Anda di halaman 1dari 5

MAKALAH PENGANTAR ILMU POLITIK

“Budaya Politik”

Disusun oleh:

Fina Audya Indah (14010119130086)

Afia Azkia (14010119140115)

Ganang Surya S (14010119140145)

M. Akbar Ilham Undang (14010119130055)

Rindi Antika Dewi (1401011912

Dosen Mata Kuliah :

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2019
DAFTAR ISI

Halaman Sampul................................................................................................................i

Daftar Isi............................................................................................................................ii

Latar Belakang Masalah......................................................................................................

Rumusan Masalah................................................................................................................

Pembahasan.........................................................................................................................

Kesimpulan..........................................................................................................................

Daftar Pustaka......................................................................................................................

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dalam m

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana budaya politik yang berkembang di masyarakat
Indonesia?
2. Bagaimana pengaruh budaya politik berkaitan dengan partisipasi
warga negara dalam demokrasi?
3. Bagaimana peranan budaya politik terhadap elit politik di
Indonesia?

ii
BAB 2

PEMBAHASAN

Budaya Politik yang Berkembang di Masyarakat Indonesia

Dalam perkembangannya kehidupan masyarakat selalu mengalami


perubahan-perubahan baik positif maupun negatif. Hal ini disebabkan manusia
sebagai anggota dari masyarakat yang selalu berkembang secara dinamis sehingga
memungkinkan terciptanya suatu kondisi tertentu yang diinginkan. Dalam upaya
mencapai kondisi itu, tidak jarang diliputi suasana-suasana konflik.

Manusia adalah makhluk sosial yang hidup dalam suasana kerjasama,


sekaligus suasana yang penuh pertentangan. Konflik-konflik ideologis berbagai
golongan di masyarakat Indonesia khususnya, telah menjadi sebab timbulnya
kesulitan untuk mengembangkan aturan permainan. Oleh karena itu, tidak
mengherankan apabila konflik-konflik ideologis tersebut tumbuh berdampingan
dengan timbulnya konflik-konflik yang bersifat politis akibat pertentangan-
pertentangan didalam pembagian status, kekuasaan, dan sumber-sumber ekonomi
yang terbatas dalam masyarakat.

Ada beberapa indikasi yang biasa dipakai oleh para ahli ilmu-ilmu social
untuk menilai intensitas pertentangan-pertentangan politik dalam suatu
masyarakat. Salah satunya adalah demonstrasi, demonstrasi itu terjadi karena
terdapat sejumlah orang yang melontarkan kritik atau terdapat beberapa orang
yang tidak percaya terhadap suatu rezim, pemerintah, pejabat pemerintah,
kebijakan yang sedang dilaksanakan atau baru terencanakan. Salah satu bentuk
dari demonstrasi adalah demo menolak kenaikan harga BBM atau demo menuntut
pengusutan kasus-kasus hak asasi manusia. Bentuk lain dari intersitas
pertentangan-pertentangan politik ialah kerusuhan. Kerusuhan pada dasarnya itu
sama halnya seperti demonstrasi. Hanya saja kerusuhan itu bentuk kelanjutan dari

ii
demonstrasi. Contoh dari kerusuhan pengrusakan fasilitas negara, misalnya pada
kerusuhan Mei 1998.

Suatu integrasi nasional yang baik akan berkembang diatas consensus


nasional mengenai batas-batas suatu masyarakat politik dan sistem politik yang
berlaku bagi seluruh masyarakat tersebut.

Dalam masyarakat atau kehidupan politik dikenal tiga tipe budaya.


Pertama, budaya politik parochial berlangsung dalam masyarakat tradisional,
dimana masyarakatnya masih sederhana dengan spesialisasi yang sangat kecil.
Para perilaku politik sering melakukan peranannya serempak dengan peranannya
dalam bidang ekonomi, keagamaan, dan lain-lain. Kedua, budaya politik kaula,
dalam budaya politik kaula atau subjek, anggota masyarakat mempunyai minat,
perhatian, mungkin pula kesadaran, terhadap system keseluruhan, terutama dari
segi output politik. Orientasi anggota masyarakat yang nyata terhadap objek
politik dapat dilihat dari pernyataannya, baik berupa kebanggaan, ungkapan sikap
dukungan, maupun sikap bermusuhan terhadap sistem politik. Ketiga, budaya
politik partisipan, Budaya politik partisipan ditandai oleh anggota masyarakat
yang aktif dalam kehidupan politik. Seseorang dengan sendirinya menyadari
setiap hak dan tanggung jawabnya. Seseorang dalam budaya politik partisipan
dapat menilai dengan penuh kesadaran system politik secara totalitas, input dan
output maupun possisi dirinya dalam politik. Dengan demikian, setiap anggota
msyarakat terlibat dalam sisitem politik yang berlaku betapa kecil peran yang
dijalankannya.

ii