Anda di halaman 1dari 12

TugasIndividu

PENCEMARAN LINGKUNGAN DAN KESEHATAN MASYARAKAT


PESISIR DAN KEPULAUAN

“BIOINDIKATOR DAN BIOMARKER”

RINI PERTIWI
J1A117260
KESEHATAN LINGKUNGAN

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2020
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya penulis tidak akan sanggup untuk menyelesaikan
makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan
kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-
natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Saya mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat
sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis
mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah dari mata kuliah Pencemaran
Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat Wilayah Pesisir dan Kepulauan dengan
judul“Bioindikator dan Biomarker”.
Saya tentunya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya.
Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah
ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi.
Kemudian apa bila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini saya memohon
maaf yang sebesar-besarnya.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan bantuan baik berupa materiil dan non materiil demi tercapainya
pembuatan makalah ini.

Kendari,04 April 2020


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................................2

DAFTAR ISI...................................................................................................................................3

BAB I..............................................................................................................................................4

PENDAHULUAN...........................................................................................................................4

A. Latar Belakang.....................................................................................................................4

B. Rumusan Masalah................................................................................................................5

C. Tujuan..................................................................................................................................5

BAB II.............................................................................................................................................6

PEMBAHASAN..............................................................................................................................6

A. Definisi Bioindikator.............................................................................................................6

B. Jenis-jenis Bioindikator........................................................................................................7

C. Definisi Biomarker................................................................................................................8

D. Paparan Biotransformasi....................................................................................................10

E. Kriteria Biomarker..............................................................................................................11

BAB III..........................................................................................................................................12

PENUTUP.....................................................................................................................................12

A. Kesimpulan.........................................................................................................................12

B. Saran..................................................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................12
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia tidak akan pernah berhenti untuk berusaha meningkatkan kualitas
hidupnya. Kemajuan industri dan teknologi telah dapat meningkatkan kualitas
lingkungan. Akan tetapi di sisi lain, berdampak kepada lingkungan yang pada
akhirnya berdampak pula terhadap lingkungan. Semua kegiatan tidak boleh
mengakibatkan terjadinya pencemaran atau kerusakan lingkungan. Tetapi harus
sesuai dengan prinsip dasar pengelolaan lingkungan hidup yang baik, yakni 
“Sebelum dan sesudah ada kegiatan tidak ada perubahan terhadap  keadaan
lingkungan kecuali perubahan atau dampak yg bersifat positif”. Kegiatan yang tidak
menimbulkan dampak negatif disebut Environtment Zero Effect. Untuk melihat
indikator biologis, harus mengetahui daur pencemaran lingkungan, apakah terjadi
pencemaran atau tidak, maka harus diketahui keadaan lingkungan tersebut sebelum
ada kegiatan yang selanjutnya akan dipakai sebagai garis dasar. Apabila terjadi
perubahan (kenaikan) terhadap garis dasar (keadaan lingkungan sebelum ada
kegiatan), berarti lingkungan telah mengalami pencemaran. Pencemaran lingkungan,
baik melalui udara, air maupun daratan pada akhirnya akan sampai juga kepada
manusia, maka perlu diketahui daur pencemaran lingkungan. Dengan memperhatikan
daur pencemaran lingkungan tersebut, akan memudahkan dalam melakukan
penelitian dan pengambilan analisis contoh lingkungan Dalam rangka analisis
keadaan lingkungan, masalah indikator biologis perlu diketahui dan ditentukan “ada
tidaknya kenaikan keadaan lingkungan dari keadaan garis dasar, melalui analisis
kandungan logam/kandungan senyawa kimia yang terdapat di dalam
hewan/tanaman/suatu hasil dari hewan atau tanaman. Indikator biologis dapat
ditentukan dari hewan / tanaman yang terletak pada daur pencemaran lingkungan
sebelum sampai kepada manusia. Maka pengambilan contoh lingkungan, baik yang
berasal dari hewan maupun tanaman, haruslah yang terletak pada jalur yang menuju
dan berakhir pada manusia. Indikator biologis dapat terjadi karena ada beberapa
organisme/bagian organisme berlaku sebagai biokonsentrasi logam/senyawa kimia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi Bioindikator?
2. Jenis-jenis Bioindikator?
3. Apa Definisi Biomarker?
4. Jenis Paparan Biotransformasi?
5. Apa saja Kriteria Biomaker?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu Bioindikator
2. Dapat mengetahui jenis-jenis Bioindikator
3. Untuk mengetahui apa itu Biomarker
4. Dapat mengetahui jenis paparan Biotrasformasi
5. Dapat mengetahui apa saja kriteria Biomarker

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Bioindikator
Bioindikator berasal dari dua kata yaitu bio dan indicator, bio artinya mahluk
hidup seperti hewan, tumbuhan dan mikroba. Sedangkan indicator artinya variable
yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status dan memungkinkan
dilakukannya pengukuran terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke
waktu. jadi bioindikator adalah komponen biotik (mahluk hidup) yang dijadikan
sebagai indikator. Bioindikator juga merupakan indikator biotis yang dapat
menunjukkan waktu dan lokasi, kondisi alam (bencana alam), serta perubahan
kualitas lingkungan yang telah terjadi karena aktifitas manusia (Hendra.
2012:1). Bioindikator dapat di bagi menjadi dua, yaitu bioindikator pasif dan
bioindikator aktif. Bioindikator pasif adalah suatu spesies organisme di suatu habitat,
yang mampu menunjukkan adanya perubahan yang dapat diukur (misalnya perilaku,
kematian,  morfologi) pada lingkungan yang berubah di biotop (detektor).
Bioindikator aktif adalah suatu spesies organisme yang memiliki sensitivitas tinggi
terhadap polutan, yang mana spesies organisme ini umumnya diintroduksikan ke
suatu habitat untuk mengetahui dan memberi peringatan dini terjadinya polusi
(Market, 2008)
Bioindikator adalah kelompok atau komunitas organisme yang saling
berhubungan, yang keberadaannya atau perilakunya sangat erat berhubungan dengan
kondisi lingkungan tertentu, sehingga dapat digunakan sebagai satu petunjuk kualitas
lingkungan atau uji kuantitatif (Setyono & Sutarto, 2008; Triadmodjo, 2008).
Bioindikator menunjukkan sensitivitas dan/atau toleransi terhadap kondisi lingkungan
sehingga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat penilai kondisi lingkungan
(Setiawan, 2008). Bioindikator adalah makhluk yang diamati penampakannya untuk
dipakai sebagai petunjuk tentang keadaan kondisi lingkungan dan sumber daya pada
habitatnya. Selain itu, bioindikator mampu mencerminkan kualitas suatu lingkungan
atau dapat memberikan gambaran situasi ekologi (Juliantara, 2011). Bioindikator
memandang bahwa kelompok organisme adalah saling terkait, dimana kehadiran,
ketidakhadiran, dan/atau tingkah lakunya sangat erat terkait dengan status lingkungan
tertentu sehingga dapat digunakan sebagai indikator (Winarni, 2016).

Bioindikator berguna dalam tiga keadaan :


a. Dimana faktor dalam lingkungan yang terindikasi tidak dapat diukur sontohnya
dimana faktor lingkungan di masa lalu di rekonstruksi karena perubahan iklim,
penelitian di palaeo-biomonitoring.
b. Dimana faktor sulit untuk diukur contohnya pestisida dan sisa-sisanya atau
toxin kompleks yang mengandung bahan-bahan kimia.
c. Dimana faktor lingkungan mudah diukur tetapi sulit untuk diinterpretasikan.
Contohnya apakah faktor yang diamati mempunyai perubahan ekologi yang
signifikan (Gerhardt, 2012).
Syarat bioindikator yang baik
a. Mudah diidentifikasi dan diamati secara mikroskopis, dianalisa, dan diawetkan
atau disimpan (preserve).
b. Terdapat dimana – mana sehingga dapat dipengaruhi oleh perubahan kondisi
lingkungan.
c. Spesies bioindikator memiliki sensitivitas untuk menunjukkan perubahan
lingkungan, namun daya tahan untuk menahan beberapa variabilitas dan
mencerminkan respon biotik secara umum.
d. Spesies biondikator memiliki siklus hidup yang panjang memungkinkan
diuraikannya perubahan yang bersifat sementara akibat gangguan yang terjadi.
e. Dapat mewakili berbagai sumber data untuk menilai kondisi lingkungan dalam
“indeks biotik” atau pendekatan “multimetric” (Miller, 2011)
Bioindikator dapat meliputi beberapa variasi skala dari aspek makro molekul,
sel, organ, organisme, populasi, sampai biocoenosis (ekosistem), sehingga bentuk
indikator meliputi:
1. Reaksi biokimia dan fisiologis,
2. Abnormalitas anatomi, morfologi, bioritme dan tingkah laku,
3. Perubahan populasi hewan atau tumbuhan secara kronologis,
4. Perubahan pada ekosistem maupun gabungan ekosistem,
5. Perubahan pada struktur ataupun fungsi ekosistem,
6. Perubahan bentuk lahan atau landscape (Setiawan, 2008).

B. Jenis-jenis Bioindikator
1. Indikator mikrobial
Mikroorganisme dapat digunakan sebagai indikator pada perairan atau
indikator pada kesehatan daratan. Ditemukan dalam jumlah yang banyak dan
pengujian dari mikroorganisme ini lebih mudah daripada organisme lain. Beberapa
mikroorganisme akan memproduksi protein baru yang disebut stress protein,
ketika terpapar kontaminan seperti ccadmium dan benzene. Stress protein ini dapat
digunakan sebagai sistem peringatan dini. Contohnya mikorbial indikator dapat
digunakan untuk menguji kualitas air. Bakteri bioluminiscent digunakan untuk
menguji kualitas air berkaitan dengan ada tidaknya toksin. Jika terdapat toksin
dalam air tersebut, metabolisme selular dari bakteri tersebut akan terhambat atau
terganggu.
Hal ini mempengaruhi jumlah cahaya yang dipancarkan oleh bakteri. Tidak
seperti pengujian tradisional pengujian ini dapat dilakukan dengan cepat hanya
membutuhkan sekitar lima hingga tiga puluh menit. Namun indikator ini hanya
menunjukkan ada tidaknya toksin.
2. Indikator tanaman
Ada tidaknya tanaman tertentu atau kehidupan vegetasi dalam suatu
lingkungan dapat memberikan petunjuk penting mengenai kesehatan lingkungan.
Lumut sering ditemukan di atas permukaan batu dan batang pohon. Lumut
merupakan kombinasi dari jamur dan alga. Mereka terkena efek dari perubahan
lingkungan dalam hutan meliputi struktur hutan, kualitas udara, dan cuaca.
Ketiadaan lumut dalam hutan kemungkinan mengindikasikan kerusakan hutan
seperti tingkat sulfur dioksida yang tinggi yaitu polutan yang tersusun dari sulfur
dan nitrogen.
3. Indikator hewan
Peningkatan atau penurunan jumlah pupulasi hewan kemungkinan
mengindikasikan kerusakan dalam ekosistem yang disebabkan oleh polusi.
Contohnya jika polusi menyebabkan menipisnya sumber makanan penting, maka
hewan yang bergantung pada sumber makanan tersebut jumlahnya akan menurun.
Untuk mengawasi jumlah dari spesies hewan tertentu, diperlukan suatu mekanisme
tertentu untuk megawasi konsentrasi toksin dalam jaringan tuhuh hewan, atau
pengawasan terhadap kecacatan yang dapat timbul dalam populasi hewan.

C. Definisi Biomarker
Biomarker adalah tanda-tanda terpapar, efek, atau kerentanan yang lebih awal
tentang kemungkinan kondisi yang buruk. Biomonitoring ditujukan untuk perlindungan
kesehatan, paparan, dan penilaian risiko. Secara sempit (sensu stricto), biomarker dapat
didefinisikan sebagai respon biologis terhadap bahan kimia atau sekelompok agen kimia
tetapi kehadiran agen atau metabolitnya di dalam tubuh tidak ditemukan (dosis internal).
Secara luas (sensu lato), biomarker adalah penggunaan semua jenis parameter indikatif dan
terdiri dari suborganisme, spesies bioindikator, spesies biomonitor dan spesies sentinel serta
indikator ekologi, misalnya keanekaragaman spesies.
Istilah biomarker telah didefinisikan sebagai variasi yang diinduksi secara xenobiotik
dalam komponen seluler atau biokimia atau proses, struktur, atau fungsi yang dapat diukur
dalam sistem biologis atau sampel. Biomarker awalnya dikembangkan dalam ilmu
kedokteran dan kedokteran hewan dan telah ada penekanan yang meningkat pada
penggunaan invertebrata dan terutama biomarker bivalvia untuk menilai polusi laut.
Biomarker terjadi pada berbagai tingkat organisasi, dari subselular hingga organisme utuh
dan ekosistem. Efek di tingkat molekuler terjadi paling awal, diikuti oleh tanggapan seluler
(biokimia), jaringan/organ, dan seluruh tubuh. Tanggapan yang terjadi pada tingkat individu,
populasi, dan ekosistem umumnya diterima untuk memiliki relevansi ekologi, cenderung
kurang reversibel, dan lebih merugikan daripada efek pada tingkat yang lebih rendah.
Bahkan, banyak perhatian diberikan untuk mengidentifikasi dan memahami efek toksik yang
dimulai pada tingkat sub-organisme (perubahan molekuler, biokimia atau fisiologis) dan
menuju pengembangan biomarker pada tingkat ini untuk dimasukkan dalam program
biomonitoring (Hamza-Chaffai, 2014).
Menurut Ghosh et al (2015) serta Náray dan Kudász (2016), biomarker
diklasifikasikan ke dalam tiga kategori tergantung pada penggunaannya atau konteks spesifik
di mana uji tersebut digunakan.
1. Biomarker paparan (Biomarker of exposure)
Biomarker paparan (Biomarker of exposure) adalah substansi, atau metabolitnya,
atau produk dari interaksi yang diukur dalam kompartemen atau cairan tubuh. Misalnya
memimpin dalam darah mungkin secara adil mewakili paparan timbal balik baru-baru ini
dari individu. Biomarker paparan merupakan produk integrasi antara xenobiotik dan
beberapa target molekul atau sel yang diukur dalam kompartemen suatu organisme.
Secara umum, biomarker paparan digunakan untuk memprediksi dosis yang diterima oleh
individu, yang dapat dikaitkan dengan perubahan yang menghasilkan status penyakit.
2. Biomarker efek (Biomarker of effect)
Biomarker efek (Biomarker of effect) adalah perubahan terukur (biokimia,
struktural, fungsional, perilaku, dan lain-lain) dalam suatu organisme yang dapat dikaitkan
dengan gangguan kesehatan atau penyakit yang mapan atau potensial. Biomarker penyakit
awal menunjukkan perubahan biokimia atau fungsional awal, mulai dari adaptasi alami
hingga penyakit. Misalnya nilai seng protoporphyrin dalam darah meningkat ketika
paparan timbal menyebabkan perubahan dalam produksi hemoglobin. Biomarker
genotoxicity (penyimpangan kromosom, mikronuklei, uji Comet) digunakan untuk
mengukur paparan bahan kimia genotoksik, biasanya pada tingkat kelompok. Mereka
sensitif tetapi tidak spesifik indikator dan umumnya tidak memadai untuk tujuan penilaian
risiko pekerjaan. Biomarker efek didefinisikan sebagai biokimia terukur, fisiologis,
perilaku, atau perubahan lain dalam suatu organisme yang, menurut mereka, dapat diakui
sebagai gangguan kesehatan atau penyakit yang mapan atau potensial.

3. Biomarker kerentanan (Biomarker of susceptibility)


Biomarker kerentanan (Biomarker of susceptibility) adalah penanda kemampuan
untuk menanggapi tantangan paparan bahan kimia secara negatif. Gen dapat membuat
individu tertentu lebih rentan terhadap racun seperti timbal (kelada et al, 2001). Contoh
untuk biomarker kerentanan adalah jenis kode genetik untuk 6-aminolevulinic acid
dehydratase (ALAD), enzim yang terlibat dalam toksisitas timbal yang ada dalam dua
bentuk. Faktor-faktor pengaruh-memodifikasi ini dapat melekat atau diperoleh. Biomarker
kerentanan biasanya tidak digunakan dalam biomonitoring rutin.

D. Paparan Biotransformasi
Tiga jalur paparan utama adalah inhalasi (paru-paru), kulit (kulit) dan gastrointestinal
(konsumsi). Pemantauan biologis menganggap paparan sistemik secara keseluruhan (dosis
internal) dan efek (dosis efektif biologis) terlepas dari sumbernya. Biomarker mungkin juga
mencerminkan keadaan seperti perubahan tekanan atmosfer, coeksposur dan laju pernapasan
(beban kerja misalnya berat), yang mungkin semua mengarah ke yang lebih tinggi (atau
menurun) penyerapan zat.
Biomarker dapat digunakan secara efektif jika latar belakang toksikologi mereka
dipahami:
1. Siklus kimia dan/atau metabolitnya di dalam tubuh (toxicokinetics);
2. Mekanisme penyakit/efek buruk (toxicodynamics);
3. Cara faktor individual mempromosikan bahan kimia untuk menyebabkan penyakit/efek
buruk (kerentanan).
Dalam proses biotransformasi zat kimia eksternal diubah dalam tubuh (metabolisme).
Aktivitas enzim adalah dasar-dasar kerentanan, termasuk mereka yang terlibat dalam
penyerapan dan ekskresi. Varietas individu dalam fitur enzim dapat menghasilkan kecepatan
dan jalur yang berbeda dalam metabolisme zat, memodifikasi kurva dosisrespons. Ada
banyak pengubah dalam biotransformasi: jenis kelamin, usia, massa tubuh, ko-eksposur
(tempat kerja, non-pekerjaan: misalnya diet, termasuk lemak, alkohol, obat obatan, dan lain-
lain). Dibandingkan dengan zat asli, produk degradasinya mungkin kurang atau lebih
berbahaya (yang terakhir = aktivasi). Metabolit ini juga dapat digunakan sebagai biomarker
(paparan atau efek). Fitur toksikokinetik menjelaskan bahwa banyak zat (meskipun dapat
diidentifikasi dalam proses metabolisme) tidak dapat digunakan untuk biomonitoring karena
waktu paruh yang singkat dan/atau hilang dari matriks yang dapat diakses, misalnya dari
darah atau urin. Model-model matematis (seperti toksikanologi berbasis fisiologi)
mensimulasikan proses-proses metabolik dalam tubuh manusia untuk memprediksi
parameter-parameter paparan biologis yang mungkin dalam suatu skenario paparan tertentu.
Beberapa biomarker sangat spesifik untuk bahan kimia individual, biomarker tersebut
termasuk penghambatan cholinesterase oleh organofosfat atau karbamat metallothioneines
oleh logam jejak beracun dan ethoxyresorufin-o-deethylase (EROD) menanggapi bahan
kimia organik, terutama PAH dan PCB. Biomarker lain juga divalidasi dengan baik, tetapi
mereka memiliki aplikasi yang lebih luas dan cenderung untuk merespon kelas bahan kimia
yang lebih luas. Contoh biomarker ini adalah induksi protein Multiplexenobiotic Resistance
(MXR), Stres, pembentukan DNA adduct dan perubahan DNA lainnya, dan juga perubahan
lisosom pada pencernaan mollusca. Tes ini diperlukan baik dalam kajian tambahan biomarker
atau analisis residu kimia untuk menghubungkan agen penyebab dengan efek buruk yang
timbul.

E. Kriteria Biomarker
Biomarker yang praktis dan berhasil harus memenuhi sejumlah kriteria, yaitu:
1. Biomarker harus memberikan tanggapan yang cukup sensitif untuk mendeteksi
tahap awal dari proses toksisitas dan harus mendahului efek pada organisasi
biologis tingkat tinggi.
2. Biomarker harus spesifik untuk kontaminan tertentu atau untuk kelas
kontaminan tertentu.
3. Biomarker harus merespon dengan cara bersifat tergantung pada level
konsentrasi yang dapat mengubah tingkat kontaminan lingkungan.
4. Identifikasi variabilitas non-toxicological yang diidentifikasi dalam variasi
tertentu terkait dengan faktor-faktor biotik.
Dalam prakteknya, semua karakteristik ini tidak dipenuhi; kebanyakan
biomarker memiliki spesifitas terbatas, karena berbagai polutan yang ada di
lingkungan. Itulah sebabnya, sekelompok biomarker pada berbagai tingkat organisasi
biologis diperlukan untuk dapat diterapkan secara efektif dalam program
biomonitoring. Biomarker non-spesifik memberikan informasi yang dapat
mengindikasikan gangguan lingkungan tetapi bukan agen penyebab.

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah
1. Bioindikator berasal dari dua kata yaitu bio dan indicator, bio artinya
mahluk hidup seperti hewan, tumbuhan dan mikroba. Sedangkan indicator
artinya variable yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau
status dan memungkinkan dilakukannya pengukuran terhadap perubahan-
perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. jadi bioindikator adalah
komponen biotik (mahluk hidup) yang dijadikan sebagai indikator.
2. Biomarker adalah tanda-tanda terpapar, efek, atau kerentanan yang lebih
awal tentang kemungkinan kondisi yang buruk. Biomonitoring ditujukan
untuk perlindungan kesehatan, paparan, dan penilaian risiko. Secara sempit
(sensu stricto), biomarker dapat didefinisikan sebagai respon biologis
terhadap bahan kimia atau sekelompok agen kimia tetapi kehadiran agen
atau metabolitnya di dalam tubuh tidak ditemukan (dosis internal). Secara
luas (sensu lato), biomarker adalah penggunaan semua jenis parameter
indikatif dan terdiri dari suborganisme, spesies bioindikator, spesies
biomonitor dan spesies sentinel serta indikator ekologi, misalnya
keanekaragaman spesies.

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA