Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULAN

1.1 Latar Belakang


Pengertian observasi dapat rumuskan sebagai berikut: Observasi adalah
metode atau cara meganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis
mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok
secara langsung.

Selanjutnya dikemukakan tujuan observasi adalah “mengerti cirri-ciri dan


luasnya signifikansi dari inter relasinya elemen-elemen tingkah laku manusia
pada fenomena sosial serba kompleks dalam pola-pola kulturil tertentu”.

Menurut patton (1990 dalam poerwandari, 1998) menegaskan observasi


merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian, apalagi penetian
dengan pendekatan kualitatif. Agar memberikan data yang akurat dan bermanfaat,
observasi sebagai metode ilmiah harus dilakukan oleh peneliti yang udah
melewati latihan-latihan yang memadai, serta telah mengadakan persiapan yang
teliti dan lengkap.
Demikain Teknik observasi di bagi menjadi 2 yaitu:
a. Structured or cotrolled observasion ( observasi )yang direncanakan,
terkontrol.
b. Unstructure or informal observation ( observasi informasi atau tidak
terencanakan lebih dahulu ).

Pada structured observation, biasanya pengamat menggunakan bangko


bangko daftar isian yang tersusun. Dan didalamnya telah tercantum aspek-aspek
ataupun gejala-gejala apa saja yang perlu diperhatikan pada, yaitu waktu
pengamatan itu dilakukan. Adapun unstructured observation. Pada umumnya
pengamat belum atau tidak mengetahui sebelumnya apa yang sebenarnya harus
dicatat dalam pengamatan itu. Aspek-aspek atau peristiwanya tidak terduga.

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat di rumuskan permasahannya:
a. Pengertian observasi dalam prakti kebidanan
b. Tujuan observasi
c. Teknik-teknik observasi
d. Konsep keterampilan observasi
e. Keterampilan membina hubungan baik dalam prakti kebidanan
f. Peran wawancara dalam kegian observasi

1.3 TUJUAN
a. Tujuan umum
Mampu mengetahui cara atau prosedur dalam keterampilan observasi
b. Tujuan khusus
Untuk mengetahui keterampilan observasi dan menganalisis contoh kasus,
mengetahui komunikasi verbal dan non verbal

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Observasi

Adalah metode atau cara meganalisis dan mengadakan pencatatan secara


sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau
kelompok secara langsung. Cara atau metode tersebut dapat juga dikatakan
dengan menggunakan teknik dan alat-alat khusus seperti blangko-blangko,
cheklist, atau daftar isian yang telah di persiapkan sebelumnya. Menurut Flick
(2002)

Menurut Kartono (1990) Observasi adalah studi yang disengaja dan


sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan
pengamatan dan pencatatan”. Selanjutnya dikemukakan tujuan observasi adalah
“mengerti cirri-ciri dan luasnya signifikansi dari inter relasinya elemen-elemen
tingkah laku manusia pada fenomena sosial serba kompleks dalam pola-pola
kulturil tertentu”.

Menurut Patton ( 1990dalam poerwandari, 1998) menegaskan observasi


merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian, apalagi
penetian dengan pendekatan kualitatif. Agar memberikan data yang akurat dan
bermanfaat, observasi sebagai metode ilmiah harus dilakukan oleh peneliti yang
udah melewati latihan-latihan yang memadai, serta telah mengadakan persiapan
yang teliti dan lngkap.

Menurut Moleong (2001) tidk memberikan batasan tentang observasi, tetapi


menguraikan beberapa pokok persoalan dalam membahas observasi,
diantaranya yaitu alas an pemanfaatan pengamatan dan maca m-macam
pengamatan serta derajat peranan pengamat.

3
2.2 Tujuan Dalam Praktik Kebidanan
Untuk mengetahui tingkah laku secara mendalam dan mendeksprisikan
secara individual, tujuan observasi dalam pelayanan kebidanan adalah
mendeskripsikan setting yang di pelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung.
Dan orang-orang yang terlibat dalam aktivitas dan makna kejadian di lihat dari
prepektif mereka yang terlihat dalam kejadihan yang di amati dalam asuhan
kebidanan. (Patton dalam poerwandari 1998)
a. Tujuan umum
Mampu untuk mengetahui cara atau prosedur dalam keterampilan observasi.
b. Tujuan khusus
Digunakan untuk mengetahui keterampilan observasi dan menganalisis
contoh kasus. Mengetahui komunikasi verbal dan non verbal.

Menurut Larry L.Barker ( dalam deddy mulyana 2005 ) bahasa mempunyai 3


fungsi: (penamaan, naming atau labelling). Intraksi dan transmisi informasi.
1. Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasikan
objek, tindakan, atau orang dengat menyebut namnya sehingga dapat
dirujuk dalam komunikasi.
2. Fungsi interaksi menekankan berbagai gagasan dan emosi,yang dapat
mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.
3. Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain, inilah
yang disebut fungsi transmisi informasi yang lintas waktu, dengan
mneghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, memungkinkan
kesinambungan budaya dan tradisi kita.

2.3 Teknik observasi di bagi menjadi 2 yaitu:


1. Structured or cotrolled observasion ( observasi )yang direncanakan,
terkontrol.
2. Unstructure or informal observation ( observasi informasi atau tidak
terencanakan lebih dahulu ).

4
Pada structured observation, biasanya pengamat menggunakan bangko
bangko daftar isian yang tersusun. Dan didalamnya telah tercantum aspek-
aspek ataupun gejala-gejala apa saja yang perlu diperhatikan pada, yaitu
waktu pengamatan itu dilakukan. Adapun unstructured observation. Pada
umumnya pengamat belum atau tidak mengetahui sebelumnya apa yang
sebenarnya harus dicatat dalam pengamatan itu. Aspek-aspek atau
peristiwanya tidak terduga sebelumnya.

2.4 konsep keterampilan observasi dalam praktik kebidanan

Hal yang perlukitaobservasiadalah :

1. Tingkahlaku verbal
2. Non verbal
3. Kesenjanganantaratingkahlaku verbal dan non verbal
Kepekaan dalam observasi merupakan hal yang paling mendasar dan
membina komunikasi efektif tingkah laku atau komunikasi non verbal

Komunikasi non verbal adalah pesan yang di sampaikan dalam komunikasi


di kemas dalam bentuk non verbal tanpa kata kata

Bentuk komunikasi nonverbal adalah :

1. Bahasa tubuh : meliputi lambayan tangan, exspresi wajah, kontak mata ,


sentuhan gerakan tubuh , gerakan kepala , sikap/posturtubuh dan lain lain
2. Tanda :dalam komunikasi non verbal menggantikan kata-kata misal :
bendera putih mengartikan adat melayu
3. Tindakan atau perbuatan : tindakan tidak menggantikan kata kata tetapi
mengandung makna misal : menggebrak meja berarti marah
4. Objek :objektif dan kmenggantikan kata kata tapi juga mengandung
makna misal : pakaian mencerminkan gaya hidup seseorang

5
5. Warna : menunjukan warna emosional dan cita rasa , keyakinan agama ,
politik , dan lain lain . misal warna merah muda adalah warna feminim

Fungsi komunikasi non verbal

1. Melengkapi komunikasi verbal


2. Menekankan komunikasi verbal
3. Membesarbesarkankomunikasi non verbal
4. Melawankomunikasi verbal
5. Meniadakan komunikasi non verbal

Komunikasi verbal

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata kata-baik


secara lisan maupun tulisan Bahasa verbal merupakan sarana untuk
menyampaikan perasaan pikiran dan maksud tujuan . menurut larryL barker ,
Bahasa mempunyai tiga fungsi yaitu penamaan , intraksi dan trasmisi
informasi ( mulyana , 2007 )

Kesenjangan tingkah laku verbal dan non verbal

Kesenjangan tingkah laku verbal dan non verbal dapat di lihat dari

1. Kesesuaiian antara tingkah laku verbal dan non verbal


2. Kesesuaian antara dua buah pertanyaan
3. Kesesuaian antara apa yang di ucap dan apa yang di kerjakan

2.5 Keterampilan membina hubungan baik

Keterampilan membina hubungan baik merupakan dasar dari proses


komunikasi interpersonal bidan dengan klien

Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam membina hubungan baik adalah:

1. Menunjukkan tanda perhatian verbal.


2. Menjalin kerjasama

6
3. Memberikan respon positif berupa pujian, dukungan.

Sikap yang hangat, menghormati, menerima klienapa adanya, empati dan


tulus merupakan upaya untuk membina hubungan yang baik. Sikap dasar yang
perlu dimilikiadalah SOLER yaitu:

a. S: Face your clients squarely (menghadap klien) dan smile/nod at clients


(senyum menganggukkan kepala).
b. O: Oen and Non judgemental Facial Expression (ekspresi muka
menunjukkan sikap terbuka dan tidak menilai).
c. L: Lean Towards Client (tubuh condong kearah klien).
d. E: Eye Contact in a culturally- Acceptable Manner (kontak mata/tetap
mata sesuai dengan cara yang diterima budaya setempat)
e. R: Relaxed and Friendly Manner (santai dan sikap bersahabat).

2.6 Peran wawancara dalam kegiatan observasi dalam peraktik kebidanan


(Media Libungkes NO. 1 thun 1993) peran wawancara adalah tidak boleh
bersikap egoistik, iatidak boleh memntingkan diri sendiri tanpa memperhatikan
situasi orang yang diwawancarai. Pewawancara harus sadar bahwa orang yang di
wawancarai adalah manusia yang bersikap simpati dan antipati, yang mempunyai
kebebasan untuk menjawab atau tidak. Memberi pelatihan lebih dahulu sebelum
melaksanakan wawancara, seperti:
a. Partisipasi umumnya meminta lebih banyak waktu dan tenaga dari responden
b. Identifikasi dapat menjerumuskan pewawancara kesubyektifitas jika tidak
dimainkan secara sempurna
c. Persesuai belum tentu dan menjambatinya jarak antara pewawancara dengan
yang diwawancarai

7
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Observasi merupakan salah satu instrument pengumpulan data yang dapat


melengkapi kekurangan metode lain dalam pengumpulan data. Sebelum
melakukan observasi, observer sebaiknya menentukan tujuan khususnya agar
observasi terpokus pada apa yang diingkan, kemudian agar observasi dapat efektif
dan efesien sebaiknya observer terlebih dahulu. Lalu kemudian melakukan
observasi.

3.2 SARAN

Dalam melakukan observasi kita harus memilih objek observasi yang baik, bukan
yang sembarangan agar dari hasil observasi dapat optimal, kemudian melaukan
observasi berkelanjutan agar lebih akurat . dan dalam melakukan observasi .

8
DAFTAR PUSTAKA

Flick, Pengertian Observasi Dalam Praktik Kebidan ( Pdf 2002 )

Kartono, Pengertian Observasi Dalam Praktik Kebidanan ( Pdf 1990)

Meleong, Pengertian Observasi Dalam Praktik Kebidanan ( Pdf 2001 )

Patton, Pengertian Dan Tujuan Observasi Dalam Praktik Kebidanan

( Poerwandari 1998 )

Mulyana, Konsep Keterampilan Observasi Dalam Praktik Kebidanan ( Pdf 2007 )

Hj.I.G.A. Aju Nitya Dharmani, SST.SE.MM, Keterampilan Membina Hubungan


Baik Dalam Prakltik Kebidan ( Pdf )

Media Libungkes, Peran Wawancara Dalam Praktik Kebidanan( Pdf 1993)