Anda di halaman 1dari 4

1.

Manifestasi klinis
Manifestasi klinik ada yang mengalami gejala asimptomatik dan gejala simptomatik.
Gejala dapat disebabkan oleh penyakit kandung empedu itu sendiri dan gejala yang terjadi
akibat obstruksi pada jalan perlintasan empedu oleh batu empedu. Gejalanya bisa bersifat akut
atau kronis. Gangguan epigastrium, seperti rasa penuh, distensi abdomen dan nyeri yang
samar pada kuadran kanan atas abdomen dapat terjadi. Gangguan ini dapat terjadi bila
individu mengkonsumsi makanan yang berlemak atau yang digoreng.
Gejala yang mungkin timbul pada pasien kolelitiasis adalah nyeri dan kolik bilier,
ikterus, perubahan warna urin dan feses dan defisiensi vitamin. Pada pasien yang mengalami
nyeri dan kolik bilier disebabkan karena adanya obstruksi pada duktus sistikus yang
tersumbat oleh batu empedu sehingga terjadi distensi dan menimbulkan infeksi. Kolik bilier
tersebut disertai nyeri hebat pada abdomen kuadran kanan atas, pasien akan mengalami mual
dan muntah dalam beberapa jam sesudah mengkonsumsi makanan dalam posi besar. Gejala
kedua yang dijumpai pada pasien kolelitiasis ialah ikterus yang biasanya terjadi pada
obstruksi duktus koledokus. Salah satu gejala khas dari obstruksi pengaliran getah empedu ke
dalam duodenum yaitu penyerapan empedu oleh darah yang membuat kulit dan membran
mukosa berwarna kuning sehingga terasa gatal-gatal di kulit. Gejala selanjutnya terlihat dari
warna urin yang berwarna sangat gelap dan feses yang tampak kelabu dan pekat. Kemudian
gejala terakhir terjadinya defisiensi vitamin atau terganggunya proses penyerapan vitamin A,
D, E dan K karena obstruksi aliran empedu, contohnya defisiensi vitamin K dapat
menghambat proses pembekuan darah yang normal.

2. Kriteria Diagnosis
Sepuluh sampai 15 persen yang menjalani kolesistektomi batu empedu akan
mempunyai batu dalam duktus koledokus juga. Sebaliknya hampir semua pasien
koledokolitiasis menderita batu empedu bersamaan dalam vesika biliaris. Insiden
koledokolitiasis pada waktu kolesistektomi meningkat bersama usia, sekitar 3% diantara usia
20 dan 40 tahun serta meningkat ke 25 persen diantara usia 60 dan 80 tahun. 3
Batu duktus koledokus bisa berjalan asimtomatik ke dalam duodenum atau bisa tetap
di dalam batang saluran empedu selama beberapa bulan atau tahun tanpa menyebabkan
gejala. Tetapi koledokolitiasis sering merupakan sumber masalah yang sangat serius karena
komplikasi mekanik dan infeksi yang mungkin mengancam jiwa. Batu duktus koledokus
disertai dengan bakterobilia dalam lebih dari 75 persen pasien serta dengan adanya obstruksi
saluran empedu, dapat timbul kolangitis akuta.3
Pada kolangitis akuta dapat menyebabkan abses hati . Migrasi batu empedu kecil
melalui ampula Vateri sewaktu ada saluran umum di antara duktus koledokus distal dan
duktus pankreatikus dapat menyebabkan pankreatitis batu empedu. Tersangkutnya batu
empedu dalam ampula akan menyebabkan ikterus obstruktif. Obstruksi saluran empedu
subklinis kronika berahir dengan sirosis bilier sekunder. 3
Keseriusan penyajian klinis ditemukan oleh derajat dan lama obstruksi saluran
empedu serta luas infeksi sekunder. Walaupun koledokolitiasis sering asimptomatik, sewaktu
gejala timbul sering kolik empedu koledokolitiasis tidak dapat dibedakan dari kolelitiasis.
Tetapi demam yang memuncak, kedinginan, dan ikterus menggambarkan adanya batu duktus
koledokus dan kolangitis akuta. Umumnya koledokolitiasis tidak menyebabkan obstruksi
lengkap.

Pada pemeriksaan yang digunakan untuk menegakkan diagnosis


koledokolithiasis dapat ditemukan :

a. Inspeksi yaitu melihat keadaan fisik pasien apakah terdapat tanda-tanda abnormal
seperti :
- Pasien kelihatan sakit yang amat sangat dengan memegang perut yang
artinya menandakan adanya nyeri kholik abdomen.
- Kulit kelihatan kekuningan mengindikasikan adanya ikterus.
- Frekuensi pernapasan 24 x/mnt menunjukkan sakit yang mungkin disertai
oleh peradangan.
b. Palpasi yaitu meraba dibagian abdomen :
- Jika sakit dibagian kuadran kanan atas, indikasikan penyakit yang
berhubungan dengan hepatobilier.
- Suhu badan yang terasa panas, menunjukkan pasien demam yang
berkemungkinan peradangan dibagian yang sakit.
- Untuk memastikan lakukanlah murphy sign, jika positif mengindikasikan
pasien sakit dibagian empedu atau saluran empedu.
c. Pemeriksaan laboratorium :

- Peningkatan hitung sel darah putih menimbulkan kecurigaan terhadap adanya


peradangan atau infeksi, tetapi temuan tersebut tidak merupakan hasil yang
spesifik.
- Peningkatan serum bilirubin menunjukkan terdapatnya gangguan pada
duktus koledokus; semakin tinggi kadar bilirubin, semakin mendukung
prediksi. Batu pada duktus koledokus hadir di sekitar 60% dari pasien dengan
kadar bilirubin serum lebih dari 3 mg / dL.
- Peningkatan kadar lipase dan amilase serum mengarah kepada terdapatnya
pankreatitis akut sebagai komplikasi dari koledokolitiasis.
- Enzim transaminase (serum glutamic-piruvat transaminase dan serum
glutamic transaminase-oksaloasetat) meningkat pada pasien yang terdapat
koledokolitiasis disertai komplikasi kolangitis, pankreatitis, atau keduanya.
- Alkali fosfatase dan gamma-glutamil transpeptidase meningkat pada pasien
dengan koledokolitiasis obstruktif. Hasil kedua tes tersebut memiliki nilai
prediksi yang baik terhadap kehadirannya batu pada duktus koledokus.
d. USG (Ultrasonografi) merupakan uji terbaik dalam mendeteksi adanya batu
empedu dengan teknik radiologi yang menggunakan gelombang suara frekuensi
tinggi untuk menghasilkan gambar organ dan struktur tubuh. Gelombang suara
yang dipancarkan dari sebuah alat yang disebut transducer dan dikirim melalui
jaringan tubuh. Gelombang suara yang dipantulkan oleh permukaan dan bagian
interior organ internal dan struktur tubuh sebagai "gema." Gema tersebut
menggemakan kembali ke transducer dan ditransmisikan secara elektrik ke
tampilan monitor. Dari monitor, sosok organ dan struktur dapat ditentukan serta
konsistensi organ, misalnya, cair atau padat.
e. Endoscopic Retrograde Cholangio-Pancreatography (ERCP) merupakan sebuah
endoskopi yang tipis dan fleksibel digunakan untuk melihat bagian-bagian dari
sistem empedu pasien. Pasien dibius, dan tabung masuk melalui mulut, melewati
perut dan ke usus kecil. Alat tersebut kemudian menyuntikkan pewarna sementara
ke dalam saluran empedu. Pewarna tersebut memudahkan untuk melihat batu
dalam saluran ketika foto sinar-X diambil. Pada keadaan tertentu batu dapat
dihilangkan selama prosedur ini.
f. Magnetic Resonance Cholangio-Pancreatography (MRCP) merupakan teknik
pencitraan menggunakan gama magnet tanpa zat kontras, instrument, dan radiasi
ion. Pada MRCP, saluran empedu yang terlihat terang karena intensitas sinyal
yang tinggi, sedangkan batu saluran empedu akan terlihat dengan intensitas sinyal
rendah yang dikelilingi empedu yang intensitasnya tinggi. Maka, metode ini
sangat cocok untuk mendeteksi batu saluran empedu.
DAFTAR PUSTAKA :

1. Welsby PD. Pemeriksaan fisik dan anamnesis klinis. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2010.h. 77,80-8.
2. Hayes PC, Mackay TW. Buku saku diagnosis dan terapi. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.2007.h.163-5.
3. Houghton RA, Gray D. Gejala dan tanda alarm dalam kedokteran klinis. Hati dan
bilier. Jakarta; PT Indeks. 2012.h.127-59.
4. Amelia, Sandra. 2013. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan
Pada Pasien Kolelitiasis di Ruang Bedah Lantai 5 RSPAD Gatot Soebroto. Depok: Fakultas
Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia