Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

Septum nasi memiliki banyak fungsi, termasuk memisahkan aliran udara


nasal menjadi dua ruang yang berbeda, menyokong dorsum nasi, dan
mempertahankan bentuk kolumela dan tip. Deviasi traumatik atau abnormalitas
bentuk dari septum nasi dapat menyebabkan obstruksi aliran udara hidung dan
deformitas kosmetik. Aliran udara yang sedikit dapat menyebabkan gangguan
penciuman, gangguan humidifikasi dan filter udara, dan menurunkan aliran
oksigen yang masuk ke paru-paru. Deviasi septum anatomikal juga dapat
menyebabkan penyakit sinus kronis.1
Deviasi septum nasi merupakan penyebab obstruksi nasi yang paling
sering ditemukan.2 Bentuk septum yang normal ialah lurus di tengah rongga
hidung tetapi pada orang dewasa biasanya septum nasi tidak lurus sempurna di
garis tengah. Deviasi septum yang ringan tidak akan mengganggu, akan tetapi bila
deviasi itu cukup berat, menyebabkan penyempitasn pada satu sisi rongga hidung.
Dengan demikian dapat mengganggu fungsi hidung dan menyebabkan
komplikasi.3
Angka kejadian deviasi septum nasi yang dilaporkan sangat bervariasi.
Pernah dilaporkan di Brazil pada tahun 2004, dimana insiden deviasi septum nasi
mencapai 60,3 % dengan keluhan sumbatan hidung sebanyak 59,9%. Pada tahun
1995, Min dkk menemukan prevalensi deviasi septum nasi di Korea mencapai
22,38% dari populasi, dengan penderita yang terbanyak adalah laki-laki. Pada
tahun 2002, di Turki, Ugyur dkk melaporkan 15,6% bayi baru baru lahir dengan
persalinan normal mengalami deviasi septum nasi.3,4
Deviasi dan dislokasi septum nasi dapat disebabkan oleh gangguan
pertumbuhan yang tidak seimbang antara kartilago dengan tulang septum,
traumatik akibat fraktur fasial, fraktur nasal, fraktur septum atau akibat trauma
saat lahir. Gejala utama adalah hidung tersumbat, biasanya unilateral dan dapat
intermitten, hiposmia atau anosmia dan sakit kepala dengan derajat yang
bervariasi.2,5

1
Deviasi yang cukup berat dapat menyebabkan obstruksi hidung yang
mengganggu fungsi hidung dan menyebabkan komplikasi atau bahkan
menimbulkan gangguan estetik wajah karena tampilan hidung menjadi bengkok.
Gejala sumbatan hidung dapat menurunkan kualitas hidup dan aktivitas penderita.
Penyebab sumbatan hidung dapat bervariasi dari berbagai penyakit dan kelainan
anatomis. Salah satu penyebabnya dari kelainan anatomi yang terbanyak adalah
deviasi septum nasi. Tidak semua deviasi septum nasi memberikan gejala
sumbatan hidung. Gejala lain yang mungkin muncul dapat seperti hiposmia,
anosmia, epistaksis dan sakit kepala. Untuk itu para ahli berusaha membuat
klasifikasi deviasi septum nasi untuk memudahkan diagnosis dan
penatalaksanaannya. 1,2,4,5

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Hidung


Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya berupa pangkal
hidung, batang hidung (dorsum nasi), puncak hidung (tip), ala nasi, kolumela, dan
lubang hidung (nares anterior).4
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi
oleh kulit, jaringan ikat, dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan
atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari tulang hidung (os
nasal), prosesus frontalis os maksila, dan prosesus nasalis os frontal. Sedangkan
kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di
bagian bawah hidung, yaitu sepasang kartilago nasalis lateralis superior, sepasang
kartilago nasalis lateralis inferior (kartilago alar mayor), dan tepi kartilago
septum.4

Gambar 1. Anatomi Tulang Hidung

Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke


belakang dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi
kanan dan kiri. Lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior

3
dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum
nasi dengan nasofaring.4
Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat di
belakang nares anterior, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit
yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang
disebtu vibrise. Tiap kavum nasi memiliki empat buah dinding, yaitu dinding
medial, lateral, inferior, dan superior.4

Gambar 2. Dinding Lateral Nasal

Pada dinding lateral terdapat tiga buah konka, yaitu konka superior, konka
media, dan konka inferior. Di antara konka-konka dan dinding lateral hidnung
terdapat rongga sempit yang disebut meatur. Terdapat tiga meatus, yaitu meatus
inferior, media, dan superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dan
dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat
muara (ostium) duktus nasolakrimalis. Meatus medius terletak di antara konka
media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus medius terdapat muara
sinus frontalis, sinus maksilaris, dan sinus etmoid anterior. Pada meatus superior
yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka media terdapat muara
sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid. 4 Dinding medial hidung adalah septum
nasi. Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina

4
perpendikularis os etmoid, vomer, krista nasalis os maksila, dan krista nasalis os
palatina. Bagian tulang rawan adalah kartilago septum (lamina kuadrangularis),
dan kolumela.4

Gambar 3. Cavitas Nervus Nasal

Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan


periosteum pada bagian tulang, sedangkan di luarnya dilapisi oleh mukosa
hidung.4 Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os
maksila dan os palatum. Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan
dibentuk oleh lamina kribiformis, yang memisahkan rongga tengkorak dengan
rongga hidung.4 Bagian depan dan atas rongga hidung mendapatkan persarafan
sensoris dari nervus etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari nervus
nasosiliaris yang berasal dari nervus oftalmikus. Rongga hidung lainnya, sebagian
besar mendapat persarafan sensoris dari nervus maksila melaui ganglion
sfenopalatina. Ganglion sfenopalatina selain memberikan persarafan sensoris juga
memberikan persarafan autonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima
serabut saraf sensorius dari nervus maksila, serabut parasimpatis dari nervus
petrosus superfisial mayor dan serabut saraf simpatis dari nervus petrosus
profundus. Ganglion sfenopalatina terletak di belakang dan sedikit di atas ujung
posterior konka media. Fungsi penghidu berasal dari nervus olfaktorius. Saraf ini
turun melalui lamina kribrosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan
kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di
daerah sepertiga atas hidung.4 Bagian depan hidung mendapat perdarahan dari
cabang-cabang arteri fasialis. Bagian depan septum terdapat anastomosis dari

5
cabang-cabang arteri sfenopalatina, arteri etmoid anterior, arteri labialis superior,
dan arteri palatina mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach (Little’s area).4 Vena-
vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan
arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke vena
oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak
memiliki katup.4

2.2 Fisiologi Hidung


Berdasarkan teori struktural, teori evolusioner, dan teori fungsional, fungsi
fisiologis hidung adalah:1,4
1. Sebagai jalan nafas
Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas
setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga
aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara masuk
melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi.
Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah, sebagian lain kembali ke
belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring.
2. Pengatur kondisi udara (air conditioning)
Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan
udara yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan cara :
a. Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Pada
musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari lapisan ini
sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya.
b. Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah
di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas,
sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. Dengan demikian suhu
udara setelah melalui hidung kurang lebih 37 0C.
3. Sebagai penyaring dan pelindung
Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan
bakteri dan dilakukan oleh :
a. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi
b. Silia

6
c. Palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada palut
lendir dan partikel – partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks
bersin. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia.
d. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut
lysozime.
4. Indra penghirup
Hidung juga bekerja sebagai indra penghirup dengan adanya mukosa
olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas
septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut
lendir atau bila menarik nafas dengan kuat.
5. Resonansi suara
Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan
hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar
suara sengau.
6. Proses bicara
Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng)
dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle turun
untuk aliran udara.
7. Refleks nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan
saluran cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa hidung
menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti. Rangsang bau tertentu
menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.

2.3 Deviasi Septum Nasi


Septum nasi jarang terletak pada posisi lurus di tengah rongga hidung,
namun derajat deviasi yang besar akan menyebabkan obstruksi aliran udara nasal.
Pada banyak kasus, keadaan ini dapat dikoreksi dengan pembedahan, dengan hasil
yang memuaskan.5

2.3.1 Etiologi

7
Penyebab paling sering dari deviasi septum nasi adalah trauma dan
kesalahan perkembangan septum nasi.6,7 Umumnya disebabkan oleh trauma
langsung dan biasanya berhubungan dengan kerusakan pada bagian lain hidung
seperti fraktur os nasal.2,6,8 Pada sebagian pasien, tidak didapatkan riwayat trauma,
sehingga Gray paa tahun 1972 menerangkannya dengan teori birth moulding.
Posisi intra uterin yang abnormal dapat menyebabkan tekanan pada hidung dan
rahang atas, sehingga dapat terjadi pergeseran septum. Demikian pula tekanan
torsi pada hidung saat kelahiran dapat menambah trauma pada septum.1,9,10
1. Trauma
Pukulan di bagian lateral hidung dapat menyebabkan pergeseran letak dari
kartilago septum dari alur vomerine dan puncak maksila. Sedangkan pukulan
berat dari arah depan akan menyebabkan lekukan, lilitan, fraktur, dan duplikasi
dari septum nasi. Trauma hidung sering terjadi pada anak-anak.6 Trauma juga
dapat terjadi saat kelahiran dengan kesulitan melahirkan, ketika hidung tertekan
selama melewati jalan lahir. Trauma lahir harus diberikan perawatan segera.
2. Kesalahan pada perkembangan
Septum nasi dibentuk oleh proses tektoseptal yang berasal dari pertemuan
dua bagian dari perkembangan palatum di garis tengah tubuh. Selama
perkembangan gigi, perkembangannya kebih lanjut berada di palatum yang
menurun dan melebar untuk mengakomodasi gig-gigi.
Pertumbuhan yang tidak sama antara palatum dan dasar dari tengkorak
dapat menyebabkan lekukan septum nasi. Pada keadaan mulut yang diam, seperti
pada hipertropi adenoid, palatum sering melengkung sangat tinggi sehingga
septum mengalami deviasi. Deviasi septum nasi juga dapat ditemukan pada kasus
dengan bibir dan palatum sumbing dan pasien dengan abnormalitas dentis.
3. Ras
Pada manusia dengan ras Caucasian lebih sering terjadi dibandingkan
dengan Negro.
4. Faktor herediter
5. Kongenital
6. Sekunder, Septum nasi dapat mengalami deviasi akibat tumor, massa, atau
polip di hidung.

8
2.3.2 Klasifikasi
Deviasi dapat melibatkan hanya kartilago, tulang, atau keduanya.6,7
1. Dislokasi anterior
Kartilago septum dislokasi ke salah satu kavum nasi.
2. C-shaped Deformity
Septum berdeviasi dalam bentuk melengkung ke salah satu sisi. Kavum
nasi di sisi konkaf septum nasi akan melebar dan dapat menunjukkan hipertrofi
turbinasi kompensasi.
3. Spurs
Spur merupakan shelf-like projection, sering ditemukan pada pertemuan
antara tulang dan kartilago. Spur dapat menekan ke dinding lateral dan
menyebabkan sakit kepala dan epistaksis.
4. Penebalan
Penebalan ini dapat berupa hematoma atau over riding dari fragmen septal
yang mengalami dislokasi.

2.3.3 Gejala Klinis


Keluhan yang paling sering pada penderita deviasi septum nasi adalah
sumbatan hidung. Sumbatan biasanya unilateral, dapat pula bilateral, sebab pada
sisi deviasi terdapat konka hipotrofi, sedangkan pada sisi sebelahnya terjadi konka
hipertrofi, sebagai mekanisme kompensasi.3
Keluhan hidung tersumbat merupakan keluhan yang sering kita jumpai.
Sumbatan hidung dapat disebabkan karena kelainan mukosa, kelainan struktur
jalan nafas hidung seperti deviasi septum nasi dan kolaps jalan nafas. 1,8 Menurut
Bailey seperti yang dikutip Lin SJ dkk, kelainan yang menyebabkan sumbatan
hidung adalah deviasi septum nasi, hipertrofi konka, septum perforasi, kolaps
valvular, atresia koana, neoplasma, polip nasi, rhinitis alergi, hematom septum,
rhinitis medikamentosa dan rinitis vasomotor. Busse W menggambarkan patologi
yang terjadi pada sumbatan jalan nafas meliputi inflamasi jalan nafas, hiperplasi
dan hipertropi kelenjar mukus, metaplasi dan hipertropi sel goblet, hipertrofi dari
otot polos jalan nafas, peningkatan proliferasi pembuluh darah dan edema jalan

9
nafas. Kelainan struktur yang menyebabkan keluhan hidung tersumbat adalah
deviasi septum nasi, konka hipertrofi, stenosis ataupun konka bulosa. Deviasi
septum nasi melibatkan tulang septum, kartilago atau keduanya. Pada pasien
dengan kelainan septum, sisi yang sempit akan mengalami siklus sumbatan
hidung yang berbeda, yang menyebabkan perbedaan pada tahanan hidung total,
sehingga pasien merasakan sumbatan hidung yang berkala.1,8
Septum deviasi juga dapat menyebabkan kolaps dari katup hidung (nasal
valve). Katup hidung adalah celah antara ujung kaudal kartilago lateral atas
dengan septum hidung. Katup hidung berada lebih kurang 1,3 cm dari nares dan
merupakan segmen yang tersempit serta tahanan terbesar dari jalan nafas hidung.
Dengan memasuki daerah yang sempit ini akan terjadi peningkatan aliran dan
peningkatan tekanan interlumen (fenomena Bernoulli). Peningkatan tekanan
akibat deviasi septum akan menyebabkan kolapsnya segmen ini pada saat
inspirasi. Karena daerah katup hidung ini sempit maka dengan perubahan
sumbatan atau udema sedikit saja, akan meningkatkan tahanan pada daerah
tersebut.1,2

Gambar 4. Septum Deviasi

Keluhan lainnnya adalah rasa nyeri di kepala dan di sekitar mata.


Penciuman dapat terganggu hingga anosmia, apabila terdapat deviasi pada bagian
atas septum.3 Pasien juga dapat mengeluhkan gejala rinitis berulang, akibat
ostruksi yang menyebabkan stagnasi dari sekresi hidung.3 Epistaksis daat terjadi

10
akibat fleksus Kiesselbach terpapar dengan atmosfer, yang menyebabkan mukosa
kering, sehingga mukosa mudah terkupas.3

Gambar 5. Septum Deviasi

2.3.4 Klasifikasi
Klasifikasi deviasi septum nasi Deviasi septum nasi dibagi Mladina atas
beberapa klasifikasi berdasarkan letak deviasi, yaitu:11,12
1. Tipe I. Benjolan unilateral yang belum mengganggu aliran udara.
2. Tipe II. Benjolan unilateral yang sudah mengganggu aliran udara, namun masih
belum menunjukkan gejala klinis yang bermakna.
3. Tipe III. Deviasi pada konka media / area osteomeatal.
4. Tipe IV. Disebut juga tipe S dimana septum bagian posterior dan anterior
berada pada sisi yang berbeda.
5. Tipe V. Tonjolan besar unilateral pada dasar septum, sementara di sisi lain
masih normal.
6. Tipe VI. Tipe V ditambah sulkus unilateral dari kaudal-ventral, sehingga
menunjukkan rongga yang asimetri.
7. Tipe VII. Kombinasi lebih dari satu tipe, yaitu tipe Itipe VI.

11
Gambar 6. Klasifikasi Septum Deviasi menurut Mladina

Jin RH13 dkk membagi deviasi septum menjadi 4, yaitu :


1. Deviasi lokal termasuk spina, krista dan dislokasi bagian kaudal.
2. Lengkungan deviasi tanpa deviasi yang terlokalisir.
3. Lengkungan deviasi dengan deviasi lokal.
4. Lengkungan deviasi yang berhubungan dengan deviasi hidung luar
Jin RH dkk juga membagi deviasi septum berdasarkan berat atau
ringannya keluhan yaitu :13
1. Ringan : deviasi kurang dari setengah rongga hidung dan belum ada bagian
septum yang menyentuh dinding lateral hidung.
2. Sedang : deviasi kurang dari setengah rongga hidung tetapi ada sedikit bagian
septum yang menyentuh dinding lateral hidung.
3. Berat : deviasi septum sebagian besar sudah menyentuh dinding lateral hidung

Sementara itu Janarddhan R dkk membagi deviasi septum nasi menjadi 7


tipe:14
1. Midline septum atau deviasi ringan pada bidang vertikal atau horizontal
2. Deviasi vertikal bagian anterior
3. Deviasi vertikal posterior (daerah osteomeatal atau konka media)

12
4. Septum tipe S dimana septum bagian posterior pada satu sisi dan anterior pada
sisi lainnya
5. Spina horizontal pada satu sisi dengan deviasi tinggi pada sisi kontralateral
6. Tipe 5 dengan dasar yang dalam pada sisi yang konkaf
7. Kombinasi lebih dari satu tipe

2.3.5 Pemeriksaan fisik deviasi septum nasi


Deviasi septum nasi dapat mudah terlihat pada pemeriksaan rinoskopi
anterior. Penting untuk pertama-tama melihat vestibulum nasi tanpa spekulum,
karena ujung spekulum dapat menutupi deviasi bagian kaudal. Pemeriksaan
seksama juga dilakukan terhadap dinding lateral hidung untuk menentukan
besarnya konka. Piramid hidung, palatum dan gigi juga diperiksa karena struktur-
struktur ini sering terjadi gangguan yang berhubungan dengan deformitas septum.
Pemeriksaan nasoendoskopi dilakukan bila memungkinkan untuk menilai deviasi
septum bagian posterior atau untuk melihat robekan mukosa. Bila dicurigai
terdapat komplikasi sinus paranasal, dilakukan pemeriksaan radiologi sinus
paranasal.1,8.9
2.3.6 Pengukuran sumbatan hidung
1. Spatula lidah
Spatula lidah merupakan alat yang paling sederhana yang bisa dipakai
untuk mengukur sumbatan hidung. Ketika tidak ada alat lain yang tersedia maka
alat ini bisa digunakan. Dengan meletakkan spatula di depan hidung dan meminta
pasien untuk bernafas biasa dan menutup mulut, maka dapat dilihat salah satu
lubang hidung tersumbat dibandingkan yang lainnya
2. Nasal Inspiratory Peak Flowmetry (NIPF)
NIPF merupakan alat untuk mengukur aliran udara hidung saat inspirasi.
Pada tahun 1980, Youlten memperkenalkan alat ini yang kemudian di modifikasi
oleh Wright dengan menambahkan sungkup hidung pada alat ini. NIPF terdiri dari
tiga bagian yaitu face mask, konektor dan tabung silinder yang berisi diafragma
yang bergerak apabila ada aliran udara.

13
Alat ini mempunyai skala 30-370 l/menit. Sebelum melakukan
pemeriksaan pasien terlebih dahulu melakukan adaptasi terhadap suhu ruangan
selama 20 menit.6
Diperlukan penjelasan penggunaan alat ini pada pasien untuk
menggunakannya. Alat ini digunakan dengan meletakan “face mask” menutupi
hidung dan mulut. Udara inspirasi dihirup melalui hidung dengan memastikan
mulut tertutup. Pemeriksaan dilakukan sebanyak 3 kali dengan hasil tertinggi
yang didapat akan dipakai

Tabel 1. Nilai sumbatan hidung pada NIPF


Hasil NIPF Derajat Sumbatan Hidung
<50 Berat
50-80 Moderat
80-120 Ringan
>120 Normal

Penggunaan NIPF relatif mudah, bias diulang bila diperlukan, alatnya


mudah dibawa karena berukuran kecil dan mempunyai harga yang murah. Nilai
NIPF akan menurun pada penyakit saluran nafas bawah seperti asma dan penyakit
paru obstruksi kronis.6
3. Nasal Ekspiratory Peak Flowmetry (NEPF)
Tes ini dahulu telah pernah dilakukan, tetapi sekarang jarang dilakukan
karena dapat membuat pasien tidak nyaman pada tuba eustachius dan
menghasilkan sekret atau mukus pada sungkup wajah.6
4. Rinomanometri
Rinomanometri digunakan untuk mengukur hambatan aliran udara nasal
dengan pengukuran kuantitatif pada aliran dan tekanan udara nasal. Tes ini
berdasarkan prinsip bahwa aliran udara melalui suatu tabung hanya bila terdapat
perbedaan tekanan yang melewatinya. Perbedaan ini dibentuk dari usaha respirasi
yang mengubah tekanan ruang posterior nasal relatif terhadap atmosfir eksternal
dan menghasilkan aliran udara masuk dan keluar hidung. 6 Pada tahun 1984, the
European Committee for Standardization of Rhinomanometry menetapkan rumus
aliran udara nasal :
R = ΔP:V

14
R = Tahanan terhadap aliran udara (Pa/cm/det)
P = Tekanan transnasal (Pa atau CmH2O)
V = Aliran udara (Lt/det atau CmH20)
Dengan adanya standarisasi ini diharapkan memberikan perbandingan
hasil dan perbandingan rentang normal. Rinomanometri dapat dilakukan secara
aktif atau pasif dan dengan pendekatan anterior atau posterior. Rinomanometri
anterior aktif lebih sering digunakan dan lebih fisiologis. Tekanan dinilai pada
satu lubang hidung dengan satu kateter yang dihubungkan dengan pita perekat,
sementara aliran udara diukur melalui lubang hidung lain yang terbuka. Sungkup
wajah yang transparan di pasang menutupi hidung. Alat ini dihubungkan dengan
suatu pneumotokografi, amplifier dan perekam. Hasil ini ditampilkan secara
grafik sebagai kurva „S‟ dimana masing-masing lobang hidung dilakukan lima
kali pemeriksaan. Kemudian diambil nilai rata-rata lima kali pemeriksaan.
Sebelum diperiksa, pasien harus relaksasi selama 30 menit pada suhu kamar yang
tetap. Mesin membutuhkan 30 menit untuk penghangatan dan membutuhkan
kalibrasi teratur.
Rinomanometri relatif menghabiskan waktu dan hasil dapat bervariasi
sampai 20-25% dengan waktu yang dibutuhkan mencapai 15 menit.
Rinomanometri tidak bisa digunakan jika terjadi sumbatan hidung yang berat atau
ketika terdapat perforasi septum. Alat ini juga tidak dapat menilai lokasi
obstruksi. Pada rinomanometri posterior aktif, kateter dimasukkan melalui mulut
dengan bibir ditutup agar dapat mengukur tekanan faring. Aliran melalui kedua
kavum nasi diukur secara bersamaan. Digunakan sungkup hidung transparan yang
sama dengan rhinomanometri anterior. Teknik ini kurang invasif dan cendrung
mendistorsi rongga hidung. Namun satu dari empat pasien tidak dapat merelaksasi
palatum mole dan sebagian pasien tidak memungkinkan untuk memasukkan pipa.
Hasil bervariasi dalam beberapa menit, biasanya antara 15% sampai 20%.6
5. Rinometri akustik
Rinometri akustik ini memberikan nada suara yang dapat didengar (150-
10000 hz) yang dihasilkan oleh klik elektronik dan dibangkitkan oleh tabung
suara.22 Alat ini dimasukan ke hidung dan aliran udara hidung direfleksikan oleh
perubahan lokal pada akuistik impedansi. Bunyi yang direfleksikan ditangkap

15
oleh mikrofon, diteruskan ke komputer dan dianalisa. Terdapat berbagai ukuran
“nosepiece” untuk menghubungkan tabung suara ke hidung. Sangat perlu untuk
menyesuaikan “nosepiece” dengan lubang hidung tanpa menyebabkan
deformitas. Pemeriksaan diulang lima kali dan dihitung nilai rata-ratanya.6
2.3.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan berupa koreksi septum hanya dilakukan bila pasien
mengalami gejala yang persisten dan berulang. Terdapat dua jenis tindakan
operatif, yaitu reseksi submukosa (Submucous Resection of the Nasal Septum) dan
septoplasti.3
Pada deviasi septum nasi ringan yang tidak menyebabkan gejala,
dilakukan observasi. Pada septum deviasi yang memberikan gejala obstruksi
dilakukan pembedahan septoplasti.1,5 Penatalaksanaan deviasi septum nasi sangat
tergantung dari keluhan pasien maupun komplikasi yang ditimbulkannya.
Septoplasti merupakan prosedur operasi yang dilakukan untuk koreksi deviasi
septum nasi. Septoplasti dilakukan jika terdapat keluhan akibat deviasi septum
nasi seperti hidung tersumbat, untuk memperbesar akses ke meatus media pada
saat melakukan bedah sinus endoskopi fungsional, sakit kepala akibat kontak
dengan septum deviasi, epistaksis dan sebagai akses untuk melakukan tindakan
operasi tertentu dan alas an kosmetik.5
Saat ini dikenal berbagai teknik septoplasti antara lain septoplasti
tradisional atau yang sering disebut septoplasti konvensional, septoplasti
endoskopi dan teknik open book septoplasty yang diperkenalkan oleh Prepageran
dkk. Olphen menjelaskan bahwa Cottle pada tahun 1963 memberikan konsep
septoplasti konvensional, yang dikerjakan dalam 6 tahap : (a) melepaskan mukosa
periostium dan perikondrium dari kedua sisi septum; (b) mengoreksi daerah
patologis (c) membuang daerah yang patologis (d) membentuk tulang dan tulang
rawan yang dibuang (e) rekonstruksi septum (f) fiksasi septum.12
Teknik untuk septoplasti dengan endoskopi adalah dengan melakukan
infiltrasi epinefrin 1:200.000 pada sisi cembung septum yang paling mengalami
deviasi menggunakan endoskopi kaku 00. Dilakukan insisi hemitransfiksi, insisi
tidak diperluas dari dorsum septum nasi ke dasar kelantai kavum nasi, tidak
seperti insisi konvensional yang diperluas sampai bagian superior dan inferior.

16
Pada septoplasti endoskopi hanya dibutuhkan pemaparan pada bagian yang paling
deviasi saja. Flap submukoperikondrial dipaparkan dengan menggunakan
endoskopi, tulang yang patologis dan bagian septum yang deviasi dibuang. Bekas
insisi ditutup dan tidak dijahit kemudian dipasang tampon. 5,12 Sedangkan
Prepageran dkk melaporkan teknik septoplasti dengan metode open book, dimana
insisi dibuat secara vertikal tepat di daerah anterior deviasi kemudian insisi
horizontal sesuai aksis deviasi paling menonjol.13
Septoplasti dapat memperluas salah satu sisi rongga hidung, yaitu sisi
cembung dari rongga hidung. Diharapkan dengan septoplasti ruang antara septum
dan konka inferior di sisi cekung yang mengalami konka hipertrofi dapat
berkurang bahkan menjadi normal. Namun septoplasti dengan konkotomi untuk
mengurangi volume kontralateral konka inferior, termasuk jaringan lunak dan
tulang konka, dianjurkan dalam kasus tertentu.13

Gambar 7. Septoplasti

Reseksi submukosa dilakukan dengan cara mukoperikondrium dan


mukoperiosteum kedua sisi dilepaskan dari tulang rawan dan tulang septum.
Bagian tulang atau tulang tulang rawan dari septum diangkat, sehingga
mukoperikondrium dan mukoperiosteum sisi kiri dan kanan akan langsung
bertemu di garis tengah. Tindakan ini memiliki banyak komplikasi, seperti
pendarahan, kerusakan di jaringan sekitarnya, rinore cairan serebrospinal,
perforasi septum, sinekia, infeksi, hematoma septum, dan lain-lain.3

17
Indikasi dilakukan reseksi submukosa adalah:7
a. Hidung tersumbat total
b. Infeksi saluran nafas atas berulang
c. Sinusitis berulang
d. Epistaksis berulang
e. Nyeri kepala
f. Infeksi telinga tengah
g. Deformitas hidung memerlukan rinoplasti disamping reseksi submukosa.
Septoplasi dilakukan dengan cara mereposisi tulang rawan yang bengkok.
Prosedur ini merupakan operasi konservatif. Operasi ini sangat menolong
dilakukan pada anak-anak seta meminimalisasi komplikasi yang timbul bila
dilakukan reseksi submukosa.7
2.3.8 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada deviasi septum nasi adalah:7
1. Sinusitis berulang
2. Infeksi telinga tengah
3. Pernafasan mulut, menyebabkan infeksi faring, laring, dan tracheobronchial
tree berulang.
4. Asma
5. Rinitis atropi

BAB III
KESIMPULAN

18
Deviasi septum nasi merupakan penyebab obstruksi nasi yang paling
sering ditemukan. Bentuk septum yang normal ialah lurus di tengah rongga
hidung tetapi pada orang dewasa biasanya septum nasi tidak lurus sempurna di
garis tengah. Deviasi septum yang ringan tidak akan mengganggu, akan tetapi bila
deviasi itu cukup berat, menyebabkan penyempitasn pada satu sisi rongga hidung.
Dengan demikian dapat mengganggu fungsi hidung dan menyebabkan
komplikasi.
Penyebab paling sering dari deviasi septum nasi adalah trauma dan
kesalahan perkembangan septum nasi. Keluhan yang paling sering pada penderita
deviasi septum nasi adalah sumbatan hidung. Keluhan lainnnya adalah rasa nyeri
di kepala dan di sekitar mata, Penciuman dapat terganggu hingga anosmia, gejala
rinitis berulang, epistaksis.
Penatalaksanaan berupa koreksi septum hanya dilakukan bila pasien
mengalami gejala yang persisten dan berulang. Terdapat dua jenis tindakan
operatif, yaitu reseksi submukosa (Submucous Resection of the Nasal Septum) dan
septoplasti.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kridel, R.W.H., Kelly, P.E., MacGregor, A.R. The Nasal Septum. In:
Cummings, C.W., et al. Otolaryngology Head & Neck Surgery Volume Two,
4th Ed. Philadelphia: Mosby. 2005. p1001.
2. Boies, L.R. Chronic Nasal Obstruction. In: Boies, L.R. Fundamental of
Otolaryngology, A Textbook of Ear, Nose, and Throat Diseases, 3th ed.
Philadelphia: W.B. Saunders. 1990. p217-221.
3. Piere de Oliviera AKP, Junior EE, Santos LV. Prevalence of deviated nasal
septum in curitiba, Brazil. Otorhinolaryngology Service of Clinical Hospital
of federal University 2005: 1-8
4. Nizar, N.W., Mangunkusumo, E. Kelainan Septum. Dalam: Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher Edisi 6. Jakarta: Balai
Penerbit FK UI. 2010. p126-127.

19
5. Soetjipto, D., Mangunkusumo, E., Wardani, R.S. Hidung. Dalam: Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher Edisi 6. Jakarta:
Balai Penerbit FK UI. 2010. p118-122.
6. Bull, P.D. The Nasal Septum. In: Lecture Notes on Diseases og The Ear,
Nose, and Throat 9th ed. USA: Blackwell. 2002. p81-84.
7. Dhingra, PL. The Septum and Its Deseases. In: Dhingra, PL. Diseases of Ear,
Nose, and Throat 4th ed. India: Elsevier. 2003. p140-143.
8. Bhargava, K.B., et al. Diseases of The Nasal Septum. In: Bhargava, K.B., et
al. A Short Textbook of E.N.T. Diseases 5th ed. Mumbai. 2002. p175-183

9. Nizar NW, Mangunkusumo E. Kelainan hidung. Dalam: Soepardi EA,


Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI 2007: p.126-7

10. Walsh WE, Korn RC. Sinonasal anatomy, function, and evaluation. In: Bailey
BJ, Johnson JT, Head and Neck Surgery-Otolaryngology, Fourth edition,
Volume one. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2006: p.307- 334

11. Seyhan A, Ozaslan U, Azden S. Three-dimentional modeling of nasal septal


deviation. Annals of Plast Surg 2008. 60: 157-61

12. Skadding GK, Lund VJ. In: Investigative rhinology. Taylor&Francis. London
2004. p.71-6

13. Jain L, Jain M, Chouhan AN, Harswardhan R. Convensional septoplasty


verses endoscopic septoplasty: A Comperative Study. People‟s Journal of
Scientific Research. 2011; 4(2): p.24-8

14. Prepageran N, Lingham OR. Endoscopic septoplasty: The open book method.
Indian J Otolaryngol Head Neck Surg. 2010; 62: 310-2

20