Anda di halaman 1dari 8

Penggunaan Waxed Carton untuk Mengatasi Permasalahan

Sampah Plastik Serta Meningkatkan Potensi UMKM

Oleh : Yusril Miftah Rizki

Sampah plastik merupakan permasalahan lingkungan yang dihadapi oleh


masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Sampah plastik berubah menjadi
permasalahan linkungan dikarenakan sebagian besar sampah plastik tidak
digunakan dan dikelola dengan baik seperti masyarakat masih membuang sampah
plastik secara sembarangan, tidak mengurangi penggunaan plastik, serta tidak
memilah pembuangan sampah plastik. Pengolahan produk plastik secara tidak
ramah lingkungan menimbulkan berbagai masalah lingkungan seperti menurunnya
keindalahan alam serta dan tidak teruarainya sampah plastik secara cepat yang
mengakibatkan sampah plastik dapat menganggu ekosistem alam. Tidak hanya
permasalahan lingkungan, sampah plastik dapat menyebakan permasalahan
kesehatan seperti pembakaran sampah plastik yang dapat menyebabkan penyakit
mematikan seperti kanker. Dan permasalahan yang ditimbulkan oleh sampah
plastik merupakan permasalahan yang terikat satu sama lain yaitu lingkungan,
kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya.

Di Indonesia, penggunaan sampah plastik sudah tidak dapat dipisahkan dari


kehidupan sehari-hari. Masyarakat cenderung menggunakan sampah plastik ketika
berbelanja sebagai sebuah kemasan karena plastik dinilai praktis, murah, dan
mudah didapat. Penggunaan plastik meningkat dari tahun ke tahun seiring
bertambahanya penduduk. Penggunaan plastik yang meningkat diikuti dengan
jumlah sampah plastik yang meningkat pula. Berdasarkan data yang diperoleh dari
Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Satistik (BPS),
sampah di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton
merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Pembuangan sampah plastik ini
disebabkan oleh pengelohan sampah plastik yang buruk.Berdasarkan data oleh
Greenaration dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada
tahun 2015, sebagian besar sampah di Indonesia berakhir tertimbun di Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) dan sangat sedikit yang didaur ulang (hanya sekitar.
Padahal sampah plastik seperti botol plastik memerlukan waktu kurang lebih 450
tahun untuk terurai di laut dan wilayah TPA dari tahun ke tahun makin menyempit
sehingga penglohan sampah dengan menimbun ke TPA merupakan penanganan
sampah yang kurang tepat.

Penggunaan plastik dalam kehidpuan sehari-hari sudah sangat marak, tidak


terkecuali pada UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Pada UMKM sering
ditemui penggunaan plastik sebagai bungkus atau kemasan. Dewasa ini plastik
digunakan hampir di seluruh produk. Roti, keripik, dan juga jajanan daerah
menggunakan plastik sebagai kemasan. Tidak hanya itu, plastik juga sering
digunakan sebagai kantong untuk membawa barang belanja yang dibeli oleh
masyarakat dari UMKM. Sebagai contoh saat kita membeli jajanan lokal seperti
keripik, dan roti, penjual mengemas makanan tersebut menggunakan plastik.
Plastik sering digunakan oleh UMKM karena plastik dinilai murah dan praktis.

Sumber : blitarmall.com
Hal itu dibuktikan dengan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan bahwa plastik hasil dari 100 toko atau Anggota Pengusaha Ritel
Indonesia (APRINDO) dalam 1 tahun saja, telah mencapai 10,95 juta lembar
sampah kantong plastik pada tahun 2015. Jumlah itu setara dengan luasan 65,7
hektar kantong plastik. Namun sayangnya penggunaan plastik pada UMKM
memiliki beberapa dampak negatif seperti lingkungan dan kesehatan seperti
berikut:
1) Senyawa plastik bersifat berbahaya
Pada saat terpapar panas, plastik dapat menghasilkan senyawa
bernama dioxin atau polychlorinated dibenzodioxins yang sifatnya
sangat beracun dan karsinogenik. Arti dari karsinogenik adalah senyawa
dioxin ini dapat menyebabkan kerusakan sistem jaringan tubuh,
sehingga timbul mutasi gen yang dapat berakhir menjadi tumor atau
kanker ganas. Hal tersebut dibuktikan, pada pembakaran sampah plastik
dapat menghasilkan dioxin. Menurut Direktur Sekolah Ilmu Lingkungan
Universitas Indonesia, DR Emil Budianto, paparan dioxin apabila dihirp
dalam waktu singkat akan menimbulkan reaksi batuk, sesak napas, dan
using. Sedangkan paparan dioxin pada jangka panjang berpotensi
menimbulkan kanker pada tubuh. Plastik berjenis PS (Polystirena) dan
PVC (Poly-vynil-chlorida) megandung zat dioxin. Pada saat plastik
berjenis tersebut digunakan sebagai bungkus makanan bersuhu tinggi
seperti bakso dan berkadar asam tinggi seperti sari buah dan keripik, zat-
zat yang mengandung senyawa seperti dioxin dapat bermigrasi dari
plastik ke makanan dikarenakan lemahnya ikatan struktur plastik, yaitu
residu monomer plastik. Perpindahan zat berbahaya tesebut juga
dipengaruhi lamanya kontak makanan dengan plastik, makin lama
kontak maka residu juga makin banyak.

2) Plastik memerlukan waktu yang lama untuk terurai


Berdasarkan National Oceanic and Atmospheric Administration
(NOAA), sebuah badan ilmiah nasional dari Amerika Serikat,
menginformasikan bahwa sampah plastik memerlukan waktu yang lama
untuk terurai dalam perairan laut. Kantong plastik memerlukan waktu
selama 10-20 tahun untuk terurai, gelas styrofoam memerlukan waktu
kira-kira 50 tahun, sedangkan botol plastik memerlukan waktu yang
paling lama yaitu kurang lebih 450 tahun untuk terurai. Sebelum
teruraikan, sampah plastik berkumpul pada suatu tempat disebebkan
oleh angin musiman, mebentuk gyre. Sampah plastik itu berupa
potongan-potongan plastik yang sanagat kecil, yang tertahan dan
terakumulasi di bawah permukaan laut, Fenomena terakumulasinya
sampah plastik terebut sering dikenal sebagai sup plastik dimana
tersebut dapat mengancam ekosistem laut.

3) Jumlah sampah plastik semakin banyak


Jumlah sampah plastik di Indonesia semaking meingkat seiring
tahun berlalu. Dari tahun ke tahun, sampah plastik menjadi
permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia.
Bahkan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK),
mengatakan bahwa jumlah sampah plastik di Indonesia telah mencapai
tingkat yang mengkhawatirkan. Menurut Novrizal Tahar, Direktur
Pengelolaan Sampahm KLHK terjadi peningkatan jumlah sampah
plastik sebesar 5% dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2016. Menurut
data KLHK, pada tahun 2019 jumlah sampah di Indonesia mencapai 68
juta ton, dan sampah plastik diproyeksikan akan mencapai 9,52 juta ton
atau 14% dari total sampah yang ada. Peningkatan jumlah sampah
plastik ini selalu menjadi permasalahan dikarenakan peningkatan
jumlah sampah plastik tidak diikuti dengan pengelohan sampah yang
baik atau tidak ramah lingkungan. Berdasarkan data hasil studi oleh
beberapa lembaga seperti Greenaration, KLHK, APRINDO, dan
Science Learn, pada tahun 2015 terdapat 69% sampah ditimbun di TPA,
10% sampah dikubur di dalam tanah, 7% sampah dibentuk kompos dan
didaur ulang, 7% sampah tidak terkelola, dan 5% sampah dibakar.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa plastik sering digunakan sebagai


bungkus dan kemasan pada UMKM. Penggunaan plastik memiliki kelebihan-
kelebihan tersendiri seperti plastik memiliki nilai jual yang murah serta plastik
memiliki nilai praktis. Namun terdapat kelemahan-kelemahan dalam penggunaan
plastik seperti plastik tidak ramah lingkungan, plastik dapat menyebabkan berbagai
permasalahan kesehatan, dan plastik memiliki nilai estetika yang rendah sehingga
diperlukan sebuah solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Nilai estetika
yang dimaksud adalah nilai keindahan suatu produk yang dapat mempengaruhi
minat beli konsumen seperti citra merk dan desain kemasan. Meskipun nilai fungsi
suatu produk berperan terhadap minat beli konsumen, ternyata nilai estetika suatu
produk juga berperan penting, yaitu sebesar 36,9% terhadap minat beli konsumen.
Peningkatan nilai desain kemasan sebesar satu satuan dapat meningkatkan tingkat
minat beli sebesar 0,064 satuan atau 6,4%. Jadi, semakin naik nilai desain kemasan,
maka semakin naik pula minat beli konsumen.

Maka dari itu ditemukan sebuah solusi yang dapat mengatasi kelemahan-
kelemahan yang dimiliki plastik serta dapat meningkatkan potensi UMKM dengan
menggunakan alternatif kemasan lain yaitu kemasan karton berlilin atau waxed
carton. Kemasan waxed carton dipilih karena memiliki beberapa kelebihan sebagai
berikut:

1) Kemasan waxed carton memiliki nilai estetika yang tinggi


Kemasan kertas merupakan kemasan yang dapat didesain sesuai
keinginan dimana menghasilkan suatu nilai estetika tertentu. Sifat
material kertas yang kaku dan memiliki titik leleh yang rendah
menyebabkan hal tersebut terjadi.Sering dijumpai kemasan kertas
dengan bentuk beraneka ragam seperti bentuk balok, prisma, dan tabung
dan sebagainya. Desain kemasan kertas tersebut dapat menarik
perhatian konsumen serta meningkatkan minat beli konsumen. Desain
kemasan biasanya sangat mempengaruhi sebuah golongan dalam
masyarakat seperti golongan anak-anak muda. Golongan muda lebih
tertartik dengan packaging yang simple namun unik. Atas ketertarikan
tersebut, golongan anak-anak muda cenderung membeli produk dengan
desain kemasan yang unik. Pemanfaatan nilai estetika yang ditimbulkan
dari pemilihan desain kemasan yang menarik dapat berperan dalam
mengembangkan marketung sebuah UMKM.
Sumber : kebundesign.com

2) Kemasan waxed carton ramah lingkungan


Kemasan kertas karton bersifat ramah lingkungan karena memiliki
waktu penguraian yang relatif lebih singkat dibanding dengan waktu
penguraian kemasan plastik sehingga tidak menimbulkan dampak
negatif terhadap lingkungan. Berdasarkan National Oceanic and
Atmospheric Administration (NOAA), kemasan karton berlilin seperti
kemasan susu memerlukan waktu selama 3 bulan untuk terurai. Waktu
penguraian tersebut sangat lebih singkat dibandingkan waktu
penguraian kantong plastik (10-20 tahun), gelas styrofoam (50 tahun),
dan botol plastik (450 tahun).

3) Kemasan waxed carton dapat meningkatkan nilai jual

Sumber : media.neliti.com
Karena waxed carton memiliki nilai estetika yang lebih tinggi
sehingga dapat meningkatkan minat beli konsumen, waxed carton dapat
meningkatkan nilai jual sebuah produk. Seperti yang terjadi pada
UMKM kota Malang yaitu produsen marning jagung Sam Soleh yang
menyadari akan pentingnya nilai estetika suatu produk untuk
meningkatkan minat beli konsumen. Sam Soleh mulai merubah
kemasan plastik menjadi kemasan waxed carton. Perbedaan nilai
estetika terlihat sangat jelas dengan membandingkan gambar diatas.
Penggunaan waxed carton disertai dengan desain yang menarik dapat
meningkatkan nilai jual hingga 2 kali terhdap harga semula dan
memberikan keuntungan terhadap UMKM itu sendiri

Dengan demikian, penggunaan waxed carton dapat mengatasi


permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan oleh sampah plastik
seperti permasalahan lingkungan dan kesehatan selain itu penggunaan
waxed carton dapat meningkatkan nilai estetika yang meningkatkan
minat beli konsumen dan penggunaan waxed carton meningkatkan nilai
jual suatu produk. Maka penggunaan waxed carton merupakan salah
satu solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan
sampah plastik serta meningkatkan potensi UMKM.
DAFTAR PUSTAKA

Website

Firman, T. (2018). "Prestasi" Sampah Indonesia yang Mengkhawatirkan - Tirto.ID. [online]

tirto.id. Tersedia di: https://tirto.id/prestasi-sampah-indonesia-yang-

mengkhawatirkan-bUWl [Diakses 5 Nov. 2018].

Media, K. (2018). Indonesia Penyumbang Sampah Plastik Terbesar Kedua di Dunia -

Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Tersedia di:

https://megapolitan.kompas.com/read/2018/08/19/21151811/indonesia-

penyumbang-sampah-plastik-terbesar-kedua-di-dunia [Diakses 5 Nov. 2018].

Kkp.go.id. (2018). KKP | Kementerian Kelautan dan Perikanan. [online] Tersedia di:

https://kkp.go.id/djprl/lkkpnpekanbaru/infografis-detail/819-berapa-lamakah-

sampah-terurai [Diakses 6 Nov. 2018].

Jurnal

Purwaningrum, P. (2016). Upaya Mengurangi Timbulan Sampah Plastik dI Lingkungan.

JURNAL INDONESIA DARI TEKNOLOGI PERKOTAAN DAN LINGKUNGAN, 8 (2), hal.141.

Roshandi, S. (2013). Pengaruh Citra Merek dan Desain Kemasan Terhadap


Minat Beli Konsumen Pada Produk Susu Ultra.