Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan memegang peranan penting dalam menunjang kemajuan dan masa


depan bangsa, tanpa pendidikan yang baik mustahil suatu bangsa akan maju. Berhasil
atau tidaknya suatu pendidikan dalam suatu negara salah satunya adalah karena guru.
Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan dan kemajuan
anak didiknya. Dari sinilah guru dituntut untuk dapat menjalankan tugas dengan
sebaik-baiknya. Pendidikan bertujuan mengembangkan potensi perserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan merupakan suatu proses perubahan
sikap dan perilaku seseorang dalam upaya mendewasakan manusia melalui proses
pembelajaran (Trianto, 2011:1 )

Pembelajaran pada hakekatnya merupakan upaya mengkondisikan seseorang


agar bisa belajar dengan baik sesuai dengan tujuan pembelajaran. Proses
pembelajaran merupakan tindakan penyampaian ilmu pengetahuan dan perubahan
tingkah laku. Pembelajaran tidak hanya kegiatan yang dilakukan oleh guru, tetapi
mencakup kegiatan yang terjadi selama proses belajar peserta didik (Majid, 2013).
Sudjana (2009) menyatakan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang
dimiliki siswa setelah pengalaman belajarnya. Hasil belajar merupakan tujuan yang
dirumuskan sebelum proses belajar mengajar dilaksanakan. Pada umumnya hasil
belajar meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan. Hasil belajar akan diperoleh
siswa setelah menempuh belajarnya atau proses belajar mengajar.

Kecakapan hidup (life skill) yang perlu dikembangkan melalui proses


pendidikan adalah keterampilan berpikir. Berpikir diperlukan untuk mengembangkan
sikap dan persepsi yang mendukung terciptanya kondisi kelas yang positif, untuk

1
memperluas wawasan pengetahuan, untuk mengaktualisasikan kebermaknaan
pengetahuan, dan untuk mengembangkan perilaku berpikir yang rasional

Menurut Utami Munandar (2012: 167), “berpikir kreatif adalah memberikan


macam-macam kemungkinan jawaban berdasarkan informasi yang diberikan dengan
penekanan pada keragaman jumlah dan kesesuaian”. Dengan kata lain, kemampuan
berpikir kreatif adalah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mengembangkan
suatu persoalan menjadi alternatif jawaban. Kemampuan berpikir kreatif yang
diterapkan dalam pembelajaran matematika, dikenal dengan istilah kemampuan
berpikir kreatif matematis. Kemampuan berpikir kreatif matematis adalah proses
yang dilakukan oleh seseorang untuk mengembangkan suatu persoalan menjadi
alternatif jawaban dalam memecahkan persoalanpersoalan yang berhubungan dengan
logika, pola dan urutan yang sistematis.

Fisika merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam (IPA) yang merupakan
hasil kegiatan manusia yang berupa pengetahuan, gagasan dan konsep yang
terorganisir tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian
proses ilmiah (Widyaningsih, S.W. 2011). Fisika bukan hanya kumpulan
pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja, tetapi juga merupakan
proses pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik
untuk memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran Fisika bertujuan untuk
meningkatkan penguasaan peserta didik terhadap pengetahuan, konsep, prinsip
Fisika, serta mengembangkan keterampilan peserta didik (Susanti, Dwi, Soetadi,
Waskito & Surantoro, 2014). Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan
bahwa fisika merupakan cabang IPA yang didalamnya mempelajari fenomena yang
terjadi di alam semesta

Kenyataannya secara umum pembelajaran fisika kurang melibatkan peserta


didik secara aktif menyebabkan kurang seimbangnya kemampuan kognitif, afektif,
dan psikomotorik peserta didik. Sebagian besar dari peserta didik juga tidak mampu
menghubungkan antara apa yang dipelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut

2
akan dimanfaatkan dan dipergunakan. Tentu saja hal tersebut cenderung membuat
peserta didik terbiasa menggunakan sebagian kecil saja dari potensi atau kemampuan
berpikirnya dan menjadikan peserta didik malas untuk berpikir serta terbiasa malas
berpikir mandiri.

Semua tenaga pendidik mengharapkan peningkatan hasil belajar yang


signifikan melalui standar kelulusan yang semakin meningkat untuk tiap mata
pelajaran. Namun, pada fakta dilapangan saat mengobservasi SMA 5 Barabai kelas
XI dengan cara menyebarkan angket kepada 32 orang peserta didik kelas XI pada
tanggal 30 maret 2018 sebanyak 56,25 % berpendapat fisika adalah pelajaran yang
sulit dipahami, kurang menarik, dan membosankan, 31,25 % berpendapat fisika
biasa-biasa saja, dan hanya 12,50 % yang berpendapat fisika menyenangkan, mudah
dimengerti dan fisika menempati posisi ke dua setelah matematika sebagai pelajaran
yang paling tidak disukai oleh peserta didik.

Penulis menyebarkan angket dan juga mewawancarai guru fisika di SMA 5


Barabai Kelas XI yaitu ibu X dengan meninjau nilai fisika peserta didik di salah satu
kelas XI, diperoleh informasi bahwa 70% dari jumlah peserta didik belum
memperoleh nilai sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 78, tetapi rata-
rata hanya 10 orang peserta didik di tiap kelas yang mampu mencapai nilai di atas 78
dan lainnya masih dibawah 78. Beliau juga menambahkan nilai rata-rata Ujian
Nasional (UN) mata pelajaran fisika setiap tahunnya menduduki peringkat ketiga
setelah mata pelajaran matematika, dan biologi. Menurut beliau hal ini dikarenakan
model yang biasanya digunakan dalam menyampaikan pelajaran fisika adalah model
pembelajaran konvensional yang memakai metode ceramah, tanya jawab dan
pemberian tugas. Bila model tersebut selalu dilakukan dan terlalu lama akan sangat
membosankan dan mengakibatkan peserta didik menjadi pasif.

Permasalahan di atas perlu adanya model yang mengorientasikan


pembelajaran pada masalah-masalah nyata yang dapat menciptakan keterlibatan
peserta didik dalam proses pembelajaran untuk menumbuhkan, melatihkan

3
keterampilan kreatifits berpikir dan menumbuhkan keterampilan memecahkan
masalah peserta didik. Membiasakan bekerja ilmiah diharapkan dapat menumbuhkan
kebiasaan berfikir dan bertindak yang merefleksikan penugasan pengetahuan,
keterampilan dan sikap ilmiah yang dimiliki peserta didik, sehingga dengan
sendirinya model pembelajaran itu akan mempengaruhi pada peningkatan
pengetahuan, keterampilan dan sikap ilmiah peserta didik sebagai hasil belajar.

Salah satu model pembelajaran tersebut adalah Problem Based Learning


(PBL) atau dalam bahasa Indonesia yaitu Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM).
Dalam model Problem Based Learning (PBL), fokus pembelajaran ada pada masalah
yang dipilih sehingga siswa tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan
dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut. Oleh
sebab itu, siswa tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah
yang menjadi pusat perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang
berhubungan dengan keterampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan
masalah dan menumbuhkan pola berpikir kritis.

Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Tan (dalam Rusman, 2014:229).


Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) merupakan inovasi dalam pembelajaran
karena dalam Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) kemampuan berpikir siswa
betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang
sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji dan
mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan. Dengan
menerapkan model Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran fisika
diharapkan siswa akan mampu menggunakan dan mengembangkan kemampuan
berpikir kritis untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan berbagai strategi
penyelesaian.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian


dengan judul “Melatihkan kreatifitas berpikir melalui model PBL (Problem Based
Learning ) pada materi fluida statis SMA 5 Barabai”

4
B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka


permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:

 Hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran fisika peserta didik masih
rendah dan rata-rata nilai masih bawah KKM.

 Persepsi peserta didik yang masih dominan beranggapan bahwa belajar fisika
itu kurang menarik dan sulit dikarenakan banyak rumus, cenderung mencatat,
menghafal rumus dan mengerjakan soal secara matematis menyebabkan
rendahnya minat belajar peserta didik.

 Kurangnya keterlibatan dan keaktifan peserta didik dalam proses belajar


karena pembelajaran berpusat kepada guru (teacher centered), peserta didik
hanya sekedar menerima konsep yang sudah jadi dan kemudian
menghafalnya.

 Kurangnya kreatifitas ilmiah dari siswa itu sendiri.

 Model pembelajaran yang digunakan kurang bervariasi, guru lebih dominan


menyajikan materi dengan pembelajaran konvensional dengan metode
ceramah.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, banyak masalah


yang ditemukan dalam kegiatan pembelajaran maka penulis melakukan pembatasan
masalah. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah:

 Penelitian ini menggunakan model CRBL untuk melatihkan kreatifitas ilmiah.

 Materi pembelajaran pada penelitian ini hanya dibatasi pada materi fluida
statis.

 Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI SMA 5 Barabai.

5
D. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas maka yang menjadi rumusan masalah dalam


penelitian ini adalah :

 Bagaimana tingkat kreatifitas ilmiah peserta didik dengan menggunakan


pembelajaran konvensional pada materi fluida statis di kelas XI SMA 5
Barabai

 Bagaimana tingkat kreatifitas ilmiah peserta didik dengan menggunakan


model CRBL pada materi fluida statis di kelas XI SMA 5 Barabai ?

 Bagaimana pengaruh model CRBL terhadap tingkat kreatifitas ilmiah peserta


didik pada materi fluida statis di kelas XI SMA 5 Barabai ?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai
dalam penelitian ini adalah :

 Untuk mengetahui tingkat kreatifitas ilmiah peserta didik dengan


menggunakan pembelajaran konvensional pada materi fluida statis di kelas XI
SMA 5 Barabai.

 Untuk mengetahui tingkat kreatifitas ilmiah peserta didik dengan


menggunakan model CRBL pada materi fluida statis di kelas XI SMA 5
Barabai.

 Untuk mengetahui pengaruh model CRBL terhadap tingkat kreatifitas berpikir


peserta didik pada materi fluida statis di kelas XI SMA 5 Barabai.

1.6. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah :

6
 Sebagai bahan informasi hasil belajar peserta didik menggunakan model
CRBL terhadap tingkat kreatifitas ilmiah peserta didik pada materi fluida
statis di kelas XI SMA 5 Barabai.

 Sebagai sumbangan pemikiran dan bahan informasi dalam rangka perbaikan


variasi model pembelajaran di tempat pelaksanaan penelitian.

 Sebagai bahan informasi untuk peneliti selanjutnya.

1.7. Definisi Operasional

Definisi operasional yang mengacu pada penelitian, antara lain :

 Hasil belajar adalah melukiskan tingkat (kadar) pencapaian peserta didik atas
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hasil belajar itu
tercermin/terpancar dari kepribadian peserta didik berupa perubahan tingkah
lakunya setelah mengalami proses pembelajaran.

 Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang selama ini sering


berlangsung di sekolah. Pembelajaran konvensional merupakan kegiatan
pembelajaran yang lebih banyak berpusat pada guru. Dalam model
pembelajaran konvensional terdapat metode yang banyak dipakai yaitu
metode ceramah, metode tanya jawab dan metode penugas.

 Model Problem Based Learning (PBL), fokus pembelajaran ada pada


masalah yang dipilih sehingga siswa tidak saja mempelajari konsep-konsep
yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk
memecahkan masalah tersebut. Oleh sebab itu, siswa tidak saja harus
memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat
perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan
dengan keterampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah
dan menumbuhkan pola berpikir kritis

7
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Melatihkan kratifitas Berpikir

Menurut John Suprihanto (1988:86) pelatihan adalah suatu proses pembinaan


pengertian dan pengetahuan terhadap kelompok fakta, aturan serta metode yang
terorganisasikan dengan megutamakan pembinaan, kejujuran dan ketrampilan.
Sondang P. Siagian (1983:180) memberikan pengertian terhadap pelatihan yakni
proses belajar mengajar dengan menggunakan teknik dan metode tertentu. Menurut
Soekidjo Natoatmodjo ciri ciri dari pelatihan sebagai berikut :

 Pengembangan kemampuannya bersifat khusus


 Area kemampuan (Penekanan) tertuju pada psikomotorik bukan afektif atau
kognitif
 Jangka waktu pelaksanaan pendek
 Materi yang diberikan lebih khusus
 Penekanan penggunaan metode belajar mengajar bersifat inkonvensional
 Penghargaan akhir proses berupa gelar ( sertifikat )

Langkah-Langkah Pelatihan sebagai berikut:

1. Menganalisis kebutuhan pelatihan pembelajaran yaitu mengidentifikasi


strategi pembelajaran, lingkungan pembelajaran saat ini dan masa yang akan
datang untuk mencapai suatu tujuan.

2. Menentukan sasaran dan materi program pelatihan yakni tujuan pelatihan


harus dirumuskan secara spesifik, apakah perubahan perilaku atau perubahan
pengetahuan yang ingin dicapai setelah pelatihan dilakukan. Berdasarkan tujuan
tersebut maka ditentukan materi untuk pelatihan untuk mencapai tujuan.

8
3. Menentukan metode pelatihan dan prinsip-prinsip belajar yang digunakan
yakni metode pelatihan yang ada pada jam sekolah (formal) maupun di luar jam
sekolah ( informal )

4. Mengevaluasi program pelatihan dilihat dari efek pelatihan dikaitkan dengan,


reaksi peserta terhadap isi dan proses pelatihan, pengetahuan yang diperoleh
melalui pengalaman latihan, perubahan perilaku dan perbaikan pada pembeajaran.

Berpikir kreatif merupakan proses berpikir yang mampu memberikan ide-ide


atau gagasan-gagasan yang berbeda yang kemudian dapat menjadi pengetahuan baru
dan jawaban yang dibutuhkan. Berpikir kreatif layaknya dayung dalam sebuah
perahu, yakni sebagai pengantar dalam melewati permasalahan pembelajaran dengan
siswa sebagai pengendali dayung tersebut membawa untuk lewat arah mana siswa
mencapai tujuan atau jawaban yang diinginkan. Pendidikan nasional juga bertujuan
mengembangkan kemampuan, salah satu kemampuan yang dikembangkan yaitu
kemampuan berpikir kreatif. Berfikir kreatif tergolong kompetensi tingkat tinggi
(high ordercompetencies) dan dapat dipandang sebagaikelanjutan dari kompetensi
dasar (basic skills). Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Ervync (1991) bahwa
kreatifitas memainkan peran yang penting dalam siklus berfikir matematis tingkat
lanjut. Selanjutnya menurut Career Center Maine Departmen of Labor USA,
kemampuan berpikirkreatif memang penting karena kemampuan ini merupakan salah
satu kemampuan yang dikehendaki dunia kerja (Mahmudi, 2010). Pernyataan-
pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan berpikir kreatif adalah
kemampuan yang penting untuk ditingkatkan. Belajar kreatif tidaklah secara
kebetulan akan tetapi membutuhkan proses yang mendukung tercapainya kemampuan
tersebut. Untuk merangsang belajar kreatif, diperlukan persiapan antara lain dengan
menyiapkan suatu lingkungan kelas yang merangsang anak-anak untuk belajar
kreatif.

Menurut Munandar (dalam Mulyana, 2010) “Berpikir kreatif atau berpikir


divergen adalah memberikan macam-macam kemungkinan jawaban berdasarkan

9
informasi yang diberikan dengan penekanan pada keragaman jawaban dan
kesesuaian”. Adapun seorang siswa dapat dikatakan kreatif apabila dapat
memecahkan masalah dengan ide atau gagasannya sendiri dan menghasilkan ide atau
gagasan yang baru. Supaya lebih jelas, inilah indikator berpikir kreatif menurut
Munandar (2004, hlm. 192).

1. Berpikir lancar, yaitu menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan,


arus pemikiran lancar.
2. Berpikir luwes (fleksibel) yaitu, menghasilkan gagasan-gagasan yang
seragam, mampu mengubah cara atau pendekatan, arah pemikiran yang
berbeda beda.
3. Berpikir orisinal yaitu, memberikan jawaban yang tidak lajim, yang lain dari
yang lain, yang jarang diberikan banyak orang. Keaslian (originality), adalah
kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli, tidak
klise, dan jarang diberikan kebanyakan orang.
4. Berpikir terperinci (elaboratif) yaitu, mengembangkan menambah,
memperkaya suatu gagasan, merinci detail-detail, memperluas suatu gagasan.

Menurut Conny R. Semiawan (2009: 136) ciri-ciri kreativitas adalah:

a) berani mengambil resiko

b) memainkan peran yang positif berfikir kreatif 

c) merumuskan  dan  mendefinisikan  masalah 

d) tumbuh kembang mengatasi masalah

e) toleransi terhadap masalah ganda (ambigutiy)

f) menghargai sesama dan lingkungan sekitar.

B. Model Pembelajaran
1. Pengertian Model Pembelajaran

10
Menurut Suprijono (2010:45) “Model pembelajaran merupakan landasan
praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar
yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan
implikasinya pada tingkat operasional di kelas”. Model pembelajaran dapat diartikan
pula sebagai pola yang digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi,
dan memberi petunjuk kepada guru di kelas. Berdasarkan pendapat di atas, dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang disusun
secara sistematis sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan belajar mengajar agar
tercapai tujuan belajar. Problem Based Learning (PBL) adalah salah satu model
pembelajaran inovatif yang memberikan kondisi belajar aktif kepada peserta didik
(Nisa, 2015: 3). Menurut Utrifani A dan Turnip M. Betty (2014) PBL merupakan
model pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk memecahkan suatu masalah
melalui tahap metode ilmiah sehingga peserta didik dapat mempelajari pengetahuan
yang berhubungan dengan masalah tersebut serta memiliki keterampilan untuk
memecahkan masalah.

2. Model Pembelajaran PBL ( Problem Based Learning )

Menurut Arends (2008) PBL adalah pembelajaran yang memiliki esensi


berupa penyuguhan berbagai bermasalah yang autentik dan bermakna kepada peserta
didik, yang dapat berfungsi sebagai sarana untuk melakukan investigasi dan
penyelidikan. Di awal pembelajaran peserta didik diberi permasalahan terlebih dahulu
selanjutnya masalah tersebut diinvestigasi dan dianalisis untuk dicari solusinya. Jadi,
peran guru dalam pembelajaran adalah memberikan berbagai masalah, pertanyaan,
dan memberikan fasilitas terhadap penyelidikan peserta didik.

Problem Based Learning  atau Pembelajaran berbasis masalah meliputi


pengajuan pertanyaan atau  masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin,
penyelidikan autentik, kerjasama dan menghasilkan karya serta peragaan.
Pembelajaran berbasis masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan
informasi sebanyak-banyaknya pada siswa. Pembelajaran berbasis masalah antara

11
lain bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan
ketrampilan berfikir dan ketrampilan pemecahan masalah. Istarani (2014:139)
menyatakan bahwa terdapat lima langkah utama dalam model Pembelajaran Berbasis
Masalah (PBM) yaitu: (1) mengorientasikan siswa pada masalah; (2)
mengorganisasikan siswa untuk belajar; (3) memandu menyelidiki secara mandiri
atau kelompok; (4) mengembangkan dan menyajikan hasil kerja; dan (5)
menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah.

Model pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model pembelajaran


yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk
belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik
bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world).

a. Kelebihan problem based learning ( Model Pembelajaran Berbasis Masalah)

             Dengan PBL akan terjadi pembelajaran  bermakna. Peserta didik/mahapeserta


didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan
pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang
diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta
didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan.
Dalam situasi PBL, peserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan
secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan. PBL dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta
didik/mahapeserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat
mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.

b. Sistem penilaian model pembelajaran problem based learning

Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge),


kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan
yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir
semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR,dokumen, dan

12
laporan. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu
pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan
pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft
skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam
tim, dan kehadiran dalam pembelajaran Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut
ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.

c. Sistem Penilaian

            Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment.


Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang
sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan
belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran.
Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-
assessment) dan peer-assessment.

d. Penilaian (Assessment)

Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge),


kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan
yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir
semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan
laporan.Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu
pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan
pengujian.

e. Contoh Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based


Learning)

           Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, peserta didik


terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu.
Kemudian peserta didik diminta mencatat masalah-masalah yang muncul. Setelah itu
tugas guru adalah meransang peserta didik untuk berpikirkritis dalam memecahkan

13
masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya,
membuktikan asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka.

f. Ciri- Ciri Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning)


1) Pertama, strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian
aktivitas pembelajaran artinya dalam pembelajaran ini tidak
mengharapkan peserta didikhanya sekedar mendengarkan, mencatat kemudian
menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui strategi pembelajaran berbasis
masalah peserta didik aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah
data dan akhirnya menyimpulkannya.
2) Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah.
Strategi pembelajaran berbasis masalah menempatkan masalah sebagai kata
kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah tidak mungkin ada
proses pembelajaran.
3) Ketiga, pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan
berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah
proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara
sistematis dan empiris, sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui
tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian
masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.
g. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah

John Dewey seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika memaparkan 6


langkah dalam pembelajaran berbasis masalah ini :

1) Merumuskan masalah. Guru membimbing peserta didik untuk menentukan


masalah yang akan dipecahkan dalam proses pembelajaran, walaupun
sebenarnya guru telah menetapkan masalah tersebut.
2) Menganalisis masalah. Langkah peserta didik meninjau masalah secara kritis
dari berbagai sudut pandang.

14
3) Merumuskan hipotesis. Langkah peserta didik merumuskan berbagai
kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.
4) Mengumpulkan data. Langkah peserta didik mencari dan menggambarkan
berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
5) Pengujian hipotesis. Langkah peserta didik dalam merumuskan dan
mengambil kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis
yang diajukan
6) Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah. Langkah peserta didik
menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil
pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

      Sedangkan menurut David Johnson & Johnson memaparkan 5 langkah


melalui kegiatan kelompok :

1) Mendefinisikan masalah. Merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang


mengandung konflik hingga peserta didik jelas dengan masalah yang dikaji.
Dalam hal ini guru meminta pendapat peserta didik tentang masalah yang
sedang dikaji.
2) Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah.
3) Merumuskan alternatif strategi. Menguji setiap tindakan yang telah
dirumuskan melalui diskusi kelas.
4) Menentukan & menerapkan strategi pilihan. Pengambilan keputusan tentang
strategi mana yang dilakukan.
5) Melakukan evaluasi. Baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil.

Secara umum langkah-langkah model pembelajaran ini adalah :

1) Menyadari Masalah. Dimulai dengan kesadaran akan masalah yang harus


dipecahkan. Kemampuan yang harus dicapai peserta didik adalah peserta
didik dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang dirasakan oleh
manusia dan lingkungan sosial.

15
2) Merumuskan Masalah. Rumusan masalah berhubungan dengan kejelasan dan
kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan dengan data-data yang
harus dikumpulkan. Diharapkan peserta didik dapat menentukan prioritas
masalah.
3) Merumuskan Hipotesis. peserta didik diharapkan dapat menentukan sebab
akibat dari masalah yang ingin diselesaikan dan dapat menentukan berbagai
kemungkinan penyelesaian masalah.
4) Mengumpulkan Data. peserta didik didorong untuk mengumpulkan data yang
relevan. Kemampuan yang diharapkan adalah peserta didik dapat
mengumpulkan data dan memetakan serta menyajikan dalam berbagai
tampilan sehingga sudah dipahami.
5) Menguji Hipotesis. Peserta didik diharapkan memiliki kecakapan menelaah
dan membahas untuk melihat hubungan dengan masalah yang diuji.
6) Menetukan Pilihan Penyelesaian. Kecakapan memilih alternatif penyelesaian
yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat memperhitungkan
kemungkinan yang dapat terjadi sehubungan dengan alternatif yang
dipilihnya.

16
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (action research), karena


penelitian ini dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan, memperbaiki serta
melatihkan kreatifitas berpikir pada siswa yang ada di kelas. Penelitian ini juga
termasuk penelitian deskriptif, karena penelitian ini menggambarkan bagaimana suatu
tehnik pembelajaran diterapkan dan bagaimana melatihkam kreatifitas berpikir.
Karena kebanyakan siswa tidak mampu berpikir kreatif dalam memecahkah suatu
permasalahan di karenakan selalu terpacu pada guru. Peneliti bertindak sebagai guru
dalam penelitian tindakan kelas ini. Tujuan utama dari penelitian tindakan kelas ini
adalah untuk melatihkan kreativitas berpikir siswa kelas XI dimana peneliti secara
penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan
refleksi. Penelitian melakukan observasi terhadap beberapa hal. Beberapa hal tersebut
tidak mungkin bisa dilakukan sendiri oleh peneliti, maka peneliti dibantu oleh dua
orang teman sejawat yang bertugas sebagai observer. Satu orang yang bertugas untuk
mengobservasi aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran, sedangkan satu orang
lagi bertugas untuk mengobservasi aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran.

B. Setting Penelitian dan Karakteristik Penelitian

Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada pada bulan maret sampai
bulan juli 2019. Tempat Penelitian Penelitian ini bertempat di SMA 5 Barabai.

17
Subjek Penelitian Siswa kelas XI SMA 5 Barabai adalah sebagai subjek penelitian.
Siswa kelas ini berjumlah 32 siswa, yang terdiri dari 12 siswa Laki-laki dan 20 siswa
perempuan. Siswa kelas ini diambil sebagai subjek penelitian karena di kelas ini
terdiri dari sebagian kecil siswa yang aktif dan sebagian besar siswa yang pasif dalam
pembelajaran fisika. Dengan demikian berdasarkan pengamatan peneliti sebagai guru
fisika di kelas ini melihat rendahnya hasil belajar siswa.

C. Variabel Yang Diselidiki

Variabel yang diteliti dalam penelitian ini ada dua, yaitu variabel bebas dan
variabel terikat. Variabel bebas adalah variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi
variabel yang lain. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu pembelajaran yang
menggunakan strategi Problem Basad Learning (PBL), instrumennya aktivitas guru
dan siswa. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi
akibat karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah
melatihkan kreativitas berpikir siswa kelas XI SMA 5 Barabai, instrumennya lembar
observasi melatihkan kreatifitas berpikir.

D. Rencana Tindakan
1. Desain Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini merupakan sangat sesuai dengan jenis penelitian
yang peneliti pilih, yaitu penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari
Kemmis dan Taggart. Menurut Kemmis dan Mc Taggart penelitian tindakan dapat
dipandang sebagai suatu siklus spiral dari penyusunan perencanaan, pelaksanaan
tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi yang selanjutnya mungkin diikuti
dengan siklus spiral berikutnya.

Skema penelitian model Kemmis dan Taggart dapat digambarkan seperti di bawah
ini:

18
Gambar 3.1 Skema Alur PTK

Secara garis besar skema tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

a. Penyusunan perencanaan Penyusunan perencanaan didasarkan pada hasil


refleksi awal. Secara rinci perencanaan mencakup tindakan yang akan
dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau merubah perilaku dan sikap
yang diinginkan sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan. Perencanaan
ini bersifat fleksibel dalam arti dapat berubah sesuai dengan kondisi nyata
yang ada. Rencana tindakan yang dilakukan antara lain:
 Merumuskan indikator kinerja yang akan dicapai.
 Menyusun RPP.
 Menyusun lembar observasi aktivitas guru.
 Menyusun lembar observasi melatihkan kreatifitas berpikir.
 Menyusun kisi-kisi soal tes.
 Menyusun Soal tes dan kunci jawaban.
b. Pelaksanaan tindakan Pelaksanaan tindakan menyangkut apa yang dilakukan
peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang
dilaksanakan berpedoman pada rencana tindakan.
c. Observasi (pengamatan) Kegiatan observasi dalam penelitian ini disejajarkan
dengan kegiatan pengumpulan data dalam penelitian formal. Dalam kegiatan
ini peneliti mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan
atau dikenakan terhadap siswa. Disamping itu, peneliti juga mengamati

19
keterlaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar aktivitas guru dan
siswa.
d. Refleksi Peneliti telah mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil-hasil
observasi dalam kegiatan ini. Setiap informasi yang terkumpul akan dipelajari
kaitan yang satu dengan lainnya dan kaitannya dengan teori atau hasil
penelitian yang telah dan relevan. Dalam tahap refleksi ini akan dirumuskan
tentang kelebihan dan kekurangan yang ada pada tahap pelaksanaan tersebut.
Hasil dari refleksi tersebut akan digunakan sebagai acuan untuk menyusun
perencaan tindakan di siklus berikutnya.
2. Siklus Tindakan
a. Perencanaan Sebelum melakukan penelitian tindakan ini, maka peneliti akan
menyusun sebagai berikut:
 Menyusun indikator yang akan dicapai
 Menyusun RPP dengan strategi pembelajaran berbasis masalah
 Menyusun lembar observasi: aktivitas guru dan melatihkan kreatifitas ilmiah.
 Menyusun LKS dan kunci jawaban LKS
 Membuat kisi soal test akhir siklus
 Membuat soal test akhir
 Membuat kunci jawaban
b. Pelaksanaan tindakan Penelitian ini akan dilaksanakan dengan waktu 1 kali
pertemuan: 2 x 35 menit untuk satu kali pertemuan setiap siklusnya. Yang
terbagi dalam tiga tahapan, yakni:
 Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
 Kegitan inti (20 menit)
 Kegiatan Penutup (5 menit)
c. Observasi Dalam penelitian ini, observasi dilakukan terhadap beberapa aspek,
diantaranya:
 Aktivitas guru

20
 Melatihkan kreatifitas berpikir
d. Refleksi Guru menginformasikan rencana kegiatan yang akan datang, yaitu
Fluida Dinamis.
E. Data dan Cara Pengumpulannya
1. Data dan Sumber Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah lembar hasil observasi
aktivitas guru, lembar hasil observasi aktivitas siswa, lembar hasil observasi
melatihkan kreatifitas berpikir, dan dokumentasi (foto). Sumber data dalam penelitian
ini adalah siswa kelas XI SMA 5 Barabai, peneliti dan observer.

2. Teknik Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini


terdiri dari:

a. Lembar observasi aktivitas guru

Lembar observasi ini dipergunakan untuk mengetahui aktivitas guru dalam


pembelajaran fisika materi fluida statis melalui strategi Problem Basad Learning
(PBL). Lembar observasi aktivitas guru ini diisi oleh observer di setiap pertemuan.

b. Lembar observasi melatihkan kreatifitas berpikir

Lembar observasi ini dipergunakan untuk mengetahui tingkat kreatifitas


berpikir peserta didik pada materi fluida dengan model Problem Basad Learning
(PBL). Lembar observasi melatihkan kreatifitas berpikir ini diisi oleh peneliti di
setiap pertemuan.

c. Tes formatif

Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai,


digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif dan pemahaman konsep pada
materi fluida. Tes ini diberikan disetiap akhir siklus dengan bentuk soal isian.

d. Dokumentasi (foto)

21
Pengumpulan data berupa foto dilakukan disetiap pertemuan untuk
memberikan gambaran bagaimana pelaksanaan pembelajaran fisika pada materi
fluida statis melalui strategi Problem Basad Learning (PBL).

3. Teknik Analisis Data

Untuk mengetahui hasil dari penelitian tindakan yang telah dilakukan, maka
langkah selanjutnya adalah menganalisis semua data yang telah di kumpulkan.
Adapun analisis data dari masing-masing data yang terkumpul melalui instrumen-
instrumen yang telah dibuat adalah sebagai berikut:

a. Lembar observasi aktivitas guru Teknik analisis data hasil lembar observasi
aktivitas guru menggunakan teknik skala lajuan (Rating Scalle). Rating Scale
merupakan instrumen pengukuran non tes yang menggunakan suatu prosedur
terstruktur untuk memperoleh informasi tentang sesuatu yang diobservasi
yang menyatakan posisi tertentu dalam hubungannya dengan yang lain.
Dalam lembar observasi aktivitas guru ini, peneliti menggunakan skala 4
(empat). Ketentuan dari keempat skala tersebut adalah : 4 = sangat baik, 3 =
baik, 2 = cukup, 1 = Kurang Skor akhir yang diperoleh dihitung dengan
menggunakan rumus :

jumlah skor yang di perolah


Skor Akhir (SA) = x skala(4)
jumlah skor maksimal

Klasifikasi Penilaiannya adalah :

Tabel 3.1 Klasifikasi penilaian lembar observasi aktivitas guru

Skor Akhir Klarifikasi


3,25 ± 4,00 Sangat Baik (SB)
2,50 ± 3,25 Baik (B)
1,75 ± 2,50 Cukup (C)
1,00 ± 1,75 Kurang (K)
b. Tes formatif

22
1) Nilai rata-rata Nilai rata-rata dari hasil tes formatif dirumuskan :

Σ in=1 xi
𝑋̅ =
n

Dengan : 𝑋̅ = Nilai rata-rata

x i=¿ Nilai siswa ke-i

n=¿ Jumlah siswa

i=¿ 1, 2, ..n

2) Ketuntasan belajar

Dalam penelitian ini, siswa dikatakan tuntas dalam pembelajarannya jika nilai hasil
belajarnya minimal 78 (KKM sekolah), dan siswa dikatakan tidak tuntas jika nilai
hasil belajarnya di bawah 78 (KKM sekolah).

4. Indikator Kinerja

Untuk mengukur keberhasilan suatu penelitian diperlukan adanya indikator kinerja


yang ditetapkan dalam perencanaan tindakan. Penelitian ini dikatakan berhasil jika
Jumlah siswa yang mendapatkan nilai diatas 78 (KKM sekolah) minimal 70%.

23
DAFTAR PUSTAKA

Arends, R. I. 2011. Learning to Teach, (terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Conny  R.Semiawan.  2009.  Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa  Sekolah


Menegah. Jakarta: Gramedia.

Ervync, G. 1991. Mathematical Creativity. Dalam Tall, D. Advanced Mathematical


Learning. London: Kluwer Academic Publisher.

Istarani. 2014. 58 Model Pembelajaran Inovatif. Medan: Media Persada.

John Suprihanto 1988. Manajemen Modal Kerja. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

Majid, A. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mahmudi, A. 2010. Mengukur Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis. Konferensi


Nasional Matematika XV. Manado: UNIMA

Munandar. Utari. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka


Cipta

Munandar, U. 2012. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka


Cipta.

Nisa, A. K. 2015. Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk


Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran
Pemrograman Desktop Kelas XI RPL SMK Ma’arif Wonosari (Skripsi).
Universitas Negeri Yogyakarta.

Rusman. 2014. Model-Model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme


Guru). Jakarta: Rajawali Pers.

24
Soekidjo Notoatmodjo. 1992. Pengembangan Sumber Daya Manusia, cetakan
kelima. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sondang P. Siagian. 1992. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.

Sudjana, N. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya

Suprijono, A. 2010. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar

Susanti, D., Soetadi, W & Surantoro. 2014. Penyusunan Instrumen Tes Diagnostik
Miskonsepsi Fisika SMA Kelas XI pada Materi Usaha dan Energi. Jurnal
Pendidikan Fisika, 2 (2)16-19.

Trianto. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Buku Berkualitas Prima.

Widyaningsih, S.W. (2011). Pembentukan Karakter Bertanggung Jawab dan Rasa


Ingin Tahu Melalui Penerapan Metode Quantum Learning dengan
Menggunakan Media Alat Peraga Sederhana pada Pembelajaran Fisika.
Prosiding Seminar Nasional MIPA dan Pendidikan MIPA. Padang:
Universitas Negeri Padang.

25