Anda di halaman 1dari 15

Tugas Rutin Media dan Desain Pembelajaran

DESAIN PEMBELAJARAN MODEL ADDIE

Disusun Oleh :
Kelompok 1
Asina Sofia Harianja 8196175004
Sri Arfani Hs 8196175002
Visha Wahyuni 8196175003

Dosen Pengampu :
Dr. Nurliana Marpaung, M.Si
Dr. Rahmatsyah, M.Si

PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sejak enam puluh tahun terkahir lebih dari 100 model pembelajaran
bermunculan masing-masing menganut satu atau beberapa teori belajar. Salah satu
model desain pembelajaran yang sifatnya lebih generik adalah model ADDIE
ADDIE merupakan singkatan dari Analysis, Design, Development or Production,
Implementation or Delivery and Evaluations. Menurut langkah-langkah
pengembangan produk, model ini dapat digunakan untuk berbagai macam bentuk
pengembangan produk seperti model, strategi pembelajaran, metode
pembelajaran, media dan bahan ajar. ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang
dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah satu fungsinya ADIDE yaitu
menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program
pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri.

Dalam mengembangkan pembelajaran perlu diperhatikan model-model


pengembangan guna memastikan kualitasnya, seperti yang diungkapkan oleh
Syaiful Sagala (2005:136), penggunaan model pengembangan bahan
pembelajaran yang pengembangan pengajaran secara sistematik dan sesuai
dengan teori akan menjamin kualitas isi bahan pembelajaran. Model-model
tersebut antara lain, model ADDIE, ASSURE, Hannafin dan Peck, Gagne and
Briggs serta Dick and Carry. Dari beberapa model tersebut tentu memiliki
karakteristik masing-masing yang perlu lebih dalam lagi dipahami. Maka dari itu
kita peroleh bahwa pemilihan bahan pembelajaran perlu diperhatikan dalam
kesesuaian dengan standar isi dan lebih-lebih pemilihan bahan pembelajaran yang
sesuai dengan karakteristik siswa. Oleh karena itu, pada makalah ini kami ingin
membahasas mengenai model-model pengembangan dengan model ADDIE.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penulisan makalah ini


dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah konsep desain pembelajaran dan model desain ADDIE?


2. Bagaimana langkah-langkah pengembangan pembelajaran ADDIE?
3. Apa saja kelebihan dan kekurangan model desain ADDIE
1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:

1. Memahami konsep desain pembelajaran dan model desain ADDIE


2. Mengetahui langkah langkah penerapan model ADDIE
3. Mengetahui kelebihan dan kekurangan model desain ADDIE
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Desain Pembelajaran

Definisi desain sistem pembelajaran merupakan desain pembentukan


keseluruhan, struktur kerangka atau outline dan urutan atau sistematika
kegiatan. Sehingga desain yang dibuat agar menjadi sebuah kegiatan yang
efektif, effisien, dan menarik. Apabila pembelajaran itu menarik maka peserta
didik tidak merasa bosan atau monoton, jadi kita dapat membuat
pembelajaran itu menyenangkan buat pesarta didik. Baik dari cara mengajar,
menyampaikan, dan lain-lain. Prekripsi tentang desain pembelajaran juga
untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu, dengan kondisi yang
karakteristiknya mata ajar tertentu dan karakteristik pembelajaran tertentu.

Selain itu, strategi pembelajaran yang digunakan juga melalui metode,


media, dan lingkungan. Serta komponen utama mendesain pembelajaran
dapat melalui beberapa pertanyaan, misalnya:

1. Apa tujuan (objektives) yang diinginkan?


2. Siapa audiens (learners) yang menjadi sasaran?
3. Materi (subject content) apa yang akan diajar atau dilatihkan?
4. Metode dan media apa yang paling tepat untuk mencapai tujuan?
5. Bagaiman cara utuk mencapai tujuan tersebut diukur atau evaluasi?

Pembelajaran merupakan rangkaian peristiwa atau kegiatan yang


disampaikan secara struktur dan terencana dengan menggunakan sebuah atau
beberapa jenis media. Proses belajar mengajar yang dilakukan harus
mempunyai tujuan agar peserta didik dapat mecapai kompetensi seperti yang
diharapkan. Perancangan aktivitas pembelajaran disebut desain sistem
pembelajaran.

2.2 Model Desain ADDIE

Desain pembelajaran yang sifatnya lebih generik adalah model ADDIE


(Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun
1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah satu fungsinya
ADIDE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur
program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu
sendiri.

Pembelajaran model addie merupakan pembelajaran yang efektif dan


efesien serta prosesnya bersifat interaktif, dimana hasil evaluasi setiapa fase dapat
membawa pengembangan pembelajaran ke fase sebelumnya. Hasil akhir dari
suatu fase merupakan produk awal bagi fase berikutnya.

Model addie adalah jembatan antara peserta didik, materi, dan semua
bentuk media, berbasis teknologi dan bukan teknologi. Model ini mengasumsikan
bahwa cara pembelajaran tidak hanya menggunakan pertemuaan kuliah, buku
teks, tetapi juga memungkinkan untuk menggabungkan belajar di luar kelas dan
teknologi ke dalam materi pelajaran. Artinya, model ini memastikan
pengembangan instruksional dimaksudkan untukmembantu pendidik dalam
pengembangan instruksi yang sistematis dan efektif. Hal ini digunakan untuk
membantu para pendidik mengatur proses pembelajaran dan melakukan penilaian
hasil belajar peserta didik. Model addie didasarkan pada lima proses belajar
bahwa:

1. Analysis (analisa)
2. Design (disain / perancangan)
3. Development (pengembangan)
4. Implementation (implementasi/eksekusi)
5. Evaluation (evaluasi/ umpan balik)

Melalui lima tahapan ini dapat membantu kita mengajar juga peserta didik
dapat mengerti cara pembelajaran yang disebut model addie ataukah yang lain,
yang dapat di ilustrasikan sebagai berikut :
Gambar 1. Tahapan ADDIE
2.3 Tahap Pengembangan Model ADDIE
Langkah 1: Analisis (analysis)
Tahap analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan
dipelajari oleh peserta belajar, yaitu melakukan needs assessment (analisis
kebutuhan), mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas
(task analysis). Oleh karena itu, output yang akan kita hasilkan adalah berupa
karakteristik atau profile calon peserta belajar, identifikasi kesenjangan,
identifikasi kebutuhan dan analisis tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan.
Langkah analisis melalui dua tahap yaitu :
a. Analisis Kinerja
Analisis Kinerja dilakukan untuk mengetahui dan mengklarifikasi apakah masalah
kinerja yang dihadapi memerlukan solusi berupa penyelenggaraan program
pembelajaran atau perbaikan manajemen.
Analisis yang dilakukan:
1) Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan menyebabkan rendah nya minat
dan daya serap peserta didik dalam suatu pembelajaran, hal ini diperlukan
solusi berupa penyelenggaraan program pembelajaran.
2) Rendahnya motivasi berprestasi, kejenuhan, atau kebosanan dalam belajar
memerlukan solusi perbaikan kualitas pembelajaran dan metode yang
digunakan.Misalnya memberikan variasi pada metode pembelajaran yang
digunakan, memberikan fasilitas kepada peserta didik untuk lebih kreatif
dalam kegiatan belajar mengajar, memberikan motivasi kepada peserta
didik, memberikan fasilitas belajar yang memadai, dll.
b. Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan merupakan langkah yang diperlukan untuk
menentukan kemampuan-kemampuan atau kompetensi yang perlu dipelajari oleh
siswa untuk meningkatkan kinerja atau prestasi belajar. Hal ini dapat dilakukan
apabila program pembelajaran dianggap sebagai solusi dari masalah pembelajaran
yang sedang dihadapi.
Pada saat seorang perancang program pembelajaran melakukan tahap analisis, ada
dua pertanyaan kunci yang yang harus dicari jawabannya, yaitu :
1) Apakah tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, dibutuhkan oleh
siswa?
2) Apakah tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, dapat dicapai oleh
siswa?
Jika hasil analisis data yang telah dikumpulkan mengarah kepada
pembelajaran sebagai solusi untuk mengatasi masalah pembelajaran yang sedang
dihadapi, selanjutnya perancang program pembelajaran melakukan analisis
kebutuhan dengan cara menjawab beberapa pertanyaan lagi. Pertanyaannya
sebagai berikut :
1. Bagaimana karakteristik siswa yang akan mengikuti program
pembelajaran?(learner analysis )
2. Pengetahuan dan ketrampilan seperti apa yang telah dimiliki oleh siswa?
(pre-requisite skills)
3. Kemampuan atau kompetensi apa yang perlu dimiliki oleh siswa? (task
atau goal analysis).
4. Apa indikator atau kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan
bahwa siswa telah mencapai kompetensi yang telah ditentukan setelah
melakukan pembelajaran? (evaluation and assessment)
5. Kondisi seperti apa yang diperlukan oleh siswa agar dapat memperlihatkan
kompetensi yang telah dipelajari? (setting or condition analysis)
Langkah 2: Desain (Design)
Tahap ini dikenal juga dengan istilah membuat rancangan (blue-print).
Ibarat bangunan, maka sebelum dibangun gambar rancang bangun (blue-print)
diatas kertas harus ada terlebih dahulu. Apa yang kita lakukan dalam tahap desain
ini? Pertama merumuskan tujuan pembelajaran yang SMAR (spesifik,
measurable, applicable, dan realistic).Selanjutnya menyusun tes , dimana tes
tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yag telah dirumuskan tadi.
Kemudian tentukanlah strategi pembelajaran yang tepat harusnya seperti
apa untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini ada banyak pilihan kombinasi
metode dan media yang dapat kita pilih dan tentukan yang paling relevan.
Disamping itu, pertimbangkan pula sumber-sumber pendukung lain, semisal
sumber belajar yang relevan, lingkungan belajar yang seperti apa seharusnya, dan
lain-lain. Semua itu tertuang dalam sautu dokumen bernama blue-print yang jelas
dan rinci. Langkah ini merupakan:
a) Inti dari langkah analisis karena mempelajari masalah kemudian
menemukan alternatif solusinya yang berhasil diidentifikasi melalui
langkah analisis kebutuhan.
b) Langkah penting yang perlu dilakukan untuk, menentukan pengalaman
belajar yang perlu dimilki oleh siswa selama mengikuti aktivitas
pembelajaran.
c) Langkah yang harus mampu menjawab pertanyaan, apakah program
pembelajaran dapat mengatasi masalah kesenjangan kemampuan siswa?
Kesenjangan kemampuan disini adalah perbedaan kemampuan yang dimilki siswa
dengan kemampuan yang seharusnya dimiliki siswa.
Beberapa pernyataan kesenjangan kemampuan:
1. Siswa tidak mampu mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan
setelah mengikuti proses pembelajaran.
2. Siswa hanya mampu mencapai tingkat kompetensi 60% dari standar
kompetensi yang telah digariskan.
Pada saat melakukan langkah ini perlu dibuat pertanyaan-pertanyaan kunci
diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Kemampuan dan kompetensi khusus apa yang harus dimilki oleh siswa
setelah menyelesaikan program pembelajaran?
2) Indikator apa yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan
siswa dalam mengikuti program pembelajaran.
3) Peralatan atau kondisi bagaimana yang diperlukan oleh siswa agar
dapat melakukan unjuk kompetensi – pengetahuan, ketrampilan, dan
sikap - setelah mengikuti program pembelajaran?
4) Bahan ajar dan kegiatan seperti apa yang dapat digunakan dalam
mendukung program pembelajaran?
Langkah 3: Pengembangan (Development)
Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print atau desain tadi
menjadi kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa
multimedia pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Atau
diperlukan modul cetak, maka modul tersebut perlu dikembangkan. Begitu pula
halnya dengan lingkungan belajar lain yang akan mendukung proses pembelajaran
semuanya harus disiapkan dalam tahap ini.
Langkah pengembangan meliputi kegiatan membuat, membeli, dan
memodifikasi bahan ajar. Dengan kata lain mencakup kegiatan memilih,
menentukan metode, media serta strategi pembelajaran yang sesuai untuk
digunakan dalam menyampaikan materi atau substansi program.
Dalam melakukan langkah pengembangan, ada dua tujuan penting yang
perlu dicapai. Antara lain adalah :
a) Memproduksi, membeli, atau merevisi bahan ajar yang akan digunakan
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan
sebelumnya.
b) Memilih media atau kombinasi media terbaik yang akan digunakan
untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pada saat melakukan langkah pengembangan, seorang perancang akan
membuat pertanyaan-pertanyaan kunci yang harus dicari jawabannya, Pertanyaan-
pertanyaannya antara lain :
a) Bahan ajar seperti apa yang harus dikembangkan untuk dapat
digunakan dalam mencapai tujuan pembelajaran?
b) Bahan ajar seperti apa yang harus disiapkan untuk memenuhi
kebutuhan siswa yang unik dan spesifik.
c) Bahan ajar seperti apa yang harus dibeli dan dimodifikasi sehingga
dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan siswa yang unik dan
spesifik?
d) Bagaimana kombinasi media yang diperlukan dalam
menyelenggarakan program pembelajaran?
Langkah 4: Implementasi (Implementation)
Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem
pembelajaran yang sedang kita buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah
dikembangkan diinstal atau diset sedemikian rupa sesuai dengan peran atau
fungsinya agar bisa diimplementasikan. Misal, jika memerlukan software tertentu
maka software tersebut harus sudah diinstal. Jika penataan lingkungan
harustertentu, maka lingkungan atau seting tertentu tersebut juga harus ditata.
Barulah diimplementasikan sesuai skenario atau desain awal. Tujuan utama dari
langkah ini antara lain :
1) Membimbing siswa untuk mencapai tujuan atau kompetensi.
2) Menjamin terjadinya pemecahan masalah / solusi untuk mengatasi
kesenjangan hasil belajar yang dihadapi oleh siswa.
3) Memastikan bahwa pada akhir program pembelajaran, siswa perlu
memilki kompetensi – pengetahuan, ketrampilan, dan sikap - yang
diperlukan.
Pertanyaan-pertanyaan kunci yang harus dicari jawabannya oleh seorang
perancang program pembelajaran pada saat melakukan langkah implementasi
yaitu sebagai berikut :
a) Metode pembelajaran seperti apa yang paling efektif utnuk
digunakan dalam penyampaian bahan atau materi pembelajaran?
b) Upaya atau strategi seperti apa yang dapat dilakukan untuk menarik
dan memelihara minat siswa agar tetap mampu memusatkan
perhatian terhadap penyampaian materi atau substansi pembelajaran
yang disampaikan?
Langkah 5: Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi adalah proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang
sedang dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya
tahap evaluasi bisa terjadi pada setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi
pada setiap empat tahap diatas itu dinamakan evaluasi formatif, karena tujuannya
untuk kebutuhan revisi. Misal, pada tahap rancangan, mungkin kita memerlukan
salah satu bentuk evaluasi formatif misalnya review ahli untuk memberikan input
terhadap rancangan yang sedang kita buat. Pada tahap pengembangan, mungkin
perlu uji coba dari produk yang kita kembangkan atau mungkin perlu evaluasi
kelompok kecil dan lain-lain.
Dengan adanya model instruksional berdasarkan ADDIE ini, jelas sangat
membantu pengembangan material dan program pelatihan yang tepat sasaran,
efektif, maupun dinamis. Aplikasi teori SDM maupun perilaku seperti social
learning, pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran jarak jauh (distance
learning), paham konstruktif (constructivism), aliran strength based (positive-
based management), aliran perilaku manusia (behaviourism), maupun paham
kognitif (cognitivism) akan sangat membantu pengembangan material pelatihan
bagi instruktur.
Dan bila diamati secara teliti ADDIE ini mempunyai sifat pendekatan Teknologi
Pendidikan, yaitu:
1. Pendekatan isomorfi, yaitu yang mengunakan berbagai kajian atau bidang
keilmuan kedalam suatu kebulatan tersendiri.
2. Pendekatan sistematik . Yaitu cara yang berurutan dan terarah dalam usaha
memecahkan persoalan, yaitu berawal dari analisis dan diakhiri dengan
evaluasi dan begitu seterusnya.
3. Pendekatan sinergistik, yaitu yang menjamin adanya nilai tambah dari
keseluruhan kegiatan dibanding dengan bila kegiatan itu dijalankan
sendiri- sendiri.
4. Sistemik, yaitu pengkajian secara menyeluruh (satu kesatuan)
Evaluasi adalah sebuah proses yang dilakukan untuk memberikan nilai
terhadap program pembelajaran. Evaluasi terhadap program pembelajaran
bertujuan untuk mengetahui beberapa hal, yaitu :
a) Sikap siswa terhadap kegiatan pembelajaran secara keseluruhan.
b) Peningkatan kompetensi dalam diri siswa, yang merupakan dampak dari
keikutsertaan dalam program pembelajaran.
c) Keuntungan yang dirasakan oleh sekolah akibat adanya peningkatan
kompetensi siswa setelah mengikuti program pembelajaran.
Beberapa pertanyaan penting yang harus dikemukakan perancang program
pembelajaran dalam melakukan langkah-langkah evaluasi, antara lain :
a) Apakah siswa menyukai program pembelajaran yang mereka ikuti
selama ini?
b) Seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh siswa dalam
mengikuti program pembelajaran?
c) Seberapa jauh siswa dapat belajar tentang materi atau substansi
pembelajaran?
d) Seberapa besar siswa mampu mengaplikasikan pengetahuan,
ketrampilan, dan sikap yang telah dipelajari?
e) Seberapa besar kontribusi program pembelajaran yang
dilaksanakan terhadap prestasi belajar siswa?
Implementasi model desain sistem pembelajaran ADDIE yang dilakukan
secara sistematik dan sistemik diharapkan dapat membantu seorang perancang
program, guru, dan instruktur dalam menciptakan program pembelajaran yang
efektif, efisien, dan menarik.

2.4 Kelebihan dan Kekurangan Model Desain ADDIE


Kekurangan dan Kelebihan Model Desain ADDIE ini sebagai berikut.
1. Kelebihan desain ADDIE
Model ini sederhana dan mudah dipelajari serta strukturnya yang sistematis.
Seperti kita ketahui bahwa model ADDIE ini terdiri dari 5 komponen yang saling
berkaitan dan terstruktur secara sistematis yang artinya dari tahapan yang pertama
sampai tahapan yang kelima dalam pengaplikasiannya harus secara sistematik,
tidak bisa diurutkan secara acak atau kita bisa memilih mana yang menurut kita
ingin di dahulukan. Karena kelima tahap/ langkah ini sudah sangat sederhana jika
dibandingkan dengan model desain yang lainnya. Sifatnya yang sederhana dan
terstruktur dengan sistematis maka model desain ini akan mudah dipelajari oleh
para pendidik.

2. Kekurangan model desain ADDIE


Kekurangan model desain ini adalah dalam tahap analisis memerlukan waktu
yang lama. Dalam tahap analisis ini pendesain/ pendidik diharapkan mampu
menganalisis dua komponen dari siswa terlebih dahulu dengan membagi analisis
menjadi dua yaitu analisis kinerja dan alisis kebutuhan. Dua komponen analisis ini
yang nantinya akan mempengaruhi lamanya proses menganalisis siswa sebelum
tahap pembelajaran dilaksanakan. Dua komponen ini merupakan hal yang penting
karena akan mempengaruhi tahap mendesain pembelajaran yang selanjutnya .
BAB III
PENUTUP
1. Desain pembelajaran ADDIE sangat membantu dalam merancang program
belajar mengajar dengan menggunakan berbagai jenis media. Model ini
menggunakan beberapa langkah, yaitu Analysis (analisa), design (disain/
perancangan), development (pengembangan), implementation (implementasi/
eksekusi) dan evaluation (evaluasi/ umpan baik). Semua langkah ini berfokus
untuk menekankan atau pengajaran kepada peserta didik dengan berbagai
gaya Belajar, dan konstruktivis belajar yang dimana peserta didik diwajibkan
untuk melakukan interaksi dengan lingkungan mereka.
2. Implementasi model desain sistem pembelajaran ADDIE yang dilakukan
secara sistematik dan sistemik diharapkan dapat membantu seorang
perancang program, guru, dan instruktur dalam menciptakan program
pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik.
3. Tahapan dalam model ADDIE :Tahap Analisis (Analisys). Tahap ini
merupakan dasar dari semua tahapan lainnya. Dalam fase ini dilakukan
analisis front-end atau penilaian kebutuhan pembelajaran, menjelaskan
kebutuhan pembelajaran dan menentukan tujuan (target pencapaian),
menganalisis karakteristik pebelajar (pengetahuan sebelumya, sifat,
pengalaman dan keterampilan). Output dari tahap ini termasuk tujuan
pembelajaran, daftar tugas-tugas yang harus diajarkan. Output pada tahap ini
juga merupakan input bagi tahap disain (design).Tahap Desain/Perancangan
(Design). Tahap ini terdiri dari kegiatan penyusunan kerangka struktur isi
pembelajaran. Tahap pengembangan/produksi (Development). Tahap ini
terdiri dari kegiatan pembuatan teks, grafik, audio, visual, animasi, dsb.Tahap
implementasi (implementation). Tujuan dari tahap ini adalah penyampaian
pembelajaran bisa berbasis kelas, laboratorium atau computer. Artinya tahap
implementasi terdiri dari kegiatan uji coba penafaatan produk
pengembangan.Tahap evaluasi (Evaluation). Pada tahap ini efesiensi dan
efektifitas pembelajaran diukur melalui kegiatan penilaian untuk mengukur
validitas produk, bisa berupa evaluasi formatif yang mencakup; observasi,
interview, dan angket.
DAFTAR PUSTAKA
Dadang Supriatna, Konsep Dasar Desain Pembelajaran,Pusat
Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan
Taman Kanak Kanak Dan Pendidikan Luar Biasa 2009.

Dewi Salma Prawiradilaga. 2013. Prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta :


Kencana Prenada Media Group

Hamelik, Oemar, Perencanaan Pengajaran BerdasarkanPendekatan Sistem,


Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2011, cetakan keempat

Hannafin, M.J. & Peck, K.L. 1988. The design, development, and evaluation Of
instructional software. New York: Mc Millan Publishing Company

Hasbullah, (2006) Implementasi E-Learning Dalam Pengembangan


Pembelajaran di Perguruan Tinggi(Proceeding), SNPTE 2006, UNY,
Yogyakarta

Pribadi, Benny A. 2015. Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: PT. Dian
Rakyat.

Suparman, Atwi. 2017. Desain Intruksional. Jakarta: Universitas Terbuka