Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

SISTEM PERADILAN INDONESIA

IBNU BAHTIAR
NIM. 140710101296
KELAS A

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS HUKUM
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pasal 1 ayat (3) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
(UUD 1945) menegaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara
hukum.
UUD tahun 1945 merupakan sumber dari hukum positif yang berlaku di
indonesia. Dengan munculnya konsep rechstaat dari Freidrich Julius Stahl, yang
diilhami oleh Immanuel Kant. Menurut Stahl unsur-unsur negara hukum (rechstaat)1
adalah :
1). Perlindungan Hak-hak Asasi Manusia;
2) Pemisahan atau Pembagian Kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu.
Pada waktu yang hampir bersamaan muncul pula konsep negara hukum (rule
of law) dari A.V. Dicey yang mengemukakan unsur dari pada rule of law adanya
supremasi aturan-aturan hukum (supremacy of the law) yaitu tidak adanya
kekuasaan yang sewenang- wenang (absence of arbitrary power). Adapula konsep
negara hukum pancasila2 dimana ciri-ciri hubungan yang erat antara agama dan
negara yang bertumpu pada ketuhanan yang Maha Esa kebebasan agama dalam arti
positif ateisme tidak dibenarkan dan komunisme dilarang asas kekeluargaan dan
kerukunan dengan unsur utamanya adalah sistem konstitusi, persamaan dan
peradilan yang bebas.
Salah satu materi muatan atau bidang yang diatur dalam bidang UUD tahun
1945 adalah mengenai kekuasaan kehakiman. Sejalan dengan ketentuan tersebut
maka salah satu prinsip penting dari negara hukum adalah adanya jaminan
penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka, bebas dari pengaruh

1
Ridwan Hr, Hukum Administrasi Negara, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm 3.
2
Azhary, H.M. Tahir, Negara Hukum:Suatu Studi tentang Prinsip-Prinsipnya,
Dilihat dari Segi Hukum Islam, Implementasinya pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini.
( Bogor: Kencana, 2003)
kekuasaan lainya untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakan hukum dan
keadilan3.
Pembagian kekuasaan negara kedalam lembaga-lembaga negara juga sejalan
dengan logika demokrasi yang menghendaki diferensiasi peran antarlembaga negara
dan situasi saling mengawasi antarlembaga negara guna menghindari pemusatan dan
penyalahgunaan kekuasaan,pengaturan dan pembatasan kekuasaan itu juga menjadi ciri
konstitusionalisme dan juga merupakan tugas dari konstitusi sehingga kemungkinan
kesewenang-wenangan kekuasaan dapat dikendalikan.4
Kekuasaan kehakiman sejak awal kemerdekaan diniatkan sebagai cabang
kekuasaan yang terpisah dari lembaga-lembaga politik seperti Legislatif dan Presiden
serta memiliki hak untuk menguji yakni hak menguji formil (formele toetsingrecht) dan
hak menguji meteril (materiele toetsingrecht).5
Sebelum eksisnya negara hukum modern Imanuel kant menyebutkan bahwa
disamping adanya perlindungan Hak Asasi Manusia, juga terdapat pemisahan
kekuasaan dalam negara yang menjamin keberadaan lembaga yang berfungsi
memisahkan persengketaan warga dalam negara penjaga malam (klassiekerechtstaat).6
Penegasan bahwa kekuasaan kehakiman ialah kekuasaan yang merdeka artinya
terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah berhubung dengan hal itu harus
termaktub dalam Undang-Undang tentang kedudukan para hakim, bila dihubungkan
dengan asas negara hukum maka adanya badan pemegang kekuasaan kehakiman
seperti Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi tak lain sebagai penegasan bahwa
Indonesia adalah negara hukum.
Seperti diketahui syarat sebagai negara hukum ialah adanya peradilan yang bebas
dan tidak terpengaruh kekuasaan lain serta tidak memihak, 7 yang berwenang
memeriksa dan mengadili serta memberikan putusan atas perkara-perkara yang

3
Jimly Asshiddiqie, Pokok-pokok Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: PT Bhuana ilmu
populer, 2007), hlm 512
4
Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010),
hlm 138
5
Abu Daud Busroh, Sistem Pemerintahan Republik Indonesia, (Jakarta: Bina Aksara, 2001)
6
Sudargo Gautama. Pengertian tentang negara hukum, dalam Muhtadi .Pengawasan Hakim
Indonesia,universitas andalas, 2008, hlm 122
7
Moh mahfud MD, Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta,
2000), hlm 117
diserahkan kepadanya untuk menegakan hukum dan keadilan berdasarkan peraturan
perundang-undangan.
Badan pemegang kekuasaan kehakiman harus dapat bekerja dengan baik dalam
tugas-tugasnya sehingga dihasilkan suatu putusan yang obyektif dan tidak memihak
dan senantiasa menjunjung tinggi hukum dan keadilan karna sejatinya kekuasaan ini
adalah kekuasaan yang bebas dari pengaruh kekuasaan lain. Namun dilema yang terjadi
di Indonesia dengan system rekrutmen Hakim Agung yang terkontaminasi dengan
unsur politis atau masuknya politisi kedalam jajaran Hakim Agung, seperti halnya
Hakim yang berasal dari Politisi seperti Gayus Lumbun. Karena perekrutan yang
terjadi melalui suatu komisi dan diusulkan kepada lembaga politik maka penegakan
hukum oleh Kekuasaan Kehakiman yang merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan akan semakin sulit. Dengan demikian berdasarkan hal
tersebut maka apakah yang dimaksud Kemerdekaan Hakim menurut Undang-Undang
Dasar tahun 1945 dalam menjalankan tugasnya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Pemegang kekuasaan kehakiman di indonesia?
2. Pelaksanaan kekuasaan kehakiman dalam kewenangan peradilan militer?
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pemegang kekuasaan kehakiman di indonesia


Dalam usaha untuk memperkuat prinsip kekuasaan kehakiman yang merdeka
berarti suatu Kekuasaan yang berdiri sendiri dan tidak dalam intervensi dari kekuasaan
lainya dalam menjalankan tugasnya untuk menegakan hukum dan keadilan 8 maka
sesuai dengan tuntutan reformasi di bidang hukum telah dilakukan perubahan terhadap
Undang-undang Nomor 14/19709 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan
kehakiman dengan perubahan menjadi Undang-undang Nomor 35/199910 melalui
perubahan tersebut telah diletakan kebijakan bahwa segala urusan mengenai peradilan
baik yang menyangkut teknis yudisial maupun urusan organisasi dan finansial berada
dibawah satu atap yakni Mahkamah Agung, yang harus dilaksanakan paling lambat
lima tahun sejak diundangkanya UU No. 35/1999 yang berarti bahwa sejak
diundangkanya undang-undang ini pembinaan badan peradilan umum, badan peradilan
agama, badan peradilan militer, dan badan peradilan tata usaha negara berada dibawah
Mahkamah Agung yang kemudian kembali diubah dengan UU No. 4/2004 11 dan
kemudian belakangan ini terjadi perubahan kembali dengan UU No. 3/200912 tentang
perubahan kedua dari UU No.14/1985 tentang kekuasaan kehakiman. Dengan
demikian, telah berkali-kali perubahan undang-undang kehakiman bahkan perubahan
terjadi pada grand norm atau Konstitusi.
Untuk memastikan terwujudnya kekuasaan kehakiman yang merdeka diperlukan
jaminan yang tegas dalam konstitusi, langkah besar yang dihasilkan dalam amandemen
UUD 1945 tidak hanya menyebutkan secara eksplisit kekuasaan kehakiman yang
merdeka, Pasal 24 Ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa : “...kekuasaan kehakiman
merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna
menegakkan hukum dan keadilan.”

8
Sudarsono. Kamus Hukum, (Jakarta: Penerbit Rineka Cipta,1992), hlm 274
9
LNRI 74 tahun 1970
10
LNRI 147 tahun 1999
11
LNRI 08 tahun 2004
12
LNRI 03 tahun 2009
Tidak hanya itu, Pasal 24 Ayat (2) UUD 1945 mengamanatkan bahwa kekuasaan
kehakiman tidak hanya dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung tetapi juga oleh
sebuah Mahkamah Konstitusi. Bahkan bagi seorang hakim, Pasal 24A Ayat (2) UUD
1945 secara eksplisit menentukan, hakim agung harus memiliki integritas dan
kepribadian yang tidak tercela, adil, profesional, dan berpengalaman di bidang hukum
Khusus untuk menjaga kemandirian dan integritas hakim, amandemen UUD 1945 juga
memunculkan sebuah lembaga baru, yaitu Komisi Yudisial namun apakah
kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah
Konstitusi telah berjalan tanpa intimidasi dari lembaga lain. Kekuasaan Kehakiman
yang dilaksanakan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang
berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama,
lingkungan peradilan militer, dan lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh
Mahkamah Konstitusi sebagaimana termaktub ketentuan Pasal 24C ayat (1) UUD
Tahun 194513 yang memiliki wewenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir
dan bersifat final dalam menguji undang-undang terhadap UUD Tahun 1945.
Hal ini berarti kekuasaan kehakiman di Indonesia dilaksanakan oleh Mahkamah
Agung dan Mahkamah Konstitusi dan diawasi oleh Komisi Yudisial dimana kekuasaan
kehakiman tersebut merupakan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan bertanggung
jawab yang merupakan perwujudan dari asas kedaulatan rakyat, negara hukum, dan
pemisahan kekuasaan. namun demikian, terdapat perbedaan diametral antara konsep
merdeka dan bertanggungjawab dari kekuasaan kehakiman.
Makna merdeka menunjukkan tidak adanya ikatan dan tidak tunduk pada apapun,
sedangkan makna bertanggungjawab justru menunjuk-kan sebaliknya dalam perkataan
lain, kekuasaan kehakiman yang merdeka bermakna kekuasaan yang tidak terikat,
lepas, dan tunduk pada kekuasaan yang lain, sedangkan kekuasaan kehakiman yang
bertanggungjawab justru bermakna kekuasaan kehakiman berada dalam kaitan dengan
13
UUD tahun 1945 amandemen ketiga, Pasal 1 ayat (2) dan (3); pasal 3 ayat (1),(3), dan (4); pasal
6 ayat (1) dan (2); pasal 6A ayat (1),(2),(3); dan (5); pasal 7A, pasal 7B ayat (1),(2),(3),(4),(5),(6), dan
(7); pasal 7C; pasal 8 ayat (1) dan (2); pasal 11 ayat (2) dan (3); pasal 17 ayat( 4); BAB VIIA, pasal 22C
ayat (1),(2),(3) dan (4); pasal 22D, ayat (1),(2),(3), dan (4); BAB VIIB, pasal 22E ayat (1),(2),(3),(4),(5),
dan (6) pasal 23 ayat(1),(2),(3); pasal 23A; pasal 23C;Bab VIIIA; pasal 23E ayat (1),(2), dan( 3) pasal
23F; ayat (1) dan (2); pasal 23G ayat (1) dan (2), pasal 24 ayat (1)dan( 2); pasal 24A ayat (1),(2),(3),
(4),dan (5), pasal 24B pasal (1),(2),(3), dan (4); pasal 24C ayat (1),(2),(3),(4),(5),dan (6) Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
dan tunduk pada kekuasaan yang lain dengan demikian, terdapat kontradiksi antara
kekuasaan kehakiman yang merdeka dan kekuasaan kehakiman yang
bertanggungjawab.
Apabila secara esensial kekuasaan kehakiman adalah merdeka,
apakah kekuasaan kehakiman harus tetap bertanggungjawab dan apabila kekuasaan
kehakiman bertanggung jawab, maka kepada siapa dan dalam hal apa kekuasaan
kehakiman bertanggungjawab harus dilakukan dalam beberapa literatur ilmu hukum,
dikenal adanya judicial independence (kemerdekaan yudisial) dan judicial
Kemerdekaan yudisial adalah accountability (akuntabilitas yudisial).
Kemerdekaan dari segala macam bentuk pengaruh dan campur tangan kekuasaan
lembaga lain, baik eksekutif maupun legislatif. Independen dapat pula diartikan sebagai
“The state of quality of being independent, esp a country freedom to manage all its
affair, whether external or internal, without countrol by another country.14
Jadi kemerdekaan yudisial lebih bersifat struktural kelembagaan, yakni dalam
hubungan antar lembaga kenegaraan atau cabang kekuasaan.
Menurut Bagir manan, Kekuasaan Kehakiman memang lemah dibandingkan
dengan kekuasaan legislatif karna secara konseptual tatanan politik. Dalam kenyataan
yang terjadi kehakiman selalu tidak berdaya menghadapai tekanan politik untuk
menjaga agar kekuasaan kehakiman yang merdeka tetap utuh atau tanpa campur tangan
pihak/lembaga lain serta sistem administrasi, misalnya anggaran belanja. Selama sistem
anggaran belanja kekuasaan kehakiman tergantung pada kebaikan hati pemerintah
sebagai pemegang kas negara, maka berbagai upaya memperkuat kekuasaan kekuasaan
kehakiman akan mengalami berbagai hambatan.15
Karena berbagai penyebab di atas, upaya membebaskan kekuasaan kehakiman
dari pengaruh kekuasaan lain merupakan perjuangan terus-menerus. Bagaimanapun,
kekuasaan kehakiman yang merdeka merupakan salah satu prinsip penting dalam
negara demokrasi. Shimon Shetreet dalam Judicial Independence: New Conceptual

14
Blacks law Dictionary, Seven edition (USA: West group, 1999), hlm 774
15
Bagir Manan, Restrukturisasi Badan Peradilan, dalam Majalah Hukum Varia Peradilan Tahun
XX. No. 239,( Jakarta,2005 )
Dimentions and Contemporary Challenges membagi independence of the judiciary
menjadi empat hal yaitu16:
1. Substantive independence (independensi dalam memutus perkara);
2. Personal independence (misalnya adanya jaminan masa kerja dan
jabatan);
3. internal independence (misalnya independensi dari atasan dan rekan
kerja) dan
4. collective independence (misalnya adanya partisipasi pengadilan
dalam administrasi pengadilan, termasuk dalam penentuan budget
pengadilan).
Kemudian independensi yang tak kalah pentingnya ialah kebebasan atau
kemerdekaan hakim dalam menfsirkan hukum, karna Mahkamah Konstitusi sebagai
salah satu instrumen dalam menjalankan Kekuasaan Kehakiman memiliki suatu
putusan yang bersifat final, hal ini tentunya tidak ada upaya hukum lain maka
pembatasan dan pemantauan Mahkamah Konstitusi agar tujuanya tidak keluar dari
tujuan utama penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yakni menegakan hukum dan
keadilan.17
Prinsip kekuasaan kehakiman yang merdeka menghendaki agar hakim
terbebas dari campur tangan, tekanan atau paksaan, baik langsung maupun tidak
langsung dari kekuasaan lembaga lain, teman sejawat, atasan, serta pihak-pihak lain
di luar peradilan. Sehingga Hakim dalam memutus perkara hanya demi kadilan
berdasarkan hukum dan hati nurani sulit memang tapi bukanlah merupakan yang hal
tak mungkin bagi tegaknya Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman.
Dalam pandangan Hakim Agung Artidjo Alkostar, tidak ada bangsa yang
beradab tanpa adanya pengadilan yang merdeka dan bermartabat. Fungsi pengadilan
merupakan salah satu tiang tegaknya negara yang berdaulat. Salah satu elemen
pengadilan adalah menyangkut faktor adanya pengadilan yang merdeka.18

16
Saldi isra, Kekuasaan Kehakiman Yang Merdeka dan Bertanggung Jawab di Mahkamah
Agung( 2010)
17
Zulkarnain Rildwan, dalam Jurnal Konstitusi, Kompetensi Hakim Konstitusi dalam penafsiran
konstitusi ( Jakarta: MK, 2011), hlm 85
18
Artidjo Alkostar, Membangun Pengadilan Berarti Membangun Peradaban Bangsa, dalam
Majalah Hukum (Jakarta: Varia Peradilan, 2005), No. 238
Mengenai kebebasan hakim, hakim itu pada asasnya bebas, tetapi kebebasanya
tidak mutlak karna kebebasan hakim tersebut diabatasi baik secara makro maupun
secara mikro, faktor-faktor yang membatasi secara makro ialah sistem politik, sistem
pemerintahan, sistem ekonomi, dan sebagainya faktor yang membatasi hakim secara
mikro ialah Pancasila, UUD, Undang-Undang, Kepentingan umum, Kesusilaan, dan
kepentingan para pihak jadi Hakim didalam memeriksa dan memutus perkara tidak
boleh bertentangan dengan Pancasila, UUD, Undang-Undang, Kepentingan umum,
Kesusilaan, dan kepentingan para pihak19 atasan dan rekan kerja,; kemerdekaan dalam
partisipasi pengadilan termasuk dalam hal budget pengadilan; Kemudian
independensi yang tak kalah pentingnya ialah kebebasan atau kemerdekaan hakim
dalam menfsirkan hukum. Dan independensi kekuasaan kehakiman merupakan salah
satu dasar untuk terselenggaranya pemerintah yang demokratis di bawah rule of
law.20
Dan mengingat profesi hakim merupakan suatu profesi officium nobile maka
harapanya dasar-dasar independensi yang diagungkan dalam menegakan hukum dan
keadilan dipertegas dalam konstitusi sebagai grandnorm dalam pelaksanaan
kekuasaan Kehakiman.

2.2 Pelaksanaan kekuasaan kehakiman dalam kewenangan peradilan militer


Pengaturan kekuasaan kehakiman di Indonesia diatur dalam BAB IX Pasal 24,
Pasal 24A, Pasal 24C, dan Pasal 25 Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 tentang Kekuasaan Kehakiman dan Undang-Undang Nomor 48 Tahun
2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Pasal 24 Ayat (1) Undang Uundang Dasar Negara Republik Indonenesia Tahun
1945: “Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.”

19
Sudikno Mertokusumo, Kemandirian Hakim ditinjau dari struktur lembaga kehakiman,
sebagaimana diposting dalam http://sudiknoartikel.blogspot.com/2008/03/ kemandirian-hakim-ditinjau-
dari-struktur.html diakses pada tanggal 4 juni 2012 pukul 23:22 wib
20
Opcit hlm 85
Pengertian kekuasaan kehakiman tersebut dijelaskan dalam Ketentuan Umum
Pasal 1 Angka 1 UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang
selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
“Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi
terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia.”
Kemudian kedudukan Peradilan Militer sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman
diatur dalam Pasal 24 Ayat (2) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia
1945 selengkapnya berbunyi :
“Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan
peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan
peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara,
dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.”
Dengan demikian kedudukan Peradilan Militer merupakan salah satu badan
peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman untuk menegakkan hukum dan
keadilan dengan memperhatikan kepentingan penyelenggaraan pertahanan keamanan
negara21(penulis : kekuasaan militer), yang susunan dan kekuasaaan serta hukum
acaranya termasuk pengkhususannya diatur dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun
1997 tentang Peradilan Militer (UU Peradilan Militer) dilaksanakan sebagai berikut :
a. Pengadilan di lingkungan Peradilan Militer yang terdiri dari :
1. Pengadilan Militer yang merupakan pengadilan tingkat pertama untuk
perkara pidana yang terdakwanya berpangkat Kapten ke bawah;22
2. Pengadilan Militer Tinggi yang merupakan 23:
a) pengadilan tingkat banding untuk perkara pidana yang diputus pada
tingkat pertama oleh Pengadilan Militer.
b) pengadilan tingkat pertama untuk :
(1) Perkara pidana yang terdakwanya atau salah satu terdakwanya
berpangkat Mayor ke atas;

21
Pasal 5 Ayat (1) UU Peradilan Militer
22
Pasal 40 UU Peradilan Militer
23
Pasal 41 UU Peradilan Militer
(2) Gugatan sengketa Tata Usaha Militer;
c) memutus pada tingkat pertama dan terakhir sengketa kewenangan
mengadili antara Pengadilan Militer dalam daerah hukumnya.
3) Pengadilan Militer Utama merupakan :
a) pengadilan tingkat banding untuk perkara pidana dan sengketa Tata
Usaha Militer yang diputus pada tingkat pertama oleh Pengadilan
Militer Tinggi.24
b) memutus pada tingkat pertama dan terakhir semua sengketa tentang
wewenang mengadili25:
(1) antar Pengadilan Militer yang berkedudukan di daerah hukum
Pengadilan Militer Tinggi yang berlainan;
(2) antar Pengadilan Militer Tinggi; dan
(3) antara Pengadilan Militer Tinggi dan Pengadilan Militer.
(4) sengketa sebagaimana dimaksud pada Angka (1), (2) dan (3)
terjadi:
(a) apabila 2 (dua) pengadilan atau lebih menyatakan dirinya
berwenang mengadili atas perkara yang sama;
(b) apabila 2 (dua) pengadilan atau lebih menyatakan dirinya
tidak berwenang mengadili perkara yang sama.
(c) memutus pada tingkat pertama dan terakhir perbedaan
pendapat antara Perwira Penyerah Perkara (Papera) dan
Oditur tentang diajukan atau tidaknya suatu perkara
kepada Pengadilan dalam lingkungan peradilan militer
atau Pengadilan dalam lingkungan peradilan umum.26

24
Pasal 42 UU Peradilan Militer
25
Pasal 43 Ayat (1) dan (2) UU Peradilan Militer

26
Lihat Pasal 43 Ayat (3), 123 dan 127 UU Peradilan Militer
b. Pengadilan Militer Pertempuran merupakan pengadilan tingkat pertama
dan terakhir dalam mengadili perkara pidana yang dilakukan oleh Prajurit atau yang
dipersamakan27 di daerah pertempuran, bersifat mobil mengikuti gerakan pasukan dan
berkedudukan serta di daerah pertempuran.28
Pengadilan ini berfungsi pada saat seluruh atau sebagian wilayah Negara
Republik Indonesia dalam keadaan begitu gawatnya (bahaya/darurat) sehingga
mengakibatkan badan-badan peradilan militer yang sudah ada termasuk badan
peradilan umum lainnya sudah tidak dapat berfungsi lagi. 29 Dalam masa keadaan
darurat ( etat de siege, state of emergency, state of exception), ada dua kemungkinan
yang terkait dengan peranan badan peradilan. Pertama, badan-badan peradilan sipil
yang ada dapat tetap dan terus menjalankan tugas-tugas konstitusionalnya sebagaimana
biasa. Kedua, badan-badan peradilan sipil tersebut tidak dapat lagi menjalankan tugas
konstitusionalnya. Dalam keadaan darurat militer atau darurat perang (state of war),
pengadilan militer dapat diberi kewenangan untuk memeriksa dan mengadili perkara-
perkara diantaranya yang berhubungan dengan subjek-subjek hukum yang tidak
terbatas kepada anggota militer saja, melainkan juga warga sipil.30
Badan-badan peradilan tersebut pada huruf a dan b, semua berpuncak pada
31
Mahkamah Agung sebagai Pengadilan Negara Tertinggi sesuai dengan prinsip-
prinsip yang ditentukan dalam UUD 1945 dan UU Kekusaan Kehakiman.

27
Lihat Pasal 9 Ayat (1) UU Peradilan Militer
28
Pasal 45 dan 46 UU Peradilan Militer
29
SR. Sianturi. Op.cit. Hal. 68. Lihat Perpu No. 23 Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya yang
membagi dalam keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat sipil atau keadaan darurat militer atau
keadaan perang.
30
Binsar Gultom, Pelanggaran HAM dalam Hukum Keadaan Darurat di Indonesia. Mengapa
Pengadilan HAM Ad Hoc Indonesia Kurang Efektif? (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2010)
Hal.141-142.
31
Pasal 8 Ayat (1) UU Peradilan Militer
Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Militer sebagai pelaksana kekuasaan
kehakiman32, berwenang mengadili tindak pidana33 yang dilakukan oleh seseorang
yang pada waktu melakukan tindak pidana bersatus sebagai berikut34:
 Prajurit;
“Yang dimaksud dengan Prajurit adalah warga negara yang memenuhi
persyaratan yang ditentukan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan dan
diangkat oleh pejabat yang berwenang untuk mengabdikan diri dalam usaha
pembelaan negara dengan menyandang senjata, rela berkorban jiwa raga, dan
berperan serta dalam pembangunan nasional serta tunduk kepada hukum
militer.”35
Persamaan kata lain dari prajurit disebut dengan militer. Kata militer
berasal dari bahasa Yunani, miles yang berarti seorang bersenjata yang siap siaga
atau yang siap bertempur. Dalam bahasa Latin kata miles berarti warrior atau
prajurit. Kata ini kemudian mengalami perkembangan menjadi militaris (bahasa
Latin) dan militair (bahasa Perancis) yang kemudian memasuki semua bahasa di
Eropa. Dalam bahasa Indonesia disamping kata kata militer juga dikenal kata lain

32
Kewenangan Pengadilan Militer mengadili tindak pidana tersebut berlaku bagi seseorang
militer (atau justisiabel peradilan militer) bukan saja hanya Hukum Pidana Militer, melainkan juga
Hukum Pidana Umum dan ketentuan-ketentuan Hukum Pidana Umum (yang pada dasarnya digunakan
juga oleh Hukum Pidana Militer dengan beberapa pengecualian). Tindak pidana dapat dibedakan dengan
tindak pidana umum (commune delicta) dan tindak pidana khusus (delicta propria) diantaranya tindak
pidana militer dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer (KUHPM). Lihat SR Sianturi, Op.cit.
Hal. 18-19.
33
Pasal 9 UU Peradilan Militer. Lihat juga Pasal 10 UU Peradilan Militer juga memberikan
kewenangan untuk mengadili tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 9 UU Peradilan Militer
yang berdasarkan tempat kejadiannya berada di daerah hukumnya (locus delicty) atau terdakwanya
termasuk suatu kesatuan yang berada di daerah hukumnya. Namun dalam Penjelasan Pasal 10 tersebut
mensyaratkan bahwa tempat kejadian (locus delicty) lebih kuat dan menentukan daripada tempat
kesatuan terdakwa.
34
Pasal 1 Angka 42 UU Peradilan Militer.
35
ASS Tambunan, Op.cit. Hal. 3. Selengkapnya untuk dapat mengetahui siapa-siapa saja yang
dimaksud dengan militer sebenarnya cukup menunjuk peraturan yang sudah ada saja yaitu seperti yang
diatur dalam Pasal 46 sd 50 Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer (KUHPM) dalam ASS
Tambunan, Op.cit. Hal. 5. Lihat juga SR, Sianturi, Op.cit. Hal. 28. Sedangkan dalam Pasal 1 Angka 1
UU No. 25 Tahun 2014 tentang Hukum Disiplin Militer bahwa yang dimaksud militer adalah anggota
kekuatan angkatan perang suatu negara yang diatur berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
yaitu tentara dan laskar. Dulu ketiga istilah itu digunakan secara campur aduk.
Namun jika diteliti ketiga istilah itu mempunyai arti yang agak berbeda.36
a. yang berdasarkan undang-undang dipersamakan dengan Prajurit;37
b. anggota suatu golongan atau jawatan atau badan atau yang dipersamakan atau
dianggap sebagai Prajurit berdasarkan undang-undang;38
c. seseorang yang termasuk dalam perkara koneksitas;
Perkara koneksitas atau acara pemeriksaan koneksitas39 atau peradilan
koneksitas40 atau koneksitas41 adalah suatu sistem peradilan yang diterapkan atas
suatu tindak pidana dimana diantara Tersangka atau Terdakwanya terjadi
penyertaan42 (turut serta, deelneming) atau secara bersama-sama (mede
dader)43antara orang sipil dengan orang yang berstatus militer (prajurit TNI).

36
Menurut SR Sianturi bahwa yang dipersamakan dengan militer sebenarnya mereka bukan yang
berstatus militer dalam arti yang sesungguhnya, atau tidak lagi berstatus yang sesungguhnya. Hanya
dalam rangka penerapan hukum pidana militer mereka dipersamakan. Seperti : 1. Militer wajib (milwa)
di luar dinas; 2. Milsuk yang non aktif dari dinas militer; 3. Bekas militer. Militer sukarela yang
diberhentikan dengan hormat; 4. Bekas militer yang dipecat; 5. Anggota-anggota Cadangan Nasional
yang dipandang dalam dinas militer. 6. Seseorang yang menurut kenyataannya bekerja pada Angkatan
Perang; 7. Bekas/pensiunan militer yang dipekerjakan (lagi) dalam dinas militer. 8. Komisaris-komisaris
wajib militer; 9. Op.cit. Hal. 30-34.
37
Menurut SR Sianturi bahwa anggota dari suatu organisasi yang dipersamakan dengan Angkatan
Perang bahwa yang dipersamakan itu adalah wadahnya. Anggota dari badan atau organisasi tersebut
dipersamakan dengan militer. Seperti : 1. Pegawai atau buruh dari suatu perusahaan, pabrik, jawatan,
dan lain-lain; 2. Tamtama, Bintara dan Perwira Polri. 3. Anggota-angota Hansip, Wankamra, Menwa.
Selengkapnya lihat SR Sianturi. Op.cit. Hal. 34-32.
38
Pasal 16 UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur tentang tindak
pidana yang dilakukan bersama-sama oleh mereka yang termasuk lingkungan peradilan umum dan
lingkungan peradilan militer, diperiksa dan diadili oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan umum,
kecuali dalam keadaan tertentu menurut keputusan Ketua Mahkamah Agung perkara itu harus diperiksa
dan diadili oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan militer. Lihat juga Pasal 198 sampai dengan
Pasal 203 UU Peradilan Militer dan Pasal 89 sampai dengan Pasal 94 UU No. 8 Tahun 1981 tentang
KUHAP yang mengatur hukum acara pemeriksaan koneksitas.
39
Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Edisi Kedua, (Jakarta : Sinar Grafika, 2015),
Hal. 214.
40
Leden Marpaung, Proses Penanganan Perkara Pidana (Penyelidikan & Penyidikan). Bagian
Pertama, Edisi Kedua. (Jakarta : Sinar Grafika, 2014), Hal. 151.
41
HM Rasyid Ariman, Fahmi Raghib, Hukum Pidana. (Malang : Setara Press, Tahun 2015) Hal.
117-118. Masalah penyertaan ( deelneming) ini di dalam pelajaran hukum pidana pada dasarnya
berkaitan dengan masalah pertanggungjawaban pidana terhadap tindak pidana yang telah dilakukan.
Berkaitan dengan masalah pertanggungjawaban pidana tentu saja akan berhubungan pula siapa-siapa
menjadi pelaku dan siapa-siapa yang menjadi pembantu di dalam melakukan tindak pidana. Untuk
menentukan para pelaku dan pembantu ini diakui dan dikatakan pula oleh Tresna “bukan merupakan
pekerjaan yang mudah”, baik dilihat dari lapangan teoritis maupun dalam praktik penegakan hukum
pidana.
42
Ibid. Hal. 152.
43
Andi Hamzah, Op. cit. Hal. 214. Lihat juga Junitin Nainggolan, Peradilan Koneksitas dalam
https://www.scribd.com/doc/75761256/Peradilan-Koneksitas#
Menurut Prof Andi Hamzah yang dimaksud dengan Peradilan Koneksitas
adalah sistem peradilan terhadap tersangka pembuat delik penyertaan antara
orang sipil dengan orang militer.
Dengan demikian, maka sudah dapat dipastikan bahwa peradilan koneksitas
pasti menyangkut delik penyertaan antara yang dilakukan oleh orang sipil
44
bersama-sama dengan orang militer yang diatur dalam Pasal 56 dan 56 KUHP.
Jika terjadi penyertaan antara orang militer (yang tunduk kepada peradilan
militer) dan orang sipil (yang tunduk kepada peradilan umum), maka primus
interpares yang berwenang mengadili ialah pengadilan dalam lingkup peradilan
umum.45 Para tersangka (sipil bersama militer) diadili oleh pengadilan dalam
lingkungan peradilan militer, merupakan pengecualian.46Pengecualian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 UU No. 48 Tahun 2009 tentang
Kekuasaan Kehakiman yang telah menentukan kewenangan keputusan berada
pada Ketua Mahkamah Agung, sedangkan pada ketentuan Pasal 89 Ayat (1) UU
No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, Pasal 198 UU No. 31 Tahun 1997 tentang
Peradilan Militer berada pada Keputusan Menteri Pertahanan dan Keamanan
dengan persetujuan Menteri Kehakiman.
Menurut Rudy Satriyo, orang sipil yang bersama dengan militer melakukan
tindak pidana militer, adalah suatu hal yang tepat apabila diperiksa dan diadili
Pengadilan Militer. Karena orang sipil tersebut telah melakukan atau terlibat
dalam kasus tindak pidana militer. Ada tiga alasan yang dapat dijadikan alasan
mengapa mutlak diperlukan acara pemeriksaan koneksitas dalam Peradilan
Militer. Pertama, apabila tidak diperiksa dan diadili di lingkungan peradilan
militer, yang berarti akan memeriksa secara terpisah (splitsing ) 47 maka tidak
akan dapat membuktikan secara maksimal dan tidak akan mampu mencapai
kebenaran materiil yang diharapkan.

44
Jika terdapat kesamaan pendapat dalam tahap penyidikan Vide Pasal 90 UU No. 8 Tahun 1981
tentang KUHAP dan Pasal 199 UU No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer.
45
Ibid.
46
Menurut M. Yahya Harahap. Penyidikan dan Penuntutan. Edisi Kedua, (Jakarta : Sinar Grafika,
2015), Hal. 441-442.
47
Agustinus PH, Op.cit. Hal.99-100
Kedua, terdapat kejanggalan dalam praktik apabila perkara pertama untuk
terdakwa pertama sudah diputus, maka perkara kedua untuk terdakwa kedua
tinggal “idemnya”. Ketiga, akan terjadi penghilangan kebebasan dalam
memberikan keterangan untuk seseorang dalam posisi awalnya sebagai saksi dan
untuk terdakwa yang lain dan kemudian memberikan keterangan sebagai
terdakwa untuk kasusnya sendiri.
c. Memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Militer;
Keputusan Tata Usaha Militer merupakan produk hukum yang bersifat administrasi di
lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam rangka pelaksanaan fungsi untuk
pembinaan dan penggunaan TNI serta pengelolaan pertahanan keamanan negara, yang
dituangkan dalam bentuk penetapan tertulis oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha
Militer. Pejabat Tata Usaha Militer dalam menerbitkan suatu keputusan yang termasuk
dalam kualifikasi Tata Usaha Militer harus berisikan tindakan hukum yang berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan harus berkaitan dengan
penyelenggaraan pembinaan dan penggunaan TNI atau pengelolaan pertahanan
keamanan negara, baik itu di bidang personel, materiil, fasilitas dan jasa dan bersifat
kongkret, individual dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi orang atau badan
hukum perdata.48
Apabila kita menelaah defenisi diatas secara umum dapat kita simpulkan bahwa
kemungkinan kerugian yang ditimbulkan oleh suatu Keputusan Tata Usaha Militer bisa
saja terjadi, dan proses penyelesaiannya perlu diwadahi, mengingat TNI mempunyai
tata kehidupan Militer yang berbeda dengan Masyarakat sipil tentu penyelesaian
sengketa Tata Usaha Militer juga harus dilaksanakan sesuai dengan tata kehidupan di
lingkungan Militer. Berdasarkan UU No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer
maka sengketa Tata Usaha Militer diselesaikan melalui Pengadilan Militer Tinggi
untuk tingkat pertama dan Pengadilan Militer Utama untuk tingkat banding dengan

48
Faryatno Situmorang, Peradilan Tata Usaha Militer untuk Kepentigang
Militer,dalam
http://www.academia.edu/7605820/PERLUKAH_PERADILAN_TATA_USAH
A_MILITER_
cara orang atau Badan Hukum Perdata yang merasa dirugikan mengajukan Gugatan. 49
Selanjutnya dijelaskan dalam Ketentuan Penutup Pasal 353.
UU No.31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer yang selengkapnya berbunyi:
“Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan, khusus mengenai
Hukum Acara Tata Usaha Militer, penerapannya diatur dengan Peraturan Pemerintah
selambat-lambatnya 3 (tiga) tahun sejak Undang-undang ini diundangkan.”

UU No.31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer diundangkan sejak tangggal 15


Oktober 1997, namun seperti diketahui bersama bahwa hingga saat ini penyelesaian
sengketa Tata Usaha Militer belum juga dapat dilaksanakan.
d. Menggabungkan perkara gugatan ganti rugi dalam perkara pidana yang
bersangkutan atas permintaan dari pihak yang dirugikan sebagai akibat yang
ditimbulkan oleh tindak pidana yang menjadi dasar dakwaan, dan sekaligus memutus
kedua perkara tersebut dalam satu putusan.

49
Ibid.
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Makna kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman baik pada Mahkamah Agung


maupun Mahkamah Konstitusi dalam menegakan Kepastian dan Keadilan Hukum
adalah kemerdekaan untuk memutus perkara menurut pandangan hukum hakim tanpa
intervensi; kemerdekaan secara personal dalam hal jabatan dan hak yang harus
diperoleh oleh hakim,; kemerdekaan secara internal Kekuasaan Kehakiman seperti
pada atasan dan rekan kerja,; kemerdekaan dalam partisipasi pengadilan termasuk
dalam hal budget pengadilan; Kemudian independensi yang tak kalah pentingnya ialah
kebebasan atau kemerdekaan hakim dalam menfsirkan hukum. Dan independensi
kekuasaan kehakiman merupakan salah satu dasar untuk terselenggaranya pemerintah
yang demokratis di bawah rule of law.20
Dan mengingat profesi hakim merupakan suatu profesi officium nobile maka
harapanya dasar-dasar independensi yang diagungkan dalam menegakan hukum dan
keadilan dipertegas dalam konstitusi sebagai grandnorm dalam pelaksanaan kekuasaan
Kehakiman.
a) Peradilan Militer sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman dalam
menjalankan tugas dan fungsinya (memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara)
untuk menegakkan hukum dan keadilan dengan memperhatikan pertahanan dan
keamanan negara (kepentingan militer atau military nesecessity dan national interest
atau kepentingan bangsa dan negara)
b) Yurisdiksi badan-badan peradilan dalam lingkungan Peradilan Militer
mengadili tindak pidana yang dilakukan oleh :
1) militer;
2) yang berdasarkan undang-undang dipersamakan dengan militer;
3) anggota suatu golongan atau jawatan atau badan atau yang
dipersamakan atau dianggap sebagai militer berdasarkan undang-undang;
4) seseorang yang termasuk dalam perkara koneksitas;
5) sengketa Tata Usaha Militer;
DAFTAR PUSTAKA

1. Buku

Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Edisi Kedua, (Jakarta : Sinar Grafika,
2015).
Asshiddiqie, Jimly, 2007, Pokok-pokok Hukum Tata Negara Indonesia, PT Bhuana
ilmu popular, Jakarta.2010, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Sinar
Grafika, Jakarta.
Azhary, H.M. Tahir, 2003, Negara Hukum: Suatu Studi tentang Prinsip-Prinsipnya,
Dilihat dari Segi Hukum Islam, Implementasinya pada Periode Negara Madinah
dan Masa Kini. Kencana, Bogor.
Daud Busroh, Abu , 2001, Sistem Pemerintahan Republik Indonesia, Bina Aksara,
Jakarta.
Gultom, Binsar. Pelanggaran HAM dalam Hukum Keadaan Darurat di Indonesia.
Mengapa Pengadilan HAM Ad Hoc Indonesia Kurang Efektif? (Jakarta :
Gramedia Pustaka Utama, 2010) .
Harahap, M. Yahya. Pembahasan dan Permasalahan dan Penerapan KUHAP.
Penyidikan dan Penuntutan. Edisi Kedua, (Jakarta : Sinar Grafika, 2015)
HM Rasyid Ariman, Fahmi Raghib, Hukum Pidana. (Malang : Setara Press, Tahun
2015).
Hr, Ridwan, 2002 Hukum Administrasi Negara, PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Marpaung, Leden. Proses Penanganan Perkara Pidana (Penyelidikan & Penyidikan).
Bagian Pertama, Edisi Kedua. (Jakarta : Sinar Grafika, 20140.
Muhtadi, 2008, Pengawasan Hakim Indonesia,Tesis Magister Hukum Universitas
Andalas.
Mahfud MD, Moh, 2000, Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia, Rineka Cipta,
Jakarta.
Satjipto Raharho, Penegakan Hukum, Suatu Tinjauan Sosiologis (Yogyakarta: Genta
Publishing, 2009).
Sianturi, SR. Hukum Pidana Militer di Indonesia (Jakarta : Alumni AHM-PTHM,1985)
Soegiri SH, dkk. 30 Tahun Perkembangan Peradilan Militer di Negara Republik
Sudarsono.1992,KamusHukum,Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.Blacks law Dictionary,
Seven edition(USA: West group, 1999. Indonesia (Jakarta : CV. Indra Djaya,
1976).
Tambunan, ASS . Politik Hukum Berdasarkan UUD 1945 (Jakarta: Puporis Publisher
2002).
Tambunan, ASS. Hukum Disiplin Militer, Suatu Kerangka Teori (Jakarta: Pusat Studi
Hukum Militer STHM, 2005).
Tambunan, ASS. Hukum Militer Indonesia, Suatu Pengantar (Jakarta : Pusat Studi
Hukum Militer STHM, 2005).
Tiarsen Buaton, Peradilan Militer di Indonesia di Bawah Kekuasaan Makamah Agung
dalam Demi Keadilan. Antologi Hukum Pidana dan Sistem Peradilan Pidana,
Editor Jufrina Rizal, Suhariyono AR (Jakarta : Pustaka Kemang, 2016).

2. Jurnal, Makalah, Amanat, Internet

Amanat Ketua Mahakamah Agung Republik Indonesia pada Pelantikan Kelulusan


Program Pendidikan dan Latihan Calon Hakim Terpadu Angkatan I Lingkungan
Peradilan Militer Seluruh Indonesia, di Balitbangdiklatkumdil MARI, Bogor,
pada tanggal 29 September 2015.
Agustinus PH, Prospeksi dan Urgensi Acara Pemeriksaan Koneksitas dalam Jurnal
Hukum Militer, Volume I No.2 Nopember 2007, (Jakarta : Pusat Studi Hukum
Militer STHM, 2007).
http://sudiknoartikel.blogspot.com/2008/03/kemandirian-hakim-ditinjau-dari-
struktur.html
Fartyatno Situmorang, Peradilan Tata Usaha Militer untuk Kepentigang Militer,dalam
http://www.academia.edu/7605820/PERLUKAH_PERADILAN_TATA_USAH
A MILITER
Jurnal Konstitusi, PKKPUU-MKRI, Vol. 2, 2011.
Majalah Hukum VariaPeradilan,Tahun XX. No. 239, (Jakarta,2005) Saldi Isra,
Kekuasaan Kehakiman Yang Merdeka dan Bertanggung Jawab di Mahkamah
Agung, Jakarta 2010