Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

EFEKTIVITAS KEBIJAKAN PENDIDIKAN

DISUSUN OLEH:

NAUFAL KHAIRY

(1806104020077)

DOSEN PEBIMBING:

Dr. NASIR USMAN, M.Pd

UNIVERSITAS SYIAH KUALA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya
tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu
Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya,
baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas akhir dari mata kuliah Landasan
Pendidikan dengan judul “EFEKTIVITAS KEBIJAKAN PENDIDIKAN”.

Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini
nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat
banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada guru
Bahasa Indonesia kami yang telah membimbing dalam menulis makalah ini.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Kediri, 29 Mei 2018

Penulis

v
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................... v

DAFTAR ISI................................................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
A. Judul Buku.......................................................................................... 1
B. Pengarang........................................................................................... 1
C. Tahun Terbit....................................................................................... 1
D. Alasan Pemilihan Buku...................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN................................................................................ 2
A.   Pendidikan Untuk Memberdayakan................................................. 4
B.   Relasi Antara Pendidikan Dan Politik.............................................. 10
C. Konsep Dasar Kebijakan Publik........................................................ 11
D. Kebijakan Pendidikan Di Sekolah..................................................... 14
E. Kebijakan Dalam Implementasi Manajeman Berbasis Sekolah........ 16

BAB IV PENUTUP........................................................................................ 19
A. Kesimpulan......................................................................................... 19
B. Rekomendasi...................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 20

x
BAB I

PENDAHULUAN

A.Judul Buku

            Buku yang di laporkan berjudul “Efektifitas Kebijakan Pendidikan”.Judul


buku ini merupakan salah satu topik kajian dan pengayaan dari perkuliahan analisis
kebijakan pendidikan yang di bina oleh Ibu Dr.Murniati,M.Pd.

B.Pengarang
            Buku” Efektifitas Kebijakan Pendidikan “ ini merupakan karya dari pakar
pendidikan yang di tulis oleh Dr.Syafaruddin,M.Pd.Penulis telah banyak menerima
penghargaan dari hasil makalah yang di persentasinya.dan juga penulis telah menulis
lebih dari 20 buku,jurnal ilmiah dan makalah-makalah koferensi.

C.Tahun Terbit
            Buku “Efektifitas Kebijakan Pendidikan” di terbitkan tahun 2008 oleh PT.
Reneka Cipta,Jakarta.T

D.Alasan Pemilihan Buku


            Alasan dalam menentukan sesuatu merupakan fenomena manusia sebelum
mengambil keputusan,sebab tugas manusia pada dasarnya adalah berfikir dan
mengambil keputusan,agar tidak menjadi sesuatu yang aneh dalam komunikasi
manusia, apalagi sebagai manusia terdidik,maka tugas kemanusiaan manusia tersebut
mendasari mengapa penulis memilih buku ini,alasanya karena:
1.             Buku ini memenuhi persyaratan untuk materi analisis kebijakan
pendidikan,karena gagasan yang di kemukakan penulis secara sistematis
memenuhi tahapan-tahapan dan posedur yanh baku dalam pengembangan dan
pemberdayaan daya piker manusia dan menjadikan manusia sebagai sentral
aktivitas.
2.             Buku ini memeliki struktur yang tepat dalam memberikan informasi
mengenai berbagai masalah sumber daya manusia sehingga di butuhkan baik
oleh lembaga maupun orang-orang untuk mengambil kebijakan.

1
BAB II
PEMBAHASAN

Pelaksanaan sistem pendidikan juga memerlukan kebijakan untuk perubahan


atau peningkatan mutu. Diperlukan kebijakan yang langsung bersentuhan dengan
keperluan peningkatan mutu sekolah karena didalamnya berkenaan dengan proses
pembudayaan. Dengan begitu, eksistensi sekolah sangat strategis dalam kerangka
kelangsungan hidup kebudayaan manusia. Sekolah menjadi pranata social yang
berperan dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang diperlukan untuk
menjadi pelaku dalam proses pembangunan bangsa.
Perubahan sistem pendidikan tidak terelakkan dalam suatu negeri, ada sifat
konstan mendorong persepsi masyarakan dalam hal apa sistem pendidikan harus
membuat perioritas. Karena itu perlu ada perluasan persaepsi masyarakat dalam hal
perubahan dengan terjadinya perubahan situasi ekonomi dan pasar tenaga kerja
Ada tiga alasan utama perlunya perubahan termasuk dalam bidang
pendidikan. Pertama, yaitu: struktur organisasi yang kakuatau sangat mondominsai
pada perusahaan era industri pada masa yang lalu diganti dengan model sistem yang
baru. Kedua. Struktur organisasi yang dibedakan dari keadaan m Desentralisasi
merupakan kebijakan pemberian kewenangan kepada daerah untuk melaksanakan dan
mengurusi keperluan dirinya sendiri.
Desentralisasi pendidikan di Indonesia  setelah otonomidaerah memberikan
peluang untuk lebih cepat mengambil keputusan meningkatkan partisipasi
pelaksanaan pendidikan, dan mengoptimalkan pendayagunaan sumber daya
pendidikan untuk memberdayakan masyarakat. Hal ini merupakan alasan krusial
desentralisasi memberikan manfaat bagi pengembengan sekolah.
Menurut Dalin (1998:22), pada banyak Negara sesungguhnya desentralisasi
diarahkan dengan beberapa alasan, Yaitu :
1.      Produktivitas, dalam banyak kasus dapat dianalisis bahwa peningkatan mutu
kreativitas memainkan peran yang dinyatakan dalam istilah deregulas,
pengembangan manajemen, kebijakan baru dalam personel, pembangunan gedung
sekolah, dan anggaran global yang tercakup dalam fleksibilitas. Hal yang krusial
adalah bahwa fleksibilitas yang besar dapat ditangani dengan menghadapi
tantangan.
2.      Demokratisasi, demokratisasi disini membawa kemudahan pengambilan
keputusan dalam pelayanan masyarakat dan melibatkan langsung para pengguna,
seperti masyarakat memiliki langsung penciptaan rasa, memiliki peningkatan
sekolah dan partisipasi orang tua sebagai warga Negara.
3.      relevansi dan kualitas, teknologi sekolah dan kekayaan pengetauan yang
membentuk dari dasar pengajaran yang baik, tidak aakn terwujud dan menjadi
abstrak sekedar sebagai level keilmuan semata.
 Organisasi sekolah saat ini dirancang dalam lingkaran guru dan pengajaran
disbanding pendekatan berdasarkan pelajaran dan pembelajaran. Ketiga,struktur
organisasi baru berbeda dari yang saat ini, menggunakan kemampuan teknologi baru

2
diperoleh untuk memudahkan peningkatan semakin luas dalam dalam semua prosedur
pengajaran, penguasaan informasi dan metode pembelajaran.
Suatu kebijakan tidak boleh dibiarkan begitu saja setelah dilaksanakan. Begitu
pelaksanaan kebijakan berlangsung, selanjudnya perlu diperiksa. Sebagai proses
manajemen, pengawasan adalah keharusan dan diperlukan sebagai pemantauan atau
evaluasi kebijakan. Evaluasi kebijakan publik dilaksanakan sebagai proses untuk
mengetahui sejauh mana keefektivan kebijakan public guna dipertanggung
jawabkankepada semua pihak terkait. Dengan kata lain, sejauh mana kebijakan
tersebut dicapai. Disisi lain, evaluasi dipergunakan untuk mengetahui kesenjangan
antara harapan dan tujuan dengan kenyataan yang dicapai (Dwijowijoto, 2003:154).
Proses komunikasi yang efektif diperlukan dalam kerangka pelaksanaan
kebijakan, itu artinya pemimpin harus mengomunikasikan kepada bidang yang
bertanggung jawab dan melaksanakan kebijakan supaya mereka memahami kebijakan
yang menjadi tanggungjawabnya. Perlu disampaikan kepada personalia yang tepat,
kebijakan yang jelas, akurat dan konsisten. Jadi komunikasi yang dimaksudkan
sebagai prakondisi sebelum kebijakan dilaksanakan. Karena itu kewenangan harus
diberikan kepada pelaksana dan perlu pula diberikan ruang kreatifitas dan adaptasinya
dalam pelaksanaan kebijakan. Jadi tidak semuanya rinci kerena pemberdayaan
personel dalam pelaksanaan kebijakan juga diperlukan setiap organisasi. 
Betapapun jelasnya proses komunikasi kebijakan kepada pelaksanakebijakan
dan betapapun perintah dan kewenangan sudah diberikan, tetapi kalau sumberdaya
yang tersedia tidak mendukung hal ini dapat menghambat kebijaksanaan kebijakan.
Adapun pentingnya masalah sumber daya ini mencakup; jumlah staf yang tepat,
keahlian yang diperlukan, informaasi yang relevan tentang cara melaksanakan
kebijakan dan berbagai penyesuaian lainnya. Jika sumber daya tidak cukup, bersrti
kebijakan tidak akan terelaksanakarena prosedur kerja, kegiatan yang ditetapkan tidak
dapat dibumikandalam memenuhi tujuan dan harapan atau pelanggan.
Setiap organisasi dalam aktivitasnya menggunakan menajemen. Organisasi
merupakan wadah bagi berjalannya fungsi manajemen oleh para menajer atau
pimpinan. Karena itu dalam proses manajemen dibuat rencana, ditetapkan
pelaksanaan kegiatan, dibagi tugas-tugas kapada semua personel, diberikan imbalan
kepada pegawai sesuai tugas dan tanggung jawabnya, diberikan tanggung jaawab dan
diawasi serta dievaluasi hasil yang dicapai.
Dalam konteks sekolah, proses pendidikan merupakan upaya
memperoleh output maupun outcome yang berasal dari input pendidikan. Dalam
lingkup sekolah proses yang dimaksud dapat berupa pengambilan keputusan,
mengelola institusi sekolah, rencana-rencana sekolah, memotivasi personel sekolah
baik edukatif maupun nonedukatif seperti tenaga admistrasi dan lain-lain, berkerja
sama menyelesaikan tugas-tugas institusi, belajar mengajar di kelas maupun di
laboratorium, perpustakaan maupun belajar diluar sekolah baik intra kurikuler
maupun ekstra kurikuler, pembinaan upaya perbaikan proses belajar-mengajar atau
supervise, monitoring, maupun evaluasi belajar-mengajar.

3
Manajemen pendidikan merupakan proses penerapan prinsip dan tiori manajemen
dalam pengelolaan kegiatan di lembaga pendidikan formal untuk mengefektifkan
pencapaian tujuan pendidikan.

A.  PENDIDIKAN UNTUK MEMBERDAYAKAN

Saat ini fenomena industrialisasi merasuki sebagian besar dunia ketiga. Bahkan
telah terjadi pergeseran yang bersifat inperatif, dari era industri keera informasi. Hal
tersebut khususnya terjadi pada industri baru di Asia, sebagaimana yang terjadi di
jepang, korea selatan, hongkong dan singapura., justru lebih banyak muncul yang
signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. Kemajuan industri begitu cepat. Stabilitas
penduduk terjamin, ekonomi dan transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi turut
mempercepat kemajuan masyarakat. Tidak terkecuali kemajuan itu didukung sistem
kebijakan pendidikan yang mencerdaskan dan mensejahterakan rakyat. Kemudian
pendidikan juga memperoleh dampak kontruktif dan percepatan pertumbuhan
ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis kepada pendidikan yang
memberdayakan.
Hanya dengan pendidikan yang baik, setiap orang akan mengetahui  hak dan
tanggung jawab sebagai individu, anggota masyarakat dan sebagai makhluk Tuhan.
Oleh karena itu, pendidikan merupakan hal yang fundamental dalam totalitas
kehidupan manusia. Pendidikan bertujuan untuk membangun generasi muda
mengembangkan semua unsur potensi pribadinya baik spritulitas, moralitas, sosialitas,
rasa, maupun rasionalitas. Jadi, pendidikan merupakan hak setiap pribadi yang
memungkinkan dirinya akan menjadi manusia yang berkepribadian paripurna
ditengah derasnya arus perubahan zaman.
Buchori (1994:33) menjelaskan bahwa hal yang krusial dilakukan ditengah
perubahan zaman yang imperative adalah mendesain relevansi pendidikan nasional
supaya lebih dinamis, responsive, dan antisipatif. Ada tiga kemampuan yang dituntut
terhadap pendidikan nasional, Yaiut:
1.     kemampuan untuk mengetahui pola-pola perubahan dan kecenderungan yang
sedang berjalan,
2. kemampuan untuk menyusun gambaran tentang dampak yang akan ditimbulkan
oleh kecenderungan-kecenderungan yang sedang berjalan, dan
3.     kemampuan untuk menyusun program-program penyesuaian diri yang akan
ditempuhnya dalam jangka waktu tertentu atau dalam jangka waktu lima tahun.

1. Meretes  jalan menuju perubahan

Pelaksanaan sistem pendidikan juga memerlukan kebijakan untuk perubahan


atau peningkatan mutu. Diperlukan kebijakan yang langsung bersentuhan dengan
keperluan peningkatan mutu sekolah karena didalamnya berkenaan dengan proses
pembudayaan. Dengan begitu, eksistensi sekolah sangat strategis dalam kerangka
kelangsungan hidup kebudayaan manusia. Sekolah menjadi pranata sosial yang
berperan dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang diperlukan untuk
4
menjadi pelaku dalam proses pembangunan bangsa. Untuk itu, peranan pendidikan
harus terus ditingkatkan sejalan dengan semakin besarnya tantangan yang dihadapi
setiap sekolah dalam era globalisasi abad ke-21. bahkan dalam era otonomi saat ini.
Tantangan dalam bidang manajemen berbasis sekolah (MBS), Kurikuklum berbasis
Kompetensi (KBK), pendidikan berbasis masyarakat, sertifikaasi guru untuk
memberdayakan tenaga kependidikan, dan teknologi pembelajaran yang up to
date memerlukan kebijakan pendidikan yang akurat dalam era desentralisasi saat ini,
dan kebijakan pendidikan juga harus berkelanjutan..
Otonomi daerah merupakan reformasi politik yang menjajikan banyak
perubahan. Setelah memasuki rentang waktu yang dasawarsa pertama, otonomi
daerah telah melahirkan banyak harapan. Tetapi juga banyak tantangn yang muncul
kepermukaan. Ada pula berbagai perubahan muncul memuka. Persoalan sumber daya
kependidikan, pembiayaan pendidikan, standarisasi kurikulum, bahkan utamanya
masalah peratuaran dan perundang-undangan kependidikan. Desentralisai pendidikan
menjadi salah satu pilihan pemerintah Indonesia setelah era reformasi. Begitupun,
faktanya bahwa penelitian para pakar menunjukkan pendidikan nasional masih kurang
berhasil dari berbagai faktor masukan, proses, dan keluaran. Pada saat yang sama
pengaruh globalisasi pendidikan menjadi tantangan.

Perlu dicermati pendapat Buchori (1994:47) bahwa tugas pendidikan nasional


bukan hanya mempersiapkan bangsa untuk hidup dalam masyarakat yang dilanda
perubahan. Tetapi juga merubah dan memperbaiki masyarakan untuk mengendalikan
perubahan. Karena itu menurutnya, dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang merakyat, ada dua kelompok pilihan yang dihadapi sistem pendidikan
nasional, Yaitu:
1.   Pilihan jenis teknologi yang akan dikembangkan bagi kepentingan rakyat: “height
technology”, “low technology” atau “Mixed technology”.
2.   Sambutan yang sebaiknya diberikan dalam menghadapi masa depan teknologi
yang mempertahankan struktur pendidikan yang ada dan mengabaikan
perubahan teknologi yang sedang berjalan, menyesuaikan struktur pendidikan
yang ada dengan tuntutan teknologis atau mengubah struktur pendidikan yang
ada dan mengembangkan struktur yang baru yang bersifat lentur (flexible) serta
melaksanakan dengan segera peubahan kebijaksanaan yang diambil.
Para penyelenggara pendidikan harus konsiten dengan kebijakan-kebijakan
pendidikan yang telah ditetapkan. Setidaknya, dengan UU Nomor 20 Tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional, penyelenggara pendidikan tetap konsisten pada
pencerdasan kehidupan bangsa, bukan sebaliknya menciptakan pembodohan rakyat.
Jika pembodohan yang terus terjadi maka pada gilirannya, kemiskinan structural akan
tetap menggurita dalam masyarakat.
Pendidikan yang memberdayakan adalah proses memanusiakan anak sehingga
potensinya menjadi actual dalam kematangan dan kemandirian hidupnya. Suatu
proses yang mampu memenuhi pendidikan anak sebagai kebutuhan dasar (Basic need)
bagi setiap warga Negara. Hanya dengan pendidikan yang baik, setiap orang akan
mengetahui hak dan tanggung jawabnya sebagai individu, anggota masyarakat dan
5
sebagai makhluk tuhan. Dengan kata lain, sejak pendidikan usia dini, sekolah dasar,
menengah sampai perguruan tinggi merupakan hal yang fundamental dan totalitas
kehidupan manusia. Bukankah pendidikan bertujuan untuk membantu generasi muda
menjadi manusia yang berkembang semua unsure kemanusian? Pembinaan terpadu
terhadap fisik, spiritualitas, moralitas, sosialitas, emosi maupun rasionalitas
merupakan hal yang diharap kan. Tegasnya, pendidikan merupakan hak setiap pribadi
yang memungkinkan dirinya menjadi manusia berkepribadian yang sempurna. Pada
gilirannya, pendidikan adalah kunci pembangunan berkelanjutan, perdamaian dan
stabilitas pada berbagai Negara. Idealisme ini sangat diperlukan dan bermakna bagi
pertisipasi efektif dalam pembangunan budaya masyarakat yang berbasis
kemanusiaan pada abad ke-21. Sesungguhnya dapat ditengok secara cermat dengan
ditetapkannya UU nomor 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen. Kebijakan ini
dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan profesionalisme guru serta meningkatkan
kualitas hidup ekonomi para guru dan dosen sebagai pendidik. Undang-undang
tersebut telah menggariskan upaya-upaya untuk meningkatkan profesi guru sehingga
dapat direkrut putra-putra terbaik bangsa untuk menjadi profesi yang sangat dihormati
itu yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan pemerintah juga telah
mengeluarkan PP Nomor 19 Tahun 2005 mengenai Standarisasi Pendidikan nasional
dan undang-undang baru dimaksud menjadi paying menjadi reformasi pendidikan
nasional. Namun demikian pemerintah harus lebih cermat mengeluarkan banyak
keputusan dan kebijaka, serta peraturan pemerintah untuk menjabarkan UU dan PP
terkait dengan kesiapan daerah dalam menyelenggarakan otonomi pendidikan sesuia
dengan UU nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.

2. Kebijakan Standarisasi Pendidikan

Perubahan merupakan suatu keniscayaan. Karena itu, setiap bangsa yang ingin
tetap eksis dan berkembang untuk mampu mengantisipasi setiap perubahan dan
perkembangan politik, ekonomi, pendidikan, social dan budaya. Abad ke-21 telah
memunculkan persaingan dan perdagangan bebas yang merasuki seluruh sistem
kehidupan bangsa. Bahkan pendidikan mengalami pergeseran nilai dalam tataran
pertarungan idealisme versus realisme, dan rasionalisme versus eksistensialisme.
Perubahan pendidikan dengan berbagai karakteristiknya termasuk hal yang disukai
dalam pendidikan ketimbang keadaan yang stabil. Lazimnya orang-orang akan
mendorong munculnya perubahan sebab meraka tidak puas denga keadaan yang ada.
Dengan mendorong pelaksanaan perubahan, mereka akan memperoleh kepuasan.
Meskipun banyak disadari bahwa hal-hal yang berkaitan perubahan adalah masalah
masa depan sehingga hampir tidak bisa dipastikan
Perubahan sistem pendidikan tidak terelakkan dalam suatu negeri, ada sifat
konstan mendorong persepsi masyarakan dalam hal apa sistem pendidikan harus
membuat perioritas. Karena itu perlu ada perluasan persaepsi masyarakat dalam hal
perubahan dengan terjadinya perubahan situasi ekonomi dan pasar tenaga kerja
Ada tiga alasan utama perlunya perubahan termasuk dalam bidang
pendidikan. Pertama, yaitu: struktur organisasi yang kakuatau sangat mondominsai
6
pada perusahaan era industri pada masa yang lalu diganti dengan model sistem yang
baru. Kedua. Struktur organisasi yang dibedakan dari keadaan masa kini. Organisasi
sekolah saat ini dirancang dalam lingkaran guru dan pengajaran disbanding
pendekatan berdasarkan pelajaran dan pembelajaran. Ketiga,struktur organisasi baru
berbeda dari yang saat ini, menggunakan kemampuan teknologi baru diperoleh untuk
memudahkan peningkatan semakin luas dalam dalam semua prosedur pengajaran,
penguasaan informasi dan metode pembelajaran.
 
a.Standarisasi Pendidikan
Dalam dinamuka kehidupan bangsa-bangsa pada abad ke-21, persoalan standar
produk dan pelayanan semakin mengemuka sehingga menuntut respon setiap bangsa.
Lahirnya standarisasi bermula dari dunia industri sebagai kebutuhan organisasi.
Tujuannnya adalah memudahkan proses produksi, distribusi dan layanan penjualan.
Faktanya telah muncul kesepakatan internasional dalam kerangka standar mutu
dengan istilah International Standardization organization (ISO). Semua bidang
industri dan perdagangan, bahkan bidang jasa mulai menerapkan ISO sesuai dengan
tuntutan dan wilayah cakupan industri, perdagangan, dan jasa yang dilaksanakan.
Arcaro (1999) menyebutkan mutu adalah sebuah proses terstruktur untuk
memperbaiki keluaran yang dihasilkan. Everard (2004:193) menyimpulkan bahwa
mutu (Quality) semula dipahami sebagai keunggulan (excellence) sekitar tahun 1980-
an, dengan alasan yang cocok dengan tujuan. Selanjutnya berkembang secara umum
dapat diterima bahwa mutu adalah mencapai apa yang diharapakan pelanggan.
Disadari bahwa standarisasi pendidikan perlu dengan memenuhi syarat-syarat,
diantaranya;
1.            Standar yang akan dilaksanakan merefleksi kebijakan (wisdom) dari orang
tua dan guru
2.            Penyusunan dan penetapan standar isi atau kurikulum haruslah secara hati-
hati
3.            Standar yang telah ditentukan hendaknya dapat dilaksanakan oleh guru yang
professional
4.       Kemajuan akademik disekolah tidak dapat semata-mata diukur melauli tes akhir
atau ujian akhir
5.          Standar haruslah memberikan kesempatan yang sama untuk semua peserta
didik.

b.Menghindari kegagalan dalam pendidikan.


Menyikapai standarisasi pendidikan, perlu ada kebijakan standarisasi.
Meminjam pendapat Tilaar (2006) dengan mengacu kepada Reevers (2000),
disimpulkan bahwa nilai positif standarisasi yaitu;
a)      Standarisasi adalah tuntutan politik. Indonesia merupakan Negara kesatuan
yang memerlukan patokan (yardstick) untuk menilai sejauh mana warga Negara
Indonesia sudah memiliki visi yang sama baik pengetahuan, ketrampilan, saikap
dan kemampuan untuk mengembangkan NKRI.
7
b)            Standarisasi pendidikan nasional merupakan tuntutan globalisasi. Saat ini,
bangsa Indonesia hidup di perkampungan global (globa village) terjadi
persaingan yang begitu ketat untuk berkerja sama, maka warga Negara
Indonesia perlu meningkatkan diri dalam persaingan global. Agar bangsa ini
dapat mandiri dan mampu berkerja sama antar bangsa, maka standar SDM
lulusan pendidikan juga harus unggul.
c)            Standarisasi pendidikan nasional merupakan tuntuttan Zaman. Setiap
bangsa, termasuk bangsa Indonesia menginginkan Negara ini maju.

Faktor khusus penyebab kegagalan pendidikan lebih mengacu kepda prosedur


dan aturan yang tidak diikuti dengan baik, karena masalah komunikasi dan
kesalahpahaman. Tegasnya, para staf dan guru yang tidak memiliki ketrampilan,
pengetahuan, dan sikap yang diperlukan untuk menjadi guru atau kepala sekolah. Itu
artinya, penyebab khusus ini lebih menekankan adanya kurang pengetahuan dan
ketrampilan dari para anggota staf, kurang motivasi, kegagalan komunikasi atau
problem khusus berkaitan dengan setiap perlengkapan pelaksanaan pendidikan.  

c. Kebijakan Setifikasi Guru


Sertifikasi semula dikenal dalam dunia industri barang. Namun belakangan,
sertifikasi sudah menembus industri jasa dalam berbagai kehidupan. Termasuk
memasuki atmosfer pendidikan nasional. Sertifikasi sebenarnya sah-sah saja, kalau
dijalankan untuk tujuan menjamin mutu para guru sehingga profesionalisasi guru
dapat berjalan dengan baik.
Nilai yang muncul dalam kerangka sertifikasi adalah penjaminan mutu yang
berlangsung secara berkelanjutan bagi guru dan dosen. Konteks diatas memberikan
pengertian lebih dalam bahwa sertifikasi guru adalah proses pemberian pengakuan
bahwa seorang guru telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan tugas
professional dalam mengajar atau layanan pendidikan dalam jenjang pendidikan
tertentu setelah melalui uji kompetensi yang dilaksanakan lembaga sertifikasi.

d. Memfasilitasi Perubahan Pendidikan


Perubahan adalah suatu keniscayaan. Perubahan mengikut kepada hukum Tuhan
yang ada di ala mini. Begitupun, istilah “innovasi” dan “perubahan organisasi”
merupakan kata-kata yang menarik dalam manajemen dalan tiga dasa warsa
belakangan. Para pimpinan bisnis dan politik dalam menenangkan persaingan selalu
menggunakan istilah inovasi atau perubahan radikal sebagai jargon perjuangannya.
Dalam konteks pendidikan nasional merancang bagaimana supaya perubahan
berhasil.
King dan Anderson (1995:2) menjelaskan ciri inovasi mencakup:

            Suatu inovasi adalah hasil yang dapat dilihat, proses atau hasil dalam satu
organisasi. Suatu gagasn baru yang memiliki titik permulaan bagi suatu inovasi.
            Suatu inovasi harus merupakan suatu latar social baru yang diperkenalkan
terhadap kelompok kerj, badang atau seluruh organisasi
8
            Suatu inovasi harus bertujuan bukan sekedar bersifat sesaat. Jika suatu
pabrik mengurangi produksinya hal itu karena akan mempengaruhi terhadap
peralatan, staf dan bukan merupakansuatu inovasi.
            Suatu inovasi bukan perubahan ruti. Perjanjian dengan anggota staf baru
yang berpindah atau diberhentikan, tidak berkenan dengan perubahan atau
inovasi.

e.  Manajemen Dan Perubahan Pendidikan


Tantangan utama bagi manajemen abad ke-21 adalah bagaimana menjadi suatu
organisasi sebagai pemimpin perubahan. Pemimpin perubahan memandang perubahan
sebagai peluang. Pimpinan perubahan memandang perubahan dengan mengetahui
bagaimana memperoleh kebenaran tentang perubahan dan mengetahui bagaimana
membuat perubahan organisasi menjadi efektif didalam dan diluar organisasi.
Menurut Drucker (1999:73) diperlukan beberapa persyaratan untuk meraih
keberhasilan, yaitu;
1.      kebijakan untuk membuat masa depan,
2.      Metode sistematik untuk memahami dan mengantisipasi perubahan
3.      cara yang benar memperkenalkan perubahan didalam dan keluar organisasi
4.      kebijakan untuk membuat keseimbangan dan kelanjutannya.
Hampir setiap hari, perubahan terus terjadi dalam organisasi setidaknya organisasi
dimulai dengan tumbuh, terus berkembang namun ada yang tumbuh langsung layu
karena tidak mampu bertahan digoncang berbagai rintangan dan tantangan. Akibat
berbagai perubahan eksternal, sebagian dari organisasi, khususnya bisnis ada yang
melakukan merger, diambil alih, pencerahan usaha, pembaruan, bahkan ada yang
memberhentikan pegawai atau berbagai cara pengurangan staf. Untuk menangkap
dengan baik persaingan usaha yang dihadapi organisasi maka manajer senior harus
mengambil langkah inovasi dengan memperkenalkan manajemen mutu teroadu (total
quality management), membentuk tim kerja dari dalam, pengajian berbasis
ketrampilan, rekayasa ulang bisnis untuk perubahan signifikan.
Rothwell, et. Al. (1995:177) menjelaskan ada beberpa faktor esensisal bagi
keberhasilan perencanaan aksi, yaitu:
1. Melibatkan stakeholders kunci dalam proses perencanaan
2. mengevaluasi data yang relevan,
3. menyepakati apa yang diubah atau yang ditingkatkannya,
4. mengembangkan strategi perubahan,
5. mengembangkan sistem pemantauan dan mengelola proses perubahan,
6. menegaskan peran perbahan.

1.      Perubahan Pendidikan
Setelah memasuki setengah dasawarsa era ekonomi daerah ternyata
desentralisasi pendidikan memberi peluang otonomi lebih luas kepada kepala sekolah
sehingga semakin dirasakan banyak manfaatnya untuk membuat kebijakan
pengembangan sekolah. Hal itu untuk mempercepat kemajuan masyarakat karena saat

9
ini masyarakat membutuhkan banyak sekolah yang benar-benar berkualitas dalam
bidang manajeman, program pengajaran, iklim, dan kepemimpinan sekolah.
Pengembangan sekolah berarti melakukan perubahan kearah yang lebih baik.
Tentu saja, perubahan yang dimaksud adalah berkaitan dengan kualitas sekolah.
Perubahan adalah bergerak dari keadaan yang tetap. Itu artinya bergerak menuju
sasaran, pernyataan ideal atau visi apa yang seharusnya, dan cara bergerak dari
kondisi masa kini, kepercayaan, atau sikap (Williem J, ed., et. Al.,1995:9).

B.  RELASI ANTARA PENDIDIKAN DAN POLITIK

1.Pendidikan dan Politik


Pendidikan dan politik termasuk bidang kajian yang melibatkan banyak bidang
ilmu sosial.kedua, bidang saling membutukkan dalam mewujukkan cita-cita
masyarakat demokratis,adil,maju,sejahtera,dan cerdas.
Dalam tataran penataan sistem pendidikan,ternyata kontribusi politik sangat
signifikan dalam merumuskan undang-undang dan peraturan bidang pendidikan untuk
memenuhi amanat kemerdekaan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.lembaga
eksekutif dan legislatip menggunakan kekuasaan politik untuk membuat dan
menetapkan anggaran pembiayaan pendidikan nasional.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Dengan fungsi yang dimaksud,
semua aktivitas institusi pendidikan nasional bermuara pada pencapaian tujuan
mencerdaskan kehidupan bangsa, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri sebagai warga Negara
demokratis dan bertanggung jawab  (UU Nomor 20 Tahun 2003 )
Dalam teori sistem nasional, politik dan pendidikan berada dalam satu sistem yang
saling berhubungan dekat. Apalagi dari kiprahnya, para pendidik selalu memelihara
politik karena proses kontribusi terhadap politik. Pendidik memberikan kontribusi
signifikasi terhadap politik, terutama stabilisasi dan transformasi sistem politik
(Thomsom, 1976:1)

2.Pengaruh Masyarakat dan Pembuatan Kebijakan


Fungsi sistem politik dalam suatu masyarakat adalah untuk membuat pilihan
antara  dari keperluan yang bertentangan sebagai mana dibuat individu dan kelompok
serta untuk memelihara sistem sosial berdasarkan pilihan-pilihan. Ada pengakuan
betapa pentingnya orang yang membuat kebijakan publik. Hal ini merupakan bagian
dari proses demokrasi pemerintahan mencakup kebijakan untuk sekolah-sekolah.
Keyakinan ini sudah terlembagakan dalam sejumlah cara, dengan adanya periode
pemilihan penjabat publik yang memerlukan rekomendasi dari kelompok berpengaruh
dalam masyarakat. Karena itu, pengaruh masyarakat dalam pendidikan tentu saja

10
merupakan pelaksanaan sistem sosial dan sistem pemerintahan yang menerima
aspirasi, harapan dan keyakinan dalam masyarakat demokratis.
Dengan demikian, mainstream pengaruh masyarakat dalam pembuatan kebijakan
publik berkenaan dengan partisipasi masyarakat dari berbagai kelompok dalam
memenuhi kebutuhan melalui kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Baik
pemerintah daerah yang mungkin  memiliki otonomi bidang pendidikan, atau
sebagian kebijakan yang masih ditentukan oleh pemerintah pusat.

3. Desentralisasi dan Peluang Sekolah


Desentralisasi merupakan kebijakan pemberian kewenangan kepada daerah untuk
melaksanakan dan mengurusi keperluan dirinya sendiri. Desentralisasi pendidikan di
Indonesia  setelah otonomi daerah memberikan peluang untuk lebih cepat mengambil
keputusan meningkatkan partisipasi pelaksanaan pendidikan, dan mengoptimalkan
pendayagunaan sumber daya pendidikan untuk memberdayakan masyarakat. Hal ini
merupakan alasan krusial desentralisasi memberikan manfaat bagi pengembangan
sekolah.
Menurut Dalin (1998:22), pada banyak Negara sesungguhnya desentralisasi
diarahkan dengan beberapa alasan, Yaitu:
1.      Produktivitas, dalam banyak kasus dapat dianalisis bahwa peningkatan mutu
kreativitas memainkan peran yang dinyatakan dalam istilah deregulas,
pengembangan manajemen, kebijakan baru dalam personel, pembangunan gedung
sekolah, dan anggaran global yang tercakup dalam fleksibilitas. Hal yang krusial
adalah bahwa fleksibilitas yang besar dapat ditangani dengan menghadapi
tantangan.
2.      Demokratisasi, demokratisasi di sini membawa kemudahan pengambilan
keputusan dalam pelayanan masyarakat dan melibatkan langsung para pengguna,
seperti masyarakat memiliki langsung penciptaan rasa, memiliki peningkatan
sekolah dan partisipasi orang tua sebagai warga Negara.
3.     relevansi dan kualitas, teknologi sekolah dan kekayaan pengetahuan yang
membentuk dari dasar pengajaran yang baik, tidak akan terwujud dan menjadi
abstrak sekedar sebagai level keilmuan semata.

C. KONSEP DASAR KEBIJAKAN PUBLIK

a.  Pengertian kebijakan publik                   


Menurut Gamage dan Pang (2003:171), “kebijakan adalah terdiri dari
pernyataan tentang sasaran dan satu atau lebih pedoman yang luas untuk mencapai
sasaran tersebut sehingga dapat dicapai yang dilaksanakan bersama dan memberikan
kerangka kerja bagi pelaksanaan program”.
Menurut Nichlos (1977:8), “kebijakan adalah sesuatu keputusan yang dipikirkan
secara matang dan hati-hati oleh pengambilan keputusan puncak dan bukan kegiatan-
kegiatan berulang dan rutin yang terpogram atau terkait dengan aturan-aturan
keputusan”.
11
b. Fungsi dan Jenjang Kebijakan.
Faktor yang menentukan perubahan, pengembangan atau strukturisasi organisasi
adalah terlaksananya kebijakan organisasi sehingga dapat dirasakan bahwa kebijakan
tersebut benar- benar berfungsi dengan baik.
Berkaitan dengan masalah ini, kebijakan dipandang sebagai:
-         Pedoman untuk bertindak,
-          Pembatas perilaku
-         Bantuan bagi pengambilan keputusan (Pongtuluran, 1995:7).

c. Pendekatan dan model Kebijakan.


Ada tiga pendekatan yang sering digunakan para manejer dalam praktik
pengelolaan organisasi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Linblom, Yaitu:
-         Pendekatan analisis, yaitu suatu proses membuat kebijakan yang
didasarkan kepada pengambilan keputusan tentang masalah dan beberapa
pilihan kebijakan alternative atas dasar hasil analisis.
-         Pendekatan politik, yaitu pembuatan kebijakan atau dasar pengambilan
keputusan tentang pilihan kebijakan dengan pengaruh kekuasaan, tekanan
dan kendali pihak lain,
-         Pendekatan analisis dan politik, yaitu pendekatan ini digunakan untuk
mengatasi kelemahan yang ada pada pendekatan analisis dan pendekatan
politik.
Berkaitan dengan model, dikemukakan oleh Dror dan Isk\lamy (1988:18) bahwa
ada tujuh model kebijakan, Yaitu:
a)      Model rasional murni, yaitu model yang mengembangkan kebijakan secara
rasional
b)      Model Ekonomi, yaitu model yang mengembangkan kebijakan berdasarkan
pertimbangan faktor ekonomi
c)      Model keputusan berurutan, yaitu kebijakan yang mendasari pengambilan
keputusan atas dasar beberapa kebijakan alternative yang diperoleh dari
eksperimen,
d)      Model incremental, yaitu model yang menggunakan pendekatan pengambilan
kebijakan atas dasar perubahan sedikit demi sedikit,
e)      Model memuaskan, yaitu model yang mendasarkan keputusan atas dasar
kebijakan alternative yang paling memuaskan tanpa menilai kritis alternative lain,
f)        Model ekstra rasional, yaitu model yang mendasarkan pengambilan kebijkan
atas dasar dan pertimbangan secara rasional.
g)      Model optimal, yaitu model yang mendasarkan pengambilan keputusan atas
dasar gabungan berbagai metode secara terpadu untuk menghasilkan kebijakan
yang optimal dan dapat diterima oleh semua pihak.
d. Tahapan kebijakan 12

1.            Formulasi Kebijakan

Formulasi kebijakan mengandung beberapa isi penting yang dijadikan sebagai


pedoman tindakan sesuai yang direncanakan. Adapun isi kebijakan mencakup;
1.      kepentingan yang terpengaruh oleh kebijakan
2.      jenis manfaat yang akan dihasilkan
3.      derajat perubahan yang diinginkan
4.      kedudukan pembuat kebijakan
5.      (siapa) pelaksana  program
Dalam konteks implementasinya maka kebijakan berisikan:
1. kekuasaan, kepentingan, dan strategi pelaksanaan yang terlibat
2. karakteristik lembaga penguasa
3. kepatuhan dan daya tanggap
4. dalam konteks bisnis, formulasi kebijakan dapat diwujudkan dalam berbagai
bentuk bidang keputusan dan alternatif keperluan.

2.      Implementasi Kebijakan
Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara yang dilaksanakan agar
sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya. (Dwijowijoto, 2003:158) dijelas oleh
Putt dan Sprinnger (1989:45) implementasi kebijakan adalah serangkaian aktivitas
dan keputusan yang memudahkan pernyataan kebijakan dalam formasi terwujudnya
kedalam praktik organisasi.

3.      Disposisi
Disposisi atau sikap disini dimaksudkan adalah sikap pelaksanaan kebijakan.
Hal ini terkait dengan adanya sikap yang kuat bagi pelaksana yang memiliki kapasitas
dalam melaksanakan kebijakan. Itu artinya, para pelaksana kebijakan yang diterapkan
dengan kemampuannya memang harus terdorong dengan sepenuh hati atau memiliki
komitmen melaksanakan kebijakan dimaksud. Disini diperlukan keseimbangan
pandangan bahwa kebijakan dilaksanakan memenuhi tujuan pribadi dan tujuan
organisasi sehingga kebijakan menyentuh harapan yang sejati adalah mencapai tujuan.

4.      Struktur Birokrasi
Bila pelaksana sudah tahu apa yang akan dikerjakan karena dikomunikasikan
dan mau melaksanakannya, namun pelaksanaan kebijakan kadang terhambat karena
struktur birokrasi. Disini sering kali masalah koordinasi menjadi faktor struktur
birokrasi yang dapat menghambat pelaksanaan kebijakan. Karena dalam pelaksanaan
kebijakan melibatkan banyak orang, bidang dan lingkungan yang dapat
mempengaruhi kelancaran dan keberhasilan kebijakan.
5.      Monitoring Program 13
Monitoring program mencakup pengumpulan data secara sistematik dan
berkelanjutan atau aktivitas program, informasi itu mencakup dua jenis utama yaitu:
a.             Masukan adalah sumber daya yang dibutuhkan oleh pelaksanaan aktifitas.
Anggaran biaya dan waktu merupakan masukan dasar pelayanan sehingga
pengukuran efesiensi.
b.            Hasil dan produk dari aktivitas program. Sejumlah kasus proses, jumlah
hambatan, jumlah hambatan pernyataan kalimat, dan keempat adalah contoh
ukuran hasil pelayanan sebagai indikator efektivitas.

6.      Evaluasi Pengaruh
Evaluasi pengaruh dilaksanakan untuk menentukan tingkatan pencapaian
kebijakan yang sesuai sebagaimana yang dimaksudkan dalam sasaran. Evaluasi
pengaruh adalah lebih dari pengembangan monitoring program, yang berarti pengaruh
ini adalah berkenaan dengan fokus perubahan dalam hal sosial dan kondisi fisik.
Sebagaimana hal nya dalam program pembelajaran bahasa inggris sebagai bahasa
kedua, monitoring mungkin memerlukan sejumlah dokumen mengenai penggunaan
jam dalam belajar.

7.      Evaluasi Proses
Evaluasi proses adalah menentukan mengapa program dilaksanakan pada level
ini dan apakah dapat dilakukan dengan meningkatkan kinerja. Berdasarkan hal ini
evaluasi proses berkenaan dengan identifikasi jaringan khusus antara aktivitas
pelaksanaan kebijakan dengan kinerja program. Temuan kajian ini tidak dimaksudkan
menentukan apakah program mencapai sasaran khusus, sebagai suatu pengaruh
evaluasi, tetapi untuk mengembangkan rekomendasi bagi peningkatan prosedur
program implementasi.

D.KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH

 Sistem persekolahan di Indonesia merupakan subsistem dari sistem pendidikan


nasional. Karena itu, keberadaan sekolah adalah sebagai lembaga yang
menyelenggarakan kebijakan pendidikan nasional atau Dinas Pendidikan
Kabupaten/kota dalam spectrum Kekuasaan dan kewenangan kepala sekolah.
Selain itu sekolah sebagai subsistem sosial berfungsi dalam mengintegrasikan
semua subsistem yang ada didalamnya. Baik penyusunan tujuan dan nilai dari
masyarakat untuk menentukan tujuan sekolah, maupun penggunaan pengetahuan
untuk menjalankan tugas sekolah yaitu pengajaran dan pembelajaran sesuai tuntutan
keperluan masyarakat sebagai suatu keunikan
Kepala sekolah, guru, pegawai pengawas dan murid berfungsi memotivasi,
kewenangan, keteladanan, dan komunikasi dalam interaksi. Kemudian adanya
struktur mengarahkan unsur manusia berinteraksi dalam pelaksanaan tugas organisasi

14
sekolah. Kepala sekolah berperan sebagai pemimpin, manajer, pendidik, pengawas
dan pendorong bagi guru-guru dalam proses pelaksanaan tugas. Guru berinteraksi
sesama guru dan murid dalam kegiatan kemanusiaan dalam mengembangkan potensi
anak didik atau pelajar.
Menurut Owens (1995:17), dalam pandangan sosiologis dan psikologis disetujui
bahwa tujuan perkuliahan adalah;
a)      Potensi akademik,
b)      Kebiasaan kerja yang efektif
c)      Nilai kewarganegaraan,
d)      Perilaku sosial,
e)      Harga diri,
f)        Percaya diri.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka sasaran aktivitas persekolahan adalah;


1.      pengharapan guru terhadap pencapaian prestasi belajar,
2.      hubungan antara pelajar dan guru,
3.      motivasi belajar,
4.      waktu yang dihabiskan untuk pengajaran dan pembelajaran,
5.      hubungan antara individu pelajar dengan teman sejawat.

`     Untuk mencapai sasaran tersebut, ahli sosiologi dan pendidikan cenderung


menekankan kepada ;
1.      bagaimana sekolah memimpin dan mengelola,
2.      bagaimana murid dikelompokkan,
3.      keterlibatan orang tua dan masyarakat,
4.      cara pelajar dan guru bekerja sama,
5.      cara keputusan dibuat oleh sekolah (Owens, 1995:18).

Sekolah sebagai sistem organisasi juga memiliki beberapa unsur yaitu:


a)      teknologi; dalam hal ini teknologi dari suatu organisasi adalah proses. Dalam
konteks sekolah adalah proses pendidikan dan kantor (kelas, Workshoop,
lapangan olah raga, whiteboard, dan lain-lain) yang di dalam prosesnya berjalan,
b)      struktur; suatu struktur organisasi, bidang, peran, hierarki, dan kewenangan,
prosedur dalam pekerjaan staf, jadwal pekerjaan lain-lain,
c)      orang-orang; keberadaan orang-orang dalam organisasi sekolah dan para guru
kalangan ahli pengetahuan pengalaman, ketrampilan dan sikap, juga murid atau
pegawai berinteraksi
d)      budaya; dalam hal karakter atau budaya organisasi sekolah berisikan sistem
nilai, ada standar, aturan, penilaian kinerja dengan imbalan, hubungan personel,
kebiasaan dan penilaian pendidikan (Everard, 2004:156-157)
E. KEBIJAKAN DALAM IMPLEMENTASIMANAJEMEN BERBASIS
SEKOLAH 15
 
a. Arah Baru Manajemen Sekolah

Untuk menciptakan sekolah menjadi unggul, diperlukan operasional manajemen


sekolah yang sesuai dengan prinsip dan karakteristik keunggulan yang diinginkan.
Karena itu, kepala sekolah dituntut untuk mefungsikan manajemen yang mampu
mengoptimalkan semua sumber daya sekolah secara ekonomi dan akuntabel serta
transparan
Mengacu kepada bafadal (2003:28) untuk mewujudkan wawasan keunggulan,
kelas unggulan,dan pembelajaran unggulan. Sekolah unggulan memerlukan tenaga
yang professional dan sumber daya yang memadai. Sedangkan kelas unggulan
diwujudkan dengan pengelompokan siswa yang menonjol prestasi akademiknya
supaya pembinaan yang lebih optimal denga pengusaan pengetahuan, ketrampilan dan
sikap terbaik sebagai mana yang diharapkan.
Menurut Beare, et.al (1989) model manajemen sekolah harus berusaha
memberikan kerangka kerja untuk mencapai, yaitu;
1.  Tujuan Urutan tindakan yang berkelanjutan oleh kepemimpinan formal organisasi
yang memiliki pengaruh membujuk dengan lembut, consensus dan komitmen
berdasarkan tujuan dasar organisasi.
2.      Nilai Organisasi dibangun atas kesatuan nilai-nilai anggota organisasi.
3.      Manajemen berdasarkan lingkungan dan pengambilan keputusan secara
bersama.
Para staf pada setiap sekolah memberikan pertimbangan sejumlah tanggung jawab
dan kewenangan dalam menentukan jawaban atas masalah yang berkaitan dengan
peningkatan prestasi akademik pelajar. Hal ini mencakup memberikan kepada staf
kewenangan lebih besar atas keputusan berkaitan dengan kurikulum dan
pengajaran dan alokasi pengembangan sumber daya.
4.   Kepemimpinan Perluasan kepada peran kepemimpinan dibagi dan dikembangkan
kepada tugas kepemimpinan yang semakin meluas.
5.      Pelembagaan Visi Pemimpin sekolah membangun visi dalam struktur dan proses
organisasi, serta pengalaman orang-orang tentang visi dalam keragaman pola
kreativitas organisasi.

b. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah


Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan terjemahan dari istilah School-
Based Management (SBM) yang pertama kali muncul dan popular di Amerika
Serikat. Konsep ini ditrawarkan ketika masyarakat mempertanyakan relevansi dan
korelasi hasil pendidikan dengan kebutuhan masyarakat.
            Menurut Fattah (2000:8) Manajemen Berbasis Sekolah diartikan sebagai
pengalihan dalam pengambilan keputusan dari tingkat pusat sampai ketingkat sekolah.

16
Pemberian kewenangan dalam pengambilan keputusan dipandang sebagai otonomi
ditingkat sekolah dalam pemanfaatan semua sumber daya (resources) sehingga
sekolah mampu secara mandiri menggali, mengalokasikan, menentukan perioritas,
memanfaatkan, mengendalikan dan mempertanggung jawabkan kepada setiap yang
berkepentingan.

1.      Tujuan dan Manfaat MBS.


Mengapa perlu konsep MBS diimplementasikan? Menurut Permadi (200:19)
asumsi dasar dari School Based Management(SBM) adalah bahwa sekolah harus lebih
bertanggung jawab (hight responsibility) dan mempunyai kewenangan yang lebih
(more Outhority)dan dapat dituntut pertanggung jawaban oleh setiap yang
berkepentingan. Dalam mengemban misinya sebagai pelayan dalam bidang
pendidikan, maka SBM adalah sebagai bentuk desentralisasi dalam kewenangan
pengambilan keputusan. Pada setiap sekolah SBM menekankan perlunya sekolah
meningkatkan pelayanan (Costumer well Service) pada tingkat internal (siswa)
maupun eksternal (masyarakat) serta pihak terkait lainnya seperti denia usaha dan
dunia industry.

2.      partisipasi personel sekolah dalam MBS


Untuk melaksanakan MBS diperlukan keterlibatan yang tinggi dari semua
personel baik kepala sekolah, wakil kepala sekolah, para guru, pegawai, orang tua
siswa dan komite atau dewan sekolah. Dalam Depdiknas (2002:3) DIKEMUKAKAN
BAHWA; Manajemen berbasis sekolah sebagai model manajemen yang memberikan
otonomi lebih besar kepada sekolah. Memberikan flesibilitas/keleluasaan-keleluasaan
kepada sekolah dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru,
siswa, kepala sekolah,dan karyawwan) dan masyarakat (orang tuasiswa, tokoh
masyarakat, ilmuan, pengusaha dan sebagainya) untuk meningkatkan mutu sekolah
berdasarkan kebijakan nasional serta  peraturan perundang-undanganyang berlaku.
Dalam penerapan MBS, kekuatan kepemimpinan tim sangat menetukan.
Perencanaan dan manajemen tim mencakup orang tua siswa guru administrator dan
professional lainnya disekolah., dan kepala sekolah melayani kepemimpinan tim.
Dalam hal inii tim adalah bertanggung jawab bagi pendayagunaan masukan dari
seluruh warga sekolah yang digunakanuntuk menciptakan rencana dan sasaran
peningkatan sekolah. Beragam stakeholders berpartisipasi dalam membuat keputusan,
tidak satupun kelompok merasa mengontrol, tentu stakeholders  berkerja secara akrab
bersama untuk menjaga consensus. (Mochrman, 1996:91).
Untuk menghasilkan mutu yang baik, penerapan konsep manajemen berbasis
sekolah menurut Fattah (2000:12) perlu memperhatikan aspek-aspek mutu yang harus
dikendalikan secara komprehensif, yaiut:
1.      karakteristik mutu pendidikan, baik input, proses, maupun out put.
2.      pembiayaan(cost)
3.      metode Delivery sistem penyampaian bahan/ materi pelajaran
4.      pelayanan (service) kepada siswa dan orang tua/ masyarakat.
Untuk itu kepala sekolah dan guru harus memahami konsep mutu dalam
pendidikan sebagaimana yang dikemukakan diatas. Paling tidak kepala sekolah harus
menyusun visi, misi, strategi dan tujuan sekolahdalam menjangkau masa depan.
Kewenagan dan pengawasan dalam pelaksanaan pendidikan disekolah terutama
terhadap kurikulum yang berbasis keperluan masyarakat adalah memiliki sepenuhnya
oleh kepala sekolah dan guru-guru. Strategi peningkatan mutu sekolah adalah dimulai
dari perubahan manajemen berbasis sekolah. Intinya adalah perubahan dalam konsep
mutu, pembiayaan, metode dan pelayanan pendidikan terhadap pelanggan baik murid,
guru, orang tua, masyarakat dan industri. Karena itu disamping kepemimpinan yang
kuat diperlukan peranserta masyarakat untuk peningkatan mutu sekolah.

17
18
BAB IV
PENUTUP

Setelah menelaah buku ini,selanjutnya akan di akhiri dengan mengemukakan


beberapa kesimpulan dan rekomendasi.

A.Kesimpulan

1.       Pendidikan  memperoleh dampak kontrukitif dan percepatan pertumbuhan


ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologiyang berbasis kepada pendidikan
yang memberdyakan.
2.      Desentralisai pendidikan menjadi salah satu pilihan pemerintah Indonesia
setelah era reformasi. Begitupun, faktanya bahwa penelitian para pakar
menunjukkan pendidikan nasional masih kurang berhasil dari berbagai faktor
masukan, proses, dan keluaran.  
3.      kebijakan adalah terdiri dari pernyataan tentang sasaran dan satu atau lebih
pedoman yang luas untuk mencapai sasaran tersebut sehingga dapat dicapai
yag dilaksanakan bersama dan memberikan kerangka kerja bagi pelakssanaan
program.
4.      Implementasi kebijakan pada rinsipnya adalah cara yang dilaksanakan agar
sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya.
5.      pemimpin harus mengomunikasikan kepada bidang yang bertanggung jawab
dan melaksanakan kebijakan supaya mereka memahami kebijakan yang
menjadi tanggungjawabnya.
6.       keberadaan sekolah adalah sebagai lembaga yang menyelenggarakan
kebijakan pendidikan nasional atau Dinas Pendidikan Kabupaten/kota dalam
spectrum Kekuasaan dan kewenangan kepala sekolah.

B.Rekomendasi

   Setelah memperhatikan hasil inti sari hasil pokok bahasan dan analisis perlu di
ungkapkan beberapa rekomendasi lebih lanjut sebagai berikut:
1.      Lembaga yang mempersiapkan pelaksanaan kebijakan dan rencana bagi
pilihan strategi akan lebih efektif dari pada yang tidak melakukan,
2.      Lembaga yang memiliki kemampuan strategi, pengalaman dan kepribadian
yang cocok dengan strategi akan lebih efektif,
3.      Lembaga yang memiliki rencana pengembangan karier akan lebih efektif
daripada yang tidak memiliki,
4.      Pemimpin yang melaksanakan konsep pengembangan organisasi akan
efektif melaksanakan strategi perubahan.
19

DAFTAR PUSTAKA

Hamid Mukhlis, Staf Pengajar FKIP Unsyiah, Staf PSG Rayon 01 Unsyiah


http://www.sertifikasiguru.org/uploads/file
http://www.sertifikasiguru.org/index.php
http://www.sertifikasiprofesi.blogspot.com/2008/02
TIM, (2008) Pedoman sertifikasi guru dalam jabatan melalui penilaian portofolio
untuk guru,
Jilid 4 Departemen Pendidikan Nasional.
TIM, (2008) Pedoman sertifikasi guru dalam jabatan melalui penilaian portofolio
untuk guru,
Jilid 2 Departemen Pendidikan Nasional.
TIM, (2008) Rambu-rambu Penyusunan Kurikulum Sertifikasi Guru Melalui Jalur
Pendidikan,
Jilid 7. Dinas Pendidikan Nasional.