Anda di halaman 1dari 8

HISTORICAL EDUCATION

Edisi Volume 1 Nomor 1, April 2016


Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah

TRADISI MANSA PADA MASYARAKAT WANGI-WANGI


DI KABUPATEN WAKATOBI
(Suatu Tinjauan Sejarah)1
Oleh
La Edi2
Ali Hadara3
Aswati M4
ABSTRAK
Tradisi Mansa pada Masyarakat Wangi-Wangi di Kabupaten Wakatobi dalam
kajian ini telah diteliti dengan menfokuskan pada lima masalah utama yaitu (1)
Bagaimana latar belakang lahirnya Mansa pada masyarakat Wangi-Wangi di Kabupaten
Wakatobi? (2) Bagaimana prosesi Mansa pada masyarakat Wangi-Wangi di Kabupaten
Wakatobi? (3) Bagaimana fungsi Mansa pada masyarakat Wangi-Wangi di Kabupaten
Wakatobi? (4) Bagaimana perubahan Mansa pada Masyarakat Wangi-Wangi di
Kabupaten Wakatobi? (5) Nilai-nilai apa yang terkandung dalam Mansa pada
masyarakat Wangi-Wangi di Kabupaten Wakatobi.
Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa; (1) latar belakang lahirnya
Mansa pada masyarakat Wangi-Wangi menurut tradisi lisan yang berkembang, bahwa
Mansa sebagai seni penjaga diri sudah ada di Pulau Oroho sebelum kerajaan di Liya
dirikan, yaitu sekitar awal abad ke XIII, yaitu Mansa yang berasal dari Maluku, yang
kemudian Mansa itu diserap menjadi kebudayaan masyarakat Wangi-Wangi yang
dalam masyarakat Wangi-Wangi dinamakan Mansa Makanjara. Selanjutnya pada
perkembangannya, sekitar abad ke XIX muncul Mansa Balabba sebagai salah satu
aliran Mansa yang populer. Selain itu, Mansa di Wangi-Wangi sangat bervariasi,
anggapan ini diperkuat dengan beberapa alasan yaitu dari letak geografisnya yang
merupakan jalur pelayaran, Kedua; masyarakat Wakatobi dari berbagai penelitian
terdahulu dikatakan merupakan pelaut-pelaut tangguh tradisional, yang memungkinkan
dari sebagian mereka mempelajari tehnik beladiri ditempat yang mereka kunjungi. (2)
prosesi pelaksanaan belajar Mansa dimulai dari Elaha u laro (mencari simpati), Hesofui
(pensucian diri), Paho (mempertajam penglihatan), Hena-henai’a (belajar jurus).(3)
Fungsi Mansa pada masyarakat Wangi-Wangi tentunya tidak jauh berbeda dengan
fungsi silat pada umumnya, yaitu (a) sebagai beladiri,dan (b) sebagai pertunjukan. (4)
Perubahan yang terjadi dalam tradisi Mansa yaitu terutama munculnya aliran-aliran
baru seperti Karate, Tai Kondo yang dapat mempengaruhi eksitensi Mansa yang lama.
(5) Nilai yang terkandung dalam tradisi Mansa yaitu: (a) Nilai Budaya (b) Nilai Sosial;
(c) Nilai Spiritual; dan (d) Nilai Estetika.

Kata Kunci: Sejarah, Nilai, dan tradisi Mansa

1
Disadur dari hasil penelitian 2016
2
Alumni pendidikan sejarah UHO, wisuda periode april 2016
3
Dosen FKIP UHO
4
Dosen FIB UHO

47
HISTORICAL EDUCATION
Edisi Volume 1 Nomor 1, April 2016
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah

PENDAHULUAN
Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beraneka ragam yang terdiri dari
berbagai suku bangsa dengan latar belakang budaya, kepercayaan, adat istiadat yang
berbeda-beda, tentu manusia-manusia di dalamnya juga memiliki aktivitas dan
kreativitas yang berbeda pula dalam menciptakan keunikan identitas kehidupan
bermasyarakat yang tercakup pada pola kebiasaan hidup sebagai pengikat dalam
menciptakan kebudayaan selama proses perjalanan hidupnya dari waktu ke waktu.
Kebudayaan Indonesia pada hakekatnya merupakan keseluruhan produk atau
karya nyata bangsa Indonesia yang mempunyai nilai keluhuran sebagai jati diri bangsa
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Bangsa Indonesia juga dikenal sebagai masyarakat yang majemuk terdiri dari
ratusan suku bangsa yang mempunyai latar belakang sejarah, sosial, kultur dan
lingkungan hidup yang berbeda-beda, yang sudah tentu bahwa perbedaan tersebut akan
memberikan ciri khas atau variasi-variasi tertentu yang bersifat lokal dalam adat istiadat
dan kebiasaan-kebiasaan hidup lainnya di tiap-tiap daerah. Keaneka ragaman tersebut
mencerminkan kekayaan warisan budaya bangsa yang harus diwariskan, dilestarikan,
dan dibina serta dikembangkan.
Kebudayaan sebagai identitas masyarakat memegang peranan penting dalam
membentuk jati diri manusia. Mustahil bilamana terdapat sekolompok manusia atau
masyarakat yang tidak dapat memiliki budaya atau karya sosial. Budaya dan masyarakat
merupakan suatu struktur sosial yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.
Pada dasarnya tidak akan ada budaya tanpa kehadiran manusia ataupun sebaliknya.
Peran masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup manusia sangat diperlukan dalam
pembangunan nasional. Oleh karena itu, dalam meningkatkan pembangunan nasional
diperlukan usaha-usaha dalam bentuk kerja sama di segala bidang kehidupan baik
ekonomi, politik maupun sosial budaya dalam rangka memperkokoh persatuan dan
kesatuan bangsa, serta memantapkan ketahanan nasional Indonesia. Untuk mencapai
cita-cita tersebut dapat ditempuh dengan orientasi dan pendekatan kebudayaan.
Pulau Wangi-Wangi merupakan salah satu pulau yang ada di kabupaten
Wakatobi, yang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara juga
memiliki keragaman budaya yang perlu diangkat dan dilestarikan keberadaannya guna
memperkaya khasanah budaya bangsa pada umumnya dan Wakatobi pada khususnya.
Dalam masyarakat pulau Wangi-Wangi terdapat banyak bentuk kebudayaan lokal serta
tradisi, baik yang berkaitan dengan alam, mata pencaharian darat maupun laut,
menyangkut pengaturan hidup manusia, adat istiadat maupun falsafa kehidupan. Salah
satunya adalah tradisi Mansa (silat). Silat pada umumnya di setiap wilayah nusantara
memiliki kemiripan-kemiripan, namun yang perlu kita beri tanda kutip bahwa dibalik
itu semua tentu memiliki perbedaan-perbedaan dalam gerakannya.
Mansa pada hakekatnya memiliki beberapa manfaat, adapun yang paling
mendasar adalah sebagai beladiri/menjaga diri. Selain itu dalam acara-acara tertentu
Mansa juga menjadi pertunjukan yang menarik, pertunjukan Mansa ini dalam
masyarakat Wakatobi khususnya masyarakat Wangi-Wangi dikenal dengan sebutan
Mansa’a.
Seperti halnya yang kita jumpai di beberapa kebiasaan, adat-istiadat dan
kebudayaan, serta tradisi-tradisi yang ada di setiap daerah memiliki keunikan-keunikan
tersendiri, yang walaupun pada hakekatnya memiliki kemiripan. Seperti halnya juga

48
HISTORICAL EDUCATION
Edisi Volume 1 Nomor 1, April 2016
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah

dengan tradisi Mansa, tentu memiliki perbedaan-perbedaan yang cukup menonjol yang
menjadikannya lebih unik dan menarik dari silat yang ada di daerah lainnya.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian sejarah yang bersifat deskriptif kualitatif
dengan menggunakan pendekatan (Domain) strukturis. Pendekatan strukturis seperti
yang dikemukakan oleh Kasianto (2006: 56) bahwa terdapat tiga domain dalam
penelitian sejarah yakni domain peristiwa, domain struktural, dan domain strukturis, di
mana domain strukturis itu sendiri adalah domain yang mempelajari peristiwa dan
struktur sebagai kesatuan yang saling melengkapi, artinya peristiwa mengandung
kekuatan mengubah struktur, sedangkan struktur mengandung hambatan atau dorongan
bagi tindakan perubahan dalam masyarakat.
Dalam penelitian ini, menggunakan tiga kategori sumber data penelitian yaitu
sebagai berikut; (1) Sumber tertulis (2)Sumber lisan (3) Sumber visual.
Sedangkan prosedur yang digunakan dalam penelitian ini adalah prosedur
sejarah yang dikemukakan oleh Nugroho Notosusanto (1978: 36) yaitu terdiri dari
Heuristik, kritik sumber, interpertasi, dan historiografi. Melalui prosedur tersebutlah
penelitian dilakukan dengan memakan waktu selama dua bulan dan dipusatkan di
Kecamatan Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Sejarah Lahirnya Tradisi Mansa di Wangi-Wangi


Dalam beberapa penjelasan sebelumnya tentang asal mula masyarakat Wakatobi
terutama masyarakat Wangi-Wangi memberikan gambaran kepada kita bahwa
masyarakat Wangi-Wangi bersifat heterogen, dengan demikian tentu kebudayaan yang
ada di Wangi-Wangi juga akan mengalami hal yang serupa. Mansa sebagai salah satu
dari kesekian tradisi yang ada pada masyarakat Wangi-Wangi, memiliki rentetan sejarah
yang cukup panjang.
Menurut tradisi lisan yang berkembang bahwa Mansa sebagai seni penjaga diri
sudah ada di Pulau Oroho sebelum kerajaan di Liya dirikan, yaitu sekitar awal abad ke
XIII. Pulau Oroho adalah pulau yang terletak tidak jauh dengan pulau Wangi-Wangi.
Meskipun ceritra ini masih bersifat mitos, namun sangat menarik jika dijadikan sebagai
asumsi dasar untuk bahan kajian ilmiah terkait sejarah lahirnya Mansa di Wangi-Wangi.
Jika dikaitkan dengan hasil pengamatan dan wawancara, menunjukan fakta dalam
masyarakat Wangi-Wangi dikenal Mansa Makanjara yaitu Mansa yang berasal dari
Maluku. Jadi anggapan ini cukup dikuatkan mengingat dari beberapa sumber dikatakan
bahwa para pembajak berasal dari Tobelo (Maluku).
Dalam sumber yang lain, yang menunjukan akan hubungan masyarakat Maluku
dengan masyarakat Wangi-Wangi, yaitu menurut Johannes Elbert “menyatakan bahwa
secara antropologis penduduk Wanci adalah percampuran antara penduduk Buton
Selatan dengan pantai Pulau Buru dan Ambon, serta Semenanjung Melayu, karena itu
penduduknya berpakaian mirip orang Buton, namun berperilaku dan budaya esensi dari
strain Melayu lebih canggih” (Ali Hadara, 2015: 13).
Sejalan dengan hal di atas menurut Ali Hadara (2013: 51) menyatakan bahwa
pada masa lalu sering tari Honari Mosega ini disertai dengan Makandara (Makanjara),
yakni setelah penari memberikan penghormatan terakhir, lalu masuklah pasukan syara

49
HISTORICAL EDUCATION
Edisi Volume 1 Nomor 1, April 2016
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah

sebanyak 40 orang yang mengawal Honari Mosega lalu mereka melakukan gerakan-
gerakan silat layaknya peperangan melawan musuh lalu dilakukannya penikaman antara
sesama pasukan dengan senjata tombak dan keris tanpa cedera.
Mengacu dari hasil wawancara dan dipadukan dengan beberapa sumber di atas
menunjukkan bahwa dari dulu sejak zaman kerajaan masyarakat Wangi-Wangi telah
memiliki hubungan dengan masyarkat Maluku, dengan ini memungkinkan Mansa
Makanjara sebagai salah satu jenis beladiri milik masyarakat Maluku masuk dan
menyatu dengan unsur kebudayaan masyarakat Wangi-Wangi.
Dalam perkembangan selanjutnya menurut hasil wawancara dengan La Ari
(Wawancara 18 September 2015) mengatakan bahwa Mansa yang berkembang dalam
masyarakat Wangi-Wangi berasal dari daratan Buton, yang dalam masyarakat Buton
dikenal dengan nama Balabba. Lebih jauh ia menuturkan bahwa dirinya-pun belajar dari
gurunya yang bernama La Sangi yang ketika itu mengajarkan Mansa di Longa
(perkampungan lama).
Sejalan dengan hal di atas, sumber yang menyatakan bahwa pada akhir abad ke-
XIX dua orang pelayar ulung bersaudara asal Tomia, masing-masing bernama Ua
Senge dan Ua Kamu berhasil mendirikan sebuah kampung di Johor yang bernama
kampung Sungai Karang mereka sangat populer karena selain berdagang, juga menjadi
guru pencak silat Balabba yang sangat terkenal di kalangan pelayar-pelayar Buton dan
kebanyakan dari murid-muridnya sepulangnya, menjadi guru-guru silat Balabba di
daerahnya masing-masing (Hedivan, 2012: 49).
Dari pandangan di atas memiliki keterkaitan dengan perkembangan Mansa yang
ada di Wangi-Wangi, mengingat bahwa Wakatobi terlebih khusus Wangi-Wangi masih
merupakan bagian dari kerajaan Buton, ini memungkinkan bahwa Mansa yang ada pada
masyarakat Buton akan berkembang di Wangi-Wangi yaitu pada abad ke XIX. Selain
itu, Mansa Balabba mendapatkan tempat atau posisi yang istimewa, dalam artian bahwa
Mansa ini sangat populer dalam perkembanga Mansa yang ada pada masyarakat
Wangi-Wangi, dikarenakan memiliki kemiripan dengan Mansa yang lama ada, bahkan
berkembang anggapan dari sebagian masyarakat bahwa Mansa Balabba sama dengan
Mansa yang lama.
Maka dari beberapa hasil wawancara dan pengamatan serta didukung dengan
beberapa penelitian terdahulu, menunjukkan bahwa sejak dulu, yaitu sekitar abad ke
XIII masyarakat Wangi-Wangi telah mengenal Mansa yaitu Mansa yang telah ada di
Pulau Oroho sebelum berdirinya kerajaan Liya yaitu Mansa yang berasal dari Maluku
dan inilah yang menjadi cikal bakal dari perkembangan Mansa dalam kehidupan
masyarakat Wangi-Wangi. Pada perkembangan selajutnya yaitu sekitar abad ke XIX
masuk Mansa Balabba dan beberapa aliran Mansa lainnya seperti Karate, Taekwondo,
dan berbagai silat dan bela diri lainnya.

Prosesi Mansa pada Masyarakat Wangi-Wangi di Kabupaten Wakatobi


1. Proses Belajar Mansa
Sebagai bentuk atau bagian dari beladiri, tentunya dalam proses mempelajari
Mansa memiliki prosedur-prosedur yang menjadi tingkatan yang perlu dipenuhi dalam
mempelajarinya.
Dari pembahasan sebelumnya sudah sedikit memberikan gambaran bahwa aliran
Mansa dalam masyarakat Wangi-Wangi bisa dibilang tidak hanya satu melainkan ada
beberapa aliran. Tentu dari aliran-aliran ini memiliki perbedaan-perbedaan dalam

50
HISTORICAL EDUCATION
Edisi Volume 1 Nomor 1, April 2016
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah

prosedur mempelajarinya. Namun dari hasil wawancara dengan beberapa narasumber


secara umum dikatakan bahwa adapun prosedur-prosedur dalam mempelajari tehnik
Mansa harus melewati beberapa tahapa yaitu, (a) Elaha u laro (mencari simpati); (b)
Hesofui (pensucian); (c) Paho (mempertajam penglihatan); (d) Hena-Henai’a (Belajar
jurus).
Dalam pembahasan sebelumnya dikatakan bahwa Mansa Balabba adalah salah
satu aliran Mansa yang paling populer dikalangan masyarakat Wangi-Wangi, maka
dengan ini penulis akan memaparkan tentang tahap dalam jurus silat Balabba yang ada
pada masyarakat Wangi-Wangi. Pertama, Tahap pertama dalam mempelajari
permainan Mansa Balabba dalam masyarakat Wangi-Wangi terdiri dari: (a) Jurus pica
bunga, dan (b) Jurus dasar.
Kedua, Dalam tahap ini terdiri atas dua tingkatan yaitu tingkatan menengah dan
tingkatan inti. Dalam penjabarannya pada tahap ini terdiri dari dua tahapan yaitu; (a)
Tahap menengah berupa; Hato mingku, Alu mingku, dan Omplu nomo
mingku.Kemudian (b) Tahap inti yang terdiri dari; Hempo laro, Hempo luara, Hempo
kalaro kene ka luara, dan Hopo busu, sofo sepe, kene busu ulangi.

2. Prosesi Pertunjukan Mansa


a. Pra Pertunjukan
Mansa sebagai suatu pertunjukan, sangat di minati banyak orang oleh
masyarakat Wakatobi khususnya masyarakat Wangi-Wangi. Adapun langkah-langkah
yang harus ditempuh sebelum pelaksanaan pertunjukan Mansa adalah anatara lain (a)
Meminta izin pelaksanaan, dan (b) Pengambilan alat-alat pelaksanaan.

b. Acara Inti
Mansa dalam pertunjukannya dilaksanakan ditempat terbuka, di mana penonton
membentuk lingkaran dan yang paling didepan biasannya telah disiapkan tempat duduk
bagi para syara ataupun tokoh masyarkat yang dituakan.
Selain itu disiapkan tempat duduk bagi para pengiring musik yang biasanya
dibagian depan samping lingkaran pelaksanaan pertunjukan Mansa. Bagi peserta
pertunjukan Mansa harus memberikan hormat baik itu menghadap para tokoh adat,
tokoh agama maupun ketempat duduk para pengiring musik sebelum pica bunga
meminta lawannya.

Fungsi Mansa pada Masyarakat Wangi-Wangi di Kabupaten Wakatobi


Mansa sebagai salah satu tradisi dari sekian banyak tradisi yang ada pada
masyarakat Wangi-Wangi, tentu memiliki peranan yang penting dalam kehidupan
bermasyarakat baik dari masa lalu, dimasa sekarang, dan dimasa yang akan datang.
Adapun yang menjadi fungsi dari Mansa pada masyarakat Wangi-Wangi tentunya tidak
jauh berbeda dengan fungsi silat pada umumnya, yang menjadi fungsi dari Mansa
adalah:

1). Sebagai beladiri


Mansa dalam masyarakat Wangi-Wangi merupakan tehnik beladiri tradisional
yang menampilkan seni yang tinggi, keindahan gerakan. Namun tidak disangka dibalik
gerakan yang indah Mansa menyimpan kekuatan beladiri yang tangguh. Masa dulu,
sebagai masyarakat perantau atau masyarakat pelayar, masyarakat Wakatobi lebih

51
HISTORICAL EDUCATION
Edisi Volume 1 Nomor 1, April 2016
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah

khusus masyarakat Wangi-Wangi tentu harus memiliki beladiri yang sekali-kali dapat
dipergunakan dalam situasi tertentu.
Tidak kala pentingnya, yang perlu diingat peranan masyarakat Wakatobi dalam
melawan penjajahan, juga diakui oleh sejarah. Dalam hal ini, Mansa sebagai bekal yang
tangguh dalam menghadapi penjajah. Berdasarkan hasil wawancara, La Pogo
(Wawancara 15 September 2015) mengatakan bahwa sebagai pelayar banyak tantangan
yang dijumpai selama pelayaran, selain kondisi alam, para pembajak juga merupakan
tantangan yang cukup serius. Mansa pada masyarakat pelaut cukup berperan penting
yang walaupun kebanyakan dari para pelaut Wakatobi memiliki doa ataupun jimat
kekebalan terhadap senjata. Ia lebih lanjut mengatakan ilmu kebal dalam mempelajari
Mansa, sudah menjadi bagian yang wajib dalam masyarakat Wangi-Wangi pada masa
lampau. Dengan ini, menujukan bahwa Mansa merupakan bagian dari beladiri yang
dapat sekali-kali digunakan dalam keadaan tertentu.

2). Sebagai Pertunjukan


Mansa sebagai beladiri yang memiliki nilai seni yang tinggi, dalam masyarakat
Wangi-Wangi seringkali pertontonkan dalam berbagai acara seperti pernikahan,
khitanan, dan acara-acara lainnya. Pertunjukan Mansa (Mansa’a) adalah tradisi yang
dilaksanakan turun-temurun hingga sekarang. Dalam pelaksanaannya, diiringi oleh
musik tradisional yang terdiri dari ganda (gendang), dua buah tawa-tawa (Gong),
ndengu-ndengu (Gamelang). Adapun yang ikut meramaikan pertunjukan Mansa yaitu
laki-laki tanpa batasan umur baik dari anak-anak, remaja, anak muda ataupun orang tua.
Menurut Ali Hadara (2013: 52) menyatakan bahwa Mansa’a biasa dinamai “silat
kampung” dimainkan para pria muda maupun anak-anak serta orang tua, merupakan
rangkayan budaya yang terpelihara sejak dulu sampai kini. Sedangkan menurut
Taalami (2008: 63) bahwa Mansa’a adalah pertunjukan silat yang diiringi dengan musik
tradisional berupa ganda, tawa-tawa, ndengu-ndengu.

Perubahan Mansa pada Masyarakat Wangi-Wangi


Pada prinsipnya setiap kebudayaan akan selalu mengalami perubahan dari
waktu-kewaktu, tinggal seperti apa dan sejauh mana perubahan yang dialami oleh suatu
kebudayaan. Seperti halnya Mansa, sebagai salah satu bagian dari kebudayaan tentu
juga mengalami perubahan.
Melalui hasil interpertasi dari beberapa pengamatan dan wawancara ditemukan
ada beberapa perubahan dalam tradisi Mansa, antara lain sebagai berikut; (1)
Munculnya aliran-aliran baru, (2) Waktu pelaksanaan, (3) Gerakan dalam pertunjukan
Mansa, (4) Pakaian atau busana yang di gunakan.

Nilai-Nilai yang terkandung dalam Mansa


Setiap masyarakat memliki seperangkat nilai yang berbeda-beda, sesuai dengan
karakteristik masyarakat itu sendiri. Mansa adalah salah satu tradisi masyarakat di
pulau Wangi-Wangi yang telah lahir dan membudaya dalam kehidupan masyarakat.
Dalam rentang waktu yang begitu panjang telah dilalui oleh tradisi ini, hingga kemudian
telah sampai pada hari ini, masa kini yaitu masa yang sedang dijalani. Berdasarkan hasil
penelitian, ditemukan beberapa nilai yang terkandung dalam pelaksanaan Mansa pada
masyarakat Wangi-Wangi di antaranya ialah nilai sejarah, nilai sosial, nilai spiritual dan
nilai seni. Terkait dengan nilai yang terkandung dalam tradisi Mansa, dapat dijelaskan

52
HISTORICAL EDUCATION
Edisi Volume 1 Nomor 1, April 2016
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah

di bawah ini, yaitu; (1) Nilai Sejarah, (2) Nilai Sosial, (3) Nilai Spiritual, dan (4) Nilai
Estetika. Keempat nilai tersebut akan selalu terpatri dalam jiwa seseorang bila memang
masuk secara total mendalami Mansa. Sehingga dapat dipahami bahwa Mansa tidak
sekedar tradisi atau bela diri yang hanya melatih fisik seseorang saja, tetapi lebih dalam
dari itu, yaitu melalui Mansa dapat dilakukan pelatihan mental dan jiwa seseorang
untuk menjadi manusia yang lebih baik.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada pembahasan sebelumnya,
maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut:
1) Latar belakang lahirnya Mansa yaitu sekitar abad ke XIII, adapun Mansa yang
berkembang pada awalnya adalah Mansa yang ada di pulau Oroho dan Mansa
Makanjara yang berasal dari Maluku, terbukti tidak berselang lama muncul tari-
tarian yang memperagakan tehnik Mansa, seperti tari Honari Mosega dan tari
Makanjara, ini menunjukan bahwa sebelumnya telah ada jenis Mansa yang
berkembang dalam masyarakat yang kemudian dikembangkan dalam bentuk
tarian. Dalam perkembangan selanjutnya pada abad ke XIX muncul Mansa
Balabba yang sangat populer dikalangan masyarakat Wangi-Wangi dan beberapa
aliran silat lainnya, seperi Karate, Taekwondo dan silat lainnya.
2) Proses pelaksanaan belajar Mansa dimulai dari Elaha u laro, Paho, Hena-henai
yang merupakan tahap belajar tehnik Mansa. Selain itu, dalam pertunjukan Mansa
pada masyarakat Wangi-Wangi dimulai dari musyawarah bersama yang dilakukan
oleh pihak pelaksana dengan tokoh adat (masyarakat dulu) dan izin pelaksanaan
dari kepolisian (untuk sekarang). Selanjutnya mengambil alat-alat musik
tradisional sebagai pengiring dari pertunjukan Mansa.
3) Fungsi tradisi Mansa ialah pada masyarakat Wangi-Wangi tentunya tidak jauh
berbeda dengan fungsi silat pada umumnya, yaitu sebagai beladiri dan sebagai
pertunjukan yang mana Mansa memiliki nilai estetika yang cukup tinggi dalam
gerakan-gerakannya, selain itu keindahannya terdapat pada lentunan musik
pengiringnya.
4) Perubahan yang terjadi dalam Mansa yaitu terutama munculnya aliran-aliran baru
seperti Karate, Taekwondo yang dapat mempengaruhi eksitensi Mansa yang lama.
Selain itu, pada pelaksanaan pertunjukan Mansa kita jumpai beberapa perubahan
seperti telah diabaikannya nilai keindahan jurus (wele), hilangnya nilai gotong
royong terutama dalam persiapan pertunjukan, dll
5) Nilai yang terkandung dalam tradisi Mansa yaitu: (a) Nilai budaya; Merupakan
warisan budaya masa lampau yang harus dijaga (b) Nilai sosial; Karena dalam
pertunjukan Mansa sebagai ajang bertemunya masyarakat (c) Nilai spiritual;
Membersihkan jiwa dan kepribadian dengan jalan bersemedi, dan (d) Nilai
estetika; yaitu terletak pada gerakan-gerakannya, selain itu terletak dalam
lentunan musik pengiringnya.

DAFTAR PUSTAKA
Ali Hadara, dkk. 2013. Mingku I Hato Pulo. Depok: Graindo Media
----------------- , 2014. Etnografi Suku-Suku di Wakatobi. Surabaya. Mapan
----------------- , 2015. Budaya Maritim Orang Wakatobi. Sulo Printing

53
HISTORICAL EDUCATION
Edisi Volume 1 Nomor 1, April 2016
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah

----------------- , 2015. Sejarah Wakatobi. Himpunan Sarjana Ilmu-Ilmu Sosial


Indonesia Sultra.
Erman. 2009. Sejarah Permainan Silat Tradisional Ewa Wuna di Desa Masara
Kecamatan Napano Kusambi Kabupaten Muna. Skripsi FKIP UHO
Gazalba, Si. 1967. Pengantar Kebudayaan Sebagai Ilmu. Jakarta: Balai Pustaka.
Haviland, William A. 2004. Antropologi Esi ke Empat (Ahli Bahasa Oleh R.G Soekajo).
Jakarta: Erlangga
Hedivan. 2012. Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Permainan Silat Balaba di Desa
Wining Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton: Skripsi. FKIP UHO
Kasianto. 2006. Pedoman Penulisan Sejarah lokal. Jakarta: Departemen Kebudayaan
dan Parawisata
Koentjaraningrat. 1980. Sejarah Teori Antropologi. Jakarta: UI
Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Radar Jaya.
La Ode Taalami. 2008. Mengenal Kebudayaan Wakatobi.Jakarta: Granada.
Mudjiono. 2010. Pengantar Kajian Budaya. Jakarta: PT. Rajawali
Mujianto, Yani.dkk. 2010. Pengantar Ilmu Budaya. Yokyakarta: Pelangi Publishing.
Munandar, Sulaeman. 2010. Ilmu Budaya Dasar (Suatu Pengantar). Bandung: Refika
Atama.
Notosusanto, Nugroho. 1978. Masalah Penelitian Sejarah Kontenporer (Suatu
Pengalaman). Jakarta: Yayasan Idayu.
Poespowardojo, Soerjanto. 1989. Strategi Kebudayaan Suatu Pendekatan Filosofi.
Jakarta: Pt Gramea Pustaka Utama.
Sjamsudn, Helius. 1998. Metodologi Sejarah. Jakarta: Depkbud.
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi, Suatu Pengantar. Jakarta: CV Rajawali.
Subroto, Joko, dan Moh. Rohadi. 1996. Kaidah-Kaidah Pencak Silat Seni yang
Tergabung dalam IPSI. Solo: CV Aneka.
Yusni. 2001. Nilai-Nilai Budaya yang Terkandung dalam Teks I La Gallo Ritumpana
Welenrennge: Skripsi, Kendari: FKIP Unhalu.

54