Anda di halaman 1dari 6

EPISTEMOLOGI KEILMUAN

A. Pemahaman Awal Epistemologi


Langeveld membagi masalah-masalah pengetahuan meliputi: a). kebenaran;
b). logika; c). teori pengetahuan. Pembagian ini menjadikan Epistemologi
lazimnya diartikan sebagai ilmu yang hanya membicarakan masalah-masalah
kebenaran dan teori pengetahuan saja, sedangkan logika yang menjadi syarat
tercapainya pengetahuan yang benar, dipisahkan daripadanya dengan alasan
bahwa logika berobjekkan akal yang membahas masalah-masalah ketepatan
bekerjanya akal.
Epistemologi sebagai ilmu yang membahas sedalam-dalamnya tentang
masalah-masalah ilmu pengetahuan, bertujuan untuk memperoleh realitas dan
kebenaran ilmiah yang hakiki, sehingga dengan demikian ilmu pengetahuan
dapat dipertanggungjawabkan secara material, formal dan moral.
B. Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan
1. Fungsi Panca Indera Bagi Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Panca indera sebagai penerima rangsang dari luar, terdiri dari lima
perabot (perkakas) yang melekat pada tubuh manusia, yakni :
1. Mata - untuk melihat segala keadaan.
2. Telinga - untuk mendengarkan suara.
3. Hidung - untuk mencium bau-bau.
4. Kulit - untuk merasa dan meraba.
5. Lidah - untuk merasakan makanan dan minuman.

Panca indera manusia itu pada hakikatnya masih sangat sederhana


keadaannya. Hal ini dibuktikan dengan adanya kenyataan bahwa :
1. Manusia tidak dapat menangkap tenaga listrik dan magnit, tidak dapat
menangkap tekanan udara dan derajat perlembaban.
2. Manusia tidak dapat mencium sebagian besar dari pelbagai gas.
3. Manusia tidak dapat merasai dan melihat sinar Ultraviolet, sinar Rontgen,
sinar Gamma, warna Ultraviolet dan Infrared (merah rendah).
4. Manusia tidak dapat merasai dan melihat gelombang pemancar radio dan
dinamo, proses radio aktif dan emanasi, sinar tumbuh-tumbuhan, hewan dan
sebagainya. dan sebagainya.
2. Fungsi Akal Bagi Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Menurut Dewey, terdapat lima tingkatan berpikir ilmiah yang
berhubungan dengan metode berpikir reflektif, yaitu:
1. The Felt Need
2. The Problem
3. The Hypothesis
4. Collection of data as evidence
5. Concluding belief
6. General value of the conclusion

3. Peranan Budi Dalam Menemukan Hakikat Kenyataan


Budi sebagai kunci dasar atau azas berpikir untuk menghasilkan ilmu
pengetahuan yang seluas-luasnya, sedalam-dalamnya dan seluhur-luhurnya.
Tidak dapat disangkal bahwa hasil ilmu pengetahuan di dalam chuluk yang
seindah-indahnya sebagaimana tersebut diatas, akan mempengaruhi tata
perkembangan teknik sebagai kunci dalam usaha membina corak masyarakat
dan roman muka dunia yang disebut kebudayaan (culture) dan kehalusan
adab (civilisasi).

C. Hukum Sebab Akibat


Sesuai dengan ketentuan tersebut diatas, maka suatu tuntutan terhadap
seorang pekerja ilmu, bahwa ia harus memiliki pribadi bebas terbuka disertai
pikiran yang kritis terhadap segala persoalan. Bebas, dalam arti kata
mengemukakan pendapat tidak dikendalikan dengan paksa oleh suatu rasa
ketakutan atau tekanan. Yang diminta sebagai cara berpikir seorang ahli ilmu
pengetahuan ialah antara lain, bahwa ia tidak merasa tidak terikat atau terbatas
pada waktu, ruang dan tempat, kebangsaan, agama dan pandangan politik,
sebab sesungguhnya kebenaran itu tidak mengenal batasbatas yang demikian.
D. Sumber Pengetahuan
Sebagai sintesa dari dua pendapat yang berbeda tersebut, muncullah aliran
yang ketiga yang disebut kritisisme. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan
bersumber baik pada pengalaman maupun pada rasio.
1. Empirisme
2. Rasionalisme
3. Kritisisme
E. Batas-Batas Pengetahuan
Sampai sejauh manakah pengetahuan kita itu kesempurnaannya? Dapatkah
kita mencapai pengetahuan yang sempurna? Persoalan tersebut menyangkut
batas-batas pengetahuan, yang mana dalam penyelesaiannya terdapat beberapa
aliran.
1. Skeptisisme
2. Objektivisme
3. Fenomenologisme
F. Objek Pengetahuan
Objek pengetahuan ialah masalah yang diselidiki oleh pengetahuan. Masalah
objek pengetahuan tidak dapat lepas dari pendirian mengenai sumber ilmu.
Ditinjau dari jenis sifatnya, dibedakan tiga macam objek pengetahuan:
1. Objek-objek rasa - Objek Empirisme
2. Objek-objek bukan rasa – Objek Idiil
3. Objek-objek luar rasa
G. Metode Ilmu Pengetahuan
Metode ilmu merupakan suatu rencana kerja untuk menyusun suatu sistem
pengetahuan tentang sesuatu masalah. Tujuan pengetahuan pada dasarnya
dapat dibedakan menjadi 2 (dua) corak (1). Ingin mencapai pengetahuan tentang
apa yang tetap, yang bersifat umum, yang abadi (2). Ingin mencapai
pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat khusus.
Sesuai dengan dua corak tujuan pengetahuan tersebut, maka secara garis
besar terdapat dua metode pokok yang digunakan untuk menyelidiki alam
semesta ini.
1. Metode Induksi
Metode induksi berangkat dari fakta-fakta khusus, peristiwa-peristiwa
yang konkrit, kemudian dari fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa yang khusus
konkrit itu ditarik generalisasigeneralisasi yang mempunyai sifat umum.
2. Metode Deduksi
Metode deduksi berangkat dari suatu pengetahuan yang sifatnya
umum, dan bertitik tolak pada pengetahuan yang umum itu kita hendak
menilai sesuatu kejadian yang khusus.
H. Hakikat Kebenaran
Kebenaran adalah persesuaian antara pendapat sebagai keputusan akal
dengan objek yang sedang diselidiki. Dalam bahasa asing disebut adaequantio
intelectus et rei (Adaequantio = persesuaian, kecocokan; Intelectus = akal; Rei =
benda, barang). Adaequantio intelectus et rei berarti ada persesuaian antara akal
dengan benda atau barang sebagai objek yang diselidiki. Persesuaian tersebut
harus betul-betul pasti, kita sadari, kita yakini, untuk memperoleh hakikat
kebenaran yang sesungguhnya.
I. Berbagai Macam Pendirian Tentang Kebenaran
1. Pendirian yang mengutamakan lingkungan metafisika sebagai sumber
kenyataan. Pendirian ini melahirkan aliran-aliran filsafat, antara lain:
a. Suprarasionalisme atau Metalogisme
Suprarasional berarti ada di atas akal. Suprarasional dapat juga disebut
dengan istilah “metalogis” yang berarti di balik pemikiran-pemikiran yang
logis.
b. Intuitionisme
c. Tasawuf atau Mistik
Tujuan tasawuf ialah mendekatkan diri kepada Tuhan, sehingga merasai
persatuannya (uniomystica). Persatuan tersebut merupakan perasaan
yang paling luhur, di mana manusia merasai nikmat dalam hubungannya
dalam Yang Mutlak.
2. Pendirian yang mengutamakan objek sebagai sumber kenyataan.
Pendirian inipun melahirkan aliran-aliran filsafat, antara lain:
a. Realisme
Realisme dapat dibedakan lagi menjadi beberapa aliran:
1) Realisme naif
2) Realisme Modern
3) Realisme Kritis
b. Materialisme
Materialisme dapat dibedakan menjadi 2 macam:
1) Materialisme Alam
Materialisme alam mempunyai pengaruh yang besar bagi
perkembangan ilmu terutama ilmu pengetahuan alam.
2) Materialisme Historis/Dialektis
c. Fenomenologisme.
Fenomenologi ialah suatu aliran filsafat sebagai suatu metode
penyelidikan, yang berusaha menyelami segala sesuatu dengan
memperhatikan segala gejala (fenomena) hakiki yang kita alami dalam
suatu situasi dengan tidak mempengaruhi penghayatan itu oleh
pandanganpandangan dan tafsiran sendiri.
J. Teori-Teori Kebenaran
1. Teori kesesuaian atau correspondence-theory.
Teori ini mengatakan bahwa pengetahuan kita benar, apabila sesuai dengan
kenyataan. Teori ini mendasarkan diri pada pendapat, bahwa ada “dunia
objektif” yang tidak tergantung pada manusia yang mengetahui.
2. Teori ketetapan atau consistency-theory.
Teori ini meyangkal teori kesesuaian dengan mengemukakan pendapat
bahwa manusia tidak mungkin dapat mencapai kesesuaian secara pasti
(eksak) antara kesan-kesan yang dimilikinya dengan kenyataan.
3. Teori pragmatis = teori instrumentalis = teori eksperimentalis.
Kecaman-kecaman terhadap teori pragmatis:
a. Kaum pragmatis mengacaukan antara kebenaran dan nilai.
b. Kaum pragmatis bagaikan “memperoleh kuda di muka pedati“, karena ia

mengatakan : suatu pendapat adalah benar karena akibatnya benar.


Seharusnya: karena suatu pendapat itu benar, maka akibatnya akan
benar juga.