Anda di halaman 1dari 26

8

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi ECC dan SECC


Karies merupakan penyakit infeksi kronis yang sering terjadi, hasil dari
perlekatan bakteri spesifik pada gigi yaitu Mutans Streptococcus (MS), yang dapat
memproduksi asam dari waktu ke waktu sehingga terjadi demineralisasi struktur gigi.1
Banyak istilah yang telah digunakan untuk menggambarkan karies pada anak, antara
lain karies rampan, karies botol, nursing mouth, bottle-mouth, karies desidui, comforter
caries, maxillary anterior caries, dan lain-lain.3,9,22,23 AAPD dan ADA membuat
kriteria karies pada periode gigi sulung yaitu pengalaman karies yang ditandai dengan
adanya satu atau lebih gigi karies (lesi non-kavitas atau berkavitas), gigi hilang karena
karies, atau tumpatan pada permukaan gigi setiap gigi sulung pada anak usia dibawah
6 tahun disebut sebagai Early Childhood Caries (ECC).1,2 Pada anak dibawah usia 3
tahun, Severe Early Childhood Caries (SECC) didefinisikan sebagai segala tanda
karies pada permukaan halus. SECC pada anak usia 3-5 tahun ditandai dengan adanya
satu atau lebih kavitas, gigi yang hilang karena karies, atau tumpatan pada permukaan
halus pada gigi sulung anterior atau gigi karies, gigi yang hilang karena karies, atau
skor tumpatan yang lebih besar atau sama dengan 4 untuk usia 3 tahun, lebih besar atau
sama dengan 5 untuk anak usia 4 tahun, dan lebih besar atau sama dengan 6 pada
permukaan halus untuk anak usia 5 tahun.1
Ditinjau dari pengertiannya, ECC dan SECC memiliki gambaran klinis yang
hampir sama, tetapi perbandingannya terletak pada usia dan skor deft dari gigi yang
terlibat. Menurut Ismail, et al, perbedaan istilah SECC dapat digunakan untuk karies
yang terjadi secara tiba-tiba, memiliki perkembangan yang cepat, tersebar luas pada
gigi, memengaruhi permukaaan gigi yang seharusnya resisten terhadap karies, dan
pada akhirnya melibatkan pulpa.23

Universitas Sumatera Utara


9

Perkembangan ECC menurut Veerkamp dapat dilihat pada Tabel 1. yang


membagi diagnosis berdasarkan 4 tahap berbeda sesuai gambaran klinis serta tanda dan
gejala dari gigi yang terlibat karies, yaitu:

Tabel 1. Tahapan diagnosis ECC dan SECC 23


TINGKAT USIA GAMBARAN KLINIS TANDA DAN GEJALA
1 ≤10-20 Timbul lesi menyerupai kapur, Tidak bergejala. Biasanya
bulan berwarna putih opak pada tidak dikenali oleh orang tua
permukaan halus hasil dan saat pemeriksaan klinis.
demineralisasi pada gigi insisivus Lesi dapat didiagnosis
sentralis maksila. hanya pada saat gigi kering.
Garis putih dapat terlihat pada
daerah servikal di permukaan
vestibulum dan palatal dari gigi
insisivus maksila
2 16-24 Dentin telah terlibat saat lesi Anak mulai mengeluh
bulan putih pada insisivus berkembang terhadap makanan atau
cepat, menyebabkan enamel minuman yang dingin.
terlarut. Orang tua terkadang
Dentin terekspos dan tampak mengetahui perubahan
warna kuning. warna gigi anak.
Pada gigi molar satu maksila
timbul lesi di daerah servikal,
proksimal, dan oklusal.
3 20-36 Lesi membesar dan lebih dalam Anak mengeluhkan rasa
bulan pada gigi insisivus maksila dan sakit saat mengunyah atau
pulpa teriritasi menyikat gigi dan rasa sakit
spontan saat malam hari.
Pada tahap ini, molar satu
maksila pada tahap 2,
sedangkan tahap 1 dapat
didiagnosis pada molar satu
mandibular dan kaninus
maksila
4 30-48 Karakteristik dari fraktur koronal Beberapa anak menderita
bulan pada gigi anterior maksila tapi tidak dapat
sebagai hasil dari kerusakan mengeluhkan sakit giginya.
dentin. Pada tahap ini, biasanya Mereka sulit tidur dan
gigi insisivus lateral maksila menolak untuk makan.
telah necrotized dan gigi molar
satu maksila pada tahap 3. Gigi
molar 2 dan kaninus maksila serta
gigi molar pertama mandibula
pada tahap 2

Universitas Sumatera Utara


10

2.2 Prevalensi ECC dan SECC


ECC dan SECC dapat dicegah dan perawatannya telah berkembang cepat, namun
karies masih terdapat pada seluruh negara dengan prevalensi dan tingkat keparahan
yang berbeda.6,14 Data World Health Organization (WHO) tahun 2003 telah
mengonfirmasi bahwa karies, termasuk ECC dan SECC menjadi penyakit infeksi
dengan prevalensi tertinggi dari sekian banyak penyakit pada rongga mulut.4,5 Hal ini
terjadi baik di negara maju maupun negara berkembang. Tingkat keparahan karies
dibeberapa penelitian cenderung lebih tinggi pada negara berkembang dibandingkan
dengan negara maju.5 Pada Tabel. 2 berikut daftar prevalensi dan tingkat keparahan
pada beberapa negara maju dan negara berkembang.31-40

Tabel 2. Prevalensi dan tingkat keparahan ECC pada negara maju dan negara
berkembang 31-40
Negara Maju Prevalensi (%) Tingkat Keparahan
New York (USA)31 28 deft=1,68
Inggris32 33 deft = 1,35
Kanada33 71 deft=3.7
Australia34 34 deft = 2,95
Korea Selatan35 40,3 deft = 1,93
Negara Berkembang Prevalensi (%) Tingkat Keparahan
China36 85 deft = 5,7
India37 54.1 deft = 2.70
Lithuania38 85,4 defs = 12,03
Brazil39 40 defs = 3,0
Laos40 82 deft = 5,5

Prevalensi ECC di Indonesia pada anak usia 3-5 tahun cenderung meningkat
seperti di Jakarta, pada tahun 1988 prevalensi ECC mencapai 72% sedangkan pada
tahun 2001 meningkat hingga 81,2%.16,17 Pada penelitian yang dilakukan oleh Eka
Chemiawan di Bandung pada anak usia 15-60 bulan, prevalensi ECC mencapai

Universitas Sumatera Utara


11

56,78%.41 Di kota Medan, khususnya di kecamatan Medan Denai, hasil penelitian


menunjukkan prevalensi ECC 57,7 %, prevalensi SECC 16 %.18 Menurut Guinardi,
prevalensi ECC pada anak usia 37-71 bulan di Kecamatan Medan Petisah sebanyak
89,38% dan rerata skor deft sekitar 6,8.42

2.3 Etiologi dan Faktor Risiko ECC dan SECC


Karies merupakan penyakit yang bersifat kompleks dan dinamis karena
multifaktorial dan memiliki berbagai risiko pendukung yang berkembang dalam waktu
yang cukup lama.12 Menurut para ahli, terdapat 4 etiologi utama penyebab karies yaitu
host, mikroorganisme, substrat dan waktu (Gambar 1).43,44

Gambar 1. Etiologi karies44

2.3.1 Host
Host pada faktor etiologi karies adalah morfologi dan anatomi gigi serta kualitas
dan kuantitas saliva.43,45 Gigi merupakan tempat terjadinya proses karies yang terdiri
dari lapisan enamel, dentin, sementum, serta pulpa. Bagian terluar pada gigi yaitu
enamel mengandung 97% bahan anorganik yaitu mineral (kalsium, fosfat, karbonat,
dan fluor), air 1% dan bahan organik 2% serta mempunyai kristal hidroksi apatit yang
menjadikan enamel sebagai bagian terkuat dari seluruh tubuh manusia. Hidroksi apatit

Universitas Sumatera Utara


12

inilah yang bisa didemineralisasi oleh asam hasil fermentasi dari bakteri dan
menyebabkan karies.43,46,47 Pada gigi desidui, kekuatan enamel tidak seperti pada gigi
permanen karena struktur organik dan air pada gigi sulung lebih banyak dibandingkan
dengan struktur anorganiknya, sehingga hidroksi apatit yang terbentuk sedikit dan
kekuatan enamel pun berkurang.46,47 Gigi sulung pun lebih mudah terkena karies
dibandingkan dengan gigi permanen. Bentuk anatomis gigi anterior dan posterior pun
memengaruhi proses karies. Pit dan fisur pada posterior gigi yang kasar dan memiliki
celah menyebabkan plak mudah melekat sehingga lebih rentan terhadap karies
dibandingkan dengan gigi anterior.43-45
Saliva juga bagian dari host yang ikut berperan dalam proses karies. Keberadaan
saliva dapat membantu untuk mencegah terjadinya karies karena mempunyai sistem
protektif imun dan non-imun serta kandungan seperti kalsium, fosfat, dan fluor untuk
pembentukan mineral gigi.43 Perubahan kuantitas serta kualitas saliva seperti laju alir
rendah serta pH dan buffer yang kurang dari 5,5 menyebabkan gigi mudah
terdemineralisasi.43-45

2.3.2 Mikroorganisme
Keberadaan mikroorganisme dalam jumlah normal menjadi faktor penyeimbang
flora dan fauna di rongga mulut. Bakteri yang biasa ditemukan antara lain
Streptococcus mitis, Streptococcus viridian, Veillonella Sp, Lactobacillus Sp,
Streptococcus mutans, dan lain-lain.48 Jenis bakteri pada rongga mulut anak yang sehat
lebih bervariasi dibandingkan pada anak yang mengalami ECC. Bakteri yang paling
berperan dalam etiologi ECC adalah Streptococcus mutans disamping Streptococcus
Sobrinus, Actinomyces, dan Lactobacillus sp.49,50 Menurut Chen, et al dalam penelitian
longitudinal, jumlah Streptococcus mutans diikuti Streptococcus sobrinus bertambah
banyak dari bulan ke 6 sebelum gambaran klinis karies tampak pada gigi anak.50
Bakteri-bakteri ini mempunyai sifat asidogenik (memproduksi asam) dan asidurik
(resisten terhadap asam) sehingga dapat memfermentasikan karbohidrat terutama
golongan disakarida karena mempunyai rantai gula yang mudah untuk dilepas.43

Universitas Sumatera Utara


13

Semakin banyak jumlah bakteri yang ada, semakin tinggi pula kesempatan bakteri
untuk memproduksi asam sehingga gigi mudah untuk didemineralisasi.43,50
2.3.3 Substrat atau Diet
Anak yang cenderung mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat,
baik monosakarida, disakarida, dan polisakarida khususnya golongan disakarida yaitu
sukrosa memiliki risiko karies tinggi dibandingkan dengan anak yang mengonsumsi
protein dan lemak.43-45 Hal ini terjadi karena karbohidrat dapat difermentasi oleh
bakteri sehingga berubah jadi asam organik. Apabila rongga mulut dalam suasana asam
baik karena hasil kerja bakteri ataupun makanan/minuman yang asam, dengan pH
kurang atau sama dengan 5,5, maka struktur enamel dan dentin gigi akan mudah
didemineralisasi.43,46,47
Diet juga dapat memengaruhi pembentukan plak karena membantu
perkembangbiakan dan kolonisasi mikroorganisme yang ada pada permukaan enamel
karena nutrisi dari diet yang dibutuhkan oleh manusia juga akan digunakan oleh
mikroorganisme.44,45 Konsistensi makanan yang dikonsumsi juga bisa berpengaruh
terhadap kecepatan pembentukan plak. Makanan yang lengket dan lunak cenderung
menempel di gigi dengan mudah dan akan sulit dibersihkan sehingga menimbulkan
efek pembentukan plak yang cepat.43

2.3.4 Waktu
Pada proses pembentukan karies, waktu juga ikut berperan karena demineralisasi
pada gigi tidak langsung menimbulkan kavitas, melainkan memerlukan waktu yang
melibatkan ketiga faktor diatas untuk saling berinteraksi. Demineralisasi terjadi saat
gigi terpapar oleh asam sehingga pH mulut turun dan struktur mineral gigi terlepas.47
Biasanya proses ini memakan waktu saat makan berlangsung hingga 2 jam setelah
makan. Kemudian, setelah pH naik kembali, proses remineralisasi pun terjadi. Ion-ion
yang hilang pada proses demineralisasi dapat dikembalikan jika terdapat ion kalsium
dan fosfat yang cukup di lingkungan gigi. Kristal hidroksi apatit terbentuk lebih kuat
dari sebelumnya bila keberadaan fluor tercukupi. Proses remineralisasi ini akan terjadi
sekitar 2-3 jam setelah makan.47 Adanya mekanisme demineralisasi-remineralisasi ini,

Universitas Sumatera Utara


14

maka karies dianggap sebagai penyakit kronis yang berkembang dalam waktu sekitar
6-48 bulan.22,47
2.3.5 Faktor Risiko ECC dan SECC
Selain faktor etiologi utama yang menjadi pemicu timbulnya karies, terdapat
faktor risiko yang ikut mendukung perkembangan karies. Beberapa faktor tersebut
antara lain; pola makan, pengalaman karies, penggunaan fluor secara topikal ataupun
sistemik, oral higiene, kebiasaan membersihkan rongga mulut, karies aktif yang
dimiliki ibu, saliva, usia, jenis kelamin, jumlah anak dalam keluarga, latar belakang
sosial ekonomi keluarga, populasi minoritas, daerah pemukiman kurangnya pendidikan
dan pengetahuan tentang kesehatan gigi, serta akses ke pelayanan kesehatan gigi.1,43
Faktor risiko anak dapat dibagi dalam 3 kelompok utama yaitu faktor biologis,
faktor perlindungan, dan faktor temuan klinis.1 Penjabaran faktor utama ini yaitu:

a. Karies aktif yang dimiliki oleh ibu


Tahapan dari karies secara umum dapat dibagi pada dua bagian besar yaitu karies
aktif dan karies terhenti. Menurut Nyvad, et al, karies aktif merupakan lesi karies yang
berkembang mulai dari kategori permukaan utuh (intact surface), surface
discontinuity, dan pembentukan kavitas.51 Permukaan utuh (intact surface) memiliki
ciri permukaan enamel menjadi white spot (opak), hilang kilauannya, sedikit rapuh saat
sonde mendeteksi permukaan, dan tanpa hilangnya substansi enamel, sedangkan
surface discontinuity memiliki ciri sama seperti permukaan utuh hanya saja terdapat
kerusakan mikro yang terlokalisir pada enamel. Pada tahap selanjutnya, kavitas enamel
dan dentin menjadi mudah terlihat dengan mata, permukaan kavitas bisa kasar ataupun
lunak saat diprobing, dan pulpa bisa saja terlibat. Berbeda dengan tahap karies aktif,
karies terhenti memiliki kriteria umum seperti warna permukaan enamel menjadi
kecoklatan ataupun hitam, enamel menjadi keras saat sonde digerakkan, dan tidak ada
kehilangan substansi gigi.51
Perlunya mengetahui tahapan karies aktif pada ibu ini penting karena pada
beberapa penelitiaan ditemukan ibu yang sedang mengalami karies aktif memiliki
jumlah bakteri S.mutans dan Lactobacillus sp yang sedang meningkat. Pada penelitian

Universitas Sumatera Utara


15

yang dilakukan Ayiliath, et al menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan


terhadap tingkat S.mutans dan Lactobacillus antara ibu dan anak. Aktifitas yang intens
antara ibu dan anak menyebabkan bakteri mudah bertransmisi dari mulut ke mulut.
Menurut penelitian tersebut 45% anak terkena karies karena ibunya memiliki karies
aktif dibandingkan dengan anak dengan ibu yang tidak memiliki karies aktif.52
Hubungan transmisi karies ini juga dapat diteliti dengan melihat pengalaman karies ibu
dengan karies yang dimiliki anak, semakin besar skor DMFT ibu maka semakin tinggi
prevalensi karies yang dialami oleh anak.26,52

b. Status sosial ekonomi


Status sosial ekonomi keluarga dapat dipertimbangkan melalui tingkat
pendidikan dan penghasilan antara suami istri yang dapat memengaruhi kesehatan gigi
dan mulut termasuk karies.14 Orang yang memiliki pendidikan tinggi biasanya
mengerti dan peduli pada pola hidup sehat. Orang tua biasanya mengajarkan serta
menerapkan kebiasaan menyikat gigi dari kecil serta memberikan makanan sehat yang
ikut menunjang kesehatan gigi dan mulut anak.24
Status nutrisi dan perawatan dental membutuhkan biaya khusus sehingga
penghasilan orang tua juga berpengaruh pada risiko karies anak. Di Sri Lanka,
prevalensi anak yang karies dengan ibu yang memiliki pekerjaan dan tidak memiliki
pekerjaan sekitar 15,1% dan 84,9%, sedangkan di India, ditemukan bahwa 53,2% anak
mengalami ECC pada keluarga yang berpenghasilan rendah.9,10 Mahalnya perawatan
dental dan kurangnya kepedulian orang tua pada keluhan sakit gigi anak menyebabkan
gigi anak menjadi tidak teratasi sehingga tingkat keparahan karies ikut meningkat.10
Anak dengan status sosial ekonomi keluarga baik pada tingkat pendidikan maupun
tingkat penghasilan cenderung memiliki pengalaman karies yang rendah dibandingkan
dengan anak dengan status sosial ekonomi keluarga menengah ke bawah.9,10

c. Perilaku diet
Perilaku diet merupakan kebiasaan makan anak baik saat makan utama maupun
makanan/minuman yang dikonsumsi selang waktu makan utama yang menyangkut
waktu, kuantitas, frekuensi, durasi, dan cara makan/minum yang anak lakukan.

Universitas Sumatera Utara


16

Perilaku diet dapat memengaruhi risiko karies karena mendukung etiologi utama
karies, terutama substrat dan waktu. Salah satu contoh perilaku diet yang berpengaruh
pada risiko karies adalah anak yang mengonsumsi makanan dan minuman manis lebih
dari 3 kali sehari cenderung memiliki risiko karies yang tinggi.1 Pada penelitian Hugar,
et al menyatakan bahwa 91,4% anak terkena karies karena orang tua yang sering
memberikan susu pada anak.53 Frekuensi serta banyaknya makanan/minuman yang
dikonsumsi antara makan utama akan memengaruh karies anak karena proses
demineralisasi gigi yang terjadi sesudah makan.1,46,47
Selain itu, konsumsi susu botol sebelum tidur juga menjadi kebiasaan yang dapat
meningkatkan risiko karies.16,53,54 Anak atau orang tua yang tidak membersihkan mulut
setelah meminum susu akan membuat pH rongga mulut menjadi lebih asam karena
pada saat tidur laju alir saliva lebih rendah, sehingga kemampuan saliva untuk
melakukan cleansing dan sebagai penyeimbang pH akan berkurang dan risiko karies
pun menjadi lebih tinggi. Orang tua juga biasanya memberikan susu botol sebagai
pengantar tidur anak sampai anak tertidur. Hasil penelitian Hugar, et al juga
mendapatkan bahwa 88,2% anak terkena karies karena orang tua yang membiarkan
anaknya mengonsumsi susu sebelum tidur.53 Cairan susu mengalir dan merendam gigi
ketika anak tertidur karena lidah menahannya untuk masuk ke dalam kerongkongan
sehingga susu yang mengandung karbohidrat tersebut akan difermentasi oleh bakteri
dan menyebabkan anak mudah mengalami karies.16

d. Penyakit sistemik
Penyakit sistemik diartikan sebagai penyakit yang berkaitan dengan metabolisme
tubuh dan dapat memengaruhi berbagai organ ataupun jaringan tubuh. Contoh dari
penyakit sistemik ialah diabetes mellitus, penyakit imunodefisiensi, penyakit ginjal
kronis, hepatitis, dan lain-lain.44,55 Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit
sistemik yang mempunyai manifestasi oral berupa xerostomia. Rendahnya laju alir
saliva dan saliva yang kental akan mengurangi kualitas saliva dalam membersihkan
rongga mulut sehingga plak dan bakteri mudah menumpuk dan menyebabkan karies.50
Pada penelitian Kampoo, et al yang meneliti tingkat bakteri Streptococcus mutans dan

Universitas Sumatera Utara


17

Lactobacillus pada penderita diabetes mellitus tipe 2 dan sehat menyatakan bahwa
orang yang menderita memiliki jumlah bakteri yang lebih banyak dibandingkan dengan
yang sehat.56 Selain itu, penyakit yang berkaitan dengan penurunan sistem imun seperti
lupus eritematus ikut memengaruhi sistem imun dari rongga mulut yang menyebabkan
menyebabkan mekanisme pertahanan saliva untuk melawan bakteri khususnya bakteri
Streptococcus mutans menjadi rendah sehingga gigi rentah terhadap karies.44,55 Pada
penderita penyakit gagal ginjal hipokalsifikasi enamel karena fosfat, kalsium, vitamin
D, serta zat mineral lain yang dapat membantu pembentukan enamel tidak terabsorbsi
dengan baik oleh ginjal. Enamel yang tidak terbentuk dengan baik akan menyebabkan
gigi mudah didemineralisasi oleh asam hasil fermentasi bakteri.44,55

e. Penggunaan fluor
Penggunaan fluor sebagai pencegah karies mulai digunakan sejak tahun 1878 dan
dapat dibuktikan bahwa fluor mempunyai kemampuan mengubah susunan kimiawi
gigi sehingga tidak mudah larut oleh pengaruh asam.43,57 Pemberian fluor dapat
dilakukan baik secara sistemik (internal) yaitu dengan mengonsumsi minuman yang
mengandung fluor (fluoridasi air minum), atau penggunaan tablet fluor, maupun secara
lokal (eksternal) dengan kumur-kumur larutan fluor, melakukan tindakan aplikasi fluor
(topikal aplikasi), atau menggunakan pasta gigi berfluor.43
Kandungan fluor pada air minum sebaiknya mencapai 1 ppm untuk menurunkan
prevalensi karies sebanyak 20-40% sedangkan bila air minum mengandung fluor
sekitar 0,1 – 0,3 ppm maka dianjurkan untuk menggunakan pasta gigi berfluor atau
mengonsumsi tablet fluor.42,44 Pengonsumsian tablet fluor cenderung cepat dikeluarkan
oleh tubuh karena tablet ditelan sekali dalam sehari, tetapi jika fluor dikonsumsi dalam
bentuk tablet hisap, maka akan memberikan efek berganda dari penggunaan secara
topikal dan sistemik karena dibiarkan larut secara perlahan-lahan di dalam rongga
mulut.42 Anak yang mendapat kumur-kumur fluor juga dapat memperkecil risiko
karies. Larutan yang biasa digunakan adalah sodium/natrium fluoride (0,2% NaF),
monofluorfosfat (0,8% Na2FPO3), stannous fluoride (0,8% SnF2).42,44 Pada topikal
aplikasi fluor, jenis fluor yang biasa digunakan antara lain sodium/natrium fluoride

Universitas Sumatera Utara


18

(NaF) dengan konsentrasi 2,2%, stannous fluoride (SnF) dengan konsentrasi 8%, dan
Acidulated Phosphate Fluoride (APF) dengan konsentrasi 1,23%.42,44 Penelitian Chu,
et al menyatakan bahwa aplikasi fluor dapat menghentikan karies aktif pada anak yang
mengalami ECC dan disarankan penggunaanya secara berkala.58 Pasta gigi berfluor
juga dapat mengurangi 25% prevalensi karies pada negara industri terutama pada
daerah interproksimal dan permukaan halus gigi sulung dengan konsentrasi fluor
sekitar 1000-1100 ppm.44
Mekanisme fluor dalam mencegah karies lebih bermanfaat digunakan secara
topikal selama proses remineralisasi pada gigi yang telah erupsi.44 Fluor dapat
mencegah kehilangan mineral pada struktur kristal hidroksiapatit dan meningkatkan
remineralisasi oleh kalsium dan fosfat.44 Saat remineralisasi terjadi, fluor membangun
kembali enamel yang lebih resisten dari mineral sebelumnya karena mengubah ion
hidroksi dari hidroksi apatit [Ca10(PO4)6 (OH)2] menjadi fluor apatit [Ca10(PO4)6 (F)2]
dan perubahan ini terbukti bahkan saat konsentrasi fluor sangat rendah pada carian
sekitar enamel gigi.42,44 Fluor juga mempunyai efek glikolitik pada mikroorganisme
penghasil asam dan ikut berperan dalam regulasi enzimatik dari metabolism
karbohidrat sehingga mengurangi akumulasi polisakarida intraselular dan
ekstraselular.44

f. Pengalaman karies dan skor oral higiene anak


Hubungan antara pengalaman karies dengan perkembangan karies di masa
mendatang dapat menjadi faktor risiko karies karena gigi anak yang telah mengalami
karies cenderung memiliki jumlah bakteri kariogenik yang banyak dan dapat
menginfeksi gigi lain yang belum terinfeksi bakteri, akan tetapi risiko karies ini akan
berbeda jika gigi yang telah karies dilakukan restorasi dengan penumpatan.49
Skor oral higiene menjadi faktor risiko karena salah satu etiologi karies adalah
bakteri yang terakumulasi dalam plak. Semakin rendah skor oral higiene, maka
semakin tinggi risiko karies. Banyak cara untuk melakukan penghitungan skor oral
higiene, salah satunya dengan menghitung skor kalkulus dan skor debris pada beberapa

Universitas Sumatera Utara


19

gigi yang menjadi indikasi. Pemeriksaan gigi rutin dapat membantu mendeteksi dan
memonitor masalah gigi yang berpotensi menjadi karies.49

2.4 Dampak ECC dan SECC


Karies pada gigi sulung berdampak pada kualitas hidup anak karena
berkurangnya beberapa fungsi aspek kehidupan seperti fungsi fisik, fungsi mental,
fungsi sosial, dan fungsi emosional.19 Fungsi fisik yang dimaksud adalah rasa sakit
yang dialami anak karena karies, bermasalah saat tidur, kesulitan untuk mengonsumsi
makanan yang keras ataupun makanan yang panas dan dingin. Pada penelitian yang
dilakukan oleh Cunnion, et al, fungsi fisik merupakan aspek yang sangat dikeluhkan
oleh penderita ECC dan SECC.19 Menurut Gradella, et al di Brazil, keluhan terbanyak
adalah sakit gigi (25%) dan sulit untuk mengunyah makanan tertentu (21%).6 Efek
yang paling banyak terjadi pada fungsi mental anak seperti marah atau kecewa karena
sakit yang dialami dan merasa khawatir akan timbulnya rasa sakit pada giginya serta
malu tersenyum sehingga timbul rasa rendah dirinya.6,19
Kehidupan sosial anak ECC dan SECC pun terganggu dan menyebabkan anak
sering absen dari sekolah, tidak mau bermain bersama teman-temannya, membatasi
bahkan membatalkan rencana kegiatan yang telah ia susun seperti acara ulang tahun,
atau mengunjungi taman hewan, dan tidak ikut dalam acara keluarga. Fungsi sosial
yang paling dominan menurut Gradella, et al adalah absen dari sekolah (7%), dan tidak
mau bermain dengan teman (4%).1,6 Secara emosional, anak sering mengeluh tentang
ejekan dari temannya karena giginya yang rusak dan susah untuk mengatakan beberapa
huruf terutama jika kehilangan gigi anterior sehingga fungsi berbicara anak yang masih
pada tahap awal akan menimbulkan pengucapan yang tidak sesuai.19
Orang tua biasanya hanya memberikan obat analgesik saja atau bahkan dibiarkan
tanpa dilakukan perawatan yang tepat untuk mengatasi rasa sakit pada anak yang
mengalami ECC dan SECC. Menurut Hakan, et al, dampak dari karies yang tidak
ditangani dapat dirasakan berdasarkan waktu, yaitu jangka pendek, jangka panjang,
dan kasus yang jarang terjadi yang dijabarkan pada Tabel 3. Penundaan penanganan
ECC dan SECC mengakibatkan kondisi anak menjadi lebih buruk, lebih susah untuk

Universitas Sumatera Utara


20

ditangani, biaya perawatan yang semakin mahal, serta sulit menemukan klinisi atau
dokter gigi yang berkompeten untuk menangani prosedur yang lebih rumit.22

Tabel 3. Rangkuman konsekuensi dari karies yang tidak dirawat 22


Jangka Pendek Jangka Panjang Jarang Terjadi
1. Rasa sakit 1. Kondisi kesehatan gigi yang 1.Selulitis pada
2. Infeksi,abses, selulitis buruk secara berkelanjutan sub-orbital
3. Nafsu makan yang berkurang hingga berganti pada gigi 2.Demam yang
4. Kesulitan tidur permanen rekuren
5. Kemungkinan rawat inap 2. Gigi lain beresiko tinggi 3.Abses yang
6.Absen dari sekolah dan terkena lesi karies baru menjalar hingga
membatasi aktivitas 3. Berdampak pada kesehatan otak
7.Kemampuan konsentrasi dan umum anak dan menghambat 4. Media otitis akut
belajar berkurang pertumbuhan serta 5. Kematian
8. Kebutuhan ekstraksi meningkat perkembangan anak khususnya
saat perawatan butuh anestesi dalam tinggi dan berat badan
umum anak
9. Premature loss, maloklusi 4. Meningkatkan biaya dan lama
Perawatan
5. Pengucapan terganggu

2.5 Pencegahan ECC dan SECC


Salah satu pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan mengontrol dan
meminimalisir pengaruh dari penyebab atau etiologi dan faktor risikonya. Tindakan
untuk mencegah ECC dan SECC antara lain modifikasi diet, kontrol plak, pencegahan
transmisi bakteri, penggunaan fluor, pengaplikasian pit dan fisur silen, vaksin karies,
pengukuran risiko karies dengan melakukan penilaian terhadap faktor risiko
karies.1,43,44,57

2.5.1 Modifikasi Diet


Telah banyak hasil penelitian menemukan pengaruh diet dengan ECC dan
SECC , seperti kebiasaan mengemil diantara makan utama, frekuensi, durasi, jumlah,
serta cara makan dan minum.54 Pola diet yang tidak tepat akan mendukung
perkembangan karies dengan cara memperbanyak hasil fermentasi substrat pada waktu
yang tidak tepat. Sebaiknya modifikasi diet yang baik dibiasakan dimulai dari usia dini
seperti pemberian asi secara langsung dihindari setelah gigi sulung anak mulai tumbuh,
tetapi apabila kebutuhan ASI perlu, maka ASI diberikan dengan jarak waktu 3 jam dan

Universitas Sumatera Utara


21

setelah selesai anak meminum air putih untuk membersihkan rongga mulut.1,16,22 Jika
anak mengonsumsi susu formula, sebaiknya tidak menambahkan gula agar kandungan
karbohidrat tidak bertambah banyak. Susu formula yang diberikan menggunakan botol
pada anak sebaiknya tidak dilakukan ketika anak mulai mengantuk agar cairan susu
tidak tertinggal pada rongga mulut saat anak mulai tertidur dan kebiasaan meminum
susu dengan botol ini diberhentikan ketika anak berusia 12 – 18 bulan.1,22 Anak yang
mulai bisa mengonsumsi makanan selain ASI diperhatikan jarak waktu makan utama
dengan mengemil yaitu sekitar 2-3 jam agar gigi dapat remineralisasi.54 Makanan
kariogenik seperti coklat, permen (karamel), dan kue hanya diberikan pada anak
dengan jumlah yang sedikit dan dibatasi pada hari tertentu dan diganti dengan makanan
yang tinggi kadar protein, vitamin, dan mineral seperti buah-buahan, kacang-kacangan,
serta sayuran.1,22,54

2.5.2 Kontrol Plak


Bakteri yang terakumulasi pada plak sangat berperan dalam proses ECC terutama
bakteri kariogenik seperti Streptococcus mutans dan Streptococcus sobrinus sehingga
dalam pencegahannya penting untuk melakukan kontrol plak.50 Salah satu tindakan
kontrol plak yang mudah untuk dilakukan adalah menyikat gigi. Kebiasaan ini penting
dimulai sejak gigi anak telah erupsi.1,55,57 Sebaiknya menyikat gigi dilakukan 2 kali
sehari setelah sarapan pagi dan sebelum tidur malam dengan menggunakan sikat gigi
berbulu halus untuk anak yang masih memiliki gigi sulung dan pasta gigi berfluor.1
Pada anak dibawah 3 tahun, penggunaan pasta gigi berfluor diberi dengan ukuran
sebesar butiran beras atau olesan (smear) sedikit pada bulu sikat, sedangkan pada anak
yang berusia 3-6 tahun ukurannya sebesar kacang polong.1,55 Bagi anak yang berusia
lebih dari 4 tahun, tindakan flossing dapat dilakukan untuk membersihkan permukaan
interproksimal gigi yang rentah terhadap karies.44 Orang tua sebaiknya melakukan hal
ini terlebih dahulu pada anak agar ia merasakan batasan permukaan yang bisa
dibersihkan dengan benang floss dan setelah itu anak perlu dikontrol dalam melakukan
flossing sendiri serta akan lebih mudah jika anak menggunakan floss holder.44

Universitas Sumatera Utara


22

2.5.3 Pencegahan Transmisi Bakteri


Bakteri rongga mulut pada anak yang baru lahir seperti Streptococcus viridan dan
Streptococcus mitis memiliki potensi yang berbeda dengan Streptoccus mutans dalam
menyebabkan karies.44,49 Pada beberapa penelitian ditemukan bahwa Streptococcus
mutans ditransmisikan dari orang dewasa pada bayi dan hanya ditemukan setelah gigi
erupsi, sehingga transmisi bakteri ini perlu dikontrol agar dapat mencegah risiko karies
yang tinggi pada anak.22,52 Transmisi bakteri terjadi secara vertikal dan horizontal.
Transmisi vertikal adalah perpindahan bakteri rongga mulut dari ibu ataupun pengasuh
utama kepada anak sedangkan transmisi horizontal merupakan perpindahan bakteri
selain dari ibu ataupun pengasuh utama seperti ayah, saudara, atau kakek dan
nenek.44,52 Transmisi ini dapat terjadi dengan beberapa cara seperti jarak rongga mulut
yang terlalu dekat, peniupan makanan yang panas untuk anak, peralatan makan yang
sama saat makan, penggunaan sikat gigi bersama, dan lain-lain. Pencegahan transmisi
ini dilakukan dengan mengurangi bakteri rongga mulut dari ibu atau pengasuh utama
dan orang yang sering bermain dengan anak seperti menggunakan obat kumur
klorheksidin, tidak menggunakan peralatan makan dan sikat gigi bersama, tidak
meniup ataupun menjilat makanan yang akan diberikan pada anak.22,44,52

2.5.4 Pemakaian fluor


Efek pemakaian fluor yang bisa memperkuat struktur enamel menjadi fluorapatit
membuat penggunaan fluor sebagai faktor perlindungan gigi yang dapat mencegah
serta mengontrol karies baik pada gigi sulung maupun gigi permanen secara sistemik
maupun lokal sehingga penggunaannya dianjurkan segera setelah gigi sulung erupsi.46
Menurut ADA, bayi yang gigi sulungnya baru erupsi yaitu usia sekitar 6 bulan,
pengonsumsian suplemen fluor tidak dianjurkan, sedangkan untuk bayi usia 6 bulan
hingga 3 tahun yang mengonsumsi air dengan konsentrasi fluor lebih rendah dari 0,3
ppm dan mendapat nutrisi langsung dari penggunaan ASI butuh 0,25 mg suplemen
fluor. Pada anak usia 3-6 tahun, jika menggunakan air dengan konsentrasi kurang dari

Universitas Sumatera Utara


23

0,3 ppm, maka anak butuh suplemen fluor sekitar 0,5 mg, dan jika konsentrasi fluor
sekitar 0,3-,06 ppm maka anak hanya butuh 0,25 mg suplemen fluor. 22,59 Selain
suplemen dan air berfluor, penggunaan pasta gigi, topikal aplikasi, serta berkumur
dengan larutan fluor juga disarankan kepada anak tetapi penggunaanya sesuai dengan
rekomendasi dokter gigi.22,44

2.5.5 Aplikasi Pit dan Fisur Silen


Pit dan fisur merupakan daerah di bagian oklusal gigi posterior yang rentan
mengalami karies, terutama jika pit dan fisur yang dalam karena daerah ini berkontak
langsung dengan gigi untuk pengunyahan sehingga jika tidak dibersihkan dengan benar
maka sisa makanan mudah tertinggal. Pengaplikasian bahan kimia pada daerah pit dan
fisur telah banyak seperti penggunaan silver nitrat, potasium peroksida dengan zink
kloride tetapi bahan tersebut tidak dapat bertahan.43,59 Penggunaan silen dari bahan
resin yang diaplikasikan pada permukaan enamel gigi sehingga menutup pit dan fisur
dari kemungkinan terjadinya karies telah digunakan sejak tahun 2000.43 Glass ionomer
juga bisa diaplikasikan untuk menutupi pit dan fisur akan tetapi banyak penelitian
mengatakan bahwa keberhasilannya lebih rendah dibandingan dengan bahan resin
karena glass ionomer memiliki retensi yang buruk sehingga menimbulkan celah
dengan gigi, mudah lepas dan tidak bertahan lama.43,59

2.5.6 Vaksin Karies


Vaksin untuk pencegahan karies telah diteliti sejak sekitar tahun 1940 dan
perkembangan metode agar sistem imun tubuh kebal terhadap Streptococcus mutans
yang dianggap sebagai bakteri penyebab utama dari karies menjadi spesifik target
penelitian.55 Menurut Bowen, et al, monyet bebas dari karies selama lebih dari 6 tahun
setelah diteliti menerima injeksi intraoral S.mutans bahkan diberi makanan kariogenik
dan punya maloklusi parah yang dapat menjadi presdisposisi karies. Rute penyerapan
vaksin karies biasanya dimulai dari mukosa oleh jaringan intraoral atau intranasal.55

Universitas Sumatera Utara


24

2.5.7 Pemeriksaan Risiko Karies


Pendeteksian dini dengan menilai risiko karies merupakan tindakan pencegahan
primer yang dilakukan oleh dokter gigi dan tenaga kesehatan yang telah diberi
pelatihan yang dinilai dari berbagai faktor etiologi dan predisposisi karies. Setiap anak
memiliki keadaan rongga mulut dan kebiasaan berbeda yang dapat memengaruhi risiko
terjadinya karies sehingga pemeriksaan risiko karies penting dilakukan. Risiko karies
adalah peluang seseorang untuk mengalami beberapa lesi karies selama kurun waktu
tertentu sehingga risiko karies tidak tetap seusia hidup dan dari hasil dari pengukuran
ini berupa apakah seseorang tersebut memiliki risiko tinggi, normal, atau risiko
rendah.1,43
Berbagai metode penilaian risiko karies telah ditemukan oleh peneliti dan
lembaga seperti kariogram, Traffic Light-Matrix Model (TL-M), Caries Management
By Risk Assessment (CAMBRA), dan Caries Risk Assessment Tools oleh AAPD.
Penjelasan mengenai penilian risiko karies yaitu:

a.) Kariogram
Metode ini dirancang oleh Dr.Bratthal dengan menggunakan sebuah program
aplikasi dengan melakukan pengukuran terhadap faktor risiko karies. Ada 10 parameter
yang harus diisi dan diberi skor 0-3, dengan interpretasi skor 0 berarti nilai paling baik
dan 3 adalah keadaan paling buruk, pada kotak yang tersedia pada sebelah kanan
aplikasi. Kesepuluh parameter tersebut meliputi pengalaman karies (DMFT/deft),
penyakit umum, diet karbohidrat, frekuensi diet, skor plak (indeks plak Loe & Silness),
jumlah S.mutans (uji S.mutans), penggunaan fluor, sekresi saliva, buffer saliva, dan
penilaian klinis dari operator. Apabila setidaknya tujuh atau lebih parameter tersebut
telah terisi, maka akan muncul diagram ‘pie’ pada aplikasi.43 Menurut penelitian
Bratthall, et al, kariogram merupakan metode yang cepat dan gampang untuk dilakukan
dan sudah banyak digunakan dibeberapa negara.60 Berbeda dengan penelitian
Holgerson, et al yang menyatakan bahwa kariogram tidak spesifik digunakan untuk
mengidentifikasi pasien yang beresiko tinggi pada komunitas beresiko rendah.61
Kariogram juga telah banyak digunakan diberbagai negara, salah satunya Bosnia.62

Universitas Sumatera Utara


25

Penelitian yang telah dilakukan oleh Amila, et al pada anak-anak Bosnia


menunjukkan 25,7% anak yang tingkat sosial ekonominya tinggi memiliki risiko karies
rendah (kesempatan terhindar dari risiko karies 81-100%), sedangkan 2,8% anak
memiliki risiko karies tinggi (kesempatan terhindar dari risiko karies 0-20%). Pada
anak yang tingkat sosial ekonominya rendah, 13,1% anak memiliki resiko tinggi dan
18,4% anak memiliki risiko rendah. Anak dengan sosial ekonominya menengah yang
memiliki risiko tinggi berjumlah berjumlah 5,5%, sedangkan anak dengan risiko tinggi
yaitu 18,4%.

b. Traffic Light-Matrix Model (TL-M)


Metode traffic light-matrix model ini terdiri atas dua elemen yaitu elemen lampu
lalu lintas (traffic light) dan elemen tabel (matrix) sehingga tabel pemeriksaannya
seperti lampu lalu lintas dengan warna merah, kuning, dan hijau pada kolomnya. Ada
5 faktor risiko yang diperiksa dan setiap faktor memiliki subfaktor sehingga terdapat
16 jumlah total subfaktor. Lima faktor risiko tersebut adalah saliva, diet, fluor, biofilm
oral, dan faktor modifikasi.42

c. Caries Management by Risk Assessment (CAMBRA)


Sebuah kelompok yang disebut sebagai Western CAMBRA Coalition yang
terdiri dari para stakeholder dari bidang pendidikan, penelitian, industri, agen
pemerintahan, dan praktisi swasta di wilayah Barat Amerika Serikat menghasilkan
suatu pemeriksaan risiko karies yang disebut sebagai Caries Management by Risk
Assessment (CAMBRA). Dasar dari pembuatan CAMBRA adalah manajemen karies
yang terbaik dapat dicapai melalui sebuah pendekatan praktik terbaik yang dapat
menurunkan faktor risiko karies dan meningkatkan faktor protektif.27 Pemeriksaan
yang dilakukan pada sistem CAMBRA meliputi penilaian skor OH, lesi karies, laju alir
serta pH saliva, penggunaan fluor dan xylitol. Pada Tabel 4. akan dijelaskan mengenai
tingkat risiko karies, diagnosis, serta faktor risiko yang berperan pada karies.27

Universitas Sumatera Utara


26

Tabel 4. Lembar pemeriksaan CAMBRA pada anak usia hingga 2 tahun27


Diagnostik Pencegahan intervensi Restorasi
Kategori Pemeriksaan Radiografi Tes Fluoride Xylitol Silen Anti- Kon- Tujuan White spots / Terdapat lesi
risiko rongga mulut saliva bacterial seling pena- lesi prekavitas kavitas
secara nganan
periodik diri
sendiri
Rendah Setap tahun Dibutuhkan Pilihan Di kantor; tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak ada Tidak ada
foto dasar dilakukan, di dibutuhkan dibutuhkan
posterior rumah;
bitewing menggosok gigi 2
pada jarak kali sehari
12-24 bulan dengan pasta
jika pada gigi berfluor
permukaan
proksimal
tidak bisa
diperiksa
secara
visual atau
dengan
probe
Sedang Setiap 6 Dibutuhkan Disaran- Di kantor, Anak: menyeka Bahan silen Tidak Ya Tidak Perawatan Tidak ada
bulan sekali foto kan kunjungan dengan xylitol yang menggunakan
posterior pertama dan atau produk mengeluarkan fluor untuk
bitewing seterusnya; di yang dapat fluor pada pit reminerali-
pada jarak rumah: menggantikan dan fisur yang sasi
6-12 bulan menggosok gigi 2 makanan dalam
jika pada kali sehari manis atau
permukaan dengan pasta saat tidak bisa
proksimal berfluor; ibu menggosok
tidak bisa menerima gigi; pengasuh:
diperiksa perawatan 2 batang
secara kumur-kumur permen karet
visual atau fluor atau 2 butir
dengan permen karet 4
probe kali sehari

Universitas Sumatera Utara


27

Tabel 4. Lembar pemeriksaan CAMBRA pada anak usia hingga 2 tahun27


Diagnostik Pencegahan intervensi Restorasi
Kategori Pemeriksaan Radiografi Tes Fluoride Xylitol Silen Anti- Kon- Tujuan White spots / Terdapat lesi
risiko rongga mulut saliva bacterial seling pena- lesi prekavitas kavitas
secara nganan
periodik diri
sendiri
Sedang, Setiap 3-6 Dibutuhkan Dibutuh- Di kantor: Anak: menyeka Bahan silen Reko- Ya Ya Perawatan Tidak ada
tidak bulan sekali foto kan kunjungan dengan xylitol yang mendasikan menggunakan
ada posterior pertama dan atau produk mengeluarkan untuk ibu fluor untuk
keluhan bitewing seterusnya; di yang dapat fluor pada pit dan penga- reminerali-
pada jarak rumah: menggantikan dan fisur yang suh sasi
6-12 bulan menggosok gigi 2 makanan dalam
jika pada kali sehari manis atau
permukaan dengan pasta saat tidak bisa
proksimal berfluor menggosok
tidak bisa dikombinasikan gigi; pengasuh:
diperiksa dengan 900 ppm 2 batang
secara pasta kaslum permen karet
visual atau fosfat; ibu atau 2 butir
dengan menerima permen karet 4
probe perawatan fluor kali sehari
dan dibiarkan
saat tidur,
pengasuh/ibu
kumur-kumur
sodium fluor
Tinggi Setiap 3 Dibutuhkan Dibutuh- Di kantor: Anak: menyeka Bahan silen Reko- Ya Ya Perawatan Restorasi
bulan sekali foto anterior kan kunjungan dengan xylitol yang mendasikan menggunakan terapetik
(film oklusal pertama dan atau produk mengeluarkan untuk ibu fluor untuk menengah
no 2) dan seterusnya; di yang dapat fluor pada pit dan penga- reminerali- (Intermediate
posterior rumah: menggantikan dan fisur yang suh sasi Therapeutic
bitewing jika menggosok gigi 2 makanan dalam Restoration/ITR)
pada kali sehari manis atau atau penanganan
permukaan dengan pasta saat tidak bisa restorasi
proksimal berfluor dikom- menggosok konvensional
tidak bisa binasikan dengan gigi; pengasuh: pada pasien yang
diperiksa 900 ppm pasta 2 butir permen koperatif dan ada
secara kaslum fosfat; ibu karet 4 kali dukungan
visual atau menerima sehari keluarga
dengan perawatan fluor
probe

Universitas Sumatera Utara


28

Tabel 4. Lembar pemeriksaan CAMBRA pada anak usia hingga 2 tahun27


Diagnostik Pencegahan intervensi Restorasi
Kategori Pemeriksaan Radiografi Tes Fluoride Xylitol Silen Anti- Kon- Tujuan White spots / Terdapat lesi
risiko rongga mulut saliva bacterial seling pena- lesi prekavitas kavitas
secara nganan
periodik diri
sendiri
Tinggi, Setiap 1-3 Dibutuhkan Dibutuh- Di kantor: Anak: menyeka Bahan silen Reko- Ya Ya Perawatan ITR
tidak bulan foto anterior kan kunjungan dengan xylitol; yang mendasikan menggunakan (Intermediate
ada (film oklusal pertama dan pengasuh: 2 mengeluarkan untuk ibu fluor untuk Therapeutic
keluhan no 2) dan seterusnya; di batang permen fluor pada pit dan penga- reminerali- Restoration) atau
posterior rumah: karet atau 2 dan fisur yang suh sasi penanganan
bitewing jika menggosok gigi 2 butir permen dalam restorasi
pada kali sehari karet 4 kali konvensional
permukaan dengan pasta sehari pada pasien yang
proksimal berfluor koperatif dan ada
tidak bisa dikombinasikan dukungan
diperiksa dengan 900 ppm keluarga
secara pasta kaslum
visual atau fosfat; ibu
dengan menerima
probe perawatan fluor
dan dibiarkan
saat tidur,
pengasuh/ibu
kumur-kumur
sodium fluor
Ekstrim Setiap 1-3 Dibutuhkan Dibutuh- Di kantor: Anak: menyeka Bahan silen Reko- Ya Ya Perawatan ITR (Intermediate
bulan foto anterior kan kunjungan dengan xylitol; yang mendasikan menggunakan Therapeutic
(film oklusal pertama dan pengasuh: 2 mengeluarkan untuk ibu fluor untuk Restoration) atau
no 2) dan seterusnya; di batang permen fluor pada pit dan penga- reminerali- penanganan
posterior rumah: karet atau 2 dan fisur yang suh sasi restorasi
bitewing jika menggosok gigi 2 butir permen dalam konvensional
pada kali sehari karet 4 kali pada pasien yang
permukaan dengan pasta sehari koperatif dan ada
proksimal berfluor dikombi- dukungan
tidak bisa nasikan dengan keluarga
diperiksa 900 ppm pasta
secara kaslum fosfat; ibu
visual atau menerima
probe perawatan fluor

Universitas Sumatera Utara


29

Pemakaian CAMBRA telah dilakukan di salah satu kota di India pada anak usia
sekolah. Pada penelitian tersebut yang dilakukan oleh Sudhir, et al dijelaskan bahwa
anak yang memiliki risiko karies rendah sekitar 19,44% anak, sedangkan risiko sedang
dan tinggi yaitu 22,22% dan 58,33%.63

2.6 Caries Risk Assessment Tools (CAT) oleh AAPD


American Academy of Pediatric Dentistry mengeluarkan protokol bagi para
klinisi untuk menilai risiko karies sebelum tahun 2006 dengan nama Caries-risk
Assessment Tool (CAT) untuk semua usia. Terdapat perbedaan faktor risiko sesuai usia,
sehingga pada tahun 2006 AAPD kembali mengeluarkan penilaian faktor risiko karies
dengan perbedaan usia, yaitu untuk anak 0-3 tahun, 0-5 tahun, dan lebih dari 6 tahun.28
Penilaian faktor risiko karies oleh AAPD ini bertujuan untuk melihat tingkat risiko
karies berdasarkan analisis kebiasaan anak yang memengaruhi dan mendukung proses
karies, membantu perkembangan perawatan dari proses penyakit, memberikan
pemahaman faktor risiko karies anak secara spesifik, menetapkan pencegahan dan
perawatan restorasi pasien, serta mengantisipasi progres karies atau sebagai stabilisasi.
Faktor yang dinilai dalam penilaian ini adalah diet, terpaparnya gigi oleh fluor, host
yang rentan, dan bakteri yang berperan, sosial budaya, dan faktor kebiasaan akan
dijelaskan pada Tabel 5.28
Menurut AAPD, faktor risiko anak dapat dibagi dalam 3 kelompok utama yaitu
faktor biologis, faktor perlindungan, dan faktor temuan klinis.1 Faktor biologis meliputi
kondisi karies aktif yang dimiliki ibu, status sosial ekonomi, kebiasaan mengemil
makanan manis disamping konsumsi makanan utama yang lebih dari 3 kali sehari,
mengonsumsi susu sebelum tidur atau penambahan gula pada susu, mempunyai
penyakit sistemik, dan keluarga pindahan.1 Pada faktor protektif, risiko yang dapat
menimbulkan karies adalah penggunaan air berfluor secara optimal ataupun
mengonsumsi suplemen fluor, menggosok gigi dengan menggunakan pasta gigi
berfluor, menerima aplikasi topikal fluor dari tenaga kesehatan profesional dan
konsultasi ke dokter gigi secara berkala. Pada faktor temuan klinis meliputi anak yang

Universitas Sumatera Utara


30

mempunyai lesi white spot atau enamel defects, mempunyai kavitas dan tumpatan, serta
plak dalam rongga mulut.1

Tabel 5. Caries-risk Asssessment Tools (CAT) untuk anak usia 0-3 tahun menurut
AAPD
Faktor risiko Risiko Risiko
tinggi rendah
Faktor Biologis
• Ibu mempunyai karies aktif
• Orang tua berstatus ekonomi rendah
• Anak mengonsumsi makanan minuman ringan yang manis
antara makan utama lebih dari 3 kali sehari
• Anak mengonsumsi susu sebagai pengantar tidur tidak atau
dengan penambahan bahan pemanis
• Anak membutuhkan perawatan kesehatan khusus
• Anak dan ibu baru berimigrasi
Faktor Perlindungan
• Anak menerima air yang mengandung fluor atau mengonsumsi
tablet fluor
• Anak menyikat gigi setiap hari dengan pasta gigi berfluor
• Anak menerima topikal aplikasi fluor dari tenaga kesehatan
• Anak diantar untuk melakukan pemeriksaan gigi secara teratur
Faktor Temuan Klinis
• Anak mempunyai white spot atau defek enamel
• Anak memiliki kavitas yang terlihat atau tumpatan
• Anak memiliki plak pada gigi
Hasil penilaian risiko keseluruhan

Lingkari semua kondisi yang sesuai pada masing-masing pasien yang membantu
praktisi dan orang tua untuk mengetahui faktor yang berkontribusi atau faktor
perlindungan dalam karies. Penilaian risiko karies dikategorikan dalam kategori rendah
dan tinggi yang bergantung pada faktor yang lebih banyak. Meskipun demikian,
penilaian klinis bisa memberikan pertimbangan kepada tingkat penilaian.64
Penggunaan CAT telah dilakukan di Arab Saudi dan Amerika pada anak berusia
dibawah 5 tahun.64,65 Pada penelitian yang dilakukan di Arab Saudi oleh Farsi, et al,
ditinjau dari faktor biologisnya, 92% anak yang mengonsumsi makanan manis lebih
dari 3 kali sehari terkena karies, dan persentasi jumlah anak yang memiliki karies lebih

Universitas Sumatera Utara


31

tinggi pada orang tua yang berstatus sosial ekonomi rendah dibandingkan dengan anak
yang berstatus sosial ekonomi tinggi.65
Pada penelitian tersebut dari segi faktor perlindungan didapatkan 72,5% anak
berisiko tinggi karena tidak melakukan pemeriksaan gigi secara teratur dan memiliki
prevalensi karies lebih tinggi dibandingkan anak yang rutin melakukan pemeriksaan
yaitu sebesar 77,7%. Berbeda hasilnya dengan frekuensi menyikat gigi. Risiko rendah
pada anak yang menyikat gigi 2 kali sehari lebih banyak dibandingan anak yang
menyikat gigi kurang dari 2 kali sehari yaitu 55,2%.65
Farsi, et al juga mendapatkan 26,2% anak berisiko rendah dari faktor plak yang
terlihat dan prevalensi karies pada anak yang tidak memiliki plak juga cukup tinggi
yaitu 75%. Persentasi anak yang beresiko tinggi karena mempunyai defek enamel
sebesar 54,5% dan prevalensi karies yang ditunjukkan karena faktor ini sekitar
52,4%.65

Universitas Sumatera Utara


32

2.7 Kerangka Teori

SECC dan
Pengertian & ECC Prevalensi
Karakteristik (Non-SECC)

Dampak Etiologi & Pencegahan


Faktor Risiko

- Rasa sakit
- Modifikasi diet
- Sulit tidur
- Kontrol plak
- Tidak mau makan
- Pencegahan
- Pertumbuhan dan
Etiologi Faktor Risiko transmisi bakteri
perkembangan
- Pemakaian fluor
terganggu
- Aplikasi pit dan fisur
- Membatasi kegiatan
-Host -Karies aktif silen
- Malu
yang dimiliki - Vaksin karies
- Kehilangan gigi -Bakteri
ibu - Penilaian risiko
- Pengucapan tidak
-Substrat -Status sosial karies
sesuai
- Oklusi terganggu ekonomi
-Waktu
-Perilaku diet
- Infeksi berlanjut
-Penyakit Penilaian Risiko
sistemik Karies:
-Perilaku - Kariogram
menyikat gigi
- Traffic Light-Matrix
-Penggunaan
Model (TL-M)
fluor
-Pengalaman - Caries Management
karies by Risk Assessment
Caries Risk Assessment Tool (CAT) (CAMBRA)
-skor OH
oleh AAPD - Caries Risk
Assessment Tool
(CAT) oleh AAPD

Universitas Sumatera Utara


33

2.8 Kerangka Konsep

Penilaian Faktor Risiko


Karies:
Caries Risk Assessment
Tool (CAT) oleh AAPD

-Karies aktif yang


dimiliki ibu
-Status sosial ekonomi Prevalensi dan
-Perilaku diet pengalaman karies
-Penyakit sistemik
pada anak
-Perilaku menyikat gigi
-Penggunaan fluor - SECC
-Pengalaman karies - ECC (non-SECC)
-Skor OH anak - bebas karies

Jenis Kelamin

Universitas Sumatera Utara