Anda di halaman 1dari 33

1

MENGAJAR DENGAN BUKU TEKS, MASIH PERLUKAH?

M. Nur Arifin
Sultan Maulana Hasanuddin Banten State Islamic University
arifinnur21@gmail.com

Teks-teks yang tersusun dalam buku sejatinya tidak dengan sendirinya


menghasilkan pengetahuan atau informasi yang dapat dipahami secara
komprehensif dan mendalam oleh siswa. Akan tetapi, teks-teks tersebut
berperan sebagai inisiator aktifitas kognitif siswa. Di era digital ini,
perdebatan tentang buku teks di tengah-tengah siswa menjadi topik
diskusi menarik. Sebagian pendapat mengatakan bahwa buku teks tidak
perlu lagi, sebagian lain mengatakan buku teks tetap perlu bagi proses
pembelajaran siswa di kelas. Makalah ini mendiskusikan konsep tentang
buku teks, peran buku teks dalam pembelajaran siswa di kelas, dan
kualitas buku teks.

Keywords : buku teks, pengajaran

1. Pengertian dan Sejarah Buku Teks


Ada tiga istilah penting yang berhubungan dengan buku teks dan maknanya
berbeda-beda, yaitu textbook, schoolbook, dan school textbook. Menurut istilah
Hutchinson Encyclopedia, textbook is (1) standard book for a particular branch of
study, (2) a manual of instruction, and shoolbook are textbooks and other books
used in schools1 Dalam konteks sekolah schoolbook berarti buku-buku yang ditulis
oleh para ahli dan isinya tidak dirancang untuk materi pelajaran, buku-buku karya
Shakespeare misalnya, tidak dirancang sebagai materi pelajaran, tetapi pada saat-
saat tertentu dapat digunakan sebagai tujuan instruksional. Yang termasuk dalam
schoolbook adalah buku pedoman mengajar, buku referensi dan buku-buku
pangayaan. Akan tetapi, school textbooks memiliki arti berbeda. Istilah ini berkaitan
dengan buku-buku yang berisi rangkaian kegiatan belajar di kelas sesuai dengan
kurikulum yang berlaku.
1
The American Heritage Dictionary of the English Language (5th ed.) (Boston: Houghton Mifflin
Harcourt, 2014)
2

Alan Cunningsworth menyebut buku teks sebagai “a book giving instruction in


a subject used especially in schools” 2 yang dapat diterjemahkan bahwa buku teks
adalah buku yang memberikan petunjuk dalam sebuah pelajaran khususnya di
sekolah.
Buku teks adalah buku pelajaran dalam bidang studi tertentu yang disusun
oleh para ahli dalam bidangnya untuk maksud dan tujuan pengajaran. Buku teks
dilengkapi dengan sarana pengajaran sesuai dengan kemampuan siswa yang
mudah dipahami oleh para pemakainya baik di sekolah-sekolah maupun perguruan
tinggi untuk menunjang program pengajaran 3 Berdasarkan pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa buku teks digunakan sebagai media belajar untuk mencapai
tujuan tertentu.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2005 menjelaskan
bahwa buku teks adalah buku acuan wajib untuk digunakan di sekolah yang memuat
materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan, budi
pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi,
kepekaan dan kemampuan estetis, serta potensi fisik dan kesehatan yang disusun
berdasarkan standar nasional pendidikan. Pusat perbukuan menyimpulkan bahwa
buku teks adalah buku yang dijadikan pegangan siswa pada jenjang tertentu
sebagai media pembelajaran (instruksional), berkaitan dengan bidang studi tertentu.
Maka dari itu, dapat disimpulkan buku teks merupakan buku standar yang disusun
oleh pakar dalam bidangnya, bisa dilengkapi sarana pembelajaran (seperti rekaman)
dan digunakan sebagai penunjang program pembelajaran.
Lebih luas Cunningsworth menyebut Textbooks are a central part of any
educational system. They help to define the curriculum and can either significantly
help or hinder the teacher4 Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dikatakan bahwa
buku teks merupakan bagian utama dari proses pembelajarn di kelas yang
membantu memaparkan mater-materi dalam sesuai kurikulum dan dapat menjadi
salah satu media belajar bagi siswa. Oleh karena itu, secara singkat dapat
disimpulkan bahwa buku teks adalah sekumpulan tulisan yang dibuat secara
sistematis oleh ahli dalam bidang masing-masing berisi materi pelajaran tertentu dan
telah memenuhi indikator sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan

2
Alan Cunningsworth, Choosing your Coursebook, (Oxford: Heineman, 1995), h., 5.
3
Sheldon, loc.cit.
4
Alan, op.cit. h., 3.
3

sebelumnya sebagai pegangan pendidik serta alat bantu siswa dalam memahami
materi belajar.
Secara historis, dalam dunia pendidikan, usia buku teks diyakini sama dengan
usia sekolah formal. Ketika sekolah formal mulai ada, buku-buku teks mulai ada
pula. Buku teks telah digunakan untuk membantu proses kegiatan belajar. Bahkan,
dalam beberapa kasus, buku teks selama berabad-abad telah menjadi guru bagi
siswa. Tidak hanya sebagai sumber dan objek belajar tetapi juga menjadi dokumen
politik yang berisi visi kelompok-kelompok tertentu 5. Dengan kata lain, ketika
sekolah-sekolah bermunculan di tengah-tengah masyarakat, pada saat yang sama
buku teks juga hadir, walaupun dalam bentuk yang beragam. Hingga awal abad 16,
buku-buku teks terbit dalam bahasa Latin. Karena, pada saat itu, bahasa Latin
menjadi bahasa resmi di sekolah-sekolah dan bahasa pada ilmuan. Tujuan
diterbitkan buku teks pada saat itu untuk membantu siswa belajar membaca dan
menulis teks-teks pendek dalam bahasa Latin. Teks-teks pendek dari Bible dan puisi
sangat mendominasi buku-buku teks pada saat itu. 6
Seperti dijelaskan dalam encyclopedia of Education (2008a) bahwa pada
zaman Yunani kuno, Roma, China, India dan Mesir beberapa catatan dalam bentuk
buku teks telah digunakan sebagai media informasi dan belajar. 7 Bahkan,
Arsitoteles pada masa itu telah menulis buku teks tentang beragam disiplin ilmu, ada
diantaranya khusus untuk kegiatan belajar, salah satunya yang sangat populer buku
berjudul Instruction.8
Beberapa sumber mencatat bahwa keberadaan buku teks telah ada sejak
ribuan tahun yang lalu. Pada zaman Mesir kuno dan Mesopotamia beberapa naskah
atau teks telah digunakan sebagai media belajar etika (ethic) dan moralitas.9 Sejak
saat itu, buku teks digunakan oleh para pembelajar untuk mempelajari beberapa
materi pengetahuan.10 Beberapa buku, seperti karya Euclid, yaitu Element of
Geometry, ditulis pada 300 B.C., karya Lavoisier, Elementary Treatise on Chemistry,
ditulis pada 1789, dan karya Newton, Mathematical Principles of Natural Philosophy,

5
Encyclopedia of Education, 2008a...
6
Ellsworth, N.J., Hedley, C.N., & Baratta, A.N. (1994). Literacy: A redefinition. (Philadelphia:
Lawrence Erlbaum Associates), 45.
7
. Op.cit.
8
Ellsworth et al., op.cit.
9
Ellsworth, et al., loc.cit
10
Bensaude- Vincent, ibid.
4

terbit pada tahun 1687, pada saat itu sangat popular. 11 Bahkan, Kuhn, seperti
dinyatakan oleh Klassen (2006) bahwa seluruh “normal science” dikaji secara
mendalam melalui buku teks dan buku teks menjadi prasarat bagi keberhasilan
seorang ilmuan.12
Disamping media cetak lain, seperti buku petunjuk guru, buku petunjuk siswa,
lembar kerja siswa, bacaan, atlas, kamus, majalah, surat kabar, grafik, dan poster,
buku teks menjadi bagian penting media pengajaran. Wilson (1997) menyatakan
bahwa sebagai media pengajaran, buku teks memiliki karakteristik khusus;
...the book is portable, it has random access to its contents, especially if the
book has an index; the book can also be a multimedia object, in that it may
contain not only text, but also graphics, drawings and photo-reproductions; it is
also conveniently accessible in that once you have the book, you need no
other artifacts in order to read it (except perhaps a pair of spectacles!), and its
energy demands are minimal.13

Mikk (2000) menegaskan bahwa media pembelajaran cetak, buku misalnya,


secara ekonomi lebih terjangkau dan murah baik bagi siswa maupun guru dibanding
photocopy.14 Photocopy buku teks, secara hukum jelas melanggar undang-undang,
sebagian guru kurang memahami akan hal ini. 15 Oleh karena itu, buku teks, tetap
menjadi salah satu media belajar yang tidak hanya ekonomis, tetapi juga praktis dan
efisien. Guru dengan mudah dapat menggunakannnya sebagai sumber
pengembangan materi ajar. Bagi siswa, buku teks juga sangat praktis, mudah
dibaca, kaya akan obyek multimedia—seperti teks, gambar, grafik, dan buku juga
bersifat portable.
Beberapa ahli berpendapat, bahwa sulit sekali menjelaskan konsep tentang
buku teks karena banyak sekali definisi literal tentang buku teks, gaya penulisan dan
penyajian yang beragam, cara penggunan yang berbeda-beda dan kerangka

11
Bensaude- Vincent 2006, Galili and Tseitlin 2003, Newton 1990, ibid.
12
Klassen, 2006, ibid.
13
Sarita Swanepoel, “The assessment of the quality of science education textbooks:
Conceptual framework and instruments for analysis” (Unpublished Dissertation, University of South
Africa, 2010), h.48.
14
Jaan Mikk 2000, di dalam Sarita Swanepoel, ibid.
15
Ncokwane dan Prabhala, 2006, di dalam Sarita Swanepoel, ibid
5

filosofis, historis dan budaya pun berbeda-beda. 16 Gagasan ini dikuatkan oleh
pernyataan Herlihy (1992) berikut;
... as text are examined, it is immediately apparent that they are not immutable
and impersonal documents. What is a text and what is its place in a school are
very complex question.17

Definisi dan konsep tentang buku teks memang sangat beragam, tergantung pada
apa tujuan dan fungsi diterbitkannya. Ada jenis buku teks yang ditulis dan diterbitkan
untuk tujuan pendidikan secara umum, ada pula buku teks yang ditertbikan untuk
media pembelajaran di kelas.18 Secara umum para ilmuan sepakat, yang dimaksud
buku teks atau textbook yaitu buku-buku yang dirancang dan ditulis untuk tujuan
khusus yang berisi beragam aktifitas dan informasi yang dibutuhkan oleh siswa. Sitte
(1999) menyebut buku teks sebagai content and facilitator yang berisi informasi dan
skenario pembelajaran.19
Buku teks berisi informasi atau ilmu pengetahuan yang dapat dibaca oleh
anak-anak atau siswa untuk membekali hidupnya di masyarakat. Buku teks juga
merangkum pengetahuan dan sains tentang disiplin Ilmu tertentu. 20 Oleh karena itu,
bagi siswa, buku teks menjadi sumber informasi dan ilmu pengetahuan sesuai
kebutuhannya.
Beberapa peneliti, seperti Robert E. Clark (1983) melihat bahwa buku teks
hanya sebagai “kendaraan” pengangkut content (isi buku) belaka, tanpa banyak
pengaruh terhadap prestasi belajar siswa, “The best current evidence is that media
are mere vehicles that deliver instruction but do not influence student
achievement.”21 Akan tetapi sebagian besar peneliti, seperti R.B. Kozma (2001),
Ogan-Bekiroglu (2007), Mesa (2004) sepakat bahwa, dalam praktiknya, buku teks
memegang peranan penting dalam setiap proses pembelajaran. Ogan-Bekiroglu
menyebut buku teks sebagai fasilitator dalam proses belajar, Kozma (2001)
menyebutnya sebagai media belajar yang memiliki pengaruh terhadap prestasi
belajar siswa, dan Mesa (2004) memandang bahwa buku teks adalah sumber
16
Khutorskoi, 2006 dan Issit, 2004 di dalam Sarita Swanepoel, ibid., h. 49.
17
Herlihy, John G., Ed., Herlihy, The Textbook Controversy, (New Jersey : Ablex Publishing
Corporation, 1992), h., v
18
Mikk, 2000, Sitte, 1999, Johnsen 1993, di dalam Sarita Swanepoel, loc.cit.
19
Khutorskoi, 2006, di dalam Sarita Swanepoel loc.cit
20
K.M. Olesko, 2006, di dalam Sarita Swanepoel, loc.cit
21
Richard. E Clark, Reconsidering Research on Learning from Media, Review of Educational
Research. (University of Southern California: Winter, 1983, Vol. 53, No. 4, Pp. 445-459)
6

belajar yang sangat potensial, apa yang siswa peroleh dari buku teks secara
kontekstual akan menyumbang pengetahuan tersendiri baik melalui guru, teman
sejawat, atau tugas tugas terstruktur. 22 Sebagai fasilitator, buku teks dapat berfungsi
sebagai sumber beragam aktifitas, baik individu maupun kelompok. Selain itu, buku
teks juga dapat menjadi media pembelajaran ilmu pengetahuan yang bersifat teoritis
dan praktis.23 Buku teks, menurut Taylor (2000) dapat menjadi sumber belajar dan
referensi sesuai dengan kurikulum yang berlaku. 24 Secara teknis, khususnya bagi
masyarakat yang kurang mampu, buku teks juga menjadi satu-satunya sumber yang
mudah diakses.25

2. Balajar dengan Buku Teks


Problem belajar dengan menggunakan media buku teks selalu menarik
perhatian para ahli pendidikan. Bukan hanya karena buku teks sampai saat ini tetap
menjadi media belajar yang popular, tetapi juga buku teks menjadi bahan ajar yang
paling mudah ditemukan. Walaupun menurut beberapa riset tentang buku teks
seperti yang dilakukan oleh Hsu dan Yang pada tahun 2006 menyatakan bahwa
buku teks sebagai media belajar tidak selalu berpengaruh positif pada hasil belajar
siswa.26 Akan tetapi, setidaknya ada beberapa model bagaimana siswa dapat belajar
dan berinteraksi dengan buku teks. Pertama the Comprehension Integration (CI)
model, model ini dikembangkan oleh Kintsch. Menurutnya, ada tiga level proses
memahami sebuah teks, yaitu; a) decoding process, pada proses ini, pembaca
mengkonversi kata-kata yang berbentuk cetak ke dalam kalimat-kalimat bermakna
dan menyimpannya di dalam pikiran. 27 Jika, kata-kata dalam teks tersebut terlalu
sulit dipahami secara semantis (semantic difficulty) atau pembaca kesulitan
memahami teks karena faktor sintaksis (syntactic difficulty), maka menurut Frey
proses ini dianggap gagal. 28 b) level kedua proses memahami text adalah textbase.
Pada level ini, pembaca mengintegrasikan beragam kalimat untuk memperoleh

22
Ogan-Bekiroglu, 2007 di dalam Sarita Swanepoel, loc.cit.
23
Franssen, 1989a, di dalam Sarita Swanepoel op.cit., h.50
24
Taylor, 2008, di dalam Sarita Swanepoel op.cit., 50
25
Reddy, 2005, di dalam Sarita Swanepoel op.cit., 50
26
Pei-Ling Hsu And Wen-Gin Yang, Print And Image Integration Of Science Texts And Reading
Comprehension: A Systemic Functional Linguistics Perspective, (National Science Council, Taiwan:
International Journal of Science and Mathematics Education 2007) h., 639 sd 659
27
Kintsch di dalam Sarita Swanepoel, op.cit.51.
28
Fry di dalam Sarita Swanepoel, op.cit.51.
7

pemahaman teks secara koheren.29 Pada umumnya, teks tidak menyajikan semua
informasi yang relevan dengan suatu subyek secara jelas. Oleh sebab itu, pembaca
harus mampu menggali informasi secara tekstual dan kontekstual kemudian
menyimpulkannya. Seperti ditegaskan oleh Sarita (2010) bahwa teks yang koheren
dapat mempermudah proses pemahaman teks jenis ini. 30 Karena teks yang koheren
biasanya mengunakan kata sambung (connection) seperlunya sehingga pembaca
mudah memahami dan menyimpulkan informasi yang tersirat dalam teks. c)
situation model, pada level ini, pembaca berusaha memahami sebuah teks
berdasarkan pada apa yang telah diketahu (prior knowledge)31 Artinya, teks selalu
berisi informasi yang mampu membuka wawasan dan informasi baru atau bahkan
meluruskan pengetahuan masa lalu yang kurang akurat.
Sementara itu, sudah lumrah kiranya bahwa buku teks itu sebaiknya tidak
terlalu sulit atau terlalu sederhana. Menurut McNamara et al., (1996) buku teks yang
terlalu sederhana akan merugikan pembaca. Karena semakin sederhana buku teks,
maka semakin sedikit jumlah aktifitas belajar siswa. Bahkan beberapa ahli seperti
Boscolo dan Mason (2003), McNamara et. Al., (1996) berpendapat bahwa buku teks
yang terlalu sederhana akan menciptakan suasana belajar yang kurang produktif
dan efisien.32 Oleh karena itu, buku teks sebaiknya disusun sesuai dengan kebutuan
atau kurikulum yang berlaku. Dengan pertimbangan khusus seperti lay out, gambar
atau ilustrasi, grafik dan foto-foto akan membantu mempermudah pemahaman
pembaca.
Secara teoretis, aspek tata letak dan ilustrasi dalam buku teks sangat erat
hubungannya dengan tingkat pemahaman pembaca. Dua model pemahaman baik
itu Comprehension Intregation (CI) punya Kintsch maupun Dual coding theory-nya
Paivios, keduanya mendukung penggunaan media ilustrasi untuk memudahkan
pemahaman teks dalam buku ajar. 33 Dual coding theory menyatakan bahwa ada dua
hal yang saling berkaitan secara signifikan, namun keduanya berdiri secara
independen, yaitu sistem kognitif verbal dan non-verbal. Dalam risetnya Mayer
(2003), ditemukan bahwa siswa lebih memahami secara mendalam materi pelajaran
yang disajikan melalui kata-kata dan ilustrasi/gambar dibanding hanya dengan kata-

29
Best et al., di dalam Sarita Swanepoel, op.cit. h.51.
30
Sarita, op.cit., h. 51.
31
Kintsch dan Kintsch, di dalam Sarita Swanepoel, op.cit. h.51.
32
Boscolo dan Mason, di dalam Sarita Swanepoel, op.cit. h.52.
33
Sarita, op.cit., h. 52.
8

kata saja.34 Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa ilustrasi dalam buku teks dapat
meningkatkan proses akselerasi pemahaman siswa, dengan kata lain ilustrasi dalam
buku teks sesuai kebutuhan menjadi indikator kualitas buku teks. Ilustrasi atau
visual design dapat menjadi ciri khas dan jendela pemahaman pada setiap fokus
dalam teks.35 Ilustrasi tersebut menjadi penanda atau penunjuk arah yang sangat
penting bagi pembaca. Oleh sebab itu, sangat perlu diperhatikan; ukuran gambar,
ketebalan warna, tata letak dan warna kontras.
It is obvious that the illustrations in textbooks can contribute to the learning
process in science education and, therefore, influence the quality of the
textbook. The visual design or layout of a textbook can give salience to some
elements in the text: the elements can be marked as more important and more
worthy of attention than others. This is attained through the relative size,
sharpness of focus, relative positioning, tonal contract and colour contrasts 36

James J. Jenkins, professor bidang psikologi Amerika serikat menemukan teori


yang dikenal dengan tetrahedral model of learning. Teori ini menegaskan pentingnya

34
Mayer, di dalam dalam Sarita Swanepoel, op.cit. h.52.
35
Moh Nur Arifin,. "A Study Of Cultural Aspects In Arabic Textbooks For Madrasah ‘Aliyah In
Banten." Saintifika Islamica: Jurnal Kajian Keislaman 3.02 (2017): 131-144.
36
Pei-Ling Hsu And Wen-Gin Yang, loc.cit.
9

hubungan antara teks dan materi-materi ajar lain dengan seluruh komponen
lingkungan yang mengitarinya. Gambar di atas menunjukkan keterkaitan antara
empat faktor berikut dengan keberhasilan pembelajaran, yaitu karakter pembelajar,
otentisitas materi ajar, aktifitas belajar dan evaluasi pembelajaran. Dalam konteks
penggunaan buku teks di kelas, Jenkins menegaskan bahwa kualitas buku teks
akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana buku teks digunakan secara interaktif
dengan memperhatikan keempat elemen tersebut. Model pembelajaran tetrahedral-
nya Jenkins ini dielaborasi lebih konkret oleh Penney et al. (2003) dengan
memberikan contoh penggunaannya pada pembelajaran sains. Menurutnya, model
pembelajaran tetrahedral akan lebih cocok dalam pengajaran sains. “Jenkins’
tetrahedral model can change significantly as function of scientific domain of
study”.37 Alexander dan Kulikowich (1994) mensinergikan keempat variabel tersebut
dalam beragam konteks belajar. Dalam pembelajaran sains misalnya, model
tetrahedral ini dapat berupa simbol-simbol matematis, simbol-simbol saintifik serta
diagram-diagram yang dapat menjelaskan teks secara menarik dan komprehensif. 38
Dalam setiap proses pembelajaran, peran guru dalam menggunakan buku teks
sebagai salah satu sumber belajar sangat menentukan. Di kelas, guru bukan hanya
sebagai bagian kecil dalam proses pembelajaran. Informasi dan pengetahuan yang
disampaikan guru terhadap siswa dengan menggunakan media gambar, simbol atau
grafik sangat berpengaruh terhadap efektifitas belajar. Sebagai fasilitator, guru
sebaiknya selalu memonitor dan membantu mengungkap informasi dan
pengetahuan yang disajikan dalam buku teks melalui model tetrahedral tersebut.
Bila diperlukan, guru dapat mengembangkan dan memodifikasi materi dengan
model lain, baik dalam bentuk aktifitas atau tugas-tugas terstruktur lain selama
proses belajar.
Mayer (1999) menawarkan teori belajar lain yang dikenal dengan the SOI
model (Select, Organise and Integrated). Model ini mendorong tiga proses kognitif
dalam memperoleh pengetahuan, yaitu selecting, organizing, dan integrating
information. Secara visual model SOI ini dapat dilihat seperti gambar berikut ini;

37
Penney et al., dalam Sarita Swanepoel, op.cit. h.53.
38
Alexander, P. A. and Kulikowich, J.M.: 1994, Learning from Physics text: A synthesis of
recent research, online Journal of Research in Science Teaching 31(9), 895–911.
10

Gambar : SOI model of Constructivist learning from words and pictures


(Mayer, 1999: 149)

Teks-teks yang tersusun dalam buku sejatinya tidak dengan sendirinya


menghasilkan pengetahuan atau informasi yang dapat dipahami secara
komprehensif dan mendalam oleh siswa. Akan tetapi, teks-teks tersebut hanya
berperan sebagai inisiator aktifitas kognitif siswa. 39 Oleh sebab itu, peran buku teks
adalah membuka pengetahuan baru dan menguatkan pengetahuan lama yang telah
dimiliki oleh siswa, misalnya melalui model mind-maps, elaborative question, cloze
test, matching, dan describing picture.
Salah satu keuntungan belajar melalui buku teks adalah bahwa buku teks
dapat menjadi jembatan untuk belajar sepanjang hayat. Melalui media seperti
majalah, ensiklopedia atau yang lainnya, seseorang dapat belajar secara mandiri
dan terus menerus. Terlebih lagi, di era informasi dan teknologi yang sangat maju
seperti sekarang ini, pembelajaran berbasis teks (text-based learning) sangat mudah
untuk dilakukan, melalui Internet dan ICT misalnya. Walaupun, menurut Broer et al.,
karena luas dan tak terbatasnya informasi yang tersedia pada beragam situs dan
media sosial, akhirnya sulit sekali untuk menyaring informasi yang relevan dan
informasi yang tidak relevan. Oleh sebab itu, perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam
menyeleksi teks-teks terkait.
Selain itu, penggunaan buku teks sebagai media belajar siswa di kelas juga
memberikan dampak yang baik bagi terbukanya ilmu pengetahuan dan
terbangunnya skill siswa. Dengan kata lain, di samping sebagai insrtumen bagi

39
Van Hout-Wolter and Schnoz, di dalam Sarita Swanepoel, op.cit.54.
11

terbentukknya pendidikan siswa, buku teks juga menjadi prasarat fundamental


belajarnya. Ivan Ivić et al., menyebut buku teks sebagai alat untuk mereproduksi
dan repetisi mata pelajaran siswa. Secara jelas Ivan Ivić et al., menyatakan ;
... for the students themselves the textbook has been the basic instrument of
their education, the fundamental and often the only means of studying and
most frequently a tool for reproductive or repetitive learnig 40

Jadi, jelas bahwa buku teks berfungsi sebagai media transmisi informasi dan
pengetahuan sesuai dengan ketentuan kurikulum dan mata pelajaran yang telah
ditentukan di sekolah pada batas waktu/ tahun akademik tertentu.
Walaupun secara praktis, sejatinya, menurut Ivan Johnsen (2001) bahwa
makna buku teks tidak hanya terbatas pada bahwa buku teks merupakan media
“pembawa muatan kurikulum”, tetapi buku teks juga memiliki arti lebih luas. Ketika
guru mengajar misalanya, media belajar dapat dikembangkan melalui lembaran-
lembaran fotokopi materi, lembar kerja yang diadaptasi dari beragam sumber, atau
petikan-petikan materi yang tak terpublikasi.41
Setelah kita membahas bagaimana hubungan siswa dengan buku teks,
selanjutnya akan dibahas hubungan guru dengan buku teks .

3. Mengajar dengan buku teks


Dalam setiap kegiatan belajar dan mengajar, buku teks tetap menjadi rujukan
utama baik bagi guru maupun siswa. Di samping karena mudah ditemukan dan
efektif, buku teks juga dapat menjadi media belajar yang dapat digunakan secara
mandiri. Menurut riset yang dilakukan oleh Lemmer et al. tahun 2008, bahwa buku
teks masih menjadi rujukan utama sekolah-sekolah di seluruh dunia dan dianggap
sebagai media yang efektif untuk pembelajaran di kelas. 42 Berikut petikan hasil riset
Lemmer et al., tentang penggunaan buku teks di kelas;
Negara Penggunaan buku teks
USA  96% siswa kelas 9 – 12 mata pelajaran sains
menggunakan buku teks

40
Ivan Ivić et al., Textbook Quality: A Guide to Textbook Standards, (Gotingen:V&R Unipress
GmbH), h. 30.
41
Johnsen, di dalam Ivan Ivić et al., op.cit h.31
42
Lemmer, M., Edwards, J.-A. and Rapule, S.: 2008, Educators’ selection and evaluation of
Natural Science textbooks, South African Journal of Education 28, 175–187.
12

 59% guru mata pelajaran sains menyatakan bahwa


buku teks sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
belajar siswa (NSTA, 2003)
Perancis  Guru menggnakan buku teks setiap waktu (Pepin and
Haggerty, 2003)
German  70% guru selalu menggunakan buku teks
 20% guru sering menggunakan buku teks
 8% guru jarang menggunakan buku teks
 2% guru tidak pernah menggunakan buku teks (Sittle,
1999).
Austria  Buku teks menjadi media belajar di kelas. 87,4% guru
menggunakan buku teks sebagai media belajar di kelas.
(sitte, 1999)
Spanyol  92% guru menggunakan buku teks sebagai referensi
utama dalam menyusun lesson plan (Huber and Moore,
2001)

Beberapa peneliti lain seperti Motshekga (2009) juga menegaskan bahwa


sejalan dengan fungsi guru sebagai fasilitator di kelas, peran buku teks sebagai
media belajar di kelas semakin nampak. Bahkan, Departemen Pendidikan Afrika
Selatan misalnya, menyatakan bahwa sejak tahun 2010 buku teks menjadi media
belajar yang efektif di sekolah-sekolah Afrika Selatan. 43
Berbeda negara, berbeda pula ketentuan yang ditetapkan terhadap
penggunaan buku teks di sekolah. Di Perancis, buku dianggap sebagai media vital
untuk belajar anak-anak di sekolah, karenanya, pemerintah mengadakannya secara
cuma-cuma. Di Belanda, kebebasan menentukan buku bahan ajar baik bagi guru
dan sekolah terbuka seluas-luasnya dan dilindungi undang-undang. Sementara itu,
di dua puluh negara bagian Amerika buku teks digunakan sebagai media belajar di
kelas.44 Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai tujuan
pembelajaran, buku teks tetap menjadi rujukan utama dan memegang peranan
sangat penting.
Ivan Ivić et al menyebut bahwa buku teks memiliki peran penting dalam setiap
proses kegiatan belajar karena beberapa alasan berikut;

43
Motshekga, di dalam Sarita Swanepoel, op.cit.56.
44
Tyson, di dalam Sarita Swanepoel, op.cit.56.
13

Pertama, buku teks dipandang sebagai alat untuk mengatur sistematika


kegiatan belajar siswa di kelas. Buku teks bukan sekedar file kumpulan materi
belajar, tetapi juga instrumen yang bermanfaat bagi kemandirian belajar siswa yang
efektif dan efisien.
Kedua, karena fungsinya sebagai media untuk membangun pengetahuan,
buku teks disusun sesuai dengan kebutuhan siswa. Artinya, pertimbangan umur,
tingkat pertumbuhan kognitif, intelektual, latar belakang pengetahuan, pengalaman
dan bahkan background sosio-kultural siswa menjadi perhatian penting. Dalam
perspektif ini, buku teks sangat berperan sekali untuk menginspirasi dan mendorong
belajar siswa dalam beragam pelajaraan secara alami dan sistematis. 45
Ketiga, buku teks disusun dengan memperhatikan pengalaman hidup sehari-
hari siswa dan tujuan belajar siswa, yaitu pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Karenanya, buku teks memiliki dua fungsi; sebagai materi ajar dan media untuk
memantapkan ilmu pengetahuan, serta sebagai alat yang dapat motivasi siswa
belajar dan mengembangkan intelektualnya di sekolah.
Keempat, buku teks sebagai elemen untuk menciptakan situasi pengajaran
siswa di kelas. Dalam perspektif ini, guru memanfaatkan buku teks sebagai sarana
interaksi pedagogis (pedagogical interaction) antara siswa dan buku teks dan antara
guru dan murid.
Kelima, buku teks tidak hanya berisi materi ajar, tetapi juga materi-materi
tambahan yang dibutuhkan oleh siswa. Oleh sebab itu, buku teks dapat dijustifikasi
sebagai media belajar yang cocok dengan segala situasi dan kondisi.

4. Gaya Penulisan Buku Teks


Pada mulanya, buku teks dicetak tidak semata-mata untuk belajar membaca
dan menulis, tetapi untuk belajar dan memahami paragrap-paragrap panjang. Jauh
sebelum akhirnya disebut textbooks atau buku teks, ada istilah lain yang digunakan
dan sangat populer saat itu, yaitu schoolbooks atau buku sekolah. Buku sekolah
yang pertama kali dikenal dalam sejarah berisi campuran antara tata bahasa
(gramatika) dan kumpulan kata-kata bijak atau pepatah yang dirancang untuk belajar
membaca dan menulis. Menurut John F. Wakefield, istilah buku teks (textbook)

45
Ivan Ivić et al., op.cit hh.46-50
14

mulai populer di akhir abad 18. Saat itu buku teks secara umum mulai digunakan
oleh para murid dan guru.46
Ada hal yang menarik untuk dicatat tentang buku teks di awal-awal
sejarahnya, di antaranya adalah gaya penulisan (style) dan cara penyajian. Gaya
penulisan buku teks saat itu menunjukkan bagaimana buku teks digunakan dalam
dunia pendidikan. Cara penyajiannya sangat sederhana, yaitu berbentuk Question
and Answer. Salah satu buku yang sangat populer yang ditulis pada abad 14 adalah
karya Aelius Donatus. Dalam naskah John F. Wakefiled tidak disebutkan apa
judulnya. Buku teks itu disajikan dalam format “Question and Answer” berbentuk
catechism (ringkasan ajaran agama dalam bentuk pertanyaan dan jawaban).
Tekniknya, guru membaca pertanyaan dan siswa membaca jawabannya. Teknik dan
gaya penyajian buku teks seperti ini (catechetical) ternyata tidak berhenti pada abad
pertengahan (1100-1400), tetapi berlangsung hingga abad 19. Bahkan, mencapai
titik popularitasnya di akhir abad 18 dan awal abad 19. Misalnya, Noah Webster
(1758-1843), penulis berkebangsaan Amerika yang sangat terkenal di akhir abad
18an dengan karyanya Grammar Institute of the English language. Buku Webster ini
disajikan dalam bentuk tanya dan jawab. Berikut adalah petikan teknik penyajian
buku teks karya Webster ini.
What is Grammar?
Gramar is the art of communicating thoughts by words with propriety and
dispatch.
What is the use of English Grmmar?
To teach the true principles and idioms of the English language 47

Karya Webster di bidang Grammar ini, walaupun tidak sepopuler karya lainnya,
Blue-Back Speller, namun sangat terkenal dan telah terbit berkali-kali. Dalam
catatan Wakefield bahwa Webster mulai meninggalkan gaya penulisan catechetical
pada buku edisi-edisi selanjutnya setelah 50 tahun.
Contoh lain, Thomas Dilworth (1773-1805), dengan karyanya The
schoolmaster’s assistant. Buku tentang Aritmatika ini disajikan dalam bentuk tanya
jawab, sangat terkenal di zamannya dan dicetak oleh kurang lebih 58 percetakaan di
46
John F. Wakefield, A breaf History of Textbooks: Where Have We Been All These Years?,
Paper presented at the meeting of Text and Academic Authors, St. Petersburg, FL, June 12-13,
1998., hlm.5
47
Ibid.
15

Amerika. Jadi dapat disimpulkan, bahwa sepanjang abad 19, gaya penulisan buku
teks di Amerika pada saat itu adalah catechism.48 Ada beberapa alasan mengapa
gaya penulisan catechism ini berlangsung lama, sejak abad 14 hingga abad 19.
James Bowen, dalam bukunya History of Education menjelaskan keadaanya kelas-
kelas di Amerika saat itu sabagai berikut:
Both Donut’s Grammar, composed in the fourth century A.D., and Alexander’s
of 1199 were designed for the minimum clasroom, that is, one consisting of the
barest elements: a master reading or expounding to pupils seated on form, with
no further necessary equipment such as a blackboard, or writing equipment—
desks, pens, ink and paper.49

Alasan pertama adalah jumlah siswa di kelas pada saat itu tidak banyak. Karenanya
sangat berpengaruh terhadap metode mengajar dan media yang digunakan.
Kegiatan belajar dikelola secara monoton, yaitu dengan teknik tanya jawab. Dengan
kata lain, kegiatan belajar dengan teknik catechetical sangat populer dan menarik. Di
samping ekonomis, teknik seperti ini dianggap cukup efektif dan efisien.
Alasan kedua, tujuan mengajar saat itu adalah menghafal definisi, rumus-rumus,
atau fakta-fakta. Oleh karena itu, media yang efektif dan mudah digunakan tiada lain
kecuali buku teks yang berisi kata-kata kunci (cues) berupa pertanyaan yang
mempermudah siswa menghafal ilmu pengetahuan.
Versi lain menyebut, bahwa apa yang membuat teknik catechetical bertahan hingga
abad 19, bukan karena tidak ada buku, meja belajar, kertas atau pulpen, tetapi
karena tidak adanya guru yang terlatih. Menurut Carpenter (1963), hal itu
disebabkan karena belum berkembangnya pusat-pusat pelatihan guru. 50 Elson
(1964) menyebutkan hubungan antara guru dan gaya mengajar catechetical seperti
terangkum dalam petikan paragraf berikut;
Because the teachers were relatively untrained, letter perfect memorization
without peculiar attention to meaning was the basic method of common, or

48
Ruth Elson, Guardians of tradition: American Schoolbooks of the nineteenth century, (Lincoln,
NE University of Nabraska 1964), hlm 54
49
James Bowen, The History of Western Education, Vol II, (New York: St. Martin’s Press), hlm.
408.
50
C. Carpenter, History of American Schoolbooks, (Philadelpia: University of Pennsylvania
Press), hlm 56
16

public, school education. Few teachers out side of the large cities had much
education beyod that of the school in which they were taught. 51

Di samping guru yang kurang terlatih, menghafal (perfect memorization) tanpa


memperhatikan makna mendalam tetang isi teks adalah metode belajar yang paling
dikenal pada masa itu. Selain itu, tak banyak guru yang memiliki pengalaman dan
pengetahuan yang lebih maju. Apa yang mereka lakukan di kelas tidak lebih dari apa
yang mereka peroleh di sekolah dahulu. Tak heran jika kemudian, dengan teknik
hafalan ini, peranan guru di kelas sangat sedikit. Karena teknik hafalan dapat
dilakukan dengan memaksimalkan peran teman sejawat. Dengan sistem monitoring
dan supervisi, murid senior dapat membantu mengawasi hafalan rekan-rekannya.
Dengan cara belajar seperti ini, guru dapat mengajar beberapa kelas dalam satu
waktu.52 Dalam bahasa John Swett (1900), tugas pokok guru di sekolah pada masa
itu tak lebih dari sekedar menyampaikan pertnyaan-pertanyaan melalui buku-buku
teks yang digunakan di kelas terntetu, tanpa catatan, komentar atau bahkan
penjelasan lebih luas. “the main office of the teacher in the early common school
53
was to ask the text-book question without note, comment, or explanation” Jadi, inti
belajar saat itu adalah “menghafal jawaban” dari pertanyaan-pertanyaan di dalam
buku teks.
Menurut sejarah, ada beberapa hal yang menyebabkan perubahan model
pengajaran hafalan menuju pemahaman. John F. Wakefield dalam naskahnya
menyebut tiga hal penting yang mengubah paradigma pembelajaran tersebut, a)
adanya perubahan teori pendidikan, b) munculnya ilmu pendidikan guru, c)
komersialisasi buku teks.54
Pertama munculnya teori pendidikan baru telah mengubah cara belajar
deduktif (tanya jawab) menuju cara belajar induktif yang dirancang untuk membantu
siswa untuk mengembangkan kemajuan berpikir tingkat tinggi dan kreatif melalui
observasi, membandingkan, menemukan dan menggeneralisasi. Johann Pestalozzi
(1746-1827) dan John Amos Comenius (1592-1670) keduanya adalah tokoh yang

51
John F. Wakefield, hlm 7
52
John F. Wakefield, op.cit., hlm 7-8.
53
John Sweet, American Public School History and Pedagogics,(New York: American Book
Company, 1900), hlm 189-90.
54
John F. Wakefield, op.cit 9.
17

mempromosikan cara belajar dengan mengedepankan pengembangan ide dan


pengalaman belajar siswa ini.
Salah satu buku teks yang pertama kali terbit di Amerika adalah First Lesson
in Arimethic on Plam of Pestalozzi ditulis oleh Warren Coburn (1821). Buku ini berisi
promosi gagasan-gagasan Pestalozzi. Di antaranya materi tentang “jumlah
(number)” disajikan dalam bentuk pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman
siswa;
1. How many thumbs have you on your right hand? How amny on your left?
Hom many on both together?
2. How many hands have you?
3. If you have two nuts in one hand, and one in the other, how many have you in
both?55

Buku teks ini sangat terkenal di masa itu, walaupun penulisya sudah meninggal
lebih awal, namun tetap diterbitkan selama hampir 70 tahun. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa secara umum, buku-buku yang terbit dan beberapa organisasi
academik yang ada di abad pertengahan itu cenderung mendudukung gagasan dan
pendekatan Pestalozzi, kendatipun pengaruhnya secara langsung di kelas masih
sangat terbatas.
Kedua, munculnya pusat-pusat pelatihan guru secara khusus. Pada tahun
1839, Normal School yaitu sekolah model yang menyelenggarakan pendidikan guru,
berhasil medidik guru-guru terlatih yang dibutuhkan oleh sekolah umum. Bahkan
pada tahun 1898 ada sekitar 127 Sekolah Normal Negeri dan jumlah yang sama
Sekolah Normal Swasta. Di sekolah-sekolah itulah pendekatan Pestalozzi diajarkan
secara serius.
Ketiga, persepsi baru tentang buku teks sebagai barang komoditas. Buku teks
(texbooks) dipandang sebagai media belajar pengalaman indrawi (sensory
experience) yang efektif. Buku teks yang dilengkapi dengan visual-visual menarik
manjadi pendekatan baru dalam pengajaran di kelas. Noah Webster (1783)
misalnya, ia menulis buku yang sangat terkenal, yaitu speller dengan menggunakan
ilustrasi ukiran kayu. Karenanya, bukunya terjual hingga 100 juta eksemplar.
Demikian juga penulis-penulis lain seperti Samuel Goodrich (1793-1860) dengan
karyanya di bidang sejarah dan geografi terjual hingga 7 juta eksemplar.
55
John F. Wakefield, op.cit., hlm 9
18

Perkembangan ilmu pengajaran yang tumbuh subur di sekolah-sekolah normal


memberi warna dan pengaruh tersendiri terhadap perubahan dan inovasi
pengajaran di dalam kelas. Bersamaan dengan itu, cara belajar menghafal
(memorization) lambat laun tidak mampu mengantarkan siswa mencapai tujuan
belajar. Saat itulah cara belajar menghafal akhirnya diperbaiki dengan
manggabungkan antara pengalaman siswa dan cara belajar catechetical. Beberapa
buku dikemas agak berbeda, seperti buku A Pictorial History of United States yang
ditulis oleh Samuel Goodrich (1846), pada setiap wacana disertai pertanyaan di
bawahnya. Tujuannya untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap isi
wacana. Begitu gaya penulisan buku seperti yang dilakukan oleh Goodrich ini
populer, akhirnya gaya penulisan buku catechetical perlahan perlahan-lahan hilang.
Menurut Perkinson (1985), gaya penulisan catechetical ini mulai hilang sejak tahun
1840an56.

5. Buku Teks—Sebagai Pengajaran Nilai dan Budaya


Buku-buku teks yang terbit sebelum tahun 1840an pada umumnya lebih
mengedepankan muatan dan ilustrasi-ilustrasi yang bernilai agama. “...the values
asserted through the content and illustrations of textbooks prior to 1840 were often
religious”.57 Dengan kata lain, kompetensi literasi siswa bukan merupakan tujuan
akhir, tetapi tujuan utamanya adalah sebagai media untuk pengenalan dan
pemahaman kitab suci Bible. Oleh karena itu, buku yang pertama kali terbit di antara
tahun 1687 dan 1690an, yaitu the New England Primer lebih banyak berisi ajaran
agama secara eksklusif.

56
John F. Wakefield, op.cit.,hlm.11
57
John F. Wakefield, op.cit.,hlm.13
19

Gambar 1: Buku The New England Primer


Sumber : en.wikipedia.org/wiki

Gambar 2: Pengajaran alphabet dengan gambar dan sajak


Sumber http://cdm.reed.edu/cdm4/indianconverts

Gambar di atas adalah buku the New England Primer. Buku ini dikenal sebagai
buku teks yang paling sukses pada abad 18 di Amerika dan menjadi dasar buku-
buku teks sebelum tahun 1790an. Seperti dijelaskan di atas, bahwa kemampuan
literasi tidak menjadi target akhir dari belajar, tetapi pengenalan nilai-nilai agama
lebih mendominasi tujuan isi buku tersebut. Pada gambar 2, sebelum mengenalkan
huruf alfabet kepada siswa misalnya, penulis menyajikan sajak-sajak religi dan
ilustrasi berbentuk ukiran. Dengan demikian, kendatipun buku itu dirancang untuk
bahan ajar di sekolah pada kemampuan membaca (reading), namun pengenalan
nilai-nilai agama (religious values) kepada siswa lebih kuat. Seperti dijelaskan oleh
John A. Nietz (1961) pada bab-bab selanjutnya dalam buku itu ditampilkan materi-
materi yang berhubungan dengan agama, seperti tanya jawab tentang isi Bible,
ayat-ayat dalam kitab Bible yang disusun secara alfabetis, doa-doa, keimanan,
nama-nama bible dan puritan catechism.58
Pada perkembangan selanjutnya, selama abad 19, muatan nilai-nilai agama
pada buku-buku teks perlahan-lahan berpindah kepada pengajaran nilai-nilai moral
(moral values) yang lebih umum. Sajak-sajak alfabetis dan ilustrasi-ilustrasi dalam
buku the New England Primer misalnya, pada edisi-edisi berikutnya mengalami
transformasi yang signifikan, tidak lagi tendensius terhadap pengajaran agama,
tetapi tampil lebih sekular.59 Begitu juga buku-buku sejenis, seperti Grammatical

John.A. Nietz, Old Textbooks, (Pittsburg: University of Pittsburg Press, 1961), hlm 16.
58

59
Carpenter, dikutip oleh John F. W., A Brief History of Texbooks: Where Have We Been All
These Years?, naskah seminar disampaikan pada The Meeting of the Text adn Academic Authors
20

Institute of the English Language karya Webster (1783) yang kemudian dipopulerkan
dengan judul the American Spelling Book (1784). Webster juga telah meninggalkan
secara spesifik muatan agama dan mentransformasikannya menjadi “A Moral
Catechism”.

Gambar 3: Buku American Spelling Book


Sumber : en.wikipedia.org/wiki

Gambar 4: Petikan isi buku Spelling Book


Sumber : John F. Wakefiled, hlm.35.

Gambar 3 adalah buku American Spelling Book-nya Noah Webster. Buku teks yang
sejatinya fokus pada pengajaran pronunciation memiliki tampilan dan gaya
penulisan yang berbeda dibanding versi yang sama edisi sebelumnya. Dominasi
muatan agama pada edisi sebelumnya telah ditransformasikan kepada pengajaran

(St. Petersburg, FL, June 12-13, 1998), 13.


21

nilai yang lebih umum. Seperti pada gambar 4 adalah petikan isi buku American
Spelling Book yang berisi tentang ajaran moral (moral catechism).
Materi-materi bacaan dalam buku (readers) yang susun dalam setiap bab pun
mengalami perubahan. Seperti buku yang terdiri dari empat seri yang ditulis oleh
William Holmes McGuffey antara tahun 1836 sampai 1837. Buku ini memuat
bacaan-bacaan yang tidak lagi secara khusus mendakwakan nilai-nilai agama, tetapi
lebih berfokus pada nilai-nilai moralitas yang lebih bersifat umum. Buku sejenis
ditulis oleh Brother Alexander, terbit tahun 1844. Buku ini sangat populer, dicetak
berkali-kali selama kurang lebih 70 tahun. Sehingga, tidak heran jika kemudian,
menurut penelusuran sejarah Wakefield, buku itu terjual lebih dari 122 juta copy,
mengalahkan penjualan buku Webster, Blue-Backed Speller. Masa popularitas dan
kejayaan buku William Holmes McGuffey ini sangat lama, sehingga para ahli sejarah
buku teks menyimpulkan masa itu, 1836, sebagai titik awal perubahan gaya
penulisan buku, dari orientasi agama menuju nilai-nilai moralitas.
Contoh lain yang menarik perhatian para ahli sejarah, yaitu buku Eclectic
First Readers, terbit tahun 1836. Pada edisi-edisi awal, buku ini masih menyisipan
materi bermuatan nilai-nilai agama, seperti judul bacaan “Evening Prayer” dan
beberapa pertanyaan yang mengarah kepada meditasi agama, seperti “Do you know
who made the sun?”, Narator menjawab, “God made it”. Begitu selanjutnya, materi-
materi dalam buku ini mengarah kepada pengenalan Tuhan secara khusus
(religious beliefs). Uniknya, pada edisi-edisi akhir menjelang tahun 1900an, materi-
materi bermuatan nilai-nilai agama tidak lagi muncul secara nyata. Bahkan, pada
edisi tahun 1920 materi-materi tersebut bisa dibilang hampir tidak ada. Semua
materi dikembangkan berdasarkan nilai-nilai moral yang bersifat universal. Wakafield
menyebutnya “there are no references to religion in the reading passages”.
Agama telah diganti dengan moralisme. Walaupun tidak seluruhnya, tetapi
hampir semua bacaan dalam buku-buku teks saat itu mengandung unsur-unsur
exemplars of kindness atau contoh-contoh kebaikan, baik kepada binatang atau
bahkan kepada sesama manusia. Misalnya, dalam buku McGuffey berisi cerita-
cerita pendek untuk mempengaruhi anak muda laki-laki untuk berperilaku baik,
seperti tidak mengganggu sarang burung, mengusik sapi dari tempat tinggalnya,
membiarkan taman dan binatang di dalamnya tenang dan nayaman, dan tentu,
menghargai kehendak orang lain. Pesan moralnya adalah berbuat santun terhadap
sesama manusia dan binatang. Berikut adalah petikan paragrapnya.
22

Your parents are very kind to send you to school. If you are good, and if you try
to learn, your teacher will love you, and you will please your parents. Be kind to
all, and do not waste your time in school60

Perilaku baik atau kindness dianggap sebagai bukan dari nilai-nilai agama
(religious values) tetapi bagian dari nilai-nilai moral (moral values). Guru akan
mencintai murid-murid bila mereka berperilaku baik dan selalu berbuat kebaikan
kepada teman dan sesama orang. Jadi, setiap kebaikan itu berbuah kebaikan yang
lain. Tata nilai seperti inilah para ilmuan saat itu menyebutnya dengan moralism.
Pengajaran nilai (teaching values) saat itu dilakukan secara induktif, yaitu
melalui contoh-contoh. Sasarannya bukan hanya terbatas pada anak-anak di
sekolah tertentu, tetapi juga kawan-kawan sebaya di lingkungan tempat tinggalnya.
Dengan teknik fair-share mereka berbagi dan saling mengingatkan tentang tata nilai
moralitas. Karenanya, dapat disimpulkan bahwa pelajaran-pelajaran di sekolah
masa itu dirancang sebagai bagian dari solusi untuk membangun karakter anak didik
di sekolah, terutama yang berkaitan dengan self-discipline atau disiplin diri.
Dalam catatan sejarah buku, reading series-nya McGuffey ternyata tidak
sendiri. Pada masa itu, ada juga judul buku lain yang menjadi pesaingnya, yaitu the
reading series karya Charles Sanders.61 Salah satu ilustrasi (teks) yang dipetik dari
buku Sanders’ union primer, yaitu kisah seekor anjing yang ditutup matanya
menggigit beberapa anak kucing, ibu kucing marah. Seorang anak laki tersenyum
melihat pemandangan lucu dan seorang gadis tertekan melihatnya. Pelajaran ini
adalah potret perilaku anak nakal. Pesan moralnya, agar mereka, khusunya anak
laki-laki tidak mempermainkan binatang, seperti menutup matanya. Tetapi harus
menyayanginya termasuk juga menyanyangi sesama manusia.
Ketika nilai-nilai agama berubah menjadi nilai-nilai moral, saat itulah karakter
bangsa mulai tumbuh. Pada pertengahan abad 19, teks-teks historis di Inggris
diwarnai dengan potret-potret dan ilustrasi yang bermuatan moral values. Misalnya,
kewajiban setiap warga negara berperilaku baik, dan tidak hanya taat terhadap
hukum pertanahan. Walaupun, menurut Wakefield, penggabungan teks-teks sejarah
dengan ilustrasi moral values dianggap menyebabkan terjadi distorsi sejarah. Dan,

60
John F. Wakefield, op.cit., hlm.,15.
61
John A. Nietz,The Old Book, op.cit., hlm., 16
23

distorsi ini banyak terjadi pada buku-buku teks karya Smuel Goodrich 62 Buku-buku
Goodrich ditulis untuk konsumsi anak-anak. Cirinya, teks-teks yang terdapat pada
buku Goodrich berisi simplified history (ringkasan sejarah) yang disisipi ilustrasi-
ilustrasi nilai-nilai moral.
Di Amerika, pada pertengahan abad 19, perkembangan buku teks yang
berwawasan karakter dan moralitas orang Amerika pada umumnya sangat luar
biasa. Citranya telah menggantikan peran dan karakter buku-buku teks sebelumnya
yang sangat kental dengan syiar agama (religious commitment).
Pertanyaan selanjutnya, jenis buku teks dengan pendekatan apa yang secara
konkrit telah memberi warna perubahan pada tujuan pendidikan di Amarika pada
saat itu, apakah religious-values based apa moral-values?. Jawabannya adalah
buku-buku teks yang dikembangkan dengan pendekatan moral value, seperti nilai
kedisiplinan, toleransi, persatuan dalam perbedaan, dan, menurut hasil penelitian
Wakefield, tumbuh suburnya pasar buku-buku teks nasional.
Oleh karena itu, pada pertengahan abad 19, perubahan mendasar pendekatan
pendidikan karakter (morality) di Amerika telah terjadi. Pendidikan karakter dilakukan
melalui contoh yang baik, “example”, atau qudwah hasanah baik dari guru, orang
tua, atau melalui cerita dan dongeng dari buku. Karenanya, dongeng-dongeng
(fables) dalam buku American Spelling Book karya Webster (1784) atau contoh-
contoh yang baik (exemplars of kindness) dalam buku First Eclectic Readers, karya
McGuffey (1900) menjadi rujukan pendidikan moral. Hal yang sama juga terjadi dari
potret-potret karakter tokoh dalam buku-buku sejarah Amerika, seperti George
Washington dan Willian Penn yang terkenal dengan sifat heroiknya. Kedua tokoh ini
menginspirasi sifat-sifat pengorbanan dan kepahlawanan bagi anak didik.
Poin yang dapat dipetik dari paparan di atas bahwa pendidikan karakter (value
education) di Amerika dilakukan baik secara langsung melalui kurikulum, seperti
buku teks dan kegiatan-kegiatan akademis lain di sekolah, maupun tidak langsung,
seperti peringatan hari-hari bersejarah63.
Seperti telah ditekankan di atas, bahwa di banyak negara peran integral buku
teks adalah sebagai media untuk meningkatkan standar pendidikan. Sejatinya,

62
John F. Wakefield, op.cit., hlm.,17.

63
Dale N. Titus, Values Education in American Secondary Schools, Paper presented at the
Kutztown University Education Conference, (Kutztown: PA, September 16, 1994), hlm.,2.
24

peran buku teks sebagai standar kualitas adalah bagian dari trend untuk mengontrol
kualitas, contohnya dalam industri serta budaya. ISO 9000, misalnya digunakan
untuk mengontrol standar kualitas. ISO 9000 suatu standar internasional untuk
sistem manajemen mutu.
Ada banyak alasan mengapa kualitas buku teks menjadi salah satu isu sosial
yang sangat fundamental. Ivan Ivić et al., menyatakan, secara kuantitatif, output dari
industri film dan produksi media elektronik tidak sebanding dengan produk budaya
sosial. Berbeda dengan media cetak, buku teks misalnya, secara kuantitas
pengguna buku teks jauh lebih banyak dibanding pengguna produk elekstronik, film
misalnya. Secara ekonomi, sirkulasi buku-buku teks jelas sangat berimplikasi positif
bagi penerbit buku. Fakta-fakta kuantitatif i secara jelas menunjukkan bahwa
penerbitan buku teks secara langsung berhubungan dengan kepentingan negara
dan budaya masyarakat.64
Oleh karena itu, buku teks memiliki peran yang sangat sentral pada setiap
awal pertumbuhan hidup seseorang, siswa misalnya. Dengan kata lain, buku teks
adalah jendela ilmu pengetahuan, skill, kemampuan berpikir kritis, pembentukan
kepribadian, nilai-nilai, pandangan hidup dan kebiasaan. Melalui isi buku teks,
warisan budaya nasional dapat didiseminasi kepada para siswa baik di kelas
maupun di rumah. Di samping itu, interaksi siswa dengan buku-buku sekolah dapat
mempengaruhi karakter, sikap dan budayanya terhadap aktifitas membaca dan
kegiatan-kegiatn akademik. Pengalamannya bertahun-bertahun berinteraksi dengan
buku dapat mengubah perilaku siswa, seperti gemar dan senang membaca buku
secara aktif, selektif, analitis dan kritis. Menurut para ahli, inilah prestasi terbesar
proses pendidikan di sekolah dan fondasi utama pembangunan karakter anak didik.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa buku teks secara nyata dapat
menjadi media untuk membangun keterampilan dan kepribadian siswa. Dari situ,
beberapa keberhasilannya, seperti kualitas hidup, kesejahteraan dan kebahagian
dapat dilihat.
Itulah sebabnya, mengapa para ahli sepakat bahwa buku teks sekolah harus
menjadi benih untuk menyemai nilai-nilai budaya siswa. Cunningsworth (1995) dan
Holly (1990) menyebutnya sebagai ‘hidden curriculum’. Para ahli pendidikan
mengklaim bahwa hidden curriculum lebih efektif dari official curriculum. Buku teks
pelajaran bahasa misalnya, kini tidak lagi hanya mengajarkan pengetahuan dan
64
Ivan Ivić et al., op.cit h., 28
25

keterampilan berbahasa, tetapi juga sebagai jembatan untuk menularkan nilai-nilai


budaya. Risager, seperti dikutip oleh Cunningsworth (1995) menyatakan;
Foreign language teaching textbooks no longer just develop concurrently with
the development of foreign language pedagogy in a narrow sense, but they
increasingly participate in the general cultural transmission with the
educational system and in the rest of society65

Oleh karena itu, kekuatan buku teks dalam membanguan kognisi dan budaya
siswa tak dapat lagi dibantah. Peranannya sangat jelas, konkrit dan kuat. Perhatian
terhadap kualitas buku harus diberikan, melalui dialog, kritik, review oleh lembaga-
lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau swadaya masyarakat.
Ada beberapa komponen penting yang harus diperhatikan dalam proses
pangajaran bahasa Inggris sebagai bahasa Asing (TEFL) di dalam kelas, pertama
buku teks pelajaran, dan kedua materi ajar. Keduanya memiliki posisi yang sangat
sentral pada setiap proses pengajaran. Begitu pentingnya peran buku ajar dan
materi ajar itu, sehingga dapat dikatakan tak ada buku dan materi ajar, maka tak
akan terjadi proses belajar. Hutchinson and Torres (1994) menguatkan gagasan ini;
The textbook is an almost universal element of [English language] teaching.
Millions of copies are sold every year, and numerous aid projects have been
set up to produce them in [various] countries…No teaching-learning situation,
it seems, is complete until it has its relevant textbook. 66

Beberapa ahli menguatkan gagasan tersebut, seperti Sheldon (1988) yang


menyatakan bahwa buku teks pelajaran tidak hanya sebagai ‘jantung’ kegiatan
belajar bahasa Inggris, tetapi juga berperan sangat penting baik bagii guru maupun
siswa.67 Haycroft, bahkan memandang buku teks pelajaran sebagai satuan media
pembelajaran yang secara psikologis dapat di gunakan untuk mengukur prestasi
siswa secara nyata. Oleh karena itu, selain menjadi instrumen dan perangkat
belajar, buku menjadi sumber pengajaran yang sangat mudah didapatkan. Biasanya,
buku-buku teks pelajaran di sekolah didampingi dengan buku-buku penunjang lain

65
A. Cunningsworth,. Choosing your coursebook. (Cambridge University Press, 1995), 90.
66
Hutchinson, T. and E. Torres, 'The Textbook as Agent of Change'. ELT Journal, 1994,
Volume 48/4, hlm. 315
67
Sheldon, L. 'Evaluating ELT Textbooks and Materials'. ELT Journal. 1988.Volume 42/2,
hlm.237.
26

yang mendukung, seperti LKS, lembar kerja, buku latihan, buku guru atau multi
modal teks yang bermanfaat bagi siswa.
Ivan Ivic et al. merinci struktur dan organisasi muatan dalam buku teks.
Menurutnya, dalam buku teks dapat dimuat beragam komponen yang dapat
membantu siswa memahami isi buku dan menjadikan buku teks mudah digunakan.
Seperti membuat beberapa judul dan unit/thematic unit, beberapa pertanyaan di
masing-masing unit dan tugas.68 Sejalan dengan perkembangan teori penulisan
buku teks dan untuk meningkatkan aksesibilitas belajar siswa, para penulis buku
menambahkan jumlah unit latihan pada masing-masing bab. menurut Pesikan dan
Antic, seperti penambahan informasi pada setiap teks, perujukan kembali atau
pengulangan materi sebelumnya dan menghubungkannya dengan materi yang baru,
penambahan gambar, diagram, peta atau glossary untuk kata-kata yang dianggap
baru bagi siswa.69
Penambahan komponen pada setiap unit ini tentu memberikan warna baru
pada organisasi penulisan buku teks. Bahkan, kini, setiap buku teks tidak meletakan
isi utama buku di awal judul/bab. Beberapa strategi baru diadopsi di dalam buku
teks, seperti munculnya rangkaian kegiatan/aktitiftas belajar sesuai dengan teks
yang akan disampaikan dalam setiap judul/bab, sehingga topik baru pada setiap bab
diajarkan secara bertahap bertahap.

G. Standar Kualitas Buku Teks


Pendidikan yang berkualitas menjadi dambaan setiap orang. Dalam perspektif
pendidikan modern, standar kualitas pendidikan sangat bersifat multidimensional,
meliputi ;
 Kualitas lingkungan tempat kegiatan belajar berlangsung.
 Kualitas isi/materi buku teks yang digunakan media belajar siswa.
 Kualitas guru
 Kualitas proses kegiatan belajar yang dikelola oleh guru.
 Kualitas media belajar yang tersedia untuk siwa.
Salah satu aspek untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas adalah
buku tersedianya buku teks yang berkualitas. Buku teks memiliki peran yang sangat
signifikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Secara jelas Pesikan dan
68
Ivan Ivić et al., op.cit h., 53
69
Pesikan dan Antic dalam Ivan Ivić et al., op.cit h., 53
27

Antic seperti dikutip oleh Ivan Ivic menyatakan bahwa buku teks memiliki peran yang
penting dalam kegiatan belajar siswa di kelas, alasannya;
Pertama ; buku teks bukan hanya sekedar kumpulan file materi pelajaran
yang di pilih secara teliti, akan tetapi secara spesifik buku teks adalah media belajar
dan instrumen untuk menciptakan suasana belajar sencara mandiri.
Kedua: buku teks sebagai alat untuk membangun pengetahuan (construction
of knowledge), oleh sebab itu buku teks disusun dengan memperhatikan umur
siswa, tingkat kognisi, kemampuan intelektual, pengetahuan awal, latar belakang
sosiokultural dan tujuan pembelajaran.
Ketiga : materi-materi dalam buku teks harus terkait dengan kehidupan siswa
sehari-hari sehingga proses pengembangan ilmu pengetahuan dan tujuan
pendidikan dapat dicapai. Oleh karena itu, buku teks memiliki dua fungsi utama, a)
sebagai sumber belajar untuk mengembangkan pengetahuan siswa, dan b) sumber
motivasi belajar dan pengembangan intektual siswa.
Keempat ; buku teks adalah perangkat untuk menciptakan situasi belajar di
kelas yang produktif
Kelima ; peran dan fungsi buku teks sekarang telah berganti dari sekedar
informasi pengetahuan kepada proses belajar dan konstruksi pengetahuan. 70
Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa buku teks memegang peranan
penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan siswa di sekolah.
Teaching must facilitate the acquisition of scientific concept and constant
interaction between student and textbook, while at the same time generating
interaction between a system of academic and scientific concepts and everyday
concepts71

Seperti telah diketahui bahwa buku teks memegang fungsi penting sebagai
sumber belajar siswa di kelas dan sebagai kumpulan materi belajar. Oleh sebab itu
buku teks harus disusun secara baik dan terukur. Berikut poin-poin materi penting
yang perlu diperhatikan di dalam penyusunan buku teks.
 Materi utama sesuai dengan kebutuhan
 Dicetak atau diterbitkan
 Berisi tugas-tugas/aktifitas belajar
70
Pesikan and Antic, dikutip oleh Ivan Ivic, Op cit., hh.48-50.
71
Ivan Ivic, Op. Cit 48.
28

 Berisi teks-teks, ilustrasi, beberapa notasi (seperti kumpulan puisi, dan karya
seni)
 Antologi
 Kamus
 Lembar kerja
 Atlas, chart dan pets
 Poster dan banner
 Buku pentunjuk kerja di laboratorium, eksperimen atau buku panduan praktis
 Buku-buku tes
 Buku pegangan guru
 Media Audio visual
 Perangkat elektronik atau ebook.

Setiap unit yang tersusun di dalam buku teks harus menceriminkan rangakaian yang
saling berhubungan satu dengan yang lain sesuai tujuan pembelajaran. Walaupun di
tampilkan secara beragam dan berbeda-beda, namun memiliki tujuan yang sama
dan saling menguatkan tujuan pembelajaran, yaitu mengkostruksi pengetahuan
siswa.
Thers is no such thing as single best contribution of material of the textbook set
which is applicable acorss all subjects and for all teaching / learning objectives.
The combination of materials must support the nature and the spesific
characteristics of the subject; therefore, differenct subjects will have different
combinations of materials72

Bila setiap mata pelajaran memiliki buku teks sendiri-sendiri, sebaiknya setiap buku
tersebut didampingi dengan buku lain sebagai supplement atau buku pendukung
sebagai pendamping buku utama. Misalnya, buku utama diproduksi secara
bersamaan dengan buku kerja, buku utama dilengkapi dengan sumber lain, CD
misalnya.
Buku teks berisi kombinasi materi pelajaran yang disusun secara teliti sesuai
dengan tujuan belajar dan mampu memfasilitasi serta meningkatkan kemampuan
siswa dalam memperoleh pengetahuan dari setiap chapter/ materi. Pada mulanya,

72
Ivan Ivic, op.cit h. 51.
29

buku teks memiliki komponen yang sangat minim, yaitu judul, atau unit tema dan
pertanyaan-pertanyaan latihan. Sekarang, bersamaan dengan berkembangnya teori
tentang buku teks dan tuntuntan akan media dan sumber belajar siswa yang mudah
diakses, komponen dan struktur buku teks bertambah dan berkembang. 73
Contohnya, beberapa buku teks menambahkan kolom khusus/kotak berisi tambahan
informasi tetang teks yang tampilkan dalam setiap unit, atau informasi yang
berkaitan dengan pengetahuan terdahulu siswa, atau penulis buku teks
menambahkan garfik, diagram, peta atau definisi kata-kata baru yang belum
diketahui siswa. Tambahan-tambahan informasi tersbut dilakukan untuk
memudahkan siswa memahami materi pokok dalam buku teks tersebut.
Dapat dicatat bahwa perkembangan sruktur dalam buku teks mengalami
perubahan yang signifikan. Semula, komponen dalam buku teks dimulai dengan
materi utama (core text) dan diikuti pertanyaan dan tugas-tugas. Akan tetapi, kini,
beberapa buku teks pelajaran tidak menempatkan materi utama di awal chapter/unit.
Buku-buku tersebut disusun dengan menggunakan struktur/metode yang beragam,
seperti dimulai dengan beberapa kegiatan siswa yang berhubungan dengan teks
utama, secara bertahap teks utama / informasi baru diletakkan setelah aktifitas-
aktifitas tersebut dan diikuti dengan pertanyaan dan tugas-tugas. Ringkasan materi
disusun di akhir chapter/unit. Perkembangan tersebut didasarkan pada usaha dan
penelitian serius tentang buku teks dan buku-buku pendukung pembelajaran siswa
di kelas. Dengan kata lain, bahwa materi-materi yang tersusun dalam buku teks
dikembangkan sesuai konteks dimana siswa belajar. 74
Berikut adalah contoh susunan komponen yang dapat dijadikan pertimbangan
dalam penyusunan buku teks;
- Daftar isi
- Teks utama
- Pertanyaan pembuka untuk seluruh chapter/unit, atau tema unit atau
key question.
- Peta konsep, graphs, diagram berikut teks utama.
- Timelines
- Kolom tambahan informasi tentang teks unit.

73
Pesikan and Antic, dikutip oleh Ivan Ivic, Op cit., h.53.

74
Ivan Ivic
30

- Kolom berisi key words


- Kolom berisi informasi aktual
- Kolom untuk puzzle
- Kolom berisi dokumen orisinal
- Kolom berisi cerita sesuai dengan tema/unit
- Pertanyaan atau tugas/aktifitas sesuai dengan tema/unit
- Gambar/photo atau ilustrasi
- Pertanyaan atau tugas-tugas tentang gambar/photo atau ilustrasi

E. Kualitas dan Kelayakan Buku Teks


McDonough & Shaw (2003) membuat kriteria penilain terhadap buku teks
pelajaran sebagai berikut75;
Evaluasi eksternal buku teks meliputi; a) materi buku sesuai dengan
kebutuhan siswa (student need) berdasarkan kurkulum yang berlaku, b) memiliki
ketentuan level kemahiran berbahasa yang jelas, c) menggunakan pendekatan
kontekstual, d)teknik penyajian bahasa yang mudah diadaptasi, e) penulis memiliki
pemahaman metodologi pengajaran bahasa, f) materi dalam buku merupakan ‘inti’
pelajaran, bukan suplementer, g) buku mudah ditemukan, h) buku memuat daftar
kosa-kata, i) mengintegrasikan visual, j) ke-grafikan/lay-out menarik, k)
mengintegrasikan aspek budaya,
Sedangkan untuk evaluasi internal meliputi; a) teknik penyajian keterampilan
berbahasa (language skill), b) tingkatan dan urutan materi, c) penyajian reading atau
wacana, d) penyajian keterampilan mendengar (authentic or artificial), e) materi
mudah dipelajari menggunakan ragam model pembelajaran, bersifat motifatif dan
suggestif.
Berdasarkan paparan tersebut, kualitas buku teks dapat dilihat berdasarkan
aspek isi/ materi, penyajian, grafika, serta aspek kebahasaan. Materi dalam buku
teks buku teks itu isinya haruslah sesui dengan tujuan pembelajaran yang berdasar
pada kurikulum, lebih baik lagi jika materi tersebut terintegrasi dengan pelajaran lain
namun tetap menghargai hal-hal yang tidak bertentangan seperti agama. Materi
buku teks diharapkan dapat membuat siswa giat mempelajari kembali meskipun di
luar proses belajar mengajar.
75
Andrew White, Evaluation of a ELT Coursebook Based on Criteria designed by McDonough
and Shaw , ELT Journal. 2003.Volume 45/2, hlm.23.
31

Selain aspek materi, cara menyajikan materi dalam suatu buku teks
diharapkan sistematis dan dapat membuat siswa lebih memahami pengetahuan
yang sesuai dengan umur siswa. Aspek penyajian materi berhubungan erat dengan
aspek grafika. Materi dalam buku teks hendaknya diimbangi dengan ilustrasi yang
menarik dan sesuai dengan materi sehingga membantu siswa dalam memahami
berimajinasi tentang suatu pokok bahasan. Aspek kebahasaan tidak kalah penting,
dalam menyajikan materi hendaknya menggunakan bahasa yang mudah dipahami
namun jika memungkinkan, penggunaan kata-kata dalam penyajian materi tidak
monoton dan dikembangkan sesuai jenjang atau tingkatan sekolah siswa.
Berdasarkan paparan di atas, dapata dikatakan bahwa aspek materi,
penyajian, grafika, serta kebahasaan dalam penyusunan buku teks adalah hal
terpenting yang diperhatikan. Buku teks yang berkualitas sudah semestinya
memenuhi aspek-aspek tersebut. Keempat aspek yang dijelaskan di atas
merupakan aspek yang sangat berhubungan sehingga sangat diharapkan penyusun
buku teks dapat memenuhi salah satu aspek tanpa mengurangi kualitas aspek
lainnya. Contohnya, ilustrasi yang digunakan dalam buk teks semestinya merupakan
ilustrasi yang bagus dan menarik namun jangan sampai mengganggu materi yang
disampaikan atau bahkan ilustrasinya bagus tetapi tidak sesuai dengan materi.
Cunningsworth dalam bukunya Choosing Your Coursebook menyebutkan
bahwa buku teks pelajaran merupakan buku teks yang digunakan siswa di sekolah
sebagai buku penunjang kegiatan pembelajaran 76. Buku teks ini pada prosesnya
memiliki peranan yang sangat vital bagi siswa karena siswa “mengandalkan” buku
ini sebagai pegangan dan berlatih terhadap sebuah mata pelajaran.
Menurut Pusat Perbukuan, buku pelajaran merupakan salah satu sumber
pengetahuan bagi siswa di sekolah yang merupakan sarana yang sangat menunjang
bagi proses kegiatan belajar mengajar. 77 Buku pelajaran sangat menentukan
keberhasilan pendidikan para siswa dalam menuntut pelajaran di sekolah. Oleh
karena itu, buku pelajaran yang baik dan bermutu selain menjadi sumber
pengetahuan yang dapat menunjang keberhasilan belajar siswa juga membimbing
dan mengarahkan proses belajar mengajar di kelas ke arah proses pembelajaran
yang bermutu pula.

76
Ibid.
Departemen Pendidikan Nasional. Pusat Perbukuan. Standar Penilaian Buku Pelajaran
77

Bahasa dan Sastra Indonesia. (Jakarta: Depdiknas, 2003), h. 12.


32

Saat ini banyak sekali penerbit buku yang menerbitkan buku teks pelajaran.
Hal ini dapat dipahami karena penerbitan buku teks pelajaran memiliki sebuah
kepastian konsumen, yaitu para siswa. Penerbit tinggal mencetak dan pandai-pandai
memasarkan dan melobi para guru untuk menggunakan buku terbitan mereka
dengan jasa para sales buku pelajaran. Jika seoarang guru sudah menyetujui maka
sudah tentu siswa yang diajar oleh guru tersebut mau tidak mau akan membeli buku
itu atas dasar rekomendasi guru.
Sesungguhnya kasus tersebut tidaklah salah dan memang terjadi. Kita juga
tidak menutup mata akan peran penting dari buku teks pelajaran karena memang
sangat membantu siswa dan guru dalam proses pembelajaan. Namun, karena
banyaknya terbitan buku teks pelajaran yang ada, alangkah baiknya jika sebelum
menentukan buku mana yang akan dipakai terlebih dahulu kita menilai kualitas buku
yang ada. Ada beberapa faktor yang dapat kita jadikan bahan penilaian terhadap
sebuah buku teks pelajaran. Kelayakan isi dan kelayakan penyajian merupakan hal
yang perlu diperhatikan dari buku teks yang akan dipilih karena kedua hal tersebut
menentukan kualitas dan kesesuaiannya diterapkan pada siswa. Sebagai contoh
berikut hal-hal yang perlu dinilai dalam pemilihan buku teks pelajaran Bahasa
Inggris; a) Kelayakan isi menyangkut materi apa yang disajikan dalam buku teks.
Ada beberapa hal penting yang harus dipenuhi agar buku teks dapat dikatakan
memiliki isi yang layak untuk dipakai. Kelayakan isi terlihat dari kesesuaian uraian
materi dengan KI dan KD, keakuratan materi, dan materi pendukung. b) Kesesuaian
Uraian Materi dengan KI dan KD. Materi yang termuat dalam buku teks harus jelas
dan sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan
oleh BSNP dalam standar isi.

DAFTAR PUSTAKA

Andrew White, Evaluation of a ELT Coursebook Based on Criteria designed by McDonough and
Shaw , ELT Journal. 2003.Volume 45/2, hlm.23.
Arifin, Moh Nur. "A Study Of Cultural Aspects In Arabic Textbooks For Madrasah ‘Aliyah In
Banten." Saintifika Islamica: Jurnal Kajian Keislaman 3.02 (2017): 131-144.
Carpenter C., History of American Schoolbooks, Philadelpia: University of Pennsylvania Press.
Cunningsworth, Alan, Choosing your Coursebook, Oxford: Heineman, 1995.
Departemen Pendidikan Nasional. Pusat Perbukuan. Standar Penilaian Buku Pelajaran Bahasa dan
Sastra Indonesia. Jakarta: Depdiknas, 2003
E Clark, Richard., Reconsidering Research on Learning from Media, Review of Educational
Research.University of Southern California: Winter, 1983, Vol. 53, No. 4, Pp. 445-459
33

Elson, Ruth Guardians of tradition: American Schoolbooks of the nineteenth century, Lincoln NE
University of Nabraska 1964
Hsu, Pei-Ling And Yang, Wen-Gin, Print And Image Integration Of Science Texts And Reading
Comprehension: A Systemic Functional Linguistics Perspective, (National Science Council,
Taiwan: International Journal of Science and Mathematics Education 2007
Ivić, Ivan et al., Textbook Quality: A Guide to Textbook Standards, Gotingen:V&R Unipress GmbH.
James Bowen, The History of Western Education, Vol II, New York: St. Martin’s Press
John G., Herlihy, Ed., Herlihy, The Textbook Controversy, New Jersey : Ablex Publishing Corporation,
1992.
N.J.,Ellsworth, C.N.,Hedley, & A.N.Baratta, (1994). Literacy: A redefinition. Philadelphia: Lawrence
Erlbaum Associates, 1994.
Nietz, John.A., Old Textbooks, Pittsburg: University of Pittsburg Press, 1961.
P. A., Alexander, and J.M., Kulikowich,: 1994, Learning from Physics text: A synthesis of recent
research, online Journal of Research in Science Teaching 31(9), 895–911.
Sheldon, L. 'Evaluating ELT Textbooks and Materials'. ELT Journal. 1988.Volume 42/2, hlm.237.
Sweet, John, American Public School History and Pedagogics, New York: American Book Company,
1900
T., Hutchinson, and Torres, E. 'The Textbook as Agent of Change'. ELT Journal, 1994, Volume 48/4,
hlm. 315
Wakefield, John F., A breaf History of Textbooks: Where Have We Been All These Years?, Paper
presented at the meeting of Text and Academic Authors, St. Petersburg, FL.