Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN MIKROBIOLOGI

PENANAMAN DAN ISOLASI MIKROB

Nama Kelompok 2

Nur Afni Helia Dewi (191810401002)

Noor Aziza Gilani (191810401011)

Laila Fadilah (191810401015)

Achmad Rosyadi (191810401017)

Nawang Wulan (191810401028)

Annisa Aprilia Palupi (191810401031)

Axgrandchy Ocktrilian (191810401036)

M. Imam Tohari (191810401040)

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS JEMBER

2020
I. Judul dan Tujuan
1.1 Judul: Penanaman dan Isolasi Mikrob
1.2 Tujuan: Mahasiswa dapat mengisolasi dan menghitung jumlah mikrob
dari alam.

II. Pendahuluan

Isolasi bakteri adalah proses mengambil bakteri dari medium atau


lingkungan asalnya dan menumbuhkannya di medium buatan sehingga diperoleh
biakan yang murni. Bakteri dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya harus
menggunakan prosedur aseptik. Aseptik berarti bebas dari sepsis, yaitu kondisi
terkontaminasi karena mikroorganisme lain. Teknik aseptik ini sangat penting bila
bekerja dengan bakteri. Beberapa alat yang digunakan untuk menjalankan
prosedur ini adalah bunsen dan laminar air flow Bila tidak dijalankan dengan
tepat, ada kemungkinan kontaminasi oleh miroorganisme lain sehingga akan
mengganggu hasil yang diharapkan. Teknik aseptik juga melindungi laboran dari
kontaminasi bakteri (Singleton dan Sainsbury, 2006).
Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan
mikroba lain yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Isolasi
mikroba dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat. Sel-sel
mikroba akan membentuk koloni sel yang tetap pada tempatnya (Nur, I. dan
Asnani, 2007).

Isolasi mikroba dikenal dengan beberapa cara atau metode untuk


memperoleh biakan murni dari suatu biakan campuran, dua diantaranya yang
paling sering digunakan adalah metode cawan gores dan metode cawan tuang,
yang didasarkan pada prinsip pengenceran dengan maksud untuk memperoleh
spesies individu, sehingga setiap koloni dapat terpisah dari satu jenis sel yang
dapat diamati (Afrianto, 2004). Biakan murni diperlukan dalam berbagai metode
mikrobiologis, antara lain digunakan dalam mengidentifikasi mikroba. Untuk
mengamati ciri-ciri kultural morfologi, fisiologi dan serologi dibutuhkan mikroba
yang berasal dari satu spesies (Dwidjoseputro, 2005).
III. Metode Praktikum

3.1 Alat:

1. Cawan Petri

2. Jarum Ose

3. Inkubator

4. Bunsen

3.2 Bahan:

1. Garam Fisiologis (0,85% NaCl)

2. Media PCA

3. Media LA

4. Medium NA

3.3 Skema Kerja

3.3.1 Penanaman Mikrob dari Alam dengan Cara Taburan

Diambil 10 gram sampel dan ditambahkan 90 ml garam fisiologis (0,85% NaCl)


lalu homogenkan.

Diambil 1 ml sampel dan dimasukkan ke 9 ml garam fisiologis (pengencern 10 -2)


lalu dibuat seri pengenceran sampai 10 -5.

Diambil 100µl dari pengenceran dan dituang merata dalam cawan petri yang
berisi media PCA.

Diinkubasi selama 24-96 jam pada inkubator 30◦ C dan diamati setiap hari.
Diamati dan dihitung jumlah koloni mikrob.

Hasil

3.3.2 Menangkap Mikrob dari Udara

Diambil 10 gram sampel dan ditambahkan 90ml garam fisiologis (0,85% NaCl)
lalu homogenkan.

Diambil 1 ml dan dimasukkan kedalam 9ml garam fisiologis (pengenceran 10 -2)


dan dibuat seri pengenceran sampai 10 -5

Diambil 100µl dari pengenceran dituang merata dalam cawan petri yang berisi
media Luria Agar (LA).

Diinkubasi selam 24-96 jam pada inkubator dengan suhu 30◦C .

Diamati dan dihitung jumlah koloni mikrob yang tumbuh.

Hasil

3.3.3 Pemurnian Mikrob dengan Cara Goresan

Satu isolat dari penanaman dipindahkan ke cawan petri yang berisi medium NA
dengan metode 4 kuadran.
Dibagi media NA menjadi 4 bagian dengan bolpoin.

Satu koloni diambil dengan jarum ose lalu goreskan pada daerah I.

Jarum ose dibakar dan digariskan dari daerah I ke II.

Dilakukan penggoresannya pada daerah-daerah tanpa menyentuh daerah I.

Dilakukan berturut sampai daerah IV.

Hasil
IV. Hasil dan Pembahasan

4.1 Hasil

No Isolat Morfologi Jumlah

1. Isolat tanah berbentuk 5 koloni


sirkulair, berwarna
putih, dengan
margin (tepian)
berbentuk lobate
dan elevasi koloni
(Sumber: Dwijoseputro,2005)
berbentuk convex.

2. Isolat udara

(Sumber: Arisandi,2017)

3. Isolat buah

(Sumber: Oviana, 2015)

4. Isolat air

(Sumber: Fitri,2011)
4.2 Pembahasan

Teknik isolasi mikroba adalah suatu usaha untuk menumbuhkan mikroba


di luar dari lingkungan alamiahnya. Tujuan dari isolasi mikroba yaitu
memisahkan mikroba dari lingkungannya dan mendapatkan hasil biakan murni.
Mikroorganisme dapat diperoleh dari lingkungan air, tanah, udara, substrat yang
berupa bahan pangan, tanaman dan hewan. Metode perhitungan cawan memiliki
prinsip yaitu jika sel jasad renik yang masih hidup ditumbuhkan pada media agar,
maka sel jasad renik tersebut akan berkembang biak membentuk koloni yang
dapat dilihat langsung dan dihitung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop.
(Nurtjahyani,2014).

Metode-metode untuk mengisolasi biakan murni mikroorganisme menurut


Pelczar dan Chan (1986) yaitu cawan gores, cawan tebar, dan cawan tuang.
Cawan gores dilakukan dengan inokulum digoreskan di permukaan medium agar
nutrient, dalam cawan petri, dengan jarum pindah (lup inokulasi). Hasil yang
didapat yaitu di antara garis-garis goresan akan terdapat sel-sel yang cukup
terpisah-pisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni-koloni terpisah.
Cawan tebar dilakukan dengan setetes inokulum diletakkan di tengah-
tengah medium agar nutrient, dalam cawan petri, dan dengan menggunakan
batang kaca bengkok yang steril, inokulum itu disebarkan di permukaan medium.
Batang yang sama dapat digunakan untuk menginokulasi pinggan kedua untuk
menjamin penyebaran sel-selnya dengan baik. Pada beberapa pinggan akan
muncul koloni-koloni yang terpisah (Pelczar dan Chan,1986).
Cawan tuang dilakukan dengan lup inokulasi, pindahkan satu lup penuh
suspense asal ke sebuah tabung (medium agar cair steril yang agak dingin).
Tabung tersebut digelindingkan di antara kedua tangan agar inokulumnya
tercampur secara merata. Pemindahan serupa dilakukan pada tabung-tabung
selanjutnya. Isi setiap tabung dituangkan ke dalam cawan petr i terpisah. Setelah
inkubasi, cawan-cawan diperiksa kalau-kalau ada koloni-koloni yang terisolasi.
Dari cawan yang berisikan koloni-koloni terisolasi, dapat diisolasi biakan murni
mikroorganisme dengan memindahkan seebagian dari satu koloni ke dalam
tabung berisi medium steril (Pelczar dan Chan,1986).
Menurut Hidayat (2016) faktor yang dapat mempengaruhi jumlah isolat
mikrob yaitu jenis dan kondisi medium, dimana medium yang akan digunakan
harus mengandung nutrisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan Mikrob.
Kondisi dalam menginkubasi juga merupakan faktor penting, dimana keadaan
seperti suhu dan pH harus sesuai dengan kebutuhan mikrob. Kondisi ekstrem
dapat menyebabkan mikrob tidak mampu bertahan hidup.

Pengenceran adalah melarutkan atau melepasan mikroba dari substratnya


ke dalam air sehingga lebih mudah penanganannya. Tujuan pengenceran yaitu
untuk mengurangi kepadatan bakteri yang ditanam. Pengenceran bertingkat yaitu
memperkecil atau mengurangi jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan.
(Nurohaianah,2007). Larutan yang digunakan untuk pengenceran yakni garam
fisiologis. Garam fisiologis sendiri memiliki banyak sekali fungsi baik dalam
bidang medis maupun laboratorium. Salah satu fungsi garam fisiologis dalam
bidang laboratorium adalah untuk pengenceran konsentrasi mikroba(Lay,1994).

Menurut Meryandini, dkk (2009), sebelum melakukan isolasi terlebih


dahulu dilakukan pengambilan sampel. Macam-macam pengambilan sampel
menurut tempatnya yaitu sampel pada tanah dan sampel pada udara. Sampel tanah
digunakan jika mikroorganisme yang diinginkan berada di dalam tanah, maka
cara pengambilannya disesuaikan dengan tujuan, misal jika yang diinginkan
adalah mikroorganisme rhizosfer maka sampel diambil dari sekitar perakaran
dekat permukaan tanah. Sampel udara dilakukan dengan teknik pengambilan
hanya dengan membuka tutup cawan petri yang berisi media steril selama ±5
menit.
Menurut Lambui (2017) isolasi bakteri tanah dilakukan dengan metode
enrichment dan spread plate. Sebanyak 10 g sampel tanah dimasukkan ke dalam
90 ml medium NB, kemudian diinkubasi 1-2 hari pada suhu 37°C, dilanjutkan
dengan pengenceran menggunakan NaCl fisiologis 0,8% hingga 10-12. Masing-
masing pengenceran 10-8 -10-12 diambil 0,1 ml untuk disurface spread plate pada
medium NA dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 1-2 hari. Koloni bakteri yang
tumbuh terpisah selanjutnya dimurnikan menggunakan metode streak plate pada
medium NA. Isolat murni kemudian diidentifikasi berdasarkan karakteristik yang
mengacu pada Bergey’s Manual of Determinative of Microorganism.
Isolasi bakteri dari sampel tanah yang berasal dari hutan primer sekitar
Danau Kalimpa’a kawasan TNLL Sulawesi Tengah ditandai dengan terbentuknya
koloni yang melimpah (Gambar4.1). Setelah melalui tahap pemurnian diperoleh 5
koloni bakteri isolat terpilih. Pengamatan secara makroskopis pada medium NA
menunjukkan bahwa ciri morfologi koloni bakteri isolat berbentuk sirkulair,
berwarna putih, dengan margin (tepian) berbentuk lobate dan elevasi koloni
berbentuk convex. Hal ini menunjukkan bahwa koloni isolat dapat tumbuh baik
pada medium.
Dwijoseputro (2005) mengatakan bahwa koloni bakteri memiliki sifat-
sifat khusus dalam medium padat, dimana bentuk koloni dapat digambarkan
sebagai titik, bulat atau sirkulair, filamentus dan tak teratur. Permukaan koloni
dapat rata, timbul rata, melengkung, mencembung, membukit dan serupa kawah,
sedangkan tepian koloni dapat berbentuk utuh atau entire, berbelah atau lobate,
berbenang atau filamentus dan keriting (curled). Pada warna, koloni bakteri
sebagian besar berwarna keputihan atau kekuningan.

Gambar 4.1 Isolat Mikrob dari Tanah


(Sumber: Dwijoseputro,2005)
Mikroba dapat ditemukan dalam berbagai tempat, termasuk udara.
Mikroba tidak dapat bertahan lama di udara tetapi dapat berpindah ke inang yang
lain dan berkembang biak disana. Keberadaan mikroba di udara dipengaruhi oleh
berbagai keadaan seperti suhu dan kelembaban yang menjadi faktor penting dalam
pertumbuhan mikroba dan paling banyak ditemukan dalam ruangan. Meskipun
tidak ada mikroorganisme yang mempunyai habitat asli udara, tetapi udara di
sekeliling kita sampai beberapa kilometer di atas permukaan bumi mengandung
berbagai macam jenis mikroba dalam jumlah yang beragam. (Waluyo, 2009).

Udara tidak mengandung komponen nutrisi yang penting untuk bakteri,


adanya bakteri udara kemungkinan terbawa oleh debu, tetesan uap air kering
ataupun terhembus oleh tiupan angin. Bakteri yang berasal dari udara biasanya
akan menempel pada permukaan tanah, lantai, maupun ruangan. Sebagian besar
bakteri yang berasal dari udara terutama yang dapat mengakibatkan infeksi di
rumah sakit misalnya Bacillus Sp., Staphylococcus Sp., Streptococcus Sp.,
Pneumococcus Sp., Coliform, dan Clostridium Sp. (Bibiana, 1992).

Gambar 4.1 Isolasi Mikrob dari Udara


(Sumber: Arisandi,2017)
Mikroorganisme merupakan organisme atau makhluk hidup yang
berukuran sangat kecil yang sebagian besar kasat mata dan membutuhkan alat
bantu seperti mikroskop untuk membantu melihatnya. Tanpa kita sadari,
mikroorganisme ada di sekeliling kita tidak terkecuali di air. Sebagian besar dari
mereka mungkin tidak terlalu berhaya terhadap manusia, namun ada beberapa
yang dapat membahayakan kesehatan tubuh manusia. Berikut merupakan contoh
mikroorganisme yang biasa hidup di dalam air : Klebsiella sp., Pseudomonas sp.,
Providenca rettgeri, Citrobacter sp., Clostridium sp., Rhoducoccus equi,
Branhamella catarrhalis, Enterobacter aerogenes, Escherichia coli (Waluyo,2009).

Menurut Oviana (2015) yang melakukan praktikum isolasi mikrob pada


buah nanas, menunjukkan hasil isolasi dari jaringan buah dan crown yang sakit
menunjukkan hanya biakan bakteri yang tumbuh pada media PDA dan NA.
Biakan bakteri tersebut selanjutnya dikarakterisasi dengan serangkaian uji. Dari
hasil dari beberapa uji terhadap salah satu isolat bakteri yang didapat yaitu isolat
B yang cocok dengan karakter E. chrysanthemi diantaranya hasil uji KOH 3%
menujukkan isolat B merupakan bakteri gram negatif. kelompok Gram negatif
yang dicirikan dengan terbentuknya benang lendir yang tidak terputus sepanjang
kurang lebih 2 cm Hasil uji ini diperkuat dengan hasil uji gram menggunakan
teknik pewarnaan yang menunjukkan hasil akhir positif yaitu sel-sel bakteri
tampak berwarna merah jambu.

Gambar 4.2 Isolat Mikrob dari Buah


(Sumber: Oviana, 2015)

Menurut Nur tjahyani (2014) yang melakukan pengamatan pada bakteri


dari saus tomat, dengan pengenceran yang berbeda beda. Data hasil pengamatan
di hitung dengan metode hitungan cawan dengan cawan tuang (Total Plate Count
(TPC). Pertumbuhan koloni mikroba dengan pengenceran 10–3 tampak pada
gambar 4.2, tanda panah merah merupakan salah satu contoh koloni mikroba.
Hasil pengamatan sampel dengan pengenceran 10–4 dapat dilihat pada gambar di
bawah ini: Pada gambar 4.3 pertumbuhan koloni mikroba dengan pengenceran
10–4, tanda panah merah menunjukkan salah satu contoh koloni mikroba.

Hasil pengamatan dengan pengenceran 10–5 dapat dilihat pada gambar


4.4. Pertumbuhan koloni mikroba dengan pengenceran 10–5 seperti tampak pada
gambar 5 koloni mikroba berkurang, tanda panah merah merupakan salah satu
contoh koloni mikroba. Hasil pengamatan dan perhitungan TPC dapat di lihat
pada tabel 1. Pada tabel 1 pertumbuhan koloni dengan pengenceran 10–3
menunjukkan jumlah koloni mikroba sebanyak 54 koloni dengan jumlah koloni
ml/g sebanyak 54/10–3 = 5,4 104 CFU. Sedangkan dengan pengenceran yang
lebih rendah (10–4) menunjukkan perbedaan jumlah koloni mikroba yaitu
sebanyak 44 dengan jumlah koloni ml/g (CFU) sebesar 4,4 105 CFU dengan
karakteristik bentuk bulat tepi bergerigi dan berwarna putih. Bila pengenceran
sampel lebih tinggi (10–5) pertumbuhan koloni mikroba semakin berkurang
terdapat 38 koloni dengan jumlah koloni ml/g (CFU) sebesar 3,8 106 CFU dengan
karakteristik bentuk bulat tepi bergerigi dan berwarna putih.

Gambar 4.2 Pengenceran 10–3


(sumber: Nurtjahyani,2014)
Gambar 4.3 Pengenceran 10-4
(sumber: Nurtjahyani,2014)

Gambar 4.4 Pengenceran 10-5


(sumber: Nurtjahyani,2014)
Isolasi kapang endofit dari bagian daun, tangkai daun, ranting dan kulit
batang tanaman sengon provenan Kepulauan Solomon yang ditanam di Kebun
Semai Benih Uji Keturunan (KSBUK) Lumajang menghasilkan 28 isolat murni
jamur endofit dengan karakter morfologi koloni yang berbeda. Hasil isolasi
kapang endofit dari bagian kulit batang dan ranting pohon sengon menunjukkan
jumlah kehadiran kapang endofit yang paling banyak dibandingkan kapang
endofit yang diisolasi dari bagian daun dan tangkai daun. Kapang endofit pada
tanaman kode 77 menghasilkan 14 isolat yang berbeda, tanaman kode 83
menghasilkan 5 isolat yang berbeda, tanaman kode 98 menghasilkan 9 isolat yang
berbeda. Isolat kapang endofit yang ditanam pada media MEA memiliki karakter
morfologi koloni berbeda-beda. Pengamatan morfologi koloni meliputi warna
permukaan koloni, warna sebalik koloni, tekstur miselium, Permukaan/Elevations,
ada tidak nya zonasi, growing zone dan radial furrow. Sebagian besar warna
permukaan koloni dan sebalik koloni menampilkan warna yang beragam, mulai
dari warna coklat (Harsono, 2019).

Pengamatan tekstur miselium pada masing-masing isolat ditemukan


bertekstur kapas (Cottony), kerak (Crustose), frustose, silky dan felty. Rata-rata
kapang tumbuh pada media dengan tipe miselium tumbuh di atas agar media
(appressed/raised), dengan masing-masing kapang ada yang tumbuh membentuk
elevations jenis convex, flat, raised, dan crateriform. Pengamatan mikroskopis
dengan menggunakan pewarnaan laktofenol mengamati bentuk hifa dan alat
perkembangbiakan yang tampak. Bentuk hifa dalam pengamatan, yaitu jenis hifa
bersepta (bersekat/monositik) dan juga hifa tak bersepta (hifa senositik). Selain
bentuk hifa dan konidia, sel konidiogenos juga ikut teramati pada pengamatan ini.
Sel konidiogenos merupakan sel pembentuk konidia, sel ini adalah sel aseksual
tunggal yang terbentuk langsung dari sel pada hifa atau suatu sel hifa sendiri yang
menghasilkan konidia. Bentuk sel konidiogenos dan konidia yang teramati yaitu
sel konidiogenos bentuk lencir, dengan fialid yang tumbuh selalu menjauhi hifa,
dengan bentuk konidia bulat berwarna hialin diujungnya. Bentuk lainnya yaitu sel
konidiogenos bentuk botol dengan leher panjang atau pun pendek, konidia
berbentuk bulat berantai, pada pengamatan baik fialid, maupun konidia tercat
berwarna biru. Bentuk konidia lainnya yang teramati yaitu ada yang berbentuk
elips (pada pengamatan tercat berwarna biru dan cokelat), dan ovoid yang
berwarna hialin. Pada pengamatan juga ditemukan makrokonia yang tumbuh pada
tepi hifa dengan bentuk silindris seperti bentuk cerutu dan berwarna hialin.
Mikrokonia juga ditemukan dengan bentuk elips dan berwarna hialin
(Harsono,2019).
Gambar 4.5 Isolat Kapang
(Sumber:Harsono,2019)

Menurut Fitri (2011), yang melakukan praktikum isolasi kepada bakteri


kitinolitik yang diisolasi dari sampel air yaitu air laut, air tambak dan air sungai
yang diambil di beberapa tempat di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar.
Masing-masing kawasan diambil sebanyak 20 sampel. Sampel air laut diperoleh
dari Laut Ujoeng Batee, Ulee Lheue, Syiah Kuala dan Alue Naga. Sampel air
tambak diperoleh dari tambak di daerah Baet, Tibang, Dayah Raya dan Lam
Pasee. Sampel air sungai diperoleh dari Krueng Lamnyong, Kr. Aceh, Kr. Raba
dan Kr. Daroi. Masing-masing lokasi pengambilan sampel diambil sampel
sebanyak 5 titik. Sampel air diambil dengan menggunakan botol sampel yang
sudah disterilkan dan dibawa ke laboratorium. Sampel yang diperoleh diambil
sebanyak 1 ml sampel lalu dicawankan pada media agar kitin dan diinkubasi
selama 48-72 jam pada suhu 30ºC .Bakteri yang tumbuh kemudian diambil dan
dibiakkan kembali pada media agar kitin hingga diperoleh biakan murni.
Hasil isolasi didapat 18 sampel yang mampu tumbuh pada media agar
kitin. Tujuh isolat dari kawasan laut, empat isolat dari kawasan tambak dan tujuh
isolat dari kawasan sungai. Hasil pengamatan morfologi koloni bakteri
menunjukkan bahwa seluruh isolat memiliki bentuk koloni bulat. Bentuk tepian
koloni yang rata berjumlah 14 isolat dan hanya empat yang bergerigi. Ukuran
koloni diperoleh dari ukuran yang paling kecil yaitu 1,0 mm hingga yang paling
besar yaitu 3,5 mm dengan rata-rata ukuran dari masing-masing koloni adalah 2,0
mm. Isolat berwarna putih susu berjumlah 13 isolat, 5 berwarna putih kekuningan
dan sebagian besar isolat bersifat gram negatif dengan bentuk sel basil dan kokus.

Gambar 4.6 Bakteri Kitinolitik


(Sumber: Fitri,2011)

V. Kesimpulan

Pada laporan kali ini dengan acara Penanaman dan Isolasi Mikrob, penulis
menarik kesimpulan bahwa isolasi mikroba merupakan suatu usaha untuk
menumbuhkan mikroba di luar dari lingkungan alamiahnya dengan memisahkan
mikroba dari lingkungannya dan mendapatkan hasil biakan murni. Metode-
metode untuk mengisolasi biakan murni mikroorganisme dapat dilakukan dengan
cawan gores (digoreskan di permukaan medium), cawan tebar (dilakukan dengan
setetes inokulum diletakkan di tengah-tengah medium), dan cawan tuang
(dituangkan ke cawan petri steril dan dibiarkan padat). Isolasi mikroba dapat
dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu media, nutrisi, dan kondisi fisik yang
meliputi suhu, pH, oksigen dan lingkungan. Mikroba dapat ditemukan hampir di
seluruh alam dan semua tempat yaitu di tanah, air, udara, dan pada buah.
Daftar Pustaka

Afrianto, L., 2004, Menghitung Mikroba Pada Bahan Makanan, Cakrawala


(Suplemen pikiran rakyat untuk iptek), Farmasi FMIPA ITB : Bandung.

Arisandi, A., B.Tamam dan R. Yuliandari. 2017. Jumlah Koloni pada Media
Kultur Bakteri yang Berasal dari Thallus dan perairan sentra budidaya
Kappaphicus alvareziidi Sumenep. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan.
9(1):57-64

Bibiana W. Hastowo, S. 1992. Mikrobiologi Jakarta: Rajawali Pers

Dwidjoseputro, 2005, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambatan : Jakarta.

Fitri, Lenni, Y. Yasmin.2011. Isolasi Dan Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri


Kitinolitik. Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi, Biologi Edukasi 3(2): 20-25

Harsono, W. Nurhayadi.2019. Isolasi Dan Identifikasi Kapang Endofit Dari Pohon


Sengon Provenan Kepulauan Solomon Berdasarkan Morfologi Dan
Molekuler (Analisis rDNA ITS (Internal Transcribed
Spacer)).Skripsi.Yogyakarta:Universitas Negeri Yogyakarta

Hidayat, Yosmed.2016. Analisis Jumlah Bakteri Cairan Kantung Tumbuhan


Nepenthes ampullaria yang Terdapat Di Hutan Cagar Alam Lembah Harau
Sumatera Barat.Bioconcetta 2(2):47-55

Lambui, Orryani,M. Jannah.2017. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Tanah di Hutan


Sekitar Danau Kalimpa’a, Kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi
Tengah, Online Journal of Natural Science 6(1):73-82

Lay BW. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: PT Raja Grafindo


Persada.

Meryandini, A., Widosari, W., Maranatha, B. 2009. Isolasi Bakteri Selulotik dan
Karakterisasi Enzimnya. Jurnal Penelitian Sumberdaya Hayati dan
Bioteknologi IPB, Vol : 13 (1). Hal 33-38.
Nur Indriyani, Asnani, 2007, Penuntun Praktikum Mikrobiologi Akuatik, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Unhalu : Kendari

Nurohaianah.2007.Media.Jakarta: UI Press

Nurtjahyani D. Supiana, D. Shyntya.2014.Efektivitas Pengenceran terhadap


Pertumbuhan Koloni Mikroba Pada Saus Tomat.Jurnal Saintek 11(2):65-68

Pelczar, M.J. dan Chan, E. C. S. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI-Press.


Singleton dan Sainsbury. 2006. Dictionary of Microbiology and Molecular
Biology 3rd Edition. John Wiley and Sons. Sussex, England.

Waluyo L. 2009. Mikrobiologi lingkungan. Malang: Universitas Muhamadiyah


Malang.