Anda di halaman 1dari 21

FISIKA STATISTIK

Visikositas, Konduktifitas Kalor dan Koefisien Difusi

Dosen Pembimbing :
Drs. Rai Sujanem, M.Si
I Gede Arjana, S.Pd, M.Sc, RWTH

Disusun Oleh :
1. Ni Luh Putu Mei Ariyantini 1713021004
2. Daniar Aurellia Warda J 1713021031
3. Gst. A. Mirah Komala Dewi 1513021065
4. Hawi Kusumawati 1513021083

Program Studi Pendidikan Fisika


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja
2020
KATA PENGANTAR

Terimakasih penulis ucapkan kepada tuhan yang maha esa, atas anugerah dan rahmat-nya
lah penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Visikositas, Konduksi Kalor dan
difusi”
Tidak lupa penulis mengucapkan kepada pihak yang ikut terlibat dalam pembuatan
makalah ini. Khususnya kepada dosen dan pihak yang memberikan bantuan moriil maupun
materiil baik secara langsung maupun tidak langsung.
Penulis menyadari keterbatasan pengetahuan, wawasan, dan kemampuan penulis
menyebabkan makalah ini memiliki banyak kekurangan dan kelemahan, baik dalam isi maupun
sistematikanya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran untuk
menyempurnakan makalah ini. Harapan penulis, semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi para
pembaca.

Singaraja, 2 April 2020

Penulis

i
Fisika Statistik 2020
DAFTAR ISI

Kata pengantar ............................................................................................i


Daftar Isi ................................................................................................... ii
BAB I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang .............................................................................1
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................2
1.3. Tujuan ..........................................................................................2
1.4. Manfaat ........................................................................................2
BAB II Pembahasan
2.1. Koefisien Visikositas ...................................................................3
2.2. Konduktivitas Kalor.....................................................................8
2.3. Koefisien Difusi .........................................................................12
BAB III Penutup
3.1. Kesimpulan ................................................................................17
3.2. Saran ..........................................................................................17
Daftar Pustaka

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Berkenaan dengan pemahaman kajian perbedaan termodinamika dan fisika statistik
dimana untuk pemahaman secara mikroskopik suatu sistem meliputi beberapa ciri khas
seperti adanya pengandaian bahwa sistem terdiri atas sejumlah molekul, dan kuantitas-
kuantitas yang diperinci tidak dapat diukur secara makroskopis.Dasar pokok bahasan fisika
statistik merupakan kajian tentang jenis partikel tertentu dapat dibedakan antara satu dengan
yang lain. Dalam statistika kuantum secara garis besar digunakan untuk menentukan
probabilitas partikel dari sebuah group yang memiliki energi partikel yang similar/ sama.
Suatu sistem kuantum memiliki diskritisasi energi. Dengan kata lain dapat dibedakan antara
tingkat energinya dan keadaan energinya. Tingkat energi (energy level) dalam kajian ilmu
fisika bisa disebut dengan keadaan energi, tetapi tingkat energi bersifat umum sedangkan
keadaan energi lebih bersifat khusus pemahamannya. Tingkat energi merupakan sebuah nilai
yang dihasilkan dari hubungan antara energi sebuah partikel dan panjang gelombangnya.
Dengan mengetahui tingkat energi suatu atom, maka akan diketahui karakteristik dari atom
tersebut. Ruang lingkup fisika statistik meliputi dua bagian besar, yaitu teori kinetik dan
mekanika statistik. Berdasarkan pada teori peluang dan hukum mekanika, teori kinetik
mampu menggambarkan sistem dalam keadaan tak seimbang, seperti: proses efusi,
viskositas, konduktivitas termal, dan difusi. Disini, molekul suatu gas ideal tidak dianggap
bebas sempurna tetapi ada antar aksi ketika bertumbukan dengan molekul lain atau dengan
dinding.

Viskositas merupakan pengukuran dari ketahanan fluida yang diubah baik dengan
tekanan maupun tegangan. Pada masalah sehari-hari (dan hanya untuk fluida), viskositas
adalah "Ketebalan" atau "pergesekan internal". Oleh karena itu, air yang "tipis", memiliki
viskositas lebih rendah, sedangkan madu yang "tebal", memiliki viskositas yang lebih tinggi.
Sederhananya, semakin rendah viskositas suatu fluida, semakin besar juga pergerakan dari
fluida tersebut. Viskositas menjelaskan ketahanan internal fluida untuk mengalir dan
mungkin dapat dipikirkan sebagai pengukuran dari pergeseran fluida. Sebagai contoh,
viskositas yang tinggi dari magma akan menciptakan statovolcano yang tinggi dan curam,
karena tidak dapat mengalir terlalu jauh sebelum mendingin, sedangkan viskositas yang lebih

1
rendah dari lava akan menciptakan volcano yang rendah dan lebar. Seluruh fluida (kecuali
superfluida) memiliki ketahanan dari tekanan dan oleh karena itu disebut kental, tetapi fluida
yang tidak memiliki ketahanan tekanan dan tegangan disebut fluide ideal. Dengan
ditemukannya teori kuantum dalam mata kuliah fisika kuantum dan matrik ruang vektor,
Bose, Einstein, Fermi, dan Dirac memperkenalkan beberapa modifikasi ide asli Boltzmann
dan telah berhasil dalam menjelaskan beberapa aspek yang tidak dipenuhi oleh statistik
Boltzmann. Dasar pokok bahasan fisika statistik khususnya kajian mekanika statistik yaitu
merupakan kajian tentang jenis partikel tertentu dapat dibedakan antara satu dengan yang
lain. Dalam statistika kuantum secara garis besar digunakan untuk menentukan probabilitas
partikel dari sebuah group yang memiliki energi partikel yang similar/ sama. Suatu sistem
kuantum memiliki diskritisasi energi. Dengan kata lain dapat dibedakan antara tingkat
energinya dan keadaan energinya. Tingkat energi (energy level) dalam kajian ilmu fisika bisa
disebut dengan keadaan energi, tetapi tingkat energi bersifat umum sedangkan keadaan energi
lebih bersifat khusus pemahamannya.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana definisi dan persamaan koefisien vikositas?
1.2.2 Bagaimana penjabaran konduktivitas panas?
1.2.3 Bagaimana penjabaran difusi?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk dapat menjelaskan definisi dan persamaan koefisien vikosita.
1.3.2 Untuk dapat menjelaskan penjabaran konduktivitas panas.
1.3.3 Untuk dapat menjelaskan penjabaran difusi.

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini yaitu :
1.4.1. Untuk pembaca
Untuk menambah wawasan pembaca terkait Visikositas, Konduktifitas
Kaor dan Koefisien Difusi
1.4.2. Untuk penulis
Untuk menambah wawasan penulis sekaligus melengkapi tugas pada
mata kuliah Fisika Statistik

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Koefisien Viskositas


Viskositas merupakan sifat dari suatu molekul, di mana merupakan gesekan antara
molekul dengan suatu dinding. Untuk menggambarkan sifat ini, kita dapat mengandaikan dua
buah pelat diletakkan sejajar. Pelat bagian atas digerakkan dengan kecepatan v yang konstan
ke kanan. Diantara kedua pelat tersebut terdapat gas. Karena gas memiliki viskositas atau
gesekan dalam, maka untuk menjaga agar bergerak dengan kecepatan konstan, diperlukan
gaya untuk melawan viskositas tersebut. Untuk koefesien visikositas diberi tanda  eta  .

Pelat bergerak

u
S S

Pelat diam

Gambar 1. Gas antara pelat bergerak dan pelat diam

Koefisien viskositas  dari gas dapat dapat didefinisikan sebagai:


du
F A
dy
Dengan F adalah gaya viskositas yang arahnya sejajar dengan arah gerak. Gaya ini
bekerja pada permukaan pelat dengan luas A, bila gradien kecepatan du/dy tegak lurus pelat.
Molekul-molekul secara kontinu menyeberangi permukan putus-putus baik dari atas
maupun dari bawah. Diasumsikan bahwa terjadi tumbukan sebelum molekul menyeberangi
permukaan. Masing-masing molekul memerlukan kecepatan aliran menuju ke kanan, yang
berkaitan dengan ketinggian tertentu saat terjadinya tumbukan. Karena kecepatan aliran di
atas permukaan lebih besar dibandingkan dengan di bawah permukaan, molekul-molekul
yang menyeberang dari atas momentumnya lebih besar (menuju ke kanan) dibandingkan

3
dengan molekul-molekul yang menyeberang dari bawah. Viskositas gas tidak muncul dari
gaya gesekan antara molekul, melainkan dari momentum yang dibawa menyeberangi
permukaan sebagai hasil dari gerak random termal.
Selanjutnya kita akan hitung ketinggian rata-rata y di atas atau di bawah permukaan
SS, dimana molekul bertumbukan terakhir sebelum menyeberangi permukaan. Pada gambar
(2), dV adalah elemen volume kecil pada jarak r dari elemen luas di dalam bidang SS, yang
membentuk sudut  terhadap normal dA. Jika z adalah frekuensi tumbukan dari sebuah
molekul dan n jumlah molekul per satuan volume, jumlah molekul total di dalam dV adalah
ndV dan jumlah tumbukan total di dalam dV dalam waktu dt adalah ½ zndVdt. Faktor ½
muncul karena masing-masing tumbukan dihitung dua kali.

dV

S d S
dA
Gambar 2. Rata-rata di atas atau di bawah permukaan SS
Dimana:   sudut antara r dan garis normal dari dA
dV  volume kecil
r  Jarak dV dengan pusat dA
dw  sudut ruang dengan tutup dA
Pada masing-masing tumbukan, muncul dua lintasan bebas baru. Dengan demikian,
jumlah lintasan bebas di dalam volume dV dalam waktu dt adalah :
zndVdt.
Lintasan-lintasan ini dimulai seragam dalam semua arah, dengan demikian jumlah
d
yang mengarah dA adalah: zn dV dt . Dengan d menyatakan sudut ruang yang sama
4
dA cos 
dengan d  .
r2
Berdasarkan persamaan survival, jumlah molekul yang mencapai dA tanpa membuat
tumbukan adalah jumlah molekul di atas dikalikan dengan exp (-r/) serta dengan mengganti
dV dengan elemen volume dalam sistem koordinat bola yakni: dV= r2 sin dddr, maka

4
diperoleh jumlah molekul yang meninggalkan dV dalam waktu dt dan menyeberangi dA tanpa
melakukan tumbukan, yaitu :
d 1 dA cos 
zn dV dt exp(- r ) = zn dV dt exp(- r )
4  4 r2 
1 dA cos 
= zn r2 sin θ dθ d  dr dt exp (- r )
4 r2 

zn dA dt sin  cos  exp  r /   d d dr


1

4
Untuk memperoleh jumlah molekul total yang menyeberangi dA di dalam waktu dt
dari semua arah dan semua jarak, kita integrasi seluruh dari 0 sampai /2, seluruh  dari 0
sampai 2, dan seluruh r dari 0 sampai . Hasil yang diperoleh, yaitu:
 /2 2 

 sin  cos  d  d  exp  r /   dr  4 zn  dA dt


1 1
zn dA dt
4 0 0 0

Karena z  v
 , maka akan memberikan jumlah molekul yang menyeberangi SS dari
1
kedua sisi per satuan luas dan per satuan waktu: nv .
4

Kembali pada perhitungan ketinggian rata-rata terjadinya tumbukan terakhir sebelum


menyeberangi permukaan. Tinggi elemen volume dV di atas SS adalah rcos. Jumlah
molekul yang menyeberangi dA secara langsung dari dV diberikan oleh persamaan

zn dA dt sin  cos  exp  r /   d d dr . Ketinggian rata-rata untuk semua molekul


1
4
diperoleh dengan mengalikan rcos dengan jumlah molekul yang menyeberang dari dV,
diintegrasi untuk seluruh , , dan r, dan bagi dengan jumlah molekul total yang
menyeberangi dA. Hasil integral tersebut adalah:
 /2  /2 

 d  exp  r /   dr  6 zn 
1 1
 sin  cos  d
2 2
zn dA dt dA dt
4 0 0 0

Harga y dihitung dengan mengalikan tinggi volume dV dari dA dengan jarak molekul
yang lewat dA tanpa bertumbukan lagi, diintegrasi untuk segala arah dan dari segala jarak
yang dibagi dengan jumlah molekul yang dari segala arah dan dari segala jarak.
Jadi perhitungannya adalah sebagai berikut ini:

5

2 
 r
2
1
zndAdT  sin  cos 2 d  d  r exp   dr
4  
y 0

0 0

2 
 r
2
1
zndAdT  sin  cos d  d  r exp   dr
4 0 0 0  

2 
 r
2
1
zndAdT   cos 2 d cos   d  r exp   dr
4  
y 0

0 0

2 
 r
2
1
zndAdT   cos d cos   d  exp   dr
4 0 0 0  



 r
2
1
zndAdT   cos 2 d cos   r exp   dr
4  
y 0

0


 r
2
1
zndAdT   cos d cos   exp   dr
4 0 0  
 
1  1 3   2 
2
zndAdT  cos    
4  3 0  r   0
y  
1  1 2   
zndAdT  cos 2    
4  2 0  r   0
 
2
1  1 3  2 
z n dA dt 
 3 cos  
  r  1
4 0  0
y  
1  1 2 
2
  
zn dA dt 
 2 cos    r  1
4  0  0

 1  1  
2
2 
z n dA dt  cos 3  cos 3 0   
 3 2 3     1 0  1
y
 1    
zn dA dt  cos 2   cos 2 0 
1
 
 2 2 2     1 0  1
 1 1 
zn dA dt  .0  .1 0  2  
y  3 3 
 1 1 
zn dA dt  .0  .1 0   
 2 2 

6
1 2
zn dA dt 
y 3
1
zn dA dt 
2
1 2

y 3
1

2
2
y 
3
Jadi, rata-rata masing-masing molekul menyeberangi bidang membuat tumbukan
2
sebelum menyeberangi bidang pada ketinggian yang sama dengan lintasan bebas rata-rata
3
di atas atau di bawah pemukaan.
2
Pada ketinggian  di atas bidang SS pada gambar (3), kecepatan aliran gas adalah :
3
 du 
 u  2  
 3 dy 

Sehingga kecepatan molekul sebelum masuk dA adalah:

2

3
u
2

3

2
Gambar 3. Pada ketinggian  di atas bidang SS
3
Besarnya momentum pada rapat y adalah:

 du 
m u  2  
 3 dy 

Jumlah momentum yang lewat dari atas per satuan luas per satuan waktu adalah:
1  du 
n v  m  u  2  
4  3 dy 
Jumlah molekul yang lewat dari bawah per satuan luas per satuan waktu adalah:

7
1  du 
n v  m  u  2  
4  3 dy 
Jadi jumlah total momentum yang lewat adalah:
1  du  1  du 
n v  m  u  2   + n v  m  u  2  
4  3 dy  4  3 dy 

1  du   du 
= n v m  u  2     u  2  
3 3
4  dy   dy 

1  du   du 
= n v m  u  2     u  2  
4 
3 dy   3 dy 

1  du du 
n v m u  2  u  2 
dy 
=
4  3 dy 3

1  du 2 du 
= n v m u  u  2    
4  3 dy 3 dy 

1  du 
= n v m 4  
4  3 dy 
14 du
= nv m
43 dy
1 du
= nv m
3 dy
Jumlah perubahan momentum ini per satuan luas per satuan waktu sama dengan gaya
viskositas (η) persatuan luas adalah:
1 du du
nv m 
3 dy dy
Jadi besarnya gaya viskositas adalah:
1
η= n v m 
3
2.2 Konduktivitas Kalor
Konduksi (hantaran) adalah pengangkutan kalor melalui satu jenis zat. Perpindahan
kalor secara hantaran/konduksi merupakan satu proses pendalaman karena proses
perpindahan kalor ini hanya terjadi di dalam bahan. Arah aliran energi kalor, adalah dari
titik bersuhu tinggi ke titik bersuhu rendah. Hal tersebut dapat digambarkan sebagai
berikut.

8
Gambar 4. Konduksi (hantaran)

Sudah diketahui bahwa tidak semua bahan dapat menghantar kalor sama
sempurnanya. Bahan yang dapat menghantar kalor dengan baik dinamakan konduktor.
Penghantar yang buruk disebut isolator. Sifat bahan yang digunakan untuk menyatakan
bahwa bahan tersebut merupakan suatu isolator atau konduktor ialah koefisien konduksi
termal. Apabila nilai koefisien ini tinggi, maka bahan mempunyai kemampuan
mengalirkan kalor dengan cepat. Pada bahan isolator, koefisien ini bernilai kecil.

Konduksi kalor dapat dihitung dengan dasar teori transportasi sebagai berikut.

Gambar 5. Temperature pelat diam

Kedua pelat diam tapi berbeda temperaturnya, misalkan pelat atas memiliki
temperatur lebih tinggi dari yang di bawah. Dalam gas ini mempunyai gradient
temperatur yang dituliskan secara matematik sebagai berikut

Energi rata-rata sebuah molekul pada temperatur T adalah :

9
Keterangan :

= derajat kebebasan

= konstanta Boltzman

Jarak rata-rata dari pelat sampai ke tumbukan terakhir sebelum molekul-molekul

sama seperti perhitungan di atas yaitu .

Pada jarak di atas pelat temperaturnya

Pada jarak yang di bawah pelat temperaturnya

Jumlah molekul yang lewat pelat persatuan volume dan persatuan waktu adalah

, n adalah jumlah molekul persatuan volume dan adalah kecepatan rata-rata

molekul. Jumlah ini bisa lewat dari atas kebawah atau dari bawah ke atas. Sesuai dengan
dasar harga-harga tersebut di atas kita dapat mengatakan bahwa:

1. Jumlah energi yang lewat pelat persatuan luas per satuan waktu dari atas ke bawah
adalah:

2. Jumlah energi yang lewat pelat persatuan luas persatuan waktu dari bawah ke atas
adalah:

3. Jumlah total energi yang lewat adalah:

10
Definisi dari konduktivitas termal k  dapat dituliskan persatuan waktu:

dT
H  kA
dy

H  panas yang lewatluasApersatuanwaktu, dengandemikian:

H dT
k
A dy

= jumlah molekul

= kecepatan rata-rata molekul

Masukkan harga ke dalam persamaan , maka diperoleh:

Konduktivitas panas sama seperti viskositas tak bergantung pada kerapatan. Kajian
teoritis konduktivitas panas ini juga sesuai dengan hasil eksperimen.

11
2.3 Koefisien Difusi
Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian
berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada
pada dua larutan disebut gradien konsentrasi. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel
tersebar luas secara merata atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana perpindahan
molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi. Contoh yang sederhana
adalah pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat laun cairan menjadi manis. Contoh lain
adalah uap air dari cerek yang berdifusi dalam udara.Difusi yang paling sering terjadi adalah
difusi molekuler. Difusi ini terjadi jika terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan (layer)
molekul yang diam dari solid atau fluida.

Gambar 6. Proses difusi dalam ilmu pengetahuan


Beberapa partikel yang dilarutkan dalam segelas air. Awalnya, partikel-partikel semua
sudut satu di dekat kaca. Jika semua partikel bergerak secara acak (menyebar) dalam air,
maka partikel akhirnya akan menjadi terdistribusi secara acak dan seragam (tapi difusi masih
akan terus terjadi, hanya saja tidak akan ada fluks bersih).
Ada beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, yaitu:
 Ukuran partikel. Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan
bergerak, sehinggak kecepatan difusi semakin tinggi.
 Ketebalan membran. Semakin tebal membran, semakin lambat kecepatan difusi.
 Luas suatu area. Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan difusinya.
 Jarak. Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat kecepatan
difusinya.
 Suhu. Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak dengan lebih
cepat. Maka, semakin cepat pula kecepatan difusinya.

12
Perhatikan gambar berikut ini.
P

A B

Gambar 7: Ruang A dan B dibatasi oleh penyekat PQ


Kalau ruang A dan B dibatasi oleh penyekat PQ dan tekanan dan temperaturnya sama,
maka jumlah molekulnya per satuanvolume sama. Jika penyekatnya dihilangkan tak terjadi
gerakan molekul kearah satu sama lain tapi setelah lama ditunggu maka akan terjadi kedua
gas akan menyebar keseluruh ruangan/volume. Peristiwa ini disebutdifusi. Difusi ini terjadi
pada zat cair juga difusi ini terjadi karena:
 Setiap molekul bergerak bebas
 Konsentrasi setiap jenis molekul berbeda dikedua bagian tempat atau kalau terdapat
gradient konsentrasi
Peristiwa difusi dapat juga dipandang sebagai perpindahan benda/partikel. Pada
kenyataannya difusi ini betul-betul dibuat komplek karena
 Akibat perbedaan tekanan
 Efek dari molekul tidak dibatasi
 Kalau terjadi lebih dari satu jenis molekul sehingga kecepatan difusinya berbeda.
Hal yang perlu dipikirkan dalam pembicaraan difusi adalah:
 Difusi sendiri, difusi terjadi, antara molekul sejenis.
 Kita asumsikan ukuran volume cukup besar. Bila dibandingkan dengan jalan bebas
rata-ratanya hingga jumlah tumbukan dengan dinding dapat diabaikan dengan jumlah
tumbukan dengan molekul lainnya.
 Diasumsikan ruangan diseluruh ruangan sama, sehingga tidak terjadi gerakan akibat
dari perbedaan tekanan.
 Semua molekul dianggap sama dalam bentuk dan ukurannya.
Jika molekul semuanya sama, maka perhitungan difusi hanya merupakan keinginan akademik
saja. Kedua tidak ada percobaan yang dapat membedakan molekul satu sama lain. Untuk
keperluan pemecahan masalah tentang difusi ini dianggap molekul dapat ditambah sehingga
dapat dibedakan satu sama lain. Perhatikan gambar berikut.

13
dV

 dA x
r cos

Misalkan n menyatakan jumlah jumlah molekul yang diberi tanda per satuan volume
pada setiap titik. Kita asumsikan bahwa n hanya sebagai fungsi x saja, di mana sumbu X
tegak lurus terhadap bidang vertikal. Kita asumsikan juga bahwa gradien konsentrasi dn/dx
juga seragam dan berharga positif, dengan demikian n bertambah dari kiri ke kanan.
Selanjutnya jika no adalah konsentrasi dari molekul bertanda pada bidang vertikal, maka
konsentrasi pada tempat berjarak x dari bidang vertikal adalah :

Karena konsentrasi di sebelah kanan lebih besar dibandingkan dengan di sebelah kiri,
maka jumlah molekul yang bertanda yang melewati bidang dari kanan ke kiri melebihi
jumlah molekul bertanda yang melewati bidang dari arah yang berlawanan. Jumlah total
molekul bertanda yang melewati bidang vertikal dari kiri ke kanan dalam arah sumbu X
psositif per satuan luas per satuan waktu dinyatakan dengan . Koefisien difusi diriD
didefinisikan dengan persamaan :

Tanda negatif dimasukkan karena dn/dx positif,  negatif seperti dijelaskan di atas.
Untuk menghitung , pertama-tama kita tentukan jumlah molekul bertanda yang mulai
membentuk lintasan bebas di dalam elemen volume dV di dalam danwaktu dt. Misalkan n’
menyatakan jumlah total molekul per satuan volume dan sama di semua titik. Jumlah total
lintasan bebas yang terjadi dalam dV dalam waktu dt adalah :
zn’dVdt.
Jika n menyatakan jumlah molekul bertanda per satuan volume dalam dV,
perbandingan molekul ini dengan jumlah total adalah n/n’, dan sama dengan fraksi jalan
bebas molekul bertanda. Jadi, jumlah jalan bebas dari molekul bertanda adalah :

14
Jumlah molekul yang lewat dA tanpa melakukan tumbukan dari persamaan sebelumnya
adalah:

Berdasarkan persamaan sebelumnya dan ditinjau secara geometri, maka :

Masukkan persamaan ini ke dalam persamaan di atas, maka diperoleh:

Sekarang kita integrasi kedua pernyataan ini untuk seluruh dari 0 sampai /2, seluruh  dari
0 sampai 2, dan seluruh r dari 0 sampai . Maka :

Suku kedua memberikan hasil :

Jadi, jumlah molekul yang melewati bidang dari kiri ke kanan, per satuan luas per satuan
waktu, yang dinyatakan dengan , yaitu :

Dengan cara yang sama, jumlah molekul yang melewati bidang dari kanan ke kiri adalah :

Jumlah molekul total yang melewati bidang dari kiri ke kanan yakni:

Berdasarkan persamaan tentang definisi koefisien D, maka diperoleh :

Atau, karena , maka didapatkan :

Lintasan bebas rata-rata  adalah :

15
di mana n’ adalah jumlah total molekul per satuan volume. Jadi, kita dapat menulis :

Dengan menggunakan persamaan sebelumnya dan fakta tentang kerapatan  sama


dengan perkalian n’m, maka kita mendaptkan hubungan antara difusi dengan koefisien
viskositas, yaitu :

Fenomena difusi melalui lubang kapiler yang sangat kecil di dalam material keramik
adalah salah satu metode yang dipergunakan untuk memisahkan isotop U235 dan U238.

16
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Viskositas adalah resistensi atau ketidak mampuan suatu bahan untuk mengalir bila
dikenai gaya. Gaya yg dimaksud adalah gaya irisan (shearing stress) yaitu gesekan
yang tumbul karena hasil perubahan cairan yang disebabkan adanya resisyensi
berlawanan yang diberikan cairan tersebut.

  13 nv m

2. Konduksi (hantaran) ialah pengangkutan kalor melalui satu jenis zat. Sehingga
perpindahan kalor secara hantaran/konduksi merupakan satu proses pendalaman
karena proses perpindahan kalor ini hanya terjadi di dalam bahan.

1 v fk
K
6 2
3. Difusi adalah perpindahan molekul dari kosentrasi tinggi ke kosentrasi rendah.
1 1
D v 2
3 n' 
3.2 Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan kepada para pembaca agar pembaca selalu
memperluas pengetahuan dan pemahaman agar tidak hanya terpaku dari satu sumber, namun
dari berbagai sumber yang relevan, sehingga pembaca dapat menerapkan apa yang telah
dipelajari dalam kehidupan sehari-sehari.

17
DAFTAR PUSTAKA
Fisika Zone. 2015. Viskositas. [Internet]. Tersedia pada: http://fisikazone.com/viskositas/amp
(Diakses 2 Apri 2020)
Halliday, D &Resnick, R. 1995.Fisika Jilid 1 Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga.
Lohat San. 2018. Viskositas. [Internet]. Tersedia pada: https://gurumuda.Net/viskositas/
(Diakses 3 Apri 2020)
Pertiwi, P, K. Ristiana, D. Isnaini, N. & Prajitno, G. 2015. Uji Konduktivitas Termal pada
Interaksi Dua Logam Besi (Fe) dengan 3 Variasi Bahan Berbentuk Silinder. Surabaya:
Institut Teknologi Sepuluh November (ITS).

Sujanem, R. tanpa tahun. Materi Ajar Pengantar Fisika Statistik. Undiksha Singaraja (tidak
diterbitkan).

18