Anda di halaman 1dari 12

Islam adalah agama yang terbangun di atas dasar ilmu.

Ia
mendidik pemeluknya untuk tidak berkeyakinan maupun beramal
dalam urusan agama, melainkan dengan ilmu yang dapat
dipertanggung jawabkan, memiliki pondasi dan dasar yang sah,
dan dapat dipastikan melalui jalur wahyu. Argumen dan alasan
beragama tersebut dikenal sebagai dalil.

Dalil dalam islam dasarnya adalah wahyu Alquran dan Sunnah


Rasulullah (sabda, perbuatan, dan pengakuannya) yang telah
dikukuhkan oleh Alquran sebagai dasar agama yang sepadan dan
seiring dengannya, dan sama sekali tak bertentangan. Di bawah
itu terdapat dalil-dalil lain yang diakui oleh Alquran dan Sunnah.
Sebagian besarnya diperselisihkan keabsahannya oleh para
ulama, namun ada yang disepakati, yaitu ijma’.

Apa Itu Ijma’?


Ijma’ didefinisikan oleh para ulama dengan beragam ibarat.
Namun, secara ringkasnya dapatlah dikatakan sebagai berikut:
”Kesepakatan seluruh ulama mujtahid pada satu masa setelah
zaman Rasulullah atas sebuah perkara dalam agama.” Dan ijma’
yang dapat dipertanggung jawabkan adalah yang terjadi di zaman
sahabat, tabiin (setelah sahabat), dan tabi’ut tabiin (setelah
tabiin). Karena setelah zaman mereka para ulama telah berpencar
dan jumlahnya banyak, dan perselisihan semakin banyak,
sehingga tak dapat dipastikan bahwa semua ulama telah
bersepakat.
Syarat Ijma’
Berdasarkan definisi di atas dapatlah disebutkan syarat-syarat
sebuah ijma’ itu bisa disahkan dan berlaku:

1. Terjadinya kesepakatan
2. Kesepakatan seluruh ulama islam
3. Waktu kesepakatan setelah zaman Rasulullah, meskipun
hanya sebentar saja kesepakatan terjadi
4. Yang disepakati adalah perkara agama

Bila seluruh perkara di atas terpenuhi maka ia menjadi ijma’ yang


tak boleh diselisihi setelahnya, dan menjadi landasan hukum
dalam Islam. Siapa yang menyelisihinya maka ia menyimpang,
meskipun berasal dari mereka yang dulunya ikut bersepakat di
dalamnya.

Keabsahan Ijma’

Dalil Alquran

1. Allah Ta’ala berfirman:

1‫ا‬1‫ شهيد‬1‫ليكم‬1‫ ع‬1‫سول‬1‫لر‬1‫ ا‬1‫كون‬1‫ وي‬1‫س‬1‫لنا‬1‫ ا‬1‫لى‬1‫ء ع‬1‫هدا‬1‫ا ش‬1‫ونو‬1‫ لتك‬1‫طا‬1‫ وس‬1‫مة‬1‫ أ‬1‫كم‬1‫نا‬1‫عل‬1‫ ج‬1‫لك‬1‫وكذ‬

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat islam),


umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas
(perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi
atas kalian” (QS. Al-Baqoroh: 143)

Saksi di atas bersifat umum mencakup kesaksian akan apa yang


diperbuat manusia, dan kesaksian akan hukum perbuatan
mereka. Di akhirat kelak umat islam bersaksi bahwa manusia
telah melakukan perbuatan begini dan begitu, dan juga bersaksi
bahwa perbuatan tersebut salah ataupun benar. Sedangkan saksi
ucapannya mesti diterima.

2. Allah Ta’ala juga berfirman:

‫ه‬1‫صل‬1‫ ون‬1‫لى‬1‫ تو‬1‫ ما‬1‫ه‬1‫ نول‬1‫نين‬1‫ؤم‬1‫لم‬1‫ر سبيل ا‬1‫ غي‬1‫ى ويتبع‬1‫لهد‬1‫ ا‬1‫ تبين له‬1‫ا‬1‫ م‬1‫ بعد‬1‫ من‬1‫ول‬1‫رس‬1‫ ال‬1‫ق‬1‫اق‬1‫ن يش‬1‫وم‬
1‫را‬1‫ مسي‬1‫ءت‬1‫ وسا‬1‫نم‬1‫جه‬

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas


kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-
orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa pada kesesatan yang
telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam,
dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa:
115)

Ayat di atas menjelaskan bahwa kesesatan ada di luar ajaran


Rasul dan jalan orang-orang beriman. Maka jika ajaran Rasul
(wahyu) atau kesepakatan kaum mukmin diikuti mestilah akan
terhindar dari kesesatan.

3. Allah Ta’ala juga berfirman:

1‫ير‬1‫ خ‬1‫ ذلك‬1‫خر‬1‫آل‬1‫وم ا‬1‫الي‬1‫ و‬1‫اهلل‬1‫ ب‬1‫منون‬1‫ تؤ‬1‫ كنتم‬1‫ إن‬1‫ه‬1‫سول‬1‫ ور‬1‫ هللا‬1‫ى‬1‫ه إل‬1‫دو‬1‫ فر‬1‫يء‬1‫ ش‬1‫ في‬1‫تم‬1‫زع‬1‫ تنا‬1‫ن‬1‫فإ‬
1‫ال‬1‫أوي‬1‫ن ت‬1‫حس‬1‫وأ‬

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang suatu perkara,


maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan
hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih
baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59)
Ayat di atas memerintahkan agar mengembalikan segala yang
diperselisihkan kepada Alquran dan Assunnah. Jika tidak ada
perselisihan maka tentu tak ada kelaziman untuk harus mencari-
cari dalil teksnya.

Dalil Assunnah
1. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

‫ة‬1‫ل‬1‫ى ضال‬1‫ي عل‬1‫مت‬1‫مع أ‬1‫ال تجت‬

“Umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan.” (HR. Tirmidzi


dan Abu Dawud, derajatnya hasan menurut Syeikh Albani)

2. Dan juga sabdanya:

‫م‬1‫مره‬1‫ وأ‬،‫م‬1‫ وسل‬1‫يه‬1‫ عل‬1‫ هللا‬1‫ى‬1‫ صل‬1‫مد‬1‫ مح‬1‫مة‬1‫ بين أ‬1‫رق‬1‫ يف‬1‫ أن‬1‫و يريد‬1‫ أ‬1‫عة‬1‫ما‬1‫لج‬1‫ ا‬1‫ق‬1‫ار‬1‫ ف‬1‫وه‬1‫يتم‬1‫ن رأ‬1‫فم‬
1‫ة‬1‫اع‬1‫جم‬1‫ ال‬1‫ مع‬1‫ يد هللا‬1‫ن‬1‫ فإ‬،1‫ان‬1‫ ك‬1‫ من‬1‫ا‬1‫ائن‬1‫ ك‬1‫ه‬1‫لو‬1‫قت‬1‫ فا‬1،‫يع‬1‫جم‬

“Siapa saja yang kalian pandang meninggalkan jama’ah atau


ingin memecah belah umat Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam, sedangkan dalam perkara tersebut mereka sepakat,
maka bunuhlah ia siapapun gerangannya, karena sesungguhnya
tangan Allah bersama jama’ah” (HR. Ibnu Hibban dan lainnya,
derajatnya sahih menurut Syeikh Albani)

Dalil di atas meskipun berbicara mengenai pemberontak


pemerintahan yang sah, namun ia menjadi bukti betapa kuatnya
pengaruh ijma’ dalam islam.
Dalil Logika

Secara logika dapatlah dikatakan bahwa ijma’ umat islam bisa


saja salah dan bisa saja benar. Jika benar maka tak pelak ia
merupakan dalil. Namun jika salah, maka bagaimana mungkin
mereka semua salah sedang mereka adalah sebaik-baik umat
manusia? Artinya jika umat islam telah sepakat, maka kebenaran
pasti terdapat padanya.

Haruskan Ijma’ Beriringan Dengan Dalil


Lain?
Tidak ada perkara yang disepakati hukumnya dalam islam
melainkan perkara tersebut mesti terdapat dalil wahyu yang
menyebutkannya secara tersirat maupun tersurat. Ini adalah
pendapat jumhur ulama dan kuat dari segi argumen. Sebab, hak
menentukan hukum adalah hak prerogatif (khusus) bagi Allah dan
rasul-Nya.

Hanya saja, Allah memberi sebuah jaminan bahwa apa yang


disepakati oleh umat Rasulullah tidak akan melenceng dari jalur
wahyu-Nya. Itulah mengapa terkadang ketika seorang ulama
sedang berijtihad, ia mempertanyakan keabsahan sebuah ijma’
yang dinukilkan kepadanya dengan dalih bahwa ini berbenturan
dengan Alquran ataupun Sunnah.

Oleh karena itu perlu untuk dimaklumi bahwa tidak ada ijma’ yang
bertentangan dengan dalil Alquran ataupun Sunnah. Jika
sekiranya didapatkan, maka kemungkinannya adalah dalil
tersebut tidak sahih, atau dalil tersebut salah difahami, atau dalil
tersebut telah dihapus hukumnya, atau justru ijma’ tersebut
sebenarnya cacat karena ada perselisihan yang tak kita ketahui
atau nukilannya tidak sahih.

Mengapa Mesti Memakai Ijma’?


Jika ijma’ mesti berbaringan dengan dalil lantas mengapa harus
ada ijma’? Jawabannya adalah:

1. Karena terkadang ada permasalahan yang dalilnya


tersembunyi atau tak dinukilkan kepada kita karena sebab
tertentu, maka sebagai bentuk penjagaan Allah terhadap
syariatnya Dia mencukupkan bagi hamba-Nya untuk berbuat
hanya dengan berasaskan ijma’.
2. Terkadang dalam sebuah permasalahan yang sudah
terdapat dalil padanya masih terdapat perselisihan, bisa
karena perbedaan pemahaman terhadap dalil tersebut atau
karena faktor lainnya, maka ijma’ berfungsi untuk menutup
perselisihan tersebut dan memastikan satunya pemahaman.

Macam-Macam Ijma’
Berdasarkan kejelasan perkara yang disepakati, ijma’ terbagi dua:

1. Ijma’ qath’i, yaitu yang berupa perkara maklum dan jamak


diketahui oleh seluruh kalangan dari umat islam, tidak ada
yang tak mengetahuinya dalam kondisi wajar, dan tidak ada
uzur untuk tidak mengetahuinya. Seperti ijma’ tentang
wajibnya salat lima waktu dan haramnya minuman keras.   
2. Ijma’ dzanni, yaitu ijma’ yang tidaklah diketahui kecuali oleh
para ulama. Karena diperlukan pencarian dan pembedahan
terhadap teks-teks kitab klasik dan ucapan-ucapan ulama
terdahulu.

Berdasarkan metode terjadinya, ijma’ terbagi dua:

1. Ijma’ bayani / sharih, yaitu ijma’ yang terjadi baik dengan


perkataan maupun perbuatan. Semisal dengan perbuatan
para salaf dalam berbisnis model mudharabah, sehingga
dapatlah dikatakan bahwa mudharabah tersebut boleh
menurut ijma’, begitu juga jika ada seorang ulama yang
berbicara suatu hukum lalu para ulama lainnya berpendapat
sama. Inilah dia asalnya ijma’, dan ketika disebut kata ijma’
secara mutlak maka yang terbetik dalam benak adalah ijma’
sharih.

2. Ijma’ sukuti, berlawanan dengan yang pertama, bilamana


terdapat perkataan ataupun perbuatan ulama, sedang ulama
lainnya diam tanpa mengomentari, maka apakah itu ijma’?
Berdasarkan cara pandang bahwa ulama lainnya tidak
mengingkari, maka bisa dikatakan ijma’. Namun,
berdasarkan pandangan bahwa diam bukan berarti setuju,
bisa jadi karena faktor-faktor tertentu seperti segan atau
memaklumi ijtihad orang lain misalnya, maka tak dapat
disebut ijma’.

Dalam masalah ini bisa kita golongkan sebagai ijma’,


berdasarkan pendapat yang kita pilih, dengan syarat perkara
tersebut masyhur dan diketahui oleh seluruh ulama mujtahid
pada zaman itu. Namun, ijma’ ini lemah derajatnya, terlebih
bilamana terdapat indikasi yang menunjukkan sebaliknya,
maka saat itu tidak dapat dianggap. Selain itu sangatlah sulit
mengklaim ijma’ macam ini karena syarat masyhur tersebut.

Berdasarkan jumlah pendapat yang ada, ijma’ terbagi dua:

1. Ijma’ basith, jika ijma’ tersebut merupakan kesepakatan


terhadap sebuah pendapat maka inilah yang disebut dengan
basith ataupun sederhana. Dan inilah yang dimaksud
dengan ijma’ bila disebut secara mutlak.

2. Ijma’ murakkab, adapun jika ijma’ para ulama berselisih


pendapat berlawanan dengan jenis yang pertama, maka di
sana terdapat ijma’ yang murakkab alias tersusun dari
beberapa pendapat tersebut. Sisi kesepakatannya adalah
mereka telah mufakat untuk tidak berselisih kecuali menjadi
dua atau tiga pendapat tersebut, maka tidak boleh untuk
membuat pendapat berikutnya yang bertentangan atau
menafikan pendapat yang telah ada.

Sebagai contoh, para ulama berselisih mengenai niat dalam


bersuci, sebagian berpendapat harus berniat ibadah dalam
setiap bersuci; wudu, tayamum, dan mandi junub, sebagian
lagi berpendapat hanya dalam tayamum saja, maka jika
dikatakan tidak harus maka inilah yang disebut membuat
pendapat baru bertentangan yang sudah ada, yaitu yang
mengharuskan niat tersebut pada ketiganya sekaligus.

Adapun yang diperbolehkan seperti misalnya membuat


pendapat jalan tengah di antara pendapat-pendapat yang
berselisih, atau membuat pendapat yang merinci, bila kondisi
begini maka pendapat ini berlaku, bila kondisi begitu maka
pendapat itu berlaku.

Berdasarkan metode untuk mengetahuinya, ijma’ terbagi dua:

1. Ijma’ mahshul, yaitu ijma’ yang didapat dengan usaha


seorang mujtahid mengeluarkan kesimpulan ijma’ dari kitab-
kitab para ulama terdahulu, dimulai dari mendata ucapan-
ucapan mereka, pendapat-pendapat mazhab, dan
seterusnya hingga sampai pada kesimpulan bahwa dalam
masalah ini tidak terdapat perselisihan.

2. Ijma’ manqul, yaitu ijma’ yang diketahui dengan nukilan dari


ulama terdahulu yang mengatakan bahwa dalam perkara ini
terdapat ijma’. Selama nukilan itu sahih dan dapat
dipertanggung jawabkan maka ijma’ dengan cara ini pun
dapat dianggap, dan tak perlu untuk meneliti apakah banyak
yang meriwayatkannya atau hanya satu orang.

Bagaimana Mengetahui Ijma’ Pada Suatu


Permasalahan?
Ijma’ dapat diketahui dengan menyaksikan sendiri terjadinya ijma’
bilamana ijma’ tersebut terjadi pada zamannya. Adapun bila ijma’
tersebut telah berlalu masanya, maka dapat diketahui dengan dua
cara:

1. Mencari teks nukilan dari para ulama yang menyatakan


bahwa ijma’ terdapat dalam masalah ini dan ini, atau yang
semacam itu. Dan itu bisa didapat dalam buku-buku berikut:
 Menelaah buku-buku yang menghimpun masalah ijma’
ataupun masalah khilaf (perselisihan). Seperti Al-Ijma’ karya
Imam Ibnul Mundzir, atau Marotibul Ijma’ karya Imam Ibnu
Hazm,
 Menelaah buku-buku fikih yang menghimpun pendapat-
pendapat lintas mazhab. Biasa akan disebutkan dalam
permasalahan ini para ulama bersepakat bahwa hukumnya
begini, atau para ulama berselisih menjadi sekian pendapat.

2. Melakukan penelitian dan pencarian sendiri guna


menyimpulkan bahwa suatu masalah terdapat ijma’ ataukah
perselisihan. Hal ini tentunya membutuhkan keahlian,
kelengkapan referensi, dan waktu yang tak sedikit. Dan tak
bisa dilakukan segenap orang.

Masalah Ijma’ Parsial


Yaitu ijma’ yang terjadi dalam lingkup sempit, tidak mencakup
seluruh umat. Apakah dapat disahkan dan dianggap sebagai dalil
ijma’? Dalam masalah ini terdapat empat macam:

1. Ijma’ Khulafaurrasyidin
2. Ijma’ Abu Bakar dan Umar Bin Khattab
3. Ijma’ Penduduk Madinah
4. Ijma’ Ahlul Bait

Ijma’-ijma’ di atas adalah yang kerap kali dipergunakan oleh


mazhab-mazhab tertentu dalam argumentasinya. Namun secara
ringkas, kembali kepada apa yang telah disebutkan, selama
bukan merupakan kesepakatan seluruh mujtahid maka tak dapat
dianggap sebagai dalil ijma’. Kecuali Abu Bakar dan Umar, begitu
juga khulafaurrasyidin. Karena terdapat dalil lainnya yang cukup
kuat berupa sabda-sabda Nabi yang melegitimasi dan
membenarkan berhukum dengan pendapat mereka, hanya saja ini
tidak masuk dalam bab ijma’ yang tak bisa diselisihi, namun
merupakan bab berargumen dengan pendapat sahabat, maka
mereka dapat dijadikan dalil selama tak berbenturan dengan dalil
yang lebih kuat semacam Alquran ataupun Sunnah.

Wallahu a’lam bisshawab

Referensi:

 Al Ijma’ fis Syari’ah Al Islamiyyah, Rusydi ‘Ulyan, Majalah


Univeritas Islam Madinah (tahun 10, edisi 1)
 Al Ushul min ‘Ilmil Ushul, Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin,
Dar Ibnul Jauzi, 1426H
 Al ‘Aqidah Al Qashithiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimyyah,
penerbit Adwaus Salaf Riyadh, cetakan kedua 1420H
 Al Madzhab fi ‘Ilmi Ushulil Fiqhi Al Muqarin, ‘Abdul Karim bin
Ali An Namlah, Maktabah Ar Rusyd Riyadh, cetakan pertama
1420H.
 Taisir ‘Ilmi Ushulil Fiqhi, ‘Abdullah bin Yusuf Al Jadi’ Al
‘Anazi, Muassasah Ar Rayyan Beirut, cetakan pertama
1428H
 Raudhatun Nazhir wa Jannatul Manazhir, Ibnu Qudamah Al
Maqdisi, Muassasah Ar Rayyan, cetakan kedua, 1423H