Anda di halaman 1dari 8

Jurnal ILMU DASAR, Vol.14 No.

2, Juli 2013: 59- 65 59

Beberapa Metode Penyelesaian Persamaan Transport


Neutron dalam Reaktor Nuklir

Solution Methods of Neutron Transport Equation in Nuclear Reactors

Mohammad Ali Shafii


Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas Padang
Email: mashafii@fmipa.unand.ac.id

ABSTRACT

A few numerical methods that usually used to solve neutron transport equation in nuclear reactor are SN dan PN
method, Monte Carlo, Collision Probability and Methods of Characteristics . First two methods have been
developed using diffusion approach, and last three methods suitable are applicated for transport approximation.
Those of three methods have important role in the desain of nuclear reactors. In addition to follow the
development of advanced reactor designs, the three methods were chosen because they do not use diffusion
approach these are more accurate methods, as well as less need considerable computer memory. Of all the
existing methods, the CP method has several advantages among the others.

Keywords : Neutron transport, SN, PN, CP, MOC, MC

PENDAHULUAN difusi menjadi alternatif yang murah meskipun


kurang akurat (Palmer, 2004). Namun sampai
Salah satu masalah penting dan paling sulit sejauh ini masih diyakini bahwa metode utama
dalam analisis reaktor nuklir adalah dalam desain teras reaktor adalah perhitungan
menyelesaikan persamaan transportt neutron difusi (Tahara dan Sekimoto, 2002).
untuk menentukan distribusi neutron dalam Untuk geometri yang kecil, teori transport
teras reaktor. Gambaran eksak rapat neutron di neutron lebih tepat digunakan untuk
dalam teras reaktor dapat diperoleh dengan menghitung distribusi neutron dibandingkan
menyelesaikan persamaan transport neutron dengan teori difusi. Secara umum perbedaan
(Stacey, 2001). Persoalan transport neutron penerapan teori transport dan teori difusi
perlu dipecahkan untuk menentukan distribusi terlihat pada Gambar 1. Semakin kecil
neutron sebagai fungsi waktu, posisi dan geometri parameter reaktor, semakin detil
energi. Distribusi neutron sangat berpengaruh energinya, sehingga teori transport neutron
terhadap produksi daya reaktor. Transport lebih tepat digunakan untuk menghitung proses
neutron merupakan peristiwa yang rumit dan distribusi neutron dalam sel bahan bakar nuklir
perilakunya dapat digambarkan sebagai dibandingkan dengan teori difusi. Teori difusi
persamaan integro-diferensial terkopel dengan lebih cocok digunakan untuk menghitung
tujuh variabel energi, ruang dan waktu yang distribusi neutron dalam teras reaktor yang
menggambarkan situasi keseimbangan di memiliki dimensi lebih besar dan kurang
antara semua proses nuklir yang mempengaruhi memperhatikan bentuk disain geometrinya.
jumlah populasi neutron (Duderstadt dan
Hamilton, 1976). Pada dekade terakhir ini, pengembangan
desain reaktor maju (advanced reactor)
Akibat kendala terbatasnya daya dan memerlukan penyelesaian persamaan transport
memori komputer saat ini, kebanyakan analisis neutron secara lebih akurat seiring dengan
reaktor dilakukan dengan penyederhanaan peningkatan daya dan memori komputer
model ke tingkat persamaan difusi neutron. (Postma, 2000). Metode-metode numerik yang
Desain dan pengoperasian reaktor nuklir yang dapat dipakai untuk menyelesaikan persamaan
aman dan ekonomis memerlukan penyelesaian transport neutron antara lain metode diskrit
masalah transport neutron yang memerlukan ordinat (SN), metode harmonik bola (P N),
waktu CPU yang lama. Persamaan transport metode Monte Carlo (MC), metode Collision
neutron merupakan kendala dalam distribusi Probability (CP) dan Metode karakteristik
neutron di dalam reaktor, sehingga pendekatan (MOC).
Teori Transport

Geometri kecil
Ruang lebih besar (sel bahan bakar) Energi kurang detil

Geometri menengah
(assembly bahan bakar)

Dimensi lebih Geometri kurang


tinggi detil
Seluruh teras
reaktor

Teori Difusi

Gambar 1 Mekanisme teori transport dan difusi (Noh, 2008).

Metode SN dan PN
Metode SN dan PN merupakan metode standar yang menyelesaikan persamaan transport neutron
dengan menggunakan pendekatan difusi (Stamm’ler dan Abbate, 1983). Metode ini
mengasumsikan bahwa neutron bergerak dalam arah diskrit, dengan tiap-tiap arah diskrit (ordinat)
ditandai sebagai bagian unit harmonik bola. Untuk kasus multi-grup 1-D, persamaan transport
neutron berbentuk :
1
g ( x,  ) G
Q g ( x)
   
1
   t , g  g ( x,  )  s 0, g ' g  3'  s1, g ' g g ' ( x,  ' )d ' (1)
x 2 g '1 2
1
Secara umum tampang lintang hamburan diferensial dinyatakan dalam bentuk polinom Legendre:
   
(2n  1)
 s ( x,   ' )   s ( x,  '   ) 
n 0

(2n  1) Pn (  ) P' n (  ' ) sn 
n 0
4  sn Pn (  0 ) (2)
 
dengan 0    ' .

Metode Collision Probability (CP)


Persamaan transport neutron sulit diselesaikan secara analitik, kecuali dilakukan banyak
menyederhanakan berdasarkan asumsi yang dibuat. Persamaan transport neutron yang tak
bergantung waktu berbentuk
ˆ  (r , E , 
 ˆ )   (r , E )  (r , E , 
ˆ)
t
 (3)
  d ˆ  dE s ( E  E, ˆ  ˆ )  (r , E , ˆ )  S (r , E, ˆ )
' ' ' ' ' '

4 0

Journal homepage: http://jurnal.unej.ac.id/index.php/JID


Jurnal ILMU DASAR, Vol.14 No.2, Juli 2013: 59- 65 61

Selanjutnya, jika sel bahan bakar nuklir dibagi-bagi ke dalam tinjauan beberapa region yang
merupakan variabel spasial, maka tampang lintang yang bergantung pada ruang digambarkan
dengan indeks i yang menyatakan region ke-i. Jika persamaan (3) diintegralkan ke seluruh volume
Vj, maka diperoleh
 j ( E )   (r , E )dr
Vj
(4)
 
   drj  dri '   dE ' s (r ', E '  E ) (r ', E ')  S (r ', E )  P(r '  r , E )
j Vj Vi 0 
Pada pendekatan flat flux (FF), fluks neutron  (r , E ) di setiap region dianggap tetap, sehingga
cukup ditulis  (E ) saja di setiap region i. Akibatnya persamaan (4) menjadi
 
 j ( E )V j j ( E )   Pij ( E )Vi   dE ' si ( E '  E )i ( E ')  Si ( E )  (5)
i 0 

dengan CP pada persamaan (5) didefinisikan dapat disederhanakan ke dalam bentuk


sebagai persamaan swanilai saja.
 j (E) exp(R) (6)
Pij ( E ) 
4 Vi  dr  dr ' j i
R2
Metode Karakteristik
Vj Vi Dalam MOC, persamaan transport neutron
Persamaan (6) menyatakan bahwa probabilitas diselesaikan sebagai garis-garis lurus pada
neutron dipancarkan secara menyeluruh dan diskritisasi sudut spasial. Garis-garis tersebut
isotropik di region i dan selanjutnya dianggap sebagai lintasan neutron mewakili
mengalami tumbukan di region j. Selanjutnya, operator diferensial yang dalam persamaan
jika rentang energi neutron dibagi-bagi ke transport neutron menjadi diferensial total.
dalam bentuk multi grup neutron, maka fluks Garis-garis tersebut dikenal sebagai
rata-rata di dalam interval energi karakteristik sistem. Geometri domain yang
Eg dinyatakan sebagai ig , sehingga diinginkan dibagi-bagi menjadi zona-zona
fluks rata (flat-flux zones), yaitu sifat-sifat
persamaan (5) menjadi (Okumura dkk., 2007) materialnya diasumsikan seragam. Fluks
anguler yang keluar pada tiap-tiap bagian garis,
  selanjutnya dihitung dengan mengintegralkan
Eg  jgV jg jg   PijgVig  Eg ' sig ' gig '  Eg ' Sig 
i  g' 
bentuk diferensial persamaan transport neutron
mulai dari fluks datang sampai ke sumber.
(7)
Implementasi MOC memerlukan jejak sinar
dengan Eg dan Eg ' adalah lebar energi (ray tracing) untuk membentuk pelacakan sinar
(ray tracking) yang ditinjau pada sejumlah
pada grup g dan g’ dan  sig ' g adalah
sudut yang berbeda. Sekali pelacakan berhasil
tampang lintang hamburan di region i dari grup ditemukan, persamaan transport neutron dapat
g’ ke g. Persamaan (7) dapat dibawa ke dalam diselesaikan dalam bentuk fluks anguler pada
bentuk nilai eigen (Shafii dkk., 2007) tiap-tiap bagian tampang lintang konstan hasil
1 pelacakannya (Postma dan Vujic, 1999).
 jgV j jg 
k i
Vi Pijg Sig (8)
Jika fluks neutron diambil diskritisasinya
eff 
dengan Vi   (ri  r ). dan
2 2
menyatakan terhadap arah anguler  m dengan
i 1
tampang lintang makroskopik total pada kulit menggunakan pelacakan sinar untuk
ke j. Dari persamaan (9) terlihat bahwa membentuk karakteristik jejak k pada sudut m
masalah integral transport neutron ternyata serta dalam grup energi g, maka diperoleh
Qg ,i
 g ,m,i ,k (s m,i ,k )   g ,m,i ,k (0) exp(  g ,i s m,i ,k ) 
 g ,i
1  exp( g ,i sm,i,k ) (9)

dengan sm,i , k adalah panjang jejak k yang memberikan hubungan antara fluks anguler
datang dan fluks anguler pergi untuk tiap-tiap
melalui zona i pada arah m. Persamaan (9) bagian di setiap zona. Prosedur selanjutnya
adalah menentukan syarat batas fluks anguler terjadi tumbukan pertama. Medium dibuat
dan sumber neutron, menghitung zona rata-rata seperti potongan-potongan homogen dan
fluks skalar, menghitung kembali batas fluks diketahui panjang lintasan lurus tiap-tiap
anguler dan sumber dan selanjutnya dilakukan bagian s j . Jika
iterasi sampai diperoleh penyelesaian. Dengan
n 1 n
menentukan syarat batas dan distribusi sumber
neutron awal, fluks anguler rata-rata di setiap  tj s j   ln    tj s j ,
j 1 j 1
(12)
bagian dapat ditentukan, demikian juga fluks
anguler rata-rata di setiap zona i pada arah m. maka tumbukan terjadi di daerah ke-n pada
jarak
Metode Monte Carlo 1  n 
Metode MC mensimulasikan transport neutron s 'n    ln    tj s j  . (13)
sebagai proses stokastik. Dengan melacak tn  j 1


lintasan tiap neutron, maka dapat diperoleh Perilaku neutron terhambur diperlakukan untuk
sejarah gerakan neutron secara alamiah. sumber neutron fisi dan perhitungannya
Lintasan neutron dimulai dari sumber netron di diulang sampai neutron tersebut keluar atau
dalam reaktor nuklir yang merupakan sumber diserap sistem. Selanjutnya perhitungan
dominan jika tidak ada sama sekali sumber fisi. dilanjutkan dengan sejarah baru atau berhenti
Sumber fisi memerlukan distribusi energi di bila jumlah sejarahnya telah memenuhi.
dalam ruang dalam bentuk spektrum fisi dan Penentuan lintasan pada geometri umum,
arah distribusinya isotropik. Masing-masing merupakan hal yang terus dikembangkan.
distribusi dapat dikarakterisasikan sebagai Metode MC mempunyai keunggulan dalam
fungsi distribusi probabalitas dan fungsi geometri yang rumit.
distribusi kumulatif. Pembangkitan dan
pemilihan bilangan random dari fungsi HASIL DAN PEMBAHASAN
distribusi kumulatif bagi distribusi fisi spasial
menunjukkan suatu lokasi sumber neutron di Metode SN dan PN mengasumsikan bahwa
dalam ruang. Pembangkitan dan pemilihan neutron bergerak dalam arah sudut diskrit.
bilangan random berikutnya dari fungsi Metode ini pada kasus realistik memerlukan
distribusi kumulatif bagi spektrum fisi superkomputer karena proses komputasinya
menentukan energi sumber neutron. yang lama. Selain itu akan muncul efek sinar
Pembangkitan dan pemilihan bilangan random (ray effect) ketika menggunakan metode diskrit
ketiga dan keempat dari fungsi distribusi ordinat pada masalah dengan sumber yang
kumulatif bagi dua variabel anguler dilokalisasi ruangnya atau akibat arahnya yang
independen (misalnya   cos  dan  ) tak isotropik (Brown, 2001). Metode ini terus
menunjukkan arah sumber neutron. Sekali dikembangkan salah satunya adalah dengan
neutron meluncur, sumber neutron tersebut meningkatkan masalah kebergantungan sudut,
akan bergerak pada suatu garis lurus sampai sehingga dapat diterapkan pada kasus medis
terjadi tumbukan. Probabilitas sebuah neutron dengan komputasi paralel (Longoni, 2004).
mengalami tumbukan pada jarak s pada Dalam metode Monte Carlo, tampang
lintasannya adalah (Stacey, 2001) lintang total merupakan suatu probabilitas per
satuan panjang lintasan bagi neutron untuk
 s  mengalami tumbukan. Tumbukan ini dapat
T ( s)  t ( s) exp    t ( s' )ds'  (10) berbentuk hamburan, serapan, fisi atau bentuk
 0  lain. Jadi fluks neutron yang disebutkan
Pembangkitan bilangan random  dan sebelumnya adalah nilai rata-rata atau nilai
pemilihan s dari fungsi distribusi kumulatif harap dari fungsi distribusi neutron. Metode
yang menunjukkan posisi tumbukan pertama MC merupakan metode perhitungan yang
adalah menirukan secara teoritis suatu proses
s mikroskopik di alam. Metode ini digunakan
 ln    t ( s' )ds' . (11) untuk menyelesaikan permasalahan yang rumit,
0
dengan cara mensimulasikan setiap peristiwa
probabilistik tunggal yang terjadi di dalam
Pada kenyataannya proses tersebut sulit terjadi
suatu proses secara berurutan (Yazid, 2005).
untuk geometri yang tidak seragam, untuk itu
Metode MC membutuhkan pengulangan yang
perlu diketahui komposisi pada titik di mana
sangat banyak, agar keseluruhan fenomena

Journal homepage: http://jurnal.unej.ac.id/index.php/JID


Jurnal ILMU DASAR, Vol.14 No.2, Juli 2013: 59- 65 63

yang disimulasikan dapat tergambarkan dengan Metode CP mempunyai bentuk yang lebih
utuh dan realistik, akibatnya metode MC kompleks. Metode CP didasarkan pada
memerlukan proses komputasi yang lama persamaan integral transport neutron, meskipun
(Schmidt dkk., 2010). Namun demikian perlu penanganan lebih karena harus mencari
kemajuan teknologi komputer saat ini, fluks skalarnya. Salah satu kelemahan dari
membuat metode MC berkembang pesat. metode CP adalah dibutuhkannya memori
komputer yang cukup besar, namun hal itu
Metode MOC diterapkan untuk ukuran dapat diatasi mengingat perkembangan
mesh kasar dari bahan dengan hamburan perangkat keras komputer sekarang sudah
rendah yang cocok diterapkan pada sangat maju. Beberapa metode numerik untuk
perhitungan heterogenitas pin by pin seluruh menyelesaikan persamaan transport telah
teras reaktor karena mampu menghitung dikembangkan, namun pemilihan metode tetap
transport neutron dalam skala besar (Kugo, didasarkan pada seberapa lamanya mencapai
2002). Metode MOC mempunyai fleksibilitas konvergen.
dalam pengambilan geometri. Metode MOC Beberapa kelemahan dan keuntungan dari
dapat menghitung geometri yang kompleks berbagai kode komputer yang telah ada
tanpa melakukan pendekatan spasial dengan berdasarkan pada metode yang digunakan
waktu komputasi yang realistik (Sugimura dan disajikan dalam Tabel 1 (Vujic dan Downar,
Yamamoto, 2006). 2006).

Tabel 1. Perbandingan beberapa kode komputer.

Metode Code Komputer Keuntungan Kelemahan

PARCS Cepat Homogen,


Untuk hasil yang
Deterministik (Teori Difusi)
akurat memerlukan
mesh yang rapat.

THREEDANT TORT Murah Ray Effect,


Formulasi Diferensial
Flux skalar
Discrete Ordinates (SN, PN)
negative

Deterministik Formulasi DRAGON Mudah Mahal


(Teori Transport) Integral CP APOLLO SRAC diterapkan

DRAGON Akurat Mahal


MOC
DeCART

MCNP Sangat akurat Komputasi lama


MC
MVP dan Mahal

Penyelesaian integral persamaan transport


Perbedaan pokok antara metode MOC dan dengan metode CP, pada umumnya
CP adalah sebagai berikut: metode MOC menggunakan pendekatan FF, yaitu fluks
didasarkan pada bentuk integral persamaan neutron dalam tiap region dianggap tetap. Pada
transport neutron bagi fluks angulernya, reaktor nuklir yang menggunakan pendekatan
sedangkan metode CP didasarkan pada bentuk FF, material fisi lebih banyak digunakan
integral persamaan transport neutron bagi fluks dibandingkan dengan reaktor nuklir
skalarnya. Metode MOC dapat dipakai untuk konvensional dengan dimensi yang sama
menghitung kasus tak isotropik orde lebih (Cassell dan Williams, 2003). Pendekatan FF
tinggi, sedangkan metode CP agak kesulitan ini sering dipakai dalam metode CP untuk
dalam kasus linear tak isotropik. Secara menyelesaikan masalah transport neutron
khusus, kedua metode tersebut mampu dalam sel bahan bakar nuklir. Pada metode CP,
menganalisis konfigurasi geometri heterogen pemilihan bentuk geometri sel sangat fleksibel
kompleks yang secara luas dipakai dalam tidak harus bentuk silinder tetapi dapat juga
menganalisis konfigurasi reaktor nuklir (Hursin berbentuk segi enam, terutama dalam
dan Jevremovic, 2005). implementasi spasial menjadi bentuk zona,
dimana pendekatan FF sangat diperlukan (de DAFTAR PUSTAKA
Camargo dkk., 2009). Masalah FF klasik dalam
reaktor nuklir biasanya juga diperluas menjadi Brown, P.N. (2001) : Novel Paralel Numerical
teori transport satu kelajuan. Penyelesaian Methods for Radiation & Neutron Transportt,
numeriknya diperoleh untuk kasus dua region, Lawrence Livermore National Laboratory, U.S.
yaitu bagian dalam menggunakan pendekatan Department of Energi.
Cassell, J.S. dan Williams, M.M.R. (2003) : An
FF, sedangkan bagian luar menggunakan Integral Equation Arising in Neutron Transportt
variabel fluks spasial (William, 2003). Theory, Annals of Nuclear Energi (30), pp.
1009-1031.
de Camargo, D. Q., Bodmann, B. E.J., Garcia, R.
KESIMPULAN D.M. dan de Vilhena, M.T. (2009) : A Three-
Dimensional Collision Probability Method:
Persamaan transport neutron dalam reaktor Criticality and Neutron Flux in a Hexahedron
nuklir dapat dilakukan dengan menggunakan Setup, Annals of Nuclear Energi (36), pp.
beberapa metode, seperti metode SN, PN, CP, 1614–1618.
Duderstadt, J.J., dan Hamilton,L.J. (1976) : Nuclear
MOC dan Monte Carlo. Dua metode pertama Reactor Analysis, John Wiley and Sons, New
menggunakan pedekatan difusi, sedangkan tiga York.
metode terakhir lebih fleksibel untuk Hursin, M. dan Jevremovic, T. (2005) : Agent Code
pendekatan transport. Ketiga metode ini – Neutron Transportt Benchmark Example and
memegang peran penting dalam disain teras Extention to 3D Lattice Geometri, Nuclear
reaktor nuklir, untuk itu perlu dilakukan Technology & Radiation Protection, Vol.2.
optimasi agar dapat efektif dan efisien dalam Kugo, T. (2002) : Fast Vector Computation of the
memecahkan persamaan transport neutron. Characteristic Method, J. Nucl. Sci Technol.,
Ketiga metode tersebut dipilih selain mengikuti Vol.39, No.3.
Longoni, G. (2004) : Advanced Quadrature Sets,
perkembangan disain reaktor maju (advanced Acceleration and Preconditioning Techniques
reactor), lebih akurat karena tidak for the Discrete Ordinates Method in Parallel
menggunakan difusi. Dari berbagai tinjauan, Computing Environments, Ph.D Dissertation,
metode CP memiliki keunggulan dibandingkan University of Florida.
dengan yang lainnya. Selain akurat, tidak Noh, J.M. (2008) : Reactor Analysis : The Past,
memerlukan waktu komputasi yang lama, Present and Future, The 4th Japan-Korea Joint
geometri yang fleksibel dan umum dipakai, Summer School, Fukuoka, August 5-8.
juga mudah diterapkan. Metode CP yang Okumura, K., Kugo, T., Kaneko, K., and
mendasarkan diri pada integral transport telah Tsuchihashi, K. (2007) : SRAC 2006: A
Comprehensive Neutronics Calculation Code
terbukti sangat efektif dan cocok dalam System, JAEA.
menyelesaikan masalah transport neutron Palmer, T., S. (2004) : Homogenization Techniques
dalam reaktor nuklir, terutama untuk for Commercial Nuclear Reactor, 1st
menghitung matriks CP dan distribusi fluks di Computational Methods in Transportt
setiap region dalam sel bahan bakar nuklir. Conference.
Pada penelitian selanjutnya kami akan Postma, T. A., dan Vujic, J. (1999) : The Method of
menghitung transport neutron dalam sel bahan Characteristics in General Geometry with
bakar nuklir bentuk silinder dengan Anisotropikic Scattering, International
metode collision probability. Conference on Mathematics and Computation,
Reactor Physics and Environmental Analysis in
Nuclear Applications, Madrid.
Postma, T. A. (2000) : Neutral Transportt Based on
Ucapan Terima Kasih the Advanced Method of Characteristics, Thesis,
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Nuclear Engineering, UC Berkeley.
Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Schmidt, R.C., Belcourt, K., Clarno, K. T., Hooper,
Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan R., Humphries, L. L., Lorber, A. L., Pryor, R. J.,
Tinggi, Kementrian Pendidikan dan dan Spotz, W. F. (2010) : Foundational
Kebudayaan RI melalui DIPA Universitas Development of an Advanced Nuclear Reactor
Andalas Nomor : Dipa-023.04.2.4154061/2013 Integrated Safety Code, Sandia National
Laboratoy Report, CA.
Tanggal 5 Desember 2012 Dengan Nomor Shafii, M.A. dan Su’ud, Z. (2007) : Study of
Kontrak : 20/UN.16/PL-FD/2013, atas dana Development Homogenization Code Using
yang telah diberikan melalui skim Penelitian General Geometry Approach, Proceeding of
Fundamental. International Conference on Advanced Nuclear

Journal homepage: http://jurnal.unej.ac.id/index.php/JID


Jurnal ILMU DASAR, Vol.14 No.2, Juli 2013: 59- 65 65

Sciences and Engineering, ITB-TokyoTech, Region in PWRs, J. Nucl. Sci. Technol., Vol.39,
Bandung. No.7.
Stacey, W., M. (2001) : Nuclear Reactor Physics, Vujic, J. L. dan Downar, T. (2006) : Numerical
John Wiley & Son, NY. Simulation in Radiatif Transportt, Material
Stamm’ler, R.J.J., dan Abbate, M.J. (1983) : Method Course Fall, Nuclear Engineering, UC Berkeley.
of Steady State Reactor Physics in Nuclear Williams, M.M.R. (2003) : The Flat Flux Problem
Design, Academic Press, London. in One-Speed Neutron Transportt Theory,
Sugimura, N., dan Yamamoto, A. (2006) : Annals of Nuclear Energi (30) pp. 513–547.
Evaluation of Dancoff Factor in Complicated Yazid, P.I. (2005) : MCNP : Monte Carlo N-Particle
Geometry Using the Method of Characteristics, Metodologi Simulasi Transportt Neutron,
J. Nucl. Sci. Technol., Vol.43, No.10. Workshop Simulasi dan Aplikasi Monte Carlo
Tahara, Y., dan Sekimoto, H. (2002) : Transportt MCNP Batan, Serpong.
Equivalent Diffusion Constants for Reflector
Journal homepage: http://jurnal.unej.ac.id/index.php/JID