Anda di halaman 1dari 46

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA TN.

K DENGAN GANGGUAN
ALAM PERASAAN : KECEMASAN

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Praktek Profesi Ners


Stase Keperawatan Jiwa

Disusun Oleh:
1. ERIKSON (193203073)
2. FIANI TANTRI SAHEMA (193203109)
3. OKTA ANGGRAINI NUGROHO (193203085)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS ANGKATAN XIII


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
YOGYAKARTA
2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang    
Proses keperawatan adalah metoda ilmiah yang digunakan dalam memberikan
asuhan keperawatan klien pada semua tatanan pelayanan kesehatan. Kecemasan atau
anxiety adalah suatu sinyal yang menyadarkan, ia memperingatkan adanya bahaya yang mengancam
dan memungkinkan seseorang melakukan tindakan untuk mengatasi ancaman.
Kecemasan akan membuat seseorang tidak merasa nyaman, karena dapat mengganggu
aktivitas individu itu sendiri. Adapun jenis dapat teratasi dengan sendirinya, contohnya cemas ringan,
sedang cemas yang berkepanjangan yang bahkan tidak jelas lagi kaitannya dengan suatu faktor
penyebab atau pencetus tertentu dapat menjadi pertanda gangguan kejiwaan yang dapat
menyebabkan hambatan dalam berbagai segi dan kemampuan fungsi sosial penderitanya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu kecemasan/kecemasan ?
2. Apa saja etiologi kecemasan/kecemasan ?
3. Apa saja manifestasi kecemasan/kecemasan ?
4. Bagaimana rentang respon kecemasan/kecemasan ?
5. Apa saja tingkat kecemasan/kecemasan ?
6. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien kecemasan/kecemasan ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum :
1) Pengertian kecemasan/kecemasan
2) Etiologi kecemasan/kecemasan
3) Manifestasi kecemasan/kecemasan
4) Rentang respon kecemasan/kecemasan
5) Tingkat kecemasan/kecemasan
6)  Asuhan keperawatan pada klien kecemasan/kecemasan

2. Tujuan khusus :
Untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan jiwa dan mendapatkan nilai
yang maksimal dan memuaskan untuk matakuliah keperawatan jiwa ini.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI
Cemas adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan
atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam
menilai kenyataan, kepribadian masih tetap utuh atau tidak mengalami keretakan
kepribaadian normal (Hawari, 2012). Cemas merupakan gejolak emosi seseorang yang
berhubungan dengan sesuatu diluar dirinya dan mekanisme diri yang digunakan dalam
mengatasi permasalahan (Asmadi, 2013).Kecemasan atau ansietas merupakan reaksi
emosional terhadap penilaian individu yang subyektif dipengaruhi oleh alam bawah
sadar dan tidak diketahui secara khusus penyebabnya.Ansietas merupakan istilah yang
sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari yang menggambarkan keadaan khawatir,
gelisah yang tak menentu, tidak tenteram, kadang disertai berbagai keluhan
fisik.Ansietas sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya.Keadaan
emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik.Kondisi dialami secara subyektif dan
dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal.Ansietas berbeda dengan rasa takut,
yang merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu terhadap sesuatu yang
berbahaya.Kapasitas untuk menjadi cemas diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi
tingkat ansietas yang parah tidak sejalan dengan kehidupan.

B. RENTANG RESPON
Adaptif maladaptif

antisipasi ringan sedang berat panik

Respon Adaptif adalah suatu keadaan dimana terjadi stresor dan bila individu
mampu untuk menghambat dan mengatur hal tersebut, maka akan menghasilkan hal yang
positif.

Hal positif tersebut antara lain :


 Dapat memecahkan masalah dan konflik
 Adanya dorongan untuk bermotivasi.
 Terjadinya peningkatan prestasi.
Respon Maladaptif adalah suatu keadaan dimana tidak terjadi pertahanan perilaku
individu secara otomatis terhadap ancaman kecemasan. Apabila terjadi ancaman
terhadap individu, kemudian individu tersebut menggunakan respon adaptif, maka ia
dapat beradaptasi terhadap ancaman tersebut dengan demikian maka kecemasan tidak
terjadi. Tetapi apabila menggunakan respon maladaptif, maka yang akan terjadi adalah
individu akan menggalami kecemasan secara bertahap, mulai dari sedang, ke tingkat
berat dan akhirnya menjadi panik.
Beberapa teori membagi ansietas kedalam emapt tingkat sesuai dengan rentang respon
ansietas yaitu :
1. Ansietas ringan
Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan akan kehidupan sehari-hari. Pada
tingkat ini lapang persepsi meningkat dan individu akan berhati-hati dan waspada.
Pada tingkat ini individu terdorong untuk belajar dan akan menghasilkan
pertumbuhan dan ktreativitas.
2. Ansietas sedang
Pada tingkat ini lapang persepsi terhadap lingkungan menurun. Individu lebih
memfokuskan pada hal yang penting saat itu dan mengesampingkan hal lain.
3. Ansietas berat
Pada ansietas berat, lapang persepsi menjadi sangat menurun. Individu cenderumng
memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. Individu tidak
mampu berfikir berat lagi dan membutuhkan banyak pengarahan.

4. Ansietas panik
Pada tingkat ini individu sudah tidak dapat mengontrol diri lagi dan tidak dapat
melakukan apa-apa lagi walaupun sudah diberi pengarahan.
C. FAKTOR PREDISPOSISI
1) Teori Psikoanalitik.
Dalam pandangan Psikoanalitik adalah konflik emosional yang terjadi antara dua
elemen kepribadian id dan superego.Id mewakili dorongan insting dan impuls
primitif seseorang, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan
dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang.Ego atau Aku, berfungsi
menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan, dan ansietas adalah
mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
2) Teori Interpersonal.
Menurut pandangan interpersonal ansietas timbul dari perasaan takut terhadap tidak
adanya penerimaan dan penolakan interpersonal.Ansietas juga berhubungan dengan
perkembangan trauma, sperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan
kelemahan spesifik.Orang dengan harga diri rendah terutama mudah mengalami
perkembangan ansietas yang berat.
3) Teori Perilaku.
Menurut pandangan perilaku ansietas merupakan produk frustasi yaitu segala
sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang
diinginkan. Pakar perilaku lain menganggap ansietas sebagai suatu dorongan untuk
belajar berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari kepedihan, Pakar
tentang pembelajaran meyakini bahwa individu yang terbiasa dalam kehidupan
dirinya dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan lebih sering menunjukkan
ansietas pada kehidupan selanjutnya.
4) Kajian Keluarga
Kajian Keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas merupakan hal yang biasa
ditemui dalam suatu keluarga.Ada tumpang tindih dalam gangguan ansietas dan
antara gangguan ansietas dengan depresi.
5) Kajian Biologis
Kajian Biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk
benzodiazepines.Reseptor ini mungkin membantu mengatur ansietas.Penghambat
asam aminobutirik-gamma neroregulator (GABA) juga mungkin memainkan peran
uatama dalam mekanisme biologis berhubungan ansietas, sebagaimana halnya
dengan endofrin.Selain itu, telah dibuktikan bahwa kesehatan umum seseorang
mempunyai akibat nyata sebagai predisposisi terhadap ansietas.Ansietas mungkin
disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang
untuk mengatasi stresor.

D. FAKTOR PRESIPITASI
1) Ancaman integritas fisik: ketidakmampuan fisiologis dan menurunnya kemampuan
melaksanakan ADL.
2) Ancaman terhadapd sistem “diri”; mengancam identitas, harga diri, integrasi sosial.
Mis: phk, kesulitan peran baru
3) Gabungan: penyebab timbulnya ansietas gabungan dr genetik, perkembangan,
stresor fisik, stresor psikososial.
h
d
fistc
e
p
rg
-
-

-
-
-
-
u
k
n
a
b
o
E. POHON MASALAH

F. MANIFESTASI/TANDA DAN GEJALA


1) Subyektif
-
-
Klien mengatakan susah tidur
Klien mengatakan resah
Klien mengatakan banyak fikiran
Klien mengatakan bingung
2) Obyektif
Penurunan produktifitas
Gelisah
Kontak mata kurang
Gemetar/tamhan tremor
G. AKIBAT YANG DITIMBULKAN
Akibat yang ditimbulkan cemas adalah munculnya tenda-tanda dan gejala seperti
yang telah dijelaskan di atas dan akibat terbesar yang dapat ditimbulkan adalah harga diri
rendah diarahkan pada diri sendiri.
H. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Menurut PPDGJ III (2001), ansietas diklasifikasikan sebagai gangguan ansietas fobik
seperti agorafobia, fobia sosial dan fobia khas; gangguan ansietas lainnya seperti
gangguan panik, gangguan ansietas menyeluruh (GAD), gangguan campuran
ansietas dengan depresi serta gangguan obsesif kompulsif.
2. Terapi obat untuk gangguan ansietas diklasifikasikan menjadi antiansietas yang terdiri
dari ansiolitik, transquilizer minor, sedatif, hipnotik dan antikonfulsan (Stuart,
2013). Mekanisme kerja dari obat ini adalah mendepresi susunan saraf pusat (SSP).
3. Meskipun mekanisme kerja yang tepat tidak diketahui, obat ini diduga menimbulkan
efek yang diinginkan melalui interaksi dengan serotonin,dopamin dan reseptor
neurotransmiter lain (Halloway, 2013).
4. Efek samping yang umum dari penggunaan obat antiansietas yakni pada SSP,
kardiovaskuler, mata dan THT, gastro intestinal, kulit.
5. Kontraindikasinya yaitu penyakit hati, klien lansia, penyakit ginjal, glaukoma,
kehamilan atau menyusui, psikosis, penyakit pernafasan yang telah ada serta reaksi
hipersensitivitas (Copel, 2011).

I. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Seorang perawat harus berjaga-jaga terhadap adanya penigkatan agitasi
pada klien, hirarki perilaku agresif dan kekerasan. Di samping itu perawat
harus mengkaji efek lain yang berhubungan dengan perilaku agresif.
Pengkajian keperawatan kesehatan jiwa:
a) Identitas klien
b) Keluhan utama/ alasan masuk
c) Faktor predisposisi
d) Aspek fisik/ biologis
e) Aspek psikososial
f) Status mental
g) Kebutuhan persiapan pulang
h) Mekanisme koping
i) Masalah psikososial dan lingkungan
j) Pengetahuan
k) Aspek medik
b. Bina hubungan saling percaya dan terbuka: dengarkan keluhan, dukung
untuk menceritakan perasaan, jawab pertanyaan secara langsung, menerima
tanpa pamrih, hargai pribadi klien.
c. Sadari dan kontrol perasaan diri perawat: bersikap terbuka sesuai perasaan,
terima perasaan positif maupun negatif termasuk perkembangan ansietas,
menggali penyebab ansietas, pahami perasaan diri secara terapeutik.
d. Yakinkan klien ttg manfaat mekanisme koping yg bersifat melindungi dan
tdk memfokuskan diri pd perilaku maladaptif: terima dan dukung klien; tdk
menentang klien; nyatakan perawat bisa memahami rasa sakit tetapi tdk
memfokuskan pada rasa tersebut; beri umpan balik thd perilaku, stresor,
dampak stresor dan sumber koping; dukung ide keh fisik berhub dg
kesehatan mental; batasi perilaku maladaptif dg cara suportif.
e. Identifikasi dan mencoba menurunkan situasi yg menimbulkan ansietas:
sikap tenang; lingkungan tenang; batasi kontak dg klien lain. identifikasi
dan modifikasi hal yg menimbulkan cemas
f. Anjurkan melakukan aktivitas di luar yg menarik; share aktivitas yg sering
dilakukan; latihan fisik; buat rencana harian; libatkan keluarga dan support
system.
g. Tingkatkan kesehatan fisik: beri obat-obatan yg meningkatkan rasa
nyaman; observasi efek samping obat dan beri pendidikan kesehatan
yangsesuai.
J. DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL
1. Ansietas b.d perubahan status kesehatan, terkait penyakit
2. Harga diri rendah situasional b.d gangguan citra tubuh
3. Ketidakefektifan koping b.d ketidakadekuatan untuk menghadapi stressor
K. RENCANA INTERVENSI KEPERAWATAN

DIAGNOSA NOC NIC


Ansietas b.d perubahan Anxiety self control Anxiety reduction
status kesehatan, terkait  Klien mampu 1. Observasi kecemasan
penyakit mengontrol cemas klien
 Klien mengatakan 2. Identifikasi waktu
cemas berkurang perubahan kecemasan
 Klien mampu 3. Anjurkan klien untuk
melakukan strategi melakukan relaksasi
koping yang efektif (nafas dalam, distraksi,
dll)
4. Berikan rasa aman dan
nyaman pada klien
5. Dengarkan dan
damping klien ketika
mengungkapkan
kecemasannya
6. Anjurkan keluarga
untuk mendampingi
klien

Harga diri rendah Self esteem Self esteem enhancement


situasional b.d gangguan  Klien mengatakan 1. Identifikasi ungkapan
citra tubuh penerimaan diri pasien terhadap dirinya
 Klien menerima 2. Gali pengalaman yang
kekurangan diri dapat meningkatkan
 Klien mampu menjaga harga diri pasien
kesetabilan kontak 3. Ajarkan klien untuk
mata mempertahankan
 Klien mampu kontak mata ketika
berkomunikasi berkomunikasi dengan
orang lain
4. Infokan pasien untuk
menerima keadaan diri
5. Berikan aktivitas untuk
meningkatkan harga
diri klien
Ketidakefektifan koping Coping Coping enhancement
b.d ketidakadekuatan  Klien mampu 1. Observasi keadaan
untuk menghadapi stressor melakukan koping klien
efektif 2. Anjurkan klien untuk
 Klien mengungkapkan mengidentifikasi
penurunan stress perubahan perasaan
 Klien mengungkapkan 3. Berikan rasa aman dan
penerimaan terhadap nyaman pada klien
situasi 4. Bantu klien untuk
tertarik terhadap
sesuatu yang positif
5. Berikann pengetahuan
spiritual untuk
menenangkan klien
6. Evaluasi kemampuan
klien yang bisa di
tingkatkan
PRAKTIK PROFESI NERS STASE KEPERAWATAN JIWA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS FAKULTAS KESEHATAN

UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA

FORM PENGKAJIAN KLIEN PSIKOSOSIAL

Nama Mahasiswa : Erikson, Fiani, Okta

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA KLIEN TN.K DENGAN

GANGGUAN ALAM PERASAAN : KECEMASAN

A. IDENTITAS KLIEN
1. Nama : Tn.K
2. Umur : 55 tahun
3. Jenis kelamin : Laki-laki
4. Status : Menikah
5. Agama : Hindu
6. Alamat : Trucuk Klaten
7. Pendidikan : SD
8. Pekerjaan : Petani
9. Tanggal masuk : 7 Oktober 2019
10. No. RM : 197xxx
11. Diagnosis medis : CKD std IV + Dispepsia
12. penanggung jawab : Istri
13. Tanggal pengkajian : 8 Oktober 2019

B. KELUHAN UTAMA
Klien datang dengan keluhan nyeri pada perut

C. PENAMPILAN UMUM & PERILAKU MOTOR


1. Fisik
a. BB : 59 kg
b. TB : 168 cm
c. TTV: TD 120/80 mmHg, N : 80x/menit, S : 36,40C, P : 22x/menit
d. Riwayat Pengobatan Fisik
Klien mengatakan sebelumnya selalu kontrol ke rumah sakit untuk cuci darah
setiap hari rabu dan kamis terkait dengan penyakit gagal ginjal yang dialami
e. Hasil pemeriksaan laboratorium/ visum/ dll
Tidak dilampirkan

Masalah Keperawatan : Tidak ada

2. Tingkat Ansietas
Lingkari tingkat ansietas dan check list perilaku yang ditampilkan
 Ringan  Sedang  Berat  Panik

PERILAKU PERILAKU

 Tenang  Menarik diri

 Ramah  Bingung

 Pasif  Disorientasi

 Merasa membenarkan lingkungan  Ketakutan

 Kooperatif  Hiperventilasi

 Gangguan perhatian  Halusinasi/delusi

 Gelisah  Depersonalisasi

 Sulit Konsentrasi  Obsesi

 Waspada berlebihan  Kompulsi

 Tremor  Keluhan somatik

 Bicara cepat  Hiperaktivitas

 Lainnya : Berkeringat

D. KELUARGA
1. Genogram (minimal 3 generasi ke atas)

Keterangan :

Klien adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Klien berumur 55 tahun. Klien
sudah menikah dan memiliki 3 orang anak. Klien tinggal serumah dengan istrinya
(namun dalam bagan tidak dijelaskan). Hubungan klien dengan keluarganya terjalin
dengan erat dan sangat baik. Orang yang terdekat dengan klien adalah istrinya

Masalah Keperawatan : Tidak ada

2. Tipe Keluarga
 Nuclear family  Diad family
 Extended family  Single parent family

Tipe keluarga Nuclear family keluarga inti atau keluarga dasar adalah istilah yang
digunakan untuk mendefinisikan sebuah keluarga kelompok terdiri dari sepasang
orang dewasa dan anak-anak mereka.

3. Pengambilan keputusan
 KK  Istri
 Orang tua  Bersama-sama

4. Hubungan klien dengan kepala keluarga


 KK  Istri
 Orang tua  Anak
 Lainnya/ sebutkan

5. Kebiasaan yang dilakukan bersama keluarga


Biasanya klien menghabiskan waktu luangnya dengan bertani, menonton TV dan
berbincang-bincang dengan anak dan istrinya.

6. Kegiatan yang dilakukan dalam masyarakat


Klien suka mengikuti kegiatan gotong-royang di daerah rumahnya.

Masalah Keperawatan : Tidak ada


E. RIWAYAT SOSIAL
1. Pola Sosial
 Teman/ Orang terdekat :

Klien memiliki orang yang berarti dalam kehidupannya yaitu istrinya. Klien berkata


jika ada masalah, klien akan menceritakan kepada istri dan anaknya pasti akan
membantu memecahkan masalah yang dialami klien

 Peran serta dalam kelompok


Klien suka mengikuti kegiatan gotong-royang di daerah rumahnya.

 Hambatan dalam hubungan dengan orang lain


Klien merasa tidak ada masalah atau hambatan dalam berhubungan dengan keluarga
dan orang lain.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
2. Obat-Obatan yang dikonsumsi
 Obat herbal/ Obat diluar resep:

Klien dan mengatakan saat ini tidak mengkonsumsi obat herbal atau obat diluar resep
karena sekarang klien sedang mengkonsumsi obat yang diberikan dari rumah sakit

 Obat yang dikonsumsi saat ini:

Baxima 2×1, Letonal 2×1, Ranitidine 3×1, Hepamax 3×1, Neurosanbe 1×1, Tonar
2×1, Zibac 2×1, Opilac 3×1, Sanmag 3×1

 NAPZA (Narkotika, Psikotropika, Zat Adiktif Lainnya (Ex. Alkohol):

Klien mengatakan tidak sedang menkonsumsi obat-obatan NAPZA

Masalah Keperawatan : Tidak ada

F. STATUS MENTAL & EMOSI

1. Cacat Tubuh
Klien senang dengan keadaa ntubuhnya dari rambut sampai ujung kaki. Klien juga
mengatakan tidak mempunyai bagian tubuh yang cacat dan tidak disukai.

2. Kontak mata
Selama proses wawancara, klien mau menjawab pertanyaan perawat. Kontak mata
klien bagus dan klien menatap wajah perawat saat wawancara dan mau menjawab
pertanyaan perawat dengan panjang lebar.

3. Pakaian
Klien  berpenampilan rapi, pakaian yang digunakan sesuai dengan tempatnya. Rambut
klien tersisir rapi.
4. Perawatan diri
Klien mandi secara mandiri, mandi 2x sehari. Klien mandi menggunakan sabun,
shampoo, dan juga menyikat gigi. Klien dapat mengganti pakaian secara mandiri
tanpa bantuan orang lain. Klien menggunakan dapat baju dengan benar.
5. Tingkah laku
Tingkah Laku Jelaskan

Resah Klien tidak tampak resah saat diajak berbicara, Namun


saat membicarakan penyakitnya klien tampak sedikit
cemas

Agitasi Klien mengatakan tidak ada perasan jengkel, kesal


atau gelisah atas penyakit yang dialaminya hanya
tampak sedikit cemas

Letargi Klien menyadari bahwa dia sedang berada di


rumahnya, klien juga sadar dan mengenal dengan siapa
dia berbicara dan lingkungannya. Tingkat kesadaran
klien terhadap waktu, orang dan tempat jelas. Tidak
adanya penurunan kesadaran dan pemusatan perhatian
serta kesiagaan

Sikap Klien mengetahui penyakit yang dideritanya dan


menyikapinya dengan sikap positif

Ekspresi wajah Klien tidak menunjukkan ekspresi yang berlebihan


saat sedih maupun gembira.

Aphasia Selama wawancara, pembicaraan klien singkat dan


tidak berbelit-belit, tidak diulang berkali-kali, dan ada
hubungannya antara satu kalimat dengan kalimat
lainnya dalam satu topik. Tidak ada kehilangan
kemampuan berbahasa

Perseverasi Klien mengatakan tidak mengalami gangguan isi pikir

Rumination Klien mengatakan tidak mengalami gangguan isi pikir


ataupun kekhawatiran yang berlebihan

Tangensial Selama wawancara, pembicaraan klien singkat dan


tidak berbelit-belit

Banyak bicara Klien berbicara dengan jelas dan menjawab pertanyaan


yang diberikan dengan tepat

Bicara lambat Klien berbicara dengan jelas dan menjawab pertanyaan


yang diberikan dengan tepat

Sukar berbicara Klien berbicara dengan jelas dan menjawab pertanyaan


yang diberikan dengan tepat

Lainnya Tidak ada

6. Pola komunikasi
Pola Komunikasi √ Pola Komunikasi √

Jelas √ Aphasia

Koheren √ Perseverasi

Bicara kotor Rumination

Inkoheren Tangensial

Neologisme Banyak bicara/ dominan

Asosiasi longgar Bicara lambat

Flight of ideas Sukar berbicara


Masalah Keperawatan : Tidak ada

7. Mood dan Afek


Mood dan Afek √ Mood dan Afek √

Senang √ Curiga

Sedih Lesu

Patah hati Marah

Putus asa Bermusuhan

Gembira √ Lainnya : Saat membicarakan √


penyakitnya klien tampak
sedikit cemas

Euphoria

Euphoria

Masalah Keperawatan: Gangguan alam perasaan : Kecemasan


________________________________________________________________

8. Proses pikir
 Jelas

 Logis

 Mudah diikuti

 Relevan

 Bingung

 Bloking

 Delusi

 Arus cepat

 Asosiasi lambat

 Curiga

 Memori jangka panjang : Utuh

Jelaskan: Klien dapat mengingat peristiwa yang terjadi pada dirinya baik di
masa lalu maupun   ini. Klien juga ingat ketika ditanyakan apakah tadi klien sudah
makan atau belum. Klien tidak pernah mengalami gangguan daya ingat baik
jangka panjang maupun jangka pendek.
 Memori jangka pendek : Utuh

Jelaskan : Klien dapat mengingat peristiwa yang terjadi pada dirinya baik di
masa lalu maupun   ini. Klien juga ingat ketika ditanyakan apakah tadi klien sudah
makan atau belum. Klien tidak pernah mengalami gangguan daya ingat baik
jangka panjang maupun jangka pendek.

Masalah Keperawatan : Tidak ada

9. Persepsi
 Halusinasi

 Ilusi

 Depersonalisasi

 Derealisasi

Jelaskan:

Klien mengatakan tidak pernah mengalami halusinasi, ilusi, depersonalisasi dan


derealisasi

Masalah Keperawatan : Tidak ada

10. Kognitif
a. Orientasi realita
1. Waktu
Klien juga menyadari waktu siang, malam dan sore hari serta mengetahui
tanggal bulan dan tahun

2. Tempat
Klien menyadari bahwa dia sedang berada di rumahnya

3. Orang
Klien juga sadar dan mengenal dengan siapa dia berbicara dan lingkungannya

b. Memori
 Gangguan daya ingat jangka panjang

 Gangguan daya ingat jangka pendek

 Gangguan daya ingat saat ini

 Paramnesia

 Hipernesia
 Amnesia

Jelaskan:

Klien dapat mengingat peristiwa yang terjadi pada dirinya baik di masa lalu maupun  
ini. Klien juga ingat ketika ditanyakan apakah tadi klien sudah makan atau belum.
Klien tidak pernah mengalami gangguan daya ingat baik jangka panjang maupun
jangka pendek

Masalah Keperawatan : Tidak ada

c. Tingkat konsentrasi dan berhitung


 Mudah beralih

 Tidak mampu berkonsentrasi

 Tidak mampu berhitung sederhana

Jelaskan:
Selama wawancara, konsentrasi klien baik dan focus terhadap apa yang ditanyakan.
Klien bersekolah hanya sampai tingkat SD, klien mampu untuk menjawab hitungan
sederhana.
Masalah Keperawatan : Tidak ada

G. IDE BUNUH DIRI


Ide merusak diri sendiri/ orang lain
 Ya

 Tidak

Jelaskan:

Klien senang dengan keadaan tubuhnya dari rambut sampai ujung kaki. Klien juga
mengatakan tidak mempunyai bagian tubuh yang tidak disukai. Klien merasa tidak
ada masalah dalam berhubungan dengankeluarga dan orang lain

Masalah Keperawatan : Tidak ada

H. KULTURAL & SPIRITUAL


1. Agama yang dianut
a. Kebutuhan klien terhadap spiritual dan pelaksanaan

Klien beragama Hindu dan yakin dengan adanya Tuhan Yang Maha
Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Klien rajin sembahyang setiap hari dan selalu
mengikuti upacara keagamaan dirumah. Klien tidak mempunyai keyakinan yang
berlebih terhadap agama yang dianutnya.
b. Gangguan dalam menjalankan kegiatan spiritualnya setelah
mengalami kekerasan dan penganiayaan
Klien mengatakan tidakm ada gangguan dalam menjalankan kegiatan
spiritualnya

c. Pengaruh spiritual terhadap koping


Klien mengatakan tidak ada pengaruh atau hubungan antara spiritual dan
koping dari klien maupun keluarganya.

2. Budaya yang diikuti


Pengaruh budaya terhadap masalah yang dihadapi klien
Klien mengatakan tidak ada pengaruh atau hubungan antara budaya dan masalah
yang dihadapi klien

3. Tingkat perkembangan saat ini


Baik

I. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


a. Masalah dengan dukungan kelompok : Tidak ada
Klien memiliki orang yang berarti dalam kehidupannya yaitu istrinya. Klien berkata
jika ada masalah, klien akan menceritakan kepada istri dan anaknya pasti akan
membantu memecahkan masalah yang dialami klien
b. Masalah dengan lingkungan : Tidak ada
Klien merasa tidak ada masalah dalam berhubungan dengankeluarga dan orang lain.
Klien suka mengikuti kegiatan gotong-royang di daerah rumahnya.
c. Masalah dengan pendidikan : Tidak ada
Klien bersekolah hanya sampai tingkat SD, klien mampu untuk menjawab hitungan
sederhana
d. Masalah dengan pekerjaan : Tidak ada
Klien bekerja sebagai petani di sawahnya yang terletak di belakang rumahnya.
e. Masalah dengan perumahan : Tidak ada
f. Masalah dengan ekonomi : Tidak ada
g. Masalah dengan pelayanan kesehatan : Tidak ada
Selama perawatan klien mendapat pengobatan secara teratur, obat diberikan oleh
perawat dan harus di tunggu untuk memastikan obatnya diminum oleh klien
h. Masalah lainnya : Tidak ada
Masalah Keperawatan : Tidak ada

Terapi Medis :

Tangga Nama Obat Dosis Indikasi Side Effect


l
Baxima 2x1 Digunakan untuk Kejang, kelelahan
mengobati infeksi bakteri tidak biasa,
yang ada didalam tubuh kehilangan nafsu
makan

08 Ranitidine 3x1 Digunakan untuk Mual muntah, sakit


Oktobe mengobati dan mencegah kepala
r 2019 berbagai penyakit perut
dan kerongkongan yang
disebabkan oleh terlalu
banyak asam lambung

Neurosanbe 1x1 Digunakan untuk Adanya reaksi


memenuhi kebutuhan hipersensitivitas
vitamin B1, B6 dan
vitamin B12

Zibac 2x1 Digunakan untuk Mual muntah, nyeri


(Ceftazidime mengobati infeksi bakteri perut, gangguan rasa
) di mulut

Sanmag 3x1 Digunakan untuk Mual muntah


mengurangi gejal-gejala
berhubungan dengan
kelebihan asam
lambung,gastritis, tukak
lambung

Letonal 2x1 Digunakan untuk Nyeri otot atau lemah,


menurunkan tekanan merasa lelah, gelisah
darah tinggi dapat dan pusing, detak
mencegah stroke dan jantung tidak
masalah pada ginjal beraturan

Hepamax 3x1 Digunakan untuk Belum ada efek


meningkatkan regenerasi samping yang
sel hati dan melindungi dilaporkan. Hanya
sel hati dari kerusakan tidak boleh
akibat dari radikal bebas , dikonsumsi oleh ibu
konsumsi obat jangka hamil dan menyusui
panjang, alkohol dan
peradangan

Tonar 2x1 Digunakan untuk Kemungkinan


insufisiensi ginjal kronik hiperkalsemia
dengan retensi
kompensata dan
dekompensata

Opilac 3x1 Membantu mengatasi Mual muntah, diare


konstipasi kronik dan
ensefalopati hepatik

Pemeriksaan Darah dan Cultur

Tanggal Jenis Hasil Nilai normal Satuan Interpretasi


pemeriksaan

08/10/1 HEMATOLOGI
9
Leukosit * 17,00 4,000-10,000 /uL Meningkat
05.20
WIB Eritrosit * 3.1 3.7-5.8 10˄6uL Menurun

Hemoglobin * 8.5 13.1-17.5 g/dL Menurun

Hematokrit * 28.0 31-45 % Menurun

Trombosit 330,000 154,000-442,000 uL Normal

MCV 89.0 80-100 fL Normal

MCH 27.3 22-34 pg Normal

MCHC * 30.6 32-36 g/dL Menurun

HITUNG JENIS

GRA% * 73.0 50-7- % Meningkat

LYM% * 18.0 25-40 % Menurun

MID% 5.0 2-8 % Normal

KIMIA KLINIK

Fungsi Ginjal

Ureum * 112 13-43 mg/dl Menigkat

Creatinine * 9.3 0.8-1.3 mg/dl Meningkat

Kalium 4.57 3.6-5.5 mmol/L Normal

Natrium * 134.04 136-144 meq/l Menurun

Klorida 97.15 95-105 mmol/L Normal


Fungsi Hati

SGOT * 42 < 38 U/L Meningkat

SGPT * 86 < 40 U/L Meningkat

ANALISA DATA

No DATA MASALAH

1. DS :

-        Klien mengatakan merasa cemas dengan


keadaannya
Kecemasan
DO :
-       Wajah klien tampak takut

-       Klien tampak gelisah

2. DS :

-       Klien mengatakan takut akan kondisinya


saat ini
Ketakutan
DO :

-       Klien tampak gelisah dan berkeringat

-       Wajah klien tampak ketakutan

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.    Kecemasan

2.    Ketakutan
RENCANA TINDAKAN

No Tanggal Diagnosa NOC NIC


1 Selasa 3 Ansietas Setelah dilakukan tindakan Pengurangan kecemasan 5820
Novembe berhubungan keperawatan selama 3x24 jam 1. Gunakan pendekatan yang tenang dan
diharapkan Ansietas teratasidengan meyakinkan
r 2015 dengan
kriteria hasil: 2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
perubahan status perilaku klien
Kontrol kecemasan diri 1402 3. Berikan informasi faktual
kesehatan,
terkait penyakit 1. Mengurangi penyebab kecemasan 4. Puji/kuatkan perilaku yang baik secara
2. Mencari informasi untuk benar
mengurangi kecemasan
3. Merencanakan strategi koping
untuk situasi yang menimbulkan
stres
4. Menggunakan teknik relaksasi
untuk mengurangi kecemasan
Ketakutan Setelah dilakukan tindakan Konseling (5240)
berhubungan keperawatan selama 3x24 jam 1. Bina hubungan terapeutik yang didasarkan
diharapkan Ansietas teratasidengan pada rasa saling percaya dan saling
dengan respon
kriteria hasil: menghormati
yang dipelajari 2. Sediakan informasi faktual yang tepat dan
2 Tingkat rasa takut (1210):
terhadap sesuai kebutuhan
1. Tidak ada kekhawatiran berlebihan
ancaman tentang peristiwa kehidupan
2. Menyatakan perasaan ketakutan
terkontrol

Tindakan Keperawatan

No Tanggal Waktu Intervensi Implementasi (DAR) Evaluasi (SOAP) Paraf


1. Selasa 16.00 WIB  Bina hubungan saling DS : S: Fiani
3 November percaya  keluarga dan klien
 Klien mengatakan merasa
2015  Bantu klien mengatakan sedikit
cemas dengan kondisinya saat
mengidentifikasi dan tenang sudah
ini (penyakitnya).
menguraikan dijelaskan dan
 Klien mengatakan tubuhnya
perasaannya diajarkan cara
bagian kiri mati rasa.
 Bantu klien memahami mengatasi penyakit
 Keluarga mengatakan
perspektif pasien yang dirasakan
sebelumnya klien sudah 4
terhadap situasi stress klien (mati rasa).
kali menjalani terapi, tapi
dan kondisi yang  klien mengatakan
tidak ada perubahan yang
dialaminya sekarang akan
signifikan. Dan sekarang
tidak akan sembuh mempraktekkan
kondisi klien seperti ini.
dalam waktu singkat. cara yang sudah
diajarkan perawat.
 Dengarkan dengan
O:
penuh perhatian DO :
 Ajarkan teknik relaksasi  klien dan keluarga
 Klien dan keluarga tampak
nafas dalam untuk masih tampak
cemas
kontrol mengurangi sedikit cemas
 Klien tampak gelisah
kecemasan yang
 Klien dan keluarga bertanya-
dirasakan tanya tentang kondisi klien A:
saat ini.
Masalah belum teratasi
A:
P:
 membina hubungan saling
percaya Intervensi dilanjutkan
 membantu klien
mengidentifikasi menguraikan
perasaannya
 membantu klien memahami
perspektif pasien terhadap
situasi stress yang dialaminya.

 mendengarkan dengan penuh


perhatian
 mengajarkan teknik relaksasi
nafas dalam untuk kontrol
rasa percaya diri dan
mengurangi kecemasan yang
dirasakan klien.

R:
 klien tampak sudah percaya
dan mau cerita tentang
kecemasan yang dirasakan
klien
 klien mau mengungkapkan
perasaannya
 klien mau mempraktekkan
Tarik nafas dalam untuk
mengurangi kecemasan yang
dirasakan

2. Selasa 16.00 WIB  Jelaskan pada klien DS : S:


3 November tentang penyakitnya dan  Klien dan
 Klien mengatakan terkadang
2015 komplikasi yang bisa keluarga
khawatir dengan kondisinya,
terjadi. mengatakan sudah
takut ada komplikasi lain
 Anjurkan klien dan ada gambaran
keluarga untuk check DO : tentang
up/kontrol kondisi klien penyakityang
 Wajah klien tampak
ke pelayanan kesehatan dialami klien serta
ketakutan
untuk mengatasi kondisi komplikasi yang
 Bertanya-tanya kepada
klien dan mencegah bias terjadi.
perawat
terjadinya komplikasi
lain . A: O:
 Klien dan
 Menjelaskan pada klien
keluarga tampak
tentang penyakitnya dan
mengerti dengan
komplikasi yang bisa terjadi.
penjelasan
 Menganjurkan klien dan
perawat.
keluarga untuk check
up/kontrol kondisi klien ke
pelayanan kesehatan untuk
A:
mengatasi kondisi klien dan
Masalah teratasi
mencegah terjadinya
komplikasi lain .
P:
R: Evaluasi intervensi
yang sudah dilakukan.
 klien dan keluarga sudah
mengerti apa yang di jelaskan
perawat
 klien dan keluarga mau
mendengarkan apa yang
disampaikan perawat

3. Selasa 16.00 WIB  Jelaskan pada klien DS : S:


3 November tentang penyakitnya  Klien dan
2015 dan komplikasi yang  Keluarga mengatakan keluarga
bisa terjadi. bingung melihat kondisi mengatakan sudah
 Ajarkan klien Ny. M seperti ini, tidak ada gambaran
menggerakkan bagian tahu cara perawatannya dan tentang
tubuh yang mati rasa sudah lama tidak kontrol penyakityang
(ROM) untuk ke-pelayanan kesehatan dialami klien serta
membantu karena kondisi Ny. M yang komplikasi yang
memperlancar tidak bisa berjalan seperti bias terjadi.
peredaran darah agar dulu. O:
tidak terjadi atrofi otot  Klien mengatakan sudah  Klien dan
 Anjurkan klien dan lama tidak kontrol keluarga mengerti
keluarga untuk check kondisinya ke pelayanan dengan penjelasan
up/kontrol kondisi klien kesehatan, hanya perawat.
ke pelayanan kesehatan meminum obat warung
untuk mengatasi dan berjemur saat pagi A:
kondisi klien dan hari di teras rumah Masalah teratasi
mencegah terjadinya
DO :
komplikasi lain .
 Klien dan keluarga P:
bertanya-tanya kepada Evaluasi intervensi
perawat yang sudah dilakukan
A:

 Menjelaskan pada klien


tentang penyakitnya dan
komplikasi yang bisa
terjadi.
 Mengajarkan klien
menggerakkan bagian
tubuh yang mati rasa
(ROM) untuk membantu
memperlancar peredaran
darah agar tidak terjadi
atrofi otot
 Menganjurkan klien dan
keluarga untuk check
up/kontrol kondisi klien ke
pelayanan kesehatan untuk
mengatasi kondisi klien
dan mencegah terjadinya
komplikasi lain

R:
 klien dan keluarga sudah
mengerti apa yang di
jelaskan perawat
 klien dan keluarga mau
mendengarkan apa yang
disampaikan perawat
 klien mempraktekkan
gerakan (ROM) yang
diajarkan perawat.
No Tanggal Waktu Intervensi Implementasi (DAR) Evaluasi (SOAP) Paraf

1. Kamis 16.00 WIB  Bantu klien DS : S:


5 November mengidentifikasi dan  keluarga dan
 Klien mengatakan tidak ada
2015 menguraikan klien mengatakan
keluhan yang dirasakan .
perasaannya merasa terbantu
 Klien mengatakan
 Bantu klien memahami dengan datangnya
mempraktekkan cara-cara
perspektif pasien perawat kerumah
yang telah diajarkan perawat.
terhadap situasi stress
O:
dan kondisi yang DO :
dialaminya sekarang  klien dan
 Klien dan keluarga tidak
tidak akan sembuh keluarga tampak
cemas lagi dengan kondisi
dalam waktu singkat. lebih tenang
klien
 Dengarkan dengan
 Klien mempraktekkan cara A:
penuh perhatian
yang diajarkan perawat
 Evaluasi teknik Masalah teratasi
A:
relaksasi nafas dalam
P:
untuk kontrol  membantu klien
mengurangi kecemasan mengidentifikasi menguraikan Evaluasi Intervensi

yang dirasakan perasaannya yang sudah

 membantu klien memahami


perspektif pasien terhadap dilakukan
situasi stress yang dialaminya.
 mendengarkan dengan penuh
perhatian
 mengevaluasi teknik relaksasi
nafas dalam untuk kontrol
rasa percaya diri dan
mengurangi kecemasan yang
dirasakan klien.

R:

 klien mau mengungkapkan


perasaannya
 klien mau mempraktekkan
Tarik nafas dalam untuk
mengurangi kecemasan yang
dirasakan
2. Kamis 16.00 WIB DS : S:
5 November  Anjurkan klien dan  Klien dan
 Klien dan keluarga
2015 keluarga untuk check keluarga
mengatakan sudah tidak
up/kontrol kondisi klien mengatakan
khawatir dan takut lagi akan
ke pelayanan kesehatan akan melakukan
komplikasi yg bisa terjadi .
untuk mengatasi kondisi kontrol ke
klien dan mencegah DO : pelayanan
terjadinya komplikasi kesehatan
 Klien mendengarkan
lain .
penjelasan perawat.
O:
 Klien dan
keluarga tampak
A:
mengerti dengan
 menganjurkan klien dan penjelasan
keluarga untuk check perawat.
up/kontrol kondisi klien ke
pelayanan kesehatan untuk A:
mengatasi kondisi klien dan Masalah teratasi
mencegah terjadinya P:
komplikasi lain . Evaluasi intervensi
yang sudah
R:
 klien dan keluarga sudah dilakukan.
mengerti apa yang di jelaskan
perawat
 klien dan keluarga mau
mendengarkan apa yang
disampaikan perawat

3. Kamis 16.00 WIB DS : S:


5 November  Jelaskan pada klien  Klien dan
 Keluarga dan klien
2015 tentang penyakitnya keluarga
mengatakan mengerti
dan komplikasi yang mengatakan
dengan kondisi yang
bisa terjadi. mengerti dengan
dialami klien
 Evaluasi cara klien kondisi klien
menggerakkan bagian DO : serta komplikasi
tubuh yang mati rasa yang bias
 Klien mendengarkan
(ROM) untuk terjadi.
penjelasan perawat.
membantu
memperlancar O:
peredaran darah agar  Klien
tidak terjadi atrofi otot mempraktekkan
 Anjurkan klien dan A: cara yang
keluarga untuk check diajarkan
 Menjelaskan pada klien
up/kontrol kondisi klien tentang penyakitnya dan  Klien dan
ke pelayanan kesehatan komplikasi yang bisa terjadi. keluarga
untuk mengatasi  Mengevaluasi cara klien mengerti dengan
kondisi klien dan menggerakkan bagian tubuh penjelasan
mencegah terjadinya yang mati rasa (ROM) untuk perawat.
komplikasi lain . membantu memperlancar
peredaran darah agar tidak
terjadi atrofi otot A:
 Menganjurkan klien dan Masalah teratasi
keluarga untuk check
up/kontrol kondisi klien ke
pelayanan kesehatan untuk P:
mengatasi kondisi klien dan Evaluasi intervensi
mencegah terjadinya yang sudah
komplikasi lain dilakukan

R:

 klien dan keluarga sudah


mengerti apa yang di
jelaskan perawat
 klien dan keluarga mau
mendengarkan apa yang
disampaikan perawat
 klien mempraktekkan
gerakan (ROM) yang
diajarkan perawat.

‘’

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


No
Hari/tgl/
jam  Dx Tujuan Intervensi Rasional

Rabu, 8 1     TUM : Klien mampu Sp 1 Pembinaan


Oktober mengurangi dan hubungan
2019 2 mengontrol Bina hubungan saling saling percaya
kecemasannya. percaya dengan : merupakan
dasar
TUK : -    Sapa klien dengan ramah
terjalinnya
10.00 baik verbal maupun non
komunikasi
WIB  1)   Setelah diberikan verbal
terbuka
askep selama 2 kali
-    Perkenalkan diri dengan sehingga
pertemuan (tiap
sopan. meningkatkan
pertemuan  20 menit)
rasa
diharapkan klien
-    Tanyakan nama lengkap komunikasi
membina hubungan
klien dan nama panggilan klien.
saling percaya dengan
yang disukai.
KH :
-    Jelaskan tujuan pertemuan.
- Wajah klien cerah dan
tersenyum -    Jujur dan menepati janji
- Klien mau membalas -   Tunjukkan sikap empati dan
salam. menerima klien apa adanya.
- Klien mau
menyebutkan nama
sambil berjabat tangan
dan ada kontak mata
- Klien bersedia
menceritakan
perasaannya

TUK : -     Adakan kontak sering dan Dapat


singkat secara bertahap. mengetahui
 2) Klien dapat kapan klien
mengidentifikasi dan -     Bantu klien untuk mengalami
menggambarkan mengidentifikasi dan kecemasan.
perasaan tentang menggambarkan perasaan
kecemasannya dengan yang mendasari Untuk
KH : kecemasannya. mengadopsi
koping yang
-    Klien dapat -     Kaitkan perilaku klien baru, klien
menyebutkan waktu, isi, dengan perasaan tersebut
TINDAKAN KEPERAWATAN

No tgl
IMPLEMENTASI paraf EVALUASI paraf
.

1. Rabu, 9 Oktober 2019 pukul 10.00 – 10.30 S: 9 Fiani


Oktober
-      Klien mengatakan sudah bisa mengontrol Erikson
2019
kecemasan
Data klien: Okta
O:
-Klien mengatakan merasa cemas dengan keadaannya
-       Mampu mengontrol kecemasannya
-Saat berinteraksi klien merespon perawar, ada kontak
mata. Klien tampak gelisah dengan kondisinya -       Wajah klien berseri

Diagnosis Keperawatan : -       kontak mata (+),

Gangguan Psikososial : Kecemasan

Tindakan Keperawatan: A: Klien mampu menyebutkan cara mengontrol


kecemasan
Klien :
P: Klien melakukan cara berikutnya untuk
   Membina hubungan saling percaya
mengontrol kecemasan (2 kali dalam sehari tiap
   Membantu klien menggambarkan situasi dan interaksi 20 menit)
yang mendahului kecemasan____________________
   Diskusikan cara baru untuk memutus / mengontrol
timbulnya kecemasan
BAB III
PEMBAHASAN

Berdasarkan uraian pada tinjauan teoritis mengenai ansietas dan pengkajian yang
telah dilakukan didapatkan data Tn. K mengatakan merasa cemas dengan keadaannya. Klien
mengatakan tidak pernah menderita penyakit seperti yang dialaminya sekarang. Klien takut
dengan kondisinya saat ini dimana Tn. K mengatakan nyeri pada perutnya, tidak mau makan
kurang lebih selama 2 minggu. BAB warna hitam dan sedikit-sedikit, BAK sedikit warna
seperti teh. Dari data observasi ditemukan Tn. K Nampak tenang dalam berbicara, tidak ada
gerakan yang diulang-ulang ataupun gemetar. Namun saat membicarakan penyakitnya klien
tampak sedikit cemas. Jika disesuaikan dengan teori yang ada maka dapat disimpulkan bahwa
klien mengalami ansietas ringan.
Adapun kesenjangan yang didapat berdasarkan pengkajian dari kasus Tn. K terhadap
teori ansietas antara lain terdapat pada diagnosa keperawatan. Berdasarkan teori didapatkan
diagnosa keperawatan harga diri rendah situasional dan koping individu tidak efektif. Namun
pada kasus tidak diangkat diagnosa tersebut karena tidak ditemukan data yang menunjang
untuk menegakkan kedua diagnosa tersebut.
Untuk diagnosa harga diri rendah situasional gejala muncul pada seseorang yan
sebelumnya mempunyai harga diri baik, tetapi bisa terjadi persepsi negatif tentang harga diri
sebagai respon terhadap situasi yang saat ini terjadi pada Tn. K sebelum sakit tidak ada
masalah pada harga diri dan ketika sakit Tn. K mengatakan menerima keadaanya, dan Tn.K
merasa tidak ada gangguan pada citra tubuh dan mengatakan tidak mempunyai bagian tubuh
yang tidak disukai . Sehingga diagnosa harga diri rendah situasional tidak diangkat pada
kasus ini.
Diagnosa koping individu tidak efektif tidak diangkat karena Tn.K menerima kondisi
penyakitnya dan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah dibuktikan dengan
Tn.K mau memeriksakan penyakitnya ke rumah sakit dan bersedia untuk menjalankan
pengobatan secara teratur. Selain itu selama sakit keluarga selalu memberi dukungan dan
semangat serta selalu menemani Tn.K. Diagnosa yang diangkat pada kasus ini adalah
ansietas, ketakutan dimana terdapat data penunjang dari kasus pada ketiga diagnosa tersebut.
Adapun diagnosa utama dari kasus yang didapatkan adalah ansietas karena pada saat
pengkajian klien mengatakan merasa cemas dengan keadaannya. Klien mengatakan tidak
pernah menderita penyakit seperti yang dialaminya sekarang. Klien takut dengan kondisinya
saat ini dengan data observasi meskipun pada saat wawancara Tn.K nampak tenang dalam
berbicara, tidak ada gerakan yang diulang-ulang ataupun gemetar. Namun saat membicarakan
penyakitnya klien tampak sedikit cemas dan terlihat gelisah. Pada intervensi dan
implementasi tidak diterdapat kesenjangan antara teori dan kasus karena semua intervensi
dan implementasi yang dilakukan sudah sesuai dengan teori.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kecemasan dapat didefininisikan suatu keadaan perasaan keprihatinan, rasa gelisah,
ketidak tentuan, atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber aktual yang tidak
diketahui atau dikenal (Stuart and Sundeens, 1998).
Kecemasan mungkin hadir pada beberapa tingkat dalam kehidupan setiap individu, tetapi
derajat dan frekuensi dengan yang memanifestasikan berbeda secara luas. Respon masing-
masing individu memiliki kecemasan berbeda. Tepi emosional yang memprovokasi
kecemasan untuk merangsang kreativitas atau kemampuan pemecahan masalah, yang lainnya
dapat menjadi bergerak ke tingkat patologis. Kecemasan terdiri dari beberapa tingkat yaitu
ansietas ringan, ansietas sedang, ansietas berat, dan panik.

B. Saran
Keperawatan jiwa adalah masalah-masalah yang sangat serius dan diansangat penting.
Masalah –masalah tersebut dapat dianggap ancaman atau tantangan yang akan berdampak
besar pada keperawatan jiwa baik dalam tatanan regional maupun global. Sikap yang positif
terhadap diri sendiri, tumbuh kembang , aktualisasi diri, keutuhan, kebebasan diri sangat
diperlukan untuk dimiliki oleh setiap individu. Bagi pembaca pengontrolan emosi sangat
harus diperhatikan, Karena dapat memberikan dampak yang positif dan negatif. Jiwa dan diri
anda sangatlah berharga.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Diagnosa Keperawatan NANDA NIC-NOC (terjemahan)


Hawari, D., 2012, Manajemen Stres Cemas dan Depresi, Balai Penerbit FKUI : Jakarta.
Stuart, G.W., dan Sundden, S.J., 2013, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3, EGC : Jakarta.