Anda di halaman 1dari 19

MASALAH KELUARGA TAHAP KE IV ( PADA ANAK USIA SEKOLAH)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Keluarga

Dosen pembimbing : Umi Azizah, M.Kep

Oleh :

Kelompok 4 (Semester VI Tingkat IIIB)

1. Ellok Naela Ilmi Amalia (201701045)


2. Ika Musfiroh (201701060)
3. Radiva kurnia Fitriani (201701086)
4. Risa Ainul Hikmah (201701080)
5. Erika Novi Indriyanti (201701078)

6. Ayu Istiqomah (201701057)

PROGRAM STUDI S1 LMU KEPERAWATAN


STIKES BINA SEHAT PPNI MOJOKERTO
2020-2021

1
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
petunjuk-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, yang mana makalah ini
merupakan Tugas Mata Kuliah Keperawatan Keluarga mengenai Masalah Tahap Ke IV
(Anak Usia Sekolah). Makalah yang penulis buat ini mudah-mudahan dapat menambah
wawasan penulis dan pembaca, serta dapat memenuhi tugas Keperawatan Keluarga yang
diberikan dosen.

Penulis menyadari makalah ini banyak kekurangan dan belum sempurna serta memuaskan,
namun demikian penulis mengharapkan sekali kritik dan saran untuk kesempurnaan di masa
mendatang.

Mojokerto, 20 Maret 2020

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul............................................................................................................i

Kata Pengantar ..........................................................................................................ii

Daftar isi ....................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................1

1.1 Latar Belakang...............................................................................................1

1.2 Tujuan............................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................3

2.1 Konsep tumbuh kembang Anak Usia Sekolah...............................................3

2.2 Pengertian Anak Usia Sekolah.......................................................................3

2.3 Tugas Perkembangan Keluarga Pada Anak Usia Sekolah.............................4

2.4 Masalah Yang Kemungkinan Muncul...........................................................8

2.5 Intervensi Keperawatan..................................................................................9

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................11

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anak merupakan individu tersendiri yang bertumbuh dan berkembang secara unik dan
tidak dapat diulang setelah usianya bertambah. Anak adalah seseorang yang belum
mencapai usia 21 tahun dan belum pernah kawin (menikah) (UU No. 4 tahun 1979
tentang Kesejahteraan Anak).

Menurut Hurlock (1980) saat ini yang disebut anak bukan lagi yang berumur
21 tahun tetapi berumur 18 tahun, dan masa dewasa dini dimulai umur 18 tahun.

Kelompok-kelompok usia anak terdiri dari 3 kelompok yaitu :

1. Usia prasekolah : 2 – 5 tahun

2. Usia sekolah : 6 – 12 tahun

3. Usia remaja : 13 - 18 tahun

Tahap perkembangan anak usia sekola dimulai sejak anak berusia 6 tahun
sampai organ-organ seksualnya masak. Kemasakan seksual ini sangat bervariasi baik
antar jenis kelaminmaupun antar budaya berbeda (Irwanto, 2002). Berdasarkan
pembagian tahapan perkembangan anak, ada dua masa perkembangan pada anak usia
sekolah, yaitu pada usia 6-9 tahun atau masa kanak-kanak tengah dan pada usia 10-12
tahun atau masa kanak-kanak akhir. Setelah menjalani masa kanak-kanak akhir, anak
akan memasuki masa remaja.&ada usia sekolah, anak memiliki karakteristik yang
berbeda dengan anak-anak yangusianya lebih muda. &erbedaan ini terlihat dari aspek
fisik, mental-intelektual, dan sosial-emosial anak (Gustian, 2002). Pertumbuhan fisik
pada anak usia sekolah tidak se)epat padamasa-masa sebelumnya anak akan tumbuh

1
antara 5-6 cm setiap tahunnya. Pada masa ini,terdapat perbedaan antara anak
perempuan dan anak laki-laki. amun, pada usia 10 tahun ke atas pertumbuhan anak
laki-laki akan menyusul ketertinggalan mereka. Perbedaan lain yang akan terlihat
pada aspek fisik antara anak laki-laki dan perempuan adalah pada bentuk otot yang
dimiliki. Anak laki-laki lebih berotot dibandingkan anak perempuan yang memiliki
otot lentur.

1.2 Tujuan

● Tujuan Umum

Agar mahasiswa mampu memahami dan melaksanakan asuhan keperawatan pada


anak usia sekolah.

● Tujuan Khusus

1. Agar mahasiswa mampu melaksanakan pengkajian pada keluarga dengan anak


usia sekolah.

2. Agar mahasiswa mampu mengangkat diagnosa keperawan pada keluarga


dengan anak usia sekolah.

3. Agar mahasiswa mampu melakukan intervensi pada keluarga dan anak usia
sekolah.

4. Agar mahasiswa mampu melaksanakan implementasi pada keluarga dan anak


usia sekolah.

2
5. Agar mahasiswa mampu melakukan evaluasi pada keluarga dan anak usia
sekolah.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep tumbuh kembang Anak Usia Sekolah

Pertumbuhan adalah perubahan fisik dan peningkatan ukuran.Pertumbuhan


dapat diukur secara kuantitatif. Indikator pertumbuhan meliputi tinggi badan, berat
badan, ukuran tulang, dan pertumbuhan gigi. Pola pertumbuhan fisiologis sama untuk
semua orang, akan tetapi laju pertumbuhan bervariasi pada tahap pertumbuhan dan
perkembangan berbeda. Perkembangan adalah peningkatan kompleksitas fungsi dan
kemajuan keterampilan yang dimiliki individu untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Perkembangan merupakan aspek perilaku dari pertumbuhan, misalnya individu
mengembangkan kemampuan untuk berjalan, berbicara, dan berlari dan melakukan
sesuatu aktivitas yang semakin kompleks. (Sarayati, 2016)
Istilah pertumbuhan dan perkembangan keduannya mengacu pada proses
dinamis. Pertumbuhan dan perkembangan walaupun sering digunakan secara
bergantian, keduannya memiliki makna yang berbeda. Pertumbuhan dan
perkembangan merupakan proses yang berkelanjutan, teratur, dan berurutan yang
dipengaruhi oleh faktor maturasi, lingkungan dan genetik (Kozier, Erb, Berman, &
Snyder, 2011).

2.2 Pengertian Anak Usia Sekolah

Anak usia sekolah disebut sebagai masa akhir anak-anak sejak usia 6 tahun dengan
ciri-ciri sebagai berikut :

1. Label yang digunakan oleh orang tua

a. Usia yang menyulitkan karena anak tidak mau lagi menuruti perintah dan
lebih dipengaruhi oleh teman sebaya dari pada orang tua ataupun anggota
keluarga lainnya.

4
b. Usia tidak rapi karena anak cenderung tidak memperdulikan dan ceroboh
dalam penampilan.

c. Usia bertengkar karena banyak terjadi pertengkaran antar keluarga dan


membuat suasana rumah yang tidak menyenangkan bagi semua anggota
keluarga.

2. Label yang digunakan pendidik/guru

a. Usia sekolah dasar : anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan


yang dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan
dewasa dan mempelajari perbagai ketrampilan penting tertentu baik kurikuler
maupu ekstrakurikuler

b. Periode kritis dalam berprestasi : anak membentuk kebiasaan untuk mencapai


sukses, tidak sukses, atau sangat sukses yang cenderung menetap sampai
dewasa.

3. Label yang digunakan oleh ahli psikologi

a. Usia berkelompok : perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima oleh
teman-teman sebaya sebagai anggota kelompok.

b. Usia penyesuaian diri : anak ingin menyesuaikan dengan standar yang disetujui
oleh kelompok dalam penampilan, berbicara dan berperilaku.

c. Usia kreatif :suatu masa yang akan menentukan apakah anak akan menjadi
konformis (pencipta karya baru) atau tidak.

d. Usia bermain : suatu masa yang mempunyai keinginan bermain yang sangat
besar karena adanya minat dan kegiatan untuk bermain.

5
2.3 Tugas Perkembangan Keluarga Sesuai Tahap Perkembangan Pada Anak Usia
Sekolah

A. Perkembangan Akhir Masa Kanak-Kanak

Tugas perkembangan akhir masa kanak-kanak menurut Havigrust :

1) Mempelajari ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permaina


umum.

2) Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai mahluk yang
sedang tumbuh.

3) Belajar menyesuaikan diri dengan teman-temannya

4) Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepa

5) Mengembangkan ketrampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung

6) Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan


sehari-hari

7) Mengembangkan hati nurani, pengertian moral dan tingkatan nilai

8) Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-


lembaga.

9) Mencapai kebebasan pribadi

B. Perkembangan Usia Sekolah ( Tugas Mandiri) Masalah Anak Usia Sekolah

6
1. Bahaya Fisik

a. Penyakit

● Penyakit palsu/khayal untuk menghindari tugas-tugas yang


menjadi tanggung jawabnya.

● Penyakit yang sering dialami adalah yang berhubungan dengan


kebersihan diri.

b. Kegemukan

Bahaya kegemukan yang dapat terjadi :

● Anak kesulitan mengikuti kegiatan bermain sehingga


kehilangan kesempatan untuk keberhasilan social.

● Teman-temannya sering mengganggu dan mengejek sehingga


anak menjadi rendah diri

c. Kecelakaan

● Meskipun tidak meninggalkan bekas fisik, kecelakaan sering


dianggap sebagai kegagalan dan anak lebih bersikap hati-hati
akan bahayanya bagi psikologisnya sehingga anak merasa takut
dan hal ini dapat berkembang menjadi rasa malu yang akan
mempengaruhi hubungan social.

d. Kecanggungan

● Anak mulai membandingkan kemampuannya dengan teman


sebaya bila muncul perasaan tidak mampu dapat menjadi dasar
untuk rendah diri.

7
e. Kesederhanaan

● Hal ini sering dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa


memandangnya sebagai perilaku kurang menarik sehingga anak
menafsirkannya sebagai penolakan yang dapat mempengaruhi
konsep diri anak.

2. Bahaya Psikologis

1) Bahaya Dalam Berbicara

Ada 4 (empat) bahaya dalam berbicara yang umum terdapat pada anak-
anak usia sekolah yaitu :

- kosakata yang kurang dari rata-rata menghambat tugas-tugas di sekolah dan


menghambat komunikasi dengan orang lain.

- kesalahan dalam berbicara, cacat dalam berbicara (gagap) akan membuat


anak jadi sadar diri sehingga anak hanya berbicara bila perlu saja.

- anak yang kesulitan berbicara dalam bahasa yang digunakan dilingkungan


sekolah akan terhalang dalam usaha untuk berkomunikasi dan mudah merasa
bahwa ia berbeda.

- pembicaraan yang bersifat egosentris, mengkritik dan merendahkan orang


lain, membual akan ditentang oleh temannya.

2) Bahaya Emosi

8
Anak akan dianggap tidak matang bila menunjukan pola-pola emosi yang
kurang menyenangkan seperti marah yang berlebihan, cemburu masih sangat
kuat sehingga kurang disenangi orang lain

3) Bahaya Bermain

Anak yang kurang memiliki dukungan sosial akan merasa kekurangan


kesempatan untuk mempelajari permainandan olah raga untuk menjadi
anggota kelompok, anak dilarang berkhayal, dilarang melakukan kegiatan
kreatif dan bermain akan menjadi anak penurut yang kaku.

4) Bahaya Dalam Konsep Diri

Anak yang mempunyai konsep diri yang ideal biasanya merasa tidak puas
terhadap diri sendiri dan tidak puas terhadap perlakuan orang lainbila konsep
sosialnya didasarkan pada pelbagai stereotip, anak cenderung berprasangka
dan bersikap diskriminatif dalam memperlakukan orang lain. Karena
konsepnya berbobot emosi dan cenderung menetap serta terus menerus akan
memberikan pengaruh buruk pada penyesuaian sosial anak.

5) Bahaya Moral

Bahaya umum diakitkan dengan perkembangan sikap moral dan perilaku


anak-anak. :

1. perkembangan kode moral berdasarkan konsep teman-teman atau


berdasarkan konsep-konsep media massa tentang benar dan salah yang
tidak sesuai dengan kode orang dewasa.

2. tidak berhasil mengembangkan suara hati sebagai pengawas perilaku.

3. disiplin yang tidak konsisten membuat anak tidak yakin akan apa yang
sebaiknya dilakukan.

9
4. hukuman fisik merupakan contoh agresivitas anak.

5. menganggap dukungan teman terhadap perilaku yang salah begitu


memuaskan sehingga menjadi perilaku kebiasaan.

6. tidak sabar terhadap perilaku orang lain yang salah.

6) Bahaya Yang Menyangkut Minat

Bahaya yang dihubungkan dengan minat masa kanak-kanak :

1. tidak berminat terhadap hal-hal yang dianggap penting oleh teman-teman


sebaya.

2. mengembangkan sikap yang kurang baik terhadap minat yang dapat bernilai
bagi dirinya, misal kesehatan dan sekolah.

7) Bahaya Hubungan Keluarga

Kondisi-kondisi yang menyebabkan merosotnya hubungan keluarga :

1. Sikap terhadap peran orang tua, orang tua yang kurang menyukai peran
orang tua dan merasa bahwa waktu, usaha dan uang dihabiskan oleh anak
cenderung mempunyai hubungan yang buruk dengan anak-anaknya

2. Harapan orang tua, kritikan orang tua pada saat anak gagal dalam
melaksanakan tugas sekolah dan harapan-harapan orang tua maka orang
tua sering mengkritik, memarahi dan bahkan menghukum anak

3. Metode pelatihan anak, disiplin yang otoriter pada keluarga besar dan
disiplin lunak pada keluarga kecil yang keduanya menimbulkan
pertentangan dirumah dan meyebabkan kebencian pada anak. Disiplin
yang demokratis biasanya menghasilkan hubungan keluarga yang baik.

10
4. Status sosial ekonomi, bila anak merasa benda dan rumah miliknya lebih
buruk dari temannya maka anak sering menyalahkan orang tua dan orang
tua cenderung membenci hal itu

5. Pekerjaan orang tua, pandangan mengenai pekerjaan ayah mempengaruhi


persaan anak dan bila ibu seorang karyawan sikap terhadap ibu diwarnai
oleh pandangan teman-temannya mengenai wanita karier dan oleh
banyaknya beban yang harus dilakukan di rumah.

6. Perubahan sikap kepada orang tua, bila orang tua tidak sesuai dengan
harapan idealnya anak, anak cenderung bersikap kritis dan
membandingkan orang tuanya dengan orang tua teman-temannya.

7. Pertentangan antar saudara, anak-anak yang merasa orang tuanya pilih


kasih terhadap saudara-saudaranya maka anak akan menentang orang tua
dan saudara yang dianggap kesayangan orang tua.

8. Perubahan sikap terhadap sanak keluarga, anak-anak tidak menyukai sikap


sanak keluarga yang terlalu memerintah atau terlalu tua dan orang tua akan
memarahi anak serta sanak keluarga membenci sikap sianak.

9. Orang tua tiri, anak yang membenci orang tua tiri karena teringat orang tua
kandung yang tidak serumah akan memperlihatkan sikap kritis, negativitas
dan perilaku yang sulit.

2.4 Masalah Atau Diagnosa Yang Kemungkinan Ditemukan Dalam Setiap Tahap

⮚ Diagnosa keperawatan yang muncul terdapat dua sifat, yaitu :

1. berhubungan dengan anak, dengan tujuan agar anak dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal sesuai usia anak.

11
2. berhubungan dengan keluarga, dengan etiologi berpedoman pada lima tugas
keluarga yang bertujuan agar keluarga memahami dan memfasilitasi
perkembangan anak.

⮚ Masalah yang dapat digunakan untuk perumusan diagnosa keperawatan yaitu:

1. Masalah aktual/risiko.

a) Gangguan pemenuhan nutrisi: lebih atau kurang dari kebutuhan tubuh.

b) Menarik diri dari lingkungan social.

c) Ketidakberdayaan mengerjakan tugas sekolah.

d) Mudah dan Sering marah.

e) Menurunnya atau berkurangnya minat terhadap tugas sekolah yang


dibebankan.

f) Berontak/menentang terhadap peraturan keluarga.

g) Keengganan melakukan kewajiban agama.

h) Ketidakmampuan berkomunikasi secara verbal.

i) Gangguan komunikasi verbal.

j) Gangguan pemenuhan kebersihan diri (akibat banyak waktu yang


digunakan untuk bermain).

k) Nyeri (akut/kronis).

12
l) Trauma atai cedera pada sistem integumen dan gerak.

2. Potensial atau sejahtera

a) Meningkatnya kemandirian anak.

b) Peningkatan daya tahan tubuh.

c) Hubungan dalam keluarga yang harmonis.

d) Terpenuhinya kebutuhan anak sesuai tugas perkembangannya.

2.5 Intervensi Keperawatan

1. Aktual

Perubahan hubungan keluarga yang berhubungan dengan ketidakmampuan


keluarga merawat anak yang sakit

⮚ Tujuan : Hubungan keluarga meningkat menjadi harmonis dengan dukungan yang


adekuat.

⮚ Intervensi :

- Diskusikan tentang tugas keluarga

- Diskusikan bahaya jika hubungan keluarga tidak harmonis saat anggota


keluarga sakit.

13
- Kaji sumber dukungan keluarga yang ada disekitar keluarga.

- Ajarkan anggota keluarga memberikan dukungan terhadap upaya pertolongan


yang telah dilakukan.

- Ajarkan cara merawat anak dirumah.

- Rujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai kemampuan keluarga.

2. Risiko/risiko tinggi

Risiko tinggi hubungan keluarga tidak harmonis berhubungan dengan


ketidakmampuan keluarga mengenal masalah yang terjadi pada anaknya.

⮚ Tujuan : ketidakharmonisan keluarga menurun.

⮚ Intervensi :

- Diskusikan faktor penyebab ketidak harmonisan keluarga.

- Diskusikan tentang tugas perkembangan keluarga.

- Diskusikan tentang tugas perkembangan anak yang harus dijalani.

- Diskusikan cara mengatasi masalah yang terjadi pada anak.

- Diskusikan tentang alternatif mengurangi atau menyelesaikan masalah.

- Ajarkan cara mengurangi atau menyelesaikan masalah.

- Beri pujian bila keluarga dapat mengenali penyebab atau mampu membaut
alternative.

14
3. Potensial atau sejahtera

Meningkatnya hubungan yang harmonis antar anggota keluarga.

⮚ Tujuan : dipertahankanya hubungan yang harmonis.

⮚ Intervensi :

- Anjurkan untuk mempertahankan pola komunikasi terbuka pada keluarga.

- Diskusikan cara-cara penyelesaian masalah dan beri pujian atas


kemampuannya.

- Bantu keluarga mengenali kebutuhan anggota keluarga (anak usia sekolah).

- Diskusikan cara memenuhi kebutuhan anggota keluarga tanpa menimbulkan


masalah.

15
DAFTAR PUSTAKA

Sarayati, S. (2016). ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga, 11-76.

Hartinah, Sitti. 2010. Pengembangan Peserta Didik. Bandung PT Refika Aditama

Kuntjojo. 2010. Perkembangan Peserta Didik. Kediri: Universitas Nusantara PGRI Kediri

Supriadi, Oding. 2010. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta

16