Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN BBDM

SKENARIO 3 MODUL 6.2

PENYUSUN :
SALSABILA LUTFIARAHMA (22010117130187)
KELOMPOK 11

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2020
BBDM Modul 6.2
Skenario 3

Seorang anak berusia 2 bulan BB 5 kg datang ke Puskesmas dengan keluhan batuk


dan sesak napas. Batuk sejak 2 minggu yang lalu, mula-mula batuk biasa disertai dengan
pilek, kemudian satu minggu terakhir batuk semakin bertambah berat, batuk disertai dengan
tarikan napas yang berbunyi, saat batuk anak terlihat biru dijari kaki dan tangan. Demam (+)
naik turun sejak 2 minggu yang lalu, 3 hari terakhir demam tinggi terus menerus. Anak tidak
mau makan dan minum. Riwayat tersedak disangkal. Anak mendapatkan susu formula,
karena ibu bekerja sehingga ASI tidak keluar lagi. Ayah pasien perokok, ibu pasien
mempunyai riwayat alergi debu. Riwayat imunisasi yang telah diberikan Hepatitis B 2x, BCG
satu kali. Pada pemeriksaan fisik didapatkan Keadaan umum apatis, tampak sesak dan
sianosis. Tanda Vital laju jantung 130 x/menit, isi dan tegangan cukup, frekuensi napas 58
x/menit, Suhu 39 C, SaO2 84 %. Hidung napas cuping (+), pemeriksaan thoraks terlihat
inspiratory effort disertai dengan retraksi subcostal, auskutasi paru SD Bronkhial diseluruh
lapangan paru, ST rhonki kasar (+). Ekstremitas atas dan bawah sianosis (+). Pemeriksaan
Laboratorium didapatkan Haemoglobin 9,6 gr%, Hematokrit 32 %, Lekosit 24.000/mmk,
Trombosit 556.000/mmk. Diffcount 2/0/0/4/16/70/8. X-Foto thoraks didapatkan kesan bercak
infiltrat dipara hiler.

A. Terminologi
1. BCG 
Bacille Calmette-Guérin (BCG) adalah vaksin untuk tuberkulosis  (TB) yaitu
penyakit infeksi yang terutama menyerang paru-paru, yang dibuat dari
Mycobacterium bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga didapatkan
hasil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas.
2. Diffcount 
Diffcount atau hitung jenis leukosit adalah pemeriksaan untuk mengetahui
presentase jumlah dari masing masing jenis leukosit. Yang terdiri dari basofil,
eosinofil, neutrofil batang, neutrifil segmen, limfosit dan monosit. Hitung jenis
leukosit termasuk kedalam tes laboratorium darah lengkap
3. Tarikan napas berbunyi
Suara yg terdengar saat bayi bernafas disebut juga mengi. Saat bayi terkena
penyakit pernapasan, saluran napas lebih mudah terisi dengan lendir.
4. Hepatitis B 
Hepatitis B merupakan infeksi yang menyerang pada hati diakibatkan oleh infkesi
dari virus hepatitis B. Infeksi ini dapat dicegah pada bayi dengan memberikan
vaksinasi sebanyak 4x yaitu pada saat bayi lahir, pada usia 2 bulan, usia 3 bulan
dan usia 4 bulan
5. Sianosis (+)
Sianosis adalah Kondisi kebiruan pada kulit dan selaput lendir (mukosa) karena
kekurangan oksigen dalam darah (hipoksia). Sianosis dapat dibagi menjadi
sianosis sentral dan perifer. Sianosis sentral terlihat di lidah dan bibir karena
penurunan saturasi oksigen pada darah yang mengalir pada pembuluh arteri
utama. Sedangkan, sianosis perifer mengacu pada perubahan warna kebiruan di
tangan atau kaki.Untuk sianosis (+) pada skenario menandakan terdapat
penumpukan deoksihemoglobin pada pembuluh darah kecil di ekstremitas atas
dan bawah.
6. Inspiratory Effort
Inspiratory effort adalah peningkatan usaha napas karena ada gangguan dalam
ventilasi oksigen

B. Rumusan Masalah
1. Mengapa terdapat keluhan tarikan nafas berbunyi pada anak?
2. Apakah ada hubungan anak meminum susu formula, ibu alergi debu, dan ayah
perokok dengan gejala bayi tersebut?
3. Hubungan keadaan pasien dengan riwayat imunisasi?
4. Mengapa gejala bayi memberat sejak 2 minggu yg lalu?
5. Bagaimana intepretasi hasil pemeriksaan fisik dan penunjang pada kasus?
6. Mengapa bayi menjadi biru saat batuk ? 

C. Hipotesis dan Pembahasan

1. Umumnya, napas bayi berbunyi yang terjadi sesekali merupakan hal yang normal.
Bunyi napas pada bayi ini bisa disebabkan karena saluran pernapasan yang masih
sempit dan belum bisa batuk atau mengeluarkan lendir di saluran napas seperti
pada orang dewasa.
2. Ayah merokok : anak jadi perokok pasif sehingga dapat menyebabkan gangguan
pernafasan sampai meningkatkan risiko infeksi pada paru. efek asap rokok dapat
memicu batuk sehingga batuk anak semakin parah. Ibu Asma : Asma dapat
bersifat herediter ke anak, dimana saluran nafas dapat mengalami perubahan
struktur seperti remodelling, peningkatan produksi mucus, penurunan fungsi epitel
sebagai barier, sehingga memudahkan bakteri atau virus untuk menginfeksi
saluran nafas. Bayi tidak diberi asi meningkatkan resiko terkena infeksi.

3. Pada kasus anak usia 2 bulan telah mendapat vaksin hepatitis B 2x, dan BCG 1x,
Selain kedua vaksin itu jika dilihat pada gambar anak usia 2 bulan juga
seharusnya telah mendapat vaksin DPT, yang berfungsi untuk mecegah difteri,
pertusis, dan tetanus. Tujuan imunisasi jg untuk memberi level protektif yg
maksimal untuk anak yg di hasilkan jika diberikan imunisasi 3x. Apabila bayi
tersebut belum mendapatkan vaksin DPT, dapat meningkatkan kemungkinan bayi
tersebut mengalami pertusis atau yang lebih dikenal dengan sebutan batuk rejan
adalah penyakit infeksi bakteri yang menyerang sistem pernapasan dan
menyebabkan batuk parah. Jika anak di bawah satu tahun terkena penyakit ini,
kemungkinan dapat mengalami pneumonia, kerusakan otak, kejang, bahkan
kematian
4. Pada kasus curiga pertussis -> Perjalanan klinis penyakit terdiri dari 3 stadium,
yaitu stadium kataralis berlangsung 1-2 minggu, stadium paroksismal atau
spasmodik berlangsung 2-4 minggu, dan stadium konvalesens selama 1-2 minggu.
Pada stadium awal gejala tampak seperti batuk pilek biasa, kemudian pada
stadium berikutnya semakin memberat.Sesuai perjalanan penyakit yang
memberat, keluhan ini dapat diakibatkan karena pembentukan mucus yang
semakin banyak serta kemampuan pembersihan mucus saluran nafas yang
menurun, sehingga gejala akan tampak semakin berat. Pada kasus kemungkinan
pasien sudah mulai memasuki fase paroksismal dilihat dari gejala. Pada
pemeriksaa laboratorium didapatkan leukositosis 20.000-50.000/Ul dengan
limfositosis absolut yang khas pada akhir stadium kataral dan selama stadium
paroksismal. Kemungkinan gejala memberati bisa disebabkan karena sudah terjai
komplikasi pneumonia yang ditandai dengan napas cepat (frekuensi 58x/mnt
normal 30-55x/mnt)
5. PEMERIKSAAN FISIK
 Keadaan umum apatis : sesak -kurang oksigen-otak kurang oksigen-apatis
 tampak sesak dan sianosis : Kantung udara yang terinfeksi tersebut akan
terisi oleh cairan maupun pus (dahak purulen) hambat saluran-sesak-
kurang o2 ke jaringan-sianosis
 HR 130x/menit, : Masih normal (N: usia 1-2 bln 121-179x/min)
 RR 58 x/menit : Normal (N : 0-6 bln 30-60x/min)
 Suhu 39 C, Meningkat (febris)
 SaO2 84 % Penurunan saturasi (N : Batas bawah 88%)
 Hidung napas cuping (+) tanda kesulitan bernafas, biasa ditemukan pada
pneumonia, ISPA, obstruksi saluran pernafasan
 Inspiratory effort & retraksi subcostal usaha bernafas dengan kontraksi
otot-otot bantuan pernafasan, tanda kesulitan bernafas, adanya
obstruksi/restriksi jalan nafas
 Auskultasi SD paru bronkhial, biasanya terdengar di daerah trachea dan
suprasternal notch bersifat kasar, nada tinggi, inspirasi lebih pendek
 Auskultasi ST ronkhi kasar, Bunyi dengan nada rendah, sangat kasar
terdengar baik inspirasi maupun ekspirasi akibat terkumpulnya secret
dalam trachea atau bronchus sering ditemui pada pasien oedema paru,
bronchitis
 Ekstremitas atas dan bawah sianosis (+) : Sesak-kurang o2 ke jaringan
perifer-sianosis
PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Hb 9,6 gr% : Indikasi anemia (N : usia 1-6 bln -> 10-13)
 Ht 32 % : Normal (N: usia 1-6 bln -> 29-42)
 Lekosit 24.000/mmk : meningkat (N: 1-6 bln -> 6000-17500) -> reaksi
infeksi
 Trombosit 556.000/mmk : Normal (N: 300000-700000)
 Diffcount 2/0/0/4/16/70/8 : Limfositosis ( N: 21-35)
 X-Foto thoraks bercak infiltrat dipara hiler

6. Gejala ini merupakan gejala khas dari pertusis. Pertusis disebabkan Bordetella
pertussis yang menginfeksi saluran napas dan merusak silia sehingga terbentuk
eksudat yang menyebabkan obstruksi saluran nafas. Akibatnya pernapasan
menjadi tidak lancar sehingga menimbulkan gejala yang ada di skenario.

D. Peta Konsep
Anamnesis :
Batuk disertai tarikan nafas yang
Anak 2 bulan BB 5
berbunyi
Kg
Adanya demam
Tidak mau makan minum

Faktor Resiko :
1. Ayah perokok
2. Ibu Alergi debu PF :
3. Minum susu formula Keadaan umum apatis
4. Tidak vaksin DPT Suhu Tinggi (39 derajat)
SaO2 84% (menurun)
Napas cuping (+)
Auskultasi = ronkhi basah

PP :
Hb : Rendah
Leukositosis (Diff.count limfositosis)

Dx : Pertusis

E. Sasaran Belajar
1. Etiologi dan faktor risiko Pertusis
2. Patogenesis dan patofisiologi dari gejala dan tanda Skenario Kasus
3. Anamnesis dan pemeriksaan fisik kasus
4. Diagnosis dan diagnosis banding Pertusis
5. Pemeriksaan penunjang
6. Tatalaksana pertusis
7. Komunikasi, Informasi dan Edukasi pasien

F. Belajar Mandiri
1. Etiologi dan faktor risiko Pertusis
Pertusis (whooping cough) merupakan suatu penyakit infeksi traktus respiratorius
yang secara klasik disebabkan oleh Bordetella pertussis, namun walaupun jarang
dapat pula disebabkan oleh Bordetella parapertussis.
Adapun ciri-ciri organisme ini antara lain :
1. Berbentuk batang (coccobacilus)
2. Tidak dapat bergerak
3. Bersifat gram negative.
4. Tidak berspora, mempunyai kapsul
5. Mati pada suhu 55 º C selama ½ jam, dan tahan pada suhu rendah (0º- 10º C)
6. Dengan pewarnaan Toluidin blue, dapat terlihat granula bipolar metakromatik
7. Tidak sensitive terhadap tetrasiklin, ampicillin, eritomisin, tetapi resisten terhdap
penicillin
8. Menghasilkan 2 macam toksin antara lain :
Toksin tidak tahan panas (Heat Labile Toxin)
Endotoksin (lipopolisakarida)
Penularan terjadi melalui droplet yang mengandung Bordetella pertusis dari
pasien yang batuk dan mencapai traktus respiratorius bagian atas dari orang yang
suseptibel. Faktor yang mempengaruhi penularan adalah sanitasi, higiene lingkungan
dan pribadi yang buruk, karena penyebaran tidak langsung bisa juga terjadi dari
pasien ke lingkungan melalui sekresi respiratorius dan selanjutnya tangan host yang
baru akan mentransfer kuman ini sehingga terjadi inokulasi di traktus respiratorius.

Risiko terkena penyakit ini lebih tinggi pada orang-orang dengan kondisi di bawah
ini:

 Bayi berusia di bawah 12 bulan


 Belum menjalani atau melengkapi vaksinasi pertusis
 Berada di area wabah pertusis
 Sering melakukan kontak dengan penderita pertusis
 Menderita obesitas
 Memiliki riwayat asma

2. Patogenesis dan patofisiologi dari gejala dan tanda Skenario Kasus


Pada Pertusis, masa inkubasi 7-14 hari, penyakit berlangsung 6-8 minggu atau
lebih dan berlangsung dalam 3 stadium yaitu :
1. Stadium kataralis / stadium prodomal / stadium pro paroksimal
a. Lamanya 1-2 minggu
b. Gejala permulaannya yaitu timbulnya gejala infeksi saluran pernafasan bagian
atas, yaitu timbulnya rinore dengan lender yang jernih:
1) Kemerahan konjungtiva, lakrimasi
2) Batuk dan panas ringan
3) Anoreksia kongesti nasalis
c. Selama masa ini penyakit sulit dibedakan dengan common cold
d. Batuk yang timbul mula-mula malam hari, siang hari menjadi semakin hebat,
sekret pun banyak dan menjadi kental dan lengket
2. Stadium paroksimal / stadium spasmodic
a. Lamanya 2-4 minggu
b. Selama stadium ini batuk menjadi hebat ditandai oleh whoop (batuk yang
bunyinya nyaring) sering terdengar pada saat penderita menarik nafas pada
akhir serangan batuk. Batuk dengan sering 5 – 10 kali, selama batuk anak tak
dapat bernafas dan pada akhir serangan batuk anak mulai menarik nafas denagn
cepat dan dalam. Sehingga terdengar bunyi melengking (whoop) dan diakhiri
dengan muntah.
c. Batuk ini dapat berlangsung terus menerus, selama beberapa bulan tanpa adanya
infeksi aktif dan dapat menjadi lebih berat.
d. Selama serangan, wajah merah, sianosis, mata tampak menonjol, lidah terjulur,
lakrimasi, salvasi dan pelebaran vena leher.
e. Batuk mudah dibangkitkan oleh stress emosional misal menangis dan aktifitas
fisik (makan, minum, bersin dll).
3. Stadium konvalesens
a. Terjadi pada minggu ke 4 – 6 setelah gejala awal
b. Gejala yang muncul antara lain : Batuk berkurang
c. Nafsu makan timbul kembali, muntah berkurang
d. Anak merasa lebih baik
e. Pada beberapa penderita batuk terjadi selama berbulan-bulan akibat gangguan
pada saluran pernafasan.
3. Anamnesis dan pemeriksaan fisik kasus
Anamnesis
 Tanyakan keluhan utama (pada umunya batuk) Sudah berapa lama menderita
batuk? Bagaimana manifestasi batuk yang dialami setiap hari? Bila batuk
terjadi berlanjut lebih dari 7 hari: Apakah batuk berkepanjangan disertai atau
tanpa batuk paroksismal? Apakah diikuti dengan whoop pada inspirasi?
Apakah pada akhir episode batuk selalu diikuti dengan muntah?
 Apakah batuk muka merah, sianosis, mata menonjol, lidah menjulur,
lakrimasi, salivasi, distensi vena leher, dan petekie di wajah dan konjungtiva?
 Apakah anak menjadi apatis dan berat badan menurun?
 Apakah batuk mudah dibangkitkan dengan stres emosional dan aktivitas fisik?
 Selama terdapat gejala batuk apakah disertai demam yang tidak terlalu tinggi,
atau demam tinggi? Pada saat demam: apakah diukur dengan termometer?
Bila tidak, apakah disertai dengan gelisah dan sesak? Apakah sudah diberi
obat batuk dan obat penurun demam ? Sebutkan.
 Apakah ada yang menderita sakit serupa di lingkungan keluarga/ tetangga
/sekolah?
Pemeriksaan fisik
 Tentukan keadaan sakit: ringan/sedang/berat
 Lakukan pengukuran tanda vital: kesadaran, tekanan darah, laju nadi, laju
pernafasan, & suhu tubuh
 Apakah dijumpai gejala batuk-batuk, dari ringan & kering sampai menjadi
berat berupa batuk paroksismal?
 Periksa konjungtiva: perdarahan?
 Periksa mata: eyes roll back?
 Periksa wajah: sianosis, ptekie’?
 Periksa toraks: whoop (suara melengking pada inspirasi)? Adakah nafas
cuping hidung, retraksi?
 Adakah ditemukan kesadaran menurun?

4. Diagnosis dan diagnosis banding Pertusis


Diagnosis
Pemeriksaan Fisik : Tanda Patognomonis
 Batuk berat yang berlangsung lama
 Batuk disertai bunyi ‘whoop’
 Muntah
 Sianosis
Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan apus darah tepi, ditemukan leukosistosis dan limfositosis
relative
 Terdeteksinya Bordetella pertusis dari spesimen nasofaring
 Kultur swab nasofaring ditemukan Bordetella pertusis
Diagnosis Banding
Secara umum, diagnosis banding Pertusis sangat luas, namun
dapat dipersempit dengan menimbang durasi penyakit. Batuk
berdurasi di bawah 3 minggu termasuk akut, batuk antara 3 – 8
minggu termasuk subakut, sementara batuk lebih dari 8 minggu
termasuk kronik. Beberapa penyakit memiliki batuk persisten dan
subakut sehingga dapat menyerupai Pertusis. Berikut penyakit yang
gejala klinisnya mirip Pertusis:
 Infeksi pernapasan karena adenoviral – gejala awal mirip
berupa demam, konjungtivitis, terkadang nyeri tenggorokan.
 Pneumonia – pada pasien yang kecil dapat menunjukkan
gejala batuk stakato (inspirasi di antara setiap batuk).
 Infeksi pernapasan virus syncytial (Respiratory syncytial
virus)/RSV– umumnya pada saluran pernapasan bawah, sering
ditemukan rhonki basah dan mengi.

5. Pemeriksaan penunjang
 Periksa darah lengkap, hitung jumlah leukosit, dan hitung limfosit. Sangat
menunjang diagnosis bila terdapat limfositosis absolut, tetapi pada bayi dan
orang yang mempunyai imunitas parsial terhadap PT tidak terdapat limfositosis
 Pemeriksaan isolasi B. Pertussis dari mukus nasofaringeal, harus dengan media
transport (medium Regan-Lowe), dibiak pada agar Bordet-Gengou/Regan-
Lowe atau kaldu modifikasi Stainer-Scholte dan perlu ahli mikrobiologi yang
baik.
 Pemeriksaan serologis B. Pertussis untuk konfirmasi pemeriksaan isolasi B.
Pertussis: Direct Fluorescent Antibody (DFA)
 Pemeriksaan antibodi spesifik terhadap PT dan FHA
 Pemeriksaan Enzyme-linked Immunosorbent Assays (ELISA) untuk antibodi
IgA dan IgG untuk membedakan biakan darah negativ, infeksi ringan dan
infeksi asimtomatik
 Bila diduga ada penyulit pneumonia atau bronkhopneumonia lakukan
pemeriksaan foto toraks AP dan Lateral, analisa gas darah, elektrolit darah dan
gula darah
 Lakukan uji tuberkulin PPD RT 23 2TU bila ada dugaan tuberkulosis laten
yang menjadi aktif
 Bila terdapat penyulit pada susunan syaraf pusat dipertimbangkan pemeriksaan
pungsi lumbal, analisis gas darah, elektrolit darah dan gula darah

6. Tatalaksana pertusis
Kasus ringan pada anak-anak umur ≥ 6 bulan dilakukan secara rawat jalan
dengan perawatan penunjang. Umur < 6 bulan dirawat di rumah sakit, demikian juga
pada anak dengan pneumonia, kejang, dehidrasi, gizi buruk, henti napas lama, atau
kebiruan setelah batuk.
Antibiotik

 Beri eritromisin oral (12.5 mg/kgBB/kali, 4 kali sehari) selama 10 hari atau
jenis makrolid lainnya. Hal ini tidak akan memperpendek lamanya sakit tetapi
akan menurunkan periode infeksius.

Oksigen

 Beri oksigen pada anak bila pernah terjadi sianosis atau berhenti napas atau
batuk paroksismal berat.
 Gunakan nasal prongs, jangan kateter nasofaringeal atau kateter nasal, karena
akan memicu batuk. Selalu upayakan agar lubang hidung bersih dari mukus
agar tidak menghambat aliran oksigen.
 Terapi oksigen dilanjutkan sampai gejala yang disebutkan di atas tidak ada
lagi.
 Perawat memeriksa sedikitnya setiap 3 jam, bahwa nasal prongs berada pada
posisi yang benar dan tidak tertutup oleh mukus dan bahwa semua sambungan
aman.

Tatalaksana jalan napas

 Selama batuk paroksismal, letakkan anak dengan posisi kepala lebih rendah
dalam posisi telungkup, atau miring, untuk mencegah aspirasi muntahan dan
membantu pengeluaran sekret.
o Bila anak mengalami episode sianotik, isap lendir dari hidung dan
tenggorokan dengan lembut dan hati-hati.
o Bila apnu, segera bersihkan jalan napas, beri bantuan pernapasan
manual atau dengan pompa ventilasi dan berikan oksigen.

Perawatan penunjang

 Hindarkan sejauh mungkin segala tindakan yang dapat merangsang terjadinya


batuk, seperti pemakaian alat isap lendir, pemeriksaan tenggorokan dan
penggunaan NGT.
 Jangan memberi penekan batuk, obat sedatif, mukolitik atau antihistamin.
 Obat antitusif dapat diberikan bila batuk amat sangat mengganggu.
 Jika anak demam (≥ 39º C) yang dianggap dapat menyebabkan distres, berikan
parasetamol.
 Beri ASI atau cairan per oral. Jika anak tidak bisa minum, pasang pipa
nasogastrik dan berikan makanan cair porsi kecil tetapi sering untuk
memenuhi kebutuhan harian anak. Jika terdapat distres pernapasan, berikan
cairan rumatan IV untuk menghindari risiko terjadinya aspirasi dan
mengurangi rangsang batuk. Berikan nutrisi yang adekuat dengan pemberian
makanan porsi kecil dan sering. Jika penurunan berat badan terus terjadi, beri
makanan melalui NGT.

Pemantauan
Anak harus dinilai oleh perawat setiap 3 jam dan oleh dokter sekali sehari.
Agar dapat dilakukan observasi deteksi dan terapi dini terhadap serangan apnu,
serangan sianotik, atau episode batuk yang berat, anak harus ditempatkan pada tempat
tidur yang dekat dengan perawat dan dekat dengan oksigen. Juga ajarkan orang tua
untuk mengenali tanda serangan apnu dan segera memanggil perawat bila ini terjadi.

7. Komunikasi, Informasi dan Edukasi pasien


 Jelaskan bahwa penularan hanya mungkin terjadi melalui droplet manusia
(pasien dan karier/pembawa) baik langsung maupun tidak langsung.
 Jelaskan mengenai faktor-faktor yang mempermudah terjadinya penularan:
Sanitasi pribadi yang kurang baik termasuk kebiasaan cuci tangan, dan
memakai masker pada pasien yang batuk
 Pengobatan profilaksis untuk orang yang terpapar dengan penderita
 Terangkan mengenai vaksin untuk pencegahan pertusis:
Jadwal imunisasi dasar untuk DTP adalah pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Namun,
bila bayi berhalangan untuk melakukan imunisasi pada jadwal tersebut, orang
tua di sarankan untuk membawa anak untuk melakukan imunisasi kejar (cacth
up) sesuai jadwal yang diberikan oleh dokter. Anak juga disarankan
melakukan imunisasi lanjutan (booster) agar manfaatnya optimal. Imunisasi
ini dilakukan 4 kali, yaitu pada usia 18 bulan, 5 tahun, 10–12 tahun, dan 18
tahun. Imunisasi booster ini dianjurkan untuk diulangi tiap 10 tahun sekali.

G. Daftar Pustaka
1. Yeh S, et al. Pertussis infection in infants and children: Clinical features and
diagnosis [Artikel dari internet]. [Dikutip Maret 2020]. Dapat diakses melalui
[URL]: https://www.uptodate.com/contents/pertussis-infection-in-infants-and-
children-clinical-features-and-diagnosis
2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis. Badan Penerbit
Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2011. 41–45 p.
3. Tanto C, Liwang F, Hanifan S, Pradipta EA. Kapita Selekta Kedokteran Edisi
IV. Jakarta : Media Aesculapius. 2014.
4. Mayo Clinic. Whooping cough - Symptoms and causes [Internet]. Available
from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/whooping
cough/symptoms-causes/syc-20378973