Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Keluarga
1. Definisi Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari
suami istri, atau suami istri dan anaknya, ayah dan anaknya, ibu dan
anaknya ( APD Salvari, 2013).
2. Struktur Keluarga
Menurut Effendi (2009) struktur keluarga terbagi menjadi 3, antara lain:
a. Patrilineal
Merupakan keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur
garis ayah.
b. Matrilineal
Merupakan keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara dalam
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis
ibu.
c. Matrilokal
Merupakan sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah istri.
d. Patrilokal
sepasang suami-istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami
e. Keluarga Kawin
hubungan sepasang suami istri sebagai dasar bagi pembinaan
keluarga dan beberapa sanak saudara menjadi bagian keluaga karena
adanya hubungan dengan suami atau istri.
Menurut Harmoko (2012) membagi struktur keluarga menjadi empat
elemen, yaitu komunikasi, peran keluarga, nilai dan norma keluarga, dan
kekuatan keluarga.
a. Struktur Komunikasi Keluarga
Komunikasi dalam keluarga dapat berupa komunikasi secara
emosional, komunikasi verbal dan non verbal, komunikasi sirkular.
Komunikasi emosional memungkinkan setiap individu dalam keluarga
dapat mengekspresikan perasaan seperti bahagia, sedih, atau marah
diantara para anggota keluarga. Pada komunikasi verbal anggota
keluarga dapat mengungkapkan apa yang diinginkan melalui kata-kata
yang diikuti dengan bahasa non verbal seperti gerakan tubuh.
Komunikasi sirkular mencakup sesuatu yang melingkar dua arah
dalam keluarga, misalnya pada saat istri marah pada suami, maka
suami akan mengklarifikasi kepada istri apa yang membuat istri marah.
b. Struktur Peran Keluarga
Peran masing – masing anggaota keluarga baik secara formal maupun
informal, model peran keluarga, konflik dalam pengaturan keluarga.
c. Struktur Nilai dan Norma Keluarga
Nilai merupakan persepsi seseorang terhadap sesuatu hal apakah baik
atau bermanfaat bagi dirinya. Norma adalah peran-peran yang
dilakukan manusia, berasal dari nilai budaya terkait. Norma mengarah
kepada nilai yang dianut masyarakat, dimana norma-norma dipelajari
sejak kecil. Nilai merupakan prilaku motivasi diekspresikan melalui
perasaan, tindakan dan pengetahuan. Nilai memberikan makna
kehidupan dan meningkatkan harga diri (Susanto, 2012). Nilai
merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang secara sadar
atau tidak, mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai
keluarga merupakan suatu pedoman perilaku dan pedoman bagi
perkembangan norma dan peraturan. Norma adalah pola prilaku yang
baik menurut masyarakat berdasarkan sistem nilai dalam keluarga.
d. Struktur Kekuatan Keluarga
Kekuatan keluarga merupakan kemampuan baik aktual maupun
potensial dari individu untuk mengendalikan atau mempengaruhi
perilaku orang lain berubah kearah positif. Tipe struktur kekuatan
dalam keluarga antara lain: hak untuk mengontrol seperti orang tua
terhadap anak (legitimate power/outhority), seseorang yang ditiru
(referent power), pendapat, ahli dan lain-lain (resource or expert
power), pengaruh kekuatan karena adanya harapan yang akan
diterima (reward power), pengaruh yang dipaksakan sesuai
keinginannya (coercive power), pengaruh yang dilalui dengan persuasi
(informational power), pengaruh yang diberikan melalui manipulasi
dengan cinta kasih misalnya hubungan seksual (affective power).
3. Tipe Keluarga
Menurut Friedman (2012) bentuk-bentuk tipe keluarga antara lain:
a. Keluarga Inti (Nuclear Family)
Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
b. Keluarga Besar (Ekstended Family)\
keluarga inti di tambah dengan sanak saudara, misal: nenek, kakek,
keponakan, saudara sepupu, paman, bibi, dan sebagainya.
c. Single parent family
Satu keluarga yang di kepalai oleh satu kepala keluarga dan hidup
bersama dengan anak-anak yang masih bergantung kepadanya.
d. Nuclear dyed
keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri tanpa anak, tinggal
dalam satu rumah yang sama.
e. Blended Family
Suatu keluarga yang terbentuk dari perkawinan pasangan, yang
masing-masing pernah menikah dan membawa anak hasil perkawinan
terdahulu.
f. Three Generation Family
keluarga yang terdiri dari tiga generasi, yaitu kakek, nenek, bapak, ibu
dan anak-anak dalam satu rumah.
g. Single adult living alone
bentuk keluarga yang hanya terdiri dari satu orang dewasa yang hidup
dalam rumahnya
4. Peran Keluarga dan Perawat Keluarga
Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku
interpersonal, sifat dan kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam
posisi dan situasi tertentu. Peranan individu didasari dalam keluarga dan
kelompok masyarakat. Berbagai peran yang terdapat dalam keluarga
adalah sebagai berikut :
a. Peran ayah : ayah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-
anaknya, berperan dari pencari nafkah, pendidik, pelindung dan
pemberi rasa aman sebagai kepala keluarga, anggota dari kelompok
sosial serta dari anggota masyarakat dari lingkungannya.
b. Peran ibu : ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Ibu mempunyai
peran mengurus rumah tangga , sebagai pengasuh dan pendidik anak-
anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya,
disamping itu ibu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah
tambahan dalam keluarga.
c. Peran anak : anak-anak melaksanakan peran psikososial sesuai
engan tingkat perkembangan fisik, mental, soaial dan spiritual.
5. Fungsi Keluarga
Menurut Achjar (2011) dalam suatu keluarga ada beberapa fungsi dan
tugas keluarga yang dapat dijalankan fungsi keluarga adalah sebagai
berikut :
a. Fungsi Biologis
Fungsi biologis bukan hanya ditujukan untuk meneruskan
kelangsungan keturunan, tetapi juga memelihara dan
membesarkan anak dengan gizi yang seimbang, memelihara dan
merawat anggota keluarga juga bagian dari fungsi biologis keluarga.
b. Fungsi Psikologis
Keluarga menjalankan fungsi psikologisnya antara lain untuk
memberikan kasih sayang dan rasa aman, memberikan perhatian
diantara anggota keluarga membina pendewasaan kepribadian
anggota keluarga memberikan identitas keluarga.
c. Fungsi Sosialisasi
Fungsi sosialisasi tercermin untuk membina sosialisasi pada anak
membentuk nilai dan norma yang diyakini anak, memberikan batasan
perilaku yang boleh dan tidak boleh pada anak. Meneruskan nilai-nilai
budaya
d. Fungsi Ekonomi
Keluarga menjalankan fungsi ekonomisnya untuk mencari sumber-
sumber penghasilan keluarga, menabung untuk memenuhi kebutuhan
yang akan datang, misalnya pendidikan anak-anak dan jaminan
hari tua
e. Fungsi Pendidikan
Keluarga menjalankan fungsi pendidikan untuk menyekolahkan anak
dalam rangka untuk memberikan pengetahuan, keterampilan,
membentuk prilaku anak,, mempersiapkan anak untuk kehidupan
dewasa, mendidik anak sesuai dengan tingkat perkembangannya
Lima tugas keluarga dalam bidang kesehatan menurut Friedman, yaitu :
a. Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota.
b. Mengambil keputusan untuk tindakan kesehatan yang tepat.
c. Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit, dan yang
tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya terlalu
muda.
d. Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan untuk
kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarganya.
e. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan fasilitas
kesehatan yang menunjukkan pemanfaatan dengan baik fasilitas-
fasilitas kesehatan yang ada.
Lima fungsi keluarga menurut Effendi (2009), antara lain:
a. Fungsi afektif, adalah fungsi internal keluarga untuk pemenuhan
kebutuhan psikososial, saling mengasuh dan memberikan cinta kasih
serta saling menerima dan mendukung yang menjadi sumber energi
yang menentukan kebahagiaan keluarga.
b. Fungsi sosialisasi, adalah proses perkembangan dan perubahan
individu keluarga, tempat keluarga berinteraksi sosial dan belajar
berperan di lingkungan sosial.
c. Fungsi reproduksi, adalah untuk meneruskan kelangsungan keturunan
dan menambah sumber daya manusia. Dengan adanya program
keluarga berencana, maka fungsi dapat terkontrol.
d. Fungsi ekonomi, adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan
keluarga seperti sandang, pangan dan papan.
e. Fungsi perawatan keluarga, adalah kemampuan keluarga untuk
merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan.
6. Tugas Keluarga
Menurut Suprajitno (2012), Sesuai dengan fungsi pemeliharaan
kesehatan, keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu
dipahami dan dilakukan sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan,
meliputi:
a. Mengenal masalah kesehatan keluarga
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan
karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti dan karena
kesehatanlah kadang seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga
habis. Orang tua perlu mengenal keadaan kesehatan dan perubahan-
perubahan yang dialami anggota keluarga. Perubahan sekecil apapun
yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian
orang tua/ keluarga.
b. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga
Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari
pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan
pertimbangan siapa di antara anggota keluarga yang mempunyai
kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga.
Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat
agar masalah kesehatan dapat dikurangi bahkan teratasi. Dalam hal ini
termasuk mengambil keputusan untuk mengobati sendiri.
c. Merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
Sering kali keluarga telah mengambil tindakan yang tepat dan benar.
Tetapi keluarga mempunyai keterbatasan yang telah diketahui oleh
keluarga sendiri. Jika demikian, anggota keluarga yang mengalami
gangguan kesehatan perlu memperoleh tindakan lanjutan atau
perawatan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi. Perawatan dapat
dilakukan di institusi pelayanan kesehatan atau di rumah apabila
keluarga telah memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk
pertolongan pertama.
d. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga.
e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi
keluarga.
7. Tahap Perkembangan Keluarga
Perkembangan keluarga adalah proses perubahan yang terjadi pada
keluarga meliputi perubahan pola interaksi dan hubungan antara
anggotanya di sepanjang waktu. Siklus perkembangan keluarga
merupakan bagian terpenting yang terbagi menjadi beberapa tahap.
Kerangka perkembangan keluarga memberikan pedoman untuk memeriksa
serta menganalisa perubahan dan perkembangan tugas-tugas dasar yang
ada dalam keluarga selama siklus kehidupan.
Delapan tahap perkembangan dan fungsi keluarga menurut Mubarak
et al (2009), yaitu:
a. Tahap l
Keluarga pemula merujuk pada pasangan menikah/tahap pernikahan.
Tugas perkembangan keluarga saat ini adalah membangun
perkawinan yang saling memuaskan, menghubungkan jaringan
persaudaraan secara harmonis, merencanakan keluarga berencana.
b. Tahap ll
Tugas perkembangan keluarga pada tahap II, yaitu membentuk
keluarga muda sebagai sebuah unit, mempertahankan hubungan
perkawinan yang memuaskan, memperluas persahabatan dengan
keluarga besar dengan menambahkan peran orang tua kakek dan
nenek dan mensosialisasikan dengan lingkungan keluarga besar
masing-masing pasangan.
c. Tahap lll
Tugas perkembangan keluarga pada tahap III, yaitu memenuhi
kebutuhan anggota keluarga, mensosialisasikan anak,
mengintegrasikan anak yang baru sementara tetap memenuhi
kebutuhan anak yang lainnya, mempertahankan hubungan yang sehat
dalam keluarga dan luar keluarga, menanamkan nilai dan norma
kehidupan, mulai mengenalkan kultur keluarga, menanamkan
keyakinan beragama, memenuhi kebutuhan bermain anak.
d. Tahap lV
Tugas perkembangan keluarga tahap IV, yaitu mensosialisasikan anak
termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan
hubungan dengan teman sebaya, mempertahankan hubungan
perkawinan yang memuaskan, memenuhi kebutuhan kesehatan fisik
anggota keluarga, membiasakan belajar teratur, memperhatikan anak
saat menyelesaikan tugas sekolah.
f. Tahap V
Tugas perkembangan keluarga pada tahap V, yaitu menyeimbangkan
kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja menjadi dewasa dan
mandiri, memfokuskan kembali hubungan perkawinan, berkomunikasi
secara terbuka antara orang tua dan anak-anak, memberikan
perhatian, memberikan kebebasan dalam batasan tanggung jawab,
mempertahankan komunikasi terbuka dua arah.
g. Tahap VI
Tahap ini adalah tahap keluarga melepas anak dewasa muda dengan
tugas perkembangan keluarga antara lain : memperluas siklus
keluarga dengan memasukkan anggota keluarga baru yang didapat
dari hasil pernikahan anak-anaknya, melanjutkan untuk
memperbaharui dan menyelesaikan kembali hubungan perkawinan,
membantu orang tua lanjut usia dan sakit-sakitan dari suami dan istri.
h. Tahap VII
Tahap keluarga pertengahan dimulai ketika anak terakhir
meninggalkan rumah dan berakhir atau kematian salah satu pasangan.
Tahap ini juga dimulai ketika orang tua memasuki usia 45-55 tahun
dan berakhir pada saat pasangan pensiun. Tugas perkembangannya
adalah menyediakan lingkungan yang sehat, mempertahankan
hubungan yang memuaskan dan penuh arah dengan lansia dan anak-
anak, memperoleh hubungna perkawinan yang kokoh.
i. Tahap VIII
Dimulai dengan salah satu atau kedua pasangan memasuki masa
pensiun terutama berlangsung hingga salah satu pasangan meninggal
dan berakhir dengan pasangan lain meninggal. Tugas perkembangan
keluarga adalah mempertahankan pengaturan hidup yang
memuaskan, menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun,
mempertahankan hubungan perkawinan, menyesuaikan diri terhadap
kehilangan pasangan dan mempertahankan ikatan keluarga antara
generasi.
8. Keluarga Mandiri
Kemandirian adalah perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi
hambatan atau masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat
melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain, hasrat untuk mengerjakan
segala sesuatu bagi diri sendiri. Secara singkat kemandirian mengandung
pengertian suatu keadaan dimana seseorang yang memiliki hasrat
bersaing untuk maju demi kebaikannya Mampu mengambil keputusan dan
inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Memiliki kepercayaan diri
dalam mengerjakan tugas-tugasnya, bertanggung jawab terhadap apa
yang di lakukannya. Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang
diperoleh secara kumulatif selama perkembangan dimana individu akan
terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di
lingkungan sehingga individu pada akhirnya akan mampu berpikir dan
bertindak sendiri. Dengan kemandirian seseorang dapat berkembang
dengan lebih mantap. Untuk dapat mandiri seseorang membutuhkan
kesempatan, dukungan, dan dorongan dari keluarga serta lingkungan di
sekitarnya. Agar dapat mencapai otonomi atas diri sendiri.
Peran keluarga serta lingkungan di sekitar dapat memperkuat untuk
setiap perilaku yang di lakukan. Hal ini dinyatakan pula oleh Robert
havighurst bahwa : “Kemandirian merupakan suatu sikap otonomi dimana
seseorang secara relatif bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan
keyakinan orang lain”. Dengan otonomi tersebut seorang anak diharapkan
akan lebih bertanggung-jawab terhadap dirinya sendiri.

B. Proses manua
a. Definisi
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaaan yang terjadi didalam
kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang
hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak
permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang
berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak,
dewasa dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis maupun
psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya
kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut
memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas, pengelihatan
semakin memburuk, gerakan lambat dan figurtubuh yang tidak
proporsional.
WHO dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang
kesejahteraan lanjut usia pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 menyebutkan
bahwa usia 60 tahun adalah usia permulaan tua. Menua bukanlah suatu
penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur
mengakibatkan perubahan kumulatif, merupakan proses menurunya
daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar
tubuh.
b. Teori proses menua
Teori penuaan secara umummenurut Lilik Ma’rifatul (2011)dapat
dibedakan menjadidua yaitu teori biologi dan teori penuaan
psikososial.
1). Teori Biologi
(a).Teori seluler
Kemampuan sel hanya dapat membelah dalam jumlah
tertentu dan kebanyakan sel–sel tubuh “diprogram” untuk
membelah 50 kali. Jika sel pada lansia dari tubuh dan
dibiakkan di laboratrium, lalu diobrservasi, jumlah sel–sel yang
akan membelah, jumlah sel yang akan membelah akan
terlihat sedikit.Pada beberapa sistem, seperti sistem saraf,
system musculoskeletal dan jantung, sel pada jaringan dan
organ dalam sistem itu tidak dapat diganti jika sel tersebut
dibuang karena rusak atau mati. Oleh karena itu, sistem
tersebut beresiko akan mengalami proses penuaan dan
mempunyai kemampuan yang sedikit atau tidak sama sekali
untuktumbuh dan memperbaiki diri (Azizah, 2011).
b). Sintesis Protein (Kolagen dan Elastis)
Jaringan seperti kulit dan kartilago kehilangan elastisitasnya
pada lansia. Proses kehilangan elastiaitas ini dihubungkan
dengan adanya perubahan kimia pada komponen protein
dalam jaringan tertentu. Pada lansia beberapa protein
(kolagen dan kartilago, dan elastin pada kulit) dibuat oleh
tubuh dengan bentuk dan struktur yang berbeda dari protein
yang lebih muda. Contohnya banyak kolagen pada kartilago
dan elastin pada kulit yang kehilangan fleksibilitasnya serta
menjadi lebih tebal, seiring dengan bertambahnya usia
(Tortora dan Anagnostakos, 1990).Hal ini dapat lebih mudah
dihubungkan dengan perubahan permukaan kulit yang
kehilangan elastisitanya dan cenderung berkerut, juga
terjadinya penurunan mobilitas dan kecepatan pada system
musculoskeletal (Azizah, 2011).
(c). Keracunan Oksigen

Teori tentang adanya sejumlah penurunan kemampuan sel di


dalam tubuh untuk mempertahankan diri dari oksigen yang
mengandung zat racun dengan kadar yang tinggi, tanpa
mekanisme pertahan diri tertentu. Ketidakmampuan
mempertahankan diri dari toksink tersebut membuat struktur
membran sel mengalami perubahan dari rigid,serta terjadi
kesalahan genetik(Tortora dan Anaggnostakos, 1990).
Membransel tersebut merupakan alat untuk memfasilitas sel
dalam berkomunikasi dengan lingkungannya yang juga
mengontrol proses pengambilan nutrisi dengan proses
ekskresi zat toksik di dalam tubuh. Fungsi komponen protein
pada membran sel yang sangat penting bagi proses di atas,
dipengaruhi oleh rigiditas membran tersebut. Konsekuensidari
kesalahan genetik adalah adanya penurunan reproduksi sel
oleh mitosis yang mengakibatkan jumlah sel anak di semua
jaringan dan organ berkurang. Hal ini akan menyebabkan
peningkatan kerusakan sistem tubuh (Azizah, 2011).

(d). Sistem Imun

Kemampuan sistemimun mengalami kemunduran pada masa


penuaan. Walaupun demikian, kemunduran kemampuan
sistem yang terdiri dari sistem limfatik dan khususnya
seldarah putih, juga merupakan faktor yang berkontribusi
dalam proses penuaan. Mutasi yang berulang atau
perubahanprotein pasca tranlasi, dapat menyebabkan
berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali
dirinya sendiri. Jika mutasi isomatik menyebabkan terjadinya
kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ini akan
dapat menyebabkan sistem imun tubuh menganggapsel yang
mengalami perubahan tersebut sebagai se lasing dan
menghancurkannya. Perubahan inilah yang menjadi dasar
terjadinya peristiwa autoimun. Disisi lain sistem imun tubuh
sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada
proses menua, daya serangnya terhadap sel kanker menjadi
menurun, sehingga sel kanker leluasa membelah-belah
(Azizah, 2011).

(e).Teori Menua Akibat Metabolisme

Menurut MC Kay et all.,(1935) yang dikutip Darmojo dan


Martono (2004), pengurangan“intake” kalori pada rodentia
muda akan menghambat pertumbuhan dan memperpanjang
umur. Perpanjangan umur karena jumlah kalori tersebut
antara lain disebabkan karena menurunnya salah satu atau
beberapa proses metabolisme. Terjadi penurunan
pengeluaran hormonyang merangsang pruferasi sel misalnya
insulin dan hormone pertumbuhan.

2).Teori Psikologis

(a). Aktivitas atau Kegiatan (Activity Theory)

Seseorang yang dimasa mudanya aktif dan terus memelihara


keaktifannya setelah menua. Sense of integrityyang dibangun
dimasa mudanya tetap terpelihara sampai tua. Teori ini
menyatakan bahwa pada lanjut usia yang sukses adalah
meraka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial
(Azizah, 2011).

(b).Kepribadian berlanjut (Continuity Theory)

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut


usia. Identitypada lansia yang sudah mantap memudahkan
dalam memelihara hubungan dengan masyarakat, melibatkan
diri dengan masalah di masyarakat, kelurga dan hubungan
interpersonal (Azizah, 2011).

(c).Teori Pembebasan (Disengagement Theory)

Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia,


seseorang secara pelan tetapi pasti mulai melepaskan diri
dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan
sekitarnya (Azizah, 2011).
c. Perubahan Yang terjadi pada lansia (secara fisik, psikososial
Semakin bertambahnya umur manusia, terjadi proses penuaan
secara degeneratifyang akan berdampak pada perubahan-perubahan
pada diri manusia, tidak hanya perubahan fisik, tetapi juga kognitif,
perasaan, sosial dan sexual (Azizah, 2011).
1).Perubahan Fisik
(a). Sistem Indra
Sistem pendengaran; Prebiakusis (gangguanpada
pendengaran) oleh karena hilangnya kemampuan (daya)
pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi
suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit
dimengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas 60 tahun.
(b).Sistem Intergumen
Pada lansia kulit mengalami atropi, kendur, tidak elastiskering
dan berkerut.Kulit akan kekurangan cairan sehingga menjadi
tipis dan berbercak. Kekeringan kulit disebabkan atropi
glandula sebasea dan glandula sudoritera, timbul pigmen
berwarna coklat pada kulit dikenal dengan liver spot.
(c).Sistem Muskuloskeletal Perubahan sistem muskuloskeletal
pada lansia antara lain sebagai berikut : Jaringan penghubung
(kolagen dan elastin). Kolagen sebagai pendukung utama
kulit, tendon, tulang, kartilago dan jaringan pengikat
mengalami perubahan menjadi bentangan yang tidak teratur

d).Kartilago: jaringan kartilago pada persendian lunak dan


mengalami granulasi dan akhirnya permukaan sendi menjadi
rata, kemudian kemampuan kartilagountuk regenerasi
berkurang dan degenerasiyang terjadi cenderung kearah
progresif, konsekuensinya kartilago pada persendiaan
menjadi rentan terhadap gesekan.

(e).Tualng: berkurangnya kepadatan tualng setelah di obserfasi


adalah bagian dari penuaan fisiologi akan mengakibatkan
osteoporosis lebih lanjut mengakibatkan nyeri, deformitas dan
fraktur.
(f).Otot: perubahan struktur otot pada penuaan sangat berfariasi,
penurunan jumlah dan ukuran serabut otot, peningkatan
jaringan penghubung dan jaringan lemak pada otot
mengakibatkan efek negatif.

(g).Sendi; pada lansia, jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon,


ligament dan fasia mengalami penuaan elastisitas

2).Sistem Kardiovaskuler dan Respirasi

Perubahan sistem kardiovaskuler dan respirasi mencakup :

(a).Sistem kardiovaskulerMassa jantung bertambah, vertikel kiri


mengalami hipertropi dan kemampuan peregangan jantung
berkurang karena perubahan pada jaringan ikat dan
penumpukan lipofusin dan klasifikasi Sa nudedan jaringan
konduksi berubah menjadi jaringan ikat.

(b).Sistem respirasiPada penuaan terjadi perubahan jaringanikat


paru, kapasitas total paru tetap, tetapi volume cadangan paru
bertambah untuk mengompensasi kenaikan ruang rugi paru,
udara yang mengalir ke paru berkurang. Perubahan pada otot,
kartilago dan sendi torak mengakibatkan gerakan pernapasan
terganggu dankemampuan peregangan toraks berkurang.

(c).Pencernaan dan MetabolismePerubahan yang terjadi pada


sistem pencernaan, seperti penurunan produksi sebagai
kemunduran fungsi yang nyata :(1). Kehilangan gigi, (2). Indra
pengecap menurun, (3). Rasa lapar menurun (sensitifitas lapar
menurun), (4). Liver (hati) makin mengecil dan menurunnya
tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.

(d).Sistem perkemihan Pada sistem perkemihan terjadi


perubahan yang signifikan. Banyak fungsi yang mengalami
kemunduran, contohnya lajufiltrasi, ekskresi, dan reabsorpsi
oleh ginjal.

(e).Sistem sarafSistem susunan saraf mengalami perubahan


anatomi dan atropi yang progresif pada serabut saraf lansia.
Lansia mengalami penurunan koordinasi dan kemampuan
dalam melakukan aktifitas sehari-hari.

(f).Sistem reproduksiPerubahan sistem reproduksi lansia ditandai


dengan menciutnya ovary dan uterus. Terjadi atropi payudara.
Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa,
meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur.

3).Perubahan Kognitif

(a).Memory (Daya ingat, Ingatan)

(b).IQ (Intellegent Quocient)

(c).Kemampuan Belajar (Learning)

(d).Kemampuan Pemahaman (Comprehension)

(e).Pemecahan Masalah (Problem Solving)

(f).Pengambilan Keputusan (Decission Making)

(g).Kebijaksanaan (Wisdom)

(h).Kinerja (Performance)(i)Motivas

d. Perubahan psikososial
Lansia harus beradaptasi pada perubahan psikososial yang terjadi
pada penuaan.
Meskipun perubahan tersebut bervariasi, tetapi beberapa perubahan
biasa terjadi pada mayoritas lansia.
a. Pengkajian Sosial
Hubungan lansia dengan keluarga memerankan peran sentral
pada seluruh tingkat
kesehatan dan kesejahteraan lansia. Alat skrining singkat yang
dapat digunakan untuk mengkaji fungsi social lansia adalah
APGAR Keluarga. Instrument disesuaikan untuk digunakan pada
klien yang mempunyai hubungan social lebih intim dengan
teman-temannya atau dengan keluarga. Nilai < 3 menandakan
disfungsi keluarga sangat tinggi, nilai 4 – 6 disfungsi keluarga
sedang.
A : Adaptation
P : Partnership
G :Growth
A :Affection
R : Resolve
b. Keamanan Rumah
Perawat wajib mengobservasi lingkungan rumah lansia untuk
menjamin tidak adanya bahaya yang akan menempatkan lansia
pada resiko cidera. Faktor lingkungan yang harus diperhatikan :
1) Penerangan adekuat di tangga, jalan masuk & pada malam
hari
2) Jalan bersih
3) Pengaturan dapur dan kamar mandi tepat
4) Alas kaki stabil dan anti slip
5) Kain anti licin atau keset
6) Pegangan kokoh pada tangga / kamar mandi

C. Konsep Penyakit
1. Definisi
Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang
disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan
salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian
besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone
infection.
2. Etiologi
Bakteri Myobakterium tuberculosis, dengan ukuran panjang 1-4
µm dan tebal 1,3-0,6 µm, termasuk golongan bakteri aerob gram positif
serta tahan asam atau basil tahan asam.
3. Manifestasi klinis
a. Batuk lama lebih dari 2 minggu
b. Demam
c. Berat badan menurun
d. Keringat malam
e. Mudah lelah
f. Nafsu makan berkurang
g. Nyeri dada
h. Batuk darah
i. Peningkatan frekuensi nafas
j. Bunyi napas ronkhi
4. Klasifikasi
Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik, bakteriologik,
radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. Klasifikasi ini penting
karena merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan
strategi terapi.
Sesuai dengan program Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru
dibagi sebagai berikut:
a. TB Paru BTA Positif dengan kriteria:
1) Dengan atau tanpa gejala klinik
2) BTA positif: mikroskopik positif 2 kali, mikroskopik positif 1 kali
disokong biakan positif 1 kali atau disokong radiologik positif 1
kali.
3) Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru.
b. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria:
1) Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru
aktif
2) BTA negatif, biakan negatif tetapi radiologik positif.
c. Bekas TB Paru dengan kriteria:
1) Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif
2) Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan
paru.
3) Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif,
menunjukkan serial foto yang tidak berubah.
4) Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung)

5. Patofisiologi
Penyebaran kuman Mikrobacterium tuberkolusis bisa masuk
melalui tiga tempat yaitu saluran pernafasan, saluran pencernaan dan
adanya luka yang terbuka pada kulit. Infeksi kuman ini sering terjadi
melalui udara (airbone) yang cara penularannya dengan droplet yang
mengandung kuman dari orang yang terinfeksi sebelumnya
(Sylvia.A.Price.1995.hal 754).
Penularan tuberculosis paru terjadi karena penderita TBC
membuang ludah dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan
atau dibersinkan keluar. Dalam dahak dan ludah ada basil TBC-nya ,
sehingga basil ini mengering lalu diterbangkan angin kemana-mana.
Kuman terbawa angin dan jatuh ketanah maupun lantai rumah yang
kemudian terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan bersarang serta
berkembangbiak di paru-paru. (dr.Hendrawan. N. 1996, hal 1-2).
Pada permulaan penyebaran akan terjadi beberapa kemungkinan
yang bisa muncul yaitu penyebaran limfohematogen yang dapat
menyebar melewati getah bening atau pembuluh darah. Kejadian ini
dapat meloloskan kuman dari kelenjar getah bening dan menuju aliran
darah dalam jumlah kecil yang dapat menyebabkan lesi pada organ
tubuh yang lain. Basil tuberkolusis yang bisa mencapai permukaan
alveolus biasanya di inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari 1-3
basil. Dengan adanya basil yang mencapai ruang alveolus, ini terjadi
dibawah lobus atas paru-paru atau dibagian atas lobus bawah, maka hal
ini bisa membangkitkan reaksi peradangan. Berkembangnya leukosit
pada hari hari pertama ini di gantikan oleh makrofag.Pada alveoli yang
terserang mengalami konsolidasi dan menimbulkan tanda dan gejala
pneumonia akut. Basil ini juga dapat menyebar melalui getah bening
menuju kelenjar getah bening regional, sehingga makrofag yang
mengadakan infiltrasi akan menjadi lebih panjang dan yang sebagian
bersatu membentuk sel tuberkel epitelloid yang dikelilingi oleh
limfosit,proses tersebut membutuhkan waktu 10-20 hari. Bila terjadi lesi
primer paru yang biasanya disebut focus ghon dan bergabungnya
serangan kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan
kompleks ghon. Kompleks ghon yang mengalami pencampuran ini juga
dapat diketahui pada orang sehat yang kebetulan menjalani
pemeriksaan radiogram rutin.Beberapa respon lain yang terjadi pada
daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas kedalam
bronkus dan menimbulkan kavitas.Pada proses ini akan dapat terulang
kembali dibagian selain paru-paru ataupun basil dapat terbawa sampai
ke laring ,telinga tengah atau usus.(Sylvia.A Price:1995;754).

Pathway

Mycobacterium
TB

Masuk ke jalan
nafas

Tinggal di alveolus

Reaksi inflamasi
Ketidaknyamanan
pada rongga dada
dan diafragma
Alveolus mengalami
peradanagan

Nyeri Anoreksia

Bersihan jalan
nafas tidak efektif

Masukan
peroral
menurun

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
6. Komplikasi
Penyakit tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan
menimbulkan komplikasi. Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan
komplikasi lanjut.
a. Komplikasi dini: pleurutis, efusi pleura, empiema, laringitis, usus,
Poncet’sarthropathy.
b. Komplikasi lanjut: obstruksi jalan napas -> SOFT (Sindrom Obstruksi
Pasca Tuberkulosis), kerusakan parenkim berat -> SOPT/fibrosis
paru, kor pulmonal, amiloidosis, karsinoma paru, sindrom gagal
napas dewasa (ARDS), sering terjadi pada TBC milier dan kavitas
TBC (Sudoyo, 2007). Komplikasi penderita stadium lanjut adalah
hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok, kolaps spontan karena
kerusakan jaringan paru, penyebaran infeksi ke organ lain seperti
otak, tulang, persendian, ginjal, dan sebagainya (Zulkoni, 2010).

7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan fisik :
1) Pada tahap dini sulit diketahui.
2) Ronchi basah, kasar dan nyaring.
3) Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada
auskultasi memberi suara umforik.
4) Atropi dan retraksi interkostal pada keadaan lanjut dan fibrosis.
5) Bila mengenai Pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan
suara pekak)
b. Pemeriksaan Radiologi :
1) Pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan
dengan batas tidak jelas.
2) Pada kavitas bayangan berupa cincin.
3) Pada Kalsifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan
densitas tinggi.
c. Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat
kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB.

d. Laboratorium :
1) Darah : leukosit meninggi, LED meningkat
2) Sputum : pada kultur ditemukan BTA
e. Test Tuberkulin : Mantoux test (indurasi lebih dari 10-15 mm)

8. Penatalaksanaan
a. Medis
Dalam pengobatan Tb paru dibagi 2 dibagian :
1) Jangka Pendek
Dengan tata cara pengobatan : setiap hari dengan jangka waktu 1
-3 bulan
 Streptomisin injeksi 750 mg.
 Pas 10 mg.
 Ethambutol 1000mg.
 Isoniazid 400mg.
2) Jangka panjang
Tata cara pengobatan : setiap 2 x seminggu, selama 13 -18
bulan, tetapi setelah perkembangan pengobatan ditemukan
terapi.
Terapi TB paru dapat dilakukan dengan minum obat saja, obat
yang diberikan dengan jenis
 INH
 Rifampicin
 Ethambutol
Dengan fase selama 2 x seminggu, dengan lama pengobatan
kesembuhan menjadi 6 – 9 bulan.
3) Dengan menggunakan obat program TB Paru kombipack bila
ditemukan dalam pemeriksaan sputum BTA ( + ) dengan
kombinasi obat :
 Rifampicin
 Isoniazid(NH)
 Ethambutol
 Pyridoxin (B6)
No. Diagnosa keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi

1. Bersihan jalan nafas tidak NOC: 1. Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau jaw thrust
efektif b.d. adanya bila perlu
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,
eksudat di alveolus 2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
diharapkan bersihan jalan nafas efektif dengan kriteria hasil: 3. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat bantu
pernafasan
No Indikator Awal Target
4. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
1. Tidak didapatkan demam 5. keluarkan sekret dengan batuk atau suction
6. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
2. Tidak didapatkan kecemasan
7. Berikan pelembab udara
3. Frekuensi pernafasan sesuai 8. Atur intake untuk cairan mengoptimlkan keseimbangan
dengan yang diharapkan 9. Monitor respirasi dan status O2

4. Pengeluaran sputum pada


jalan nafas

5. Bebas dari suara nafas


tambahan

Keterangan:

1=Keluhan ekstrim

2= Keluhan berat

3= Keluhan sedang

18
4= Keluhan ringan

5= Tidak ada keluhan

2. Ketidakseimbangan NOC: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam 1. Kaji pola makan, kebiasaan makan dan makanan yang
nutrisi: kurang dari diharapkan kebutuhan nutrisi menjadi seimbang, dengan kriteria: disukai
kebutuhan tubuh b.d
2. Berikan makanan sesuai diet dan berikan selagi hangat
ketidaakmampuan
mencerna, 3. Anjurkan pasien makan sedikit tapi sering
memasukkan, 4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan nutrisi yang
mengasorbsi makanan
adekuat
karena faktor biologi.
5. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet sesuai
indikasi
6. Ukur berat badan pasien
No Indikator Awal Target

1. Masukan peroral
meningkat

2. Porsi makan yang


disediakan habis

3. Tidak terjadi penurunan


berat badan

4. Dapat mengidentifikasi Ket:


kebutuhan nutrisi
1=Keluhan ekstrim

2= Keluhan berat

3= Keluhan sedang

4= Keluhan ringan

5= Tidak ada keluhan

3. Nyeri (akut) NOC : 1. Kaji nyeri secara komprehensif (skala, kualitas, lokasi dan
berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan , diharapkan nyeri intensitas)
agen injury biologi hilang/terkendali dengan skala :
2. Observasi reaksi pasien terhadap nyeri
1 = Tidak pernah
3. Jelaskan faktor penyebab nyeri
2 = Jarang
4. Gunakan komunikasi terapeutik
3 = Kadang-kadang 5. Kaji TTV

4 = Sering 6. Berikan posisi yang nyaman

7. Ajarkan teknik relaksasi (misal : nafas dalam, pijat


5 = Konsisten menunjukkan
punggung )
yang dibuktikan dengan indikator :
8. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
No Indikator Awal Target

1. Mengenali faktor
penyebab

2. Mengenali lamanya (onset)


sakit (skala, intensitas,
frekuensi dan tanda nyeri)

3. Menggunakan metode
non-analgetik untuk
mengurangi nyeri

4. Melaporkan bahwa nyeri


berkurang dengan
menggunakan manajemen
nyeri
5. Menyatakan rasa nyaman
setelah nyeri berkurang
6. Tanda vital dalam rentang
normal
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

A. Konsep Askep Keperawatan Keluarga


Berikut ini uraian kelima tahapan tersebut hubungannya dengan asuhan
keperawatan berkenaan dengan asuhan keperawatan keluarga dengan
tahap perkembangan anak remaja.

1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dalam pelaksanaan proses
keperawatan. Pengkajiandengan pendekatan model family centered
nursing ini melihat keluarga sebagai subsistem masyarakat.
Pengkajian dalam asuhan keperawatan keluarga dikenal dengan
istilah penjajakan. Penjajakan keluarga terdiri dari dua tahap yakni
penjajakan tahap pertama dan penjajakan tahap kedua.
Penjajakan tahap pertama meliputi enam kategori yaitu; 1)
Identifikasi data sosial dan budaya keluarga, 2) Tahap dan riwayat
perkembangan keluarga, 3) Data lingkungan, 4) Struktur keluarga, 5)
Fungsi keluarga, dan 6) Stress dan koping keluarga. Penjajakan
tahap kedua dilakukan untuk menggali fungsi pelaksanaan tugas
kesehatan keluarga. Ada lima tugas kesehatan keluarga yaitu 1)
Mengenal masalah, 2) Mengambil keputusan, 3) Merawat anggota
keluarga, 4) Memodifikasi lingkungan, 5) Memanfaatkan fasilitas
kesehatan (Friedman, 2012).
Penjajakan tahap kedua dalam konteks keluarga dengan TB,
maka hal yang perlu dikaji antara lain: kemampuan keluarga untuk
mengenal masalah dengan TB; keputusan yang diambil oleh keluarga
dalam mengatasi masalah dengan TB; kemampuan keluarga merawat
keluarga yang mengalami masalah dengan TB; kemampuan keluarga
dalam memodifikasi lingkungan yang dapat mencegah terhadap
terjadinya masalah kesehatan, dan pemanfaatan fasilitas pelayanan
kesehatan untuk meningkatkan kesehatan misalnya Puskesmas.
2. Diagnosa Keperawatan
Perumusan diagnosa keperawatan merupakan tahap lanjutan
setelah data hasil pengkajian diperoleh dan dianalisa. Diagnosis
keperawatan keluarga ada tiga tipe yaitu aktual, risiko dan potensial.

24
Setelah diagnosa keperawatan keluarga dirumuskan, langkah
selanjutnya adalah membuat prioritas tiap masalah. Komponan dalam
penentuan prioritas diagnosa terdiri dari empat kriteria yaitu sifat
masalah, kemungkinan untuk diubah, potensial dicegah, dan
menonjolnya masalah.

3. Intervensi
Friedman (2012) mengklasifikasikan intervensi keperawatan
keluarga ke dalam tiga jenis yaitu intervensi keperawatan
suplemental, intervensi keperawatan fasilitatif, dan intervensi
keperawatan developmental. Ketiga intervensi keperawatan tersebut
memiliki makna yang berbeda. Intervensi keperawatan suplemental
adalah intervensi keperawatan yang dirancang terkait dengan
pemberian pelayanan secara langsung pada keluarga sebagai
sasaran. Intervensi keperawatan fasilitatif adalah intervensi
keperawatan yang terkait dengan rencana dalam membantu
mengatasi hambatan pada keluarga. Sedangkan intervensi
keperawatan developmental adalah intervensi keperawatan yang
terkait dengan rencana perawat membantu keluarga agar dapat
menolong diri sendiri dengan kekuatan dan sumber daya yang ada
pada keluarga.
Komponen lain dalam intervensi ini adalah adanya tujuan. Tujuan
merupakan hasil yang diinginkan terkait dengan pelaksanaan asuhan
keperawatan keluarga. Tujuan secara umum terbagi atas dua jenis
yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum menggambarkan
hasil akhir pencapaian dari suatu masalah yaitu terjadinya perubahan
perilaku dan kemandirian klien. Sedangkan tujuan khusus adalah
menggambarkan pencapaian hasil dari setiap kegiatan.

4. Implementasi
Implementasi adalah tahap dimana perawat mengaplikasikan
rencana asuhan keperawatan ke dalam kegiatan. Tujuannyaadalah
untuk melaksanakan intervensi keperawatan yang direncakan untuk
membantu klien mencapai tujuan.
Kemampuan yang harus dimiliki perawat pada tahap
implementasi antara lain: kemampuan komunikasi yang efektif,
kemampuan untuk menciptakan hubungan saling percaya dan saling
membantu, yang sistematis, kemampuan memberikan health
education, kemampuan advokasi, dan kemampuan mengevaluasi.

5. Evaluasi
Tahap evaluasi adalah tahapan terakhir dari proses keperawatan
berupa perbandingan yang sistematis dan terencana dari hasil-hasil
yang diamati dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap
perencanaan. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan dengan
melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Apabila hasil evaluasi
menunjukkan ketercapaian tujuan dan kriteria hasil, maka klien keluar
dari siklus proses keperawatan. Namun apabila sebaliknya, maka
klien masuk kembali dalam siklus proses keperawatan mulai dari
pengkajian ulang (reasessment).
Evaluasi terbagi atas dua jenis yaitu evaluasi formatif dan
evaluasi sumatif. Evaluasi formatif fokusnya adalah pada aktifitas dan
proses keperawatan dan hasil dari tindakan keperawatan. Evaluasi
formatif ini dilakukan segera setelah perawat melaksanakan
perencanaan keperawatan untuk membantu keefektifan terhadap
tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.