Anda di halaman 1dari 9

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

JOURNAL READING

PENGARUH TERAPI RELAKSASI AUTOGENIK TERHADAP


KECEMASAN PASIEN DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT RUMAH
SAKIT UMUM DAERAH ABDUL AZIZ SINGKAWANG

DISUSUN OLEH:

HERLINGGA SETYA NUGRAHA


I4051191018

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2020
A. PENDAHULUAN

Pasien kritis merupakan pasien dengan kondisi yang mengancam jiwa. Pasien
kritis dirawat di ruang ICU (Intensive Care Unit) memiliki nilai kematian dan
nilai kesakitan yang tinggi. Pasien kritis sangat erat kaitannya dengan perawatan
secara intensif serta monitoring penilaian terhadap setiap tindakan yang dilakukan
kepada pasien dan membutuhkan pencatatan medis secara kontinyu dan
berkesinambungan (Yulia, dkk, 2017).
Pasien yang di rawat di ICU tentunya akan mengalami masalah psikis,
masalah psikis dapat terjadi berupa gangguan cemas, depresi hingga psikosis
(Wardani,2016). Cemas dapat melemah-kan kondisi pasien jika tidak ditangani
akan menyebabkan keadaan pasien semakin buruk seperti mengalami irama
jantung yang tidak beraturan, nadi cepat, sesak nafas dan sakit kepala (Hawari,
2011).
Kecemasan adalah perasaan tidak santai karena rasa takut yang disertai suatu
respon (penyebab tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu) (Fitryasari,
dkk. 2015). Kecemasan dalam psikologi didefinisikan sebagai perasaan takut
mengenai masa mendatang tanpa sebab khusus serta bersifat individual (Chaplin,
2009). Prevalansi tingkat kecemasan di ICU RS Islam Pekanbaru adalah
kecemasan ringan (15%), sedang (72,5%), dan berat (12,5%) (Astuti & Sulastri,
2012).
Kecemasan pasien dapat diobati dengan menggunakan tehnik farmako-logis
dan non-farmakologis. Ada banyak jenis tehnik non farmakologis yang biasa di
gunakan untuk menurunkan kecemas-an pada pasein, seperti intervensi relaksasi
otot progresif, pelatihan autogenik, terapi musik, pernapasan berirama, dan latihan
relaksasi lainnya (Potter & Perry, 2007).
Dewasa ini pengobatan suatu penyakit sudah banyak dimodifikasi antara
terapi farmakologi dengan terapi non farmakologi. Salah satu terapi non
farmakologi yang saat ini banyak digunakan adalah terapi relaksasi. Proses
relaksasi dapat memanjangkan serabut otot, impuls pengiriman ke otak dan
penurunan aktifitas pada otak dan sistem tubuh lainnya. Penurunan frekuensi
jantung dan napas, tekanan darah, konsumsi oksigen serta meningkatnya aktifitas
otak dan temperatur kulit perifer (permukaan) merupakan beberapa respon dari
relaksasi. Terapi relaksasi dapat membantu individu mengembangkan ketrampilan
kognitif untuk menurunkan energi negatif serta berespon sesuai dengan
lingkungan sekitar (Perry & Potter, 2010). Latihan relaksasi berguna digunakan
untuk menurunkan stres dan kecemasan. Beberapa literatur menyebutkan kalau
relaksasi dapat menurunkan stres, cemas dan tekanan. Benson merupakan salah
satu pakar yang mengembangkan teknik relaksasi melalui psikofisiologikal
(Benson & Klipper, 1975 dalam Francesco, 20016). Latihan relaksasi merupakan
suatu strategi terbaik untuk menangani stres. Teknik relaksasi banyak jenisnya,
salah satunya adalah relaksasi autogenik. Relaksasi autogenik yaitu relaksasi yang
seakan menempatkan diri kedalam kondisi terhipnotis ringan. Anda
memerintahkan tungkai dan lengan untuk rasa berat dan hangat, detak jantung dan
kecepatan napas stabil, perut rileks serta dahi terasa bersih dan dingin. Kemudian
anda ulangi perintah yang paling mudah dan relevan untuk mengatasi gejala stres
misalnya memerintahkan dahi terasa sejuk dan untuk meredakan nyeri kepala, saat
mengulanginya dengan mempertemukan jari-jari tangan
Relaksasi autogenik adalah tipe psiofisiologikal dari psikoterapi dasar dengan
menggunakan autosugesti, yang pertama kali dikembangkan oleh dokter dan
psikiatri di Jerman yaitu J.H. Schultz di awal abad 20 (Kanji, White & Ernst,
2006). Relaksasi efektif dalam menurunkan denyut jantung dan tekanan darah,
menurunkan ketegangan otot, meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi
tekanan gejala pada individu yang mengalami berbagai situasi (misalnya
komplikasi dari pengobatan medis atau penyakit atau duka cita karena kehilangan
orang terdekat) (Potter &Perry, 2010). Pengaruh relaksasi dalam pengaturan
perasaan dapat diobservasi pada studi orang dewasa di Jepang. Para peneliti
melaporkan adanya pengaruh positif pada 10 menit latihan relaksasi terhadap
perasaan secara umum. Hal ini bisa diobservasi dari penurunan rasa bingung dan
skor kelemahan setelah post intervensi (Hashim, 2011). Relaksasi autogenik ini
bisa dikategorikan pada relaksasi mental atau relaksasi fisik.
Cemas juga merupakan reaksi normal pada kondisi stres dan ditunjukkan
dengan reaksi emosi. Bila kondisi stres secara terus menerus tidak ditangani maka
kondisinya bisa meningkat sampai terjadi gangguan tingkah laku. Cemas
seringkali disebabkan karena adanya gangguan pada kesehatan manusia Salah satu
upaya untuk menurunkan tingkat kecemasan adalah dengan melakukan relaksasi
autogenik dimana relaksasi ini memfokuskan pada diri sendiri. Relaksasi
autogenik adalah relaksasi bersumber dari diri sendiri dengan kalimat pendek
yang bisa membuat pikiran menjadi tenang (Pratiwi, 2012).

B. ANALISIS JURNAL
1. Informasi Citasi
Pengarang : Lutfi Rosida, Imardiani, Joko Tri Wahyudi
Tahun Terbit : 2019
Judul Jurnal : Pengaruh terapi relaksasi autogenik terhadap
kecemasan pasien di ruang intensive care unit Rumah Sakit Pusri
Palembang
Penerbit : Indonesian Journal for Health Sciences
Volume :3
Nomor :2
Halaman : 52-56
2. Metode Penelitian
Desain Penelitian:
Jenis penelitian kuantitatif dengan metode Pre-Eksperimen pendekatan
one group pretest and posttest design. Pengambilan sampel secara non
probability sampling yaitu menggunakan consecutive sampling terhadap
16 orang di ruang ICU. Pengukuran kecemasan menggunakan Visual
Analog scale-Anxiety (VAS-A), kemudian hasil dengan analisis
menggunakan denggan T Dependent.
Lokasi Penelitian:
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Pusri Palembang tepatnya diruang
ICU
Jumlah Responden:
Jumlah responden pada penelitian ini yaitu 16 responden (9 orang laki-laki
dan 7 orang perempuan).
Teknik Sampling:
Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling.
Variabel yang diukur/diteliti:
Mengidentifikasi pengaruh terapi autigenik terhadap kecemasan pasien
diruang icu
Karakteristik Responden:
Responden yang digunakan adalah pasien diruang icu sebanyak 16 orang
dilakukan intervensi terapi autogenic untuk mengukur seberapa tingkat
kecemasan mereka selama dirawat diruang icu.
3. Hasil Penelitian
Hasil analisa T Dependent dapat kita lihat bahwa terapi relaksasi
autogenik berpengaruh dalam menurunkan kecemasan pasien di ICU
secara signifikan dengan nilai pvalue yang didapat yaitu 0,001 (P<0,05).
Rata-rata kecemasan pasien sebelum diberikan terapi relaksasi autogenik
yaitu 43,55. Rata-rata kecemasan pasien setelah diberikan terapi relaksasi
autogenik yaitu 36,67. Terdapat pengaruh dalam menurunkan kecemasan
sebelum dan sesudah diberikan terapi relaksasi autogenik pada pasien di
ICU yaitu (p = 0,001).
C. PEMBAHASAN
Hasil analisa T Dependent dapat kita lihat bahwa terapi relaksasi
autogenik berpengaruh dalam menurunkan kecemasan pasien di ICU
secara signifikan dengan nilai pvalue yang didapat yaitu 0,001 (P<0,05).
Rata-rata kecemasan pasien sebelum diberikan terapi relaksasi autogenik
yaitu 43,55. Rata-rata kecemasan pasien setelah diberikan terapi relaksasi
autogenik yaitu 36,67. Terdapat pengaruh dalam menurunkan kecemasan
sebelum dan sesudah diberikan terapi relaksasi autogenik pada pasien di
ICU yaitu (p = 0,001).
Pasien yang dirawat di rumah sakit mempunyai kecenderungan meningkat
kecemasan dan terganggu tidurnya yang mungkin disebabkan oleh aktifitas
yang menimbulkan kegaduhan, lampu yang menyala terang ataupun pasien
yang terpaksa dibangunkan karena adanya prosedur tindakan tertentu (Galih,
2013). Pasien-pasien sakit kritis cenderung mengalami kehilangan tidur,
kualitas tidur buruk, dan peningkatan kecemasan, berbagai macam
penyebabnya, termasuk pasien ICU, intervensi tenaga medis, diagnostik dan
terapi, medikasi, serta ventilasi mekanis dan penyakit dasar. Tekanan
psikologis yang dapat menyebabkan bingung pasien ICU karena jenis dan
tingkat stres pada pasien di ICU sangat tinggi. Pasien secara simultan terkena
ancaman bagi kehidupan, prosedur medis, ketidak mampuan untuk
mengkomunikasikan dan hilangnya kontrol personal (Jevon & Ewens, 2009).
Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien
yang dirawat di rumah sakit, menerangkan bahwa pasien yang dirawat di
rumah sakit menunjukkan gejala-gejala terutama kecemasan dan ketakutan
sebanyak 52%, biasanya berkaitan dengan ancaman penyakitnya. Maka untuk
menurunkan kecemasan itu dapat dilakukan relaksasi autogenic yang sduah
terbukti dapat menurunkan tingkat kecemasan.
Relaksasi autogenik dilakukan dengan membayangkan diri sendiri
berada dalam keadaan damai dan tenang, berfokus pada pengaturan
nafas dan detakan jantung. Respon relaksasi tersebut akan
merangsang peningkatan kerja saraf parasimpatis yang akan menghambat
kerja dari saraf simpatis, sehingga hormon penyebab cemas d
apat berkurang. Tujuan teknik relaksasi autogenik adalah membawa
pikiran ke dalam kondisi mental yang optimal.
Penelitian ini didukung oleh teori dari Ni Luh Puturini dkk (2018) yang
membuktikan bahwa terapi relaksasi autogenik akan memberikan efek positif
dalam menurunkan tekanan darah, dimana respon terhadap relaksasi akan
merangsang kerja korteks dalam aspek kognitif maupun emosi. Sehingga
menghasilkan persepsi positif. Hasil dari persepsi dan emosi yang positif akan
memberikan respons koping menjadi positif. Dengan koping yang positif
akan menimbulkan perasaan yang tenang dan rileks terhadap ketegangan
yang ditimbulkan dari stress. Dengan dilakukan relaksasi autogenik membuat
responden menjadi lebih relaks sehingga tingkat kecemasan maupun stress
juga bisa menurun.
D. PENUTUP
1. Kesimpulan
Pada dasarnya relaksasi merupakan salah satu teknik manajemen
stres yang baik, yang tidak hanya memberikan perasaan damai atau
ketenangan di dalam diri individu, teknik ini juga dapat menjadi sebuah
hobi yang positif bila dilakukan secara rutin. Prinsip yang mendasari
terjadinya penurunan kecemasan oleh tehnik terapi relaksasi autogenik ini
adalah merlancarkan aliran darah dan dapat merangsang hormon
endorfin. Ketika seseorang melakukan relaksasi autogenik, maka beta-
endorfin akan keluar dan ditangkap oleh reseptor didalam hypothalamus
dan system limbik yang berfungsi untuk mengatur kecemasan dan sebagai
obat penenang alami.
2. Saran
Berdasarkan penelitian ini, perlunya perhatian dari perawat tentang
pentinya peran serta keluarga dalam memperhatikan pasien dalam
menjalankan perawatan diruang icu, dan terapi relaksasi autogenic
terbutkti dapat dilakukan untuk mengurangi kecemasan pasien selama
diruang rawat icu.
DAFTAR PUSTAKA

Astuti & Sulastri. (2012). Tingkat Kecemasan Pasien Yang Dirawat Di Ruang Icu
Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Pekanbaru. Jurnal Penelitian Fakultas MIPA
dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Riau, e-journal Vol. 2 No. 2,
Mei 2012.

Chaplin, J.P. (2009). Kamus Lengkap Psiologi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Ekarini, Ni Luh Putu, dkk. (2018). Pengaruh Relaksasi Autogenik terhadap


Tingkat Kecemasan dan Perubahan Tekanan Darah pada Pasien Riwayat
Hipertensi. JKEP. (3) 2. 108-118

Francesco, P. Mauro, M.G. Gianluca, C. & Enrico, M., 2006. The Efficacy of
Relaxation Training in Treating Anxiety. IJBCT, Consolidated Volume 5,
No. 3 & 4.

Fitryasari, Yusuf Rizky & Nihayati, Hanik ending. (2015). Buku Ajar
Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.

Galih priambodo. Teori Keperawatan Avaliable from: www.teori keperawatan-


katharine-kolcab a.html. 2013.

Hawari, D. (2011). Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. FKUI. Jakarta: Gaya
Baru

Hashim, H.A., Hanafi, H. &Yusof, A., 2011. The Effects of Progressive Muscle
Relaxation and Autogenic Relaxation on Young Soccer Players’ Mood
States. Asian Journal of Sports Medicine.

Jevon, P., dan Ewens, B. (2009). Pemantauan Pasien Kritis seri ketrampilan klinis
esensial untuk perawat edisi kedua. Jakarta: Erlangga. Kalat, J. W.
Biological Psychology. California: Thomson Learning, Inc. 2007.

Kanji, N.,White, A.,&Ernst, E. 2006. Autogenic Training To Reduce Anxiety In


Nursing Students : Randomized Controoled Trial. Journal of Advanced
Nursing, 53(6), 729-735. http://dx.doi.org/10.1111/j.1365-
2648.2006.03779.x.

Pratiwi, R. (2012). Dasar-Dasar Terapi Da Rehabilitasi Fisik. Jakarta:


Hipokrates.

Potter, & Perry, A. G. (2007). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep.


Proses, Dan Praktik, edisi 4, Volume.2. Jakarta: EGC.
Potter, P. & Perry, A. G. (2010). Fundamentals of Nursing (Seventh Ed).
Singapura : Mosby Elsevier.

Setyawati. Andina. (2010). Pengaruh Relaksasi Otogenik Terhadap Kadar Gula


Darah dan Tekanan Darah pada Klien Diabetes Mellitus Tipe 2 dengan
Hipertensi di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit D.I. Yogyakarta dan Jawa
Tengah. Universitas Indonesia: Jakarta. lontar.ui.ac.id › file › 137211-T
Andina Setyawati.

Yulia, dkk. (2017). Assessment Gawat Darurat. Jakarta: EGC