Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

ZINA
2/20/2020

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SMAN 15 MEDAN
ALIEF SYAHIDURRAHMAN
MAKALAH ZINA
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah


Manusia adalah Makhluk Sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain,yang
mana antara satu sama lainya saling membutuhkan,baik dalam memenuhi kebutuhan
jasmaninya maupun kebutuhan rohaninya.
Dalam dunia zaman modern seperti ini kita sering dihadapkan dengan masalah-masalah
yang kerap menodai agama dengan pergaulan yang tanpa dibatasi dengan aturan atas hukum
yang mengikat kepada penganut agama. Sehingga menjadi sebuah keprihatinan bagi kita
umat yang beragama Islam dengan kebiasaan orang yang tidak peduli dengan aturan yang
dalam hal ini menurutnya sebagai penghalang atas apa yang ingin dilakukan atau dengan kata
lain untuk menuruti keinginan hawa nafsunya.
Islam mngajarkan kepada Kita semua untuk menjalankan kehidupan Kita dengan cara
yang baik yang sesuai dengan Syari’at Islam.Tidak hanya itu,Islam juga merupakan sebuah
Agama yang sempurna karena didalamnya tidak hanya menjelaskan tentang kehidupan
Akhirat saja tetapi juga menjelaskan tentang semua kehidupan umatnya baik yang
berhubungan dengan IbadahAqidah dan Akhlak.
Islam merupakan agama yang memiliki tatanan dan aturan yang terbaik termasuk
dalam masalah hubungan laki-laki dengan perempuan. Islam meletakkan kode etika yang
beradab dalam hal ini yang tidak dimiliki oleh aturan dan tatanan manapun di dunia ini.
Semua itu demi kebaikan dan kesucian masyarakat termasuk rumah tangga. Di antara tindak
preventif Islam untuk menangkal penyakit ini adalah dengan meletakkan hukuman-hukuman
atas pelakunya di dunia dan di akhirat.
Padahal agama sama sekali tidak melarang hambanya untuk melakukan sesuatu yang
jika hal itu tidak akan merusak atau menjadi mudharat bagi yang membangkang. Betapa
banyak orang-orang yang melakukan hubungan seks secara bebas terjangkit hubungan seks
secara bebas terjangkit oleh penyakit yang mematikan, adakah renungan tentang semua itu,
itu adalah tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal.
Persoalan menuduh seseorang sebagai penzina adalah kesalahan yang serius dalam
Islam. Malahan Islam membuat kehormarvtrtan pada salah satu dari lima kebutuhan dasar
yang mesti dijaga dalam Islam. Manakala sesuatu tuduhan zina pada seseorang tanpa barang
bukti adalah salah satu dari tujuh dosa besar.
Setelah Kita melihat uraian diatas,Kita tahu bahwa perbuatan zina dan qadzaf itu
merupakan salah satu dosa yang besar dalam Islam.Maka dalam Makalah ini akan diuraikan
secara sederhana tentang Definisi zina dan qadzaf,hukum zina dan qadzaf,macam-macam
zina, unsur-unsur zina,sebab-sebab timbulnya zina,solusi menangani zina,hukuman had zina
dan qadzaf,pembuktian zina dan qadzaf,dan hal-hal yang menggugurkan had zina dan qadzaf.
B.       Perumusan Masalahyu
Dalam penulisan Makalah ini akan dirumuskan beberapa masalah antara lain
adalah sebagai berikut :
1.    Bagaimana Had Zina itu ?
2.    Bagaimana Had Qadzaf itu ?

BAB II
PENMBAHASAN

A.  Zina
1.    Pengertian Zina
ِ ، ‫ َزنَى يَ ْزنِي ِزن ًى‬  yang artinya berbuat
Dalam bahasa arab, zina diambil dari kata : ‫وزنَا ًء‬
fajir ( nista ).Menurut Ibnu Rusydi zina adalah melakukan hubungan seksual (jima’) di
kemaluan tanpa pernikahan yang sah, kepemilikan budak dan tidak juga karena
syubhat.Sedangkan menurut H.A.Dzajuli dengan mengutip ulama Malikiyah zina adalah
mewathui’nya laki-laki mukallaf terhadap faraj wanita yang bukan miliknya dan dilakukan
dengan sengaja.Adapun menurut ulama Syafi’iyah,Zina  adalah memasukan zakar kedalam
faraj yang haram dengan tidak syubhat dan cara cara naluriah memuaskan hawa nafsu.[1]
2.    Hukum Zina
Perbuatan zina diharamkan dalam syari’at islam,karena termasuk kepada dosa besar,
berdasarkan dalil-dalil berikut ini:[2]
Allah SWT Berfirman :
Ÿwur (#qçtø)s? #’oTÌh“9$# ( ¼çm¯RÎ) tb%x. Zpt±Ås»sù uä!$y™ur 
)۳۲ : ‫( اإلسرأ‬ ™Wx‹Î6y
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang
keji. Dan suatu jalan yang buruk". (Al-Isrâ:32 ).
Rosulullah SAW Bersabda :
‫ان تقتل ولدك خشية ان ياكل‬:‫قلت ثم اي ؟قال‬.‫ان تجعل هلل ندا وهو خلقك‬: ‫قلت يا رسول هللا اي الدنب اعظم ؟قال‬
) ‫( رواه مسلم‬.‫ان تزاني حليلة جارك‬: ‫ثم اي ؟قال‬:  ‫قلت‬.‫معك‬
"Aku telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : Dosa apakah yang
paling besar ? Beliau menjawab : Engkau menjadikan tandingan atau sekutu bagi Allah ,
padahal Allah Azza wa Jalla telah menciptakanmu. Aku bertanya lagi : “Kemudian apa?”
Beliau menjawab: Membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu.” Aku
bertanya lagi : Kemudian apa ? Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab lagi: Kamu
berzina dengan istri tetanggamu".( HR.Muslim ).
3.      Unsur-unsur Zina
             Meskipun para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan zina, tetapi mereka
sepakat terhadap dua unsur zina, yaitu wathi haram dan sengaja atau ada itikad jahat.
Seseorang dianggap memiliki itikad jahat apabila ia  melakukan perzinahan dan ia tahu
bahwa perzinahan itu haram.
             Yang dimaksud wathi haram adalah wathi pada faraj wanita bukan istrinya atau
hambanya atau masuknya zakar itu seperti masuknya ember ke dalam sumur dan tetap
dianggap zina meskipun ada penghalang  antara zakar dan farajnya selama penghalang itu
tidak menghalangi kenikmatan.[3]
4.      Bentuk-bentuk Zina
a.       Zina Muhsan
       Yaitu lelaki atau perempuan yang telah pernah melakukan persetubuhan halal (sudah
pernah menikah) .Perzinaan yang boleh dituduh dan didakwa dibawah kesalahan Zina
Muhsan ialah lelaki atau perempuan yang telah baligh, berakal, merdeka dan telah pernah
berkahwin, iaitu telah merasai kenikmatan persetubuhan secara halal.
b.      Zina Ghair Muhsan
Yaitu lelaki atau perempuan yang belum pernah melakukan persetubuhanyang halal
(belum pernah menikah).Penzinaan yang tidak cukup syarat-syarat yang disebutkan bagi
perkara diatas tidak boleh dituduh dan didakwa dibawah kesalahan zina muhsan,
tetapi mereka itu boleh dituduh dan didakwa dibawah kesalahan zina bukan muhsan
mengikut syarat-syarat yang dikehendaki oleh hukum syara’.[4]

5.      Dampak Negatif  Perzinahan
Mengapa zina dilarang agama? Islam melarang perbuatan zina karena dampak
negatifnya yang sangat besar. Akibat buruk yang ditimbulkan akibat perzinaan antara lain:[5]
a.    Menghancurkan masa depan anak. Anak yang dihasilkan dari hubungan gelap (perzinaan)
akan menghadapi masa kanak-kanaknya dengan tidak bahagia karena ia tidak memiliki
identitas ayah yang jelas.
b.    Merusak keturunan yang sah bila perzinaan menghasilkan seorang anak atau lebih.
Keturunan yang sah menurut Islam adalah anak yang dilahirkan dari pernikahan yang sah.
Bila hubungan gelap itu dilakukan dengan dua atau lebih laki-laki, maka akan mengaburkan
hubungan nasab atau keturunan kepada bapak yang sebenarnya.
c.    Mendorong perbuatan dosa besar yang lain, seperti menggugurkan kandungan, membunuh
wanita yang telah hamil karena perzinaan, atau bunuh diri karena menanggung rasa malu
telah berzina.
d.   Menimbulkan berbagai jenis penyakit kelamin seperti, misalnya AIDS, bila perzinaan
dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Walaupun saat ini telah ada alat pengaman
hubungan cekcual, namun hal tersebut tidak menjamin bebas tertular penyakit cekcual
menular.
e.    Terjerat hukuman berupa rajam sebanyak seratus kali atau sampai mati. Hukuman sosial bagi
keluarga pelaku zina juga berlaku di masyarakat, dan hukuman ini akan berlaku seumur
hidup.
6.      Cara Menghindari  Perzinahan
Lalu, bagaimanakah cara menghindarkan diri dari perilaku zina? Beberapa cara
efektif yang bisa kita lakukan untuk menghindarkan diri dari perbuatan zina adalah sebagai
berikut:[6]
a.    Hindari mendekati tempat-tempat maksiat yang dapat memberikan peluang dan kesempatan
untuk berzina. Sekali kita melangkah masuk ke tempat tersebut, akan sulit untuk berpaling
dari beragam kemaksiatan.
b.    Jangan mendekati hal-hal yang menjurus kepada perbuatan zina, seperti berpacaran,
berciuman, berpelukan dengan lawan jenis, menonton film porno, atau membaca buku-buku
yang di dalamnya terdapat konten pornografi. Mendekati hal-hal yang menjurus kepada zina
akan menyebabkan orang tersebut terobsesi untuk melakukan perzinaan.
c.    Memilih teman bergaul yang saleh dan tidak suka mengunjungi tempat-tempat maksiat.
Sebab, teman yang saleh akan menebarkan kebaikan kepada temannya, serta selalu
mengingatkan tentang bahaya perzinaan.
d.   Menambah ilmu pengetahuan agama dengan menghadiri majelis-majelis taklim. Selain itu,
kita juga perlu mengunjungi orang-orang saleh yang akan mengingatkan diri untuk selalu
waspada terhadap godaan nafsu dan jebakan ilusi setan dalam perzinaan.
e.    Membaca buku-buku keislaman yang secara spesifik mengingatkan pembacanya mengenai
bahaya perzinaan. Dengan memahami bahayanya, seseorang akan menyadari pentingnya
menghindari zina dalam kehidupan bermasyarakat.
f.     Membaca Al-Quran sambil merenungi tafsirnya, mengindahkan sabda-sabda Nabi, dan
mendengarkan nasihat ulama tentang pentingnya menjauhi segala macam dosa, termasuk
berzina dan mendekati zina.
7.      Permasalahan Zina disekitar Kita
Media elektronik seperti televisi, internet, CD player, komputer dan sebagainya
termasuk menjadi sebab utama krisis moral bangsa ini. Teknologi telah disalah gunakan.
Pornografi dan pornoaksi sangat mudah diakses di internet. Tontonan film dan sinetron yang
tidak syar’i dan tidak mendidik menghiasi chanel televisi kita. VCD/DVD porno beredar
dimana-mana.
Menjamurnya buku dan bacaan cabul sangat efektif menghancurkan moral
pembacanya, baik novel, komik, maupun majalah yang mengandung pornografi dan
pornoaksi. Semua sarana ini menjurus terjadinya zina.
Pergaulan bebas di sepanjang jalan protokol ibu kota negeri syariat dengan dalih
makan burger ikut mewarnai maksiat malam di lingkungan kita. Kafe-kafe yang menjamur
tanpa ada pemisahan tempat duduk antara laki-laki dan perempuan yang non muhrim.
Sementara Pemerintah hanya diam saja menjadi penonton budiman tanpa ada tindakan tegas,
seakan “mengamini” kondisi maksiat ini.
Tidak peduli, baik pelaku zina itu berstatus suami atau istri, mahasiswa, pejabat, dan
sebagainya. Perbuatan zina nekad dilakukan hanya untuk memuaskan nafsu birahi sesaat.
Anehnya, pelaku maksiat ini masih berkeliaran di sekitar kita dengan tenang tanpa ada sanksi
yang tegas terhadap mereka. Dengan dalih suka sama suka, merekapun terbebas dari jeratan
hukum KUHP yang merupakan produk hukum kolonial Belanda.
Hal ini dapat berefek negatif terhadap imej orang luar tentang penerapan syariat itu
sendiri, dan membuka celah bagi orang “anti syariat” untuk menyerang syariat. Padahal yang
salah adalah oknum (orang)nya, bukan sistem syariat yang berorientasi mendatangkan
kemaslahatan bagi manusia dan menghilangkan kemudharatan dalam konteks individu
maupun sosial.[7]
8.      Penyabab Maraknya Zina
Banyak faktor yang menyebabkan maksiat ini “tumbuh subur” di negeri kita ini.
Faktor yang utama adalah lemahnya Iman masyarakat saat ini. Krisis iman ini disebabkan
kita telah jauh dari pendidikan dan pengamalan nilai-nilai Islam. Pendidikan kita selama ini,
sejak usia dini sampai tingkat universitas telah membentuk paradigma bahwa dunia adalah
segala-galanya, tanpa ada prioritas terhadap agama (iman) dan moral (akhlak). Kita dididik
untuk berlomba-lomba mengejar kemewahan dunia (harta, pangkat dan jabatan). Padahal
Allah Swt telah mengingatkan kita:
tBur OçFÏ?ré& `ÏiB &äóÓx« ßì»tFyJsù Ío4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# $!
$ygçGt^ƒÎ—ur 4$tBur y‰YÏã «!$# ×Žöyz #’s+ö/r&ur 4 Ÿxsùr& 
?tbqè=É)÷ès
“Dan apa saja (kekayaan, jabatan dan keturunan) yang diberikan kepadamu, maka itu
adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya, sedang apa yang di sisi Allah adalah
lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kamu mengerti? (QS. Al-Qashah: 60).
Selain itu, faktor media elektronik seperti televisi, internet, CD player, komputer dan
sebagainya termasuk menjadi sebab utama krisis moral bangsa ini. Teknologi telah disalah
gunakan. Pornografi dan pornoaksi sangat mudah diakses di internet. Tontonan film dan
sinetron yang tidak syar’i dan tidak mendidik menghiasi chanel televisi kita. Begitu juga
VCD/DVD porno beredar dimana-mana. Media cetakpun memberi andil yang besar terhadap
pemikiran dan moral pembaca. Menjamurnya buku dan bacaan cabul sangat efektif
menghancurkan moral pembacanya, baik novel, komik, maupun majalah yang mengandung
pornografi dan pornoaksi. Semua sarana ini menjurus terjadinya zina.
Selain itu, kita sendiri telah memberikan peluang untuk maksiat ini. Kita membiarkan
remaja kita (yang belum menikah) berkhalwat dengan pacaran, jalan dua-duaan, dan
berboncengan motor. Pergaulan bebas di sepanjang jalan protokol ibu kota negeri syariat
dengan dalih makan burger ikut mewarnai maksiat malam di negeri ini. Kafe-kafe yang
menjamur tanpa ada pemisahan tempat duduk antara laki-laki dan perempuan yang non
muhrim. Pakaian para wanita pun mengundang birahi lawan jenisnya (ketat, tipis dan nampak
aurat). Sementara Pemerintah hanya diam saja menjadi penonton budiman tanpa ada tindakan
tegas, seakan “mengamini” kondisi maksiat ini.[8]
9.      Solusi Permasalahan Zina
Islam adalah agama fitrah yang mengakui keberadaan naluri seksual. Di dalam Islam,
pernikahan merupakan bentuk penyaluran naluri seks yang dapat membentengi seorang
muslim dari jurang kenistaan. Maka, dalam masalah ini nikah adalah solusi jitu yang
ditawarkan oleh Rasulullah saw sejak 14 abad yang lampau bagi gadis/perjaka.
Selain itu, penerapan syariat Islam merupakan solusi terhadap berbagai problematika
moral ini dan penyakit sosial lainnya. Karena seandainya syariat ini diterapkan secara kaffah
(menyeluruh dalam segala aspek kehidupan manusia) dan sungguh-sungguh, maka sudah
dapat dipastikan tingkat maksiat khalwat, zina, pemerkosaan dan kriminal lainnya akan
berkurang drastic, seperti halnya di Arab Saudi. Survei membuktikan, kasus kriminal di Arab
Saudi paling sedikit di dunia.
Orang tua pun sangat berperan dalam pembentukan moral anaknya dengan memberi
pemahaman dan pendidikan islami terhadap mereka. Orang tua hendaknya menutup peluang
dan ruang gerak untuk maksiat ini dengan menyuruh anak gadisnya untuk berpakaian syar’i
(tidak ketat, tipis, nampak aurat dan menyerupai lawan jenis). Memberi pemahaman akan
bahaya pacaran dan pergaulan bebas. Dalam konteks kehidupan masyarakat, tokoh
masyarakat dapat memberikan sanksi tegas terhadap pelaku zina sebagai preventif
(pencegahan). Jangan terlalu cepat menempuh jalur damai “nikah”, sebelum ada sanksi
secara adat, seperti menggiring pelaku zina ke seluruh kampung untuk dipertontonkan dan
sebagainya. Selain itu, majelis ta’lim dan ceramah pula sangat berperan dalam mendidik
moral masyarakat dan membimbing mereka.
Begitu pula sekolah, dayah dan kampus sebagai tempat pendidikan secara formal dan
informal mempunyai peran dalam pembentukan moral pelajar/mahasiwa. Dengan diajarkan
mata pelajaran Tauhid, Al-Quran, Hadits dan Akhlak secara komprehensif dan
berkesinambungan, maka para pelajar/mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi seorang
muslim yang cerdas intelektualnya, namun juga cerdas moralnya (akhlaknya).
Peran Pemerintah dalam amal ma’ruf nahi munkar mesti dilakukan. Pemerintah
diharapkan mengawasi dan menertibkan warnet-warnet, salon-salon, kafe-kafe dan pasangan
non-muhrim yang berboncengan. Karena, bisa memberi celah dan ruang untuk maksiat ini.
Mesti ada tindak pemblokiran situs-situs porno sebagaimana yang diterapkan di Negara Islam
lainnya seperti Arab Saudi, Iran, Malaysia dan sebagainya.
Pemerintah hendaknya bersungguh menegakkan syariat Islam di Bumi Serambi
Mekkah ini, dengan membuat Qanun-Qanun yang islami, khususnya Qanun Jinayat (hukum
pidana) dengan sanksi yang tegas, demi terciptanya keamanan, kenyamanan dan ketentraman
di negeri ini. Di samping itu, konsep pendidikan Islami mesti segera dirumuskan dan
diterapkan. Sebagai solusi atas kegagalan dan kelemahan sistim pendidikan selama ini yang
tidak mendidik moral generasi bangsa. Tidak ada pilihan lain, pendidikan Islami sudah
menjadi pilihan dan priotitas seperti yang diamanatkan dalam renstra Qanun pendidikan
untuk segera diterapkan dan juga merupakan solusi terhadap permasalahan moral generasi
bangsa.[9]
10.  Hikmah diharamkanya Zina
Perilaku zina merusak moral masyarakat dan melemahkan sendi-sendi kepribadian
bangsa. Adapun hikmah pengharaman perilaku zina adalah sebagai berikut:[10]
a.    Menjaga keturunan agar terhindar dari ketidakjelasan nasab.
b.    Dapat menjaga kesucian dan martabat manusia.
c.    Hukuman berat bagi pelaku zina memberikan pelajaran bagi orang lain berupa rasa takut
mendekati zina dan melakukannya.
d.   Terpelihara dari penyakit kotor yang ditimbulkan dari perzinaan seperti penyakit kelamin dan
AIDS.
e.    Terhindar dari kejahatan-kejahatan lain yang diakibatkan setelah melakukan perzinaan
seperti pengguguran janin dan pembunuhan karena ingin menghindar dari rasa malu.
B.  Had Zina 
1.    Zina yang mengakibatkan hukuman Had
Zina yang dapat menyebabkan hukuman had adalah ketika ujung kepala zakar sudah
masuk didalam kemaluan wanita yang diharamkan,meskipun tidak sampai mengeluarkan
sperma.Adapun jika hanya bercumbu diselain kemaluan,maka tidak diberlakukan
hukum had,tetapi yang diwajibkan adalah hukuman ta’zir.[11]
2.      Hukuman Had bagi Pezina
a.  Hukuman Had bagi pezina yang belum menikah
Had pria atau wanita yang lajang yang berzina adalah seratus kali dera,berdasarkan
Firman Allah SWT:
èpu‹ÏR#¨“9$# ’ÎT#¨“9$#ur (#rà$Î#ô_$$sù ¨@ä. 7‰Ïnºur 
$yJåk÷]ÏiB sps($ÏB;ot$ù#y_ ( Ÿwur /ä.õ‹è{ù's? $yJÍkÍ5 ×psùù&u‘ ’Îû 
ÈûïÏŠ «!$# bÎ) ÷LäêZä.tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ÌÅzFy$# 
( ô‰pkô¶uŠø9ur $yJåku5#x‹tã×pxÿͬ!$sÛ z`ÏiB tûüÏZÏB÷sßJø9$#
“ Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari
keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu
untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan
hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang
beriman”.( QS.An-Nur :2 )
Sedangkan Menurut Jumhur ulama,Had bagi pezina yang lajang adalah didera 100 kali
dan diasingkan selama setahun.[12]
b. Hukuman Had bagi pezina yang sudah menikah
Hukuman orang yang pernah menikah yang berzina adalah diramjam hingga mati,baik
laki-laki maupun perempuan.

c.       Penetapan Hukum Had


Had zina dapat ditetapkan dengan hal-hal sebagai berikut:[13]
1). Pengakuan
                        Rosulullah SAW Bersabda:
) ‫امر رسول هللا صلى هللا عليه وسلم انيس ليقابل امراة زانية وان شهدت فارجموها ( رواه البخاري‬
“ Rosulullah SAW memerintahkan Unais untuk menemui wanita yang berzina,kemudian ia
mengakui perbuatanya,laju Unais meranjamnya” (HR.Bukhari )
2). Pernyataan empat orang Saksi
                                    Allah SWT Berfirman :
tûïÏ%©!$#ur tbqãBötƒ ÏM»oY|ÁósßJø9$# §NèO óOs9 (#qè?ù'tƒ 
Ïpyèt/ö‘r'Î/uä!#y‰pkà óOèdr߉Î=ô_$$sù tûüÏZ»uKrO 
Zot$ù#y_ Ÿwur (#qè=t7ø)s?öNçlm; ¸oy‰»pky #Y‰t/r& 4 y7Í
´¯»s9'ré&ur ãNèd tbqà)Å¡»xÿø9$#
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik[1029] (berbuat zina) dan
mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu)
delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-
lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik “.              ( QS.An-Nur:4 )
3). Dengan bukti kehamilan jika suami atau tuanya tidak diketahui
                    Ibnu Abbas berkata,bahwa Rosulullah SAW Bersabda :
) ‫ان الرجم حق على الزنا وهو الشاهد والحملة او التقرير ( رواه البخاري‬
      “ Sesungguhnya hukuman rajam itu adalah haq ( ketetapan ) yang diberlakukan atas
pelaku zina,yaitu melalui saksi,kehamilan,atau pengakuan “. ( HR.Bukhari )

3.      Bagaimana Sikap Pemerintah apabila ada orang yang mengaku berzina ?


Jika ada orang yang mengaku berzina datang kepada pemerintah atau polisi,maka
seorang Imam harus menetapkan ucapan Rosulullah SAW:
) ‫تعافوا الحدود فيما بينكم فما بلغني من حد فقد وجب ( رواه ايو داود‬
“ Hendaklah kalian saling mema’afkan dalam masalah had yang terjadi diantara
kalian,sebab jika perkara had itu telah sampai kepadaku,maka hukumnya telah wajib
ditegakan”. HR.Abu Dawud )
             Setelah melihat hadits tersebut,maka kita yang hidup di Negara yang sepenuhnya
belum menjalankan syari’at hukum Islam maka meskipun kita hidup di Negara ini tapi kita
harus berniat dan bertekad untuk menegakan dan menjalankan hukum syari’at islam di
Negara Kita ini supaya kita terbebas dari dosa.
4.      Hal-hal yang dapat menggugurkan Hukum Had
a.    Adanya bukti-bukti yang menunjukan terdaka tidak mungkin berzina
Jika muncul hal-hal yang bisa memastikan seorang pria atau wanita tidak mungkin
berbuat zina,seperti wanita yang masih perawan dan tertutup rapat kemaluanya dan pria yang
telah dikebiri atau impoten,maka gugurlah hukum had atasnya.
b.      Adanya pembelaan terdakwa yang dapat diterima Imam
Had juga bisa gugur dari seorang tertuduh,jika ia mempunyai alas an yang dapat diterima
oleh Imam.
c.       Terdakwa menunjukan kesungguhan Taubatnya
Menurut Ibnu Hukum had bisa gugur dari orang yang bertaubat dengan sebenar-
benarnya.
d.      Berzina karena dipaksa ( diperkosa )
Pria atau wanita yang dipaksa berbuat zina tidak dijatuhi humuman had.Sebagaimana
dijelaskan dalam Hadits Rosulullah SAW berikut: 
) ‫رفع عن امتي الخطا والنسيان وما استقرهوا عليه ( رواه ابن ماجه‬
“ Umatku dimaafkan dari kesalahan yang dilakukan tanpa sengaja,karena lupa,dank arena
terpaksa “.( HR.Ibnu Majah )

e.       Berhubungan Intim dengan pasangan yang keliru


Jika seorang wanita dibawa kepada seorang pria yang baru saja menikah,sementara seseorang
mengatakan kepada pria tersebut:”Inilah Istrimu”,hingga akhirnya pria itu menggaulinya
dengan keyakinan bahwa ia adalah istrinya.Maka menurut kesepakatan ulama,pria tadi tidak
dikenakan hukuman had zina.[14]
C.  Qadzaf ( Menuduh Zina )
1.    Pengertian dan Hukum Qadzaf
Qadzaf dalam arti bahsa adalah ‫الر مي بالحجارة ونحوها‬ artinya melempar dengan batu dan
lainnya.
Jadi dapat diartikan bahwa Qadzf  ialah menuduh orang lain berzina. Misalnya seseorang
mengatakan, “Wahai orang yang berzina,” atau lain sebagainya yang dari pernyataan tersebut
difaham bahwa seseorang telah menuduh orang lain berzina.[15]
Qadzaf dalam istilah syara’ ada dua macam yaitu:
a.       Qadzaf yang diancam dengan hukuman had
Qadzaf yang diancm dengan hukuman had adalah:
‫رمي المحصن با لزنا أونفي نسبه‬
“Menuduh orang yang muhshan dengan tuduhan berbuat zina atau dengan tuduhan yang
menghilangkan nasabnya  “.
b.    Qadzaf yang diancam hukuaman ta’zir
Qadzaf yang diancam dengan hukuman ta’zir adalah:
‫الرمى بغير الزنا أونفي النسب سواء كان من رمى محصنا أوغير محصن‬
“Menuduh dengan tuduhan selain berbuat zina atau selain menghilangkan nasabnya, baik
orang yang dituduh itu muhshan maupun ghair muhshan “.
Qadzaf hukumnya haram dan termasuk kepada dosa besar.Sebagaimana dijelaskan
dalam Firman Allah SWT:
bÎ) tûïÏ%©!$# šcqãBötƒ ÏM»uZ|ÁósãKø9$# ¨
ÏM»n=Ïÿ»tóø9$#ÏM»oYÏB÷sßJø9$# (#qãZÏèä9 ’Îû $u‹÷R‘‰9$# Íot
ÅzFy$#ur öNçlm;urë>#x‹tã ×LìÏàtã
“ Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi
beriman (berbuat zina), mereka kena la'nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang
besar “.( QS.An-Nur:23 )
2.    Pembuktian Jarimah Qadzaf
Had Qadzaf bisa ditetapkan dengan 3 hal,yaitu sebagai berikut:[16]
a.    Persaksian
Persaksian Jarimah Qadzaf dapat dibuktikan dengan persaksian dan persyaratan
persaksian dalam masalah qadzaf sama dengan persyaratan persaksian dalam kasus zina.
b.    Pengakuan
Pengakuan yakni si penuduh mengakui bahwa telah malakukan tuduhan zina kepada
seseorang. Menurut sebagian ulama, kesaksian terhadap orang yang melakukan zina harus
jelas, seperti masuknya ember ke dalam sumur (kadukhulid dalwi ilal bi’ri). Ini menunjukkan
bahwa jarimah ini sebagai jarimah yang berat seberat derita yang akan ditimpahkan bagi
tertuduh, seandainya tuduhan itu mengandung kebenaran yang martabat dan harga diri
seserang. Para hakim dalam hal ini dituntut untuk ekstra hati-hati dalam menanganinya, baik
terhadap penuduh maupun tertuduh. Kesalahan berindak dalam menanganinya akan berakibat
sesuatu yang tak terbayangkan.
c.    Sumpah
Dengan Sumpah Menurut Imam Syafi’i jarimah qadzaf bisa dibuktikan dengan
sumpah apabila tidak ada saksi dan pengakuan. Caranya adalah orang yang dituduh (korban)
meminta kepada orang menuduh (pelaku) untuk bersumapah bahwa ia tidak melakukan
penuduhan. Apabila penuduh enggan untuk bersumpah maka jarimah qadzaf bisa dibuktikan
dengan keengganannya untuk sumpah tersebut. Demikian pula sebaliknya, penuduh (pelaku)
bisa meminta kepada orang yang dituduh (korban) bahwa penuduh benar malakukan
penuduhan. Apabila orang yang dituduh enggan melakukan sumpah maka tuduhan dianggap
benar dan penuduh dibebaskan dari hukuman had qadzaf.
Akan tetapi Imam Malik dan Imam Ahmad tidak membenarkan pembuktian dengan
sumpah, sebagaimana yang di kemukakan oleh madzhab Syafi’i.Sebagian
ulama Hanafiyah pendapatnya sama dengan madzhab Syafi’i.
3.    Had Qadzaf
  Para Fuqaha sepakat bahwa hukuman bagi orang yang menuduh orang lain berbuat
zina namun tidak mampu mendatangkan empat orang saksi adalah :
a.     Didera (dijilid) delapan puluh kali bagi qadzif  yang merdeka. Sebagaimana firman Allah: 
tûïÏ%©!$#ur tbqãBötƒ ÏM»oY|ÁósßJø9$# §NèO óOs9 (#qè?ù'tƒ 
Ïpyèt/ö‘r'Î/uä!#y‰pkà óOèdr߉Î=ô_$$sù tûüÏZ»uKrO Zot$ù#y_ 
Ÿwur (#qè=t7ø)s?öNçlm; ¸oy‰»pky #Y‰t/r& 4 y7Í´¯»s9'ré&ur 
ãNèd tbqà)Å¡»xÿø9$#
  “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka
tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh) 80 kali dera,
dan janganlah kamu terima kesaksian mereka selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-
orang fasiq”.(QS. An-Nur : 4)
b.    Didera atau dijilid empat puluh kali, bila penuduhnya hamba sahaya
Orang yang menuduh seseorang berbuat zina dapat dikenakan hukuman
dera/jilid            seperti di atas, bila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1)      Qadzif (yang menuduh zina) dengan syarat baligh, berakal dan tidak dipaksa.
2)      Maqdzuf (yang dituduh zina) dengan syarat : baligh, berakal, islam, merdeka dan
kehormatannya terpelihara.
3)      Maqdzuf bih (sesuatu yang digunakan menuduh zina) dengan syarat pernyataan tuduhan zina
baik lisan ataupun tulisan.[17]
4.    Syarat-syarat gugurnya Qadzaf
Seorang yang menuduh orang lain berbuat zina dapat bebas dari had (hukuman)
qadzaf apabila terjadi salah satu dari keadaan di bawah ini :[18]
a.    Penuduh dapat mengemukakan empat orang saksi, bahwa tertuduh benar-benar berbuat zina.
Syarat saksinya adalah laki-laki, adil, memberikan kesaksian yang sama tentang tempat
berzina, waktu dan cara melakukannya. Dasar hukumnya adalah  Qur’an Surat An Nur : 4). 
b.    Dengan Li’an ( ‫لعان‬ ) jika suami menuduh isteri berzina tanpa mengemukakan empat orang
saksi.
c.    Li’an adalah sumpah suami yang menuduh isterinya berzina. Sumpah tersebut diucapkan
empat kali diantara lain ucapannya ”Demi Allah istri saya telah berzina dengan si Fulan lalu
pada ucapan sumpah yang kelima ditambah dengan kalimat ; “Saya bersedia dikutuk Allah
bila saya berdusta”.
d.   Orang yang dituduh memaafkan orang yang menuduh.
e.    Bila yang dituduh membenarkan tuduhan penuduh (pengakuan si pelaku).
5.    Hikmah Qadzaf
Dengan ditetapkan had qadzaf ternyata mengandung beberapa hikmah sebagai
berikut :[19]
a.    Orang lebih berhati-hati berbicara apalagi melemparkan tuduhan berzina sebelum ada bukti
tertentu. 
b.    Terpelihara keharmonisan dan pergaulan diantara sesama manusia, karena tidak ada
permusuhan diantaranya.
c.    Pembohong merasa jera dan menyadari perbuatan yang tidak terpuji
d.   Pada zaman kini tes DNA dapat memberikan petunjuk siapa orangtuanya pada komisi fikih
rabitah alam islami terjadi perbedaan pendapat tentang halal tidaknya tes DNA
D.  Model dan Strategi Pembelajaran 
Model dalam pembelajaran dapat dipahami sebagai suatu rancangan yang telah
diprogram melalui media peraga dalam membantu untuk memvisualisasikan pesan yang
terkandung didalamnya untuk mencapai tujuan belajar sebagai pegangan dalam
melaksanakan kegiataan pembelajaran.
Joyce dan Weil membagi model mengajar ke dalam empat kategori, yaitu:
1.    Model pengolahan informasi, 
2.    model personal, 
3.    model interaksi, dan 
4.    model tingkah laku.[20]
Menurut Sanjaya ada beberapa strategi pembelajaran yang harus dilakukan oleh
seorang guru :
1.    Strategi pembelajaran ekspositori
2.    Strategi pembelajaran inquiry
3.    Strategi pembelajaran berbasis masalah
4.    Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir
5.    Strategi pembelajaran kooperatif
6.    Strategi pembelajaran kontekstual CTL
7.    Strategi pembelajaran afektif [21]
Berdasarkan pada penjelasan di atas, maka model dan strategi yang cocok
untuk  menyampaikan materi fiqih munakahat tentang Bab Had Zina  ini adalah model
pengolahan informasi dan strategi ekspositori dan  inquiri.
BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
1.    Zinah adalah memasukan zakar kedalam faraj yang haram dengan tidak syubhat dan cara
cara naluriah memuaskan hawa nafsu.Perbuatan zina diharamkan dalam syari’at islam,karena
termasuk kepada dosa besar.Zina ada dua macam yaitu zina Muhsan dan zina ghair
Muhsan.Sementara hukuman had bagi pezina adalah sebagai berikut:
a.    Hukuman Had bagi pezina yang belum menikah
Had pria atau wanita yang lajang ( Ghair Muhsan ) yang berzina adalah seratus kali
dera,kemudian diasingkan selama satu tahun.
b.    Hukuman Had bagi pezina yang sudah menikah
Hukuman orang yang pernah menikah ( Muhsan ) yang berzina adalah diramjam
hingga mati,baik laki-laki maupun perempuan.
2.    Qadzf  ialah menuduh orang lain berzina. Misalnya seseorang mengatakan, “Wahai orang
yang berzina,” atau lain sebagainya yang dari pernyataan tersebut difaham bahwa seseorang
telah menuduh orang lain berzina.Qadzaf hukumnya haram.Adapun hukuman had Qadzaf
adalah sebagai berikut:
a.    Didera (dijilid) delapan puluh kali bagi qadzif  yang merdeka
b.    Didera atau dijilid empat puluh kali, bila penuduhnya hamba sahaya
B.  Saran
       Adapun saran yang dapat penulis sampaikan setelah membahas makalah tersebut adalah
sebagai berikut:
1.    Kepada seluruh umat Islam hendaklah menjauhi segala sesuatu yang dapat menyebabkan
proses terjadina zina karena zina itu merupakan salah satu dosa yang besar yabg dibenci oleh
Allah SWT
2.    Kepada seluruh remaja Islam tegakanlah hukum syari’at Islam sesuai dengan ajaran Islam
supaya tercipta masyarakat yang Islami