Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK

PATOFISIOLOGI DAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK


MENINGITIS

Oleh:
RINI LIANA
RISAL SETIAWAN
RIZKI PUJIASIH
SITI NUR HALIZA
YUSTIKA YUNI ASTUTI

PROGAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2019/2020
1. Definisi Meningitis
Meningitis adalah Infeksi terbatas pada meningeal yang menyebabkan gejala yang
menunjukkan meningitis (kaku kuduk, sakit kepala, demam) sedangkan bila parenkim otak
terkena, pasien memperlihatkan penurunan tingkat kesadaran, kejang, defisit neurologis fokal,
dan kenaikan tekanan intrakranial (Harsono, 2005).
Penyakit meningitis merupakan penyakit yang serius karena letaknya dekat dengan otak
dan tulang belakang sehingga dapat menyebabkan kerusakan kendali gerak, pikiran, bahkan
kematian. Kebanyakan kasus meningitis disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri,
jamur atau parasit yang menyebar dalam darah dan cairan otak. Menurut WHO, di Negara
Amerika Serikat pada tahun 2009 terdapat 3000 kasus penyakit meningococcus dan di Eropa
bagian Barat terjadi 7.700 kasus meningococcus pada setiap tahunnya. (WHO, 2009)
Dalam buku patofisiologi karangan John Daly dkk tahun 2010, meningitis adalah
inflamasi pada meningen otak dan medulla spinalis, hal ini disebabkan oleh adanya
mikroorganisme yang masuk ke dalam sistem saraf pusat melalui sirkulasi darah.
Mikroorganisme ini berasal dari infeksi yang sudah ada sebelumnya yaitu dari infeksi bakteri
atau infeksi virus, atau dapat pula melalui perluasan infeksi dari sumber ekstrakranial. (Esther
Chang, 2009)
Meningitis adalah peradangan pada otak dan meningen medulla spinalis, peradangan ini
dapat menyerang tiga membran meningen yaitu durameter, membran araknoid, dan piameter.
Meningitis ini pada umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri atau infeksi virus. (Kimberly,
2011)
2. Patofosiologi Meningitis

Faktor risiko: usia (kebanyakan pada bayi), daya Faktor predisposisi: ISPA (sinusitis, epiglottis,
tahan tubuh lemah, jenis kelamin (laki-laki lebih pneumonia), otitis media, trauma kepala dengan
rentan), sosio-ekonomi rendah, lingkungan padat kebocoran CSS (cairan serebrospinal), DM,
penduduk, musim panas, riwayat kraniotomi. alkoholisme, splenektomi, defisiensi imun.

VIRUS BAKTERI JAMUR


(contoh: Mumps virus, (contoh: E. coli, Listeria (contoh: Criptococcus,
Echo virus, Coxsackie monositogenesis, H. influenzae) Neofarmans)
virus)

Ensefalitis Invasi kuman ke jaringan serebral melalui


darah (vena nasofaring posterior), telinga
bagian tengah, sal. Mastoid
Abses otak

Kehilangan pendengaran
Demam Masuk ke SSP

Reaksi peradangan jaringan serebral:


Hipertermi piameter, arachnoid, CSS

Meningitis Serosa Meningitis Tuberculosis Meningitis Purulenta

Eksudat (cairan berwarna bening) Eksudat (pus berwarna keruh)

Perubahan fisiologis intrakranial

Menyebar ke seluruh S. kranial dan spinal


Peningkatan
permeabilitas Kerusakan neurologis yang mempersarafi otot
pembuluh darah ke
otak
Kerusakan neurologis yang mempersarafi otot

Tonus otot ↓

Hambatan Mobilitas Fisik


Lanjutan…….
Lanjutan…….
Peningkatan
Tekanan Intra Kranial ↑ permeabilitas
pembuluh darah
ke otak
Penekanan Perub. Tingkat kesadaran, perub.
Tekanan pada
area fokal Perilaku, disorientasi, fotophobia,
pusat refleks sekresi ADH ↑
kortikal
muntah di Bradikardi
medulla spinalis
Kaku kuduk, Ketidakseim- Penurunan
Aliran darah tingkat kesadaran
tanda kernig, bangan
Mual, muntah, serebral ↓
tanda potensial
intake nutrisi ↓
Brudzinski membran
O2 ke otak tidak
Risiko defisit adekuat Kemampuan batuk ↓,
produksi mukus ↑
cairan Kejang

Risiko nutrisi
Perubahan perfusi jaringan
kurang dari Risiko Cidera
otak
kebutuhan
Risiko ggn perfusi perifer
Adhesi → Prosedur Kelemahan Permeabilitas
kelumpuhan saraf invasif, fisik kapiler dan
lumbal retensi cairan ↑
pungsi Pola nafas tidak efektif
Koma → kematian
Bersihan jalan nafas tidak
Ansietas Gangguan ADL efektif

Risiko berlebihnya volume


cairan
Trombosis vena serebral → Kelumpuhan

Efusi atau abses subdural

Hidrosefalus

Arteritis pembuluh darah otak → Infark → retardasi mental → Gangguan perkembangan


kematian jaringan otak mental dan inteligensi
Keterangan:
Etiologi Klasifikasi
Manifestasi Komplikasi yang mungkin timbul
Masalah keperawatan yang mungkin muncul
*Meningitis Tuberculosis: etiologi karena bakteri, namun termasuk meningitis serosa

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
a. Biodata klien

b. Riwayat kesehatan yang lalu


1. Apakah pernah menderita ISPA atau TBC?
2. Apakah pernah jatuh atau trauma kepala?
3. Pernahkah operasi daerah kepala?

c. Riwayat kesehatan sekarang


1. Aktivitas, gejala: perasaan tidak enak. Tanda: ataksia, kelumpuhan, gerakan
involunter.
2. Sirkulasi, gejala: adanya riwayat cardiopatologi: endokarditis dan PJK. Tanda:
tekanan darah meningkat, nadi menurun dan tekanan nadi berat, taikardi, disritma.
3. Eliminasi, tanda: inkontenensia dan atau retensi.
4. Makanan/cairan: gejala: kehilangan nafsu makan, sulit menelan. Tanda: anoreksia,
muntah, turgor kulit jelek dan membrane mukosa kering.
5. Hiegiene, tanda: ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.
6. Persarafan, gejala: sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena,
kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotophobia, ketulian dan
halusinasi penciuman. Tanda: letargi sampai kebingungan berat hingga koma, delusi
dan halusinasi, kehilangan memori, afasia, anisokor, nistagmus,
7. Nyeri, Gejala: sakit kepala (berdenyut hebat, frontal). Tanda: gelisah, meningis
8. Pernapasan, gelaja: riwayat infeksi sinus dan paru. Tanda, Peningkatan kerja
pernapasan.

3.2 Diagnosa Keperawatan


a. Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehhubungan dengan deseminata hematogen
dan pathogen.
b. Resiko tinggi terhadap perubahan selebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan
edema serebral, hipovolemia.
c. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kejang umum/fokal, kelemahan
umum dan vertigo.
d. Nyeri akut sehubungan dengan proses inflamasi, toksin dalam sirkulasi.
e. Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuscular dan penurunan
kekuatan.
f. Axientas berhubungan dengan krisis situasi dan ancaman kematian

3.3 Intervensi Keperawatan


a. Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan desiminata hematogen
dari pathogen.
1. Beri tindakan isolasi sebagai pencegahan.
2. Pantau suhu secara teratur.
3. Kaji nadi yang tidak teratur dan demam yang terus menerus.
4. Auskultasi suara napas.
5. Catat karakteristik urin
6. kolaborasikan pemberian antibiotic

b. Resiko tinggi perubahan cerebral dan perfusi jarigan sehubunan dengan edema serebral,
hipovolemia.
1. Tirah baring dengan posisi kepala datar.
2. Pantau status neurologis.
3. Kaji regiditas nukal, peka rangsang dan kejang.
4. Pantau tanda vital dan frekuensi jantung, pernapasan, dan suhu.
5. Membatasi batuk, muntah, dan mengejan.
6. kolaborasikan pemberian antibiotic

c. Resiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/vocal, kelemahan


umum vertigo
1. Pantau adanya kejang.
2. Pertahankan penghalang tempat tidir tetap terpasang dan pasang jalan napas buatan.
3. Kolaborasikan obat tirah baring selama fase akut.

d. Nyeri akut sehubungan dengan proses infeksi, toksin dalam sirkulasi.


1. Letakkan kantung es batu pada kepala.
2. Berikan posisi yang nyaman.
3. Latihan rentang gerak aktif atau paif serta massage leher.
4. Gunakan pelembab hangat pada nyeri leher atau pinggul.
5. kolaborasikan pemberian antibiotic

e. Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler.


1. Kaji derajat imobilisasi pasien.
2. bantu latihan rentang gerak.
3. Berikan perawatan kulit, massege dengan pelembab.
4. Perhatikan kesejajaran tubuh secara fungsional.

f. Ansientas berhubungan dengan krisis situasi dan ancaman kematian


1. Kaji Ansietas dan tingkat ansiennya.
2. Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaannya.
3. Jelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilakukan.
4. Beri dukungan serta petunjuk sumber penyokong.