Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari

dalam uterus ke dunia luar. Persalinan mencakup proses fisiologis yang

memungkinkan serangkaian perubahan yang besar pada ibu untuk dapat

melahirkan janinnya melalui jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal

merupakan proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan

(37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang

berlangsung 18 jam, tanpa komplikasi baik ibu maupun janin.1

Persalinan normal juga dapat dikatakan sebagai suatu fenomena alam yang

mengarah pada penciptaan kehidupan baru, hal tersebut merupakan momen paling

menyentuh dan spesial dalam kehidupan seorang wanita dan merupakan

pengalaman unik yang bisa mereka dapatkan dan pada persalinan normal ini

seorang ibu dilatih untuk menghilangkan rasa takut dan kegelisahannya dalam

menghadapi persalinannya.2

Kematian dan kesakitan ibu masih merupakan masalah kesehatan yang

serius di Negara berkembang. Menurut laporan World Health Organization

(WHO) tahun 2018 Angka Kematian Ibu (AKI) di dunia yaitu 289.000 jiwa per

100.000 kelahiran hidup Beberapa Negara memiliki AKI cukup tinggi seperti

Afrika Sub- Sahata 179.000 jiwa per 100.000 kelahiran hidup, Asia Selatan 69.000

jiwa per 100.000 kelahiran hidup, dan Asia Tenggara 16.000 jiwaper 100.000

kelahiran hidup. Angka kematian ibu di Negara-Negara Asia Tenggara yaitu

1
Indonesia 190 per 100.000 kelahiran hidup, Vietnam 49 per 100.000 kelahiran

hidup, Thailand 26 per 100.000 kelahiran hidup, Brunei 27 per 100.000 kelahiran

hidup, dan Malaysia 29 per 100.000 kelahiran hidup.3

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017, AKI
(yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas) sebesar 359 per 100.000
kelahiran hidup. Angka ini masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara–
negara tetangga di Kawasan ASEAN. Pada tahun 2017, ketika AKI di Indonesia
mencapai 228, AKI di Singapura hanya 6 per 100.000 kelahiran hidup, Brunei 33 per
100.000 kelahiran hidup, Filipina 112 per 100.000 kelahiran hidup, serta Malaysia
dan Vietnam sama-sama mencapai 160 per 100.000 kelahiran hidup.3
Pada tahun 2018 SDKI kembali mencaat kenaikan AKI yang signifikan,

yakni dari 228 menjadi 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan

target yang diharapkan berdasarkan Melenium Development Goals (MDSGs) pada

tahun 2015 yaitu 102/100.000 kelahiran hidup. Hal ini berarti AKI di Indonesia

jauh diatas target yang ditetapkan WHO patau hampir dua kali lebih besar dari

target WHO.3

Kehamilan merupakan proses yang fisiologis dan alamiah. Masa kehamilan dimulai
dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40
minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan
melibatkan berbagai perubahan fisiologi antara lain perubahan fisik, perubahan
sistem pencernaan, respirasi, sirkulasi, darah, metabolisme, traktus urinarus serta
perubahan psikologis. Pada umumnya kehamilan berkembang dengan normal namun
kadang tidak sesuai yang diharapkan. Sulit diprediksi apakah ibu hamil akan
bermasalah selama kehamilannya. Oleh karena itu asuhan antenatal merupakan cara
penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan
mendeteksi ibu dengan kehamilan normal.4
Mortalitas dan mordibitas pada wanita bersalin adalah masalah besar di

negara berkembang. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama

mortalitas wanita muda pada puncak produktifitasnya. Pada saat ini angka

kematian ibu dan angka kematian perinatal masih sangat tinggi. Menurut survey

2
Demografi dan Kesehatan Indonesia angka kematian kematian perinatal adalah

307 /10.000 kelahiran hidup.5

Lima benang merah dalam asuhan persalinan dasar adalah :

1.        Aspek pemecahan yang diperlukan untuk menentukan pengambilan

keputusan klinik (clinical decicion making),

2.        Aspek sayang ibu yang berarti sayang anak,

3.        Aspek pencegahan infeksi,

4.         Aspek pencatatan,

5.         Aspek rujukan.

Persalinan yang aman yaitu memastikan bahwa semua penolong mempunyai

pengetahuan, keterampilan dan alat untuk memberikan pertolongan yang aman

dan bersih, serta memberikan pelayanan nifas kepada ibu dan bayi. 6 Untuk

meningkatkan pertolongan persalinan yang baik maka dibutuhkan bimbingan

praktik klinik dengan model pembelajaran klinik. Praktik klinik bertujuan untuk

meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan asuhan persalinan dengan

menerpakan 5 benang merah asuhan persalinan.6

Dari uraian diatas, penulis tertarik untuk membahas tentang Bimbingan

Praktik Klinik Dengan Model Pembelajaran Klinik Pada Intra Natal Care”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas makan ruang lingkup makalah ini adalah

Bimbingan Praktik Klinik Dengan Model Pembelajaran Klinik Pada Intra Natal

Care.

3
C. Tujuan Penulisan

Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui Pelaksanaan Bimbingan

Praktik Klinik Dengan Model Pembelajaran Klinik Pada Intra Natal Care.

D. Manfaat Penelitian

1. Penulis

Untuk menambah wawasan penulis dalam mengetahui Pelaksanaan

Bimbingan Praktik Klinik Dengan Model Pembelajaran Klinik Pada Intra

Natal Care..

2. Ilmiah

Makalah ini diharapkan dapat menambah bahan bacaan dan referensi

untuk selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Teori

1.      Pengertian Persalinan

1. Persalinan normal menurut WHO adalah persalinan yang dimulai secara

spontan, beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama

proses persalinan, bayi lahir secara spontan dalam presentasi belakang

kepala pada usia kehamilan 37-42 minggu lengkap dan setelah persalinan

ibu maupun bayi berada dalam kondisi sehat.7

4
2. Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya servik, dan janin

turun kedalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan

ketuban di dorong keluar melalui jalan lahir.7

3. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang

terjadi pada kehamilan cukup bulan 37-42 minggu, lahir spontan dengan

presentasi  belakang kepala yang berlangsung 18 jam, tanpa komplikasi

baik pada ibu maupun pada janin.8

4. Persalinan normal adalah proses pengeluaran bayi dengan usia  

kehamilan cukup bulan, letak memanjang atau sejajar sumbu badan ibu,

persentasi belakang kepala, keseimbangan diameter kepala bayi, dan

panggul ibu, serta dengan tenaga ibu sendiri. Pada persalinan normal

dapat berubah menjadi persalinan patologi apabila kesalahan dalam

penilaian kondisi ibu dan janin atau juga akibat kesalahan dalam

memimpin proses persalinan.8

2.      Etiologi

Beberapa teori mengemukakan etiologi dari persalinan adalah meliputi:9

1.   Teori penurunan hormone

        Pada 1-2 minggu sebelum proses persalinan mulai terjadi penurunan kadar

hormone estrogen dan progesterone. Progesteron bekerja sebagai penenang

otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah

sehingga timbul kontraksi otot rahim bila kadar progesterone menurun.

2. Teori placenta menjadi tua

5
       Dengan semakin tuanya plasenta akan menyebabkan turunnya kadar

estrogen dan progesterone yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah,

hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim

3.    Teori distensi rahim

       Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot

rahim, sehingga mengganggu sirkulasi utero plasenter.

4.    Teori iritasi mekanik

Di belakang serviks terletak ganglion servikale (fleksus frankenhauser).

Bila ganglion ini di geser dan di tekan misalnya oleh kepala janin, akan

timbul kontraksi rahim.

5.    Induksi partus.

Dengan jalan gagang laminaria,aniotomi,oksitosin drip dan sexio caesarea.

        

 3.      Fisiologi Persalinan   

Sebab-sebab terjadinya persalinan masih merupakan teori yang komplek.

Perubahan-perubahan dalam biokimia dan biofisika telah banyak

mengungkapkan mulai dari berlangsungnya partus antara lain penurunan

kadar hormon progesterone dan estrogen. Progesteron merupakan penenang

bagi otot – otot uterus. Menurunnya kadar hormon ini terjadi 1-2 minggu

sebelum persalinan. Kadar prostaglandin meningkat menimbulkan kontraksi

myometrium. Keadaan uterus yang membesar menjadi tegang mengakibatkan

6
iskemi otot – otot uterus yang mengganggu sirkulasi uteroplasenter sehingga

plasenta  berdegenerasi. Tekanan pada ganglion servikale dari fleksus

frankenhauser di belakang servik menyebabbkan uterus berkontraksi.9

 4.      Tahap-tahap Persalinan   

Berlangsungnya persalinan dibagi dalam 4 kala yaitu:9

a.      Kala I

Disebut juga kala pembukaan dimulai dengan pembukaan serviks sampai

terjadi pembukaan 10 cm. Proses membukanya serviks disebabkan oleh his

pesalinan/kontraksi. Tanda dan gejala kala I :

-             His sudah teratur, frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit

-             Penipisan dan pembukaan serviks

-            Keluar cairan dari vagina dalam bentuk lendir bercampur darah

Kala I dibagi dalam 2 fase:

a) Fase laten

Dimulai sejak awal kontraksi  yang menyebabkan penipisan dan

pembukaan servik secara bertahap, pembukaan servik kurang dari 4

cm, biasanya berlangsung hingga 8 jam.

b) Fase aktif

Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus umumnya meningkat

(kontraksi dianggap adekuat jika terjadi tiga kali atau lebih), serviks

membuka dari 4 cm ke 10 cm, biasanya kecepatan 1 cm atau lebih per

7
jam hingga pembukaan lengkap ( 10 cm ) dan terjadi penurunan bagian

terbawah janin.

Pemantauan kala 1 fase aktif persalinan :

1) Penggunaan Partograf

Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan .

Tujuan utama dari penggunaan partograf adalah untuk :

-      Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai

pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam.

-       Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal . Dengan

demikian , juga dapat melakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan

terjadinya partus lama. Halaman depan partograf  untuk mencatat atau

memantau :

1. Kesejahteraan janin

Denyut jantung janin (setiap ½ jam), warna air ketuban (setiap

pemeriksaan dalam), penyusupan sutura (setiap pemeriksaan dalam).

2.  Kemajuan persalinan

Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus (setiap ½ jam), pembukaan

serviks (setiap 4 jam), penurunan kepala (setiap 4 jam).

3. Kesejahteraan ibu

Nadi (setiap ½ jam), tekanan darah dan temperatur tubuh (setiap 4 jam),

produksi urin , aseton dan protein ( setiap 2 sampai 4 jam), makan dan

minum.

b.      Kala II (Kala Pengeluaran)

8
Kala II persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan

berakhir dengan lahirnya bayi. Wanita merasa hendak buang air besar karena

tekanan pada rektum. Perinium menonjol dan menjadi besar karena anus

membuka. Labia menjadi membuka dan tidak lama kemudian kepala janin

tampak pada vulva pada waktu his.9

Pada primigravida kala II berlangsung 1,5-2 jam, pada multi 0,5-1 jam.

Tanda dan gejala kala II :

-          Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.

-          Perineum terlihat menonjol.

-          Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau

vaginanya.

-          Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau

vaginanya.

-          Vulva-vagina dan sfingkter ani terlihat emmbuka.

-          Peningkatan pengeluaran lendir dan darah.

c.      Kala III (Kala uri)

Kala III persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan

lahirnya plasenta dan selaput ketuban. Dimulai segera setelah bayi lahir sampai

dengan lahirnya placenta ( 30 menit). Setelah bayi lahir, uterus teraba keras

dan fundus uteri sepusat. Beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi

untuk melepaskan plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6-15

menit setelah bayi lahir dan plasenta keluar spontan atau dengan tekanan pada

fundus uteri (dorsokranial).

9
Penatalaksanaan aktif pada kala III (pengeluaran aktif plasenta) membantu

menghindarkan terjadinya perdarahan pascapersalinan.

Tanda – tanda pelepasan plasenta :

-          Perubahan bentuk dan tinggi fundus.

-          Tali pusat memanjang

-          Semburan darah tiba – tiba

Manajemen aktif kala III :

Tujuannya adalah untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif

sehingga dapat memperpendek waktu kala III dan mengurangi kehilangan darah

dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis, serta mencegah terjadinya

retensio plasenta.

Tiga langkah manajemen aktif kala III :

-          Berikan oksitosin 10 unit IM dalam waktu dua menit setelah bayi lahir, dan

setelah dipastikan kehamilan tunggal.

-          Lakukan peregangan tali pusat terkendali.


-          Segera lakukan massage pada fundus uteri setelah plasenta lahir.

d.      Kala IV (2 jam post partum)

Setelah plasenta lahir, kontraksi rahim tetap kuat dengan amplitudo 60 sampai 80

mmHg, kekuatan kontraksi ini tidak diikuti oleh interval pembuluh darah tertutup

rapat  dan terjadi kesempatan membentuk trombus. Melalui kontraksi yang kuat

dan pembentukan trombus terjadi penghentian pengeluaran darah post partum.

Kekuatan his dapat dirasakan ibu saat menyusui bayinya karena pengeluaran

10
oksitosin oleh kelenjar hipofise posterior. Tanda dan gejala kala IV : bayi dan

plasenta telah lahir, tinggi fundus uteri 2 jari bawah pusat.

2 jam pertama pasca persalinan :

Pantau tekanan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih dan perdarahan yang

terjadi setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu

jam kedua kala IV. Jika ada temuan yang tidak normal, lakukan observasi dan

penilaian secara lebih sering.

Lamanya persalinan pada primigravida dan multigravida :

5.       Faktor – faktor yang mempengaruhi persalinan

1.      Power : His dan tenaga mengejan.

2.      Passage : Ukuran panggul dan otot-otot persalinan.

3.      Passenger : Terdiri dari janin, plasenta dan air ketuban.

6.       Mekanisme persalinan

1)        Pengertian

Denominator atau petunjuk adalah kedudukan dari salah satu bagian dari

bagian depan janin terhadap jalan lahir. Hipomoklion adalah titik putar

atau pusat pemutaran.9

2)        Mekanisme persalinan letak belakang kepala

a.  Engagement (fiksasi) = masuk

11
Ialah masuknya kepala dengan lingkaran terbesar (diameter Biparietal)

melalui PAP. Pada primigravida kepala janin mulai turun pada umur

kehamilan kira – kira 36 minggu, sedangkan pada multigravida pada

kira – kira 38 minggu, kadang – kadang baru pada permulaan partus.

Engagement lengkap terjadi bila kepala sudah mencapai Hodge III.

Bila engagement sudah terjadi maka kepala tidak dapat berubah posisi

lagi, sehingga posisinya seolah – olah terfixer di dalam panggul, oleh

karena itu engagement sering juga disebut fiksasi. Pada kepala masuk

PAP, maka kepala dalam posisi melintang dengan sutura sagitalis

melintang sesuai dengan bentuk yang bulat lonjong. Seharusnya pada

waktu kepala masuk PAP, sutura sagitalis akan tetap berada di tengah

yang disebut Synclitismus. Tetapi kenyataannya, sutura sagitalis dapat

bergeser kedepan atau kebelakang disebut Asynclitismus.

Asynclitismus dibagi 2 jenis :10

-          Asynclitismus anterior : naegele obliquity yaitu bila sutura

sagitalis bergeser mendekati promontorium.

-          Asynclitismus posterior : litzman obliquity yaitu bila sutura

sagitalis mendekati symphisis.

b.    Descensus = penurunan

Ialah penurunan kepala lebih lanjut kedalam panggul. Faktor – factor yng

mempengaruhi descensus : tekanan air ketuban, dorongan langsung

fundus uteri pada bokong janin, kontraksi otot – otot abdomen, ekstensi

badan janin.10

12
c.     Fleksi

Ialah menekannya kepala dimana dagu mendekati sternum sehingga

lingkaran kepala menjadi mengecil  suboksipito bregmatikus ( 9,5 cm).

Fleksi terjadi pada waktu kepala terdorong His kebawah kemudian

menemui jalan lahir. Pada waktu kepala tertahan jalan lahir, sedangkan

dari atas mendapat dorongan, maka kepala bergerak menekan kebawah.10

d.      Putaran Paksi Dalam (internal rotation)

Ialah berputarnya oksiput ke arah depan, sehingga ubun -ubun kecil

berada di bawah symphisis (HIII). Faktor-faktor yang mempengaruhi :

perubahan arah bidang PAP dan PBP, bentuk jalan lahir yang

melengkung, kepala yang bulat dan lonjong.10

e.    Defleksi

Ialah mekanisme lahirnya kepala lewat perineum. Faktor yang

menyebabkan terjadinya hal ini ialah : lengkungan panggul sebelah depan

lebih pendek dari pada yang belakang. Pada waktu defleksi, maka kepala

akan berputar ke atas dengan suboksiput sebagai titik putar

(hypomochlion) dibawah symphisis sehingga berturut – turut lahir ubun –

ubun besar, dahi, muka dan akhirnya dagu.10

f.       Putaran paksi luar (external rotation)

Ialah berputarnya kepala menyesuaikan kembali dengan sumbu badan

(arahnya sesuai dengan punggung bayi).

a. Expulsi : lahirnya seluruh badan bayi.10 

13
7.      Asuhan dalam persalinan

Tujuan Asuhan Persalinan :

Mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan yang

tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai upaya yang terintegrasi dan

lengkap serta intervensi minimal sehingga prinsip keamanan dan kualitas

pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang optimal.

Kala I

1)        Memberikan dorongan emosional.11

Anjurkan suami dan anggota keluarga yang lain untuk mendampingi ibu selama

proses persalinan

2)      Membantu pengaturan posisi

Anjurkan suami dan pendamping lainnya untuk membantu ibu berganti posisi.

Ibu boleh berdiri, berjalan-jalan, duduk, jongkok, berbaring miring, merangkak

dapat membantu turunnya kepala bayi dan sering juga mempersingkat waktu

persalinan.

3)      Memberikan cairan / nutrisi

Makanan ringan dan cairan yang cukup selama persalinan memberikan lebih

banyak energi dan mencegah dehidrasi. Apabila dehidrasi terjadi dapat 

memperlambat atau membuat kontraksi menjadi tidak teratur dan kurang

efektif.

4)      Keleluasaan ke kamar mandi secara teratur

14
Ibu harus berkemih paling sedikit setiap 2 jam atau lebih sering jika ibu ingin

berkemih. Jika kandung kemih penuh dapat mengakibatkan :

a)         Memperlambat penurunan bagian terendah janin dan mungkin

menyebabkan partus macet

b)        Menyebabkan ibu merasa tidak nyaman

c)         Meningkatkan resiko perdarahan pasca persalinan yang disebabkan oleh

atonia uteri

d)        Mengganggu penatalaksanaan distosia bahu

e)         Meningkatkan resiko infeksi saluran kemih pasca persalinan


5)      Pencegahan infeksi

Pencegahan infeksi sangat penting dalam penurunan kesakitan dan kematian

ibu dan bayi baru lahir. Upaya dan ketrampilan menjelaskan prosedur

pencegahan infeksi yang baik melindungi penolong persalinan terhadap resiko

infeksi.

6)      Pantau kesejahteraan ibu dan janin serta kemajuan persalinan sesuai partograf

Kala II

Berikan terus dukungan pada ibu

1)        Menjaga kebersihan ibu

2)        Memberikan dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu

3)        Mengatur posisi ibu

4)        Menjaga kandung kemih tetap kosong, anjurkan ibu untuk berkemih

15
5)        Berikan cukup minum terutama minuman yang manis

6)        Ibu dibimbing mengedan selama his dan anjurkan ibu untuk mengambil nafas

diantara kontraksi

7)        Perikda DJJ setiap selesai kontraksi

8)        Minta ibu mengedan saat kepala bayi nampak divulva

9)        Letakkan satu tangan dikepala bayi agar defleksi tidak terlalu cepat

10)    Tahan perineum dengan satu tangan yang lain

11)    Jika kepala telah lahir, usap dengan kasa dari lendir dan darah

12)    Periksa adanya lilitan tali pusat

13)    Biarkan kepala bayi mengadakan putaran paksi luar dengan sendirinya

14)    Tempatkan kedua tangan pada posisi biperietal bayi

15)    Lakukan tarikan lembut kepala bayi kebawah untuk melahirkan bahu anterior

lalu keatas untuk melahirkan bahu posterior.

16)    Sangga kepala dan leher bayi dengan satu tangan kemudian dengan tangan yang

lain menyusuri badan bayi sampai seluruhnya lahir. Lakakukan penilaian

selintas meliputi: apakah bayi menangis/ bernafas tanpa kesulitan, warna kulit

dan bergerak aktif atau tidak.

17)    Letakkan bayi diatas perut ibu, keringkan sambil nilai pernafasannya APGAR)

dalam menit pertama

18)    Lakukan jepit, potong, ikat tali  pusat

19)  Pastikan bayi tetap hangat.11

Kala III

16
1)        Pastikan tidak ada bayi yang kedua

2)        Berikan oksitosin 10 IU dalam 2 menit pertama segera setelah bayi lahir.

3)        Lalukan penegangan tali pusat terkendali, tangan kanan menegangkan tali pusat

sementara tangan kiri dengan arah dorsokranial mencengkram uterus.

4)        Jika plasenta telah lepas dari insersinya, tangan kanan menarik tali pusat

kebawah lalu keatas sesuai dengan kurve jalan lahir sampai plasenta nampak

divulva lalu tangan kanan menerima plasenta kemudian memutar kesatu arah

dengan hati-hati sehingga tidak ada selaput plasenta yang tertinggal dalam jalan

lahir

5)        Segera setelah plasenta lahir tangan kiri melakukan massase fundus uteri untuk

menimbulkan kontraksi

6)        Lakukan pemeriksaan plasenta, pastikan kelengkapannya

7)        Periksa jalan lahir dengan seksama, mulai dari servik, vagina hingga perineum.

Lakukan perbaikan/penjahitan jika diperlukan.11

Kala IV

1)        Bersihkan ibu sampai ibu merasa nyaman

2)        Anjurkan ibu untuk makan dan minum untuk mencegah dehidrasi

3)        Berikan bayinya pada ibu untuk disusui

4)        Periksa kontraksi uterus dan tanda vital ibu setiap 15 menit pada jam pertama

dan setiap 30 menit pada jam kedua.

17
5)        Ajarkan ibu dan keluarganya tentang :

a)         Bagaimana memeriksa fundus uteri dan menimbulkan kontraksi

b)        Tanda bahaya bagi ibu dan bayi.

6)        Pastikan ibu sudah buang air kecil dalam 3 jam pertama.

B. Konsep Dasar Askeb


1. Manajemen asuhan kebidanan

a.    Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang

digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan

tindakan berdasarkan teori ilmiah penemuan keterampilan rangkaian

atau tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang

berfokus pada klien.12

b.    Langkah-langkah Manajemen kebidanan.12

1)  Langkah I : Pengumpulan Data Dasar

Pada langkah pertama ini dilakukan pengkajian data yang

dikumpulkan mulai dari : Identitas pasien, riwayat kehamilan,

persalinan dan nifas yang lalu, riwayat kesehatan, riwayat kesehatan

keluarga, riwayat obstetrik, riwayat pemeriksaan fisik, riwayat

pemeriksaan khusus, pemeriksaan laboratorium.

2)   Langkah II : Interpretasi Data

18
Menginterpretasi data-data yang telah dikumpulkan sehingga penulis

dapat menegakkan diagnosa, masalah serta kebutuhan terhadap si

pasien.

3)   Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial

Pada langkah ini mengidentifikasikan masalah atau diagnosa lain

berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah

diidentifikasi.

4)    Langkah IV : Identifikasi Kebutuhan Yang Memerlukan Penanganan

Segera

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter

atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama anggota tim

kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien, bila tidak ada

kebutuhan yang memerlukan penanganan segera maka langkah IV ini

tidak dilakukan.

5)  Langkah V : Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh

Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh di tentukan

oleh langkah – langkah sebelumnya, langkah ini merupakan

kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah di

identifikasi atau di antisipasi.

6)  Langkah VI : Melaksanakan Perencanaan

Rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah di uraikan langkah V

di laksanakan secara efisien dan aman, dilakukan oleh bidan atau

19
sebagian lagi dilakukan oleh klien atau anggota tim kesehatan

lainnya.

7)  Langkah VII : Evaluasi

Pada langkah VII ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang

sudah diberikan.

2. Pendokumentasian asuhan kebidanan

a.         Pengertian

Pendokumentasian kebidanan adalah system pencatatan yang digunakan

agar asuhan yang dilakukan dapat dicatat dengan benar, jelas, sederhana

dan logis.

b.         Metode

Metode yang digunakan untuk pendokumentasian asuhan kebidanan

adalah metode SOAP dengan menggunakan pola pikir manajemen

kebidanan Varney.

Metode pendokumnetasian SOAP yang tediri dari :12

S : Subjektif
Pada data subjektif akan menggambarkan beberapa hal antara lain :

1) Menilai masalah dari sudut pandang klien.

2) Menilai ekspresi klien mengenai kekhawatiran dan keluhannya.

3) Dicatat sebagai kutipan langsung yang berhubungan dengan

diagnosa.

4) Data tersebut menguatkan diagnosa yang akan dibuat.

20
O : Objektif

1)    Data ini dapat memberikan bukti gejala klinis klien.

2)    Berisi fakta yang berhubungan dengan diagnosa .

3)    Memuat data fisiologis dan hasil observasi.

4)     Ada informasi hasil kajian secara tekhnologi (misal : hasil

laboratorium, USG dan sebagainya yang berarti dalam

menegakkan diagnosa.

A : Analisa

1)    Diagnosa yang ditetapkan berdasarkan data dari S dan O yang

disimpulkan.

2)    Selalu ada informasi baru baik S dan O karena keadaan klien

terus berubah.

3)    Sehingga proses pengkajian berjalan secara dinamik.

4)     Dapat menganalisa suatu kejadian penting dalam perkembangan

klien .

P : Penatalaksanaan

1) Membuat rencana tindakan saat itu atau yang akan datang.

2) Mengusahakan mencapai kriteria tujuan tertentu dari kebutuhan

klien yang harus dicapai dalam waktu tertentu.

3) Tindakan yang harus diambil dalam membantu klien mencapai

kemajuan dalam kesejahteraan dan proses selanjutnya.

21
4) Didukung dengan rencana dokter bila dibuat keputusan dalam

manajemen kolaborasi.

5) Pelaksanaan rencana tindakan dalam mengatasi masalah untuk

mencapai tujuan terhadap klien.

6) Tindakan harus mendapat persetujuan klien kecuali bila hal

tersebut membahayakan klien.

7) Analisa dari hasil yang dicapai menjadi fokus dan penilaian

dalam ketetapan tindakan.

8) Jika tujuan tidak tercapai proses evaluasi dapat menjadi dasar

untuk mengembangkan tindakan alternative sehingga tercapai

tujuan.

9) Dapat menjadi perbaikan dengan perubahan intervensi dan

tindakan serta menunjukan perubahan baik dari rencana awal

atau perlu suatu kolaborasi.

C. Pendokumentasian Pada Ibu Bersalin

DATA SUBYEKTIF
1.    Biodata

22
Nama ibu / suami         :  Untuk mengetahui identitas dan digunakan
sebagai    sapaan komunikasi.
Umur ibu / suami         :  Untuk mengetahui usia untuk mengetahui

apakah umur ibu menentukan diagnosa

kehamilan terlalu muda <16 tahun atau terlalu

tua >35 tahun lebih maka lebih banyak

resikonya.

Agama                              :   Untuk mengetahui kepercayaan klien terhadap

agama yang dianutnya dan mengenali hal-hal

yang berkaitan dengan masalah asuhan yang

diberikan.

Suku / bangsa                :  Untuk mengetahui asal suku daerah ibu

    2. Alasan Datang

        Untuk mengetahui alasan ibu di bawa ke sarana  kesehatan.

3.  Keluhan Utama

        Untuk mengetahui apa yang terjadi pada ibu saat pengkajian.

4.  Riwayat Kesehatan Yang Lalu

Untuk mengetahui apakah ibu pernah menderita penyakit menular seperti sakit

kuning, TBC, dan tidak mempunyai riwayat penyakit menahun seperti sesak

nafas, jantung, liver maupun penyakit menurun seperti darah tinggi, kencing

manis, asma.

   5.  Riwayat Kesehatan Sekarang

     Untuk mengetahui penyakit yang diderita ibu saat ini.

23
6.   Riwayat Kesehatan Keluarga

Untuk mengetahui apakah ibu pernah menderita penyakit menular seperti sakit

kuning, TBC, dan tidak mempunyai riwayat penyakit menahun seperti sesak

nafas, jantung, liver maupun penyakit menurun seperti darah tinggi, kencing

manis, asma serta tidak ada yang mempunyai keturunan kembar dalam keluarga.

7.  Riwayat Menstruasi

Menarche                       :   13 – 15 tahun

Siklus                             :   21 hari, 28 hari, 31 hari, 35 hari

Lama                                 :   5 – 7 hari

Flour albus                      :   tidak ada / ada

Disminore                       :   tidak ada / ada

Bau                                   :   anyir

Warna                              :   merah kecoklatan

HPHT                               :   kapan ibu dapat menstruasi terakhir kalinya

TP                                     :   tafsiran persalinan ibu

    8.    Status perkawinan

Untuk mengetahui status perkawinan ibu, lamanya menikah, usia pertama kali

menikah, termasuk resiko tinggi / tidak, pernikahan yang ke berapa, pada wanita

paling ideal menikah pertama kali usia >20 th dan hamil antara 20-25 th.

9.    Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas Yang Lalu

Untuk mengetahui apakah ibu sebelumnya pernah hamil, bersalin,dan adakah

resiko atau penyakit. Bila ada dapat diantisipasi dengan segera oleh petugas

kesehatan, sehingga komplikasi tidak terjadi.

24
10.  Riwayat Kehamilan Sekarang                  

Untuk mengetahui riwayat kehamilan ibu pada trimester I, II, III  sehingga dapat

diketahui riwayat persalinan dan nifas ibu di kemudian hari.

11.  Riwayat KB

Untuk mengetahui kontrasepsi yang pernah digunakan dan apakah ada keluhan

saat menggunakan kontrasepsi.

12.  Pola Kebiasaan Sehari-Hari

Untuk mengetahui perbedaan pola kebiasaan ibu selama dirumah dan di sarana

kesehatan.

13.  Data Psikososial

Untuk mengetahui keadaan kejiwaan ibu yang akan mempengaruhi kehamilan dan 

persalinan di kemudian hari.

14.  Data Sosial Budaya

Untuk mengetahui hubungan ibu dengan suami, keluarga maupun orang lain.

Untuk mengetahui budaya yang dianut ibu adakah kemungkinan budaya yang

dianut berpengaruh buruk terhadap ibu atau keadaan janin pada kehamilan.

15.  Data Spiritual

Untuk mengetahui kepercayaan ibu terhadap agama yang dianut dan mengenai

hal-hal yang berkaitan dengan masalah asuhan yang diberikan.

DATA OBYEKTIF
Pemeriksaan Umum :  Untuk    mengetahui     keadaan     secara

                                                      keseluruhan.

Keadaan umum        :  Untuk mengetahui apakah ibu dalam kondisi

25
baik, buruk, lemah.

Kesadaran : Untuk mengetahui tingkat kesadaran ibu

Compos mentis, apatis, somnolen, delirium,

sopor, Koma.

DJJ                                          :  Untuk mengetahui DJJ dalam batas

normal/tidak yaitu 120-160 x/menit

HPHT :  Untuk mengetahui kapan ibu dapat menstruasi

terakhir kalinya

TP                                          :  Tafsiran persalinan ibu

UK                                           :  Untuk mengetahui usia kehamilan ibu

TTV                                        :  Untuk mengetahui tanda-tanda vital anak

apakah dalam batas normal / tidak

Tekanan darah      :  Untuk mengetahui tekanan darah ibu yaitu

90/60 mmHg – 130/90 mmHg

Nadi                           :  Untuk    mengetahui    frekuensi     detak 

jantung / menit yaitu 80 - 100 x/menit

Pernafasan             :  Untuk   mengetahui   frekuensi   /  menit,

irama regular / tidak yaitu 16 - 24 x/menit

        INSPEKSI

Kepala :           Untuk mengetahui simetris / tidak, kulit

26
bersih/tidak, nampak ketombe/tidak,

penyebaran merata/tidak, warna rambut

hitam/kusam, tebal/tipis.

Muka                :   Untuk mengetahui ekspresi wajah ibu

anemia/tidak, nampak oedema/tidak,

Mata                 :   Ikterik atau tidak

mata normal/tidak.

Hidung  :           Untuk mengetahui bersih/tidak, nampak

secret/tidak,

Mulut                :   Untuk mengetahui tingkat kelembaban

sehubungan dengan tingkat dehidrasi,

nampak

Telinga  :          Untuk mengetahui simetris/tidak,

Leher                :   Untuk mengetahui nampak

pembendungan vena

menonjol/tidak, nampak  benjolan/tidak.

     Abdomen :   Untuk mengetahui nampak garis-garis di

perut(striae)/tidak, nampak bekas jahitan

luka operasi/tidak, nampak linea alba

dan nigra/tidak, nampak pembesaran

abdomen sesuai usia kehamilan /tidak.

Vulva                 :   Untuk mengetahui derajat kebersihannya

Perineum        :   Untuk mengetahui nampak cairan lendir

27
bercampur darah keluar.

PALPASI

Kepala              :   Teraba benjolan abnormal/tidak, teraba

nyeri tekan / tidak.

Leher                :   ada kelenjer atau tidak

Dada                  :   Simetris kiri kanan, ada retraksi dada

Payudara         :   Ada benjolan atau tidak

Abdomen        :   Untuk mengetahui adakah kelainan    

Leopold I         :   Untuk menentukan tuanya kehamilan

dan bagian apa yang teraba di fundus,

teraba lunak/keras, melenting/tidak,

menentukan TFU dan TBBJ.

Leopold II        :   Untuk menentukan apa yang teraba

disamping perut ibu keras, panjang

seperti papan, dan bagian

terkecil/bukan, bagaimana sifatnya,

teraba bagian 1/lebih.

Leopold III        :   Untuk menentukan apa yang terdapat

di bagian bawah dan apakah bagian

bawah sudah/belum terpegang oleh

PAP.

Leopold IV      :   Mengetauhui kepala sudah masuk PAP

28
TBBJ                     :  Untuk mengetahui tafsiran berat janin

                
PERKUSI
Refleks patella      :   Untuk mengetahui refleks patella
positif/negatif.

PENATALAKSANAAN

Membuat rencana tindakan saat itu atau yang akan datang, ini untuk

mengusahakan mencapai kondisi pasien sebaik mungkin atau menjaga

/mempertahankan kesejahteraannya. Proses ini termasuk kriteria tujuan tertentu dari

kebutuhan pasien yang harus dicapai dalam batas waktu tertentu, tindakan yang

diambil harus membantu pasien mencapai kemajuan dalam kesehatan dan harus

mendukung rencana dokter jika melakukan kolaborasi. Pelaksanaan rencana tindakan

untuk mengatasi masalah, keluhan, atau mencapai tujuan pasien. Tindakan ini harus

disetujui oleh pasien kecuali bila tidak dilaksanakan akan membahayakan

keselamatan pasien. Oleh karena itu, pilihan pasien harus sebanyak mungkin menjadi

bagian dari proses ini. Apabila kondisi pasien berubah, intervensi mungkin juga harus

berubah atau disesuaikan. Tafsiran dari efek tentang tindakan yang telah diambil

adalah penting untuk menilai keefektifan asuhan yang diberikan. Analisa dari hasil

yang dicapai menjadi fokus dari penilaian ketepatan tindakan. Kalau tujuan tidak

tercapai, proses evaluasi dapat menjadi dasar untuk mengembangkan tindakan

alternatif sehingga dapat mencapai tujuan.12

29
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil, proses pembelajaran, dan masukan dari

pembimbing yang telah dilakukan sehingga dapat terselesaikannya penulisan

30
laporan ini untuk meningkatkan kemampuan dalam membantu proses

persalinan, maka penulis sudah dapat memahami tentang asuhan kebidanan

pada ibu bersalin normal. Pada setiap kasus ibu bersalin baik fisologis maupun

patologis, pemeriksaan penunjang selama kehamilan sangat penting untuk

dilakukan agar memperoleh gambaran lebih jelas terkait dengan kondisi janin,

plasenta dan jumlah air ketuban. Sehingga dalam memberikan asuhan,

pengambilan keputusan yang tepat dapat dilakukan. Kondisi psikologis ibu

juga harus diperhatikan.

31