Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Farmasi Fisika

Sistem Dispersi

Kelas : 1FA2
Kelompok 4 Gelombang 3 :
Ummi Laila S 191FF03053
Muhammad Imam 191FF03059
Rizki Dyah R 191FF03061
Dio Pandu S 191FF03065
Yevira Destryani 191FF03068
Nazhifah Cahyani P 191FF03076

Universitas Bakhti Kencana


Alamat: Soekarno-Hatta St No.754, Cipadung Kidul, Panyileukan, Kota Bandung, West Java
40614
I. Tujuan
Menentukan Dispersibilitas suatu zat dalam pelarut air dengan penambahan CMC dalam
berbagai konsentrasi.

II. Prinsip
Berdasarkan Pengukuran Volume Sedimentasi

III. Teori Dasar


Sistem dispersi merupakan suatu larutan atau campuran dua zat yang berbeda maupun sama
wujudnya. Sistem disperse ini dapat ditandai dengan adanya zat terlarut dan zat pelarut. Contohnya,
jika tiga jenis benda yaitu pasir, gula dan susu dimasukkan kedalam suatu wadah yang berisi air dan
kemudian diaduk dalam setiap wadah tersebut, maka akan diperoleh tiga sistem dispersi
(Ridwan,2012).
Sistem terdispersi terdiri dari partikel-partikel kecil yang dapat dikenal sebagai fase terdispersi,
fase ini terdistribusi secara merata keseluruh bagian medium kontinu atau medium terdispersi. Bahan-
bahan yang terdispersi ini dapat memiliki jangkauan ukuran dari partikel-partikel berdimensi atom dan
molekul sampai partikel-partikel yang memiliki ukurannya diukur dalam millimeter. Oleh karena itu,
salah satu cara yang paling mudah dalam penggolongan sistem terdispersi adalah dengan berdasarkan
garis tengah partikel rata-rata dari bahan terdispersi. Umumnya dibuat dengan tiga golongan ukuran,
yaitu dispersi molekuler, dispersi koloid dan dispersi kasar (Martin et al,2008).
Dispersi molekuler adalah suatu sistem satu fase homogen, jernih dan memiliki diameter yang
tidak lebih dari 10−7 cm. Partikel-partikel ini larutannya tidak dapat dilihat dengan mikroskop biasa
maupun mikroskop mikroskop ultra, sukar diendapkan dan dapat melewati kertas saring biasa maupun
membrane semipermeable (Sumardjo,2009).
Dispersi koloid adalah campuran yang heterogen. Fase padat, cair dan gas dapat dibuat Sembilan
kombinasi campuran fase zat, tetapi yang dapat membentuk sistem koloid hanya delapan. Koloid yang
mengandung fase terdispersi padat disebut sol. Koloid yang mengandung fase terdispersi cair disebut
emulsi. Koloid yang mengandung fase terdispersi gas disebut dengan buih (Sutresna,2007).
Emulsi adalah campuran dari dua atau lebih cairan yang biasanya bercampur (nonmixable atau
unblendable). Emulsi adalah bagian dari kelas yang lebih umum dari sistem dua fase materi yang
disebut koloid. Meskipun istilah koloid dan emulsi terkadang digunakan secara bergantian, emulsi
harus digunakan ketika kedua zat tersebar dan fase kontiniu adalah cairan. Dalam emulsi, satu
cair(fase terdispersi) tersebar dilain (fase kontinyu). Contoh emulsi meliputi vinaigrettes, susu,
mayones dan beberapa cairan pemotongan untuk pengerjaan logam (Aqila,2014).
Pada pembuatan emulsi ini dibutuhkan emulgator atau zat penghubung yang menyebabkan
pembentukan emulsi, contoh dari emulgator ini adalah sabun (Sutresna,2007).
Dispersi kasar atau suspensi akan terjadi jika diameter fase terdispersi memiliki ukuran diatas 100
nanometer, sistem ini mula-mula keruh tetapi dalam beberapa saat segera nampak batas antara fase
terdispersi dengan medium pendispersi karena terjadinya suatu pengendapan. Fase terdispersi dapat
dipisahkan dari mediumnya dengan cara melakukan penyaringan. Dispersi kasar ini disebut juga
dengan suspensi yaitu suatu sistem dua fase yang heterogen, tidak jernih. Partikel dari suspense ini
dapat dilihat dengan mikroskop biasa, mudah diendapkan dan tidak dapat melewati kertas saring biasa
maupun membrane semipermeable (Sumardjo,2009).
Suspensi adalah dispersi zat padat didalam air. Zat yang terdispersi memiliki ukuran yang cukup
besar. Padatan ini merupakan gabungan dari molekul-molekul yang zat nya terdispersi. Contoh dari
dispersi kasar adalah dispersi pasir didalam air, air kopi, air sungai, campuran minyak dengan air,
campuran tepung gandum dengan air dan lain-lain (Ridwan,2012).
Suatu suspensi yang dapat diterima mempunyai kualitas tertentu yang diinginkan :
1. Zat yang tersuspensi (disuspensikan) tidak boleh cepat mengendap.
2. Partikel-partikel tersebut walaupun mengendap pada dasar wadah tidak boleh membentuk
suatu gumpalan padat tapi harus cepat terdispersi kembali menjadi suatu campuran homogen
bila wadahnya dikocok.
3. Suspensi tersebut tidak boleh terlalu kental untuk dituang dengan mudah dari botolnya.
Sistem pembentukan suspensi ada dua, yaitu sistem flokulasi dan sistem deflokulasi. Dalam
sistem flokulasi, partikel flokulasi terikat lemah, cepat mengendap dan pada penyimpanannya mudah
tersuspensi kembali. Sedangkan partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya membentuk
sedimen, akan menjadi agregasi dan akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali
(Syamsuni,2007).
Dua parameter yang berguna yang bisa diturunkan dari penyelidikan sedimentasi adalah volume
sedimentasi dan derajat flokulasi. Volume sedimentasi(F) didefinisikan sebagai perbandingan dari
volume akhir dari endapan (Vu) terhadap volume awal dari suspense (Vo) sebelum mengendap.
Vu
F=
Vo
Derajat flukolasi adalah rasio volume akhir sediaan suspensi flokulasi (Vu) dengan volume akhir
sedimen sediaan suspense deflokulasi (Voc).
Vu
derajat flokulasi=
Voc

IV. Alat dan Bahan


1. Alat :
 Labu ukur
 Tabung sedimentasi

2. Bahan :
 CMC 1% , 2% , 3%
 Aquadest
 Air Panas
 Ibuprofen
V. Prosedur Kerja

Zat ditimbang sebanyak 1500 mg sebanyak 4:


I: Blangko, tanpa CMC
II: Tambah CMC 1%
III: Tambah CMC 2%
IV: Tambah CMC 3%

Sediaan dibuat sebanyak 100 mL

CMC dikembangkan dalam air panas 20X berat CMC

Zat dan CMC dicampur dan ditambah aquades add 100 mL,
dicampur di homogenizer

Suspensi yang sudah jadi, dimasukkan ke tabung sedimentasi


dan ditulis volume awal

Diamati pada menit ke 10,30 dan 24 jam

Diukur endapan yang terjadi

VI. Data Pengamatan

 Pada menit ke 10 :
1) Tabung I Diketahui VU = 70
VO = 100
Dicari = F ( Volume sedimentasi )
VU 70
Penyelesaian F= = = 0,7
VO 100
2) Tabung II Diketahui VU = 80
VO = 100
Dicari = F ( Volume sedimentasi )
VU 80
Penyelesaian F= = = 0,8
VO 100
3) Tabung III Diketahui VU = 90
VO = 100
Dicari = F ( Volume sedimentasi )
VU 90
Penyelesaian F= = = 0,9 ( stabil )
VO 100
4) Tabung IV Diketahui VU = 100
VO = 100
Dicari = F ( Volume sedimentasi )
VU 100
Penyelesaian F= = = 1 ( stabil )
VO 100
 Pada menit ke 30 :
1) Tabung I Diketahui VU = 50
VO = 100
Dicari = F ( Volume sedimentasi )
VU 50
Penyelesaian F= = = 0,5
VO 100
2) Tabung II Diketahui VU = 75
VO = 100
Dicari = F ( Volume sedimentasi )
VU 75
Penyelesaian F= = = 0,75
VO 100
3) Tabung III Diketahui VU = 90
VO = 100
Dicari = F ( Volume sedimentasi )
VU 90
Penyelesaian F= = = 0,9 ( Stabil )
VO 100
4) Tabung IV Diketahui VU = 95
VO = 100
Dicari = F ( Volume sedimentasi )
VU 95
Penyelesaian F= = = 0,95 ( Stabil )
VO 100
 Pada waktu 24 jam :
1) Tabung I Diketahui VU = 30
VO = 100
Dicari = F ( Volume sedimentasi )
VU 30
Penyelesaian F= = = 0,3
VO 100
2) Tabung II Diketahui VU = 70
VO = 100
Dicari = F ( Volume sedimentasi )
VU 70
Penyelesaian F= = = 0,7
VO 100
3) Tabung III Diketahui VU = 80
VO = 100
Dicari = F ( Volume sedimentasi )
VU 80
Penyelesaian F= = = 0,8
VO 100
4) Tabung IV Diketahui VU = 90
VO = 100
Dicari = F ( Volume sedimentasi )
VU 90
Penyelesaian F= = = 0,9 ( Stabil )
VO 100

VII. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan terhadap volume sedimentasi pada suspensi
ibuprofen dengan pelarut air dan suspending agent CMC dengan variasi konsentrasi yang berbeda, yaitu
1%, 2% dan 3%. Untuk melihat besarnya sedimentasi maka digunakan rumus:
Vu
F=
Vo
Dengan keterangan:
Vu = Volume akhir dari endapan
Vo = Volume awal dari suspensi
Nilai F adalah volume sedimentasi, maka untuk menentukan volume sedimentasi ditentukan
dengan cara menghitung volume akhir endapan dibagi dengan volume awal dari suspensi. Suspensi yang
baik (blanko maupun ibuprofen + CMC dengan variasi konsentrasi berbeda) adalah jika nilai volume
sedimentasinya (F) mendekati 1, karena jika tidak sediaan suspensi yang dibuat akan menjadi tidak stabil.
Ibuprofen merupakan obat antiinflamasi nonsteroid yang umumnya digunakan sebagai obat
penurun panas anak di masyarakat. Ibuprofen merupakan obat yang bersifat praktis tidak larut dalam air
dan daya alir yang lambat, karena mempunyai struktur hidrofobik dan daya kohesifitas yang tinggi. Salah
satu cara untuk mengatasi masalah kelarutan ibuprofen adalah dengan membuat formulasi suspensi
ibuprofen sehingga dihasilkan sediaan yang stabil. Pada sediaan suspensi, selain adanya zat aktif juga
diperlukan bahan pensuspensi. Pembuatan formulasi suspensi ibuprofen dalam penelitian ini
menggunakan bahan pensuspensi berupa CMC yang merupakan turunan selulosa.
Penambahan CMC berfungsi sebagai bahan pengental, dengan tujuan untuk membentuk sistem
dispersi koloid dan meningkatkan viskositas. Dengan adanya CMC ini maka partikel-partikel yang
tersuspensi akan terperangkap dalam sistem tersebut atau tetap tinggal ditempatnya dan tidak mengendap
oleh pengaruh gaya gravitasi. Karboksimetil selulosa akan terdispersi dalam air, kemudian butir-butir
CMC yang bersifat hidrofilik akan menyerap air dan terjadi pembengkakan. Air yang sebelumnya ada di
luar granula dan bebas bergerak, tidak dapat bergerak lagi dengan bebas sehingga keadaan larutan lebih
mantap dan terjadi peningkatan viskositas. Mekanisme bahan pengental dari CMC mengikuti bentuk
konformasi extended atau streched ribbon (tipe pita). Tipe tersebut terbentuk dari 1,4 –D glukopiranosil
yaitu dari rantai selulosa. Bentuk konformasi pita tersebut karena bergabungnya ikatan geometri zig-zag
monomer dengan jembatan hidrogen dengan 1,4 - Dglukopiranosil lain, sehingga menyebabkan
susunannya menjadi stabil.
Percobaan sedimentasi suspensi ini dibuat menjadi 4 bagian suspensi dengan 1 blanko dan 4 zat
aktif + CMC penambahan zat yang berbeda. Zat yang disuspensi adalah Ibuprofen yang pasti tidak larut
dalam air. Ibuprofen pada percobaan ini  digerus terlebih dahulu, penggerusan ini bertujuan untuk
menyeragamkan ukuran partikel, meningkatkan sudut kontak agar mudah terbasahi, dan pengecilan
ukuran partikel sehingga partikel Ibuprofen sulit untuk mengendap. 
CMC harus dikembangkan terlebih dahulu dengan menambahkan air panas sebanyak 20x berat
CMC. CMC akan menarik air disekitarnya sehingga ikatan menjadi renggang dan menyebabkan CMC
mengembang. Hal ini menyebabkan terbentuknya jala tiga dimensi yang akan memperangkap zat-zat lain
yang dicampur. Suhu tinggi adalah syarat CMC merenggangkan ikatannya sehingga dapat mengembang.
Selanjutnya CMC dicampur dengan bahan lain pada saat suhu tertentu. Hal ini bertujuan agar ikatan
CMC dengan air menjadi lebih stabil sehingga CMC dapat mengikat zat-zat lain dengan stabil.
Suspensi yang sudah selesai dibuat, dimasukkan ke dalam tabung sedimentasi dan didiamkan
selama waktu tertentu, yaitu 10 menit, 30 menit, dan 24 jam. Diamati ada tidaknya supernatan yang
terbentuk dan dihitung nilai F dengan cara mengukur volume supernatan dibagi volume total sediaan.
(data pengamatan)
  Suspensi pada tabung sedimentasi dengan penambahan CMC mengalami pengendapan karena
CMC merupakan polimer yang memiliki rantai panjang dan mempunyai bobot molekul yang tinggi dan
mengandung gugus aktif yang ditempatkan disepanjang rantai CMC bekerja sebagai pemflokulasi karena
sebagian dari rantai tersebut diadsorbsi pada permukaan partikel, dengan bagian tersisa mengarah keluar
medium dispersi. CMC bekerja sebagai pemflokulasi dengan membentuk jaring-jaring polimer yang
dapat mengikat partikel Ibuprofen. Jaring polimer tersebut diadsorbsi pada permukaan partikel Ibuprofen,
dengan bagian tersisa mengarah keluar medium dispersi. Oleh karena partikel Ibuprofen terlindungi oleh
CMC maka terjadi penurunan tegangan permukan dan mengakibatkan pengelompokaan tak dapat
terhindarkan. Pengelompokan ini bukan terjadi karena partikel Ibuprofen tetapi karena adanya CMC yang
melapisi atau melindung partikel Ibuprofen sehingga partikel cepat mengendap namun dapat terdispersi
kembali karena ikatan antar pelindung (CMC) membuat gayavan der Waals lemah. Polimer ini juga
menunjukkan aliran pseudoplastis dalam larutan yang berpotensi menstabilkan bentuk fisik suspensi.