Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH DESAIN PEMBELAJARAN KIMIA

MODEL PEMBELAJARAN DICK AND CARREY

KELOMPOK 6

DISUSUN OLEH :

NABILAH ZAHRAH A1C118026


ERMA JOHAR A1C118031

DOSEN PENGAMPU :

Dra. YUSNIDAR M.Pd

Dra. WILDA SYAHRI, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2020

1
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami
tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga
terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-
natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik
itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan
pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah DESAIN PEMBELAJARAN dengan judul
“Model Pembelajaran Dick and Carrey”.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan
kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi
makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini
penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada dosen
kimia anorganik kami yang telah membimbing dalam menulis makalah ini.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Jambi , 16 Maret 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1Latar Belakang.............................................................................................1
1.2Rumusan Masalah........................................................................................1
1.3Tujuan Makalah...........................................................................................2

BAB II. PEMBAHASAN.......................................................................................3


2.1Pengertian Pembelajaran Dick and Carrey..................................................3
2.2Karateristik Model Pembelajaran Dick and Carrey.....................................4
2.3Langkah-Langkah Model Pembelajaran Dick and Carrey..........................4
2.4Komponen Pembelajaran Dick and Carrey.................................................8
2.5Kelebihan dan kekurangan Model Pembelajaran Dick and Carrey.............12

BAB III. PENUTUP..............................................................................................14


3.1Kesimpulan..................................................................................................14
3.2Saran............................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................15

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Pendidikan merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan, karena manusia
diciptakan bukan untuk hidup. Ada tujuan yang lebih mulia dari yang hidup yang diciptakan,
dan itu perlu ilmu yang diperoleh melalui pendidikan. Inilah salah satu perbedaan antara
manusia dengan makhluk lain, yang lebih unggul dan lebih mulia. Pendidikan adalah suatu
usaha atau kcgiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur, dan direncanakan dengan maksud
mengubah atau mengembangkan motivasi yang diinginkan. Sekolah sebagai lembaga formal
merupakan sarana dalam kerangka tujuan pendidıkan tersebut(Arif,2016:72).
Upaya untuk memperoleh pengetahuan baru, atau upaya untuk mengoreksi dan
memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, diketahui bahwa pada
dasarnya pendekatan saintifik merupakan suatu sistem yang kompleks dan memiliki banyak
komponen yang kita kenal dengan 5 M (Mengamati, menanya, mengalisis, mencoba, dan
menganalisis). Oleh karena itu, penerapan pendekatan ini harus berimplementasi dan berinteraksi
secara fungsional dengan model pembelajaran yang mengunakan pendekatan sistem. Ada banyak
model desain yang menggunakan pendekatan sistem. Desain tersebut berbeda dalam jumlah,
nama langkah-langkahnya, serta fungsi masingmasing langkah yang di rekomendasikan
(Molenda & Boling, 2008). Salah satu model pembelajaran yang menggunakan pendekatan
sistem adalah model pembelajaran yang dikemukakan oleh Walter Dick dan Lou Carrey tahun
1985,yang dikenal dengan model Dick and Carrey (Nugroho,2016:119)
Dari berbagai kajian tentang desain pembelajaran, para ahli telah menawarkan beberapa
model desain pembelajaran, diantaranya model desain pembelajaran Dick and Carrey. Secara
teoritis desain pembelajaran ini menawarkan sistematika berpikir prosedural, yang akan menjadi
dasar pengembangan desain lainnya, sehingga pemahaman yang lengkap mengenai desain
pembelajaran Dick and Carrey, akan menjadi dasar pemahaman bagi model desain pembelajaran
yang lain, pemikiran inilah yang kemudian menjadikan model desain pembelajaran Dick and
Carrey menarik untuk dikaji.

1.2.Rumusan Masalah

1. Bagaimana Model Pembelajaran Dick and Carrey?


2. Bagaimana karateristik Model Pembelajaran Dick and Carrey?
3. Apa saja Langkah-Langkah Model Pembelajaran Dick and Carrey?
4. Bagaimanakah komponen pembelajaran yang diterapkan dalam Model Pembelajaran
Dick and Carrey ?
5. Bagaimana kelebihan dan kekurangan Model Pembelajaran Dickand Carrey?

1
1.3. Tujuan

1. Dapat memahami pengertian Model Pembelajaran Dick and Carrey.


2. Dapat mengetahui Karateristik Model Pembelajaran Dick and Carrey .
3. Dapat mengetahui Langkah-Langkah Model Pembelajaran Dick and Carrey.
4. Dapat memahami komponen pembelajaran yang diterapkan dalam Model Pembelajaran
Dick and Carrey.
5. Dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan Model Pembelajaran Dick and Carrey

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengerrtian Model Pembelajaran Dick and Carrey

Menurut Dahlan , model pembelajaran adalah rencana atau pola yang digunakan dalam
menyusun kurikulum, mengatur materi pengajaran dan memberi petunjuk pada pengajar di kelas
dalam setting pengajaran atau setting lainnya Menurut Amin Suyitno , model pembelajaran adalah
suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan guru agar tujuan atau kompetensi
dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien .
Menurut Dorin, Demmin, dan Gabel, model adalah sebuah gambaran mental yang
membantu kita untuk menjelaskan sesuatu dengan lebih jelas terhadap sesuatu yang tidak dapat
dilihat atau tidak dialami secara langsung. Menurut Briggs, model adalah konsep perangkat yang
berurutan untuk mewujudkan suatu proses, seperti penilaian suatu kebutuhan, pemilihan media
dan evaluasi. Menurut Nunan, model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses aktual yng
memungkinkan sesorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu.
Ada banyak model yang menggunakan sistem. Desain tersebut berbeda dalam jumlah,
nama langkah-langkahnya, serta fungsi masing-masing langkah yang dipilih (Molenda & Boling,
2008). Salah satu model pembelajaran yang menggunakan sistem pembelajaran adalah model
pembelajaran yang dikemukakan oleh Walter Dick dan Lou Carrey tahun 1985, yang dikenal
dengan Dick dan Carrey. Dick dan Carey (1985) memandang desain pembelajaran sebagai suatu
sistem dan mempertimbangkan pembelajaran adalah proses yang sitematis. Menurut Dick dan
Carey (2001), membahas sistem selalu membahas tentang pengembangan sistem pengembangan
sistem (ISD). Komponen model Dick dan Carey cakupan pembelajar, pengajar, materi, dan
Lingkungan. Sehingga bahwasannya model Dick and Carey merupakan model pembelajaran
dimana dalam menerapkan prinsip desain pengembangan itu secara sistimatis dengan kata lain
langkah-langkah nya itu harus di tempuh secara berurutan serta berlandaskan teori belajar
(Aji,2016).
Menurut Dick, dkk (2009) dalam Jurnal Irvan, Fahmi dan Mahyarani (2015), Desain
instruksional model Dick and Carey dikembangkan berdasarkan pemikiran dan karya besar
Robert M. Gagne “The Condition of Learning”. Model ini menggunakan pendekatan sistem
karena:
a. pendekatan sistem merupakan alat yang sangat baik untuk menjamin keberhasilan
perencanaan pembelajaran karena adanya ikatan dan keterkaitan khusus antara strategi
pembelajaran dan dampak pembelajaran, karakteristik pemelajar, aktivitas instruksional,
dan penilaian.
b. adanya ikatan dan keterkaitan yang khusus anatara strategi pembelajaran dan dampak
pembelajaran.
c. adanya empiris dan proses pengulangan.

2.2. Karateristik Model Pembelajaran Dick and Carrey

Menurut Fajarini (2018), Karakteristik Dick dan Carey Model yaitu :

3
1. Dalam penerapan model ini, setiap komponen penting dan tidak boleh ada yang dilewati.
2. Penggunaan model ini mungkin akan menghalangi kreatifitas instructional designer
professional
3. Model Dick and Carrey menyediakan pendekatan sistematis terhadap kurikulum dan
program design.
4. Cocok diterapkan untuk e-learning skala kecil, misainya dalam bentuk unit, modul, atau
lesson

2.3. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Dick and Carrey

Model adalah sebuah gambaran mental yang membantu kita untuk menjelaskan
sesuatu dengan lebih jelas terhadap sesuatu yang tidak dapat dilihat atau tidak dialami secara
langsung Model adalah konsep perangkat yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses,
seperti penilaian suatu kebutuhan, pemilihan Adapun langkahlangkah pembelajarannya
mencakup :
(1) mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran
(2) melaksanakan analisis pengajaran
(3) mengidentifikasi tingkah lak masukan dan karakteristik siswa
(4) merumuskan tujuan performansi
(5) mengembangkan butirbutir tes acuan patokan
(6) mengembangkan strategi pengajaran
(6) mengembangkan dan memilih material pengajaran
(7) mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif
(8) merevisi bahan pembelajaran
(9) mendesain dan melakukan evaluasi sumatif.
Bagan berikut menunjukkan visualisasi dari langkah-langkah yang telah
dideskripsikan di atas :

4
Dari bagan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam mengidentifikasi tujuan pembelajaran
dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan melakukan analisis pengajaran dan identifikasi
tingkah laku awal, setelah dilakukan kedua tujuan tersebut dilanjutkan dengan menulis tujuan
kinerja, dengan adanya tujuan kinerja tersebut dapat di kembangkan tes acuan patokan, setelah
itu dilanjutkan kembali dengan mengembangkan strategi pembelajaran, kemudian kita dapat
mengembangkan dan menentukan materi pembelajaran, sehingga kita dapat mengembangkan
dan membuat evaluasi formatif. Apabila dalam mengembangkan dan membuat evaluasi formatif
terdapat kesalahan, maka kita dapat merevisi pengajaran, dan apabila tidak terjadi kesalahan
maka kita dapat melanjutkan mendesain dan membuat evaluasi sumatif.

Menurut Aji (2016) , Berikut adalah langkah menurut dick dan carrey :

2.3.1. Mengidentifikasi Tujuan Umum Pembelajaran

Pembelajaran Skema model pembelajaran Dick and Carrey menggambarkan bahwa


langkah mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran merupakan dasar untuk menentukan
langkah ke 2 dan ke 3. Dick and Carrey menjelaskan bahwa tujuan pengajaran adalah untuk
menentukan apa yang dapat dilakukan oleh anak didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran penting dalam proses instruksional atau dalam setiap kegiatan belajar
mengajarnya. Hal ini dikarenakan tujuan pembelajaran yang dirumuskan secara spesifik dan jelas
akan memberikan keuntungan. Berikut adalah keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh.

a. Siswa dapat mengatur waktu dan pemusatan perhatian pada tujuan yang ingin dicapai.
b. Guru dapat mengatur kegiatan instruksionalnya, metodenya, dan strategi untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Pedoman dari identifikasi tujuan adalah dari standar kompetensi siswa, kebutuhan
kurikulum, dari analisis kinerja, dari pengalaman dengan kesulitan belajar siswa, dari analisis
orang yang melakukan pekerjaan, atau dari beberapa persyaratan lain.

2.3.2. Melaksanaan Analisis Pembelajaran

Dick and Carrey (1985) mengatakan bahwa tujuan pembelajaran yang telah diidentifikasi
perlu dianalisis untuk mengenali keterampilan-keterampilan bawahan (subordinate skills) yang
mengharuskan anak didik belajar menguasainya dan langkahlangkah prosedural bawahan yang
ada harus diikuti anak didik untuk dapat belajar mata pelajaran tertentu.

Menganalisis subordinate skills sangatlah diperlukan karena apabila keterampilan


bawahan yang seharusnya dikuasai tidak diajarkan, akan ada banyak anak didik yang tidak
memiliki latar belakang yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian,
pembelajaran menjadi tidak efektif. Sebaliknya, apabila keterampilan bawahan berlebihan,
pembelajaran akan memakan waktu lebih lama dari semestinya dan keterampilan yang tidak
perlu diajarkan malah mengganggu anak didik dalam belajar menguasai keterapilan yang
diperlukan.

5
2.3.3. Mengidentifikasi Tingkah Laku dan Karakteristik Siswa

Mengidentifikasi tingkah laku dan karakteristik siswa sangat perlu dilakukan untuk
mengetahui kualitas perseorangan untuk dijadikan sebagai petunjuk dalam memilih strategi dan
pemilihan bahan ajar. Mengidentifaksi tingkah laku dan karakteristik siswa merupakan pondasi
untuk merencanakan metode dan media pembelajaran. Analisis karakteristik peserta didik
meliputi kemampuan prasyarat, kemampuan awal, sikap, gaya belajar, dan aktivitas belajar. Jika
dalam analisis ini mendekati ketepatan maka akan mempermudah perancangan program
pembelajaran yang akan digunakan terutama strategi pembelajaran.

2.3.4. Merumuskan Tujuan Performansi

Dick and Carrey (1985) menyatakan bahwa tujuan performansi terdiri atas :
a. harus menguraikan hal yang akan dikerjakan atau diperbuat oleh anak didik;
b. menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai unjuk perbuatan anak didik yang
dimaksudkan pada tujuan.
Mager (1997) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang dicapai atau
yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkatkompetensi tertentu. Ellington (1984)
mengungkapkan bahwa tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang diharapkan dapat dicapai
sebagai hasil belajar.

2.3.5. Mengembangkan Butir-butir Tes Acuan Pokok (Instrumen penilaian)

Untuk mengetahui tingkat pencapaian kompetensi berbahasa, guru dapat melakukan


penilaian melalui tes dan non tes. Tes meliputi tes lisan (keterampilan bericara), tertulis (bentuk
uraian, pilihan ganda, jawaban singkat, isian, menjodohkan, benar-salah) digunakan untuk
keterampilan menyimak dan membaca, dan tes perbuatan yang meliputi: kinerja (performance),
penugasan(project) dan hasil karya (product) untuk keterampilan menulis. Penilaian nontes
contohnya seperti penilaian sikap, minat, motivasi, penilaian diri, portfolio, dan life skills. Tes
perbuatan dan penilaian non tes dilakukan melalui pengamatan (observasi)

2.3.6. Mengembangkan Strategi Pembelajaran

Dari kelima langkah sebelumnya, guru selanjutnya harus mengidentifikasi secara teoritis
strategi yang mencakup metode teknik atau taktik yang hendak digunakan dalam pembelajaran
dalam mencapai tujuan khusus yang akan diukur. Penentuan Strategi didasarkan pada teori
pembelajaran, hasil penelitian pembelajaran, karakteristik media yang digunakan untuk
melibatkan peserta didik, materi yang akan diajarkan, dan karakteristik peserta didik yang
berpartisipasi dalam pembelajaran. Dimana komponennya berupa:
 Kegiatan pra-struktural, seperti merangsang motivasi dan memusatkan perhatian
 Presentasi materi baru dengan contoh dan demonstrasi
 Partisipasi peserta didik yang aktif dengan umpan balik
 Kegiatan tindak lanjut yang menilai pembelajaran siswa dan menghubungkan yang baru
keterampilan yang dipelajari untuk aplikasi dunia nyata.

6
2.3.7. Mengembangkan dan Memilih Material Pembelajaran

Bahan atau materi pelajaran (Learning Materials) adalah segala sesuatu yang menjadi isi
kurikulum yang harus dikuasai oleh siswa sesuai dengan kompetensi dasar dalam rangka
pencapaian standar kompetensi setiap mata pelajaran dalam satuan pendidikan tertentu. Materi
pembelajaran juga dapat diartikan sebagai bahan yang diperlukan untuk pembentukan
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi
standar kompetensi yang ditetapkan.
Pengembangan bahan ajar merupakan sebuah sistem. Sebagai sebuah sistem,
pengembangan bahan ajar tentu merupakan gabungan dari berbagai komponen pembelajaran.
Dick and Carrey (1985) menyarankan ada tiga pola yang dapat diikuti oleh pengajar
untuk merancang atau menyampaikan bahan pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
(a) pengajar merancang bahan pembelajaran individual, semua tahp pembelajaran
dimasukkan ke dalam bahan, keculi pratest dan pascatest;
(b) Pengajar memilih dan mengubah bahan yang ada agar sesuai dengan strategi
pembelajaran;
(c) pengajar tidak memakai bahan, tetapi menyampaikan semua pembelajaran menurut
strategi pembelajarannya yang telah disusunnya.
Pengembangan bahan ajar erat kaitannya dengan sumber acuan yang digunakan. Banyak
sumber bahan ajar yang dapat digunakan, tetapi hendaknya dipilih yang sesuai dengan kondisi
pembelajaran. Di samping itu, dalam menyampaian bahan ajar hendaknya dipilih pula metode
apa yang dapat dijadikan sarana untuk menyampaian bahan ajar secara efektif. Keefektifan
penyampaian bahan ajar juga didukung oleh media yang digunakan. Selain itu, evaluasi
mempunyai peran penting dalam rangka masukan untuk mengadakan perbaikan-perbaikan bahan
ajar yang akan dikembangkan.
Untuk keperluan program pengembangan mata pelajaran berbahasa, misalnya standar
kompetensi membaca pemahaman, khususnya untuk material pembelajarannya dipilih dari
beberapa buku yang sesuai dengan keperluan pembelajaran. Hal ini dilakukan karena kurangnya
literatur pendukung yang baik. Sebagai contoh, salah satu buku yang diambil adalah buku yang
disusun oleh Prof. Gorys Keraf tentang keterampilan membaca.

2.3.8. Mendesain dan Melaksanakan Evaluasi Formatif

Evaluasi dalam pembelajaran merupakan bagian penting yang harus dilakukan. Tanpa
ada evaluasi pembelajaran akan terasa hampa. Dengan adanya evaluasi guru dapat melihat
seberapa jauh anak didiknya menguasai bahan ajar yang sudah diajarkan. Selain evaluasi
terhadap kemampuan siswa dalam menguasai bahan ajar yang sudah disampaikan, guru juga
harus dapat mengevaluasi bahan ajar-bahan ajar yang ada dalam buku teks sebagai bahan ajar
pelajaran. Buku pelajaran dapat dievaluasi pertama kali untuk menentukan kesesuaian bahan ajar
dengan program tertentu. Proses ini dapat disebut evaluasi bahan ajar (Brown, 1995). Evaluasi
terhadap bahan ajar yang terdapat dalam buku teks dan akan dijarkan adalah kesesuaian bahan
ajar dengan tujuan pembelajaran. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana
kesesuaian antara bahan ajar yang tersaji dengan tujuan yang telah digariskan.
Selain itu, pelaksanaan evaluasi terhadap bahan ajar dapat juga dilakukan ketika
pembelajaran berlangsung. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memperhatikan respon
siswa terhadap bahan ajar tersebut. Guru dapat mencatat respon siswa terhadap bahan ajar yang

7
diberikan. Bila perlu, guru dapat mengubah urutan bahan ajar yang disesuaikan dengan
kebutuhan atau daya serap siswa. Dengan demikian, evaluasi bahan ajar dapat dilakukan saat
pemilihan, proses pembelajaran, setelah diadakan evaluasi bagi siswa.

2.3.9. Merevisi Bahan Pembelajaran

Dick and Carrey (1985) mengemukakan ada dua revisi yang perlu dipertimbangkan,
yaitu:
(1) revisi terhadap isi atau substansi bahan pembelajaran agar lebih cermat sebagai alat
belajar;
(2) revisi terhadap cara-cara yang dipakai dalam menggunakan bahan pembelajaran.

Data dari evaluasi formatif dirangkum dan ditafsirkan untuk mengidentifikasi kesulitan
yang dialami oleh peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran dan untuk menghubungkan
kesulitan-kesulitan ini dengan kekurangan khusus dalam pembelajaran. Data dari evaluasi
formatif tidak hanya digunakan untuk merevisi pembelajaran itu sendiri, tetapi digunakan untuk
menguji kembali validitas analisis instruksional dan asumsi tentang keterampilan dan
karakteristik peserta didik.

2..3.10. Mendesain dan Melaksanakan Evaluasi Sumatif

Melalui evalusai sumatif, suatu desain pembelajaran yang memiliki dasar keputusan
penilaian yang didasarkan pada keefektifan dan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar dapat
ditetapkan dan diberikan nilai. Evaluasi sumatif diarahkan pada keberhasilan pencapaian tujuan
yang telah ditetapkan di awal yang diperlihatkan oleh unjuk kerja siswa. Apabila semua tujuan
sudah dapat dicapai, efektivitas pelaksanaan kegiatan pembelajaran mata pelajaran tertentu
diangggap berhasil dengan baik. Demikian pula jika keberhasilan siswa dicapai dalam rentangan
waktu yang relatif pendek, aka dari segi efisiensi pembelajaran dapat dicapai. Dan terakhir, jika
dengan rancangan pembelajaran ini mungkin dengan memberlakukan strategi yang baik,
aktivitas belajar siswa meningkat, maka dari segi keberhasilan pada daya tarik pengajaran dapat
dicapai.

2.4.Komponen Model Pembelajaran Dick and Carrey

Terdapat 5 komponen strategi pembelajaran, yaitu (1) kegiatan pembelajaran


pendahuluan, (2) penyampaian informasi, (3) partisipasi peserta didik, (4) tes, dan (5) kegiatan
lanjutan. Berikut akan diuraikan penjelasan masing-masing komponen dan disertai contoh
penerapannya dalam proses pembelajaran:

2.4.1. Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan

Kegiatan pendahuluan sebagai bagian dari suatu sistem pembelajaran secara keseluruhan
memegang peranan penting. Pada bagian ini guru diharapkan dapat menarik minat peserta didik
atas materi pembelajaran yang disampaikan. Kegiatan pendahuluan yang disampaikan dengan
menarik akan dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Cara guru memperkenalkan
materi pelajaran melalui contoh-contoh ilustrasi tentang kehidupan sehari-hari atau cara guru

8
menyakinkan apa manfaat mempelajari pokok pembahasan tertentu akan sangat mempengaruhi
motivasi belajar peserta didik.

Secara spesifik, kegiatan pembelajaran pendahuluan dapat dilakukan melalui teknik-


teknik berikut:
a. Jelaskan tujuan pembelajaran khusus yang diharapkan dapat dicapai oleh semua pesarta
didik akan menyadari pengetahuan, keterampilan sekaligus manfaat yang akan diperoleh
setelah mempelajari pokok bahasan tersebut. Demikian pula, perlu dipahami oleh guru
bahwa dalam penyampaian tujuan, hendaknya digunakan kata-kata dan bahasa yang
mudah dimengerti oleh peserta didik. Pada umumnya penjelasan dilakukan dengan
menggunakan ilustrasi khusus yang sering dialami oleh peserta didik dalam kehidupan
sehari-hari.
b. Lakukan apersepsi, berupa kegiatan yang merupakan jembatan antara pengetahuan lama
dengan penegtahuan baru yang akan dipelajari. Tunjukkan pada peserta didik tentang
eratnya hubungan antara pengetahuan yang telah mereka miliki dengan pengetahuan yang
akan dipelajari. Kegiatan ini dapat menimbulkan rasa mampu da percaya diri sehingga
mereka terhindar dari rasacemas dan takut menemui kesulitan atau kegagalan.

2.4.2. Penyampaian Informasi

Penyampaian informasi seringkali dianggap sebagai suatu kegiatan yang paling


penting dalam proses pembelajaran, padahal bagian ini hanaya merupakan salah satu
komponen dari startegi pembelajaran. Artinya, tanpa adanya kegiatan pendahuluan yang
menarik atau dapat memotivasi peserta didik dalam belajar maka kegiatan penyampaian
informasi ini menjadi tidak berarti. Guru yang mampu menyamaikan informasi dengan baik,
tetapi tidak melakukan kegiatan pendahuluan dengan mulus akan menghadapi kendala dalam
kegiatan pembelajaran selanjutnya.
Dalam kegiatan ini, guru juga harus memahami dengan baik situasi dan kondisi yang
dihadapinya. Dengan demikian, informasi yang disampaikan dapat diserap oleh peserta didik
dengan baik. Beberapa hal yang perlu disampaikan dalam penyampaian informasi adalah
urutan ruang lingkup dan jenis materi.

a. Urutan penyampaian
Urutan penyampaian materi pelajaran harus menggunakan pola yang tepat. Urutan
materi yang diberikan berdasarkan tahapan berpikir dari hal-hal yang bersifat konkret ke hal-
hal yang bersifat abstrak atau dari hal-hal yang sederhana atau lebih mudah dilakukan ke hal-
hal yang lebih kompleks atau sulit dilakukan. Selain itu, perlu juga diperhatikan apakah suatu
materi Harus disampaikan secara berurutan atau boleh melompat-lompat atau boleh dibolak-
balik, misalnya dari teori ke praktik atau dari praktik ke teori. Urutan penyampaian informasi
yang sistematis akan memudahkan peserta didik cepat memahami apa yang ingin disampaikan
oleh gurunya.

b. Ruang Lingkup Materi yang disampaikan


Besar kecilnya materi yang disampaikan atau ruang lingkup materi sangat bergantung
pada karakteristik peserta didik dan jenis materi yang dipelajari. Umumnya ruang lingkup
materi sudah tergambar pada saat penentuan tujuan pembelajaran. Apabila TPK berisi muatan

9
tentang fakta maka ruang lingkupnya lebih kecil dibandingkan dengan ATK yang berisi
muatan tentang suatu prosedur.
Hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam memperkirakan besar kecilnya materi adalah
penerapan teori gestalt. Teori tersebut menyebutkan bahwa bagian-bagian kecil merupakan
satu kesatuan yang bermakna apabila dipelajari secara keseluruhan tidaklah berarti tanpa
bagian-bagian kecil tadi. Atas dasar teori tersebut perlu dipertimbangkan hal-hal berikut.

 Apakah materi akan disampaikan dalam bentuk bagian-bagian kecil seperti dalam
pembelajaran terprogram (programmed instruction)

 Apakah materi akan disampaikan secara global/keseluruhan dulu baru ke bagian-


bagian. Keseluruhan dijelaskan melalui pembahasan isi buku, selanjutnya bagian-
bagian dijelaskan melalui uraian per bab.

c. Materi yang akan disampaikan

Materi pelajaran umumnya merupakan gabungan antara jenis materi yang berbentuk
pengetahuan (fakta dan informasi yang terperinci), keterampilan langkah-langkah, prosedur,
keadaan, dan syarat-syarat tertentu), dan sikap (berisi pendapat, ide, saran, atau tanggapan).
Membedakan isi pelajaran ini terlihat masing-masing jenis pelajaran sudah pasti memerlukan
strategi penyampaian yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dalam menentukan strategi
pembelajaran, guru harus terlebih dahulu memahami jenis materi pelajaran yang akan
disampaikan agar diperoleh strategi pembelajaran yang sesuai.

 Apabila peserta didik diminta untuk mengingat nama suatu objek, simbol, atau
peristiwa, berarti materi tersebut berbentuk fakta sehingga alternatif strategi
penyampaiannya adlah dalam bentuk ceramah atau tanya jawab.

 Apabila peserta didik diminta menyebutkan suatu definisi atau menulis ciri-ciri khas
dari suatu benda, berarti materi tersebut berbentuk konsep sehingga alternatif strategi
penyampaiannya adalah dalam bentuk resitasi, prnugasan, atau diskusi kelompok.

 Apabila peserta didik diminta mengemukakan hubungan antar beberapa konsep,


berarti materi tersebut berbentuk pronsip sehingga alternatif strategi penyampaiannya
adalah berbentuk diskusi terpimpin dan studi kasus.

2.4.3. Partisipasi Peserta Didik

Berdasarkan prinsip student centered, peserta didik merupakan pusat dari suatu
kegiatan belajar. Hal ini dikenal dengan istilah CBSA (cara belajar siswa aktif) yang
diterjemahkan dari SAL (Student active training), yang maknanya adalah proses pembelajaran
akan lebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan secara langsung da

10
relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudahditerapkan.Terdapat beberapa hal penting
yang berhubungan dngan partisipasi peserta didik, yaitu sebagai berikut.

a. Latihan dan praktik

Seharusnya dilakukan setelah peserta didik diberi informasi tentang suatu


pengetahuan, sikap, atau keterampilan tertentu. Agar materi tersebut benar-benar-benar
terinternalisasi (relatif mantap dan termantapkan dalam diri mereka) maka kegiatan
selanjutnya adalah hendaknya peserta didik diberi kesempatan untuk berlatih atau
mempraktikan pengetahuan, sikap, atau keterampilan tersebut. Sehingga setelah selesai belajar
mereka diharapkan benar-benar merencanakan TPK

b. Umpan balik

Segera setelah peserta didik menunjukka perilaku sebagai hasil belarnya, maka guru
memberikan umpan balik (feedback) terhadap hasil belajar tersebut. Melalui umpan balik
yang diberikan oleh guru, peserta didik akan segera mengetahui apakah jawaban yang
merupakan kegiatan yang telah mereka lakukan benar/salah, tepat/tidak tepat, atau ada sesuatu
yang diperbaiki. Umpan balik dapat berupa penguatan positif dan penguatan negatif. Melalui
penguatan positif (baik, bagus, tepat sekali, dan sebagainya), dihapkan perilaku tersebut akan
terus dipelihara atau ditunjukkan oleh peserta didik. Sebaliknya, melalui penguatan negatif
(kyrang tepat, salah, perlu disempurnakan, dan sebagainya), diharapkan perilaku tersebut akan
dihilangkan atau peserta didik akan melakukan kesalahan serupa.

2.4.4. Tes

Serangkaian tes umumnya diginakan oleh guru untuk mengetahui , apakah tujuan
pembelajaran khusus telah tercapai atau belum, dan apakah pengetahuan sikap dan
keterampilan telah benar-benar dimiliki oleh peserta didik atau belum.
Pelaksanaan tes biasanya dilakukan diakhir kegiatan pembelajaran setelah peserta
didik melalui berbagai proses pembelajaran, penyampaian informasi berupa materi pelajaran
pelaksanaan tes juga dilakukan setelah peserta didik melakukan latihan atau praktik.
a. Diakhir kegiatan belajar setiap pesrtra didik dapat menyebutkan 4 dari 5 ciri makhluk
hidup dengan bnar. Standar keberhasilannya adalah apabila minimal peserta didik dapat
menyebvutkan 3 dari 5 ciri makhluk hidup atau tingkat penguasaan berkisar 80%-85%.
b. Soal tes objektif dengan 4 pilihan terdiri atas 20 nomor, peserta didik dianggap menguaisai
materi apabila ia dapat mengerjakan 80%-85% soal dengan benar.

2.4.5. Kegiatan Lanjutan

Kegiatan yang dikenal dengan istilah Follow up dari suatu hasil kegiatan yang telah
dilakukan seringkali tidak dilaksanankan dengan baik oleh guru. Dalam kenyataannya, setiap
kali setelah tes dilakukan selalu saja terdapat peserta didik yang berhasil dengan bagus atau
diatas dirata-rata, (a) hanya menguasai sebagian atau cenderung di rata-rata tingkat

11
penguasaan yang diharapkan dapat dicapai, (b) peserta didik seharusnya menerima tindak
lanjut yang berbeda sebagai konsekuensi dari hasil belajar yang bervariasi tersebut.

2.5.Kelebihan dan kekurangan Model Pembelajran Dick and Carrey

2.5.1. Kelebihan dari Model Dick and Carey


1) Setiap langkah jelas, sehingga dapat diikuti
2) Teratur, Efektif dan Efisien dalam pelaksanaan
3) Merupakan model atau perencanaan pembelajaran yang terperinci, sehingga mudah diikuti
4) Adanya revisi pada analisis instruksional, dimana hal tersebut merupakan hal yang sangat
baik, karena apabila terjadi kesalahan maka segera dapat dilakukan perubahan pada analisis
instruksional tersebut, sebelum kesalahan didalamnya ikut mempengaruhi kesalahan pada
komponen setelahnya
5) Model Dick & Carey sangat lengkap komponennya, hampir mencakup semua yang
dibutuhkan dalam suatu perencanaan pembelajaran.

2.5.2. Kekurangan dari Model Dick and Carey adalah


1) Kaku, karena setiap langkah telah di tentukan
2) Tidak semua prosedur pelaksanaan KBM dapat di kembangkan sesuai dengan langkah-
langkah tersebut
3) Tidak cocok diterapkan dalam e learning skala besar
4) Uji coba tidak diuraikan secara jelas kapan harus dilakukan dan kegiatan revisi baru
dilaksanakan setelah diadakan tes formatif
5) Pada tahap-tahap pengembangan tes hasil belajar, strategi pembelajaran maupun pada
pengembangan dan penilaian bahan pembelajaran tidak nampak secara jelas ada tidaknya
penilaian pakar (validasi).

BAB II

12
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari penjelasan yang telah di tulis diatas , maka dapat kami simpulkan:

1) Model Dick & Carey merupakan model desain pembelajaran prosedural. Secara umum
model-model ini terdiri dari tiga aktivitas utama, yaitu: analisis, pengembangan
strategi, dan evaluasi. Dick and Carey (1985) memandang desain pembelajaran
sebagai sebuah sistem dan menganggap pembelajaran adalah proses yang sitematis.
2) karakteristik dalam model pembelajaran Dick And Carrey adalah:
(a) Dalam penerapan model ini, setiap komponen penting dan tidak boleh ada yang
dilewati.
(b) Penggunaan model ini mungkin akan mendorong kreatifitas desainer instruksional
professional
(c) Dịck dan Carey Model Model menyediakan pendekatan sistematis terhadap
kurikulum dan desain program. Ketegasan model ini berusaha untuk
mengadaptasikan ke tim dengan banyak anggota dan berbagai sumber yang berbeda
(d) Cocok diterapkan untuk e-learning skala kecil, misainya dalam bentuk unit, modul,
atau pelajaran
3) Langkah pengembangan desain Instruksional menurut dick dan carey yaitu
(a) Mengidentifikasi tujuan pembelajaran,
(b) Melakukan analisis instruksional,
(c) Analisis Siswa dan Konteks,
(d) Merumuskan tujuan pembelajaran khusus,
(e) Mengembangkan instrument penelitian,
(f) Mengembangkan strategi pembelajaran,
(g) Penggunaan Bahan Ajar, Merancang dan mengembangkan evaluasi formatif,
(h) Melakukan revisi terhadap program pembelajaran,
(i) Merancang dan mengembangkan evaluasi sumatif.
4) Komponen-komponen dalam model pembelajaran Dick and Carrey adalah kegiatan
Pembelajaran Pendahuluan, Penyampaian Informasi , Partisipasi Peserta Didik ,Tes ,
dan Kegiatan Lanjutan
5) Kelebihan dari Dick and Carey Model sebagai berikut: jelas, Teratur, efektif dan
efisien, Adanya revisi pada analisis pembelajaran. Dan kekurangan nya adalah kaku ,
tidak semua KBM dapat terlaksana , tidak cocok di terapkan dalam W-learning skala
besar.

3.2 Saran

Penulis menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan jauh dari
kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada banyak
sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan
saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas.

13
DAFTAR PUSTAKA

Aji, Nugroho W. 2016. Model Pembelajaran Dick and Carrey dalam Pembelajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia. Kajian Linguistik dan Sastra. Vol (1): 2.119-126
Arif, Khairan M. 2016. Pengembangan modul pembelajaran dengan model Dick
And Carrey pada pembelajaran pendidinab agama. islam bagi siswa kelas 5 di
SDIT IQRO. Jurnal Teknologi Pendidikan
Fajarini , anindya. 2018. Diktat mata kuliah pengembangan bahan ajar. Jember :
FTIK IAIN Jember
Irvan , Nurdiansyah , Fahmi dan Mahyarani Hayati . 2015 . Pengembangan Lembar
kerja mahasiswa pada materumu fungsi distribusi dengan menggunakan model
desain Dick And Carrey pada program Studi Pendidikan Matematika FKIP
UMSU. Volume (1) ISSBN :978-602-60468-1-9

14
15