Anda di halaman 1dari 19

AMIDA

Dalam kimia, suatu amida biasanya adalah senyawa organik yang mengandung gugus
fungsional yang terdiri dari gugus asil (RC = O) terkait dengan atom nitrogen (N). Istilah ini
mengacu baik untuk kelas senyawa dan kelompok fungsional dalam suatu senyawa. Istilah ini
juga merujuk amida untuk membentuk terdeprotonasi amonia (NH3) atau amina, sering
direpresentasikan sebagai R2N-anion.

Amida merupakan salah satu turunan dari asam karboksilat. Turunan-


turunan asam karboksilat memiliki stabilitas dan reaktifitas yang berbeda
tergantung pada gugus yang melekat pada gugus karbonil. Stabilitas dan reaktifitas
memiliki hubungan terbalik, yang berarti bahwa senyawa yang lebih stabil
umumnya kurang reaktif dan sebaliknya. Karena asil halida adalah kelompok
paling tidak stabil, masuk akal bahwa senyawa ini dapat secara kimia diubah ke
jenis lain. Karena amida adalah jenis yang paling stabil, secara logis harus
mengikuti bahwa amida tidak dapat dengan mudah berubah menjadi jenis molekul
lain.

TITIK LELEH
Metanamida adalah cairan pada suhu kamar (titik lebur : 3°C), tetapi amida
lainnya dalam padatan. Sebagai contoh bentuk kristal
etanamida deliquescent berwarna dengan titik leleh 82°C. Zat deliquescent  adalah
salah satu senyawa yang mengambil H2O dari atmosfer. Kristal etanamida hampir
selalu tampak basah. Titik leleh amida tergolong tinggi untuk ukuran molekul
karena mereka dapat membentuk ikatan hidrogen. Atom hidrogen dalam gugus
NH2 cukup positif untuk membentuk ikatan hidrogen dengan pasangan elektron
mandiri pada atom oksigen dari molekul lain.

Seperti yang kita lihat, ada banyak ikatan hidrogen yang dapat dibentuk.
Setiap molekul memiliki dua atom hidrogen sedikit positif dan dua pasang elektron
bebas pada atom oksigen.Ikatan hidrogen ini memerlukan jumlah energi yang
besar untuk memutuskannya. Oleh sebab itu titik leleh dari senyawa-senyawa
amida cukup tinggi

KURANGNYA SIFAT BASA PADA AMIDA


Tidak seperti senyawa-senyawa yang mengandung gugus -NH2, amida
merupakan senyawa netral. Senyawa yang mengandung gugus -NH2 seperti
amonia, NH3, atau amina primer seperti metilamina, CH3 NH2 adalah basa lemah.
Pasangan elektron mandiri aktif pada atom nitrogen dalam amonia dapat
bergabung dengan sebuah ion hidrogen (proton) dari senyawa lain, dengan kata
lain ammonia bertindak sebagai basa.

KELARUTAN
Kelarutan dari amida dan ester secara kasar sebanding. Biasanya amida
kurang larut dibandingkan amina dan asam karboksilat yang sebanding karena
senyawa ini dapat dengan baik menyumbangkan dan menerima ikatan hidrogen

KELOMPOK AMIDA
Para Amida adalah kelompok senyawa organik yang berasal dari
ammonia (NH3). Satu atau lebih dari hidrogen dari amonia digantikan dengan
kelompok asam organik untuk menghasilkan amida primer, sekunder, atau tersier.
Bentuk paling sederhana dari amida adalah suatu amida primer yang memiliki
CONH2 (ada ikatan rangkap antara karbon dan oksigen). Sebuah amida sekunder
dihasilkan ketika dua atom hidrogen diganti dan memiliki rumus umum (RCO)
2NH. Sebuah amida tersier memiliki rumus umum (RCO) 3N. Semua amida
memiliki akhir-amida sebagai bagian dari nama mereka. Tidak ada perbedaan
dibuat antara tiga jenis dalam penamaan mereka.
Para amida umumnya padatan kristal yang dapat larut dalam alkohol dan
eter. Amida dihidrolisis untuk garam amonium dengan katalisis oleh asam atau
basa. Proses ini adalah titik awal untuk pembuatan sejumlah asam organik. Reaksi
dengan asam nitrat menghasilkan asam karboksilat secara langsung sebagai
produk. Dehydration dari amida adalah disebabkan oleh pemanasan dengan
pentoksida fosfor dan produk dari reaksi ini adalah alkil sianida. Jika bereaksi
dengan larutan sodium hidroksida dan bromin, amida ditransformasikan ke dalam
amina yang sesuai. Reaksi ini dikenal sebagai Hofmann degradasi, seorang
kimiawan Jerman August von Hofmann (1818-1892). Cara lain untuk
menghasilkan amina dari amida adalah dengan pengurangan. Ini dilakukan pada
tekanan 250 atmosfer dan suhu 490°F (250°C). Reaksi reduksi ini memerlukan
penggunaan oksida tembaga, oksida kromium, atau litium hidrida aluminium
sebagai katalis. Halogenation dari amida bisa terjadi untuk SAMPAI SINI
memberikankloro yang tepat atau bromoamides.
Amida dapat dibedakan dari senyawa yang lain dengan perebusan
dengan larutan sodiumhidroksida. Setelah penundaan singkat, mereka
mengeluarkan amonia. Garam ammonium apabila diperlakukan dengan cara yang
sama segera mengeluarkan amonia dan nitrogen sehingga menghasilkan senyawa
lain yang tidak mengandung amonia.
Amida primer disusun oleh amonia atau amina bereaksi dengan asam
klorida, anhidrida,atau ester. amida sekunder dan tersier yang dibuat dengan
mereaksikan amida primer ataunitril dengan asam organik. amida primer lemah
dasar dan dapat membentuk senyawa denganlogam seperti natrium, kalium,
merkuri, dan kadmium, meskipun amida logam berat dapat meledak. Amida
alkilasi digunakan dalam reaksi penggantian reagen yang melibatkan ion,karena
mereka adalah pelarut yang baik untuk reaksi ini.
Amida termudah adalah methanamide, HCONH2. Ini adalah satu-
satunya anggota grupyang merupakan cairan pada suhu dan tekanan standar (STP).
Methanamide diproduksidengan mereaksikan karbon monoksida dan amoniak
bersama di bawah tekanan. Sepertiamida lain, itu adalah pelarut yang baik untuk
berbagai senyawa organik dan anorganik. Paraamida telah ditinggikan leleh dan
titik didih karena adanya ikatan hidrogen.
Sebuah ikatan peptida adalah ikatan kimia yang terbentuk di antara dua
molekul ketika kelompok karboksil dari satu molekul bereaksi dengan gugus
amina dari molekul lain,sehingga melepaskan sebuah molekul air (H2O). Ini
adalah reaksi sintesis dehidrasi (jugadikenal sebagai reaksi kondensasi), dan
biasanya terjadi antara asam amino. Yang dihasilkanC (O) NH ikatan disebut
ikatan peptida, dan molekul yang dihasilkan merupakan sebuah amida. Fungsional
atom empat kelompok -C (= O) NH-link disebut peptida. Polipeptida danprotein
adalah rantai asam amino yang disatukan dengan ikatan peptida, seperti
tulangpunggung PNA
Sebuah ikatan peptida bisa dipatahkan oleh hidrolisis amida
(penambahan air). Ikatan peptida protein yang ada dalam metastabil, yang berarti
bahwa di hadapan air mereka akan pecah secara spontan, merilis 2-4 kkal/mol 12
dari energi bebas namun proses ini sangat lambat. dalam organisme hidup, proses
ini difasilitasi oleh enzim. organisme hidup juga menggunakan enzim untuk
membentuk oblogasi peptida; proses ini membutuhkan energi bebas. panjang
gelombang dari absornsi untuk ikatan peptida adalah 190-230 nm

PERMASALAHAN:
Dari artikel diatas dikatakan bahwa asil halida adalah kelompok paling
tidak stabil, masuk akal bahwa senyawa ini dapat secara kimia diubah ke jenis lain.
Sedangkan amida adalah jenis yang paling stabil, secara logis harus mengikuti
bahwa amida tidak dapat dengan mudah berubah menjadi jenis molekul lain.
yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana agar kita dapat mengubah amida
menjadi jenis molekul lain dengan mudah?

Amida adalah suatu jenis senyawa kimia yang dapat memiliki dua pengertian.
Jenis pertama adalah gugus fungsional organik yang memiliki gugus karbonil
(C=O) yang berikatan dengan suatu atom nitrogen (N), atau suatu senyawa yang
mengandung gugus fungsional ini. Jenis kedua adalah suatu bentuk anion nitrogen.

Pengantar
Ditinjau dari strukturnya turunan asam karboksilat merupakan senyawa yang
diperoleh dari hasil pergantian gugus -OH dalam rumus struktur R-C-OOH oleh
gugus X (halogen), -NH2 OR’, atau –OOCR. Masing-masing asil penggantian
merupakan kelompok senyawa yang berbeda sifatnya dan berturut-turut dinamakan
kelompok halida asam (R-COX), amida (RCONH2) ester (RCOOR’), dan
anhidrida asam karboksilat (RCOOORCR). 
Seperti halnya asam karboksilat, turunan asam karbosilat juga dibedakan menjadi
turunan asam karboksilat alifatik atau aromatik, baik yang tersubtitusi maupaun
yang tidak tersubtitusi. Semua turunan asam karboksilat mempunyai gugus fungsi
asil (RCO-) atau aroil (ArCO-) dan bila dihidrolisis menghasilkan asam
karboksilat. Hasil samping dalam hidrolisis tersebut tergatung pada jenis turunan
asam karboksilatnya.
Adanya gugus karbonil dalam turunan asam karboksilat meyebabkan molekulnya
bersifat polar. Kepolaran ini yang berpengaruh terhadap sifat-sifat fisika dan kimia
turunan asam karboksilat.

Tatanama 
Amida ialah suatu senyawa yang mempunyai nitrogen trivalen yang terikat pada
suatu gugus karbonil. Dalam senyawa amida, gugusfungsi asil berkaitan dengan
gugus –NH2. Dalam pemberian namanya, akhiran –Oat atau –At dalam nama asam
induknya diganti dengan kata amida.
Contoh:
HCOOH : Asam metanoat / asam format 
HCONH2 : metanamida(IUPAC)
Formamida (trivial)
CH3CH2CH2COOH : asam bityanoat/asam butirat
CH3CH2CH2CONH2 : butanamida (IUPAC)
Butiramida (trivial)
Sifar-sifat Fisika
Kepolaran molekul senyawa turunan asam karboksilat yang disebabkan oleh
adanaya gugus karbonil (-C-), sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat fisiknya
(titik didih,titik lebur dan kelarutan)diketahui bahwa titij didih halida asam,
anhidrida asam karboksilat dan ester hampir sama hampir sama dengan titk didih
aldehid dan keton yang brat molekulnya sebanding. Perlu diingat bahwa aldehid dan keton adalah
senyawa yang juga mengandung gugus karbonil. Khusus untuk senyawa amida, ternyata harga titik
SAMPAI SINI
didihnya cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanyai katan hidrogen antar
molekulnya yang digambarkan sebagai berikut :
R
HC
…O N – H ….O N – H
CH
R

Semua turunan asam karboksilat dapay larut dalam pelarut organik, sedangkan
dalam air kelarutannya tergantung pada jumlah atom karbon yang terdapat dalam
molekulnya. Sebagai contoh, untuk kelompok senyawa ester yang mengandung 3-5
atom C dapat larut dalam air, tetapi untuk kelompok senyawa amida yang larut
dalam air adalah yang memiliki 5-6 atom C.
Berbagai ester yang volatil mempunyai bau sedap sehingga sering digunakan
dalam pembuatan parfum atau bahan penyedap rasa sintetik. Kelompok senyawa
klorida asam memiliki bau yang tajam karena mudah terhidrolisis dan
menghasilkan asam karboksilat dan HCL yang masing-masing memiliki bau khas.

Sifat-sifat Kimia
Dalam mempelajari sifat-sifat kimia masing-masing kelompok turunan asam
karboksilat, terlebih dahulu harus dipahami. Ciri-ciri umum reaksinya seperti yang
di uraikan di bawah ini :
Keberadaan gugus karbonil dalam turunan asam karboksilat sangat menentukan
kereaktifan dalam reaksinya, walaupun gugus karbonil tersebut tidak mengalami
perubahan. 
Gugus asil ( R-C=O ) menyebabakan turunan asam karboksilat mudah mengalami
substitusi nukleofilik. Dalam substitusi ini, atom/gugus yang berkaitan dengan
gugus asil digantikan oleh gugus lain yang bersifat basa. Pola umum reaksi
substitusi nukleofilik tersebut dituliskan dengan persamaan reaksi

Reaksi substitusi nukleofilik pada turunan asam karboksilat berlangsung lebih


cepat dari pada reaksi substitusi nukleofilik pada rantai karbon jenuh (gugus alkil),
sehingga dengan demikian
Deskripsi Amida
Amida adalah senyawa yang merupakan turunan asam karbosilat yang diperoleh
dari penggantian –OH pada gugus –COOH oleh gugus –NH 2. Dsngan demikian
rumus umum untuk amida adalah 

Pembutan Amida 
Amida dibuat dengan mereaksikan amonia pada klorida asam atau anhidrida asam,
sedangkan dalam industri dibuat dengan cara memanaskan garam amonium
karboksilat.
Contoh :

Reaksi-reaksi amida
Hidrolisis
Hidrolisis suatu amida dapat berlangsung dalam suasana asam atau basa.Dalam
lingkungan asam, terjadi reaksi antara air dengan amida yang telah terprotonasi
dan menghasilkan asam karboksilat –NH 3 

Dalam lingkungan basa, terjadi serangan OH- pada amida dan menghasilkan anion
asam karboksilat +NH3 
Pembuatan Imida 
Suatu anhidrida siklik seperti halnya anhidrida yang lain, dapat bereaksi dengan
amoniak , tetapi hasil reaksinya mengandung dua macam gugus, yaitu gugus
CONH2 dan gugus –COOH. Bila hasil reaksi ini dipanaskan, terjadi pelepasan satu
molekul air dan terbentuk suatu imida.

Sintesis Amida

Asam humat merupakan makro-molekul heterogen yang mengandung
atom O, N, dan S yang memberikan kontribusi pada kemampuan senyawa
tersebut untuk berinteraksi dengan logam [1]. Asam humat larut dalam basa
dan tidak larut dalam asam dengan berat molekul besar, yang ditandai oleh
adanya gugus fungsional kaya oksigen, yaitu –COOH, fenolik, alkoholik (-OH)
dan C=O kuinon [2]. Gugus karboksilat adalah gugus dominan dalam senyawa
ini yang memberikan sifat asam paling besar dibandingkan gugus fungsional
lainnya. Senyawa humat memiliki kemampuan membentuk kompleks dengan
ion-ion logam, terutama logam transisi.
Berbagai penelitian tentang aplikasi asam humat telah dilakukan. Asam
humat banyak digunakan sebagai adsorben terhadap logam-logam alkali dan
alkali tanah seperti Na dan K, Ca, Mg maupun logam-logam transisi seperti Fe,
Cr, Cd, Ni, Zn, dan juga sebagai adsorben untuk ion NH
4
+
, dan lain-lain [3]).
Asam humat yang diimobilisasikan pada PAH (polyethylaminehydrocloride)
dalam sensor pestisida [4] dan multi layer film asam humat sebagai material
membran dalam sensor glukosa [5], [6] meneliti pengaruh konsentrasi dan
kekuatan ion pada asam humat dan asam fulvat terhadap kemampuan
membentuk ikatan dengan logam Cu dan Pb.

Prosiding Seminar  Nasional  Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA,


Fakultas  MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 16 Mei 2009
K-305
Dalam penelitian ini, asam humat dimodifikasi menjadi turunannya
berupa senyawa amida yang disintesis melalui reaksi esterifikasi. Senyawa
amida derivatif dari asam humat digunakan sebagai ionofor membran pada
elektroda selektif ion. Kompleks ion logam M
n+
(guest) dengan amida derivatif
dari asam humat (host) atau ligan dapat dipertimbangkan sebagai model host-
guest dimana ion logam M
n+
merupakan bola yang terperangkap dalam suatu
struktur semacam lobang (cavity) dari molekul amida turunan dari asam humat
yang memiliki rantai siklik atau terbuka. Sisi cavity ini mengandung gugus-
gugus polar dari atom-atom elektronegatif seperti oksigen, nitrogen, dan sulfur
dari amida derivat dari senyawa humat yang digunakan untuk berinteraksi
dengan ion logam M
n+
 [7].

Berdasarkan hal tersebut di atas, senyawa amida derivatif dari asam
humat diharapkan dapat diaplikasikan sebagai ionofor membran pada elektroda
selektif ion. Ionofor merupakan reseptor yang stabil dan bersifat lipofilik,
membentuk kompleks dengan spesies hidrofilik bermuatan. Ionofor merupakan
komponen penting dalam membran yang merupakan penentu kualitas sensor
kimia [8]. Komponen lain sebagai penyusun membran adalah plasticizer
sebagai pelarut membran, zat aditif lipofilik, dan matriks pendukung membran
Dalam penelitian ini digunakan zat aditif berupa asam oleat dan NaTPB;
plasticizer  berupa DBE dengan matriks pendukung membran yaitu PVC.
Membran tersebut diaplikasikan sebagai komponen dalam elektroda selektif
ion.
 
Elektroda selektif ion (ESI) merupakan salah satu metode analisis yang
penggunaannya cukup luas dan biasanya diaplikasikan pada analisis rutin
terutama dibidang klinis, biokimia, proses kontrol, dan analisis lingkungan.
Perkembangan ESI dewasa ini bertujuan untuk meningkatkan selektivitas dan
sensitivitas dengan jalan sintesis dan karakteristik ionofor baru [9], sehingga
dalam penelitian ini diharapkan sintesis amida dari asam humat dapat terjadi
dan dapat diaplikasikan sebagai ionofor dalam membran pada elektroda selektif
ion serta memberikan selektivitas yang baik terhadap suatu logam target.
 
Berdasarkan uraian tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
berhubungan dengan sintesis senyawa amida derivatif dari asam humat dan
aplikasinya sebagai ionofor pada membran elektroda selektif ion.
Tujuan dari penelitian ini adalah mensintesis senyawa amida derivatif
dari asam humat dalam kondisi optimumnya, dan mengetahui selektivitas dan
karakterisasi elektroda selektif ion.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang sintesis
senyawa makromolekul baru terutama sintesis senyawa derivatif asam humat
pada kondisi optimum dan pemanfaatannya sebagai ionofor dalam membran
elektroda selektif ion.
AMIDA

Amida adalah senyawa yang sangat tidak reaktif, karena protein terdiri dari asam amino
yang dihubungkan oleh ikatan amida. Amida tidak bereaksi dengan ion halida, ion
karboksilat, alkohol, atau air karena dalam setiap kasus, nukleofil yang masuk adalah
basa lemah dari gugus pergi amida.
Amida dapat bereaksi dengan air dan alkohol jika campuran reaksi dipanaskan dalam
suasana asam.

Teori orbital molekul dapat menjelaskan mengapa amida yang tidak reaktif. Amida
memiliki kontributor resonansi penting di mana saham nitrogen satu pasangan dengan
karbon karbonil, orbital yang berisi pasangan bebas tumpang tindih orbital kosong dari
gugus karbonil.

Keadaan tumpang tindih menurunkan energi-satu pasangan itu bukan basa atau
nukleofilik-dan menimbulkan energi dari orbital gugus karbonil, sehingga kurang reaktif
terhadap nukleofil. Amida dengan kelompok NH 2 bisa didehidrasi dengan sebuah nitril.
Reagen dehidrasi umumnya digunakan untuk tujuan ini adalah P 2O5, POCl3, dan SOCl3.

Hidrolisis Amida dengan katalis asam

Ketika amida dihidrolisis dalam kondisi asam, proton asam dari karbonil oksigen,
meningkatkan kerentanan karbon karbonil untuk menyerang nukleofilik. Serangan
nukleofilik oleh air pada karbon karbonil menyebabkan senyawa intermediet tetrahedral
I, yang berada dalam kesetimbangan dengan bentuk bukan protonnya, intermediet
tetrahedral II. Reprotonasi dapat terjadi baik pada oksigen untuk reformasi intermediet
tetrahedral I atau pada nitrogen untuk membentuk intermediet tetrahedral III. Protonasi
pada nitrogen disukai karena kelompok NH 2  tersebut merupakan basa yang lebih kuat
daripada kelompok OH. Dari dua kemungkinan gugus pergi pada kelompok intermediet
tetrahedral III (-OH dan NH 3), NH3  adalah basa lemah, sehingga dilepas, membentuk
asam karboksilat sebagai produk akhir. Karena reaksi dilakukan dalam larutan asam,
NH3 akan terprotonasi setelah diusir dari intermediet tetrahedral. Hal ini mencegah
terjadinya reaksi berkebalikan.
Mekanisme hidrolisis amida dengan katalis asam :
Mengapa amida tidak dapat dihidrolisis tanpa katalis? Dalam reaksi tanpa katalis,
amida tidak terprotonasi. Oleh karena itu, air, yang sangat miskin nukleofil, harus
menyerang amida netral yang jauh lebih rentan terhadap nukleofilik daripada serangan
dari amida terprotonasi. Selain itu, kelompok dari intermediat tetrahedral tidak
terprotonasi dalam reaksi tanpa katalis. Oleh karena itu, -OH adalah gugus pergi dari
tetrahedral menengah-karena –OH merupakan basa yang lemah dari –NH 2  amida
reformasi tersebut. Sebuah amida bereaksi dengan alkohol dalam suasana asam untuk
alasan yang sama akan bereaksi dengan air dalam suasana asam.

masalah: 
1.       Dari buku yang saya baca, larutan air amina bersifat basa dan larutan amida dapat dikatakan
netral . padahal diketahui bahwa amina dan amida masing-masing mempunyai nitrogen dengan
sepasang elektron bebas. Mengapa bisa terjadi hal demikian?
2.       Bagaimana mekanisme rekasi yang terjadi jika amida (asam lemah) di reaksikan dengan amina
(basa), apakah perlu di butuhkan suatu katalis agar reaksi dapat berlangsung? apakah dapat
menghasilkan suatu garam?
3.       Bagaimana mekanisme reaksi yang terjadi jika suatu amida di reaksikan dengan alkohol dalam
suasana basa, jika selama ini yang sering di reaksikan adalah amida dengan alkohol dalam
suasana asam

AMIDA

Amida adalah suatu jenis senyawa kimia yang dapat memiliki dua pengertian. Jenis
pertama adalah gugus fungsional organik yang memiliki gugus karbonil (C=O) yang berikatan
dengan suatu atom nitrogen (N), atau suatu senyawa yang mengandung gugus fungsional ini.
Jenis kedua adalah suatu bentuk anion nitrogen.
Ditinjau dari strukturnya turunan asam karboksilat merupakan senyawa yang diperoleh
dari hasil pergantian gugus -OH dalam rumus struktur R-C-OOH oleh gugus X (halogen), -NH2
OR’, atau –OOCR. Masing-masing asil penggantian merupakan kelompok senyawa yang
berbeda sifatnya dan berturut-turut dinamakan kelompok halida asam (R-COX), amida
(RCONH2) ester (RCOOR’), dan anhidrida asam karboksilat (RCOOORCR). 

SIFAT FISIK AMIDA


1.      Titik didihnya tinggi
Amida mudah membentuk ikatan hidrogen sehingga titik didihnya tinggi dibandingkan
senyawa lain dengan bobot molekul yang sama, namun bila terdapat subtituen aktif pada atom
nitrogennya maka titik didih dan titik lelehnya cenderung menurun karena kemampuan untuk
membentuk ikatan hidrogen juga menurun.
2.      Polar
3.   Mudah larut di dalam air karena dengan adanya gugus C=O dan N-H memungkinkan
terbentuknya ikatan hidrogen.
4.      Umumnya berupa padat pada suhu kamar.

Semua turunan asam karboksilat dapat larut dalam pelarut organik, sedangkan dalam air
kelarutannya tergantung pada jumlah atom karbon yang terdapat dalam molekulnya. Sebagai
contoh, untuk kelompok senyawa ester yang mengandung 3-5 atom C dapat larut dalam air,
tetapi untuk kelompok senyawa amida yang larut dalam air adalah memiliki 5-6 atom C.

SIFAT KIMIA AMIDA


Amida bereaksi dengan nukleofil, misalnya dapat dihidrolisis dengan air. Amida dapat
direduksi dengan litium anhidrida menghasilkan amina.  Kegunaan Amida Amida yang sangat
terkenal adalah ureum (urea), yaitu suatu diamida dari suatu asam karbonat.  Urea merupakan
padatan kristal tak berwarna, dan merupakan hasil akhir metabolisme protein. Orang dewasa
rata-rata menghasilkan 30 g urea dalam air seni-nya sehari-hari. Urea dihasilkan besar-besaran
untuk pupuk.pada tanaman-tanaman pertanian dan perkebunan. Urea juga digunakan sebagai
bahan baku pembuatan obat dan plastik.
Turunan-turunan asamkarboksilat memiliki stabilitas dan reaktifitas yang berbeda
tergantung pada gugus yangmelekat pada gugus karbonil. Stabilitas dan reaktifitas memiliki
hubungan terbalik, yangberarti bahwa senyawa yang lebih stabil umumnya kurang reaktif dan
sebaliknya. Karena asilhalida adalah kelompok paling tidak stabil, masuk akal bahwa senyawa
ini dapat secara kimiadiubah ke jenis lain. Karena amida adalah jenis yang paling stabil, secara
logis harusmengikuti bahwa amida tidak dapat dengan mudah berubah menjadi jenis molekul
lain.Stabilitas semua jenis asam karboksilat derivatif umumnya ditentukan oleh
kemampuankelompok fungsional untuk menyumbangkan elektron ke seluruh molekul. Pada
dasarnya,semakin elektronegatif atom atau kelompok yang melekat pada gugus karbonil maka
molekulakan kurang stabil. Hal ini mudah menjelaskan fakta bahwa asil halida yang paling
reaktif karena halida biasanya cukup elektronegatif.

SINTESIS AMIDA
Senyawa amida dapat disintesis dengan beberapa cara yaitu dengan dehidrasi garam
ammonium, dimana asam karboksilat dicampur dengan amina akan diperoleh garam ammonium
yang kemudian didehidrasi membentuk senyawa amida. Menurut Fessenden, R.J. dan Fessenden,
J.S. (1986) amida dapat disintesis dengan mereaksikan antara ester dengan amoniak cair dan
menghasilkan hasil samping etanol. Amida juga dapat disintesis dengan turunan asam
karboksilat lainnya seperti anhidrida asam halida asam dengan amoniak cair.
Sintesis senyawa amida telah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya,  diantaranya
adalah Sintesis senyawa amida dari trigliserida telah dilakukan oleh Farizal (2004), dimana
senyawa amida dibuat dengan mereaksikan antara trigliserida  dengan amoniak berlebih dengan
berbagai variasi waktu dan suhu tetapi tanpa menggunakan katalis. Hal yang sama juga telah
dilakukan oleh Makmun, S.W (2004) yang mensintesis senyawa fatty amida dari minyak kelapa
sawit dengan metode yang sama yaitu dengan mereaksikan metil oleat dengan amoniak berlebih
tetapi tanpa penggunaan pelarut dan katalis, dimana mengalami kesulitan karena
konsentrasi lemak yang tinggi sehingga reaksinya dengan amoniak kemungkinan
akan membutuhkan energi yang sangat besar. Manihuruk (2009) juga telah berhasil mensintesis
asam azelat dengan amoniak bertekanan menggunakan katalis nikel pada suhu 1800C senyawa
ini mempunyai 2 gugus karboksil, reaksi asam azelat dengan ammoniak tersebut menghasilkan
senyawa Nonana-1,9-diamida sebanyak 70,2%. Sintesis dekanamida dari asam dekanoat juga
telah dilakukan oleh manihuruk (2008) yaitu dengan mereaksikan asam dekanoat
(C10H21COOH) dengan amoniak bertekanan menggunakan katalis nikel berlangsung pada suhu
1500C (Hutauruk,2008).
Karena itu, dalam penelitian ini senyawa amida disintesis dari asam palmitat, suatu asam
rantai panjang (C15H31COOH), dengan mereaksikan asam palmitat   dengan gas amoniak
menggunakan katalis Nikel dilakukan selama 10 jam pada suhu 1800C sehingga diharapkan
ikatan N-H dapat dipecah dengan energi yang lebih rendah dan memudahkan berjalannya reaksi
amidasi.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19863/5/Chapter%20I.pdf
PEMBUATAN AMIDA
Amida umumnya disintesis di laboratorium melalui beberapa cara :
1. Reaksi anhidrida dengan ammonia
2. Reaksi ester dengan ammonia
3. Reaksi klorida asam dengan ammonia
4. Pemanasan garam ammonium karboksilat

KEGUNAAN AMIDA
Senyawa amida memiliki kegunaan yang luas dalam kehidupan antara lain dapat berguna
dalam pembuatan obat-obatan seperti sulfoamida yang digunakan untuk melawan infeksi dalam
tubuh manusia, sebagai zat antara dalam pembuatan amina, sebagai bahan awal dalam
pembuatan suatu polimer seperti palmitamida yang digunakan sebagai bahan penyerasi pada
penguatan karet alam dengan silika.
Ada juga Formamida yang digunakan sebagai pelarut dan juga untuk bahan pelunak. Dan
Asetamida banyak sekali diperlukan dalam sintesis senyawa organik, baik sebagai pereaksi

maupun pelarut dan juga untuk bahan pembasah. Amida


Pengantar
Ditinjau dari strukturnya turunan asam karboksilat merupakan senyawa yang
diperoleh dari hasil pergantian gugus -OH dalam rumus struktur R-C-OOH oleh gugus X
(halogen), -NH2 OR’, atau –OOCR. Masing-masing asil penggantian merupakan
kelompok senyawa yang berbeda sifatnya dan berturut-turut dinamakan kelompok
halida asam (R-COX), amida (RCONH2) ester (RCOOR’), dan anhidrida asam karboksilat
(RCOOORCR). 
Seperti halnya asam karboksilat, turunan asam karbosilat juga dibedakan menjadi
turunan asam karboksilat alifatik atau aromatik, baik yang tersubtitusi maupaun yang
tidak tersubtitusi. Semua turunan asam karboksilat mempunyai gugus fungsi asil (RCO-)
atau aroil (ArCO-) dan bila dihidrolisis menghasilkan asam karboksilat. Hasil samping
dalam hidrolisis tersebut tergatung pada jenis turunan asam karboksilatnya.

Adanya gugus karbonil dalam turunan asam karboksilat meyebabkan molekulnya


bersifat polar. Kepolaran ini yang berpengaruh terhadap sifat-sifat fisika dan kimia
turunan asam karboksilat.

Tatanama 
Amida ialah suatu senyawa yang mempunyai nitrogen trivalen yang terikat pada
suatu gugus karbonil. Dalam senyawa amida, gugusfungsi asil berkaitan dengan gugus
–NH2. Dalam pemberian namanya, akhiran –Oat atau –At dalam nama asam induknya
diganti dengan kata amida.

Contoh:

HCOOH : Asam metanoat / asam format 

HCONH2 : metanamida(IUPAC)

Formamida (trivial)

CH3CH2CH2COOH : asam bityanoat/asam butirat

CH3CH2CH2CONH2 : butanamida (IUPAC)

Butiramida (trivial)

Sifar-sifat Fisika
Kepolaran molekul senyawa turunan asam karboksilat yang disebabkan oleh
adanaya gugus karbonil (-C-), sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat fisiknya (titik
didih,titik lebur dan kelarutan)diketahui bahwa titij didih halida asam, anhidrida asam
karboksilat dan ester hampir sama hampir sama dengan titk didih aldehid dan keton
yang brat molekulnya sebanding. Perlu diingat bahwa aldehid dan keton adalah
senyawa yang juga mengandung gugus karbonil. Khusus untuk senyawa amida,
ternyata harga titik didihnya cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanyai katan
hidrogen antar molekulnya yang digambarkan sebagai berikut :

HC
…O N – H ….O N – H

CH

Semua turunan asam karboksilat dapat larut dalam pelarut organik, sedangkan dalam
air kelarutannya tergantung pada jumlah atom karbon yang terdapat dalam
molekulnya. Sebagai contoh, untuk kelompok senyawa ester yang mengandung 3-5
atom C dapat larut dalam air, tetapi untuk kelompok senyawa amida yang larut dalam
air adalah yang memiliki 5-6 atom C.

Berbagai ester yang volatil mempunyai bau sedap sehingga sering digunakan dalam
pembuatan parfum atau bahan penyedap rasa sintetik. Kelompok senyawa klorida asam
memiliki bau yang tajam karena mudah terhidrolisis dan menghasilkan asam
karboksilat dan HCL yang masing-masing memiliki bau khas.

Sifat-sifat Kimia
Dalam mempelajari sifat-sifat kimia masing-masing kelompok turunan asam
karboksilat, terlebih dahulu harus dipahami. Ciri-ciri umum reaksinya seperti yang di
uraikan di bawah ini :

Keberadaan gugus karbonil dalam turunan asam karboksilat sangat menentukan


kereaktifan dalam reaksinya, walaupun gugus karbonil tersebut tidak mengalami
perubahan. 

Gugus asil ( R-C=O ) menyebabakan turunan asam karboksilat mudah mengalami


substitusi nukleofilik. Dalam substitusi ini, atom/gugus yang berkaitan dengan gugus
asil digantikan oleh gugus lain yang bersifat basa. Pola umum reaksi substitusi
nukleofilik tersebut dituliskan dengan persamaan reaksi

Reaksi substitusi nukleofilik pada turunan asam karboksilat berlangsung lebih cepat dari
pada reaksi substitusi nukleofilik pada rantai karbon jenuh (gugus alkil), sehingga
dengan demikian

Deskripsi Amida
Amida adalah senyawa yang merupakan turunan asam karbosilat yang diperoleh
dari penggantian –OH pada gugus –COOH oleh gugus –NH 2. Dsngan demikian rumus
umum untuk amida adalah 
Pembutan Amida 
Amida dibuat dengan mereaksikan amonia pada klorida asam atau anhidrida
asam, sedangkan dalam industri dibuat dengan cara memanaskan garam amonium
karboksilat.

Contoh :

  Reaksi-reaksi amida

Hidrolisis

Hidrolisis suatu amida dapat berlangsung dalam suasana asam atau basa.Dalam
lingkungan asam, terjadi reaksi antara air dengan amida yang telah terprotonasi dan
menghasilkan asam karboksilat –NH 3 

Dalam lingkungan basa, terjadi serangan OH- pada amida dan menghasilkan anion
asam karboksilat +NH3 

Pembuatan Imida 

Suatu anhidrida siklik seperti halnya anhidrida yang lain, dapat bereaksi dengan
amoniak , tetapi hasil reaksinya mengandung dua macam gugus, yaitu gugus CONH2
dan gugus –COOH. Bila hasil reaksi ini dipanaskan, terjadi pelepasan satu molekul air
dan terbentuk suatu imida.

http://laskarpengetahuan.blogspot.com/2011/04/amida.html

SINTESIS AMIDA

Sintesis Oleokimia dan Turunan Oleokarbohidrat sebagai Komoditas


Bahan Kimia Agroindustri
Kelapa sawit merupakan sumber fine chemicals yang dapat dihilirkan ke
berbagai bentuk bahan komoditas. Di samping itu, sumber bahan karbohidrat
seperti ubi kayu dapat diubah menjadi sorbitol dan glukosa yang dapat diesterifikasi
dan dieterifikasi dengan asam lemak untuk digunakan sebagai bahan surfaktan
yang luas penggunaannya pada industri pangan, farmasi, dan kosmetika. 

Minyak kelapa sawit dan inti sawit segera terinteresterifikasi oleh


metanol/NaOH pada suhu kamar dengan pengadukan kuat selama 30 menit untuk
menghasilkan metil ester asam lemak (MEAL, 98%) serta gliserol yang terpisah
dalam dua fase. Bahan pewarna karotenoid yang terlarut bersama MEAL dapat
dipisahkan dengan cara penyabunan yang diikuti ekstraksi. MEAL dapat digunakan
sebagai bahan bakar diesel dan bahan dasar oleokimia atau melalui interesterifikasi
dengan turunan karbohidrat untuk membentuk surfaktan. Penelitian ini bertujuan
mensintesis oleokimia dan turunan oleokarbohidrat.

Reaksi interesterifikasi terhadap minyak nabati lebih efisien serta efektif


dilakukan dengan alkohol/NaOH (30 menit, suhu kamar) dibandingkan dengan
alkohol/H2SO4, biarpun dengan bantuan pelarut aromatik toluena (2 jam, refluks).
Pemisahan MEAL campuran lauh lebih efektif dibandingkan dengan pemisahan
asam lemak bebas campuran ke dalam bentuk fraksi tunggalnya masing-masing.
Pemisahan karotenoid tidak menimbulkan emulsi apabila dilakukan melalui
interesterifikasi, asalkan pemisahan baru dilakukan setelah MEAL yang
mengandung karotenoid disabunkan lalu dipisahkan secara ekstraksi pelarut
organik.

Sintesis amida asam lemak yang banyak digunakan sebagai pemlastis pada
industri polimer maupun sebagai bahan pemantap karet pekat dapat dilakukan
melalui reaksi amidasi antara asam lemak maupun MEAL dengan urea pada suhu
160°C selama 2 jam. Reaksi esterifikasi dan eterifikasi antara asil dan alkil klorida
asam lemak dengan turunan garam natrium karbohidrat dapat dilakukan dengan
bantuan katalis perpindahan dua fase tridodesil amina atau trietil amina
hidroklorida. 

smk3ae.wordpress.com/

AMIDA

Amida merupakan senyawa turunan asam karbosilat yang diperoleh dari penggantian –OH pada
gugus –COOH oleh gugus –NH2. Amida adalah senyawa yang sangat tidak reaktif, karena protein
terdiri dari asam amino yang dihubungkan oleh ikatan amida. Amida tidak bereaksi dengan ion
halida, ion karboksilat, alkohol, atau air karena dalam setiap kasus, nukleofil yang masuk adalah
basa lemah dari gugus pergi amida.

SIFAT FISIK AMIDA :

Kepolaran molekul senyawa turunan asam karboksilat yang disebabkan oleh adanya gugus
karbonil (-C-), sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat fisiknya (titik didih,titik lebur dan
kelarutan) diketahui bahwa titik didih halida asam, anhidrida asam karboksilat dan ester hampir
sama dengan titk didih aldehid dan keton yang berat molekulnya sebanding. Khusus untuk
senyawa amida, harga titik didihnya cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya ikatan
hidrogen antar molekulnya yang digambarkan sebagai berikut :

RH C…O N – H ….O N – HC HR

Semua turunan asam karboksilat dapat larut dalam pelarut organik, sedangkan dalam air
kelarutannya tergantung pada jumlah atom karbon yang terdapat dalam molekulnya. Sebagai
contoh, untuk kelompok senyawa ester yang mengandung 3-5 atom C dapat larut dalam air,
tetapi untuk kelompok senyawa amida yang larut dalam air adalah yang memiliki 5-6 atom C.
Berbagai ester yang volatil mempunyai bau sedap sehingga sering digunakan dalam pembuatan
parfum atau bahan penyedap rasa sintetik. Kelompok senyawa klorida asam memiliki bau yang
tajam karena mudah terhidrolisis dan menghasilkan asam karboksilat dan HCL yang masing-
masing memiliki bau khas.

SIFAT KIMIA AMIDA :

Dalam mempelajari sifat-sifat kimia masing-masing kelompok turunan asam karboksilat, terlebih
dahulu harus dipahami Ciri-ciri umum reaksinya seperti yang di uraikan di bawah ini :
Keberadaan gugus karbonil dalam turunan asam karboksilat sangat menentukan kereaktifan
dalam reaksinya, walaupun gugus karbonil tersebut tidak mengalami perubahan. 
Gugus asil ( R-C=O ) menyebabkan turunan asam karboksilat mudah mengalami substitusi
nukleofilik. Dalam substitusi ini, atom/gugus yang berkaitan dengan gugus asil digantikan oleh
gugus lain yang bersifat basa. Reaksi substitusi nukleofilik pada turunan asam karboksilat
berlangsung lebih cepat dari pada reaksi substitusi nukleofilik pada rantai karbon jenuh (gugus
alkil). Amida dibuat dengan mereaksikan amonia pada klorida asam atau anhidrida asam,
sedangkan dalam industri dibuat dengan cara memanaskan garam amonium karboksilat.
Hidrolisis suatu amida dapat berlangsung dalam suasana asam atau basa.
Dalam lingkungan asam, terjadi reaksi antara air dengan amida yang telah terprotonasi dan
menghasilkan asam karboksilat –NH3. 

Hidrolisis Amida dengan katalis asam

Ketika amida dihidrolisis dalam kondisi asam, proton asam dari karbonil oksigen, meningkatkan
kerentanan karbon karbonil untuk menyerang nukleofilik. Serangan nukleofilik oleh air pada
karbon karbonil menyebabkan senyawa intermediet tetrahedral I, yang berada dalam
kesetimbangan dengan bentuk bukan protonnya, intermediet tetrahedral II. Reprotonasi dapat
terjadi baik pada oksigen untuk reformasi intermediet tetrahedral I atau pada nitrogen untuk
membentuk intermediet tetrahedral III. Protonasi pada nitrogen disukai karena kelompok NH2 
tersebut merupakan basa yang lebih kuat daripada kelompok OH. Dari dua kemungkinan gugus
pergi pada kelompok intermediet tetrahedral III (-OH dan NH 3), NH3  adalah basa lemah,
sehingga dilepas, membentuk asam karboksilat sebagai produk akhir. Karena reaksi dilakukan
dalam larutan asam, NH3 akan terprotonasi setelah diusir dari intermediet tetrahedral. Hal ini
mencegah terjadinya reaksi berkebalikan.
Dalam lingkungan basa, terjadi serangan OH- pada amida dan menghasilkan anion asam
karboksilat +NH3.

SINTESIS AMIDA

Senyawa amida dapat disintesis dengan beberapa cara yaitu dengan dehidrasi garam ammonium,
dimana asam karboksilat dicampur dengan amina akan diperoleh garam ammonium yang
kemudian didehidrasi membentuk senyawa amida.
Menurut Fessenden, R.J. dan Fessenden, J.S. (1986) amida dapat disintesis dengan
mereaksikan antara ester dengan amoniak cair dan menghasilkan hasil samping etanol. Amida
juga dapat disintesis dengan turunan asam karboksilat lainnya seperti anhidrida asam halida asam
dengan amoniak cair.
Sintesis senyawa amida telah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya,  diantaranya adalah
Sintesis senyawa amida dari trigliserida telah dilakukan oleh Farizal (2004), dimana senyawa
amida dibuat dengan mereaksikan antara trigliserida  dengan amoniak berlebih dengan berbagai
variasi waktu dan suhu tetapi tanpa menggunakan katalis. Hal yang sama juga telah dilakukan
oleh Makmun, S.W (2004) yang mensintesis senyawa fatty amida dari minyak kelapa sawit
dengan metode yang sama yaitu dengan mereaksikan metil oleat dengan amoniak berlebih  tetapi
tanpa penggunaan pelarut dan katalis, dimana mengalami kesulitan karena konsentrasi lemak
yang tinggi sehingga reaksinya dengan amoniak kemungkinan akan membutuhkan energi yang
sangat besar.

KEGUNAAN AMIDA :
1. Formamida digunakan sebagai pelarut dan juga untuk bahan pelunak.
2. Asetamida banyak sekali diperlukan dalam sintesis senyawa organik, baik sebagai
pereaksi maupun pelarut dan juga untuk bahan pembasah.