Anda di halaman 1dari 2

Metode Hanlon dikembangkan oleh J.J.

Hanlon untuk memprioritaskan suatu masalah kesehatan


secara objektif dan mempertimbangkan kriteria yang didapat secara eksplisit dan faktor
kelayakan. Metode yang kompleks dengan memprioritaskan berdasarkan data dasar dan nilai-
nilai numerik.
Metode Hanlon merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan untuk menentukan prioritas
masalah dengan menggunakan 4 kelompok kriteria, yakni:
a. Besarnya masalah (magnitude).
b. Kegawatan masalah (emergency)
c. Kemudahan penanggulangan masalah (causability)
d. Faktor yang menentukan dapat tidaknya program dilaksanakan (PEARL factor)

PEARL factor terdiri atas:


P = Kesesuaian (Propierity), yaitu kesesuaian masalah dengan prioritas berbagai
kebijaksanaan/program/kegiatan instansi/organisasi terkait.
E = Murah secara ekonomi (Economic Feasibility), yaitu kelayakan dari segi pembiayaan.
A = Dapat diterima (Acceptability), yaitu situasi penerimaan masyarakat dan instansi
terkait/instansi lainnya. 29
R = Ketersediaan sumber daya manusia (Resource availability), ketersediaan sumber daya untuk
memecahkan masalah (tenaga, sarana,/perlatan, waktu).
L = Legalitas (Legality), dukungan aspek hukum/perundang-undangan/juknis/protap.
Uji setiap masalah dengan faktor PEARL hanya 2 jawaban “Ya” = 1 dan “tidak”= 0.
Metode ini merupakan alat yang digunakan untuk membandingkan masalah kesehatan yang
berbeda-beda dengan relative dan bukan absolute, framework, seadil mungkin dan objektif.
Metode ini disebut metode Hanlon dan Basic Priority Rating System, dideskripsikan dalam
Public Health: Administration and Practice and Basic Health Planning.
Metode ini memiliki 3 tujuan utama, yaitu:
a. Agar pembuat keputusan dapat mengidentifikasikan faktor-faktor eksplisit untuk dapat
dipertimbangkan dalam menetapkan prioritas.
b. Untuk mengelola faktor-faktor tersebut kedalam kelompok-kelompok yang dianggap relative
sama satu dengan yang lainnya.
c. Agar faktor-faktor tersebut dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan dinilai secara
individual (NACCHO, 2012).