD (Computational Fluid Dynamics).
Simulasi dilakukan oleh lima sepeda yang diposisikan sejajar dengan arah aliran udara
dengan variasi kecepatan 30 km/jam, 40 km/jam, dan 50 km/jam. Pada tiap kecepatan tersebut,
dilakukan juga simulasi terhadap variasi jarak antar sepeda, yaitu ¼ diameter roda, ½ diameter
roda, 1 diameter roda, dan 2 diameter roda dimana diameter roda adalah 674 mm. Hasil
simulasi menunjukkan bahwa nilai koefisien tahanan terbesar terjadi pada sepeda pertama (di
depan) pada jarak antar sepeda 2 diameter roda pada kecepatan 30 km/jam yaitu sebesar
0.648, sedangkan koefisien tahanan terkecil terjadi pada sepeda ketiga (di tengah) pada jarak
antar sepeda ¼ diameter roda pada kecepatan 50 km/jam yaitu sebesar 0.317. Semakin kecil
jarak antar sepeda, semakin rendah pula koefisien tahanan (drag coefficient) yang terjadi pada
sepeda.
Kemudian, perhitungan teoritis dilakukan untuk mencari daya yang dikeluarkan oleh
pengendara sepeda. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai daya terbesar terjadi pada
pengendara pertama (di depan) pada jarak antar sepeda 2 diameter roda pada kecepatan 50
km/jam yaitu 279.133 watt, sedangkan Daya terkecil terjadi pada pengendara ketiga (di tengah)
pada jarak antar sepeda ¼ diameter roda pada kecepatan 30 km/jam yaitu 46.456 watt.
Semakin besar jarak antar sepeda, semakin besar pula gaya hambat udaranya (Fd) dan semakin
besar pula daya (P) yang dikeluarkan oleh pengendara sepeda.

Kata kunci: Sepeda, koefisien tahanan, kecepatan, jarak antar sepeda, daya, CFD.

PENDAHULUAN depan sudah mulai lelah, maka pengendara


Bersepeda dalam sebuah kelompok atau tersebut bisa melakukan rotasi untuk memulihkan

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 84


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

suatu balapan sepeda memerlukan suatu strategi tenaganya, sementara pengendara kedua
atau formasi yang benar agar pengendara tidak mengambil alih posisi paling depan. Gambar 1
cepat lelah. Strategi tersebut didasarkan pada menunjukkan suatu tim pengendara sepeda
sedang melakukan rotasi dalam Team Time Trial
pemanfaatan aerodinamika, dimana pengendara
[10].
dapat mengurangi daya yang dibutuhkan untuk
memutar pedal dengan cara
bersepeda secara beriringan atau dikenal dengan istilah “drafting”. Hal ini terjadi karena pengendara
bagian depan terkena efek gaya tahanan oleh angin yang lebih besar daripada pengendara bagian
belakang sehingga memerlukan usaha yang lebih besar untuk memutar pedal dan lebih cepat lelah.
Strategi ini biasa digunakan oleh tim pengendara sepeda nasional maupun
profesional dalam suatu perlombaan sepeda untuk
mengalahkan pesaingnya.
Salah satu aplikasinya adalah pada perlombaan

Strategi tersebut adalah ketika pengendara paling

sepeda Team Time Trial.Team Time Trial adalah


suatu perlombaan balap sepeda dimana suatu tim Gambar 1. Suatu tim pengendara sepeda
pengendara sepeda berpacu dengan waktu untuk sedang melakukan rotasi dalam Team
memenangkan pertandingan. Strategi utama Time Trial [4].
perlombaan Team Time
Trial adalah dengan melakukan formasi beriringan.
- 28 -

Aerodinamika adalah studi tentang kedua adalah hambatan angin, sering


bagaimana suatu benda padat bergerak disebut sebagai "drag force". Gaya pada
melalui udara.Ketika definisi ini sebuah benda yang melawan gerakan
dihubungkan dengan olahraga melalui fluida disebut gaya tahanan
bersepeda, maka hal ini marujuk pada (drag force).
bagaimana seorang pengendara sepeda
Gaya tahanan aerodinamika terdiri
mengatasi tahanan udara yang dihasilkan
dari dua gaya, yaitu tahanan tekanan
oleh gerak maju dan angin.Kecepatan
udara (air pressure drag) dan gesekan
yang dapat dicapai pada sepeda
langsung (juga dikenal sebagai gesekan
ditentukan oleh dua faktor. Yang
permukaan atau skin-friction). Daerah
pertama adalah berapa besar kekuatan
tekanan rendah di bagian belakang objek
yang pengendara keluarkan dan yang
menghasilkan gaya tahanan terhadap

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 85


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

objek. Dengan tekanan tinggi di bagian adalah gaya di antara benda dengan
depan dan tekanan rendah di bagian fluida.
belakang, pengendara sepeda secara
Komponen – komponen gaya tersebut
harfiah sulit untuk bergerak maju.
adalah [2]:
Sepeda yang baik diciptakan untuk
meminimalkan tahanan tekanan udara
a. Gaya Tahanan (Drag) dan Gaya
(pressure drag).Bentuk geometri yang
Angkat (Lift)
tepat dapat
memaksimalkankemungkinanterbentukal Tahanan adalah gaya yang
iranyang melekat(bukan memisahkan diberikan oleh fluida yang mengalir
aliran dan membentuk pusaran) yang terhadap suatu objek dalam arah paralel
meminimalkangesekan permukaan.Hal terhadap aliran tersebut. Sedangkan,
ini dapat dilakukan dengan pengujian gaya angkat adalah komponen dari
model sepeda menggunakan terowongan tekanan dan gaya geser dinding dalam
angin (wind tunnel).Namun, pengujian arah tegak lurus terhadap aliran
menggunakan terowongan angin ini cenderung menggerakan objek ke arah
membutuhkan peralatan dan ruang yang tersebut [2].
memadai serta biaya yang relatif tinggi
untuk melakukannya.

Untuk mengatasi masalah ini maka


diperlukan suatu solusi alternatif dalam
hal simulasi dinamik dengan
menggunakan software CFD FLUENT 6.3
dengan harapan proses analisis studi
kasus ini dapat dilakukan dengan lebih
mudah, hemat dan cepat.Meskipun,
simulasi ini menghasilkan data yang
kurang valid karena interaksi aliran udara Gambar 2. Sebuah airfoil yang menghasilkan
di sekitar sepeda bergerak secara gaya angkat dan gaya tahanan minimum
konstan dan dengan ayunan kaki dan [2].
roda yang tidak berputar.

Gaya tahanan dan angkat bergantung


pada densitas fluida ρ, kecepatan upstreamV,

DASAR TEORI dan ukuran dan bentuk objek, dan tidak mudah
untuk menentukan gaya ini untuk bermacam
kondisi. Sebagai gantinya, datadata tersebut
1. Gaya – Gaya pada Benda biasanya disajikan dalam bentuk bilangan tak
Suatu benda yang berada pada berdimensi yaitu berupa koefisien tahanan
suatu fluida yang bergerak (atau benda (drag coefficient) dan koefisien gaya angkat (lift
yang bergerak pada suatu fluida yang coefficient), didefinisikan sebagai:
diam) akan mengalami suatu gaya. Gaya
– gaya yang terjadi pada kasus seperti ini
sering disebut dengan gaya – gaya
aerodinamika. Gaya – gaya yang terjadi

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 86


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

tekanan yang sangat besar antara di sisi depan


dan belakang objek [2].

dimana: Fd = gaya tahanan


2. Menghitung Daya yang Dikeluarkan oleh
Fd = gaya angkat ρ =
Pengendara Sepeda
densitas fluida V =
kecepatan upstream (m/s) Daya merupakan kerja yang dibutuhkan
per satuan waktu untuk menghadapi gaya total
A = area frontal (m2)
yang bekerja pada pengendara dan sepeda. Ada
beberapa gaya yang melawan gerak dari sepeda
b. Jenis – Jenis Tahanan sehingga pengendara sepeda membutuhkan
daya yang cukup agar sepeda tersebut bisa
Bagian dari tahanan yang disebabkan bergerak maju. Gaya-gaya tersebut adalah:
secara langsung oleh tegangan geser τw pada
dinding dinamakan tahanan permukaan (skin
friction drag) karena disebabkan oleh pengaruh
gesekan, dan bagian yang disebabkan secara
langsung oleh tekanan P dinamakan tahanan
tekanan (pressure drag) atau tahanan bentuk
(form drag) karena sangat bergantung pada
bentuk objek.

Tahanan permukaan merupakan


komponen dari gaya geser dinding pada arah
aliran, dan dengan demikian bergantung pada
orientasi objek serta besar tegangan geser τw
dinding. Tahanan permukaan adalah nol untuk
permukaan datar yang normal terhadap aliran, Gambar 3.Gaya yang bekerja pada
dan maximum untuk permukaan datar parallel pengendara dan sepeda
terhadap aliran karena tahanan permukaan [6].
dalam hal ini sama dengan gaya geser total pada
permukaan. Tahanan permukaan merupakan a. Rolling Resistance
sangat dipengaruhi oleh viskositas, dan Gaya ini merupakan gesekan pada roda
meningkat dengan meningkatnya viskositas. yang berhubungan dengan jalan. Hal ini
Tahanan tekanan sebanding dengan area dipengaruhi oleh kualitas sepeda, roda ,
frontal dan perbedaan antara tekanan di depan permukaan jalan, tekanan roda, dan berat
objek dan belakang objek. Oleh karena itu, pengendara dan sepeda. Pada kecepatan
tahanan tekanan biasanya paling besar untuk rendah, pada jalan datar, gaya ini merupakan
objek tumpul, kecil untuk objek streamline, gaya utama [6].
misalnya airfoil, dan nol untuk permukaan tipis
parallel terhadap aliran. Tahanan tekanan
menjadi sangat penting ketika kecepatan fluida
terlalu tinggi untuk fluida yang mampu dimana
mengikuti kelengkungan objek. Tahanan
tekanan dalam hal ini disebabkan perbedaan

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 87


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Frl = Gaya oleh rolling resistance Cr = Gradhill = Gradien kemiringan jalan, rasio
Koefisien rolling resistance m = Total masa kenaikan untuk jangka horizontal
pengendara sepeda dan sepeda (kg)
g = Percepatan grafitasi (9.8 m/s2)
Daya total yang dikeluarkan
pengendara sepeda merupakan
b. Air and Wind Resistance penjumlahan dari semua gaya di atas
Udara merupakan suatu fluida dan objek dikali dengan kecepatannya atau dapat
yang bergerak melalui udara akan menghasilkan ditulis dengan [6]:
gesekan. Ini merupakan fungsi dari kecepatan
sepeda ditambah kecepatan angin, luas frontal
dan bentuk pengendara dan sepeda, dan
kecepatan bergerak [6].
Di mana V = kecepatan sepeda dalam (m/s)

dimana PEMODELAN
Fd = Gaya pada pengendara dan sepeda
oleh tahanan angin Cd = Koefisien tahanan
BENDA
ρ = Densitas udara V = Kecepatan sepeda
1. Model Benda
dalam m/s Simulasi dalam tugas sarjana ini
A = Luas frontal dari pengendara dan dilakukan pada sepeda berjenis sepeda
sepeda (m2) balap berjumlah lima sepeda dengan
formasi beriringan sejajar terhadap arah
aliran udara. Adapun dimensi sepeda dan
c. Slope resistance
model yang telah dibuat dapat dilihat
Ketika mendaki, pengendara
pada Gambar 4.
membutuhkan daya yang cukup untuk
“mengangkat” dirinya sendiri ditambah
berat sepedanya.Ini merupakan pengaruh
dari kemiringan jalan dan
kecepatan.Semakin bertambahnya
ketinggian, maka energi potensial juga
meningkat.Energi potensial dapat
menghasilkan energy balik setiap kali
pengendara sepeda turun [6].

Gambar 4. Dimensi sepeda yang akan


dimana dimodelkan pada Ansys
Fsl = Gaya disebabkan kemiringan jalan m 12.
= Total masa pengendara sepeda dan
sepeda
2. Proses Simulasi
(kg) a. Preprocessing
Prepocessing merupakan langkah
g = Percepatan grafitasi
pertama dalam membangun dan

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 88


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

menganalisa sebuah model CFD. Dalam tersebut berada di dalamnya dimana


tahapan ini, dilakukan dua hal, yaitu wind tunnel tersebut digunakan sebagai
pembuatan model benda dengan domain dalam FLUENT. Model sepeda
menggunakan software CAD (Computer dan dimensi wind tunnel ditunjukkan
Aided Design) dan membuat mesh yang pada Gambar 5 dan 6.
cocok/sesuai. Dalam tugas sarjana ini
dalam pembuatan model benda dan
penggenerasian mesh dilakukan pada
software Ansys 12. b. Solving

Solver (program inti pencari solusi)


CFD menghitung kondisi-kondisi batas
yang diterapkan pada saat preprocessing,
lalu melakukan iterasi atau perhitungan.
Gambar 6.Dimensi Domain
c. Postprocessing komputasi
Langkah terakhir dalam analisis setengah bagian.
CFD.Hal yang dilakukan dalam
mengorganisasi dan menginterpretasi
b. Penggenerasian Mesh
data hasil simulasi CFD yang bisa berupa
Dalam pemodelan sepeda ini,
gambar, kurva, dan animasi.
penggenerasian mesh dilakukan secara otomatis
di Ansys 12. Sebelum penggenerasian mesh,
3. Simulasi Aerodinamika Kelima Model dilakukan beberapa pengaturan ukuran mesh
Sepeda dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut :
a. Model Komputasi
Tabel 1. Pengaturan ukuran mesh

Use Advanced Size Function On: Curvature


Relevance Center Coarse
Initial Size Seed Active Assembly
Smoothing High
Transition Slow
Span Angle Center Medium
Curvature Normal Angle Default (18.0 o)
Min Size 1.0 mm
Max Face Size 500.0 mm
Max Tet Size 1500.0 mm
Gambar 5.Model sepeda pada Growth Rate 1.3
Ansys 12 yang akan
dianalisa. Pengaturan ukuran mesh di atas
dimaksudkan untuk mendapat kerapatan mesh
Model sepeda dibuat di software yang berbeda sehingga diperoleh kerapatan
Ansys 12 dengan cara membuat satu yang lebih besar pada daerahdaerah yang
model sepeda dahulu kemudian disalin menjadi pusat perhatian dan sebaliknya pada
menjadi 5 buah sepeda yang disusun daerah-daerah lain kerapatannya lebih kecil.
beriringan. Kemudian membuat model Dengan demikian, dapat diperoleh suatu bentuk
wind tunnel dengan kelima sepeda penggenerasian mesh yang optimal dan dapat

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 89


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

menghemat waktu dan usaha perhitungan e. Pendefinisian Kondisi Operasi dan Kondisi
komputasi. Pada penggenerasian volume mesh Batas
Ansys menggunakan jenis elemen Tet/Hybrid Dalam kasus kali ini, sepeda
dengan tipe mesh Tgrid karena geometri benda terpengaruh oleh udara dari lingkungan luar,
yang rumit, dimana terdapat lebih dari 1 juta sel maka kondisi operasi yang digunakan pada
yang selanjutnya dijadikan sebagai model simulasi Tugas Akhir ini menggunakan nilai
komputasi pada FLUENT. atmosfer yaitu 1 atm atau 101325 Pa.

Kondisi batas yang digunakan pada


simulasi ini yaitu Velocity Inlet, Outflow,
Symmetry, dan Wall.Pada Gambar 8
menunjukkan letak kondisi batas yang
digunakan pada domain wind tunnel.

Gambar 7. Hasil penggenerasian mesh pada


sepeda.

Gambar 8.Kondisi batas pada domain


c. Turbulence Models setengah bagian.
Dalam tugas sarjana ini, model turbulensi
yang digunakan untuk proses simulasi adalah k-
epsilon standard wall functions. Hal ini karena Pada kondisi batas Velocity inlet, besar
model k-epsilon standard wall functions juga kecepatan diatur sesuai dengan variasi yang
model turbulensi ini lebih stabil, ekonomis (dari digunakan yaitu 30 km/jam, 40 km/jam, dan
segi komputasi), dan akurasi yang memadai 50 km/jam. Dinding – dinding seksi pengujian
untuk berbagai jenis aliran turbulen serta, cocok bagian atas dan samping diidealisasikan dan
untuk simulasi untuk aliran eksternal. Alasan didefinisikan sebagai batas simetri.Batas
lain dalam penggunaan model viskos simulasi ini bawah diidealisasikan layaknya jalan raya
dikarenakan pertimbangan faktor lamanya sehingga kondisi batas adalah wall.Untuk
waktu yang dibutuhkan untuk melakukan proses pendefinisian kondisi batas wall dan juga
simulasi serta keterbatasan kemampuan Outflow menggunakan nilai default dari ANSYS
komputer dalam melakukan proses simulasi. FLUENT.

Idealisasi juga dilakukan pada model


d. Pendefinisian Material sepeda sendiri diantaranya adalah rantai dan
Fluida yang digunakan dalam kasus ini jari-jari roda sepeda tidak disertakan dalam
adalah udara. Adapuns sifat-sifat udara yang simulasi, roda dan pedal sepeda diidealisasikan
digunakan adalah sebagai berikut: tidak berputar atau diam.

Jenis Fluida = Udara

Densitas (ρ) = 1,225 kg/m3 f. Proses Iterasi


Sebelum proses iterasi dilakukan, perlu
Viskositas (μ) = 1,7894 x 10-5 kg/ms
dilakukan inisiasi aliran (initialization), yaitu
memasukkan input awal. Setelah diinisialiasi,

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 90


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

iterasi dijalankan hingga memenuhi kriteria diberikan adalah 1/4 diameter roda, 1/2
konvergensi yang disyaratkan.Untuk kasus diameter roda, 1 diameter roda, dan 2
aliran steady, iterasi awal dilakukan 1000 diameter roda dimana diameter roda
kali.Jika belum konvergen, jumlah iterasi bisa adalah 674 mm.
ditambahkan lalu lakukan kembali iterasi.Jika
masih belum konvergen, maka iterasi dapat
dihentikan bila koefisien tahanan hasil simulasi
sudah dirasa konstan.Adapun kontrol solusi
yang digunakan pada komputasi ini dapat
dilihat pada Tabel 2.
Gambar 9.Variasi kecepatan aliran udara
(Vwind) dan Jarak antar sepeda
Viscous Model k-epsilon (x).
k-e model Standard
Tabel 2. Kontrol solusi dalam komputasi dan
simulasi

Near Wall Treatment Standard Wall HASIL DAN


Discretization
Functions
ANALISA
Pressure Standard
Momentum Second Order Upwind 1. Hasil Simulasi Variasi Kecepatan
Turbulent Kinetic Second Order Upwind
Pada simulasi ini jarak antara
Energy
sepeda yang satu dengan yang lain adalah
Turbulent Dissipation Second Order Upwind
¼ diameter (164,5 mm) roda dimana
Rate
Pressure 0,3 diameter roda sepeda adalah 674 mm.
Density 1 Sedangkan variasi kecepatan aliran udara
Momentum 0,7 adalah 30 km/jam, 40 km/jam, dan 50
Turbulent kinetic energy 0,8 km/jam. Hasil simulasinya adalah sebagai
Turbulent dissipation 0,8 berikut:
rate
Turbulent viscosity 1
Kriteria konvergensi 1e-06

g. Variasi Simulasi
Di sini dilakukan variasi dari
beberapa tingkat kecepatan untuk
membandingkan koefisien tahanan dan
gaya tahanan berdasarkan kecepatan.
Variasi kecepatan yang digunakan adalah :
30 km/jam, 40 km/jam, dan 50 km/jam.

Dalam melakukan analisa, dilakukan


pula beberapa variasi jarak antar sepeda
untuk memberikan perbedaan koefisien
tahanan tiap sepeda pada setiap variasi
jarak antar sepeda.Variasi jarak yang

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 91


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Tabel 3. Koefisien tahanan untuk jarak antar kecepatan 50 km/jam yaitu sebesar
0.331.
30 40 50
km/jam km/jam km/jam
Cd 0.681 0.652 0.632 2. Analisa Fenomena Aerodinamika
Sepeda Pada Tiap Sepeda
Fd 6.659 11.329 17.186
1
(N) Pada setiap hasil simulasi,
Cd 0.360 0.358 0.357 koefisien tahanan (Cd) paling rendah
Sepeda
Fd 3.520 6.218 9.692 selalu terjadi pada sepeda ketiga (di
2
(N) tengah).Untuk menganalisa kasus
Cd 0.334 0.332 0.331 tersebut, maka dilakukan analisa
Sepeda
Fd 3.269 5.777 8.995 berdasarkan kontur tekanan statis,
3
(N) kontur kecepatan, dan path lines partikel
Cd 0.341 0.342 0.343 fluida pada tiap sepeda. Sebagai contoh
Sepeda
Fd 3.337 5.946 9.323 untuk dianalisa adalah simulasi pada
4
(N) variasi kecepatan udara 30 km/jam pada
Sepeda Cd 0.354 0.356 0.357 jarak antar sepeda ¼ diameter roda
5 (168,5 mm).
sepeda ¼ diameter roda (168.5 mm)

Fd 3.462 6.190 9.716


(N)

0.700
0.650
0.600
0.550 30 km/jam
Gambar 11. Perbandingan kontur
Cd 0.500 40 km/jam
0.450 50 km/jam
tekanan statik pada tiap sepeda untuk
0.400 jarak ¼ diameter roda (168,5 mm) dan
0.350 kecepatan aliran 30 km/jam.
0.300
1 2 3 4 5
Pada Gambar 11 terlihat bahwa
Pengendara Sepeda
Gambar 10. Cd) ( selisih distribusi tekanan statik terbesar
Grafik hubungan koefisien tahanan
dengan sepeda untuk jarak ¼ diameter terjadi pada sepeda pertama. Hal ini
roda (168.5 mm). dapat dilihat dengan warna kontur
tekanan yang tinggi pada bagian depan
sepeda sedangkan kontur tekanan
Dari gambar 10, dapat disimpulkan rendah pada bagian belakang sepeda
bahwa semakin besar kecepatan aliran pertama. Semakin besar selisih distribusi
udara, maka semakin rendah koefisien tekanan statiknya maka semakin besar
tahanan yang terjadi pada tiap pula koefisien tahanannya.Selisih
sepeda.Koefisien tahanan terbesar distribusi tekanan statik yang paling kecil
dialami oleh sepeda pertama pada terjadi pada sepeda ketiga (di tengah).
kecepatan 30 km/jam yaitu sebesar Hal itu terjadi karena selisih distribusi
0.681.Sedangkan koefisien tahanan tekanan pada bagian depan dan bagian
terkecil dialami oleh sepeda ketiga pada belakang pengendara sepeda ketiga lebih

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 92


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

rendah, maka terjadi reduksi nilai


koefisien tahanan.

Gambar 13.
Path lines
partikel fluida pada sepeda 1.

Gambar 12. Perbandingan kontur kecepatan


pada tiap sepeda untuk jarak ¼ diameter roda
(168,5 mm) dan kecepatan aliran 30 km/jam.

Gambar 12 memperlihatkan bagaimana


perbedaan besar nilai kecepatan yang terjadi
ketika kecepatan aliran udara melewati masing- Gambar 14.
Path lines
partikel fluida pada sepeda 2.
masing sepeda.Warna kontur kecepatan pada
sekitar sepeda ketiga adalah biru tua
tebal.Warna biru tua berarti kecepatan udara
yang melintasi sepeda ketiga adalah kecil karena
terhalang oleh sepeda pertama dan kedua, oleh
karena itu koefisien tahanannya pun juga
rendah.Sedangkan, koefisien tahanan terbesar
terjadi pada sepeda pertama.Hal ini dapat Gambar 15.
Path lines
partikel fluida pada sepeda 3.
diketahui pada gambar di atas bahwa warna
kontur kecepatan di sekitar sepeda pertama
didominasi oleh warna hijau.

Gambar 16.
Path lines
partikel fluida pada sepeda 4.

Gambar 17.
Path lines
partikel fluida pada sepeda 5.

Path lines merupakan lintasan dari


pergerakan aliran fluida. Path lines
merupakan gambaran yang baik untuk
visualisasi aliran fluida tiga dimensi yang
kompleks. Pada gambar di atas, path lines
digunakan untuk memeriksa gerak aliran

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 93


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

partikel fluida di belakang tiap sepeda. Garis Perubahan jarak antar sepeda
path lines menunjukkan terjadi aliran yang menyebabkan perubahan koefisien
berputar pada bagian belakang sepeda. tahanan yang terjadi pada masingmasing
Aliran tersebut terjadi akibat adanya sepeda. Pada Tabel 4 dapat dilihat
perbedaan tekanan pada bagian depan dan koefisien tahanan yang terjadi pada setiap
belakang sepeda. Aliran dengan putaran sepeda dengan variasi jarak 1/4, 1/2, 1,
lebih banyak menunjukkan bahwa sepeda dan 2 diameter roda sepeda dimana
memiliki koefisien tahanan lebih besar. Dari diameter roda sepeda adalah 674 mm.
perbandingan path lines tersebut, sepeda Terjadi hubungan bahwa semakin besar
pertama memiliki aliran berputar lebih jarak antar sepeda, semakin meningkat
banyak. Oleh karena itu koefisien tahanan pula koefisien tahanannya. Maka ini
sepeda pertama lebih besar daripada yang merupakan suatu strategi bagi
lain. Sementara, sepeda ketiga memiliki pengendara sepeda balap agar selalu
aliran berputar paling sedikit dan garis aliran berusaha berdekatan dengan sepeda di
didominasi oleh warna biru tua.Oleh karena depannya untuk meminimalkan daya yang
itu koefisien tahanan sepeda ketiga adalah dikeluarkan pengendara.
yang paling lebih rendah.
Gaya tahanan (drag force) untuk tiap
kecepatan pada tiap jarak antar sepeda
3. Simulasi Variasi Jarak Antar Sepeda untuk dimana densitas udara ρ adalah 1.225
Tiap kg/m3 dan luas frontal sepeda 0.231
m2juga ditunjukkan pada Tabel 4.
Kecepatan

Tabel 4. Data koefisien tahanan dan gaya tahanan hasil simulasi

Jarak V Sepeda 1 Sepeda 2 Sepeda 3 Sepeda 4 Sepeda 5


antar (km/jam Fd Cd Fd Cd Fd Cd Fd Cd Fd Cd
Sepeda ) (N) (N) (N) (N) (N)
30 6.659 0.68 3.520 0.36 3.269 0.33 3.337 0.34 3.462 0.35
1/4
1 0 4 1 4
Diamete
40 11.32 0.65 6.218 0.35 5.777 0.33 5.946 0.34 6.190 0.35
r roda
9 2 8 2 2 6
(168,5
50 17.18 0.63 9.692 0.35 8.995 0.33 9.323 0.34 9.716 0.35
mm)
6 2 7 1 3 7
30 6.662 0.68 3.610 0.36 3.370 0.34 3.439 0.35 3.577 0.36
1/2
2 9 5 2 6
Diamete
40 11.33 0.65 6.366 0.36 5.948 0.34 6.118 0.35 6.397 0.36
r roda
4 2 6 2 2 8
(337
50 17.19 0.63 9.911 0.36 9.253 0.34 9.564 0.35 10.03 0.36
mm)
2 3 5 0 2 4 9
30 6.729 0.68 3.836 0.39 3.603 0.36 3.636 0.37 3.775 0.38
1
8 2 9 2 6
Diamete
40 11.45 0.65 6.738 0.38 6.370 0.36 6.482 0.37 6.766 0.38
r roda
3 9 7 6 3 9
(674
50 17.37 0.63 10.46 0.38 9.927 0.36 10.15 0.37 10.62 0.39
mm)
8 9 4 5 5 3 4 8 1

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 94


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan
Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

30 6.777 0.69 4.143 0.42 3.896 0.39 3.902 0.39 4.026 0.41
2
3 4 9 9 2
Diamete
40 11.54 0.66 7.243 0.41 6.852 0.39 6.950 0.40 7.217 0.41
r roda
6 4 7 4 0 5
(1348
50 17.52 0.64 11.22 0.41 10.66 0.39 10.87 0.40 11.33 0.41
mm)
2 5 1 3 6 2 9 0 8 7

*kuning = koefisien tahanan terendah *hijau = koefisien tahanan terbesar

ROTASI – Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−37 95


MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

mengurangi energi yang dikueluarkan oleh


0.800

0.700
pengendara sepeda.
Sepeda 1
0.600 Sepeda 2
Pengurangan energi ini dihubungkan dengan
0.500 Sepeda 3
Cd
Sepeda 4 adanya gaya tahanan udara (Fd), gaya rolling
0.400

0.300
Sepeda 5 resistance (Frl), dan gaya slope resistance
0.200
(Fsl).
1/ 4 1/ 2
(168.5 mm) (337 mm)
1
(674 mm)
2
(1348 mm)
Setelah melakukan simulasi untuk mencari
koefisien tahanan (Cd) dan gaya tahanan udara (Fd),
Jarak (Diameter roda sepeda)
lalu dilakukan perhitungan untuk mencari daya yang
Gambar 19.Grafik hubungan koefisien dikeluarkan oleh tiap pengendara sepeda. Nilai-nilai
tahanan dengan jarak antar sepeda pada yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :
kecepatan 40 km/jam. Masa sepeda : 9 kg

0.700 Masa pengendara sepeda : 75 kg


Sepeda 1
0.600

0.500
Sepeda 2
Sepeda 3
Koefisien rolling resistance, Cr : 0.003
Cd
0.400 Sepeda 4 Gaya rolling resistance, Frl : 2.471 N
0.300
Sepeda 5 Sebagai contoh perhitungan, diambil salah satu
0.200 dari beberapa variasi simulasi yang telah dilakukan.
1/4 1/2 1 2
0.800 Variasi yang diambil adalah pada pengendara sepeda
(168.5 mm) (337 mm) (674 mm) (1348 mm)
pertama dengan jarak antar sepeda ¼ diameter roda
Jarak (Diameter roda sepeda) Gambar dengan kecepatan 30 km/jam (8.33 m/s). Langkah
20.Grafik hubungan koefisien perhitungannya adalah sebagai berikut:
tahanan dengan jarak antar sepeda pada
kecepatan 50 km/jam.
a. Gaya hambat udara (Fd)
Pada Tabel di atas dapat disimpulkan Gaya hambat udara (Fd) diambil dari hasil simulasi
bahwa semakin besar kecepatan udara (V), yang telah dilakukan. Hasil simulasi dapat dilihat pada
maka semakin kecil koefisien tahanan (Cd) Tabel 4 dimana gaya hambat udara pada sampel
yang terjadi, tetapi semakin besar gaya adalah 6.659 N.
hambat udaranya (Fd). Dapat disimpulkan b. Gaya rolling resistance (Frl)
bahwa semakin besar jarak antar sepeda,
maka semakin besar pula koefisien tahanan
yang terjadi.Jadi, koefisien tahanan terkecil
tetap terjadi pada sepeda ketiga (di tengah) Maka, gayarolling resistance (Frl) adalah 2.471 N.
c. Gaya slope resistance (Fsl)
pada jarak antar sepeda ¼ diameter roda
Pada simulasi ini kemiringan jalan adalah nol
pada kecepatan 50 km/jam yaitu sebesar
karena jalan dianggap datar. Oleh karena itu
0.331. Sedangkan, koefisien tahanan terbesar
gayaslope resistance adalah nol.
terjadi pada sepeda pertama (di depan) pada
jarak antar sepeda 2 diameter roda pada Setelah mendapatkan nilai-nilai diatas, maka kita
kecepatan 30 km/jam yaitu sebesar 0.693. sudah dapat menghitung daya total yang dikeluarkan
pengendara sepeda. Daya totalnya dapat dihitung
dengan persamaan :
4. Menghitung Daya yang Dikeluarkan oleh
Pengendara Sepeda

Tujuan para pengendara sepeda


melakukan formasi beriringan adalah untuk
Jadi, daya total yang dikeluarkan oleh pengendara
sepeda pertama dengan jarak antar sepeda ¼

ROTASI – 96
MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

300
diameter roda dengan kecepatan 30 km/jam (8.33
250
m/s) adalah 76.053 watt. Sedangkan untuk melihat Sepeda 1
200 Sepeda 2
daya seluruh pengendara sepeda pada semua variasi,

P (watt)
150 Sepeda 3
dapat dilihat pada Tabel 5 berikut: 100 Sepeda 4
Sepeda 5
50

(674 mm) 40 102.31 0


154.69 6 30 40 50

2 V (km/jam)
Tabel 5. Daya
50 yang 275.70
dikeluarkan
3 oleh tiap pengendara sepeda
179.66
V 7
Jarak antar Sepeda Sepeda
(km/jam Sepeda
30 1 77.036 Sepeda
55.095 3 Sepeda 5
Sepeda 2 4
) 40 155.72 9 107.92
2 Diameter roda
30 76.053 49.905 347.814 48.381 49.422
1/4 Diameter(1348 mm)40 153.318 96.535 91.63 5 93.513 96.224
50 277.703 190.18
roda (168,5 mm) 50 273.036 168.94 2159.26 3 163.81 169.277
4 9
30 76.078 50.655 48.65 6 49.230 50.380
1/2 Diameter 40 153.374 98.179 93.53 5 95.424 98.523
roda (337 mm) 50 273.119 171.98 162.84 6 167.16 173.694
6 6
1 Diameter roda 30 76.636 52.537 50.59 6 50.871 52.029
Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−27

*kuning = daya pengendara terendah Gambar 22.Grafik hubungan daya pengendara


sepeda dengan kecepatan udara pada jarak antar
*hijau = daya pengendara terbesar sepeda ½ diameter roda sepeda (337 mm).

300

250 Sepeda 1
300 200 Sepeda 2
P (watt)

Sepeda 3
250 150
Sepeda 1
Sepeda 4
200 Sepeda 2 100 Sepeda 5
P (watt)

150 Sepeda 3
50
Sepeda 4
100 0
Sepeda 5 30 40 50
50

0 V (km/jam)
30 40 50 Gambar Grafik hubungan daya pengendara
V (km/jam) dengan
23. kecepatan
sepedaudara pada jarak antar sepeda 1
diameter roda sepeda (674 mm).
Gambar 21. Grafik hubungan daya pengendara
sepeda dengan kecepatan udara pada jarak antar
300
sepeda ¼ diameter roda sepeda (168,5 mm).
250
Sepeda 1
200 Sepeda 2
P (watt)

150 Sepeda 3
Sepeda 4
100
Sepeda 5
50

0
30 40 50

V (km/jam)

ROTASI – 97
MSK. Tony Suryo Utomo dan Muhammad Iqbal, Analisa Aerodinamika Pada Sepeda Dengan Formasi Beriringan Dengan Variasi Kecepatan Dan
Jarak Antar Sepeda Menggunakan Cfd Fluent 6.3

Gambar 24.Grafik hubungan daya pengendara sepeda pertama (di depan)


sepeda dengan kecepatan udara pada jarak pada jarak 2
antar sepeda 2 diameter roda sepeda (1348
mm).

Daya yang dikeluarkan oleh pengendara


sepeda dipengaruhi oleh besar gaya hambatan
udara (Fd), gesekan antara ban sepeda dengan
jalan, dan kemiringan jalan yang dilalui sepeda.
Dari Tabel 5 dapat disimpulkan bahwa semakin
besar jarak antar sepeda, makin besar pula gaya
hambat udaranya dan semakin besar pula daya
yang dikeluarkan oleh pengendara sepeda. Daya
keluaran yang paling kecil adalah 47.814 watt
terjadi pada pengendara ketiga (di tengah) pada
jarak antar sepeda ¼ diameter roda (168,5 mm)
pada kecepatan 30 km/jam (8.33 m/s).
Sedangkan, Daya keluaran yang paling besar
adalah 277.703 watt terjadi pada pengendara
pertama (di depan) pada jarak antar sepeda 2
diameter roda (1348 mm) pada kecepatan 50
km/jam (13.89 m/s).

Di sini dapat disimpulkan bahwa sangat


besar pengaruh gaya tahanan terhadap daya
yang dikeluarkan pengendara sepeda. Untuk itu
agar dapat meminimalkan daya yang
dikeluarkan pengendara sepeda, disarankan
untuk memakai pakaian khusus dengan
berbahan halus untuk meminimalkan gesekan
udara terhadap pengendara sepeda dan juga
menggunakan sepeda dengan geometri yang
streamline. Posisi sepeda juga sangat
mempengaruhi koefisien tahanan yang
dihasilkan seperti posisi time trial sangat
dianjurkan saat sedang balapan sepeda.

KESIMPULAN
Dari simulasi yang telah dilakukan terhadap
sepeda dengan formasi beriringan yang
diposisikan garis lurus terhadap aliran udara,
dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa :

1. Koefisien tahanan terbesar


adalah 0.693 terjadi pada

ROTASI – 98
Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−27
diameter roda pada kecepatan 30 km/jam, sedangkan koefisien tahanan
terkecil adalah 0.331 terjadi pada sepeda ketiga (di tengah) pada jarak
antar sepeda ¼ diameter roda pada kecepatan 50 km/jam.

2. Koefisien tahanan paling kecil selalu terjadi pada posisi sepeda ketiga (di
tengah).
3. Dilihat dari koefisien tahanan pada tiap sepeda, koefisien tahanan terkecil
terjadi pada jarak antar sepeda ¼ diameter roda (168,5 mm). Ini
mengindikasikan bahwa semakin kecil jarak antar sepeda, semakin kecil
pula koefisien tahanan yang dialami pada tiap sepeda.
4. Daya keluaran terbesar yang dikeluarkan oleh pengendara sepeda adalah
sebesar 277.703 watt terjadi pada pengendara pertama (di depan) pada
jarak antar sepeda 2 diameter roda pada kecepatan 50 km/jam (13.89
m/s), sedangkan daya keluaran terkecil yang dikeluarkan oleh pengendara
sepeda adalah sebesar 47.814 watt terjadi pada pengendara ketiga (di
tengah) pada jarak antar sepeda ¼ diameter roda pada kecepatan 30
km/jam (8.33 m/s).

REFERENSI
1. Fox, Robert W dan Alan T. McDonald. 1985. Introduction to Fluid
Mechanics, fourth edition, SI Version. USA: John Wiley & Sons, Inc.
2. Cengel, Yunus A. dan John M. Cimbala. 2006. Fluid Mechanics:
Fundamentals and Applications. NewYork: McGraw-Hill.
3. Munson, Bruce R. 2009. Fundamentals of Fluid Mechanics, sixth edition.
USA: John Wiley & Sons, Inc.
4. “Team Time Trial”, http://en.wikipedia.org/wiki/Team_time_trial.
5. Wilson, David Gordon. 2004. Bicycle Science, third edition. Massachusetts:
The MIT Press.
6. “Cycling Power Calculations”,
http://www.blog.ultracycle.net/2010/05/cycling power-calculations.
7. Chowdhury, Harun, dkk. 2011. A Full Scale Bicycle Aerodynamics Testing
Methodology. School of Aerospace, Mechanical and Manufacturing
Engineering, RMIT University, Melbourne, Australia.

Vol. 14, No. 4, Oktober 2012: 28−27


Bike To Campus: Suatu Gerakan Sosial Baru Berbasis Komunitas Sepeda 134

Bike To Campus:
Suatu Gerakan Sosial Baru Berbasis Komunitas Sepeda
Budiman Pohan1, Yogi Suprayogi Sugandi2

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk menarasikan performa manajerial gerakan Bike to Campus komunitas
UIN Sunan Gunung Djati Bike Community (USBC). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masifnya
penggunaan kendaraan bermotor dan polusi yang dapat mendegradasi kenyamanan kampus dan
mengganggu kesehatan. Oleh karena itu, dibentuklah komunitas sepeda USBC untuk mengajak
mahasiswa menggunakan sepeda sebagai transportasi alternatif yang mendukung mobilitas dan
aktivitas sehari-hari mahasiswa. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan penentuan
informan secara purposif. Data dikolektifkan dengan memfungsikan teknik observasi, wawancara,
dan dokumentasi. Pengolahan data dilakukan secara gradual dimulai dari pengumpulan data,
reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa gerakan Bike to Campus komunitas USBC adalah gerakan sosial baru yang dibentuk oleh
mahasiswa yang peduli terhadap isu etika environmetalis dan kesehatan. Perilaku kolektif dilakukan
secara individual, berkelompok , maupun berkolaborasi dengan komunitas sepeda atau pemerintah
kota. Adapun problem yang dihadapi adalah visi dan misi yang belum konkret, perilaku kolektif
sangat bergantung pada inisiatif para anggota, dan belum terselenggaranya regenerasi
kepemimpinan.

Kata Kunci: Gerakan Bersepeda, Bike to Campus, Gerakan Sosial Baru, Komunitas

ABSTRACT

The purpose of this study is to narrate the managerial performance of the Bike to Campus
movement in the UIN Sunan Gunung Djati Bike Community (USBC) community. This research is
motivated by the massive use of motorized vehicles and pollution that can degrade campus comfort
and disrupt health. Therefore, the USBC bicycle community was formed to invite students to use
bicycles as an alternative transportation that supports the mobility and daily activities of students.
The method used is descriptive with the determination of informants by purposive sampling. Data is
collected by functioning observation, interview, and documentation techniques. Data processing is

1 .Program Studi Pasca Sarjana Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran
budiman18001@mail.unpad.ac.id, bpohan22@gmail.com
2 .Program Studi Pasca Sarjana Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran
yogi.suprayogi@unpad.ac.id

ROTASI – 134
Bike To Campus: Suatu Gerakan Sosial Baru Berbasis Komunitas Sepeda 135

done gradually starting from data collection, data reduction, data presentation, verification, and
drawing conclusions. The results of the study indicate that the movement of the Bike to Campus
community of USBC is a new social movement formed by students who care about the issues of
environmental and health ethics. Collective behavior is carried out individually, in groups, and in
collaboration with the bicycle community or the city government. The problem faced is that the
vision and mission are not yet concrete, collective behavior is very dependent on the initiative of
the members, and the implementation of leadership regeneration has not yet been implemented.
Keywords: Bicycle Movement, Bike to Campus, New Social Movement, Community

133

PENDAHULUAN
Tulisan ini memfokuskan pembahasannya pada proses terbentuknya komunitas sepeda sebagai
gerakan sosial baru dengan cara mengamati proses dan aktivitas kolektifnya. Sebetulnya, gagasan
“sepeda” sebagai transportasi handal dan kompatibel dengan lingkungan perkotaan sudah banyak
diteliti. Sepeda telah membumi dan menjadi alternatif bagi komunitas tertentu, bahkan dapat
menjadi blue-print dalam menentukan kebijakan di sektor pembangunan yang terintegrasi dengan
jalur khusus dan lahan parkir sepeda

(Artiningsih, 2011). Pada level institusi, gerakan bersepeda sempat menjadi perhatian yang penting
khususnya di lingkungan kampus, yakni dengan mengelaborasikan unsur kampanye bersepeda via
kompetisi desain poster (Purnomo, Ramanto, & Rosa, 2012). Tetapi, dua studi sebelumnya sangat
sulit memungkinkan terciptanya aksi kolektif karena terbatas pada ruang abstraksi dan di internal
unit sosial-formil internal. Langkah nyata dan kontinuitas program masih perlu diuji lebih lanjut pada
perspektif tersebut.

Studi mengenai sepeda pun bergeser ke sektor sosio-kultural yang ditandai dengan kesadaran untuk
menjaga kesehatan dan lingkungan. Tren gaya hidup sehat yang tengah populer di tingkat global
adalah dengan bersepeda, seperti mayoritas masyarakat Belanda, Jepang, dan Thailand yang
tergolong aktif bersepeda. Signifikansi bersepeda salah satunya dilatarbelakangi oleh peran dominan
partisan pesepeda (Yang, 2010). Pada skala regional, kelompok ini tersirkulasi pada berbagai lokasi
dan rutin disosialisasikan ke masyarakat. Dengan harapan bersepeda dapat berfungsi sebagai gaya
hidup lintas kelas, memproduksi subkultur, maupun transportasi alternatif yang dapat
meminimalisasi polusi kendaraan bermotor (Suyanto, 2014; Adityo, 2017).

Perlahan tapi pasti, komunitas sepeda mulai menunjukkan entitasnya dengan


mengafirmasikan dirinya pada jenis-jenis sepeda tertentu. Komunitas sepeda onthel
misalnya, berupaya melestarikan sepeda onthel dikala eksistensi sepeda modern yang semakin masif
dengan cara membangun subkulur sepeda onthel pada tiap-tiap anggota komunitas dan
mengampanyekannya ke publik dengan bersepeda santai maupun berkolaborasi dengan
komunitas/organisasi lainnya (Pariyanto, 2003; Putra, 2011; Luqman, 2018). Komunitas sepeda juga
bersifat dinamis, sehingga daya tarik sepeda tidak hanya terbatas pada onthel semata, tetapi juga
produk sepeda fixed gear (sepeda modifikasi). Promosi subkultur ini dikampanyekan melalui fasilitas

ROTASI – 135
Bike To Campus: Suatu Gerakan Sosial Baru Berbasis Komunitas Sepeda 136

gambar-gambar maupun dengan berkeliling kota (Guardina, 2012). Bahkan, kampanye bersepeda
tidak terbatas pada aktivitas nyata, tetapi juga dipromosikan via jejaring media sosial sebagai
langkah revolusioner dalam mempromosikan eksistensi komunitas (Sastrapraja, 2014). Pada konteks
ini, gerakan sosial yang diaktivasi dari sisi internal komunitas lebih kepada promosi eksistensi
komunal.
Gerakan bersepeda yang telah mapan dapat didukung oleh pemerintah daerah guna menjaga
keseimbangan lingkungan bersama dengan beberapa komunitas sepeda. Tujuannya adalah untuk
untuk memperkuat aksi-aksi kolektif kampanye sosial sepeda sebagai alat transportasi hijau dengan
mengombinasikan seluruh sumber daya yang dimiliki oleh stakeholder, sekaligus untuk menetralisir
kebijakan pembangunan yang kurang berwawasan lingkungan (Thorik, 2014). Bahkan, kekuatan-
kekuatan sosial komunitas sepeda yang telah mapan seperti B2W (Bike To Work Indonesia) di
Jakarta dapat mempromosikan kultur sepeda secara kontinu di berbagai daerah via jaringan sosial
bersama komunitas lain, pasar, dan pemerintah (Adityo, 2017).

UIN Sunan Gunung Djati Bike Community (USBC) adalah komunitas sepeda yang digagas guna
mengajak mahasiswa untuk menggunakan sepeda sebagai transportasi alternatif dan
meminimalisasi penggunaan kendaraan bermotor. Untuk mengampanyekan seruan environmentalis,
komunitas ini memulainya dengan gerakan Bike to Campus. Gerakan ini menjadikan aktivitas
bersepeda sebagai titik sentral kesadaran kolektif dalam mencintai kesehatan dan lingkungan. Dalam
perkem-bangannya, Bike to Campus menjadi indikator dalam menyelenggarakan aktivitas sosial baik
di internal maupun eksternal komunitas. Sebagai refleksi atas studi-studi terdahulu yang telah
diidentifikasi, dapat diketahui bahwa performa komunitas sepeda telah banyak dikaji dari perspektif
budaya, lingkungan, kebijakan tata ruang, dan gerakan sosial klasik. Oleh karena itu, tulisan ini akan
mengangkat isu komunitas sepeda dengan perspektif gerakan sosial baru (NSM) untuk menganalisis
performa komunitas sepeda dan perilaku kolektif anggota USBC secara sosiologis.

METODE PENELITIAN
Artikel ini mengaplikasikan pendekatan kualitatif deskritif dengan asumsi mampu mengidentifikasi
pola-pola manajerial dan aksiaksi kolektif USBC dalam mengupayakan gerakan bersepeda di
lingkungan kampus UIN. Sumber data diperoleh dari Data dikolektifkan melalui proses observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Seleksi informan bersifat purposif, meliputi pendiri dan anggota aktif
USBC. Data yang diperoleh akan dianalisis secara interaktif menggunakan prinsip Miles & Huberman
melalui prosedur koleksi, reduksi, disiplay, verifikasi, dan konklusi data. Uji kualitas data berupa
triangulasi sumber untuk memvalidasi bagaimana status Bike to Campus dapat beroperasi sebagai
gerakan sosial baru di tingkat komunitas sepeda dan bentuk kontribusi publiknya anggota USBC
maupun masyarakat

KERANGKA TEORITIS
Gerakan Sosial Baru
Selama lebih dari sepuluh tahun, tema gerakan sosial telah menjadi diskursus akademik yang cepat
berkembang melalui penelitian yang terintegrasi dengan analisis teoritis menggunakan disiplin ilmu
yang interdisipliner. Kalangan akademisi utara dan selatan saling mengembangkan kasus-kasus
gerakan sosial mereka dan mengombinasikan atau bahkan mengekstrak teori yang ada agar pararel
dengan kondisi kekinian (Situmorang, 2007: 1). Gerakan sosial di awal perkembangannya disebut

ROTASI – 136
Bike To Campus: Suatu Gerakan Sosial Baru Berbasis Komunitas Sepeda 137

sebagai “Gerakan Sosial Lama” dengan corak: 1) bersifat struktural; 2) ideologis; 3) dan dikenal oleh
publik (Purboningsih, 2015). Fitur yang paling menonjol dari gerakan sosial lama adalah aksiaksi
kolektifnya yang tersistematis di dalam institusi-institusi dengan maksud untuk merubah kebijakan
publik secara radikal. Fitur lainnya seperti gerakan sosial yang cenderung bekerja di sektor politis
dengan mekanisme interaksional para aktor politik guna menciptakan perubahan distribusi keadilan
sosial (Wiktorowicz, 2012: 11-12). Beberapa teori yang turut menghiasi perjalanan gerakan sosial
lama, seperti teori perilaku kolektif, teori pilihan rasional, teori perjuangan kelas, vanguard, dan
hegemoni budaya (Situmorang, 2013: 6-17).

Sedangkan gerakan sosial baru ditandai dengan variasi aktor gerakan sosial yang didominasi oleh
civil society dengan cakupan yang luas, justru menciptakan transisi perspektif dari sentralistik
menjadi sporadis di kalangan akademisi maupun agen perubahan (Situmorang, 2013: 2). Tourine
sebagaimana dikutip Faukls (2014: 146) telah mengidentifikasi bagaimana negara yang semakin
teknokratis bergerak menjajah masyarakat sipil dengan melakukan kontrol sosial. Dari perspektif ini,
gerakan sosial baru adalah pembela penting masyarakat sipil terhadap mesin negara yang semakin
sarat dengan kekerasan. Sedangkan Melucci yang dikutip Faulks (2014: 146) menganjurkan untuk
memaksimalkan independensi gerakan sosial baru dan secara sengaja menjaga jarak dengan alat-
alat negara. Jika dimungkinkan, gerakan sosial baru bisa menjadi ‘laboratorium sosial’ yang
menciptakan gaya hidup inovatif. Transisi perspektif gerakan sosial ini memunculkan teori yang lebih
modern, seperti teori keluhan, teori struktur kesempatan politik, struktur mobilitas sumber daya,
framing process, repertoire, dan contentious politics. Bahkan dalam prakteknya,

telah muncul berbagai gerakan dibelahan dunia yang mencakup gerakan persamaan hak di Amerika,
gerakan perempuan, gerakan lingkungan hidup, dan gerakan
petani
(Situmorang, 2013: 25-57).

Simpelnya, gerakan sosial lama berorientasi pada isu yang lebih konkret dan
spesifik pada perjuangan kelompok tertentu, sedangkan gerakan sosial baru berotasi di tingkat
abstraksi dengan cakupan yang lebih luas (Triwibowo, 2006: xvi). Akan tetapi, para ilmuwan politik
telah lama mengkritik gagasan bahwa gerakan sosial baru memiliki perbedaan yang jelas dari
kelompok penekan pada umumnya. Yang menjadi masalah adalah tesis gerakan sosial baru
memberikan perhatian terlalu banyak pada kebaruan kultural dan sosial gerakan-gerakan ini, dan
belum menjawab bagaimana kelompok ini diorganisir, sumber daya apa yang mereka
gunakan untuk meneguhkan tujuan mereka, dan dengan cara apa interaksi dengan
negara dan aktor-aktor politik lain. Distingsi ini dapat dilihat selengkapnya pada
tabel berikut ini.

Tabel 1.1.
Tipe Ideal

ROTASI – 137
kemiskinan, terhadap
penganggura perdamaian
n
Bike To Campus: Suatu Gerakan Sosial Baru Berbasis Komunitas Sepeda 138
Berupa partai
Jaringan longgar
dan serikat
yang terdiri dari
Dari Gerakan Sosial Lama dan Baru Organisasi kerja yang
individu-individu
terpusat dan
berpikiran serupa
Ciri-Ciri Gerakan Gerakan Sosial hierarkis
Buruh Baru Partisipasi
Mempertahankan dalam pemilu,
Demonstrasi massa
otonomi dalam kampanye,
Kontrol sporadis, protes,
Tujuan utama masyarakat sipil dan aksi
negara ekspresif budaya
yang diperluas dan Taktik industri yang
Sumber: serta gaya hidup
sangat pluralistik bertujuan
(Faulks, 2014) dan identitas
Ancaman/mu Kapitalisme meningkatkan
alternatif
suh utama yang Negara teknokratik Kendati hak ekonomi
terderegulasi demikian, dan sosial
Terutama gerakan sosial Kesadaran tentang
Solidaritas
secara politik, baru turut kesalingketerkaitan
namun Terutama internasional
memberikan antara yang lokal
serikat-serikat sosial/budaya Orientasi diimbangi
Tipe gerakan namun melakukan signifikansi bagi dan yang global”
memberikan oleh sentimen
redefinisi politik: studi-studi ‘bertindak lokal,
fungsi nasionalistis
yang berpikir global’
sosial/ekonom ‘politik pribadi’ menyelidiki Demokrasi
i yang penting hubungan Pendekatan Demokrasi
perbedaan/demokr
Persoalan
Persoalan etika antara negara pada sosial/demokr
a si dengan
tentang dan demokrasi asi industri
tentang otonomi pertimbangan
ketidaksetaraa masyarakat Perluasan
Isu kunci pribadi,
n material, sipil dengan kewarganegar
libertarianisme,
keadilan beberapa aan liberal
perlindungan Pendekatan (hak sipil, Penganjuran hakhak
sosial, alasan.
pada politik, dan kelompok/perlindu
Pertama,
ngan hak asasi
cakupannya yang luas dan cenderung mereduksi unsur- kewaganega sosial) bagi
r aan semua manusia
unsur kebudayaan pada konteks politis suatu gerakan.
Tetapi menjadi tantangan simbolik dalam mengidentifikasi anggota
struktur tindakan kolektif suatu gerakan. Kedua, gerakan sosial masyarakat
baru menjadi formula pendidikan politik terkini dalam Kelas menengah,
menciptakan transisi demokrasi di luar forum rezim yang penuh khususnya
Kelas pekerja
dengan kolusi. Ketiga, gerakan sosial baru profesional dan
Basis dan
pekerja sektor
intelektual
publik, dan kelas
sosial utama sosialis dari
pekerja
kelas lain
berpendidikan
universitas

ROTASI – 138
menempatkan agensi sosial sebagai titik sentral aksi-aksi kolektif dalam membangun
kekuatan struktural terbaru (Faulks, 2014: 158-161).

PEMBAHASAN
Sekilas tentang Temuan Penelitian
Sesungguhnya gerakan sosial tidak terlepas dari inisiatif individual yang berupaya
mengkreasikan perubahan pada masyarakat. Sedangkan bahan baku suatu gerakan
adalah motif ideologi yang dimanifestasikan dalam bentuk rutinitas yang spesifik
berorientasi multidimensi (Jurdi, 2014: 84). Tatkala kematangan individual semakin
terasah, maka langkah publikasi menjadi hal yang logis untuk dilakukan. Prosesnya
dimulai dengan menunjukkan pola-pola aktivitas atau instrumen tertentu, dilanjutkan
dengan pendekatan personal ke beberapa individu. Impresi publik akan menentukan
kelayakan suatu gerakan berupa suport sosialisasi maupun partisipasi. Harapannya, efek
berantai berupa respon positif akan memperkuat basis gerakan sosial dan mengukuhkan
eksistensinya di lingkungan masyarakat.

UIN Sunan Gunung Djati Bike Community (USBC) adalah komunitas sepeda yang diinisasi
oleh Apritzal Kurniawan di penghujung tahun 2017 dan pertama kali beroperasi di
kampus. Awal mula komunitas ini dibentuk karena rasa kekhawatiran akan tingginya
penggunaan kendaraan bermotor yang meningkatkan resiko polusi dan kemacetan di
sekitar kampus. Namun untuk mengampanyekan kepedulian lingkungan ini tidaklah
mudah, sehingga perlu dibentuk satu komunitas untuk menarik minat mahasiswa, salah
satunya dengan bersepeda. Sepeda sebagai transportasi alternatif dipandang efektif dan
relevan digunakan untuk aktivitas sehari-hari, utamanya menuju lokasi kampus. Terlebih,
jika jarak dari tempat tinggal ke kampus relatif dekat dan dapat diakses dengan berjalan
kaki atau bersepeda. Komunitas ini mengizinkan siapapun bergabung, entah sekedar
coba-coba atau memang sudah lama bersepeda. Karena, preferensi dalam berjalan kaki
maupun bersepeda relatif ditentukan oleh ketersediaan transportasi yang memadai,
aksebilitas dari satu lingkungan ke lingkungan lain, dan fungsionalitas bersepeda bagi
individu (Muhs et al., 2019).

Tahapan pembentukan komunitas ini dimulai dengan mengekspos kegiatan sang pionir
dalam bersepeda sehari-hari ke kampus sekaligus melakukan survei ke beberapa
mahasiswa yang berminat bersepeda. Melalui hasil riset yang dilakukan dan tingginya
peminat bersepeda, maka diputuskanlah untuk membentuk komunitas sepeda. Ketika
basis kolektif telah terbentuk, selanjutnya dibuatlah instrumen sosialisasi, seperti akun
facebook USBC yang disosialisasikan ke akun facebook UIN Sunan Gunung Djati Bandung
maupun ke akun-akun komunitas sepeda lainnya. Melalui forum di dunia maya, para
anggota mengadakan diskusi tentang manfaat bersepeda bagi lingkungan dan kesehatan.
Promosi secara faktual juga dilakukan secara perorangan dengan bersepeda dan bertukar

cxxxix
sepeda ke kampus, dengan harapan dapat menumbuhkan kesadaran dan daya tarik
bahwa bersepeda lebih baik dibandingkan berkendara menggunakan motor yang
menguras kantong dan bermacet-macetan. Gagasan disertai aksi konkret diepromosikan
ke setiap mahasiswa, merancang logo dan bendera komunitas, hingga mempersuasi
rekan-rekan mahasiswa untuk membeli dan mengendarai sepeda. Dengan dukungan
personal maupun kolektif disertai basis yang cukup memadai, maka di tahun yang sama
pula komunitas USBC resmi berdiri.

Gambar 1.1. Kolaborasi USBC dengan Bike To

Campus Community. Sumber: Dokumentasi via


Instagram, 2016

Gerakan Sosial Baru Bike to Campus


Komunitas USBC
Transparansi ideologis komunitas sepeda umumnya memakai pendekatan

enviromentalis dalam menguraikan persoalanpersoalan di kampus. Bersepeda juga


diintisarikan sebagai bagian dari aktivitas fisik yang berkorelasi pada kesehatan dengan
memberikan akses ke jenis sepeda yang berbeda. Kebutuhan bersepeda sebagai jaringan
transportasi berperan penting dalam memberikan efek positif pada tingkat fisik dan
kesehatan (Bjørnarå, 2017). Untuk dapat mengaktualisasikan gerakan ini, maka
komunitas USBC pertama kalinya mempromosikan slogan “Bike to Campus” sebagai
gerakan sosial yang memfokuskan sepeda sebagai titik sentral mobilitas dan aktivitas
mahasiswa. Inisiatif ini dilakukan sebagai langkah awal mengenalkan eksistensi komunitas
sepeda.

Komunitas USBC sebagai wadah baru dan belum menunjukkan performa riil di lingkungan
kampus, tentu membutuhkan suplai pengalaman dari komunitas sepeda lainnya. Maka
dari itu, komunitas USBC mengadakan kolaborasi dengan sejumlah komunitas sepeda
seperti Eco-transport, Jumat Bersepeda, dan Bike To Campus yang terlebih dahulu
cxl
menyerukan budaya bersepeda. Secara berkala, komunitas USBC akan mengundang
perwakilan dari komunitas lain untuk mengadakan coaching clinic berupa pertukaran
informasi seputar pengalaman bersepeda. Pada hari lainnya juga dilakukan agenda
rekrutmen dengan membuka stan di persimpangan jalan kampus sembari
mempromosikan pengalaman bersepeda ke mahasiswa. Momen ini biasanya rutin
dilakukan 2-3 kali seminggu di hari biasa dan di waktu acara Orientasi Pengenalan
Akademik Kampus (OPAK). Selama proses sosialisasi, respon positif dan rekomendasi
diterima oleh pihak komunitas dari civitas akademika kampus. Dengan demikian,
titiktolak aktivitas sosial komunitas secara internal telah terlaksana dengan baik.

Gerakan Bike to Campus yang telah mapan menstimulus para anggota komunitas

USBC untuk memperluas jaringan eksistensinya ke luar kampus. Sekaligus untuk


menguatkan solidaritas dan kepedulian lingkungan anggota USBC, maka konsep Bike to
Campus diderivasikan ke berbagai agenda di ranah eksternal, seperti Bike to Camp,
Gowes Bareng, Bandung Night Ride, touring, dan Jumat Boseh. Bike to Camp adalah
gerakan bersepeda menuju lokasi perkemahan; Gowes Bareng adalah kegiatan rutin
bersepeda di hari Kamis secara kompak berkeliling kampus; Bandung Night Ride adalah
kegiatan kolaboratif antarkomunitas sepeda dengan mengitari Kota Bandung di malam
Rabu; touring merupakan aktivitas bersepeda jarak jauh untuk menuju lokasi wisata
tertentu; dan Jumat Boseh adalah aksi kolektif komunitas sepeda yang diselenggarakan
Dinas Perhubungan Kota Bandung untuk mengkampanyekan gerakan

Bike to Work yang diselingi dengan doorprize.


Selain itu, kinerja konkrit yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan Kota Bandung adalah
dengan membangun infrastruktur jalur khusus dan lahan parkir bagi pesepeda, dan juga
memperkenalkan aplikasi oBike, semacam GPS yang dapat menunjukkan lokasi fasilitas
oBike lainnya yang terintegrasi dengan Bike Sharing System (BSS) di sekitar perhotelan.
Praktis, sistem ini dapat mendatangkan manfaat kesehatan dan lingkungan tanpa perlu
repot membeli sepeda, sekaligus dapat menjadi sarana mobilitas dan rekreasi bagi
masyarakat (Austwick, Brien, Strano, & Viana, 2013; Zhou, 2015). Dalam hal ini, kolaborasi
yang dilakukan menjadi manifestasi responsibilitas pemangku kepentingan untuk berani
meninggalkan rumusan konservatif dan beralih ke kebijakan berbasis environmentalisme
demi menjaga kualitas hidup masyarakat (Jauhari, 2012: 294).

Secara eksplisit, performa komunitas sepeda terlebih USBC dapat dilihat dari dua
perspektif. Komunitas USBC hendak menjadi instrumen yang berkontribusi dalam
menciptakan budaya bersepeda. Budaya dalam konteks bersepeda hendaknya
menunjukkan suatu proses perkembangan spiritual dan intelektual dari pribadi,
atau pada proses intelektual ahli serta pada enclave dan praktik artilistik (lingkup budaya
atau budaya tinggi) dan bahkan keseluruhan cara hidup suatu kelompok, orang atau
masyarakat (Featherstone, 2008: 308). Pada tingkat yang radikal, budaya bersepeda
merupakan refleksi dari teori produksi dalam pendidikan dengan kategori resistansi untuk
mengedukasi struktur-struktur sosial melalui kaidah yang inovatif dan memproduksi
subkultur yang diakui secara kolektif (Fakih, 2010: 59). Dua perspektif di atas menjadi
cxli
determinasi komunitas USBC untuk menunjukkan eksistensinya dalam melestarikan
kinerja sepeda sebagai budaya populer baru di tengah arus modernisasi kendaraan, serta
upaya-upaya edukatif untuk melawanan kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan
melalui kampanye bersepeda di berbagai dimensi kehidupan sosial.

Kami Bandun Coachin


Bersepe
s Night
g gClini
da Ride c

Tourin Boseh
g Jumat
Gambar 1.2. Aktivitas Sosial Komunitas USBC

dalam Mengampanyekan Gerakan Bersepeda.


Sumber: Dokumentasi via Instagram, 20162018
Lebih lanjut, bahwa gerakan Bike to Campus komunitas USBC memiliki relevansi dengan
karakteristik gerakan sosial baru. Tujuan utama dari komunitas ini adalah untuk
mengaktualisasikan kebutuhan inklusifivitas anggota dalam menyalurkan passion-nya di
dunia sepeda. Teknologi di bidang otomotif menjadi tantangan dalam mewujudkan
kesadaran bersepeda yang ramah lingkungan. Gerakan ini relatif bersifat politis namun
dapat diakomodasi oleh kepentingan-kepentingan individual, salah satunya dengan
memanfaatkan komunitas USBC. Tentu saja, isu-isu yang menjadi diskursus utama adalah
etika lingkungan dan kesehatan terbentuknya komunitas sepeda. Menariknya, komunitas
USBC diorganisir melalui jaringan sosial yang fleksibel tanpa dikoordinasi secara kaku.
Karena yang terpenting adalah kesadaran kolektif yang serupa sudah menjadi modal
penting beroperasionalnya komunitas ini. Strategi kampanye sosial dilakukan secara
sporadis, ekspresif, didukung dengan identitas alternatif via bersepeda. Pendekatan yang
dilakukan pun relatif demokratis dengan mempertimbangkan preferensi-preferensi
individual secara bebas tanpa paksaan untuk mengikuti atau tidak mengikuti aktivitas
USBC. Pelaku utama gerakan ini adalah agensi enviromentalis di tingkat mahasiswa.

Meskipun terbilang sederhana, tetapi gerakan ini sangat dipengaruhi oleh figur seorang
pemimpin. Keberhasilan pemimpin dalam komunitas ini mendorong para anggota untuk
berpartisipasi dalam berbagai agenda tanpa diinstruksikan secara struktural. Itu
sebabnya, banyak sekali diselenggarakan agenda bersepeda baik secara kolektif maupun
individual tanpa rantai komando, siapapun dapat merespon dengan cepat permintaan
cxlii
komunitas lain untuk berkolaborasi. Akhirnya, setiap anggota dapat memproduksi agenda
bersepeda secara impromtu dan bernilai eksistensial di internal komunitas USBC. Namun,
tampaknya komunitas ini luput dari proses sirkulasi elite komunitas, terlebih sosok
pemimpin yang begitu dominan dan berkarisma jelas tidak tergantikan. Sehingga, dalam
beberapa momentum, performa komunitas USBC sedikit kendor karena terkendala
regenerasi akibat banyaknya anggota yang sudah lulus dan disibukkan dengan agenda
lainnya. Walaupun masih aktif, tetapi partisipasi anggota USBC tidak semilitan yang dulu.

Gerakan di level civil society sangat membutuhkan amunisi gagasan konseptual dan nilai
moral yang memadai (Triwibowo, 2006: xxii). Oleh karena itu, komunitas USBC meskipun
terlampau fleksibel, tetap saja membutuhkan prosedur-prosedur struktural untuk dapat
mengaktivasikan sumber daya komunitas secara maksimal. Salah satunya dengan
menyelenggarakan pengkaderan dan pemilihan pimpinan komunitas. Gerakan yang telah
berjalan sebetulnya sudah beroperasi dengan baik, bahkan konsep Bike to Campus bukan
hanya gerbang awal gerakan sosial USBC, tetapi juga gerbang kontinuitas agenda lainnya
yang diselenggarakan secara struktur maupun non-struktur. Upaya merevitalisasi gerakan
Bike to Campus perlu digalakkan untuk mempertahankan otentisitas dan eksistensi
komunitas serta demi menumbuhkan semangat militansi para anggota.

SIMPULAN
Gerakan sosial baru merupakan tesis revolusioner yang menandakan fleksibilitas aksi
kolektif suatu kelompok/komunitas/organisasi dalam mengupayakan pemenuhan
kebutuhan sosial yang terkonsentrasi pada civil society. Kendati demikian, gerakan sosial
baru mendapatkan kritik yang tajam karena begitu luasnya lingkup konseptual yang dikaji.
Hal ini berbeda dengan gerakan sosial lama yang memiliki batas-batas yang jelas dalam
aspek konseptualnya. Adapun gerakan Bike to Campus komunitas USBC dapat
dikategorisasikan ke dalam gerakan sosial baru karena tercetus di kalangan civil society
yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan inklusif dengan mengedepankan etika
environmetalis dan kesehatan. Gerakan ini sukses mempertahankan eksistensinya dengan
melakukan berbagai agenda bersepeda baik secara kolektif, kolaboratif, maupun
individual. Namun demikian, gerakan ini menghadapi sejumlah persoalan berupa visi dan
misi gerakan ini belum dirumuskan secara konkret dan final, cenderung mengikuti
perkembangan dan inisiatif para anggota, serta regenerasi kepemimpinan yang belum
terselenggara dengan baik. Proyeksi masalah terbesar yang dihadapi nantinya adalah
nonfungsi manajerial karena vakumnya segala instrumen komunitas.

DAFTAR PUSTAKA

cxliii
Sumber Buku:
Fakih, Mansour. 2010. Masyarakat Sipil untuk Transformasi Sosial: Pergolakan
Ideologi LSM Indonesia. Yogyakarta: INSIST Press.

Faulks, Keith. 2014. Sosiologi Politik: Pengantar Kritis. (Helmi Mahadi &
Shohifullah, Penerjemah). Bandung: Nusa Media.

Featherstone, Mike. 2008. Posmodernisme dan Budaya Konsumen. (Misbah Zulfah


Elizabeth, Penerjemah). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jauhari, Imam B. 2012. Teori Sosial: Proses

Islamisasi dalam Sistem Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jurdi, Syarifuddin. 2014. Sosiologi Islam & Masyarakat Modern: Teori, Fakta, dan Aksi
Sosial. Jakarta: Kencana.

Situmorang, Abdul Wahib. 2007. Gerakan Sosial: Studi Kasus Beberapa Perlawanan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

----------. 2013. Gerakan Sosial: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Triwibowo, Darmawan. 2006. Gerakan Sosial (Wahana Civil Society bagi Demokratisasi).
Jakarta: LP3ES.

Wiktorowicz, Quintan (Ed.). 2012. Gerakan Sosial Islam: Teori, Pendekatan, dan Studi
Kasus. (Tim Penerjemah Paramadina, Penerjemah). Yogyakarta:
Gading Publishing & Yayasan Wakaf Paramadina.

Sumber Dokumen:
Komunitas UIN Sunan Gunung Djati Bike Community (USBC) Bersama Perwakilan Bike To
Campus Community, Sumber: Dokumentasi USBC via Instagram, 2016. Retrieved
from https://www.instagram.com/usbcbandun g.info/?hl=en [diakses pada 27
Mei 2019].

Aktivitas Sosial Komunitas USBC dalam Mengampanyekan Gerakan Bersepeda. Sumber:


Dokumentasi USBC via

Instagram, 2016-2018. Retrieved from https://www.instagram.com/usbcbandun


g.info/?hl=en [diakses pada 27 Mei 2019].

cxliv
Sumber Jurnal:
Adityo, Ismail Dony. 2017. “Peran Komunitas dalam Membangun Kultur Bersepeda (Studi
Kasus Pada Komunitas Bike To Work Indonesia di Jakarta).” Indonesian Journal of
Sociology and Education Policy, 2(2), 54–71. doi: https://doi.org/
https://doi.org/10.21009/ijsep.022.03. Retrieved from http://journal.unj.ac.id/
unj/index.php/ijsep/article/download/62 44/4531/ [diakses pada 16 Mei 2019].

Artiningsih. 2011. “Jalur Sepeda Sebagai Bagian dari Sistem Transportasi Kota yang
Berwawasan Lingkungan.” Jurnal Tata Loka, 13(1), 27-41. doi:
https://doi.org/10.14710/tataloka.13.1.2 7-41. Retrieved from https://www.
researchgate.net/publication/292149180 [diakses pada 16 Mei 2019].

Austwick, Martin Z., O'Brien, Oliver, Strano, Emmanuele, & Viana, Matheus. 2013. “The
Structure of Spatial Networks and Communities in Bicycle Sharing
Systems.” PLoS ONE, 8(9), 1–17. doi: https://doi.org/10.1371/journal.pone.00
74685. Retrieved from https://journals. plos.org/plosone/article/file?
id=10.1371 /journal.pone.0074685&type=printable [diakses pada 16 Mei 2019].

Bjørnarå, et al. 2017. “From cars to bikes – the feasibility and effect of using e-bikes ,
longtail bikes and traditional bikes for transportation among parents of children
attending kindergarten : design of a randomized cross-over trial.” BMC Public
Health, 981(17), 1–9. doi: https://doi.org/10.1186/s12889-0174995-z. Retrieved
from https://www. researchgate.net/publication/322097103 [diakses pada 16
Mei 2019].

Muhs, Christopher. D., Clifton, Kelly J. 2019. “bicycle-supported development Do


characteristics of walkable environments support bicycling ? Toward a definition
of bicycle-supported development.” Journal of Transport and Land Use, 9(2), 147–
188. doi: https://doi.org/ http://dx.doi.org/10.5198/jtlu.2015.727. Retrieved from
https://www.jstor.org/ stable/26203225 [diakses pada 16 Mei 2019].

Pariyanto. 2003. “Makna dan Ideologi Komunitas Sepeda Kebo di Surabaya dalam Kajian
Subkultur.” Jurnal Lakon, 4(1), 1–23. doi: https://doi.org/ https:
//doi.org/10.14710/tataloka.13.1.27-41. Retrieved from https://e-journal.
unair.ac.id/LAKON/article/viewFile/19 35/1443 [diakses pada 16 Mei 2019].

Purboningsih, Sayekti. D. 2015. “Gerakan Sosial Baru Perspektif Kritis: Relawan Politik
dalam Pilpres 2014 di Surabaya.” Jurnal Review Politik, 5(1), 100–125. Retrieved
from http://jurnalpolitik. uinsby.ac.id/index.php/jrp/article/downl oad/62/62
[diakses pada 16 Mei 2019].

cxlv
Purnomo, Bambang, Ramanto, Muzni, & Rosa, Adi. 2012. “Kampanye Memasyarakatkan
Penggunaan Sepeda kepada Mahasiswa Universitas Negeri Padang Melalui
Poster.” DEKAVE: Jurnal Desain Komunikasi Visual, 1(1), 1–18. Retrieved from
http://ejournal.unp.ac.id/ index.php/dkv/article/viewFile/342/277 [diakses pada
16 Mei 2019].

Yang, Lin. 2010. “Interventions to promote cycling: systematic review.” British Medical
Journal, 341(7778), 71–870. doi: https://doi.org/https://doi.org/10.
1136/bmj.c5293 [diakses pada 20 Mei
2019]

Zhou, Xiaolu. 2015. “Understanding Spatiotemporal Patterns of Biking Behavior by


Analyzing Massive Bike Sharing Data in Chicago.” PLoS ONE, 10(10), 1–20. doi:
https://doi.org/10.1371/journal.pone.01 37922. Retrieved from https://journals.
plos.org/plosone/article/file?id=10.1371 /journal.pone.0137922&type=printable
[diakses pada 16 Mei 2019].

Sumber Skripsi & Tesis:


Ardi, Guardina. 2012. “Sepeda Fixed Gear sebagai Identitas Kelompok Cyclebandidos di
Yogyakarta.” Skripsi, Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas
Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta. Ret-rieved from
http://eprints.uny.ac.id/ 13828/1/ Skripsi Lengkap.pdf [diakses pada 16

Mei 2019]

Luqman, Arif H. 2018. “Sistem Sosial Komunitas Sepeda Onthel dalam Mempertahankan
Eksistensi Komunitas (Studi Kasus: Bintaro Onthel Solidarity (BOS), Tangerang
Selatan).” Skripsi, Tangerang: Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan
Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Retrieved from Raja
Grafindo Persada website: http://repository.uinjkt.ac.id/
dspace/bitstream/123456789/42793/2/ [diakses pada 16 Mei 2019].

IP., Ronald J. 2011. “Peran Jogja Onthel Community (JOC) dalam Melestarikan Sepeda
Onthel di Kota Yogyakarta.” Skripsi: Surakarta: Program Studi
Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas
Maret.
Retrieved from https://eprints.uns.ac.id/ 10874/1/Unlock-a_(11).pdf [diakses
pada 16 Mei 2019].

Sastrapraja, Dany S. 2014. “Strategi Komunikasi Penggiat Kelompok


Sepeda

cxlvi
Tangerang Last Friday Ride.” Skripsi, Banten: Konsentrasi Ilmu Humas Program
Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan
Ageng Tirtayasa. Retrieved from http://repository.fisipuntirta.ac.id/838/1/SKRIPSI
- Dany Saputra Sastrapraja - 6662091476 - Copy.pdf [diakses pada 16 Mei 2019].

Thorik, Mohammad J. 2014. “Aksi Kolektif dalam Bersepeda: Studi Banding Atas Sego
Segawe (Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe) dan JLFR (Jogja Last Friday
Ride) di Kota Yogyakarta.” Skripsi, Yogyakarta: Program Studi Sosiologi Fakultas
Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Retrieved from http://digilib.uin-suka.ac.id/15428/ 2/10720024_bab-i_iv-atau-
v_daftarpustaka.pdf [diakses pada 16 Mei 2019].

www.duniayudhis.com Page 1
Serial Belajar Mandiri
Materi ini adalah hasil dari proses belajar
mandiri yang dilakukan oleh Yudhistira
(17/5/2001). Inti kegiatan ini adalah mencari
informasi berdasarkan sebuah tema yang
ingin diketahui (dipilih sendiri). Anak belajar
menstrukturkan informasi yang ingin dicari,
mengenali kata kunci, belajar menggunakan
mesin pencari, memilih halaman situs yang
sesuai kebutuhan, menyimpan dan mengolah informasi di
pengolah
kata, menyajikan informasi dengan baik, dan kemudian
mempresentasikannya.
Kegiatan ini dilakukan dalam beberapa sesi kegiatan pendek
selama
beberapa hari. Pendampingan diberikan untuk meningkatkan
kualitas proses yang dilakukan anak.
ebook sepeda ini dibuat oleh Yudhistira pada 27/12/2009.
Proses ini

cxlvii
dijalani Yudhistira selama 3 hari. Materi yang serupa ini dan
beragam
materi belajar lainnya dapat diunduh di situs
http://rumahinspirasi.com.
Blog Yudhistira: http://duniayudhis.com
www.duniayudhis.com Page 2

Sepeda
Sejarah Sepeda
Nenek moyang sepeda diperkirakan berasal
dari Prancis sejak awal abad ke-18 bernama
velocipede. Bertahun-tahun, velocipede
menjadi satu-satunya istilah yang merujuk
hasil rancang bangun kendaraan dua roda.
Yang pasti, konstruksinya belum mengenal
besi. Modelnya pun masih sangat "primitif".
Ada yang bilang tanpa engkol, pedal tongkat
kemudi (setang). Ada juga yang bilang sudah
mengenal engkol dan setang, tapi
konstruksinya dari kayu.
Adalah seorang Jerman bernama Baron Karls Drais von Sauerbronn yang pantas dicatat
sebagai salah
seorang penyempurna velocipede. Tahun 1818, von Sauerbronn membuat alat
transportasi roda dua
untuk menunjang efisiensi kerjanya. Sebagai kepala pengawas hutan Baden, ia memang
butuh
sarana transportasi bermobilitas tinggi. Tapi, model yang dikembangkan tampaknya
masih mendua,
antara sepeda dan kereta kuda. Sehingga masyarakat menjuluki ciptaan sang Baron
sebagai dandy
horse
www.duniayudhis.com Page 3
Baru pada 1839, Kirkpatrick MacMillan, pandai besi kelahiran Skotlandia, membuatkan
"mesin"
khusus untuk sepeda. Tentu bukan mesin seperti yang dimiliki sepeda motor, tapi lebih
mirip
pendorong yang diaktifkan engkol, lewat gerakan turunnaik kaki mengayuh pedal.
MacMillan pun

cxlviii
sudah "berani" menghubungkan engkol tadi dengan tongkat kemudi (setang sederhana).
Sedangkan ensiklopedia Britannica.com mencatat upaya penyempurnaan penemu
Prancis, Ernest
Michaux pada 1855, dengan membuat pemberat engkol, hingga laju sepeda lebih stabil.
Makin
sempurna setelah orang Prancis lainnya, Pierre Lallement (1865) memperkuat roda
dengan
menambahkan lingkaran besi di sekelilingnya (sekarang dikenal sebagai pelek atau velg).
Lallement
juga yang memperkenalkan sepeda dengan roda depan lebih besar daripada roda
belakang.
Namun kemajuan paling signifikan terjadi saat teknologi pembuatan baja berlubang
ditemukan,
menyusul kian bagusnya teknik penyambungan besi, serta penemuan karet sebagai
bahan baku ban.
Namun, faktor safety dan kenyamanan tetap belum terpecahkan. Karena teknologi
suspensi belum
ditemukan, goyangan dan guncangan sering membuat penunggangnya sakit pinggang.
Setengah
bercanda, masyarakat menjuluki sepeda Lallement sebagai boneshaker (penggoyang
tulang).
www.duniayudhis.com Page 4
Sehingga tidak heran jika di era 1880-an, sepeda tiga roda yang dianggap lebih aman buat
wanita
dan laki-laki yang kakinya terlalu pendek untuk mengayuh sepeda konvensional menjadi
begitu
populer. Trend sepeda roda dua kembali mendunia setelah berdirinya pabrik sepeda
pertama di
Coventry, Inggris pada 1885. Pabrik yang didirikan James Starley ini makin menemukan
momentum
setelah tahun 1888 John Dunlop menemukan teknologi ban angin. Laju sepeda pun tak
lagi
berguncang.
Penemuan lainnya, seperti rem, perbandingan gigi yang bisa diganti-ganti, rantai, setang
yang bisa
digerakkan, dan masih banyak lagi makin menambah daya tarik sepeda. Sejak itu, berjuta-
juta orang
mulai menjadikan sepeda sebagai alat transportasi. Amerika dan Eropa sebagai yang
paling hebat.
Meski lambat pun, perannya mulai disingkirkan mobil dan sepeda motor, sepeda tetap
punya
pemerhati. Bahkan penggemarnya dikenal sangat fanatik.
www.duniayudhis.com Page 5

Jenis Sepeda
cxlix
Sepeda listrik
Kecepatan untuk sepeda listrik bisa
mencapai 40 km/jam. Sementara untuk
mobil listrik yang murah (Marlip/Reva)
sekitar 80 km dengan jangkauan sekitar 80
km. Kalau mobil listrik (Molis) yang mahal
seperti Tesla bahkan sampai 201 km/jam.
Untuk jangkauan, mobil listrik umumnya
sekitar 80-120 km. Tapi yang sampai 640 km
juga ada.
Sepeda gunung
www.duniayudhis.com Page 6
Sepeda balap
Sepeda BMX
www.duniayudhis.com Page 7
Sepeda mini
Sepeda angkut
www.duniayudhis.com Page 8
Sepeda lipat
Sepeda unicycle
www.duniayudhis.com Page 9

Bagian-bagian Sepeda:
Handle Bar
Lebih dikenal dengan stang kemudi, pada MTB ada beberapa jenis Monkey bar, Rise bar
dan
Standart bar. Handle bar adalah kokpit sepeda kita, kontrol gigi transmisi, rem depan-
belakang
terdapat di handlebar ini. Pilihlah handle bar yang sesuai dengan kebutuhan anda.
Top Tube
Merupakan bagian dari frame sepeda bagian atas, Tips: Sesuaikan ukuran frame dengan
tubuh anda
Down Tube
Merupakan bagian dari frame sepeda, melitang dari HeadSet terhubung langsung dengan
top Tube
Seat, Stay dan Rumah BB (buttom Bracket)
Shifter
Grupsets (komponen) pemindah gigi tranmisi, berfungsi untuk menggerakan FD (front
derailleur)

cl
dan RD (rear derailleur), Shifter yang beredar dipasaran untuk penggerak RD mencapai 9 -
10 speed,
untuk Shifter FD biasanya hanya terdiri 2 - 3 speed.
www.duniayudhis.com Page 10
Handgrip
Adalah pembungkus Handlebar (stang kemudi) berbahan karet/tape tergantung
kebutuhan.
Usahakan Handgrip tidak berputar pada handlebar saat kita berkendara, handgrip yang
terlalu tebal
atau terlalu tipis mengurangi kenyamanan kita dalam bersepeda.
Brake Lever
Tuas Rem (depan-belakang) posisikan Brake laver dengan benar sesuaikan dengan
kenyamaan anda
ketika bersepeda, usahakan jari tangan dapat meraih dengan mudah lever (tuas).
HeadSet
Bagian depan Frame yang didalamnya terdapat bearing dan komponen lainnya yang
berfungsi untuk
menghubungkan Fork(suspensi) depan dengan stem dan handlebar.
Stem
Merupakan bagian kokpit sepeda kita, berfungsi untuk menghubungkan handle bar -
Headset dan
Fork(suspensi) depan. Stem tersedia dalam beberapa ukuran untuk suspensi depan yang
panjang
(long travel) bentuk stem berbeda dengan stem standart, Tips: jika anda merasa stem
anda terlalu
panjang dan kita bersepeda terasa membungkuk anda bisa menggantinya dengan ukuran
stem yang
pendek.
Sadle
Sadel - tempat duduk pengemudi, untuk sepeda MTB biasanya berukuran lebih tebal
dibandingkan
dengan roadbike. Atur posisi Sadel supaya benar-benar lurus (horizontal), atur maju dan
mundurnya
sandel usahakan tidak terlalu jauh atau terlalu dekat dengan hadle bar.
Tips:Posisi yang tidak tepat akan mengakibatkan tidak nyaman kitika bersepeda pada
kasus serius
mengakibatkan cidera pinggang.
SeatPost
Dudukan Sadel (sadle) penghubung antara sadel dengan frame sepeda, posisi vertikal
sesuaikan
dengan kenyamanan anda. Tips:cobalah naik sepeda pada posisi berhenti, luruskan kaki
anda hingga

cli
benar2 meraih pedal. Jika posisi kaki masih terlihat dan dirasa masih tidak lurus padahal
posisi pedal
sudah dibawah hal ini pertanda bahwa seatpost anda kurang tinggi. Aturlah seatpost
hingga benarbenar
sesuai dengan kebutuhan anda.
Seat Stay
Merupakan bagian belakang frame. Untuk MTB dual suspension Seat Stay biasanya
berupa
swingarms (lengan ayun) terhubung dengan frame menggunakan suspensi belakang.
Pedals
Kayuhan. Merupakan komponen memutar Buttom Bracket dan Crankset sehingga sepeda
bisa
bergerak (digerakan ketika kita mengayuh sepeda).
www.duniayudhis.com Page 11
Crank Set
Komponen lengan yang menghubungkan pedals dengan chainrings.
Chain Ring
Merupakan komponen tranmisi gigi depan (biasanya terdiri dari 2 -3 Chain Rings).
Berfungsi
menghubungkan rantai dengan Crankset.
Chain
Rantai. Merupakan komponen yang sangat vital fungsinya karena inilah yang bertugas
menghubungkan Crankset Chain Ring dengan komponen Roda belakang, sehingga sepeda
dapat
melaju.
Idler Pulley
Merupakan bagian dari Rear Derailleur (RD), berupa gir (gigi) kecil disertai tension
(biasanya berupa
per-pegas) yang berfungsi agar chain (rantai) tetep lurus dan tidak kendor.
Front Derailleur
Merupakan komponen vital pada sepeda MTB, berfungsi mengatur pemindahan gigi
depan (chain
rings). Lebih dikenal dengan istilah FD, terhubung langsung dengan Shifter.
Rear Derailleur
Merupakan komponen vital pada sepeda MTB, berfungsi mengatur pemindahan gigi
belakang. Lebih
dikenal dengan istilah RD, terhubung langsung dengan Shifter.
Rims
Merupakan komponen Wheelset (roda) lebih di kenal dengan Pelak (pelek) sepeda.
Tire

clii
Ban. Terbuat dari karet, Tips:sesuaikan jenis dan ukuran ban dengan kebutuhan anda.
Ukuran ban
untuk jenis aspal (road) biasanya tapak kecil dan motif standart. Untuk ada yang
menggemari
offroad atau bahkan downhill pilihlah jenis ban dengan tapak lebar dan motif khusus full
offroad.
Front Fork
Suspensi depan, Merupakan bagian sepeda yang berfungsi menghubungkan roda
(whellset) depan
dengan kemudi (handlebar). Fork yang beredar di pasaran tersedia berbagai jenis, merek
dan
ukuran. Tips:sesuaikanlah jenis dan ukuran fork dengan kebutuhan anda, untuk medan
aspal
gunakan fork dengan panjang travel standart, sedangkan untuk penggemar downhill
biasanya
menggunakan travel yang panjang.
Master Dishbrake
Merupakan komponen Brake (rem), merupakan rumah bagi kampas rem. Komponen ini
berfungsi
untuk menjepit dishbrake ketika kita melakukan pengereman.
www.duniayudhis.com Page 12
Untuk jenis Brake konvensional (V-brake) komponen ini tidak ada fungsinya digantikan
oleh
brakepad.
DishBrake
Cakram, berupa piringan terhubung langsung dengan wheelset baik depan atau belakang.
Untuk
jenis V-brake komponen ini tidak ada.
Spokes
Jari-jari Roda, menghubungkan Hub dengan Rims (pelak).
Hub
Terletak ditengah roda disinilah jari-jari dan Rims (pelak) terhubung. Komponen
didalamnya
terdapat bearing (gotri).
www.duniayudhis.com Page 13

Kejuaran Sepeda Tour de France 2009


The 2009 Tour de France adalah edisi 96 Tour de France, salah satu bersepeda Grand
Tours. Ini
dimulai pada 4 Juli di Monaco dengan 15 kilometer (9.3 mil) uji waktu individu yang
termasuk bagian
dari Circuit de Monaco. Perlombaan mengunjungi enam negara: Monaco, Perancis,
Spanyol,
Andorra, Swiss dan Italia, dan selesai pada 26 Juli di Champs-Élysées di Paris.
cliii
Total panjang adalah
3.445 kilometer
(2.141 mi), termasuk
93 kilometer (58 mil)
dalam waktupercobaan.
Ada
tujuh gunung
tahapan, tiga dari
puncak gunung yang
telah selesai, dan
satu tahap
pegunungan
menengah. ras
memiliki waktu tim
sidang untuk
pertama kalinya
sejak tahun 2005,
jarak terpendek
dalam setiap kali uji
coba sejak tahun
1967, dan yang
pertama hari
penultima gunung
tahap dalam sejarah
Tour.
www.duniayudhis.com Page 14

Sepeda masa depan


Felipe Tolomei merancang sepeda roda tiga
bernama Rabbit. Dengan ide-pintar
menempatkan dua motor listrik kecil pada
masing-masing ban belakang.
Melihat motor ini, kelihatannya sangat
ringan-berat, baik jumlah langkah-langkah
keamanan bagi pengendara dan juga
meningkatkan kenyamanan bagi kecepatan
tinggi dan menikung.
www.duniayudhis.com Page 15
Menurutku...
Dari project ini aku jadi tau ternyata sepeda dulu tak punya setir namanya Velocipede.
Ada juga
macam-macam jenis seperti sepeda gunung, sepeda mini , dll. Lalu aku jadi tau kalau
perlombaan
sepeda ada macam-macam seperti Tour de france, Tour De Korea, Vuelta a Espana, Giro
d'Italia, dll.
cliv
Aku suka sepeda masa depan karena keren tak menyebakkan polusi, berkecepatan tinggi.
Aku ingin
aku dan sepedaku dapat membuat bumi lebih baik, sehat dan selalu segar. Dan aku bisa
keliling
dunia bersama sepedaku ini.
Pendapatku sepeda itu alat transportasi paling sehat bagi lingkungan kita semua dan
mungkin kita
bisa menghentikan global warning.
www.duniayudhis.com Page 16

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Sepeda
http://treadly.net
http://www.originalbicyclefestival.co.uk
http://england.prm.ox.ac.uk
http://elindasari.files.wordpress.com
http://cakrawalaindah.files.wordpress.com
http://masdoo.files.wordpress.com
http://www.bloggaul.com
http://www.made-in-china.com
http://www.uh.edu
http://tuwid.files.wordpress.com
http://bcc.banyumaspromo.info/?p=1

clv
PENGARUH MEREK, KUALITAS PRODUK DAN
PROMOSI TERHADAP MINAT BELI
SEPEDA POLYGON
(Studi Kasus Pada Konsumen Sepeda Polygon Di Toko Sepeda “Hidayah” Jepara)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat

Untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1)

Pada Program Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi

Nahdlatul Ulama’ Jepara

Disusun oleh:

NUR EKO WA’DAH


NIM. 0810001079

clvi
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI
NAHDLATUL ULAMA’
JEPARA
2013
PENGARUH MEREK, KUALITAS PRODUK DAN
PROMOSI TERHADAP MINAT BELI
SEPEDA POLYGON
(Studi Kasus Pada Konsumen Sepeda Polygon Di Toko Hidayah Jepara)

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan tim penguji skripsi

Program S1 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nahdlatul Ulama’

NAMA : NUR EKO


WA’DAH
NIM : 0810001079

Program Studi : Manajemen

Disetujui Oleh Pembimbing:

Pembimbing I Pembimbing II

clvii
Drs.Harry Soesanto,MMR Bening Kristyassari,SE

Tanggal………………… Tanggal…………………

PENGARUH MEREK, KUALITAS PRODUK DAN PROMOSI


TERHADAP MINAT BELI SEPEDA POLYGON
(Studi Kasus Pada Konsumen Sepeda Polygon Di Toko Hidayah Jepara)

Nama : NUR EKO WA’DAH


NIM : 0810001079
Program Studi : Manajemen

Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan penguji Program Studi Manajemen

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nahdlatul Ulama’ Jepara

Pada hari Minggu tanggal 9 Juni 2013

Penguji I Penguji II

H. M. Zainuri Dr. MM Noor Arifin, SE, M.


Si

clviii
Mengesahkan

Ketua Progam Studi Manajemen

Noor Arifin, SE, M. Si

NIY. 002 008 026

MOTTO

Jangan menyesali apa yang telah terjadi, jadikanlah kegagalan


kemarin sebagai cambuk untuk maju kedepan (penulis)

Do’a adalah nyanyian hati yang selalu dapat membuka jalan ke


singgasana Tuhan meskipun terhimpit dalam tangis seribu jiwa. (kahlil
gibran)

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhya allah


beserta orang-orang yang sabar (QS.Albaqarah:153)

Kejujuran dan kesabaran adalah kunci keberhasilan (kata-kata

mutiara)

clix
Lakukanlah kebaikan setelah melakukan keburukan, sebab kebaikan itu
akan menghapus keburukan

(HR.Ahmad dan Atturmudzi)

PERSEMBAHAN

Karya tulis ini penulis persembahkan untuk :

 Ibuku tersayang yang selalu memberikan dukungan dan do’a serta


merawatku dari kecil hingga dewasa dengan penuh kasih sayang.

 Almarhum ayahku tersayang yang sangat aku rindukan kasih


sayangnya.

 Kakak – kakakku tercinta yang selalu memotivasiku dan memberi


semangat.

 Keponakan - keponakanku tersayang (irul, jiddan, kaila, aira)yang


selalu menghiburku dan membuatku tersenyum.

 Semua sahabat – sahabatku yang telah banyak membantu.

clx
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya susun sebagai syarat
untuk memperoleh gelar sarjana dari program S-1 jurusan manajemen seluruhnya
merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan sebagai pemenuhan
persyaratan untuk memperoleh gelar strata 1 (S-1) dari sekolah tinggi ilmu ekonomi
nahdlatul ulama’ jepara maupun dari perguruan tinggi lain.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi yang saya kutip dari karya orang
lain telah dituliskan sumbernya secara jelas dengan norma, kaidah dan etika penulisan
ilmiah.

Dengan ini menyatakan sebagai berikut :

1. Skripsi berjudul : “Pengaruh Merek, Kualitas Produk Dan Promosi Terhadap Minat
Beli Sepeda Polygon”.
2. Saya juga mengakui bahwa hasil karya akhir ini, dapat diselesaikan berkat
bimbingan dan dukungan penuh dari pembimbing saya yaitu :
a. Drs. Harry Soesanto, MMR
b. Bening Kristiyassari, SE

Apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian skripsi ini bukan hasil karya
saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima
PEMCABUTAN GELAR AKADEMIK yang saya sandang dan sanksisanksi lainya sesuai
dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Jepara , ………………………

Materai 6000

clxi
Nur Eko Wa’dah

NIM : 0810001079

ABSTRAKSI

Banyaknya toko – toko sepeda yang berdiri di kota jepara menyebabkan


persaingan semakin ketat. Keanekaragaman produk sepeda yang ada pada saat ini
mendorong konsumen untuk melakukan identifikasi dalam pengambilan keputusan saat
menentukan suatu merek yang menurut mereka memenuhi kriteria sebuah produk sepeda
yang ideal. Dengan meningkatnya pejualan, perusahaan akan memperoleh keuntungan dan
dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Strateginya adalah dengan pencitraan
merek, meningkatkan kualitas produk dan gencar melakukan promosi. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi minat beli
konsumen pada Toko Hidayah Jepara.
Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis kuantitatif, yaitu pendekatan yang
menekankan analisisnya pada data numerical (angka) yang diolah dengan metode analisis
regresi berganda.
Hasil penelitian dari 96 responden menunjukkan bahwa faktor merek, kualitas
produk dan promosi secara simultan mempunyai pengaruh yang positif terhadap minat
beli. dari perhitungan analisis regresi berganda diperoleh persamaan
Y = 0,482 X₁+ 0,019 X₂ + 0,543X₃, dengan nilai Fhitung 126.625 dengan signifikansi 0,000
persen. Yang dinyatakan oleh nilai koefisien determinasi (Adjusted R 2), besarnya adjusted
R2 adalah 0,799 hal ini berarti 79,9 persen. Pengujian hipotesis uji t, untuk variabel merek
diperoleh hasil thitung 8,862 > nilai ttabel 1,66 dengan tingkat signifikansi 0,000 maka Ha
diterima dan Ho ditolak. Untuk variabel kualitas produk diperoleh hasil t hitung 0,416 < nilai
ttabel 1,66 dengan tingkat signifikansi 0,678 maka Ha ditolak dan Ho diterima. Dan untuk
variabel promosi diperoleh hasil nilai thitung 10,014 > nilai ttabel 1,66 dengan tingkat
signifikansi 0,000 maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Keyword : merek, kualitas produk, promosi,minat beli

clxii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb

Alhamdulillah, dengan segala puji syukur atas kehadirat Allah SWT dengan segala
limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya. Tak lupa shalawat serta salam terlimpah
kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta sahabat dan keluarganya, akhirnya
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang merupakan tugas dan syarat yang wajib
dipenuhi guna menyelesaikan Program Sarjana (S1) Jurusan Manajemen pada Program
Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nahdlatul Ulama’(STIENU) Jepara.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan, bimbingan dan kerjasama, baik berupa
dukungan moril maupun materiil dari berbagai pihak maka penulisan skripsi ini tidak bisa
terwujud. Maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih
kepada:

1. Bapak H. Setiyono ,SE,MM. Selaku ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi


Nahdlatul Ulama’(STIENU) Jepara.

2. Bapak Drs. Harry Soesanto, MMR selaku dosen pembimbing I yang telah
menyediakan waktu,tenaga dan fikirannya untuk membimbing dan

mengarahkan penulis hingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan

3. Ibu Bening Kristyassari,SE selaku dosen pembimbing II yang telah berkenan


meluangkan waktu untuk memberi pengarahan kepada penulis dalam
penulisan dan penyusunan skripsi ini dengan penuh kesabaran.

4. Ibu beserta keluargaku tercinta yang telah memberikan do’a dan restu serta
dorongan, baik morill maupun materiil, sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan.

5. Teman - teman, sahabat yang senantiasa memberikan bantuan dan motivasi,


dan semua pihak yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu yang telah
membantu hingga selesainya penulisan skripsi ini.

clxiii
6. Bapak Saiman selaku pemilik toko hidayah jepara yang telah bersedia dan
memberikan ijin penelitian dan memberikan data serta keterangan untuk

skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa, dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki. Oleh
karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan skripsi ini. Namun demikian penulis masih berharap bahwa skripsi ini dapat
memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan rekan-rekan pembaca pada umumnya.
Amin.

Wassalammu’alaikum Wr. Wb.


Jepara, Mei 2013

Penulis

Nur Eko Wa’dah

NIM . 0810001079

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………... i

HALAMAN PERSETUJUAN…………………………………………………... ii

HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………………….. iii

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………… 1

1.1 Latar Belakang………………………………………………................. 1

clxiv
1.2 Ruang Lingkup Masalah……………………………………….............. 5

1.3 Rumusan Masalah…………………………………………................... 6


1.4 Tujuan Penelitian……………………………………………................. 6

1.5 Manfaat Penelitian……………………………………………………... 7

1.6 Sistematika Penulisan………………………………………………….. 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………. 9

2.1 Landasan Teori…………………………………..................................... 9


2.1.1 Pengertian Pemasaran………………………………………. 9
2.1.2 Minat Beli…………………………………………………... 9
2.1.3 Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen…………… 13
2.2 Strategi Pemasaran……………………………………………………… 14
2.3 Merek…………………………………………………………………… 14
2.4 Kualitas Produk………………………………………………………… 17
2.5 Promosi……………………………………………………………...….. 18
2.6 Penelitian Terdahulu……………………………………………………. 21
2.7 Kerangka Pemikiran Teoritis…………………………………………… 23
2.8 Hipotesis Penelitian…………………………………………………….. 24
BAB III METODE PENELITIAN………………………………………………. 26
3.1 Variabel Penelitian Dan Definisi Opersional……………………………… 26
3.1.1 Variabel Penelitian………………………………………………… 26
3.1.2 Definisi Operasional……………………………………..………… 26
3.2 Jenis Dan Sumber Data…………………………………………………… 29
3.2.1 Jenis Data………………………………………………………….. 29
3.2.2 Sumber Data…………………………………………………..…… 29
3.3 Populasi Dan Sampel………………………………………………..…… 30
3.3.1 Populasi…………………………………………………….….…... 30
3.3.2 Sampel……………………………………………………….…..… 31
3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel………………………………………. 32
3.4 Metode Pengumpulan Data……………………………………………….. 32
3.5 Metode Pengolahan Data………………………………………………… 33
3.6 Metode Analisis Data……………………………………………………… 34
clxv
3.6.1 Analisis Kualitatif…………………………………………………. 34
3.6.2 Analisis Kuantitatif…………………………………………….….. 34
3.6.3 Uji Validitas……………………………………………….………. 34
3.6.4 Uji Reliabilitas……………………………………………………… 35
3.6.5 Analisis Regresi Berganda……………………………………….... 36
3.6.6 Koefisien Determinasi……………………………………………… 36
3.6.7 Pengujian Hipotesis………………………………………………… 37
BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN………………………….………………. 40
4.1 Gambaran Umum Perusahaan…………………………………………….. 40
4.1.1 Sejarah Dan Perkembangan Toko……………………………..…... 40
4.1.2 Struktur Organisasi…………………………………………………. 41
4.2 Gambaran Umum Responden……………………………………………. 43
4.2.1 Persebaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin……………….. 44
4.2.2 Persebaran Responden Berdasarkan Umur…………………..…….. 45
4.2.3 Persebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan………..... 46
4.3 Deskripsi Variabel………………………………………………….…….. 47
4.3.1 Variabel Merek………………………………………………......… 47
4.3.2 Variabel Kualitas Produk………………………………………….. 48
4.3.3 Variabel Promosi………………………………………………….. 49
4.3.4 Variabel Minat Beli………………………………………………… 50
4.4 Analisis Data……………………………………………………………… 51
4.4.1 uji validitas………………………………………………………… 52
4.4.2 uji reliabilitas………………………………………………………. 53
4.4.3 analisis regresi berganda…………………………………………… 54
4.4.4 analisis koefisien determinasi( adjusted R2)………………..……… 56
4.4.5 Uji F………………………………………………………………… 58
4.4.6 Uji t………………………………………………………………… 59
4.5 Pembahasan……………………………………………………………….. 63
BAB V PENUTUP…………………………………………................................... 65
5.1 kesimpulan………………………………………………………………... 65
5.2 saran…………………………………………………………….………… 67
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………….………….. 68

clxvi
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 Data Penjualan………………………………………………………..… 3

Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu……………………………………………… 22

Tabel 4.1 Persebaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin……………….…… 44 Tabel

4.2 Persebaran Responden Berdasarkan Umur…………………………… 45

Tabel 4.3 Persebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan……………… 46 Tabel

4.4 Distribusi Jawaban Responden Variabel Merek (X1)…………………… 47 Tabel 4.5

Distribusi Jawaban Responden Variabel Kualitas Produk (X2)………… 49 Tabel 4.6

Distribusi Jawaban Responden Variabel pomosi (X3)………………..… 50

Tabel 4.7 Distribusi Jawaban Responden Variabel Minat Beli (Y)……………… 52

Tabel 4.8 Pengujian Validitas……………………………………………………. 54

Tabel 4.9 Pengujian Reliabilitas…………………………………………………... 55 Tabel

4.10 Analisis Regresi Berganda…………………………………………… 56

Tabel 4.11 Koefisien Determinasi…………………………………………………. 58


Tabel 4.12 Hasil Output Uji F………………………………………………….… 59

clxvii
Tabel 4.13 Hasil Output Uji t……………………………………………………… 61

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran………………………………………….…….. 23

Gambar 3.1 Uji Stimulant Uji F………………………………………………… 38

Gambar 3.2 Uji Parsial Uji T…………………………………………………… 40


Gambar 4.1 Struktur Organisasi…………………………………………………. 42

Gambar 4.2 Daerah Penerimaan Dan Penolakan Ho (Uji F)…………………… 60


Gambar 4.3 Daerah Penerimaan Dan Penolakan Ho (Uji t Variabel X 1)…………. 62
Gambar 4.4 Daerah Penerimaan Dan Penolakan Ho (Uji t Vriabel X 2)………….. 62
Gambar 4.5 Daerah Penerimaan Dan Penolakan Ho (Uji t Variabel X 3)…………. 63
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner…………………………………………………….. page 1


Lampiran 2. Hasil Program SPSS Regression………..…………………… page 4

Lampiran 3. Tabulasi Hasil Angket Peneltian…………………………… page 8

Lampiran 4. Nilai r Product Moment…………………………………… page 11

Lampiran 5. t Tabel………………………………………………………. page 12

Lampiran 6. F Tabel……………………………………………………… page 13

Lampiran 7. Surat Keterangan Penelitian

clxviii
clxix
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kondisi persaingan usaha yang semakin ketat saat ini perusahaan perlu
memanfaatkan sumber dayanya dengan optimal, termasuk berusaha menciptakan
atau melakukan rekayasa yang dapat mempengaruhi persepsi konsumen,
misalnya melalui citra merek produknya.

Fenomena tersebut dapat dilihat dari kondisi persaingan saat ini yang terjadi
pada produk sepeda. Keanekaragaman produk sepeda yang ada pada saat ini
mendorong konsumen untuk melakukan identifikasi dalam pengambilan
keputusan saat menentukan suatu merek yang menurut mereka memenuhi
kriteria sebuah produk sepeda yang ideal. Dengan meningkatnya pejualan,
perusahaan akan memperoleh keuntungan dan dapat mempertahankan
kelangsungan hidupnya. Strateginya adalah dengan pencitraan merek,
meningkatkan kualitas produk dan gencar melakukan promosi.

Peningkatan kualitas produk diperlukan untuk mempertahankan pelanggan


serta dapat menarik minat konsumen lain agar membeli produk yang ditawarkan.
Sedangkan promosi mempunyai peranan penting untuk menarik konsumen dalam
usaha memperkenalkan produk di pasaran. Banyak cara yang dilakukan oleh
perusahaan agar konsumen tertarik dan timbul minatnya untuk melakukan
pembelian terhadap produk yang ditawarkan.

Perilaku konsumen menjadi salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan


dalam usaha pemasaran produk. Strategi pemasaran yang tepat merupakan salah
satu cara ntuk mencapai tujuan perusahaan yaitu dengan mengetahui kebutuhan
dan keinginan konsumen sehingga tercipta produk yang tepat. Dengan demikian
peningkatan volume penjualan dan memenangkan

persaingan dapat tercapai. Begitu juga dilakukan para produsen sepeda seiring
dengan permintaan yang semakin meningkat.
2

Dengan penggunaan perilaku konsumen tersebut tampaknya memberikan


dampak positif bagi sepeda polygon Hal ini dapat dilihat tercatat volume
penjualan sepeda polygon pada tahun 2010 sampai 2011 sebagai berikut :

Table 1.1
Data Penjualan Sepeda Merek Polygon Tahun 2010-2011
Bulan Penjualan Unit/Tahun Penjualan Unit/Tahun

2010 2011

Januari 31 42

Febuari 34 39

Maret 42 57

April 56 63

Mei 49 35

Juni 50 65

Juli 37 60
3

Agustus 42 55

September 51 46

Oktober 31 67

November 33 49

Desember 66 72

Total 522 650

Sumber : Toko sepeda polygon (Toko Hidayah Jepara) 2012

Jika dilihat dari data dala tabel 1.1 di atas, volume penjualan sepeda polygon
meningkat dari tahun2010 penjualan sebesar 522 unit sampai tahun 2011
penjualan sebesar 650 unit. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas sepeda merek
polygon yang dapat dipercaya. Tetapi dapat dilihat juga pada bulan mei dan
september mengalami penurunan pada bulan mei 2010 dari 49 unit turun menjadi
35unit pada bulan mei 2011, bulan september dari 51 unit turun menjadi 46 unit
pada bulan september 2011.

Merek , kualitas produk dan promosi menjadi salah satu tolok ukur bagi
keberhasilan perusahaan untuk menarik minat konsumen. Hal ini karena
konsumen akan berminat membeli terhadap suatu produk merek sepeda. Strategi
pemasaran yang tepat merupakan salah satu cara untuk mencapai tujuan
perusahaan yaitu dengan mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumen
sehingga tercipta produk yang tepat. Dengan demikian peningkatan volume
penjualan dan memenangkan persaingan dapat tercapai. Begitu juga dilakukan
para produsen sepeda seiring dengan permintaan yang semakin meningkat.

Tjiptono (2008:507) mengatakan bahwa hakekatnya promosi adalah suatu


bentuk komunikasi pemasaran. Yang dimaksud dengan komunikasi

pemasaran adalah aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi,


mempengaruhi/membujuk, dan meningkatkan pasar sasaran atas perusahaan dan
produknya, agar bersedia menerima, membeli, dan loyal pada produk yang
ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. Untuk melaksanakan hal tersebut
salah satunya dengan cara memperkenalkan suatu produk dan membentuk
pemahaman terhadap produk secara terus menerus, sehingga konsumen akan
mencoba dan membelinya.
4

Kaitannya dengan keputusan pembelian produk sepeda polygon, dapat


disimpulkan pentingnya analisis faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen
dari suatu produk tertentu. Untuk dapat mengantisipasi pesatnya persaingan yang
dihadapi perusahaan sepeda agar dapat mempertahankan eksistensinya, maka
dipandang perlu diadakan penelitian sejauh mana faktorfaktor perilaku konsumen
terhadap keputusan pembelian produk sepeda

tersebut.

Dari uraian di atas, penulis mengambil judul penelitian “Pengaruh Merek,


Kualitas Produk Dan Promosi Terhadap Minat Beli Sepeda Merek

Polygon (Studi Kasus Pada Konsumen Sepeda


Polygon Di Toko Hidayah
Jepara).”

1.2 Ruang Lingkup Masalah


Agar pembahasan lebih terarah dan jelas maka dalam penelitian ini penulis
membatasi ruang lingkup sebagai berikut :

1.2.1 penelitian ini hanya membatasi faktor penentu minat beli sepeda
polygon.

1.2.2 Obyek dalam penelitian ini adalah konsumen sepeda polygon di toko
hidayah jepara.

1.3 Rumusan Masalah


Berdasarkan hal tersebut, masalah yang dikembangkan dalam penelitian ini
adalah “ faktor-faktor apa sajakah yang dapat meningkatkan minat beli konsumen
pada produk sepeda polygon”.

Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah :

1) Apakah faktor merek (brand) berpengaruh tehadap minat beli konsumen?


5

2) Apakah faktor kualitas produk (product quality) berpengaruh tehadap

minat beli konsumen?

3) Apakah faktor promosi (promotion) berpengaruh tehadap minat beli

konsumen?

4) Apakah faktor merek, kualitas produk dan promosi secara bersamasama

berpengaruh terhadap minat beli konsumen?

1.4 Tujuan Penelitian


Berdasarkan pada latar belakang dan rumusan masalah tersebut, penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis

1) Untuk menganalisis pengaruh faktor merek (brand) terhadap minat

beli.

2) Untuk menganalisis pengaruh faktor kualitas produk (product quality )

terhadap minat beli.

3) Untuk menganalisis pengaruh faktor promosi (promotion) terhadap minat

beli.

4) Untuk menganalisis pengaruh merek, kualitas produk dan promosi

terhadap minat beli.


6

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang
pengaruh faktor marketing strategis yang terdiri dari produk, harga, distribusi
dan promosi terhadap keputusan pembelian. Informasi tersebut dapat
dipergunakan untuk menentukan strategi yang harus ditempuh perusahaan
untuk meningkatkan penjualannya.

1.5.2 Manfaat Praktis


Hasil penelitian ini diharpkan dapat memberikan referensi bagi
pengembangan ilmu pengetahuan khususnya mengenai manajemen
pemasaran. penelitian ini dapat digunakan untuk menerapkan ilmu yang
diperoleh di bangku kuliah di lapangan dan untuk mempertajam pengetahuan
mengenai perilaku konsumen.

1.6 Sistematika Penulisan


Agar penulisan skripsi ini lebih jelas dan terfokus pada permasalahan yang dibahas,
maka perlu disusun suatu sistematika penulisan yang tepat. Skripsi ini disusun dalam
5 bab, dengan perincian sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan
Bagian ini menguraikan latar belakang permasalahan, rumusan masalah,
tujuan dan kegunaan penelitian serta sistematika penulisan.

Bab II Tinjauan Pustaka


Bagian ini mengulas dan menjelaskan tentang landasan teori dan
penelitian terdahulu, kerangka penelitian serta perumusan hipotesis.

Bab III Metode Penelitian


7

Bagian ini menguraikan dan menjelaskan mengenai variabel penelitian dan


definisi operasional, penentuan sampel penelitian, jenis dan sumber data
yang diperlukan, metode pengumpulan dan metode

analisis data.

Bab IV Hasil dan Pembahasan


Bagian ini menguraikan gambaran umum perusahaan sebagai obyek
penelitian dan analisis data serta pembahasannya.

Bab V Penutup
Bagian ini berisikan kesimpulan dari pembahasan dan saran-saran.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori


2.1.1 Pengertian Pemasaran
Pemasaran merupakan faktor penting dalam siklus yang berhubungan
dengan pemenuhan kebutuhan konsumen. Dalam salah satu
perusahaan,pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan pokok yang
dilakukan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya,
berkembang dan mendapatkan laba, kegiatan pemasaran perusahaan juga
harus dapat memberikan kepuasan pada konsumen jika menginginkan
usahanya tetap berjalan.

Menurut W Stanton pemasaran adalah system keseluruhan dari


kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga,
mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat
memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial.
8

2.1.2 Minat Beli


Minat beli (willingness to buy) merupakan bagian dari komponen
perilaku dalam sikap mengkonsumsi. Doods, Monroe dan Grewal, (1991)
dalam Bernard (2004) menyatakan bahwa minat beli (willingness to buy)
didefinisikan sebagai kemungkinan bila pembeli bermaksud untuk membeli
produk. Minat beli merupakan perilaku konsumen yang menunjukkan sejauh
mana komitmennya untuk melakukan pembelian.

Minat beli berbeda dengan niat beli, niat beli adalah suatu tindak lanjut
dari minat beli konsumen dimana keyakinan untuk memutuskan akan
membeli sudah dalam persentase yang besar. Jadi dapat dikatakan bahwa
niat beli adalah tingkatan akhir dalam minat beli berupa keyakinan sebelum
keputusan pembelian diambil. Menurut Kinnear dan Taylor (1995), minat beli
adalah tahap kecenderungan responden untuk bertindak sebelum keputusan
membeli benarbenar dilaksanakan. Menurut Mowen (1990) dalam Oliver
(1997) efek hierarki minat beli digunakan untuk menggambarkan urutan
proses munculnya keyakinan(beliefs). Sikap (attitudes) dan perilaku
pengetahuan kognitif yang dimiliki konsumen dengan mengaitkan atribut,
manfaat, dan obyek (dengan mengevaluasi informasi), sementara itu sikap
mengacu pada perasaan atau respon efektifnya.

Sikap berlaku sebagai acuan yang mempengaruhi dari lingkungannya


(Loudon dan Dela Bitta, 1993). Beberapa faktor yang membentuk minat beli
konsumen (Kotler,2005) yaitu :

1. Sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternative yang

disukai seseorang akan bergantung pada dua hal yaitu, intensitas sifat

negative orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen dan motivasi

konsumen untuk menuruti keinginan orang lain.

2. Faktor situasi yang tidak terantisipasi, faktor ini nantinya akan dapat

mengubah pendirian konsumen dalam melakukan pembelian. Hal tersebut

tergantung dari pemikiran konsumen sendiri, apakah dia percaya diri dalam

memutuskan akan membeli suatu barang atau tidak.


9

Menurut Keller (1998), minat konsumen adalah seberapa besar


kemungkinan konsumen membeli suatu merek atau seberapa besar
kemungkinan konsumen untuk berpindah dari satu merek ke merek lainnya.
Bila manfaat yang dirasakan lebih besar dibandingkan pengorbanan untuk
mendapatkannya, maka dorongan untuk membelinya semakin tinggi. Perilaku
pembelian konsumen seringkali diawali dan dipengaruhi oleh banyaknya
rangsangan (stimuli) dari luar dirinya, baik berupa rangsangan pemasaran
maupun rangsangan dari lingkungannya. Rangsangan tersebut kemudian
diproses dalam diri sesuai dengan karakteristik pribadinya, sebelum akhirnya
diambil keputusan pembelian. Karakteristik pribadi konsumen yang
dipergunakan untuk memproses rangsangan tersebut sangat komplek dan
salah satunya adalah motivasi untuk membeli.

Ajay dan Goodstein (1998) mengatakan bahwa jika kita ingin


mempengaruhi seseorang, maka cara yang terbaik adalah mempelajari apa
yang dipikirkannya, maka akan didapatkan tidak hanya sekedar informasi
tentang orang itu dan bagaimana proses informasi itu dapat berjalan dan
bagaimana memanfaatkannya. Hal ini yang dinamakan “The Buying Process”
(Proses Pembelian). Menurutnya proses pembelian meliputi lima

hal :

1. Need (kebutuhan), proses pembelian berawal dari adanya

kebutuhan yang tak harus dipenuhi atau kebutuhan yang muncul

pada saat itu dan memotivasi untuk melakukan pembelian.

2. Recognition (Pengenalan), mengenali kebutuhan itu sendiri untuk

dapat menetapkan sesuatu untuk memenuhinya.

3. Search (Pencarian), merupakan bagian aktif dalam pembelian yaitu

mencari jalan untuk mengisi kebutuhan tersebut.


10

4. Evaluation (Evaluasi), suatu proses untuk mempelajari semua yang

didapat selama proses pencarian dan mengembangkan beberapa

pilihan.

5. Decision (Keputusan), langkah terakhir dari suatu proses pembelian

untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang diterima.

2.1.3 Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen


Keputusan pembelian dari pembeli sangat dipengaruhi oleh faktor
kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologi dari pembeli. Sebagian besar adalah
faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan (uncontrollable) oleh perusahaan,
tetapi harus benar-benar diperhitungkan untuk mengkaji pengaruh-
pengaruhnya terhadap perilaku pembelian (Kotler, 1996).

Terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen


dalam mengambil keputusan pembelian yaitu :

a. Faktor Eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor yang meliputi pengaruh


keluarga, kelas sosial, kebudayaan, marketing strategy, dan
kelompok referensi. Kelompok referensi merupakan kelompok yang
memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung pada sikap dan
prilaku konsumen. Kelompok referensi

mempengaruhi perilaku seseorang dalam pembelian dan sering


dijadikan pedoman oleh konsumen dalam bertingkah laku.

b. Faktor Internal

Faktor-faktor yang termasuk ke dalam faktor internal adalah


motivasi, persepsi, sikap, gaya hidup, kepribadian dan belajar.
Belajar menggambarkan perubahan dalam perilaku seseorang
individu yang bersumber dari pengalaman. Seringkali perilaku
manusia diperoleh dari mempelajari sesuatu.
11

2.2 Strategi Pemasaran


Strategi pemasaran (marketing strategy) adalah suatu rencana yang didesain
untuk mempengaruhi pertukaran dalam mencapai tujuan organisasi.
Biasanya strategi pemasaran diarahkan untuk meningkatkan kemungkinan atau
frekuensi perilaku konsumen, seperti peningkatan kunjungan pada toko tertentu atau
pembelian produk tertentu.

2.3 Merek
Merek adalah sebuah nama, istilah, tanda, simbol, desain atau kombinasinya
yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang dan jasa seorang penjual atau
kelompok penjual dan membedakannya dengan pesaingnya (Kotler, 1997).
Pembedaan dapat dilakukan dengan pendekatan rasional dan berwujud, ataupun
dengan pendekatan emosional, simbolik, dan tak berwujud (Saryanto dan Suko,
2004). Bila produsen bisa memahami motivasi dan keinginan konsumen serta
mengemasnya dengan daya tarik yang relevan, maka sebuah merek dapat bertahan
lama.

Nama merek terdiri dari huruf-huruf, kata-kata dan angka-angka yang terbaca.
Tanda merek (brand mark) merupakan bagian dari merek yang muncul dalam bentuk
simbol, desain atau warna dan huruf khas yang berbeda. Tanda merek hanya dilihat
mata tetapi tidak ikut di baca bila konsumen menyebut merek suatu produk. merek
mempermudah konsumen mengidentifikasi produk atau jasa. Merek juga bisa
membuat pembeli yakin akan memperoleh kualitas barang yang sama jika mereka
membeli ulang. Trade mark adalah brand yang dilindung oleh Undang-undang karena
sudah di daftarkan pada pemerintah dan perusahaan mempunyai hak tunggal untuk
menggunakannya. Jadi trade mark terdiri atas kata-kata, huruf atau angka-angka yang
dapat diucapkan, termasuk juga brand mark (Basu Swasta, 2002).

Pemberian merek pada suatu produk di maksudkan untuk beberapa alasan


sebagai berikut (Assuari, 2002) :

a. Untuk tujuan identifikasi guna mempermudah penanganan atau

mencari jejak produk yang dipasarkan.

b. Melindungi produk yang unik dari kemungkinan di tiru pesaing.


12

c. Produsen ini menekankan mutu tertentu yang ditawarkan dan untuk

mempermudah konsumen menunjukkan produk tersebut kembali.

d. Sebagai landasan untuk mengadakan diferensiasi harga.

Agar suatu merek dapat mencerminkan makna-makna yang ingin

disampaikan, maka ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan, yaitu :

1. Merek harus khas dan unik

2. Merek harus menggambarkan sesuatu mengenai manfaat produk dan

pemakaiannya.

3. Merek harus menggambarkan kualitas produk

4. Merek harus mudah diucapkan, dikenali, dan diingat

5. Merek tidak boleh mengandung arti yang buruk di negara dan dalam

bahasa lain.

6. Merek harus dapat menyesuaikan diri (adaptable) dengan

produkproduk baru yang mungkin ditambahkan kedalam lini produk.

Sepeda dapat dikenal konsumen dari merek yang ditawarkan, sehingga merek
merupakan salah satu informasi yang digunakan konsumen dalam memilih berbagai
alternatif merek sepeda yang ditawarkan dipasaran. Pelanggan cenderung memilih
merek yang sudah dikenal karena merasa aman dengan sesuatu yang dikenal dan
13

beranggapan merek yang sudah dikenal kemungkinan bisa diandalkan, dan kualitas
yang bisa dipertanggung jawabkan. Dengan demikian merek diduga mempengaruhi
minat beli. Semakin baik persepsi konsumen terhadap merek, semakin besar
pengaruh minat beli sepeda dengan merek tersebut.

2.4 Kualitas Produk


Salah satu keunggulan dalam persaingan ini terutama adalah kualitas produk
yang dapat memenuhi keinginan konsumen. Bila tidak sesuai dengan spesifikasi maka
produk akan ditolak. Sekalipun produk tersebut masih dalam batas toleransi yang
telah ditentukan maka produk tersebut sebaiknya perlu menjadi catatan untuk
menghindari terjadinya kesalahan yang lebih besar diwaktu yang akan datang.
Demikian juga konsumen dalam dalam membeli suatu produk konsumen selalu
berharap agar barang yang dibelinya dapat memuaskan segala keinginan dan
kebutuhannya. Untuk itu perusahaan harus dapat memahami keinginan konsumen,
sehingga perusahaan dapat menciptakan produk yang sesuai dengan harapan
konsumen. Kualitas produk yang baik merupakan harapan konsumen yang harus
dipenuhi oleh perusahaan, karena kualitas produk yang baik merupakan kunci
perkembangan produktivitas perusahaan.

Kualitas produk merupakan hal penting yang harus diusahakan oleh setiap
perusahaan apabila menginginkan produk yang dihasilkan dapat bersaing di pasar.
Dewasa ini, dikarenakan kemampuan ekonomi dan tingkat pendidikan masyarakat
cenderung meningkat, sebagian masyarakat semakin kritis dalam mengkonsumsi
suatu produk.

Kotler dan Armstrong (2008:347) menyatakan bahwa “Kualitas produk adalah


kemampuan suatu produk untuk melakukan fungsi-fungsinya yang meliputi daya
tahan, keandalan, ketepatan, kemudahan, operasi dan perbaikan serta atribut
lainnya”. Bila suatu produk telah dapat menjalankan fungsifungsinya dapat dikatakan
sebagai produk yang memiliki kualitas yang baik.

Menurut Kotler (2008:330), kebanyakan produk disediakan pada satu diantara


empat tingkatan kualitas, yaitu : kualitas rendah, kualitas rata-rata sedang, kualitas
baik dan kualitas sangat baik. Beberapa dari atribut diatas dapat diukur secara
objektif. Namun demikian dari sudut pemasaran kualitas harus diukur dari sisi
persepsi pembeli tentang kualitas produk tersebut.
14

2.5 Promosi
Sebenarnya, promosi tidak hanya dilakukan oleh perusahaan/penjual saja,
tetapi pembeli juga sering menggunakannya. Jadi, dapat dikatakan bahwa pembeli,
penjual, dan perantara bisa terlibat dalam promosi.

Suatu produk yang memiliki kualitas tinggi dan harga yang murah, namun tidak
dikenal oleh pasar maka segala kelebihan atribut yang dimiliki produk tersebut
menjadi sia-sia. Usaha untuk mengenalkan produk kepada pasar yaitu dilakukan
strategi promosi. Konsep yang dipakai untuk mengenalkan produk yaitu promotion
mix, kegiatan-kegiatan yang mengkombinasikan keunggulan produk dan menunjuk
konsumen untuk membeli (Swastha, 2002).

Promotion mix merupakan suatu kegiatan yang sangat penting untuk


dilaksanakan dalam pemasar produk. Melalui kegiatan promotion mix ini, perusahaan
berusaha untuk memberitahukan kepada konsumen mengenai suatu produk dan
mendorong untuk membeli produk tersebut. Banyak cara yang dilakukan oleh
perusahaan untuk mempromosikan produkya, antrara lain :

1. Personal Selling

Yaitu terjadi interaksi langsung, saling bertemu muka antara pembeli dan
penjual. Komunikasi yang dilakukan oleh kedua belah pihak bersifat individual,
dalam hal ini penjual dituntut memiliki kecakapan dan ketrampilan dalam
mempengaruhi atau memotivasi pembeli dengan cara mengemukakan
manfaat yang akan diperoleh pembeli sehingga terjadi persesuaian
keuntungan. Manfaat personal selling :
a. Adanya hubungan langsung dengan calon pembeli sehingga dapat

mengamati secara dekat karakteristik dan kebutuhan calon pembeli.

b. Membina berbagai macam hubungan dengan pembeli, mulai dengan

hubungan perdagangan sampai hubungasn persahabatan

yang erat.

c. Mendapatkan tanggapan dari calon pembeli.

2. Advertising
15

Setiap bentuk penyajian gagasan, barang atau jasa yang dibayar, yang sifatnya
bukan pribadi oleh sponsor yang dapat dikenali media penyajiannya meliputi
majalah, surat kabar, radio, TV, tanda dan selebaran (Kotler, 2002). Manfaat
advertising :

a. Memungkinkan penjual untuk berkomunikasi dengan banyak

orang sekaligus.

b. Memungkinkan penjual untuk menyebarkan informasi tentang produk

dan perusahaannya.

c. Memungkinkan penjual untuk mendramatisir perusahaan dan

produknya, melalui pengguanaan cetakan, suara, dan warna yang

menarik perhatian.

3. Sales Promotion

Adalah semua kegiatan promosi yang bukan iklan, publisitas dan penjuaalan
perseorangan yang dapat merangsang minat usaha mencoba atau pembelian
oleh pelanggan akhir atau pihak lain dalam saluran promosi penjualan.
Penetapan harga yang kompetitif tawaran konsumen pengemasan dan
persentasi, promosi di dalam toko dan promosi dalam kesempatan khusus.

4. Publisitas

Yakni untuk memacu permintaan non personal, dan usaha ini tidak dibiayai
orang atau organisasi yang memetik manfaat dari publikasi. Biasanya
publisitas ini berbentuk memuji suatu produk, jasa, atau organisasi.

Fungsi dari kegiatan promosi antara lain (Swastha, 2002) :


16

1) Mencari dan mendapatkan perhatian dari calon pembeli, karena perhatian

dan calon pembeli merupakan titik awal proses pengambilan keputusan

dan pembelian.

2) Menciptakan dan menimbulkan interest pada diri calon pembeli untuk

memiliki barang yang ditawarkan.

Tujuan promotion mix (Kotler, 2002):

1) Memodifikasi tingkah laku, dapat diarahkan dengan adanya

promotion.

2) Memberitahukan dengan memberikan informasi tentang adanya

penawaran perusaahaan.

3) Membujuk, karena diarahkan dan untuk mendorong pembelian.


4) Mengingatkan dengan melaksanakan promosi secara terus menerus agar

produk yang ditawarkan selalu diingat konsumen, hal ini biasanya sangat

dibutuhkan bila produk mencapai tingkat kedewasaan.

2.6 Penelitian Terdahulu


Penelitian tedahulu sangat penting sebagai dasar pijakan dalam rangka
menyusun skripsi ini. Terdapat beberapa penelitian tedahulu yang akan
mengarahkan penelitian ini diantaranya yaitu dapat dilihat pada tabel 2.1 :
17

Table 2.1
No. Referensi Variabel Populasi/sampel Alat analisis Hasil penelitian
18

1. Ikanita Citra merek =(X1) Konsumen Regresi linier Secara

sulistyari Kualitas produk = mahasiswi berganda stimulant ada

(2012) analisis (X2) ekonomika bisnis pengaruh

pengaruh citra Harga = (X3) jurusan manajemen antara citra

merek, kualitas Minat beli = (Y) merek, kualitas


UNDIP Semarang
produk, dan produk, dan

harga terhadap harga terhadap

minat beli minat beli

produk produk

oriflame oriflamme.

Iklan = (X1)
2. Anita liriswati Ada pengaruh
Analisis regresi
(2004) analisis Kualitas produk
Konsumen sabun cair berganda
pengaruh signifikan
= (X2) lux, biore dan lifeboy
media iklan dan
di kotamadya antara media
kualitas produk Minat beli = (Y) yogyakarta
terhadap minat iklan dan
beli sabun cair
lux, biore dan kualitas produk
lifeboy di
terhadap minat
kotamadya
yogyakarta beli sabun cair

lux, biore dan

lifeboy di

kotamadya

yogyakarta

Sumber : Ikanita sulistyari (2012) dan Anita liriswati (2004).


19

2.7 Kerangka Pemikiran Teoritis


Kerangka pemikiran merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang
penting. Kerangka pemikiran yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan
antara variabel yang diteliti. Jadi, secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara
variabel independen dan variabel dependen.

Berdasarkan tinjauan pustaka, penelitian terdahulu dan pengembangan


hipotesis tersebut, maka dapat disusun kerangka pemikiran penelitian sebagaimana
dapat dilihat pada gambar 2.2 berikut :

Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Teoritis

Merek (X1)

H1
Kualitas Produk (X2)
Minat Beli (Y)
H2

Promosi (X3) H3

H4

Sumber : Kotler(1997),Kotler(2008),Dan Swashta(2002)

2.8 Hipotesis Penelitian


Hipotesis menyatakan hubungan yang diduga secara logis antara dua variabel
atau lebih dalam rumusan proporsi yang dapat diuji secara empiris (Nur Indriantoro
dan Bambang Supomo,2002 : 73). Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
20

Merek adalah sebuah nama, istilah, tanda, simbol, desain atau kombinasinya
yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang dan jasa. Dengan adanya merek
pada sebuah produk konsumen lebih mudah untuk mengenali sebuah
produk,merek juga dapat mempengaruhi minat beli oleh konsumen. Hal ini
dibuktikan pada penelitian “Ikanita Novirina Sulistyari(2012),analisis pengaruh citra
merek, kualitas produk, dan harga terhadap minat beli produk oriflamme”.
Menyatakan bahwa citra sebuah merek dapat mempengaruhi minat beli oleh
konsumen. Dari uraian tersebut maka dapat diambil hipotesis sebagai berikut :

H1:Diduga variabel merek mempunyai pengaruh positif terhadap minat beli.

Kualitas produk merupakan salah satu syarat yang diterapkan oleh konsumen
ketika menilai sebuah produk. Sebagus apapun produk tersebut namun jika tidak
diimbangi dengan kualitas yang baik maka konsumen akan merasa enggan untu
membeli atau menggunakan produk tersebut. Hal ini dibuktikan pada penelitian
“Ikanita Novirina Sulistyari(2012),analisis pengaruh citra merek, kualitas produk,
dan harga terhadap minat beli produk oriflamme”.
Menyatakan bahwa kulitas produk dapat mempengaruhi minat beli oleh konsumen.
Dari uraian tersebut maka dapat diambil hipotesis sebagai berikut :

H2 :Diduga variabel kualitas produk mempunyai pengaruh yang positif

terhadap minat beli.

Suatu produk yang memiliki kualitas tinggi dan harga yang murah, namun
tidak dikenal oleh pasar maka segala kelebihan atribut yang dimiliki produk tersebut
menjadi sia-sia. Usaha untuk mengenalkan produk kepada pasar yaitu dilakukan
strategi promosi. Konsumen akan dapat mengetahui keunggulan dari sebuah
produk yaitu melalui media promosi yag dilakukan oleh perusahaan. Hal ini
dibuktikan pada penelitian”esthi dwiyanti(2008), analisis faktor-faktor yang
mempengaruhi minat beli konsumen terhadap layanan internet banking
mandiri”.menyatakan bahwa promosi mempunyai pengaruh pada minat beli oleh
konsumen.

H3: Diduga variabel promosi mempunyai pengaruh yang positif terhadap minat

beli.
21

Dari ketiga variabel (merek, kualitas produk dan promosi) diatas yang samasama
mempunyai pengaruh yang positif terhadap minat beli, maka dapat disimpulkan
bahwa :

H4 : Diduga variabel merek, kualitas produk dan promosi berpengaruh positif


terhadap minat beli.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional


3.1.1 Variabel Penelitian
Definisi variable menurut Nur Indriantoro dan Bambang Supomo (2002 :
61), variabel adalah segala sesuatu yang dapat diberikan berbagai macam nilai.

Variabel penelitian yang digunakan pada penelitian ini dapat


dikategorikan menjadi dua,yaitu variabel dependen dan variabel independen.

Variabel dependen adalah tipe variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi


oleh variable independen, yang menjadi variable dependen adalah keputusan
pembelian. Sedangkan variable independen adalah tipe variable yang
menjelaskan atau mempengaruhi variabel yang lain, dan yang menjadi variable
independen adalah merek, kualitas produk dan promosi.

3.1.2 Definisi Operasional


Definisi operasional menurut Nur Indrianto dan Bambang Supomo
(2002 : 69), definisi operasional adalah penentuan construct sehingga menjadi
variabel yang dapat diukur.

Definisi operasional penelitian sebagai berikut :

a. Merek (X1)
22

Merek merupakan nama, istilah, simbol/lambang, desin, warna,


gerak, atau kombinasi atribut-atribut produk lainnya yang
diharapkan dapat memberikan identitas dan diferensasi terhadap
produk pesaing.

Indikator yang menggambarkan variabel merek sebagai berikut :

1. Merupakan merek terpercaya

2. Identitas mudah dikenali

3. Merek terkenal

b. Kualitas Produk (X2)

Kualitas produk adalah kemampuan sebuah produk dalam


memperagakan fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan

durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian dan


reparasi produk juga atribut produk lainnya (Kotler dan

Amstrong 2004 : 283)

Indikator dari variabel kualitas produk sebagai berikut :


1. daya tahan sebuah produk

2. kinerja sebuah produk

3. fitur produk

c. Promosi (X3)

Promosi adalah suatu kegiatan yang mengkombinasikan keunggulan


produk dan menunjuk konsumen untuk membeli
23

(Swasta dan Irawan, 2002).

Indikator dari variabel promosi sebagai berikut :

1. Aktivitas pemberian hadiah atau sampel produk kepada

konsumen.

2. Aktivitas Kontak langsung antara produsen dengan

konsumen.

3. Kualitas dan Kuantitas penyampaian pesan dalam

penayangan iklan di media promosi.

d. Minat beli (Y) minat konsumen adalah seberapa besar kemungkinan

konsumen membeli suatu merek atau seberapa besar kemungkinan

konsumen untuk berpindah dari satu merek ke merek

lainnya.indikatornya adalah sebagai berikut:

1. Minat beli

2. Keyakinan membeli

3. Pertimbangan manfaat
3.2. Jenis Dan Sumber Data
3.2.1. Jenis Data
1. Data kualitatif
24

Menurut Purbayu Budi Santoso dan Ashari (2003 : 5), data kualitatif
yaitu data dalam bentuk non angka. Dalam hal ini data kualitatif yang
digunakan berupa kuesioner,wawancara dan studi pustaka.

2. Data kuantitatif

Data kuantitatif yaitu data yang berupa informasi angka. Dalam


penelitian ini data kuantitatif didapatkan dengan mengalikan antara
kepercayaan konsumen dan evaluasi.

3.2.2. Sumber Data


Sumber data adalah informasi yang memiliki arti bagi penggunanya.

Data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Sedangkan
dari data yang digunakan untuk menyusun skripsi ini menggunakan sumber
data antara lain:

1. Data Primer

Data Primer adalah data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh suatu
organisasi atau perseorangan langsung dari obyeknya. Data ini berupa
informasi yang diperoleh melalui keterangan dari karyawan, yang berupa
pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner atau wawancara maupun
pengamatan langsung dengan responden mengenai merek, harga, dan
promosi terhadap keputusan pembelian sepeda polygon.

2. Data Sekunder

Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari organisasi atau


perorangan yang berupa literatur seperti majalah, surat kabar, bukubuku
referensi, artikel, jurnal, website maupun keterangan dari kantor yang ada
hubungannya dalam penelitian tersebut dan kaitanya dengan produk,
merek, harga, dan promosi. Misalnya, dengan koordinasi di bagaian
kepegawaian sehingga telah diperoleh data tentang perusahaan dan data
awal pendukung berkaitan tentang merek, harga, dan promosi terhadap
keputusan pembelian pada konsumen sepeda polygon.
25

3.3 Populasi, Sampel Dan Teknik Pengambilan Sampel


3.3.1 Populasi
Pengertian populasi menurut Sugiyono (2007:57), yaitu: “Populasi adalah
wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempunyai
kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Populasi dalam penelitian
ini adalah seluruh konsumen sepeda polygon di toko Hidayah Jepara yang
jumlahnya tidak terhitung.

3.3.2 Sampel
Sampel merupakan sebagian dari populasi yang diteliti. Sedangkan
sampling yaitu cara pengumpulan data yang sifatnya tidak menyeluruh,
artinya tidak mencakup seluruh obyek penelitian akan tetapi hanya
sebagian dari populasi saja, yaitu hanya mencakup sampel yang diambil
dari populasi tersebut (Supranto, 2003:70). Untuk menentukan sampel
pada penelitian ini menggunakan rumus

(Rao Purba, 1996):

Z2
n= 2

4moe

Keterangan:

n = Jumlah sampel.

Z = Tingkat keyakinan yang dibutuhkan dalam penentuan

sampel , 95 % = 1,96.

Moe = Margin of error atau kesalahan maksimal yang ditoleransi


biasanya 10%.

Jadi penentuan sampelnya adalah sebagai berikut:

1,962
n= 2 n = 96,04 dibulatkan 96. 40,1
26

Berdasarkan hasil perhitungan, maka jumlah sampel yang akan digunakan


sebanyak 96,04 responden dan dibulatkan menjadi 96 responden. Karena
dasar itulah peneliti menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini
sebanyak 96 responden.

3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel


Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik
accidental sampling yaitu penentuan sampel berdasar pada siapa yang
ditemui saat itu, sampel tetap pada obyek penelitian.

3.4 Metode pengumpulan data


Metode pengumpulan data adalah suatu cara pengambilan data atau informasi
dalam suatu penelitian. Adapun metode dalam pengumpulan data dalam

penelitian ini dilakukan melalui beberapa cara :

a. Kuesioner

Yaitu pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan secara tertulis


guna memperoleh tentang tanggapan konsumen terhadap faktor Merek, kualitas
produk, dan Promosi sepeda polygon yang telah dilakukan oleh konsumen.

b. Pustaka

Merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menghimpun


informasi melalui literature-literature, dan kajian-kajian penelitian terdahulu yang
relevan.

c. Wawancara

Pengumpulan data dengan cara wawancara langsung dengan responden dan


pihak – pihak yang bersangkutan untuk memperoleh data.
27

3.5 Metode pengolahan data


Langkah-langkah yang digunakan untuk pengolahan data dalam penelitian ini sebagai
berikut :

1. Editing

Adapun tahapan pertama dalam pengolahan data yang diperoleh peneliti dari
lapangan dengan melakukan pengecekan terhadap kemungkinan kesalahan
jawaban responden serta ketidakpastian jawaban responden.

2. Coding

Adalah memberikan atau tanda atau kode tertentu terhadap alternatif jawaban
sejenis atau menggolongkan sehingga dapat memudahkan peneliti mengenai

tabulasi.
3. Scoring

Proses penentuan skor atas jawaban responden yang dilakukan dengan membuat
klasifikasi dan katergori yang cocok yang tergantung pada anggapan atau opini
responden. Dengan menggunakan skala likert. Jawaban responden diberi skor 1
sampai dengan 5.

a. Untuk jawaban sangat setuju diberikan skala angka 5

b. Untuk jawaban setuju diberikan skala angka 4

c. Untuk jawaban netral diberi angka 3


d. Untuk jawaban tidak setuju diberi skala angka 2

e. Untuk jawaban sangat tidak setuju diberi skala angka 1

4. Tabulating

Adalah Perhitungan data yang telah dikumpulkan dalam masing-masing kategori


sampai tersusun dalam tabel yang mudah dimengerti.
28

3.6 Metode analisis data


3.6.1 Analisis Kualitatif dipergunakan untuk menganalisis data yang bersifat relative
sulit diukur, sehingga tidak dapat dianalisis dengan statistik tetapi berdasarkan
pendapat saja yaitu faktor yang mempengaruhi konsumen dalam pembelian.

3.6.2 Analisis Kuantitatif analisis ini menggunakan pengujian secara sistematis dan
statistic dalam menerangkan dan menganalisis data yang diperoleh.

3.6.3 Uji Validitas


Validitas menunjukkan seberapa nyata suatu pengujian mengukur apa yang seharusnya
diukur. Validitas berhubungan dengan ketepatan atau alat ukur untuk melakukan tugas
mencapai sasarannya. Validitas juga berhubungan dengan kenyataan (actually).
Pengukuran dikatakan valid jika mengukur tujuannya dengan nyata dan benar. Alat ukur
yang tidak valid adalah yang memberikan hasil ukuran menyimpan dari tujuannya
(Jogiyanto,

2002:120).
Mengetahui valid tidaknya item kuesioner adalah dengan membandingakan nilai r hitung
(corrected item total correlation) dengan rhitung, dimana df (degree ofd fredom) rtabel adalah
n-2, n adalah jumlah sempel.

Kriteria pengambilan keputusan adalah: (Imam Gazali, 2001).

a. Jika r hitung, > r tabel maka item pertanyaan valid.

b. Jika r hitung, < r tabel maka item pertanyaan tidak valid.

Pertanyaan yang tidak valid harus dikeluarkan dari kuesioner kemudian dihitung lagi
perhitungan korelasinya.

3.6.4 Uji Reliabilitas


Reliabilitas suatu pengukur menunjukan stabilitas dan konsisten dari suatu instrument
yang mengukur suatu konsep dan berguna untuk mengakses “kebaikan” dari suatu
pengukur. Dalam arti lain, reliabilitas menunjukan akurasi dan ketepatan dari
pengukurnya(Jogiyanto, 2002:120).

Suatu kuesioner dinyatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap
pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Pengukuran reliabilitas
29

dapat dilakukan dengan one spot atau pengukuran sekali saja dan kemudian hasilnya
dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan.

Uji reliabilitas dilakukan dengan SPSS, yang memberikan fasilitas untuk mengukur
reliabilitas dengan uju statistik alpha cronbach (α). Suatu variabel dikatakan reliabel jika
memiliki alpha cronbach > 0,06 (Imam

Ghozali, 2001).
3.6.5 Analisis regresi berganda
Purbayu Budi Santoso dan Ashari (2003 : 164) menyatakan bahwa untuk pengaruh
variabel bebas terhadap variabel terikat dengan rumus sebagai berikut :

Y=a + b₁x₁ + b₂x₂ + b₃x₃

Keterangan :

Y = variabel keputusan pembelian

a = konstanta regresi berganda

b₁,₂,₃ = koefisien regresi

X₁ = variabel merek

X₂ = variabel kualitas produk

X₃ = variabel promosi

3.6.6 Koefisien Determinasi ( R Square)


Koefisien determinasi dipergunakan untuk mengetahui besarnya derajat hitungan antara
variabel bebas dan variabel terikat, adapun rumusnya sebagai berikut :

FR = R2 . 100% Keterangan :

R2 = R square

FR = kuadrat koefisien korelasi (Moh.Nasir, 1999 : 445)


3.6.7 Pengujian Hipotesis

1. Uji Simultan (Uji F).


30

Digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel


terikat, yaitu apakah variabel X1, X2, X3 benar-benar berpengaruh secara
bersama-sama terhadap variabel Y.

Membuat hipotesis untuk kasus pengujian F-Test diatas, yaitu :

Ho : β1 = β2 = β3 = 0, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan dari


variabel independen yaitu merek (X1), kualitas produk (X2) dan promosi
(X3) secara simultan terhadap variabel dependen keputusan pembelian (Y).

Untuk daerah penolakan Ho dan penerimaan Ho dijelaskan pada gambar

3.1 berikut ini :

Daerah Penerimaan dan Penolakan Ho

Daerah Penolakan Ho

Daerah penerimaan Ho

F Tabel ( = 0,05) F Hitung

Gambar 3.1

Uji Simultan (Uji F)

2. Uji Parsial (Uji t)


Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel bebas terhadap variabel
terikat maka dilakukan pengujian terhadap hipotesis yang diajukan pada
penelitian ini. Metode pengujian terhadap hipotesis yang diajukan
dilakukan pengujian secara parsial menggunakan uji t. Secara parsial semua
variabel bebas di dalam penelitian ini dapat dikatakan signifikan pada α =
5%. Jika nilai probability significancy dari t-rasio pada hasil regresi lebih
31

kecil dari 0,05. Hal ini memberikan kesimpulan masing-masing variabel


berpengaruh terhadap variabel regresand (Y) hal ini menunjukan bahwa Ha
diterima dan Ho ditolak.

Langkah-langkah uji t dengan α = 5% :

Ho : β1, β2, β3, β4, β5 = 0, (berarti tidak ada pengaruh secara bersama-
sama antara variabel X dengan variabel Y)

Ha : : β1, β2, β3, β4, β5 > 0, (berarti ada pengaruh positif secara bersama-
sama antara variabel X dengan variabel Y).

Kriteria pengujian:

 t hitung < t tabel, Ho diterima dan Ha ditolak.  t

hitung > t tabel, Ho ditolak dan Ha diterima.

Adapun gambar 3.2 dari uji t adalah sebagai berikut :

Daerah Penerimaan dan Penolakan Ho (Uji t)

Daerah daerah penolakan Ho

penerimaan Ho

t tabel ( = 0,05) t hitung

Gambar 3.2

Uji Parsial (Uji t)


32

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Perusahaan


Pada penelitian ini peneliti mengambil obyek penelitian pada toko sepeda
Hidayah Jepara, oleh karena itu perlu kiranya dijelaskan terlebih dahulu gambaran
umum ini akan membahas mengenai sejarah singkat perkembangan toko sepeda
Hidayah Jepara beserta struktur organisasinya.
33

4.1.1 Sejarah Dan Perkembangan Toko Hidayah


Toko sepeda Hidayah adalah usaha perseorangan yang didirikan oleh
Bapak Saiman pada tahun 2008. Toko sepeda Hidayah ini terletak di
JL.MT.Haryono Blok.A No.7 Jepara.

Dalam mengelola toko Bapak Saiman dibantu oleh istrinya dan


beberapa karyawan. Banyaknya pesaing yang mendirikan toko yang sejenis
membuat Bapak Saiman kewalahan dalam mengelola tokonya tersebut.
Namun dengan jeri payahnya yang kukuh Bapak Saiman mampu mengelola
tokonya dan bersaing dengan toko-toko sepeda lainnya. Pada tahun 2010
perkembangan toko sepeda Hidayah meningkat sangat pesat dan hingga
sampai sekarang banyak sekali konsumen sepeda yang memilih toko hidayah
dalam membeli sepeda, karena toko sepeda Hidayah merupakan toko atau
dealer resmi sepeda polygon.

Mengenai latar belakang berdirinya toko sepeda hidayah di jepara di


awali karena adanya beberapa faktor yang mendukung seperti :

a. Letaknya yang strategis karena dekat dengan jalan raya.

b. Dekat dengan pasar dan terminal.

c. Tinginya atau banyaknya permintaan sepeda didaerah jepara.

4.1.2 Struktur Organisasi


Struktur organisasi adalah suatu mekanisme-mekanisme formal dengan
mana organisasi dikelola. Struktur organisasi menunjukkan kerangka dan
susunan perwujudan pola tetap hubungan – hubungan diantara fungsi-fungsi
bagian-bagian, atau posisi-posisi maupun orangorang yang menunjukkan
kedudukan tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam
suatu organisasi dimana didalamnya terdapat pemimpin,wakil pemimpin,
serta karyawan yang setiap masingmasing mempunyai kedudukan tertentu
dan kesatuan yang utuh (T.Hani Handoko, 1995 : 169).

Adapun stuktur organisasi yang ada pada toko sepeda Hidayah

Jepara adalah sebagai berikut :


34

Gambar 4.1

Struktur Organisasi Toko Hidayah


Jepara

Pemilik Toko

Keuangan / Kasir Karyawan /Tekhnisi

Sumber : Toko Sepeda Hidayah Jepara 2013

Keterangan dari pembagian tugas dan wewenang yang terdeskripsi pada


struktur organisasi toko sepeda Hidayah Jepara adalah sebagai berikut :

1. Pemilik toko

Tugas dan tanggung jawab pemilik toko :

a. Memimpin dan mengkoordinasi semua kegiatan atau aktivitas toko agar

dapat berjalan dengan baik.

b. Mengecek dan mengurusi semua semua barang atau stok yang ada di

toko.
35

c. Menciptakan hubungan kerja yang baik antara bawahan dan para

pelanggan.

2. Bagian keuangan atau kasir

Tugas dan tanggung jawab bagian keuangan atau kasir :

a. Melayani pembayaran atas transaksi pembelian

b. Mengelola keuangan toko,mengatur keuangan toko terutama pendapatan

toko

c. Membuat dan menyusun laporan keuangan tiap bulan dan tiap tahun.

3. Karyawan

Tugas dan tanggung jawab karyawan :

a. Melayani konsumen

b. Membersihkan dan merapikan barang dalam toko

c. Menservise barang yang ada di toko atau teknisi


36

4.2 Gambaran Umum Responden


Gambaran umum responden yang akan dibahas disini diperoleh dari
penelitian yang dilakukan pada 96 responden. Pengumpulan data dari penelitian
mengenai variabel merek, kualitas produk dan promosi yang mempengaruhi minat
konsumen dalam membeli sepeda polygon di toko hidayah dilakukan dengan cara
menyebar kuesioner dan wawancara secara langsung untuk memperoleh data atau
informasi yang relevan dengan permasalahan yang diteliti. Dalam pembahasan ini
disajikan data mengenai responden yaitu sebagai berikut :

4.2.1 Persebaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin


Dari hasil persebaran responden dapat dilihat jumlah responden
berdasarkan jenis kelamin sebagai berikut :

Table 4.1

Persebaran Responden Berdasarkan


Jenis Kelamin
Jenis kelamin jumlah Persentase (%)

Laki-laki 73 76,04

Perempuan 23 23,95

Jumlah 96 100

Sumber ; Data primer yang diolah 2013

Dari Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa jenis kelamin responden yang
paling banyak adalah laki – laki yaitu sebanyak 73,dan selisih cukup banyak
dengan responden perempuan. Dari data ini menunjukkan bahwa banyaknya
konsumen laki- laki yang datang ke toko Hidayah untuk membeli sepeda
maupun asesoris sepeda khususnya merek polygon. Karena laki – laki
cenderung lebih suka bersepeda untuk berolahraga dan digunakan sebagai
transportasi jarak dekat, dibandingkan dengan perempuan kebanyakan tidak
suka bersepeda karena mungkin akan merasa gerah dan berkeringat.
37

4.2.2 Persebaran Responden Berdasarkan Umur


Umur responden dalam penelitian ini bermacam-macam. Untuk
memudahkan penelitian ini maka umur responden dikelompokan dalam
beberapa tingkatan, selanjutnya dapat dilihat pada table 4.2 sebagai berikut:

Table 4.2

Persebaran Responden Berdasarkan


Umur
Umur Jumlah Persentase (%)

15 – 20 15 15,62

21 – 25 21 21,87

26 – 30 21 21,87

31 – 35 19 19,79

≥ 36 20 20,83
jumlah 96 100

Sumber : Data primer yang diolah 2013

Pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 96 responden, sebagian besar


respondennya adalah yang berusia 21 - 25 dan 26 - 30 karena usia tersebut
merupakan usia produktif, tenaga masih kuat dan kebanyakan pada lebih suka
menggunakan sepeda untuk sekedar jalan – jalan( hang out) bersama teman.

4.2.3 Persebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan


Pendidikan yang telah ditempuh oleh responden toko sepeda

Hidayah berbagai macam, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.3
Table 4.3

Persebaran Responden Berdasarkan


Tingkat Pendidikan
38

Tingkat pendidikan jumlah Persentase (%)

Tamat SD 8 8,33

Tamat SMP 21 21,87

Tamat SMA 51 53,12

Tamat S1 16 16,66
Jumlah 96 100

Sumber : Data primer yang diolah 2013

Dalam tabel diatas sebagian besar responden berpendidikan terakhir


SMA yaitu sebanyak 51. Dengan pendidikan yang cukup ini akan membuat
konsumen lebih respon dan tertarik untuk memilih produk mana yang akan
dibeli dan digunakan. Pada penelitian ini rata-rata responden yang
berpendidikan terakhir SMA lebih memilih polygon sebagai sepeda pilihannya
karena mereka sudah mengantongi info bahwa sepeda polygon merupakan
sepeda yang berkualitas dikalangan sepeda.

4.3 Deskripsi Variabel


Pada penelitian ini terdapat 4 (empat) variabel, yang terdiri dari satu variabel
terikat yaitu Minat Beli (Y) dan tiga variabel bebas yaitu Merek (X₁),

Kualitas Produk (X₂), dan Promosi (X₃).


4.3.1 Variabel Merek
Analisis deskriptif jawaban responden tentang variabel merek
didasarkan pada jawaban responden dari pertanyaan – pertanyaan yang
terdapat pada kuesioner yang telah disebarkan dan diisi oleh responden.

Hasil jawaban responden dapat dilihat pada table 4.4 sebagai berikut :

TABEL 4.4
Distribusi jawaban masing-masing pernyataan pada variabel merek

pertanyaan Skor jumlah


39

STS TS N S SS (%)
(1) (2) (3) (4) (5)
Merupakan merek
terpercaya 0 0 1.00 72.00 27.00 100

Identitas merek
mudah dikenali 0 0 4.00 68.00 28.00 100

Merupakan merek
terkenal 0 0 5.00 77.00 18.00 100

jumlah rata-rata 0 0 33.3 72.33 24.33 100

Sumber data : hasil data yang diolah, 2013

Pada table 4.4 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden
menjawab beberapa pertanyaan pada variabel merek (X₁) dengan jawaban
setuju (4) yaitu sebesar 72,33 persen. Yang paling dominan mempengaruhi
minat beli adalah indikator yang ketiga yaitu “merupakan merek terkenal”
sebesar 77,00 persen. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa merek
merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi konsumen terhadap
minat untuk membeli dan menggunakan sepeda polygon.

4.3.2 Variabel Kualitas Produk


Analisis deskriptif jawaban responden tentang variabel kualitas produk
didasarkan pada jawaban responden dari pertanyaan – pertanyaan yang
terdapat pada kuesioner yang telah disebarkan dan diisi oleh responden. Hasil
jawaban responden dapat dilihat pada table 4.5 sebagai berikut :

TABEL 4.5

Distribusi jawaban masing-masing


pernyataan pada variabel
kualitas produk
pertanyaan Skor jumlah
40

STS TS N S SS (%)
(1) (2) (3) (4) (5)
Daya tahan
sebuah produk 1.00 0 2.00 85.00 12.00 100

Kinerja sebuah
produk 1.00 0 6.00 90.00 3.00 100

Fitur produk 0 0 8.00 87.00 5.00 100

jumlah rata-
rata 0.66 0 5.33 87.33 6.66 100

Sumber data : hasil data yang diolah, 2013

Pada table 4.5 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden
menjawab beberapa pertanyaan pada variabel kualitas produk (X₂) dengan
jawaban setuju (4) yaitu sebesar 87,33 persen. Indikator yang paling dominan
mempengaruhi minat beli pada variabel kualitas produk ini adalah “kinerja
sebuh produk” yaitu sebesar 90,00 persen. Dari data tersebut dapat
disimpulkan bahwa kualitas produk merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi konsumen terhadap minat untuk membeli dan menggunakan
sepeda polygon.

4.3.3 Variabel Promosi


Analisis deskriptif jawaban responden tentang variabel promosi
didasarkan pada jawaban responden dari pertanyaan – pertanyaan yang
terdapat pada kuesioner yang telah disebarkan dan diisi oleh responden.

Hasil jawaban responden dapat dilihat pada table 4.6 sebagai berikut :

TABEL 4.6

Distribusi jawaban masing-masing pernyataan


pada variabel promosi
pertanyaan Skor jumlah
41

STS TS N S SS
(1) (2) (3) (4) (5)
(%)
Aktivitas pemberian
hadiah 0 0 17.00 54.00 29.00 100

Aktivitas kontak langsung


dengan
konsumen 0 0 4.00 59.00 37.00 100

Kualitas dan kuantitas


penyampaian pesan
dalam media promosi 0 0 10.00 62.00 28.00 100

jumlah rata-rata 0 0 10.33 58.33 31.33 100

Sumber data : hasil data yang diolah, 2013


Pada table 4.6 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden
menjawab beberapa pertanyaan pada variabel kualitas produk (X3) dengan
jawaban setuju (4) yaitu sebesar 58,33 persen. Indikator yang paling dominan
berpengaruh terhadap minat beli pada variable promosi adalah

“kualitas dan kuantitas penyampaian pesan dalam media promosi” sebesar 62,00 persen.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pomosi yang dilakukan oleh polygon telah
sampai kepada konsumen dan cara penyampaiannya mudah dipahami. Sehingga pesan
atau tayangan iklan yang disampaikan kepada konsumen dapat melekat dalam benak
konsumen.

4.3.4 Variabel Minat Beli


Analisis deskriptif jawaban responden tentang variabel minat beli
didasarkan pada jawaban responden dari pertanyaan – pertanyaan yang
terdapat pada kuesioner yang telah disebarkan dan diisi oleh responden.

Hasil jawaban responden dapat dilihat pada tabel 4.7 sebagai berikut :
42

TABEL 4.7
Distribusi jawaban masing-masing pernyataan pada variabel minat
beli

pertanyaan Skor jumlah


(%)
STS TS N S SS
(1) (2) (3) (4) (5)

Minat beli 0 0 21.00 70.00 9.00 100

Keyakinan membeli 0 1.00 3.00 45.00 51.00 100

Pertimbangan manfaat 0 1.00 6.00 37.00 56.00 100

jumlah rata-rata 0 0.66 10.00 50.66 38.66 100


Sumber data : hasil data yang diolah, 2013

Pada table 4.7 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden
menjawab beberapa pertanyaan pada variabel minat beli (Y) dengan jawaban
setuju (4) yaitu sebesar 50,66 persen. Indikator yang paling dominan
berpengaruh pada variabel ini adalah minat untuk membeli yaitu sebesar 70,00
persen. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa tingginya minat konsumen
dalam membeli sepeda polygon.

4.4 Analisis Data


Untuk melakukan pengujian terhadap hipotesis yang telah diungkapkan pada
bab sebelumnya dilakukan dengan analisis statistik. Hal ini dilakukan, karena data
yang ada merupakan data sampel, sehingga untuk membuat suatu kesimpulan yang
dapat dijadikan ukuran terhadap parameter dalam populasi perlu dilakukan
pengujian secara statistik.analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis regresi berganda (multiple regression analysis), karena ada lebih dari satu
variabel bebas.
43

4.4.1 Uji Validitas


Validitas data merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat
kevalidan atau kebenaran suatu instrument (Suharsimi arikunto, 1998; 160).
Instrument yang valid memiliki validitas yang tinggi. Instrument yang valid
apabila mampu mengukur apa yang diinginkan, mampu

mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat.

Dari perhitungan validitas kuesioner yang dilakukan diperoleh hasil


perhitungan bahwa variabel atau faktor dikatakan valid apabila mempunyai r
hitung lebih besar dari r tabel. Uji validitas dilakukan dengan membandingkan
nilai r hitung (corrected item total correlation)dengan r tabel untuk degree of
freedom (df) = n -2 dalam hal ini n adalah jumlah sampel dalam penelitian ini
yaitu (n)=96, maka besarnya df dapat dihitung 96-2=94 dengan df 94 dan alpha
0,05 ,didapat rtabel = 0,202 (dengan melihat rtabel pada df =94 dengan uji satu
sisi).Jika nilai rhitung lebih besar daripada rtabeldan bernilai positif, maka butir
pertanyaan per indikator tersebut dinyatakan valid.

Tabel 4.8

Pegujian Validitas Variabel-variabel


penelitian
Variabel Item/kode r hitung r tabel Keterangan
Merek (X1) X11 0.474 0.202 Valid
X12 0.527 0.202 Valid
X13 0.480 0.202 Valid
Kualitas X21 0.419 0.202 Valid
Produk X22 0.573 0.202 Valid
(X2) X23 0.460 0.202 Valid
Promosi (X3) X31 0.386 0.202 Valid
X32 0.510 0.202 Valid
X33 0.427 0.202 Valid
Minat Beli X41 0.575 0.202 Valid
44

(X4) X42 0.571 0.202 Valid


X43 0.526 0.202 Valid
Sumber : Data primer 2013 yang diolah dengan SPSS 16.0

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa pertanyaanpertanyaan


pada variabel independen (merek, kualitas produk, promosi) dan variabel
dependen (minat beli) memiliki rhitung (correcteed item total correlation) > dari
pada rtabel, maka dapat disimpulkan bahwa keseluruhan item pertanyaan atau
indikator yang terdapat dalam seluruh variabel tersebut adalah valid.

4.4.2 Uji Reliabilitas


Uji reliabilitas adalah dipakai untuk mengukur tingkat kepercayaan alat
tes (instrument). Instrument dapat memiliki tingkat kepercayaan yang
konsisten. Dalam penelitian ini reliabilitas akan diukur dengan menggunakan
tehnik alpha. Variabel disebut reliabel jika nilai alpha >0,60 yang berarti
reliabel. Perhitungan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.9 dibawah ini :

Tabel 4.9

Pengujian Reliabilitas

Variabel Nilai 0.60 Kesimpulan


cronbach’s
Alpha
Merek X1 0.683 > 0.60 Reliabel
Kualitas Produk X2 0.666 > 0.60 Reliabel
promosi X3 0.631 > 0.60 Reliabel
Minat Beli Y 0.736 > 0.60 Reliabel
Sumber : Data primer 2013 yang diolah dengan SPSS 16.0

Hasil pengujian menunjukkan nilai cronbach alpha dari keseluruhan


variabel adalah lebih besar dari 0.60, sehingga dapat disimpulkan bahwa
variabel yang digunakan adalah reliabel.
45

4.4.3 Analisis Regresi Berganda


Pengujian hipotesis penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
model matematis analisis regresi berganda secara matematis dengan
menggunakan bantuan program SPSS sebagai berikut :

Table 4.10

Persamaan Regresi
Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.


1 (Constant) -.391 1.112 -.351 .726

Merek .448 .051 .482 . 8.862 .000 .


KualitasProduk 019 678
.032 .076 .416

Promosi .569 .057 .543 10.014 .000


a. Dependent Variable:MinatBeli
Sumber : Data primer 2013 yang diolah dengan SPSS 16.0
Dalam penelitian ini digunakan hasil uji regresi yang unstandardized,
berarti regresi dihasilkan dengan menggunakan variabel biasa serta tetap
menggunakan unit skala dan ukuran aslinya.

Berdasarkan hasil perhitungan analisis regresi dapat dimasukkan ke


dalam persamaan regresi sebagai berikut :

Y = -0,391 + 0,448 X1 + 0,032 X2 + 0,569 X3


46

Keterangan : Y

: Minat Beli

a : Constanta

X₁ : Merek

X₂ : Kualitas Produk

X₃ : Promosi
Dari persamaan regresi diatas dapat diketahui koefisien persamaan
regresi adalah positif. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Variabel independen merek (X 1) berpengaruh positif terhadap minat beli ( Y )

dengan nilai koefisien sebesar 0,448 dan sig.0,000.

2. Variabel independen kualitas produk (X 2) berpengaruh positif terhadap minat

beli ( Y ) dengan nilai koefisien sebesar 0,032 dan sig. 0,678.

3. Variabel independen Promosi (X3) berpengaruh positif terhadap keputusan

minat beli ( Y ) dengan nilai koefisien sebesar 0,569 dan sig.

0,000.

4.4.4 Analisis Koefisien Determinasi ( R Square)


Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui prosentase
perubahan variabel dependen (Y) yang disebabkan oleh variabel independent,
yaitu merek (X1), kualitas produk (X2), dan promosi (X3). Nilai R Square
digunakan untuk mengetahui besarnya hitungan antara variabel depependen
( merek, kualitas produk dan promosi) dan variabel independen (minat beli).
47

Tabel 4.11

b
Model Summary

Adjusted Std. Error of the


Model R R Square R Square Estimate
a
1 .897 .805 .799 .55877
a. Predictors: (Constant), Pr omosi, KualitasProduk, Merek
Koefisien
Determinasi

b. Dependent Variable: MinatBeli


Sumber : Data primer 2013 yang diolah dengan SPSS 16.0

Dari tabel koefisien determinasi (R2) diatas menunjukan besarnya R2


adalah 0,805 hal ini berarti 80,5 persen variasi minat beli dapat dijelaskan oleh
variasi dari ketiga variabel independen yaitu merek, kualitas produk, dan
promosi. Sedangkan sisanya sebesar 19,5 persen ( 100 -80,5) persen dijelaskan
oleh sebab-sebab lain diluar model atau minat beli dipengaruhi oleh variabel-
variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Misalnya : harga, lokasi
penjualan, pelayanan, dll.

Standar eror of the estimate SEE dari tabel diatas sebesar 0,55877
semakin kecil nilai SEE , maka membuat persamaan regresi makin tepat dalam
memprediksi variabel dependen.
48

4.4.5 Uji F
Pengujian secara simultan dalam analisis regresi dilakukan dengan
analisis ragam (ANOVA – Analisis OF variance) menggunakan uji statistik F. Hasil
pengujiannya diperoleh hasil tabel 4.12 :

Tabel 4.12

Pengujian Simultan

ANOVAb

Sum of Mean
Model Squares df Square F Sig.
1 Regression
118.608 3 39.536 126.625 .000a

Residual 28.725 92 .312

Total 147.333 95
a. Predictors:(Constant),Promosi,KualitasProduk,Merek
b. Dependent Variable: MinatBeli
Sumber : data primer 2013 yang diolah dengan SPSS 0.16

Dari uji ANOVA atau uji F diatas dapat nilai F hitung sebesar 126,625
dengan signifikan 0,000. Karena Fhitung 126,625 > Ftabel 2,76 dan probabilitas jauh
lebih kecil dari 0,05 maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi
keputusan pembelian (variabel dependent) atau dapat dikatakan bahwa
seluruh variabel independent yaitu merek, kualitas produk, dan promosi secara
bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependent yaitu minat beli
sepeda polygon.
Sedangkan gambar untuk penolakan Ho dan peneriman Ha adalah
sebagai berikut :
49

Daerah Penolakan Ho

Daerah penerimaan Ha

F tabel=2,76 F hitung=126,625

Gambar 4.2

Uji Simultan (Uji F)

4.4.6 Uji t (Uji Parsial)


Uji statistik t digunakan untuk mengetahui variabel independent
(merek, kualitas produk, promosi ) secara individual mempengaruhi minat beli.
Nilai ttabel dalam penelitian ini adalah 1.671 (dengan melihat t tabel pada tingkat
signifikan 0,05). Berdasarkan olah data SPSS diperoleh nilai t hitung beserta angka
sinifikansinya sebagaimana tabel 4.13. berikut :

Tabel 4.13

Pengujian parsial
50

Sumber : data primer 2013 yang diolah dengan SPSS 16.0

Hasil analisis uji t diatas diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut


:

1. Nilai thitung variabel merek (X1) adalah 8,862 dengan tingkat

signifikansi 0,000 , karena nilai thitung 8,862 > nilai ttabel 1,66 , maka Ha
diterima dan Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa variabel merek secara
individual berpengaruh signifikan terhadap minat beli. Berikut adalah
gambar signifikansi uji dua sisi untuk variabel merek :

Daerah Penerimaan Ha daerah penolakan Ho

0 1,66 8,862

Gambar
4.3 Uji
untuk
Merek

Pada gambar diatas dapat diketahui bahwa hipotesis pertama yang


menyatakan : “Diduga merek berpengaruh positif terhadap minat
beli”, diterima.

2. Nilai thitung kualitas produk (X2) adalah 0,416 dengan tingkat signifikansi
0,678 , karena nilai thitung 0,416 < nilai ttabel 1,66, maka Ha ditolak dan
Ho diterima. Hal ini berarti bahwa variabel kualitas produk secara
individual tidak berpengaruh signifikan terhadap minat beli .
51

Berikut adalah gambar signifikansi uji dua sisi untuk variabel kualitas
produk :

Daerah Daerah
Penerimaan Ho Penolakan Ha

0 1,66 0,416

Gambar 4.4
Uji untuk kualitas produk
Pada gambar diatas dapat diketahui bahwa hipotesis kedua yang
menyatakan : “Diduga kualitas produk berpengaruh positif

terhadap minat beli”, ditolak.

3. Nilai thitung variabel promosi (X3) adalah 10,014dengan tingkat signifikansi


0,000, karena nilai thitung 10,014 > nilai ttabel 1,66, maka Ho ditolak dan
Ha diterima. Hal ini berarti bahwa variabel promosi secara individual
berpengaruh signifikan terhadap minat beli. Berikut adalah gambar
signifikansi uji dua sisi untuk variabel promosi :

Daerah Daerah
Penerimaan Ha Penolakan Ho

` 0 1,66 10,014
Gambar 4.5
Uji untuk Promosi
52

Pada gambar diatas dapat diketahui bahwa hipotesis ketiga yang


menyatakan : “Diduga promosi berpengaruh positif terhadap minat
beli ”, diterima.

4.5 Pembahasan
Persamaan regresi Y= -0,391 + 0,448 X1 + 0,032 X2 + 0,569 X3 berarti
menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi untuk variabel merek, kualitas produk dan
promosi semuanya berpengaruh positif, dengan keterangan bahwa variabel merek
(X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli, sedangkan variabel
kualitas produk (X2) berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap minat beli,
dan variabel promosi (X3) berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli.

Pada uji hipotesis F karena Fhitung 126.625 > Ftabel 2,76 dan nilai signifikan =
0,000 < 0,05 maka Ho berada pada daerah penolakan sehingga menerima Ha, berarti
bahwa secara bersama-sama variabel independen (merek, kualitas produk, dan
promosi) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (minat
beli).

Uji hipotesis t, untuk variabel merek (X1) karena nilai thitung 8,862 > nilai ttabel
1,66 dan nilai signifikan 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan Ha diterima sedangkan
Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa merek terbukti berpengaruh positif dan signifikan
terhadap minat beli. Untuk variabel kualitas produk (X 2) karena nilai thitung 0,416 < nilai
ttabel 1,66 dan nilai signifikan 0,678 > 0,05 maka dapat disimpulkan Ha ditolak dan Ho
diterima. Hal ini berarti bahwa variabel kualitas produk terbukti berpengaruh positif
namun tidak signifikan terhadap minat beli.

Untuk variabel promosi (X3) dengan nilai thitung 10,014 > nilai ttabel 1,66 dan signifikan 0,000
< 0,05 maka dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti bahwa variabel
promosi terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli.

Dari ketiga variabel independen tersebut dapat disimpulkan bahwa yang


berpengaruh dominan terhadap minat beli sepeda polygon adalah variabel

promosi yaitu thitung 0,569 dengan signifikansi 0,000 .


53

Dari tabel koefisien determinasi (R2) menunjukan besarnya R2 adalah 0,805


hal ini berarti 80,5 persen variasi minat beli dapat dijelaskan oleh variasi dari ketiga
variabel independen yaitu merek, kualitas produk, dan promosi. Sedangkan sisanya
sebesar 19,5 persen ( 100 -80,5) persen dijelaskan oleh sebabsebab lain diluar model
atau minat beli dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam
penelitian ini. Misalnya : harga, lokasi penjualan, pelayanan, dll

BAB V

PENUTUP
54

Berdasarkan hasil analisis data yang penulis lakukan dan uraian dalam bab
sebelumnya dan sesuai dengan pengajuan hipotesis, maka dalam bab ini akan diambil
kesimpulan dan saran

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian pada konsumen sepeda polygon ditoko Hidayah
Jepara tentang pengaruh merek, kualitas produk dan promosi terhadap minat beli
maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

5.1.1 Berdasarkan perhitungan thitung variabel promosi (X3) nilai thitung 10,014 > nilai ttabel
1,66, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Dapat diartikan bahwa variabel
promosi secara individual berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat
beli. Hal ini dikarenakan promosi yang dilakukan melalui media iklan mampu
menarik minat konsumen untuk membeli dan memilih sepeda polygon. Dapat
diartikan bahwa semakin gencar promosi yang dilakukan maka semakin
meningkat signifikan minat beli oleh konsumen.

5.1.2 Berdasarkan perhitungan thitung variabel merek (X₁) dapat disimpulkan secara
parsial variabel merek 8,862 < nilai ttabel 1,66, maka Ha diterima dan Ho
ditolak. Dapat diartikan bahwa variabel merek secara individual berpengaruh
positif dan signifikan terhadap minat beli. Hal ini dikarenakan merek sepeda
polygon sudah banyak dikenal oleh masyarakat luas. Dengan hanya melihat
logo (identitas) nya yang khas dan unik saja, orang akan tau bahwa sepeda
tersebut adalah bermerek polygon. Jadi dapat diartikan semakin banyak
orang (konsumen) yang mengenal sepeda dengan merek polygon, maka akan
semakin meningkat signifikan minat beli konsumen terhadap sepeda polygon.

5.1.3 Berdasarkan perhitungan thitung variabel kualitas produk (X₂) nilai thitung 0,416 <
nilai ttabel 1,66, maka Ha ditolak dan Ho diterima. Dapat diartikan bahwa
variabel kualitas produk secara individual berpengaruh positif namun tidak
signifikan terhadap minat beli . Hal ini karena kualitas produk produk polygon
yang terkadang kurang baik sehingga mengecawakan konsumen. Misal, baru
beberapa hari setelah pembelian sepeda sudah ada bagian –bagian yang
rusak atau tidak berfungsi seperti pada rem, operan, dan terkadang rantai
sepeda yang sering lepas. Hal tersebut membuat konsumen kecewa pada
kualitas produk sepeda polygon. Dapat diartikan apabila kualitas produk
semakin baik maka akan meningkat signifikan minat beli konsumen terhadap
sepeda polygon.
55

5.2 Saran
5.2.1 Mengenai promosi, hendaknya Toko Hidayah lebih gencar dalam
mempromosikan produknya kepada masyarakat (konsumen). Misalnya :
mengikuti event – event yang berhubungan dengan sepeda memberikan
souvenir (kaos, topi, botol tempat minum, dll ) kepada konsumen yang
membeli produk sepedanya.

5.2.2 Mengenai merek, hendaknya Toko Hidayah Jepara lebih aktif dan gencar dalam
memperkenalkan merek produknya kepada masyarakat (konsumen), hal
tersebut dapat dilakukan dengan cara memasang iklan dimedia cetak, serta
melakukan kontak langsung dengan konsumen untuk memperkenalkan
merek (brand) nya kepada masyarakat luas.

5.2.3 Mengenai kualitas produk, hendaknya Toko Hidayah Jepara tetap


memperhatikan dan menjaga kualitas produknya, terutama pada atribut -
atribut dari sepeda. Hendaknya toko hidayah selalu mengecek produk sepeda
– sepeda yang ada ditokonya, sebelum jatuh ketangan konsumen.

Misalnya mengecek pada bagian rem sepeda apakah masih berfungsi


dengan baik atau tidak, operan apakah dalam kondisi stabil dan masih
berfungsi atau tidak, pada bagian rantai apakah keadaan rantai masih bagus
atau kendor. Agar kualitas produk sepeda polygon tetap terjaga dan tidak
membuat konsumen merasa kecewa.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto,Suharsimi, 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekata Praktek.Penerbit :


Rineka Cipta, Jakarta.

Kotler,Philip.2002.Manajemen Pemasaran.Alih Bahasa :Hendra Teguh, Ronny A.rusli Dan


Bunyamin Molan.Edisi Millennium 2.Jakarta:Prenhalindo.
56

Kotler,Philip.1996.Manajemen Pemasaran : Prencanaan Dan Pengendalian. Edisi

Kelima. Jakarta.

Kotler, Philip, 1997, Manajemen Pemasaran (analisis, perencanaan, implementasi dan


pengendalian), Edisi sembilan, Jakarta.

Kotler, Phillip. 2005. Manajemen Pemasaran. Jilid 1. Jakarta: PT Indeks Kelompok

Gramedia.

Swastha, B dan Irawan. 2002. Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta:

Liberty.
Jogiyanto. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis : Salah Kaprah dan
Pengalamanpengalaman, BPFE UGM, Yogyakarta

Purbayu B. Santoso dan Ashari. 2003. Stratistik : Teori dan Aplikasi dengan
Program MS. Excel & SPSS versi 11. Universitas Diponegoro, Semarang.

Ghozali,Imam. 2001. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program

SPSS.Yogyakarta : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Mowen, John C., Consumer Behavior, Macmillan Publishing Company, Newyork, 1990

Indrianto,Nur dan Bambang Supomo. 2002. Metode Penelitian Bisnis : Untuk


Akuntansi Dan Manajemen. Edisi Pertama. BDFE,Yogyakarta.

Rao Purba. 1996, Measuring Consumer Perseption Through Factor Analysis, The

Asian Manager.

Loudon dan Della bitta ,1993. Consumer Behavior,Prentice Hall


57

Supranto, J. 2003. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan Untuk Menaikkan

Pangsa Pasar, PT.Rineka Cipta, Jakarta.

Sugiyono, 2007. Metode Penelitian Bisnis, Alfabeta, Bandung.


Sulistyari,Ikanita.2012.Skripsi.Analisis Pengaruh Citra Merek, Kualitas Produk, Dan

Harga Terhadap Minat Beli Produk Oriflame.Universitas

Diponegoro,Semarang.

Liriswati, Anita dan Albari, 2004, “Analisis Minat Beli Konsumen Sabun Cair Lux, Biore,

dan Lifeboy di Kotamadya Yogyakarta”, Jurnal Siasat Bisnis, No.9

Vol.2, 215-239
Lampiran 1

KUESIONER PENELITIAN

PENGARUH MEREK,KUALITAS PRODUK DAN PROMOSI TERHADAP MINAT BELI


SEPEDA POLYGON

(Studi Kasus Pada Konsumen Sepeda Polygon Di Toko Hidayah Jepara)

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen sepeda polygon pada toko
Hidayah Jepara.dalam kegiatan ini penulis mengadakan penelitian yang obyeknya adalah sepeda
polygon. Mohon kesediaan Bapak/Ibu/Saudara untuk mengisi daftar pertanyaan dibawah ini.
Mengenai identitas dan kerahasiaan data Bapak/Ibu/Saudara dapat terjamin kerahasiaannya.

A. IDENTITAS RESPONDEN
1. Nama (jika berkenan) :……………………………….
2. Alamat :……………………………….
3. Usia :……………………………….
4. Jenis kelamin : laki-laki/perempuan
5. Pendidikan :
a. Tamat SD
b. Tamat SMP
c. Tamat SMA
d. Sarjana

B. Tentukan pendapat anda dengan cara memberikan tanda (X) / menyilang salah satu
kolom sebagai jawaban yang sesuai dengan pendapat Bapak/Ibu/Saudara. a. Sangat
setuju (SS)

b. Setuju (S)
c. Netral (N)
d. Tidak setuju (TS)
e. Sangat tidak setuju (STS)
DAFTAR PERTANYAAN

Page | 1
1. Variable Merek (X1)

No. pertanyaan SS S N TS STS


1. Menurut bapak/ibu/saudara polygon merupakan
merek sepeda yang dipercaya oleh masyarakat
sebagai produk sepeda yang bagus sejak dulu hingga
sekarang

2. Menurut bapak/ibu/saudara identitas atau


logo(simbol) merek sepeda polygon mudah dikenali
diantara beberapa merek sepeda yang lainnya

3. Menurut bapak/ibu/saudara polygon merupakan


merek yang terkenal dikalangan sepeda sehingga
bapak/ibu/saudara berminat untuk membelinya

2. Variabel kualitas produk (X2)

No. Pertanyaan SS S N TS STS


1. Menurut bapak/ibu/saudara kualitas produk sepeda
polygon tahan lama/tidak mudah rusak

2. Menurut bapak/ibu/saudara performance atau


tampilan sepeda polygon baik dan berkualitas

3. Menurut bapak/ibu/saudara fitur atau atribut


(oper,cakram,dll) yang terdapat pada sepeda polygon
mudah dalam pengoprasiannya/penggunaanya

3. Variabel Promosi (X3)

No. pertanyaan SS S N TS STS

Page | 2
1. Menurut bapak/ibu/saudara polygon pernah
melakukan promosi dan memberikan hadiah/souvenir
kepada bapak/ibu/saudara

2. Menurut bapak/ibu/saudara polygon pernah


mempromosikan produknya secara langsung kepada
bapak/ibu/saudara sehingga menimbulkan rasa minat
untuk membeli sepeda polygon

3. Menurut bapak/ibu/saudara media promosi yang


digunakan polygon melalui media cetak, reklame,
maupun melalui media televisi dapat mampu
mempengaruhi minat bapak/ibu/saudara untuk
membeli sepeda polygon

4. Variabel Minat Beli Konsumen (Y)

No. pertanyaan SS S N TS STS


1. Menurut bapak/ibu/saudara faktor merek yang sudah
ternama,kualitas produknya yang bagus serta promosi
yang dilakukan dapat mempengaruhi minat untuk
membeli suatu produk

2. Menurut bapak/ibu/saudara perlu keyakinan dan


kepercayaan terhadap suatu produk tersebut untuk
melakukan pembelian

3. Menurut bapak/ibu/saudara perlu Pertimbangan


manfaat atau kegunaan apa yang akan di dapatkan
setelah membeli produk tersebut

~ TERIMAKASIH ~

Lampiran 2

Page | 3
Uji Validitas dan Reliabilitas
Case Processing Summary
N %
Cases Valid 96 100.0

Excludeda 0 .0
Total 96 100.0
a. Listwise deletion based on all variables in
the procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha Based
on
Cronbach's Standardized
Alpha Items N of Items
.750 .701 4

Item Statistics
Std. Deviation
Mean N
Merek 12.6250 1.33968 96
KualitasProdu 979
k 11. .75365 96
2
Promosi 12. 6354 1.18872 96
Minat eli 833 1.2453
12. 96
B 3 4

Inter-Item Correlation Matrix

Page | 4
KualitasProdu
k
Merek Promosi MinatBeli
Merek 1.000 .065 .528 .770
KualitasProdu
k .065 1.000 .003 .052

Promosi .528 .003 1.000 .798


MinatBeli .770 .052 .798 1.000

Item-Total Statistics
Scale Corrected Squared Cronbach's
Variance if Item-Total Multiple Alpha if Item
Scale Mean if
Item Deleted Correlation Correlation Deleted
Item Deleted
Merek 37.4479 5.997 .668 .613 .617
KualitasProdu k
38.0938 11.370 .046 .007 .872

Promosi 37.4375 6.712 .657 .655 .625


MinatBeli 37.2396 5.595 .853 .805 .488

Scale Statistics
Std.
Mean Variance Deviation N of Items
50.0729 12.174 3.48906 4

Uji Analisis Regresi Berganda


Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.


1 (Constant) -.391 -.351 .726

Page | 5
1.112
Merek .448 .051 .482 8.862 .000
KualitasProdu k
.032 .076 .019 .416 .678
Promosi
.569 .057 .543 10.014 .000
a. Dependent Variable: MinatBeli

Uji Koefisien Determinasi


Model Summaryb
Adjusted R Std. Error of
Model R R Square Square the Estimate

1 .897a .805 .799 .55877


a. Predictors: (Constant), Promosi, KualitasProduk, Merek
b. Dependent Variable: MinatBeli

Uji F (Uji SIMULTAN)


ANOVAb
Sum of
Model Squares df Mean Square F Sig.

Page | 6
1 Regression 118.608 3 39.536 126.625 .000a
Residual 28.725 92 .312
Total 147.333 95
a. Predictors: (Constant), Promosi, KualitasProduk, Merek
b. Dependent Variable: MinatBeli

Uji t (Uji PARSIAL)


Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.


1 (Constant) -.391 -.351 .726

1.112
Merek .448 .051 .482 8.862 .000
KualitasProdu k
.032 .076 .019 .416 .678
Promosi
.569 .057 .543 10.014 .000
a. Dependent Variable: MinatBeli Lampiran 3

TABULASI HASIL ANGKET PENELITIAN


No. Merek (X1) Kualitas Produk (X2) Promosi (X3) Minat Beli (Y)

1 2 3 jml 1 2 3 jml 1 2 3
jml 1 2 3 jml
1 4 5 5 14 4 4 4 12 4 5 5 14
4 5 4 13
2 4 4 4 12 4 4 4 12 5 4 5 14
4 5 5 14
3 4 4 4 12 4 4 4 12 5 5 4 14
4 5 5 14
4 4 4 4 12 4 4 4 12 4 5 4 13
4 5 4 13
5 4 5 4 13 4 4 4 12 4 4 5 13
3 4 4 11
6 5 5 4 14 4 4 4 12 4 5 4 13
4 5 5 14
Page | 7
7 4 4 4 12 4 4 4 12 5 5 3 13
4 5 5 14
8 4 5 4 13 4 4 4 12 5 4 4 13
3 4 4 11
9 5 4 4 13 4 4 4 12 3 4 5 12
4 5 5 14
10 4 4 4 12 4 4 4 12 4 4 4 12
4 5 5 14
11 4 4 4 12 4 4 4 12 4 4 4 12
3 4 5 12
12 4 5 5 14 4 5 4 13 5 5 5 15
4 5 4 13
13 4 4 4 12 4 4 4 12 5 5 4 14
4 5 5 14
14 4 4 4 12 4 4 4 12 3 4 4 11
4 4 5 13
15 4 4 4 12 4 4 4 12 4 4 3 11
3 4 5 12
16 4 3 4 11 4 4 4 12 3 4 4 11
4 4 4 12
17 4 4 4 12 4 4 3 11 3 4 5 12
3 5 5 13
18 4 4 4 12 4 4 4 12 4 5 4 13
4 5 5 14
19 4 4 4 12 4 4 4 12 4 4 4 12
4 5 5 14
20 4 4 4 12 4 4 4 12 5 5 5 15
4 5 5 14
21 4 4 4 12 4 4 4 12 3 4 4 11
4 5 5 14
22 4 4 5 13 5 4 4 13 4 4 4 12
5 4 4 13
23 5 5 4 14 4 4 4 12 5 4 5 14
3 3 3 9
24 4 3 3 10 5 1 3 9 3 4 5 12
5 4 3 12
25 4 4 4 12 5 5 5 15 3 3 3 9
4 4 4 12
26 5 4 5 14 4 4 4 12 4 4 4 12
4 4 4 12
27 5 3 5 13 5 4 3 12 5 4 4 13
4 4 5 13
28 5 5 4 14 5 4 3 12 3 4 4 11
4 4 4 12

Page | 8
29 5 4 4 13 3 3 4 10 4 5 4 13
4 4 4 12
30 5 4 3 12 1 3 5 9 4 5 5 14
4 5 3 12
31 4 4 3 11 5 4 4 13 3 4 5 12
4 3 2 9
32 3 5 4 12 4 5 4 13 5 3 4 12
4 4 5 13
33 5 4 5 14 4 4 4 12 4 5 4 13
5 4 3 12
34 5 4 4 13 4 3 4 11 4 3 4 11 5 2 3 10
35 4 5 4 13 5 4 4 13 4 5 4 13 5 4 4 13
36 4 4 4 12 4 4 4 12 4 4 5 13 3 4 4 11
37 4 4 4 12 4 3 5 12 5 4 5 14 5 4 3 12
38 4 3 4 11 5 4 5 14 4 5 4 13 5 4 4 13
39 4 4 4 12 4 4 4 12 3 4 4 11 4 5 4 13
40 5 5 4 14 4 4 5 13 4 4 4 12 4 3 4 11
41 4 4 4 12 4 4 4 12 5 3 4 12 3 4 4 11
42 4 4 4 12 4 4 4 12 4 4 4 12 4 5 5 14
43 4 4 4 12 4 4 4 12 4 4 4 12 5 5 5 15
44 4 4 4 12 4 4 4 12 5 5 5 15 4 5 5 14
45 4 4 4 12 4 4 4 12 4 5 4 13 4 4 4 12
46 5 4 3 12 4 4 4 12 4 4 3 11 4 5 5 14
47 4 4 4 12 4 4 4 12 5 4 4 13 4 4 4 12
48 4 4 4 12 4 4 4 12 4 4 5 13 4 4 4 12
49 5 5 4 14 4 4 4 12 4 5 4 13 4 5 5 14
50 4 4 5 13 4 4 4 12 4 4 5 13 3 4 5 12
51 4 4 4 12 4 4 4 12 4 5 4 13 4 4 4 12
52 5 5 5 15 4 4 4 12 3 4 5 12 3 4 5 12
53 4 4 3 11 4 4 4 12 4 5 4 13 4 5 5 14
54 4 5 4 13 4 4 4 12 5 5 3 13 4 4 4 12
55 4 4 4 12 4 4 4 12 4 5 4 13 4 4 4 12
56 4 4 4 12 4 4 4 12 3 4 4 11 4 5 5 14
57 4 4 4 12 4 4 4 12 4 4 3 11 4 5 5 14
58 4 4 4 12 4 4 4 12 5 4 4 13 4 5 5 14
59 5 5 5 15 4 4 4 12 5 4 5 14 4 5 5 14
60 4 4 4 12 4 4 4 12 3 4 5 12 4 5 5 14
61 4 5 4 13 4 4 4 12 3 4 4 11 5 5 5 15
62 4 4 4 12 4 4 4 12 4 4 4 12 4 5 5 14
63 5 5 4 14 4 4 4 12 5 5 4 14 4 5 5 14
64 4 4 4 12 5 4 4 13 4 4 5 13 4 4 4 12
65 5 5 5 15 5 4 4 13 5 5 4 14 4 5 5 14
66 4 4 4 12 4 4 4 12 4 5 4 13 4 5 5 14
Page | 9
67 4 4 4 12 4 4 4 12 5 4 5 14 4 4 4 12
68 5 5 4 14 4 4 4 12 4 5 4 13 4 5 4 13
69 4 5 5 14 4 4 4 12 4 4 5 13 4 5 5 14
70 5 5 5 15 4 4 4 12 5 5 4 14 4 5 5 14
71 4 4 4 12 4 4 4 12 4 4 5 13 4 5 5 14
72 5 5 5 15 4 4 4 12 4 5 4 13 4 5 5 14

Page | 10
73 4 4 4 12 4 4 4 12 3 4 5 12 3 5 5 13
74 4 4 4 12 4 4 3 11 4 4 5 13 3 4 4 11
75 4 5 4 13 4 4 4 12 5 4 4 13 4 5 5 14
76 4 4 4 12 3 3 4 10 4 5 4 13 4 5 5 14
77 4 4 4 12 5 4 4 13 4 4 4 12 3 5 5 13
78 4 4 4 12 4 4 4 12 4 4 4 12 3 4 4 11
79 5 4 4 13 4 4 4 12 5 5 4 14 4 5 5 14
80 4 4 4 12 4 3 4 11 4 4 4 12 4 4 5 13
81 4 4 4 12 4 4 3 11 4 4 4 12 4 4 4 12
82 4 4 4 12 4 4 4 12 5 4 4 13 3 5 5 13
83 5 4 5 14 4 4 4 12 3 4 4 11 4 5 5 14
84 4 4 4 12 4 4 4 12 4 4 4 12 4 4 4 12
85 5 5 5 15 4 4 4 12 4 5 4 13 4 5 5 14
86 4 4 4 12 4 4 4 12 4 5 3 12 4 4 4 12
87 4 4 4 12 4 4 4 12 5 5 4 14 3 5 5 13
88 4 5 4 13 4 4 4 12 4 4 5 13 3 5 5 13
89 4 4 4 12 4 4 4 12 5 4 3 12 3 4 4 11
90 4 4 4 12 4 4 4 12 4 5 3 12 4 4 4 12
91 5 5 5 15 4 4 3 11 4 4 4 12 3 4 4 11
92 4 4 4 12 4 4 4 12 5 4 5 14 4 5 5 14
93 5 5 5 15 4 4 4 12 4 4 4 12 3 4 4 11
94 4 4 4 12 4 4 4 12 4 5 4 13 4 4 5 13
95 5 5 4 14 4 4 4 12 4 5 4 13 4 5 5 14
96 4 4 4 12 4 4 4 12 5 4 4 13 4 4 5 13
Total 1212 1150 1213 1232
Sumber : data primer yang diolah 2012

Nilai r Product Moment

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 27


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

Taraf Signifikan Taraf Signifikan


N N
5% 1% 5% 1%
3 0,997 0,999 38 0,320 0,413
4 0,950 0,990 39 0,316 0,408
5 0,878 0,959 40 0,312 0,403

6 0,881 0,917 41 0,308 0,398


7 0,751 0,874 42 0,304 0,393
8 0,707 0,834 43 0,301 0,389
9 0,666 0,798 44 0,297 0,384
10 0,632 0,765 45 0,294 0,380

46
11 0,602 0,735 0,291 0,376
47
12 0,576 0,708 0,288 0,372
48
13 0,553 0,684 0,284 0,368
49
14 0,532 0,661 0,281 0,364
50
15 0,514 0,641 0,279 0,361

55
16 0,497 0,623 0,266 0,345
60
17 0,482 0,606 0,254 0,330
65
18 0,468 0,590 0,244 0,317
70
19 0,456 0,575 0,235 0,306
75
20 0,444 0,561 0,227 0,296
80
21 0,433 0,549 85 0,220 0,286
22 0,423 0,537 90 0,213 0,278
23 0,413 0,526 95 0,207 0,270
24 0,404 0,515 100 0,202 0,263
25 0,396 0,505 0,195 0,256
125
26 0,388 0,496 150 0,176 0,230
27 0,381 0,587 175 0,159 0,210
28 0,374 0,478 200 0,148 0,194
29 0,367 0,470 300 0,138 0,181
30 0,361 0,463 0,113 0,184
400
31 0,355 0,456 500 0,098 0,128
32 0,349 0,449 600 0,088 0,115
33 0,344 0,442 700 0,080 0,105
34 0,339 0,436 800 0,074 0,094
35 0,334 0,430 0,070 0,091
900
1000
36 0,329 0,424 0,065 0,086
37 0,323 0,418 0,062 0,081
Distribusi t Pada Beberapa Level Probabilitas

df Level signifikan, Uji satu ekor

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 28


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

.10 .05 .025 .01 .005 .0005


Level signifik an, Uji dua ek or
.20 .10 .05 .02 .01 .001
1 3.078 6.314 12.706 31.821 63.657 636.619
2 1.886 2.920 2.353 4.303 6.965 9.925 31.598
3 1.638 2.132 3.182 4.541 5.841 12.941
1.533 2.015 2.776 3.747 4.604
4 8.610
1.476 2.571 3.365 4.032
5 6.850
1.943 1.895
1.440 1.860 1.833 2.447 3.143 3.707
6 5.959
1.415 1.812 2.365 2.998 3.499
7 5.406
1.397 2.306 2.896 3.355
8 5.041
1.383 2.262 2.821 3.250
1.796 1.782 4.781
9 1.372 2.228 2.764 3.169
1.771 1.761 4.587
10
1.753
1.363 2.201 2.718 3.106 4.437
11 1.356 2.179 2.631 3.055
1.746 1.740 4.318
12 1.350 2.160 2.650 3.012
1.734 1.729 4.221
13 1.345 2.145 2.624 2.977
1.725 4.140
14 1.341 2.131 2.602 2.947 4.073
15
1.337 1.721 1.717 2.120 2.583 2.021
1.714 1.711 4.015
1.333 2.110 2.567 2.898
16 1.708 3.965
1.330 2.101 2.552 2.878
17 3.992
1.328 2.093 2.539 3.861
18 3.883
1.325 1.706 1.703 2.086 2.525 2.845
19 3.850
1.701 1.699
20 1.323 1.697
2.080 2.518 2.831 3.819
1.321 2.074 2.508 2.819 3.792
21 1.321 1.684 2.069 2.500 2.807 3.767
22 1.319 1.671 2.064 2.492 2.797 3.745
23 1.318 1.658 2.060 2.485 2.787 3.725
24 1.645
25 1.315 2.056 2.479 2.779 3.707
1.314 2.052 2.473 2.771 3.600
1.313 2.048 2.467 2.763
26 3.674
1.311 2.045 2.462 2.756
27 6.659
1.310 2.042 2.457 2.750
28 3.646
29 1.303 2.704
2.021 2.423 3.551
30 1.296 2.000 2.390 2.660
3.460
1.289 1.980 2.358 2.617
3.373
40 1.282 1.960 2.328 2.576
3.291
60
120
~
Sumber : Moh. Nazir, Ph. D, 2003. Metode Penelitian. Penerbit Ghalia Indonesia

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 29


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

JURNAL
TATA
LOKA;
VOLUME
13;
NOMOR 1;
FEBRUARI
2011
© 2011
Biro
Penerbit

Planologi UNDIP

T A T A
JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011
L O 30
K A
JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI KOTA YANG


BERWAWASAN LINGKUNGAN1

Artiningsih
Staff Pengajar Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Diponegoro
Email: artiningsih@gmail.com

Received : January 3, 2011 Accepted : February 16, 2011

Abstrak : Menciptakan kota berwawasan lingkungan dapat diupayakan dengan mengurangi volume
kendaraan, misalnya melalui penggunaan angkutan umum massal atau penggunaan kendaraan ramah
lingkungan. Penggunaan sepeda sebagai kendaraan ramah lingkungan di Jakarta, telah diinisiasi oleh
komunitas yang menerapkan gaya hidup berwawasan lingkungan, misalnya komunitas B2W (Bike to
Work). Sepeda menjadi pilihan menarik karena biaya operasionalnya yang murah, dan kesanggupan
memperpendek waktu tempuh di jalanan yang macet, serta kemampuannya bermanuver di sela-sela
kendaraan lain. Namun sekarang ini jalur khusus sepeda, maupun lahan parkir khusus sepeda di
perkotaan masih terbatas. Akibatnya, muncul ancaman terhadap keselamatan pengguna sepeda, karena
harus berkendara pada kondisi jalan tanpa pemisah jalur kendaraan bermotor dan tidak bermotor.
Akibatnya ada okupansi pedestrian menjadi jalur sepeda, yang akhirnya mengancam keselamatan pejalan
kaki. Banyak hal patut dipertanyakan. Apa urgensi jalur sepeda pada pengembangan infratruktur jalan di
perkotaan? Apakah kemudian upaya pengembangan jalur sepeda tidak akan menjadi hal yang kontra
produktif dalam penataan ruang? Mengingat, penciptaan kota berkelanjutan melalui perencanaan dan
pengelolaan sistem transportasi baru efektif jika terintegrasi dengan strategi pengelolaan penggunaan
lahan dan lingkungan. Alokasi jalur sepeda di perkotaan bukanlah upaya yang berdiri sendiri, namun
harus menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian strategi pembangunan
berkelanjutan yang dilakukan secara simultan.

Kata Kunci: Transportasi Berkelanjutan, Infrastruktur, Jalur Sepeda

1 Draft tulisan ini pernah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Perencanaan Wilayah dan Kota ITS,
Surabaya, 29 Oktober 2009 “Menuju Penataan Ruang Perkotaan yang Berkelanjutan, Berdaya saing, dan
Berotonomi”

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 31


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

PENDAHULUAN
Kemacetan lalu lintas yang terjadi di beberapa kota metropolitan di Indonesia sudah cukup
meresahkan.
Bahkan di Jakarta, kemacetan tidak saja terjadi di jam-jam sibuk, namun juga pada waktu-waktu
lainnya. Peningkatan volume kendaraan tiap tahunnya sudah direspon dengan cara memperbesar
kapasitas infrastruktur jalan. Pembangunan jalan tol, jalan lingkar atau pelebaran jalan adalah bukti
atas respon tersebut.

Kemacetan lalu lintas, berkibat tidak saja pada tundaan perjalanan, yang memperbesar waktu
tempuh, namun mencakup merangkaknya biaya lingkungan akibat polusi udara maupun borosnya
pemakaian BBM. Dari sisi transportasi, menciptakan kota berwawasan lingkungan dapat
diupayakan dengan mengurangi volume kendaraan, yaitu melalui penggunaan angkutan umum
massal atau penggunaan kendaraan ramah lingkungan.

Salah satu alternatif moda transportasi non BBM dan non polusi adalah sepeda. Bagi komunitas
B2W (Bike to Work) di Jakarta, penggunaan sepeda menjadi pilihan menarik, karena biaya
operasionalnya yang murah, dan kesanggupan memperpendek waktu tempuh di jalanan yang macet
karena kemampuannya bermanuver di sela-sela kendaraan lain. Adapun masalah yang dihadapi
komunitas B2W adalah kurangnya lahan parkir khusus sepeda, baik di perkantoran ataupun sarana
perdagangan (Artiningsih et al, 2009).

Namun di sisi lain, muncul ancaman terhadap keselamatan perjalanan pengguna sepeda.
Yaitu, keharusan berkendara pada jalan yang tanpa pemisah antara jalur kendaraan
bermotor dan tidak bermotor. Ancaman tersebut kemudian seringkali mendorong
okupansi jalur pedestrian untuk para pejalan kaki di sisi jalan sebagai alternatif jalur
sepeda. Kondisi ini tentu saja akan mengancam keselamatan pejalankaki.

Yang kemudian menarik untuk dikaji adalah bagaimana sebenarnya urgensi jalur sepeda
pada pengembangan infrastruktur jalan di perkotaan? Apakah kemudian upaya
pengembangan jalur sepeda justru tidak akan menjadi hal yang kontra produktif?
Mengingat tidak semua kota memiliki daerah dengan morfologi datar, serta adanya
keterbatasan lahan di perkotaan akan berimplikasi pada keterbatasan ROW jalan.

Di sisi lain, suhu udara di Indonesia yang beriklim tropis menyebabkan kenyamanan
bersepeda berkurang. Rekayasa lingkungan kemudian diperlukan terkait dengan
pengembangan jalur hijau jalan agar nyaman.

Kajian terhadap optimasi peluang pengembangan jalur sepeda menjadi penting dilakukan
dan bermanfaat dalam berkontribusi pada penciptaan kota berwawasan lingkungan. Oleh
karenanya artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana peluang pengembangan jalur
sepeda sebagai bagian dari sistem transportasi kota yang berwawasan lingkungan.
Lingkup pembahasan dibatasi atas konsep pengembangan serta implikasinya pada
penataan ruang.

Metode Pembahasan
Pembahasan dilakukan secara deskriptif dengan menggali dan membandingkan berbagai ide
dan praktek perencanaan. Konsep pengembangan jalur sepeda akan dibangun berdasarkan

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 32


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

telaah literatur atas kriteria kota berkelanjutan dan aplikasinya dalam strategi perencanaan
transportasi, penggunaan lahan dan lingkungan.

Implikasi pada penataan ruang akan dikaji berdasarkan hasil pembelajaran atas pengalaman
negara-negara maju dalam upayanya menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan
melalui berbagai strategi pembangunan transportasi dan infrastruktur yang terkait dengan
pengembangan jalur sepeda di perkotaan.

Kesesuaian penerapan konsep di Indonesia akan dikaji berdasarkan preferensi komunitas


pengguna sepeda B2W di Jakarta melalui review atas hasil penelitian yang sudah dilakukan
sebelumnya.
KONSEP PENGEMBANGAN JALUR
SEPEDA BENTUK PENERAPAN
PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Upaya menjabarkan visi pembangunan berkelanjutan menjadi aksi tidak mudah dilakukan.
Bagaimana bentuk penerapan pembangunan berkelanjutan dalam praktek yang nyata menjadi
penting untuk dirumuskan, mengingat masih ditemuinya perbedaan persepsi dalam
pemahaman konsep dan prakteknya.

Pembangunan berkelanjutan akan lebih mudah terwujud jika dijabarkan dalam suatu strategi
multi sektor yang terintegrasi dalam upaya-upaya kegiatan pembangunan yang sistematis, yang
berkemampuan untuk mengubah perilaku, dibandingkan jika hanya memuat kondisi akhir yang
diinginkan dalam suatu produk perencanaan dengan aturan normatif yang hanya bersifat
pengendalian (Roberts, 2000).

Perubahan perilaku dimungkinkan jika ada kejelasan informasi atas gagasan perencanaan yang
dibuat, sehingga dengan mudah dapat dipahami oleh pelaku pembangunan. Kontribusi dari para
pemangku kepentingan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan dengan demikian
perlu dijabarkan secara operasional, menyangkut bentukbentuk partisipasi yang dapat
dilakukan.

Dari aspek transportasi, perubahan perilaku diterjemahkan dalam peningkatan kepedulian


masyarakat yang didorong melalui penciptaan gaya hidup berwawasan lingkungan. Gaya hidup
tersebut dipraktekkan atas pilihan moda transportasi yang pro lingkungan, yaitu pilihan
penggunaan angkutan umum dibanding kendaraan pribadi, atau melalui penggunaan angkutan
non-
motorized seperti sepeda. Pemerintah perlu bekerjasama dengan berbagai pihak agar gaya hidup
tersebut bisa terus menerus dikampanyekan.

Selain itu, pemerintah juga dapat memberikan dukungan dalam bentuk lain sebagai respon atas
inisiasi komunitas dalam menggunakan sepeda, yaitu dengan menyediakan jalur sepeda dan sarana
prasarana lain yang terkait.

Penyediaan jalur sepeda perlu direncanakan secara sistematis sebagai bagian dari penerapan konsep
pembangunan kota yang berkelanjutan secara keseluruhan. Dengan demikian tidak menimbulkan
konflik dengan perencanaan kegiatan lainnya.

Berkenaan dengan hal tersebut, Kenworthy (2006:68-69) mengemukakan tentang 10 dimensi kritis
eco-city, yang dapat disebut juga sebagai kriteriakriteria kota berkelanjutan. Beberapa diantaranya
yang terkait dengan transportasi adalah mewujudkan kota berkelanjutan dengan cara
meminimalkan jumlah kendaraan, baik mobil maupun motor dan transportasi diarahkan ke

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 33


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

penggunaan sepeda dan jalan kaki. Hubungan pusat kota dan pinggiran dilakukan dengan banyak
moda alternatif, sehingga tidak tergantung hanya pada kendaraan pribadi.
Dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa penggunaan sepeda bukan merupakan
alternatif moda yang ditawarkan secara terpisah, namun dilakukan bersama-sama dengan
upaya meminimalkan jumlah kendaraan, yang dilakukan dengan mendorong penggunaan
angkutan umum massal. Jadi, penggunaan sepeda tidak efektif tanpa disertai dengan
upaya peningkatan pengguna angkutan umum massal.

Jika jumlah kendaraan tidak dapat dikurangi, sementara penggunaan sepeda meningkat,
maka akan muncul tundaan perjalanan. Pada kondisi ini peningkatan jumlah pengguna
sepeda bisa menjadi hal yang kontra produktif karena menimbulkan kemacetan lalu lintas.
Oleh karena itu, pengembangan jalur sepeda pada kawasan dengan kepadatan lalu lintas
tinggi akan memilki peluang yang lebih rendah.

Berkaitan dengan penataan ruangnya, menurut Kenworthy (2006) kota dikatakan


berkelanjutan jika memiliki struktur fisik dan rancangan kota yang memenuhi aneka
kebutuhan personal publik. Pemenuhan kebutuhan personal akan menandai tingginya
kualitas kehidupan sosial dan lingkungan kota. Dari pernyataan tersebut, dapat diketahui
bahwa pengembangan jalur sepeda harus mempertimbangkan aneka kebutuhan personal
publik. Jika ditelaah lebih lanjut, kebutuhan pengguna sepeda antara lain adalah
kebutuhan sosial untuk oleh raga dan rekreasi serta berinteraksi dengan kelompok
masyarakat lainnya. Kebutuhan ini sekarang ini sudah menjadi trend gaya hidup sehat.

Respon Atas Inisiasi Gaya Hidup Berwawsan Lingkungan

Peningkatan penggunaan sepeda dan jalan kaki sebagai olah raga populer terjadi di banyak
negara di dunia. Nilai lebih atas penggunaan sepeda dan jalan kaki adalah kampanye atas
penciptaan hari tanpa kendaraan, sehingga mampu mengurangi polusi dan tingkat kecelakaan
kendaraan (Ravenscroft, 2004). Sekarang ini, penggunaan sepeda tidak lagi terbatas pada olah
raga yang menghibur, namun sudah berkembang luas menjadi inisiatif penggunaan moda
transportasi yang ramah lingkungan. Inisiatif tersebut memang masih terbatas dilakukan oleh
komunitas pecinta sepeda. Keterlibatan masyarakat selanjutnya menjadi bukti sebagai
kontribusi konkret atas pembangunan berkelanjutan. Replikasi atas gaya hidup tersebut
menjadi penting, guna memperluas penggunaan sepeda. Pada komunitas B2W, frekuensi
penggunaan sepeda tidak sama. Ada yang menjadikan sepeda sebagai moda transportasi yang
digunakan sehari-hari ke kantor. Namun ada juga yang hanya menggunakannya secara
berkala tiap akhir minggu atau selang-seling dengan penggunaan angkutan umum.

Alasan praktek gaya hidup berwawasan lingkungan yang dilakukan cukup beragam. Secara
ekonomis, sepeda disukai karena tidak mengeluarkan ongkos sama sekali, kecuali
membutuhkan stamina pengendara. Perbandingannya untuk menggunakan busway Trans
Jakarta biaya satu kali perjalanan tanpa keluar halte adalah Rp.3500, sedangkan penggunaan
KRL Rp.2500 (Artiningsih et al, 2009).

Alasan lain adalah untuk mendapatkan kebebasan karena tidak tergantung jadwal penggunaan
angkutan umum dan jam-jam macet. Dari sisi lingkungan, penggunaan sepeda tidak
mengeluarkan polusi. Sebaliknya pengguna sepeda justru harus mampu mengatasi polusi udara
yang ada di sepanjang perjalanan, disamping berbagai gangguan cuaca lainnya.

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 34


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

Perencanaan Rute Jalur Sepeda


Menurut Kenworthy (2006),
Kota dikatakan berkelanjutan jika perencanaan masa depan kota disusun secara visioner dan
merupakan proses yang dapat ―diperdebatkan dan diputuskan‖ bukannya ―diprediksi dan
disediakan‖ atau dikategorikan dalam computerdriven process. Semua pengambilan keputusan
perlu didasarkan atas pertimbangan keberlanjutan, integrasi sosial, ekonomi, lingkungan dan
budaya serta prinsip bentuk kota yang kompak dan berorientasi transit.

Berkaitan dengan perencanaan rute jalur sepeda, maka pada dasarnya pilihan rute adalah
bagian dari karakteristik perjalanan disamping tujuan, dan pilihan atas moda. Pilihan atas
karakteristik perjalanan juga ditentukan oleh variasi atribut ruang, baik bentuk maupun
fungsinya (Hannes et al, 2009). Rute jalur sepeda perlu mempertimbangkan keberlanjutan jalur
yang direncanakan berdasarkan perilaku masyarakat dan kebutuhan perjalanannya sebagai
upaya integrasi sosial, ekonomi dan budaya. Partisipasi publik dalam penggunaan sepeda
sekarang ini masih terkendala oleh berbagai sebab. Menurut Ravenscroft (2004), kendala
tersebut berupa masalah persepsi dan infrastruktur, manajemen lalu lintas, perawatan jalan dan
ancaman kecelakaan akibat lalu lintas yang bercampur. Siapa yang berani menghadapi
tantangan tersebut dialah yang akan mampu melakukan perjalanan dengan sepeda. Mereka
yang tidak berani, atau tidak memiliki toleransi, akan cenderung menggunakan cara lain dalam
melakukan perjalanan.

Secara fisik, menurut Ravenscroft (2004), jalur sepeda yang diinginkan adalah jalur yang memiliki
lokasi dalam jaringan transportasi yang terintegrasi dengan beberapa pusat tujuan perjalanan.
Artinya, kemanapun tujuan perjalanannya, tersedia informasi rute dan jalur sepeda yang dibangun.

Realitanya jalur sepeda yang sudah dibuat lebih banyak direncanakan sebagai pemuas kebutuhan
olah raga dan rekreasi (saja), dibandingkan untuk maksud peningkatan motivasi masyarakat agar
mau menggunakan sepeda secara luas.

Jawaban atas permasalahan ini menurut Lumsdon (2001) adalah kelengkapan standar jalur sepeda
seperti jaringan rute yang baik, penyediaan informasi rute yang disediakan dan akses sepeda/pejalan
kaki (Ravenscroft, 2004).

Rute jalur sepeda yang baik adalah yang memungkinkan interaksi sosial. Sepeda sebagai
rekreasi sering dilakukan secara berkelompok. Masyarakat juga merasa lebih aman jika
jalur sepeda memungkinkan kehadiran orang lain. Keberadaan orang lain yang melakukan
aktivitas rekreasi luar ruang di sekitar jalur sepeda lebih disukai dibanding jalur sepeda
yang sepi dan hanya memungkinkan untuk dilalui sendirian tanpa teman. Kondisi ini akan
berpengaruh pada perancangan rute jalur sepeda (Ravenscroft,2004).

Berdasarkan telaah literatur di atas dapat dirumuskan bahwa rute jalur sepeda harus
dirancang dalam jaringan yang terhubung dengan tujuan utama perjalanan, berupa ruang-
ruang publik. Rute diinformasikan secara jelas, mencakup alternatif rute yang tersedia
beserta tempat-tempat parkir atau istirahat yang disediakan.

Dengan demikian petunjuk berupa rambu dan penanda jalur sepeda juga perlu disampaikan
dalam kemasan informasi baik gambar maupun tulisan yang mudah dipahami pengguna.

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 35


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

Alokasi Jalur Sepeda : Belajar dari Pengalaman Negara Maju

Kebijakan transportasi pro lingkungan di banyak negara maju, dilakukan antara lain
dengan mendorong masyarakat menggunakan angkutan umum massal, yaitu kereta api,
dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi. China, menyediakan jalur sepeda yang
cukup lebar bahkan pada jalan utama kota.

Kasus di Kota Senzhen, ada 2 jalur sepeda dengan lebar tiap jalur sekitar 4 meter dalam
satu ruas jalan yang memiliki ROW 25 meter .

Ada pemisahan antara lajur sepeda dan pejalan kaki.

Gambar 1. Jalur Sepeda di Kota Senzhen,China

Angkutan umum massal yang disediakan di Kota Senzhen adalah kereta api dan bus. Jalur
sepeda dikoneksikan dalam jaringan rute yang mampu menjangkau seluruh bagian kota,
dan dibuat terpisah dengan pedestrian. Bahkan ada jalur sepeda dalam service road di
beberapa ruas tol yang mengakomodasi akses pekerja industri di beberapa manufaktur
sepanjang jalan tol Iklim yang sejuk cenderung dingin, sangat mendukung kenyamanan
pengguna sepeda. Hal ini masih ditambah dengan jalur hijau jalan yang cukup teduh, dan
antisipasi jalur sepeda di jembatan penyebrangan.

Gambar 2. Antisipasi Jalur Sepeda

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 36


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

Pada Jembatan Penyebrangan, di Kota Senzhen,China.

Infrastruktur jalan dibuat untuk mewadahi kebutuhan penduduk dalam jangka panjang.
Meskipun jumlah penduduknya sangat besar, tidak ditemui adanya kemacetan lalu lintas di Kota
Senzhen. Kebijakan penggunaan multi moda cukup efektif mengurangi jumlah kendaraan yang
melakukan perjalanan. Di Hong Kong preferensi masyarakat atas penggunaan kendaraan bisa
dikendalikan, dengan cara penerapan bea pajak yang tinggi atas kepemilikan dan penggunaan
kendaraan pribadi, mencakup pajak progresif atas konsumsi BBM per liter atau tarif parkir yang
dikenakan. Kebijakan ini berdampak pada jumlah perjalanan menggunakan angkutan umum
yang terus meningkat. Ditambah lagi dengan daya tarik angkutan umum massal lain, misalnya
insentif biaya perjalanan yang lebih murah, waktu tempuh cepat dan alternatif rute yang sesuai
dengan kebutuhan tujuan perjalanan. Adanya dukungan sarana pergantian antar moda yang
efektif termasuk pengembangan teknologi informasi dalam sistem informasi perjalanan makin
mempermudah konsumen angkutan umum.

Komposisi pengguna kereta api di tahun 2005 mencapai 36%, dan terus ditingkatkan hingga
mencapai target 45% di tahun 2016 (Artiningsih, 2007).

Namun demikian Hong Kong hanya mengalokasikan jalur sepeda pada kawasan yang terbatas, yaitu
di taman publik, guna pemenuhan kebutuhan olah raga dan rekreasi Fokus penyediaan infrastruktur
justru lebih diutamakan pada jalur pedestrian untuk pejalan kaki yang terkoneksi secara luas antara
pusat kota ke ruang publik di pinggiran kota. Hal ini dilakukan sebagai respon atas penggunaan
Kereta Api sebagai tulang punggung pergerakan Kota Hong Kong. Preferensi masyarakat juga lebih
diorientasikan ke penggunaan angkutan umum, dan jalur pedestrian menjadi fasilitas penghubung
antar moda maupun transisi ke tempat asal dan tujuan perjalanan. Fasilitas Park & Ride di kantong
permukiman, mendorong masyarakat untuk hanya menggunakan kendaraan pribadi, termasuk
sepeda, sebagai moda transportasi penunjang yang digunakan dari rumah hingga stasiun kereta atau
bus saja. Di sisi lain volume lalu lintas yang masih tinggi masih menjadi kendala penyediaan jalur
sepeda.

Dari kondisi tersebut dapat diperoleh pembelajaran bahwa keberhasilan kebijakan


menekan jumlah kendaraan pribadi belum cukup dijadikan landasan bagi penyediaan jalur
sepeda di jalan utama kota. Pertimbangan terhadap strategi prioritas pada efektivitas dan
efisiensi guna mewujudkan transportasi yang berkelanjutan lebih penting dilakukan.
Pengendalian atas pilihan moda masyarakat juga penting dalam pencapaian efisiensi
pergerakan.Bagi Jepang, pemanfaatan bantaran sungai sebagai public easment atau ruang
yang mengakomodasi kebutuhan rekreasi dan hiburan yang nyaman untuk warga banyak
dilakukan, terutama untuk kepentingan olah raga. Beberapa lapangan olah raga berjajar di
sepanjang bantaran sungai, antara lain untuk soft ball, golf, sepak bola, basket, jogging
track, tennis, sepeda hingga pemancingan.

Selain itu sungai juga dipergunakan untuk rekreasi air dengan perahu motor. Sarana
olahraga tersebut digunakan oleh umum, baik anak sekolah, perkumpulan olah raga atau
perorangan. Akses ke public easment tersebut dilakukan dengan multi moda, baik
kendaraan bermotor roda 4, 2 dan tidak bermotor, seperti sepeda. Jalur kendaraan
dipisahkan antara bermotor dan tidak bermotor.

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 37


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

Gambar 3. Jalur sepeda sebagai akses ke lapangan olah raga yang memanfaat-
kan ―publiceasment‖ di bantaran sungai, Jepang, Juni 2009

Dilihat dari penyediaan tempat parkir ada pemisahan antara parkir mobil, motor dan
sepeda. Jalur sepeda juga terhubung dengan akses ke permukiman, serta sarana
pendidikan.

Gambar 4. Jalur Sepeda dan Fasilitas


Parkir Sepeda di Public Easement di Bantaran Sungai di Jepang

Adapun di pusat kota, jalur sepeda disediakan di sepanjang jalan utama kota, namun
masih bercampur dengan pedestrian untuk pejalan kaki. Pada gambar 5 dan 6 terlampir
dikemukakan contoh alokasi jalur sepeda di Kota Tokyo.

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 38


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

Gambar 5. Jalur Sepeda yang menyatu dengan pedestrian dan Fasilitas Pen-
yebrangan Jalan sebagai rute penghubung,
Tokyo, Jepang

Perlu diketahui bahwa Tokyo memiliki belasan jalur kereta sebagai angkutan umum masal yang
menghubungkan berbagai bagian kawasan Metropolitan Tokyo dan memiliki harga tiket
termurah dibandingkan dengan bus atau taksi.

Berbeda dengan China, jalur sepeda di Jepang disatukan dengan pedestrian. Banyak sekali
pejalan kaki di Tokyo, terutama di pusat-pusat kegiatan perdagangan, perkantoran dan
pariwisata. Jumlah kendaraan pribadi berupa mobil relatif sedikit. Jumlah pengguna sepeda juga
tidak sebesar China.
Tempat parkir sepeda disediakan di beberapa kantong parkir sepanjang koridor jalur sepeda.

Gambar 6. Jalur Sepeda dan Fasilitas


Parkir
Sepeda di Tokyo, Jepang

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 39


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

Pengembangan jalur sepeda di Singapore hanya terbatas dilakukan di ruang publik seperti taman
kota, Sepeda tidak menjadi alternatif moda transportasi sehari-hari, namun lebih ditujukan untuk
pemuas kebutuhan olah raga dan rekreasi. Pemerintah lebih mengedepankan kereta dan bus
sebagai angkutan umum massal untuk penduduk. Alasan lain adalah suhu udara yang panas pada
iklim tropis tidak memberikan kenyamanan bagi pengguna sepeda.

Belajar dari Pengalaman Kota Jogja


Di masa lalu sampai dengan akhir tahun ‖80, masih banyak pengguna sepeda. Namun mulai
dasawarsa 80-90 sepeda mulai digantikan sepeda motor. Pertumbuhan kendaraan bermotor roda 2
tersebut makin tinggi hingga dua dasa warsa berikutnya.

Namun sejak pertengahan Oktober tahun 2008, Kota Yogyakarta sudah mulai menerapkan
jalur sepeda terutama pada lintasan di kawasan pendidikan dan perkantoran. Konsepnya
adalah ―Sego Segawe” (Bahasa Jawa: sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe – bisa
diartikan sebagai sepeda untuk sekolah dan
bekerja).

Sumber: Penelusuran gambar di internet (selengkapnya di daftar pustaka) 1)Simbol konsep


Segosegawe; 2) Contoh Penanda (Signage) di traffic light bagi Sepeda; 3)Anak sekolah
pengguna sepeda; 4)Rambu penunjuk rute sepeda

Gambar 7. Penerapan Segosegawe

Menurut Walikota Jogja, Herry Zudianto, “Segosegawe merupakan gerakan untuk


menggugah kembali dan membangkitkan nilai ―merasa membutuhkan‖ dari semua
komponen masyarakat Kota Yogyakarta untuk menggunakan sepeda sebagai salah satu
alternatif moda transportasi khususnya jarak dekat (3 km s/d 5 km). Dalam jangka pendek
Program ―Segosegawe‖ diharapkan dapat membangkitkan kesadaran dan pemahaman
masyarakat bahwa menggunakan sepeda sebagai alat transportasi alternatif jarak dekat
dapat mengurangi polusi dalam rangka antisipasi pemanasan global. Dalam jangka
panjang diharapkan gerakan ini akan berimplikasi pada penurunan penggunaan
kendaraan bermotor sehingga mengurangi polusi, efisiensi energi, menuju kota yang lebih
humanis, meningkatkan derajat kesehatan manusia maupun lingkungan dan sebagainya.
Dari sisi implementasi kebijakan, target awal adalah mengajak warga masyarakat untuk

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 40


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

mulai menyenangi menggunakan alat transportasi sepeda baik digunakan untuk sekolah,
bekerja maupun kegiatan lainnya yang berjarak dekat. Segosegawe juga merupakan
gerakan untuk melatih diri bersikap sederhana khususnya bagi generasi muda. Sebuah
sikap yang pada saat ini menjadi sesuatu yang langka. Untuk anak sekolah dengan
penggunaan sepeda diharapkan akan membangkitkan semangat kesederhanaan, konsep
percaya diri, serta menghargai orang lain dari
sudut harkat dan martabat kemanusiaan.”

Hal yang cukup menarik adalah adanya penekanan konsep penggunaan sepeda sebagai
gerakan massal yang menuntut perubahan perilaku masyarakat, agar lebih sederhana, lebih
hemat, dan ramah lingkungan.

Dari sisi transportasi, lintasan sepeda ke kawasan permukiman di kampung-kampung, berperan


sebagai pengalihan rute lalu lintas alternatif untuk kendaraan tidak bermotor. Dengan demikian
akan ada pengurangan beban volume kendaraan bermotor di jalur jalan kolektor atau utama kota.

Dalam perkembangannya, saat ini penggunaan sepeda di Kota Jogja sudah meluas, hingga
area di pinggiran kota. Di akhir minggu, peningkatan penggunaan sepeda terutama ditemui pada
lintasan antara permukiman dan ruang publik seperti tempat rekreasi atau wisata. Gaya hidup
bersepeda pada hari kerja juga sangat diminati terutama ditunjukkan pada pagi hari sebelum
pukul 06.00 pagi, baik untuk maksud berolah raga maupun sekolah dan bekerja. Namun
penurunan jumlah kendaraan bermotor belum terlihat signifikan.

Sementara di dalam lingkungan kampus UGM, telah diterapkan kebijakan transportasi yang
ramah lingkungan, dengan cara mendorong penggunaan sepeda dan berjalan kaki. Masa transisi
diberlakukan dengan cara membatasi peningkatan lintasan kendaraan bermotor di dalam area
kampus. Pada awal tahun 2011 telah ditetapkan ketentuan biaya masuk bagi kendaraan
bermotor roda dua Rp.1000 dan roda 4 Rp.2000, kecuali bagi civitas akademika yang memiliki
kartu pas yang terdaftar untuk satu orang satu kendaraan. Namun nantinya bagi mahasiswa
baru angkatan 2011, ketentuan ini tidak lagi berlaku, karena mahasiswa tidak diperkenankan
membawa kendaraan bermotor. Guna memfasilitasi pergerakan mahasiswa, direncanakan kartu
mahasiswa akan dikoneksikan dengan mekanisme pembelian tiket bagi penggunaan bis trans
Jogja.

Implikasi pada Penataan Ruang


Berdasarkan pembelajaran di negara maju dapat diperoleh temuan bahwa konsep penyediaan jalur
sepeda dipengaruhi oleh efektivitas pengurangan jumlah kendaraan bermotor pribadi di jalan raya.
Hal ini lebih lanjut dipengaruhi oleh gaya hidup yang tercermin dari preferensi dan kebiasaan
masyarakat dalam memilih moda transportasi dan melakukan perjalanan sehari-hari. Pada
masyarakat yang lebih memilih kereta dan bus, koneksi antar moda dihubungkan oleh pedestrian
untuk pejalan kaki. Akses ke stasiun atau halte guna naik turun penumpang dikoneksikan dengan
ruang-ruang fungsional hunian dan non hunian. Pada kondisi tersebut, jalur sepeda bisa dibatasi
pada ruang permukiman hingga titik lokasi angkutan umum massal. Jika alternatif ini yang dipilih
maka tempat parkir sepeda perlu disediakan di tiap stasiun atau terminal. Rute jalur sepeda dengan
demikian hanya terbatas antara ruang hunian dengan lokasi stasiun atau halte bus terdekat.
Jika preferensi masyarakat terhadap penggunaan sepeda cukup tinggi, dan jumlah
kendaraan pribadi dapat ditekan, maka rute jalur sepeda bisa lebih luas menjangkau
seluruh bagian wilayah kota. Tempat parkir dengan demikian harus disediakan pada

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 41


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

banyak titik, mencakup ruang hunian dan non hunian. Pada kondisi ini sepeda menjadi
moda transportasi sehari-hari. Pada kondisi yang berbeda ketika sepeda baru sebatas
digunakan pada akhir minggu, maka fungsinya lebih kepada pemenuhan kebutuhan
olahraga dan rekreasi. Penataan ruang pada kondisi ini sebaiknya merespon penyediaan
jalur sepeda pada ruang publik yang mengakomodasi kebutuhan rekreasi seperti halnya di
taman lingkungan permukiman, di tamantaman kota, pusat kegiatan olah raga seperti
stadion atau sarana olah raga di kawasan pendidikan.

Rute jalur sepeda dengan demikian akan tersedia dalam kantongkantong yang menyebar
secara enclave. Mengingat kepentingan olah raga, maka dimungkinkan untuk membuat
rute pada tempat dengan kemiringan lereng 8-15% sebagai jalur tracking yang disukai
pengguna sepeda gunung. Tempat parkir dialokasikan pada titik henti sebagai tempat
berkumpul dan istirahat yang memungkinkan interaksi sosial lebih tinggi.

Rute juga dapat dibangun pada sisi bantaran sungai sebagai public easment yang memiliki
fungsi kreasi dan mampu menjadi ruang interaksi warga. Pada kondisi ini jalur sepeda
dapat berfungsi sebagai penghubung jalur hijau dan biru seperti konsep green blue plan.

Jika nantinya penggunaan sepeda sudah meluas sebagai kebutuhan sehari-hari, rute bisa
diperluas ke seluruh kawasan kota. Untuk maksud ini, tentu perlu dipilih kawasan dengan
morfologi yang relatif datar. Dukungan pemerintah bisa diberikan dalam mengkampanyekan
hari tanpa kendaraan bermotor pada jalur utama di pusat kota tiap minggunya. Tujuannya
adalah memperluas gaya hidup berwawasan lingkungan denganbersepeda.

Di sisi lain, kenyamanan pengguna sepeda perlu didukung oleh jalur hijau di sepanjang jalur
sepeda yang dibangun. Jika pada negara dengan iklim sub tropik saja masih memiliki alokasi
cukup pada penyediaan jalur hijau, maka di negara tropis dengan suhu udara yang lebih tinggi
penyediaan RTH menjalur tersebut harus dilakukan lebih intensif.

Peluang Pengembangan Jalur Sepeda


Berdasarkan pembahasan yang dilakukan maka peluang pengembangan jalur sepeda di kota
berwawasan lingkungan dapat dibagi ke dalam beberapa tahap. Selengkapnya terlampir pada
Tabel 1 berikut.

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 42


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

Tabel 1. Peluang Pengembangan Jalur Sepeda pada


Kota Berwawasan Lingkungan
Tahapan Kondisi Peluang
Tahap Awal/ • Inisiasi gaya Hidup bersepeda, • Penyediaan jalur sepeda di Ruang
Pendahuluan sepeda untuk olahraga dan Publik taman lingkungan, taman kota,
rekreasi, juga kampanye anti pusat olah raga dikoneksikan dengan
polusi jalur biru pada public easment di
bantaran sungai.
• Pengurangan Jumlah kendaraan • Ali h fungsi jalan sebagai jalur sepeda
pribadi belum efektif temporer di akhir minggu

Tahap • Gaya hidup bersepeda Sudah • Rute Jalur sepeda antara hunian dan
Pertumbuhan/ meluas stasiun kereta/ halte bus
Perkembangan
• Pengurangan jumlah kendaraan • Integrasi dengan pedestrian
pribadi mulai efektif,
• Penggunaan Angkutan Umum
Masal meningkat
Tahap Akhir • Pengurangan jumlah kendaraan  Rute Jalur sepeda di seluruh kawasan
pribadi sudah efekktif terpisah dari pedestrian
• Kemacetan lalu lintas kecil/
relatif teratasi
• Sepeda sebagai moda

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 43


seharihari
JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN
ROW SISTEM
jalan
DARI TRANSPORTASI ARTININGSIH
cukup

Dukungan jalur hijau

Tahap pengembangan jalur sepeda dibagi dalam 3 fase, sesuai tingkat keberhasilan pengurangan
jumlah kendaraan pribadi yang dilakukan, baik melalui penggunaan angkutan umum masal atau
sepeda. Perubahan atas atribut infrastruktur jalan, perlu diantisipasi agar mampu mengakomodasi
kebutuhan pemisahan jalur kendaraan bermotor dan tidak bermotor sesuai fase pengembangan
jalur sepeda tersebut.

KESIMPULAN
Kebijakan alokasi jalur sepeda menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian upaya penerapan
konsep pembangunan berkelanjutan.

Pada konteks penataan ruang, keberhasilan penyediaan jalur sepeda tidak terlepas dari upaya
meminimalkan penggunaan kendaraan (bermotor) pribadi dan peningkatan penggunaan angkutan
umum massal, yang harus dilakukan secara simultan dengan perencanaan jalur hijau dan biru kota
(green-blue plan). Alokasi RTH baik berupa jalur hijau, taman, lapangan olahraga maupun hutan
kota, akan menciptakan kenyamanan iklim mikro bagi pengguna sepeda.

Selain keberhasilan dalam pengurangan jumlah kendaraan pribadi, secara fisik, kesempatan setiap
kota dalam penyediaan jalur sepeda akan berbeda, tergantung atas morfologi bentang alam berupa
dataran dengan kemiringan lereng antara 0-8% yang dimiliki.
Rute jalur sepeda akan mempertimbangkan jaringan rute yang menjamin interkoneksi
antar ruang dengan aktivitas hunian dan non hunian.

Permukiman merupakan daerah asal pengguna sepeda, dengan daerah tujuan pada ruang
dengan fungsi olahraga dan rekreasi, pendidikan, perkantoran, dan perdagangan.

Penetapan rute mempertimbangkan interaksi antar keuntungan dari aspek ekonomi, dan
aspek sosial, yaitu kesiapan perubahan perilaku penduduk untuk melakukan gaya hidup
berwawasan lingkungan dalam pilihan moda transportasi pro lingkungan.

Alokasi jalur sepeda menjadi salah satu respon pemerintah sebagai dukungan atas
kepedulian masyarakat dalam inisiasi gaya hidup berwawasan lingkungan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Artiningsih (2007). Pendekatan Pembangunan Berkelanjutan melalui Perencanaan dan
Pengelolaan Transportasi: Belajar dari Pengalaman Hong Kong. Jurnal Tata Loka
volume 9 Nomor 1. Semarang:
Planologi Undip.
Artiningsih, Dini Arias Pitaloka, Maria Carolina J. Paba Wea dan Yulia Widiastuti. (2009).
Pendekatan Pembangunan Berkelanjutan Melalui Pembentukan Komunitas
Berkelanjutan Di DKI Jakarta. Prosiding Seminar Praktek Pembangunan
Berkelanjutan di Perkotaan Indonesia. Semarang: Media Plano.

Hannes, Els, Davy Janssens and Geert Wets (2009). Does Space Matter?Travel
Mode Scripts in Daily Activity Travel. Environment and Behavior.Vol 41 Number 1, hal.
75-100.
Sage Publications,
http://eab.sagepub.com

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 44


JALUR SEPEDA SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TRANSPORTASI ARTININGSIH

Kenworthy, Jeffrey R (2006). The eco-city: ten key transport and planning dimensions for
sustainable city development. Environment and Urbanization 18: 67-87. Sage
Publications.

Ravenscroft, Neil. (2004). Tales from the Tracks: Discourses of Constraint in the Use of Mixed
Cycle and Walking Routes. International Review for the Sociology of Sport: 39/1,
hal.2744. Sage Publication Online.

Roberts, Ian. (2000). Leicester environment city: learning how to make Local Agenda 21,
partnerships and participation deliver; Environment and Urbanization 12; 9. Sage
Publication online:http://eau.sagepub.com/cgi/c ontent/abstract/12/2/9

Zudianto, Herry. 2008. http://www.jogjakota.go.id/index/ex


tra.detail/2401/gerakansegosegawe.html

Rambu Rute Jalur Sepeda. Foto by Yogi B2W Jakarta Selatan.


http://finance.dir.groups.yahoo.com/ group/pksplus/message/3984

Anak Sekolah pengguna sepeda. Foto by SMAN 7 Yogyakarta, 13 Oktober 2008.


http://www.flickr.com/photos/seven ers/3060425375/

Simbol Segosegawe. Foto by Ping, 25 Oktober 2008. http://vector-


logo.blogspot.com/2008_10_01_ar chive.html

Penanda ruang tunggu sepeda di traffic light. Foto by kilaubiru 9 Desember 2009.
http://kilaubiru.wordpress.com/200 9/12/09/awas-jangan-rebut-hakpengguna-sepeda-
di-jogja/

Raco M. 2000. Assessing community participation in local economic development — lessons for
the new urban policy. Political Geography 19: 573– 599.

Sabarini EK dan Kartawijaya T. 2006. Laporan teknis survey lamun dan ikan lamun Taman
Nasional Karimunjawa tahun 2005. Wildlife Conservation Society (WCS)- Marine Program
Indonesia. Bogor, Indonesia

JURNAL TATA LOKA; VOLUME 13; NOMOR 1; FEBRUARI 2011 45