Anda di halaman 1dari 11

INDIBATH

3 Maret 2013 · by faisalrizka · in Artikel, Islam. ·

Indibath atau kedisiplinan bisa diartikan


sebagai pelaksanaan amal yang mendekati bagian bagian yang dituntut dari perilaku amal sesuai
dengan kemampuannya, dalam jangka waktu tertentu dan dalam bingkai menjaga amal.
Dalil tentang Indibath

“Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang
memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya.
Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang
yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena
sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan
mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (Qs An Nuur:62)
“(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (Qs Ali Imran:76)
“Semoga Allah mema’afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi
berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu
ketahui orang-orang yang berdusta? Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,
tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah
mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah
orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena
itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (Qs At taubah:43-45)
Pesan Rasulullah kepada pasukan pemanah
“Meskipun kamu lihat kami disambar burung, tetaplah kamu di markas kamu ini, sampai kamu
dipanggil. Dan kalau kamu lihat kami mengalahkan dan menundukkan mereka, tetaplah kamu di sini
sampai kamu dipanggil.”(H.R. Bukhari)

Dalam konteks tarbiyah indibath atau kedisiplinan ini bisa kita lakukan lewat mekanisme izin kepada
qiyadah dalam berbagai kegiatan. Misalnya dalam halaqah seringkali ketika kita tidak bisa hadir, kita
hanya memberitahukan kabar kepada Murabbi, bukannya meminta izin. Hal ini berlaku juga dalam
setiap rapat yang kita lakukan.

“Maaf Ustadz, saya tidak bisa hadir malam ini karena ada keluarga yang datang.”

“Ustadz saya boleh izin tidak datang pertemuan malam ini? kedua orang tua saya datang ke
Bandung.”

2 kalimat diatas adalah contoh dari pemberitahuan dan izin. Kalimat pertama adalah pemberitahuan
sedangkan yang kedua adalah izin. Tentu keduanya memiliki perbedaan kalimat pertama tidak ada
ruang untuk ditolak ketidak hadirannya dan untuk dinilai sebagai izin pun tidak bisa. Kalimat kedua
jelas harus ada respon dari si pemberi izin, apakah diizinkan atau tidak.

Berdasarkan Al Imran ayat 76 ternyata Indibath ini hanya bisa dilakukan oleh orang orang yang
bertakwa.

Salah satu kisah sahabat tentang indibath, selain kisah pemanah di bukit uhud adalah tentang Ka’ab
bin Malik. Dalam setiap peperangan sebelumnya Ka’ab bin malik tidak pernah absen, begitupun pada
peperangan setelah perang tabuk, ia selalu ikut. Pada perang tabuk inilah ia sekalinya mangkir. Ia lalai
dalam mempersiapkan bekal untuk berangkat berperang. Bahkan sampai ketika Rasulluh bersama
pasukan muslim saat itu sudah berangkat ke medan Tabuk, Ia masih tidak berdisiplin menyiapkan
bekal dan menyusul pasukan muslim saat itu.

Jika dibandingkan dalam kondisi saat ini, kita sering kali tidak disiplin dalam menyiapkan bekal untuk
dauroh atau mukhoyam. Hingga akhirnya gagal untuk mengikuti kegiatan tersebut. Bedanya dengan
Ka’ab bin Malik, kita sering kali mencari cari alasan atas ketidak hadiran. Entah karena malu atau takut
hukuman. Padahal hukuman itu bisa menjadi salah satu sarana dalam melatih kedisiplinan.

Bidang bidang dalam Indibath


1. Ibadah dan Keagamaan
dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah
kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya.
Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.(Qs. Al-An’aam:153)
“…Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang orang yang
beriman.” (Qs. An nisaa’:103)
Sebagai seorang muslim, seharusnya kita sudah terlatih untuk disiplin. salah satu latihannya adalah
dalam Sholat. Pada ayat diatas, sholat itu sudah ditentukan waktunya dan karena itulah bagi orang
orang yang sudah rutin 5 waktu dengan berjamaah di masjid seharusnya bisa untuk menerapkan
kedisiplinan ini dalam bidang lainnya.

2. Sosial

“Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada; iringilah keburukan dengan kebaikan
niscaya menghapusnya, pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.” (H.R. Tarmidzi)
3. Manajemen dan produktivitas

“Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah
bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah
amalan yang kontinu walaupun sedikit.” (H.R. Muslim)

4. Ekonomi

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir,
dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Qs Al Furqaan: 67)
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu
mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (Qs Al Israa’: 29)
5. Politik dan Jihad

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan
(menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan
adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah
adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah
Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya. (Qs An Nisaa’: 58-59)
Tanda lahirnya indibath dalam konteks tarbiyah dan dakwah

o Memberi/meminta informasi terakhir kepada/dari qiyadah terkait pembagian tugas


o Sabar, melipatgandakan kesabaran, dan kuat menahan beban

o Memahami perintah dengan teliti demi menjamin ketelitian dan keselamatan pelaksanaan

tugas

o Pelaksanaan perintah secara langsung meskipun bertentangan dengan pendapat pribadinya

o Memberi nasihat dan masukkan yang bermanfaat

o Meminta izin

o Sangat serius menjaga keamanan dan keselamatan jamaah

o Meninggalkan ijtihad pribadi jika instruksinya sangat jelas

End of theme
Sikap Indibath dan Intima’ Bagi aktivis Dakwah
Posted by Hanif on December 9, 2010 in Pejuang Syurga

Dalam aktivitas dakwah secara kolektif seringkali masalah yang timbul adalah permasalahan
manajemen. Allah memerintahkan untuk berorganisasi dalam berdakwah seperti tertuang dalam
surah As-Shaf ayat 4, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang dijalanNya
dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” Ali
Ibn Abi Thalib juga mengatakan kejahatan yang terorganisir akan mampu mengalahkan kebaikan
yang tidak terorganisir. Maka sesungguhnya menjadi hal yang prioritas dalam dakwah kita
menyusun bangunan organisasi yang kokoh dengan manajemen yang baik. Manajemen ini meliputi
manajemen secara kolektif, yaitu sistem dan manajemen Individu yang pada akhirnya mengisi
manajemen kolektif dari sebuah sistem organisasi.

Namun seringkali bangunan dakwah yang besar dengan sistem yang telah tersusun tidak mampu
bekerja secara produktif, dikarenakan sudah kehilangan komitmen sebagian anggotanya yang tidak
menjalankan sistem itu dengan baik. Ada dua masalah mendasar, bisa jadi sistemnya yang
bermasalah atau faktor kepahaman Individu. Semuanya harus diperbaiki secara bersamaan.

Dengan sistem organisasi yang besar, tahapan yang semakin menanjak dan lini kerja yang luas
menjadikan sistem manajemen organisasi dakwah yang terus harus berkembang. Disamping itu
penyesuaian para da’inya harus berjalan beriringan. Dalam hal manajemen Individu, permasalahan
yang seringkali ditemukan dalam sebuah organisasi adalah masalah Indibath sikap disiplin)
dan Intima’ (Loyalitas jama’i). Jika sistem organisasi telah mampu menyesuaikan diri terhadap
lingkungannya dengan manuver manuvernya. Maka niscaya harus dibarengi dengan penyesuaian
Individu terhadap sistem organisasi tersebut. Terlebih dalam jama’ah dakwah. Jika tiap-tiap individu
didalamnya bersikap disiplin, komitmen dan loyal terhadap sistem yang ada, maka sikap itu secara
kolektif akan merepresentasikan sebuah organisasi dengan manajemen yang baik, penuh dengan
keteraturan. Namun jika banyak yang tidak disiplin, komitmen, bahkan loyal. Itulah sesungguhnya
gambaran dari manajemen organisasi secara kolektif.

Permasalahan kedisiplinan, tepat waktu atas janji yang telah disepakati merupakan salah satu ciri
yang seharusnya dimiliki oleh umat Islam, terlebih bagi para da’i di jalan Allah. Karena
sesungguhnya ia lah seorang tauladan. Tauladan bagi dirinya dan orang lain, entah bagi jundi-
jundinya maupun orang ammah. Ada 2 poin sesungguhnya yang menjadi titik tekan, yaitu Disiplin
dan kesepakatan.
Keduanya merupakan adab pergaulan sesama muslim yang telah diperintahkan oleh Allah dalam
surah An-Nahl 91: “Dan tepatilah Janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu
melanggar sumpah setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu
(terhadap sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” Dalam ayat ini
Allah SWT memerintahkan kaum Muslimin untuk menepati perjanjia serta berusaha untuk disiplin
dan komitmen untuk memenuhinya. Dalam tafsir jalalain dijelaskan bahwa dalam ayat ini, semua
ikatan perjanjian yang dibuat dengan kehendak sendiri wajib dipenuhi baik perjanjian itu dengan
sesama muslim ataupun terhadap orang diluar Islam. Karena Allah telah ditempatkan menjadi saksi
ketika akad janji itu diikrarkan. Huruf lam dalam “wa laa tanqudhu” merupakan laa nahiy yang berarti
larangan. Maka Allah akan memberikan pahala terhadap orang yang menepati janji, dan membalas
dengan azab bagi mereka yang mengkhianati janji yang telah diucapkan. Karena sesungguhnya
Allah lah yang menilai siapa yang berusaha memenuhi janji dan siapa yang tidak.
Bahkan Allah menegaskan dalam Surah Al-Maidah ayat 1: “Wahai orang-orang yang beriman!
Penuhilah janji-janji ….. “. Kata Aufu bil’ukud adalah fi’il amr yaitu kata kerja perintah. Dan ayat ini
ditujukan terhadap orang-orang yang beriman. Yang diperintahkan untuk memenuhi janji terhadap
Allah dan disiplin terhadap janji dalam pergaulan antar manusia.
Sungguh luar biasa jika seluruh komponen dalam suatu Jama’ah dakwah menjalankan perintah
Allah ini secara 100%. Kadang hambatan terjadi karena ketidak disiplinan salah satu komponen,
sehingga menghambat komponen yang lain bagaika efek domino. Disinilah letak dari amal
Jama’i kita para aktifis dakwah. Seharusnya bisa saling bersinergi membangun, bukan menghambat
dan meruntuhkan. Ditambahlagi perjanjian itu diawali dengan kesepakatan, yang itu artinya melalui
mekanisme Syuro(Musyawarah)seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Sesungguhnya inilah yang akan membentuk kepribadian muslim secara kolektif. Dan akan
merepresentasikan dakwah secara kolektif jama’i.
“Dan sungguh mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, tidak akan berbalik kebelakang
(mundur). Dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Ahzab 15).
Sungguh Allah telah menyaksikan umat Islam yang berjanji setia kepada Rasulullah yang itu artinya
berjanji setia kepada Allah (Al-Fath 10). Allah telah memerintahkan keteraturan dalam dakwah
menyeru kepada kebaikan, menyeru pada Islam. Keteraturan itu di representasikan dalam agenda
Jama’i kita dengan sikap Indibath dan Intima’. Sesungguhnya sikap disiplin dan loyalitas kita bukan
terhadap Individu, namun terhadap sistem Islam yang telah ada. Selama qiyadahdan Jama’ah
bergerak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunah. Maka
sikapIndibath(Disiplin) dan Intima’(Loyalitas) para Aktivis dakwah adalah sikap terhadap Allah dan
Islam itu sendiri. Dan kesemuanya itu akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah
SWT. Wallahu’alam bi Al-Shawab
End of theme
BELAJAR INDIBATH DARI MAKHLUK IMUT

Ada orang yang melihat semut sebagai hewan kecil yang rakus, (hanya) karena sangat aktif
mengumpulkan bahan makanan jauh lebih banyak dari panjang usia yang mungkin dijalaninya. Bahwa
nama semut menjadi sebutan bagi salah satu dari 114 surat Al-Quran, memang tidak menjadi jaminan
mereka tercela atau tidak, berbeda dari semisal Al-Munafiqun dan Al-Kafirun atau nama-nama lain
seperti anjing (QS. 7:176), kera dan babi (QS. 5: 60). Tetapi kalau bukan untuk tujuan terpuji, untuk apa
nama itu disebut dalam kitab suci, seperti surat An-Naml atau An-Nahl?

Konon bila ada seekor semut berjalan berputar-putar atau zigzag, maka artinya ia memang sedang
bertugas mencari bahan makanan bagi kaumnya. Bila menemukan sepotong daging, kembang gula atau
makanan lainnya, dijamin ia tak akan menghabiskan atau mengangkutnya sendirian. Ia akan berputar-
putar sejenak untuk mengukur dan menghitung berapa pasukan semut yang diperlukan. Pulang ke
sarang ia berjalan lurus dengan melepaskan asam semut melalui ekornya yang akan menjadi garis
navigasi bagi para pekerja yang akan melaluinya dengan disiplin. Coba-cobalah meletakkan sekeping
cokelat atau gula di tepi garis asam semut itu, mereka tetap takkan tergoda. Demikian akurat semut
menggunakan intuisinya yang mengajarkan manusia kapan musim hujan dan musim kemarau akan
datang, demikian pula disiplin mereka. Mereka tak bersuara, namun bekerja. Menimbun logistik untuk
musim yang lebih panjang dari usia mereka, tetapi bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan
kepentingan kaum dan bangsa.

Jangan coba-coba menaburkan gula atau kue manis dekat-dekat garis itu, karena pasukan semut takkan
terangsang oleh provokasi atau jebakan itu. Ghayah dan ahdaf (tujuan dan sasaran) mereka jelas. Amal
jamai mereka kompak. Disiplin mereka tinggi. Entah dari mana datangnya dan bagaimana ia mengintai,
seekor semut eksekutor telah siap dengan kepala dan taring yang besar untuk memenggal kepala semut
yang terangsang mengambil makanan di luar garis navigasi.

Betapa mahalnya harga yang harus dibayar akibat tindakan liar sebagian pasukan artileri yang
ditempatkan Rasul SAW di bukit pada perang Uhud itu. Mereka dipesan untuk jangan meninggalkan
front tanpa komando, baik pasukan kita kalah atau menang. Tak pernah sepedih itu duka dan gundah
yang dirasakan Nabi SAW.

Bila jenis serangga ada yang bersuara, itulah nahl, lebah yang diperintahkan Allah untuk membangun
hunian di gunung-gunung, di pohon-pohon dan rumah-rumah manusia (QS. An-Nahl: 68). Mereka
disuruh memakan yang baik-baik dan memproduksi yang baik-baik yang sangat berguna bagi kesehatan
dan penyembuhan. Mereka berdengung di sarang seperti pasukan mujahid muslim di zaman Rasulullah
saw, mendengungkan dzikir di malam hari setelah sepanjang siang dengan penuh semangat dan
kesungguhan berjihad membela kebenaran. Mereka tak suka mengganggu siapapun, namun jangan
coba-coba melempari sarang lebah, mereka akan datang full team membalas setiap agresor.

Muslim yang tak bersengat bekerja seperti semut, dan yang sudah bersengat berjuang bagaikan lebah.
Perumpamaan seorang muslim seperti lebah, tak makan kecuali yang baik dan tak keluar dari perutnya
kecuali yang baik.

“Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang
memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya.
Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka Itulah orang-orang yang
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Maka apabila mereka meminta izin kepadamu Karena sesuatu
keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah
ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada
sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah Telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi
di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi
perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS.An Nuur:62-62)

Jika merujuk kepada Al-Qu’ran dan Hadist maka tidak ditemukan kata indibath di sana. Secara etimologi
indhibath berasal dari kata dhobth yang berarti komitmen dengan sesuatu. Al-Laits mengartikan dhobth
dengan komitmen (berpegang teguh) dengan sesuatu dan tidak memisahkannya. Dhobthusy-sya’i juga
berarti menjaga sesuatu dengan kuat. Kemudian Ustadz Fathi Yakan memberikan definisi al-indhibath
dengan komitmen kepada Islam dan hukum-hukumnya serta menjadikannya sebagai poros kehidupan,
pijakan berfikir, dan sumber hukum dari setiap permasalahan.

Indibath dengan Islam disebutkan dalam beberapa ayat, seperti :


"Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah
kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam" (Al-Imron : 102),

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub (Ibrahim
berkata) : “Hai anak-anakku , sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah
kamu mati kecuali dalam memeluk Agama Islam” (Al-Baqoroh : 132).

Juga dalam firman-Nya : "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah
kesabaranmu dan tetaplah bersiaga (Ar-Ribath) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung"
(Al-Imran : 200).

Termasuk makna ribath adalah menunggu sholat berikutnya setelah menunaikan sholat. Ini berarti
menunggu kewajiban setelah menunaikan kewajiban.

End of theme
Mengenali Makna Al-Indibath Aktivis Dakwah
Posted on 14 June 2012 by Syaima' Azure in Tazkirah // 0 Comments

Aktivis dakwah. Nama ini cukup sinonim dengan kehidupan kita dan sahabat
seperjuanganku yang lain, sebagai orang yang bukan hanya disibukkan dengan pekerjaan
dunia semata, bahkan urusan-urusan dalam usaha menegakkan kalimah Allah di tempat
tertinggi.

Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang


mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha suci Allah, dan
aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik…” (Yusuf,12 :208)
Indibath (disiplin) luar biasa seorang aktivis dakwah menjadikan dakwah itu mekar subur di
jiwanya sehingga sampai satu tahap dakwah itu sudah sebati dalam hati dan hidupnya. Dia
tidak lagi menghiraukan keterbatasan dirinya apalagi sekatan luaran yang ditimpakan pada
dirinya. Padanya dakwah kepada Allah itu menjadi satu kemanisan yang tiada nilaiannya di
sisi Allah. Sebenarnya itu satu nikmat daripada Allah yang Allah berikan pada hamba-hamba
pilihanNya, dan juga pada orang yang benar-benar mencintai jalan para rasul-Nya.
Kehidupan aktivis dakwah ini sering melibatkan penginfaqan dirinya di jalan Allah. Bagi yang
tidak mempunyai wang, berusaha berbisnes walau secara kecil-kecilan untuk diinfaqkan ke
jalan dakwah.

Bagi yang sakit pula, sanggup meredah embun malam untuk menghadiri majlis-majlis ilmu.

Bagi sang isteri, sanggup bangun pada jam 3-4 pagi untuk menyiapkan keperluan keluarga
sebelum berangkat berjihad di jalan Allah.

Bagi yang bekerja, sanggup menggadaikan hujung minggu untuk menyampaikan ilmu-ilmu
Allah.

Bagi si bujang pula, tidak perlu cerita. Setiap detik dan saat memikirkan bagaimana mahu
dilakukan perbaikan pada sang mutarabbi yang dahagakan kasih sayang dan ilmu dari sang
murabbi…

Subhanallah…Subhanallah…Subhanallah…

Namun, ingin ditegaskan, tiada apa yang sempurna di dunia ini. Sebagai seorang yang cinta
pada jalan dakwah yang pernah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan para sahabat ini, setiap
ketidaksempurnaan itu perlulah ditampali dengan perbaikan. Jika kurang pada ilmunya,
maka kewajipan setiap aktivis untuk pergi keluar mendapatkan ilmu tambahan. Jika kurang
kefahaman dakwahnya, maka setiap aktivis perlu banyak lagi menggiatkan diri dalam
program-program dakwah. Jika kurang ketaatannya, maka setiap jundi harus merasa
menjadi murabbi… rasakan bagaimana bila mutarabbi sendiri kurang komitmen dalam
menaati perintah Allah, kurang sabar dalam menjunjung sunnah Rasulullah SAW.

Kita pasti merasa kurang selesa bila melihat satu persatu sahabat seperjuangan gugur
‘syahid’ di pertengahan jalan sebelum sempat merasai nikmat sebenar berada di medan
juang.

Katanya, “letihla, ukhti”….


Katanya, “ana dah tak sanggup, ukhti”….
Katanya, “ini bukan apa yang ana cari, ukhti”…
Katanya, “Ana nak fokus study”….
Katanya, “Ana sibuk”…
Subhanallah. Keletihan apakah yang lebih manis daripada berdakwah? Kesanggupan apakah
yang lebih mahal harganya daripada dakwah? Pencarian apakah yang lebih besar maknanya
daripada dakwah? Kesibukan apakah yang lebih indah daripada berdakwah?

Mari kita soroti kisah perjuangan para sahabat yang rela berkorban demi Islam. Bagaimana
Mus’ab bin Umair sanggup meninggalkan kebangsawanannya demi mentaati perintah Allah
dan berada di samping Rasulullah SAW? Dia semasa jahiliyyahnya sangat kaya, tetapi
semasa syahidnya dia di medan Uhud, kain yang menyelimutinya tidak cukup, bahkan
ditutupi pula kakinya dengan daun-daun kering… Subhanallah…

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, salah seorang daripada 10 sahabat yang dijamin masuk syurga.
Saat kesyahidannya sangat mengharukan. Bahkan khalifah Umar menitiskan air mata
melihat pengorbanannya sebagai seorang pemimpin. Penyakit taun yang melanda
kawasannya tidak menyebabkan dia berganjak sedikitpun daripada anak-anak buahnya.
Bahkan diterbangkan semula surat arahan dari sang khalifah supaya pulang dengan
jawapan ‘TIDAK‘. Itulah kali pertama dan kali terakhirnya dia menjadi jundi yang tidak
taat… Subhanallah….
Tidak dilupakan syahidah pertama, Sumayyah yang tidak ragu dan tidak takut
mempertahankan aqidahnya walaupun tahu nyawanya pasti berakhir jika berdegil. Tapi dia
masih memilih berada di sisi Allah. Tiada kemanisan yang lebih nikmat daripada kesyahidan
itu. Subhanallah….

Tak tercoret di sini bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat bermati-matian berjuang
menegakkan agama Allah untuk diteruskan kepada generasi seterusnya…kepada kita… Tapi
kita di sini pula masih sibuk memikirkan kuasa, harta dan pangkat. Sibuk memikirkan
kesilapan orang lain dalam membawa dakwah Rasulullah SAW, sibuk mengatakan akhi itu
silap…ukhti ini salah… murabbiyah ni tak bagus…. Astaghfirullah. Bagaimana dengan diri
kamu?

Sudah penuhkah ketaatan kamu pada Allah? Sudahkah kamu merasa segala keperitan yang
pernah dialami Rasulullah SAW dan para sahabat? Sudahkah kamu berusaha menjadi jundi
yang baik? Sudah terpenuhikah hak2 manusia lain atas diri kamu? Sudahkah kamu berbuat
baik kepada orang tuamu?

Rupanya banyak lagi tak terpenuhi.. sama-sama kita menjadi umat terbaik.

“Kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, kerana kamu
menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah yang mungkar dan beriman
kepada Allah… ” (Ali-Imran,3 :110)
 

“Barangsiapa yang mempunyai niat untuk mati syahid, maka Allah akan
kumpulkan dia bersama-sama dengan para syuhada (di akhirat) walaupun dia
mati di atas tempat tidurnya” (HR Tarmidzi, Ibn Majah, Abu Daud)
Astaghfirullahal Azhim...
Moga Allah ampuni segala dosa-dosa kita dan menjadikan kita orang yang lebih banyak
mengingati kematian dan memperbaiki diri sendiri.