Anda di halaman 1dari 26

PEMBELAJARAN PKN SD

“PENGEMBANGAN EVALUASI PEMBELAJARAN”


Makalah ini disusun untuk :

Memenuhi tugas Mata Kuliah Pembelajaran PKN SD


Dosen Pengampu : Vicky Dwi Wicaksono, S.Pd., M.Pd.

Disusun oleh :

Sherlly Mariatul Kiftia (18010644065)


Khofifah Naila Muna (18010644162)
Rishania Diah Ayu Atha Bahtiar (18010644171)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2020
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha
penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur, karena atas segala rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “PENGEMBANGAN
EVALUASI PEMBELAJARAN”.

Tujuan makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran
Pkn SD dengan Vicky Dwi Wicaksono, S.Pd., M.Pd. sebagai dosen pengampu mata
kuliah ini. Kami menyampaikan terima kasih kepada teman-teman yang telah
berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun
dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para


pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh
dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang
bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Surabaya, 24 Februari 2020


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG.................................................................................1
1.2 RUMUSAN PERTANYAAN......................................................................2
1.3 TUJUAN......................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................3
2.1 MAP MAPPING..........................................................................................3
2.2 URAIAN PEMBAHASAN..........................................................................3
2.2.1 Pengertian Magnet...............................................................................3
2.2.2 Pengelompokan Benda Magnetik dan Non Magnetik.........................5
2.2.3 Sifat-sifat Magnet..............................................................................10
2.2.4 Kutub-kutub Magnet.........................................................................12
2.2.5 Kegunaan Magnet dalam Kehidupan Sehari-hari.............................15
2.3 RANGKUMAN.........................................................................................16
2.4 LATIHAN SOAL DAN JAWABAN........................................................17
BAB III PENUTUP........................................................................................25
3.1 KESIMPULAN..........................................................................................25
3.2 SARAN......................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................26
BAB I
PENDAHULUAN

.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
.3 Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN

.1 Evaluasi Pembelajaran
A. Pengertian Evaluasi Pembelajaran
Secara umum evaluasi adalah suatu proses dalam mendapatkan
informasi secara menyeluruh serta berkesinambungan mengenai proses serta
hasil dari sebuah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang, yang nantinya dapat
dijadikan sebagai dasar dalam penentuan lebih lanjut.
Menurut para ahli, pengertian evaluasi diartikan sebagai berikut :
Anne Anastasi (1978), arti evaluasi ialah suatu proses sistematis untuk
menentukan sejauh mana tujuan instruksional tersebut dicapai oleh seseorang.
Sajekti Rusi (1998), pengertian evaluasi merupakan suatu proses menilai
sesuatu, yang mencakup deskripsi tingkah laku siswa baik itu dengan secara
kuantitatif (pengukuran) atau juga kualitatif (penilaian).
Suharsimi Arikunto (2003), arti evaluasi ini merupakan serangkaian
kegiatan atau aktivitas yang bertujuan untuk dapat mengukur tingkat
keberhasilan pada suatu program Pendidikan.
A.D Rooijakkers, pengertian evaluasi ini merupakan suatu usaha atau proses
didalam menentukan nilai-nilai. Secara khusus evaluasi atau penilaian tersebut
juga diartikan ialah sebagai proses pemberian nilai dengan berdasarkan data
kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan.
William A.Mehrens dan Irlin J.Lehmann (1978), pengertian evaluasi ini
merupakan suatu proses merencanakan, memperoleh, serta menyediakan
informasi yang sangat diperlukan untuk dapat membuat alternative-alternatif
keputusan.
Oleh karena itu, evaluasi pembelajaran diartikan sebagai evaluasi
terhadap proses belajar mengajar. Secara sistematik, evaluasi pembelajaran,
mencakup komponen input, yakni perilaku awal siswa, komponen input
instrumental yakni kemampuan professional guru/ tenaga kependidikan,
komponen kurikulum, komponen administratif, komponen proses ialah
prosedur pelaksanaan pembelajaran, komponen output ialah hasil
pembelajaran yang menandai ketercapaian tujuan pembelajaran, dalam hal ini
perhatian ditunjukan hanya pada evaluasi terhadap komponen proses dalam
kaitannya dengan komponen input instrumental.

B. Prinsip Evaluasi Pembelajaran


1. Menyeluruh, dalam proses berjalannya evaluasi pembelajaran wajib
mampu memberi hasil mengenai gambaran seorang siswa baik secara
keseluruhan dalam aspek kognitif, afektif hingga psikomotorik.
2. Berkesinambungan, dengan evaluasi pembelajaran ini dilakukan secara
terus menerus, dimulai dari awal proses pembelajaran hingga diakhirinya
proses pembelajaran para siswa ini.
3. Obyektif, menilai dengan apa adanya sesuai yang terlihat, evaluasi
pembelajaran harus dapat menggambarkan kondisi siswa apa adanya,
tidak dibuat-buat atau penilainnya tidak sesuai dengan realita yang ada.
4. Valid, hasil dari dilakukannya evaluasi tersebut digunakan untuk
menggambarkan kondisi siswa sesuai apa yang sebenarnya terjadi pada
siswa yang menjadi objek dalam berjalannya proses evaluasi tersebut.
5. Reliable, evaluasi dalam pembelajaran wajib dan harus dipercaya serta
bisa menggambarkan kondisi para siswa secara berlanjut terus menerus,
meskipun dilakukan oleh pihak yang berbeda dalam waktu yang berbeda
pula.
6. Edukatif, dilaksanakannya program evaluasi dalam pembelajaran
diharapkan dapat memberi dorongan dalam mendidik oleh para siswa, hal
ini digunakan agar para siswa lebh semangat lagi dalam belajar.
C. Kedudukan Evaluasi dalam Proses Pendidikan
Dalam kegiatan pembelajaran, perencanaan pembelajaran yang baik
sangat penting dan tidaklah dapat dipisahkan dari siapa peserta didiknya, siapa
yang mennyampaikan dan menilainya peserta didik hendaklah selalu menjadi
fokus dalam kegiatan pembelajaran.
Secara umum dapat dikatakan karakteristik peserta didik ini mencakup
ranah kognitif, ranah afektif, ranah psikomotor. Perencanaan pembelajaran
harus pula memperhatikan prasarana dan sarana pendidikan tersedia, termasuk
didalamnya media belajar. Oleh karena itu sebelum menyusun perencanaan
pembelajaran perlu dilakukan evaluasi input, yang mencakup antara lain
keadaan peserta didik dengan segala latar belakangnya, sarana dan media
belajar sehingga memungkinkan diagnosis yang lebih teliti terlebih dahulu
dan menyusun rencana pembelajaran yang sesauai dengan kebutuhan peserta
didik,kondisi lingkungan dan kemajmamuan ilmu dan teknologi.
Disamping itu rencana pembelajaran yang  mantap, akan mendukung
pelaksanaan yang menarik, menggembiraknangan dan menyenangkan serta
akan memicu dan memacu kualitas hasil  belajar. Namun tidak dapat
dipungkiri, betapapun baiknya rencana pembelajaran, kualitas pembelajaran
tidak akan menarik, menantang, dan menyenangkan kalau semua  komponen
yang terkait dalam proses belajar mengajar  tidak berfungsi dengan baik pula.
Kualitas pembelajaran yang baik m emang merupakan salah satu cara untuk
mengoptimalkan keberhan peserta didik dalam setiap kegiatan peserta didik.
Secara keseluruhan evaluasi pendidikan akan muncul pada :
a. Awal Kegiatan Pendidikan
Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesiapan  dan
kemampuan peserta didik    sehingga memungkinkan tenaga pengajar
menyusun rancangan pendidikan sesuai dengan peserta didik, dengan
selalu berpijak pada kompetensi yang akan di capai.
b. Pada saat proses pendidikan atau belajar mengajar sedang berlangsung.
Evaluasi ini dapat berupakan evaluasi preses pelaksanaan pembelajaran
dan komponen pendidikan. Evaluasi proses di awali pada tahap pertama
pembelajaran di laksanakan dan secara runtun sampai pada akhir
pendidikan. Melalaui evaluasi proses akan tmapak dengan jelas apakah
rencana penddidikan yang telah di susun dapat dilaksanan dengan baik.
Apakah langkah-langkah yang disusun terlaksana dengan baik?  Jika
tidak faktor-faktor apakah yang menyebabkannya. Untuk ini diperlukan
evaluasi komponen-konponen pendidikan dan evaluasi mata pelajaran.
c. Pada akhir kegiatan pendidikan atau pembelajaran.
Kegiatan ini di maksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian peserta
didik dalam belajar. Evluasi seperti ini dapat juga di lakukan pada akhir
satuan mata  pelajaran.

D. Syarat-syarat Umum Evaluasi


Penilaian kegiatan belajar – mengajar dengan program pendidikan
akan dapat mencapai tujuan yang diinginkan secara teliti apabila alat ukur
yang dipakai memenuhi kriteria atau syarat-syarat alat ukur yang baik dan
benar; diadministrasikan secara baik dan diolah secara objektif menurut
kriteria yang tepat. Alat ukur yang baik hendaklah memenuhi beberapa syarat-
syarat, antara lain :
a. Valid
Suatu alat ukur dikatakan valid atau mempunyai validitas yang tinggi
apabila alat ukur itu betul-betul mengukur apa yang ingin diukur.
b. Reliabel
Suatu tes yang sahih/valid adalah reliabel, tetapi suatu tes yang reliabel
belum tentu valid. Reliabilitas suatu tes menunjuk kepada ketetapan
konsistensi, atau stabilitas hasil tes/suatu ukuran yang dilakukan.
c. Objektif
Penskor hendaknya menilai/menskor apa-adanya, tanpa dipengaruhi oleh
subjektif penskor atau faktor-faktor lainnya diluar yang tersedia.
d. Praktis (Mudah dan Murah)
Suatu alat ukur dikatakan praktis apabila biaya alat ukur itu murah.
Disamping itu, alat tersebut mudah diadministrasikan, mudah diskor, dan
mudah diinterprestasikan.
e. Norma
Dalam hal ini norma diartikan sebagai patokan kriteria atau ukuran yang
digunakan untuk menentukan dalam pengambilan keputusan.
f. Efisiensi
Suatu alat evaluasi sedapat mungkin digunakan tanpa membuang waktu
dan uang yang banyak.
g. Kontinuitas, berkesinambungan
h. Komperhensif, berkaitan dengan sikap nilai
i. Akuntabilitas
Bertanggung jawab terhadap apa yang dijadikan evaluasi.

E. Instrumen Evaluasi Pembelajaran


a. Tes Sebagai Alat Penilaian Hasil Belajar
Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan yang
diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk
lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tulisan), dan dalam bentuk
perbuatan (tes tindakan). Tes pada umumnya digunakan untuk menilai
dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif
berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan
pendidkan dan pengajaran.
Ada 2 jenis tes yakni tes uraian (subjektif) dan tes objektif. Tes uraian
terdiri dari uraian bebas, uraian terbatas, dan uraian terstruktur.
Sedangkan tes objektif terdiri dari beberapa bentuk, yakni bentuk pilihan
benar salah, pilihan ganda dengan banyak variasi, menjodohkan, dan isian
pendek atau melengkapi.
1. Tes Uraian (Tes Subjektif)
Tes Uraian, yang dalam uraian disebut juga essay, merupakan alat
penilaian yang hasil belajar yang paling tua. Secara umum tes uraian
ini adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawab dalam bentuk
menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan,
memberikan alasan, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan
tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa
sendiri. Dengan demikian, dalam tes ini dituntut kemampuan siswa
dalam mengekspresikan gagasannya melalui bahasa tulisan.
Sejak tahun 1960-an bentuk tes ini banyak ditinggalkan orang
karena munculnya tes objektif. Bahkan sampai saat ini tes objektif
sangat populer dan digunakan oleh hampir semua guru mulai dari
tingkat SD sampai di perguruan tinggi. Namun ada semacam
kecenderungan dikalangan para pendidik dan guru untuk kembali
menggunakan tes uraian sebagai alat penilaian hasil belajar, terutama
di perguruan tinggi, disebabkan oleh beberapa hal antara lain;
- Adanya gejala menurunnya hasil belajar atau kualitas pendidikan
di perguruan tinggi yang salahsatu diantaranya berkenaan dengan
penggunaan tes objektif,
- Lemahnya para mahasiswa dalam menggunakan bahasa tulisan
sebagai akibat penggunaan  tes objektif yang berlebihan,
- Kurangnya daya analisis para mahasiswa karena terbiasa dengan
tes objektif yang memungkinkan mereka main tebak jawaban
manakalah mereka menghadapi kesulitan dalam menjawabnya.
Kondisi seperti ini sangat menunjang penggunaan tes uraian di
perguruan tinggi akhir - akhir ini dengan harapan dapat meningkatkan
kembali kualitas pendidikan di perguruan tinggi. Harus diakui bahwa
tes uraian dalam banyak hal mempunyai kelebihan daripada tes
objektif, terutama dalam hal meningkatkan kemampuan belajar
dikalangan peserta didik. Hal ini karena melalui tes para peserta didik
dapat mengungkapkan aspek kognitif tingkat tinggi seperti analisis -
intesis - evaluasi, baik secara lisan maupun secara tulisan.
Dapat disimpulkan bahwa kelebihan atau keunggulan tes uraian
antara lain adalah:
 Dapat mengukur proses mental yang tinggi atau aspek kognitif
tingkat tinggi;
 Dapat meningkatkan kemampuan berbahasa, baik lisan maupun
tulisan, dengan bail dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah
bahasa;
 Dapat melatih kemampuan berfikir teratur atau penalaran, yakni
berfikir logis, analitis dan sistematis;
 Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah (problem
solving);
 Adanya keuntungan teknis seperti mudah membuat soalnya
sihingga tanpa memakan waktu yang lama, guru dapat secara
langsung melihat proses berfikir siswa.
Dipihak lain kelemahan atau kekurangan yang terdapat dalam tes
ini antara lain adalah:
 Sampel tes sangat terbatas sebab dengan tes ini tidak mungkin
dapat menguji semua bahan yang telah diberikan, tidak seperti
pada tes objektif  yang dapat menanyakan banyak hal melalui
sejumlah pertanyaan;
 Sifatnya sangat subjektif, baik dalam menanyakan, dalam
membuat pertanyaan, maupun dalam cara memeriksanya.
 Tes ini biasanya kurang reliable, mengungkap aspek yang terbatas,
pemeriksaannya memerlukan waktu lama sehingga tidak praktis
bagi kelas yang jumlah siswanya relative besar.

Bentuk tes uraian dibedakan menjadi 3 yaitu uraian bebas, uraian


terbatas dan uraian berstruktur.
1) Uraian Bebas
Dalam uraian  bebas jawaban siswa tidak dibatasi, bergantung
pada pandangan siswa itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh isi
pertanyaan uraian bebas sifatnya umum. Melihat karakteristiknya,
pertanyaan bentuk uraian bebas tepat digunakan apabila bertujuan
untuk:
- Mengungkapkan pandangan para siswa terhadap suatu
masalah sehingga dapat diketahui luas dan intensitas.
- Pengupas suatu persoalan yang kemungkinan jawabannya
beraneka ragam sehingga tidak satupun jawaban yang pasti.
- Mengembangkan daya analisis siswa dalam melihat suatu
persoalan dari berbagai segi atau dimensinya.
Kelemahan tes ini ialah sukar menilainya karena jawaban siswa
bervariasi, sulit menentukan kriteria penilaian, sangat subjektif
karena bergantung pada guru sebagai penilainya.
2) Uraian Terbatas
Bentuk kedua dari tes uraian adalah tes uraian terbatas. Dalam
bentuk ini pertanyaan telah diarahkan kepada hal-hal tertentu atau
ada pembatasan tertentu. Pembatasan dilhat dari segi: (a) ruang
lingkupnya, (b) sudut pandang menjawabnya, (c) indikator-
indikatornya.
3) Uraian Berstruktur
Soal berstruktur dipandang sebagai bentuk antara soal-soal
objektif dan soal-soal esai. Soal berstruktur merupakan
serangkaian soal jawaban singkat sekalipun bersifat terbuka dan
bebas memberikan jawaban.

2. Tes Objektif
Soal-soal bentuk objektif dikenal ada beberapa bentuk yakni:
1) Bentuk Jawaban Singkat
Bentuk soal jawaban singkat merupakan soal yang menghendaki
jawaban dalam bentuk kata, bilangan, kalimat atau symbol. Ada
dua bentuk jawaban singkat yaitu bentuk pertanyaan langsung dan
bentuk pertanyaan tidak langsung
2) Bentuk Soal Benar-salah
Bentuk soal benar-salah addalah bentuk tes yang soal-soalnya
berupa pertanyaan dimana sebagian dari pertanyaan yang benar
dan pertanyaan yang salah. Pada umumnya bentuk ini dipakai
untuk mengukur pengetahuan siswa tentang fakta, definisi dan
prinsip.
3) Bentuk Soal Menjodohkan
Bentuk soal menjodohkan terdiri dari dua kelompok pertanyaan
yang parallel yang berada dalam satu kesatuan. Kelompok sebelah
kiri merupakan bagian yang berupa soal-soal dan sebelah kanan
adalah jawaban yang disediakan. Tapi sebaiknya jum;lah jawaban
yang disediakan lebih banyak dari soal karena hal ini akan
mengurangi kemungkinan siswa menjawab yang betul dengan
hanya menebak.
4) Bentuk Soal Pilihan Ganda
Soal pilihan ganda adalah bentuk tes yang mempunyai satu
jawaban yang benar atau paling tepat. Dilihat dari strukturnya,
bentuk soal pilihan ganda terdiri atas;
- Stem : pertanyaan atau pernyataan yang berisi permasalahan
yang akan dinyatakan.
- Option : sejumlah pilihan atau alternative jawaban
- Kunci : jawaban yang benar atau paling tepat.
- Distractor : jawaban-jawaban lain selain kunci jawaban
b. Non tes sebagai alat penilaian dari hasil dan proses belajar mengajar
Hasil belajar dan proses belajar tidak hanya dinilai oleh tes, tetapi
dapat juga dinilai olah alat-alat non tes atau bukan tes. Berikut ini
dijelaskan alat-alat non - tes:
1. Wawancara dan Kuisioner
a) Wawancara
Wawancara merupakan suatu cara yang digunakan untuk
mendapatkan informasi dari siswa dengan melakukan Tanya jawaab
sepihak. Kelebihan wawancara adalah biasa kontak langsung dengan
siswa sehingga dapat mengungkapkan jawaban lebih bebas dan
mendalam. Wawancara dapat direkam sehingga jawaban siswa bisa
dicatat secara lengkap. Melalui wawancara, data bisa diperoleh
dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif. Pertanyaan yang tidak jelas
dapat diulang dan dijelaskan lagi, begitupun dengan jawaban yang
belun jelas.
Ada dua jenis wawancara, yakni wawancara terstruktur dan
wawanncara bebas. Dalam wawancara berstruktur kemungkinan
jawaban telah di siapkan sehingga siswa tinggal
mengkategorikannya kepada alternative jawaban yang telah dibuat.
Keuntungannya ialah mudah di olah dan dianalisis untuk dibuat
kesimpulan. Sedangkan untuk wawancara bebas, jawaban tidak perlu
disiapkan sehingga siswa bebas mengemukakan pendapatnya.
Keuntungannya ialah informasi lebih padat dan lengkap sekalipun
kita harus bekerjakeras dalam menganalisisnya sebab jawabanya
bias beraneka ragam.
Ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam melaksanakan
wawancara
o Tahap awal wawancara dimana bertujuan untuk
mengondisikan situasi seperti suasana keakraban.
o Penggunaan pertanyaan dimana pertanyan di ajukan secara
bertahap dan sistematis berdasarkan kisi-kisi yang telah
dibuat sebelumnya.
o Pencataan hasil wawancara dimana dicatat saat itu juga
supaya tidak lupa.
Sebelum melaksanakan wawancara perlu di rancang pedoman
wawancara,dengan langkah-langkah sebagai berikut ;
o Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari wawancara
o tentukan aspek-aspek yang akan di ungkap dari wawancara
tersebut
o Tentukan bentuk pertanyaan yang akan di gunakan.

b) Kuisioner
Kuisioner adalah suatu tekhnik pengumpulan informasi yang
memungkinkan analisis mempelajari sikap – sikap, keyakinan,
perilaku dan karakteristik dari siswa.
Kelebihan kuesiner dari wawancara ialah sipatnya yang praktis,
hemat waktu tenaga dan biaya. Kelemahannya ialah jawaban sering
tidak objektif,lebih-lebih bila pertanyaannya kurang tajam yang
memungkinkan siswa berpura-pura.
Cara penyampain kuesiner ada yang langsung di bagikan kepada
siswa yang telah diisi lalu di kumpulkan lagi. Alternatif jawaban
yang ada dalam kuisiner bisa juga di trasformasikan dalam bentuk
symbol kuantitatif agar menghasilkan data interval. Caranya adalah
dengan memberi skor terhadap setiap jawaban berdasarkan kriteria
tertentu.
2. Skala
Skala adalah alat untuk mengukur sikap , nilai, minat dan perhatian,
dll. Yang disusun dalam bentuk  pernyataan untuk dinilai oleh
responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuatu dengan
criteria yang ditentukan.
a) Skala Penilaian
Skala penilaian mengukur penampilan atau prilaku orang lain
oleh seseorang melalui pernyataan prilaku individu  pada suatu titik
yang bermakna nilai. Titik atau kategori diberi nilai rentangan mulai
dari yang tertinggi sampai yang terendah, bias daalam bentuk huruf
atau angka. Hal yang penting diperhatikan dalam skala penilaian
adalah criteria skala nilai, yakni penjelasan operasional untuk setiap
alternative jawaban. Adanya criteria yang jelas akan mempermudah
pemberian penilaian.
Skala penilaian lebih tepat digunakan untuk mengukur suatu
proses, misalnya proses mengajar pada guru, siswa, atau hasil belajar
dalam bentuk prilaku seperti keterampilan, hubunagan social siswa,
dan cara memecahkan masalah.  Skala penilaian dalam
pelaksanaannya dapat digunakan oleh dua  orang penilai atau lebih
dalam menilai subject yang sama. Maksudnya agar diperoleh hasil
penilaian yang objektif  mengenai prilaku subject yang dinilai.
b) Skala sikap
Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap
objek tertentu. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung
(positif), menolak (negative ), dan netral. Sikap pada hakikatnya
dapat diartikan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang dating
kepada dirinya.
Ada 3 komponen sikap yakni:
- Kognitif, berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek
atau stimulus yang dihadapinnya.
- Afeksi, berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek
tersebut.
- Psikomotor, berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap
objek tersebut.
Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai
oleh responden, apakah pernyataan itu didukung atau ditolaknya,
melalui rentangan nilai tertentu. Oleh karena itu, pernyataan yang
diajukan dibagi ke dalam dua kategori yakni pernyataan positif dan
pernyataan negatif. Salah satu skala yang sering digunakan adalah
Likert. Dalam skala Likert, pernyataan-pernyataan yang diajukan
baik pernyataan positif maupun negative, dinilai oleh subjek dengan
sangat setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak setuju, dan sangat
tidak setuju. Skor yang diberikan terhadap pilihan tersebut
bergantung pada penilai asal penggunaannya konsisten. Yang jelas,
skor untuk pernyataan positif atau negatif adalah kebalikannya.
3. Observasi
Observasi atau pengamatan sebagai alat penilaian banyak digunakan
untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya
suatu kegiatan yang dapat idamati, baik dalam situasi yang
sebenarnya maupun dalam situasi buatan.
Ada tiga jenis observasi, yakni:
 Observasi langsung, adalah pengamatan yang dilakukan
terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi yang
sebenarnya dan langsung diamati oleh pengamat.
 Observasi tidak langsung, adalah observasi yang dilakasanakan
dengan menggunakan alat seperti mikroskop utuk mengamati
bakteri, suryakanta untuk melihat pori-pori kulit.
 Observasi partisipasi, adalah observasi yang dilaksanakan 
dengan cara  pengamat harus melibatkan diri atau ikut serta
dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok
yang diamati, sehingga pengamat bias lebih menghayati,
merasakan dan mengalami sendiri seperti individu yang sedang
diamatinya.
Observasi untuk menulai proses belajar mengajar dapat
dilakasanakan oleh guru di kelas pada saat siswa melakukan kegaitan
belajar. Untuk itu gurutidak perlu terlalu formal memperhatikan
perilaku siswa, tetapi ia mencatat secara teratur gejaka dan prilaku
yang ditunjukkan oleh setiap siswa.
4. Studi Kasus
Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang
individu yang dipandang mengalami kasus tertentu. Misalnya
mempelajari secara khusus anak nakal, anak yang tidak bisa bergaul
dengan orang lain, anak yang selalu gagal dalam belajar, dan lain -
lain. Kasus tersebut dipelajari secara mendalam dan dalam kurun
waktu yang cukup lama. Mendalam artinya mengungkapkan semua
variable yang menyebabkan terjadinya kasus tersebut dari berbagai
aspek yang mempengaruhi dirinya. Penekana yang utama dalam studi
kasus adalah mengapa individu melalukan apa yang dilakukannya
dan bagaimana tingkah lakunya dalam kondisi dan pengaruhnya
terhadap lingkungan. Datanya biasa diperoleh berbagai sumbar
seperti orang tua, teman dekatnya, guru, bahkan juga dari dirinya. 
Kelebihan studi kasus adalah bahwa subjek dapat dipelajari se0
cara mendalam dan menyeluruh. Namun, kelemahannya sesuai
dengan sifat studi kasus bahwa informasi yang diperoleh sifatnya
subjektif, artinya hanya untuk individu yang bersangkutan, dan
belum tentu dapat digunakan untuk kasus yang sama pada individu
yang lain.

.2 Komponen-komponen dalam Evaluasi Pendidikan


Dalam evaluasi Pendidikan, ada tiga komponen yang saling berkaitan dan
tidak dapat terpisahkan. Berikut merupakan penjelasan tiga komponen dalam
evaluasi :
1. Pengukuran
Pengukuran merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan
kuantitas sesuatu yang bersifat numeric. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif,
bahkan merupakan instrument untuk melakuakan penilaian. Unsur pokok
dalam kegiatan pengukuran ini, antara lain adalah sebagai berikut :
a. Tujuan pengukuran
b. Ada objek ukur
c. Alat ukur
d. Proses pengukuran
e. Hasil pengukuran kuantitatif
2. Penilaian
Penilaian merupakan komponen penting dalam penyelenggaraan
Pendidikan. Upaya meningkatkan kualitas Pendidikan dapat ditempuh melalui
peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas penilaiannya. Penilaian
didefinisikan sebagai proses pengumpulan informasi tentang kinerja siswa,
untuk digunakan sebagai dasar dalam membuat keputusan (Weeden, Winter,
dan Broadfoot : 2002; Bott: 1996; Nitko: 1996; Mardapi: 20014). Selanjutnya
Black dan William (1998) mendefinisikan penilaian sebagai semua aktivitas
yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk menilai diri mereka sendiri, yang
memberikan informasi untuk digunakan sebagai umpan balik untuk
memodifikasi aktivitas belajar mengajar.
Penilaian berdasarkan definisi diatas memberi penekanan pada usaha
yang dilakukan guru maupun siswa untuk memperoleh informasi yang
berkaitan dengan pembelajaran yang mereka lakukan yang dapat dijadikan
sebagai umpan balik untuk melakukan perubahan aktivitas belajar mengajar
yang lebih baik dari sebelumnya.
Tujuan penilaian:
a. Membantu belajar siswa
b. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa
c. Menilai efektifitas strategi pengajaran
d. Menilai dan meningkatkan efektifitas program kurikulum
e. Menilai dan meningkatkan efektifitas pengajaran
f. Menyediakan data yang membantu dalam membuat keputusan
g. Komunikasi dan melibatkan orang tua siswa
Kegiatan penilaian dalam proses pembelajaran harus diarahkan pada
hal berikut :
 Penelusuran, untuk menelusuri kesesuaian proses pembelajaran dengan
yang direncanakan
 Pengecekan, untuk mencari informasi tentang kekurangan-kekurangan
pada peserta didik selama pembelajaran
 Pencarian, untuk mencari penyebab kekurangan yang muncul selama
proses pembelajaran
 Penyimpulan, untuk menyimpulkan tingkat pencapaian belajar yang telah
dimiliki peserta didik.

3. Evaluasi
Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan kenyataan mengenai
proses pembelajaran secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi
perubahan terhadap peserta didik dan sejauh apakah perubahan tersebut
mempengaruhi kehidupan peserta didik.
Dalam konteks Lembaga evaluasi merupakan salah satu rangkaian
kegiatan dalam meningkatkan kualitas, kinerja atau produktivitas suatu
Lembaga dalam melaksanakan programnya (Mardapi, 2004). Hal yang
hamper sama dikemukakan oleh Stuffelbeam dan Shinkfield (2007), yang
mengatakan bahwa evaluasi merupakan proses memperoleh, menyajikan, dan
menggambarkan informasi yang berguna untuk menilai suatu alternative
pengambilan keputusan tentang suatu program.
Ditinjau dari cakupannya, evaluasi ada yang bersifat makro yaitu
menggunakan sampel dalam menelaah suatu program dan dampaknya, yang
sasarannya adalah program Pendidikan. Kemudian evaluasi yang bersifat
mikro yang sasarannya adalah program pembelajaran di kelas dan yang
menjadi penanggungjawabnya adalah tenaga pendidik.
Evaluasi pengajaran dapat dikategorikan menjadi dua yaitu formatif
dan sumatif. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap
akhir pembahasan suatu pokok bahasan/topik yang tujuannya untuk
memperbaiki proses belajar-mengajar. Sedangkan evaluasi sumatif adalah
evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang di dalamnya
mencakup lebih dari satu pokok bahasan, yang tujuannya untuk menetapkan
tingkat keberhasilan peserta didik dalam kurun waktu tertentu yang ditandani
dengan perolehan nilai peserta didik dengan ketetapan lulus atau belum.

.3 Fungsi dan Tujuan Evaluasi Pembelajaran


1. Fungsi Evaluasi Pembelajaran
a. Fungsi Normatif, yaitu berfungsi sebagai perbaikan system
pembelajaran.
b. Fungsi Diagnostic, yaitu berfungsi untuk mengetahui faktor kesulitan
siswa dalam proses pembelajaran.
c. Fungsi Sumatif, berfungsi untuk mengetahui tingkat kemampuan
peserta didik.
2. Fungsi dan Tujuan Evaluasi Pembelajaran
a. Untuk mengetahui apakah tujuan pengajaran yang ditetapkan telah
tercapai dalam kegiatan pembelajaran.
b. Untuk memberikan obyektivitas pengamatan kita terhadap perilaku
hasil belajar siswa.
c. Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam bidang/topik tertentu
d. Untuk menentukan kelayakan siswa kejenjang selanjutnya
e. Untuk memberikan feed back kepada siswa dalam proses Pendidikan.
f. Untuk membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembelajaran
g. Penilaian untuk menentukan kualitas siswa
h. Pengukuran untuk menentukan kuantitas siswa.

.4 Prosedur Pengembangan Evaluasi Pembelajaran


A. Perencanaan Evaluasi
Perencanaan evaluasi dimaksudkan agar hasil yang diperoleh dari
evaluasi dapat lebih maksimal. Perencanaan ini penting bahkan
mempengaruhi prosedur evaluasi secara menyeluruh. Perencanaan evaluasi
dilakukan untuk memfasilitasi pengumpulan data, sehingga memungkinkan
membuat pernyataan yang valid tentang pengaruh sebuah efek atau yang
muncul di luar program, praktik, atau kebijakan yang di teliti. Kegunaan dari
perencanaan evaluasi adalah : (1) perencanaan evaluasi membantu untuk
mengetahui apakah standar dalam menyatakan sikap atau perilaku  telah
mencapai sasaran atau tidak, jika demikian sasaran akan dinyatakan ambigu
dan akan kesulitan merancang tes untuk mengukur prestasi siswa; (2)
perencanaan evaluasi adalah proses awal yang dipersiapkan untuk
mengumpulkan informasi  yang  tersedia; (3) rencana evaluasi menyediakan
waktu yang cukup untuk mendesain tes.
Untuk merancang sebuah tes yang baik memerlukan persiapan yang
cermat dan kualitas tes biasanya lebih baik jika dirancang dengan cara tidak
tergesa-gesa; Implikasinya adalah perencanaan evaluasi harus dirumuskan
secara jelas dan spesifik, terurai dan komprehensif sehingga perencanaan
tersebut bermakna dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam
menetapkan tujuan-tujuan tingkah laku (behavioral objective) atau indikator
yang akan dicapai, dapat mempersiapkan pengumpulan data dan informasi
yang dibutuhkan serta dapat menggunakan waktu yang tepat.
Dalam melakukan perencanaan evaluasi, hal-hal yang patut
diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. Analisis Kebutuhan
Adalah suatu proses yang dilakukan oleh seseorang untuk
mengidentifikasi kebutuhan dan menentukan skala prioritas
pemecahannya. Analisis kebutuhan merupakan bagian integral dari sistem
pembelajaran secara keseluruhan, yang dapat digunakan untuk
menyelesaiakan masalah-masalah pembelajaran. langkah-langkah yang
dilakukan adalah mengindentifikasi dan mengklarifikasi masalah,
mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, analisa data dan kesimpulan.
2. Menentukan Tujuan Penilaian
Tujuan penilaian merupakan dasar untuk menentukan arah, ruang
lingkup materi, jenis/model dan karakter alat penilaian. Ada empat
kemungkinan tujuan penilain : (1) penilaian formatif, yaitu untuk
memperbaiki kinerja atau proses pembelajaran; (2) penialian sumatif,
yaitu untuk menentukan keberhasilan peserta didik; (3) penialian
diagnostik, yaitu untuk mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik
dalam proses pembelajaran; (4) penilaian penempatan, yaitu untuk
menempatkan posisi peserta didik sesuai dengan kemampuannya.
3. Mengidentifikasi Kompetensi dan Hasil Belajar.
Bertujuan untuk mengidentifikasi kompetensi yang akan diuji sesuai
dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator
yang terbagi dalam tiga domain (1) domain kognitif meliputi:
pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sisnteis dan evaluasi; (2)
domain afektif meliputi: penerimaan, respons, penilaian, organisasi,
kakaterisasi; (3) domaian psikomotor meliputi: persepsi, kesiapan
melakukan pekerjaan, respon terbimbing, kemahiran, adaptasi dan
orijinasi
4. Menyusun Kisi-Kisi.
Kisi-kisi adalah format pemetaan soal yang menggambarkan distribusi
item untuk berbagai topik atau pokok bahasan berdasarkan jenjang
kemampuan tertentu yang berfungsi sebagai pedoman untuk menulis soal
atau merakit soal menjadi perangkat tes. Kisi-kisi yang baik akan
memperoleh perangkat soal yang relatif sama sekalipun penulis soalnya
berbeda. Kisi-kisi penting dalam perencanaan penilaian hasil belajar
karena di dalamnya terdapat sejumlah indikator sebagai acuan dalam
mengembangkan instrumen (soal) dengan persyaratan (1) representatif,
yaitu harus betul-betul mewakili isi kurikulum sebagai sampel perilaku
yang akan di nilai; (2) komponen-komponennya harus terurai/terperinci,
jelas, dan mudah dipahami; (3) soalnya dapat dibuat sesuai dengan
indikator dan bentuk soal yang diterapkan. Manfaat dari indikator dalam
kisi-kisi adalah (1) dapat memilih materi, metode, media dan sumber
belajar yang tepat, sesuai dengan kompetensi yang telah di tetapkan; (2)
sebagai pedoman dan pegangan untuk menyusun soal atau isntrumen
penilaian lain yang tepat, sesuai dengan standar kompetensi dan
kompetensi dasar yang telah di tetapkan. Dalam menyusun kisi-kisi harus
memperhatikan domain hasil belajar yang akan diukur dengan sistematika
: (1) aspek recall, yang berkenaan dengan aspek-aspek pengetahuan
tentang istilah-istilah, definisi, fakta, konsep, metode dan prinsip-prinsip;
(2) aspek komprehensif, yaitu berkenaan dengan kemampuan-
kemampuan antara lain: menjelaskan, menyimpulkan suatu informasi,
menafsirkan fakta (grafik, diagram, tabel, dan lain-lain), mentransfer
pernyataan dari suatu bentuk ke dalam bentuk lain (pernyataan verbal ke
non-verbal atau dari verbal ke dalam bentuk rumus), memprakirakan
akibat atau konsekuensi logis dari suatu situasi; (3) aspek aplikasi yang
meliputi kemampuan-kemampuan antara lain: menerapkan
hukum/prinsip/teori dalam suasana sesungguhnya, memecahkan masalah,
membuat (grafik, diagram dan lain-lain), mendemonstrasikan penggunaan
suatu metode, prosedur dan lain-lain.
5. Mengembangkan Draft.
Draft instrumen merupakan penjabaran indikator menjadi pertanyaan-
pertanyaan yang karakteristiknya sesuai dengan pedoman kisi-kisi. Setiap
pertanyaan harus jelas dan terfokus serta menggunakan bahasa yang
efektif, baik bentuk pertanyaan maupun bentuk jawabannya. Kualitas
butir soal akan menentukan kualitas tes secara keseluruhan. Dengan
prosedur soal yang disusun ditelaah oleh tim ahli yang terdiri dari ahli
bahasa, ahli bidang studi, ahli kurikulum dan ahli evaluasi. Untuk draft
dalam bentuk non-tes dapat dibuat dalam bentuk angket, pedoman
observasi, pedoman wawancara, studi dokumentasi, skala sikap, penilaian
bakat, minat dan sebagainya.
6. Uji Coba dan Analisis Soal.
Bertujuan untuk mengetahui soal-soal mana yang perlu diubah,
diperbaiki, bahkan dibuang sama sekali, serta soal mana yang baik untuk
diperguankan selanjutnya. Soal yang baik adalah soal yang sudah
mengalami beberapa kali uji coba dan revisi yang didasarkan atas: (1)
analisis empiris, yang dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan-
kelemahan setiap soal yang digunakan. Informasi empiris pada umumnya
menyangkut segala hal yang dapat memengaruhi validitas soal meliputi:
aspek-aspek keterbacaan soal, tingkat kesukaran soal, bentuk jawaban,
daya pembeda soal, pengaruh kultur, dan sebagainya; (2) analisis rasional,
yang dimaksudkan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan setiap soal.
Kedua analisis tersebut dilakukan pula terhadap instrumen evaluasi dalam
bentuk nontes
7. Revisi dan Merakit Soal (Instrumen Baru).
Soal yang sudah di uji coba dan di analisis, direvisi kembali sesuai
dengan proporsi tingkat kesukaran soal dan daya pembeda. Dengan
demikian, ada soal yang masih dapat diperbaiki dari segi bahasa, atau
direvisi total, baik menyangkut pokok soal (stem) maupun alternatif
jawaban (option) yang kemudian dilakukan perakitan soal menjadi suatu
instrumen yang terpadu dengan memperhatikan validitas skor tes, nomor
urut soal, pengelompokkan bentuk soal, penataan soal dan sebagainya.

B. Pelaksanaan Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi artinya bagaimana cara melaksanakan suatu
evaluasi sesuai dengan perencanaan evaluasi. Dengan kata lain tujuan
evaluasi, model dan jenis evaluasi, objek evaluasi, instrumen evaluasi, sumber
data, semuanya sudah dipersiapkan pada tahap perencanaan evaluasi yang
pelaksanaannya bergantung pada jenis evaluasi yang digunakan. Jenis
evaluasi yang digunakan akan mempengaruhi seorang evaluator dalam
menentukan prosedur, metode, instrumen, waktu pelaksanaan, sumber data
dan sebagainya, yang pelaksanaannya dapat dilakukan dengan :
A) Non-tes yang dimaksudkan untuk mengetahui perubahan sikap dan
tingkah laku peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran,
pendapat terhadap kegiatan pembelajaran, kesulitan belajar, minat
belajar, motivasi belajar dan mengajar dan sebagainya. Instrumen yang
digunakan (1) angket; (2) pedoman observasi; (3) pedoman wawancara;
(4) skala sikap; (5) skala minat; (6) daftar chek; (7) rating scale;
(8) anecdotal records; (9) sosiometri; (10) home visit
B) Untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi menggunakan bentuk
tes pensil dan kertas (paper and pencil test) dan bentuk penilaian
kinerja (performance), memberikan tugas atau proyek dan menganalisis
hasil kerja dalam bentuk portofolio.
Tujuannya adalah untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai
keseluruhan aspek kepribadian dan prestasi belajar peserta didik yang meliputi
(1) data pribadi (personal) yang meliputi nama, tempat dan tanggal lahir, jenis
kelamin, golongan darah, alamat dan lain-lain; (2) data tentang kesehatan
yang meliputi pengelihatan, pendengaran, penyakit yang sering diderita dan
kondisi fisik; (3) data tentang prestasi belajar (achievement) di sekolah; (4)
data tentang sikap (attitude) meliputi sikap terhadap teman sebaya, sikap
terhadap kegiatan pembelajaran, sikap terhadap pendidik dan lembaga
pendidikan dan sikap terhadap lingkungan sosial; (5) data tentang
bakat (aptitude) yang meliputi data tentang bakat di bidang olahraga,
keterampilan mekanis, keterampilan manajemen, kesenian dan keguruan; (6)
persoalan penyesuaian (adjustment) meliputi kegiatan dalam organisasi di
sekolah, forum ilmiah, olahraga dan kepanduan; (7) data tentang
minat (interest); (8) data tentang rencana masa depan yang dibantu oleh
pendidik, orang tua sesuai dengan kesanggupan peserta didik; (9) data tentang
latar belakang yang meliputi latar belakang keluarga, pekerjaan orang tua,
penghasilan tiap bulan, kondisi lingkungan, serta hubungan dengan orang tua
dan saudara-saudaranya.
Sedangkan kecenderungan evaluasi yang tidak memuaskan dapat
ditinjau dari beberapa segi (1) proses dan hasil evaluasi kurang memberi
keuntungan bagi peserta didik, baik secara langsung maupun tidak langsung;
(2) penggunaan teknik dan prosedur evaluasi kurang tepat berdasarkan apa
yang sudah dipelajari peserta didik; (3) prinsip-prinsip umum evaluasi kurang
dipertimbangkan dan pemberian skor cenderung tidak adil; (4) cakupan
evaluasi kurang memperhatikan aspek-aspek penting dari pembelajaran.

C. Monitoring Pelaksanaan Evaluasi


Monitoring dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaan evaluasi
pembelajaran telah sesuai dengan perencanaan evaluasi yang telah ditetapkan
atau belum, dengan tujuan untuk mencegah hal-hal negatif dan meningkatkan
efisiensi pelaksanaan evaluasi. Monitoring mempunyai dua fungsi pokok (1)
melihat relevansi pelaksanaan evaluasi dengan perencaan evaluasi; (2) melihat
hal-hal apa yang terjadi selama pelaksanaan evaluasi dengan mencatat,
melaporkan dan menganalisis faktor-faktor penyebabnya. Dalam
pelaksanaannya dapat digunakan teknik (1) observasi partisipatif; (2)
wawancara bebas atau terstruktur; (3) studi dekumentasi. Hasil dari
monitoring dapat dijadikan landasan dan acuan untuk memperbaiki
pelaksanaan evaluasi selanjutnya.

D. Pengolahan Data
Mengolah data berarti mengubah wujud data yang sudah dikumpulkan
menjadi sebuah sajian data yang menarik dan bermakna. Data hasil evaluasi
yang berbentuk kualitatif diolah dan dianalisis secara kualitatif, sedangkan
data hasil evaluasi yang berbentuk kuantitatif diolah dan dianalisis dengan
bantuan statistika deskriptif maupun statistika inferensial. Ada empat langkah
pokok dalam mengolah hasil penelitian :
1. Menskor, yaitu memberikan skor pada hasil evaluasi yang dapat dicapai
oleh perserta didik. Untuk menskor atau memberikan angka diperlukan
tiga jenis alat bantu yaitu kunci jawaban, kunci skoring dan pedoman
konversi
2. Mengubah skor mentah menjadi skor standar dengan norma tertentu
3. Mengkonversikan skor standar ke dalam nilai, baik berupa huruf atau
angka
4. Melakukan analisis soal (jika diperlukan) untuk mengatahui derajat
validitas dan reliabilitas soal, tingkat kesukaran sola (difficulty index) 
dan daya pembeda
Mengolah data dengan sendirinya akan menafsirkan hasil pengolahan
itu. Memberikan interpretasi maksudnya adalah memberikan
pernyataan (statement) mengenai hasil pengolahan data. Interpretasi terhadap
suatu hasil evaluasi didasarkan atas kriteria tertentu yang ditetapkan terlebih
dahulu secara rasional dan sistematis sebelum kegiatan evaluasi dilaksanakan,
tetapi dapat pula dibuat berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh dalam
melaksanakan evaluasi. Sebaliknya jika penafsiran data tidak berdasarkan
kriteria atau norma tertentu, maka ini termasuk kesalahan besar dan ada dua
jenis penafsiran data :
 Penafsiran Kelompok
Yaitu penafsiran yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik
kelompok berdasarkan data hasil evaluasi yang meliputi prestasi
kelompok, rata-rata kelompok, sikap kelompok terhadap pendidik dan
materi yang diberikan, dan distribusi nilai kelompok. Tujuannya adalah
sebagai persiapan untuk melakukan penafsiran kelompok, untuk
mengetahui sifat-sifat tertentu pada suatu kelompok dan untuk
menggandakan perbandingan  antarkelompok.
 Penafsiran Individual
Yaitu penafsiran yang hanya dilakukan secara perseorangan
diantaranya bimbingan dan penyluhan atau situasi klinis lainnya.
Tujuannya adalah untuk melihat tingkat kesiapan peserta
didik (readiness), pertumbuhan fisik, kemajuan belajar dan kesulitan-
kesulitan yang dihadapinya.
Dengan penafsiran ini dapat diputuskan bahwa peserta didik mencapai
taraf  kesiapan yang memadai atau tidak, ada kemajuan yang berarti atau
tidak, ada kesulitan atau tidak.

E. Pelaporan Hasil Evaluasi


Laporan kemajuan belajar peserta didik merupakan sarana komunikasi
antara sekolah, peserta didik dan orang tua dalam upaya mengembangkan dan
menjaga hubungan kerja sama yang harmonis, oleh karena itu ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan (1) konsisten dengan pelaksanaan nilai di sekolah;
(2) memuat perincian hasil belajar peserta didik beradasarkan kriteria yang
telah ditentukan dan dikaitkan dengan penilaian yang bermanfaat bagi
perkembangan peserta didik; (3) menjamin orang tua akan informasi
permasalahan peserta didik dalam belajar; (4) mengandung berbagai cara dan
strategi berkomunikasi; (5) memberikan informasi yang benar, jelas,
komprehensif dan akurat. Laporan kemajuan dapat dikategorikan menjadi dua
jenis (1) laporan prestasi mata pelajaran, yang berisi informasi tentang
pencapaian komptensi dasar yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Prestasi
peserta didik dilaporkan dalam bentuk angka yang menunjukkan penguasaan
komptensi dan tingkat penguasaannya; (2) laporan pencapaian, yang
menggambarkan kualitas pribadi peserta didik sebagai internalisasi dan
kristalisasi setelah peserta didik belajar melalui berbagai kegiatan, baik intra,
ekstra dan ko kurikuler.
F. Penggunaan Hasil Evaluasi
Salah satu pengguanan hasil evaluasi adalah laporan. Laporan yang
dimaksudkan untuk memberikan feedback kepada semua pihak yang terlibat
dalam pembelajaran, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara
umum terdapat lima penggunaan hasil evaluasi untuk keperluan berikut:
1. Laporan Pertanggungjawaban, dengan asumsi banyak pihak yang
berkepentingan terhadap hasil evaluasi, oleh karena itu laporan ke
berbagai pihak sebagai bentuk akuntabilitas publik
2. Seleksi, dengan asumsi setiap awal dan akhir tahun terdapat peserta didik
yang masuk sekolah dan menamatkan sekolah pada jenjang pendidikan
tertentu dimana hasil evaluasi dapat digunakan untuk menyeleksi baik
ketika masuk sekolah/jenjang atau jenis pendidikan tertentu, selama
mengikuti program pendidikan, pada saat mau menyelesaikan jenjang
pendidikan, maupun ketika masuk dunia kerja
3. Promosi, dengan asumsi prestasi yang diperoleh akan diberikan ijazah
atau sertifikat sebagai bukti fisik setelah dilakukan kegiatan evaluasi
dengan kriteria tertentu baik aspek ketercapaian komptensi dasar, perilaku
dan kinerja peserta didik.
4. Diagnosis, dengan asumsi hasil evaluasi menunjukkan ada peserta didik
yang kurang mampu menguasai kompetensi sesuai dengan kriteria yang
yang telah ditetapkan maka perlu dilakukan diagnosis untuk mencari
faktor-faktor penyebab bagi peserta didik yang kurang mampu dalam
menguasai komptensi tertentu sehingga diberikan bimbingan atau
pembelajaran remedial. Bagi yang telah menguasai kompetensi lebih
cepat dari peserta didik yang lain, mereka juga berhak mendapatkan
pelayanan tindak lanjut untuk mengoptimalkan laju perkembangan
mereka.
5. Memprediksi Masa Depan Peserta Didik, tujuannya adalah untuk
mengetahui sikap, bakat, minat dan aspek-aspek kepribadian lainnya dari
peserta didik, serta dalam hal apa peserta didik diangap paling menonjol
sesuai dengan indikator keunggulan, agar dapat dianalisis dan dijadikan
dasar untuk pengembangan peserta didik dalam memilih jenjang
pendidikan atau karier pada masa yang akan datang
BAB III
PENUTUP

.1 KESIMPULAN
.2 SARAN
DAFTAR PUSTAKA

________. 2015. Instrumen Evaluasi.


http://enamberita.blogspot.com/2015/11/instrumen-evaluasi.html . (24 Februari
2020).
________. 2016. Instrumen Evaluasi Pembelajaran.
http://comsani.blogspot.com/2016/07/instrumen-evaluasi-pembelajaran.html . (24
Februari 2020).
________. 2015. Pengertian Evaluasi Pembelajaran : Arti, Fungsi dan Prinsip.
https://jagad.id/pengertian-evaluasi-pembelajaran/. (24 Februari 2020).
Abdussakir. 2006. PENGEMBANGAN EVALUASI PEMBELAJARAN BERBASIS
KOMPETENSI. http://repository.uin-malang.ac.id/1750/6/1750.pdf. (24 Februari
2020).
Ayu, Sri wahyuni. 2012. Kedudukan Evaluasi dalam Proses Pendidikan.
http://sriwahyuniayu72.blogspot.com/ . (24 Februari 2020).
Hayati, Nur. 2017. Komponen Evaluasi Pembelajaran.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Materi%20Komponen%20Evaluasi.pdf. (24
Februari 2020).
Hendra. 2018. Syarat-Syarat Dan Jenis Alat Penilaian Hasil Evaluasi Belajar.
http://kumpulanskripdanmakalah.blogspot.com/2018/01/syarat-syarat-dan-jenis-alat-
penilaian.html. (24 Februari 2020).
Kurniawan, Azrin. 1999. Prosedur Pengembangan Evaluasi Pembelajaran.
https://www.academia.edu/29114569/Prosedur_Pengembangan_Evaluasi_Pembelajar
an.docx . (24 Februari 2020).
Rohyati, Elih. 2016. Tujuan Evaluasi Pembelajaran.
http://elihrohayati.blogspot.com/2016/03/tujuan-evaluasi-pembelajaran.html . (24
Februari 2020).