Anda di halaman 1dari 4

III.

TINJAUAN TEORITIS
Larutan adalah campuran homogen dari dua zat atau lebih, yang terdispersi sebagai
molekul ataupun ion dan komposisinya dapat bervariasi. Larutan itu tampak homogennya
(kontinu, tanpa bidang batas) dan mempunyai komposisi yang sama pada setiap bagiannya.
Komponen-komponen yang terdapat pada larutan tidak dapat dipisahkan melalui penyaringan,
sebagai contoh air dan gula. Larutan terdiri atas pelarut dan terlarut. Pada umumnya, komponen
yang jumlahnya terbanyak yang dianggap sebagai pelarut. Misalnya sirup yaitu, campuran yang
mengandung lebih banyak gula daripada air. Disamping itu, zat padat atau cairan larut dalam
cairan, maka dalam campuran terjadi gaya tarik menarik antar molekul (intermolekul) zat terlarut
dan pelarut. Selain itu terdapat gaya tarik di dalam molekul atau ion masih tetap bersatu. Larutan
dapat berubah padatan, diameter partikel larutan lebih kecil 1 nm. Rekristalisasi adalah
pemurnian suatu zat padat dari campuran atau pengotornya dengan cara mengkristalkan kembali
zat terlarut setelah dilarutkan dalam pelarut yang cocok. Rekristalisasi melibatkan 5 tahapan: a)
Pemilihan pelarut → pelarut yang terbaik adalah pelarut dimana senyawa yang dimurnikan
hanya larut sedikit pada suhu kamar, tetapi sangat larut para suhu yang lebih tinggi, misalnya
pada titik didih pelarut itu. b) Kelarutan senyawa padat dalam pelarut panas → padatan yang
akan dimurnikan dilarutkan dalam sejumlah pelarut panas dalam labu erlenmeyer. Pada titik
didihnya, sedikit pelarut ditambahkan sampai terlihat bahwa tidak ada tambahan materi yang
larut lagi. Hindari penambahan yang berlebih. c) Penyaringan larutan → larutan jenuh yang
masih panas kemudian disaring melalui kertas saring yang ditempatkan dalam suatu corong
saring. d) Kristalisasi → filtrat panas kemudian dibiarkan dingin dalam gelas kimia. Zat padat
murni memisahkan sebagai kristal. Kristalisasi sempurna jika kristal yang terbentuk banyak. Jika
kristalisasi tidak berbentuk selama pendinginan filtrat dalam waktu cukup lama, maka larutan
harus dibuat lewat jenuh. e) Pemisahan dan pengeringan kristal → kristal dipisahkan dari larutan
induk dengan penyaringan. Penyaringan umumnya dilakukan dibawah tekanan menggunakan
corong buchner. Bila larutan induk sudah keluar, kristal dicuci dengan pelarut dingin murni
untuk menghilangkan kotoran yang menempel. Kristal kemudian dikeringkan dengan menekan
kertas saring didalam oven, desikator vakum atau piston pengeringan. Jika jumlah kristal sedikit
stabil terhadap panas, maka proses pemurnian dapat dilakukan dengan cara sublimasi (Oxtoby ,
2001) .
Sublimasi adalah perubahan wujud zat dari padat ke gas atau sebaliknya, bila partikel
penyusun suatu zat padat diberikan kenaikan suhu melalui pemanasan maka partikel tersebut
akan berubah wujud menjadi gas. Sebaliknya bila suhu diturunkan, maka gas akan berubah
menjadi padat. Ekstraksi adalah salah satu cara pemisahan dua atau lebih zat dalam suatu
campuran. Prinsip yang digunakan dalam ekstraksi adalah ke larutan suatu zat yang akan
dipisahkan. Suatu zat pasti memiliki larutan terhadap pelarut sekecil apapun itu. Destilasi prinsip
utamanya adalah pemisahan senyawa terutama dalam bentuk cairan yang memiliki perbedaan
titik didih atau perbedaan volatilitas. Campuran dapat dipisahkan melalui peristiwa fisika atau
kimia. Peristiwa fisika tidak mengubah zat selama pemisahan, sedangkan pemisahan secara
kimia, satu komponen atau lebih direksi kan dengan zat lain sehingga dapat dipisahkan.
Sublimasi adalah perubahan wujud zat dari padat ke gas, atau sebaliknya bila partikel penyusun
suatu zat padat diberikan kenaikan suhu melalui pemanasan maka partikel tersebut akan berubah
wujud menjadi gas, sebaliknya bila suhu diturunkan maka gas akan berubah menjadi padat.
Ekstraksi adalah salah satu cara pemisahan dua atau lebih zat dalam suatu campuran. Prinsip
yang digunakan dalam ekstraksi adalah kelarutan suatu zat yang akan dipisahkan suatu zat pasti
memiliki larutan terhadap pelarut sekecil apapun itu. Destilasi prinsip utamanya adalah
pemisahan senyawa terutama dalam bentuk cairan yang memiliki perbedaan titik didih atau
perbedaan volatilitas. Campuran dapat dipisahkan melalui peristiwa fisika atau kimia. Peristiwa
fisika tidak mengubah zat selama pemisahan sedangkan pemeriksaan secara kimia satu
komponen atau lebih direksi ikan dengan zat lain sehingga dapat dipisahkan (Chang , 2004) .
Tingkat efisiensi dari alat destilasi harus diketahui untuk mengoptimalkan kinerja alat
tersebut agar dapat berjalan dengan output keluaran yang maksimal, tanpa harus membuang
energi yang berlebih, sehingga dapat dilakukan penghematan energy. Efisiensi kerja alat destilasi
dapat diketahui dari volume yang dihasilkan pada suhu dan waktu yang telah ditentukan untuk
mengubah air pada menjadi aquadest, dapat menggunakan proses destilasi. Dimana semakin
kecil volume air umpan, maka akan semakin besar efisiensi, hal ini dikarenakan proses
pemanasan yang cepat sehingga jumlah uap akan lebih banyak dalam 1 jam operasi. Hal-hal
yang mempengaruhi proses destilasi adalah jenis larutan, volume larutan, suhu, waktu destilasi
dan tekanan. Hasil dari proses destilasi disebut dengan destilat, yaitu larutan hasil destilasi yang
sudah terkondisi yang yang berada di penampung yang telah tersedia. Akuadest merupakan air
hasil penyulingan yang bebas dari zat-zat pengotor, sehingga bersifat murni dalam laboratorium.
Akuades berwarn bening, tidak berbau dan tidak memiliki rasa. Akuades bisa digunakan untuk
membersihkan alat-alat laboratorium dari zat pengotor (Adani dan Yunita , 2017) .
Rekristalisasi adalah teknik pemurnian zat padat dari pengotornya dengan cara
mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut yang sesuai. Prinsip dasar
dari proses rekristalisasi adalah perbedaan kelarutan antara zat yang akan dimurnikan dengan zat
pengotornya karena konsentrasi total pengotor biasanya lebih kecil dari konsentrasi zat yang ada
yang akan dimurnikan, dalam kondisi dingin, konsentrasi pengotor yang rendah tetap dalam
larutan, sementara zat yang berkonsentrasi tinggi akan mengendap. Seperti yang diungkapkan
Underwood 1996 “Setelah suatu kristal endapan terbentuk, kemurniannya dapat ditingkatkan
dengan cara endapan itu disaring, dilarutkan ulang dan diendapkan ulang. Ion pengotornya akan
hadir dalam konsentrasi yang lebih rendah selama pengendapan”. Pada dasarnya peristiwa
rekristalisasi berhubungan dengan reaksi pengendapan. Endapan merupakan zat yang memisah
dari suatu fase padat dan keluar ke dalam larutan. Endapan terbentuk jika larutan bersifat terlalu
jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan suatu endapan merupakan konsentrasi bahan lain
dari larutan jenuhnya. Kelarutan bergantung dari suhu, tekanan, konsentrasi bahan lain yang
tergantung dalam larutan dan komposisi pelarut nya. Dalam rekristalisasi ada tujuh langkah yang
dilakukan yaitu: memilih pelarut, melarutkan zat terlarut, menghilangkan warna larutan,
memindahkan zat padat, mengkristalkan larutan, mengumpulkan dan mencuci kristal biasanya
menggunakan filtrasi, mengeringkan produknya / hasil (Pinalla , 2011) .
Destilasi sederhana adalah teknik pemisahan untuk memisahkan dua atau lebih
komponen zat cair yang memiliki perbedaan titik didih, juga perbedaan kevolatilan yaitu
kecenderungan sebuah zat untuk menjadi gas. Destilasi ini dilakukan pada tekanan atmosfer
yang normal. Aplikasi destilasi sederhana digunakan untuk memisahkan campuran air dan
alcohol (Wahyudi , 2017) .
IX. DAFTAR PUSTAKA
Adani, S., I., dan Yunita, A., P. (2017) . Pengaruh Suhu Dan Waktu Pada Proses Destilasi Untuk
Pengolahan Aquades Di Fakultas Teknik Universitas Mulawarman . Jurnal Chemurgy .
1(1) : 31-35 .
Chang, R. (2004) . Kimia Dasar Dan Konsep Inti . Jakarta : Erlangga.
Oxtoby, D., W. (2001) . Kimia Modern . Jakarta : Erlangga .
Pinalla, A. (2011) . Penentuan Metode Rekristalisasi Yang Tepat Untuk Meningkatkan
Kemurnian Kristal Ammonium Perklorat (AP) . Jurnal Majalah Sains Dan Teknologi
Dirgantara . 6(2) : 64-71 .
Wahyudi, N., T., Ilham, F., F., Sanjaya, A., S. (2017) . Rancangan Alat Destilasi Untuk
Menghasilkan Kondensat Dengan Metode Destilasi Satu Tingkat . Jurnal Chemurgy .
1(2) : 30-34 .