Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN

PASIEN DENGAN DIAGNOSA AMPUTASI

Disusun Oleh :
Nama : Roida Saputri
NIM : 1801100529

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDEDES MALANG
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang atas rahmatnya sehingga
saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Asuhan
Keperawatan Pasien Dengan Diagnosa Amputasi”. Penulisan makalah ini
merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Keperawatan
Kritis.

Dalam penulisan makalah ini saya merasa masih banyak kekurangan baik pada
teknik penulisan maupun materi, mengingatakan kemampuan yang saya miliki
untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat saya harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan terimah kasih yang sebesar-
besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini,
khususnya kepada dosen yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada saya,
sehingga saya dapat menyelesaikan tugas ini dan tak lupa pula saya berikan
banyak terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu saya.

Malang, 26 Maret 2020

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Keperawatan secara holistik akan memandang masalah yang di hadapi
pasien melalui berbagai aspek hidup yaitu biologis, psikologis, sosial, dan
spiritual. Masalah yang di hadapi oleh pasien yang mengalami amputasi tidak
hanya pada upaya memenuhi kebutuhan fisik semata, tetapi lebih dari itu, perawat
berusaha untuk mempertahankan intregitas diri pasien secara utuh, sehingga tidak
menimbulkan komplikasi fisik selama kegiatan intraoperatif, tidak mengakibatkan
gangguan mental, pasien dapat menerima dirinya secara utuh dan diterima dalam
masyarakat (Harnawatia, 2008).
Amputasi merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk
menyelamatkan seluruh tubuh dengan mengorbankan bagian tubuh yang lain.
Terdapat berbagai sebab mengapa dilakukan amputasi. 70% amputasi dilakukan
karena  penyumbatan arteri yang sebagian besar disebabkan oleh diabetes militus,
3% amputasi dilakukan karena adanya trauma, 5% amputasi dilakukan karena
adanya tumor dan 5% lainnya karena cacat kongenital. Kehilangan ekstremitas
atas memberikan masalah yang berbeda bagi pasien dari pada kehilangan
ekstemitas bawah karena ekstremitas atas mempunyai fungsi yang sangat spesial .
Amputansi dapat di anggap sebagai jenis pembedahan rekonstruksi dratis dan di
gunakan untuk menghilangkan gejala memperbaiki fungsi dan menyelamatkan
atau memperbaiki kualitas hidup pasien.
Bila tim perawat kesehatan mampu berkomunikai dengan gaya positif
maka  pasien akan lebih mampu menyesuaikan diri terhadap amputasi dan
berpatisipasi aktif dalam rencana rehabilitas karena kehilangan ekstremitas
memerlukan  penyusuaian besar. Persepsi pasien mengenai amputasi harus di
pahami oleh tim  perawat kesehatan. Pasien harus menyesuaikan diri dengan
adanya perubahan citra diri permanen, yang harus di selaraskan sedemikian rupa
sehingga tidak akan menimbulkan harga diri rendah pada pasien akibat perubahan
citra tubuh.
II. Rumusan Masalah

Bagaimana asuhan keperawatan terhadap klien dengan amputasi ?

III. Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan terhadap klien dengan
amputasi.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar

1. Definisi
Amputasi berasal dari kata “amputare” yang kurang lebih diartikan
“pancung”. Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh
sebagian atau seluruh bagian ekstremitas. Tindakan ini merupakan tindakan yang
dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi
pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan
teknik lain, atau manakala kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh
klien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan
komplikasi infeksi (Daryadi,2012).
Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa sistem
tubuh seperti sistem integumen, sistem persyarafan, sistem muskuloskeletal dan
sisten cardiovaskuler. Labih lanjut ia dapat menimbulkan masalah psikologis  bagi
klien atau keluarga berupa penurunan citra diri dan penurunan produktifitas.
2. Klasifikasi
Berdasarkan pelaksanaan amputasi menurut (Brunner & Suddart 2001),
dibedakan menjadi :
 Amputasi Elektif/Terencana
Amputasi jenis ini dilakukan pada penyakit yang terdiagnosis dan
mendapat  penanganan yang baik serta terpantau secara terus-menerus. Amputasi
dilakukan sebagai salah satu tindakan alternatif terakhir.
 Amputasi Akibat Trauma
Merupakan amputasi yang terjadi sebagai akibat trauma dan tidak
direncanakan. Kegiatan tim kesehatan adalah memperbaiki kondisi lokasi
amputasi serta memperbaiki kondisi umum klien.
 Amputasi Darurat
Kegiatan amputasi dilakukan secara darurat oleh tim kesehatan. Biasanya
merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat seperti pada trauma
dengan patah tulang multiple dan kerusakan/kehilangan kulit yang luas.
Jenis amputasi secara umum menurut (Daryadi, 2012) adalah :
 Amputasi Terbuka
Amputasi terbuka dilakukan pada kondisi infeksi yang berat dimana
pemotongan pada tulang dan otot pada tingkat yang sama.
 Amputasi Tertutup
Amputasi tertutup dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan
dimana dibuat skaif kulit untuk menutup luka yang dibuat dengan memotong
kurang lebih 5cm dibawah potongan otot dan tulang. Setelah dilakukan tindakan
pemotongan, maka kegiatan selanjutnya meliputi perawatan luka
operasi/mencegah terjadinya infeksi, menjaga kekuatan otot/mencegah kontraktur,
mempertahankan intaks jaringan, dan persiapan untuk  penggunaan protese
(mungkin). Berdasarkan pada gambaran prosedur tindakan pada klien yang
mengalami amputasi maka perawat memberikan asuhan keperawatan pada klien
sesuai dengan kompetensinya.
Berdasarkan ekstremitas, amputasi terbagi menjadi 2 jenis yaitu :
 Amputasi ekstremitas bawah
Contohnya yaitu pada amputasi Atas Lutut (AL), Disartikulasi Lutut,
amputasi Bawah Lutut (BL), dan Syme.
 Amputasi ekstremitas atas
Contohnya yaitu pada amputasi Atas Siku (AS) dan Bawah Siku (BS).
Berdasarkan sifat, amputasi terbagi menjadi :
 Amputasi terbuka
Suatu amputasi yang dilakukan untuk infeksi berat, yang meliputi
pemotongan tulang dan jaringan otot pada tingkat yang sama. Pembuluh darah
dikauterisasi dan luka dibiarkan terbuka untuk mengalir.
 Amputasi tertutup
Suatu amputasi yang dilakukan dengan cara menutup luka dengan flap
kulit yang dibuat memotong tulang kira-kira 2inchi lebih pendek daripada kulit
dan otot.
3. Anatomi Fisiologi

Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan


bertanggung jawab terhadap pergerakan. Komponen utama system
musculoskeletal adalah jaringan ikat. Sistem ini terdiri dari tulang, sendi, otot,
tendon, ligament, bursae, dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkan
struktur-struktur ini.
a. Tulang
 Bagian-bagian utama tulang rangka
Tulang rangka orang dewasa terdiri atas 206 tulang. Tulang adalah
jaringan hidup yang akan suplai saraf dan darah. Tulang banyak mengandung
bahan kristalin anorganik (terutama garam-garam kalsium) yang membuat tulang
keras dan kaku, tetapi sepertiga dari bahan tersebut adalah jaringan fibrosa yang
membuatnya kuat dan elastis.
Klasifikasi tulang pada orang dewasa digolongkan pada dua kelompok
yaitu axial skeleton dan appendicular skeleton.
1. Axial Skeleton (80 tulang)
Tengkorak 22 buah tulang
Tulang cranial (8 tulang) Frontal 1
Parietal 2
Occipital 1
Temporal 2
Sphenoid 1
Ethmoid 1
Tulang fasial (13 tulang) Maksila 2
Palatine 2
Zygomatic 2
Lacrimal 2
Nasal 2
Vomer 1
Inferior nasal concha 2
Tulang mandibula (1 tlng) 1
Tulang telinga tengah Malleus 2 6 tulang
Incus 2
Stapes 2
Tulang hyoid 1 tulang
Columna vertebrae Cervical 7 26 tulang
Thorakal 12
Lumbal 5
Sacrum (penyatuan dari
5 tl) 1
Korkigis (penyatuan dr
3-5 tl) 1
Tulang rongga thorax Tulang iga 24 25 tulang
Sternum                           
      1
2. Appendicular Skeleton (126 tulang)
Pectoral girdle Scapula 2 4 tulang
Clavicula 2
Ekstremitas atas Humerus 2 60 tulang
Radius 2
Ulna 2
Carpal 16
Metacarpal 10
Phalanx 28
Pelvic girdle Os coxa  2 (setiap os 2 tulang
coxa terdiri dari
penggabungan 3 tulang)
Ekstremitas bawah Femur 2 60 tulang
Tibia 2
Fibula 2
Patella 2
Tarsal 14
Metatarsal 10
Phalanx 28
Total 206 tulang

Fungsi utama tulang-tulang rangka adalah :


 Sebagai kerangka tubuh, yang menyokong dan memberi bentuk tubuh
 Untuk memberikan suatu system pengungkit yang digerakan oleh kerja
otot-otot yang melekat pada tulang tersebut; sebagai suatu system
pengungkit yang digerakan oleh kerja otot-otot yang melekat padanya.
 Sebagai reservoir kalsium, fosfor, natrium, dan elemen-elemen lain
 Untuk menghasilkan sel-sel darah merah dan putih dan trombosit dalam
sumsum merah tulang tertentu.
 Struktur tulang
Dilihat dari bentuknya tulang dapat dibagi menjadi :
 Tulang panjang ditemukan di ekstremitas
 Tulang pendek terdapat di pergelangan kaki dan tangan
 Tulang pipih pada tengkorak dan iga
 Tulang ireguler (bentuk yang tidak beraturan) pada vertebra, tulang-tulang
wajah, dan rahang.
 Perkembangan dan pertumbuhan tulang
Perkembangan dan pertumbuhan pada tulang panjang tipikal :
 Tulang didahului oleh model kartilago.
 Kolar periosteal dari tulang baru timbul mengelilingi model korpus.
Kartilago dalam korpus ini mengalami kalsifikasi. Sel-sel kartilago mati
dan meninggalkan ruang-ruang.
 Sarang lebah dari kartilago yang berdegenerasi dimasuka oleh sel-sel
pembentuk tulang (osteoblast),oleh pembuluh darah, dan oleh sel-sel
pengikis tulang (osteoklast). Tulang berada dalam lapisan tak teratur
dalam bentuk kartilago.
 Proses osifikasi meluas sepanjang korpus dan juga mulai memisah pada
epifisis yang menghasilkan tiga pusat osifikasi.
 Pertumbuhan memanjang tulang terjadi pada metafisis, lembaran kartilago
yang sehat dan hidup antara pusat osifikasi. Pada metafisis sel-sel
kartilago memisah secara vertical. Pada awalnya setiap sel meghasilkan
kartilago sehat dan meluas mendorong sel-sel yang lebih tua. Kemudian
sel-sel mati. Kemudian semua runag mebesar untuk membentuk lorong-
lorong vertical dalm kartilago yang mengalami degenerasi. Ruang-ruang
ini diisi oleh sel-sel pembentuk tulang.
 Pertumbuhan memanjang berhenti pada masa dewasa ketika epifisis
berfusi dengan korpus.
 Pertumbuhan dan metabolisme tulang dipengaruhi oleh mineral dan
hormon.
b. Sendi
Artikulasi atau sendi adalah tempat pertemuan dua atau lebih tulang.
Tulang-tulang ini dipadukan dengan berbagai cara, misalnya dengan kapsul sendi,
pita fibrosa, ligament, tendon, fasia, atau otot. Sendi diklasifikasikan sesuai
dengan strukturnya.
 Sendi fibrosa (sinartrodial)
Merupakan sendi yang tidak dapat bergerak. Tulang-tulang dihubungkan
oleh serat-serat kolagen yang kuat. Sendi ini biasanya terikat misalnya sutura
tulang tengkorak.
 Sendi kartilaginosa (amfiartrodial)
Permukaan tulang ditutupi oleh lapisan kartilago dan dihubungkan oleh
jaringan fibrosa kuat yang tertanam kedalam kartilago misalnya antara korpus
vertebra dan simfisis pubis. Sendi ini biasanya memungkinkan gerakan sedikit
bebas.
 Sendi synovial (diartrodial)
Sendi ini adalah jenis sendi yang paling umum. Sendi ini biasanya
memungkinkan gerakan yang bebas (mis., lutut, bahu, siku, pergelangan tangan,
dll.) tetapi beberapa sendi sinovial secara relatif tidak bergerak (mis., sendi
sakroiliaka). Sendi ini dibungkus dalam kapsul fibrosa dibatasi dengan membran
sinovial tipis.
c. Otot rangka
Otot (musculus) merupakan suatu organ atau alat yang memungkinkan
tubuh dapat bergerak. Ini adalah suatu sifat penting bagi organisme. Gerak sel
terjadi karena sitoplasma mengubah bentuk. Pada sel – sel, sitoplasma ini
merupakan benang – benang halus yang panjang disebut miofibril. Kalau sel otot
mendapat rangsangan maka miofibril akan memendek. Dengan kata lain sel otot
akan memendekkan dirinya kearah tertentu (berkontraksi).
Ciri-ciri otot yaitu :
 Kontraktilitas
Serabut otot berkontraksi dan menegang, yang dapat atau mungkin juga
tidak melibatkan pemendekan otot. Serabut akan terolongasi karena kontraksi
pada setiap diameter sel berbentuk kubus atau bulat hanya akan menghasilkan
pemendekan yang terbatas.
 Eksitabilitas
Serabut otot akan merespon dengan kuat jika distimulasi oleh implus saraf.
 Ekstensibilitas
Serabut otot memiliki kemampuan untuk meregang melebihi panjang otot
saat relaks.
 Elastilitas
Serabut otot dapat kembali ke ukurannya semula setelah berkontraksi atau
meregang.
4. Etiologi
Indikasi utama bedah amputasi bisa disebabkan oleh :
 Iskemia, karena penyakit reskularisasi perife, biasa nya pada orangtua
seperti pada penyakit artherosklerosis dan diabetes mellitus.
 Trauma, amputasi bisa diakibatkan karena kecelakaan dan thermal injury
seperti terbakar, tumor, infeksi, gangguan metabolisme seperti pagets
disease dan kelaian kongenital.
Faktor predisposisi terjadinya amputasi yaitu :
 Fraktur multiple organ tubuh yang tidak mungkin dapat diperbaiki.
 Kehancuran jaringan kulit yang tidak mungkin diperbaiki.
 Gangguan vaskuler/sirkulasi pada ekstremitas yang berat.
 Infeksi yang berat atau beresiko tinggi menyebar ke anggota tubuh
lainnya.
 Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif.
 Deformitas organ.
5. Patofisiologi
Amputasi di lakukan sebagian kecil sampai dengan sebagian besar dari
tubuh dengan metode :  
 Metode terbuka guilottone amputasi
Metode ini di lakukan pada klien dengan infeksi yang mengembang atau
berat di mana pemotongan di lakukan pada tinggkatyang samabentuknya benar
benar terbuka dan di  pasang drainage agar luka bersih dan luka dapat di tutup
setelah infeksi.
 Metode tertutup
Di lakukan dalam kondisi yang lebih mungkin pada metode ini kulit tepi
ditarik atau di buat skalfuntuk menutupi luka pada atas ujung tulang dan di jahit
pada daerah yang di amputansi.
6. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik yang dapat di temukan pada pasien dengan post operasi
amputasi antara lain :
 Nyeri akut
 Keterbatasan fisik
 Pantom snydrome
 Pasien mengeluhkan adanya perasaan tidak nyaman
 Adanya gangguan citra tubuh mudah marah , cepat tersinggung pasien
cenderung berdiam diri
7. Komplikasi
Komplikasi dari amputasi meliputi perdarahan infeksi dan kerusakan kulit.
Karena adanya pembuluh darah besar yang dipotong dapat terjadi perdarahan
masif. Infeksi merupakan infeksi pada semua pembedahan dengan peredaran
darah buruk atau kontaminasi luka setelah amputasi traomatika resiko infeksi
meningkat peyembuhan luka yang buruk dan iritasi akibat protesis dapat
menyebabkan kerusakan kronik.
8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan dalam penangan pasien dengan
amputasi yaitu
 Tingkatan amputasi
Amputasi dilakukan pada titik paling distal yang masih dapat mencapai
penyembuhan dengan baik. Tempat amputasi ditentukan berdasarkan dua faktor :
peredaran darah pada bagian itu dan kegunaan fungsional misalnya (sesuai
kebutuhan protesis), status peredaran darah eksterimtas dievaluasi melalui
pemerikasaan fisik dan uji tertentu. Perfusi otot dan kulit sangat  penting untuk
penyembuhan. Floemetri dopler penentuhan tekanan darah segmental dan tekanan
persial oksigen perkutan (pa02). Merupakan uji yang sangat berguna angiografi
dilakukan bila refaskulrisasi kemungkinan dapat dilakukan.
Tujuan pembedahan adalah memepertahankan sebanyak mungkin tujuan
ekstrmitas konsisten dengan pembasmian proses penyakit. Mempertahankan lutut
dan siku adalah pilihan yang diinginkan. Hampir pada semua tingkat amputasi
dapat dipasangi prostesis.
Kebutuhan energi dan kebutuhan kardovaskuler yang ditimbulkan akan
menigktkan dan mengunaka kursi roda ke prostesis maka pemantauan
kardivaskuler dan nutrisi yang kuat sangat penting sehingga batas fisiologis dan
kebutuhan dapat seimbang.
 Penatalaksanaan sisa tungkai
Tujuan bedah utama adalah mencapai penyembuhan luka amputasi
menghasilkan sisa tungkai puntung yang tidak nyeri tekan dan kuli yang sehat
untuk pengunaan prostesis, lansia mungkin mengalami keterlambatan
penyembuhan luka karena nutrisi yang buruk dan masalah kesehatan lainnya.
Perawatan pasca amputasi yaitu : 
 Pasang balut steril tonjolan-tonjolan hilang dibalut tekan pemasangan
perban elastis harus hati-hati jangan sampai konstraksi putung di
proksimlnya sehingga distalnya iskemik.
 Meningikan pungtung dengan mengangkat kaki jangan ditahn dengan
bantal sebab dapat menjadikan fleksi kontraktur pada paha dan lutut.
 Luka ditutup drain diangkat setelah 48-72 jam sedangkan putung tetap
dibalut tekan, angkta jahitan hari ke 10 sampai 11.
 Amputasi bawah lutut tidak boleh mengantung dipinggir tempat tidur atau
berbaring atau duduk lama dengan fleksi lutut.
 Amputasi diatas lutut jangan dipadang bantal diantara paha atau
memberikan abdukasi putung, mengatungnya waktu jalan dengan kruk
untuk mencegah kostruktur lutut dan paha.
9. WOC
10. Pemeriksaan Penunjang
Menurut (Daryadi,2012), pemeriksaan diagnostik pada klien Amputasi
meliputi : 
 Foto rongent Untuk mengidentifikasi abnormalitas tulang  
 CT san Mengidentifikasi lesi neoplestik, osteomfelitis, pembentukan
hematoma
 Angiografi dan pemeriksaan aliran darah mengevaluasi perubahan
sirkulasi /  perfusi jaringan dan membantu memperkirakan potensial
penyembuhan  jaringan setelah amputansi
 Kultur luka mengidentifikasi adanya infeksi dan organisme penyebab
 Biopsy mengkonfirmasi diagnosa benigna / maligna
 Led peninggian mengidentifikasi respon inflamasi
 Hitung darah lengkap / deferensial peningian dan perpindahan ke kiri di
duga  proses infeksi
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas Diri Klien
Meliputi tanggal pengkajian, ruangan, nama (inisial), nomor RM, umur,
pekerjaan, agama, jenis kelamin, alamat, tanggal masuk RS, alasan masuk RS,
cara masuk RS, penanggung jawab.
b. Riwayat Kesehatan
 Keluhan Utama
Biasanya pada klien dengan amputasi keluhan utamanya yaitu klien
mengatakan nyeri pada luka, mengalami gangguan pada sirkulasi dan
neurosensori, serta memiliki keterbatasan dalam beraktivitas.
 Riwayat Kesehatan Sekarang
Kita kaji kapan timbul masalah, riwayat trauma, penyebab, gejala (tiba-
tiba/perlahan), lokasi, obat yang diminum, dan cara penanggulangan
 Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji apakah ada kelainan muskuloskeletal (jatuh, infeksi, trauma dan
fraktur), kaji apakah ada riwayat penyakit Diabetes Mellitus, penyakit jantung,
penyakit gagal ginjal dan penyakit paru.
 Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji apakah ada anggota keluarga yang pernah mengalami penyakit yang
sama, kaji apakah ada anggota keluarga yang merokok ataupun menggunakan
obat-obatan.
c. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum Klien
 Tingkat kesadaran : Biasanya Composmentis
 Berat badan : Biasanya normal
 Tinggi badan : Biasanya normal
2. Tanda-Tanda Vital
 TD : Biasanya normal (120/80mmHg)
 Nadi : Biasanya normal
 RR : Biasanya normal (18-24 x/i)
 Suhu : Biasanya normal (36-37 °C)
3. Pemeriksaan Head to Toe
 Kepala
Inspeksi : Bentuk, karakteristik rambut serta kebersihan kepala
Palpasi : Adanya massa, benjolan ataupun lesi
 Mata
Inspeksi : Sklera, conjungtiva, iris, kornea serta reflek pupil dan
tanda-tanda iritasi
 Telinga
Inspeksi : Daun telinga, liang telinga, membran tympani, adanya
serumen serta pendarahan
 Hidung
Inspeksi : Lihat kesimetrisan, membran mukosa, tes penciuman serta
alergi terhadap sesuatu
 Mulut
Inspeksi : Kebersihan mulut, mukosa mulut, lidah, gigi dan tonsil
 Leher
Inspeksi : Kesimetrisan leher, pembesaran kelenjar tyroid dan JVP
Palpasi : Arteri carotis, vena jugularis, kelenjar tyroid, adanya
massa atau benjolan
 Thorax / Paru
Inspeksi : Bentuk thorax, pola nafas dan otot bantu nafas
Palpasi : Vocal remitus
Perkusi : Batas paru kanan dan kiri
Auskutasi : Suara nafas
 Kardiovaskuler
Inspeksi : Ictus cordis
Palpasi : Ictus cordis
Perkusi : Batas jantung kanan dan kiri
Auskultasi : Batas jantung I dan II
 Abdomen
Inspeksi : Asites atau tidak
Palpasi : Adanya massa atau nyeri tekan
Perkusi : Tympani
Auskultasi : Bising usus
 Kulit
Inspeksi : Warna kulit, turgor kulit, adanya jaringan parut atau lesi
dan CRT.
 Ekstremitas
Kaji nyeri, kekuatan dan tonus otot
2. Diagnosa
 Nyeri akut
 Hambatan mobilitas fisik
 Ganguan citra tubuh
3. Intervensi
No Diagnosa NOC NIC
 Pain level  Pain Management
 Pain control comfort  Lakukan
1  Nyeri akut level pengkajian nyeri
Kriteria Hasil : secara
 Mampu mengontrol komprehensif
nyeri  Observasi reaksi
 Mampu mengenali nonverbal dari
nyeri ketidaknyamanan
 Mampu menggunakan  Gunakan teknik
teknik non komunikasi
farmakologi untuk teraupetik
mengurangi nyeri  Evaluasi
 Melaporkan bahwa pengalaman nyeri
nyeri berkurang masa lampau
dengan menggunakan  Ajarkan teknik
manajemen nyeri relaksasi
 Menyatakan rasa  Kolaborasi dengan
nyaman setelah nyeri dokter dalam
berkurang pemberian therapy

 Exchercise Therapy :
Ambulation
2 Hambatan mobilitas  Self care : ADLs  Pantau TTV
fisik  Mobility level sebelum dan
Kriteria Hasil : sesudah latihan
 Klien meningkat  Ajarkan pasien
dalam aktivitas fisik tentang teknik
 Mengierti tujuan dari ambulasi
peningkatan mobilitas  Latih pasien dalam
 Bantu untuk memenuhi
mobilisasi (walker) kebutuhan ADLs
secara mandiri
 Nutrion Management
 Kaji secara verbal
dan non verbal
respon klien
 Body image terhadap tubuhnya
 Self esteem  Jelaskan tentang
Kriteria Hasil : pengobatan,
 Body image positif perawatan,
3. Gangguan citra tubuh  Mampu kemajuan dan
mengidentifikasi prognosis penyakit
kekuatan personal  Dorong klien
 Tidak terjadi mengungkapkan
pengurangan berat perasaannya
badan yang berarti
4. Implementasi

Implementasi merupakan wujud nyata dari rencana keperawatan yang


telah dibuat sebelumnya.
5. Evaluasi

Evaluasi merupakan pengkajian sejauh mana pencapaian dari tindakan


keperawatan yang telah diberikan kepada pasien.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada BAB sebelumnya maka penulis mengambil


kesimpulan bahwa :
Amputasi adalah pengangkatan melalui bedah atau traumatic.
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan post op
amputasi di perlukan proses perawatan yang komprehensif yang meliputi aspei
hio, psiko, sosial, spiritual dengan mengikutkan klien dan keluarga klien di
dalamnya.
B. Saran

Untuk perawat :
Hendaknya setiap memberikan asuhan keperawatan harus di
dokumentasikan dengan baik dan benar untuk mempertanggung jawabkan
keadaan klien setelah dilakukan tindakan keperawatan
DAFTAR PUSTAKA

Huda Amin Nurarif dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis NANDA & NIC NOC. Jogjakarta : Mediaction.
Heather T. Herdman & Shigemi Kamitsuru. 2015. Diagnosis
Keperawatan : Definis & Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10 Terjemahan Indonesia.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
M. Gloria Bulechek, dkk. 2016. Nursing Intervention Classification (NIC).
Singapore : El Sevier.
Moorhead Sue, dkk. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC).
Singapore : El Sevier.