Anda di halaman 1dari 30

MAKASSAR, 26 NOVEMNER 2016

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

LAPORAN COMMUNITY APPROACH


DIOKM SUDIANG RAYA MAKASSAR

Try Adi As’ad 11020140122


Mutawaffika Mahir 11020140124
Nanchita Dwitawira W. 11020140125
Achmad Raihan M. 11020140126
Ahmad Rivai 11020140127
Fadhillah 11020140128
Angga Nugraha H. 11020140129
Muhammad Yusuf 11020140130
Arni Pahlawani Amir 11020140132
Evi Sriwahyuni 11020140133
Sitti Muthmainnah 11020140134
A.Nadya Risalina I. 11020140135
A. Chaerunnisa 11020140136

PEMBIMBING: dr. Hasta Handayani Idrus

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2016
PENDAHULUAN
1. Morbus Hansen

Penyakit Kusta atau dikenal juga dengan nama Lepra dan Morbus Hansen
merupakan penyakit granulomatosa kronik yang disebabkan oleh infeksi
Mycobacterium leprae. M. leprae ditemukan oleh G.A. Hansen pada tahun 1874
di Norwegia, bakteri ini berukuran 3-8 µm x 0,2-0,5 µm, bersifat tahan asam,
berbentuk batang, tidak bergerak dan berspora, serta merupakan bakteri Gram
positif. M. leprae dapat menyerang saraf perifer, kulit, mukosa saluran napas
bagian atas, serta jaringan tubuh lainnya, kecuali sistem saraf pusat. Cara
penularannya belum diketahui dengan pasti, tetapi hanya berdasarkan anggapan
klasik, yaitu melalui kontak langsung antarkulit yang lama dan erat serta secara
inhalasi droplet. 1,2

Pada tahun 1991, World Health Assembly membuat resolusi tentang


eliminasi kusta sebagai problem kesehatan masyarakat pada tahun 2000 dengan
menurunkan prevalensi kustamenjadi di bawah 1 kasus per 10.000 penduduk. Di
Indonesia, hal ini dikenal dengan istilahEliminasi Kusta Tahun 2000 (EKT 2000).1

Jumlah kasus kusta di seluruh dunia selama 12 tahun terakhir ini telah
menurun tajam disebagian besar negara atau wilayah endemis. Namun, saat ini
Indonesia masih merupakansalah satu negara penyumbang penyakit kusta terbesar
di dunia. Pada tahun 2006, WHOmencatat penderita baru di Indonesia menduduki
peringkat ketiga terbanyak setelah India danBrazil, yaitu sebanyak 19.695 orang.
Sedangkan kasus kusta yang tercatat akhir tahun 2008adalah 22.359 orang dengan
kasus baru sebanyak 16.668 orang. Distribusi tidak merata, yangtertinggi ada di
Pulau Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Prevalensi pada tahun 2008 per10.000
1,3
penduduk adalah 0,73.

Kusta merupakan penyakit yang ditakuti oleh karena dapat terjadi ulserasi,
mutilasi, dan deformitas. Hal ini terjadi akibat kerusakan saraf besar yang
irreversibel di wajah danekstremitas, motorik dan sensorik, adanya
kerusakan yang berulang-ulang pada daerah anestetik, serta terjadinya
paralisis dan atrofi otot. Penderita kusta bukan hanya menderita karena
penyakitnya, tetapi juga karena dikucilkan oleh masyarakat sekitarnya.1

Diagnosis penyakit kusta didasarkan pada gambaran klinis,


bakterioskopis, histopatologis, dan serologis. Bentuk gejala klinis bergantung
pada sistem imunitas seluler penderita. Bila sistem imun seluler baik,
maka akan tampak gambaran klinis ke arah tuberkuloid. Sebaliknya,
apabila sistem imun seluler buruk, maka akan memberikan gambaran
lepromatosa.1

Pasien lepra adalah seseorang dengan lesi pada kulit berupa patch yang
terasa baal. Patch pada lepra umumnya diawali dengan bercak putih
(hipopigmentasi) atau eritema, datar atau meninggi, tidak gatal dan nyeri, serta
dapat muncul di mana saja di seluruh bagian tubuh. Pasien kemudian akan
mengalami gangguan sensibilitas terhadap rangsang raba, nyeri, maupun
suhu (panas dan dingin) pada lesi kulit yang dicurigai tersebut. Pemeriksaan saraf
tepi juga perlu dilakukan pada saraf yang berjalan di dekat permukaan kulit,
terutama nervus ulnaris dan peroneal communis. Pada pemeriksaan saraf harus
dibandingkan kiri dan kanan dalam hal ukuran, bentuk, tekstur dan
kekenyalannya.4

Diagnosis dini dan terapi yang tepat adalah kunci keberhasilan untuk
mengendalikan penyakit infeksi ini. Tujuan utama terapi adalah memutuskan mata
rantai penularan untuk menurunkan insidensi penyakit, mengobati dan
menyembuhkan penderita, mencegah timbulnya penyakit. Regimen pengobatan
yang dapat diberikan sebagai antikusta adalah multidrug therapy (MDT).4

2. Malaria

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa parasit yang
merupakan golongan plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel
darah merah manusia. Penyakit ini secara alami ditularkan melalui gigitan
nyamuk anopheles. Malaria merupakan salah satu penyakit yang tersebar di
beberapa wilayah di dunia. Umumnya tempat-tempat yang rawan malaria terdapat
pada Negara-negara berkembang dimana tidak memiliki tempat penampungan
atau pembuangan air yang cukup, sehingga menyebabkan air menggenang dan
dapat dijadikan sebagai tempat ideal nyamuk untuk bertelur.5

Berdasarkan The World Malaria Report 2010, sebanyak lebih dari 1 juta orang
termasuk anak-anak setiap tahun meninggal akibat malaria dimana 80%kematian
terjadi di Afrika, dan 15% di Asia (termasuk Eropa Timur). Secara keseluruhan
terdapat 3,2 Miliyar penderita malaria di dunia yang terdapat di 107 negara.
Malaria di dunia paling banyak terdapat di Afrika yaitu di sebelah selatan Sahara
dimana banyak anak-anak meninggal karena malaria dan malaria muncul kembali
di Asia Tengah, Eropa Timur dan Asia Tenggara. Di Indonesia, sebagai salah satu
negara yang masih beresiko Malaria (Risk-Malaria), pada tahun 2009terdapat
sekitar 2 juta kasus malaria klinis dan 350 ribu kasus di antaranya dikonfirmasi
positif. Sedangkan tahun 2010 menjadi 1,75 juta kasus dan 311 ribu di antaranya
dikonfirmasi positif. Sampai tahun 2010 masih terjadi KLB dan peningkatan
kasus malaria di 8 Propinsi, 13 kabupaten, 15 kecamatan, 30 desa dengan jumlah
penderita malaria positif sebesar 1256 penderita, 74 kematian. Jumlah ini
mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2009, dimana terjadi KLB di 7
propinsi, 7 kab, 7 kec dan 10 desa dengan jumlah penderita 1107 dengan 23
kematian.6

Malaria disebabkan oleh parasit dari genus plasmodium. Ada empat jenis
plasmodium yang dapat menyebabkan malaria, yaitu plasmodium falciparum
dengan masa inkubasi 7-14 hari, plasmodium vivax dengan masa inkubasi 8-14
hari, plasmodium oval dengan masa inkubasi 8-14 hari, dan plasmodium malaria
dengan masa inkubasi 7-30 hari. Parasit-parasit tersebut ditularkan pada manusia
melalui gigitan seekor nyamuk dari genus anopheles. Gejala yang ditimbulkan
antara lain adalah demam, anemia, panas dingin, dan keringat dingin. Untuk
mendiagnosa seseorang menderita malaria adalah dengan memeriksa ada tidaknya
plasmodium pada sampel darah. Namun yang seringkali ditemui dalam kasus
penyakit malaria adalah plasmodium falciparum dan plasmodium vivax. 5

Secara klinis, gejala dari penyakit malaria terdiri atas beberapa serangan demam
dengan interval tertentu yang diselingi oleh suatu periode dimana penderita bebas
sama sekali dari demam.Gejala klinis malaria antara lain badan terasa lemas dan
pucat karena kekurangan darah dan berkeringat, nafsu makan menurun, c. Mual-
mual kadang-kadang diikuti muntah, sakit kepala yang berat, terus menerus,
khususnya pada infeksi dengan plasmodium Falciparum, dalam keadaan menahun
(kronis) gejala diatas, disertai pembesaran limpa. Pada anak, makin muda usia
makin tidak jelas gejala klinisnya tetapi yang menonjol adalah mencret (diare) dan
pusat karena kekurangan darah (anemia) serta adanya riwayat kunjungan ke atau
berasal dari daerah malaria. Untuk menegakkan diagnosis malaria dapat dilakukan
beberapa pemeriksaan seperti pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan
mikroskopis darah, pulasan intedermal, Rapid Test. Sementara untuk terapi dapat
diberikan obat anti malaria.6

3. Faringitis

Faringitis adalah inflamasi pada mukosa faring akibat infeksi, alergi, atau
iritasi kronik yang banyak dijumpai di bagian THT-KL. Prevalensi faringitis
kronik di Provinsi Jawa Tengah berkisar 0,2% setara dengan Sumatra Barat dan
Jawa Timur. Umumnya faktor predisposisi faringitis kronik adalah rhinitis kronik,
sinusitis, iritasi kronik oleh rokok, minum alkohol, inhalasi uap yang merangsang
mukosa faring dan debu.7

Faringitis adalah inflamasi pada faring yang menyebabkan sakit tenggorok


(Medical ensiklopedi). Faringitis akut merupakan salah satu penyakit tersering
pada anak-anak yang berkunjung ke dokter umum. Di Amerika, per tahun lebih
dari 10 juta pasien yang terdiagnosa sebagai faringitis akut. Faringitis lebih sering
terjadi pada anak-anak. Insidensi puncak faringitis adlah pada usia sekolah antara
umur 4-7 tahun. Faringitis, terutama infeksi Group A β-Hemolyticus Steptococcus
(GABHS), jarang pada anak kurang dari 3 tahun.10
Radang ini bisa disebabkan oleh virus atau bakteri, disebabkan daya tahan
yang lemah. Faringitis biasanya disebabkan oleh bakteri streptococcus.
Pengobatan dengan antibiotika hanya efektif karena terkena bakteri. Kadangkala
makan-makanan yang sehat dengan buah-buahan yang banyak, disertai
dengan vitamin bisa menolong. Gejala radang tenggorokan seringkali merupakan
pratanda penyakit flu atau pilek.8

Terdapat dua jenis radang tenggorokan yaitu akut dan kronis, Faringitis akut,
radang tenggorok yang masih baru, dengan gejala nyeri tenggorok dan kadang
disertai demam dan batuk. Faringitis kronis, radang tenggorok yang sudah
berlangsung dalam waktu yang lama, biasanya tidak disertai nyeri menelan, cuma
terasa ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan.8

Usap tenggorokan perlu dilakukan jika ada dugaan diagnosis radang


tenggorokan akibat bakteri streptokokus berdasarkan temuan klinis dan
epidemiologis dan pasien belum mengkonsumsi antibiotik.9

Kultur hasil usap tenggorokan biasanya merupakan satu-satunya tes yang


dibutuhkan. Namun sensitivitas terhadap antibiotik juga perlu dilakukan pada
pasien yang alergi terhadap penisilin karena adanya bakteri streptokokus yang
resisten terhadap eritromisin. Baik pada infeksi virus maupun bakteri, gejalanya
sama yaitu nyeri tenggorokan dan nyeri menelan. Gejala dapat berupa  demam,
pembesaran kelenjar getah bening di leher, peningkatan jumlah sel darah putih.7

Gejala tersebut bisa ditemukan pada infeksi karena virus maupun bakteri,
tetapi lebih merupakan gejala khas untuk infeksi karena bakteri. Apabila
penyebabnya diduga infeksi firus, pasien cukup diberikan analgetik dan tablet isap
saja. Antibiotika diberikan untuk faringitis yang disebabkan oleh bakteri Gram
positif disamping analgetika dan kumur dengan air hangat. Penisilin dapat
diberikan untuk penyebab bakteri GABHS, karena penisilin lebih kemanjurannya
telah terbukti, spektrum sempit, aman dan murah harganya. Dapat diberikan
secara sistemik dengan dosis 250 mg, 2 atau 3 kali sehari untuk anak-anak, dan
250 mg 4 kali sehari atau 500 mg 2 kali sehari selama 10 hari. Apabila pasien
alergi dengan penisilin, dapat diganti dengan eritromisin.9

Berikut ini dilaporkan tiga kasus Morbus Hansen, satu Malaria dan satu
faringitis di Puskesmas Sudiang Raya Makassar pada tanggal 22 November 2016.

DESKRIPSI KASUS I

I. IDENTITAS
Nama : Ny. R
Umur : 34 tahun
Jenis Kelaminan : Perempuan
Status Perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Suku Bangsa : Palopo
Warga Negara : Indonesia
Pendidikan :-
Pekerjaan : IRT
Alamat : Jln. Pajjariang
Tanggal Pemeriksa : 19-4-2016

II. ANAMNESIS

 Keluhan Utama
Adanya lesi putih yang menebal yang awalnya muncul bersamaan
pada siku tangan kiri dan kanan sejak 12 bulan yang lalu.

 Riwayat perjalanan penyakit


Kemudian
lesinya
menyebar
pada wajah,
turun ke
leher dan
muncul pula
di kedua
tungkai kaki
depan.
Pasien
mengatakan
tidak merasakan nyeri maupun gatal pada lesi di tubuhnya. Pasien
juga mengeluh sering demam, flu,mata berair disertai penglihatan
menurun dan ada rasa nyeri kepala. Rasa nyeri seluruh kepala
hilang setelah mengonsumsi obat Paracetamolyang dibeli di
Apotik. Pasien tidak mengalami batuk, adanya nyeri tulang. Nyeri
tulang hilang ketika mengonsumsi jamu. Keluhan lain Ny. R
merasa menggigil, BAB tidak lancar ada riwayat Hemoroid namun
disangkal sedangkan BAK normal. Ny. R juga mempunyai bayi
dan mengeluh air ASInya kurang. Adanya kekakuan dan tremor
pada ibu jarinya.

Pasien sempat mencari pengobatan ke Puskesmas Sudiang dan


akhirnya dirujuk ke dokter spesialis kulit di RS Tajjuddin dan
melakukan pemeriksaan BTA dengan hasil positif.
Dan sampai saat ini masih mengonsumsi obat sejak 4 bulan yang
lalu yaitu obat Novartis.

 Riwayat gangguan/penyakit sebelumnya


Penderita belum pernah mengalami keluhan yang sama
sebelumnya. Riwayat penyakit sistemik disangkal oleh pasien.
 Riwayat gangguan/penyakit pada keluarga
Pasien mengaku tidak mengetahui apa di keluarganya ada yang
menderita hal yang sama dengan pasien.
 Riwayat kondisi lingkungan sosial
Pasien merupakan Ibu rumah tangga, pasien mengaku kurang tahu
apabila ada tetangga yang menderita hal yang sama.
 Kebiasaan sehari-hari
Sebagai Ibu rumah tangga

III. PEMERIKSAAN

 Status Generalisata
- Keadaan umum : baik
- Kesadaran : pasien dalam kondisi sadar
- Gizi
 BB : -
 TB : -
 IMT : -
- Tanda Vital
 Nadi : -
 Respirasi : -
 TD : -
(Tidak dilakukan pemeriksaan tanda vital dikarenakan
adanya keterbatasan pada pemeriksaan)
- Keadaan spesifik
 Kepala : keadaan kepala pasien baik, kondisi mata
dalam batas normal tidak ada tanda-tanda anemis
ataupun hiperemis pada konjugtiva, kondisi telinga
dalam batas normal hanya saja terdapat lesi pada wajah
dengan hipopigmentasi.
 Leher: Tampak lesi berukuran 3 cm bentuk bulat
dengan hipopigmentasi
 Thorax: keadaan thorak dalam batas normal, tidak
tampak adanya kelainan pada thorak, kondisi paru
simetris dan pasien juga menuturkan tidak pernah
mengalami sesak nafas. Namun pada punggung kami
tidak melakukan pemeriksaan karena adanya
keterbatasan pada pemeriksaan dan juga pada pasien.
 Abdomen: pada bagian abdomen tidak tampak
ditemukan kelainan berupa lesi ataupun untuk kodisi
abdomen dalam batas normal.
 Genitalia: kami tidak melakukan pemeriksaan
generalisata karena keterbatasan pada pemeriksaan dan
juga pada pasien.
 Ekstremitas: pada ektremitas atas yaitu bagian siku kiri
dan kanan terdapat lesi bersisik berwarna coklat
kehitaman dengan ukuran bervariasi dengan diameter 3-
5cm bentuk bulat berbatas tegas disertai eritema dan
tidak bernanah. Sedangkan pada bagian ektermitas
bawah kedua tungkai tanpa bersisik namun lesi tidak
terlalu banyak muncul.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG/USULAN PEMERIKSAAN


PENUNJANG

Kami tidak melakukan pemeriksaan penunjang ataupun untuk pasien dan


berdasarkan keterangan pada dokter puskesmas, pasien telah dirujuk untuk
melakukan pemeriksaan lengap dan biopsi di laboratorium histopatologi di RS
Tajjuddin.

V . RINGKASAN DAN DAFTAR MASALAH

Berdasarkan beberapa hasil pemeriksaan termasuk hasil pemeriksaann


laboratorium dan berdasarkan penjelasan dokter kami mendapatkan diagnosis
pasien yaitu Lepra atau Kusta atau Morbus Hansen yang merupakan penyakit
kulit. Daftar masalah yang kami temukan dari kasus ini :

1. Bagaimana kondisi asal pasien apakah penyakit ini berasal dari lokasi
yang memang endemik Lepra atau memang dari diri pasien yang kurang
menjaga diri?
2. Bagaimana dengan suami dan bayinya jika pasien tetap dalam kondisi satu
rumah dan tidak menutup kemungkinan akan tetap melakukan hubungan
suami istri, apakah suami akan tertular atau bagaimana? Sedangkan bayi
dari Ny. R masih diberikan ASI, apakah bayi yang mengonsumsi ASI dari
ibu yang Lepra dapat tertular atau bagaimana?
3. Bagaiamana keadaan orang tua pasien yang sebenarnya? Apakah ada salah
satu keluarga yang pernah terkena penyakit Lepra ini?

VI. DIAGNOSIS

Pasien terdiagnosis dengan diagnosis kerja yaitu Morbus Hansen (MH)


tipe Multi Bassiler (MB) berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang yang
merupakan pemeriksaan Gold standart.
VII. PENATALAKSANAAN

Pasien telah diberikan obat yaitu MDT Combi Norvatis yang diminum
secara oral 1 kali 1 hari.

VIII. PROGNOSIS

Berdasarkan hasil diskusi dengan dokter puskesmas, prognosis pasien


adalah dubia ad malam, yaitu cenderung memburuk karena penyakit kusta ini
merupakan penyakit kulit yang cukup sulit dalam penyembuhan meskipun telah
dilakukan pengobatan, apalagi tipekusta yang multibasiler.

DESKRIPSI KASUS II

I. IDENTITAS

Nama : Mr.S
Umur : 27 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Alamat : Perumnas

Pekerjaan : Karyawan Swasta

II. ANAMNESIS
a. Keluhan Utama
Bercak warna merah di wajah dan tidak gatal.

b. Riwayat perjalanan penyakit


Keluhan dirasakan pertama kali pada pada wajah semenjak 5 bulan
yang lalu. Pada awalnya, kemerahan di wajah tidak disertai gatal dan
nyeri. Pasien juga mengeluh mati rasa di lengan bawah, lengan atas,
paha, dan kaki.tidak ada demam, batuk (-), BAB & BAK lancar.
Pasien mengaku telah mengolesi dengan madu. Pasien sudah
mendapatkan pengobatan sebelumnya.
c. Riwayat

gangguan/penyakit sebelumnya
Penderita belum pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya.
Riwayat peyakit sistemik disangkal oleh pasien.
d. Riwayat Alergi
Alergi makanan (+)
e. Riwayat kondisi lingkungan sosial
Tidak ada penyakit yang serupa
f. Riwayat kebiasaan
Merokok (-)
g. Riwayat pengobatan
Pernah berobat ke puskemas

III. PEMERIKSAAN FISIS


a. Status generalisata
- keadaan umum : baik
- Kesadaran : Compos Mentis GCS 15 ( E4M6V5 )
- Gizi
BB : -
TB : -
IMT : -
- Tanda vital
Nadi : -
Respirasi : -
TD : -
( Tidak dilakukan pemeriksaan tanda vital dikarenakan
adanya keterbatasan pada pemeriksaan )
- Keadaan Spesifik
Kepala : keadaan kepala pasien baik, kondisi mata
dalam batas normal tidak ada tanda-tanda anemis
ataupun hiperemis pada konjunctiva, kondisi telinga
dalam batas normal hanya saja terdapat lesi pada
wajah berwarna merah kehitaman.
Leher : Tidak dilakukan pemeriksaan
Thoraks : Tidak dilakukan pemeriksaan
Abdomen : Tidak dilakukan pemeriksaan
Eksterimtas : Mati rasa pada bagian lengan atas, paha,
dan kaki.
b. Status dermatologis
- lokasi : Regio fascial
- efloresensi : makula hipoanastesi pada wajah,berbatas
tegas, skuama (-), erosi (-)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG/USULAN PEMERIKSAAN


PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang untuk pasien. Dari keterangan
dokter puskesmas, pasien telah dirujuk untuk melakukan pemeriksaan
lengkap dan biopsi di lab di balai kesehatan kulit kelamin, dan
kosmetika

V. DIAGNOSIS
Pasien terdiagnosis dengan Diagnosis kerja yaitu Morbus Hanses
(MH) tipe Multi Basiler ( MB ) berdasarkan hasil pemeriksaan
penunjang yang merupakan pemeriksaan gold standar.

VI. PENATALAKSANAAN
Pasien telah diberikan obat yaitu 1. bulanan : Rifampicin 600 mg,
DDS 300 mg, Lampren 100 mg, 2. Harian : DDS 50 mg, Lampren 100
mg.

VII. PROGNOSIS
Prognosis pasien Dubia et Bonam.
DESKRIPSI KASUS III

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Pak R
Umur : 68 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku/Bangsa : Makassar
Agama : Islam
Status : Menikah
Pekerjaan : Penjual ikan
Bahasa yang digunakan : Indonesia
Alamat : Perumnas Jln

II. ANAMNEIS
Jenis Anamnesis : Autoanamnesis
Keluhan Utama : Bercak merah berukuran plakat disertai mati rasa
pada tangan kanan dan pinggang kanan sejak
setahun yang lalu.
Perjalanan Penyakit : plakat eritem muncul tiba-tiba pada ekremitas atas
kanan dan pinggang kanan, langsung disertai mati
rasa pada lesi tersebut.

Keluhan Penyerta : Nyeri pada tungkai kanan sejak 2 bulan yang lalu
setelah diberikan terapi sistemik untuk keluhan
utama.
Batuk sejak 2 bulan yang lalu
Nafsu makan berkurang
Lingkungan : Tidak pernah kontak langsung dengan penderita
Riwayat keluarga : Tidak ada riwayat keluarga maupun orang
terdekat
Riwayat penyakit : Post operasi katarak

III. KEADAAN UMUM


Keadaan Umum : sakit sedang
Tanda vital hari pertama:
a. Tensi : mmHg
b. Nadi : kali/ menit
c. Pernapasan : kali/ menit
d. Suhu :℃
Tanda vital hari kedua:
e. Tensi : mmHg
f. Nadi : kali/ menit
g. Pernapasan : kali/ menit
h. Suhu :℃

IV. PEMERIKSAAN FISIS


a. Kepala : ukuran normochepali, rambut warna hitam, mata normal tidak
anemis, hidung tampak saddle nose, sekret tidak ada, ukuran telinga
dalam batas normal, otore tidak ada, bibir normal, lidah normal, sekret
normal, pembesaran kelenjar getah bening tidak ada
b. Thorax : I = simetris kanan dan kiri mengikuti gerak napas
P = nyeri tekan (-), massa (-), krepitasi (-)
P = terdengar bunyi sonor, batas paru dan jantung normal
A = bronkovesikular
c. Jantung : I = lectus cordis tidak nampak
P = lectus cordis tidak teraba
P = BJ atas dextra : ICS 2 parastrenalis dextra, BJ atas
sinistra : ICS 3 midclavicula sinistra, BJ bawah dextra
: ICS 5 parasternalis dextra, BJ bawah sinistra : ICS 6
midclavicula sinistra
A = Bunyi jantung 1 dan 2 murni regular, bising (-)
d. Abdomen : I = datar, ikut gerak napas
A = peristaltic kesan meningkat
P = nyeri tekan (-)
P = tympani (+), ascites (-)
e. Ekstremitas : edema (-), deformitas (-)

V. RESUME

Seorang laki-laki berusia 68 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan


plakat eritem pada tangan dan piggang sebelah kanan, dirasakan sejak 1 tahun
yang lalu, disertai hipoanastesi dan anastesi pada area lesi. Bercak tidak
disertai gatal dan tidak nyeri. Keluhan lain kurang napsu makan disertai batuk
sejak mendapat terapi sistemik untuk keluhan utamanya. Pasien tampak
mengalami saddle nose dan kulit hiperpigmentasi.

VI. DIAGNOSIS

Pasien terdiagnosis dengan Diagnosis kerja yaitu Morbus Hanses


(MH) tipe Multi Basiler ( MB ) berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang
yang merupakan pemeriksaan gold standar

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG:

Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang untuk pasien. Dari


keterangan dokter puskesmas, pasien telah dirujuk untuk melakukan
pemeriksaan lengkap dan biopsi di lab di balai kesehatan kulit kelamin, dan
kosmetika

VIII. PENATALAKSANAAN:

Pasien telah diberikan obat yaitu 1. bulanan : Rifampicin 600 mg,


DDS 300 mg, Lampren 100 mg, 2. Harian : DDS 50 mg, Lampren 100 mg.

IX. PROGNOSIS:
Prognosis untuk vitam umumnya bonam, namun dubia ad malam pada fungsi
ekstremitas karena dpt terjadi mutilasi, demikian jg untuk kejadian
berulangnya..

DEKSRIPSI KASUS IV

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn.S
Umur : 32 tahun
JenisKelamin : Laki-laki
Suku/Bangsa : Makassar
Agama : Islam
Status : Menikah
Pekerjaan : Wiraswasta
Bahasa yang digunakan : Indonesia
Alamat : jl.sudiang

II. ANAMNESIS
JenisAnamnesis :autoanamnesis
KeluhanUtama : Demam tinggi terutama malam hari
KeluhanPenyerta :Mual
Keringat dingin pada malam hari
Nyeriuluhati
Sakitkepala
Malasmakan
Menggigilmalamhari
Nyeribadan
Bab belum 2 hari
Urtika
Lingkungan :bawa mobil lama kemamuju sejak bulan 8
Riwayatpenyakit :keluhan yang sama tahun 2014

III. KEADAAN UMUM


KeadaanUmum : sakit sedang
Tanda vital haripertama:
i. Tensi : 90/60 mmHg
j. Nadi : 68 kali/ menit
k. Pernapasan : 18 kali/ menit
l. Suhu : 38℃

IV. PEMERIKSAAN FISIS


Ukuran normochepali, rambut warna hitam, mudah dicabut,
mataanemis, hidung normal, sekret tidak ada, ukuran telinga dalam batas
normal, otoretidakada, bibirkering,lidahkotor,sekret normal, tonsil
tidakmembesar, faring normal dansekretada,
pembesarankelenjargetahbeningtidakada.
V. Resume
Seorangpasienlaki-laki 32 tahun,
wiraswastadatangkepuskesmasdengankeluhandemampadamalamhari yang
dialami ± 4 hari yang lalu, disertaimenggigildiseluruhtubuh,
dankeringatdinginpadamalamhari. Keluhandisertaisakitkepala, pusing,
nyeritulang, kembung, sesak, dansulitbuang air besar.Pasienkerja di mamujusejak
8 bulan yang lalu.Riwayatmengkonsumsiobatparacetamoldan amoxicillin.
Riwayatberobat di awalbrosstahun 2014 dengankeluhan yang sama.
Tidakadariwayatkeluarga.

VI. DIAGNOSIS
Suspect DemamTifoid

VII. DIFFERENTIAL DIAGNOSIS


 DemamBerdarah Dengue
 Malaria

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


a. Dilakukantesdarahrutindenganhasil :
- Trombosit = 169.000/ mm3 (Normal)
- Leukosit = 14.600/mm3 (meningkat)

b. TesWidal :
S. typhi = negatif
S. paratyphi A = negatif
S.paratyphi B = nagatif
S. paratyphi C = 1/ 80

IX. PENATALAKSANAAN
Istirahat yang cukup
Perbanyakminum
Makanlunak

R/ Paracetamol 3x1
Ranitidin 2x1
Amoxicilin 3x1
metocloparamid 3x1
DESKRIPSI KASUS V

A. Status Pasien
Identitas Pasien

- Nama : Tn. Sd
- Jenis Kelamin : Laki-laki
- Umur : 25 tahun
- Agama : Islam
- Pekerjaan : Cleaning Service di RS. Tadjuddin Khalik Makassar
- Alamat : Jl. Bone Raya
- No. Registrasi :-
- Tgl. Periksa : Selasa,15 November 2016 / Pukul: 09.00 WITA
- Dokter Jaga : dr. X
B. Data Subjektif
- Keluhan Utama : Demam
- Anamnesis Terpimpin
Demam dialami sejak 4 hari yang lalu sebelum ke puskesmas. Demam
dialami terus menerus selama 4 hari. Tidak ada peningkatan ataupun
penurunan suhu diwaktu-waktu tertentu. Demam disertai pusing dan sakit
kepala sejak 4 hari yang lalu, membaik saat istirahat dan memburuk saat
bekerja. Disertai flu dan batuk berdahak selama 4 hari seiring dengan
demam, dahak kental dan berwarna kuning. Demam kadang-kadang
disertai dengan rasa menggigil.
Keluhan lain berupa nyeri menelan sejak 3 hari yang lalu, ada mual dan
muntah setelah makan. Muntah berisi sisa makanan, berwarna kuning.
Sesak tidak ada, nyeri dada tidak ada. Tidak ada nyeri perut, tidak ada
nyeri ulu hati. BAK lancar kesan normal, BAB lancar kesan normal.
- Riwayat Penyakit Sebelumnya
 Pernah menderita penyakit yang sama 1 bulan sebelumnya, namun
sembuh dengan obat penurun panas dan obat flu yang dibeli sendiri
(tanpa resep dokter).
 Pernah menderita kejang saat kecil dan sering berulang sampai
sekarang. Kejang muncul disaat pasien kelelahan. Durasi dalam
sekali kejang kurang lebih selama 5 menit. Membaik sendiri tanpa
pengobatan.

C. Data Objektif
a. Status Generalis : Sakit Ringan/Gizi Kurang/Compos Mentis
- Berat Badan : 44 kg
- TB : 160 cm
b. Status vitalis :
- Tekanan darah : 80/60 mmHg
- Nadi : 80kali/menit, teraba di A. Radialis dextra, kuat
angkat, reguler
- Pernapasan : 20 kali/menit, tipe thoracal
- Suhu : 37,50C, axilla dextra
c. Kepala :
- Ukuran : Normochepal
- Rambut : Hitam, ikal, sukar dicabut
- Mata : Anemis (-/-), Ikterus (-/-)
- Telinga : Sekret (-), darah (-)
- Hidung : Sekret (-), darah (-)
- Mulut : Bibir sianosis (-), bibir pucat (+)
d. Leher :
- Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak terdapat massa tumor,
tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, tidak ada deviasi trakea.
e. Thorax :
- Inspeksi
Bentuk : Simetris kiri dan kanan (normochest)
Pembuluh darah : Normal, tidak ada kelainan
Sela Iga : Normal, tidak melebar
- Palpasi
Fremitus raba : Sama pada paru kiri dan kanan
Nyeri tekan : Tidak ada
Massa tumor : Tidak ada
Krepitasi : Tidak ada
- Perkusi
Paru kiri : Sonor
Paru kanan : Sonor
Batas paru-hepar : ICS V dekstra
Batas paru belakang kanan : CV Th. VIII dekstra
Batas paru belakang kiri : CV Th. IX sinistra
- Auskultasi
Bunyi pernapasan : Vesikuler
Bunyi tambahan : Rh -/- ,Wh -/-

Rhonki Wheezing

- - - -
- - - -
- -
f. Jantung:
- Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
- Palpasi : Ictus cordis tidak teraba, thrill (-)
- Perkusi : Pekak relatif
Batas atas jantung ICS II sinistra
Batas kanan jantung ICS IV linea
parasternalis dextra
Batas kiri jantung ICS V linea aksilaris
anterior sinistra
- Auskultasi : Bunyi jantung I/II murni regular, tidak
ada bising
g. Abdomen:
- Inspeksi : Datar, ikut gerak napas. Pembuluh
darah : tidak ada kelainan
- Auskultasi : Peristaltik (+) kesan normal.
- Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada nyeri
ketok, tidak ada massa tumor, hepar dan
lien tidak teraba.
- Perkusi : Bunyi timpani, tidak ada asites.
h. Ekstremitas:

Edema (Pitting edema) Deformitas

- - - -
- - - -

i. Diagnosis
ISPA + Faringitis
j. Diagnosis Banding
- Demam berdarah
- Status epileptikus
- Tonsilitis
k. Pemeriksaan Anjuran/Pemeriksaan Penunjang
- Darah rutin
- Rumpeleed Test
- Widal
- CT Scan kepala
l. Penatalaksaan/Terapi
- Paracetamol 3x1
- Metoclopramide 3x1
- Amoxicillin 3x1
m. Prognosis
 Qua ad vitam : bonam
 Qua ad sanationen : bonam
 Qua ad fungtionem : bonam
n. Edukasi :
 Istirahat yang cukup
 Minum obat teratur
 Banyak minum air putih
 Memperbaiki pola hidup sehat
D. Resume

Laki-laki berusia 25 tahun datang ke Puskesmas Sudiang Raya dengan


keluhan demam sejak 4 hari yang lalu. Demam bersifat terus menerus, disertai
pusing, sakit kepala, flu, batuk berdahak kental dan berwarna kuning, kadang
– kadang disertai menggigil. Keluhan lain berupa nyeri menelan, mual (+) ,
muntah (+). Muntah berisi sisa makanan, berwarna kuning. BAK lancar kesan
normal, BAB lancar kesan normal.
Dari hasil pemeriksaan ditemukan leukosit rendah (3.400/mm 3), trombosit
normal (166.400/mm3), Tes widal (-), Rumpeleed test (-).

DAFTAR PUSTAKA.

1. Djuanda, S. Hamzah, M. Aisah, S. editor. Ilmu Penyakit Kulit dan


Kelamin. EdisiKeenam, Cetakan Kedua. Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia :Jakarta. 2011.
2. Siregar, R.S. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi Kedua,
Cetakan Pertama.EGC : Jakarta. 2005.
3. Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2006. Departemen
Kesehatan RepublikIndonesia : Jakarta. 2008. WHO. Guide to Eliminate
Leprosy as A Public Health Problem. First Edition.
4. WorldHealth Organization : USA. 2000. Accessed on February 20, 2013.
Available :http://www.who.int/lep/resources/Guide_Int_E.pdf
5. Dinkes Cilacap, 2011. Survei Entomologi Malaria dan Annual Parasite
Incidence (API) 2011. Dinas Kesehatan, Cilacap
6. Departemen Kesehatan RI. 2003a. Pedoman Tatalaksana Kasus Malaria.
Direktorat Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang, Direktorat
Jenderal PPM&PLP, Jakarta
7. Aamir, S. 2011. Pharyngitis and Sore Throat: A Review. African Journal
of Biotechnology Vol. 10 (33), ppp. 6190-6197. Available From:
http://www.academicjournals.org/AJB. [Accessed: 20 September 2014].
8. Acerra, J.R. 2010. Pharyngitis. Departement of Emergency Medicine.
North Shore. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/764304-overview. [Accessed: 20
September 2014]
9. Darmansjah, I. 2008. Penggunaan Antibiotik pada Pasien Anak. Majalah
Kedokteran Indonesia. 58(10). pp. 368:369.
10. Jill, G. 2013. Acute Pharyngitis. In: Journal of the American Academy of
Physician Assistants: February 2013-Volume 26-Issue 2- p 57-58.
Available From:http://journals.lww.com/jaapa/Fulltext/2013/02000
/Acute_Pharyngitis.12.aspx. [Accessed: 20 September 2014]