Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

KARTOGRAFI II
“Pembuatan Peta Desa”

Rika Kartika
18/431147/TK/47740

DEPARTEMEN TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GEDJAH MADA
YOGYAKARTA
2020
A. Mata Acara

Pembuatan Peta Desa

B. Tujuan Praktikum

Mahasiswa dapat membuat peta desa


Mahasiswa dapat mengerti tata cara pembuatan suatu peta
Mahasiswa dapat mengerti layouting peta desa
Mahasiswa mengerti unsur-unsur dalam peta desa.

C. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Praktikum dilaksanakan pada:


Hari/Tanggal : Jum’at

Waktu : 13.00 – 15.30


Lokasi : Laboartorium Komputasi

D. Alat dan Bahan

Laptop
QGIS v3.10.2
Modul Praktikum
Citra Desa

E. Landasan Teori

Dalam rangka mewujudkan amanat nawacita dibutuhkan Peta Desa sebagai rujukan
bagi Kementrian/Lembaga serta Pemerintah Daerah dalam program pembangunan.
Peta desa adalah peta tematik bersifat dasar yang berisi unsur dan informasi batas
wilayah, infrastruktur transportasi, toponim, perairan, sarana prasarana, penutup
lahan dan penggunaan lahan yang disajikan dalam peta citra, peta sarana dan
prasarana, serta peta penutup lahan dan penggunaan lahan. Hal tersebut sesuai
dengan UU Nomor 6 Tahun 2016 tentang Desa, yang menjelaskan bahwa Desa
merupakan subjek dari pembangunan. Peraturan Kepala BIG Nomor 3 Tahun 2016
tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa merupakan peraturan yang
diterbitkan oleh Badan Informasi Geospasial untuk mengatur pembuatan sebuah
Peta Desa. Dengan terbitnya aturan tersebut maka dilakukan analisa terhadap Peta
Desa Beran yang digunakan sebagai media peningkatan status dari desa menjadi
kelurahan. Analisa dilakukan terhadap ukuran muka peta, interval grid peta,
spesifikasi tata letak, pewarnaan simbol peta, spesifikasi penulisan informasi peta,
dan keefektifan simbol yang digunakan pada Peta Desa Beran, Kabupaten Ngawi.
Hasil penelitian ini menunjukkan nilai ukuran muka peta dan susunan/spesifikasi
tata letak informasi peta desa yang digunakan oleh Peta Desa Beran masih belum
sesuai dengan Peraturan Kepala BIG Nomor 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi
Teknis Penyajian Peta Desa. Terdapat pula tiga objek di lapangan yang simbolnya
tidak diatur dalam Peraturan Kepala BIG Nomor 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi
Teknis Penyajian Peta Desa, yaitu Yayasan, Panti, dan Koperasi Simpan Pinjam
(KSP). Selain itu simbol yang ditampilkan pada Peta Desa Beran sebagai pengganti
objek yang ada di lapangan terlalu banyak, dikarenakan tidak semua objek pada
simbol tersebut dimiliki oleh Desa Beran.

F. Langkah Kerja
a) Membuat project dan shapefile baru
1. Membuat project baru.
2. Membuka basemap yang akan dijadikan acuan digitasi. Basemap yang
digunakan pada praktikum kali ini menggunakan file orthofoto. Klik
Tambah Lapisan lalu Add Raster La yer.

3. Membuka shapefile yang sudah tersedih dengan cara klik Add Layer lalu Add
Vektor Layer. Tambahkan data shapefile Bangunan Fasum, Batas
Administrasi, Jaringan Listrik, Sungai, dan Tower.
4. Membuat shapefile baru dengan cara klik Layer lalu Create Layer lalu New
Shapefile Layer

Melakukan pengaturan pada shapefile yang akan dibuat meliputi jenis


shapefile, sistem proyeksi dan lain-lain. Memberi nama shapefile.

5. Memilih layer yang akan didigitasi. Misalnya layer Sawah. Klik Toggle
Editing .
Klik tombol .
Melakukan digitasi sawah. Kemudian klik kanan, masukkan nomor ID lalu
klik OK.

6. Buatlah dan digitasi beberapa shapefile lainnya seperti sawah, kebun,


lahan terbuka, vegetasi non budidaya, tambak, makan, jalan, as jalan,
dll.

b) Melakukan simbolisasi sesuai dengan ketentuan pada Spesifikasi Teknik


Penyajian Peta Desa.

1. Misal untuk melakukan simbolisasi pada shapefile Batas Administrasi


dengan cara klik kanan lalu Properties, Simbologi lalu Atur
„Dikategorikan‟ kemudian Value diisi dengan Jenis lalu
Kelaskan/Klasifikasi.
2. Kemudian ganti simbol pada masing-masing kelas menjadi seperti ini

c) Langkah selanjutnya melakukan layouting sesuai dengan Spesifikasi


Teknis Penyajian Peta Desa.

F. Hasil dan Pembahasan

Hasil : ( Untuk hasil Terlampir)

Kartografi adalah studi dan praktik membuat peta atau globe. Artinya kartografi
selalu berhubungan serta membahas secara khusus tentang pembuatan peta serta
interpretasinya. Peta secara tradisional sudah dibuat menggunakan pena dan
kertas, tetapi munculnya dan penyebaran komputer sudah merevolusionerkan
kartografi. Peta desa tentu sama dengan peta lainnya, yaitu menggunakan bantuan
symbol kartografi untuk mewakili objek atau potensi yang dimiliki oleh desa
tersebut. Namun, pembuat peta desa yang berbeda – beda juga terkadang
menggunakan simbol kartografi yang berbeda pula. Maka menurut Peraturan
Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor 3 Tahun 2016 mengenai Spesifikasi
Teknis Penyajian Peta Desa, terkait dengan peraturan pemerintah tentang perlunya
pembuatan peta desa yang akurat, terintegrasi, dapat dipertanggungjawabkan, dan
memiliki standar kartografi yang sama antar peta desa, maka perlu adanya
Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa yang mengatur tentang penggunaan
simbol kartografi sehingga penggunaan simbol bisa seragam dan sama persis
walaupun pembuat petanya berbeda, serta dapat dijadikan acuan bagi para
pemangku kepentingan. Dalam praktikum ini mengacu pada Peraturan Kepala
BIG Nomor 3 Tahun 2016 mengenai Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa.
Adapun pelaksanan praktiukmdilakukan berdasarkan aturan mengenai skala dan
ukuran peta, penyajian peta citra, simbol, tata letak dan spesifikasi tata
letak peta, dan spesifikasi penulisan info peta.

G. Kesimpulan

Pembuatan Peta desa dibilang mudah jika mengetahui letak daerahnya dan
fitur-fitur yang terdapat di dalamnya.
Untuk membuat peta desa pada praktikum Kartografi II menggunakan
program QGIS untuk mendigitasi hasil citra yang telah diberikan oleh
asisten praktikum.
Dalam pembuatan peta desa di QGIS, ada 3 step yang harus dilakukan
oleh praktikan, yang pertama Registrasi, kedua digitasi, dan yang ketiga
Layouting.

H. Daftar Pustaka

Modul praktikum minggu-5 pembuatan peta desa Kartografi II.