Anda di halaman 1dari 8

LOMBA ESSAI ONLINE NASIONAL: EGSA ESSAY COMPETITION

2019

FLOATING SOLAR PANELS UNTUK MENCEGAH

KEKERINGAN DI INDONESIA

Degradasi Air

Diusulkan oleh:

1. Yusril Miftah Rizki 15517006

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

BANDUNG

2019
FLOATING SOLAR PANELS UNTUK MENCEGAH

KEKERINGAN DI INDONESIA

Yusril Miftah Rizki

Institut Teknologi Bandung

ABSTRAK

Saat ini, Indonesia sedang mengalami permasalahan degradasi air berupa


kekeringan yang terjadi di beberapa wilayah termasuk waduk-waduk tempat
penampungan air. Kekeringan yang disebabkan oleh perubahan iklim membuat
suhu meningkat dan evaporasi terjadi lebih cepat. Kekeringan itu berpotensi
membuat Pulau Jawa mengalami krisis air pada 2040. Maka dari itu, diperlukan
sebuah solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu dengan pemasangan
floating solar panels. Floating solar panels dipercaya dapat mengurangi evaporasi
hingga 700 liter/m2 per tahun sehingga kekeringan di Indonesia dapat dicegah.

Kata kunci : kekeringan, waduk, floating solar panels

Dari sekian banyak kebutuhan makhluk hidup, air merupakan kebutuhan


yang paling penting bagi seluruh makhluk hidup termasuk manusia. Hal itu
dibuktikan dengan kandungan air dalam tubuh manusia sekitar 60-70%. Maka dari
itu, manusia perlu menjaga kandungan air dalam tubuhnya agar fungsi sistem organ
dalam tubuh dapat bekerja dengan baik. Menurut ahli gizi dari Universitas Gadjah
Mada, Perdana Samekto, menjelaskan bahwa manusia bisa bertahan tanpa makan
hingga 3 minggu, namun hanya bisa bertahan 4-7 hari tanpa minum. Tidak hanya
untuk konsumsi dalam tubuh saja, tetapi air juga banyak dimanfaatkan untuk
kebutuhan sehari-hari mulai dari kebutuhan dasar manusia, seperti mandi dan
mencuci hingga kegiatan pertanian, peternakan, dan industri dalam suatu negara.
Kebutuhan manusia akan air selalu meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan
laporan World Resources SimCenter, konsumsi air dunia pada tahun 2025
diproyeksikan mencapai sekitar 5100 kubik kilometer per tahun, naik 40% dari
konsumsi air global pada tahun 2015. Seperti dijelaskan sebelumnya, jumlah
permintaan terhadap air akan selalu meningkat seiring meningkatnya jumlah
populasi dunia. Padahal jumlah persediaan air dunia tidak bertambah melainkan

1
cenderung stagnan. Ditambah lagi perubahan iklim akibat global warming yang
menyebabkan penguapan sering terjadi. Hal tersebut menandakan bahwa negara-
negara sedang menghadapi permasalahan degradasi air. Degradasi air adalah
penurunan jumlah air yang tersedia yang menyebabkan tidak seimbangnya antara
persediaan dan permintaan air. Sejumlah pakar dari World Resources Institute
(WRI) menyatakan bahwa seperempat populasi dunia atau sekitar 1,7 miliar orang
di 17 negara kini hidup di wilayah dengan tekanan air global ekstrim (ketimpangan
yang sangat besar antara kebutuhan dengan ketersediaan air). Negara-negara
tersebut adalah Qatar, Israel, Lebanon, Iran, Yordania, Libya, Kuwait, Arab Saudi,
Eritrea, Uni Emirat Arab (UEA), San Marino, Bahrain, India, Pakistan,
Turkmenistan, Oman dan Botswana.

Gambar 1. Pemetaan Tekanan Air Global

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Indonesia merupakan salah satu negara


yang kaya dalam sumber daya air karena memiliki 6% jumlah air dunia berdasarkan
laporan Water Environment Partnership in Asia (WEPA). Indonesia menduduki
peringkat 45 terburuk dengan kategori tekanan air global sedang. Meskipun begitu,
Indonesia sedang mengalami permasalahan degradasi air yang berupa kekeringan
pada beberapa wilayah. Kekeringan ini disebabkan oleh perubahan iklim yang
membuat penguapan air terjadi lebih cepat. Perubahan iklim akan membuat
ketersediaan air di Indonesia menjadi semakin langka. Melalui kajian resmi

2
pemerintah, Pulau Jawa diprediksi kehilangan hampir seluruh sumber air bersih
pada tahun 2040. Para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
menyebutkan beberapa faktor penyebab krisis air bersih, yakni perubahan iklim,
pertambahan penduduk, dan alih fungsi lahan. Oleh sebab itu, beberapa upaya
dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi masalah tersebut. Upaya tersebut
antara lain adalah proyek bendungan nasional serta revitalisasi waduk dan danau
yang diharapkan mencegah krisi air. Meskipun begitu, para akademisi menilai
bahwa upaya tersebut belum cukup untuk mengatasi krisis air bersih yang akan
datang.

Menurut pemerintah, saat ini diprediksi terdapat setidaknya 48 juta jiwa


terancam kekeringan di 28 provinsi akibat kemarau panjang April-Oktober 2019
dan 55 kepala daerah menetapkan surat keputusan bupati dan wali kota tentang
siaga darurat bencana kekeringan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
(BMKG) menyatakan bahwa sebanyak 69,94 persen wilayah Indonesia mengalami
curah hujan kategori rendah (<100 mm/bulan) pada bulan Agustus 2019
berdasarkan hasil prakiraan curah hujan. Hal terjadi karena beberapa faktor, yaitu
fenomena El Nino, kuatnya angina Muson Australia, dan anomali peningkatan suhu
udara akibat perubahan iklim. Merujuk data kerersediaan air oleh Pusat Litbang
Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),
satu orang di Jawa saat ini bisa memperoleh air sebesar 1.169 m 3/tahun. Padahal
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono menyebutkan bahwa ketersediaan air ideal
untuk satu orang adalah 1.600 m3/tahun. Kabar buruknya, ketersediaan air untuk
setiap orang di Jawa diprediksi akan terus berkurang hingga mencapai 476 m 3/tahun
pada tahun 2040. Angka tersebut dikategorikan sebagai kelangkaan total.

Pada saat ini Indonesia mengalami kekeringan di berbagai wilayah akibat


musim kemarau yang panjang. Hal itu juga berdampak kepada tempat-tempat
penampungan air seperti waduk dan bendungan yang juga ikut mengering.
Beberapa waduk dan bendungan di Jawa seperti Waduk Tempuran (Blora), Waduk
Sangeh (Grobogan), Waduk Ngancar (Wonogiri), dan Waduk Botok (Sragen) pada
Juli 2019 lalu. Kekeringan juga melanda waduk-waduk terbesar di Indonesia,
seperti Waduk Gajah Mungkur (Wonogiri) dan Waduk Jatigede (Sumedang) pada
Agustus 2019 lalu. Menyusutnya air kedua waduk tersebut saat kekeringan

3
menyebabkan muncul kembalinya puing-puing bangunan yang biasanya terendam
air. Pada Gambar 2, terlihat bekas makam lawas di Waduk Gajah Mungkur yang
biasa terendam air saat musim hujan.

Gambar 2. Makam Lawas di Waduk Gajah Mungkur

Padahal waduk tersebut memiliki peranan yang sangat penting seperti


pemasok kebutuhan air sehari-hari, irigasi pertanian, dan sebagai pembangkit
Gambar air
listrik. Kekurangan 2. Makam
pada Lawas
tempatdi Waduk Gajah Mungkur
penampungan air dapat menyebabkan
terganggunya kegiatan masyarakat dan dapat memicu terjadinya konflik antar
masyarakat. Maka dari itu, diperlukan sebuah solusi untuk mengatasi permasalahan
diatas. Solusi tersebut adalah penggunaan floating solar panel untuk mencagah
kekeringan yang terjadi di Indonesia khususnya pada tempat penampungan air. Saat
dipasang di perairan, Floating solar panel dapat mengurangi penguapan air atau
evaporasi akibat paparan sinar matahari dan suhu bumi yang terus meningkat
sehingga kekeringan di Indonesia dapat dicegah.

Gambar 1. Floating Solar Panels 4


Floating solar panels adalah rangkaian panel surya fotovoltaik yang disusun
sedemikian hingga dapat mengapung di atas permukaan air. Panel-panel surya
dipasang pada sebuah struktur terapung dan biasanya diletakkan pada permukaan
air yang tenang, seperti danau atau waduk buatan. Floating solar panels memiliki
beberapa kelebihan dibandingkan dengan panel surya konvesional, seperti berikut:

1) Tidak menggunakan lahan di daratan


Kelebihan utama dari floating solar panels adalah tidak ada daratan
yang digunakan sebagai tempat instalasi sehingga tidak perlu
melakukan pengalihan fungsi hutan atau pemindahan vegetasi. Floating
solar panels cukup menggunakan area di atas perairan tenang seperti
waduk sehingga meningkatkan nilai guna waduk yang sebelumnya
permukaan airnya tidak dimanfaatkan.

2) Pengendalian lingkungan
Pemasangan floating solar panels dapat menghambat pertumbuhan
alga yang membahayakan bagi kehidupan ikan dan biota lainnya.
Pertumbuhan alga dihambat dengan mengurangi paparan sinar matahari
sehingga melindungi kehidupan mahkluk hidup dalam air.

3) Lebih efisien
Berdasarkan Solar Energy Research Institute of Singapore (SERIS),
floating solar panels memiliki efisiensi lebih tinggi 16% dibandingkan
panel surya konvesional karena efek pendinginan oleh air yang
membantu mengurangi kehilangan panas dan memperpanjang umur
pakai floating solar panels.

4) Penghematan air
Dengan memasang floating solar panels pada tempat beriklim
kering, floating solar panels dapat menghemat sekitar 90% kehilangan
air yang disebabkan oleh evaporasi pada tempat instalasi. Dengan begitu
pemasangan floating solar panels dapat mengurangi dedradasi air.

5
Seperti yang telah disebutkan, pemasangan floating solar panels akan
mengurangi evaporasi akibat perubahan iklim. Sebuah perusahaan asal Australia,
FloatPac Solar, mengatakan bahwa floating solar panels berpotensi mengurangi
jumlah evaporasi hingga 700 liter/m2 per tahun. Jika floating solar panels dipasang
di Waduk Gajah Mungkur yang memiliki luas genangan maksimum sebesar 8.800
hektar, maka floating solar panels itu dapat mengurangi jumlah evaporasi sebesar
61.600 juta liter air/tahun dengan asumsi seluruh permukaan air Waduk Gajah
Mungkur ditutupi floating solar panels. Sedangkan, jika floating solar panels
dipasang di Waduk Jatigede yang memiliki luas permukaan air sebesar 4.122 hektar
maka floating solar panels itu dapat mengurangi jumlah evaporasi sebesar 28.854
juta liter/tahun. Ditambah lagi energi listrik yang dihasilkan dapat menerangi ribuan
rumah di sekitar lokasi. Dengan demikian, pemasangan floating solar panels
terbukti berdampak positif untuk mengurangi jumlah evaporasi sehingga
kekeringan di waduk-waduk dapat dicegah.

Belakangan ini, pemerintah berusaha mewujudkan floating solar panels


pertama di Indonesia. Floating solar panels atau Pembangkit Tenaga Surya (PLTS)
Terapung tersebut memiliki kapasitas 200 MW dan akan di pasang di Waduk
Cirata, Jawa Barat. Pengembangan floating solar panels itu merupakan kerjasama
antara PT Pembangkit Jawa Bali (PJM) dan Perusahaan MASDAR yang berasal
dari Uni Emirat Arab. Biaya investasi yang dikeluarkan untuk pemasangan floating
solar panels tersebut diperkirakan sebesar US$180 juta atau sekitar Rp2,43 triliun.
Pengembangan floating solar panels itu akan menjadi proyek pionir di Indonesia
dalam bidang Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dan menjadi upaya nyata
pemerintahan untuk mencegah kekeringan di Indonesia.

Dapat disimpulkan, pemasangan floating solar panels memiliki beberapa


keunggulan dan berkontribusi untuk mengurangi jumlah evaporasi yang besar pada
tempat penampungan air seperti waduk sehingga kekeringan di Indonesia dapat
dicegah. Dengan begitu, pengembangan floating solar panels perlu digiatkan dan
didukung oleh seluruh lapisan baik pemerintah, swasta, dan masyarakat sehingga
upaya nyata untuk mencegah kekeringan di Indonesia dapat terwujudkan.

6
DAFTAR PUSTAKA

BBC News Indonesia. (2019). Negara mana saja yang terancam kekeringan air?. [online]
Available at: https://www.bbc.com/indonesia/dunia-49250405 [Accessed 25 Oct. 2019].

CNN Indonesia. (2019). Pemerintah: 48 Juta Jiwa Terancam Kekeringan Akibat Kemarau.
[online] Available at: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190730142715-20-
416768/pemerintah-48-juta-jiwa-terancam-kekeringan-akibat-kemarau [Accessed 25 Oct.
2019].

Bisnis.com. (2019). Indonesia Segera Miliki PLTS Terapung | Ekonomi - Bisnis.com.


[online] Available at: https://ekonomi.bisnis.com/read/20180119/44/728474/indonesia-
segera-miliki-plts-terapung [Accessed 25 Oct. 2019].

Evolving Science. (2019). Floating Solar Power Plants of Japan. [online] Available at:
https://www.evolving-science.com/environment-energy-water-and-waste-
management/floating-solar-power-plants-japan-00177 [Accessed 25 Oct. 2019].

Media, K. (2019). Waduk Gajah Mungkur Surut, Makam Hingga Jembatan Lawas Muncul
Kembali Halaman all - Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at:
https://travel.kompas.com/read/2019/09/10/080000827/waduk-gajah-mungkur-surut-
makam-hingga-jembatan-lawas-muncul-kembali?page=all [Accessed 26 Oct. 2019].

The ASEAN Post. (2019). The potential of floating solar power. [online] Available at:
https://theaseanpost.com/article/potential-floating-solar-power [Accessed 25 Oct. 2019].