Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI UMUM
“PENGENALAN MIKROBA (JAMUR)”
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Mikrobiologi Umum

Nama : Rizky Yanuar R


NIM : 4442190078
Kelas : II C
Kelompok : 4 (Empat)

JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2020
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum
ini yang berjudul “Sterilisasi” pada mata kuliah Mikrobiologi Umum.
Susunan laporan praktikum ini dimaksudkan agar dapat untuk mengetahui
fungsi dari alat-alat yang di gunakan dari proses sterilisasi dengan baik dan benar.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pak Julio Eiffelt Rossaffelt Rumbi,
SP., MP selaku Dosen Mikrobiologi Umum Serta Rahma Nurul Muslimah dan
Nurul Khalisya selaku Asisten Laboratorium yang membantu dan membimbing
penulis selama mengerjakan laporan ini. Penulis berharap kedepannya dapat
bertambah wawasan dan pengetahuannya.

Serang, Maret 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN .... ..................................................................................1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................1
1.2. Tujuan .........................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................2
2.1. Definisi Jamur (Fungi) ................................................................................2
2.2. Macam-macam Jamur .................................................................................2
2.3. Perkembangbiakan Jamur ...........................................................................3
2.4. Karakteristik Jamur .....................................................................................5
BAB III METODE PRAKTIKUM .......................................................................6
3.1. Tempat dan Waktu ......................................................................................6
3.2. Alat dan Bahan ............................................................................................6
3.3. Cara Kerja ...................................................................................................6
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................................7
4.1. Hasil ............................................................................................................7
4.2. Pembahasan .................................................................................................8
BAB V PENUTUP ................................................................................................11
5.1. Simpulan ...................................................................................................11
5.2. Saran ..........................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................12
LAMPIRAN ..........................................................................................................13

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Hasil Pengamatan Mikroba (Jamur) ..........................................................7

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Mikroorganisme, dalam lingkungan alamiahnya jarang terdapat sebagai
biakan murni. Berbagai specimen tanah atau air boleh jadi mengandung
bermacam-macam spesies cendawan, protozoa, alga, bakteri, dan virus. Baik
secara langsung maupun tak langsung, bahan buangan dari manusia dan
hewan, jasad mereka, serta jaringan tumbuh-tumbuhan dibuang atau dikubur
dalam tanah (Hadioetomo, 1993).
Diantara tumbuhan – tumbuhan rendah (bercahaya), maka golongan
ganggang alga dan golongan jamur merupakan kelanjutan daripada golongan
bakteri. Apakah golongan ganggang itu langsung menjadi golongana bakteri
ataukah jamur yang menjadi kelanjutan langsung dari bakteri. Hali ini sangat
sukar ditentukan. Peninjauan secara morfologi dan fisiologi menemukan
suatu golongan bakteri, yaitu ordo chlamydobacterialos, yang dapat
dipandang sebagai pangkal pertumbuhan golongan ganggang, hal mana dapat
diketahui dari sifat – sifatnya mengenai adanya lapisan lendir yang
mengelubungi tubuh organisme tersebut, akan tetapi pembiakannya dengan
menggunakan konidia itu lebih menggenangkan kepada sifat jamur (Lukas,
2006).
Selanjutnya golongan jamur itu demikian luasnya sehingga
penguasaannya dibidang ilmu pengetahuan memerlukan keahlian tersendiri
bidang itu disebut mikologi. Hanya jamur – jamur tingkat rendah masuk
dalam bidang mikrobiologi (Ima, 2012).
Yang melatarbelakangi percobaan ini agar dapat memahami dan mengerti
tentang fungi dan dapat membedakan jamur yang makropis dan mikropis.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui bentuk
mikroba secara mikropis dan makropis.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Jamur (Fungi)


Fungi adalah mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa atau sel
tunggal, eukariotik, berdinding sel dari kitin atau selulosa, berproduksi
seksual atau aseksual. Dalam dunia kehidupan fungi merupakan kingdom
tersendiri, karena cara mendapatkan makanannya berbeda dengan organisme
eukariotik lainnya yaitu melalui absorpsi (Alfi, 2013).
Sebagian besar tubuh fungi terdiri dari atas benang – benang yang disebut
hifa, yang saling berhubungan menjalin semacam jala yaitu miselium.
Miselium dapat dibedakan atas miselium vegetative yang berfungsi meresap
menyerap nutrient dari lingkungan, dan miselium fertile yang berfungsi
dalam reproduksi (Alfi, 2013).

2.2. Macam-macam Jamur


Fungi tingkat tinggi maupun tingkat rendah mempunyai cirri khas yaitu
berupa benang tunggal atau bercabang – cabang yang disebut hifa. Fungi
dibedakan menjadi dua golongan yaitu kapang dan khamir. Kapang
merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium, sedangkan
khamir merupakan fungi bersel tunggal da tidak berfilamen. Fungi
merupakan organisme menyerupai tanaman, tetapi mempunyai beberapa
perbedaan yaitu: (Pratiwi, 2008)
· Tidak mempunyai kolorofil
· Mempunyai dinding sel dengan komposisi berbeda
· Berkembang biak dengan spora
· Tidak mempunyai batang, cabang, akas dan daun
· Tidak mempunyai system vesicular seperti pada tanaman
· Bersifat multiseluler tidak mempunyai pembagian fungi masing -
masing bagian seperti pada tanaman.
Fungi ada yang bersifat parasit dan ada pula yang bersifat saprofit. Parasit
apabila dalam memenuhi kebutuhan makanannya dengan mengambil dari
benda hidup yang ditumpanginya, sedangkan bersifat saprofit apabila

2
memperoleh makanan dari benda mati dan tidak merugikan benda itu sendiri.
Fungi dapat mensintesis protein dengan mengambil sumber karbon dari
karbohidrat (misalnya glukosa, sukrosa, atau maltose), sumber nitrogen dari
bahan organic atau anorganik, dan mineral dari substratnya. Ada juga
beberapa fungi yang dapat mensintesis vitamin – vitamin yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan biakan sendiri, tetapi ada juga yang tidak dapat
mensintesis sendiri sehingga harus mendapatkan dari substrat, misalkan
tiamin dan biotin (Sodik, 1990).
Baik jamur yang bersahaja maupun jamur yang tingkat tinggi tubuhnya
mempunyai ciri yang khas, yaitu berupa benang tunggal bercabang – cabang
yang disebut miselium, atau berupa kumpulan benang – benang yang padat
menjadi satu. Hanya golongan ragi (sacharomycetes) itu tubuhnya berupa sel
– sel tunggal ciri kedua adalah jamur tidak mempunyai klorofil, sehingga
hidupnya terpaksa heterotrof. Sifat ini menguatkan pendapat, bahwa jamur itu
merupakan kelanjutan bakteri di dalam evolusi (Waluyo, 2005).
Golongan jamur mencakup lebih daripada 55.000 spesies, jumlah ini jauh
melebihi jumlah spesies bakteri. Tentang klasifikasinya belum ada ketentuan
pendapat yang menyeluruh diantara para sarjana taksonomi. Bakteri dan
jamur merupakan golongan tumbuh – tumbuhan yang tubuhnya tidak
mempunyai diferensiasi, oleh karena itu disebut tumbuhan talus (thallophyta),
lengkapnya thallophyta yang tidak berklorofil. Ganggang adalah thallophyta
yang berklorofil (Waluyo, 2005).

2.3. Perkembangbiakan Jamur


Jamur berbiak secara vegetative dan generative dengan berbagai macam
spora. Macam spora yang terjadi dengan tiada perkawinan adalah :
a) Spora biasanya yang terjadi karena protoplasma dalam suatu sel tertentu
berkelompok – kelompok kecil, masing – masing mempunyai membran serta
inti sendiri. Sel tempat terjadinya spora ini disebut sporangium, dan sporanya
disebut sporangiospora.
b) Konidiospora yaitu spora yang terjadi karena ujung suatu hifa berbelah –
belah seperti tasbih. Didalam hal ini tidak ada sporangium, tiap spora disebut

3
konidiospora atau konidia saja, sedang tangkai pembawa konidia
disebut konidiosfor.
c) Pada beberapa spesies, bagian – bagian miselium dapat membesar serta
berdinding tebal, bagian itu merupakan alat membesar serta berdinding tebal,
bagian itu merupakan alat pembiak yang disebut klamidiospora (spora yang
berkulit tebal).
d) Jika bagian – bagian miselium itu tidak menjadi lebih besar daripada aslinya,
maka bagian – bagian itu disebut artospora (serupa batu bata), oidiospora atau
oidia (serupa telur) saja (Wanmustafa, 2011).
Kebanyakan spesies jamur dapat membiak secara vegetative maupun
secara generatife. Pembiakan secara generative atau seksual dilakukan dengan
isogamete atau dengan heterogamete (arisogamet). Pada beberapa spesies
perbedaan morfologi antara jenis sel kelamin itu belum nampak sehingga
semuanya kita sebut isogamete, kadang – kadang kita beri tanda pengenal +
dan -, untuk membedakan jenisnya (Waluyo, 2005).
Pada beberapa spesies lain tampak adanya perbedaan mengenai besar
kecilnya gamet–gamet, sehingga untuk itu ada penyebutan mikrogamet (sel
kelamin jantan) dan makrogamet (sel kelamin betina). Di dalam keadaan yang
serba optimum, maka jamur membiak dengan cepat sekali. Hanya
kekeringanlah merupakan factor pembatas bagi pertumbuhannya (Sodik,
1990).
Fungi dapat ditemukan pada arena substrat, baik dilingkungan darat,
perairan, maupun udara. Tidaklah sulit menemukan fungi di alam, karena
bagian vegetativnya yang umumnya berupa miselium berwarna putih mudah
terlihat pada substrat yang membusuk (kayu lapuk, buah – buahan yang
terlalu masak, makanan yang membusuk). Konidianya atau tubuh buahnya
dapat mempunyai aneka warna (merah, hitam, jingga, kuning, krem, putih,
abu – abu, coklat, kebiru – biruan, dan sebagainya) pada daun , batang, kertas,
tekstil, kulit dan lain – lain. Tubuh buah fungi lebih mencolok karena
langsung dapat dilihat dengan mata kasat, sedangkan miselium vegetative
yang menyerap makanan hanya dapat dilihat dengan menggunakan
mikrosokop (Waluyo, 2005).

4
Spora kapang berproduksi secara aseksual dengan menghasilkan
arthokonidia, blastokonidia, klamisdospora, konidia, sporangiospora, dan
secara seksual dengan menghasilkan akospora, basidiospora dan zigospora.
Rizhoid adalah bentuk hifa vegetative mirip akar dari tumbuhan yang dapat
bercabang – cabang seperti jari – jari pada tangan, tetapi dapat juga berbentuk
sangat sederhana, yaitu hanya seperti jari tunggal. Perhatikan letak dari
rhizoid pada hifa, apakah langsung berhadapan dengan sporangiosfor atau
terdapat pada stolon (Waluyo, 2005).

2.4. Karakteristik Jamur


1. Kandungan air
Pada umumnya jamur benang lebih tahan terhadap kekeringan dibanding khamir
atau bakteri. Namun demikian, batasan (pendekatan) kandungan air totol pada
makanan yang baik untuk pertumbuhan jamur dapat diestimasikan, dan dikatakan
bahwa kandungan air dibawah 14 – 15 % pada biji – bijian atau makanan kering
dapat mencegah atau memperlambat pertumbuhan jamur.
2. Suhu
Kebanyakan jamur termasuk dalam kelompok mesofilik, yaitu dapat tumbuh pada
suhu normal. Suhu optimum untuk kebanyakan jamur sekitar 25O C – 30O C,
namun beberapa tumbuh baik pada suhu 25O C – 37O C atau lebih, misalnya pada
spesies Aspergilis.s.p.
3. Kebutuhan oksigen dan derajat keasaman
Jamur benang biasanya bersifat aerob, yang membutuhkan oksigen untuk
pertumbuhannya. Kebanyakan jamur dapat tumbuh pada interval PH yang luas
(PH 2.0 – 8.5), walaupun pada umumnya jamur lebih suka pada konidia asam.
4. Kebutuhan makanan (Nutrisi)
Jamur pada umumnya mampu menggunakan bermacam – macam makanan dari
yang sederhana sampai yang kompleks. Kebanyakan jamur memiliki bermacam –
macam enzim hidrolit, yaitu amylase, pektinose, proteinose, dan lipase (Waluyo,
2005).

5
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Tempat dan Waktu


Praktikum Pengenalan mikroba (Jamur) dilaksanakan pada hari Rabu 11
Maret 2020, Pukul 13.00 – 14.40 WIB. Bertempat di Laboratorium
Bioteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2. Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu mikroskop
binokuler, jarum pentul, pipet tetes, kaca preparat, penutup kaca preparat, dan
handspray. Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu
tisu, minyak emersi, roti (yang telah kadaluarsa), jamur oncom, tempe, dan
ragi.

3.3. Cara Kerja


Adapun cara kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini yaitu sebagai
berikut:
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum
pengenalan mikroba (jamur).
2. Diambil yang berada pada sampel dengan menggunakan jarum pentul,
kemudian diletakkan ke kaca preparat
3. Dituangkan minyak emersi sebanyak 1 tetes pada kaca preparat lalu di
tutup dengan cover glass.
4. Diamati dengan menggunkan mikroskop dengan perbesaran yang sesuai
sehingga jamur terlihat jelas.
5. Dibuat hasil dalam bentuk laporan.

6
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Tabel 4.1 Pengamatan Jamur
No. Gambar Keterangan
1. Nama jamur: Rhizopus stolonifer
Jenis jamur: Zygomycetes

Jamur pada Roti yang Telah


Kadaluarsa
2. Nama jamur: Rhizopus oligospora
Jenis jamur: Zygomycetes

Jamur pada Tempe

7
3. Nama jamur: Neurosphora
sitophila
Jenis jamur: Ascomycetes

Jamur pada Oncom


4. Nama jamur: Saccharomyces
cereviciae
Jenis jamur: Ascomycetes

Jamur pada Ragi

4.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan maka, Pengenalan Mikroba (Jamur) yang
kita lakukan menggunakan 4 sampel menggunakan Jamur oncom, jamur
tempe, jamur roti, jamur ragi. Jamur oncom (Neurospora sitophila), yang
mempunyai Kelas: Ascomycetes, Bentuk jamur: Filamen, Ciri lainnya: warna
orange, Perbesaran: 40 x 10. Nama Neurospora berasal dari kata neuron (=
sel saraf), karena guratan-guratan pada sporanya menyerupai bentuk akson.
Jamur oncom termasuk dalam kelompok kapang (jamur berbentuk filamen).
Sebelum diketahui perkembangbiakan secara seksualnya, jamur oncom

8
masuk ke dalam kelompok Deuteromycota, tetapi setelah diketahui fase
seksualnya (teleomorph), yaitu dengan pembentukan askus, maka jamur
oncom masuk ke dalam golongan Ascomycota.
Memiliki spora berbentuk seperti urat saraf berloreng-loreng, sering
terdapat pada produk-produk bakeri dan menyebabkan kerusakan sehingga
biasanya disebut bakery mold atau red bread-mold. Neurospora crassa juga
dikenal sebagai jamur oncom. Dalam proses fermentasi jamur ini berkembang
biak dan menjadikan makanan berwarna kuning-kemerahan. Jika jamur ini
menyerang laboratorium Mikologi atau bakteriologi sebagai kontaminan,
maka dapat menimbulkan bahaya pada kultur dan sangat sulit untuk
dihilangkan karena banyaknya jumlah konidia yang mudah menyebar yang
diproduksi dan karena pertumbuhannya yang sangat cepat.
Neurospora adalah organisme yang pertumbuhannya sangat cepat tetapi
askosporanya membutuhkan perlakuan khusus. Sel hifanya memiliki inti
banyak (multinukleat). Miseliumnya berpigmen dengan jumlah pigmen
bervariasi, tergantung substratumnya.
Tempe (Rhizopus Oryzae), mempunyai Kelas: Zygomicota, Bentuk
jamur: Kecambah, Ciri lainnya: warna putih, dengan Perbesaran: 40 x 10.
Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa
kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia.
Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Berbagai
macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika
untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif.
Secara umum, tempe berwarna putih karena pertumbuhan miselia kapang
yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat.
Degradasi komponen-komponen kedelai pada fermentasi membuat tempe
memiliki rasa dan aroma khas. Berbeda dengan tahu, tempe terasa agak
masam.
Roti (Rhizopus stolonifer), mempunyai Kelas: Zygomicota, Bentuk
jamur: Lendir, Ciri lainnya: Warna Jingga, dengan Perbesaran: 10 x 4.
Rhizopus stolonifer merupakan salah satu dari jenis jamur Zygomycota. Jenis
jamur ini memiliki hifa pendek bercabang-cabang dan berfungsi sebagai akar

9
(rizoid) untuk melekatkan diri serta menyerap zat-zat yang diperlukan dari
substrat. Selain itu, terdapat pula sporangiofor (hifa yang mencuat ke udara
dan mengandung banyak inti sel, di bagian ujungnya terbentuk sporangium
(sebagai penghasil spora), serta terdapat stolon (hifa yang berdiameter lebih
besar daripada rizoid dan sporangiofor).
Rhizopus stolonifer mempunyai beberapa karakteristik diantaranya: dapat
tumbuh pada suhu 5oC – 37oC, tetapi pertumbuhan optimumnya yaitu pada
suhu 25oC. AW berkisar pada 0,93 tetapi di laboratorium telah terjadi
pertumbuhan pada MY50G agar mudah (0,89 aw) seperti beberapa lainnya
mucorales, Jamur Ryzhopus stolonifer dapat tumbuh di bawah suatu kondisi
yanganaerobik.
Rhizopus stolonifer dapat hidup / tumbuh pada roti atau buah-buahan lunak.
Dalam hal ini Rhizopus stolonifer terutama banyak dijumpai pada roti dan
menyebabkan kerusakan pada roti tersebut. Hal tersebut dikarenakan spora
tersebut berada pada udara, tanah ataupun diri kita, yang kemudian apabila
jatuh pada roti maka spora tersebut akan tumbuh dengan sangat cepat.
Ragi (Saccharomyces cerevisiae), memiliki Kelas: Saccharomycetes,
Bentuk jamur: Bulat, Ciri lainnya: warna Putih Keruh, dengan Perbesaran: 10
x 4. Struktur Saccharomyces cerevisiae terdiri dari sel anak, budding dan sel
induk, serta berwarna putih keruh dan bagian tengah yang berwarna
kehitaman. Tepi berbentuk entire, dan permukaan halus. Koloninya berwarna
putih keruh, permukaaan dan tepinya rata. Saccharomyces
cerevisiae mikroorganisme eukaryotic dengan diameter 5-10 µm,
reproduksinya melalui proses difusi yang dikenal sebagai budding.
Saccharomyces cerevisiae adalah spesies dari ragi.
Sel Saccharomyces berbentuk bulat telur, dengan diameter 5-10 mikrometer.
Saccharomyces merupakan genus khamir/ragi/yeast yang memiliki
kemampuan mengubah glukosa menjadi alkohol dan CO2.
Saccharomyces merupakan mikroorganisme bersel satu tidak berklorofil,
termasuk termasuk kelompok Eumycetes.Tumbuh baik pada suhu 30 °Cdan
pH 4,8. Beberapa kelebihanSaccharomyces dalam proses fermentasi yaitu
mikroorganisme ini cepat berkembang biak, tahan terhadap kadar alkohol

10
yang tinggi, tahan terhadap suhu yang tinggi, mempunyai sifat stabil dan
cepat beradaptasi dengan lingkungannya.
Beberapa spesies Saccharomyces mampu memproduksi ethanol hingga 13.01
%. Hasil ini lebih bagus dibanding genus lainnya seperti Candida dan
Trochosporon. Pertumbuhan Saccharomyces dipengaruhi oleh adanya
penambahan nutrisi yaitu unsur C sebagai sumber carbon, unsur N yang
diperoleh dari penambahan urea, ZA, amonium dan pepton, mineral dan
vitamin. Suhu optimum untuk fermentasi antara 28 – 30 °C. Saccharomyces
cerevisiae dapat survive dan tumbuh dalam bentuk haploid dan diploid. Sel
haploid adalah simple siklus hidup dalam fase mitosis dan pertumbuhan, dan
jika berada dalam kondisi lingkungan yang stress akan mati. Sel diploid
adalah simple siklus hidup dalam fase mitosis dan pertumbuhan, tetapi jika
berada dalam kondisi lingkungan yang stress mengalami sporulasi, memasuki
meiosis dan menghasilkan sebuah varietas dari spora haploid yang dapat
melaukan konjugasi, kembali ke bentuk diploid.

11
BAB V
PENUTUP

5.1. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan serta pembahasan yang ada, maka
diperoleh simpulan bahwa, Mikroba (Jamur) Ciri – cirri jamur fungi adalah
uniseluler, atau multi seluler (benang haus), tersusun atas hifa, eukariotik,
tidak mempunyai klorofil, dinding selnya terdiri atas tet keton, cadangan
makanan tersimpan dalam bentuk glikogen dan protein. Fungi bukan autotrof
seperti tumbuhan melainkan heterotrof sehingga lebih dekat ke hewan. Usaha
menyatukan fungi dengan hewan pada golongan yang sama juga gagal karena
fungi mencerna makanannya di luar tubuh (eksternal), tidak seperti hewan
yang mencerna secara internal. Selain itu, sel-sel fungi berdinding sel yang
tersusun dari kitin, tidak seperti sel hewan.
Ada dua jenis jamur yaitu jamur mikropis dan jamur makropis, jamur
mikropis yaitu jamur yang hanya bisa dilihat dengan bantuan mikroskop,
contohnya, jamur tempe (Rhizopus Oryzae), jamur Oncom (Neurospora
sitophila), dan jamur Ragi (Saccharomyces cerevisiae).
Sedangkan jamur makropis yaitu jamur yang bisa dilihat dengan mata
telanjang (tanpa menggunakan mikroskop). Contohnya jamur roti (Rhizopus
stolonifer).

5.2. Saran
Saran yang dapat diberikan adalah setiap praktikan harus menjaga
kebersihan diri, alat dan ruang laboratorium. Praktikan juga diharapkan
bekerja dengan teliti. Ketika percobaan berlangsung praktikan harus bisa
menjaga keselamatan, jangan egois, serta sesama praktikan tidak boleh
bercanda ketika praktikum sedang berlangsung.

12
DAFTAR PUSTAKA

Alfi. 2013. Alam Sekitar IPA Terpadu untuk SMP/MTs Kelas 9. Jakarta:
Erlangga.
Hadioetomo. 1993. Mikroorganisme. Jakarta: Djambatan.
Ima. 2012. ”Jenis Mikroorganisme sumber Kontaminasi Kultur In Vitro Di
Sub-Lab. Biologi Laboratorium Mipa Pusat Uns”. Biodiferitas. Vol. 2
No. 1 Hal 21- 23.
Lukas. 2006. Mikroba dan Jamur. Kartika. Surabaya : Erlangga.
Pratiwi. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Erlangga.
Sodik. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: PT. Grammedia.
Waluyo. 2005. Mikrobiologi Jamur. Jurnal sains Vol 3 No 4 Hal 8-12.
Wanmustafa. 2011. Aktivitas Enzim Lignin Peroksidase Oleh Gliomastix Sp. T3-
7 Pada Jamur. Jurnal Sains Dan Semi Pomits. Vol 2 No 1 Hal 1-5.

13