Anda di halaman 1dari 2

BAB II

Isi Dan Pembahasan

2.1. Keputusan
Keputusan secara umum adalah suatu pengakhiran atau penyelesaian dari proses pemikiran
tentang suatu masalah dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternative.

Adapun beberapa definisi keputusan menurut para ahli diantaranya


1. Ralph C. Davis
Menurut Ralph C. Davis, Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapi dengan
tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan
harus bisa menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan
perencanaan. Keputusan bisa juga berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat
menyimpang dari rencana semula.

2. Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo, SH


Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo, SH, Keputusan adalah suatu pengakhiran dari proses
pemikiran tentang suatu problem atau masalah untuk menjawab pertanyaan apa yang harus
diperbuat guna mengatasi masalah tersebut dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif.

3. Mary Follet
Menurut Mary Follet, Keputusan adalah suatu atau sebagai hukum situasi. Jika semua fakta
dari situasi tersebut bisa didapatkannya dan semua yang terlibat, baik pengawas maupun
pelaksana mau mentaati hukum ataupun ketentuannya, maka tidak sama dengan mentaati
perintah. Wewenang tinggal dilaksanakan namun itu merupakan wewenang hukum situasi.

Selain pengertian keputusan, adapun pengertian Pengambilan Keputusan menurut para ahli,
yaitu:

1. George R.Terry
Menurut George R.Terry, Pengambilan Keputusan adalah pemilihan alternative perilaku
tertentu dari dua atau lebih alternative yang ada.

2. S.P.Siagian
Menurut S.P.Siagian, Pengambilan Keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis
terhadap hakikat alternative yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut
perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.

3. James A.F.Stoner
Menurut James A.F.Stoner, Pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk
memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.

2.2. Perencanaan
Sebelum menentukan keputusan dan untuk menciptakan kualitas kerja yang sesuai
target maka perlu membuat perencanaan yang matang. Dalam suatu organisasi, perencanaan
memiliki posisi penting dari langkah-langkah berikutnya. Kematangan dan kesalahan dalam
perencanaan mampu memberi pengaruh positif dan negatif pada masa yang akan datang,
sehingga suatu perencanaan yang dibuat adalah selalu memikirkan dampak jangka panjang
yang mungkin akan dialami.

Menurut R. Schermerhorn (1996:138), Perencanaan adalah Proses penetapan tujuan


dan penentuan apa yang harus dikerjakan untuk merealisasikannya. Sedangkan definisi
Perencanaan (Planning) menurut Samuel Certo (1997:134) adalah Proses penentuan
bagaimana sistem manajemen (organisasi) akan mencapai atau merealisasikan tujuannya.

Jadi pada dasarnya, yang dimaksud dengan Perencanaan atau Planning ini dalam
Manajemen adalah menentukan tujuan organisasi dan memutuskan cara yang terbaik untuk
mencapainya. Perencanaan ini berkaitan dengan menciptakan prosedur, aturan dan pedoman
untuk pencapaian tujuan organisasi.

Tujuan Perencanaan atau Planning ini adalah untuk membantu Organisasi mencapai
Tujuannya dengan meminimalisasikan resiko ketidakpastian yang akan terjadi pada
organisasi yang bersangkutan. Sedangkan Manfaat dari Perencanaan dalam suatu organisasi
adalah untuk memberikan pedoman yang sistematik dan membantu para manajer untuk
berorientasi ke depan serta penekanan pada tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Perencanaan yang baik dan sistematis akan menaikan tingkat keberhasilan organisasi dalam
mencapai tujuan organisasinya.

Stephen Robbins dan Mary Coulter mengemukakan empat tujuan perencanaan.


Tujuan pertama adalah untuk memberikan pengarahan baik untuk manajer maupun karyawan
nonmanajerial. Melalui perencanaan, karyawan dapat mengetahui apa yang harus mereka
capai, dengan siapa mereka harus bekerja sama, dan apa yang harus dilakukan untuk
mencapai tujuan organisasi. Tanpa rencana, departemen dan individual mungkin akan bekerja
sendiri-sendiri secara serampangan, sehingga kerja organisasi kurang efisien.

Tujuan kedua adalah untuk mengurangi ketidakpastian. Ketika seorang manajer


membuat rencana, ia dipaksa untuk melihat jauh ke depan, meramalkan perubahan,
memperkirakan efek dari perubahan tersebut, dan menyusun rencana untuk menghadapinya.

Tujuan ketiga adalah untuk meminimalisir pemborosan. Dengan kerja yang terarah
dan terencana, karyawan dapat bekerja lebih efisien dan mengurangi pemborosan. Selain itu,
dengan rencana, seorang manajer juga dapat mengidentifikasi dan menghapus hal-hal yang
dapat menimbulkan enefsiensi dalam perusahaan.

Tujuan yang terakhir adalah untuk menetapkan tujuan dan standar yang digunakan dalam fungsi
selanjutnya, yaitu proses pengontrolan dan pengevaluasian. Proses pengevaluasian atau evaluating
adalah proses membandingkan rencana dengan kenyataan yang ada. Tanpa adanya rencana,
manajer tidak akan dapat menilai kinerja perusahaan