Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI UMUM
“MEDIA TUMBUH”
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Mikrobiologi Umum

Nama : Rizky Yanuar R


NIM : 4442190078
Kelas : II C
Kelompok : 4 (Empat)

JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2020
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi
sedikit sekali yang kitaingat.Segala puji hanya layak untuk Allah atas segala
berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga
saya dapat menyelesaikan tugas hasil laporan Praktikum ini.
Laporan yang berjudul “Media Tumbuh” Meskipun saya berharap isi dari
laporan praktikum saya ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu
ada yang kurang.Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar tugas Laporan praktikum ini dapat lebih baik lagi.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pak Julio Eiffelt Rossaffelt
Rumbi, SP., MP selaku Dosen Mikrobiologi Umum Serta Rahma Nurul Muslimah
dan Nurul Khalisya selaku Asisten Laboratorium yang membantu dan
membimbing penulis selama mengerjakan laporan ini

Serang, Februari 2020

Penulis

1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Semua makhluk hidup membutuhkan nutrien untuk pertumbuhan dan
reproduksinya. Untuk mengembangbiakkan mikroba dibutuhkan suatu subtrat
yang disebut medium dan nutrien yang merupakan bahan baku untuk
membangun komponen-komponen baru untuk menghasilkan energi yang
dibutuhkan dalam proses kehidupan sel.
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri
atas campuran nutrisi (nutrient) yang digunakan oleh suatu mikroorganisme
untuk tumbuh dan berkembangbiak pada media tersebut. Mikroorganisme
memanfaatkan nutrisi pada media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit
untuk menyusun komponen sel-nya. Dengan media pertumbuhan juga bisa
digunakan untuk mengisolasi mikroorganisme, identifikasi dan membuat
kultur murni. Komposisi media pertumbuhan dapat dimanipulasi untuk tujuan
isolasi dan identifikasi mikroorganisme tertentu sesuai dengan tujuan masing-
masing pembuatan suatu media. Media adalah suatu bahan yang terdiri dari
campuran zat-zat hara (nutrient) yang berguna untuk membiakkan mikroba.
Dengan mempergunakan bermacam-macam media dapat dilakukan isolasi,
perbanyakan, pengujian sifat-sifat fisiologis dan perhitungan jumlah mikroba.
Media tumbuh bagi mikroba memiliki keragaman. keragaman dalam hal tipe
nutrisi tergantung mikroba yang mengimbanginya. Sumber nutrien bisa
berasal dari alamiah maupun buatan seperti campuran zat-zat kimiawi. Media
dituang kedalam wadah-wadah selain sesuai juga disterilkan sebelum
digunakan. PH medium perlu disesuaikan dan ditentukan dengan nilai yang
optimum bagi pertumbuhan mikroba (Budhiyanto, 2012).
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri atas
campuran nutrisi yang digunakan oleh suatu mikroorganisme untuk tumbuh
dan dan berkembangbiak pada media tersebut. Bakteri memanfaatkan nutrisi
pada media berupa molekul-molekul kecil yang di rakit untuk menyusun
komponen sel nya. Dengan media pertumbuhan juga bisa digunakan untuk
mengisolasi mikroorganisme, identifikasi, dan membuat kultur murni.

2
Komposisi media pertumbuhan dapat di manipulasi untuk tujuan isolasi dan
identifikasi mikroorganisme tertentu sesuai dengan tujuan masing-masing
pembuatan media tersebut (Gunawan, 2008).
Perlu kita ketahui pembuatan media didasarkan pada fungsi, komposisi
media, dan konsistensinya sehingga dalam kultur atau media yang dibuat
dapat menumbuhkan mikroba dengan baik dan sesuai dengan yang
diharapkan. Yang melatar belakangi praktikum pembuatan media adalah agar
praktikan dapat menambah pengetahuan mengenai cara pembuatan medium
pertumbuhan mikroba.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini ialah untuk mengetahui
komposisi dan cara pembuatan media tumbuh mikroorganisme.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Media Pertumbuhan


Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat hara
(nutrient) yang berguna untuk membiakkan mikroba. Dengan
mempergunakan bermacam-macam media dapat dilakukan isolasi,
perbanyakan, pengujian sifat-sifat fisiologis dan perhitungan jumlah mikroba.
Media biakan adalah bahan atau campuran bahan yang dapat digunakan untuk
membiakkan mikroorganisme, karena memiliki daya juang yang tinggi
terhadap tumbuhan dan perkembang biakkannya. Mikroorganisme ataupun
mikroba adalah mikro organism yang berperan sangat kecil sehingga untuk
mengamatinya diperlukan alat bantu. Mikroorganisme disebut juga organism
mikroskopik. Mikroorganisme sering kali bersel tunggal (uniseluler) maupun
bersel banyak (multiseluler). Namun beberapa protista bersel tunggal masih
terlihat oleh mata telanjang dan ada beberapa spesies multisel tidak dapat di
lihat dengan mata telanjang (Novel, 2012).
Medium adalah substansi yang terdiri atas campuran zat-zat makanan
(nutrient) yang dipergunakan untuk pemeliharaan dan pertumbuhan
mikroorganisme. Mikroorganisme juga merupakan mahluk hidup, untuk
memeliharanya dibutuhkan medium yang harus mengandung semua zat yang
diperlukan untuk pertumbuhannya, yaitu antara lain senyawa-senyawa
organik (protein, karbohidrat, lemak, mineral, dan vitamin). Medium
digunakan untuk melihat gerakan dari suatu gerakan mikroorganisme apakah
bersifat motil atau nonmotil, medium ini ditambahkan bahan pemadat 50%
(Hadietomo, 1993).
Suatu medium yang mengandung substansi kompleks seperti ekstrak
daging, trifton, darah dan juga dapat disebut medium buatan atau medium
kompleks. Sebagai lawannya kita aduk medium yang masing-masing medium
yang ditentukan. Medium sintetik mungkin sangat rumit atau atau sangat
berbeda sesuai dengan mikroorganisme tertentu yang hendak ditumbuhkan
untuk sebagian besar medium sintetik hanya digunakan untuk pertumbuhan

4
mikroorganisme dilaboratorium penelitian. Banyak medium saringan lain
yang serupa dengan kaldu yang mengandung makanan (Pelozar, 1996).
Mikroorganisme dapat menggunakan makanan dalam bentuk padat dan
dapat pula yang hanya menggunakan bahan-bahan dalam bentuk cairan atau
larutan. Mikroorganisme yang menggunakan makanannya dalam bentuk
padat tergolong tipe holozoik. Mikroorganisme yang dapat menggunakan
makanannya dalam bentuk cairan atau larutan disebut holofitik. Ada beberapa
mikroorganisme yang dapat menggunakan makanannya dalam bentuk
padatan, tetapi makanan tersebut sebelumnya harus dicerna, di luar sel
dengan bantuan enzim ekstraseluler (Iptek, 2009).
Peran utama nutrien adalah sebagai sumber energi, bahan pembangun
sel, dan sebagai aseptor elektron dalam reaksi bioenergetik (reaksi yang
menghasilkan energi). Oleh karenanya bahan makanan yang diperlukan
terdiri dari air, sumber energi, sumber karbon, sumber aseptor elektron,
sumber mineral, faktor pertumbuhan, dan nitrogen. Selain itu, secara umum
nutrien dalam media pembenihan harus mengandung seluruh elemen yang
penting untuk sintesis biologik oranisme baru (Arfiandi, 2009).
Tiap sel harus mensintesis sendiri konstituen tubuhnya dari zat-zat
sederhana yang ditemukan dalam lingkungannya. Kebanyakan dari zat-zat ini
berupa makanan dalam bentuk suspensi atau larutan yang ditemukan dalam
air laut, sungai, danau, air selokan, atau bahan-bahan organik lain yang
mengalami penguraian, dan sebagainya. Sifat kimia dan fisika dari habitat
ini menentukan jenis organisme yang dapat tumbuh atau hidup di lingkungan
itu (Widya, 2009).
Medium ialah suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi (zat
makanan) yang dipakai untuk menumbuhkan mikroba termasuk bakteri
patogen tanaman. Selain itu menumbuhkan mikroba medium dapat digunakan
pula untuk isolasi, memperbanyak, pengujian sifat-sifat fisiologi dan
perhitungan jumlah mikroba (Khaeruni, 2014).
Medium harus mengandung nutrien yang merupakan substansi dengan
berat molekul rendah dan mudah larut dalam air. Nutrien ini adalah degradasi
dari nutrien dengan molekul yang kompleks. Nutrien dalam medium harus

5
memenuhi kebutuhan dasar makhluk hidup, yang meliputi air, karbon, energi,
mineral dan faktor tumbuh (Label, 2008).
Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat hara
(nutrien) yang berguna untuk membiakkan mikroba. Dengan menggunakan
bermacam-macam media dapat dilakukan isolasi, perbanyakan, pengujian
sifat fisiologis dan perhitungan sejumlah mikroba. Supaya mikroba dapat
tumbuh baik dalam suatu media, maka medium tersebut harus memenuhi
syarat-syarat (Sutedjo, 1991) antara lain:
1. harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan oleh
mikroba
2. harus mempunyai tekanan osmosis
3. tegangan permukaan dan pH yang sesuai dengan kebutuhan mikroba
yang akan tumbuh
4. tidak mengandung zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan
mikroba
5. harus berada dalam keadaan steril sebelum digunakan, agar mikroba
yang ditumbuhkan dapat tumbuh dengan baik
Saat ini media agar merupakan media yang sangat umum digunakan
dalam penelitian-penelitian mikrobiologi. Media agar ini memungkinkan
untuk dilakukannya isolasi bakteri dari suatu sampel, karakterisasi morfologi,
sampai penghitungaan bakteri yang dikenal dengan nama total plate count.
Bentuk koloni bakteri dan warna-warninya mudah sekali dikenali dengan
media ini dengan cara mengubah komposisi nutrien atau menambahkan
indikator. Komposisi media bakteri dapat dimodifikasi sehingga dapat
digolongkan menjadi media umum, media selektif (bakteri tertentu saja yang
dapat tumbuh) dan media diferensial (bakteri tumbuh dengan memberikan
ciri-ciri tertentu) (Achmad, 2007).
Media alamiah, misalnya susu skim, tidak begitu sulit di dalam
penyiapannya sebagai media pertumbuhan mikroba, karena hanya cukup
dengan dituang ke dalam wadah yang telah disterilkan. Media dalam bentuk
kaldu nutrien atau yang mengandung agar, disiapkan dengan cara melarutkan
masing-masing bahan yang dibutuhkan atau lebih mudah lagi dengan cara

6
menambahkan air pada suatu produk komersial berbentuk medium bubuk
yang sudah mengandung semua nutrien yang dibutuhkan. Pada praktisnya,
semua media tersebut secara komersial dalam bentuk bubuk, seperti PCA
(Plate Count Agar), NA (Nutrient Agar), TSA (Trypticase Soy Agar) dan
lain-lain. Bakteri, dari kata latin bacterium (jamak, bacteria) adalah kelompok
raksasa dari organisme hidup, mereka sangatlah kecil (mikroskopik) dan
kebanyakan uniseluler (bersel tunggal), dengan struktur sel yang relatif
sederhana tanpa nukleus (inti sel), dan organik lain seperti mitokondria dan
kloroplas. Karena bakteri merupakan prokariot, untuk membedakan dengan
organisme lain yang memiliki sel yang lebih kompleks, disebut eukariot.
Bakteri adalah yang paling berkelimpahan dari semua organisme. Mereka
tersebar (berada dimana-mana) di tanah, air dan sebagai simbiosis dari
organisme lain. Banyak patogen merupakan bakteri. Kebanyakan dari mereka
kecil, biasanya berukuran 0.5 – 5 µm, meskipun akan ada juga jenis yang
dapat menjangkau 0.3 mm dalam diameter (Thiomargarita) (Rachdie, 2006).

2.2 Agar-Agar Dalam Media


Agar-agar, gelatin atau gel silika merupakan bahan untuk membuat
medium menjadi padat. Namun, yang paling umum digunakan adalah agar-
agar. Meskipun bahan utama agar-agar adalah gelatin, yaitu suatu kompleks
karbohidrat yang diekstraksi dari alga marin genus Gelidium, namun sebagian
besar mikroorganisme tidak dapat menggunakannya sebagai makanan
sehingga agar-agar dapat berlaku hanya sebagai pemadat (Hadioetomo,
1993).
Fungsi utama agar-agar adalah sebagai bahan pemantap, pengemulsi,
penstabil, pengisi, penjernih, pembuat gel, dan lain-lain. Beberapa industri
yang memanfaatkan sifat kemampuan membentuk gel dari agar-agar adalah
industri makanan, farmasi, kosmetik kulit, fotografi, dan sebagai media
penumbuh bakteri (Distantina, 2008).
Agar merupakan kompleks polisakarida linier yang mempunyai berat
molekul 120.000 dalton, tersusun atas beberapa jenis polisakarida yang
terkandung dalam agar antara lain 3,6 – anhidro-L-galaktosa, D-

7
galaktopiranosa dan sejumlah kecil gugus metal D-galaktosa (Asadatun,
2004).
Agar mengandung agarose yang merupakan polisakarida netral (tidak
bermuatan) dan agaropektin yang merupakan polisakarida bermuatan sulfat
(Rosulva, 2008).
Agar adalah karbohidrat dengan berat molekul tinggi yang mengisi
dinding sel rumput laut. Agar tergolong kelompok pektin dan merupakan
suatu polimer yang tersusun dari monomer galaktosa (Rosulva, 2008).
Agarosa adalah komponen pembentuk gel yang utama. Sifat gel agar
sangat dipengaruhi oleh suhu, konsentrasi, pH, kandungan gula, dan
kandungan ester sulfat. Penurunan pH akan menyebabkan kekuatan gel
semakin berkurang. Dengan semakin tinggi kandungan gula akan
menyebabkan gel menjadi keras dengan kepadatan tekstur yang lebih rendah.
Gel agar bersifat Thermo reversible. Bila gel agar dipanaskan melewati titik
cairnya maka gel akan mencair, tetapi bila larutan agar ini dibiarkan menjadi
dingin maka akan terbentuk kembali gel agar tersebut (Rosulva, 2008).
Agar tidak larut dalam air dingin, tetapi larut dalam air panas. Pada suhu
32-39 ºC berbentuk gel dan tidak meleleh dibawah suhu 85ºC. Agar dengan
kemurnian tinggi tidak larut pada suhu 25ºC, larut dalam air panas, etanol
amida, dan formida. Gel agar bersifat cukup stabil, gel yang dibuat dari agar
dengan kekuatan gel yang tinggi dapat memiliki kestabilan yang sama dengan
agar kering jika disterilisasi dan disimpan di tempat yang kedap udara. Gel
agar lebih stabil dibandingkan gel dari koloid alami lain karena hanya ada
sedikit mikroorganisme dan enzim yang dapat mendegradasinya (Asadatun,
2004).

2.3 Nutrient Agar (NA)


Peran utama nutrien adalah sebagai sumber energi, bahan pembangun
sel, dan sebagai aseptor elektron dalam reaksi bioenergetik (reaksi yang
menghasilkan energi). Oleh karenanya bahan makanan yang diperlukan
terdiri dari air, sumber energi, sumber karbon, sumber aseptor elektron,
sumber mineral, faktor pertumbuhan, dan nitrogen. Selain itu, secara umum

8
nutrien dalam media pembenihan harus mengandung seluruh elemen yang
penting untuk sintesis biologik oranisme baru (Arfiandi, 2009).
Tiap sel harus mensintesis sendiri konstituen tubuhnya dari zat-zat
sederhana yang ditemukan dalam lingkungannya. Kebanyakan dari zat-zat ini
berupa makanan dalam bentuk suspensi atau larutan yang ditemukan dalam
air laut, sungai, danau, air selokan, atau bahan-bahan organik lain yang
mengalami penguraian, dan sebagainya. Sifat kimia dan fisika dari habitat
ini menentukan jenis organisme yang dapat tumbuh atau hidup di lingkungan
itu (Widya, 2009).
Pada awal abad ke 20, Asosiasi kesehatan masyarakat di Amerika,
memperkenalkan sebuah formula media umum untuk menumbuhkan berbagai
jenis mikroorganisme. Media ini dikenal sebagai media standar pada uji air,
limbah, produk susu dan uji berbagai jenis makanan dan diberi nama Nutrien
Agar. Nutrient agar adalah medium yang diklasifikasikan sebagai medium
sintetik terstruktur karena tersusun oleh komponen yang pasti jenis dan
kuantitasnya (Widya, 2009).
Medium Nutrien agar merupakan medium umum yang dapat digunakan
untuk mengkultivasi berbagai jenis bakteri. Nutrien Agar merupakan suatu
medium yang mengandung sumber nitrogen dalam jumlah cukup yang dapat
digunakan untuk budidaya bakteri dan untuk penghitungan organisme dalam
air, limbah, kotoran dan bahan lainnya. Formulasi Nutrient Agar terdiri dari
daging sapi ekstrak, peptone dan agar. Formula ini tergolong relatif simpel
untuk menyediakan nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan oleh sejumlah besar
mikroorganisme yang tidak terlalu fastidious (Widya, 2009).
Beef extract atau ekstrak daging sapi mengandung senyawa-senyawa
yang larut di dalam air termasuk karbohidrat, vitamin, nitrogen organik dan
juga garam. Peptone merupakan sumber utama dari nitrogen organik, yang
sebagian merupakan asam amino dan peptida rantai panjang. Agar sendiri
merupakan partikel-partikel solid. Nutrien agar sendiri mempunyai komposisi
(per 1 liter) sebanyak Ekstrak daging sapi 3 gram, Peptone 5 gram dan Agar
15 gram yang berfungsi sebagai sumber nitrogen dan sumber karbon, sumber

9
vitamin dan beberapa senyawa lain untuk menyokong pertumbuhan bakteri
(Widya, 2009).
Fungsi Medium Nutrient Agar (NA) adalah sebagai medium kultivasi
dan enumerasi bakteri. Namun, dengan tambahan beberapa bahan seperti
amilum (pati), serum, dan darah, medium nutrient agar juga dapat digunakan
sebagai medium pengayaan dan selektif bagi mikroorganisme tertentu serta
bermanfaat dalam uji serologi dan biokimia untuk mengidentifikasi bakteri
(Widya, 2009).
Nutrient agar adalah medium pertumbuhan mikrobiologi umum
digunakan untuk budidaya rutin non-pemilih bakteri. Hal ini berguna karena
tetap solid bahkan pada suhu relatif tinggi. Juga, bakteri tumbuh di nutrient
agar tumbuh di permukaan, dan jelas terlihat sebagai koloni kecil. Dalam
kaldu nutrisi, bakteri tumbuh dalam cairan, dan dipandang sebagai zat pekat,
bukan (Vidi, 2012).
Nutrient Agar (NA) merupakan suatu medium yang berbentuk padat,
yang merupakan perpaduan antara bahan alamiah dan senyawa-senyawa
kimia. NA dibuat dari campuran ekstrak daging dan peptone dengan
menggunakan agar sebagai pemadat. Dalam hal ini agar digunakan sebagai
pemadat, karena sifatnya yang mudah membeku dan mengandung karbohidrat
yang berupa galaktam sehingga tidak mudah diuraikan oleh mikroorganisme.
Dalam hal ini ekstrak beef dan pepton digunakan sebagai bahan dasar karena
merupakan sumber protein, nitrogen, vitamin serta karbohidrat yang sangat
dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembang. Medium
Nutrient Agar (NA) merupakan medium yang berwarna coklat muda yang
memiliki konsistensi yang padat dimana medium ini berasal dari sintetik dan
memiliki kegunaan sebagai medium untuk menumbuhkan bakteri (Harry,
2012).
Komposisi dari media Nutrien Agar ini adalah Peptic dugest of animal
tissue sebesar 5 gr, NaCl sebesar 5 gr, Beef Extract sebanyak 1,50 gr, Yeast
Extract sebanyak 1,50 gr, dan Bacto Agar sebanyak 15 gr. Semua bahan ini
kemudian di larutkan dalam Aquades sebanyak 1000 ml. Media NA juga

10
telah tersedia dalam bentuk bubuk instan yang telah mengandung semua
bahan-bahan tersebut (Harti, 2015).
Di dalam kandungan NA yang terdiri dari ekstra daging sapi, peptone
dan agar. Formula ini tergolong relatif simpel untuk menyediakan nutrisi-
nutrisi yang di butuhkan oleh sejumlah besar mikroorganisme yang tidak
terlalu fastidious. Ekstra daging mengandung senyawa-senyawa yang larut di
dalam air termasuk karbohidrat, vitamin, nitrogen organik dan juga garam.
Pepton merupakan sumber utama dari nitrogen organik yang sebagian
merupakan asam amino dan peptida rantai panjang. Agar sendiri merupakan
partikel-partikel solid (Gunawan, 2008).

2.4 Potato Dextrose Agar (PDA)


Media PDA (Potato Dextrose Agar) merupakan medium semisintetik.
Media merupakan tempat dimana terjadi perkembangan organisme,
organisme menyerap karbohidrat dari kaldu kentang dan gula serta dari agar
yang telah dicampur. Hal ini lah yang menyebabkan mengapa kentang harus
dipotong dadu, agar karbohidrat di kentang dapat di kelar dan menyatu
dengan air sehingga menjadi kaldu. Semakin kecil permukaan maka semakin
besar daya osmosirnya (Risda 2007)
Jenis Medium sangat bervarisasi bergantung kepada apa yang dijadikan
dasar penanaman. Berdasarkan kepada bentuknya dikenal tiga macam
medium, yaitu medium cair, medium semi solid dan medium padat. Beda
utama ketiga macam medium padat. Beda utama ketiga macam medium,
yaitu ada tidaknya bahan pemadat. Medium cair tidak menggunakan bahan
pemadat. Medium semi solid dan medium padat menggunakan bahan
pemadat. Agar-agar paling umum digunakan. jumlah bahan pemadat pada
medium semi solid setengahnya dari medium padat jumlah agarnya 1.5%-
18% (Amni, 2009).
Kentang merupakan tanaman semusim dari family solonaceae yang
berumur pendek. Daunnya majemuk yang menempel disatu tangkai dengan
warna daun hijau muda samapi gelap dan tertutup oleh bulu halus.
Berdasarkan warna umbinya kentang dapat digilingkan menjadi tiga, yaitu

11
kentang merah, putih, dan kentang kuning. Kentang merah merupakan
kentang yang memiliki kulit merah dan daging kuning, golongan yang
termasuk kentang merah diantaranya dasiree, arka, dan red pantiac. Kentang
putih merupakan kentang yang kulit dagingnya berwarna putih, contohnya
radosa, sobago, dan donata. Kentang kunging merupakan yang kulit dan
dagingnya berwarna kuning, golongan ini diantaranya patrones, eigenheimer,
dan granola (Ramadhan, 2010).
Tanaman Kentang dapat tumbuh dan bereproduksi dengan baik apabila
ditanam pada kondisi lingkungan yang sesuai dengan persyaratan tumbuhnya.
Keadaan tanah dan iklim merupakan dua hal yang penting untuk diperhatikan,
selain factor penunjang lainnya, selain hama dan penyakit tanaman, factor
lain yang mempengaruhi produksi kentang adalah kondisi lahan meliputi
jenis tanah, kesuburan tanah, dan ketinggian tempat (Ramadhan, 2010).
Kentang menghendaki tanah yang subur dengan kandungan bahan
organic yang tinggi. Tekstur tanah yang ideal untuk menanam kentang adalah
lempung berpasir sehingga struktur tanah remah-remah, gembur, dan tidak
mengakibatkan air menggenang sewaktu hujan keasaman (Ph) tanah yang
optimal untuk tanaman kentang adalah 5-5.5. pada Ph kurang dari 5, tanaman
akan mengalami defisiensi fosfor (p) dan magnesium (Mg) serta keracunan
mangan (Mn), pada Ph tinggi(Ramadhan, 2010)
Potato Dextrose Agar merupakan salah satu media yang baik di gunakan
untuk membiakkan suatu mikroorganisme, baik itu berupa cendawan/fungsi,
bakteri, maupun sel mahluk hidup. Potato dextrose agar merupakan paduan
yang sesuai. Extra potato (kentang) merupakan sumber karbohidrat, dextrose
(gugusan gula, baik itu monosakarida atau polysakarida) sebagai tambahan
nutrisi bagi biakan, sedangkan agar merupakan bahan media/tempat tumbuh
bagi bikan yang baik, karena mengandung cukup air (Winda, 2009).

12
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Media Tumbuh ini dilaksanakan pada hari Rabu, 25 Februari
2019 pukul 13.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Bioteknologi Fakultas
Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2 Alat dan Bahan yang di gunakan


Adapun alat yang digunakan pada praktikum Media Tumbuh ini adalah
hot plate, erlenmeyer 250 mL, autoklaf, gelas ukur 100 mL, gelas beker 1000
mL, gelas beker 500 mL, stirrer, alumunium foil, wraping plastik, spatula,
neraca analitik.
Sedangkan bahan yang digunakan yaitu 7 gr Nutrient Agar (NA), 250
mL akuades dan 9,5 gr Potato Dextrosa Agar (PDA).

3.3 Cara Kerja


Adapun cara kerja dalam praktikum kali ini yaitu:
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Ditimbang 7 gr NA dan 9,5 gr PDA
3. Dipanaskan aquades 250 mL di atas hot plate hingga cukup panas
4. Dimasukkan 7g NA dan di homogenkan dengan stirrer hingga 15 menit
5. Dipanaskan kembali aquades 250mL di atas hot plate hingga cukup panas
6. Dimasukkan 9,5g PDA dan di homogenkan dengan stirrer hingga 15
menit
7. Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer dan diberi label
8. Ditunggu hingga dingin
9. Dibuat laporan

13
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Adapun hasil dari praktikum Media Tumbuh sebagai berikut :
Tabel 1. Bahan-Bahan Media
No. Alat Keterangan
1. Komposisi
 Potatoes infusion from 200,00
Gms/litre
 Dextrose 20,00 Gms/litre
 Agar 15,00 Gms/litre

PDA (Potato Dextrose Agar)


2. Komposisi
 Peptic digest animal tissue 5,00
Gms/litre
 Sodium chloride 5,00 Gms/litre
 Beef extract 1,50 Gms/litre
 Yeast extract 1,50 Gms/litre
 Agar 15,00 Gms/litre

NA (Nutrient Agar)

4.2 Pembahasan
Pada praktikum ini membahas tentang media tumbuh, media atau
medium ialah suatu substrat yang dibutuhkan unuk tempat berkembang biak
mikroba. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Novel, 2012) bahwa media
biakan adalah bahan atau campuran bahan yang dapat digunakan untuk

14
membiakkan mikroorganisme, karena memiliki daya juang yang tinggi
terhadap tumbuhan dan perkembang biakkannya.
Pertumbuhan mikoorganisme tergantung dari tersedianya air. Bahan-
bahan yang terlarut dalam air, yang digunakan oleh mikroorganisme untuk
membentuk bahan sel dan memperoleh energi, adalah bahan makanan. Pada
dasarnya sesuatu larutan biak sekurang-kurangnya harus memenuhi syarat-
syarat berikut. Di dalamnya harus tersedia semua unsur yang ikut serta pada
pembentukan bahan sel dalam bentuk berbagai senyawa yang dapat diolah.
Macam-macam media pertumbuhan berdasarkan sifat fisik yaitu medium
padat, medium setengah padat dan cair. Media padat yaitu media yang
mengandung agar 15 % sehingga setengah dingin media menjadi pada.
Medium setengah padat adalah media yang mengandung agar 0,3-0,4%
sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Medium cair
adalah media yang tidak mengandung agar, contohnya adalah Nutrient Broth
dan Lactose Broth.
Pada praktikum ini membuat media dari agar atau gelatin dalam bentuk
bubuk, yaitu NA (Natrient Agar) media ini berasal dari ekstrak daging. NA
dibuat dari campuran ekstrak daging dan peptone dengan menggunakan agar
sebagai pemadat. Dalam hal ini agar digunakan sebagai pemadat, karena
sifatnya yang mudah membeku dan mengandung karbohidrat yang berupa
galaktan sehingga tidak mudah diuraikan oleh mikroorganisme. Komposisi
NA ini sesuai dengan pernyataa (Widya, 2009) formulasi Nutrient Agar
terdiri dari daging sapi ekstrak, peptone dan agar. Formula ini tergolong
relatif simpel untuk menyediakan nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan oleh
sejumlah besar mikroorganisme yang tidak terlalu fastidious.
Pembuatan medium percobaan ini dengan menggunakan NA (Nutrien
Agar), di mana dalam pembuatanya adalah menimbang NA instan sebanyak 7
gr, selanjutnya memanaskan aquades 250 mL diatas hot plate, dan
dimasukkan NA instan yang sudah ditimbang tadi lalu dihomogenkan dengan
stirrer selama 15 menit. Setelah itu dimasukkan pada Erlenmeyer yang diberi
media tumbuh lalu tunggu hingga dingin. Dan setelah dingin baru bisa
ditanami cendawan/mikroorganisme

15
Yang kedua ialah dengan menggunakan PDA, PDA berasal dari ekstrak
kentang, komposisi PDA terdiri dari kentang, dekstrosa serta agar. Ini
merupakan gabungan yang baik karena nutrisi di dalamnya seimbang dan
bagus untuk biakkan mikroorganisme. Hal ini sesuai dengan pernyataan
(Winda, 2009) bahwa Potato dextrose agar merupakan paduan yang sesuai.
Ekstra potato (kentang) merupakan sumber karbohidrat, dextrose (gugusan
gula, baik itu monosakarida atau polysakarida) sebagai tambahan nutrisi bagi
biakan, sedangkan agar merupakan bahan media/tempat tumbuh bagi bikan
yang baik, karena mengandung cukup air.
Pembuatan media tumbuh pada PDA hampir sama seperti pada NA, yaitu
menimbang PDA instan sebanyak 9,5 gr, selanjutnya memanaskan aquades
250 mL diatas hot plate, dan dimasukkan PDA instan yang sudah ditimbang
tadi lalu dihomogenkan dengan stirrer selama 15 menit. Setelah itu
dimasukkan pada erlenmeyer yang diberi media tumbuh lalu tunggu hingga
dingin. Dan setelah dingin baru bisa ditanami cendawan/mikroorganisme.
Pembuatan media tumbuh dengan PDA instan lebih mudah disbanding
dengan menggunakan PDA sederhana. Karena pada PDA sederhana harus
membuat kaldu dari kentang terlebih dahulu baru ke tahap pemanasan dan
baru bisa ditanami mikroorganisme. Berbeda dengan PDA instan yang hanya
menimbang lalu ke tahap pemanasan. Karena PDA instan sudah sesuai
standar pabrik.
Bakteri tidak dapat hidup tanpa adanya media yang mengandung nutrisi-
nutrisi untuk pertumbuhannya. Menurut (Pelczar, 2008), media pertumbuhan
mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat
makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya.
Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekulmolekul kecil
yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media pertumbuhan
dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga
memanipulasi komposisi media pertumbuhannya.
Pemilihan media yang baik akan menunjang pertumbuhan dan
perkembangbiakan mikroba. Kesesuaian suhu, pH, kecukupan nutrien pada
media merupakan beberapa syarat untuk mikroba tersebut dapat tumbuh dan

16
berkembang dengan baik. Menurut (Stanier, 2011), pada pembuatan media
untuk berbagai macam organisme harus menggunakan bahan yang
mengandung banyak protein dangan berbagai konsentrasinya sehingga dapat
menumbuhkan bakteri. Salah satu bahan yang sering dipergunakan adalah
tauge.

17
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Kita tahu bahwa semua makhluk hidup membutuhkan nutrient untuk
pertumbuhan dan reproduksinya. Nutrien merupakan bahan baku yang
digunakan untuk membangun komponen-komponen seluler baru dan untuk
menghasilkan energi yang dibutuhkan dalam proses kehidupan sel.
Pembuatan media tumbuh kali ini dengan menggunakan PDA dan NA
instan. PDA merupakan media dari ekstrak kentang sedangkan NA berasal
dari ekstak daging yang dicampr dengan agar. Agar merupakan tempat
biakkan yang baik karena mengandung cukup air.
Media tumbuh harus memiliki zat hara yang cukup, pH harus sesuai
dengan mikroba yang akan di biakkan, dan harus disterilkan terlebih dahulu
sebelum digunakan agar tidak adanya zat yang dapat menghambat tumbuhnya
mikroba.

5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan agar semua praktikan dapat menguasai materi
praktikum kali ini dan bisa mendapatkan hasil yang maksimal adalah
praktikan harus menjaga, merawat, memperhatikan dan merawat alat dan
ruang laboratorium agar saat praktikum berlangsung dapat digunakan dengan
baik dan lebih maksimal. Praktikan juga diharapkan bekerja dengan cermat
dan teliti. Ketika percobaan berlangsung praktikan harus bisa menjaga
keselamatan kelompok dan teman-teman sekitar, dan sesama praktikan tidak
boleh bercanda ketika praktikum sedang berlangsung.

18
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, D,. 2007. Media Agar. Bandung: Ganesha Press


Arfiandi. 2009. Pembuatan Media Mikroorganisme. Jakarta: PT Gramedia
Asadatun, Abdullah. 2004. Pengaruh Penambahan Khitosan terhadap Mutu Agar
Bacto. Jurnal IPB. Vol. 2 No.1
Budhiyanto. 2012. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Papas Sinar Mentari
Distantina, S. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Gramedia
Gunawan, Widya Agustin. 2008. Usaha Pembibitan Jamur. Jakarta : Swadaya.
Hadioetomo, S,. 1993. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium Mikrobiologi.
Jakarta: Gramedia
Harry. 2012. Komposisi Nutrien Agar dan Nutrient Broth serta Kegunaannya.
Jakarta: Djambatan
Harti, Agnes Siti. 2015. Mikrobiologi Kesehatan. Yogyakarta : Andi Offset.
Iptek. 2009. Mikrobiologi Kesehatan. Jakarta: Andi Offset
Khaeruni, A dan V. N. Satrah. 2014. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Dasar.
Kendari: Graha Media
Label, J. 2008. Pembuatan Medium. Jakarta: Erlangga
Novel , Sasika Sinta . 2012. Super Lengkap Biologi. Jakarta Selatan: Gagas Media
Pelczar. 1996. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press
Pelczar, Michael. 2008. Microbiology. New York: Mc Grawell Company
Rachdie. 2006. Mengenal Media Pertumbuhan Mikrobia. Jakarta: Gramedia
Ramadhan. 2010. Media PDA Kentang. Bandung: Graha Swadaya
Ratna. 1990. Mikrobiologi Umum. Jakarta: Gramedia
Risda. 2007. Media PDA. Jakarta: Djambatan
Rosulva. 2008. Pemanfaatan Limbah Padat pada Proses Pengolahan Agar. Jurnal
Pendidikan Mikrobiologi. Vol. 1 No. 1
Sutedjo. 1991. Mikrobiologi Tanah. Jakarta: Rineka Cipta
Stanier. 2011. General Microbiology Seventh Edition. USA: Cambridge
University Press
Vidi. 2012. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Bina Aksara
Widya. 2009. Media Pertumbuhan Bakteri. Jurnal Mikrobiologi. Vol.3 No.2

19