Anda di halaman 1dari 4

Nama : Annisa Aulia Rachmah

NIM : P07131218049

Prodi : Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika

1) Perbedaan farmakodinamika-farmakokinetika pada bayi dan remaja


Farmakokinetika – Farmakodinamika Kinetika obat dalam tubuh anak-anak
berbeda dengan dewasa sesuai dengan pertambahan usianya. Beberapa perubahan
farmakokinetika terjadi selama periode perkembangan dari masa anak-anak sampai masa
dewasa.
 Absorpsi.
Absorpsi obat melalui rute oral dan parenteral pada anak sebanding
dengan pasien dewasa. Pada bayi dan anak sekresi asam lambung belum sebanyak
pada dewasa, sehingga ph lambung menjadi lebih alkalis. Hal tersebut akan
menurunkan absorbsi obat – obat yang bersifat asam lemah seperti fenobarbital
dan fenitoin, sebaliknya akan meningkatkanabsorbsi obat – obat yang bersifat
basa lemah seperti penisilin
dan eritromisin.
 Distribusi.
Obat pada bayi dan anak berbeda dengan orang dewasa, karena adanya
perbedaan volume cairan ekstraselluler, total air tubuh, komposisi jaringan lemak,
dan ikatan protein.
 Metabolisme
Rendahnya metabolisme obat di hati pada neonatus disebabkan oleh
rendahnya aliran darah ke hati, asupan obat oleh sel hati,kapasitas enzim hati dan
ekskresi empedu. Sistem enzim di hati pada neonatus dan bayi belum sempurna,
terutama pada proses oksidasi dan glukoronidase, sebaliknya pada jalur konjugasi
dengan asam sulfat berlangsung sempurna.
2) Kasus Anemia Pada Remaja Putri
Masalah kekurangan gizi pada remaja putri Indonesia masih sangat signifikan.
Setidaknya sepertiga dari remaja putri di negara kita mengalami anemia karena
kekurangan gizi. Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin dalam darah
kurang dari normal, yaitu 11,5 – 16,5 gr/dl untuk perempuan dan 12,5 0- 18,5 gr/dl untuk
laki – laki.
Bila tidak segera ditangani, anemia bisa menyebabkan banyak dampak buruk
dalam kehidupan remaja putri. Ir Doddy Izwardi, MA, selaku Direktur Gizi Masyarakat
Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa anemia bisa mempengaruhi kesehatan
fisiknya, menghambat konsentrasinya di sekolah sehingga prestasinya menurun. Terapi
yang dilakukan bisa melalui 2 cara yaitu :
 Non farmakologi : mengonsumsi bahan makanan yang tinggi zat besi
 Farmakologi : dengan penggunaan Tablet Fe, Asam Folat, dll

 Farmakokinetik Tablet Fe (Tablet Tambah Darah)


Absorpsi Fe melalui saluran cerna terutama berlangsung di duodenum dan
jejenum proksimal; makin ke distal absorpsinya makin  berkurang. Zat ini lebih
mudah di absorpsi dalam bentuk fero. Transportnya melalui sel mukosa usus
terjadi secara transport aktif. Ion fero yang sudah di absorpsi akan di ubah
menjadi ion feri dalam sel mukosa. Selanjutnya ion feri akan masuk kedalam
plasma dengan  perantara transferin, atau diubah menjadi feritin dan di simpan
dalam sel mukosa usus. Secara umum, bila cadangan dalam tubuh tinggi dan
kebutuhan akan zat besi rendah, maka lebih banyak Fe di ubah menjadi feritin.
Setelah di absorpsi, Fe dalam tubuh akan di ikat dalam transferin ( siderofilin ),
suatu beta 1-globulin glikoprotein, untuk kemudian di angkut ke beberapa
jaringan, terutama ke sumsum tulang dan depot Fe.
 Farmakodinamik Tablet Fe (Tablet Tambah Darah)
Maltofer adalah sediaan zat besi untuk pengobatan defisiensi zat besi laten
dan anemia. Zat besi dalam Maltofer adalah sebagai iron(III)-hydroxide
polymaltose complex (IPC), yang masing-masing partikelnya terikat pada suatu
polimer karbohidrat (polimaltosa). Hal ini mencegah perusakan saluran
pencernaan oleh besi. Perlindungan ini mencegah interaksi antara besi dengan
makanan. Selain itu, hal ini juga menjamin bioavailabilitas zat besi.
Struktur IPC mirip dengan ferritin, protein mengandung besi yang terdapat di
alam. Karena kemiripannya itu, zat besi diabsorpsi melalui mekanisme alami.
IPC tidak bersifat oksidator seperti garam bivalen.
3) Interaksi Obat dan Makanan
Tablet Fe memiliki efek samping seperti mual, muntah, BAB hitam dll. Untuk
menurangi efek samping tersebut perbanyak makan makanan tinggi serat, seperti biji-
bijian, sayuran, atau buah-buahan.
Akan tetapi konsumsi tablet Fe tidak boleh bersamaan dengan konsumsi makanan
berserta tinggi karena dapat menghambat penyerapan zat besidalam tubuh dan
menghilangkan manfaatnya. Makanan seperti Keju dan yogurt, telur, Susu, sayur bayam,
teh, kopi, atau minuman berkafein lainnya, roti gandum dan sereal juga dapat
memberikan efek yang sama. Oleh karena itu berikan jeda minimal dua jam setelah
mengkonsumsi makanan tersebut.
4) Anjuran Penggunaan Tablet Fe
Pada orang dewasa untuk mengatasi anemia defisiensi besi, dosis suplemen besi
dalam bentuk besi elemental adalah 100-200 mg, dua kali sehari. Sedangkan dosis yang
diberikan untuk pencegahan anemia defisiensi besi adalah 60 mg, sekali sehari.
 Terapi diet
Diet tinggi zat besi (Fe)
 Syarat diet
 Pemberian tinggi zat besi (Fe) utk penyembuhan anemia
 Vitamin C diberikan tinggi 2-20 kali dari kebutuhan normal utk membantu
penyerapan zat besi
 Vitamin B6 diberikan cukup sekitar 50-200 mg/hari
 Vitamin B12 diberikan cukup sekitar 100 mg/hari
 Asam folat diberikan cukup sekitar 0,1-1 mg/hari
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/38496529/Makalah_Kebidanan_Farmakologi_Obat_Anemia

https://hellosehat.com/hidup-sehat/nutrisi/aturan-minum-suplemen-zat-besi/

https://www.alodokter.com/besi