Anda di halaman 1dari 11

Meski tidak banyak, beberapa anak saat demam dapat menimbulkan kejang.

Angka
kejadian kejang demam terjadi pada 2-5% anak antara usia 6 bulan sampai 5
tahun. Kejang merupakan hal paling dicemaskan oleh orangtua meski tidak
membahayakan dan pada umumnya tidak berdampak buruk pada tumbuh dan
berkembangnya anak nantinya. Dalam menyikapi masalah kejang demam ini
biasanya bukan hanya orangtua yang cemas, tetapi kadang sebagian dokter yang
menangani kadang juga terbawa arus emosi orangtua dengan melakukan intervensi
yang berlebihan khususnya dalam penanganan dan pemeriksaan. Prosedur
penanganan yang seharusnya di minimalkan tetapi seringkali terlalu kaku dalam
menerapkan teori dan protap sehingga menimbulkan penanganan dan pemeriksaan
laboratorium yang berlebihan seperti pemeriksaan gula darah, elektrolit,
pemeriksaan EEG dan MRI.

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh (suhu rektal
diatas 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium atau di luar sistem susunan saraf
pusat atau otak. Kejang demam biasanya terjadi pada 24 jam awal demam atau hari pertama
demam. Anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku, kelojotan dan memutar
matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, napas akan terganggu, dan kulit akan
tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal kembali.

Kejang biasanya berakhir kurang dari 1 menit, tetapi walaupun jarang dapat terjadi selama lebih
dari 15 menit. Kejang demam jarang terjadi lebih dari 1 kali dalam 24 jam. Kejang karena sebab
lain atau kejang yang tidak disebabkan oleh demam akan berlangsung lebih lama, dapat terjadi
pada salah satu bagian tubuh saja dan dapat terjadi berulang.

PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS

Pemeriksaan dan penegakaan diagnosis klinis kejang demam tidak terlalu banyak kecuali untuk
mencari penyebab kejang atau bila terdapat kejang demam kompleks atau komplikata.
Menanyakan riwayat sebelumnya dan riwayat keluarga biasanya didapatkan riwayat kejang
deman pada anggota keluarga lainnya (ayah, ibu atau saudara kandung). Pada pemeriksaan fisik
neurologis atau persarafan biasanya tiidak didapatkan kelainan

Pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan rutin tidak dianjurkan, kecuali untuk mengevaluasi
sumber infeksi atau mencari penyebab seperti darah tepi, elektrolit dan gula darah. Bila tidak ada
riwayat pengeluaran cairan seperti muntah, diare, dan tanda kekurangan cairan lainnya
sebenarnya pemeriksaan ini tidak perlu. Dalam praktek sehari-hari sering dijumpai anak dengan
keadaan normal, makan minum baik dan tidak ada riayat yang berpotensi gangguankesimbangan
elektroli dan gula darah selalu diperiksa.

Pemeriksaan radiologi atau rontgen seperti X-ray kepala, CT Scan kepala atau MRI tidak rutin
dan hanya dikerjakan atas indikasi bila curiga meningitis (infeksi selaput otak), ensefalitis
(infeksi otak) atau abses otak. Pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS)seperti tindakan pungsi
lumbal untuk pemeriksaan CSS dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan
meningitis. Pmeriksaan elektroensefalografi (EEG) tak direkomendasikan, kecuali pada kejang
demam yang tidak khas misalnya kejang demam komplikata pada anak usia >6 tahun atau kejang
demam fokal
Jika seorang anak yang diimunisasi lengkap sesuai jadwal yabila mengalmai kejang demam
sederhana, dengan cukup melakukan intervensi minimal dan pemeriksaan minimal sebaiknya
tidak harus dikawatirkan. Pemeriksaan darah rutin dan pungsi lumbal rutin biasanya tidak perlu,
dan risiko dari prosedur neurodiagnostic (pencitraan atau EEG), antipiretik dan antikonvulsan
profilaksis jauh lebih besar daripada manfaatnya.

Penanganan Kejang Demam Pada Anak

Bila di rumah dengan petunjuk dokter bisa saja dilakukan pemberian diazepam 0,4-
0,6mg/KgBB/dosis melalui dubur atau rektal supposutoria. Saat di Rumah Sakit menghentikan
kejang dengan melakukan pemberian diazepam dosis awal 0,3-0,5 mg/KgBB/dosis IV (perlahan-
lahan). Bila kejang masih belum teratasi dapat diulang dengan dosis yang sama 20 menit
kemudian. Dalam keadaan seperti ini sebaiknya harus sehera dibawa ke rumah sakit terdekat.

Hal penting lain yang harus dilakukan adalah menurunkan demam dengan pemberian obat
antiretika seperti Paracetamol 10 mg/KgBB/dosis melalui oral atau minum. Bisa juga dengan
pemberian obat jenis Ibuprofen 5-10 mg/KgBB/dosis PO, keduanya diberikan 3-4 kali perhari.
Pemberian kompres sebaiknya dilakukan dengan segera bila suhu > 390C lakukan kompres
dengan air hangat, bila suhu >380C cukup melakukan kompres dengan air biasa

Pengobatan penyebab demam pada umumnya disebabkan karena infeksivirus. Infeksi virus
bisanya akan sembuh sendiri tanpa pemberian anttibiotika. Biasanya perjalanan penyakit infeksi
virus dalam 1-2 hari awal demam akan naik turun dan pada hari ke tiga demam membaik atau
demam turun hanya teraba hangat, bila diukur dibawah 38,5 dan semakin panjang interval
demamnya. Antibiotika diberikan sesuai indikasi dengan penyakit dasarnya yang dicurigai
sebagai penyebab bakteri. Sebenarnya infeksi yang disebabkan karena bakteri relatif sangat
jarang, tetapi sebaliknya justru dalam praktek sehari-hari pemberian antibiotika lebih sering
diberikan

Penanganan suportif lainnya adalah meletakkan anak anda di lantai atau tempat tidur dan
jauhkan dari benda yang keras atau tajam dan membebaskan jalan nafas. Palingkan kepala ke
salah satu sisi sehingga saliva (ludah) atau muntah dapat mengalir keluar dari mulut. Jangan
menaruh apapun di mulut pasien. Anak anda tidak akan menelan lidahnya sendiri. Dalam
keadaan tertentu sebaiknya hubungi dokter anak anda segera.

Penanganan awal di Rumah Sakit biasanya dilakukan pemberian oksigen hanya saat masih
kejang, bila kejang berhenti tidak perlu, menjaga keseimbangan air dan elektrolit dan
mempertahankan keseimbangan tekanan darah

Pencegahan Kejang

Dalam kasus Kejang demam sederhana tidak ada pencegahan khusus yang bisa dilakukan.
Namun kadangkala pencegahan berkala (intermiten) untuk kejang demam sederhana dengan
Diazepam 0,3 mg/KgBB/dosis PO dan antipiretika pada saat anak menderita penyakit yang
disertai demam. Sedangkan pencegahan kontinu untuk kejang demam komplikata dengan Asam
Valproat 15-40 mg/KgBB/hari PO dibagi dalam 2-3 dosis. Pencegahan dengan pemberian obat
antikejang lewat dubur dengan obat anti kejang rektal tidak bermanfaat, karena efek
perlindungannya hanya jangka pendek. Sedangkan pemberian kopi untuk mencegah kejang yang
selama ini diyakini oleh masyarakat awam tidak ada dasar ilmiah dan penelitian ilmiahnya

Pada umumnya kejang demam tidak berdampak yang berat pada tumbuh dan berkembangnya
anak. Tetapi kasus tertentu yang beresiko terjadi gangguan hipersensitif susunan saraf pusat,
hipersensitif saluran cerna dan pada penderita alergi saluran cerna, bila tidak ditangani dengan
baik, kejang demam dapat berkembang menjadi kejang demam berulang, epilepsi, kelainan
motorik, gangguan perilaku dan gangguan mental dan belajar.

Melihat berbagai hal tentang penanganan dan akibat kejang demam pada anak tersebut maka
memang harus diwaspadai dan tidak harus diremehkan. Namun sebaliknya juga jangan disikapi
ketakutan berlebihan atau intervensi dan pemeriksaan berlebihan. Karena sikap yang berlebihan
dalam menangani sebuah kasus akan berdampak tindakan dan pemeriksaan yang berlebihan yang
tidak perlu. Bahkan tindakan ketakutan dan tindakan berlebihan akan mempunyai dampak
tersendiri khususnya dalam efek samping obat pemeriksaan dan pengeluaran biaya besar yang
tidak perlu.
Kejang demam adalah penyakit yang sering dijumpai pada anak dan merupakan gangguan
kejang tersering pada anak. Kejang demam atau yang sering pula disebut dengan step merupakan
suatu keadaan dimana terjadi kejang dengan disertai demam lebih dari 38C dan bukan
disebabkan oleh kelainan otak. Faktor penyebab kejang demam antara lain adalah derajat
demam, umur, dan genetik.

Kejang demam dapat dibedakan menjadi 2, yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam
kompleks. Kejang demam sederhana adalah kejang kurang dari 15 menit, tidak berulang, dan
kejangnya mengenai seluruh tubuh (kelojotan). Kejang demam sederhana merupakan bentuk
yang paling sering ditemukan dan memiliki risiko komplikasi yang rendah. Sedangkan kejang
demam kompleks adalah kejang lebih dari 15 menit, yang dapat berulang dalam 24 jam, dan
kejangnya hanya mengenai satu atau beberapa bagian tubuh.

Pada umumnya kejang demam adalah penyakit yang tidak membahayakan dan memiliki risiko
kompllikasi yang rendah. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi antara lain adalah kejang
demam berulang, epilepsi, penurunan IQ, dan gangguan neurologis,

Pengobatan kejang demam adalah dengan pemberian obat diazepam lewat anus dengan dosis
yang sesuai berat badan, 5mg untuk berat badan kurang dari 10 kg dan 10mg untuk berat badan
lebih dari 10 kg. Pemberian obat penghilang demam juga dapat membantu mengurangi risiko
terjadinya kejang demam, obat yang sering dipakai antara lain adalah parasetamol dan ibuprofen.

Apabila terjadi kejang demam, berikut adalah tips yang harus dikerjakan untuk penanganan
awal :

1. Jangan panik
2. Buka pakaian anak
3. Posisikan terlentang dengan kepala miring
4. Bersihkan muntahan dan lendir dari mulut dan hidung
5. Ukur suhu dan hitung berapa lama kejangnya
6. Berikan diazepam pada saat kejang (tidak perlu apabila sudah berhenti)
7. Bawa ke pelayanan kesehatan terdekat.

Kejang demam pastinya akan membawa ketakutan bagi orang tua, namun jangan panik, kejang
demam dapat segera diatasi dan jarang menimbulkan masalah kedepannya.
Pengertian

Kejang Demam adalah kejang yang terjadi saat anak demam dan bukan disebabkan kelainan di
otak (infeksi) atau kelainan elektrolit. Kejang dapat berupa kekakuaan otot dan/atau gerakan
berulang-ulang (ritmik) pada kaki, tangan dan mata (bola mata bergerak ke atas). Kejang demam
sering terjadi pada anak usia 6 bulan – 5 tahun. Ketika sedang kejang anak tidak sadar, wajah
bisa tampak kebiru-biruan. Setelah kejang anak sadar meskipun tampak mengantuk atau mudah
rewel.

Bukan kejang demam apabila terdapat kondisi berikut ini:

 Anak tidak demam saat terjadi kejang


 Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan
 Anak pernah mengalami kejang tanpa demam sebelumnya
 Setelah kejang, anak tidak sadar atau tampak sakit berat

Penyebab Kejang Demam

Anak-anak pada usia kurang dari 6 tahun mempunyai ambang batas terhadap kejang yang relatif
lebih rendah. Sehingga apabila terjadi demam, anak-anak mudah terjadi kejang. Risiko terjadinya
kejang demam meningkat apabila terdapat anggota keluarga (orang tua atau saudara) yang
pernah kejang demam.

Sedangkan demam pada anak-anak biasanya disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Sebagian
besar demam pada anak-anak disebabkan infeksi saluran napas atas, diare, otitis media, dan
infeksi saluran kemih.

Kejang Demam Dapat Berulang

Kejang demam dapat berulang/terjadi lagi saat anak anda demam di kemudian hari.
Kemungkinan berulangnya kejang demam semakin besar apabila terdapat:

 Ada riwayat anggota keluarga (orang tua/saudara) yang kejang demam


 Kejang pertama kali terjadi pada usia < 12 bulan
 Kejang terjadi pada suhu tubuh relatif rendah
 Kejang terjadi segera setelah demam

Mengatasi Anak Kejang Demam di Rumah

Berikut ini beberapa tindakan yang dapat dilakukan di rumah apabila anak anda mengalami
kejang demam:

 Tetap tenang, jangan panik.


 Baringkan anak di tempat yang aman (lantai) tanpa bantal, dan jauhkan dari benda-benda
yang mudah pecah.
 Longgarkan pakaian anak, terutama pakaian di daerah leher dan dada.
 Atur posisi anak setengah tengkurap atau miring untuk mencegah tersedak.
 Jangan memasukkan apapun ke dalam mulut (sendok, makanan, minuman). Lidah anak
tidak akan tergigit.
 Jangan menahan gerakan kejang untuk mencegah terjadinya patah tulang.
 Berikan diazepam rektal (supositoria) 5 mg untuk anak dengan berat badan < 10 kg, atau
10 mg untuk anak dengan berat badan > 10 mg. Jangan diberikan bila kejang telah
berhenti.
 Perhatikan gerakan anak saat kejang dan catat lamanya kejang agar anda dapat
menjelaskan ke dokter nantinya.
 Ukur suhu badan anak.
 Bila anak masih kejang setelah pemberian diazepam rektal, atau kejang lebih dari 5
menit, segera bawa anak ke rumah sakit terdekat.
 Periksakan anak anda ke dokter untuk mengetahui diagnosis dan penanganan selanjutnya.

Untuk penanganan demam lihat artikel Mengatasi Demam pada Anak.

Kapan Perlu ke Dokter

Segera bawa anak anda ke dokter/rumah sakit terdekat bila terdapat salah satu berikut ini:

 Kejang tidak berhenti setelah diberikan diazepam rektal.


 Kejang berlangsung lebih dari 5 menit.
 Anak tidak sadar setelah kejang berhenti.
 Anak tampak sakit berat setelah kejang berhenti.
 Kejang demam terjadi untuk yang pertama kalinya.
 Kejang terjadi pada usia < 6 bulan atau > 5 tahun.
PENATALAKSANAAN DEMAM PADA ANAK

Demam pada anak merupakan hal yang paling sering dikeluhkan oleh orang tua mulai di
ruang praktek dokter sampai ke unit gawat darurat (UGD) anak, meliputi 10-30% dari jumlah
kunjungan. Demam membuat orang tua atau pengasuh menjadi risau.1,2 Sebagian besar
anakanak
mengalami demam sebagai respon terhadap infeksi virus yang bersifat self limited dan
berlangsung tidak lebih dari 3 hari atau infeksi bakteri yang tidak memerlukan perawatan di
rumah sakit. Akan tetapi sebagian kecil demam tersebut merupakan tanda infeksi yang serius
dan mengancam jiwa seperti pneumonia, meningitis, artritis septik dan sepsis. Hal ini
merupakan tantangan bagi dokter untuk mengidentifikasi penyebab demam tersebut.2,3
Pendekatan penatalaksanaan demam pada anak bersifat age dependent karena infeksi
yang terjadi tergantung dengan maturitas sistem imun di kelompok usia tertentu.3 Penilaian
awal pada saat anak dibawa ke rumah sakit akan membantu menentukan beratnya penyakit
anak dan urgensi pengobatannya.4
Berkaitan dengan hal tersebut diatas dalam sari kepustakaan ini akan di bahas
penatalaksanaan demam yang meliputi definisi dan patofisiologi demam, cara pengukuran,
penilaian awal, penatalaksaan demam dan kondisi khusus akibat demam.

DEFINISI
Menurut kamus kedokteran Stedman’s edisi ke-25, demam adalah peningkatan suhu tubuh
diatas normal (98,6o F/ 370 C). Sedangkan menurut edisi ke-26 dalam kamus yang sama,
demam merupakan respon fisiologis tubuh terhadap penyakit yang di perantarai oleh sitokin
dan ditandai dengan peningkatan suhu pusat tubuh dan aktivitas kompleks imun. Dalam
protokol Kaiser Permanente Appointment and Advice Call Center definisi demam untuk
semua umur, demam didefinisikan temperatur rektal diatas 380 C, aksilar diatas 37,50 C dan
diatas 38,2o C dengan pengukuran membran timpani 5, sedangkan demam tinggi bila suhu
tubuh diatas 39,50 C dan hiperpireksia bila suhu > 41,10 C.3,6

PATOFISIOLOGI DEMAM
Suhu tubuh secara normal dipertahankan pada rentang yang sempit, walaupun terpapar suhu
lingkungan yang bervariasi. Suhu tubuh secara normal berfluktuasi sepanjang hari, 0,50 C
dibawah normal pada pagi hari dan 0,5 0 C diatas normal pada malam hari.3 Suhu tubuh diatur
oleh hipotalamus yang mengatur keseimbangan antara produksi panas dan kehilangan panas.
Produksi panas tergantung pada aktivitas metabolik dan aktivitas fisik. Kehilangan panas
terjadi melalui radiasi, evaporasi, konduksi dan konveksi. Dalam keadaan normal termostat di
hipotalamus selalu diatur pada set point sekitar 370 C, setelah informasi tentang suhu diolah di
hipotalamus selanjutnya ditentukan pembentukan dan pengeluaran panas sesuai dengan
perubahan set point. 5,7
Hipotalamus posterior bertugas meningkatkan produksi panas dan mengurangi
pengeluaran panas. Bila hipotalamus posterior menerima informasi suhu luar lebih rendah
suhu tubuh maka pembentukan panas ditambah dengan meningkatkan metabolisme dan

aktivitas otot rangka dalam bentuk menggigil dan pengeluaran panas dikurangi dengan
vasokontriksi kulit dan pengurangan produksi keringat sehingga suhu tubuh tetap
dipertahankan tetap. Hipotalamus anterior mengatur suhu tubuh dengan cara mengeluarkan
panas. Bila hipotalamus anterior menerima informasi suhu luar lebih tinggi dari suhu tubuh
maka pengeluaran panas ditingkatkan dengan vasodilatasi kulit dan menambah produksi
keringat.5,7
Umumnya peninggian suhu tubuh terjadi akibat peningkatan set point. Infeksi bakteri
menimbulkan demam karena endotoksin bakteri merangsang sel PMN untuk membuat pirogen
endogen yaitu interleukin-1, interleukin 6 atau tumor nekrosis faktor. Pirogen endogen bekerja
di hipotalamus dengan bantuan enzim siklooksigenase membentuk protaglandin selanjutnya
prostaglandin meningkatkan set point hipotalamus. Selain itu pelepasan pirogen endogen
diikuti oleh pelepasan cryogens (antipiretik endogen) yang ikut memodulasi peningkatan suhu
tubuh dan mencegah peningkatan suhu tubuh pada tingkat yang mengancam jiwa.5,7

PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG


Pemeriksaan fisik pada anak demam secara kasar dibagi atas status generalis dan evaluasi
secara detil yang memfokuskan pada sumber infeksi.3 Pemeriksaan status generalis tidak dapat
diabaikan karena menentukan apakah pasien tergolong toksis atau tidak toksis. Penampakan
yang toksis mengindikasikan infeksi serius.8,9,10 McCarthy membuat Yale Observation Scale
untuk penilaian anak toksis. Skala penilaian ini terdiri dari enam kriteria berupa: evaluasi cara
menangis, reaksi terhadap orang tua, variasi keadaan, respon sosial, warna kulit dan status
hidrasi. Masing-masing item diberi nilai 1 (normal), 3 (moderat), 5 (berat).8,9

Hasil studi prospektif penggunaan skala tersebut diatas, pada anak usia < 2 tahun
sebanyak 312 anak yang mengalami demam, anak yang mempunyai nilai lebih dari 16
ternyata menderita penyakit yang serius.9
Pemeriksaan penunjang dilakukan pada anak yang mengalami demam bila secara
klinis faktor risiko tampak serta penyebab demam tidak diketahui secara spesifik. Pemeriksaan
penunjang yang dapat dilakukan yaitu:
1. Pemeriksaan awal
Darah rutin, urin dan feses rutin, morfologi darah tepi, hitung jenis lekosit
2. Pemeriksaan atas indikasi
Kultur darah, urin atau feses, pengambilan cairan serebro spinal, toraks foto.6

PENATALAKSANAAN
Pada prinsipnya demam dapat menguntungkan dan dapat pula merugikan. Pada tingkat
tertentu demam merupakan bagian dari pertahanan tubuh antara lain daya fagositosis
meningkat dan viabilitas kuman menurun, tetapi dapat juga merugikan karena anak menjadi
gelisah, nafsu makan dan minum berkurang, tidak dapat tidur dan menimbulkan kejang
demam.3
Hasil penelitian ternyata 80% orangtua mempunyai fobia demam. Orang tua mengira
bahwa bila tidak diobati, demam anaknya akan semakin tinggi. Kepercayaan tersebut tidak
terbukti berdasarkan fakta. Karena konsep yang salah ini banyak orang tua mengobati demam
ringan yang sebetulnya tidak perlu diobati.1 Demam < 390 C pada anak yang sebelumnya sehat
pada umumnya tidak memerlukan pengobatan. Bila suhu naik > 39 0 C, anak cenderung tidak
nyaman dan pemberian obat-obatan penurun panas sering membuat anak merasa lebih baik.3
Pada dasarnya menurunkan demam pada anak dapat dilakukan secara fisik, obatobatan
maupun kombinasi keduanya.3,5
1. Secara Fisik
a) Anak demam ditempatkan dalam ruangan bersuhu normal
b) Pakaian anak diusahakan tidak tebal
c) Memberikan minuman yang banyak karena kebutuhan air meningkat
d) Memberikan kompres.
2. Obat-obatan
Pemberian obat antipiretik merupakan pilihan pertama dalam menurunkan demam dan sangat
berguna khususnya pada pasien berisiko, yaitu anak dengan kelainan kardiopulmonal kronis,
kelainan metabolik, penyakit neurologis dan pada anak yang berisiko kejang demam.3
Obat-obat anti inflamasi, analgetik dan antipiretik terdiri dari golongan yang
bermacam-macam dan sering berbeda dalam susunan kimianya tetapi mempunyai kesamaan
dalam efek pengobatannya. Tujuannya menurunkan set point hipotalamus melalui pencegahan
pembentukan prostaglandin dengan jalan menghambat enzim cyclooxygenase.7,11,12
Asetaminofen merupakan derivat para-aminofenol yang bekerja menekan
pembentukan prostaglandin yang disintesis dalam susunan saraf pusat. Dosis terapeutik antara
10-15 mgr/kgBB/kali tiap 4 jam maksimal 5 kali sehari. Dosis maksimal 90 mgr/kbBB/hari.
Pada umumnya dosis ini dapat ditoleransi dengan baik. Dosis besar jangka lama dapat

menyebabkan intoksikasi dan kerusakkan hepar. Pemberiannya dapat secara per oral maupun
rektal.11-13
Turunan asam propionat seperti ibuprofen juga bekerja menekan pembentukan
prostaglandin. Obat ini bersifat antipiretik, analgetik dan antiinflamasi. Efek samping yang
timbul berupa mual, perut kembung dan perdarahan, tetapi lebih jarang dibandingkan aspirin.
Efek samping hematologis yang berat meliputi agranulositosis dan anemia aplastik. Efek
terhadap ginjal berupa gagal ginjal akut (terutama bila dikombinasikan dengan asetaminopen).
Dosis terapeutik yaitu 5-10 mgr/kgBB/kali tiap 6 sampai 8 jam.11
Metamizole (antalgin) bekerja menekan pembentukkan prostaglandin. Mempunyai
efek antipiretik, analgetik dan antiinflamasi. Efek samping pemberiannya berupa
agranulositosis, anemia aplastik dan perdarahan saluran cerna. Dosis terapeutik 10
mgr/kgBB/kali tiap 6-8 jam dan tidak dianjurkan untuk anak kurang dari 6 bulan.
Pemberiannya secara per oral, intramuskular atau intravena.11
Asam mefenamat suatu obat golongan fenamat. Khasiat analgetiknya lebih kuat
dibandingkan sebagai antipiretik. Efek sampingnya berupa dispepsia dan anemia hemolitik.
Dosis pemberiannya 20 mgr/kgBB/hari dibagi 3 dosis. Pemberiannya secara per oral dan tidak
boleh diberikan anak usia kurang dari 6 bulan.11

KEADAAN KHUSUS AKIBAT DEMAM


HIPERPIREKSIA
Hiperpireksia adalah keadaan suhu tubuh di atas 41,10 C. Hiperpereksia sangat berbahaya pada
tubuh karena dapat menyebabkan berbagai perubahan metabolisme, fisiologi dan akhirnya
kerusakan susunan saraf pusat.3 Pada awalnya anak tampak menjadi gelisah disertai nyeri
kepala, pusing, kejang serta akhirnya tidak sadar. Keadaan koma terjadi bila suhu >430 C dan
kematian terjadi dalam beberapa jam bila suhu 430 C sampai 450 C.14
Penatalaksanaan pasien hiperpireksia berupa:14
1. Monitoring tanda vital, asupan dan pengeluaran.
2. Pakaian anak di lepas
3. Berikan oksigen
4. Berikan anti konvulsan bila ada kejang
5. Berikan antipiretik. Asetaminofen dapat diberikan per oral atau rektal. Tidak boleh
memberikan derivat fenilbutazon seperti antalgin.
6. Berikan kompres es pada punggung anak
7. Bila timbul keadaan menggigil dapat diberikan chlorpromazine 0,5-1 mgr/kgBB
(I.V).
8. Untuk menurunkan suhu organ dalam: berikan cairan NaCl 0,9% dingin melalui
nasogastric tube ke lambung. Dapat juga per enema.
9. Bila timbul hiperpireksia maligna dapat diberikan dantrolen (1 mgr/kgBB I.V.),
maksimal 10 mgr/kgBB.
KEJANG DEMAM
Kejang demam merupakan keadaan yang umum ditemukan pada anak khususnya usia 6 bulan
sampai 5 tahun. Insidensinya di Amerika sekitar 2-4% dari seluruh kelainan neurologis pada
anak.15 Walaupun 30% dari seluruh kasus kejang pada anak adalah kejang demam tetapi
masih banyak penyebab lain dari kejang sehingga kejang demam tidak dapat
didiagnosis sembarangan, karena penyebab lain demam dan kejang yang serius seperti
meningitis harus
disingkirkan.4
Banyak klinisi yang mengobati demam dengan pemberian parasetamol untuk
mencegah kejang demam. Dari penelitian pada 104 anak, dimana satu kelompok diberikan
profilaksis parasetamol dan kelompok lain diberikan parasetamol secara sporadis didapatkan
hasil pemberian parasetamol profilaksis tidak efektif bila dibandingkan kelompok lainnya
dalam mencegah kejang demam yang rekuren.15 Sedangkan penelitian Uhari dkk.
menunjukkan pemberian asetaminofen dan diazepam per oral menunjukkan hasil yang baik
dalam mencegah rekurensi kejang demam.16

KESIMPULAN
Demam pada umumnya merupakan respon tubuh terhadap suatu infeksi. Umur anak dan tanda
serta gejala yang muncul sangat penting dalam menentukan kemungkinan adanya penyakit
yang serius. Penilaian awal akan membantu menentukan beratnya penyakit anak dan urgensi
pengobatannya. Pemberian antipiretik merupakan terapi alternatif dalam penatalaksanaan
demam pada anak.

DAFTAR PUSTAKA
1. Crocetti M, Moghbelli N, Serwint J. Fever phobia revisited: Have parental misconceptions
about fever changed in 20 years. Pediatric 2001(107); 1241-6.
2. Finkelstein JA, Christiansen CL, Platt R. Fever in Pediatric primary care:Occurrence,
management and outcome. Pediatrics 2000(105);260-6
3. Plipat N. Hakim S, Ahrens WR. The febrile child. Dalam: Strange GR, Ahrens WR,
Lelyveld S, Schafermeger RW, penyunting. Pediatric emergency medicine. Edisi ke-2.
New York:McGraw-Hill.2002; 315-24.

Beberapa tips bagi orang tua di rumah:


1. Hindari kondisi demam yang terlalu tinggi, berikan obat penurun panas, dan selalu siapkan
termometer pribadi di rumah. Sehingga anda dapat segera membawa anak anda bila panas tidak turun
atau terlalu tinggi.
2. Bila terjadi kejang, jangan panik dan tetaplah tenang.
3. Kendorkan pakaian anak, miringkan kepala agar bila anak muntah atau mengeluarkan lendir, dapat
segera di seka dan dikeluarkan (mencegah aspirasi).
4. Siapkan atau berikan diazepam rektal, untuk dosis mudahnya, 5 mg pada anak berat badan <10>=10
kg.
5. Segera bawa ke rumah sakit, apalagi bila kejang tidak berhenti setelah pemberian diazepam rektal.

Pada musim hujan sekarang ini, anak-anak mudah terkena penyakit dan mengakibatkan demam. Tetap
waspada akan kejadian kejang demam. Meski memang belum ada laporan kematian akibat kejang
demam, namun kejang yang lama dan tidak berhenti dapat menimbulkan kelainan otak. Semoga
bermanfaat..