Anda di halaman 1dari 75

KARYA TULIS ILMIAH

Tingkat Pengetahuan Siswa SMA Yayasan Perguruan Sultan

Iskandar Muda Sunggal Terhadap Efek dan Bahaya Amfetamin

Oleh :
FRANSISCA KOTSASI
090100344

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2012
TINGKAT PENGETAHUAN SISWA SMA YAYASAN SULTAN
ISKANDAR MUDA TERHADAP EFEK DAN BAHAYA AMFETAMIN

KARYA TULIS ILMIAH

”Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran”

Oleh:
FRANSISCA KOTSASI
090100344

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2012
LEMBAR PENGESAHAN
Tingkat Pengetahuan Siswa SMA Yayasan Perguruan Sultan Iskandar
Muda Sunggal Terhadap Efek dan Bahaya Amfetamin
Nama : Fransisca Kotsasi
NIM : 090100344

Pembimbing Penguji I

(dr. Hasanul Arifin, Sp.An, KAP, KIC) (dr. Remenda Siregar, Sp.KK)
NIP : 19510423 197902 1 003 NIP : 140226756

Penguji II

(dr. Murniati Manik, M.Sc, Sp.KK, Sp.GK)


NIP : 19530719 198003 2 001

Medan, 15 Januari 2013

Dekan
Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara

(Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH)


NIP: 19540220 198011 1 001
ABSTRAK

Latar belakang: Amfetamin merupakan salah satu zat yang banyak


disalahgunakan untuk kepentingan rekreasional pribadi. Data dari BNN
menunjukkan bahwa penyalahgunaan Amfetamin terbanyak terdapat pada
kelompok pelajar dan mahasiswa. Pengetahuan mengenai efek dan bahaya
penyalahgunaan Amfetamin bagi pelajar dan mahasiswa penting untuk mencegah
dampak buruk pada generasi muda dan meminimalkan angka kematian yang
disebabkan oleh penyalahgunaan Amfetamin.
Tujuan: Penelitian ini dirancang bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan
siswa SMA terhadap efek dan bahaya Amfetamin.
Metode: Desain penelitian berupa studi cross sectional yang bersifat deskriptif.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Yayasan Perguruan Sultan
Iskandar Muda Sunggal. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 83 siswa.
Responden yang telah menandatangani surat persetujuan setelah penjelasan
diminta mengisi kuesioner untuk melihat tingkat pengetahuan responden terhadap
efek dan bahaya Amfetamin. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan
program komputerisasi.
Hasil : Dari hasil penelitian, didapatkan 2 siswa (2,4%) berpengetahuan kurang,
71 siswa (85,5%) berpengetahuan sedang dan 10 siswa (12%) berpengetahuan
baik terhadap efek dan bahaya penyalahgunaan Amfetamin.

Kata kunci: pengetahuan, Amfetamin, siswa SMA


ABSTRACT

Background: Amphetamine is one of many substance that mostly abused for


personal interests. Data from BNN showed that most Amphetamine abuse was
found in students. Knowledge about effects and dangers of Amphetamine abuse
for students is important to prevent the adverse effects on the youth and minimize
the numbers of death caused by Amphetamine abuse.
Objective: This study was designed to determine the level of knowledge aimed at
high school students on the effects and dangers of Amphetamine abuse.
Methods: This study design is descriptive cross-sectional studies. The population
in this study is students of Sultan Iskandar Muda school. The samples of this study
are 83 students. Respondents who have signed the letter of consent after received
an explanation were asked to fill a questionaire to determine the level of
knowledge on the effects and dangers of Amphetamine abuse. The data obtained
were analyzed by using computerization programme.
Results: There are 10 students (12%) who have good knowledge, 71 students
(85,5%) who have average knowledge and 2 students (2,4%) who have poor
knowledge on effects and dangers of Amphetamine abuse.

Key words: knowledge, Amphetamine, senior high school students


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa atas
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah
ini, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan sarjana kedokteran
Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara.
Dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini, penulis banyak mendapat
bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1. Prof. Dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku Dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan
kepada penulis untuk melakukan penelitian.
2. dr. Hasanul Arifin, Sp.An, KAP, KIC, selaku dosen pembimbing penulis atas
kesabaran, waktu, dan masukan-masukan yang diberikan kepada penulis untuk
melakukan penelitian.
3. Prof. Dr. dr. Delfitri Munir, Sp.THT-KL (K), selaku dosen pembimbing
akademik yang telah membimbing penulis selama menjalani perkuliahan di
Fakultas Kedokteran USU.
4. Seluruh staf pengajar yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada
penulis selama masa pendidikan.
5. Keluarga penulis yang tercinta yaitu Jessica Kotsasi, Veronica Kotsasi dan
Careen Kotsasi selaku saudara peneliti dan Bapak Kwek Beng Chun serta Ibu
Liong Pau Tjan selaku orang tua peneliti, yang telah memberikan dukungan
selama ini dalam bentuk moril maupun materiil.
6. Teman-teman kelompok sesama bimbingan penelitian, Meisyarah dan Sharan,
dan teman-teman penulis lainnya, yang telah memberi bantuan berupa saran,
kritikan, dan motivasi selama penyusunan penelitian.
7. Teman-teman mahasiswa angkatan 2009 Fakultas Kedokteran USU yang telah
memberikan saran, kritik, serta dukungan dalam menyelesaikan penelitian ini.
8. Kakak- kakak senior yang telah memberikan masukan berharga selama
penyusunan karya tulis ini.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna karena
keterbatasan ilmu pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, segala
saran dan kritik sangat diharapkan demi kemajuan kualitas penelitian ini.
Akhir kata, penulis mengharapkan agar penelitian ini dapat memberikan
manfaat kepada semua orang untuk pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya
dalam dunia kedokteran.

Medan, 10 Desember 2012

Fransisca Kotsasi
(NIM: 090100344)
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................. ii
ABSTRAK................................................................................................. iii
ABSTRACT .............................................................................................. iv
KATA PENGANTAR ............................................................................... v
DAFTAR ISI ............................................................................................. vii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................. ix
DAFTAR TABEL ..................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xi
DAFTAR ISTILAH .................................................................................. xii
BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah .................................................................... 3
1.3. Tujuan Penelitian ..................................................................... 3
1.3.1. Tujuan Umum ................................................................ 3
1.3.2. Tujuan Khusus................................................................ 3
1.4. Manfaat Penelitian .................................................................. 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 5
2.1. Pengetahuan .......................................................................... 5
2.1.1. Pengertian Pengetahuan .............................................. 5
2.1.2. Tingkat Pengetahuan .................................................. 5
2.1.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan ........ 6
2.1.4. Proses Memperoleh Pengetahuan ................................ 6
2.1.5. Cara Pengukuran ........................................................ 7
2.2. Amfetamin ............................................................................. 7
2.2.1. Struktur Kimiawi Amfetamin ..................................... 7
2.2.2. Bentuk Sediaan Obat Amfetamin ................................ 8
2.2.3. Cara Penggunaan ........................................................ 8
2.2.4. Farmakologi Amfetamin ............................................. 9
2.2.5. Derivat Amfetamin ..................................................... 9
2.2.6. Penggunaan Klinis Amfetamin dan Derivatnya ........... 11
2.2.7. Efek Amfetamin ......................................................... 12
2.2.7.1. Efek Sistemik ............................................... 13
2.2.7.2. Efek Psikiatris .............................................. 14
2.2.7.3. Efek Neurologis ........................................... 15
2.3. Intoksikasi Amfetamin............................................................ 16
2.4. Ketergantungan dan Penyalahgunaan Amfetamin ................... 17
2.5. Efek Putus Obat Amfetamin ................................................... 20
2.6. Overdosis Amfetamin ............................................................. 20
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL........ 22
3.1. Kerangka Konsep Penelitian..................................................... 22
3.2. Defenisi Operasional ................................................................ 22
BAB 4 METODE PENELITIAN ............................................................. 24
4.1. Rancangan Penelitian ............................................................... 24
4.2. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................... 24
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ................................................ 24
4.3.1. Populasi Penelitian............................................................ 24
4.3.2. Sampel Penelitian.............................................................. 24
4.4. Metode Pengumpulan Data....................................................... 26
4.4.1. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas...................................... 26
4.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data...................................... 27
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................... 28
5.1. Hasil Penelitian ........................................................................ 28
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian.............................................. 28
5.1.2. Deskripsi Karakteristik Responden................................... 28
5.1.3. Frekuensi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan
Karakteristik Responden................................................... 31
5.2. Pembahasan ............................................................................. 34
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 37
6.1. Kesimpulan .............................................................................. 37
6.2. Saran ........................................................................................ 37
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 39

LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Tabel Halaman


Tabel 2.1. Tabel Kriteria Diagnosa Intoksikasi Amfetamin
Menurut DSM IV TR 17
Tabel 2.2. Tabel Kriteria Diagnosa Penyalahgunaan Zat
Menurut DSM IV TR 18
Tabel 2.2. Tabel Kriteria Diagnosa Ketergantungan Zat
Menurut DSM IV TR 18
Tabel 2.2. Tabel Kriteria Diagnosa Putus Obat Amfetamin
Menurut DSM IV TR 20
Tabel 5.1. Tabel Distribusi Frekuensi Umur Responden 29
Tabel 5.2. Tabel Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden 29
Tabel 5.3. Tabel Distribusi Frekuensi Suku Responden 30
Tabel 5.4. Tabel Distribusi Frekuensi Agama Responden 30
Tabel 5.5. Tabel Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan
Responden 31
Tabel 5.6. Tabel Distribusi Frekuensi Pendapat Responden 31
Tabel 5.7. Tabel Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan
Responden 32
Tabel 5.8. Tabel Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan
Berdasarkan Jenis Kelamin Responden 32
Tabel 5.9. Tabel Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan
Berdasarkan Umur Responden 33
Tabel 5.10. Tabel Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Responden 33
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman


Gambar 2.1 Struktur Dasar Molekul Amfetamin 8
Gambar 2.2. Sabu-Sabu 10
Gambar 2.3. Ekstasi 10
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Riwayat Hidup Peneliti


Lampiran 2 Lembar Penjelasan Penelitian
Lampiran 3 Surat Persetujuan Ikut dalam Penelitian
Lampiran 4 Kuesioner Penelitian
Lampiran 5 Ethical Clearance
Lampiran 6 Data Penelitian
DAFTAR ISTILAH

ADHD : Attention Deficit Hyperactivity Disorder


APA : American Psychiatric Association
BNN : Badan Narkotika Nasional
DSM IV : Diagnostic and Statistical Manual IV
DMS IV TR : Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder 4th
ed Text rev.
MDMA : 3,4-methyldioxymethamphetamine
NAPZA : Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
NIDA : National Institute in Drug Abuse
SMA : Sekolah Menegah Atas
ABSTRAK

Latar belakang: Amfetamin merupakan salah satu zat yang banyak


disalahgunakan untuk kepentingan rekreasional pribadi. Data dari BNN
menunjukkan bahwa penyalahgunaan Amfetamin terbanyak terdapat pada
kelompok pelajar dan mahasiswa. Pengetahuan mengenai efek dan bahaya
penyalahgunaan Amfetamin bagi pelajar dan mahasiswa penting untuk mencegah
dampak buruk pada generasi muda dan meminimalkan angka kematian yang
disebabkan oleh penyalahgunaan Amfetamin.
Tujuan: Penelitian ini dirancang bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan
siswa SMA terhadap efek dan bahaya Amfetamin.
Metode: Desain penelitian berupa studi cross sectional yang bersifat deskriptif.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Yayasan Perguruan Sultan
Iskandar Muda Sunggal. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 83 siswa.
Responden yang telah menandatangani surat persetujuan setelah penjelasan
diminta mengisi kuesioner untuk melihat tingkat pengetahuan responden terhadap
efek dan bahaya Amfetamin. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan
program komputerisasi.
Hasil : Dari hasil penelitian, didapatkan 2 siswa (2,4%) berpengetahuan kurang,
71 siswa (85,5%) berpengetahuan sedang dan 10 siswa (12%) berpengetahuan
baik terhadap efek dan bahaya penyalahgunaan Amfetamin.

Kata kunci: pengetahuan, Amfetamin, siswa SMA


ABSTRACT

Background: Amphetamine is one of many substance that mostly abused for


personal interests. Data from BNN showed that most Amphetamine abuse was
found in students. Knowledge about effects and dangers of Amphetamine abuse
for students is important to prevent the adverse effects on the youth and minimize
the numbers of death caused by Amphetamine abuse.
Objective: This study was designed to determine the level of knowledge aimed at
high school students on the effects and dangers of Amphetamine abuse.
Methods: This study design is descriptive cross-sectional studies. The population
in this study is students of Sultan Iskandar Muda school. The samples of this study
are 83 students. Respondents who have signed the letter of consent after received
an explanation were asked to fill a questionaire to determine the level of
knowledge on the effects and dangers of Amphetamine abuse. The data obtained
were analyzed by using computerization programme.
Results: There are 10 students (12%) who have good knowledge, 71 students
(85,5%) who have average knowledge and 2 students (2,4%) who have poor
knowledge on effects and dangers of Amphetamine abuse.

Key words: knowledge, Amphetamine, senior high school students


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kemajuan-kemajuan yang dicapai pada era reformasi cukup memberikan
harapan yang lebih baik, namun di sisi lain masih ada masalah yang
memprihatinkan khususnya menyangkut perilaku sebagian generasi muda yang
terperangkap pada penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat
Adiktif lainnya), baik mengkonsumsi maupun mengedarkannya (Sutiyoso, 2008).
Penyalahgunaan dan pengedar gelap narkoba merupakan masalah global
dan menjadi ancaman serius bagi bangsa dan Negara. Saat ini, di dunia sudah
lebih dari 200 juta orang menggunakan Narkotika dan obat-obatan terlarang.
Masalah penyalahgunaan narkoba yang terjadi di dunia didominasi oleh
Amfetamin seperti ekstasi. Masalah penyalahgunaan NAPZA di Indonesia yang
sebelumnya didominasi oleh opium, sekarang cenderung bergeser pada
Amfetamin seperti ekstasi dan shabu-shabu (Hidayati, 2009).
Amfetamin merupakan golongan obat simpatomimetik yang menstimulasi
sistem saraf pusat dan menekan nafsu makan. Amfetamin sebagai obat yang
memiliki efek stimulansia, memiliki cara kerja dengan meningkatkan kadar
dopamine di dalam otak. Dopamine adalah zat kimia (atau neurotransmiter) yang
berhubungan dengan kesenangan, pergerakkan, dan perhatian. Penggunaan
Amfetamin dilegalkan untuk beberapa indikasi medis seperti Attention Deficit
Hyperactivity Disorder (ADHD), narkolepsi, dan obesitas (Brenner, 2010).
Amfetamin banyak disalahgunakan untuk meningkatkan performa dan
untuk tujuan rekreasional. Pada tahun 2009, 2,8 juta masyarakat Amerika yang
berumur ≥12 tahun menyalahgunakan Amfetamin sekurang -kurangnya sekali
dalam setahun (Substance Abuse and Mental Health Services Administration,
2012).
Dari penelitian yang dilakukan oleh National Institute of Drug Abuse
(NIDA)-funded 2010 Monitoring the Future Study menunjukkan bahwa 2,4 %
siswa tingkat 8, 4,7% siswa tingkat 10, dan 4,5% siswa tingkat 12
menyalahgunakan Amfetamin sekurang-kurangnya sekali dalam setahun
(Monitoring the Future, 2010).
Angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia pada tahun 2005
adalah 1,55%, meningkat menjadi 1,99% pada tahun 2008, mencapai 2,4% pada
tahun 2010, dan diperkirakan akan mencapai 2,8% (5,6 juta) pada tahun 2015
apabila tidak ditangani secara serius (Instruksi Presiden, 2011).
Bentuk sediaan obat Amfetamin adalah tablet. Efek Amfetamin akan lebih
cepat muncul apabila tablet digerus, kemudian dihirup maupun disuntikkan.
Penggunaan Amfetamin akan menimbulkan gangguan kesehatan dan gangguan
mental. Gangguan terhadap kesehatan, seperti kerusakan jantung, paru-paru,
ginjal, otak, hati, susunan saraf, organ reproduksi, risiko penularan HIV/AIDS,
dan lain sebagainya. Gangguan terhadap mental, seperti : perubahan sikap dan
perilaku, gelisah, cemas, takut, curiga, panik, bingung, mudah emosi, agresif,
gangguan daya ingat, gangguan kesadaran, dan malas (Handly, 2012).
Keracunan Amfetamin akan menimbulkan gejala seperti peningkatan atau
penurunan kecepatan detak jantung, mual, muntah, dilatasi pupil, hipertermia,
penurunan berat badan yang signifikan, retardasi psikomotor, stress respiratorik,
kejang dan bahkan koma. Sedangkan gejala yang muncul akibat putus obat adalah
kelelahan, mimpi buruk, peningkatan nafsu makan, dan retardasi psikomotor
(Sadock, 2007).
Badan Narkotika Nasional (BNN) merilis data pada tahun 2008 yang
membuat sebagian besar kalangan, masyarakat maupun instansi, merasa prihatin
dengan masih tingginya tingkat penyalahgunaan narkotika dan psikotropika di
Indonesia. Dari sebanyak 3,2 juta penyalahgunaan zat psikotropika, 60 persennya
adalah remaja dengan tingkat kematian 40 jiwa per hari atau sekitar 15.000 jiwa
melayang setiap tahunnya. Update data dari BNN tentang penyalahgunaan
narkotika pada tahun 2009 menjadi 3,7 juta penyalahguna dengan 1,1 juta
diantaranya adalah pelajar dan mahasiswa dengan rinciannya adalah 12.848
penyalahguna narkoba merupakan pelajar SD, 110.870 merupakan pelajar
SMP/SMA/sederajat, dan sisanya merupakan mahasiswa.
Hal di atas mengisyaratkan kepada kita untuk peduli dan memperhatikan
secara lebih khusus untuk menanggulanginya karena bahaya yang ditimbulkan
dapat mengancam keberadaan generasi muda yang kita harapkan kelak akan
menjadi pewaris dan penerus perjuangan bangsa di masa mendatang. Maka
penulis ingin mengetahui tingkat pengetahuan pelajar SMA terhadap efek
penggunaan dan bahaya penyalahgunaan Amfetamin.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, dapat
dibuat rumusan masalah sebagai berikut : Bagaimana tingkat pengetahuan siswa
SMA Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Sunggal terhadap efek dan
bahaya Amfetamin?

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui tingkat pengetahuan siswa SMA Yayasan Perguruan Sultan
Iskandar Muda Sunggal terhadap efek dan bahaya Amfetamin sehingga dapat
dijadikan parameter untuk dilakukan penyuluhan.

1.3.2. Tujuan Khusus


a) Mengetahui tingkat pengetahuan siswa SMA terhadap bentuk sediaan obat
Amfetamin.
b) Mengetahui tingkat pengetahuan siswa SMA terhadap efek putus obat
Amfetamin.
c) Mengetahui tingkat pengetahuan siswa SMA terhadap efek keracunan
Amfetamin.

1.4. Manfaat Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan dapat member manfaat :
a) Menambah pengetahuan masyarakat, terutama kalangan remaja
terhadap bahaya penyalahgunaan Amfetamin.
b) Meningkatkan kewaspadaan masyarakat, terutama kalangan remaja
agar tidak terjerumus dan tidak mencoba maupun menyalahgunakan
Amfetamin.
c) Memberi informasi kepada pemerintah atau instansi terkait untuk
membuat kebijakan dan upaya penanggulangan.
d) Sebagai bahan atau referensi bagi penelitian selanjutnya.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengetahuan
2.1.1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui
pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa,
dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga
(Notoatmodjo, 2003).

2.1.2. Tingkat Pengetahuan


Analisa taksonomi bloom yang disampaikan oleh Notoatmodjo (2003),
menyebutkan bahwa pengetahuan di dalam domain kognitif mempunyai 6
tingkatan yaitu :
a) Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh badan yang dipelajari
atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, “tahu” ini adalah merupakan
tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang
tahu tentang apa yang dipelajari anatara lain: menyebutkan, menguraikan,
mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.
b) Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara
benar. Orang yang telah paham terhadap objek yang dipelajari harus dapat
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya
terhadap objek yang dipelajari.
c) Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat
diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan
sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
d) Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur
organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis
dapat dilihat dari penggunaan kata kerja: dapat menggambarkan (membuat
bagian), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
e) Sintesis (Synthesis)
Sintesis adalah suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan
bagian-bagian ke dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain,
sintesis merupakan suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang
ada, misalnya: dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dan dapat
menyesuaikan.
f) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi objek. Penilaian itu berdasarkan suatu kriteria
yang ditentukan sendiri atau kriteria yang telah ada.

2.1.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan


Notoatmodjo (2003) menyebutkan bahwa pengetahuan sangat dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu: sosial ekonomi, kultur atau budaya, pendidikan, dan
pengalaman.

2.1.4. Proses Memperoleh Pengetahuan


Menurut Rogers dalam Notoatmodjo (2003), sebelum seseorang
mengadopsi sikap atau perilaku baru, di dalam diri seseorang akan terjadi proses
yang berurutan, yaitu :
1) Awareness, yakni individu mengetahui dan menyadari tentang adanya
stimulus.
2) Interest, yakni orang mulai tertarik dan menaruh perhatian terhadap
stimulus.
3) Evaluation, yakni orang memberikan penilaian dengan menimbang baik
dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.
4) Trial, yakni orang mulai mencoba memakai atau berprilaku.
5) Adaptation, yakni subjek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan
dan sikapnya terhadap stimulus.

2.1.5. Cara Pengukuran


Pengetahuan dapat diukur dengan wawancara atau angket yang
menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian ke dalam
pengetahuan yang diukur dan dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan
domain kognitif (Notoatmodjo, 2003).

2.2. Amfetamin
2.2.1. Struktur Kimiawi Amfetamin
Amfetamin memiliki struktur molekul kimiawi yang sangat sederhana
namun menghasilkan sejumlah efek yang sangat menarik. Ahli kimia dalam
bidang obat-obatan telah berusaha mencari tahu cara kerja dari obat ini, dengan
mengutamakan efek obat dan mengabaikan yang lain dengan cara modifikasi
struktur molekul Amfetamin (Cadwell, 1980).
Struktur dasar molekul Amfetamin (gambar 2.1.) memiliki sejumlah ciri-
ciri penting pada efek farmakologi antara lain pada cincin aromatik yang tidak
dapat diubah, dua rantai karbon, grup α- metal, dan grup amino. Modifikasi dari
salah satu ciri-ciri diatas akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada cara
kerja molekul tersebut. Perubahan pada cincin aromatik mengubah efek obat yang
bekerja pada sistem saraf pusat; grup β- hidroksil menurunkan efek anoretik dan
efek pada sistem saraf pusat; grup α- metil yang kedua menurunkan stumulasi
pada sistem saraf pusat; substitusi alkil pada grup amino meningkatkan efek
anoretik (Costa, 1970).

Gambar 2.1. Struktur dasar molekul Amfetamin (Cadwell, 1980)

2.2.2. Bentuk Sediaan Obat Amfetamin


Oral : tablet (gambar 2.3.)

2.2.3. Cara Penggunaan


Penggunaan Amfetamin dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain :
1. Oral : administrasi Amfetamin secara oral merupakan satu-satunya cara
yang dipakai untuk kepentingan terapeutik, namun metode ini juga banyak
digunakan untuk kepentingan rekreasional (Uitermark, 2006). Efek
Amfetamin dengan administrasi oral muncul dalam jangka waktu sekitar
15-60 menit, mencapai puncak dalam waktu 2-3 jam, dan mulai menurun
setelahnya (Angrist, 1987).
2. Dihirup : administrasi Amfetamin secara intranasal dengan cara
menggerus tablet hingga menjadi bubuk halus kemudian dihirup. Cara ini
tidak digunakan untuk kepentingan terapeutik. Tetapi, inhalasi Amfetamin
menjadi rute kedua terbanyak yang digunakan untuk kepentingan
rekreasional. Inhalasi Amfetamin ke dalam rongga hidung, dimana terjadi
absorpsi yang cepat melalui selaput lendir. Efek Amfetamin muncul dalam
hitungan menit dan memiliki durasi efek yang singkat (Uitermark, 2006).
3. Injeksi : injeksi Amfetamin juga tidak digunakan untuk kepentingan
terapeutik, tetapi untuk kepentingan rekreasional atau dalam keadaan
tertentu seperti percobaan pada hewan coba. Injeksi Amfetamin biasanya
dilakukan secara intravena atau subkutan, dan disirkulasi secara cepat
melalui aliran darah. Injeksi Amfetamin memiliki bioavailability tertinggi
dan menghasilkan efek yang cepat dan hebat. Ketika diinjeksi, efek
Amfetamin akan muncul dengan segera namun memiliki durasi efek yang
singkat (Kramer, 1967).

2.2.4. Farmakologi Amfetamin


Amfetamin merupakan campuran dari isomer d-amfetamin dan l-
amfetamin (Usdin, 1979). D-amfetamin bekerja dengan cara membebaskan
dopamin ke celah sinaptik sedangkan isomer l-amfetamin bekerja dengan cara
membebaskan norepinefrin. Oleh karena itu, Amfetamin dikatakan sebagai obat
simpatomimetik yang bekerja secara tidak langsung dengan menekankan pada
pembebasan neurotransmitter simpatetik daripada bekerja secara aktif pada
reseptor α- maupun β- adrenergik (Katzung, 2009).

2.2.5. Derivat Amfetamin


Berikut ini merupakan derivat dari Amfetamin :
1. Metamfetamin
Amfetamin dan Metamfetamin merupakan dua simpatomimetik amin yang
memiliki hubungan yang erat dan keduanya juga banyak disalahgunakan.
Metamfetamin yang dikenal sebagai shabu-shabu berbentuk kristal bening
seperti butiran gula, tetapi ukurannya sedikit lebih besar sehingga ada
yang menyebutnya crystal meth. Metamfetamin lebih banyak dipilih oleh
para penyalahguna karena norepinefrin yang dibebaskan lebih sedikit
dibandingkan Amfetamin. Selain itu, Metamfetamin lebih mudah dibakar
dan dihirup. Efek yang dihasilkan dengan cara menghirup shabu-shabu
lebih besar dibandingkan efek yang dihasilkan dengan cara mengonsumsi
secara oral. Hal ini mungkin dikarenakan oleh cepatnya peningkatan kadar
dopamin di dalam otak (Kelly, 2001).
Gambar 2.2. Sabu-sabu (Sulistyo, 2012)

2. 3,4- methyldioxymethamphetamine (MDMA)


MDMA merupakan obat sintetik, psikoaktif yang struktur kimiawinya
sama seperti Metamfetamin. MDMA atau yang lebih dikenal dengan nama
ekstasi, menghasilkan efek psikostimulan dan psikomimetik dengan cara
meningkatkan kadar dopamin dan serotonin di dalam otak. MDMA
dikonsumsi secara oral, biasanya dalam bentuk tablet. MDMA bersifat
neurotoksik pada neuron serotonergik, terlihat degenerasi jalur
serotonergik dengan jelas pada hewan percobaan. Penggunaan MDMA
pada manusia akan menghancurkan neuron serotonergik di dalam otak
yang berkontribusi pada beberapa komplikasi psikiatri seperti reaksi panik,
psikosis, depresi dan bunuh diri (Ricaurte, 2001).

Gambar 2.3. Ekstasi (Kabar Banten, 2012)


2.2.6. Penggunaan Klinis Amfetamin dan Derivatnya
Amfetamin dan Metamfetamin dilegalkan untuk beberapa kondisi medis
antara lain :
1. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
ADHD adalah suatu kelainan neurobehaviour yang terjadi sekitar 5%
pada anak-anak. Tiga bentuk dasar ADHD menurut Diagnostic and Statistical
Manual IV (DSM-IV) of the American Psychiatric Association (APA) adalah
mereka yang :
1. Tidak memberikan perhatian
2. Hiperaktif atau impulsive
3. Kombinasi dari (1) dan (2), yang dimana paling banyak
ditemukan.
Pengobatan yang paling umum untuk mengobati ADHD adalah dengan
menggunakan obat stimulan. Meskipun penggunaan obat stimulan untuk
mengobati ADHD terlihat tidak biasa, tetapi sebenarnya obat stimulan juga
memiliki efek penenang pada anak yang menderita ADHD (Brenner, 2010).
Beberapa opsi pengobatan pada ADHD antara lain adalah campuran
Amfetamin, Metamfetamin, Dextroamfetamin, Metilfedinat,
Lisdexamfetamin, atau Atomoxetin (The MTA Coorperative Group, 1999).
2. Narkolepsi
Narkolepsi adalah gangguan pola tidur yang ditandai dengan
kebanyakan tidur pada siang hari (excessive daytime sleepiness) bahkan
setelah tidur malam yang cukup. Penyebab pasti terjadinya narkolepsi belum
sepenuhnya diketahuinya, namun beberapa studi menyatakan bahwa kelainan
genetik memegang peranan penting (National Health Service, 2010).
Katapleksi, kebanyakan tidur pada siang hari, serangan tidur,
halusinasi, paralisis otot sementara dan automatic behavior merupakan gejala
dari narkolepsi. Pada saat ini, masih belum ada pengobatan yang dapat
menyembuhkan narkolepsi, namun ada beberapa cara yang dapat digunakan
untuk mengurangi defek dari narkolepsi yaitu dengan melatih kebiasaan tidur,
mengubah gaya hidup, dan menggunakan obat stimulan yang bekerja dengan
cara merangsang sistem saraf pusat sehingga menjaga penderita narkolepsi
tetap terbangun pada saat melakukan aktivitasnya (National Health Service,
2010). Campuran Amfetamin, Dextroamfetamin, Metilfenidat, Modafinil, dan
Armodanifil adalah obat stimulan yang diindikasikan untuk pengobatan
narkolepsi (Brenner, 2010).
3. Obesitas
Obesitas didefinisikan sebagai peningkatan berat badan melebihi batas
kebutuhan skeletal dan fisik sebagai akibat akumulasi lemak berlebihan dalam
tubuh (Dorland, 2002). Obesitas merupakan masalah kesehatan yang penting
pada negara yang sedang berkembang dan Amfetamin merupakan obat
pertama yang digunakan untuk menurunkan kelebihan berat badan.
Metamfetamin hanya diindikasikan pada penggunaan jangka pendek untuk
mengatasi obesitas akibat faktor eksogen. Fenteramin dan Sibutramin
merupakan derivat dari Amfetamin yang digunakan sebagai penekan nafsu
makan. Obat-obat tersebut juga bekerja dengan cara merangsang pusat
kenyang di hipotalamus melalui mekanisme simpatomimetik. Dibandingkan
dengan Amfetamin, Fenteramin dan Sibutramin menghasilkan lebih sedikit
rangsangan pada sistem saraf pusat dan potensi terjadinya ketergantungan zat
lebih rendah (Brenner, 2010).

2.2.7. Efek Amfetamin


Amfetamin merupakan obat simpatomimetik yang bekerja secara tidak
langsung, yang menyebabkan pelepasan amin endogen seperti dopamin dan
noradrenalin (Katzung, 2009). Pada susunan saraf pusat, Amfetamin menstimulasi
korteks serebri, striatum, sistem limbik, dan batang otak (Klawans, 1981).
Pada manusia, dengan dosis kecil atau sedang akan mempengaruhi
susunan saraf pusat dengan cara (Sadock, 2007) :
- Meningkatkan kewaspadaan
- Meningkatkan aktivitas lokomotor
- Meningkatkan mood
- Menurunkan nafsu makan
- Menimbulkan euforia
- Meningkatkan suhu tubuh (hipertermi)
Pada penggunaan dosis tinggi secara tunggal atau pemakaian yang terus
menerus dengan dosis kecil selama beberapa hari, Amfetamin dapat menginduksi
gangguan psikis toksik yang ditandai dengan (Sadock, 2007):
- Pemikiran delusional
- Halusinasi auditorik

2.2.7.1. Efek Sistemik


Efek sistemik yang ditimbulkan oleh Amfetamin yaitu (Japardi, 2012):
a. Gangguan kardiovaskular
Amfetamin dapat menyebabkan :
- Hipertensi
- Sinus takikardi
- Iskemik miokard
b. Kerusakan ginjal
Amfetamin mengakibatkan Myoglobinuric Tubular Necrosis, sedangkan
Metamfetamin dapat menyebabkan Proliferatif Glomerulonephritis akibat
dari suatu Systemic Necrotizing Vasculitis. Biasanya terjadi bila
Amfetamin digunakan secara intravena. Keadaan ini jarang terjadi dan
timbul bila terjadi overdosis. Metamfetamin merupakan golongan yang
paling sering menyebabkan kerusakan ginjal.
c. Gangguan saluran pencernaan
Amfetamin dapat menyebabkan toksisitas pada kolon akibat iskemik.
d. Fungsi seksual
Amfetamin mempengaruhi fungsi seksual dengan beberapa cara yang
berbeda. Pada dosis rendah, Amfetamin meningkatkan performa seksual
dengan cara menurunkan ansietas atau meningkatkan mood yang bersifat
sementara. Dengan penggunaan Amfetamin yang berkepanjangan, fungsi
ereksi, orgasme, dan fungsi ejakulasi menjadi tergangu. Meskipun tidak
ada bukti konkrit yang menyatakan bahwa dorongan seksual meningkat,
namun pengguna selalu memiliki perasaan bahwa energinya meningkat
dan dapat aktif secara seksual. Pada akhirnya, terjadi disfungsi. Laki-laki
biasanya akan menjalani dua tahap yaitu dimulai dengan ereksi lama tanpa
ejakulasi, kemudia kehilangan fungsi ereksi secara perlahan-lahan.
e. Hipertermia
Mekanisme hipertermia yang ditimbulkan Amfetamin biasanya terjadi
akibat gangguan termoregulasi. Selain itu, Amfetamin dapat menimbulkan
hipertermi sentral karena hiperrefleksi otonom (meningkatkan produksi
˚ -40˚. Biasanya suhu kembali
panas). Peningkatan suhu khas, berkisar 39
normal dalam 48-72 jam setelah pemakaian obat dihentikan, tetapi dapat
menetap beberapa hari sampai minggu bila disertai ruam akibat reaksi
obat. Hipertermi biasanya berhubungan dengan intoksikasi. Hipertermi
merupakan gejala yang paling sering ditemukan dan keadaan ini dapat
reversibel.

2.2.7.2. Efek Psikiatris


a. Gangguan mood
Menurut DSM IV TR, permulaan dari terjadinya gangguan mood yang
diinduksi oleh Amfetamin, dapat muncul pada saat penggunaan maupun
penghentian zat. Pada umumnya, penggunaan zat dihubungkan dengan
gejala seperti agresif, sedangkan penghentian zat dihuungkan dengan
gejala seperti depresi (Sadock, 2007).
b. Gangguan ansietas
Amfetamin dapat menginduksi gejala yang sama seperti pada gangguan
obsesif-kompulsif, gangguan panik, dan gangguan phobia. Menurut DSM
IV TR, gangguan ansietas yang diinduksi oleh Amfetamin juga muncul
pada saat penggunaan dan penghentian zat (Sadock, 2007).
c. Gangguan tidur
Penggunaan Amfetamin dapat menyebabkan terjadinya insomnia dan
gangguan tidur, sedangkan penghentian Amfetamin dapat menyebabkan
terjadinya hipersomnolen dan mimpi buruk (Sadock, 2007).

2.2.7.3. Efek Neurologis


Amfetamin menimbulkan efek neurologis seperti (Japardi, 2012) :
a. Gangguan kesadaran
Gangguan kesadaran dapat terjadi pada penggunaan Amfetamin. Koma
pada Amfetamin biasanya terjadi setelah kejang. Koma yang terjadi pada
pengguna narkotika dapat dihubungkan dengan:
1. Overdosis, murni (jarang), campuran dengan sedative.
2. Hipoksia, edema paru, aspirasi pneumonia, pneumonia
3. Hipoglikemi
4. Postanoksik enselofati
5. Trauma
6. Kejang
7. Sepsis
Gejala fisik yang ditimbulkan antara lain :
1. Pireksia
2. Hipertensi
3. Takikardi
4. Aritmia
5. Dilatasi pupil
6. Tremor
7. Kejang
b. Gangguan pergerakkan
Chorea merupakan gangguan yang sering ditemukan. Hal ini dianggap
sebagai reaksi toksik setelah pemakaian kronis. Pada dosis kecil,
Amfetamin dapat menimbulkan chorea pada tungkai dan orofasial yang
bersifat reversibel. Pada pengguna kronis, dapat menimbulkan chorea
generalisata.
c. Gangguan pertumbuhan
Pada anak-anak, Amfetamin dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan.
Hal ini terjadi pada pemakaian kronis. Anak-anak hanya dapat tumbuh
sampai 60-75% dari normal, tetapi bila obat dihentikan makan tampak
pertumbuhan anak kembali normal.
d. Stroke
Vaskulitis sistemik ditemukan setelah pemakaian kronis intravena dan oral
dari Amfetamin. Pada usia muda, proses vaskulitis terbatas pada sirkulasi
serebri sehingga dapat menimbulkan sindroma stroke akut. Mekanisme
terjadinya vaskulitis ini tidak jelas.
e. Stroke perdarahan
Amfetamin dapat menyebabkan perdarahan intraserebral melalui
mekanisme vaskulopati ataupun hipertensi akut. Perdarahan otak dapat
terjadi setelah pemakaian Amfetamin secara injeksi. Perdarahan
intraserebral ataupu subaraknoid dapat terjadi pada pengguna Amfetamin.
f. Kejang
Pada pengguna Amfetamin, kejang dapat timbul baik pada pemakaian
pertama kali ataupun pada pemakaian kronis, biasanya akibat intoksikasi
akut. Kejang dapat berupa kejang fokal, umum, tonik klonik ataupun
status epilepsi. Seluruh kasus kejang pada pemakai Amfetamin terjadi
pada pemakai secara intravena.

2.3. Intoksikasi Amfetamin


Gejala intoksikasi Amfetamin dan Kokain adalah sama. Kriteria diagnosa
keracunan Amfetamin dan Kokain menurut DSM IV TR juga hampir sama.
Namun, pada kriteria diagnosa intoksikasi Amfetamin menurut DSM IV TR
menspesifikasikan gangguan perseptual sebagai gejala dari intoksikasi Amfetamin
(Sadock, 2007).
Tabel 2.1. Tabel Kriteria Diagnosa Intoksikasi Amfetamin Menurut DSM IV TR
DSM-IV-TR Diagnostic Criteria for Amphetamine Intoxication

A. Recent use of amphetamine or a related substance (e.g., methylphenidate).


B. Clinically significant maladaptive behavioral or psychological changes
(e.g., euphoria or affective blunting; changes in sociability;
hypervigilance; interpersonal sensitivity; anxiety, tension, or anger;
stereotyped behaviors; impaired judgment; or impaired social or
occupational functioning) that developed during, or shortly after, use of
amphetamine or a related substance.
C. Two (or more) of the following, developing during, or shortly after, use of
amphetamine or a related substance:
1. tachycardia or bradycardia
2. apillary dilation
3. elevated or lowered blood pressure
4. perspiration or chills
5. nausea or vomiting
6. evidence of weight loss
7. psychomotor agitation or retardation
8. muscular weakness, respiratory depression, chest pain, or cardiac
arrhythmias
9. confusion, seizures, dyskinesias, dystonias, or coma
D. The symptoms are not due to a general medical condition and are not
better accounted for by another mental disorder.

Specify if:
With perceptual disturbances
(From American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders. 4th ed. Text rev. Washington, DC: American Psychiatric
Association; copyright 2000, with permission.)

2.4. Ketergantungan dan Penyalahgunaan Amfetamin (Amphetamine


Dependence and Amphetamine Abuse)
Ketergantungan Amfetamin dapat menyebabkan penurunan yang drastis
pada kemampuan seseorang dalam bekerja, mengabaikan kewajibannya dalam
keluarga dan meningkatkan stress. Seseorang yang menyalahgunakan Amfetamin
membutuhkan dosis yang semakin tinggi untuk mendapatkan efek lebih dan
tanda-tanda fisik pada penyalahgunaan Amfetamin (seperti penurunan berat badan
dan paranoid) hampir selalu berkembang dengan penyalahgunaan yang
berkelanjutan (Sadock, 2007).
Tabel 2.2. Tabel Kriteria Diagnosa Penyalahgunaan Zat Menurut DSM IV TR
DSM-IV-TR Criteria for Substance Abuse

A. A maladaptive pattern of substance use leading to clinically significant


impairment or distress, as manifested by one (or more) of the following,
occurring within a 12-month period:
1. recurrent substance use resulting in a failure to fulfill major role
obligations at work, school, or home (e.g., repeated absences or
poor work performance related to substance use; substance-related
absences, suspensions, or expulsions from school; neglect of
children or household)
2. recurrent substance use in situations in which it is physically
hazardous (e.g., driving an automobile or operating a machine
when impaired by substance use)
3. recurrent substance-related legal problems (e.g., arrests for
substance-related disorderly conduct)
4. continued substance use despite having persistent or recurrent
social or interpersonal problems caused or exacerbated by the
effects of the substance (e.g., arguments with spouse about
consequences of intoxication, physical fights)
B. The symptoms have never met the criteria for Substance Dependence for
this class of substance.

(From American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of


Mental Disorders. 4th ed. Text rev. Washington, DC: American Psychiatric
Association; copyright 2000, with permission.)

Tabel 2.3. Tabel Kriteria Diagnosa Ketergantungan Zat Menurut DSM IV TR


DSM-IV-TR Diagnostic Criteria for Substance Dependence

A maladaptive pattern of substance use, leading to clinically significant


impairment or distress, as manifested by three (or more) of the following,
occurring at any time in the same 12-month period:

1. tolerance, as defined by either of the following:


a. a need for markedly increased amounts of the substance to achieve
intoxication or desired effect
b. markedly diminished effect with continued use of the same amount
of the substance
2. withdrawal, as manifested by either of the following:
a. the characteristic withdrawal syndrome for the substance (refer to
Criteria A and B of the criteria sets for Withdrawal from the
specific substances)
b. the same (or a closely related) substance is taken to relieve or avoid
withdrawal symptoms
3. the substance is often taken in larger amounts or over a longer period than
was intended
4. there is a persistent desire or unsuccessful efforts to cut down or control
substance use
5. a great deal of time is spent in activities necessary to obtain the substance
(e.g., visiting multiple doctors or driving long distances), use the substance
(e.g., chain-smoking), or recover from its effects
6. important social, occupational, or recreational activities are given up or
reduced because of substance use
7. the substance use is continued despite knowledge of having a persistent or
recurrent physical or psychological problem that is likely to have been
caused or exacerbated by the substance (e.g., current cocaine use despite
recognition of cocaine-induced depression, or continued drinking despite
recognition that an ulcer was made worse by alcohol consumption)

Specify if:
With Physiological Dependence: evidence of tolerance or withdrawal (i.e.,
either Item 1 or 2 is present)
Without Physiological Dependence: no evidence of tolerance or withdrawal
(i.e., neither Item 1 nor 2 is present)
Course specifiers (see Table 12.1-5 for definitions):
Early Full Remission
Early Partial Remission
Sustained Full Remission
Sustained Partial Remission
On Agonist Therapy
In a Controlled Environment
(From American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders. 4th ed. Text rev. Washington, DC: American Psychiatric
Association; copyright 2000, with permission.)

2.5. Efek Putus Obat Amfetamin


Gejala seperti ansietas, tremor, disforik, letargi, kelelahan, mimpi buruk,
kepala pusing, keringat berlebihan, tegang otot, tegang otot perut, dan rasa lapar
yang tidak puas, muncul setelah penghentian obat Amfetamin. Gejala putus obat
Amfetamin pada umumnya mencapai puncak dalam dua sampai empat hari dan
sembuh dalam satu minggu. Gejala putus obat yang paling serius adalah depresi,
yang dapat menjadi berat setelah penggunaan Amfetamin dengan dosis tinggi
yang berkelanjutan dan dapat dihubungkan dengan ide bunuh diri. Kriteria
diagnosa putus obat Amfetamin menurut DSM IV TR (tabel 2.4.) menekankan
bahwa keadaan disforik dan perubahan psikologi penting dalam penegakkan
diagnose (Sadock, 2007).
Tabel 2.4. Tabel Kriteria Diagnosa Putus Obat Amfetamin Menurut DSM IV TR
DSM-IV-TR Diagnostic Criteria for Amphetamine Withdrawal

A. Cessation of (or reduction in) amphetamine (or a related substance) use


that has been heavy and prolonged.
B. Dysphoric mood and two (or more) of the following physiological
changes, developing within a few hours to several days after Criterion A:
1. fatigue
2. vivid, unpleasant dreams
3. insomnia or hypersomnia
4. increased appetite
5. psychomotor retardation or agitation
C. The symptoms in Criterion B cause clinically significant distress or
impairment in social, occupational, or other important areas of
functioning.
D. The symptoms are not due to a general medical condition and are not
better accounted for by another mental disorder.

(From American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of


Mental Disorders. 4th ed. Text rev. Washington, DC: American Psychiatric
Association; copyright 2000, with permission.)

2.6. Overdosis Amfetamin


Overdosis akut Amfetamin akan menimbulkan gejala seperti kejang,
hipertensi, takikardi, hipertermi, psikosis, halusinasi, stroke dan yang paling fatal
adalah kematian (Handley, 2012).
BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Siswa SMA Yayasan


Pengetahuan terhadap
Perguruan Sultan
efek dan bahaya
Iskandar Muda
Amfetamin
Sunggal

3.2. Definisi Operasional


3.2.1. Siswa SMA Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Sunggal
Siswa SMA Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Sunggal adalah
semua siswa yang menempuh kelas X, XI, dan XII SMA jurusan IPA/IPS
di Yayasan Sultan Iskandar Muda Sunggal.

3.2.2. Pengetahuan terhadap efek dan bahaya Amfetamin


Pengetahuan terhadap efek dan bahaya Amfetamin adalah segala sesuatu
yang diketahui oleh siswa SMA Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda
Sunggal mengenai efek dan bahaya Amfetamin.
a. Cara Ukur : metode angket
b. Alat Ukur : kuesioner
Kuesioner ini berisikan 15 pertanyaan yang meliputi efek dan bahaya
Amfetamin dengan kemungkinan jawaban benar dan salah.
Skor 1  untuk jawaban benar
Skor 0  untuk jawaban salah
c. Skala Pengukuran : ordinal
d. Hasil Pengukuran :
Berdasarkan jumlah skor yang diperoleh maka pengetahuan responden
dapat dikategorikan sebagai berikut :
1. Pengetahuan baik, jika responden mengetahui sebagian besar atau
seluruh tentang efek dan bahaya Amfetamin (skor jawaban
responden >17).
2. Pengetahuan sedang, jika responden mengetahui sebagian tentang
efek dan bahaya Amfetamin (skor jawaban responden 10-17).
3. Pengetahuan kurang, jika responden mengetahui sebagian kecil
tentang efek dan bahaya Amfetamin (skor responden <10).
4. Tidak berpengetahuan, jika responden tidak memiliki jawaban
yang benar.
BAB 4
METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian


Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan bentuk studi cross
sectional (potong lintang) dimana penelitian ini akan mendeskripsikan bagaimana
tingkat pengetahuan siswa SMA Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda
Sunggal terhadap efek dan bahaya Amfetamin.

4.2. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian akan dilaksanakan di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda
Sunggal. Adapun pertimbangan pemilihan lokasi tersebut karena sekolah tersebut
merupakan sekolah multikultural yang terdiri dari berbagai macam etnik dan ras,
serta belum pernah dilakukan penelitian ini sebelumnya.
Pengumpulan data penelitian dilakukan pada Juli 2012 sampai dengan
Agustus 2012 setiap hari kerja mulai pukul 08.00 sampai 15.00 WIB ataupun
hingga jumlah sampel yang diperlukan telah terpenuhi.

4.3. Populasi dan Sampel


4.3.1 Populasi
Populasi penelitian ini adalah semua siswa yang masih aktif di kelas X, XI,
dan XII SMA Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Sunggal angkatan
2012/2013.

4.3.2 Sampel
Sampel penelitian adalah subjek yang diambil dari populasi yang
memenuhi kriteria pemilihan sampel. Teknik pemilihan sampel ialah teknik
probability sampling dengan cara stratified random sampling. Pada stratified
random sampling, penarikan sampel dilakukan dengan membagi populasi sasaran
ke dalam strata (golongan) menurut karakteristik tertentu yang dianggap penting
oleh penulis (Wahyuni, 2007). Pertama, peneliti membagi jumlah populasi
berdasarkan tingkat pendidikan yaitu kelas X, XI dan XII. Kemudian, peneliti
memilih sampel berdasarkan nomor absensi secara acak yang dilakukan dengan
program komputerisasi.
Adapun jumlah sampel yang diperlukan dihitung dengan cara estimasi
proporsi pada populasi terbatas berdasarkan rumus di bawah ini (Wahyuni, 2007):
∝ × P × (1 − P)
2
N × Z1−
2
n=
(N − 1) × d2 + Z2 ∝ × P × (1 − P)
1−
2

dimana:
n = jumlah sampel minimum
Z1-α/2 = nilai distribusi normal baku menurut tabel Z pada α tertentu
P = harga proporsi di populasi
d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerir
N = jumlah di populasi

Pada penelitian ini, ditetapkan nilai α sebesar 0,05 (tingkat kepercayaan


95%) sehingga diperoleh nilai Z1-α/2 sebesar 1,96. Nilai P yang digunakan ialah
0,5 dengan kesalahan (absolut) yang dapat ditolerir 0,1. Jumlah populasi dapat
dilihat pada rincian tabel berikut :
Kelas Jurusan Jumlah murid
I - 176 orang
II IPA 110 orang
IPS 101 orang
III IPA 106 orang
IPS 103 orang
Total murid (N) 596 orang

Berdasarkan rumus di atas, besarnya sampel yang diperlukan dalam


penelitian ini adalah:
596 × 1,962 × 0,5 × 0,5
n=
(596 − 1) × 0,12 + 1,962 × 0,5 × 0,5
n = 82,83

Dengan demikian besar sampel minimal yang diperlukan adalah 82,83


orang, dibulatkan menjadi 83 orang, dengan rincian :
Kelas Jurusan Jumlah murid Jumlah sampel
I - 176 orang 19 orang
II IPA 110 orang 16 orang
IPS 101 orang 16 orang
III IPA 106 orang 16 orang
IPS 103 orang 16 orang
Besar sampel (n) 83 orang

4.4. Teknik Pengumpulan Data


Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu
data yang didapat langsung dari masing-masing sampel penelitian, meliputi
tingkat pengetahuan siswa SMA Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda
Sunggal. Pengumpulan dilakukan dengan pengisian kuesioner oleh responden
yang dilakukan secara langsung oleh peneliti terhadap sampel penelitian.

4.4.1. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas


Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur tersebut benar-
benar mengukur apa yang diukur, sedangkan reliabilitas merupakan indeks yang
dipakai untuk menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau
diandalkan.
Uji validitas dilakukan dengan kolerasi pearson, skor yang didapat dari
setiap pertanyaan dikorelasikan dengan skor total untuk tiap variabel. Setelah
semua korelasi untuk setiap pertanyaan dikorelasikan dengan skor total diperoleh,
nilai-nilai tersebut dibandingkan dengan r tabel. Jika nilai koefisien kolerasi
pearson dari suatu pertanyaan tersebut berada pada r tabel, maka pertanyaan
tersebut valid.
Uji reliabilitas dilakukan pada seluruh pertanyaan yang valid dengan
koefisien yang Reabilitas Alpha pada aplikasi SPSS. Jika nilai alpha lebih besar
dari nilai r tabel, maka pertanyaan tersebut reliabel.
Dalam penelitian ini digunakan alat ukur dengan kuesioner yang dibuat
sendiri oleh peneliti, sehingga peneliti harus melakukan uji validitas dan uji
reliabilitas. Pengujian validitas dan reliabilitas akan dilaksanakan setelah ujian
proposal dan setelah proposal penelitian ini diterima.

4.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data


Data yang telah terkumpul dari hasil kuesioner akan ditabulasi untuk
kemudian diolah lebih lanjut dengan menggunakan program komputerisasi.
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian


5.1.1. Deskripsi lokasi penelitian
Sekolah Menengah Atas Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda
Sunggal didirikan pada tanggal 25 Agustus 1987 yang bertempat pada Jalan
Tengku Amir Hamzah Pekan I, Gang Bakul Medan Sunggal 20128. Kepala
sekolah yang sedang menjabat sekarang ialah Edy Jitro Sihombing, MPd. Untuk
kontak dan informasi, sekolah tersebut dapat dihubungi melalui telepon (061)
8457702 / 8457033 dan e-mail ypsim.sch.id

5.1.2. Deskripsi Karakteristik Responden


Responden yang ikut serta dalam penelitian ini berjumlah 83 orang yang
merupakan siswa/I dari Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda. Responden
yang ikut serta dalam penelitian adalah siswa/i yang berusia 14 tahun sebanyak 9
orang (10,8%), siswa/i yang berusia 15 tahun sebanyak 19 orang (22,9%), siswa/i
yang berusia 16 tahun sebanyak 31 orang (37,3%), siswa/i yang berusia 17 tahun
sebanyak 21 orang (25,3%), dan siswa/i yang berusia 18 tahun sebanyak 3 orang
(3,6%). Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5.1. Tabel Distribusi Frekuensi Umur Responden
Kelompok Usia Jumlah (orang) Persentasi (%)
14 tahun 9 10,8
15 tahun 19 22,9
16 tahun 31 37,3
17 tahun 21 25,3
18 tahun 3 3,6
Total 83 100,0

Berdasarkan jenis kelamin responden, kelompok terbesar terdapat pada


jenis kelamin perempuan dengan jumlah 53 orang (63,9%) dan jenis kelamin laki-
laki dengan jumlah 30 orang (36,1%).
Tabel 5.2. Tabel Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden

Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Persentasi (%)


Laki-laki 30 36,1
Perempuan 53 63,9
Total 83 100,0

Berdasarkan suku responden, kelompok terbesar terdapat pada suku Batak,


yaitu 37 orang (44,6%), dan kelompok terkecil pada suku Manado, Minang, dan
Tamil yaitu masing-masing 1 orang (1,2%).
Tabel 5.3. Tabel Distribusi Frekuensi Suku Responden

Suku Jumlah (Orang) Persentasi (%)


Aceh 3 3,6
Batak 37 44,6
Jawa 17 20,5
Manado 1 1,2
Melayu 8 9,6
Minang 1 1,2
Padang 2 2,4
Tamil 1 1,2
Tionghua 13 15,7
Total 83 100,0

Berdasarkan agama responden, kelompok terbesar terdapat pada agama


Islam dengan 47 orang (56,6%), dan kelompok terkecil pada agama Buddha
dengan 11 orang (13,3%).
Tabel 5.4. Tabel Distribusi Frekuensi Agama Responden
Agama Jumlah (Orang) Persentasi (%)
Islam 47 56,6
Buddha 11 13,3
Kristen 25 30,1
Total 83 100,0

Berdasarkan tingkat pendidikan responden, kelompok terbesar terdapat


pada tingkat pendidikan Kelas XII, yaitu sebanyak 32 orang (38,6%), dan
kelompok terkecil terdapat pada kelompok Kelas X, yaitu sebanyak 21 orang
(25,3%).
Tabel 5.5. Tabel Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan
Responden
Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentasi (%)
Kelas X 21 25,3
Kelas XI (IPA/IPS) 30 36,1
Kelas XII (IPA/IPS) 32 38,6
Total 83 100,0

Berdasarkan pendapat responden, pendapat terbanyak responden adalah


untuk tujuan kesenangan yaitu sebanyak 66 orang (79,5%).
Tabel 5.6. Tabel Distribusi Frekuensi Pendapat Responden
Umur Responden Jumlah (orang) Persentasi(%)
Laki-laki Perempuan Total
J J J %
Meningkatkan performa 8 4 12 14,5
Menurunkan berat badan 9 3 12 14,5
Mengatasi serangan tidur 7 10 17 20,5
Tujuan kesenangan 30 36 66 79,5
Diajak teman 30 35 65 78,3
Hanya ingin membuang uang 7 0 7 8,4
Kurang perhatian orangtua 3 4 7 8,4
Menghilangkan beban 15 4 19 22,9
Hanya ingin mencoba 4 0 4 4,8

5.1.3. Frekuensi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Karakteristik


Responden
Berdasarkan tingkat pengetahuan responden, responden yang
berpengetahuan baik berjumal 10 orang (12,0%), responden yang berpengetahuan
sedang sebanyak 71 orang (85,5%), dan responden yang berpengetahuan kurang
sebanyak 2 orang (2,4%).
Tabel 5.7. Tabel Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan
Responden

Tingkat pengetahuan Jumlah (Orang) Persentase (%)


Baik 10 12,0
Kurang 2 2,4
Sedang 71 85,5
Total 83 100,0
Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan siswa tentang Amfetamin
berdasarkan karakteristik jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 5.7.
Tabel 5.8. Tabel Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan
Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Tingkat Pengetahuan Total
Baik Kurang Sedang
J % J % J % J %
Laki-laki 5 50 1 50 24 33,8 30 36,1
Perempuan 5 50 1 50 47 66,2 53 63,9
Total 10 100 2 100 71 100 83 100

Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan siswa tentang Amfetamin


berdasarkan karakteristik umur dapat dilihat pada tabel 5.8.
Tabel 5.9. Tabel Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan
Berdasarkan Umur Responden
Umur Responden Tingkat Pengetahuan Total
Baik Kurang Sedang
J % J % J % J %
14 1 10 1 50 7 9,9 9 10,8
15 2 20 1 50 16 22,5 19 22,9
16 3 30 0 0 28 39,4 31 37,3
17 4 40 0 0 17 23,9 21 25,3
18 0 0 0 0 3 4,2 3 3,6
Total 10 100 2 100 71 100 83 100

Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan siswa tentang Amfetamin


berdasarkan karakteristik tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 5.9.
Tabel 5.10. Tabel Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Responden
Tingkat Tingkat Pengetahuan Total
Pengetahuan Baik Kurang Sedang
Responden J % J % J % J %
Kelas X 2 20 2 100 17 23,9 21 25,3
Kelas XI 3 30 0 0 27 38,0 30 36,1
Kelas XII 5 50 0 0 27 38,0 32 38,6
Total 10 100 2 100 71 100 83 100

5.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan siswa/i yang berpengetahuan baik
sebesar 12%, berpengetahuan sedang sebesar 85,5% , dan yang berpengetahuan
kurang sebesar 2,4%.
Berdasarkan distribusi frekuensi umur responden, 10,9% siswa berumur 14
tahun, 22,9% siswa berumur 15 tahun, 37,3% siswa berumur 16 tahun, 25,3%
siswa berumur 17 tahun dan 3,6% siswa berumur 18 tahun.
Berdasarkan distribusi frekuensi jenis kelamin responden, 36,1% siswa
berjenis kelamin laki-laki dan 63,9% siswa berjenis kelamin perempuan.
Berdasarkan distribusi frekuensi suku responden, 3,6% siswa berasal dari
suku Aceh, 44,6% siswa berasal dari suku Batak, 20,5% siswa berasal dari suku
Jawa, 1,2% siswa berasal dari suku Manado, 9,6% siswa berasal dari suku
Melayu, 1,2% siswa berasal dari suku Minang, 2,4% siswa berasal dari suku
Padang, 1,2% siswa berasal dari suku Tamil dan 15,7% siswa berasal dari suku
Tionghua.
Berdasarkan distribusi frekuensi agama responden, 56,6% siswa beragama
Islam, 13,3% siswa beragama Buddha dan 30,1% siswa beragama Kristen.
Berdasarkan distribusi frekuensi tingkat pendidikan responden, 25,3%
siswa duduk di kelas X, 36,1% siswa duduk di kelas XI dan 38,6% siswa duduk di
kelas XII.
Berdasarkan hasil crosstab antara tingkat pengetahuan dan jenis kelamin
responden, siswa yang berpengetahuan baik dan kurang adalah sama antara
kelompok jenis kelamin laki-laki dan perempuan yaitu masing-masing sebesar
50%, sedangkan siswa yang berpengetahuan sedang terbanyak terdapat pada
kelompok jenis kelamin perempuan yaitu sebesar 66,2%
Berdasarkan hasil crosstab antara tingkat pengetahuan dan umur
responden, siswa yang berpengetahuan baik terbanyak terdapat pada kelompok
umur 17 tahun yaitu sebesar 40%, siswa yang berpengetahuan sedang terbanyak
terdapat pada kelompok umur 16 tahun yatu sebesar 39,4%, dan siswa yang
berpengetahuan kurang terbanyak terdapat pada kelompok umur 14 tahun dan 15
tahun yaitu masing-masing sebesar 50%.
Berdasarkan hasil crosstab antara tingkat pengetahuan dan tingkat
pendidikan responden, siswa yang berpengetahuan baik terbanyak terdapat pada
kelompok kelas XII yaitu sebesar 50%, siswa yang berpengetahuan sedang
terbanyak adalah sama antara kelompok kelas XI dan XII yaitu masing-masing
sebesar 27%, dan siswa yang berpengetahuan kurang terbanyak terdapat pada
kelompok kelas X yaitu sebesar 100%.
Berdasarkan sumber informasi tentang efek dan bahaya Amfetamin yang
diperoleh siswa, 50,6% siswa memperoleh informasi dari sesama teman, 61,4%
siswa memperoleh informasi dari anggota keluarga, 83,1% siswa memperoleh
informasi dari guru, 69,9% siswa memperoleh informasi dari media cetak, 74,7%
siswa memperoleh informasi dari media elektronik dan 4,8% tidak permah
memperoleh informasi.
Berdasarkan penyuluhan yang diperoleh, 80,7% siswa memperoleh
penyuluhan dari pihak sekolah, 27,7% siswa memperoleh penyuluhan dari pihak
kepolisian, 28,9% siswa memperoleh penyuluhan dari pihak sosial, 49,4% siswa
memperoleh penyuluhan dari petugas kesehatan dan 12% siswa tidak pernah
memperoleh penyuluhan.
Berdasarkan pendapat responden, mengapa orang menyalahgunakan
Amfetamin, 14,5% siswa berpendapat bahwa penggunaan Amfetamin untuk
meningkatkan performa, 14,5% siswa berpendapat bahwa penggunaan Amfetamin
untuk menurunkan berat badan, 20,5% siswa berpendapat bahwa penggunaan
Amfetamin untuk mengatasi serangan tidur, 79,5% siswa berpendapat bahwa
penggunaan Amfetamin untuk tujuan kesenangan, 78,3% siswa berpendapat
bahwa penggunaan Amfetamin dilakukan hanya sekedar diajak teman, 8,4%
siswa berpendapat bahwa penggunaan Amfetamin dilakukan hanya ingin
membuang uang, 8,4% siswa berpendapat bahwa penggunaan Amfetamin kurang
mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orangtua, 22,9% siswa berpendapat
bahwa penggunaan Amfetamin untuk menghilangi beban pikiran dan 4,8% siswa
berpendapat bahwa penggunaan Amfetamin dilakukan hanya sekedar ingin
mencoba.
Penelitian sebelumnya yang mirip dengan penelitian ini adalah “Tingkat
Pengetahuan Siswa Siswi Sekolah Menengah Atas Harapan Tahun 2011 Tentang
Bahaya Narkotika dan Efek Sampingnya” (Premaaloshinee, 2012). Dari 30 siswa
yang menjadi responden, hanya 35,2% siswa yang memiliki pengetahuan baik
tentang narkotika.
Survei yang dilakukan oleh Sudarmanik (2010) mengenai “Tingkat
Pengetahuan Tentang Narkoba dan Bahaya Penyalahgunaannya Pada Siswa SMP
Negeri se-Kecamatan Klojen Kota Malang” menunjukkan bahwa dari 257
responden, hanya 1,56% responden yang memiliki pengetahuan baik tentang
narkoba.
Penelitian yang dilakukan Noor (2011) tentang “Tingkat Pengetahuan
Mengenai Bahaya Ekstasi Terhadap Gangguan Fungsi Otak Pada Mahasiswa
Fakultas Teknik Tahun 3 di Universitas Teknologi Malaysia” menunjukkan
bahwa dari 90 responden, hanya 28 (31,1%) responden yang memiliki
pengetahuan baik tentang bahaya ekstasi terhadap gangguan fungsi otak.
Dari hasil penelitian ini dan sebelumnya, maka peneliti menyimpulkan
bahwa tingkat pengetahuan tentang ekstasi dan narkoba masih rendah baik
dikalangan pelajar SMP, SMA maupun mahasiswa. Hal ini mungkin dikarenakan
oleh minimnya atau tidak adanya edukasi atau informasi mengenai ekstasi dan
narkoba. Untuk itu, perlu diberikan edukasi dan informasi mengenai bahaya
penyalahgunaan ekstasi dan narkoba terutama kepada pelajar SMP dan SMA di
sekolah dan mahasiswa.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Dari uraian-uraian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dalam
penelitian ini dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut.
1. Tingkat pengetahuan siswa Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda
Sunggal adalah pengetahuan kurang 2,4%, pengetahuan sedang
85,5%, dan pengetahuan baik 12%.
2. Siswa yang berpengetahuan baik dan kurang adalah sama antara
kelompok jenis kelamin laki-laki dan perempuan yaitu masing-masing
sebesar 50%, sedangkan siswa yang berpengetahuan sedang terbanyak
terdapat pada kelompok jenis kelamin perempuan yaitu sebesar
66,2%.
3. Siswa yang berpengetahuan baik terbanyak terdapat pada kelompok
umur 17 tahun yaitu sebesar 40%, siswa yang berpengetahuan sedang
terbanyak terdapat pada kelompok umur 16 tahun yatu sebesar 39,4%,
dan siswa yang berpengetahuan kurang terbanyak terdapat pada
kelompok umur 14 tahun dan 15 tahun yaitu masing-masing sebesar
50%.
4. Siswa yang berpengetahuan baik terbanyak terdapat pada kelompok
kelas XII yaitu sebesar 50%, siswa yang berpengetahuan sedang
terbanyak adalah sama antara kelompok kelas XI dan XII yaitu
masing-masing sebesar 27%, dan siswa yang berpengetahuan kurang
terbanyak terdapat pada kelompok kelas X yaitu sebesar 100%.

6.2. Saran
Dari seluruh proses penelitian yang telah dijalani oleh penulis dalam
menyelesaikan penelitian ini, maka dapat diungkapkan beberapa saran yang
mungkin dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berperan dalam penelitian ini.
Adapun saran tersebut, yaitu:
1. Hendaknya pengisian kuesioner dilakukan secara wawancara
sehingga hasil penelitian lebih akurat.
2. Bagi instansi terkait agar dapat meningkatkan pengetahuan para
siswa tentang efek dan bahaya Amfetamin sebagai upaya
menurunkan angka kejadian penyalahgunaan Amfetamin.
3. Perlu dilaksanakan penelitian yang lebih dalam tentang Amfetamin
kepada siswa di Indonesia dengan cakupan responden dan lokasi
penelitian yang lebih luas.
Daftar Pustaka

Angrist, B., Corwin, J., Bartlik, B., Cooper, T., 1987. Early pharmacokinetics and
clinical effects of oral D-amphetamine in normal subjects. Biol Psychiatry
22 (11) : 1357-1368
APA, 1994. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 4th ed.
Washington, DC : American Psychiatric Association Press, 78-85
BNN. Hasil Survey Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba
pada Kelompok Pelajar dan Mahasiswa di 33 Propinsi di Indonesia tahun
2006. Available
from http://www.bnn.go.id/portalbaru/portal/konten.php?nama=HasilPenel
itian&op=detail_hasil_penelitian&id=17&mn=2&smn=e [Accessed 20
March 2012]
Brenner, G.M. & Stevens, C.W., 2010. Pharmacology Third Edition. Philadelphia
: Saunders Elsevier Inc., 250
Cadwell, J., 1980. Amphetamines and Related Stimulants : Chemical, Biological,
Clinical, and Sociological Aspects. Florida : CRC Press, Inc., 2-10.
Costa, E., & Garattini, S., 1970. Amphetamines and Related Compounds. New
York : Raven Press, 3
Dorland, W.A.N., 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta : EGC,
1520
Handly, N., et al., 2012. Amphetamine Toxicity. Available
from http://emedicine.medscape.com/article/812518-clinical [Accessed 20
March 2012]
Hidayati, 2009. Penyalahgunaan Narkotika di Indonesia. Available
from http://www.jurnalmedika.com/edisi-tahun-2009/edisi-11-2009/122-
kegiatan/142-penyalahgunaan-narkotika-di-indonesia [Accessed 20 March
2012]
Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 Tentang
Pelaksanaan Kebijakan dan Strategi Nasional Pencegahan dan
Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba Tahun
2011-2015. Available
from https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:BfhHbxe68WwJ:ww
w.bnn.go.id/portal/_uploads/post/2012/01/26/20120126120801-
10108.PDF+instruksi+presiden+republik+indonesia+nomor+12+tahun+20
11+tentang&hl=en&gl=uk&pid=bl&srcid=ADGEEShNk1sNGcr3PwgyXl
uv2dEpLxnxLnPq0YQxNWFaV8hdK99MzGt-
5vUzI7qGDL5FS9ij8ou36_JnDWWrATNG7yVjd8kkdQjyx75Ag9k48oQ
qIcSR9m461hEH6ijlaVgZmUgr-Ytl&sig=AHIEtbRBSgWMblTs-
nZWJj5eb18ImSMlMg [Accessed 20 March 2012]
Japardi, I., 2012. Efek Neurologis dari Ekstasi dan Shabu-Shabu. Available
from http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1980/1/bedah-
iskandar%20japardi8.pdf [Accessed 20 March 2012]
Kabar Banten, 2012. BNN: Modus Jaringan Narkotika sudah Online. Available
from http://kabar-banten.com/news/detail/4936 [Accessed 20 March 2012]
Katzung, B.G., Masters, S.B., Trevor, A.J., 2009. Autonomic Drugs. Basic and
Clinical Pharmacology 11th Edition. Singapore : The McGraw-Hill
Companies, Inc., 141
Katzung, B.G., Masters, S.B., Trevor, A.J., 2009. Drugs That Act in the Central
Nervous System. Basic and Clinical Pharmacology 11th Edition.
Singapore : The McGraw-Hill Companies, Inc., 565
Kelly, W.J., 2001. AHFS Drug Hanbook 2nd ed. Philadelphia : Lippincott, 790-
792
Klawan, H.L., 1981. Textbook of Clinical Neuropharmacology. New York :
Raven Press, 249
Kramer, J.C., et al., 1967. Amphetamine Abuse : Pattern and Effects of High
Doses Taken Intravenously. Available
from http://jama.jamanetwork.com/article.aspx?volume=201&issue=5&pa
ge-305 [Accessed 20 March 2012]
Monitoring the Future, 2010. MDMA (Ecstasy). Available
from http://www.drugabuse.gov/drugs-abuse/mdma-ecstasy [Accessed 20
March 2012]
National Health Service, 2010. Narcolepsy. Available
from http://www.nhs.uk/Conditions/Narcolepsy/Pages/Symptoms.aspx
[Accessed 22 March 2012]
Notoatmodjo, S., 2003. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta,
10-18
Ricaurte, G.A., & McCann, U.D., 2001. Experimental studies on 3,4-
methylenedioxymethamphetamine (MDMA,”ecstasy”) and its potential to
damage brain serotonin neurons. Neurotox Res 3(1):85-99
Sadock, B.J. & Sadock, V.A., 2007. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry :
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry 10th Edition, United States :
Lippincott Williams & Wilkins, 407-411
Substance Abuse and Mental Health Services Administration, 2012. National
Survey on Drug Use and Health. Available
from http://www.samhsa.gov/data/NSDUH.aspx [Accessed 20 March
2012]
Sulistyo, F., 2012. Psikotropika. Available
from http://www.freewebs.com/fajarsulistyo/psikotropika.htm [Accessed
20 March 2012]
Sutiyoso, B., 2008. Penyalahgunaan Narkoba. Available
from http://bambang.staff.uii.ac.id/2008/08/26/penyalahgunaan-narkoba/
[Accessed 20 March 2012]
The MTA Cooperative Group, 1999. A 14-months randomized clinical trial of
treatment strategies for attention-deficit hyperactivity disorder. Archives of
General Psychiatry, 56:1073-1086
Uitermark, J. & Cohen, P., 2006. Amphetamine users in Amsterdam : Patterns of
use and modes of self-regulation. Additction Research and Theory; 14(2) :
159-88
Usdin, E. & Forrest, I.S., 1979. Psychotherapeutic Drugs Part 1. New York :
Marcel Dekker, 83
Wahyuni, A.S., 2007. Metode Penarikkan Sampel dan Besar Sampel. Statistika
Kedokteran. Jakarta : Bamboedoea Communication, 114-116
Lampiran 1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENELITI

DATA PRIBADI

1. Nama : Fransisca Kotsasi


2. Tempat/Tanggallahir : Medan, 05Mei 1991
3. Agama : Buddha
4. Alamat : Jalan Gandhi NO. 130 B/ 118
5. No Telp/HP : 0819859190
6. Alamat email : kotznatural_91@hotmail.com

RIWAYAT PENDIDIKAN
1. Tahun 1995 – 1997 : TK Methodist 3 Medan
2. Tahun 1997 – 2003 : SD Methodist 3 Medan
3. Tahun 2003 – 2006 : SMP Methodist 3 Medan
4. Tahun 2006 – 2009 : SMA Sutomo 1 Medan

RIWAYAT PELATIHAN

1. Seminar Dokter Keluarga & Workshop Sirkumsisi


2. Workshop Hewan Coba, Scientific Class & Seminar Update Kedokteran 2010
3. Seminar KTI & Update Kedokteran 2012

RIWAYAT ORGANISASI

1. Anggota KMB USU


2. Panitia PMB FK USU 2012
Lampiran 2
LEMBAR PENJELASAN

Bapak/Ibu Yth,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa SMA


terhadap efek dan bahaya Amfetamin khususnya yang bersekolah di Yayasan
Perguruan Sultan Iskandar Muda Sunggal. Setelah itu, hasil skor yang didapat dari
responden akan dianalisis. Bila telah didapatkan hasil, maka dapat diupayakan
usaha yang lebih optimal sehubungan dengan hasil yang telah didapat.
Untuk memperoleh keterangan di atas, suatu alat penelitian yang disebut
kuesioner dan metode angket akan digunakan. Kuesioner yang diberikan terdiri
dari 25 pertanyaan yang berhubungan dengan penelitian. Identitas responden akan
dirahasiakan dan data penelitian hanya digunakan untuk keperluan penelitian serta
tidak akan dipublikasi dalam bentuk apapun.
Partisipasi responden dalam penelitian ini bersifat sukarela dan tanpa
paksaan maupun tekanan dari siapapun. Seandainya Saudara/i menolak untuk
berpartisipasi dalam penelitian ini, maka tidak akan terdapat sanksi apapun.
Setelah memahami berbagai hal yang menyangkut penelitian ini, diharapkan
Bapak/Ibu yang terpilih menjadi sukarelawan pada penelitian ini, dapat mengisi
lembar persetujuan ikut dalam penelitian yang telah dipersiapkan.
Jika masih terdapat hal-hal yang kurang jelas sehubungan dengan
penelitian ini, Bapak/Ibu dapat menghubungi saya, Fransisca (HP: 0819859190).
Atas perhatian Saudara/i, saya ucapkan terima kasih.

Hormat Saya,
Fransisca
Lampiran 3

LEMBAR PERNYATAAN
PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini,


Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :

Alamat :

Setelah mendapat penjelasan dari peneliti secara terperinci dan jelas tentang
penelitian “Tingkat Pengetahuan Siswa SMA Yayasan Perguruan Sultan Iskandar
Muda Sunggal Terhadap Efek dan Bahaya Amfetamin”, maka dengan ini saya
secara sukarela dan tanpa paksaan menyatakan bersedia diikutkan dalam
penelitian tersebut.

Demikianlah surat pernyataan ini untuk dapat dipergunakan seperlunya.

Medan,_______________2012
Yang membuat pernyataan

( _________________________)
Nama dan Tanda Tangan
Lampiran 4
Kuesioner Penelitian
Tingkat Pengetahuan Siswa SMA Yayasan Perguruan Sultan Iskandar
Muda Sunggal Terhadap Efek dan Bahaya Amfetamin

I. Data Umum

1. Nama :
2. Jenis Kelamin :
3. Umur :
4. Kelas :
5. Agama :
6. Suku :

II. Sumber Informasi

1. Dari manakah saudara memperoleh informasi tentang efek dan


bahaya Amfetamin (Ekstasi dan Shabu-Shabu)?(jawaban boleh
lebih dari 1)
Teman
Anggota Keluarga (ayah, ibu, kakak, atau adik)
Guru
Media cetak
Media Elektronik
Tidak pernah memperoleh informasi

2. Dari manakah saudara mendapat penyuluhan tentang efek dan


bahaya Amfetamin (Ekstasi dan Shabu-Shabu)?(jawaban boleh
lebih dari 1)
Pihak Sekolah
Kepolisian
Departemen Sosial
Petugas Kesehatan
Tidak pernah mendapat penyuluhan

III. Tingkat Pengetahuan

1. Amfetamin adalah
a. Narkoba
b. Ganja
c. Obat batuk
d. Obat tidur

2. Amfetamin memiliki cara kerja dengan


a. Merangsang sistem pergerakkan
b. Merangsang sistem saraf pusat
c. Merangsang sistem pernafasan
d. Merangsang sistem pencernaan

3. Amfetamin banyak disalahgunakan untuk


a. Tujuan klinis
b. Tujuan pribadi
c. Tujuan bersama
d. Tujua umum

4. Dibawah ini adalah obat yang termasuk golongan Amfetamin


adalah
a. Ganja
b. Ekstasi
c. Heroin
d. Morphine

5. Bentuk sediaan shabu-shabu adalah


a. Tablet
b. Kristal bening
c. Cairan
d. Serbuk

6. Bentuk sediaan ekstasi adalah


a. Tablet
b. Serbuk
c. Cairan
d. Kristal bening

7. Penggunaan shabu-shabu dilakukan dengan cara


a. Dimakan
b. Dibakar kemudian dihirup
c. Disuntikkan
d. Dioleskan

8. Penggunaan ekstasi dilakukan dengan cara


a. Dimakan
b. Disuntik
c. Dihirup
d. Dioleskan

9. Cara penggunaan Amfetamin yang menghasilkan efek paling cepat


dan hebat adalah
a. Dihirup
b. Dimakan
c. Dioleskan
d. Disuntikkan

10. Penggunaan ekstasi akan menyebabkan terjadinya


a. Depresi
b. Peningkatan mood
c. Peningkatan nafsu makan
d. Panik

11. Efek yang ditimbulkan pada penggunaan ekstasi adalah


a. Kerusakan saraf
b. Kerusakan organ
c. Kerusakan otot
d. Gangguan mental

12. Amfetamin dilegalkan untuk kegunaan klinis seperti


a. Untuk mengatasi depresi
b. Untuk mengatasi gangguan perhatian
c. Untuk mengatasi rasa panik
d. Untuk meningkatkan berat badan

13. Pada pengguna Amfetamin akan terlihat


a. Pelebaran diameter pupil mata
b. Pengecilan diameter pupil mata
c. Diameter pupil mata normal
d. Kebutaan

14. Denyut jantung pada pengguna Amfetamin akan terasa


a. Lambat
b. Cepat
c. Normal
d. Berhenti

15. Pola pernafasan pada pengguna Amfetamin akan terlihat


a. Normal
b. Cepat
c. Lambat
d. Berhenti

16. Penggunaan Amfetamin akan menimbulkan


a. Peningkatan berat badan
b. Penurunan berat badan
c. Peningkatan nafsu makan
d. Menghilangkan nafsu makan
17. Efek secara seksual yang timbul pada pengguna Amfetamin jangka
panjang adalah
a. Gangguan seksual
b. Keaktifan secara seksual
c. Gairah seksual menurun
d. Tidak mengalami gangguan secara seksual

18. Gangguan seksual yang timbul pada pengguna Amfetamin jangka


panjang adalah
a. Sakit pada saat berhubungan seksual
b. Impotensi
c. Penis menjadi kecil
d. Gairah seksual menurun

19. Penggunaan obat Amfetamin akan menimbulkan gejala seperti


a. Halusinasi
b. Penurunan suhu tubuh
c. Penururnan performa
d. Peningkatan berat badan

20. Penghentian obat Amfetamin akan menimbulkan gejala seperti


a. Ilusi
b. Emosi
c. Peningkatan mood
d. Penurunan berat badan

21. Gangguan tidur yang dialami oleh pengguna Amfetamin adalah


a. Mimpi buruk
b. Insomnia
c. Kebanyakan tidur
d. Serangan tidur

22. Gejala penghentian obat Amfetamin adalah


a. Penurunan nafsu makan
b. Kelelahan
c. Merasa senang
d. Merasa galau

23. Ciri-ciri orang yang mengalami ketergantungan terhadap


Amfetamin adalah
a. Penurunan efek dengan dosis yang sama
b. Peningkatan mood yang berkepanjangan
c. Kelelahan
d. Mimpi buruk

24. Bahaya yang ditimbulkan dari keracunan Amfetamin adalah


a. Kehilangan kesadaran
b. Stroke
c. Lumpuh
d. Penurunan tekanan darah

25. Akibat paling fatal dari overdosis Amfetamin adalah


a. Kematian
b. Koma
c. Kejang
d. Stroke

IV. Pendapat Responden

Menurut Saudara/i, mengapa orang menyalahgunakan Amfetamin?


a. Untuk meningkatkan performa
b. Untuk menurunkan berat badan
c. Untuk mengatasi serangan tidur
d. Untuk tujuan kesenangan
e. Diajak teman
f. Hanya ingin membuang uang
g. Lain-lain (pendapat lain selain pilihan yang diberikan)
............................................................................................................
............................................................................................................
............................................................................................................
Lampiran 6

umur responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 14 9 10.8 10.8 10.8

15 19 22.9 22.9 33.7

16 31 37.3 37.3 71.1

17 21 25.3 25.3 96.4

18 3 3.6 3.6 100.0

Total 83 100.0 100.0

jenis kelamin responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid laki-laki 30 36.1 36.1 36.1

perempuan 53 63.9 63.9 100.0

Total 83 100.0 100.0

kelas responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 21 25.3 25.3 25.3

2 30 36.1 36.1 61.4

3 32 38.6 38.6 100.0

Total 83 100.0 100.0


agama

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid islam 47 56.6 56.6 56.6

buddha 11 13.3 13.3 69.9

kristen 25 30.1 30.1 100.0

Total 83 100.0 100.0

suku

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid aceh 3 3.6 3.6 3.6

batak 37 44.6 44.6 48.2

jawa 17 20.5 20.5 68.7

manado 1 1.2 1.2 69.9

melayu 8 9.6 9.6 79.5

minang 1 1.2 1.2 80.7

padang 2 2.4 2.4 83.1

tamil 1 1.2 1.2 84.3

tionghua 13 15.7 15.7 100.0

Total 83 100.0 100.0

pengetahuan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid baik 10 12.0 12.0 12.0

kurang 2 2.4 2.4 14.5

sedang 71 85.5 85.5 100.0


pengetahuan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid baik 10 12.0 12.0 12.0

kurang 2 2.4 2.4 14.5

sedang 71 85.5 85.5 100.0

Total 83 100.0 100.0

jenis kelamin responden * pengetahuan Crosstabulation

pengetahuan

baik kurang sedang Total

jenis kelamin responden laki-laki Count 5 1 24 30

% within pengetahuan 50.0% 50.0% 33.8% 36.1%

perempuan Count 5 1 47 53

% within pengetahuan 50.0% 50.0% 66.2% 63.9%

Total Count 10 2 71 83

% within pengetahuan 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%

umur responden * pengetahuan Crosstabulation

pengetahuan

baik kurang sedang Total

umur responden 14 Count 1 1 7 9

% within pengetahuan 10.0% 50.0% 9.9% 10.8%

15 Count 2 1 16 19

% within pengetahuan 20.0% 50.0% 22.5% 22.9%

16 Count 3 0 28 31

% within pengetahuan 30.0% .0% 39.4% 37.3%

17 Count 4 0 17 21

% within pengetahuan 40.0% .0% 23.9% 25.3%


18 Count 0 0 3 3

% within pengetahuan .0% .0% 4.2% 3.6%

Total Count 10 2 71 83

% within pengetahuan 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%

kelas responden * pengetahuan Crosstabulation

pengetahuan

baik kurang sedang Total

kelas responden 1 Count 2 2 17 21

% within pengetahuan 20.0% 100.0% 23.9% 25.3%

2 Count 3 0 27 30

% within pengetahuan 30.0% .0% 38.0% 36.1%

3 Count 5 0 27 32

% within pengetahuan 50.0% .0% 38.0% 38.6%

Total Count 10 2 71 83

% within pengetahuan 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%

agama * pengetahuan Crosstabulation

pengetahuan

baik kurang sedang Total

agama islam Count 3 1 43 47

% within pengetahuan 30.0% 50.0% 60.6% 56.6%

buddha Count 2 1 8 11

% within pengetahuan 20.0% 50.0% 11.3% 13.3%

kristen Count 5 0 20 25

% within pengetahuan 50.0% .0% 28.2% 30.1%

Total Count 10 2 71 83

% within pengetahuan 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%


suku * pengetahuan Crosstabulation

pengetahuan

baik kurang sedang Total

suku aceh Count 0 1 2 3

% within pengetahuan .0% 50.0% 2.8% 3.6%

batak Count 4 0 33 37

% within pengetahuan 40.0% .0% 46.5% 44.6%

jawa Count 1 0 16 17

% within pengetahuan 10.0% .0% 22.5% 20.5%

manado Count 1 0 0 1

% within pengetahuan 10.0% .0% .0% 1.2%

melayu Count 1 0 7 8

% within pengetahuan 10.0% .0% 9.9% 9.6%

minang Count 1 0 0 1

% within pengetahuan 10.0% .0% .0% 1.2%

padang Count 0 0 2 2

% within pengetahuan .0% .0% 2.8% 2.4%

tamil Count 0 0 1 1

% within pengetahuan .0% .0% 1.4% 1.2%

tionghua Count 2 1 10 13

% within pengetahuan 20.0% 50.0% 14.1% 15.7%

Total Count 10 2 71 83

% within pengetahuan 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%

Correlations

pertanyaan pertanyaan pertanyaan pertanyaan pertanyaan


1 2 3 4 5 p total
** ** ** **
pertanyaan Pearson 1 .793 .667 .667 .192 .885
1 Correlation

Sig. (2-tailed) .000 .001 .001 .416 .000

N 20 20 20 20 20 20
** * * **
pertanyaan Pearson .793 1 .490 .490 .243 .805
2 Correlation

Sig. (2-tailed) .000 .028 .028 .303 .000

N 20 20 20 20 20 20
** * **
pertanyaan Pearson .667 .490 1 .375 .000 .682
3 Correlation

Sig. (2-tailed) .001 .028 .103 1.000 .001

N 20 20 20 20 20 20
** * **
pertanyaan Pearson .667 .490 .375 1 .289 .774
4 Correlation

Sig. (2-tailed) .001 .028 .103 .217 .000

N 20 20 20 20 20 20
*
pertanyaan Pearson .192 .243 .000 .289 1 .511
5 Correlation

Sig. (2-tailed) .416 .303 1.000 .217 .021

N 20 20 20 20 20 20
** ** ** ** *
p total Pearson .885 .805 .682 .774 .511 1
Correlation

Sig. (2-tailed) .000 .000 .001 .000 .021

N 20 20 20 20 20 20

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Correlations

pertanyaan pertanyaan pertanyaan pertanyaan pertanyaan


6 7 8 9 10 p total

pertanyaan Pearson 1 .404 .608** .608** .608** .831**


6 Correlation

Sig. (2-tailed) .077 .004 .004 .004 .000

N 20 20 20 20 20 20

pertanyaan Pearson .404 1 .404 .081 .081 .547*


7 Correlation

Sig. (2-tailed) .077 .077 .735 .735 .012


N 20 20 20 20 20 20
** ** ** **
pertanyaan Pearson .608 .404 1 .608 .608 .831
8 Correlation

Sig. (2-tailed) .004 .077 .004 .004 .000

N 20 20 20 20 20 20
** ** ** **
pertanyaan Pearson .608 .081 .608 1 1.000 .831
9 Correlation

Sig. (2-tailed) .004 .735 .004 .000 .000

N 20 20 20 20 20 20
** ** ** **
pertanyaan Pearson .608 .081 .608 1.000 1 .831
10 Correlation

Sig. (2-tailed) .004 .735 .004 .000 .000

N 20 20 20 20 20 20
** * ** ** **
p total Pearson .831 .547 .831 .831 .831 1
Correlation

Sig. (2-tailed) .000 .012 .000 .000 .000

N 20 20 20 20 20 20

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).


pertanyaan pertanyaan pertanyaan pertanyaan pertanyaan
11 12 13 14 15 p total
**
pertanyaan Pearson 1 .123 .204 .229 .357 .627
11 Correlation

Sig. (2-tailed) .605 .388 .332 .122 .003

N 20 20 20 20 20 20
* **
pertanyaan Pearson .123 1 .101 .099 .452 .589
12 Correlation

Sig. (2-tailed) .605 .673 .679 .045 .006

N 20 20 20 20 20 20
**
pertanyaan Pearson .204 .101 1 .140 .250 .571
13 Correlation

Sig. (2-tailed) .388 .673 .556 .288 .008

N 20 20 20 20 20 20
* *
pertanyaan Pearson .229 .099 .140 1 .490 .560
14 Correlation

Sig. (2-tailed) .332 .679 .556 .028 .010

N 20 20 20 20 20 20
* * **
pertanyaan Pearson .357 .452 .250 .490 1 .786
15 Correlation

Sig. (2-tailed) .122 .045 .288 .028 .000

N 20 20 20 20 20 20
** ** ** * **
p total Pearson .627 .589 .571 .560 .786 1
Correlation

Sig. (2-tailed) .003 .006 .008 .010 .000

N 20 20 20 20 20 20

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).


Correlations

pertanyaan pertanyaan pertanyaan pertanyaan pertanyaan


16 17 18 19 20 p total

pertanyaan Pearson 1 .101 .000 .420 .302 .643**


16 Correlation

Sig. (2-tailed) .673 1.000 .065 .196 .002

N 20 20 20 20 20 20

pertanyaan Pearson .101 1 .373 .099 .010 .574**


17 Correlation

Sig. (2-tailed) .673 .105 .679 .966 .008

N 20 20 20 20 20 20
*
pertanyaan Pearson .000 .373 1 .336 -.154 .520
18 Correlation

Sig. (2-tailed) 1.000 .105 .147 .518 .019

N 20 20 20 20 20 20
**
pertanyaan Pearson .420 .099 .336 1 .183 .651
19 Correlation

Sig. (2-tailed) .065 .679 .147 .440 .002

N 20 20 20 20 20 20

pertanyaan Pearson .302 .010 -.154 .183 1 .490*


20 Correlation

Sig. (2-tailed) .196 .966 .518 .440 .028

N 20 20 20 20 20 20
** ** * ** *
p total Pearson .643 .574 .520 .651 .490 1
Correlation

Sig. (2-tailed) .002 .008 .019 .002 .028

N 20 20 20 20 20 20

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).


Correlations

pertanyaan pertanyaan pertanyaan pertanyaan pertanyaan


21 22 23 24 25 p total
*
pertanyaan Pearson 1 -.010 .201 -.174 .287 .472
21 Correlation

Sig. (2-tailed) .966 .395 .463 .220 .036

N 20 20 20 20 20 20
* **
pertanyaan Pearson -.010 1 .452 .290 .287 .695
22 Correlation

Sig. (2-tailed) .966 .045 .215 .220 .001

N 20 20 20 20 20 20

pertanyaan Pearson .201 .452* 1 .000 .153 .592**


23 Correlation

Sig. (2-tailed) .395 .045 1.000 .519 .006

N 20 20 20 20 20 20
*
pertanyaan Pearson -.174 .290 .000 1 .236 .448
24 Correlation

Sig. (2-tailed) .463 .215 1.000 .317 .047

N 20 20 20 20 20 20
**
pertanyaan Pearson .287 .287 .153 .236 1 .695
25 Correlation

Sig. (2-tailed) .220 .220 .519 .317 .001

N 20 20 20 20 20 20
* ** ** * **
p total Pearson .472 .695 .592 .448 .695 1
Correlation

Sig. (2-tailed) .036 .001 .006 .047 .001

N 20 20 20 20 20 20

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items
Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

.659 25