Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan memegang peranan penting dalam menunjang kemajuan dan masa


depan bangsa, tanpa pendidikan yang baik mustahil suatu bangsa akan maju. Berhasil
atau tidaknya suatu pendidikan dalam suatu negara salah satunya adalah karena guru.
Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan dan kemajuan
anak didiknya. Dari sinilah guru dituntut untuk dapat menjalankan tugas dengan
sebaik-baiknya. Pendidikan bertujuan mengembangkan potensi perserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan merupakan suatu proses perubahan
sikap dan perilaku seseorang dalam upaya mendewasakan manusia melalui proses
pembelajaran (Trianto, 2011:1 )
Pembelajaran pada hakekatnya merupakan upaya mengkondisikan seseorang
agar bisa belajar dengan baik sesuai dengan tujuan pembelajaran. Proses
pembelajaran merupakan tindakan penyampaian ilmu pengetahuan dan perubahan
tingkah laku. Pembelajaran tidak hanya kegiatan yang dilakukan oleh guru, tetapi
mencakup kegiatan yang terjadi selama proses belajar peserta didik (Majid, 2013).
Sudjana (2009) menyatakan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang
dimiliki siswa setelah pengalaman belajarnya. Hasil belajar merupakan tujuan yang
dirumuskan sebelum proses belajar mengajar dilaksanakan. Pada umumnya hasil
belajar meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan. Hasil belajar akan diperoleh
siswa setelah menempuh belajarnya atau proses belajar mengajar.
Fisika merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam (IPA) yang merupakan
hasil kegiatan manusia yang berupa pengetahuan, gagasan dan konsep yang
terorganisir tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian

1
proses ilmiah (Widyaningsih, S.W. 2011). Fisika bukan hanya kumpulan
pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja, tetapi juga merupakan
proses pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik
untuk memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran Fisika bertujuan untuk
meningkatkan penguasaan peserta didik terhadap pengetahuan, konsep, prinsip
Fisika, serta mengembangkan keterampilan peserta didik (Susanti, Dwi, Soetadi,
Waskito & Surantoro, 2014). Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan
bahwa fisika merupakan cabang IPA yang didalamnya mempelajari fenomena yang
terjadi di alam semesta.
Kenyataannya secara umum pembelajaran fisika kurang melibatkan peserta
didik secara aktif menyebabkan kurang seimbangnya kemampuan kognitif, afektif,
dan psikomotorik peserta didik. Sebagian besar dari peserta didik juga tidak mampu
menghubungkan antara apa yang dipelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut
akan dimanfaatkan dan dipergunakan. Tentu saja hal tersebut cenderung membuat
peserta didik terbiasa menggunakan sebagian kecil saja dari potensi atau kemampuan
berpikirnya dan menjadikan peserta didik malas untuk berpikir serta terbiasa malas
berpikir mandiri.
Semua tenaga pendidik mengharapkan peningkatan hasil belajar yang
signifikan melalui standar kelulusan yang semakin meningkat untuk tiap mata
pelajaran. Namun, pada fakta dilapangan saat mengobservasi SMA 5 Barabai kelas
XI dengan cara menyebarkan angket kepada 32 orang peserta didik kelas XI pada
tanggal 30 maret 2018 sebanyak 56,25 % berpendapat fisika adalah pelajaran yang
sulit dipahami, kurang menarik, dan membosankan, 31,25 % berpendapat fisika
biasa-biasa saja, dan hanya 12,50 % yang berpendapat fisika menyenangkan, mudah
dimengerti dan fisika menempati posisi ke dua setelah matematika sebagai pelajaran
yang paling tidak disukai oleh peserta didik.
Penulis menyebarkan angket dan juga mewawancarai guru fisika di SMA 5
Barabai Kelas XI yaitu ibu X dengan meninjau nilai fisika peserta didik di salah satu
kelas XI, diperoleh informasi bahwa 70% dari jumlah peserta didik belum

2
memperoleh nilai sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 78, tetapi rata-
rata hanya 10 orang peserta didik di tiap kelas yang mampu mencapai nilai di atas 78
dan lainnya masih dibawah 78. Beliau juga menambahkan nilai rata-rata Ujian
Nasional (UN) mata pelajaran fisika setiap tahunnya menduduki peringkat ketiga
setelah mata pelajaran matematika, dan biologi. Menurut beliau hal ini dikarenakan
model yang biasanya digunakan dalam menyampaikan pelajaran fisika adalah model
pembelajaran konvensional yang memakai metode ceramah, tanya jawab dan
pemberian tugas. Bila model tersebut selalu dilakukan dan terlalu lama akan sangat
membosankan dan mengakibatkan peserta didik menjadi pasif.
Permasalahan di atas perlu adanya model yang mengorientasikan
pembelajaran pada masalah-masalah nyata yang dapat menciptakan keterlibatan
peserta didik dalam proses pembelajaran untuk menumbuhkan, melatihkan
keterampilan kreatifits berpikir dan menumbuhkan keterampilan memecahkan
masalah peserta didik. Membiasakan bekerja ilmiah diharapkan dapat menumbuhkan
kebiasaan berfikir dan bertindak yang merefleksikan penugasan pengetahuan,
keterampilan dan sikap ilmiah yang dimiliki peserta didik, sehingga dengan
sendirinya model pembelajaran itu akan mempengaruhi pada peningkatan
pengetahuan, keterampilan dan sikap ilmiah peserta didik sebagai hasil belajar.
Salah satu cara agar siswa ikut aktif dalam pembelajaran adalah dengan cara
memilih model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pemilihan model dalam
belajar sangat mempengaruhi hasil belajar dari siswa. Salah satu model pembelajaran
yang bisa digunakan adalah model pembelajaran CRBL. Model pembelajaran ini
sendiri merupakan model pebelajaran yang berfokus melibatkan sifat berpikir kreatif
dari siswa. Pembelajaran CRBL sendiri bisa disebut sebagai suatu model
penyempurnaan dari model model sebelumnya[ CITATION Ari18 \l 1033 ].Pada model
CRBL ini Creative dan responsibility memiliki arti setiap orang memiliki tanggung
jawab untuk menjadi kreatif dan harus menghasilkan individu dan kelompok menjadi
kreatif dan bertanggung jawab[ CITATION Elm19 \l 1033 ]. Sehingga dengan model ini

3
siswa dapat lebih terangsang untuk berpikir lebih kreatif dan dapat bertanggung
jawab untuk mencapai suatu tujuan tertentu
Dengan pemilihan model CRBL maka siswa diharapkan mampu lebih
memaknai pembelajaran fisika dan berpikir lebih kreatif sehingga tidak menganggap
pembelajaran fisika itu sulit dan membosankan. Sehingga mampu mendongkrak nilai
fisika siswa tersebut.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul “Melatihkan kreatifitas ilmiah melalui model CRBL pada materi fluida
statis SMA 5 Barabai”
B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka


permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:
 Hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran fisika peserta didik masih
rendah dan rata-rata nilai masih bawah KKM.
 Persepsi peserta didik yang masih dominan beranggapan bahwa belajar fisika
itu kurang menarik dan sulit dikarenakan banyak rumus, cenderung mencatat,
menghafal rumus dan mengerjakan soal secara matematis menyebabkan
rendahnya minat belajar peserta didik.
 Kurangnya keterlibatan dan keaktifan peserta didik dalam proses belajar
karena pembelajaran berpusat kepada guru (teacher centered), peserta didik
hanya sekedar menerima konsep yang sudah jadi dan kemudian
menghafalnya.
 Kurangnya kreatifitas ilmiah dari siswa itu sendiri.
 Model pembelajaran yang digunakan kurang bervariasi, guru lebih dominan
menyajikan materi dengan pembelajaran konvensional dengan metode
ceramah.
C. Batasan Masalah

4
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, banyak masalah
yang ditemukan dalam kegiatan pembelajaran maka penulis melakukan pembatasan
masalah. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah:
 Penelitian ini menggunakan model CRBL untuk melatihkan kreatifitas ilmiah.
 Materi pembelajaran pada penelitian ini hanya dibatasi pada materi fluida
statis.
 Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI SMA 5 Barabai.
D. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas maka yang menjadi rumusan masalah dalam


penelitian ini adalah :
 Bagaimana tingkat kreatifitas ilmiah peserta didik dengan menggunakan
pembelajaran konvensional pada materi fluida statis di kelas XI SMA 5
Barabai
 Bagaimana tingkat kreatifitas ilmiah peserta didik dengan menggunakan
model CRBL pada materi fluida statis di kelas XI SMA 5 Barabai ?
 Bagaimana pengaruh model CRBL terhadap tingkat kreatifitas ilmiah peserta
didik pada materi fluida statis di kelas XI SMA 5 Barabai ?
E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai
dalam penelitian ini adalah :
 Untuk mengetahui tingkat kreatifitas ilmiah peserta didik dengan
menggunakan pembelajaran konvensional pada materi fluida statis di kelas XI
SMA 5 Barabai.
 Untuk mengetahui tingkat kreatifitas ilmiah peserta didik dengan
menggunakan model CRBL pada materi fluida statis di kelas XI SMA 5
Barabai.

5
 Untuk mengetahui pengaruh model CRBL terhadap tingkat kreatifitas berpikir
peserta didik pada materi fluida statis di kelas XI SMA 5 Barabai.
F. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah :


 Sebagai bahan informasi hasil belajar peserta didik menggunakan model
CRBL terhadap tingkat kreatifitas ilmiah peserta didik pada materi fluida
statis di kelas XI SMA 5 Barabai.
 Sebagai sumbangan pemikiran dan bahan informasi dalam rangka perbaikan
variasi model pembelajaran di tempat pelaksanaan penelitian.
 Sebagai bahan informasi untuk peneliti selanjutnya.
G. Definisi Operasional

Definisi operasional yang mengacu pada penelitian, antara lain :


 Hasil belajar adalah melukiskan tingkat (kadar) pencapaian peserta didik atas
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hasil belajar itu
tercermin/terpancar dari kepribadian peserta didik berupa perubahan tingkah
lakunya setelah mengalami proses pembelajaran.
 Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang selama ini sering
berlangsung di sekolah. Pembelajaran konvensional merupakan kegiatan
pembelajaran yang lebih banyak berpusat pada guru. Dalam model
pembelajaran konvensional terdapat metode yang banyak dipakai yaitu
metode ceramah, metode tanya jawab dan metode penugas.
 Model pembelajaran ini sendiri merupakan model pebelajaran yang berfokus
melibatkan sifat berpikir kreatif dari siswa. Pada model CRBL ini Creative
dan responsibility memiliki arti setiap orang memiliki tanggung jawab untuk
menjadi kreatif dan harus menghasilkan individu dan kelompok menjadi
kreatif dan bertanggung jawab.

6
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Melatihkan kratifitas Ilmiah

Menurut John Suprihanto (1988:86) pelatihan adalah suatu proses pembinaan


pengertian dan pengetahuan terhadap kelompok fakta, aturan serta metode yang
terorganisasikan dengan megutamakan pembinaan, kejujuran dan ketrampilan.
Sondang P. Siagian (1983:180) memberikan pengertian terhadap pelatihan yakni
proses belajar mengajar dengan menggunakan teknik dan metode tertentu. Menurut
Soekidjo Natoatmodjo ciri ciri dari pelatihan sebagai berikut :
 Pengembangan kemampuannya bersifat khusus
 Area kemampuan (Penekanan) tertuju pada psikomotorik bukan afektif atau
kognitif
 Jangka waktu pelaksanaan pendek
 Materi yang diberikan lebih khusus
 Penekanan penggunaan metode belajar mengajar bersifat inkonvensional
 Penghargaan akhir proses berupa gelar ( sertifikat )
Langkah-Langkah Pelatihan sebagai berikut:
1. Menganalisis kebutuhan pelatihan pembelajaran yaitu mengidentifikasi
strategi pembelajaran, lingkungan pembelajaran saat ini dan masa yang akan
datang untuk mencapai suatu tujuan.
2. Menentukan sasaran dan materi program pelatihan yakni tujuan pelatihan
harus dirumuskan secara spesifik, apakah perubahan perilaku atau perubahan
pengetahuan yang ingin dicapai setelah pelatihan dilakukan. Berdasarkan tujuan
tersebut maka ditentukan materi untuk pelatihan untuk mencapai tujuan.

7
3. Menentukan metode pelatihan dan prinsip-prinsip belajar yang digunakan
yakni metode pelatihan yang ada pada jam sekolah (formal) maupun di luar jam
sekolah ( informal )
4. Mengevaluasi program pelatihan dilihat dari efek pelatihan dikaitkan dengan,
reaksi peserta terhadap isi dan proses pelatihan, pengetahuan yang diperoleh
melalui pengalaman latihan, perubahan perilaku dan perbaikan pada pembeajaran.
Perbedaan kreativitas ilmiah dengan kreativitas pada umumnya adalah: (a)
kreativitas ilmiah berpusat pada penemuan dan pemecahan masalah secara kreatif
melalui eksperimen sains kreatif; (b) kreativitas ilmiah merupakan jenis kemampuan
intelektual; (c) kreativitas ilmiah mencakup ranah kognitif dan psikomotorik proses
ilmiah; (d) kreativitas ilmiah terdiri atas struktur statis dan perkembangan; dan (e)
kreativitas analisis berasal dari kemampuan mental yang berbeda dengan kecerdasan
analisis [ CITATION HuW10 \l 1033 ]
Kreativitas ilmiah memiliki tujuh indikator, yakni: (1) menentukan kegunaan
benda untuk tujuan ilmiah; (2) kepekaan terhadap masalah-masalah sains; (3)
meningkatkan kegunaan produk secara teknis; (4) berimajinasi ilmiah; (5)
memecahkan masalah sains secara kreatif; (6) perancangan eksperimen secara kreatif;
(7) mendesain produk secara kreatif [ CITATION Ari18 \l 1033 ].
Dari penjelasan diatas maka kreatifitas ilmiah dapat diartikan sebagai suatu
kegiatan dalam ruang lingkup ilmiah yang dapat menciptakan suatu gagasan atau ide
ide yang kreatif dari suatu proses.Pada penelitian kali ini kali ini peneliti berfokus
pada indicator perancangan eksperimen secara kreatif.
B. Model Pembelajaran CRBL

Model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan


teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis
terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas
(Suprijono, 2010:45). Model pembelajaran dapat diartikan pula sebagai pola yang
digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi, dan memberi petunjuk

8
kepada guru di kelas. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang disusun secara sistematis sebagai
pedoman pelaksanaan kegiatan belajar mengajar agar tercapai tujuan belajar.
Model CRBL ini adalah sebuah model pembelajaran yang mana model ini
sebagai bentuk penyempurnaan dari beberapa model sebelumnya, yaitu model
Problem Based Learning (PBL), dan Science Creative Leraning (SCL) [ CITATION
ari18 \l 1033 ]. Model PBL memiliki kelemahan yaitu belum melatihkan tanggung
jawab siswa yang dapat memberikan kontribusi langsung terhadap pengembangan
kreativitas ilmiah[ CITATION ari18 \l 1033 \m Ari18] , sedangkan model SCL merupakan
suatu model pembelajaran yang hanya menekankan aktivitas di awal pembelajaran
kepada siswa untuk melakukan tugas proyek[ CITATION wib13 \l 1033 ].
Pada model CRBL ini Creative dan responsibility memiliki arti setiap orang
memiliki tanggung jawab untuk menjadi kreatif dan harus menghasilkan individu dan
kelompok menjadi kreatif dan bertanggung jawab[ CITATION Elm19 \l 1033 ].Model ini
Memberikan kesempatan kerja sama dan imajinasi untuk menghasilkan ide baru dan
unik dalam menyelesaikan masalah. Implementasi dari CRBL melatih peserta didik
menyelesaikan masalah, memahami dunia yang kita jalani agar mampu beradaptasi
dengan masyarakat yang terus berubah dan merencakan teknologi terkini untuk
mencapai tujuan [ CITATION Ari18 \l 1033 ] .Model CRBL yang dikembangkan berusaha
memaksimalkan tanggung jawab peserta didik dalam mendukung kesuksesan
investigasi ilmiah dan tugas tugas kreativitas ilmiah[ CITATION Ari18 \l 1033 ].
Teori yang mendasari model CRBL antara lain
(1). Teori belajar kognitif

Teori belajar kognitif adalah pembelajaran yang menekankan proses mental


untuk membentuk informasi baru dengan cara memperhatikan penjelasan, membaca
grafik atau menghubungkan konsep lama yang telah dipelajari sebelumnya dengan
konsep baru [ CITATION Mor102 \l 1033 ] .tentunya memerlukan usaha yang secara aktif
dilakukan oleh siswa. Keaktifan ini dapat berupa mencari pengalaman, mencari

9
informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan, mempraktekkan sesuatu
untuk mencapai suatu tujuan tertentu [ CITATION Sir14 \l 1033 ].Yang mana pada
pembelajaran kognitif ini menekankan pada pemprosesan informasi yang baru
misalnya saja memerhatikan penjelasan, menganalisis,menafsirkan,memprediksi
informasi yang baru atau menghubungkan dengan pengetahuan sebelumnya untuk
tujuan tertentu.
(2) Teori proses kognitif kompleks

Proses kognitif kompleks dibutuhkan untuk menggunakan atau mengubah


pengetahuan dan keterampilan sebelumnya menjadi produk kreatif [ CITATION Sir14 \l
1033 ].Produk kreatif artinya produk tersebut mencakup tiga aspek penting yaitu baru,
berbeda, dan bermanfaat baik dalam bentuk benda maupun berupa sistem, dan cara
kerja[ CITATION Cha16 \l 1033 ]. Artinya pada teori ini mengharapkan suatu
pengetahuan yang dapat menciptakan suatu produk yang kreatif dengan mencakup
aspek aspeknya.
(3) Teori belajar konstruktivisme
Teori belajar konstruktivisme adalah peserta didik secara aktif menumbuhkan
pengetahuannya sendiri dengan modal pengalaman diri sendiri dengan orang lain
maupun lingkungan[ CITATION Elm19 \l 1033 ].Kemudian Menurut teori belajar ini, satu
prinsip yang paling penting adalah guru tidak hanya sekedar memberikan
pengetahuan kepada siswa. Dalam hal ini, guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menemukan dan menerapkan ide–ide mereka sendiri dan sebagai upaya
untuk memberikan kesadaran untuk belajar kepada siswa [ CITATION Mor102 \l
1033 ].Bantuan untuk menyelesaikan masalah berupa petunjuk, dorongan, peringatan,
memaparkan masalah ke dalam langkah langkah pemecahan masalah, memberikan
contoh, dan tindakan lain yang mampu membantu peserta didikbelajar secara mandiri
[ CITATION Sla16 \l 1033 ] .Sehingga guru disini hanya bersifat membantu dalam
penyelesaian masalah tidak menyelesaikan masalahnya agar terciptanya ide ide baru
dari pemikiran siswa itu sendiri.

10
(4) Teori belajar sosiokognitif
Teori Sosiokognitif diperkenalkan oleh Albert Bandura yang menjelaskan
bahwa terdapat tiga faktor yang sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran,
yaitu: sosial, kognitif, dan pelaku [ CITATION Cha16 \l 1033 ] .Menurut Bandura, Ia
memperkenalkan model hubungan timbal balik yang memaparkan hubungan perilaku,
lingkungan, dan keyakinan pribadi. Pembelajaran secara mandiri mampu
meningkatkan prestasi belajar dan memberi pengalaman untuk kemampuan mendidik
diri sendiri selama keberlangsungan hidup [ CITATION Mor102 \l 1033 ].
Sintak CRBL
Fase Aktivitas Guru Aktivitas Peserta didik

Membangkitkan 1. Memotivasi peserta didik 1. Memberikan jawaban


tanggung jawab kreatif dengan menanyakan kegunaan benda untuk
kegunaan benda secara tujuan ilmiah sebanyak
ilmiah banyaknya
2. Menyampaikan tujuan 2. Mendengarkan penjelasan
pembelajaran dan guru dengan seksama
pentingnya tanggung untuk memahami tujuan
jawab untuk pribadi yang pembelajaran dan
kreatif pentingnya tanggung
jawab untuk menjadi
pribadi kreatif
Mengorganisasikan 1. Membantu peserta didik 1. Berusaha memahami
kebutuhan belajar memahami logistic yang materi prasyarat dan
kreatif dibutuhkan untuk logistic yang diperlukan
investigasi untuk investigasi
2. Mengarahkan peserta 2. Berpartisipasi aktif dalam
didik dalam pembentukan kelompok
pembentukan kelompok yang terdiri dari 4-6

11
4-6 anggota dan anggota dan memastikan
membagikan logistic bahwa kelompoknya
yang diperlukan menerima logistic yang
diperlukan
Membimbing Menumbuh kembangkan Berusaha menumbuh
investigasi secara tanggung jawab peserta kembangkan tanggung
kelompok didik dalam kegiatan jawab dalam memahami
eksperimen dan mengkaji masalah
berbagai sumber sains,menyebutkan
informasi mengacu pada rumusan masalah
LKPD untuk sebanyak banyaknya dan
memecahkan masalah memilih rumusan masalah
sains secara kreatif yang akan diselidiki,
merencanakan dan
melaksanakan eksperimen,
serta mengkaji berbagai
sumber informasi untuk
memecahkan masalah
sains kreatif
Memantapkan Memberikan tanggung Berusaha menerima dan
tanggung jawab jawab kepada peserta melaksanakan tanggung
dalam menunjukan didik untuk membuat jawab (berpartisipasi, kerja
kreativitas butir tes kreativitas ilmiah sama, memimpin, dan
beserta penyelesaiannya menyampaikan pendapat)
untuk membuat butir tes
kreativitas ilmiah beserta
penyelesaiaanya mengacu
contoh butir tes yang
diberikan, kemudian

12
mempersentasikan hasil
kinerjanya
Evaluasi dan Melibatkan peserta didik Berpartisipasi dalam
refleksi dalam evaluasi KPS, mengevaluasi KPS,
tanggung jawab dan tanggung jawab, dan
kreativitas ilmiah beserta kreativitas ilmiah, beserta
tindak lanjutnya tindak lanjutnya.

C. Karakteristik Materi
Materi pokok Fluida statis terdiri atas beberapa sub materi yaitu:
a. Mengenal berbagai jenis tekanan
Pembahasan tentang jenis-jenis tekanan yaitu: (1) tekanan, (2) tekanan
hidrostatis,dan (3) tegangan gauge.
b. Mengenal berbagai hukum pada fluida statis
Pembahasan tentang hukum hukum fluida statis yaitu: (1) hukum pascal, (2)
hukum archimedes,dan (3) hukum stokes.
c. Analisis kuantitatif masalah fluida statis
Pada bagian ini dilakukan pembahasan secara kuantitatif tentang masalah
fluida statis dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan hukum hukum yang telah
dipelajari,.
Seluruh materi yang disajikan dalam pokok bahasan fluida statis ini sangat
banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga cocok untuk melatih
kemampuan pemecahan masalah fisika siswa, khususnya masalah otentik. Model
pembelajaran inkuiri terbimbing cocok diterapkan pada pembelajaran dengan
pokok bahasan ini karena siswa dapat mencoba mencari jawaban dan saling
bertukar fikiran dalam menyelesaikan masalah yang disajikan dan merefleksi diri
atas hasil kerja yang telah dilakukan.
D. Penelitian Relevan
Adapun hasil penelitian relevan terkait penelitian ini sebagai berikut:

13
a. Pembelajaran fisika memiliki potensi besar untuk mengembangkan kreativitas
ilmiah mahasiswa dengan baik, asalkan mereka diberikan tanggung jawab lebih
besar untuk menggali potensi kreativitas ilmiah sendiri. Penerapan model CRBL
dalam pembelajaran fisika terbukti mampu meningkatkan kemampuan mahasiswa
prodi pendidikan sains, kimia, dan biologi dalam menggali potensi kreativitas
ilmiah sendiri terutama tingkat kepekaan terhadap masalah-masalah sains,
mendesain sebuah eksperimen kreatif dan memecahkan masalah sains secara
kreatif, serta mampu menggali masalahmaslah sebagai akibat perkembangan sains
dan teknologi dengan membuat butir tes kreativitas ilmiah beserta alternative
soalnya [ CITATION Ari18 \l 1033 ]
b. Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan oleh Elma
diperoleh simpulan bahwa perangkat model CRBL yang dikembangkan layak
untuk melatihkantanggung jawab dan keterampilan proses sains peserta didik
Madrasah Aliyah karena dari hasil data yang diperoleh cukup tinggi dan bahan ajar
yang dikembangkan efektif dan praktis[ CITATION Elm19 \l 1033 ].
c. CRBL mampu memaksimalkan KPS dalam produk desain kreatif. Berdasarkan
analisis statik deskriptif, terlihat bahwa CRBL mempengaruhi KPS peserta didik
dan mampu merancang produk kreatif. Hasil uji Tukey juga menunujukkan bahwa
semua kelompok tidak memiliki perbedaan yang signifikn dengan satu sama lain.
Nilai F dari KPS menunjukkan bahwa CRBL meningkatkan KPS secara konsisten.
Nilai F dari Kreativitas ilmiah yang mengindikasi bahwa CRBL meningkatkan
desain produk kreatif secara konsisten. Uji korelasi bervariasi menunjukkan bahwa
ada hubungan antara KPS dan perncangan produk kreatif. Sejauh ini,
direkomendasikan bahwa cara untuk membuat desain produk kreatif bagi peserta
didik yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari [ CITATION Suy17 \l 1033 ]

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

14
A. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (action research), karena


penelitian ini dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan, memperbaiki serta
melatihkan kreatifitas berpikir pada siswa yang ada di kelas. Penelitian ini juga
termasuk penelitian deskriptif, karena penelitian ini menggambarkan bagaimana suatu
tehnik pembelajaran diterapkan dan bagaimana melatihkam kreatifitas berpikir.
Karena kebanyakan siswa tidak mampu berpikir kreatif dalam memecahkah suatu
permasalahan di karenakan selalu terpacu pada guru. Peneliti bertindak sebagai guru
dalam penelitian tindakan kelas ini. Tujuan utama dari penelitian tindakan kelas ini
adalah untuk melatihkan kreativitas ilmiah siswa kelas XI dimana peneliti secara
penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan
refleksi. Penelitian melakukan observasi terhadap beberapa hal. Beberapa hal tersebut
tidak mungkin bisa dilakukan sendiri oleh peneliti, maka peneliti dibantu oleh dua
orang teman sejawat yang bertugas sebagai observer. Satu orang yang bertugas untuk
mengobservasi aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran, sedangkan satu orang
lagi bertugas untuk mengobservasi aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran.

B. Setting Penelitian dan Karakteristik Penelitian

Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada pada bulan maret sampai
bulan juli 2019. Tempat Penelitian Penelitian ini bertempat di SMA 5 Barabai.
Subjek Penelitian Siswa kelas XI SMA 5 Barabai adalah sebagai subjek penelitian.
Siswa kelas ini berjumlah 32 siswa, yang terdiri dari 12 siswa Laki-laki dan 20 siswa
perempuan. Siswa kelas ini diambil sebagai subjek penelitian karena di kelas ini
terdiri dari sebagian kecil siswa yang aktif dan sebagian besar siswa yang pasif dalam
pembelajaran fisika. Dengan demikian berdasarkan pengamatan peneliti sebagai guru
fisika di kelas ini melihat rendahnya hasil belajar siswa.

C. Variabel Yang Diselidiki

15
Variabel yang diteliti dalam penelitian ini ada dua, yaitu variabel bebas dan
variabel terikat. Variabel bebas adalah variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi
variabel yang lain. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu pembelajaran yang
menggunakan strategi Creative responsibility Basad Learning (CRBL), instrumennya
aktivitas guru dan siswa. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini
adalah melatihkan kreativitas berpikir siswa kelas XI SMA 5 Barabai, instrumennya
lembar observasi melatihkan kreatifitas ilmiah siswa.

D. Rencana Tindakan
1. Desain Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini merupakan sangat sesuai dengan jenis penelitian
yang peneliti pilih, yaitu penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari
Kemmis dan Taggart. Menurut Kemmis dan Mc Taggart penelitian tindakan dapat
dipandang sebagai suatu siklus spiral dari penyusunan perencanaan, pelaksanaan
tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi yang selanjutnya mungkin diikuti
dengan siklus spiral berikutnya.

Skema penelitian model Kemmis dan Taggart dapat digambarkan seperti di bawah
ini:

16
Gambar 3.1 Skema Alur PTK

Secara garis besar skema tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

a. Penyusunan perencanaan Penyusunan perencanaan didasarkan pada hasil


refleksi awal. Secara rinci perencanaan mencakup tindakan yang akan
dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau merubah perilaku dan sikap
yang diinginkan sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan. Perencanaan
ini bersifat fleksibel dalam arti dapat berubah sesuai dengan kondisi nyata
yang ada. Rencana tindakan yang dilakukan antara lain:
 Merumuskan indikator kinerja yang akan dicapai.
 Menyusun RPP.
 Menyusun lembar observasi aktivitas guru.
 Menyusun lembar observasi melatihkan kreatifitas berpikir.
 Menyusun kisi-kisi soal tes.
 Menyusun Soal tes dan kunci jawaban.
b. Pelaksanaan tindakan Pelaksanaan tindakan menyangkut apa yang dilakukan
peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang
dilaksanakan berpedoman pada rencana tindakan.
c. Observasi (pengamatan) Kegiatan observasi dalam penelitian ini disejajarkan
dengan kegiatan pengumpulan data dalam penelitian formal. Dalam kegiatan
ini peneliti mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan
atau dikenakan terhadap siswa. Disamping itu, peneliti juga mengamati
keterlaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar aktivitas guru dan
siswa.
d. Refleksi Peneliti telah mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil-hasil
observasi dalam kegiatan ini. Setiap informasi yang terkumpul akan dipelajari
kaitan yang satu dengan lainnya dan kaitannya dengan teori atau hasil

17
penelitian yang telah dan relevan. Dalam tahap refleksi ini akan dirumuskan
tentang kelebihan dan kekurangan yang ada pada tahap pelaksanaan tersebut.
Hasil dari refleksi tersebut akan digunakan sebagai acuan untuk menyusun
perencaan tindakan di siklus berikutnya.
2. Siklus Tindakan
a. Perencanaan Sebelum melakukan penelitian tindakan ini, maka peneliti akan
menyusun sebagai berikut:
 Menyusun indikator yang akan dicapai
 Menyusun RPP dengan strategi pembelajaran berbasis masalah
 Menyusun lembar observasi: aktivitas guru dan melatihkan kreatifitas ilmiah.
 Menyusun LKS dan kunci jawaban LKS
 Membuat kisi soal test akhir siklus
 Membuat soal test akhir
 Membuat kunci jawaban
b. Pelaksanaan tindakan Penelitian ini akan dilaksanakan dengan waktu 1 kali
pertemuan: 2 x 35 menit untuk satu kali pertemuan setiap siklusnya. Yang
terbagi dalam tiga tahapan, yakni:
 Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
 Kegitan inti (20 menit)
 Kegiatan Penutup (5 menit)
c. Observasi Dalam penelitian ini, observasi dilakukan terhadap beberapa aspek,
diantaranya:
 Aktivitas guru
 Melatihkan kreatifitas berpikir
d. Refleksi Guru menginformasikan rencana kegiatan yang akan datang, yaitu
Fluida Dinamis.
E. Data dan Cara Pengumpulannya
1. Data dan Sumber Data

18
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah lembar hasil observasi
aktivitas guru, lembar hasil observasi aktivitas siswa, lembar hasil observasi
melatihkan kreatifitas ilmiah, dan dokumentasi (foto). Sumber data dalam penelitian
ini adalah siswa kelas XI SMA 5 Barabai, peneliti dan observer.
2. Teknik Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini
terdiri dari:
a. Lembar observasi aktivitas guru
Lembar observasi ini dipergunakan untuk mengetahui aktivitas guru dalam
pembelajaran fisika materi fluida statis melalui strategi Creative responsibility Basad
Learning (CRBL). Lembar observasi aktivitas guru ini diisi oleh observer di setiap
pertemuan.
b. Lembar observasi melatihkan kreatifitas berpikir
Lembar observasi ini dipergunakan untuk mengetahui tingkat kreatifitas
ilmiah peserta didik pada materi fluida dengan model Creative responsibility Basad
Learning (CRBL). Lembar observasi melatihkan kreatifitas berpikir ini diisi oleh
peneliti di setiap pertemuan.
c. Tes formatif
Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir ilmiah dan pemahaman konsep pada
materi fluida. Tes ini diberikan disetiap akhir siklus dengan bentuk soal isian.
d. Dokumentasi (foto)
Pengumpulan data berupa foto dilakukan disetiap pertemuan untuk
memberikan gambaran bagaimana pelaksanaan pembelajaran fisika pada materi
fluida statis melalui strategi Creative responsibility Basad Learning (CRBL).
3. Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui hasil dari penelitian tindakan yang telah dilakukan, maka
langkah selanjutnya adalah menganalisis semua data yang telah di kumpulkan.

19
Adapun analisis data dari masing-masing data yang terkumpul melalui instrumen-
instrumen yang telah dibuat adalah sebagai berikut:

a. Lembar observasi aktivitas guru Teknik analisis data hasil lembar observasi
aktivitas guru menggunakan teknik skala lajuan (Rating Scalle). Rating Scale
merupakan instrumen pengukuran non tes yang menggunakan suatu prosedur
terstruktur untuk memperoleh informasi tentang sesuatu yang diobservasi
yang menyatakan posisi tertentu dalam hubungannya dengan yang lain.
Dalam lembar observasi aktivitas guru ini, peneliti menggunakan skala 4
(empat). Ketentuan dari keempat skala tersebut adalah : 4 = sangat baik, 3 =
baik, 2 = cukup, 1 = Kurang Skor akhir yang diperoleh dihitung dengan
menggunakan rumus :

jumlah skor yang di perolah


Skor Akhir (SA) = x skala(4)
jumlah skor maksimal

Klasifikasi Penilaiannya adalah :

Tabel 3.1 Klasifikasi penilaian lembar observasi aktivitas guru

Skor Akhir Klarifikasi


3,25 ± 4,00 Sangat Baik (SB)
2,50 ± 3,25 Baik (B)
1,75 ± 2,50 Cukup (C)
1,00 ± 1,75 Kurang (K)
b. Tes formatif
1) Nilai rata-rata Nilai rata-rata dari hasil tes formatif dirumuskan :
Σ in=1 xi
𝑋̅ =
n

Dengan : 𝑋̅ = Nilai rata-rata

x i=¿ Nilai siswa ke-i

n=¿ Jumlah siswa

20
i=¿ 1, 2, ..n

2) Ketuntasan belajar
Dalam penelitian ini, siswa dikatakan tuntas dalam pembelajarannya jika nilai hasil
belajarnya minimal 78 (KKM sekolah), dan siswa dikatakan tidak tuntas jika nilai
hasil belajarnya di bawah 78 (KKM sekolah).

4. Indikator Kinerja
Untuk mengukur keberhasilan suatu penelitian diperlukan adanya indikator kinerja
yang ditetapkan dalam perencanaan tindakan. Penelitian ini dikatakan berhasil jika
Jumlah siswa yang mendapatkan nilai diatas 78 (KKM sekolah) minimal 70%.

DAFTAR PUSTAKA

Arifuddin, M., Suyidno, Nur, M., & Yuanita , L. (2018). Menggali Potensi
Kreativitas IlmiahMahasiswa melalui model CRBL. Jurnal Berkala
Pendidikan Fisika, 171.

Chaet, M. (2016). Self Eficacy dan Pendidikan. Al Murabby.

Elma, S., Sulistiawati, e., & suyidno. (2019). pengembangan perangkat crbl untuk
melatihkan tanggung jawab dan keterampilan proses sains. jurnal berkala
ilmiah pendidikan fisika, 12.

Ervync, G. 1991. Mathematical Creativity. Dalam Tall, D. Advanced Mathematical


Learning. London: Kluwer Academic Publisher.

Hu, W., & Adey, P. (2010). A scientific cretivity test. Internatioal journal of science
education, 389.

Istarani. 2014. 58 Model Pembelajaran Inovatif. Medan: Media Persada.

John Suprihanto 1988. Manajemen Modal Kerja. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

Majid, A. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

21
Mahmudi, A. 2010. Mengukur Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis. Konferensi
Nasional Matematika XV. Manado: UNIMA

Moreno. (2010). Educational Pshycology. new mexico: john willey and sons Inc.

Nurhadi. (2005). Membaca cepat dan efektif. Bandung: Sinar Baru algesindo.

Siregar, e., & Nara, H. (2014). Teori belajar Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.

Slavin, R. (2016). Educational Physycology. Boston: Pearson Education.

Soekidjo Notoatmodjo. 1992. Pengembangan Sumber Daya Manusia, cetakan


kelima. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sondang P. Siagian. 1992. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.

Sudjana, N. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya

Suprijono, A. 2010. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar

Susanti, D., Soetadi, W & Surantoro. 2014. Penyusunan Instrumen Tes Diagnostik
Miskonsepsi Fisika SMA Kelas XI pada Materi Usaha dan Energi. Jurnal
Pendidikan Fisika, 2 (2)16-19.

Suyidno, Dewantara, D., Nur, M., & Yuanita. (2017). Maximizing student’s scientific
process skill within creative product design: creative responsibility based
learning. Atlantis Press 5th South East Asia Development Research (SEA-DR)
International Conference, 98.

Trianto. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Buku Berkualitas Prima.

Widyaningsih, S.W. (2011). Pembentukan Karakter Bertanggung Jawab dan Rasa


Ingin Tahu Melalui Penerapan Metode Quantum Learning dengan
Menggunakan Media Alat Peraga Sederhana pada Pembelajaran Fisika.
Prosiding Seminar Nasional MIPA dan Pendidikan MIPA. Padang:
Universitas Negeri Padang.

22
Wibowo, f., & suhandi. (2013). Penerapan model SCL fisika berbasis proyek untuk
meningkatkan hasil belajar. jurnal ipa indonesia, 67-75.

23