Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

KONSEP DASAR AKAD, PEMBENTUKAN


AKAD, MACAM-MACAM DAN SIFAD AKAD,
IMPLIKASI DAN DAMPAK SOSIAL
EKONOMI.
Ditujukan untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Teori FIKIH
MUAMALAH (FIKIH HUKUM BISNIS)

Dosen : IBU DALLAH, SE.ME

Disusun Oleh : Kelompok 1

1. ADI SAPUTRA
2. FEBRI FERNANDEZ
3. MARMI

FAKULTAS EKONOMI

INSTITUT SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)

NATUNA
TAHUN 2019 M / 1440 H

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, rasa syukur kami panjatkan kehadiran ALLAH SWT yang senantiasa
mencurahkan bimbingan, ilmu, rahmat dan hidayahnya kepada hambanya yang tidak
pernah putus, senantiasa memberkahi segala aktifitas dalam keseharian kita, tanpa
semua itu segalanya tidak pernah terlaksana. Makalah ini dibuat untuk tugas mata
kuliah Teori fikih muamalah (fikih hukum bisnis), dan dengan diadakannya
makalah ini gunakan sebagai pengasah otak dan penambah pengalaman. Kami
menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, tidak luput dari
kesalahan dan kekeliruan didalamnya untuk itu kami mohon saran dan segala bentuk
kritikan lainya yang mengarah kepada kelengkapan. Terakhir kalinya kami ucapkan
terima kasih sebanyak-banyaknya kepada pihak yang memberi sumbangan fikirannya
untuk kesempurnaan makalah ini semoga bermanfaat bagi kita semua amin.

Penyusun

Kelompok 1
DAFTAR ISI

Halaman Judul ....................................................................................................


Kata Pengantar .................................................................................................ii
Daftar Isi ...........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ......................................................................................1
B. Identifikasi Masalah .............................................................................2
C. Rumusan Masalah ................................................................................2
D. Tujuan ...................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Tasawuf Secara Lughawi ....................................................3
B. Fungsi Tasawuf dalam Kehidupan Manusia .........................................4
C. Sejarah Perkembangan Tasawuf ..........................................................5

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .........................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................18
.............................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah


Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri dan memerlukan bantuan
dari orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan manusia sangat
beragam, sehingga terkadang secara pribadi ia tidak mampu untuk memenuhinya, dan
harus berhubungan dengan orang lain. Hubungan antara satu manusia dengan manusia
lain dalam memenuhi kebutuhan, harus terdapat aturan yang menjelaskan hak dan
kewajiban keduanya berdasarkan kesepakatan. Proses untuk membuat kesepakatan dalam
kerangka memenuhi kebutuhan keduanya, lazim disebut dengan proses untuk berakad
atau melakukan kontrak. Hubungan ini merupakan sesuatu yang sudah ditakdirkan oleh
Allah karena itu merupakan kebutuhan sosial sejak manusia mulai mengenal arti hak
milik. Islam memberikan aturan yang cukup jelas dalam akad untuk dapat digunakan
dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pembahasan fiqih, akad atau kontrak yang dapat digunakan bertransaksi sangat
beragam, sesuai dengan karakteristik dan spesifikasi kebutuhan yang ada. Oleh karena itu,
makalah ini disusun untuk membahas mengenai berbagai hal yang terkait dengan akad
dalam pelaksanaan muamalah di dalam kehidupan kita sehari-hari.

B.     Rumusan Masalah


1.    Apa pengertian akad?
2.    Bagaimana pembentukan akad?
3.    Apa saja macam-macam dan sifat akad?
4.    Apa saja implikasi dan dampak sosial ekonomi?
C. Tujuan Masalah
1.    Untuk dapat mengetahui pengertian dari akad.
2. Untuk dapat mengetahui pembentukan akad.
3.    Untuk dapat mengetahui macam-macam akad.
4.     Untuk dapat mengetahui implikasi dan dampak sosial ekonomi.
-
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Akad
Perikatan atau perjanjian, ataupun transaksi-transaksi lainya dalam konteks fiqih
muamalah dapat disebut dengan akad. Kata akad berasal dari bahasa arab al-‘aqd bentuk
jamaknya al-‘uqud yang mempunyai arti perjanjian, persetujuan kedua belah pihak atau lebih
dan perikatan.
Adapun secara terminology ulama fiqh melihat akad dari dua sisi yakni secara umum dan
secara khusus.
1.    Secara umum
Pengertian akad dalam arti luas hampir sama dengan pengertian akad dari segi bahasa
menurut pendapat ulama SAyafi’iyah, Malikiyah, dan Hanabilah, yaitu :
‫ا َج إِلَى إِ َرا َدتَي ِْن فِي‬CCَ‫ق واليَ ِم ْي ِن أَ ْم اِحْ ت‬
ِ َ‫ َرا ِء َوالطَّال‬C‫ف َو ْا ِإل ْب‬ ْ C‫ر َد ٍة َك‬C
ِ ‫ال َو ْق‬C ِ Cَ‫ص َد َر بِا ِ َرا َد ٍة ُم ْنف‬
َ ‫ُكلُّ َما َع َز َم ال َمرْ ُء َعلَى فِ ْعلِ ِه َس َوا ٌء‬

ِ ‫ إِ ْن َشائِ ِه َك ْلبَي ِْع َوااْل ِ ي َْج‬.


‫ار َوالتَّوْ ِكي ِْل َوال َّر ْه ِن‬

Artinya : “segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang berdasarkan keinginannya


sendiri, seperti waqaf, talak, pembebasan, atau sesuatu yang pembentukannya membutuhkan
keinginan dua orang seperti jual beli, perwakilan, dan gadai.”
Selain itu ada juga yang mengatakan bahwa akad adalah “Setiap yang diinginkan
manusia untuk mengerjakanya, baik keinginan tersebut berasal dari kehendaknya sendiri,
misalnya daam hal wakaf, atau kehendak tersebut timbul dari dua orang misalnya dalam hal
jual beli atau ijaroh.”
Sehingga secara umum akad adalah segala yang diinginkan dan dilakukan oleh kehendak
sendiri, atau kehendak dua orang atau lebih yang mengakibatkan berubahnya status hukum
objek akad (maqud alaih).
2.    Pengertian akad secara khusus
Pengertian akad dalam arti khusus yang dikemukakan oleh ulama fiqh adalah
‫ُت أَثَ ُرهُ فِى َم َحلِ ِه‬
ُ ‫ع يَ ْثب‬
ٍ ْ‫َلى َوجْ ٍه َم ْشرُو‬ ٍ ‫إِرْ تَبَاطُ إِ ْي َجا‬.
َ ‫ب بِقَبُوْ ٍل ع‬

Artinya: “Perikatan yang ditetapkan dengan ijab qobul berdasarkan ketentuan syara’
yang berdampak pada objeknya.”
Selain itu juga ada Definisi lain tentang akad yaitu “Suatu perikatan Antara ijab dan
Kabul dengan cara yang dibenarkan syarak dengan menetapkan akibat-akibat hukum pada
objeknya.”
Melihat dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kesepakatan antara kedua belah
pihak ditandai dengan sebuah ijab dan qobul yang melahirkan akibat hukum baru. Dengan
demikian ijab dan qobul adalah sutu bentuk kerelaan untuk melakukan akad tersebut. Ijab
qobul adalah tindakan hukum yang dilakukan kedua belah pihak, yang dapat dikatakan sah
apabila sudah sesuai dengan syara’. Oleh karena itu dalam islam tidak semua ikatan
perjanjian atau kesepakatan dapat dikategorikan sebagai akad, terlebih utama akad yang tidak
berdasarkan kepada keridloan dan syariat islam. Sementara itu dilihat dari tujuanya, akad
bertujuan untuk mencapai kesepakatan untuk melahirkan akibat hukum baru.
Sehingga akad dikatakan sah apabila memenuhi semua syarat dan rukunya. Yang
akibatnya transaksi dan objek transaksi yang dilakukan menjadi halal hukumnya.

1.     Rukun Akad
Rukun-Rukun Akad sebagai berikut:
a. ‘Aqid, adalah orang yang berakad (subjek akad); terkadang masing-masing pihak
terdiri dari salah satu orang, terkadang terdiri dari beberapa orang. Misalnya, penjual
dan pembeli beras di pasar biasanya masing-masing pihak satu orang; ahli waris
sepakat untuk memberikan sesuatu kepada pihak yang lain yang terdiri dari beberapa
orang.
b. Ma’qud ‘alaih, adalah benda-benda yang akan diakadkan (objek akad), seperti benda-
benda yang dijual dalam akad jual beli, dalam akad hibah atau pemberian, gadai, dan
utang.
Ma’qud ‘Alaih harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :
 Obyek transaksi harus ada ketika akad atau kontrak sedang dilakukan.
 Obyek transaksi harus berupa mal mutaqawwim (harta yang diperbolehkan
syara’ untuk ditransaksikan) dan dimiliki penuh oleh pemiliknya.
 Obyek transaksi bisa diserahterimakan saat terjadinya akad, atau dimungkinkan
dikemudian hari.
 Adanya kejelasan tentang obyek transaksi.
 Obyek transaksi harus suci, tidak terkena najis dan bukan barang najis.
c. Maudhu’ al-‘aqd adalah tujuan atau maksud mengadakan akad. Berbeda akad maka
berbedalah tujuan pokok akad. Dalam akad jual beli misalnya, tujuan pokoknya yaitu
memindahkan barang dari penjual kepada pembeli dengan di beri ganti.
d. Shighat al-‘aqd, yaitu ijab kabul. Ijab adalah ungkapan yang pertama kali dilontarkan
oleh salah satu dari pihak yang akan melakukan akad, sedangkan kabul adalah
peryataan pihak kedua untuk menerimanya. Pengertian ijab kabul dalam pengalaman
dewasa ini ialah bertukarnya sesuatu dengan yang lain sehingga penjual dan pembeli
dalam membeli sesuatu terkadang tidak berhadapan atau ungkapan yang menunjukan
kesepakatan dua pihak yang melakukan akad, misalnya yang berlangganan majalah,
pembeli mengirim uang melalui pos wesel dan pembeli menerima majalah tersebut
dari kantor pos.
Dalam ijab kabul terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, ulama fiqh
menuliskannya sebagai berikut:
- Adanya kejelasan maksud antara kedua belah pihak.
- Adanya kesesuaian antara ijab dan Kabul.
- Adanya satu majlis akad dan adanya kesepakatan antara kedua belah pihak, tidak
menunjukan penolakan dan pembatalan dari keduanya.
- Menggambarkan kesungguhan kemauan dari pihak-pihak yang bersangkutan,
tidak terpaksa, dan tidak karena di ancam atau ditakut-takuti oleh orang lain
karena dalam tijarah (jual beli) harus saling merelakan.
Ijab kabul akan dinyatakan batal apabila :
- Penjual menarik kembali ucapannya sebelum terdapat kabul dari si pembeli.
- Adanya penolakan ijab dari si pembeli.
- Berakhirnya majlis akad. Jika kedua pihak belum ada kesepakatan, namun
keduanya telah pisah dari majlis akad. Ijab dan kabul dianggap batal.
- Kedua pihak atau salah satu, hilang kesepakatannya sebelum terjadi kesepakatan.
- Rusaknya objek transaksi sebelum terjadinya kabul atau kesepakatan.
Mengucapkan dengan lidah merupakan salah satu cara yang ditempuh dalam
mengadakan akad, tetapi ada juga cara lain yang dapat menggambarkan kehendak untuk
berakad. Para ulama fiqh menerangkan beberapa cara yang ditempuh dalam akad yaitu
- Dengan cara tulisan (kitabah), misalnya dua ‘aqid berjauhan tempatnya, maka ijab
kabul boleh dengan kitabah. Atas dasar inilah para ulama membuat kaidah: “Tulisan
itu sama dengan ucapan”.
- Isyarat. Bagi orang-orang tertentu akad tidak dapat dilaksanakan dengan ucapan atau
tulisan, misalnya seseorang yang bisu tidak dapat mengadakan ijab kabul dengan
bahasa, orang yang tidak pandai tulis baca tidak mampu mengadakan ijab kabul
dengan tulisan. Maka orang yang bisu dan tidak pandai tulis baca tidak dapat
melakukan ijab kabul dengan ucapan dan tulisan. Dengan demikian, kabul atau akad
dilakukan dengan isyarat. Maka dibuatkan kaidah sebagai berikut: “Isyarat bagi
orang bisu sama dengan ucapan lidah”.
2.      Syarat Akad
Beberapa syarat tersebut meliputi:
1. Syarat terbentuknya akad, dalam hukum Islam syarat ini dikenal dengan nama Al-
syuruth Al-in’iqad. Syarat ini terkait dengan sesuatu yang harus dipenuhi oleh rukun-
rukun akad,ialah:
 Pihak yang berakad(aqidain) disyaratkan tamyiz.
 Shighat akad (pertanyaan kehendak) adanya kesesuaian ijab dan kabul (munculnya
kesepakatan) dan dilakukan dalam satu majlis akad.
 Objek akad, dapat diserahkan, dapat ditentukan dan dapat ditransaksikan (benda
yang bernilai dan dimiliki)
 Tujuan akad tidak bertentangan dengan syara
2. Syarat keabsahan akad, adalah syarat tambahan yang dapat mengabsahkan akad
setelah syarat in’iqad tersebut dipenuhi. Antar lain:
 Pernyataan kehendak harus dilaksanakan secara bebas. Maka jka pertanyaan
kehendak tersebut dilakukan dengan terpaksa,maka akad dianggap batal
 Penyerahan objek tidak menimbulkan madlarat
 Bebas dari gharar, yaitu tidak adanya tipuan yang dilakukan oleh para pihak yang
berakad
 Bebas dari riba
3. Syarat-syarat berlakunya akibat hukum(al-syuruth an-nafadz) adalah syarat yang
diperlukan bagi akad agar akad tersebut dapat dilaksanakan akibat hukumnya. Syarat-
syarat tersebut adalah :
 Adanya kewenangan sempurna atas objek akad, kewenangan ini terpenuhi jika para
pihak memiliki kewenangan sempurna atas objek akad,atau para pihak merupakan
wakil dari pemilik objek yang mendapatkan kuasa dari pemiliknya atau pada objek
tersebut tidak tersangkut hak orang lain.
 Adanya kewenangan atas tindakan hukum yang dilakukan, persyaratan ini
terpenuhi dengan para pihak yang melakukan akad adalah mereka yang dipandang
mencapai tingkat kecakapan bertindak hukum yang dibutuhkan.
 Syarat mengikat (al-syarth al-luzum) sebuah akad yang sudah memenuhi rukun-
rukunnya dan beberapa macam syarat sebagaimana yang dijelaskan diatas,belum
tentu membuat akad tersebut dapat mengikat pihak-pihak yang telah melakukan
akad.
Ada persayaratan lagi yang menjadikannya mengikat diantaranya:
 Terbebas dari sifat akad  yang sifat aslinya tidak mengikat kedua belah
pihak,seperti akad kafalah (penanggungan). Akad ini menurut sifatnya merupakan
akad tidak mengikat sebelah pihak,yaitu tidak mengikat sebelah pihak,yaitu
tidakmengikat kreditor (pemberi hutang) yang kepadanya penanggungan diberikan.
Kreditor dapat secara sepihak membatalkan akad penanggungan,dan membebaskan
penanggung dari konsekuensinya. Bagi penanggung (al-kafil) akad tersebut
mengikat sehinggan ia tidak dapat membatalkannya tanpa persetujuan kreditor.
 Terbebas dari khiyar,akad yang masih tergantung dengan hak khiyar baru mengikat
ketika hak khiyar berakhir. Selama hak khiyar belum berakhir,akad tersebut
mengikat

B. PEMBENTUKAN AKAD
Unsur akad adalah sesuatu yang merupakan pembentukan adanya akad, antara lain:

a. Shighat akad

Pengertian Sighat akad adalah sesuatu yang disandarkan dari dua pihak yang berakad
yang menunjukkan atas apa yang ada dihati keduanya tentang terjadinya suatu akad.
Hal itu dapat diketahui dengan ucapan perbuatan, isyarat, dan tulisan. Shigat tersebut
biasanya disebut ijab dan qabul.

1. Akad dengan lafazh (ucapan)

Shighat dengan ucapan adalah shighat akad yang paling banyak digunakan orang
sebab paling mudah digunakan dan cepat dipahami. Tentu saja, kedua pihak harus
mengerti ucapan masing – masing serta menunjukkan keridaannya. Shighat akad
dengan ucapan tidak disyaratkan untuk menyebutkan barang yang dijadikan objek –
objek akad, baik dalam jual beli, hibah, sewa – menyewa dan lain – lain. Hal itu
disepakati oleh jumhur ulama, kecuali dalam akad pernikahan. Sebab pernikahan
dianggap sangat suci dan penting. Para ulama sepakat bahwa fi’il madhi (kata kerja
yang menggunakan waktu lewat) boleh digunakan dalam akad karena merupakan kata
kerja yang paling mendekati maksud akad. Mereka juga sepakat membolehkan
pengguanaan fi’il mudhari (kata kerja yang menggunakan waktu sedang atau yang
akan datang). Tentu saja dalam akad harus diikuti niat bahwa akad tersebut dilakukan
ketika itu. Oleh karena itu akad tidak memperbolehkan fi’il mudhari yang akan
datang.

2. Akad dengan perbuatan

Dalam akad terkadang tidak digunakan ucapan tetapi cukup dengan perbuatan yang
menunjukkan saling meridhai, misalnya penjual memberikan barang dan pembeli
memberikan uang. Hal itu sangat umum dilakukan pada zaman ini. Adapun akad
dalam pernikahan, para ulama sepakat hanya dibolehkan menggunakan ucapan.
Begitu pula dalam talak dan ruju’. Apabila tidak mampu berbicara, yang lebih utama
melalui tulisan dibanding isyarat.

3. Akad dengan isyarat

Bagi orang yang mampu berbicara, tidak dibenarkan akad dengan isyarat, melainkan
harus menggunakan lisan atau tulisan. Adapun bagi mereka yang tidak dapat
berbicara, boleh menggunakan isyarat tetapi jika tulisannya bagus dianjurkan
menggunakan tulisan. Hal itu dibolehkan apabila ia sudah cacat sejak lahir. Jika tidak
sejak lahir, ia harus berusaha untuk tidak menggunakan isyarat.

4. Akad dengan tulisan

Dibolehkan akad dengan tulisan, baik bagi orang yang mampu berbicara atau tidak,
dengan syarat tulisan tersebut harus jelas, tampak, dan dapat dipahami oleh keduanya.
Sebab tulisan sebagaimana dalam qaidah fiqhiyah (tulisan bagaikan perintah). Namun
demikian, dalam akad nikah tidak boleh menggunakan tulisan jika kedua orang yang
akad itu hadir. Hal ini karena akad harus dihadiri oleh saksi, yang harus
mendengarkan ucapan orang yang akad, kecuali bagi orang yang tidak bisa berbicara.
b. Al-‘aqid (orang yang akad)

Al – Aqid adalah orag yang melakukan akad. Keberadaannya sangat penting sebab
tidak dapat diakatakan akad jika tidak ada aqaid. Begitu pula tidak akan terjadi ijab
dan qabul tanpa adanya aqaid. Secara umum, aqid disyaratkan harus ahli dan memiliki
kemampuan untuk melakukan akad atau mampu menjadi pengganti orang lain jika ia
menjadi wakil.

c. Mahal Aqd (Al-Ma’qud Alaih)

Mahal Aqd (Al – Ma’qud Alaih) adalah objek akad atau benda – benda yang dijadikan
akad yang bentuknya tampak dan membekas. Barang tersebut dapat berbentuk harta
benda, seperti barang dagangan sedangkan benda bukan harta seperti dalam akad
pernikahan, dan dapat pula dalam bentuk kemanfaatan seperti dalam masalah upah –
mengupah dan lain – lain.Dalam islam tidak semua benda dapat dijadikan objek akad
misalnya minuman keras.
Oleh karena itu ulama menetapkan lima syarat dalam objek akad, anatara lain:
 Ma’qud Alaih (barang) harus ada ketika akad.
 Ma’qud Alaih harus syara’ (sesuai ketentuan islam).
 Dapat diberikan waktu akad.
 Ma’qud Alaih harus diketahui oleh kedua pihak yang akad.
 Ma’qud Alaih harus suci

d. Maudhu ‘Aqd (Tujuan Akad)

Maudhu akad adalah maksud utama yang disyaratkan akad. Dalam syariat islam,
maudhu akad ini harus benar dan sesuai dengan ketentuan syara’. Pada akad jual beli
misalnya, maudhu akad adalah pemindahan kepemilikan barang dari penjual kepada
pembeli sedangkan dalam sewa – menyewa adalah pemindahan dalam mengambil
manfaat disertai pengganti dan lain – lain. Pembahasan ini sangat erat hubungannya
antara zahir akad dan batinnya. Ada ulama yang mengatakan bahwa akad yang shahih
harus bersesuaian anatara zahir dan batin akad. Tetapi sebagian ulama tidak
mempermaslahkan maslah batin dan tujuan akad.
C. Macam-Macam Akad
Adapun yang termasuk macam-macam akad adalah :
a. Aqad munjiz yaitu akad yang dilaksanakan langsung pada saat selesainya akad.
b. Aqad Mu’alaqyaitu akad yang dalam pelaksanaanya terdapat syarat yang telah
ditentukan dalam akad.
c. Aqad mudhafyaitu akad yang dalam pelaksanaannya terdapat syarat-syarat
mengenai penangguhan pelaksanaan akad, pernyataan yang pelaksaannya
ditangguhkan hingga waktu yang ditentukan , perkataan tersebut sah dilakukan
pada waktu akad. Dan sah dan batalnya akad, ditinjau dari segi ini terbagi
menjadi:
- Akad shahihahyaitu suatu akad yang telah memenuhi syarat-syarat yang
ditetapkan, baik syarat yang bersifat umum maupun khusus.
- Akad fasidahyaitu akad-akad cacat karena tidak memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan, baik dalam syarat umum maupun khusus.

Menurut jumhur ulama fikih menyatakan bahwa akad yang batildan akad yang
fasidmengandung esensi yang sama, yaitu tidak sah dan akad tersebut tidak
mengakibatkan hukum apa pun.
Untuk akad yang sah menurut Hanafiyyah dan Malikiyyah terbagi kepada nafidz dan
mauquf yaitu :
a. Akad nafidzadalah akad yang dilakukan oleh orang yang ahliyyahdan
wilayahseperti kebanyakan akad manusia.
b. Akad mauquf adalah akad yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki
ahliyyah untuk proses akad tetapi ia tidak memiliki wilayahuntuk
mengadakannya