Anda di halaman 1dari 41

MAKALAH APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

DENGAN ENDOMETRIOSIS DAN GANGGUAN HAID

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


“Keperawatan Maternitas”

Dosen Pembimbing : Hj. Ainun Sajidah, S.Kep, Ns, M.Biomed

Kelompok 19

Gusti Ervina Amaliah PO7120118065


Muhammad Sarman P07120118093
Nurlaili P07120118103

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN
PROGRAM STUDI DIPLOMA III
JURUSAN KEPERAWATAN
BANJARBARU
2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha


Esa, atas rahmat hidayah dan izinnya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini
dengan judul “Makalah Aplikasi Asuhan Keperawatan pada klien dengan
Endometriosis dan Gangguan Haid” dimana dapat diselesaikan tepat pada
waktunya. Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas Ibu Hj. Ainun Sajidah, S.Kep, Ns, M.Biomed yaitu “Makalah Aplikasi
Asuhan Keperawatan pada klien dengan Endometriosis dan Gangguan Haid” pada
Mata Kuliah Keperawatan Maternitas. Selain itu, makalah ini juga bertujuan
untuk menambah wawasan tentang bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Dalam penyusunan makalah ini kami mengalami beberapa kendala atau hambatan
namun semua dapat di atasi dengan baik karena bantuan dari semua pihak yang
membantu kami dalam penyusunan makalah ini. Kami mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu kami.
Kami yakin makalah yang kami susun ini, masih jauh dari kesempurnaan.
Karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi
penyempurnaan makalah kami berikutnya.

Banjarbaru, 29 Maret 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...................................................................4
B. Rumusan Masalah..............................................................5
C. Tujuan................................................................................6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Aplikasi Kasus Asuhan Keperawatan Ibu dengan
Endometriosis
1. Definisi Endometriosis..................................................7
2. Etiologi Endometriosis..................................................7
3. Patofisiologi Endometriosis...........................................8
4. Klasifikasi Endometriosis..............................................11
5. Pathway Endometriosis................................................13
6. Manifestasi Klinis..........................................................13
7. Pemeriksaan Penunjang...............................................14
8. Penatalaksanaan..........................................................15
9. Konsep Asuhan Keperawatan.......................................16

B. Aplikasi Kasus Asuhan Keperawatan Ibu dengan


Gangguan Haid
1. Definisi Haid.................................................................20
2. Etiologi..........................................................................20
3. Patofisiologi Gangguan Haid.........................................22
4. Klasifikasi Gangguan Haid............................................26
5. Pathway Gangguan Haid..............................................29
6. Manifestasi Klinis..........................................................29

ii
7. Pemeriksaan Penunjang...............................................30
8. Penatalaksanaan..........................................................31
9. Konsep Asuhan Keperawatan.......................................35

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan........................................................................38
B. Saran..................................................................................39

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Haid merupakan proses kematangan seksual bagi seorang wanita


(LK lee dkk, 2006). Haid adalah pendarahan secara periodik dan siklik
dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium (Wiknjosastro,
2008). Panjang siklus haid yang normal atau dianggap sebagai suatu siklus
yang klasik adalah 28 hari , tetapi cukup bervariasi tidak sama untuk setiap
wanita (Guyton, 2006). Lama haid biasanya antara 3-5 hari, ada yang 1-2
hari diikuti darah sedikit- sedikit dan ada yang sampai 7-8 hari. Jumlah
darah normal yang keluar rata-rata 33,2 ± 16 cc. Rata-rata panjang siklus
haid pada gadis usia 12 tahun ialah 25,1 hari, pada wanita usia 43 tahun
27,1 hari dan pada wanita usia 55 tahun ialah 51,9 hari (Wiknjosastro,
2008).
Wanita sering mengeluh saat mengalami menstruasi. Nyeri dirasa
sangat mengganggu, aktivitas dan rutinitas keseharian. Nyeri yang lebih
dikenal dengan dysmenorrhea ini tidak terlalu diperhatikan karena
dianggap wajar. Dysmenorrhea memang wajar terjadi pada wanita yang
sedang mengalami menstruasi. Keadaan fisiologis ini bisa menjadi
berbahaya kalau tidak diperhatikan penyebabnya.
Kadang, ketika keadaan sudah semakin buruk, nyeri mengganggu
sampai tidak mampu menjalankan rutinitas, baru dibawa kedokter.
Keadaan seperti ini bisa saja terjadi karena menderita Endometriosis.
Endometriosis seringkali tidak mendapat perhatian serius baik dari
penderita maupun dari dokter pemeriksa, sering kali rasa sakit yang
menyertainya dianggap wajar, yang datang setiap bulan.
Sebetulnya, rasa sakit yang luar biasa, yang membuat wanita tidak
mampu beraktivitas seperti biasa, bukanlah hal yang dapat diabaikan
begitu saja. Beberapa penelitian di negara maju menyebutkan, setengah

4
dari remaja perempuan yang mengalami sakit pada perut bagian bawah
pada saat menstruasi menderita endometriosis.

Siklus haid yang terjadi diluar keadaan normal, atau dengan kata
lain tidak berada pada interval pola haid pada rentang waktu kurang dari
21 atau lebih dari 35 hari dengan interval pendarahan uterus normal
kurang dari 3 atau lebih dari7 hari disebut siklus menstruasi/haid yang
tidak teratur (Berek, 2002). Gangguan Haid digolongkan atas 4 bagian
yaitu kelainan banyaknya darah dan lamanya pendarahan pada haid,
kelainan siklus, perdarahan di luar haid, gangguan haid yang ada
hubungannya dengan haid (Wiknjosastro, 2008). Menurut Berek (2002)
ada enam jenis gangguan menstruasi yang termasuk kedalam siklus
menstruasi yang tidak teratur adalah oligomenorea, polimenorea,
menoragia, metroragia, menometroragia, hipomenorea.
Wanita usia reproduktif banyak memiliki masalah menstruasi atau
haid yang abnormal, seperti sindrom menstruasi dan menstruasi yang tidak
teratur (Johnson,2004). Wanita-wanita usia reproduktif zaman modern
seperti sekarang ini sering dihadapkan pada berbagai masalah-masalah
psikososial, medis dan ekonomi, sehingga dapat menimbulkan stres bagi
wanita yang tidak mampu beradaptasi dengan tekanan eksternal dan
internal. Sehingga stres dapat dikatakan sebagai faktor etiologi dari
gangguan menstruasi.(Kaplan and Manuck, 2004; Wang dkk, 2004).

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana aplikasi kasus asuhan keperawatan ibu dengan
endometriosis?
2. Bagaimana aplikasi kasus asuhan keperawatan ibu dengan gangguan
haid?

5
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui bagaimana aplikasi kasus asuhan keperawatan ibu
dengan endometriosis yang dijelaskan sebagai berikut:
a. Definisi endometriosis
b. Etiologi endometriosis
c. Patofisiologi endometriosis
d. Klasifikasi endometriosis
e. Pathway endometriosis
f. Manifestasi Klinis
g. Pemeriksaan Penunjang
h. Penatalaksanaan
i. Konsep Asuhan Keperawatan

2. Untuk Mengetahui bagaimana aplikasi kasus asuhan keperawatan ibu


dengan endometriosis yang dijelaskan sebagai berikut:
a. Definisi endometriosis
b. Etiologi endometriosis
c. Patofisiologi endometriosis
d. Klasifikasi endometriosis
e. Pathway endometriosis
f. Manifestasi Klinis
g. Pemeriksaan Penunjang
h. Penatalaksanaan
i. Konsep Asuhan Keperawatan

3. Sebagai bentuk pembelajaran bagi mahasiswa yang akan berguna


ketika dilapangan.

6
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

A. Aplikasi Kasus Asuhan Keperawatan Ibu dengan


Endometriosis
1. Definisi Endometriosis

Endometriosis adalah keadaan ketika sel-sel endometrium yang


seharusnya terdapat hanya dalam uterus, tersebar juga ke dalam rongga
pelvis (Mary Baradero dkk, 2005).

Endometriosis merupakan suatu kondisi yang dicerminkan dengan


keberadaan dan pertumbuhan jaringan endometrium di luar uterus.
Jaringan endometrium itu bisa tumbuh di ovarium, tuba falopii, ligamen
pembentuk uterus, atau bisa juga tumbuh di apendiks, colon, ureter dan
pelvis. ( Scott, R James, dkk. 2002).

Endometriosis adalah lesi jinak atau lesi dengan sel-sel yang serupa
dengan sel-sel lapisan uterus tumbuh secara menyimpang dalam rongga
pelvis diluar uterus. (Brunner & Suddarth, Keperawatan Medikal
Bedah, 1556 : 2002)
Endometriosis adalah terdapatnya jaringan endometrium di luar
kavum uterus. Bila jaringan endometrium terdapat di dalam
miometrium disebut adenomiosis (adenometriosis internal) sedangkan
bila di luar uterus disebut (endometriorisis ekterna).(Arif Mansjoer,
Kapita Selekta, 381: 2001)

2. Etilogi Endometriosis

Etiologi endometriosis belum diketahui tetapi ada beberapa teori


yang telah dikemukakan:

a. Secara kongenital sudah ada sel-sel endometrium di luar uterus

7
b. Pindahnya sel-sel endometrium melalui sirkulasi darah atau
sirkulasi limfe.
c. Refluks menstruasi yang mengandung sel-sel endometrium ke tuba
fallopi, sampai ke rongga pelvis.
d. Herediter karena insiden lebih tinggi pada wanita yang ibunya juga
mengalami endometriosis (Mary Baradero dkk, 2005).

3. Patofisiologi Endometriosis
Endometriosis berasal dari kata endometrium, yaitu jaringan yang
melapisi dinding rahim. Endometriosis terjadi bila endometrium
tumbuh di luar rahim. Lokasi tumbuhnya beragam di rongga perut,
seperti di ovarium, tuba falopii, jaringan yang menunjang uterus, daerah
di antara vagina dan rectum, juga di kandung kemih. Dalam setiap
siklus menstruasi lapisan dinding rahim menebal dengan tumbuhnya
pembuluh darah dan jaringan, untuk mempersiapkan diri menerima sel
telur yang akan dilepaskan oleh indung telur yang terhubungkan dengan
rahim oleh saluran yang disebut tuba falopii atau saluran telur. Apabila
telur yang sudah matang tersebut tidak dibuahi oleh sel sperma, maka
lapisan dinding rahim tadi luruh pada akhir siklus. Lepasnya lapisan
dinding rahim inilah yang disebut dengan peristiwa menstruasi.
Keseluruhan proses ini diatur oleh hormon, dan biasanya memerlukan
waktu 28 sampai 30 hari sampai kembali lagi ke awal proses. Salah satu
teori mengatakan bahwa darah menstruasi masuk kembali ke tuba
falopii dengan membawa jaringan dari lapisan dinding rahim, sehingga
jaringan tersebut menetap dan tumbuh di luar rahim.
Teori lain mengatakan bahwa sel-sel jaringan endometrium keluar
dari rahim melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening,
kemudian mulai tumbuh di lokasi baru. Namun, ada pula teori yang
mengatakan bahwa beberapa perempuan memang terlahir dengan sel-
sel yang “salah letak”, dan dapat tumbuh menjadi endometrial implant
kelak. Dalam kasus endometriosis, walaupun jaringan endometrium

8
tumbuh di luar rahim dan menjadi “imigran gelap” di rongga perut
seperti sudah disebutkan tadi, struktur jaringan dan pembuluh darahnya
juga sama dengan endometrium yang berada di dalam rahim. Si imigran
gelap (yang selanjutnya akan kita sebut endometrial implant) ini juga
akan merespons perubahan hormon dalam siklus menstruasi.
Menjelang masa menstruasi, jaringannya juga menebal. Namun,
bila endometrium dapat luruh dan melepaskan diri dari rahim dan ke
luar menjadi darah menstruasi, endometrial implant ini tidak punya
jalan ke luar. Sehingga, mereka membesar pada setiap siklus, dan gejala
endometriosis (yaitu rasa sakit hebat di daerah perut) cenderung makin
lama makin parah. Intensitas rasa sakit yang disebabkan oleh
endometriosis ini sangat tergantung pada letak dan banyaknya
endometrial implant yang ada pada kita. Walaupun demikian,
endometrial implant yang sangat kecil pun dapat menyebabkan kita
kesakitan luar biasa apabila terletak di dekat saraf (Utamadi, Gunadi,
2004). Setiap bulan, selaput endometrium akan berkembang dalam
rahim dan membentuk satu lapisan seperti dinding. Lapisan ini akan
menebal pada awal siklus haid sebagai persediaan menerima telur
tersenyawa (embrio).
Endometriosis yang ada di luar rahim juga akan mengalami proses
sama seperti dalam rahim dan berdarah setiap bulan. Oleh karena
selaput ini ada di tempat tidak sepatutnya, ia tidak boleh keluar dari
badan seperti lapisan endometrium dalam rahim. Pada masa sama,
selaput ini akan menghasilkan bahan kimia yang akan mengganggu
selaput lain dan menyebabkan rasa sakit. Lama kelamaan, lapisan
endometriosis ini semakin tebal dan membentuk benjolan atau kista
(kantung berisi cecair) dalam ovari (Prof.Dr.Nik Mohd Nasri Ismail,
2005).
Endometriosis dipengaruhi oleh faktor genetik. Wanita yang
memiliki ibu atau saudara perempuan yang menderita endometriosis
memiliki resiko lebih besar terkena penyakit ini juga. Hal ini

9
disebabkan adanya gen abnormal yang diturunkan dalam tubuh wanita
tersebut.
Gangguan menstruasi seperti hipermenorea dan menoragia dapat
mempengaruhi sistem hormonal tubuh. Tubuh akan memberikan respon
berupa gangguan sekresi estrogen dan progesteron yang menyebabkan
gangguan pertumbuhan sel endometrium. Sama halnya dengan
pertumbuhan sel endometrium biasa, sel-sel endometriosis ini akan
tumbuh seiring dengan peningkatan kadar estrogen dan progesteron
dalam tubuh.
Faktor penyebab lain berupa toksik dari sampah-sampah perkotaan
menyebabkan mikroorganisme masuk ke dalam tubuh. Mikroorganisme
tersebut akan menghasilkan makrofag yang menyebabkan resepon imun
menurun yang menyebabkan faktor pertumbuhan sel-sel abnormal
meningkat seiring dengan peningkatan perkembangbiakan sel
abnormal.
Jaringan endometirum yang tumbuh di luar uterus, terdiri dari
fragmen endometrial. Fragmen endometrial tersebut dilemparkan dari
infundibulum tuba falopii menuju ke ovarium yang akan menjadi
tempat tumbuhnya. Oleh karena itu, ovarium merupakan bagian
pertama dalam rongga pelvis yang dikenai endometriosis. Sel
endometrial ini dapat memasuki peredaran darah dan limpa, sehingga
sel endomatrial ini memiliki kesempatan untuk mengikuti aliran
regional tubuh dan menuju ke bagian tubuh lainnya.
Dimanapun lokasi terdapatnya, endometrial ekstrauterine ini dapat
dipengaruhi siklus endokrin normal. Karena dipengaruhi oleh siklus
endokrin, maka pada saat estrogen dan progesteron meningkat, jaringan
endometrial ini juga mengalami perkembangbiakan. Pada saat terjadi
perubahan kadar estrogen dan progesteron lebih rendah atau berkurang,
jaringan endometrial ini akan menjadi nekrosis dan terjadi perdarahan
di daerah pelvic.

10
Perdarahan di daerah pelvis ini disebabkan karena iritasi
peritonium dan menyebabkan nyeri saat menstruasi (dysmenorea).
Setelah perdarahan, penggumpalan darah di pelvis akan menyebabkan
adhesi/perlekatan di dinding dan permukaan pelvis. Hal ini
menyebabkan nyeri, tidak hanya di pelvis tapi juga nyeri pada daerah
permukaan yang terkait, nyeri saat latihan, defekasi, BAK dan saat
melakukan hubungan seks.
Adhesi juga dapat terjadi di sekitar uterus dan tuba fallopii. Adhesi
di uterus menyebabkan uterus mengalami retroversi, sedangkan adhesi
di tuba fallopii menyebabkan gerakan spontan ujung-ujung fimbriae
untuk membawa ovum ke uterus menjadi terhambat. Hal-hal inilah
yang menyebabkan terjadinya infertil pada endometriosis. (Scott, R
James, dkk. 2002. Buku Saku Obstetri dan Gynekologi. Widya
Medica: Jakarta Spero f, Leon. 2005)

4. Klasifikasi Endometriosis
Berdasarkan visualisasi rongga pelvis dan volume tiga dimensi dari
endometriosis dilakukan penilaian terhadap ukuran, lokasi dan
kedalaman invasi, keterlibatan ovarium dan densitas dari perlekatan.
Dengan perhitungan ini didapatkan nilai-nilai dari skoring yang
kemudian jumlahnya berkaitan dengan derajat klasifikasi
endometriosis.
Nilai:
a. 1-4 adalah minimal (stadium I),
b. 5-15 adalah ringan (stadium II),
c. 16-40 adalah sedang (stadium III)
d. lebih dari 40 adalah berat (stadium IV) (Rusdi, 2009).

11
Derajat endometriosis berdasarkan skoring dari Revisi  AFS
Endometriosis <1cm 1-3 cm >1cm
Peritoneum Permukaan 1 2 4
Dalam 2 4 6
Ovarium Kanan Permukaan 1 2 4
Dalam 4 16 20
Kiri Permukaan 1 2 4
Dalam 4 16 20

Perlekatan kavum douglas Sebagian Komplit


4 40
Ovarium Perlekatan <1/3 1/3-2/3 >2/3
Kanan Tipis 1 2 4
Tebal 4 8 16
Kiri Tipis 1 2 4
Tebal 4 8 16
Tuba Kanan Tipis 1 2 4
Tebal 4 8 16
Kiri Tipis 1 2 4
Tebal 4 8 16

5. Pathway Endometriosis

12
6. Manifestasi Klinis

Pada umumnya wanita dengan endometriosis tidak memiliki gejala.


Gejala pada umumnya terjadi ketika menstruasi dan bertambah hebat
setiap tahunnya karena pembesaran daerah endometriosis. Gejala yang
paling sering terjadi adalah nyeri panggul, dismenorea (nyeri ketika
menstruasi), dispareunia (nyeri ketika senggama), dan infertilitas
(gangguan kesuburan, tidak dapat memiliki anak).

a. Nyeri panggul
Nyeri yang berkaitan dengan endometriosis adalah nyeri yang
dikatakan sebagai nyeri yang dalam, tumpul, atau tajam, dan
biasanya nyeri bertambah ketika menstruasi. Pada umumnya nyeri
terdapat di sentral (tengah) dan nyeri yang terjadi pada satu sisi
berkaitan dengan lesi (luka atau gangguan) di indung telur atau

13
dinding samping panggul. Dispareunia terjadi terutama pada
periode premenstruasi dan menstruasi. Nyeri saat berkemih dan
dyschezia dapat muncul apabila terdapat keterlibatan saluran kemih
atau saluran cerna.
b. Dismenorea
Nyeri ketika menstruasi adalah keluhan paling umum pada
endometriosis.
c. Infertilitas
Efek endometriosis pada fertilitas (kesuburan) terjadi karena
terjadinya gangguan pada lingkungan rahim sehingga perlekatan
sel telur yang sudah dibuahi pada dinding rahim menjadi
terganggu. Pada endometriosis yang sudah parah, terjadi perlekatan
pada rongga panggul, saluran tuba, atau indung telur yang dapat
mengganggu transportasi embrio (Missrani, 2009).

7. Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang


Pemeriksaan yang dilakukan untuk membuktikan adanya
endometirosis ini antara lain:
a. Uji serum
1) CA-125: Sensitifitas atau spesifisitas berkurang
2) Protein plasenta 14 : Mungkin meningkat pada endometriosis
yang mengalami infiltrasi dalam, namun nilai klinis tidak
diperlihatkan.
3) Antibodi endometrial: Sensitifitas dan spesifisitas berkurang
b. Teknik pencitraan
1) Ultrasound: Dapat membantu dalam mengidentifikasi
endometrioma dengan sensitifitas 11%
2) MRI: 90% sensitif dan 98% spesifik

c. Endoskopi

14
Endoskopi dapat dilaksanakan untuk mengetahui luasnya
endometriosis.
d. Biopsi
Biopsi untuk mengetahui apakah ada keganasan (Mary
Baradero dkk, 2005).

8. Penatalaksanaan
a. Kolaboratif
Kehamilan bisa memperlambat perkembangan endometriosis
karena menstruasi (ovulasi) berhenti selama kehamilan dan laktasi.
Ada beberapa wanita yang menjadi asimptomatis setelah
melahirkan. Fertilitas wanita dengan endometriosis rendah maka
bagi pasangan yang menginginkan anak memerlukan bantuan
medis.
Kontrasepsi oral yang mengandung estrogen yang minimal dan
progestin yang tinggi dapat menyebabkan atrofi endometrium.
Obat-obat antigonadotropik seperti Danasol dapat juga dipakai
untuk menekan kegiatan ovarium. Danasol dapat menghentikan
perkembangan endometrium, mencegah ovulasi, dan menyebabkan
atrofi jaringan endometrium yang ada di luar uterus (jaringan
endometrium ektopik). Kelemahan dari obat-obat ini adalah sangat
mahal, adanya efek samping seperti mual, cepat lelah, depresi,
berat badan bertambah, menyerupai gejala menopause, dan
osteoporosis.
Apabila tidak ada respons terhadap terapi konservatif,
intervensi bedah dapat dilaksankan. Pembedahan laser laparoskopi
adalah pembedahan yang bisa mempertahankan fertilitas pasien
karena pembedahan ini hanya melepas adhesi dan menghancurkan
jaringan endometrium yang ada dalam rongga pelvis. Bedah radikal
meliputi pengangkatan uterus, tuba fallopi, dan ovarium.
Endometriosis bisa berhenti ketika menopause.

15
b. Mandiri
Pasien perlu merasa yakin bahwa endometriosis dapat diobati.
Perlu diterapkan kepada pasien efek samping dari obat-obat yang
dipakainya, strategi untuk menangani nyeri yang kronis juga perlu
dijelaskan (Mary Baradero dkk, 2005).

9. Konsep Asuhan Keperawatan


a. Pengkajian
1) Riwayat Kesehatan Dahulu

Pernah terpapar agen toksin berupa pestisida, atau pernah


ke daaerah pengolahan katu dan produksi kertas, serta terkena
limbah pembakaran sampah medis dan sampah perkotaan.
2) Riwayat Kesehatan Sekarang
a) Dysmenore primer ataupun sekunder
b) Nyeri saat latihan fisik
c) Dispareun
d) Nyeri ovulasi
e) Nyeri pelvis terasa berat dan nyeri menyebar ke dalam
paha, dan nyeri pada bagian abdomen bawah selama siklus
menstruasi.
f) Nyeri akibat latihan fisik atau selama dan setelah
hubungan seksual
g) Nyeri pada saat pemeriksaan dalam oleh dokter
h) Hipermenorea
i) Menoragia
j) Feces berdarah
k) Nyeri sebelum, sesudah dan saat defekasi.
l) Konstipasi, diare, kolik

16
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
Memiliki ibu atau saudara perempuan (terutama saudara
kembar) yang menderita endometriosis.
4) Riwayat Obstetri dan Menstruasi
Mengalami hipermenorea, menoragia, siklus menstruasi
pendek, darah menstruasi yang berwarna gelap yang keluar
sebelum menstruasi atau di akhirmenstruasi.

b. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri b.d gangguan menstruasi, proses penjalaran penyakit.
2) Resiko tinggi gangguan citra tubuh b.d gangguan menstruasi
3) Resiko gangguan harga diri b.d infertilitas

c. Intervensi
1) Gangguan rasa nyaman: nyeri b.d gangguan menstruasi, proses
penjalaranpenyakit.
a) Pantau/catat karakteristik nyeri (respon verbal, non verbal,
dan respon hemodinamik) klien.
Rasional: untuk mendapatkan indicator nyeri.
b) Kaji lokasi nyeri dengan memantau lokasi yang di tunjuk
klien.
Rasional: untuk mendapatkan sumber nyeri.
c) Kaji intensitas nyeri dengan menggunakan skala 0-10.
Rasional: nyeri merupakan pengalaman subyektif klien dan
metode skala merupakan metodeh yang mudah serta
terpercaya untuk menentukan intensitas nyeri.
d) Tunjukan sikap penerimaan respon nyeri klien dan akui
nyeri yang klien rasakan.
Rasional: ketidakpercayaan orang lain membuat klien tidak
toleransi terhadap nyeri sehingga klien merasakan nyeri
semakin meningkat.

17
e) Jelaskan penyebab nyeri klien.
Rasional: dengan mengetahui penyebab nyeri klien dapat
bertoleransi terhadap nyeri.
f) Bantu untuk melakukan tindakan relaksasi, distraksi,
massage.
Rasional: memodifikasi reaksi fisik dan psikis terhadap
nyeri.
g) Berikan pujian untuk kesabaran klien.
Rasional: meningkatkan motivasi klien dalam mengatasi
nyeri.
h) Kolaborasi pemberian analgetik (ibuprofen, naproksen,
ponstan) dan Midol.
Rasional: analgetik tersebut bekerja menghambat sintesa
prostaglandin dan midol sebagai relaksan uterus.

2) Resiko gangguan harga diri berhubungan dengan infertile pada


endometriosis.
a) Berikan motivasi kepada pasien
Rasional: meningkatkan harga diri klien dan merasa di
perhatikan.
b) Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan, pikiran, dan
pandangan tentang dirinya.
Rasional: meningkatkan kewaspadaan diri klien dan
membantu perawat dalam membuat penyelesaian.
c) Bina hubungan saling percaya
Rasional: hubungan saling percaya memungkinkan klien
terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi
selanjutnya.
d) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang di miliki
Rasional: mengidentifikasi hal-hal positif yang masih di
miliki klien.

18
e) Informasikan dan diskusikan dengan jujur dan terbuka
tentang pilihan penanganan gangguan infertile pada
endometriosis seperti ke klinik kewanitaan, dokter ahli
kebidanan.
Rasional: Jujur dan terbuka dapat mengontrol perasaan klien
dan informasi yang diberikan dapat membuat klien mencari
penanganan terhadap masalah yang dihadapinya.

3) Ansietas berhubungan dengan ancaman atau perubahan pada


status kesehatan.
a) Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.
Rasional: dengan mengetahui tingkat kecemasan pasien
perawat dapat melakukan tindakan keperawatan yang sesuai
dengan kebutuhan pasien saat ini.
b) Selidiki dengan pasien tentang teknik yang telah dimiliki,
dan belum dimilki
Rasional: menentukan kemampuan pengambilan keputusan
pada pasien.
c) Sediakan informasi faktual menyangkut diagnosis,
perawatan dan prognosis
Rasional: mengurangi takut
d) Instruksikan pasien tentang penggunaan teknik relasasi
Rasional: teknik relaksasi dapat menurunkan ansietas.

d. Implementasi
Implementasi menyesuaikan dengan rencana tindakan
keperawatan yang di rencanakan.

e. Evaluasi
1) Nyeri berkurang, klien tidak meringis kesakitan, keringat
berkurang.

19
2) Klien tidak malu, merasa berguna, penampilan klien rapi,
menerima apa yang sedang terjadi.
3) Tidak terjadi gangguan harga diri

B. Aplikasi Kasus Asuhan Keperawatan Ibu dengan


Gangguan Haid
1. Definisi Haid
Menstruasi (Haid) adalah perdarahan secara periodik dan siklik
uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium (Hanafiah, 2009).
Haid merupakan pengeluaran darah secara periodik, cairan jaringan dan
debris sel-sel endometrium dari uterus dalam jumlah bervariasi (Jones,
2002).
Menstruasi atau haid adalah perubahan fisiologis dalam tubuh
wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon
reproduksi. Periode ini penting dalam reproduksi. Pada manusia, hal ini
biasanya terjadi setiap bulan antara usia pubertas dan menopause.
Menstruasi pada wanita adalah suatu perdarahan rahim yang sifatnya
fisiologik (normal) yang datangnya teratur setiap bulan (siklus haid),
dan timbulnya perdarahan tersebut sebagai akibat perubahan hormonal
yaitu estrogen dan progesteron (Hawari, 1997).
Gangguan menstruasi adalah kondisi ketika siklus menstruasi
mengalami anomali atau kelainan. Hal ini bisa berupa perdarahan
menstruasi yang terlalu banyak atau terlalu sedikit, siklus menstruasi
yang tidak beraturan, dan bahkan tidak haid sama sekali.

2. Etilogi
Konsumsi makanan yang tidak sehat, kurang olahraga, dan gaya
hidup tidak sehat, bisa menjadi faktor penyebab gangguan menstruasi.
Tapi dalam kasus lain, terdapat kondisi medis yang mendasar sehingga
memengaruhi siklus menstruasi. Berikut terdapat beberapa kondisi ini
bisa menjadi penyebab mengapa menstruasi terganggu.

20
a. Sindrom Ovarium Polikistik
Sebanyak 10% wanita di dunia memiliki PCOS (polycystic
ovarium syndrome) yang berarti terganggunya fungsi ovarium saat
usia subur, sehingga mengganggu perkembangan hormon dan
metabolisme. Gejalanya termasuk siklus menstruasi yang tidak
lancar, tidak menstruasi sama sekali dalam 1 bulan, dan volume
menstruasi yang tiba-tiba sedikit atau banyak.
b. Gangguan Tiroid
Kelenjar tiroid yang ada di bawah leher bukan hanya akan
mengganggu metabolisme tubuh, namun juga memberikan efek
pada pola menstruasimu. Kelenjar tiroid yang aktif akan membuat
volume menstruasi lebih banyak dan lebih sering. Sedangkan
kelenjar tiroid yang kurang aktif akan berpengaruh pada sedikitnya
volume menstruasi atau bahkan menyebabkan seseorang tidak
menstruasi sama sekali.
c. Fibroid Rahim

Fibroid rahim adalah kelebihan otot yang tumbuh dalam


uterus. Kelebihan otot ini bukanlah merupakan kanker atau
penyakit yang mematikan, namun dapat mengganggu kenyamanan,
salah satunya perdarahan menstruasi yang berat terutama pada
wanita usia 30 hingga 40 tahun.

 Fibroid yang tidak menimbulkan gejala, dapat diawasi dengan


saksama tanpa perlu diobati. Namun jika sudah menunjukkan
gejala, segera berkonsultasi dengan dokter karena dapat
mengganggu kesuburan.

d. Enderometiosis

21
Hal ini terjadi ketika jaringan yang melapisi bagian dalam
rahim, yang disebut endometrium, mulai tumbuh di luar rahim.
Pertumbuhan ini bisa terjadi di ovarium, saluran tuba, atau jaringan
panggul, dalam periode yang lebih berat dari biasanya. Gejalanya
seseorang yang menderita endrometiosis adalah sakit di bagian
perut dan terdapat penggumpalan darah di bagian dalam perut.
e. Penyakit Radang Panggul
Pelvic Inflammatory Disease (PID) atau penyakit radang
panggul terjadi saat ovarium, saluran tuba, atau organ reproduksi
lainnya terinfeksi penyakit menular seperti gonorhea atau clamidya
yang masuk lewat vagina. Radang panggul  dapat menyebabkan
perdarahan, bercak yang tidak teratur, serta kram menstruasi yang
sangat menyakitkan, demam, dan menggigil.
f. Kanker
Kanker rahim atau endometrium biasanya menyerang setelah
menopause, namun karena salah satu gejalanya adalah pendarahan
yang tidak normal, maka hampir mirip dengan gejala
perimenopause. Wanita harus sadar jika mengalami pendarahan
yang tidak normal tiap bulannya. Kelebihan berat badan juga
meningkatkan risiko jenis kanker ini. Gejala lainnya
termasuk keputihan, buang air kecil yang menyakitkan, dan rasa
sakit saat berhubungan seks juga perlu diwaspadai. Kanker serviks
dan vagina juga dapat menyebabkan perdarahan tidak teratur.

3. Patofisiologi Gangguan Haid


Berikut ini akan dijelaskan patofisiologi dari beberapa macam
gangguan haid.
a. Premenstrual Tension (Ketegangan Prahaid)
Meningkatnya kadar estrogen dan menurunnya kadar
progresteron di dalam darah akan menyebabkan gejala deprese dan
khususnya gangguan mental. Kadar estrogen yang meningkat akan

22
mengganggu proses kimia tubuh termasuk vitamin B6 (piridoksin)
yang dikenal sebagai vitamin anti-depresi karena berfungsi
mengontrol produksi serotonin. Serotonin penting sekali bagi otak
dan syaraf, dan kurangnya persediaan zat ini dapat mengakibatkan
depresi.
Hormon lain yang dikatakan sebagai penyebab gejala
premenstruasi adalah prolaktin. Prolaktin dihasilkan oleh kelenjar
hipofisis dan dapat mempengaruhi jumlah estrogen dan
progresteron yang dihasilkan pada setiap siklus. Jumlah prolaktin
yang terlalu banyak dapat mengganggu keseimbangan mekanisme
tubuh yang mengontrol produksi kedua hormone tersebut. Wanita
yang mengalami sindroma pre-menstruasi dapat memiliki kadar
prolaktin yang tinggu atau normal.
Selanjutnya adalah karena gangguan metabolisme
prostaglandin akibat kurangnya gamma linolenic acid (GLA).
Fungsi prostaglandin adalah untuk mengatur sistem reproduksi
(mengatur efek hormone estrogen dan progresteron), sistem saraf,
dan sebagai anti peradangan.

b. Disminorea
1) Disminorea Primer
Bila tidak terjadi kehamilan, maka korpus luteum akan
mengalami regresi dan hal ini akan mengakibatkan penurunan
kadar progresteron. Penurunan ini akan menyebabkan labilisasi
membrane lisosom, sehingga mudah pecah dan melepaskan
enzim fosfolipase A2. Fosfolipase A2 ini akan menghidrolisis
senyawa fosfolipid yang ada di membrane sel endometrium
dan menghasilkan asam arakhidonat. Adanya asam
arakhidonat bersama dengan kerusakan endometrium akan
merangsang kaskade asam arakhidonat yang akan
menghasilkan prostaglandin, antara lain PGE2 dan PGF2 alfa.

23
Wanita dengan disminorea primer didapatkan adanya
peningkatan kadar PGE dan PGF2 alfa di dalam darahnya,
yang akan merangsang miometrium dengan akibat terjadinya
pningkatan kontraksi dan disritmi uterus. Akibatnya akan
terjadi penurunan aliran darah ke uterus dan ini akan
mengakibatkan iskemia. Prostaglandin sendiri dan
endoperoksid juga menyebabkan sensitisasi dan selanjutnya
menurunkan ambang rasa sakit pada ujung-ujung syaraf aferen
nervus pelvicus terhadap rangsang fisik dan kimia.
2) Disminorea Sekunder
Adanya kelainan pelvis, misalnya : endometriosis, mioma
uteri, stenosis serviks, malposisi uterus atau adanya IUD akan
menyebabkan kram pada uterus sehingga timbul rasa nyeri.

c. Hipermenorea / Menoragia
Pada siklus ovulasi normal, hipotalamus mensekresi
gonadotropin releasing hormone (GnRH), yang menstimulasi
pituitary agar melepaskan follicle stimulating hormone (FSH). Hal
ini pada gilirannya akan menyebabkan folikel di ovarium tumbuh
dan matur pada pertengahan siklus, pelepasan leteinzing hormone
(LH) dan FSH menghasilkan ovulasi. Perkembangan folikel
menghasilkan estrogen yang berfungsi menstrimulasi endometrium
agar berproliferasi. Setelah ovum dilepaskan, kadah FSH dan LH
rendah. Folikel yang telah kehilangan ovum akan berkembang
menjadi korpus luteum yang akan mensekresi progresteron.
Progresteron menyebabkan poliferasi endometrium untuk
berdeferensiasi dan stabilisasi. 14 hari setelah ovulasi terjadilah
menstruasi. Menstruasi berasal dari peluruhan endometrium
sebagai akibat dari penurunan kadar estrogen dan progresteron
akibat involusi korpus luteum.

24
Siklus anovulasi pada umumnya terjadi 2 tahun pertama
setelah menstruasi awal yang disebabkan oleh HPO axis yang
belum matang. Siklus anovulasi juga terjadi pada beberapa kondisi
patologis.
Pada siklus anovulasi, perkembangan folikel terjadi dengan
adanya stimulasi dari FSH, tetapi dengan berkurangnya LH, maka
ovulasi tidak terjadi. Akibatnya tidak ada korpus luteum yang
terbentuk dan tidak ada progresteron yang disekresi. Endometrium
berproliferasi dengan cepat, ketika folikel tidak terbentuk produksi
estrogen menurun dan mengakibatkan perdarahan. Kebanyakan
siklus anovulasi berlangsung dengan perdarahan yang normal,
namun ketidakstabilan poliferasi endometrium yang berlangsung
tidak mengakibatkan perdarahan hebat.

d. Amenorea
Tidak adanya uterus, baik itu sebagai kelainan atau sebagau
bagian dari sindrom hemaprodit seperti testicular feminization,
adalah penyebab utama dari amenore primer. Testicular
feminization disebabkan oleh kelainan genetic. Pasien dengan
amenorea primer yang diakibatkan oleh hal ini menganggap dan
menyampaikan dirinya sebagai wanita yang normal, memiliki
tubuh feminism. Vagina kadang-kadang tidak ada atau mengalami
kecacatan, tapi biasanya terdapat vagina. Vagina tersebut berakhir
sebagai kantong kosong dan tidak terdapat uterus. Gonad, yang
secara morfologi adalah testis berada di kanal inguinalis. Keadaan
seperti ini yang menyebabkan pasien mengalami amenorea yang
permanen.
Amenorea sekunder disebabkan oleh faktor lain di luar fungsi
hipotalamus-hipofisis-ovarium. Hal ini berarti bahwa aksis
hipotalamus-hipofisis-ovarium dapat bekerja secara fungsional.
Amenorea yang terjadi mungkin saja disebabkan oleh adanya

25
obstruksi terhadap aliran darah yang akan keluar uterus, atau bisa
juga karena adanya abnormalitas regulasi ovarium seperti
kelebihan androgen yang menyebabkan polycystic ovary
syndrome.
4. Klasifikasi Gangguan Haid
a. Gangguan Siklus Haid
1) Polimenorea
Siklus haid lebih pendek dari normal, yaitu kurang dari 21
hari, perdarahan kurang lebih sama atau lebih banyak daripada
haid normal. Penyebabnya adalah gangguan hormonal,
kongesti ovarium karena peradangan, endometriosis, dan lai-
lain. Pada gangguan hormonal terjadi gangguan ovulasi yang
menyebabkan pendeknya masa luteal. Diagnosis dan
pengobatan membutuhkan pemeriksaan hormonal dan
laboratorium lain.
2) Oligomenorea
Siklus di atas 35 hari (Manuaba, 1998), namun
perdarahannya biasanya kurang. Penyebabnya adalah
gangguan hormonal, ansietas dan stress, penyakit kronis, obat-
obatan tertentu, bahaya di tempat kerja dan lingkungan, status
penyakit nutrisi yang buruk, olahraga yang berat, penurunan
berat badan yang signifikan.
3) Amenorea
Merupakan gejala atau keadaan klinis dengan ciri belum
mendapatkan menstruasi atau terlambat menstruasi selama tiga
bulan berturut-turut (Manuaba, 1998).

b. Gangguan Volume dan Lama Haid


1) Hipermenorea (Menoragia)
Jadwal siklus haid tetap, tetapi kelainan terletak pada
jumlah perdarahan lebih bayak dan disertai gumpalan darah

26
dan lamaya perdarahan lebih dari 8 hari (Manuaba, 1998).
Menurut Manuaba (2004), hipermenorea dapat disertai dengan
gangguan psikosomatik. Terjadinya hipermenorea berkaitan
dengan kelainan pada rahim, yaitu mioma uteri, polip
endometrium dan gangguan pelepasan endometrium.
2) Hipomenorea
Siklus menstruasi (haid) tetap, tetapi lama perdarahan
memendek kurang dari 3 hari (Manuaba, 1998). Hipomenorea
dapat disebabkan kesuburan endometrium kurang karena
keadaan gizi penderita yag rendah, penyakit menahun dan
gangguan hormonal.

c. Gangguan Lain Terkait Haid


1) Dismenorea
Dismenore adalah nyeri selama menstruasi yang
disebabkan oleh kejang otot uterus (Sylvia & Lorraine, 2006).
Rasa nyeri sering digambarka sebagai nyeri kram pada
abdomen bagian bawah yang terjadi selama haid (William M.,
2005). Dismenore primer apabila tidak terdapat gangguan fisik
yang menjadi peyebab dan hanya terjadi selama siklus-siklus
ovulatorik (Sylvia & Lorraine, 2006). Penyebabnya adalah
adanya jumlah prostaglandin F2α yang berlebihan pada darah
menstruasi, yang meragsang aktivitas uterus (Sylvia &
Lorraine, 2006).
Gejala utama adalah nyeri, dimulai pada saat awitn
menstruasi. Nyeri dapat tajam, tumpul, siklik atau menetap;
dapat berlangsung dalam beberapa jam sampai 1 hari, namun
dapat melebihi 1 hari namun tidak sampai lebih dari 72 jam.
Gejala-gejala sistemik yang menyertai berupa mual, diare,
sakit kepala dan perubahan emosional. Dismenore sekunder
timbul karena adanya masalah fisik seperti endometriosis,

27
polip uteri, leiomioma, stenosis serviks atau penyakit radang
panggul (PID) (Sylvia & Lorraine, 2006).

2) Pre Menstrual Sindrome / Tension


Merupakan keluhan yang menyertai menstruasi dan sering
dijumpai pada masa reproduksi aktif (Manuaba, 1998).
Sindrom pramenstruasi (PMS/Premenstrual syndrome) atau
premenstrual tension (PMT) adalah gabungan dari gejala-
gejala fisik dan psikologis yang terjadi selama fase luteal
siklus menstruasi dan menghilang setelah menstruasi dimulai
(Sylvia & Lorraine, 2006). Pada sekitar 10% perempuan gejala
pramestruasi cukup berat hingga memerlukan perawatan medis
(Sylvia & Lorraine, 2006).
Faktor penyebabnya adalah kejiwaan yang labil dan
angguan keseimbangan estrogen-progesteron. Adapun gejala
yang muncul berupa kelainan hubungan di lingkungan
keluarga dan terlalu peka terhadap perubahan hormonal. PMS
dapat menyebabkan retensi natrium dan air, payudara terasa
bengkak dan sakit; dan berat badan bertambahdisertai edema
tungkai.
3) Mastodinia / Mastalgia
Merupakan rasa berat dan bengkak pada payudara
menjelang menstruasi (Manuaba, 1998). Hal ini disebabkan
oleh pengaruh estrogen yang menyebabkan retensi natrium dan
air pada payudara serta terjadi tekanan ujung saraf yang
menimbulkan rasa nyeri.

28
5. Pathway Gangguan Haid

6. Manifestasi Klinis
Bagi wanita-wanita tertentu, tidak teraturnya datang bulan
merupakan keadaan yang wajar, namun bagi wanita lainnya, keadaan
ini dapat merupakan tanda bagi penyakit menahun, kekurangan darah
(anemia), gangguan gizi (malnutrisi), atau mungkin adanya infeksi atau
tumor dalam rahim (uterus)
Apabila datang bulan (haid) tidak terjadi pada saat yang
seharusnya, hal ini mungkin menunjukkan tanda kehamilan. Akan

29
tetapi masa datang bulan yang tidak teratur atau tidak mendapatkan
bulanan sering merupakan keadaan yang wajar bagi banyak gadis yang
baru saja mendapatkan bulanannya dan bagi wanita yang berusia di atas
40 tahun. Kecemasan dan gangguan emosional dapat menyebabkan
seorang wanita tidak mendapatkan bulanannya.
Apabila perdarahan mulai terjadi selama kehamilan, hal ini hampir
selalu menjadi tanda permulaan suatu keguguran atau abortus (kematian
bayi di dalam kandungan). Apabila masa haid berlangsung lebih dari 6
hari, dan daerah yang dikeluarkan banyak dan tidak seperti biasanya,
atau datang haid lebih dari satu kali dalam sebulan, maka pasien harus
segera meminta nasihat dari dokter.
Menurut Dr. Salma dalam majalahkesehatan.com pada 14 Oktober
2010, perempuan dapat memiliki berbagai masalah dengan
menstruasi/haid mereka. Masalah tersebut dapat berupa tidak
mengalami menstruasi sama sekali sampai menstruasi berat dan
berkepanjangan.
Pola haid boleh saja tidak teratur, tetapi jika jarak antar menstruasi
kurang dari 21 hari atau lebih dari 3 bulan, atau jika haid berlangsung
lebih dari 10 hari maka harus mewaspadai adanya masalah ovulasi atau
kondisi medis lainnya.

7. Pemeriksaan Penunjang
a. Rontgen : thorax terhadap tuberkulosis serta sella tursika
b. Sitologi vagina
c. Tes toleransi glukosa
d. Pemeriksaan mata untuk mengetahui tanda tumor hipofise
e. Kerokan uterus
f. Pemeriksaan metabolisme basal atau T3 dan T4 tiroid
g. Laparoskopi
h. Pemeriksaan kromatin seks
i. Pemeriksaan kadar hormone

30
Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan
fisik. Diagnosa dismenore didasari oleh ketidaknyamanan saat
mengalami menstruasi. Perubahan apapun pada kesehatan reproduksi,
termasuk hubungan badan yang dirasa sakit dan perubahan pada
jumlah dan lamanya menstruasi, memerlukan pemeriksaan
ginekologis; perubahan-perubahan seperti itu dapat menandakan sebab
dari dismenore sekunder. Secara umum pemeriksaan untuk
menentukan diagnosa biasanya harus dilakukan anamnesis terlebih
dahulu, pemeriksaan fisik, USG, hysterosalpinogogram, laparoskopi,
histeroskopi, dilatasi dan kuretasi. Untuk pemeriksaan dismenore
primer, pada pemeriksaan fisik biasanya normal, tidak didapatkan
massa pada bagian abdomen dan pelvis. Pemeriksaan rectovaginal juga
normal. Diluar dari pemeriksaan nyeri atau kram pelvis, biasanya
didapatkan nyeri sedang pada pergerakan dan tekanan dari uterus dan
cerviks. Evaluasi episode pertama nyeri, kemungkinan infeksi pelvis
dan kehamilan pasien juga harus dievaluasi (Gunawan, 2002).

8. Penatalaksanaan
a. Amenorea
Penatalaksanaan untuk kasus amenore tergantung kepada
penyebabnya. Jika penyebabnya adalah penurunan berat badan
yang drastis atau obesitas, penderita dianjurkan untuk menjalani
diet yang tepat. Pengobatan di berikan bergantung pada penyebab
amenorea. Terapi hormonal dan konseling sebagai gangguan
konsep diri dapat diberikan kepada pasien Jika penyebabnya adalah
olah raga yang berlebihan, penderita dianjurkan untuk
menguranginya. Jika seorang anak perempuan yang belum pernah
mengalami menstruasi (amenore primer) dan selama hasil
pemeriksaan normal, maka dilakukan pemeriksaan setiap 3 – 6
bulan untuk memantau perkembangan pubertasnya.

31
Untuk merangsang menstruasi bisa diberikan progesteron.
Untuk merangsang perubahan pubertas pada anak perempuan yang
payudaranya belum membesar atau rambut kemaluan dan
ketiaknya belum tumbuh, bisa diberikan estrogen. Jika
penyebabnya adalah tumor, maka dilakukan pembedahan untuk
mengangkat tumor tesebut.

b. Oligomenorea
Penatalaksanaan  yang diberikan kepada penderita
oligomenorea akan disesuaikan dengan penyebabnya.
Oligomenorea yang terjadi pada tahun-tahun pertama setelah haid
pertama dan oligomenorea yang terjadi menjelang menopause tidak
memerlukan pengobatan yang khusus. Sementara oligomenorea
yang terjadi pada gangguan nutrisi dapat diatasi dengan terapi
nutrisi dan akan didapatkan siklus menstruasi yang reguler
kembali.
Pada umumnya, disamping mengatasi faktor yang menjadi
penyebab timbulnya, penderita oligomenorea juga akan diterapi
dengan menggunakan terapi hormone. Jenis hormon yang diberikan
akan disesuaikan dengan jenis hormon yang mengalami penurunan
dalam tubuh (yang tidak seimbang). Pasien yang menerima terapi
hormonal sebaiknya dievaluasi 3 bulan setelah terapi diberikan, dan
kemudian 6 bulan untuk reevaluasi efek yang terjadi.

c. Polimenorea
Pada umumnya, polimenorea bersifat sementara dan dapat
sembuh dengan   sendirinya. Penderita polimenorea harus segera
dibawa ke dokter jika polimenorea berlangsung terus menerus.
Polimenorea yang berlangsung terus menerus dapat menimbulkan
gangguan hemodinamik tubuh akibat darah yang keluar terus
menerus. Disamping itu, polimenorea dapat juga akan

32
menimbulkan keluhan berupa gangguan kesuburan karena
gangguan hormonal pada polimenorea mengakibatkan gangguan
ovulasi (proses pelepasan sel telur). Wanita dengan gangguan
ovulasi seringkali mengalami kesulitan mendapatkan keturunan.

d. Hipermenorea / Menoragia
Pengobatan menorrhagia sangat tergantung kepada
penyebabnya. Untuk memastikan penyebabnya, dokter akan
melakukan beberapa pemeriksaan seperti pemeriksaan darah, tes
pap smear, biopsi dinding rahim, pemeriksaan USG, dan lain
sebagainya. Jika menoragia diikuti oleh adanya anemia, maka zat
besi perlu diberikan untuk menormalkan jumlah hemoglobin darah.
Terapi zat besi perlu diberikan untuk periode waktu tertentu
untuk menggantikan cadangan zat besi dalam tubuh. Selain itu,
menorrhagia juga dapat diterapi dengan pemberian hormon dari
luar, terutama untuk menorrhagia yang disebabkan oleh gangguan
keseimbangan hormonal.
Terapi hormonal yang diberikan iasanya berupa obat
kontrasepsi kombinasi atau pill kontrasepsi yang hanya
mengandung progesteron. Menorrhagia yang terjadi akibat adanya
mioma dapat diterapi dengan melakukan terapi hormonal atau
dengan pengangkatan mioma dalam rahim baik dengan kuretase
ataupun dengan tindakan operasi.

e. Metroragia
Suatu perdarahan vagina antara periode menstruasi teratur
merupakan bentuk disfungsi disfungsi menstruasi yang paling
signifikan karena hal itu dapat menunjukkan adanya kanker, tumor
jinak uterus, dan masalah-masalah psikologi lainnya. Kondisi ini
menegakkan diagnosa dan pengobatan dini. Meskipun pendarahan
antara periode menstruasi pada wanita yang menggunakan

33
kontraseptif oral biasanya bukan masalah yang serius, namun
perdarahan tak teratur pada wanita yang mendapat terapi
penggantian hormon harus dievaluasi lebih lanjut.

f. Dismenorea

1) Pemberian obat analgesik


2) Terapi hormonal
3) Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin
4) Dilatasi kanalis serviksalis (dapat memberikan keringanan
karena memudahkan pengeluaran darah haid dan prostaglandin
di dalamnya)
5) Komplikasi yang sering timbul adalah syok dan penurunan
kesadaran

g. PMS (Sindrom Premenstruasi)

1) Kurangi asupan makanan manis, garam, kopi, teh, cokelat,


minuman bersoda, lemak hewan, susu, keju, mentega, dan
utamakan istirahat
2) Untuk mengurangi retensi natrium dan cairan, maka selama 7-
10 hari sebelum haid penggunaan garam di batasi dan minum
sehari-hari dikurangi
3) Tingkatkan asupan vitamin B dan sayur-sayuran hijau
4) Pemberian obat diuretik
5) Progesteron sintetik dapat diberikan selama 8-10hari sebelum
haid untuk mengimbangi kelebihan relatif dari estrogen
6) Pemberian testosteron dalam bentuk methiltestosteron dapat
diberikan dalam mengurangi kelebihan estrogen.

34
9. Konsep Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1) Riwayat Kesehatan Dahulu
Biasanya klien mengatakan tidak ada mengalami penyakit
yang sama seperti saat ini, biasanya klien mengatakan pola
kebiasaan yang tidak sehat, gaya hidup dan nutrisi yang tidak
baik.
2) Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien merasakan demam,nyeri dibagian
abdomen, klien mengatakan tidak bisa beraktifitas, klien
biasanya mengatakan badan terasa demam, klien biasanya
mengatakan cemas terhadap penyakit yang diderita sekarang.
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
 Biasanya klien mengatakan tidak ada keluarga yang
mengalami penyakit yang sama seperti klien.
4) Riwayat Menstruasi
Menarche /umur , Siklus   : teratur / tidak , berapa banyak
mengganti pembalut dalam sehari ,   Lamanya menstruasi
5) Riwayat KB
a) Jenis kontrasepsi yang pernah digunakan.
b) Masalah dengan cara tersebut.
c) Jenis kontrasepsi yang telah digunakan setelah persalinan

b. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut b.d peningkatan kontraksi uterus saat menstruasi
2) Intoleran aktivitas b.d kelemahan akibat anemia
3) Ansietas b.d ketidaktahuan penyebab nyeri abdomen

35
c. Intervensi
1) Nyeri akut b.d peningkatan kontraksi uterus saat menstruasi
a) Beri linkungan tenang dan kurangi rangsangan penuh
stress
Rasional: Meningkatkan istirahat dan meningkatkan
kemampuan koping
b) Ajarkan strategi relaksasi (misalnya nafas berirama
lambat, nafas dalam, bimbingan imajinasi
Rasional: Memudahkan relaksasi, terapi non farmakologi
tambahan
c) Evaluasi dan dukung mekanisme koping
Rasional: Penggunaan persepsi sendiri atau prilaku untuk
menghilangkan nyeri dapat membantu mengatasinya lebih
efektif
d) Berikan kompres hangat
Rasional: Mengurangi rasa nyeri dan memperlancar aliran
darah
e) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesic
Rasional: Analgesik dapat menurunkan nyeri

2) Intoleran aktivitas b.d kelemahan akibat anemia


a) Beri lingkungan tenang dan perode istirahat tanpa
gangguan, dorong istirahat sebelum makan
Rasional: Menghemat energi untuk aktivitas dan
regenerasi seluler/ penyembuhan jaringan
b) Tingkatkan aktivitas secara bertahap
Rasional: Tirah baring lama dapat menurunkan
kemampuan
c) Berikan bantuan sesuai kebutuhan

36
Rasional: Menurunkan penggunaan energi dan membantu
keseimbangan supply dan kebutuhan oksigen

3) Ansietas b.d ketidaktahuan penyebab nyeri abdomen


a) Libatkan pasien/ orang terdekat dalam rencana perawatan
Rasional: Keterlibatan akan membantu pasien merasa stres
berkurang, memungkinkan energi untuk ditujukan pada
penyembuhan
b) Berikan lingkungan tenang dan istirahat
Rasional: Memindahkan pasien dari stress luar
meningkatkan relaksasi; membantu menurunkan ansietas
c) Bantu pasien untuk mengidentifikasi/ memerlukan
perilaku koping yang digunakan pada masa lalu
Rasional: Perilaku yang berhasil dapat dikuatkan pada
penerimaan masalah stress saat ini, meningkatkan rasa
control diri pasien
d) Bantu pasien belajar mekanisme koping baru, misalnya
teknik mengatasi stres
Rasional: Belajar cara baru untuk mengatasi masalah
dapat membantu dalam menurunkan stress dan ansietas

37
BAB 3
PENUTUP

A. Kesimpulan

Endometriosis adalah lesi jinak atau lesi dengan sel-sel yang serupa
dengan sel-sel lapisan uterus tumbuh secara menyimpang dalam rongga
pelvis diluar uterus. (Brunner & Suddarth, Keperawatan Medikal Bedah,
1556 : 2002)
Endometriosis merupakan keadaan klinis yang penting karena dapat
menyebabkan infertilitas, disminorea, nyeri pelvik kronis dan masalah
penting lainnya. Endometriosis diderita oleh 5-20% pada populasi umum di
seluruh dunia.
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi beberapa ahli mengemukakan teori

berikut:

1. Teori menstruasi retrograd (menstruasi yang bergerak mundur)

2. Teori sistem kekebalan

3. Teori genetik

Tanda dan gejala : Nyeri , Perdarahan abnormal, Keluhan buang air

besar dan buang air kecil. Penanganan endometriosis terdiri atas

pencegahan, pengawasan saja, terapi hormonal, pembedahan dan radiasi.

Menstruasi (Haid) adalah perdarahan secara periodik dan siklik uterus,


disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium (Hanafiah, 2009). Haid
merupakan pengeluaran darah secara periodik, cairan jaringan dan debris
sel-sel endometrium dari uterus dalam jumlah bervariasi (Jones, 2002).
Gangguan menstruasi adalah kondisi ketika siklus menstruasi
mengalami anomali atau kelainan. Hal ini bisa berupa perdarahan
menstruasi yang terlalu banyak atau terlalu sedikit, siklus menstruasi yang
tidak beraturan, dan bahkan tidak haid sama sekali.

38
Adapun gangguan haid yang terjadi dalam masa reproduksi seperti

hipermenorea, hipomenorea, polimenorea, oligomenorea, amenorea,

premenstrual mention, mastalgia, mittelschmerz, disminorea, dan masih

banyak gangguan haid lainnya yang sering dirasakan oleh setiap perempuan.

B. Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya
penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah
diatas dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di
pertanggung jawabkan.

39
DAFTAR PUSTAKA

Baraero, Mary, dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem


Reproduksi & Seksualitas. Jakarta: EGC

Mansjoer, A. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius


Scott, R James, dkk. 2002. Buku Saku Obstetri dan Gynekologi. Widya
Medica: Jakarta.
Irene M. Bobak, dkk.2004, Keperawatan Maternitas. EGC: Jakarta
Manuaba, Ida B.G. 1998. Ilmu Kebidanan, Peyakit Kandungan & Keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan. EGC: Jakarta.
Tambayong, Jan. 2012. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.
https://www.guesehat.com/8-masalah-kesehatan-penyebab-gangguan-
menstruasi/page/2
Diakses tanggal 29 Maret 2020
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/122/jtptunimus-gdl-itatrisian-6081-2-
babii.pdf
Diakses tanggal 29 Maret 2020
Dr. Salma. 14 Oktober 2010. http://majalahkesehatan.com/5-jenis-gangguan-
menstruasi-haid/

40