Anda di halaman 1dari 16

TUGAS KEPERAWATAN KELUARGA

“KEPERAWATAN KELUARGA PADA TAHAP II”


Dosen Pengampu : Umi Azizah KN, S.Kep,Ns., M.Kep

KELOMPOK 2 (KELAS 3B)

1. Setyawan Yulian N. (201701087)


2. Rani Setyawati (201701071)
3. Arifah (201701066)
4. Galuh Putri Bahari (201701074)
5. lailatul khusnah (201701046)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA SEHAT PPNI
MOJOKERTO
TAHUN AJARAN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat tuhan yang maha Esa, atas berkat rahmat dan hidayahnya,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan bisa membuat makalah ini
dengan judul “Keperawatan Keluarga Pada Tahap II”. Makalah ini kami ajukan untuk
memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Keluarga, makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka dari itu kami mohon untuk kritik dan saran yang bersifat
membangun,agar penulis dapat menutupi kekurangan-kekurangan yang terdapat pada
makalah ini.
Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam
penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu. Kami
mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini,semoga makalah ini
dapat di jadikan bahan perbandingan dalam penulisan karya-karya lainnya.

Mojokerto, 15 Maret 2020

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................ii

DAFTAR ISI...............................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................1

1.1 Latar Belakang..................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah............................................................................................1

1.3 Tujuan...............................................................................................................2

BAB II TINJAUAN TEORI........................................................................................3

2.1 Definisi.............................................................................................................3

2.2 Konsep Tumbuh Kembang Keluarga...............................................................3

2.3 Tugas Perkembangan keluarga pada Tahap ke-II............................................5

2.4 Masalah yang muncul pada tahap keluarga ke-II.............................................5

2.5 Diagnosa yang kemungkinan ditemukan dalam setiap tahapan.......................5

2.6 Intervensi Keperawatan....................................................................................5

2.7 Bedah Jurnal.....................................................................................................6

BAB III PENUTUP....................................................................................................15

3.1 Kesimpulan.....................................................................................................15

3.2 Saran...............................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................16

iii
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan
darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah
tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan
serta mempertahankan kebudayaan (Keluarga & Keluarga, 2016).
Keluarga adalah sebagai unit kecil, terdiri dari dua orang atau lebih,
akan tetapi tidak selalu diikat dalam suatu ikatan perkawinan dan pertalian darah,
hidup dalam satu atap, berinteraksi satu sama lain, setiap anggota keluarga menjalankan
peran dan fungsinya masing-masing serta menciptakan dan mempertahankan suatu
kebudayaan. ( Duval dalam Agus Citra D. 2002 ).
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu
rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Mereka
saling berinteraksi satu dengan yang lainnya, mempunyai peran masing-masing dan
menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Baylon dan Maglaya di kutip oleh
Arita Murwani 2007).
Dari kedua pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa keluarga adalah
unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas dua orang atau lebih, dalam suatu ikatan
perkawinan dan pertalian darah hidup dalam suatu rumah tangga, dibawah asuhan
seorang anggota keluarga mempunyai peran masing-masing serta menciptakan dan juga
mempertahankan suatu kebudayaan.
Keluarga memiliki 8 tahap perkembangan. Setiap tahap perkembangan keluarga
memiliki tugas perkembangan keluarga atau harapan peran tertentu. Tugas
perkembangan keluarga cenderung menunjukkan rasa tanggung jawab yang harus
dicapai oleh keluarga sehingga keluarga dapat memenuhi kebutuhan biologis keluarga,
penekanan budaya, dan aspirasi serta nilai keluarga (Alisa, Sari, S, & Sulistyorini, 2014).
I.2 Rumusan Masalah
1. Apa diagnosa yang mungkin ditemukan dalam tahap keluarga ke-2
2. Bagaimana cara mengatasi permasalahan yang ada pada tahap keluargake-2
3. Bagaimana tugas perkembangan keluarga pada tahap keluarga ke-2

1
I.3 Tujuan
4. Untuk mengetahui diagnosa yang mungkin ditemukan dalam tahap keluarga ke-2
5. Untuk mengetahui cara mengatasi permasalahan yang ada pada tahap keluarga ke-2
6. Untuk mengetahui tugas perkembangan keluarga pada tahap keluarga ke-2

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

II.1 Definisi
Periode childbearing adalah waktu transisi fisik dan psikologis bagi ibu dan seluruh
keluarga. Orang tua dan saudara sekandung yang harus beradaptasi terhadap perubahan
struktur karena adanya anggota baru dalam keluarga, yaitu bayi.
Dengan kehadiran bayi maka sistem dalam keluarga akan berubah dan pola interaksi
dalam keluarga harus dikembangkan. Pada periode transisi, ibu membutuhkan adaptasi
yang cepat, sehingga kondisi ini menempatkan ibu menjadi sangat rentan dan mereka
memerlukan bantuan untuk beradaptasi dengan peran yang baru. Stres dari berbagai
sumber dapat berefek negatif pada fungsi dan interaksi ibu dengan bayi dan keluarga,
yang berdampak pada kesehatan fisik ibu dan bayi.
Memahami bagaimana ibu yang beradaptasi dengan perubahan fisiologik, konsep
diri, fungsi peran, dan fungsi interdependen untuk menjadi orang tua sangat penting bagi
perawat, dimana perawat dalam hal ini dituntut mampu membantu dan memfasilitasi
proses adaptasi yang terjadi agar ibu dapat beradaptasi dengan secara positif dengan
peran barunya. Untuk itu diperlukan kemampuan perawat dalam melakukan asuhan
keperawatan ibu dalam masa perinatal.
II.2 Konsep Tumbuh Kembang Keluarga
Keluarga yang menantikan kelahiran dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak
pertama dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan. Kehamilan dan kelahiran
bayi perlu dipersiapkan oleh pasangan suami istri melalui beberapa tugas perkembangan
yang penting (Nadzirotul, 2010). Konsep tumbuh kembang keluarga pada tahap
perkembangan Keluarga “Child-bearing” (Kelahiran Anak Pertama) antara lain :
1. Persiapan menjadi orang tua
Terjadi waktu transisi fisik dan psikologis bagi ibu serta ayah dan seluruh
anggota keluarga, dalam hal ini orang tua, saudara atau anggota keluarga lainnya
harus dapat beradaptasi terhadap perubahan stuktur karena adanya anggota keluarga
baru yaitu bayi, dengan kehadiran seorang bayi maka sistem dalam keluarga akan
berubah serta pola pikir keluarga harus dikembangkan.

3
2. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan sexual dan
kegiatan keluarga.
Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan
sexual dan kegiatan keluarga. Dalam hal ini peran orang tua dapat dimulai selagi
kehamilan membesar dan semakin kuat saat bayi dilahirkan. Pada periode awal orang
tua harus mengenali hubungan mereka dengan anak. periode berikutnya orang tua
dapat mencerminkan suatu waktu untuk bersama-sama membangun kesatuan
keluarga, periode waktu berkonsolidasi ini meliputi peran negosiasi (suami istri, ibu-
ayah,orang tua-anak,saudara-saudara) untuk menetapkan komitmen . perode yang
berlangsung akan membutuhkan waktu.
3. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan
Dalam hal ini ikatan diperkuat melalui penggunaan respons seksual atau
kemampuan oleh kedua pasangan dalam melakukan interaksi orangtua-anak. Respon
sensual dan kemampuan yang dipakai dalam komunikasi antara orangtua dan anak
meliputi :
 Sentuhan Sentuhan atau indera peraba, dipakai secara ekstensif oleh orangtua
sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi yang baru lahir. Banyak ibu yang ingin
meraih anaknya yang baru lahir dan tali pusatnya dipotong, mereka mengangkat
bayi ke dada, merangkulnya kedalam pelukan. Begitu anak dekat dengan ibunya
maka anak akan mulai proses ekspoli.
 Kontak Mata
 Suara
 Aroma
Kelahiran bayi pertama memberi perubahan yang besar dalam keluarga, sehingga
pasangan harus beradaptasi dengan perannya untuk memenuhi kebutuhan bayi. Sering
terjadi dengan kelahiran bayi, pasangan merasa diabaikan karena fokus perhatian kedua
pasangan tertuju pada bayi. Peran utama perawat keluarga adalah mengkaji peran orang
tua; bagaimana orang tua berinteraksi dan merawat bayi serta bagaimana bayi berespon.
Perawat perlu memfasilitasi hubungan orang tua dan bayi yang positif dan hangat
sehingga jalinan kasih sayang antara bayi dan orang tua dapat tercapai (Nadzirotul,
2010).

4
II.3 Tugas Perkembangan keluarga pada Tahap ke-II
Tugas perkembangan (Murwani, 2011):
a) Perubahan peran menjadi orang tua, Perubahan hidup yang sulit, masa transisi,
tugas kritis.
Masalah: Suami merasa diabaikan, peningkatan perselisihan dan argumentasi
suami dan isteri, interupsi dalam jadwal yang continue, kehidupan seksual dan
sosial terganggu.
b) Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga : Peran, interaksi, kebutuhan –
kebutuhan, keselamatan, keterbatasan, toilet training, komunikasi bayi
c) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangannya: pembentukan
kembali pola komunikasi, Pembentukan perasaan, perkawinan, hubungan seksual
menurun, konseling KB, hubungan perkawinan yang kokoh dan bergairah sangat
penting bagi stabilitas dan moral keluarga. Masalah kesehatan : Pendidikan
maternitas, Perawatan bayi yang baik, Pengenalan dan penanganan masalah
kesehatan fisik secara dini, Imunisasi, tumbuh kembang.
II.4 Masalah yang muncul pada tahap keluarga ke-II
1. Keluarga seksual & sosial terganggu
2. Suami merasa diabaikan
3. Interupsi jadwal kontinu
4. Peningaktan perselisihan
II.5 Diagnosa yang kemungkinan ditemukan dalam setiap tahapan
a. Gangguan proses keluarga berhubungan dengan perubahan peran keluarga
b. Ketidakmampuan koping keluarga berhubungan dengan pola koping yang berbeda
diantara klien dan orang terdekat (PPNI, 2016).
II.6 Intervensi Keperawatan
a. Gangguan proses keluarga berhubungan dengan perubahan peran keluarga
a) Observasi
- Identifikasi pemahaman tentang keputusan perawatan setelah pulang
- Identifikasi respons emosional terhadap kondisi saat ini
- Identifikasi beban prognosis secara psikologis
- Identifikasi tipe proses keluarga
- Identifkasi masalah atau gangguan dalam proses keluarga

5
b) Terapeutik
- Dengarkanlah masalah, perasaan dan pertanyaan keluarga
- Terima nilai-nilai keluarga keluarga dengan cara yang tidak menghakimi
- Diskusikan rencana medis dan perawatan- Fasilitasi pengungkapan perasaan
antara pasien dan keluarga atau antar anggota keluarga
- Pertahankan interaksi yang berkelanjutan dengan anggota keluarga
c) Edukasi
- Informasikan kemajuan pasien secara berkala
- Informasikan fasilitas perawatan kesehatan yang tersedia
- Jelaskan strategi mengembalikan kehidupan keluarga yang normal kepada
anggota keluarga
- Diskusikan dukungan sosial dari sekitar keluarga
d) Kolaborasi
- Rujuk untuk terapi keluarga, jika perlu (PPNI, 2018)
b. Ketidakmampuan koping keluarga berhubungan dengan pola koping yang berbeda
diantara klien dan orang terdekat
a) Observasi :
- Identifikasi kegiatan jangka pendek dan panjang sesuai tujuan
- Identifikasi kemampuan yang dimiliki
- Identifikasi sumber daya yang tersedia untuk memenuhi tujuan
b) Terapeutik :
- Diskusikan gaya peran yang dialami
- Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
- Diskusikan alasan mengkritikdiri sendiri
c) Edukasi :
- Anjurkan menjalin hubungan yang memiliki kepentingan dan tujuan sama
- Anjurkan penggunaan sumber spiritual, jika perlu
- Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi (PPNI,2018)

6
II.7 Bedah Jurnal

NO PENGARANG
JUDUL KEYWORD METODE HASIL KESIMPULAN
. & TAHUN
1. Dian Yunita STRES IBU Alokasi waktu, Penelitian ini Karakteristik Keluarga Sumber stres individu pada
Sari, Diah DALAM dukungan sosial, menggunakan Nilai minimum, maksimum, keluarga dengan ibu bekerja
Krisnatuti, Lilik MENGASUH pengeluaran desain cross rata-rata, dan standar deviasi dan tidak bekerja termasuk
Noor Yuliati, ANAK PADA untuk anak, sectional. untuk karakteristik keluarga dalam kategori tinggi,
2015 KELUARGA peralatan rumah yang terdiri atas usia ayah sedangkan sumber stres anak,
DENGAN tangga, sumber dan ibu, lama pendidikan dukungan sosial, home
ANAK stres ayah dan ibu, pendapatan appliances, dan stres ibu
PERTAMA keluarga, dan pengeluaran dalam mengasuh termasuk
BERUSIA DI keluarga disajikan pada dalam kategori sedang. Ibu
BAWAH DUA Tabel 1. Status pekerjaan bekerja dan ibu tidak bekerja
TAHUN seluruh ayah adalah bekerja mengalokasikan waktu
yaitu bekerja sebagai selama 4-8 jam per hari untuk
pegawai negeri sipil (5,0%), mengasuh anak. Keluarga
karyawan (54,2%), mengalokasikan sebesar
wiraswasta (33,3%), dan 50,5% (ibu bekerja) dan
buruh (7,5%). Sementara itu, 34,4% (ibu tidak bekerja)
separuh ibu tidak bekerja di pengeluarannya untuk
sektor publik dan separuhnya memenuhi kebutuhan anak.
lagi bekerja sebagai pegawai Status pekerjaan ibu, usia ibu,
negeri sipil (10,0%), pendapatan keluarga,
karyawan (32,5%), pengeluaran keluarga, sumber
wiraswasta (4,2%), dan stres individu, alokasi waktu
buruh (7,5%). untuk mengasuh, dukungan
sosial, dan home appliances
Sumber Stres Ibu tidak berpengaruh signifikan
Sumber stres ibu dinilai dari terhadap stres ibu.
sumber stres individu dan

6
sumber stres anak. Hasil
penelitian yang disajikan Stres ibu dipengaruhi oleh
pada Tabel 2 menunjukkan pendidikan ayah, sumber
bahwa sumber stres individu stres, dan pengeluaran
secara keseluruhan dan keluarga untuk anak. Stres
sumber stres individu pada ibu meningkat dengan ber-
ibu bekerja dan tidak bekerja tambahnya sumber stres
termasuk dalam kategori anak. Oleh karena-nya, ibu
tinggi. Hasil ini disarankan untuk
mengindikasikan bahwa mempelajari tentang
kehadiran anak pertama pengasuhan anak sebagai
meniimbulkan kesulitan yang upaya dalam menemukan
tinggi untuk ibu. Sementara solusi yang tepat untuk me-
itu, sumber stres anak baik nangani masalah pada anak.
secara keseluruhan maupun Selain itu, masalah yang
berdasarkan status pekerjaan dihadapi ibu harus
ibu termasuk dalam kategori diselesaikan segera agar
sedang. masalah tersebut tidak
menjadi sumber stres. Stres
Pengeluaran untuk Anak ibu berkurang dengan
Rata-rata keluarga meningkatnya pendidikan
mengalokasikan 42,4 persen orang tua yaitu pendidikan
pengeluarannya untuk ayah. Oleh karenanya, orang
memenuhi kebutuhan anak, tua hendaknya meningkatkan
seperti makanan (susu pendidikannya. Stres ibu
formula dan makanan dalam mengasuh anak juga
penunjang ASI), pakaian, meningkat dengan
diapers atau popok, peralatan bertambahnya pengeluaran
mandi, biaya kesehatan, keluarga untuk anak sehingga
mainan, dan jasa pengasuh. keluarga diharapkan men-jadi
Berdasarkan status keluarga sejahtera yang
pekerjaan, keluarga dengan mampu memenuhi kebutuhan

7
ibu bekerja mengalokasikan anak. (Sari, Krisnatuti, &
50,5 persen pengeluarannya Yuliati, 2015)
untuk anak, sedangkan
keluarga dengan ibu tidak
bekerja mengalokasikan
pengeluarannya sebesar 34,4
persen. Hasil ini
mengindikasikan bahwa
pengeluaran keluarga yang
dialokasikan untuk
memenuhi kebutuhan anak
pada ibu bekerja lebih tinggi
dibandingkan dengan ibu
tidak bekerja.

Alokasi Waktu Mengasuh


Berdasarkan status pekerjaan
ibu, sebagian besar ibu yang
bekerja dan tidak bekerja
juga mengalokasikan waktu
selama 4-8 jam per hari
untuk anaknya. Akan tetapi,
rata-rata waktu yang
dialokasikan oleh ibu bekerja
(4,0 jam/hari) lebih rendah
dibandingkan dengan rata-
rata waktu yang dialokasikan
oleh ibu tidak bekerja (7,3
jam/hari).

8
Dukungan Sosial
Dukungan sosial yang
diterima ibu berasal dari
ayah, orang tua atau mertua,
kerabat dekat, sahabat atau
tetangga dekat, pembantu,
dan juga pengasuh. Hasil
penelitian menunjukkan
bahwa sebagian besar ibu
(60%) mendapatkan
dukungan sosial yang
termasuk dalam kategori
sedang. Apabila dilihat ber-
dasarkan status pekerjaan ibu
maka dukungan sosial yang
diperoleh ibu bekerja
(81,7%) termasuk dalam
kategori rendah, sedangkan
dukungan sosial yang
diperoleh ibu tidak bekerja
(61,7%) berada pada kategori
sedang.

Home Appliances
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa
persentase tertinggi manfaat
home appliances yang
dirasakan ibu, baik pada ibu
bekerja maupun tidak
bekerja termasuk dalam

9
kategori sedang
Tingkat Stres Ibu saat
Mengasuh
Tingkat stres ibu baik secara
keseluruhan maupun
berdasarkan status pekerjaan
ibu termasuk kategori
sedang.

10
BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan
1. Periode childbearing adalah waktu transisi fisik dan psikologis bagi ibu dan seluruh
keluarga. Orang tua dan saudara sekandung harus beradaptasi terhadap perubahan
struktur karena adanya anggota baru dalam keluarga, yaitu bayi.
2. Keluarga child-bearing (kelahiran anak pertama) adalah Keluarga yang menantikan
kelahiran, dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut
sampai anak pertama berusia 30 bulan.
3. Tugas perkembangan child bearing :
a. Adaptasi perubahan anggota keluarga
b. Mempertahankan hub yang memuaskan dengan pasangan
c. Membagi peran & tanggung jawab
d. Bimbingan orang tua tentang pertumbuhan& perkembangan anak
e. Konseling KB post partum 6 mgg
f. Menata ruang untuk anak
g. Biaya/ dana child bearing
h. Memfasilitasi role learning anggota keluarga

III.2 Saran
Keluarga hendaknya mengenal masalah yang terjadi pada anggota keluarganya,
menerapkan apa yang telah disampaikan perawat melalui pendidikan kesehatan guna
mengatasi masalah kesehatan yang ada di keluarga secara mandiri.
Keluarga sebaiknya ikut serta mempertahankan dan mempergunakan fasilitas
kesehatan yang ada. Mencegah terjadinya penyakit sebaikanya keluarga sedini mungkin
memeriksakan anggota keluarga yang sakit ke puskesmas yang terdekat.
Keluarga sebaiknya melakukan modifikasi lingkungan yang sehat di sekitar lingkungan
keluarga seperti menjaga kebersihan lingkungan rumah sekitar, dan mampu menjaga
pola hidup sehat.

15
DAFTAR PUSTAKA