Anda di halaman 1dari 3

(Tugas individu Manajemen Bencana)

Berkaitan dengan pandemik global wabah corona covid 19; ada berbagai langkah MITIGASI
BENCANA yang bisa dilakukan untuk menekan penyebaran virus tersebut; seperti Social Distancing;
dan ada juga Lockdown.

Menurutmu mana yang cocok diterapkan di Indonesia ? Berikan analisamu. Bandingkan juga dengan
negara-negara lain.

Ketentuan:

- Tugas ditulis tangan maksimal 2 halaman folio dengan mencantumkan minimal 3 sumber
referensi;

- Dikumpulkan kamis depan tgl 2 April 2020 pada jam perkuiahan

- Kirim dalam format pdf dengan nama file: no presensi (nama lengkap). Contoh: 1 (Tono
Budiman)

Menurut sy, yg cocok diterapkan di Indonesia adalah social distancing, bukan sistem lockdown
seperti di wuhan. Mengapa demikian? Karena jika di lockdown dilihat dr segi perekonomian
indonesia baik pemerintah dan masyarakatnya blm mampu untuk menjalanin sistem lockdown, hal
ini karena mayoritas penduduk Indonesia adalah menengah kebawah (data), tidak sama halnya
seperti di wuhan yg mayoritas adalah menengah keatas (data) sehingga jika wuhan di lockdown,
masy wuhan lebih siap dlm hal finansial karena masy wuhan dpt mencukupi kebutuhannya min. 3
bln, disebabkan rata2 penduduk wuhan mempunyai tabungan.

Lockdown yang diterapkan pemerintah China terlihat sangat terstruktur,


sistematis, dan tetap mengedepankan sisi humanis. Hal ini mencerminkan
bahwa China memiliki sistem mitigasi bencana yang baik dan dapat
dieksekusi dengan cepat tanpa banyak debat.

Menurut sy, hal yang harus dilakukan pemerintah Indonesia yg


pertama adalah social distancing dan self isolation, mengapa
Indonesia tidak ambil kebijakan lockdown seperti china (negara
lainnya yg nerapin)? Hal ini tentu disebabkan oleh banyk faktor,
salah satu faktornya adalah aktivitas perekonomian Indonesia
sendiri, tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito
mengatakan, "Di Indonesia banyak sekali yang bekerja mengandalkan upah harian. Itu
menjadi salah satu kepedulian pemerintah, supaya aktivitas ekonomi tetap berjalan,"
tutur Wiku di Kantor Graha Bafan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Untuk
itu, pemerintah memilih untuk mengajak masyarakat melakukan pembatasan interaksi
sosial atau social distancing terkait Covid-19. Hal itu didukung dengan kebijakan setiap
kepala daerah di antaranya meliburkan sekolah dan menutup sementara tempat wisata.
Tidak hanya karena aktivitas perekonomian Indonesia, Presiden joko widodo pun
telah mengungkapkan alasan pemerintah tidak memilih lockdown untuk menekan
penyebaran virus. Menurutnya, setiap negara memiliki karakter, budaya
dan kedisiplinan yang berbeda-beda, sehingga yang paling cocok
untuk diterapkan di tanah air adalah physical distancing atau
menjaga jarak aman secara fisik dari kerumunan sosial.

Upaya social distancing ini akan berhasil bila ditaati oleh


semua pihak, maka diharapkan kesadaaran yang tinggi dari
masyarakat Indonesia. persoalannya, social distancing hanyalah
sebuah imbauan bukanlah sebuah aturan yang mengikat. Tak ada
sanksi bagi yang melanggar. Berbeda dengan lockdown, seperti di
Tiongkok, italia dan negara yg menerapkannya, polisi turun tangan
memeriksa warga yang berkeliaran di tempat umum. Pada awal
pemerintahan tiongkok memberi imbauan yang selalu disampaikan
pemerintah setiap hari untuk tetap tinggal di rumah, dapat
menumbuhkan kesadaran masyarakatnya sehingga warga memilih
tinggal di dalam rumah dan menerapkan self isolation. Singapura
pun dipuji oleh WHO karena pemerintah singapura menggunkan cara
efektif untuk mengedukasi masyarakat demi menyetop penyebaran
virus. Dan realitas yang terjadi di Indonesia, kurangnya edukasi dan
minimnya kesadaran masyarakat akan social distancing untuk
mengurangi penyebaran virus, menyebabkan kurang berjalannya
kebijakan ini.

Saat ini pun pemerintah dan masyarakat sedang berupaya


untuk menumbuhkan kesadaran agar semua masyarakat
menerapkan social distancing, dengan cara melibatkan semua
komponen bangsa untuk mendukung social distancing. Kondisi ini
sudah diterapkan DKI Jakarta tetapi belum terlihat hasilnya. Saat
ini, aktivitas pekerja sudah berkurang signifikan. Pembatasan
layanan angkutan umum mengakibatkan penumpukan penumpang,
yang justru bertentangan dengan social distancing, berbeda dengan
di wuhan saat jumlah taksi online dan konvesional dikurangi,
kondisi ini justru hanya dimanfaatkan oleh warga yang terjebak
karena tidak mengetahui informasi lockdown sehingga mereka
masih bisa pulang ke rumahnya masing2. Pemerintah juga sudah
memberikan informasi mengenai bahaya corona kepada
masyarakat. Informasi yang transparan dan positif dapat melahirkan
keyakinan dan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah sehingga
penanggulangan penyebaran corona menjadi tanggung jwb bersama.

Tahap selanjutnya, setelah social distancing adalah menerapkan layanan


drive-through seperti Korea selatan. Pengemudi bisa menghampiri pos drive-
through, di sana petugas medis berpakaian pelindung lengkap akan mengecek suhu
tubuh, termasuk mengambil sampel lendir tenggorokan. Wali Kota Goyang Lee Jae-
joon, menyebut cara ini lebih aman dan cepat untuk melacak suspect corona
daripada pemeriksaan di rumah sakit dan klinik. Dengan cara pemeriksaan di ruang
tertutup juga dapat mengurangi kekhawatiran penularan suspect corona ke orang
lain. Namun, jika dilihat dari pengguna kendaraan di Indonesia, setengah dari jumlah
populasi penduduk adalah kendaraan bermotor bukan kendaraan bermobil,
sehingga tidak memungkinkan umtuk menerapkan drive thr, maka layanan drive thr
diganti dengan cara petugas medis yang menghampiri warga dari rmh ke rmh. Pada
proses ini, Puskesmas didorong untuk berperan aktif menjadi garda terdepan
sehingga layanan ini cepat dan tanggap.